Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

EKONOMI ISLAM

DOSEN PENGAMPU :

Disusun Oleh :

INSTITUT BISNIS DAN INFORMATIKA KESATUAN BOGOR

FAKULTAS SISTEM INFORMASI

2019/2020
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam semoga selalu
tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW. Berkat limpahan dan rahmat-
Nya penyusun mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi tugas
matakuliah Pendidikan Agama Islam. Dalam penyusunan tugas atau materi ini,
tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa
kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan
bimbingan dari beberapa pihak, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi
teratasi.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca. Kami sadar bahwa makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami meminta
masukan dari semua pihak demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang
akan datang.

Bogor, Januari 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................i


DAFTAR ISI ................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1
1.1. Latar Belakang..................................................................................................... 1
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3. Maksud dan Tujuan............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 3
2.1. Pengertian Ekonomi Islam .................................................................................. 3
2.2. Konsep Ekonomi Islam ........................................................................................ 4
2.3. Nilai Dasar Ekonomi Islam................................................................................... 5
2.4. Tujuan Ekonomi Islam ......................................................................................... 6
2.5. Metodologi Ekonomi Islam ................................................................................. 7
2.6. Bentuk-Bentuk Kerjasama Ekonomi dan Jenis Transaksi yang Dihalalkan Dalam
Islam ............................................................................................................................ 9
2.7. Jenis-Jenis Transaksi Ekonomi yang Diharamkan dalam Islam ......................... 14
BAB III PENUTUP ...................................................................................................... 20
3.1. Kesimpulan ........................................................................................................ 20
3.2. Saran ................................................................................................................. 20
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ekonomi Islam telah lahir sejak Rasulullah Saw menyebarkan ajaran
Agama Islam,kemudian dilanjutkan oleh para sahabat hingga memiliki kemajuan
yang begitu pesat padamasa Dinasti Abbasiyah dan pada akhirnya masih juga
dilakukan sampai zaman sekarang,walaupun saat ini masih banyak campur aduk
ekonomi Barat dalam aktifitas perekonomian masyarakat khususnya Umat
Islam.Kemunculan ekonomi Islam bukan karena ekonomi ortodok, melainkan
karenasejarah membuktikan bahwa kemunculan ekonomi Islam sejak Rasulullah
Saw hidup.Ekonomi Islam merupakan bagian integral ajaran Islam, bukan dampak
dari sebuahkeadaan yang memaksa kemunculannya, jadi bukan karena ekonomi
ortodok yangmemaksa kehadiran ekonomi Islam. Ekonomi Islam juga memiliki
tujuan yang sangat penting yaitu menciptakan kesejahteraan umat manusia
khususnya terpenuhinyakebutuhan setiap individu dengan cara yang disahkan oleh
Undang-Undang Pemerintahmaupun hukum syariat (Agama).

1.2. Rumusan Masalah

1. Apakah definisi dari ekonomi Islam ?


2. Bagaimana konsep dari ekonomi Islam ?
3. Apa saja nilai-nilai dasar ekonomi Islam ?
4. Apakah tujuan dari adanya ekonomi Islam ?
5. Apakah metodologi dari ekonomi Islam itu?
6. Bagaimanakah perbedaan antara ekonomi Islam dengan ekonomi lainnya?
7. Apa sajakah bentuk-bentuk kerjasama ekonomi dan jenis transaksi yang
dihalalkan dalam Islam ?
8. Apa sajakah bentuk-bentuk transaksi ekonomi yang diharamkan dalam Islam ?

1
1.3. Maksud dan Tujuan

1. Mengetahui definisi dari ekonomi Islam.


2. Mengetahui konsep ekonomi Islam.
3. Mengetahui nilai-nilai dasar ekonomi Islam.
4. Mengetahui metodologi ekonomi Islam.
5. Mengetahui perbedaan-perbedaan antara ekonomi Islam dengan ekonomi
lainnya.

