Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Indonesia merupakan negara hukum yang memiliki landasan dalam penyelenggaraan
negara. Landasan sebagai dasar negara dan sumber-sumber nilai dalam segala kehidupan
berbangsa dan bernegara. Indonesia mengenal Pancasila sebagai dasar negara dan sumber dari
segala sumber hukum yang memiliki kedudukan tertinggi. Pancasila merupakan dasar dari
norma-norma yang tidak boleh dilanggar. Pancasila yang begitu agung tidak boleh
dikesampingkan dalam segala perjalanan penyelenggaraan negara. Namun pada
kenyataannya, Pancasila yang merupakan dasar dan ideologi negara dan merupakan
kesepakatan politik para founding father mulai banyak yang mengabaikan nilai- nilai yang
terkandung di dalamnya. Dalam perjalanan panjangkehidupan berbangsa dan bernegara,
Pancasila sering mengalami berbagai deviasi dalamaktualisasi nilai-nilainya. Deviasi
pengamalan Pancasila tersebut bisa berupa penambahan,pengurangan, dan penyimpangan dari
makna yang seharusnya. Walaupun seiring dengan itusering pula terjadi upaya pelurusan
kembali. Seperti beberapa penyimpangan yang terjadi pada penyelenggaran pemerintah yang
terjadi pada perumusan Undang-Undang yang dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
Penyimpangan tersebut berupa penyelewengan isi Undang-Undang yang dirasa tidak sesuai
dengan Nilai-Nilai Pancasila. Pancasila yang mempunyai nilai-nilai agung dirasa tidak sejalan
dengan beberapa Undang-Undang yang dirumuskan. Maka dari itu, perlu adanya pemahaman
dan penerapan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bernegara, terutama oleh
penyelenggara negara. Peraturan yang dibuat olah para penyelenggara negara diharapkan
dapat kembali sejalan dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga Dasar Negara tetap menjadi
landasan hukum yang praktis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

1.2. Rumusan Masalah


1. Seperti apa sistem pembagian kekuasaan negara?
1. Bagaimana bentuk pelanggaran Nilai-nilai Pancasila dalam Penyelenggaraan Negara?
2. Apakah nilai-nilai Pancasila yang harus di pahami dalam Penyelenggaraan Negara?

1.3.Tujuan dan Manfaat


Pembuatan makalah mengenai penerapan nilai-nilai Pancasila ini memiliki beberapa
tujuan dan manfaat. Adapun tujuan adalah untuk mempelajari dan memahami nilai-nilai

1
Pancasila. Tujuan yang selanjutnya adalah menerapkan nilai-nilai Pancasila tersebut ke dalam
penyelenggaraan negara, terutama dalam proses pembuatan Undang-Undang.
Manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah dapat mengetahui dan memahami
kemudian dapat menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu,
manfaatnya adalah dapat mengkritisi peraturan perundangan yang melenceng dari nilai-nilai
Pancasila.

1.4. Ruang Lingkup


Makalah ini dibatasi dalam ruang lingkup, agar dalam pembahasan dapat terfokus sesuai
dengan tujuan pembuatan makalah. Ruang lingkup juga sebagai panduan dalam evaluasi
dalam pembahasan makalah agar sesuai dengan tujuan. Adapun ruang lingkup dalam
pembuatan makalah adalah sebagai berikut.
1. Sistem pembagian kekuasaan negara.
2. Bentuk pelanggaraan penyelenggaraan negara dari nilai-nilai Pancasila.
3. Nilai-nilai Pancasila meliputi Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, Keadilan,
Pancasila sebagai falsafah hidup, ideologi, jiwa, dan pandangan hidup.

2
BAB II
PEMBAHASAN

. 2.1 Sistem Pembagian Kekuasaan Negara


1. Pengertian Kekuasaan
Kekuasaan dapat diartikan sebagai “kemampuan seseorang untuk mempengaruhi
orang lain supaya melakukan tindakan-tindakan yang dikehendaki atau diperintahkannya”.
Sebagai contoh, (1) Ketika kalian sedang menonton televisi, tiba-tiba orang tua kalian
menyuruh untuk belajar, kemudian kalian mematikan televisi tersebut dan masuk ke kamar atau
ruang belajar untuk membaca atau menyelesaikan tugas sekolah; (2) Kalian datang ke sekolah
tidak boleh terlambat, apabila datang terlambat tentu saja kalian akan mendapatkan teguran dari
guru; (3) Begitu pula di masyarakat, ketika ada ketentuan bahwa setiap tamu yang tinggal di
wilayah ini lebih dari 24 jam wajib lapor kepada ketua RT/RW, maka setiap tamu yang datang
dan tinggal labih dari 24 jam harus lapor kepada yang berwenang.
Adapun kekuasaan negara diartikan sebagai “kewenangan negara untuk mengatur
seluruh rakyatnya dalam mencapai keadilan dan kemakmuran, serta keteraturan”.

