Anda di halaman 1dari 7

1.

DAMPAK BURUK BAB SEMBARANGAN

 Mencemari Air

Kotoran yang dibuang ke sungai dan laut secara sembarangan bisa mencemari air.

Air yang tercemar kotoran manusia itu bisa mengandung bakteri E. coli. Air yang
sudah tercemar bakteri E. coli tidak bisa digunakan lagi.

 Menyebabkan Kurang Gizi

Buang air besar sembarangan bisa membuat lingkungan kotor. Jika lingkungan kotor,
makanan yang kita makan pun akan ikut kotor.

Mengonsumsi makanan kotor bisa membuat kita kekurangan gizi. Kekurangan gizi
bisa membuat tubuh dan otak kita terganggu.

O iya, kekurangan gizi juga menjadi salah satu penyebab tubuh anak Indonesia
pendek!

 Menyebabkan Penyakit

Kotoran yang dibuang sembarangan bisa dikerubungi oleh lalat.

Jika lalat itu terus menerus ada di sekitar kita, bakteri yang ada di lalat bisa menyebar
ke makanan dan minuman kita.

Jika sudah begitu, kita bisa terkena penyakit diare dan kolera.

 Menyebabkan Kematian

Penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan buang air besar sembarangan kebanyakan
menyerang anak-anak.

Daya tahan tubuh anak-anak, berbeda dengan orang dewasa. Akhirnya, dalam satu
jam, pasti ada 15 – 22 anak yang meninggal.

2. MENGAPA SANITASI ITU PENTING

A. karena kebersihan itu wajib bagi semua manusia


B. kebersihan itu sebagaian dari iman
C. karena kebarsihan bermanfaat untuk kesehatan
D. karena menbuat kita lebih nyaman
E. karena membuat kita lebih bersih dan indahh

3. EMPAT SYARAT AIR MINUM YANG AMAN DIKONSUMSI


1. Syarat fisika.
Syarat fisika yaitu sebuah syarat yang didasarkan pada ilmu fisika. Pada syarat fisika
ini syarat air yang aman dikonsumsi yaitu air tersebut tidak boleh berbau, tidak ada
rasanya. Selain itu dalam ilmu fisika air yang layak minum adalah air yang
mengandung total zat padat yang terlarut tds500 miligram per liternya. Dan untuk
masalah warna, air yang layak minum haruslah memiliki warna maksimal yaitu 15
tcu. Selain itu air tersebut suhu udaranya adalah 3 derajat celcius atau harus melalui
proses pematangan hingga air tersebut mendidih atau hingga 100 derajat celcius.
Jika air telah memenuhi berbagai syarat diatas maka air dinyatakan layak untuk
dikonsumsi.

2. Syarat kimiawi

Sedangkan syarat yang kedua yaitu syarat kimiawi. Pada ilmu kimia air
dilambangkan dengan h2o + x dimana x merupakan kumpulan dari berbagai macam
zat kimia yang berasal dari limbah manusia yang menumpuk selama bertahun-tahun.
Faktor x dalam air yang dapat mengganggu kesehatan tersebut antara lain adalah
arsen, barium, cadmium, chromium, lead atau timah hitam, merkuri (air raksa),
nitrat, selenium, silver (perak), sulfate, besi, tembaga, chlorida, dan juga fluor.
Dimana jika air mengandung salah satu dari beberapa zat tersebut maka air menjadi
tidak layak konsumsi karena dapat membahayakan kesehatan kita.

3. Syarat mikrobiologis

Dan syarat air layak minum yang berikutnya adalah syarat air berdasarkan ilmu
mikrobiologis. Syarat mikro biologi yang harus terdapat pada air adalah dalam 100
mili air harus terbebas dari tinja (kotoran manusia) dengan kadar maksimum 0%.
Selain itu air juga harus bebas dari bakteri e. Coli dengan kadar maksimum 0% yang
artinya bahwa kandungan tersebut sedikitpun tidak boleh terdapat pada air yang
akan anda konsumsi. Karena jika terdapat sedikit pun kandungan semacam itu maka
tentu akan memberi dampak yang buruk kepada peminumnya.

4. Syarat radioaktif

Dan syarat air minum yang terakhir adalah syarat radioaktif pada air minum. Pada air
minum yang akan anda konsumsi tentunya harus bebas dari radioaktif. Tidak boleh
ada sedikit pun zat radioaktif pada air yang akan anda konsumsi. Tentu saja karena zat
radioaktif ini sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh kita. Selain radioaktif, menurut
who tingkat keasaman pada air layak konsumsi adalah antara 6.5 hingga 8.5 dan harus
mengandung mineral di bawah 500 dan juga harus bebas dari pestisida, logam berat,
dan dari zat kimia beracun lainnya.

4. SEPUTARAN BLASTIDIUM COLI

A. Defenisi
Balantidium coli merupakan protozoa usus manusia yang terbesar dan satu-satunya
golongan ciliata manusia yang patogen, menimbulkan balantidiasis atau ciliate dysenteri.
Penyakit zoonosis yang sumber utamanya adalah babi sebagai reservoir host, hidup di
dalam usus besar manusia, babi dan kera.
B.coli dalam siklus hidupnya memiliki 2 stadium, yaitu stadium tropozoit dan kista.
Lingkaran hidup B.coli dan E.histolitica sama, hanya saja bentuk kista dari B.coli tidak
dapat membelah diri sebagaimana layaknya E.histolitica.

