Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN MAGANG RSJD DR. RM.

SOEDJARWADI
JAWA TENGAH (KASUS SKIZOFRENIA)

Disusun Oleh:
Faqiha Mita Afifa
16320197

Dosen Pengampu:
Nanum Sofia S.Psi, S.Ant., M.A.

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


FAKULTAS PSIKOLOGI DAN ILMU SOSIAL BUDAYA
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
YOGYAKARTA
2019
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR MAGANG RSJD DR. RM. SOEDJARWADI
JAWA TENGAH (KASUS SKIZOFRENIA)
Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Magang pada
Program Studi Psikologi
Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia

Diujikan pada Tanggal

Penyusun:
Nama Mahasiswa: Faqiha Mita Afifa
Nomor Mahasiswa: 16320197
Mengesahkan,
Ketua Program Studi

(Yulianti Dwi Astuti, S. Psi, M. Soc.Sc)

Tanda Tangan

Nanum Sofia S.Psi, S.Ant., M.A.

Dra. Sukarsini, Psikolog.


HALAMAN PERNYATAAN

Bersama ini, saya menyatakan bahwa selama melakukan dan membuat


Laporan Magang, tidak melanggar etika akademik seperti penjiplakan,
modifikasi data, dan fabrikasi data. Jika ternyata terbukti melanggar etika
akademik, maka saya sanggup menerima sanksi dari dewan penguji dan
pengelola program studi. Sanksi yang saya terima berupa pembatalan nilai
di mata kuliah magang dan mendapat sanksi sesuai beratnya pelanggaran.

Yogyakarta, 17 Desember 2019

(Faqiha Mita Afifa)


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan, prevalensi
skizofrenia/psikosis di Indonesia sebanyak 6,7 per 1000 rumah tangga.
Artinya, dari 1.000 rumah tangga terdapat 6,7 rumah tangga yang
mempunyai anggota rumah tangga (ART) pengidap skizofrenia/psikosis.
Secara umum, hasil riset riskesdas 2018 juga menyebutkan sebanyak 84,9%
pengidap skizofrenia/psikosis di Indonesia telah berobat. Namun, yang
meminum obat tidak rutin lebih rendah sedikit daripada yang meminum
obat secara rutin. Tercatat sebanyak 48,9% penderita psikosis tidak
meminum obat secara rutin dan 51,1% meminum secara rutin. Sebanyak
36,1% penderita yang tidak rutin minum obat dalam satu bulan terakhir
beralasan merasa sudah sehat. Sebanyak 33,7% penderita tidak rutin berobat
dan 23,6% tidak mampu membeli obat secara rutin. Menurut Irmansyah
(dalam Nainggolan, 2013) di Indonesia diperkirakan sekitar 30.000 orang
penderita skizofrenia harus dipasung dengan alasan agar tidak
membahayakan orang lain atau untuk menutupi aib keluarga, namun hal ini
justru memperparah keadaan pasien itu sendiri.
Menurut Pedoman PPDGJ III, skizofrenia dijelaskan sebagai
gangguan jiwa yang ditandai dengan distorsi khas dan fundamental dalam
pikiran dan persepsi yang disertai dengan adanya afek yang tumpul atau
tidak wajar. Nevid (2003) memaparkan bahwa skizofrenia merupakan
gangguan psikotik yang kronis, ditandai oleh episode akut yang
mencangkup kondisi terputus dengan realita yang ditampilkan dalam ciri-
ciri seperti waham, halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan yang tidak
koheren, dan perilaku yang aneh
Menurut Riset Kesehatan Dasar 2017 menyatakan penyebaran
prevalensi tertinggi terdapat di Bali dan DI Yogyakarta dengan masing-
masing 7% pe mil dan 9% per mil mengidap skizofrenia/psikosis, artinya
dapat disimpulkan di Yogyakarta sendiri setiap 2 km terdapat 3 atau 4 orang
yang terkena skizofrenia. Data tahun 2016 RSJD Dr. RM. Soedjarwadi
menyatakan bahwa skizofrenia menempati nomor pertama sebagai penyakit
yang paling sering ditangani dengan rincian sikofrenia paranoid sebanyak
676 pasien, skizofrenia tak terinci sebanyak 176 pasien , dan skizofrenia
terinci sebanyak 126 pasien.

