Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN...............................................................................i
DAFTAR ISI.........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang.....................................................................................................1
B. Tujuan.................................................................................................................2
C. Manfaat...............................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Hukum Mendel....................................................................................................3
B. Penyimpangan semu hukum Mendel...................................................................4
a. Kimplimenter.................................................................................................5
b. Atafisme........................................................................................................
c. Epistasis dan Hipostasis................................................................................
d. Kriptomeri.......................................................................................................
BAB III METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan tempat................................................................................................7
B. Alat dan bahan....................................................................................................7
C. Prosedur kerja.....................................................................................................7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan................................................................................................9
B. Pembahasan .......................................................................................................9
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................................10
B. Saran .................................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................11

7
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lalat buah (Drosophila melanogaster) telah banyak digunakan dalam
penelitian Genetika karena lalat ini mudah dipelihara pada medium makanan yang
sederhana. Selain itu, lalat buah juga mudah didapatkan di alam bebas dan
biasanya berkerumun pada buah-buahan yang telah busuk karena makanannya
berupa jamur yang tumbuh pada buah.
Lalat buah sangat mudah dipelihara, dan tidak memerlukan tempat yang luas
cukup dalam botol saja, serta mempunyai siklus hidup pendek. Lalat buah
(Drosophila melanogaster) juga memiliki berbagai jenis mutan, sehingga lalat
buah seringkali digunakan dalam penelitian persilangan, baik itu persilangan
monohibrid maupun dihibrid. Keuntungan lain dari lalat buah (Drosophila
melanogaster) adalah lalat buah ini hanya mempunyai empat pasang kromosom,
yang dapat dengan mudah dibedakan melalui mikroskop cahaya.
Penyimpangan semu hukum Mendel adalah penyimpangan yang tidak
keluar dari aturan hukum Mendel, walaupun terjadi perubahan rasio pada F2 nya
karena gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama
seperti yang telah diuraikan pada hukum Mendel. Penyimpangan hukum Mendel
memilki 5 bentuk, yaitu komplementer, polimer, epistasis, hipostasis dan
kriptomeri.
Hasil persilangan pada lalat buah (Drosophila melanogaster) yang dilakukan
tidak selalu terpenuhi pada hasil perkawinan yang sesungguhnya dengan hasil
teoritis. Hal ini pula yang menyebabkannya perlu dilakukan uji Chi-square (X2)
terhadap besarnya penyimpangan nisbah mendelian yang terjadi di perkawinan
sesungguhnya. Uji Chi-square digunakan untuk menguji uji apakah sebuah sampel
selaras dengan salah satu distribusi teoritis. Oleh karena itu untuk mengetahui
bagaimana cara mengetahui proses penurunan dan pencampuran gen dalam proses
persilangan, mengatahui rasio fenotip dari keturunan lalat buah tersebut serta
penggunaan uji Chi-square maka dilakukanlah praktikum ini.
7
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini yaitu :
1. Mengetahui pola-pola modifikasi persilangan dua sifat atau lebih
2. Menjelaskan penyebab suatu fenotipe hasil persilangan berbeda dengan hukum
Mendel
C. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum ini mahasiswa dapat memahami pola-pola
modifikasi yang terdapat pada persilangan dua sifat atau lebih serta mengetahui
penyebab suatu fenotipe hasil persilangan dapat berbeda dengan hukum Mendel.

