Anda di halaman 1dari 32

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

“RESIKO BUNUH DIRI”

DISUSUN OLEH KELOMPOK 7

DEWI ROSMAWATI (191030100435)


ENTI (191030100476)
INNA FAJARWATI (191030100478)
LUKMAN ISKANDAR (191030100446)
SUSI WAHYUNI (191030100423)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKes WIDYA DHARMA HUSADA TANGERANG
TAHUN AKADEMIK 2019/2020

1
DAFTAR ISI

LAPORAN PENDAHULUAN
I. Masalah Utama ...................................................................................... 1
II. Proses terjadinya Masalah ...................................................................... 2
A. Defenisi .............................................................................................. 3
B. Etiologi ............................................................................................... 3
1. Faktor Predisposisi ...................................................................... 3
2. Faktor Presipitasi ......................................................................... 5
3. Perilaku Koping .......................................................................... 6
4. Mekanisme Koping ..................................................................... 6
C. Rentang Respon ................................................................................. 6
D. Tanda dan Gejala................................................................................ 7
E. Faktor-Faktor Resiko Bunuh Diri ...................................................... 8
F. Klasifikasi Bunuh Diri ....................................................................... 10
G. Prilaku yang beresiko Bunuh Diri ...................................................... 11
1. Faktor Risiko .............................................................................. 11
2. Faktor Perilaku ............................................................................ 12
H. Proses Terjadinya Perilaku Bunuh Diri .............................................. 14
I. Pohon Masalah ................................................................................... 17
J. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji…………………. 17
K. Diagnosa Keperawatan …………………………………………….. 17
L. Rencana Keperawatan Bunuh Diri ..................................................... 21

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

I. Proses Keperawatan....................................................................... 25
II. Kondisi Klien................................................................................. 25
III. Diagnosa Keperawatan .................................................................. 25
IV. Tujuan Khusus ............................................................................... 25

2
V. Tindakan Keperawatan .................................................................. 25
VI. Proses Komunikasi dalam pelaksanaan tindakan .......................... 25
VII. Orientasi ………………………………………………………… 25
A. Salam Terapeutik...................................................................... 25
B. Evaluasi/Validasi ..................................................................... 25
C. Kontrak .................................................................................... 25
1. Topik ................................................................................... 25
2. Waktu .................................................................................. 25
3. Tempat ................................................................................. 27
4. Tujuan Interaksi ................................................................... 28
VIII. Kerja …………………………………………………………….. 33
IX. Terminasi ………………………………………………………... 33
KESIMPULAN DAN SARAN
I. Kesimpulan ............................................................................................. 29
II.Saran ...................................................................................................... 29
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 30

3
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

I. MASALAH UTAMA

Resiko Bunuh Diri

II. PROSES TERJADINYA MASALAH

A. Definisi

Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan.(Nihayati, Endang, Hanik, 2015)
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk
menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa.(Iskandar & Damaiyanti, M, 2012)
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah
pada kematian. (Iskandar & Damaiyanti, M, 2012)
Resiko bunuh diri adalah resiko untuk mencederai diri sendiri yang dapat
mengancam kehidupan Beberapa alasan individu mengakhiri kehidupan adalah
kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, perasaan
terisolasi, dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal
melakukan hubungan yang berarti, perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat
merupakan hukuman pada diri sendiri, cara untuk mengakhiri keputusasaan
(Stuart, 2006).

B. Etiologi

Menurut Nihayati, Endang, Hanik, (2015)

1. Faktor Predisposisi

a. Kegagalan atau adaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stres.


b. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal atau
gagal melakukan hubungan yang berarti.