2. Macam-macam Kekuasaan
Menurut John Locke, ada tiga (3) macam kekuasaan negara, yaitu:
a. Kekuasaan Legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat atau membentuk undang-
undang.
b. Kekuasaan Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang,
termasuk kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran terhadap undang-undang
c. Kekuasaan Federatif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan hubungan luar negeri.

Sedangkan menurut Montesquieu, kekuasaan negara meliputi:


a. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membuat atau membentuk undang-
undang
b. Kekuasaan Eksekutif, yaitu kekuasaan untuk melaksanakan undang-undang
c. Kekuasaan Yudikatif, yaitu kekuasaan untuk mengadili setiap pelanggaran
terhadap undang-undang.

Pendapat yang dikemukakan oleh Montesquieu merupakan penyempurnaan dari


pendapat John Locke. Kekuasaan federatif oleh Montesquieu dimasukkan ke dalam
kekuasaan eksekutif dan fungsi mengadili dijadikan kekuasaan yang berdiri sendiri. Ketiga
3
kekuasaan tersebut dilaksanakan oleh lembaga-lembaga yang berbeda dan sifatnya terpisah.
Oleh karena itu teori Montesquieu ini dinamakan dengan Trias Politica.

3. Pembagian Kekuasaan di Indonesia


Penerapan pembagian kekuasaan di Indonesia terdiri atas dua bagian, yaitu:
a. Pembagian kekuasaan secara horizontal
Pembagian kekuasaan secara horizontal, yaitu pembagian kekuasaan menurut fungsi
lembaga-lembaga tertentu (legislatif, eksekutif, dan yudikatif). Hal tersebut meliputi:
(1) Kekuasaan konstitutif, yaitu kekuasaan untuk mengubah dan menetapkan
Undang-Undang Dasar. Kekuasaan ini dijalankan oleh Majelis Permusyawaratan
Rakyat sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 3 ayat (1) UUD Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Majelis Permusyawaratan Rakyat
berwenang mengubah dan menetapkan Undang-Undang Dasar.
(2) Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan untuk menjalankan undang- undang dan
penyelenggraan pemerintahan Negara. Kekuasaan ini dipegang oleh Presiden
sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 4 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 yang menyatakan bahwa Presiden Republik Indonesia memegang
kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.
(3) Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan untuk membentuk undang-undang.
Kekuasaan ini dipegang oleh Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana ditegaskan
dalam Pasal 20 ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menyatakan bahwa Dewan Perwakilan Rakyat memegang kekuasaan membentuk
undang-undang.
(4) Kekuasaan yudikatif, atau disebut kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan. Kekuasaan
ini dipegang oleh Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 24 ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
menyatakan bahwa Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung
dan badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama,lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata
usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
(5) Kekuasaan eksaminatif/inspektif, yaitu kekuasaan yang berhubungan dengan
penyelenggaraan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan
negara. Kekuasaan ini dijalankan oleh Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana
ditegaskan dalam Pasal 23 E ayat (1) UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
4
yang menyatakan bahwa untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang
keuangan negara diadakan satu Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri.
(6) Kekuasaan moneter, yaitu kekuasaan untuk menetapkan dan melaksanakan
kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, serta
memelihara kestabilan nilai rupiah. Kekuasaan ini dijalankan oleh Bank Indonesia
selaku bank sentral di Indonesia sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 23 D UUD
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa negara memiliki
suatu bank sentral yang susunan, kedudukan, kewenangan, tanggung jawab, dan
indepedensinya diatur dalam undangundang.