B. Tujuan
Belajar menjadi seorang psikolog secara nyata di masyarakat.
Mengetahui gejala skizofrenia secara nyata dengan melihat apa yang terjadi
dilapangan dengan dibimbing oleh orang-orang yang professional.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan laporan ini dapat memberi sumbangsih yang baik dalam
bidang psikologi terutama psikologi klinis.
2. Manfaat Praktis
Pada civitas hospitalia, hasil asesmen pada laporan ini dapat
menjadi pedoman pada asesmen atau intervensi selanjutnya. Pada
masyarakat menjadi mengerti gejala skizofrenia dan dapat melakukan
tindakan preventif yang tepat. Penulis sebagai mahasiswa juga dapat
menjadikan laporan ini sebagai pemenuhan tugas mata kuliah magang,
sekaligus mearasakan dunia kerja sebagai seorang psikolog yang
sesungguhnya.
BAB 2
METODE ASESMEN
A. Wawancara
Wawancara yang dilakukan menggunakan jenis wawancara tidak
terstruktur. Menurut Sulistyarini dan Novanti (2012) wawancara tidak
terstruktur adalah wawanacara menggunakan metode bebas, dimana
interviewer tidak menggunakan pedoman yang teal tersusun secara
sistematis dan hanya menggunakan garis besar permasalahan yang akan
diatanyakan. Garis besar pertanyaan adalah tentang masa lalu, riwayat sakit,
gejala, dan keluarga. Menggunakan pertanyaan 5W+1H.
1. Pihak Rumah Sakit (Psikolog dan Suster)
Ibu subjek juga pernah masuk ke rumah sakit karena skizofrenia.
Ayahnya adalah seorang panglima jenderal TNI. Subjek masih perlu
diperintah untuk melaksanakan pekerjaan rumah, seperti mencuci,
menyapu, mengepel, dan menyiram tanaman. Jika tidak diperintah,
subjek tidak menyentuh pekerjaan rumah sekalipun. Saat berjalan-jalan
mengelilingi desa, subjek mampu mengingat nama-nama tetangga dan
menyapanya satu persatu. Hal itu yang masih terus dikontrol oleh
psikolog ketika berkunjung. Perilaku subjek dirumah dan RSJ berbeda,
di RSJ subjek lebih patuh dan tenang Sedangkan di rumah, subjek
memiliki rawat diri yang kurang baik, sering bermalas-malasan,
membangkang, dan susah meminum obat secara teratur. Makanan yang
ada di dalam rumah subjek sering dilakukan dengan cara penyajian yang
kurang layak yaitu kotor dan bahan yang sudah basi. Trigger yang
terjadi yaitu setelah subjek ditinggalkan oleh suami yang ternyata
selingkuh dengan saudaranya sendiri. Ketika di bangsal, subjek tidak
terlalu banyak bicara dengan pasien lain. Namun, saat diajak berbicara
subjek mampu merespon dengan ramah. Subjek bersedia membantu
perawat bangsal untuk menyiapkan makanan ataupun membereskan
meja seusai makan. Subjek pun sesekali membantu perawat bangsal
mengurus pasien lain yang belum memiliki rawat diri yang baik, seperti
memandikannya. Saat dibangsal rehabilitasi psikososial, subjek juga
tampak sering menyendiri. Psikolog sempat melihat subjek sedang
berbicara sendiri sambil melihat pohon belimbing. Saat ditanya oleh
psikolog, subjek menjawab bahwa ia mendengar suara yang
menyuruhnya memetik belimbing. Subjek berusaha menolak
permintaan tersebut dengan mengatakan bahwa kakinya sedang sakit
sehingga ia tidak bisa berdiri.