4
c. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri dapat merupakan hukuman pada
diri sendiri.
d. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
e. Tangisan minta tolong.
Lima Faktor risiko menunjang pada pemahaman perilaku destruktif diri
sepanjang siklus kehidupan, yaitu sebagai berikut.
1) Diagnosis psikiatri
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri
mempunyai hubungan dengan penyakit jiwa. tiga gangguan jiwa yang dapat
membuat individu berisiko untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif,
skizofrenia, dan penyalahgunaan zat.
2) Sifat kepribadian
tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya risiko bunuh diri
adalah rasa bermusuhan, impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan psikososial
Baru mengalami kehilangan, perpisahan atau perceraian, kehilangan yang
dini, dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
4) Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan faktor risiko
penting untuk perilaku destruktif.
5) Faktor biokimia
Data menunjukkan bahwa secara serotonegik, opiatergik, dan dopaminergik
menjadi media proses yang dapat menimbulkan perilaku merusak diri.
Faktor penyebab tambahan terjadinya bunuh diri antara lain sebagai berikut
(Iskandar & Damaiyanti, M, 2012)
1. Penyebab bunuh diri pada anak
a. Pelarian dari penganiayaan dan pemerkosaan.
b. Situasi keluarga yang kacau.
c. Perasaan tidak disayangi atau selalu dikritik.
d. Gagal sekolah.

5
e. Takut atau dihina di sekolah, Kehilangan orang yang dicintai.
f. Dihukum orang lain.
2. Penyebab bunuh diri pada remaja.
a. Hubungan interpersonal yang tidak bermakna.
b. Sulit mempertahankan hubungan interpersonal.
c. Pelarian dari penganiayaan fisik atau pemerkosaan.
d. Perasaan tidak dimengerti orang lain.
e. Kehilangan orang yang dicintai dan Keadaan fisik.

f. Masalah dengan orang tua.


g. Masalah seksual.
h. Depresi.

3. Penyebab bunuh diri pada mahasiswa.


a. Self ideal terlalu tinggi.
b. Cemas akan tugas akademik yang terlalu banyak.
c. Kegagalan akademik berarti kehilangan penghargaan dan kasih
sayang orang tua.d. Kompetisi untuk sukses.
4. Penyebab bunuh diri pada usia lanjut.
a. Perubahan status dari mandiri ke ketergantungan.
b. Penyakit yang menurunkan kemampuan berfingsi.
c. Perasaan tidak berarti di masyarakat.
d. Kesepian dan isolasi sosial.
e. Kehilangan ganda, seperti pekerjaan, kesehatan, pasangan.
f. Sumber hidup bergantung.

2. Faktor Presipitasi

a. psikososial dan klinik.


1) Keputusasaan.
2) Ras kulit putih.
3) jenis kelamin laki-laki.
4) Usia lebih tua.
5) Hidup sendiri.

6
b. Riwayat.
1) Pernah mencoba bunuh diri.
2) Riwayat keluarga tentang percobaan bunuh diri.
3) Riwayat keluarga tentang penyalahgunaan zataktor presifitasi.
4) Diagnosa
a) Penyakit medis umum.
b) Psikosis.
c) Penyalahgunaan zat

3. Perilaku koping

Perilaku koping klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang


mengancam kehidupan dapat melakukan perilaku bunuh diri dan sering kali
secara sedar memilih melakukan tindak bunuh diri. Perilaku bunuh diri
berhubungan dengan faktor, baik faktor sosial maupun budaya. Struktur sosisal
dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien
melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi soasial dapat menyebabkan kesepian
dan meningkatnya keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri.
Seseorang yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu mentoleransi
setres dan menurunkan angka bunuh diri. aktif dalam kegiatan keagama juga
dapat mencegah seseorang dalam melakukan bunuh diri.(Iskandar &
Damaiyanti, M, 2012)

4. Mekanisme Koping

Seorang klien mungkin memakian beberapa variasi mekanismei koping


yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial,
rasionalization, regression dan magical thinking. Mekanisme pertahanan diri
yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa meberikan koping
alternatif.(Iskandar & Damaiyanti, M, 2012)

7
C. Rentang Respon

Menurut Nihayati, Endang, Hanik, 2015)