B. Morfologi
Tropozoit berbentuk lonjong, ukuran 60-70 x 40-50 µm. Tubuh tertutup silia pendek,
kecuali di daerah mulut silia lebih panjang (adoral cilia). Bagian anterior terdapat
cekungan dinamakan peristom dan terdapat mulut (sitostom), tidak memiliki usus namun
dibagian posterior memiliki anus (cy;cytoyge).
Terdapat 2 inti yang terdiri dari makronukleus (maN;berbentuk ginjal) dan mikronukleus
(miN;berbentuk bintik kecil) yang terdapat pada cekungan makronukleus.
Terdapat vakuole makanan (berisi sisa makanan ; bakteri, leukosit, erithrosit, dll) dan
vakuole kontraktil (cv)

Tropozoit hidup dalam mukosa dan sub mukosa usus besar, terutama di daerah sekum
bagian terminal dari pada illeum. Bergerak ritmis dengan perantaraan cilia. Tropozoit
tidak dapat lama hidup di luar badan, tetapi kista tetap hidup selama beberapa minggu.
Kista yang dapat hidup di luar badan adalah bentuk infektif. Bila tertelan oleh hospes
baru, maka dinding kista hancur dan trofozoit yang dilepaskan masuk dinding usus, dan
memperbanyak diri.

Kista berbentuk bulat, ukuran 50-60 µ, dinding dua lapis, sitoplasma bergranul, terdapat
makro & mikronukleus serta sebuah badan refraktil.

C. Siklus Hidup
Infeksi B. Coli terjadi dengan memakan bentuk kista melalui mekanan atau minuman
yang tercemar. Di dalam usus halus kista akan mengalami eksistasi menjadi bentuk
trofozoid. Bentuk tropozoid ini akan bermultiplikasi dengan cara belah pasang di dalam
lumen ileum dan cekum. Di dalam kolon berbentuk tropozoid akan mengalami
enkistasimenjadi kista yang akan d keluarkan bersama tinja.
Stadium kista dan tropozoit dapat berlangsung di dalam satu jenis hospes. Hospes
alamiah adalah babi, dan manusia merupakan hospes insidentil. Jika kista infektif tertelan
di dalam usus besar akan berubah menjadi bentuk tropozoit. Di lumen usus atau dalam
submukosa usus, tropozoit tumbuh dan memperbanyak diri (multiplikasi). Jika
lingkungan usus kurang sesuai bagi tropozoit akan berubah menjadi kista.

D. Reproduksi

Bentuk vegetatif selain bentuk yang masih makan, juga merupakan bentuk yang berfungsi
untuk berkembangbiak dengan cara belah transversal. Mula – mula mikronukleus yang
membelah diikuti oleh makronukleus dan sitoplasma sehingga menjadi dua organisme
yang baru. Kadang – kadang tampak pertukaran kromatin (konjugasi). Reproduksi
berlangsung seksual dan aseksual.

Perkembang biakan secara aseksual yaitu dengan belah pasang, yaitu dengan membelah
jadi dua parasit yang sama bentuknya. Hanya terjadi bila situasi kurang menguntungkan.
Misalnya tidak ada pejantan.

Perkembangbiakan secara seksual terjadi pada pembiakan ini dibentuk sel kelamin, yaitu
makrogametosit dan mikrogametosit yang kemudian membelah membentuk makrogamet
dan mikrogamet. Setelah pembuahan menjadi zigot. Inti zigot membelah menjadi banyak
yang disebut sporozoit. Proses ini disebut sporogoni.

E. Epidemologi

Parasit ini banyak ditemukan pada babi yang dipelihara (yang berkisar antara 60 – 90%).
Penularan antar babi satu ke babi yang lainnya mudah terjadi, sekali – sekali dapat
menular pada manusia (zoonosis).

Penularan pada manusia terjadi dari tangan ke mulut atau melalui makanan yang
terkontaminasi, misalnya pada orang yang memelihara babi dan yang membersihkan
kandang babi ; bila tangan ini terkontaminasi dengan tinja babi yang mengandung bentuk
kista dan kista ini tertelan, maka terjadilah infeksi. Kebersihan perorangan dan sanitasi
lingkungan dapat mempengaruhi terjadinya penularan.
F. Patogenesis & Gejala klinis

Penyakit yang ditimbulkan oleh balantidium coli hampir mirip dengan penyakit yang
disebabkan oleh Entamoeba Histolytica. Di selaput lendir usus besar, bentuk vegetatif
membentuk abses- abses kecil yang kemudian pecah manjadi ulkus yang menggaung.
Penyakit ini dapat berlangsung akut dengan ulkus merata pada selaput lendir usus besar.
Pada kasus berat, ulkus ini dapat menjadi gangrenyang berakibat fatal. Biasanya disertai
dengan sindrom disentri. Penyakit dapat menjadi menahun dengan diare yang di sertai
konstipasi, sakit perut, tidak nafsu makan, muntah, dan kakeksia ( cachexia ). Infeksi
ringan Balantidium coli biasanya tidak menampakkan gejala, bila parasit hidup dirongga
usus besar.