b. Pembagian kekuasaan secara vertikal


Pembagian kekuasaan secara vertikal merupakan pembagian kekuasan menurut
tingkatnya, yaitu pembagian kekuasaan antara beberapa tingkatan pemerintahan. Pasal 18 ayat
(1) UUD 1945 menyatakan bahwa “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-
daerah provinsi dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap
provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah yang diatur dengan
undang-undang”.
Berdasarkan ketentuan tersebut, pembagian kekuasaan secara vertikal di negara
Indonesia berlangsung antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah (pemerintahan
provinsi dan pemerintahan kabupaten/kota). Pada pemerintahan daerah berlangsung pula
pembagian kekuasaan secara vertikal yang ditentukan oleh pemerintah pusat. Hubungan antara
pemerintahan provinsi dan pemerintahan kabupaten/kota terjalin dengan koordinasi,
pembinaan, dan pengawasan oleh pemerintahan pusat dalam bidang administrasi dan
kewilayahan.

2.2. Contoh Pelanggaran Nilai-Nilai Pancasila Dalam Penyelenggaraan Negara


Penegasan Pancasila sebagai filosofi, ideologi, jiwa, dan pandangan hidup sudah final.
Akan tetapi, dalam tahap pelaksanaan masih banyak ditemukan pelanggaran-pelanggaran
yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Pelanggran-pelanggaran tersebut sebagai
contohnya dapat dilihat pada penyelenggaraan negara. Ada beberapa kejadian mengenai
pelanggaran Pancasila dalam Penyelenggaraan Negara, salah satu contohnya adalah
pengaduan gugatan terhadap Undang-Undang (UU). Pengaduan gugatan Undang-Undang
kepada Mahkamah Konstitusi (MK) pada beberapa periode antara 2003-2012 ada ser 400
pengaduan. Pengaduan tersebut terkait dengan adanya indikasi pelanggaran Nilai-Nilai

5
Pancasila dalam Undang-Undang yang dirancang. Beberapa kasus pengaduan tersebut, oleh
Mahkamah Konstitusi kemudian di proses dan ser 27 persen dibatalkan.
Pembatalan Undang-Undang tersebut dilakukan, karena sebagian besar didapatkan
pelanggaran terhadap nilai-nilai Pancasila. Ketua Mahkamah Konstitusi menegaskan bahwa
yang paling membahayakan pada saat ini bukan hanya korupsi uang atau kekayaan negara,
melainkan juga korupsi dalam pembuatan peraturan kebijakan. Berbagai kejadian pelanggaran
ini akan terus berlangsung, maka akan timbul kasus korupsi yang berkesinambungan. Korupsi
pada peraturan dan kebijakan akan memunculkan banyak korupsi karena peraturan dan
kebijakan dijadikan sebagai sumber. Ada dua kelompok besar bentuk korupsi peraturan dan
kebijakan, yaitu menyangkut masalah politik dan korupsi.
Beberapa Undang-Undang yang diindikasi adanya praktik korupsi adalah Undang-
Undang Pemilu, Undang-Undang Pemerintahan Daerah, Undang- Undang Pemberantasan
Korupsi. Selain itu, ada pula potensi dalam peraturan kebijakan dalam hal sumber daya alam,
misalnya Undang-Undang Pertambangan, Undang-Undang Perhutanan, dan Undang-Undang
Sumber Daya Alam. Undang-Undang mengenai Sumber Daya Alam disinyalir sengaja dibuat
untuk memberi peluang korupsi. Undang-Undang yang dibuat tersebut agar orang atau
institusi bisa korupsi. Pada praktiknya, beberapa Undang- Undang tersebut membahayakan
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berdasarkan kasus pada pelanggran
dalam pembuatan Undang-Undang tersebut, maka diperlukan peran serta masyarakat dalam
mengkritisi penyelenggara negara. Sangat sulit hanya mengandalkan Mahkamah Konstitusi
untuk memperbaiki Undang-Undang yang ada. Hal tersebut dikarenakan Mahkamah
Konstitusi tidak akan memproses Undang-Undang sebelum ada pengaduan dari luar.
Oleh karena itu, perlu tindakan yang terstruktur oleh pemerintah dan DPR dengan
melibatkan akademisi dan masyarakat untuk membahas kembali Undang-Undang yang
bermasalah. Pada kasus yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara tersebut dibutuhkan
pemerintahan yang kuat. Pemerintahan yang kuat yang dimaksud bukan otoriter, kuat artinya
memiliki tujuan jelas, aturan hukum yang jelas, dan siap menindak segala hal yang salah.