Respon Adaptif Respon Maladaptif

Peningkatan Pertumbuhan Perilaku Pencederaan Bunuh


diri peningkatan destruktif diri diri
beresiko diri tak
langsung

1. Peningkatan diri yaitu seorang individu yang mempunyai pengharapan, yakin,


dan kesadaran diri meningkat.
2. Pertumbuhan-peningkatan berisiko, yaitu merupakan posisi pada rentang yang
masih normal dialami individu yang mengalami perkembangan perilaku.
3. Perilaku destruktif diri tak langsung, yaitu setiap aktivitas yang merusak
kesejahteraan fisik individu dan dapat mengarah kepada kematian, seperti
perilaku merusak, mengebut, berjudi, tindakan kriminal, terlibat dalam rekreasi
yang berisiko tinggi, penyalahgunaan zat, perilaku yang menyimpang secara
sosial, dan perilaku yang menimbulkan stres.
4. Pencederaan diri, yaitu suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan dilakukan terhadap diri sendiri, tanpa
bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk melukai tubuh.
Bentuk umum perilaku pencederaan diri termasuk melukai dan membakar
kulit, membenturkan kepala atau anggota tubuh, melukai tubuhnya sedikit
demi sedikit, dan menggigit jari.
5. Bunuh diri, yaitu tindakan agresi yang langsung terhadap diri sendiri untuk
mengakhiri kehidupan.

D. Tanda dan Gejala

Menurut Iskandar & Damaiyanti, M, (2012)


1. Mempunyai ide untuk bunuh diri
2. Mengungkapkan keinginan untuk mati
3. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputus asaan
8
4. Inpulsif
5. Menunjukan perilaku mencurigakan (biasanya sangat menjadi patuh)
6. Memiliki riwayat pencobaan bunuh diri.
7. Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
yang mematika)
8. Status emosional(harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri)
9. Kesehatan mental (secara klinis, klien terlhat sebagai orang yang depresi dan
psikosis dan menyalah gunakan alkohol.
10. Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik atau terminal
11. Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karir)
12. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun
13. Status perkawinan(mengalami kegagalan dalam perkawinan)
14. Pekerjaan
15. Konflik interpersonal
16. Latara belakang keluarga
17. Orientasi seksual
18. Sumber-sumber personal
19. Sumber-sumber sosial
20. Menjadi korban perillaku kekerasan saat kecil.

E. Faktor-faktor resiko bunuh diri

Menurut Iskandar & Damaiyanti, M, (2012)


1. Perilaku
a. Membeli senjata
b. Mengubah surat warisan
c. Memberikan harta milik/kepemilikan
d. Riwayat upaya bunuh diri dari sebelumnya
e. Impulsif
f. Membuat surat warisan

9
g. Perubahan sikap yang nyata
h. Perubahan performa/kinerja di sekolah secara nyata.
i. Membeli obat dalam banyak
j. Pemulihan euforik yang tiba-tiba depresi mayor.
2. Demografik
a. Usia(mis, lansia, pria dewasa muda, remaja)
b. Perceraian
c. Jenis kelamin
d. Ras (mis, orang kulit putih, suku asli amerika)
e. Janda/duda
3. Fisik
a. Nyeri kronik
b. Penyakit fisik
c. Penyakit terminal
4. Psikologis
a. Penganiayaan masa kanak-kanak
b. Riwayat bunuh diri dalam keluarga
c. Rasa bersalah
d. Remaja homoseksual
e. Gangguan psikiatrik
f. Penyakit psikiatrik
g. Penyalahgunaan zat
5. Situasional
a. Remaja yang tinggal di tatanan nontradisional (mis, penjara anak-anak,
penjara, rumah singgah, rumah kelompok)
b. Ketidakstabilan ekonomi
c. Institusional
d. Tinggal sendiri
e. Kehilangan otonomi
f. Kehilangan kebebasan
g. Adanya senjata didalam rumah

10
h. Relokasi atau pindah rumah
i. Pensiun
6. Sosial
a. Bunuh diri masal/berkelompok
b. Gangguan kehidupa keluarga
c. Masalah disiplin
d. Berduka
e. Tidak berdaya
f. Putus asa
g. Masalah legal
h. Kesepian
i. Kehilangan hubungan yang penting
j. Sistem dukungan yang buruk
k. Isolasi sosial
7. Verbal
a. Menyatakan keinginan untuk mati
b. Mengancam bunuh diri

F. Klasifikasi bunuh diri

Menurut Iskandar & Damaiyanti, M, (2012) Tingkah laku bunuh diri


biasanya berhubungan dengan Faktor sosial dan kultural. Durkheim membuat
urutan tentang tingkah laku bunuh diri. Ada tiga subkategori bunuh diri
berdasarkan motivasi seseorang, yaitu sebagai berikut :
1. Bunuh diri egoistik (faktor dalam diri seseorang) Akibat seseorang yang
mempunyai hubungan sosial yang buruk. Individu tidak mampu berinteraksi
dengan masyarakat, hal ini disebabkan oleh kondisi kebudayaan atau karena
masyarakat menjadikan individu itu seolah-olah tidak berkepribadian.
Kegagaln intekgrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka
tidak menikah lebih rentan untuk melakukan pencobaan bunuh diri
dibandingkan mereka yang sudah menikah.