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Ekonomi Islam
Berbagai ahli ekonomi Muslim memberikan definisi ekonomi Islam yang
bervariasi, tetapi pada dasarnya mengandung makna yang sama. Pada intinya
ekonomi Islam adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang berupaya untuk
memandang, menganalisis, dan akhirnya menyelesaikan permasalahan-
permasalahan ekonomi dengan cara-cara yang Islami. Yang dimaksud dengan cara
Islami adalah cara-cara yang didasarkan atas ajaran agama Islam, yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Berikut adalah definisi ekonomi Islam dari beberapa ekonom Muslim terkemuka
saat ini :

1. Ekonomi Islam merupakan ilmu ekonomi yang diturunkan dari ajaran Al-
Qur’an dan Sunnah. Segala bentuk pemikiran ataupun praktik ekonomi
yang tidak bersumberkan dari Al-Qur’an dan sunnah tidak dapat dipandang
sebagai ekonomi Islam. Untuk dapat menjawab permasalahan kekinian
yang belum dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, digunakan metode
fiqih untuk menjelaskan apakah fenomena tersebut bersesuaian dengan
ajaran Al-Qur’an dan Sunnah ataukah tidak. Dalam hal ini, ekonomi Islam
akan dipandang lebih bersifat normatif ketika perkembangan ilmu ekonomi
belum didukung oleh praktik. Dalam hal ini, ekonomi Islam dianggap tidak
memiliki kelemahan dan selalu dianggap benar. Kegagalan dalam
memecahkan masalah ekonomi empiris dipandang bukan sebagai
kelemahan ekonomi Islam, melainkan kegagalan ekonomi dalam
menafsirkan Al-Qur’an dan Sunnah. Beberapa ekonomi Muslim yang
cenderung menggunakan definisi dan pendekatan ini adalah Hazanuzzaman
(1984) dan Metwally (1995).
2. Ekonomi Islam merupakan implementasi sistem etika Islam dalam kegiatan
ekonomi yang ditujukan untuk pengembangan moral masyarakat. Dalam hal
ini, ekonomi Islam bukanlah sekedar memberikan justifikasi hukum

3
terhadap fenomena ekonomi yang ada, namun lebih menekankan pada
pentingnya spirit Islam dalam setiap aktivitas ekonomi. Perbedaan
pandangan muncul dalam mengidentifikasi spirit dasar Islam yang terkait
dengan ekonomi. Spirit inilah yang kemudian menjadi dasar penurunan
ilmu ekonomi. Beberapa ekonom yang menggunakan pendekatan ini adalah
Mannan (1993), Ahmad (1992), dan Khan (1994).
3. Ekonomi Islam merupakan representasi perilaku ekonomi umat Muslim
untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Dalam hal ini,
ekonomi Islam tidak lain merupakan penafsiran dan praktik ekonomi yang
dilakukan oleh umat Islam yang tidak bebas dari kesalahan dan kelemahan.
Analisis ekonomi setidaknya dilakukan dalam tiga aspek, yaitu norma dan
nilai-nilai dasar Islam, batasan ekonomi dan status hukum, dan aplikasi dan
analisis sejarah. Beberapa ekonom yang menggunakan pendekatan ini
adalah Siddiqie (1992) dan Naqvi (1994).

2.2. Konsep Ekonomi Islam


Ekonomi Islam dibangun atas dasar agama Islam, karenanya ia merupakan
bagian tak terpisahkan (integral) dari agama islam. Sebagai derivasi dari agama
Islam, ekonomi Islam akan mengikuti agama Islam dalam berbagai aspeknya. Islam
adalah sistem kehidupan (way of life), dimana Islam telah menyediakan berbagai
perangkat aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia, termasuk dalam bidang
ekonomi. Beberapa aturan ini bersifat pasti dan berlaku permanen, sementara
beberapa yang bersifat kontekstual sesuai dengan situasi dan kondisi. Penggunaan
agama sebagai dasar ilmu pengetahuan telah menimbulkan diskusi panjang di
kalangan ilmuwan, meskipun sejarah telah membuktikan bahwa hal ini adalah
sebuah keniscayaan.
Ekonomi Islam mempelajari perilaku individu yang dituntun oleh ajaran
Islam, mulai dari penentuan tujuan hidup, cara memandang dan menganalisis
masalah ekonomi, serta prinsip-prinsip dan nilai yang harus dipegang untuk
mencapai tujuan tersebut. Berbeda dengan ekonomi Islam, ekonomi konvensional
lebih menekankan pada analisis terhadap masalah ekonomi dan alternatif solusinya.

4
Dalam pandangan ini, tujuan ekonomi dan nilai-nilai dianggap sebagai hal yang
sudah tetap (given) atau di luar bidang ilmu ekonomi. Dengan kata lain, ekonomi
Islam berbeda dengan ekonomi konvensional tidak hanya dalam aspek cara
penyelesaian masalah, namun juga dalam aspek cara memandang dan analisis
terhadap masalah ekonomi. Ekonomi Islam melingkupi pembahasan atas perilaku
ekonomi manusia yang sadar dan berusaha untuk
mencapai mashlahah atau falah, yang disebut sebagai homo
Islamicus atau Islamic man. Dalam hal ini, perilaku ekonomi meliputi solusi yang
diberikan atas tiga permasalahan mendasar tersebut di atas dan masalah turunan-
turunannya.