2.3 Nilai-Nilai Pancasila Dalam Penyelenggaraan Pemerintah


Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa terdapat kandungan akan
nilai-nilai. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional adalah nilai-nilai yang
bersifat tetap. Namun, pada penjabarannya, dilakukan secara dinamis dan kreatif yang sesuai
dengan kebutuhan perkembangan masyarakat indonesia. Diterima Pancasila sebagai dasar
negara dan ideologi nasional (pandangan hidup bangsa) membawa dampak bahwa nilai-nilai

6
Pancasila dijadikan landasan pokok, dan landasan fundamental bagi setiap penyelenggaraan
negara Indonesia.
Pancasila berisi lima sila yang hakikatnya berisi lima nilai dasar yang fundamental.
Nila-nilai dasar Pancasila adalah nilai ketuhanan yang maha esa, nilai kemanusiaan yang adil
dan beradab, nilai persatuan indonesia, nilai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan nilai keadilan sosial bagi seluruh
rakyat indonesia. Berikut penjelasan mengenai Nilai-Nilai Pancasila adalah sebagai berikut:

1. Nilai Ketuhanan
Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengandung arti bahwa adanya pengakuan dan
keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Dari nilai
tersebut, menyatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa religius bukan bangsa
yang tidak memiliki agama atau ateis. Dari Pengakuan adanya Tuhan diwujudkan
dalam perbuatan untuk taat dalam setiap perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya
sesuai dengan ajaran atau tuntunan agama yang dianut. Nilai ketuhanan memiliki arti
bahwa adanya pengakuan akan kebebasan untuk memeluk agama, menghormati
kemerdekaan beragama, tidak ada paksaan serta tidak diskriminatif antarumat
beragama.
Contoh Nilai Ketuhanan:
 Hidup rukun dan damai dalam setiap antraumat beragama
 Tidak memaksakan agama atau kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
kepada orang lain
 Memberikan kebebasan dan juga kesempatan dalam beribadah sesuai agamanya
 Tidak membedakan agama atau kepercayaan dalam bergaul
 Sikap percaya dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Nilai Kemanusiaan
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti bahwa kesadaran sikap
dan perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan
hati nurani dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Manusia
diberlakukan sesuai harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang sama
derajatnya, hak, dan kewajiban asasinya.
Contoh Nilai Kemanusiaan:
 Mengakui persamaan derajat antara sesama manusia

7
 Senang melakukan kegiatan yang sifatnya kemanusiaan
 Memiliki sikap dan perilaku berani dalam membela kebenaran dan keadilan
 Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan
 Menghormati orang lain
 Tidak bersikap diskriminatif terhadap orang lain

3. Nilai Persatuan
Nilai Persatuan Indonesia mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam
kebulatan rakyat untuk membina rasa nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia. Persatuan Indonesia juga mengakui dan menghargai dengan sepenuh hati
terhadap keanekaragaman di Indonesia, sehingga perbedaan bukanlah sebab dari
perselisihan, tetapi itu akan dapat menciptakan kebersamaan. Dari kesadaran ini
tercipta dengan baik jika sungguh-sungguh menghayati semboyan Bhineka Tunggal
Ika.
Contoh Nilai Persatuan:
 Cinta tanah air dan bangsa
 Memiliki sikap yang rela berkorban demi tanah air
 Mendahulukan kepentingan bangsa dan negara
 Persatuan dengan berdasar Bhineka Tunggal Ika
 Memelihara ketertiban dunia yang berdasar kepada kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial

4. Nilai Kerakyatan
NilaI kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan yang mengandung makna bahwa suatu pemerintahan
dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat dengan cara musyawarah untuk mufakat
melalui lembaga-lembaga perwakilan. Berdasarkan dari. nilai tersebut, diakui paham
demokrasi yang mengutamakan pengambilan keputusan melalui musyawarah mufakat.
Contoh Nilai Kerakyatan:
 Ikut serta dalam pemilu
 Menjalankan musyawarah mufakat
 Mendahulukan kepentingan umum
 Mengembangkan sikap hidup yang demokratis
 Tidak memaksakan kehendak individu terhadap individu lainnya