7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Hukum Mendel
Mendel menyatakan bahwa unit pewarisan ada dalam pasangan, memisah
secara independen selama pembentukan gamet, dan satu dari setiap orang tua
membentuk potongan baru pada keturunannya. Pasangan alel memisah (terpisah)
selama pembentukan gamet menggunakan mekanisme pembelahan sel meiosis.
Karena pemisahan ini, masing-masing gamet akan terdiri dari sejumlah setengah
dari kromosom (n kromosom) tetua membawa hanya satu alel dari setiap gen.
Selama fertilisasi fusi gamet berasal dari tetua perempuan dan laki-laki
menciptakan pasangan alel lagi (Irawan, 2010).
Persilangan monohibrida adalah dasar untuk ilmu genetika Mendel.
Informasi terkait yang berhubungan dengan pemisahan genetik seperti yang
muncul dalam kombinasi monohibrida. Persilangan semacam itu dapat terjadi
dalam semua kelompok organisme utama yang bereproduksi secara seksual.
Dalam hubungan ini faktor yang dominan diberi simbol abjad Latin besar dalam
cetak miring, sedangkan faktor resesif diberi simbol abjad Latin kecil dalam cetak
miring (Firdauzi, 2014).
Fenomena-fenomena penyimpangan rasio Mendel yang akan ditampilkan
pada penelitian ini adalah pindah silang dan pautan kelamin. Melalui fenomena
pindah silang, tipe rekombinan dapat muncul pada persilangan yang melibatkan
dua sifat beda, meski pada satu kromosom yang sama. Melalui fenomena pautan
kelamin, rasio F2 pada persilangan satu sifat beda atau lebih tidak akan
menunjukkan rasio Mendel yang umum dikarenakan ketidakhadiran gen tertentu
pada salah satu kromosom kelamin parentalnya (Fauzi dan Corebima, 2016).
Menurut Irawan (2010), Mendel mengembangkan empat hipotesis dari
persilangan monohibrid :
1. Ada bentuk-bentuk alternatif gen, sekarang disebut alel
2. Untuk setiap karakteristik, setiap organisme memiliki dua gen
3. Gamet hanya membawa satu alel untuk masing-masing mewarisi karakterisktik
7
4. Alel dapat menjadi dominan atau resesif.
Kepala Drosophila melanogaster adalah integrator penting informasi
lingkungan dan genetik. Sistem saraf pusat merasakan lingkungan melalui organ
sensorik yang terkonsentrasi di kepala, dan menghasilkan hormon penting seperti
insulin. Selain itu, lemak tubuh adalah penyimpanan energi organ yang juga
menyediakan fisiologis penting sinyal. Setidaknya beberapa ekspresi gen di
kepala menunjukkan dimorfisme seksual (Jaime dkk, 2017).
Pewarisan dihibrid terjadi pada perkawinan dengan organisme yang
memiliki dua sifat beda. Hal ini berlaku hukum Mendel II (hukum pemilihan
bebas), yang menyebabkan segregasi gen pada suatu lokus tidak bergantung
kepada segregasi gen pada lokus yang lain, sehingga gen-gen akan bertemu
dengan bebas pada gamet-gamet yang terbentuk (Hartati dan Irawan, 2017).
Pada persilangan Drosophila menghasilkan keturunan dengan karakter,
proporsi jumlah keturunan yang berbeda untuk setiap jenis persilangan dengan
menggunakan strain yang berbeda. Untuk mengetahui peristiwa yang terjadi
dalam persilangan Drosophila maka digunakan penanda ciri morfologi yang
nampak (fenotip) pada keturunan yang dihasilkan. Fenotip yang muncul
merupakan hasil interaksi antara faktor genotip dengan lingkungan mahluk hidup.
Faktor-faktor fenotip ini dapat digunakan sebagai pembeda antara sutu individu
dalam suatu spesies, selain itu dapat digunakan untuk membedakan karakteristik
penampakan morfologi suatu mahluk hidup (Mas’ud dan Tuapattinaya, 2013).
Hukum Mendel II terdiri dari dua hipotesis tentang berpasangannya alel-
alel dalam persilangan dihibrid:
1. Berpasangan secara dependen atau saling tergantung.
2. Berpasangan secara bebas, tidak saling tergantung.
Iklim mikro yang dialami spesies lalat buah (Drosophila melanogaster)
berbeda cara setiap spesies dengan rentang iklimnya, kebanyakan spesies
menunjukkan bahwa fenotipe termal mereka harus berbeda sesuai dengan
lingkungan. Khususnya untuk organisme di Indonesia umumnya suhu tinggi dan
mekanisme yang mendasarinya (Garbuz dkk, 2003).

7
B. Penyimpangan semu hukum Mendel
Menurut Irawan (2010), Penyimpangan semu hukum Mendel adalah
penyimpangan yang tidak keluar dari aturan hukum Mendel, walaupun terjadi
perubahan rasio pada F2 nya karena gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio
fenotipe tidak akan sama seperti yang telah diuraikan pada hukum Mendel.
Menurut hukum Mendel pada perbandingan fenotipe F2 pada persilangan dihibrid
adalah 9 : 3 : 3 : 1. Apabila terjadi penyimpangan dari hukum Mendel
perbandingan tersebut akan berubah menjadi 9 : 3 : 4, 9 : 7, atau 12 : 3 : 1.
Perbandingan tersebut merupakan hasil dari interaksi gen. Perbandingan tersebut
menyebabkan penyimpangan hukum Mendel memilki 5 bentuk, yaitu
komplementer, polimer, epistasis, hipostasis dan kriptomeri.
1. Komplementer merupakan bentuk interaksi gen yang saling melengkapi. Jika
salah satu gen tersebut tidak muncul maka sifat yang dimaksud oleh gen
tersebut juga tidak akan muncul atau muncul tidak sempurna.
2. Polimeri adalah dua gen atau lebih yang menempati lokus berbeda, tetapi
memiliki sifat yang sama
3. Epistasi dan hipostasis adalah bentukinterkasi gen antara gen dominan yang
mengalahkan gen dominan lainnya. Epistasi adalah sifat yang menutupi
sedangkan hipostasis adalah sifat yang tertutupi.
Menurut Suryo (2012), Peristiwa epistasi dibedakan atas :
a. Epistasi dominan
Kuncinya : A epistatis terhadap B dan b

Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 12 : 3 : 1


b. Epistasi resesip

Kuncinya : aa epistatis terhadap B dan b

Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 9 : 3 : 4


c. Epistatis dominan dan resesip
Kuncinya : A epistatis terhadap B dan b

Bb epistatis terhadap A dan a

7
Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 13 : 3
d. Adanya gen resesip rangkap
Kuncinya : aa epistatis terhadap B dan b

Bb epistatis terhadap A dan a

Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 9 : 7


e. Adanya gen dominan rangkap
Kuncinya : A epistatis terhadap B dan b

B epistatis terhadap A dan a

Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 15 : 1


f. Adanya gen-gen rangkap yang mempunyai pengaruh kumulatip
Perbandingan 9 : 3 : 3 : 1 mengalami modifikasi menjadi 9 : 6 : 1
4. Kriptomeri adalah suatu sifat tersembunyi pada induk dan akan muncul pada
anaknya atau keturunannya. Hal ini disebabkan oleh adanya dua gen dominan
yang bertemu membentuk sifat lain dan adanya suatu gen yang bersifat
epistasis.

7
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Jum’at/ 4 Oktober 2019
Waktu : 14.10-15.50 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai 2 Barat FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Alat tulis 1 buah
2. Bahan
a. Baling-baling genetika 1 buah
C. Prosedur Kerja

Baling-baling genetika di siapkan baling- baling genetika di putar

Hasil persilangan dihitung Hasil persilangan di catat

7
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HasilPengamatan
1. Komplementer
P1 CCrr x ccRR

G Cr x cR

F1 CcRr

P2 CcRr x CcRr

G CR CrcRcr CR CrcRcr

F2 C_R_ : C_rr + ccR_ + ccrr

(berwarna) : (tidakberwarna)

Rasio 9 : 7

Analisis Data

Diketahui:

Observed (O) C_R_ = 45

C_rr = 23

ccR_ = 22 55

ccrr =5

total = 100

1) Expected (E)
F2 C_R_ : C_rr + ccR_ + ccrr

(berwarna) : (tidakberwarna)

Rasio 9 : 7

𝐵𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = 9⁄16 × 100 = 56,25

7
𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = 7⁄16 × 100 = 43,75

2. (O-E)2
𝐵𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = (45 − 56,25)2 = 126,56

𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = (55 − 43,75)2 = 126,56

3. (O-E)2/E

𝐵𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = 126,56⁄56,25 = 2,25

𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑏𝑒𝑟𝑤𝑎𝑟𝑛𝑎 = 126,56⁄43,75 = 2,89

Fenotipe Observed (O) Expected (E) (O-E)2 (O-E)2/E


C_R_ 45 56,25 126,56 2,25
C_rr
ccR_ 55 43,75 126,56 2,89
Ccrr
Total 100 100 X2h= 5,14
Diketahui :

DF = jumlahkelasfenotipe (n) -1

=2–1

=1

α = 0,05

X2h = 5,14

Maka X2t = 3,841

Jadi, X2h > X2t

b. Atavisme
P1 RRpp x rrPP

G R p x r P

7
F1 RrPp

P2 RrPp x RrPp

G RP RprPrp RP RprPrp

F2 R_P_ : R_pp : rrP_ : rrpp

(walnut) (rose) (pea) (single)

Rasio 9 : 3 : 3 : 1

Analisis Data

Diketahui:

Observed (O) R_P_ = 65

R_pp = 20

rrP_ = 12

rrpp =3

total = 100

1. Expected (E)
F2 R_P_ : R_pp : rrP_ : rrpp

(walnut) (rose) (pea) (single)