2.3. Nilai Dasar Ekonomi Islam


Nilai dasar ekonomi Islam sangat berbeda dengan nilai ekonomi kapitalis atau
sosialis. Menurut Saefuddin nilai-niai dasar ekonomi berfalsafah Tauhid harus
meliputi kepemilikan (owner ship), keseimbangan (equilibrium), dan keadilan
(justice).6 Dan ketiga nilai dasar tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Kepemilikan (Ownership)

Kepemilikan (Ownership) dalam ekonomi Islam adalah :

1. Pemilikan terletak pada kemanfaatannya dan bukan menguasai secara


mutlak terhadap sumber-sumber ekonomi.
2. Pemilikan terbatas sepanjang usia hidup manusia di dunia, dan bila orang
itu mati, harus didistribusikan kepada ahli warisnya menurut ketentuan
hukun Islam (Q.S. 2 :180, Q.S 4 : 11-12,176)
3. Pemilikan perorangan tidak dibolehkan terhadap sumber-sumber ekonomi
yang menyangkut kepentingan umum atau menjadi hajat hidup orang
banyak. Sumber-sumber ini menjadi milik umum atau dikuasai negara (H.
R. Ahmad dan Abu Daud)

2. Keseimbangan (Equilibrium)

5
Keseimbangan ini pengaruhnya terlihat pada berbagai aspek tingkah laku
ekonomi Muslim, misalnya kesederhanaan (moderation), berhemat (parsimory),
dan menjauhi pemborosan (extravagance). Konsep keseimbangan ini tidak hanya
timbangan kebaikan hasil usahanya diarahkan untuk dunia dan akhirat saja, tetapi
berkait juga dengan kepentingan (kebebasan) perorangan dengan kepentingan
umum yang harus dipelihara, growth with equity tampil dalam kehidupan ekonomi
masayarakat, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menjauhi pemborosan
berlaku tidak hanya untuk pembelanjaan yang diharamkan saja tetapi juga
pembelanjaan dan sadaqah yang berlebihan. Apabila keseimbangan ini terganggu
dan terjadi ketimpangan-ketimpangan social ekonimi dalam kehidupan masyarakat
maka haruslah ada tindakan untuk mengembalikan keseimbangan semula.

3. Keadilan (Justice)

Keadilan dalam masalah perilaku ekonomi dimaksudkan sebagai berikut :

Keadilan berarti kebebasan yang bersyarat akhlak Islam. Keadilan harus ditetapkan
disemua fase kegiatan ekonomi. Artinya, keadilan dalamm produksi dan konsumsi,
misalnya, ialah paduan (aransement) efisiensi dan memberantas pemborosan.
Adalah suatu kezaliman dan penindasan apabila seseorang dibiarkan berbuat
bahkan sampai merampas hak orang lain. Sedang keadilan dalam distribusi adalah
penilaian yang tepat terhadap faktor-faktor produksi dan kebijakan harga, hasilnya
sesuai dengan takaran yang wajar dan ukuran yang tepat atau kadar yang
sebenarnya.

2.4. Tujuan Ekonomi Islam


Menurut kami, tujuan dari ekonomi Islam yaitu adalah untuk menciptakan
kesejahteraan dan mewujudkan tujuan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia
dan akhirat dengan melaksanakan kegiatan perekonomian secara syariat Islam.
Menurut Muhammad Umar Chapra, salah seorang ekonom muslim tujuan kegiatan
ekonomi dapat dirumuskan menjadi 4 macam, yaitu :

6
1. Kegiatan ekonomi atau muamalah bertujuan untuk memperoleh
kesejahteraan dalam batas-batas dan norma-norma moral Islam. Setiap
usaha yang dilakukan oleh manusia dianggap sebagai ibadah hal ini
menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik harus menjadi salah
satu tujuan masyarakat muslim.
2. Tatanan ekonomi yang diusahakan bertujuan untuk membina persaudaraan
dan menegakkan keadilan universal.

“Dengan adanya rasa persaudaraan sesama umat manusia, tidak akan timbul
perebutan sumber-umber ekonomi dan yang adalah bertolong-tolongan untuk
kesejahteraan bersama.” (Q.S. 5 : 2).