Balantidium coli kadang – kadang dapat menimbulkan infeksi eksterintestinal, misalnya


dapat menyebabkan peritonitis dan uretritis. Pernah ditemukan bahwa Balantidium coli di
hepar dan pulmo. Bahkan di ekuador Balantidium coli ditemukan sebagai sindrom
disentris dan abses hepar.

G. Diagnosa

Secara klinik balantidiasis dapat dikacaukan dengan disentri lain dan demam usus.
Diagnosis tergantung pada berhasilnya menemukan trofozoit dalam tinja encer dan lebih
jarang tergantung pada penemuan kista dalam tinja padat, dan tinja harus diperiksa
beberapa kali, karena pengeluaran parasit dari badan manusia berbeda-beda. Pada
penderita dengan infeksi di daerah sigmoid-rectum, pemakaian sigmoidiskop berguna
untuk mendapatkan bahan pemeriksaan.
Diagnosis laboratorium dapat ditentukan dengan pemeriksaan tinja untuk menemukan
bentuk kista atau tropozoit Balantidium coli.

Balantidiasis

1. Identifikasi

Protozoa yang menginfeksi usus besar dan menyebabkan diare atau disenteri diikuti
dengan kolik abdominal, tenesmus, nausea dan muntah-muntah. Biasanya disenteri
disebabkan oleh amebiasis, dengan kotoran yang berisi banyak darah dan lendir tapi
sedikit pus. Invasi ke peritoneum atau saluran urogenital jarang terjadi.
Diagnosa dibuat dengan menemukan trofozoit dari parasit atau kista dari balantidium coli
pada kotoran segar, atau trofozoit ditemukan melalui sigmoidoskopi.

2. Penyebab penyakit.

Balantidium coli, protozoa besar dengan silia.

3. Distribusi penyakit.

Tersebar di seluruh dunia, infeksi pada manusia jarang terjadi namun wabah yang bersifat
“water borne” biasa terjadi pada daerah yang sanitasi lingkungannya sangat buruk.
Kontaminasi lingkungan dengan tinja dapat mengakibatkan peningkatan jumlah kasus.
Wabah besar pernah terjadi di Equador pada tahun 1978.

4. Reservoir.

Babi, kemungkinan juga hewan lain, seperti tikus dan primata selain manusia.

5. Cara Penularan.

Dengan menelan kista yang berasal dari kotoran inang yang terinfeksi; pada saat wabah,
penularan terutama melalui air yang terkontaminasi. Penularan sporadis terjadi karena
masuknya kotoran ke mulut melalui tangan atau melalui air, dan makanan yang
terkontaminasi.

6. Masa Inkubasi.

Tidak diketahui, mungkin hanya beberapa hari.

7. Masa Penularan : Selama infeksi.

8. Kerentanan dan Kekebalan.

Sebagian besar orang sepertinya memiliki kekebalan alami. Orang dengan keadaan umum
yang jelek karena suatu penyakit sebelumnya, bila terinfeksi oleh parasit ini akan menjadi
serius bahkan fatal.

H. Pencegahan & Pengobatan

A. Cara Pencegahan :

1) Beri penyuluhan pada masyarakat tentang higiene perorangan.


2) Beri penyuluhan dan bimbingan kepada penjamah makanan melalui instansi
kesehatan.

3) Pembuangan kotoran pada jamban yang memenuhi persyaratan sanitasi.

4) Kurangi kontak dengan kotoran babi.

5) Lindungi tempat penampungan/sumber air untuk masyarakat dari kontaminasi


kotoran babi. Filter pasir/tanah dapat menyaring semua kista, klorinasi air dengan cara
yang biasanya dilakukan tidak menghancurkan kista. Air dalam jumlah sedikit untuk
diminum lebih baik dimasak.

B. Pengawasan Penderita, Kontak & Lingkungan Sekitarnya :

1). Laporan kepada instansi kesehatan setempat : laporan resmi tidak diperlukan, Kelas
5 (lihat tentang pelaporan penyakit menular).

2). Isolasi : tidak dilakukan.

3). Disinfeksi serentak : pembuangan kotoran yang saniter.

4). Karantina : tidak dilakukan.

5). Imunisasi : tidak dilakukan

6). Investigasi kontak dan sumber infeksi : pemeriksaan mikroskopis tinja dari anggota
rumah tangga dan kontak yang dicurigai. Lakukan investigasi terhadap mereka yang
kontak dengan babi; bila perlu berikan tetrasiklin pada babi yang terinfeksi.

7). Pengobatan spesifik: Tetrasiklin dapat menghilangkan infeksi; pengobatan dengan


metronidazole (Flagyl) juga efektif .

Obat-obatan yang sering digunakan adalah dari golongan diiodohidroksikinolin


(diiodokin), sediaan arsen (karbarson)dan oksitetrasiklin