Rasio 9 : 3 : 3 : 1

𝑅_𝑃_ = 9⁄16 × 100 = 56,25

𝑅_𝑝𝑝 = 9⁄3 × 100 = 18,75

𝑟𝑟𝑃_ = 9⁄3 × 100 = 18,75

𝑟𝑟𝑝𝑝 = 9⁄1 × 100 = 6,25

2. (O-E)2
𝑅_𝑃_ = (65 − 56,25)2

𝑅_𝑝𝑝 = (20 − 18,75)2

7
𝑟𝑟𝑃_ = (12 − 18,75)2

𝑟𝑟𝑝𝑝 = (3 − 6,25)2

3. (O-E)2/E

𝐴𝑅_𝑃_ = 76,56⁄56,25 = 1,36

𝑅_𝑝𝑝 = 1,56⁄18,75 = 0,08

𝑟𝑟𝑃_ = 45,56⁄18,75 = 2,42

𝑟𝑟𝑝𝑝 = 10,56⁄6,25 = 1,68

Fenotipe Observed (O) Expected (E) (O-E)2 (O-E)2/E


R_P_ 65 56,25 76,56 1,36
R_pp 20 18,75 1,56 0,08
rrP_ 12 18,75 45,56 2,24
Rrpp 3 6,25 10,56 1,68
Total 100 100 X2h= 5,54
Diketahui :

DF = jumlah kelas fenotipe (n) -1

=4–1

=3

α = 0,05

X2h = 5,54

Maka X2t = 7,815

Jadi, X2h < X2t

c. Epistasis-hipostasis
P1 HHkk x hhKK

G H k x h K
7
F1 HhKk

P2 HhKk x HhKk

G HK HkhKhk HK HkhKhk

F2 H_K_ +H_kk : hhK_ : hhkk

(hitam) (kuning) (putih)

Rasio 12 : 3 : 1

Analisi Data

Diketahui:

Observed (O) H_K_ = 49


70
H_kk = 21

hhK_ = 21

hhkk =9

total = 100

1. Expected (E)
F2 H_K_ +H_kk : hhK_ : hhkk

(hitam) (kuning) (putih)

Rasio 12 : 3 : 1

𝐻𝑖𝑡𝑎𝑚 = 12⁄16 × 100 = 75

𝐾𝑢𝑛𝑖𝑛𝑔 = 3⁄16 × 100 = 18,75

𝑃𝑢𝑡𝑖ℎ = 9⁄1 × 100% = 6,25

2. (O-E)2
Hitam = (70 - 75)2 = 25
7
Kuning=(21–18,75)2 = 5,06

Putih = (9 - 6,25)2 = 3,56

3. (O-E)2/E
𝐻𝑖𝑡𝑎𝑚 = 25⁄75 = 0,33

𝐾𝑢𝑛𝑖𝑛𝑔 = 5,06⁄18,75 = 0,27

𝑃𝑢𝑡𝑖ℎ = 3,56⁄6,25 = 1,21

Fenotipe Observed (O) Expected (E) (O-E)2 (O-E)2/E


H_K_
70 75 25 0,33
H_kk
hhK_ 21 18,75 5,06 0,27
Hhkk 9 6,25 3,56 1,21
Total 100 100 X2h= 1,81
Diketahui :

DF = jumlah kelas fenotipe (n) -1

=3–1

=2

α = 0,05

X2h = 1,81

Maka X2t = 5,991

Jadi, X2h < X2t

B. Pembahasan
Uji Chi-square termasuk salah satu alat uji dalam statistik yang sering
digunakan dalam praktek. Dalam statistik nonparametrik, uji Chi-square untuk
satu sampel bisa dipakai untuk menguji apakah data sebuah sampel yang diambil
menunjang hipotesis yang menyatakan bahwa populasi asal sampel tersebut
mengikuti suatu distribusi yang telah ditetapkan.