2. Significant Others
Subjek pernah bertelanjang bulat dan tidak mau dipakaikan baju,
ketika itu subjek malah berlari dan berteriak-teriak. Subjek pernah
memberi makan anaknya dengan sabun. Ibu subjek menunjukan gejala
skizofrenia yaitu waham ketika diwawancara. Ibu subjek menceritakan
bahwa subjek sangat keras kepala dan tidak bisa diatur. tetangga
mengatakan beberapa kali meliaht subjek berbicara sendiri.
3. Subjek
Subjek pernah melakukan operasi kanker payudara. Subjek
menceritakan tentang suaminya yang sangat perhatian dan saying
terhadapnya dan anak-anak. Saat dirumah, aktivitas yang biasa
dilakukan oleh subjek adalah menonton TV, tidur, dan mengantar serta
menjemput anak sekolah. Subjek berkata bahwa sangat menyayangi
anak-anaknya dan ibunya, tetapi sang ibu selalu memarahi subjek.
Subjek merasa penghuni RSJ lebih menghargainya dan lebih halus.
Sehingga subjek merasa senang ketika membantu perawat di RSJ.
Sedangkan dirumah, subjek merasa segala hal yang dilakukannya selalu
salah dimata sang ibu sehingga ia pun malas untuk melakukan aktivitas
bebersih rumah. Subjek berpikir bahwa dirinya dicintai oleh banyak
laki-laki. Bahkan, satu diantara mereka mengejar hingga ke dalam
mimpi. Subjek sering bercerita tentang ular dan dewa dewi. Subjek
mengaku bahwa dirinya bisa menciun bau melati pada tubuh orang yang
akan meninggal dunia.
B. Observasi
Subjek merupakan seorang perempuan yang memiliki tinggi badan
sekitar 160 cm dan berat badan sekitar 60 kg. Subjek memiliki kulit sawo
matang yang bersih, rambut pendek bergelombang yang tersisir rapi, gigi
kuning agak kecoklatan, bibir hitam, dan kuku terpotong rapi. Subjek
kurang dapat berbicara dengan normal, mata subjek sedikit julid. Ketika
berjalan, subjek cenderung menyeret kakinya dengan gerakan tangan dan
posisi yang kaku seakan-akan ia seperti robot yang sedang berjalan.
Subjek pulang ke rumah ketika sudah habis masa bpjs rumah sakit yaitu
21 hari. Praktikan mengunjungi rumah subjek. Rumah subjek berada tidak
terlalu jauh dari rumah sakit dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit.
Rumah subjek sedang direnovasi, banyak debu, dan seluruh lantai kotor,
lemari dibiarkan terbuka. Pintu dan jendela juga tidak pernah ditutup. Di
dapur terdapat banyak makanan basi dan banyak perabotan kotor ditaruh
diatas meja panjang. Di depan rumah, terdapat kandang ayam kecil, yang
ayamnya didapat dari peternakan ayam disamping rumah. Subjek
mengambil ayam-ayam yang telah dibuang oleh peternakan karena sakit dan
ditaruh di dalam kandang, apabila ayam tersebut mati, maka akan dilempar
ke dalam kolam ikan, sehingga menimbulkan bau busuk dari kolam.
Beberapa ayam bebas keluar masuk rumah, beberapa kali membuang
kotoran di tempat yang tidak seharusnya seperti kursi dan meja. Subjek dan
kedua anak tidak menggunakan sandal ketika diluar atau di dalam rumah,
kecuali jika bepergian.
Saat di rumah beberapa kali ibu dari subjek membentak subjek ketika
subjek melakukan hal yang dianggap kesalahan oleh ibunya, dan subjek
juga membalas dengan suara yang tingi pada ibu subjek. Sang ibu terus
menerus menceritakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan subjek didepan
subjek dan didepan umum. Ibu subjek merupakan orang yang berpendidikan
hal ini diketahui dari pemilihan diksi saat interaksi dengan praktikan. Kedua
anak subjek sering bermain dengan gadget. Respon warga disekitar rumah
subjek mengetahui bahwa subjek sakit, dan ikut menjaga subjek, walaupun
pada awalnya sempat menjauhi subjek.
C. Pelaksanaan
Hari/Tgl Waktu Kegiatan Tempat
Selasa, 01 11.00 – Wawancara, Observasi Rumah subjek
Oktober 2019 16.00 subjek dan significant
others
Rabu, 02 15.30 – Wawancara Suster Bangsal Helikonia
Oktober 2019 17.00
Jumat, 04 11.00 – Wawancara Psikolog Poli Psikologi
Oktober 2019 13.00
Senin, 07 11.30 – Wawancara, Observasi Rumah Subjek
Oktober 2019 15.00 subjek dan significant
others
Selasa, 08 11.30 – Wawancara, Observasi Rumah Subjek
Oktober 2019 15.30 subjek dan significant
others
Rabu, 09 11.30 – Wawancara Psikolog Poli Psikologi
Oktober 2019 15.30
Jumat, 11 13.00 – Wawancara Psikolog Poli Psikologi
Oktober 2019 15.00
Selasa, 15 14.30 – Wawancara Suster Bangsal Helikonia
Oktober 2019 17.00
Jumat, 18 14.00 – Wawancara Psikolog Poli Psikologi
Oktober 2019 16.00
Senin, 21 11.00- Diskusi dengan psikolog Poli psikologi
Oktober 2019 15.30
Jumat, 25 13.00- Diskusi dengan psikolog Poli psikologi
Oktober 2019 15.00
BAB 3
HASIL ASESMEN
A. Profil Individu
1. Nama (Inisial) : SP
2. Jenis Kelamin : Perempuan
3. Tempat Tanggal Lahir : Madiun, 23 Februari 1974
4. Alamat : Nangsri, Manisrenggo
5. Suku Bangsa : Indonesia
6. Agama : Islam
7. Urutan Lahir : 2 dari 3 bersaudara
8. Pendidikan : D3 Akademi Perhotelan
9. Pekerjaan : Tidak Bekerja
10. Status pernikahan : Bercerai
11. Tanggal masuk RSJ : 13 Agustus 2019

12. Identitas Orang Tua


Ayah Ibu
Nama Alm. S N
Umur - 74 tahun
Pendidikan ABRI D3 Kebidanan
Agama Islam Islam
Suku Bangsa Jawa Jawa
Pekerjaan - IRT
Status Meninggal Dunia Janda
Jumlah anak 3 3
Meninggal pada tahun Nangsri, Manisrenggo
Alamat
2005 (Idem Subjek)

13. Identitas Saudara


Kakak Adik
Nama Alm. M W
Jenis kelamin Laki-laki Laki-laki
Umur - 40 tahun
Pendidikan - SMA/SMK
Agama - Islam
Pekerjaan - Operator
Status - Belum Menikah
Alamat - Bekasi
Meninggal Dunia pada tahun
Keterangan -
1984, ketika berusia 10 tahun