11
2. Bunuh diri altruistik (terkait kehormatan seseorang)
Akibat kepatuhan pada adat dan kebiasaan. Individu terkait pada tuntutan
tradisi khusus ataupun cendrung untuk bunuh diri karena identifikasi terlalu
kuat dengan suatu kelompok ia merasa kelompok tersebut sangat
mengharapkaya.
3. Bunuh diri anomik(faktor lingkungan dan tekanan)
Akibat lingkungan tidak dapat memberikan kenyamanan bagi individu. Hal ini
terjadi bila dapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan
masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan
yang biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan, masyarakat atau
kelompok tidak memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada pengaturan
atau pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhanya.

G. Perilaku Resiko Bunuh Diri

Menurut Nihayati, Endang, Hanik, (2015) perilaku yang beresiko bunuh diri
adalah :
1. Faktor resiko
a. Faktor resiko
a) Umur
b) Jenis kelamin
c) Perkawinan
d) Jabatan pekerjaan penyakit kronis
e) Gangguan mental
b. Resiko tinggi
a) Umur> 45 tahun dan remaja
b) Laki-laki
c) Cerai, pisah, janda, duda
d) Profesional
e) Pengangguran
f) Kronik terminal

12
g) Defresi, halusinasi.
c. Resiko rendah
a) 25–45 tahun atau < 12 tahun
b) Jenis kelamin
c) Perempuan
d) Kawinan
e) Pekerja kasar
f) Pekerja
g) Tidak ada yang serius
h) Gangguan kepribadian
2. Faktor perilaku
a. Ketidak patuhan Ketidak patuhan biasanya dikaitkan dengan program
pengobatan yang dilakukan (pemberian obat). Pasien dengan keinginan
bunuh diri memilih untuk tidak memperhatikan dirinya.
b. Pencederaan diri
Cedera diri adalah sebagai suatu tindakan membahayakan diri sendiri yang
dilakukan dengan sengaja. Pencederaan diri dilakukan terhadap diri
sendiri, tanpa bantuan orang lain, dan cedera tersebut cukup parah untuk
melukai tubuh.
c. Perilaku bunuh diri Biasanya dibagi menjadi tiga kategori, yaitu sebagai
berikut.
a) Ancaman bunuh diri, yaitu peringatan verbal dan nonverbal bahwa
orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri. Orang tersebut
mungkin menunjukkan secara verbal bahwa ia tidak akan berada di
sekitar kita lebih lama lagi atau mungkin juga mengomunikasikan
secara nonverbal melalui pemberian hadiah, merevisi wasiatnya, dan
sebagainya.
b) Upaya bunuh diri, yaitu semua tindakan yang diarahkan pada diri
sendiri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarahkan pada
kematian jika tidak dicegah.

13
c) Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau
terabaikan. Orang yang melakukan upaya bunuh diri dan yang tidak
benar-benar ingin mati mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut
tidak diketahui tepat pada waktunya.
d) Faktor Lain
Faktor lain yang perlu diperhatikan dalam pengkajian pasien destrukti
diri bunuh diri adalah sebagai berikut :
1. Pengkajian lingkungan upaya bunuh diri.
a. Presipitasi peristiwa kehidupan yang menghina atau
menyakitkan.
b. Tindakan persiapan/metode yang dibutuhkan, mengatur
rencana, membicarakan tentang bunuh diri, memberikan barang
berharga sebagai hadiah, catatan untuk bunuh diri.
c. Penggunaan cara kekerasan atau obat/racun yang lebih
mematikan.
d. Pemahaman letalitas dari metode yang dipilih. Kewaspadaan
yang dilakukan agar tidak diketahui.
2. Petunjuk gejalaa. Keputusasaan.
a. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal, dan tidak
berharga.

b. Alam perasaan depresi.


c. Agitasi dan gelisah.e. Insomnia yang menetap Penurunan berat
badan.
d. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan
sosial.