3. Distribusi pendapatan yang seimbang.


4. Tatanan dalam ekonomi Islam bertujuan untuk mewujudkan kebabasan
manusia dalam konteks kesejahteraan sosial. Seperti salah satu misi yang
diemban oleh Nabi Muhammad SAW adalah untuk melepaskan manusia
dari beban-beban dan belenggu yang ada pada mereka sebagaimana dalam
Q.S. 7 : 157.

2.5. Metodologi Ekonomi Islam


Metodologi ekonomi Islam diperlukan untuk menjawab pertanyaan
bagaimana dan apakah syarat suatu perilaku perekonomian dikatakan benar
menurut Islam. Tujuan utama dari metodologi adalah membantu mencari
kebenaran. Islam meyakini bahwa terdapat dua sumber kebenaran mutlak yang
berlaku untuk setiap aspek kehidupan pada setiap ruang dan waktu, yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah. Kebenaran suci ini akan mendasari pengetahuan dan kemapuan
manusia dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Proses pengambilan
keputusan inilah yang disebut dengan rasionalitas Islam.

Nilai dasar ekonomi islam sangat berbeda dengan nilai dasar ekonomi
lainnya. Perbandingannya dapat dilihat dari tabel berikut.

INDIKATOR KAPITALISME SOSIALISME ISLAM

7
Allah adalah
pemilik mutlak,
Kepemilikan Kepemilikan
Sifat sementara
mutlak oleh mutlak oleh
Kepemilikan manusia memiliki
manusia manusia
hak kepemilikan
terbatas
Pemanfaatan oleh
Hak Manusia bebas Manusia bebas manusia
Pemanfaatan memanfaatkannya memanfaatkannya mengikuti
ketentuan Allah
Hak milik
Hak milik Hak milik
Prioritas individu dan
individu kolektif/sosial
Kepemilikan kolektif diatur
dijunjung tinggi dijunjung tinggi
oleh agama
Terdapat
Negara yang kewajiban
Individu bebas
Peran Individu mengatur individu-
memanfaatkan
& Negara pemanfaatan masyarakat-
sumber daya
sumber daya negara secara
proporsional
Sebagian diatur
oleh pasar,
Distribusi Bertumpu pada Bertumpu pada
pemerintah, dan
Kepemilikan mekanisme pasar peran pemerintah
langsung oleh Al-
Qur’an
Pertanggung Pertanggung Pertanggung
Tanggung jawaban kepada jawaban kepada jawaban kepada
Jawab diri sendiri secara public secara diri, publik dan
Pemanfaatan ekonomis-teknis ekonomis-teknis Allah di dunia
belaka belaka dan akhirat

8
Konsepsi tentang hak milik memiliki implikasi yang mendasar bagi
keseluruhan sistem ekonomi. Konsep ini akan menjadi dasar tentang apa (what),
bagaimana (how) dan mengapa (why) mengelola, serta untuk siapa (for whom)
seluruh sumber daya ekonomi di muka bumi ini. Bertolak dari konsep hak milik ini
maka sistem ekonomi Islam adalah perekonomian dengan tiga sektor, yaitu sektor
pasar, masyarakat dan Negara. Masing-masing sektor memiliki hak dan kewajiban
tertentu, sesuai dengan ajaran Islam, dan menggerakkan kegiatan ekonomi untuk
mewujudkan kesejahteraan umat (falah).

2.6. Bentuk-Bentuk Kerjasama Ekonomi dan Jenis Transaksi


yang Dihalalkan Dalam Islam
Terdapat banyak jenis transaksi dalam kegiatan ekonomi, dimana
kegiatanekonomi tersebut setiap hari kita lakukan dalam rangka bermuamalah atau
berhubungan secara sosial yang berkaitan dengan transaksi antara sesorangdengan
orang lain. Tentunya ada beberapa jenis transaksi dalam Islam yangdihalalkan
sehingga kita dapat mengambil manfaat dan ridho Allah dalammelakukan kegiatan
ekonomi tersebut. Transaksi tersebut antara lain adalah :

1. Jual Beli (Bai’ Al Murabahah)

Jual beli atau Bai’ Al Murabahah adalah persetujuan saling mengikat antara
penjual (pihak yang menyerahkan barang) dan pembeli (pihak yang membayar
barang yang dijual) yang dalam Islam berarti jual beli ketika penjual
memberitahukan kepada pembeli biaya perolehan dan keuntungan yang
diingkannya (Usmani, 1999).