14. Identitas Anak


Anak 1 Anak 2
Nama S J
Jenis kelamin Perempuan Laki-laki
Umur 8 tahun 6 tahun
Pendidikan - -
Agama Islam Islam
Pekerjaan Pelajar SD Pelajar TK
Status Anak Kandung Anak Kandung
Manisrenggo Manisrenggo
Alamat
(Idem subjek) (Idem subjek)
Keterangan - -

B. Hasil Asesmen
Metode Atribut Psikologis
Kognitif Afektif Sosial
Wawancara - Subjek mampu - Subjek memiliki - Subjek mendapatkan
merespon setiap perasaan yang tidak perlakuan yang keras dari
pertanyaan aman terhadap ibu. Ibu sering berteriak,
praktikan dengan lingkungan mencemooh, dan
tepat. Akan tetapi sehingga memarahi subjek ketika
subjek ditemukan membuatnya melakukan sesuatu yang
beberapa kali memilih untuk dipandang tidak tepat.
melompat dari menarik diri dari - Subjek memiliki keinginan
topik satu ke topik lingkungan untuk bisa bergaul dengan
yang lain - Subjek menggalami lingkungan sekiat, akan
- Subjek berpikir kesulitan dalam tetapi ia mengalami
bahwa penyakit mengungkapkan hambatan dalam
yang diderita persaan-perasaan bersosialisasi.
disebabkan oleh nya. - Tetangga sering
santet - Subjek memiliki menemukan subjek sedang
- Subjek berpikir keinginan untuk berbicara sendiri
bahwa dirinya sembuh dan - Subjek sering bercerita
dicintai oleh memiliki kondisi tentang ular dan dewa
banyak laki-laki. yang lebih baik dewi.
Bahkan, satu - Subjek mudah - Subjek mengaku bahwa
diantara mereka marah dan dirinya bisa menciun bau
mengejar hingga ke tersinggung ketika melati pada tubuh orang
dalam mimpi diingatkan atau yang akan meninggal
dinasihati orang dunia.
lain - Agresifitas yang tidak
terkontrol
Observasi - Ketika berbincang dengan praktikan, subjek mampu merespon dengan
ramah.
- Cara berjalan subjek pun cenderung diseret, dengan gerakan tubuh yang kaku
seakan-akan seperti robot yang sedang berjalan. Subjek juga mampu menjalin
relasi dengan orang lain. Subjek sempat ditemukan oleh praktikan sedang
berbicara sendiri.
- Selama di bangsal inap, subjek lebih banyak menghabiskan waktunya
dikamar. Subjek sudah mampu membantu peraswat menyiapkan makanan
dan mengurus pasien lain.
- Subjek memarahinya dengan nada tinggi pada anak dengan maksud agar
lebih menurut, begitu juga ketika berdebat dengan ibunya
- Ketika melakukan wawancara atau melihat-lihat rumah, subjek tidak
menolak melakukannya.

Sejak kecil, subjek sering mendengar kedua orang tuanya bertengkar.