8
5. Nilai Keadilan
Nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia mengandung makna sebagai
dasar sekaligus tujuan masyarakat indonesia yang adil dan makmur secara lahiriah
ataupun batiniah. Berdasarkan dari nilai tersebut, keadilan adalah nilai yang sangat
mendasar yang diharapkan dari seluruh bangsa Indonesia. Negara Indonesia yang
diharapkan adalah negara Indonesia yang berkeadilan.
Contoh Nilai Keadilan:
 Memiliki perilaku yang suka bekerja keras
 Berperilaku adil terhadap sesama
 Hidup sederhana
 Mengembangkan budaya menabung
 Memiliki sikap yang menghargai karya orang lain yang bermanfaat bagi bangsa
Indonesia

Nilai-Nilai Pancasila dijabarkan dalam setiap peraturan perundang-undangan yang


telah ada dan tidak hanya itu baik itu ketetapan, keputusan, kebijakan pemerintah, program-
program pembangunan dan peraturan-peraturan lain yang pada hakikatnya merupakan
penjabaran nilai-nilai dasar Pancasila. Nilai-Nilai Dasar Pancasila adalah satu kesatuan yang
saling berhubungan dan menjiwai satu sama lain. Sehingga dari semua nilai dasar dari sila-
sila Pancasila menjadi acuan dalam penyelenggaraan negara.

9
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pancasila sebagai nilai dapat berupa Nilai ketuhanan Yang Maha Esa Mengandung arti
adanya pengakuan dan keyakinan bangsa terhadap adanya Tuhan sebagai pancipta alam
semesta. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab mengandung arti kesadaran sikap dan
perilaku sesuai dengan nilai-nilai moral dalam hidup bersama atas dasar tuntutan hati nurani
dengan memperlakukan sesuatu hal sebagaimana mestinya. Nilai persatuan indonesia
mengandung makna usaha ke arah bersatu dalam kebulatan rakyat untuk membina rasa
nasionalisme dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nilai kerakyaran berupa
musyawarah mufakat melalui lembaga-lembaga perwakilan. Nilai Keadilan social bagi
seluruh rakyat indonesia mengandung makna sebagai dasar sekaligus tujuan, yaitu tercapainya
masyarakat Indonesia Yang Adil dan Makmur secara lahiriah atauun batiniah.Pancasila
bersumber pada budaya dan pengalaman bangsa Indonesia yang berkembang akibat usaha
bangsa dalam mencari jawaban atas persoalan-persoalan esensial yang menyangkut makna
atas hakikat sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Ideologi negara
dalam arti cita-cita negara memiliki ciri-ciri sebagai diantaranya mempunyai derajat yang
tinggi sebagai nilai hidup kebangsaan dan kenegaraan.Keseluruhan ciri-ciri khas bangsa
Indonesia, yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya. Keseluruhan
ciri-ciri khas bangsa Indonesia adalah pencerminan dari garis pertumbuhan dan
perkembangan bangsa Indonesia sepanjang masa.Pengertian pandangan hidup adalah suatu
hal yang dijadikan sebagai pedoman hidup, dimana dengan aturan aturan yang di buat untuk
mencapai yang di cita citakan.

3.2. Saran
1. Penyelenggaraan negera seharusnya memiliki evaluasi secara khusus dan bertahap dan
adaya pentanggungjawaban secara moriil kepada masyarakat mengenai tugas yang di emban.
2. Adanya penerapan Nilai-nilai Pancasila sebagai issue yang selalu di angkat oleh
penyelenggara negara dan di sosialisasikan kepada masyarakat.
3. Sebaiknya segala macam tindakan penyelengga negara dapat melihat secara visual kondisi
masyarakat dan menetapkan hukum yang sesuai aktualisasi nilai Pancasila untuk
kesejahteraan masyarakat

10
DAFTAR PUSTAKA

Habib Mustopo, M.1992. Ideologi Pancasila dalam Menghadapi Globalisasi dan Era Tinggal
Landas. Bandungan-Ambarawa: Panitia Seminar dan Loka Karya Nasional MKDU
Pendidikan Pancasila Dosen-dosen PTN/PTS dan Kedinasan Pada tanggal 29 – 30
September 1992.

Koento Wibisono. 1988. Pancasila Ideologi Terbuka. Magelang: Panitia Temu Karya Dosen-
Dosen PTN Se-Jawa Tengah dan Kopertis Wil.VI.

Abdulkadir Besar. 1994. Pancasila dan Alam Pikiran Integralistik (Kedudukan dan
Peranannya dalam Era Globalisasi). Yogyakarta: Panitia Seminar
“GlobalisasiKebudayaan dan Ketahanan Ideologi” 16-17 November 1994 di UGM.

11