Landasan hukum jual beli

Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 198 yang berbunyi :

9
“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezaki hasil perniagaan) dari
Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafah, berdzikirlah kepada
Allah di Masy’aril Haram. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana
yang ditujukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar
termasuk orang-orang yang sesat.”

Rukun dan syarat jual beli dalam Islam yaitu:

 Berakal sehat, baligh, berhak menggunakan hartanya


 Barang yang diperjualbelikan memiliki syarat :
 Barangnya merupakan barang halal
 Memiliki manfaat
 Sudah tersedia
 Kepemilikan atas barang jelas
 Zat, bentuk, kadar serta sifatnya diketahui kedua pihak

Nilai barang yang dijual memiliki syarat

 Memiliki harga jual yang jelas dan pasti jumlahnya


 Nilai tukar barang dapat diserahkan pada saat transaksi
 Apabila transaksi dilaksanakan dengan barter, maka tidak boleh dengan
barang yang haram.

Sighat atau Ijab Kabul

 Ijab merupakan perkataan penjual pada saat transaksi dilakukan.


 Kabul merupakan perkataan pembeli pada saat transaksi dilakukan.

Jenis-jenis transaksi jual beli antara lain :

 Bissamanil Ajil, yaitu jual beli barang dengan harga yang berbeda antara
kontan dan angsuran.
 Salam, yaitu jual beli barang secara tunai dengan penyerahan barang ditunda
sesuai kesepakatan.
 Istisna, yaitu jual beli barang dengan pemesanan dan pembayarannya pada
waktu pengambilan barang.

10
 Isti’jar, yaitu jual beli antara pembeli dengan penyuplai barang.
 Ijarah, yaitu jual beli jasa dari benda (sewa) atau tenaga/keahlian (upah).
 Sarf, yaitu jual beli pertukaran mata uang antar Negara.

2. Perkongsian (Syarikat)

Syarikat adalah persekutuan antara dua orang atau lebih yang bersepakat untuk
bekerjasama dalam suatu usaha, yang keuntungannya untuk mereka bersama.
Syarikat merupakan salah satu bentuk ta’awun (tolong menolong).

Terdapat beberapa bentuk akad dalam syarikat yaitu :

 Musyarakah, yaitu menggabungkan modal dalam suatu usaha yang hasil


keuntungannya dibagi berdasarkan proporsi modal yang ditanam.
 Mudarabah, yaitu pemberian modal dari pemilik seseorang yang
menjalankan modal (Mudharib) kepada seseorang yang menjalankan modal
(Shahibul Mal) dengan ketentuan bahwa untung rugi ditanggung bersama
sesuai dengan perjanjian.
 Muza’arah dan Mukharabah, Muza’arah yaitu paruhan hasil sawah antara
pemilik dan penggarap, benihnya berasal dari pemilik sawah. Jika benihnya
dari penggarap disebut Mukharabah.
 Musaqah, yaitu paruhan hasil kebun antara pemilik dan penggarap, besar
bagian masing-masing sesuai dengan perjanjian pada waktu akad.

3. Transaksi dengan Pemberian Kepercayaan

Transaksi dengan pemberian kepercayaan adalah akad atau perjanjian mengenai


penjaminan hutan dengan pemberian kepercayaan. Akad transaksi ini adalah
sebagai berikut :

 Jaminan (Kafalah/Damanah) yaitu mengalihkan tanggung jawab seseorang


(yang dijamin) kepada orang lain (peminjam).

11
 Gadai (Rahn), yaitu menjadikan barang berharga sebagai jaminan yang
mengikat dengan hutang dan dapat dijadikan sebagai bayaran hutang jika
yang berhutang tidak mampu melunasi hutangnya.
 Pemindahan Hutang (Hiwalah), yaitu memindahkan kewajiban membayar
hutang kepada orang lain yang memiliki sangkutan hutang.

Landasan hukum terkait dengan transaksi berlandaskan kepercayaan yaitu :

Surah Al-Baqarah ayat 283, yang berbunyi :

“Dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamutidak mendapatkan seorang penulis,
maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang. Tetapi, jika sebagian kamu
mempercayai sebagian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan
amanatnya (utangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya. Dan
janganlah kamu menyembunyikam kesaksian karena barang siapa
menyembunyikannya, sungguh, hatinya kotor (berdosa). Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.”

4. Hutang Piutang

Transaksi hutang piutang adalah akad atau perjanjian antara pihak yang
berhutang (peminjam) dan pihak yang berpiutang (yang meminjamkannya).