Pada tahun 1983, subjek dan saudaranya diajak ibu pindah ke Gresik setelah
mengalami pertengkaran dengan ayah. Dalam perjalanan dari Madium menuju
Gresik, bus yang ditumpangi subjek mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan kakaknya meninggal dunia. Setelah kejadian tersebut, ibu
mengalami gejala-gejala : mengurung diri di kamar, sering berkata kotor, mulai
mempercayai hal mistis, mengaku mendapatkan wayu untuk melestarikan ilmu
kejawen, mengaku bertemu dengan tokoh-tokoh kerajaan zaman dulu, senang
mengatur, dan sensitive terhadap kritik.
Subjek dan ibu kemudian kembali tinggal bersama dengan ayah di
Madiun. Hingga pada tahun 1996, orang tua subjek kembali bertengkar yang
mengakibatkan ayah mengusir ibu. Ibu pun membawa subjek, adik, serta
paman kembali ke Klaten. Di Klaten, ibu selalu marah-marah, memaksakan
kehendak, mengumpat subjek, dan melakukan kekerasan fisik. Karena merasa
tidak adil diperlakukan tidak baik, subjek pun tidak tinggal diam. Subjek mulai
merespon sikap ibu dengan marah-marah dan berkata kotor. Kondisi yang
demikian mengakibatkan kemarahan ibu semakin meningkat dan sering
menimbulkan percekcokan diantara keduanya.
Pada tahun 1997, ibu subjek membangun sebuah yayasan TK di
belakang rumah. Disinilah subjek bertemu dengan kekasih pertamanya yang
merupakan cleaning service atau marbot di TK tersebut. Subjek merasa
bahagia dengan kehadiran kekasihnya yang berperilaku lembut dan penuh
perhatian. Bersama kekasihnya, subjek berani melakukan hubungan seks di
luar nikah. Mulanya, subjek dipaksa oleh sang kekasih, tetapi kemudian
bersedia melakukannya tanpa paksaan. Mengetahui hal tersebut, ibu menjadi
sangat marah dan memaksa subjek memutuskan hubungannya dengan sang
kekasih. Subjek merasa sedih, hampa, dan depresi. Subjek mulai tidak mau
makan, menyendiri, marah-marah, selalu menangis, dan memusuhi ibu.
Tahun 1998 subjek masuk RSJ pertama kali, tapi dibawa pulang oleh
ibu karena merasa RSJ tidak berhasil dan dibawa berobat ke Ki Ronggowarsito,
sang ayah jarang menjenguk subjek karena tidak mempercayai apa yang
dikatakan sang ibu tentang kondisi subjek. Tahun 2004 sang ayah terkena
stroke. Tahun 2005 sang ayah meninggal dunia, subjek terpukul karena
kehilangan satu-satunya sosok yang menyayanginya.
2010 subjek bertemu dengan mantan suami, dan menjalin hubungan
kembali. Pada tahun 2013 subjek mendapati suaminya selingkuh dengan kakak
iparnya, lalu bercerai. Tahun 2014 sampai 2019 subjek mulai mengalami
waham dan halusianasi yang sangat sering baik visual maupun auditori, selain
itu perilaku agresif subjek juga sering terjadi terhadap diri sendiri maupun
sekitarnya.
C. Pembahasan
McGlashan menjelaskan bahwa apabila hendak membahas
psikogenesis skizofrenia, mau tidak mau harus membahas pula tentang proses
perkembangan seseorang serta perkembangan kepribadian itu sendiri.
Bagaimana sebuah proses perkembangan itu berjalan dan apa saja yang dapat
menyebabkan berbagai kerentanan di dalam kepribadian, yang berujung
terjadinya kerusakaan kepribadian pada diri seseorang. Subjek mengalami
broken home, dimana diantara kedua orang taunya tidak ada yang memberikan
kasih sayang pada subjek. Sang ayah yang mendidik dengan gaya militer yang
otoriter pada subjek. Sang ibu yang mengalami masa sulit ketika setelah
perceraian dan kematian saudara subjek membuat sang ibu juga sangat
terpukul, sehingga sikapnya berubah menjadi sangat agresif termasuk pada
subjek. Oleh karena itu, dibanding dengan ibu yang dianggap subjek sangat
jahat, subjek lebih dekat pada sang ayah yang jarang dirumah karena tugas.
Adanya interaksi dengan lingkungan psikologis inilah yang akan membentuk
kerpibadian seseorang, yang tidak lain adalah keluarga (Sadock&Sadock,
2010). Interaksi dalam keluarga subjek tidak baik, sehingga membentuk
kepribadian subjek dan menjadikannya gangguan skizofrenia.
Subjek yang membutuhkan kasih sayang dan sangat berharap pada sang
ayah, justru sang ayah meninggal karena stroke. Sang ibu yang kehilangan ayah
dan subjek yang kehilangan sosok ayah menjadikan keduanya saling tidak akur
satu sama lain. Nevid (2003) memaparkan bahwa skizofrenia merupakan
gangguan psikotik yang kronis, ditandai oleh episode akut yang mencangkup
kondisi terputus dengan realita yang ditampilkan dalam ciri-ciri seperti waham,
halusinasi, pikiran tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku
yang aneh. Subjek mulai melihat dan mendengar hal-hal seperti berbicara pada
kakeknya yang telah meninggal, melihat ular, pocong, dan lainnya hal ini
masuk dalam gejala positif skizofrenia. Subjek menjadi buruk dalam
bersosialisasi, hal ini terlihat pada gangguan emosi dan agresi yang terjadi.
Menurut Sadock dan Sadock (2010) penderita skizofrenia akan mengalami
perubahan pada sosial yaitu dengan menjauhi, melawan hal ini masuk kedalam
gejala negative skizofrenia. Selain itu gejala negative lainnya adalah
ketidakmauan subjek untuk melakukan kegiatan sehari-hari.
Keluarga subjek yang otoriter membuat subjek tidak bisa berpendapat
sesuai pikirannya, sehingga hal tersebut membuat subjek meledak di akhir dan
menyebabkan agresi. Ibu yang pernah masuk ke RSJ dan juga mempunyai
gangguan skizofrenia, menjadi salah satu penyebab, hal ini termasuk pada
faktir resiko yaitu keluarga. Handayani, Febriani, Rahmadani, dan Saufi (2018)
menjelaskan bahwa faktor psikososial merujuk kepada adanya kerawanan
(herediter) yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat
kejiwaan, adanya hubungan orang tua-anak yang patogenik, serta interaksi
yang patogenik dalam keluarga. Erlina, Soewardi dan Parmono (2010)
memaparkan bahwa kondisi keluarga yang berkonflik beresiko 1,13 kali
memunculkan gangguan skizofrenia dibandingkan dengan keluarga yang tidak
berkonflik.
Stresor psikososial dari masalah hubungan interpersonal menurut
Handayani, Febriani, Rahmadani, dan Saufi (2018), dapat berupa hubungan
dengan kawan dekat yang mengalami konflik, atau konflik dengan kekasih,
konflik dengan rekan sekerja, konflik dengan atasan dan bawahan dan lain
sebagainya. Konflik antar pribadi ini dapat merupakan sumber stres bagi
seseorang yang bila tidak dapat diperbaiki yang bersangkutan dapat jatuh sakit.
Subjek mengalami konflik dengan ibunya, konflik dengan diri sendiri ketika
ayah meninggal, konflik dengan suami yang selingkuh.