3. Penyakit psikiatrik
a. Upaya bunuh diri sebelumnya.
b. Kelainan apektifc. Alkoholisme dan atau penyalahgunaan obat.
c. Kelainan tindakan dan depresi pada remaja.

14
d. Demensia dini dan status kekacauan mental pada lansia.
Kombinasi dari kondisi di atas.
4. Riwayat psikososiala.
a. Baru berpisah, bercerai, atau kehilangan.
b. Hidup sendiri.
c. Tidak bekerja, perubahan, atau kehilangan pekerjaan yang baru
dialami.d. Stres kehidupan ganda (pindah, kehilangan, putus
hubungan yang berarti, masalah sekolah, ancaman terhadap
krisis disiplin).
d. Penyakit medis kronis. Minum yang berlebihan dan
penyalahgunaan zat.
5. Faktor-aktor kepribadiana.
a. Impulsi, agresi, rasa bermusuhan.
b. Kekakuan kogniti dan negati.
c. Keputusasaan.
d. Harga diri rendah.
e. Batasan atau gangguan kepribadian antisosial.
6. Riwayat keluargaa.
a. Riwayat keluarga berperilaku bunuh diri.
b. Riwayat keluarga gangguan apektif, alkoholisme, atau
keduanya.

H. Proses terjadinya perilaku bunuh diri

Menurut Nihayati, Endang, Hanik, (2015) proses terjadinya perilaku bunuh diri
yaitu sebagai berikut :

motivasi Niat Penjabaran Tindakan Krisis


gagasan bunuh diri bunuh
diri
Hidup
atau mati Konsep 1. Catatan bunuh diri
bunuh diri

15
Setiap upaya percobaan bunuh diri selalu diawali dengan adanya motivasi untuk
bunuh diri dengan berbagai alasan, berniat melaksanakan bunuh diri,
mengembangkan gagasan sampai akhirnya melakukan bunuh diri. Oleh karena itu,
adanya percobaan bunuh diri merupakan masalah keperawatan yang harus
mendapatkan perhatian serius. Sekali pasien berhasil mencoba bunuh diri, maka
selesai riwayat pasien. (Nihayati, Endang, Hanik, 2015)

I. Pohon Masalah

Menurut Iskandar & Damaiyanti, M, (2012)

Resiko Bunuh Diri

HDR

Keputusasaan

J. Masalah Keperawatan dan Data yang perlu di Kaji

1. Identitas Klien: Meliputi nama klien, umur, jenis kelamin, status perkawinan,
agama, tanggal MRS (Masuk Rumah Sakit), informan, tangggal pengkajian, No
Rumah klien dan alamat klien.
2. Keluhan Utama: Tanyakan pada keluarga / klien hal yang menyebabkan klien dan
keluarga datang ke Rumah Sakit, yang telah dilakukan keluarga untuk mengatasi
masalah dan perkembangan yang dicapai
3. Faktor predisposisi: Tanyakan pada klien / keluarga, apakah klien pernah
mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami,
penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga
dan tindakan kriminal.

16
Dapat dilakukan pengkajian pada keluarga faktor yang mungkin mengakibatkan
terjadinya gangguan :
1) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis
dari klien.
2) Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak atau SSP, pertumbuhan dan
perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.
3) Sosial Budaya
Seperti kemiskinan, konflik sosial budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan),
kehidupan yang terisolasi serta stress yang menumpuk.
4) Aspek fisik / biologis
Hasil pengukuran tada vital (TD, Nadi, suhu, Pernapasan , TB, BB) dan keluhan
fisik yang dialami oleh klien.
5) Aspek Psikososial
a) Membuat genogram yang memuat paling sedikit tiga generasi yang dapat
menggambarkan hubungan klien dan keluarga, masalah yang terkait dengan
komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
b) Konsep diri
1. Citra tubuh: mengenai persepsi klien terhadap tubuhnya, bagian yang
disukai dan tidak disukai.
2. Identitas diri: status dan posisi klien sebelum dirawat, kepuasan klien
terhadap status dan posisinya dan kepuasan klien sebagai laki-laki /
perempuan.
3. Peran: tugas yang diemban dalam keluarga / kelompok dan masyarakat dan
kemampuan klien dalam melaksanakan tugas tersebut.
4. Ideal diri: harapan terhadap tubuh, posisi, status, tugas, lingkungan dan
penyakitnya.
5. Harga diri: hubungan klien dengan orang lain, penilaian dan penghargaan
orang lain terhadap dirinya, biasanya terjadi pengungkapan kekecewaan
terhadap dirinya sebagai wujud harga diri rendah.