Adapun syarat hutang piutang, yaitu :

 Yang berpiutang tidak meminta pembayaran melebihi pokok pituang


(bunga).
 Peminjam tidak boleh menunda-nunda pembayaran utangnya.
 Barang (uang) yang diutangkan atau dipinjamkan adalah milik sah dari yang
meminjamkannya.
 Pengembalian utang tidak boleh kurang nilainya.
 Disunahkan mengembalikan lebih dari pokok utangnya.

Landasan hukum terkait hutang piutang, yaitu :

Surah Al-Baqarah ayat 282 yang berbunyi

12
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk
waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang
penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak
untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka
hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan,
dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia
mengurangi sedikitpun dari padanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang
akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri,maka
hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksiskanlah dengan dua
orang saksi laki-laki diantara kamu.jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka
(boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang
kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang
seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila
dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik
(utang itu) kecil kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah,
lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada
ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu
jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak
menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah
penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah
memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

5. Titipan (Wadi’ah)

Wadi’ah adalah transaksi dimana suatu barang ditinggalkan oleh pemiliknya


untuk dijaga oleh orang lain yang sanggup menjaga barang tersebut.

Syarat-syarat wadi’ah adalah :

 Barang yang dititipkan dapat dikenakan biaya penitipan sesuai dengan nilai
barang dan lamanya waktu penitipan.

13
 Barang yang dititipkan tidak boleh barang yang diharamkan dan/atau
diperoleh dengan cara yang haram.
 Barang titipan menjadi tanggung jawab penuh pihak penyedia jasa titipan.
 Penyedia jasa titipan tidak boleh memanfaatkan barang.
 Barang titipan dapat dikembalikan kapan saja sesuai dengan kehendak
pemilik barang.

2.7. Jenis-Jenis Transaksi Ekonomi yang Diharamkan dalam


Islam
Transaksi-transaksi yang dilarang untuk dilakukan dalam Islam adalah
transaksi yang disebabkan oleh kedua faktor berikut :

1. Haram zatnya (objek transaksinya)

Suatu transaksi dilarang karena objek (barang dan/atau jasa) yang ditransaksikan
merupakan objek yang dilarang (haram) dalam hukum agama Islam. Seperti
memperjualbeli kan alkohol, narkoba, organ manusia, dll.

2. Haram Selain Zatnya (Cara Bertransaksi-nya)

Jenis ini terbagi menjadi beberapa bagian, yaitu :

1. Riba

Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan
membesar. Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan
dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam
menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan
bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun
pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam
Islam, yaitu: 1. Al-Qur’an “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu

14
memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya
kamu mendapat keberuntungan” (QS. Ali Imran:130). “Hai orang-orang yang
beriman,bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut)
jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan
(meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan
memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu
pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya”. (QS. Al Baqarah:
278-279) 2. Hadits • Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah bersabda: “Riba
adalah tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa
orang yang berzina dengan ibunya.” (HR. Ibn Majah). • Jabir berkata bahwa
Rasulullah SAW mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya
dan orang yang mencatatnya, dan dua orang saksinya, kemudian Beliau bersabda,
“Mereka itu semuanya sama”. (HR.Muslim).

Jenis-jenis Riba :

 Riba Nasii`ah.

Riba Nasii`ah adalah tambahan yang diambil karena penundaan pembayaran utang
untuk dibayarkan pada tempo yang baru, sama saja apakah tambahan itu merupakan
sanksi atas keterlambatan pembayaran hutang, atau sebagai tambahan hutang baru.

 Riba Fadlal.

Riba fadlal adalah riba yang diambil dari kelebihan pertukaran barang yang sejenis.

 Riba al-Yadd.

Riba al-Yadd yang disebabkan karena penundaan pembayaran dalam pertukaran


barang-barang. Dengan kata lain, kedua belah pihak yang melakukan pertukaran
uang atau barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan serah terima.

 Riba Qardl.

Riba qaradl adalah meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan
atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman.

2. Risywah (Suap)

15
Menurut bahasa risywah berarti pemberian yang diberikan seseorang kepada
hakim atau lainnya untuk memenangkan perkaranya dengan cara yang tidak
dibenarkan atau untuk mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan kehendaknya.
Atau pemberian yang diberikan kepada seseorang agar mendapatkan kepentingan
tertentu. Sedangkan menurut istilah, risywah berarti pemberian yang bertujuan
membatalkan yang benar atau untuk menguatkan dan memenangkan yang salah.