D. Kesimpulan
Sejarah subjek sampai mendapat gangguan skizofrenia diawali dari
keluarga yang tidak harmonis, dengan kedua orang tua yang kurang peduli,
kekerasan oleh ibu kandung. Adanya kepribadian dependent pada sang ayah,
dan sang ayah meninggal, setelah itu menemukan pengganti ayah yaitu
suaminya tetapi suami malah berselingkuh dengan orang terdekat subjek. Pola
perkembangan subjek setelah saudara kandung meninggal dan ibu mengidap
skizofrenia juga, jadi subjek diasuh oleh ibu yang skizofrenia. Setelah semua
hal yang dilalui tidak ada pertolongan dari siapapun termasuk tetangga,
saudara, dan lainnya.
BAB 4
REKOMENDASI INTERVENSI

A. Kajian Teoritik
1. Terapi Suportif
Beberapa penelitian berhasil menunjukkan bahwa terapi suportif efektif
untuk menangani berbagai permasalahan terkait skizofrenia. Penelitian
yang dilakukan oleh Harkomah (2018) membuktikan bahwa terapi suportif
dapat berpengaruh pada keterampilan sosialisasi penderita skizofrenia.
Hasil dari penelitian Surtiningrum (2011) menunjukkan bahwa kelompok
yang mendapat terapi suportif mengalami perbedaan yang signifikan
mengenai kemampuan afektif dan bersosialisasi, kemampuan psikomotor,
kognitif, dan sosial
Terapi suportif bertujuan untuk melakukan evaluasi diri, melihat
kembali cara menjalani hidup, eksplorasi sebagai pilihan yang ada, dan
mengajukan pertanyaan pada diri sendiri terkait hal-hal yang diinginkan di
masa depan. Terapi suportif membantu pasien agar memfungsikan secara
lebih efektif dengan cara memberikan dukungan, pendampingan, dan
dorongan kepada pasien. Secara umum terapi suportif memiliki tujuan
untuk memperkuat fungsi psikologis subjek agar lebih sehat dan
diharapkan muncul pola-pola perilaku yang lebih adaptif. Tujuan lain dari
terapi ini adalah mengurangi konflik intrapsikis yang seringkali
berdampak pada munculnya gejala-gejala gangguan mental (Mutiara,
2017).
2. Psikoedukasi
Psikoterapi selanjutnya yang diberikan adalah psikoedukasi terhadap
keluarga yang bertujuan untuk memberikan informasi dan pemahaman
mengenai permasalahan yang dialami subjek. Hal ini dilakukan dengan
harapan keluarga dapat memberikan dukungan dan pendampingan yang
optimal kepada subjek. Menurut Nurdiana (2007) menyebutkan bahwa
keluarga berperan penting dalam perawatan dan kekambuhan penderita
skizofrenia. Oleh karena itu, keluarga atau caregiver penting untuk
memahami bagaimana kondisi pasien gangguan jiwa dan cara-cara untuk
mendukung dan mendampingi mereka.
Psikoedukasi adalah treatment yang diberikan secara profesional
dimana mengintegrasikan intervensi psikoterapeutik dan edukasi.
Kartikasari, Yosep, dan Sriati (2017) mengungkapkan bahwa psikoedukasi
dapat menjadi intervensi tunggal, tetapi juga sering digunakan bersamaan
dengan beberapa intervensi lainnya untuk membantu partisipan
menghadapi tantangan kehidupan tertentu.
3. Rehabilitasi Sosial
Berdasarkan data yang diambil, subjek tidak memiliki lingkungan
yang dapat membantu sembuh dari gangguan tersebut, hal ini terlihat dari
ibu subjek yang menderita gangguan juga, keluarga yang jauh dan kurang
peduli, serta masyarakat yang menjauhi. Oleh karena itu, iperlukan
perubahan pengobatan melalui lingkungan. Menurut berita seperti detik
dan kompas tahun 2016, DIY telah mempunyai rehabilitasi terintegrasi
untuk pasien skizofrenia. Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Asuransi
Kesehatan Jiwa UGM menuturkan rehabilitasi ini Sebagai wujud
kepedulian Pemerintah Daerah terhadap penanganan komprehensif Orang
Dengan Skizofrenia (ODS) sudah diatur dalam Peraturan Gubernur DIY
Nomor 81 Tahun 2014 tentang Pedoman Penanggulangan Pemasungan,
salah satu tujuan yaitu mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan
jiwa masyarakat di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peraturan Gubernur DIY Nomor 51 Tahun 2013 tentang Sistem
Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Khusus Bagi Penyandang Disabilitas
merupakan suatu bentuk komitmen dari Pemerintah Provinsi DIY terhadap
penyandang disabilitas khususnya bagi setiap Orang Dengan Skizofrenia
(ODS) yang bertujuan untuk memberikan jaminan pelayanan kesehatan
yang berkesinambungan, aksesibel, terjangkau, dan alat bantu kesehatan
yang menjadi kebutuhan penyandang disabilitas sesuai indikasi medis,
secara terkoordinasi dan terintegrasi antara pemerintah daerah dan