17
c) Hubungan sosial dengan orang lain yang terdekat dalam kehidupan, kelompok
yang diikuti dalam masyarakat.
d) Spiritual, mengenai nilai dan keyakinan dan kegiatan ibadah.
6) Status Mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien, aktivitas motorik
klien (sedih, takut, khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi
klien, proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi dan
berhitung.
7) Mekanisme Koping
Klien apabila mendapat masalah takut atau tidak mau menceritakannya pada orang
orang lain (lebih sering menggunakan koping menarik diri)
8) Masalah Psikososial dan Lingkungan
Masalah berkenaan dengan ekonomi, dukungan kelompok, lingkungan,
pendidikan,pekerjaan, perumahan, dan pelayanan kesehatan.

K. Diagnosa Keperawatan

Resiko bunuh diri

L. Rencana keperawatan bunuh diri

Menurut Iskandar & Damaiyanti, M, (2012) dalam bentuk Strategi Pelaksanaan


yaitu :

Pasien Keluarga
No SPI p SPI k
1. Membina hubungan saling Mendiskusikan masalah yang
percaya dirasakan keluarga dalam merawat
klien.
2. Mengidentifikasi benda-benda Menjelaskan pengertian tanda dan
yang dapat membahayakan klien gejala resiko bunuh diri dan jenis
Mengamankan benda-benda perilaku bunuh diri yang dialami
3. yang dapat membahayakan klien klien beserta proses terjadinya.

18
Melakukan kontrak treatment Menjelaskan cara-cara merawat
4. Mengajarkan cara-cara klien resiko bunuh diri.
mengendalikan dorongan bunuh
diri
Melatih cara mengendalikan
5. dorongan bunuh diri
SPII p SPII k
1. Mengidentifikasi asfek positif Melatih keluarga mempraktekan
klien cara merawat klien resiko bunuh
diri.
2. Mendorong klien berpikir positif Melatih keluarga memperaktekkan
tentang diri cara merawat langsung klien resiko
bunuh diri.
3. Mendorong klien menghargai
diri sebagai individu yang
berharga

SPIII p SPIII k
1. Mengidentifikasi pola koping Membantu keluarga membuat
yang diterapkan klien jadwal aktivitas dirumah termasuk
minum obat
2. Menilai pola koping yang biasa Menjelaskan followup klien setelah
dilakukan pulang
3. Mengidentifikasi pola koping
yang konstruktif
Mendorong klien memilih
4. koping yang konstruktif
Menganjurkan klien
5. menerapkan pola koping yang

19
konstruktif dalam kegiatan
harian
SPIV
1. Membuat rencana masadepan
yang realistis bersama klien
2. Mengidentifikasi cara mencapai
rencana masadepan yang
realistis
3. Memberikan dorongan klien
melakukan kegiatan dalam
rangka meraih masa depan yang
realistis
4. Menganjurkan klien memasukan
kedalam kegiatan harian klien

20
POHON MASALAH

Perilaku Bunuh Diri

Resiko Tinggi Perilaku


Bunuh Diri

Isolasi Sosial,HDR

Keputusasaan
Ketidak Efektifan Mekanisme
Koping

21
Tgl No Diagnosa Perencanaan Intervensi
Diagnosa Keperawatan
Tujuan Kriteria Evaluasi
1 Risiko Bunuh 1. Klien dapat 1 Menjawab salam 1 Kenalkan diri pada klien
Diri
membina 2 Kontak mata 2 Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar
hubungan saling 3 Menerima perawat dan tidak menyangkal
percaya 4 Berjabat tangan 3 Bicara tegas, jelas, dan jujur
4 Bersifat hargai dan bersahabat
5 Temani klien saat keinginan menciderai diri
meningkat
6 Jauhkan klien dari benda-benda yang
membahayakan (seperti : pisau, silet, gunting,
tali, kaca, dll)
2 Klien dapat 1. Menceritakan 1. Dengarkan keluhan yang klien rasakan.
mengekspresikan penderitaan secara 2. Bersikap empati untuk meningkatkan
perasaannya terbuka dan ungkapan keraguan, ketakutan dan
keprihatinan.