3. Maisir (Judi)

Maisir merupakan perpindahan harta ataupun barang dari satu pihak kepada
pihak lain tanpa melalui jalur akad yang telah digariskan Syariah, namun
perpindahan itu terjadi melalui permainan, seperti taruhan uang pada permainan
kartu, pertandingan sepak bola dan sejenisnya. Menurut bahasa, maisir berarti
mudah/gampang. Menurut istilah maisir beararti memperoleh keuntungan tanpa
harus bekejra keras. Maisir sering dikenal dengan perjudian karena dalam praktik
perjudian seseorang dapat memperoleh keuntungan dengan cara yang mudah.
Sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Maaidah ayat 90 yang berbunyi :
“Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamar, maisir, berhala, mengundi
nasib dengan panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan, maka
jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

4. Gharar/Taghrir

Gharar adalah sesuatu yang tidak jelas dan tidak dapat dijamin atau dipastikan
kewujudannya secara matematis dan rasional baikitu menyangkut barang, harga
ataupun waktu pembayaran uang/penyerahan barang.. taghrir dalam bahasa Arab
gharar yang berarti akibat, bencana, bahaya, resiko, dan ketidakpastian. Dalam
istilah fiqh muamalah, taghrir berarti melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa
pengetahuan yang mencukupi; atau mengambil resiko sendiri dari suatu perbuatan
yang mengandung resiko tanpa mengetahui dengan persis akibatnya, atau
memasuki kancah resiko tanpa memikirkan konsekuensinya.

5. Bai’ Al Mudtarr

Bai’ Al Mudtarr adalah jual beli dan pertukaran dimana salah satu pihak dalam
keadaan sangat memerlukan sehingga sangat mungkin terjadi eksploitasi oleh pihak

16
yang kuat sehingga terjadi transaksi yang hanya menguntungkan sebelah pihak dan
merugikan pihak lainnya.

6. Ikrah

Ikrah adalah segala bentuk tekanan dan pemaksaan dari salah satu pihak untuk
melakukan suatu akad tertentu sehingga menghapus komponen mutual free
consent. Jenis pemaksaan dapat berupa ancaman fisik atau memanfaatkan keadaan
seseorang yang sedang butuh.

7. Ghabn

Ghabn adalah dimana si penjual memberikan tawaran harga diatas rata-rata


harga pasar tanpa disadari oleh pihak pembeli.Ghabn ada dua jenis yaitu:

 Ghabn Qalil, yaitu jenis perbedaan harga barang yang tidak terlalu jauh antara
harga pasar dan harga penawaran dan masih dalam kategori yang dapat
dimaklumi oleh pihak pembeli.
 Ghabn Fahish, yaitu perbedaan harga penawaran dan harga pasar yang cukup
jauh bedanya.

8. Bai’ Najash

Bai’ Najash yaitu dimana sekelompok orang bersepakat dan bertindak secara
berpura-pura menawar barang dipasar dengan tujuan untuk menjebak orang lain
agar ikut dalam proses tawar menawar tersebut sehingga orang ketiga ini akhirnya
membeli barang dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga sebenarnya.

9. Ihtikar

Ihtikar adalah sebuah situasi dimana produsen/penjual mengambil keuntungan


di atas keuntungan normal dengan cara mengurangi supply agar harga produk yang
dijualnya naik. Ihtikar juga dapat diartikan menumpuk-numpukan barang ataupun
jasa yang diperlukan masyarakat dan kemudian si pelaku mengeluarkannya sedikit-

17
sedikit dengan harga jual yang lebih mahal dari harga biasanya dengan tujuan untuk
mendapatkan keuntungan lebih cepat dan banyak.

10. Ghish

Ghish yaitu menyembunyikan fakta-fakta yang seharusnya diketahui oleh pihak


yang terkait dalam akad sehingga mereka dapat melakukan kehati-hatian (prudent)
dalam melindungi kepentingannya sebelum terjadi transaksi yang mengikat.

11. Tadlis

Tadlis adalah tindakan seorang penjaga yang sengaja mencampur barang yang
berkualitas baik dengan barang yang sama namun berkualitas buruk demi untuk
memberatkan timbangan dan mendapat keuntungan lebih banyak.