pemerintah kabupaten/kota dalam pengembangan dan penyelenggaraan
program jaminan kesehatan bagi penduduk Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pusat KP-MAK menjelaskan Tujuan rehabilitasi bukan hanya
berupa pelayanan medis di fasilitas kesehatan, namun masih diperlukan
masa stabilisasi dan pemulihan untuk mencegah kekambuhan, mengurangi
angka pemasungan kembali, mengembalikan fungsi sosial agar dapat
kembali produktif baik untuk diri sendiri maupun masyarakat, serta
mengembalikan fungsi ekonomi keluarga yang disebabkan oleh tingginya
beban biaya pengobatan. Hal lain yang menjadi kebutuhan adalah
terlaksananya program kesehatan jiwa yang komprehensif untuk
mengatasi permasalahan tingginya prevalensi skizofrenia di DIY. Dalam
upaya pelaksanan kesehatan jiwa secara komprehensif sangat diperlukan
peran aktif lintas sektor (multi stakeholder) terkait dengan program upaya
pencegahan, pengobatan, pemulihan, sampai dengan upaya rehabilitasi
medis maupun rehabilitasi sosial yang harus dilakukan secara
terkoordinasi, terintegrasi, komprehensif, dan berkesinambungan.
Penelitian yang dilakukan oleh Barton menunjukkan bahwa 50%
dari penderita. Skizofrenia kronis yang menjalani program rehabilitasi
dapat kembali produktif dan mampu menyesuaikan diri kembali di
keluarga dan masyarakat (Maryatun, 2015). Maryatun (2015) salah
satunya adalah program rehabilitasi khususnya terapi gerak merupakan
upaya meningkatkan kemampuan pasien agar dapat hidup mandiri di
masyarakat dan melatih pasien untuk terbiasa menjalankan aktivitasnya
sehari- hari.
B. Rancangan Intervensi
Hari Jenis Intervensi Tahapan Kegiatan Target
Hari 1 Terapi Sesi 1 Subjek mampu memahami
Supportif Pembukaan dan bersedia mengikuti
serangkaian proses
intervensi yang akan
dilakukan
Sesi 2 Refleksi Subjek mampu
perasaan dan mengeluarkan dan
pengalaman menerima emosi dan
pengalaman yang dialami
Hari 2 Terapi Sesi 3  Subjek menyadari akan
Supportif pengenalan gangguannya
gangguan yang  Subjek memahami faktor
dialami oleh yang dapat
subjek dan mempengaruhi
penyebabnya munculnya gangguan
yang dialami
 Subjek paham mengenai
dampak butuk jika
gangguan yang dimiliki
tidak berkurang
Sesi 4  subjek memiliki
Pemberian motivasi kemauan untuk
bahwa gangguan yang mengurangi gejala yang
dialami subjek dapat dialami
membaik  subjek mampu
termotivasi dan menuruti
saran dari pihak rumah
sakit agar gejalanya tidak
kambuh
Hari 3 Terapi suportif Sesi 5  Meningkatkan insight
Menyadari subjek tentang hal-hal
peranannya sebagai yang sudah dan belum
seorang ibu berhasil dilakukan
dalam menjalankan
tugas/perannya sebagai
seorang ibu
Sesi 6  Meningkatkan kemauan
subjek untuk memahami
ibunya
Menyadari  Meningkatkan insight
peranannya sebagai subjek tentang hal-hal
seorang anak yang sudah dan belum
berhasil dilakukan
dalam menjalankan
tugas/perannya sebagai
seorang anak
Sesi 7  Meningkatkan insight
Berpikir tentang subjek tentang kegiatan
solusi dan refleksi yang bisa dilakukan
peranannya sebagai untuk berperan sebagai
ibu dan anak seorang ibu dan anak
Hari 4 Terapi Suportif Sesi 8  Mengkonfirmasi
Followup dan internalisasi insight
penguatan peranan subjek tentang
subjek sebagai ibu peranannya sebagai
seorang ibu dan anak
 Menguatkan insight
subjek tentang
perananan sebagai ibu
dan anak
 Memantau kegiatan
subjek dalam
menjalankan
peranannya sebagai ibu
dan anak
Hari 5 Terapi suportif Sesi 9  Subjek memiliki
Reflektif pengalaman gambaran jika dirinya
menyelesaikan dapat menyelesaikan
permasalahannya permasalahan hidup
yang dialami
Sesi 10  subjek memiliki
Mengenali potensi diri gambaran mengenai
potensi dirinya
(kelemahan dan
kelebihan) serta
memiliki semangat untuk
mengatasi permasalahan
yang dihadapinya
Sesi 11  Meningkatnya insight
Berpikir realistis dan subjek tentang kelebihan
problem solving dan kekurangan serta
pemikiran yang kurang
realistis
 Meningkatnya
kemampuan subjek
dalam memecahkan
masalah dan mengambil
keputusan
Hari 6 Psikoedukasi Sesi 12 Keluarga memahami
keluarga Psikoedukasi kondisi mengenai kondisi-kondisi
subjek yang memungkinkan
subjek kambuh, perawatan
subjek yang berperilaku
mengisolasi diri, harga diri
rendah, dan mengatasi
halusinasi pada diri subjek
Sesi 13 Ibu memahami kondisi
Psikoedukasi kepada subjek dan tetap optimis
ibu subjek bahwa subjek bisa
sembuh.