7
Penyimpangan semu hukum Mendel adalah penyimpangan yang tidak
keluar dari aturan hukum Mendel, walaupun terjadi perubahan rasio pada F2 nya
karena gen memiliki sifat berbeda-beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama
seperti yang telah diuraikan pada hukum Mendel. Menurut hukum Mendel pada
perbandingan fenotipe F2 pada persilangan dihibrid adalah 9 : 3 : 3 : 1. Apabila
terjadi penyimpangan dari hukum Mendel perbandingan tersebut akan berubah
menjadi 9 : 3 : 4, 9 : 7, atau 12 : 3 : 1. Perbandingan tersebut merupakan hasil dari
interaksi gen. Perbandingan tersebut menyebabkan penyimpangan hukum Mendel
memilki 5 bentuk, yaitu komplementer, polimer, epistasis, hipostasis dan
kriptomeri.
Epistasi dan hipostasis adalah bentuk interkasi gen antara gen dominan
yang mengalahkan gen dominan lainnya. Epistasi adalah sifat yang menutupi
sedangkan hipostasis adalah sifat yang tertutupi. Pada penyimpangan semu hukum
Mendel bagian atavisme ternyata nilai hitungan lebih kecil dari nilai tabel (pada p
= 0,05 nilainya 5,991) nilai hasil hitung ini letaknya di sebelah kiri dari p = 0,05
jadi p lebih kecil dari 0,05. Hasil uji ini menunjukkan bahwa hasil percobaan
tersebut sesuai dengan perbandingan Mendel untuk penyimpangan semu hukum
Mendel bagian atavisme, yaitu 9 : 3 : 3 : 1.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat ditarik kesimpulan bahwa :
7
1. Pola-pola modifikasi persilangan dua sifat atau lebih terbagi menjadi
komplementer yang memiliki pola 9 : 7, atavisme memiliki pola 9 : 3 : 3 : 1
dan epistasis-hipostasis memiliki pola 12 : 3 : 1.
2. Penyebab suatu fenotipe hasil persilangan berbeda dengan hukum Mendel
karena terjadi perubahan rasio pada F2 nya karena gen memiliki sifat berbeda-
beda. Jadi, rasio fenotipe tidak akan sama seperti yang telah diuraikan pada
hukum Mendel. Menurut hukum Mendel pada perbandingan fenotipe F2 pada
persilangan dihibrid adalah 9 : 3 : 3 : 1. Apabila terjadi penyimpangan dari
hukum Mendel perbandingan tersebut akan berubah menjadi 9 : 3 : 4, 9 : 7,
atau 12 : 3 : 1. Perbandingan tersebut merupakan hasil dari interaksi gen.
B. Saran
1. Untuk praktikan
Praktikan diharapkan agar sebelum melakukan praktikum dapat
mengetahui hal-hal apa yang akan dipraktikumkan.
2. Untuk laboratorium
Laboratorium diharapkan agar lebih melengkapi fasilitas yang diperlukan
dalam praktikum terutama bahan yang digunakan.
3. Untuk Asisten
Asisten diharapkan agar dapat membimbing praktikan dengan sesungguh-
sungguhnya dan lebih maksimal untuk dapat meminimalisir kesalahan.

DAFTAR PUSTAKA

Fauzi, ahmad., Corebima, Aloysius Duran. 2016. Pemanfatan Drosophila


melanogaster Sebagai Organisme Model Dalam Mengungkap Berbagai

7
Fenomena Penyimpangan Rasio Mendel. Prosiding Seminar Nasional
Biologi. ISBN: 978‐602‐0951‐11‐9.

Firdauzi, Nirmala fitria. 2014. RASIO PERBANDINGAN F1 DAN F2 PADA


PERSILANGAN STARIN N x b, DAN STRAIN N x tx SERTA
RESIPROKNYA. Jurnal Biology Science & Education. ISBN:
978‐602‐0951‐11‐9.

Garbuz, David., Michael B. Evgenev1., Martin E. Feder., Olga G. Zatsepina.


2003. Evolution of thermotolerance and the heat-shock response: evidence
from inter/intraspecific comparison and interspecific hybridization in the
virilis species group of Drosophila. I. Thermal phenotype. The Journal of
Experimental Biology 206, 2399-2408.

Hartati., Irawan, 2017. “Modul Genetika Berbasis Pendekatan Saintifik”.


Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM.

Irawan, bambang. 2010. Genetika.Surabaya: Airlangga University Press.

Jaime, Maria D.L.A., Juan Hurtado., Mariana Ramirez Loustalot- Laclette., Bria
Oliver., Therese.2017. Exploring Effects of Sex and Diet on Drosophila
melanogaster Head Gene. Journal of Genomics. Vol.5 (1).

Mas’ud, abdu., Tuapattinaya Prelli M.J. 2013. Studi Peristiwa Epistasi Resesif
PADA PERSILANGAN Drosophila melanogaster Strain SEPIA (se) ><
ROUGH (ro) DAN STRAIN VESTIGIAL (vg) >< DUMPHI (dp). Jurnal
Bioedukasi ISSN : 2301-4678 Vol 1 (2).

Suryo. 2012. Genetika untuk Strata 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University


Press.

DOKUMENTASI

7
7