12. Talaqqi Jalab atau Talaqqi Rukban

Talaqqi Jalab atau Talaqqi Rukban adalah sebagian pedagang menyongsong


kedatangan barang dari tempat lain dari orang yang ingin berjualan di negerinya,
lalu ia menawarkan harga yang lebih rendah atau jauh dari harga di pasar sehingga
barang pedagang dari luar itu dibeli sebelum masuk ke pasar dan sebelum mereka
mengetahui harga sebenarnya.

13. Jual beli hadir lil baad

Yang dimaksud bai’ hadir lil baad adalah orang kota yang menjadi calo untuk orang
pedalaman atau bisa jadi bagi sesama orang kota. Calo ini mengatakan, “Engkau
tidak perlu menjual barang-barangmu sendiri. Biarkan saya saja yang jualkan
barang-barangmu, nanti engkau akan mendapatkan harga yang lebih tinggi”.
Namun ada beberapa syarat yang ditetapkan oleh para ulama yang menyebabkan
jual beli ini menjadi terlarang, yaitu:

 Barang yang ia tawarkan untuk dijual adalah barang yang umumnya


dibutuhkan oleh orang banyak, baik berupa makanan atau yang lainnya. Jika
barang yang dijual jarang dibutuhkan, maka tidak termasuk dalam larangan.

18
 Jual beli yang dimaksud adalah untuk harga saat itu. Sedangkan jika
harganya dibayar secara diangsur, maka tidaklah masalah.
 Orang desa tidak mengetahui harga barang yang dijual ketika sampai di
kota. Jika ia tahu, maka tidaklah masalah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 9:
83).

19
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Menurut kami, dari sajian materi dalam pembahasan pada makalah ini dapat
disimpulkan bahwa, sistem ekonomi di dalam Islam tidak sama dengan sistem-
sistem ekonomi yang lainnya. Sistem ekonomi Islam bukan dari hasil ciptaan akal
manusia seperti sistem kapitalis, sosialis dan sistem ekonomi lainnya. Sistem
ekonomi Islam berasal dari dua sumber ajaran yang ada pada agama Islam, yaitu
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Konsep yang ada pada sistem ekonomi
Islampun dibangun atas agama Islam itu sendiri, sehingga nilai-nilai dasarnya pun
tidak dapat disamaratakan dengan nilai-nilai dasar yang ada pada sistem ekonomi
lainnya.

Dalam melakukan kegiatan perekonomian di dalam sistem ekonomi Islam


pun diatur sesuai dengan ajaran dari agama Islam yang berasal dari dua sumber
ajaran tersebut. Ada batas-batas yang diberikan dalam kegiatan perekonomian yang
tentunya batasan tersebut ada untuk kebaikan masyarakat itu sendiri, sehingga tidak
ada pihak yang merasa dirugikan dalam kegiatan perekonomian kemudian pada
akhirya dari kegiatan perekonomian tersebut dapat menciptakan kesejahteraan di
dalam kehidupan masyarakat.

3.2. Saran

Saran dari kami adalah bahwa prinsip-prinsip yang ada di dalam ekonomi
Islam ini ada baiknya jika selalu diterapkan dan digunakan oleh masyarakat
dalam melakukan kegiatan perekonomian, khususnya yang beragama muslim,
baik transaksi secara personal maupun kelompok. Agar dalam kegiatan

20
perekonomian tersebut dapat berjalan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh
agama Islam itu sendiri yang tentunya berasal dari dua sumber ajaran Islam yaitu
Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

21
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz, M.Ag dan Mariyah Ulfah, S.E. Kapita Selekta Ekonomi Islam Kontemporer.
Penerbit Alfabeta.

Antoni Nizar Usman, S.E, M.E, Ph.D dan Prof. Dr. Veithza Rival, S.E, M.M,M.B.A. 27
September 2013. Islamic Economics & Finance. PT Gramedia PustakaUtama.

Dr. M. Umer Chapra. 2000. Islam dan Tantangan Ekonomi. Gema Insani Press.

Nasution, Mustafa Edwin. 2012. Pengenalan Ekslusif Ekonomi Islam. Kencana.

Kita’s Diary, Islamic Syariah Learning, Jenis Transaksi Ekonomi Yang Dihalalkan.
http://Ekonomi-islam.com/transaksi-yang-dilarang-dalam-islam/.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam UII Yogyakarta. Ekonomi Islam.
Rajawali Pers.

Membangun (Ulang) Ekonomi Islam, 13 Transaksi Yang Terlarang, 4 Juni 2015.


http://dinamardiyah.blogspot.co.id/p/jenis-transaksi-ekonomi-yang-
dihalalkan_621.html?m=1

22