Hari 7 Monitoring dan Sesi 14 Subjek dan keluarga dapat


Evaluasi Evaluasi mengisi lembar evaluasi
dan mengutarakan
feedback mengenai
program intervensi yang
sebelumnya telah
dilakukan

Rehabilitasi sendiri tidak dilakukan oleh satu individu sendiri terhadapa subjek,
sekalipun seorang psikolog dan praktikan rumah sakit, tapi subjek harus dibawa ke
sebuah temoat dengan lingkungan yang mendukung. Kesimpulannya subjek dapat
dimasukan dalam beberapa rumah sakit dengan menggunakan biaya dari
pemerinatah melalui lembaga skizofrenia Yogyakarta, atau melalui lembaga sosial
dan Dinas SDM DI Yogyakarta.
DAFTAR PUSTAKA
Erlina, Soewardi, & Pramono, D. (2010). Determinan Terhadap Timbulnya
Skizofrenia Pada Pasien Rawat Jalan di Rumah Sakit Jiwa Prof. Hb Saanin
Padang Sumatera Barat. Berita Kedokteran Masyarakat, 26 (2) : 71-80.

Handayani, L. Febriani, Rahmadani, A., & Saufi, A. (2018). Faktor Risiko Kejadian
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Grhasia Daerah Istimewa Yogyakarta.
Humanitas, 13 (2) : 135–148.

Harkoma, I., Arif, Y., & Barmanelly. (2018). Pengaruh Terapi Social Skill Training
(SST) dan Terapi Suportif terhadap Keterampilan Sosialisasi pada Klien
Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi. Indonesian
Journal for Health Sciences, 2 (1) : 65-70.

Kartikasari, R., Yosep, I., & Sriati, A. (2017). Pengaruh Terapi Psikoedukasi
Keluarga terhadap Self Efficacy Keluarga dan Sosial Okupasi Klien
Schizophrenia. JKP, 5 (2) : 123–135.

Mayatun, S., (2015). Peningkatan Kemandirian Perawatan Diri Pasien Skizofrenia


Melalui Rehabilitasi Terapi Gerak. Jurnal Keperawatan Sriwijaya, 2 (2):
108-114.

Mutiara. (2017). Penerapan Terapi Suportif untuk Meningkatkan Manajemen


Emosi Negatif pada Individu yang Memiliki Pasangan Skizofrenia. Jurnal
Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, 1 (1) : 105–115.

Nainggolan, N. (2013). “Profil Kepribadiandan Psychological Well-being


Caregiver Skizofrenia”. Jurnal Soul, Vol. 6, No.1, 21-43

Nevid, S.J., Rathus, A.S., dan Greene, B. (2004). Abnormal Psychology in a


Changing World. Jakarta : Erlangga.

Nurdiana, S. (2007) Hubungan Peran Serta Keluarga terhadap Tingkat


Kekambuhan Penderita Schizophrenia di RS Dr. Moch, (-).

Sadock, B.J. & Sadock, V.A. (2010). Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Science/Clinical Psychiatry. Philadelphia: Lippincott Williams
& Wilkins.

Sulistyarini, I. R., & Novianti, N. P. (2012). Wawancara Sebagai Metode Efektif


untuk Memahami Perilaku Manusia. Bandung: Karya Putra Darwati.
Surtiningrum, A. (2011). Pengaruh Terapi Suportif terhadap Kemampuan
Bersosialisasi pada Klien Isolasi Sosial di Rumah Sakit Jiwa Daerah Dr.
Amino Gondohutomo Semarang. Tesis: Fakultas Ilmu Keperawatan
Program Magister Ilmu Keperawatan (diterbitkan). Universitas Indonesia:
Depok.
LAMPIRAN