22
konstruktif dengan 3. Beri dorongan pada klien untuk
orang lain. mengungkapkan mengapa dan bagaimana
harapan karena harapan adalah hal yang
terpenting dalam kehidupan.
4. Beri klien waktu dan kesempatan untuk
menceritakan arti penderitaan kematian dan
sekarat.
5. Beri dorongan pada klien untuk
mengekspresikan tentang mengapa harapan
tidak pasti dalam hal-hal di mana harapan
mempunyai kegagalan.

3 Klien dapat 1. Mengenang dan 1. Bantu klien untuk memahami bahwa ia dapat
meningkatkan meninjau kembali mengatasi aspek-aspek keputusan dan
harga diri kehidupan secara memisahkan dari aspek harapan.
positif. 2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal
2. Mempertimbangkan individu (otonomi, ,mandiri, rasional
nilai-nilai dan arti pemikiran kognitif fleksibilitas dan
kehidupan. spiritualitas.

23
3 Mengekspresikan 3. Bantu klien mengidentifikasi sumber-sumber
perasaan-perasaan harapan (misal : hubungan antar sesama,
yang optimis keyakinan, hak-hak untuk diselesaikan.
tentang yang ada 4. Bantu klien mengembangkan tujuan-tujuan
realitas jangka panjang dan jangka pendek
(beralih dari yang sederhana ke yang lebih
kompleks, dapat menggunakan suatu poster
tujuan untuk menandakan jenis dan waktu
untuk pencapaian tujuan-tujuan spesifik).
4 Klien 1 Mengkspresikan 1. Ajarkan klien untuk mengantisipasi pengalaman
menggunakan perasaan tentang yang dia senang melakukan setiap hari (msial :
dukungan sosial hubungan yang berjalan membaca buku favorit dan menulis
positif dengan surat).
orang terdekat. 2. Bantu klien untuk mengenali hal-hal yang
2 Mengekspresikan dicintai, yang ia sayang dan pentingnya
percaya diri dengan terhadap kehidupan orang lain di samping
hasil yang tentang kegagalan dalam kesehatan.
dinginkan. 3. Beri dorongan pada klien untuk berbagi
keprihatinan pada orang lain yang mempunyai

24
3 Mengekspresikan masalah atau penyakit yang sama dan telah
percaya diri dengan mempunyai pengalaman positif dalam
diri dan orang lain. mengatasi tersebut dengan koping yang efektif
4 Menetapkan tujuan-
tujuan yang realistis
5 Klien 1 Sumber tersedia 1 Kaji dan kerahkan sumber-sumber
menggunakan (keluarga, eksternal individu (orang terdekat, tim
dukungan sosial lingkungan, dan pelayanan kesehatan, kelompok
masyarakat). pendukung, agama yang dianutnya).
2 Keyakinan makin 2 Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai,
meningkat. pengalaman masa lalu, aktivitas
keagamaan, kepercayaan agama). Lakukan
rujukan selesai indikasi (misal : konseling
dan pemuka agama).

25
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

MASALAH KEPERAWATAN RESIKO BUNUH DIRI


Pertemuan ke 1

I. Proses Keperawatan

a. Kondisi pasien

Klien tenang,kooperatif,dan klien mampu menjawab semua pertanyaan

b. Diagnosa Keperawatan

Resiko Bunuh Diri

c. Tujuan Khusus

Klien mampu membina hubungan saling percaya

Klien dapat meningkatkan harga dirinya

Kliaen mendapat perlindungan dari lingkungannya

d. Tindakan Keperawatan

SP 1 Pasien : Membina Hubungan Saling percaya

SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat


pasien.

Strategi Pelaksanaan Pasien

II. Orientasi

a. Salam Terapeutik

“Assalamualaikum, Selamat pagi ?”, “Perkenalkan saya perawat Inna , saya mahasiswa
dari StikesWDH. Nama ibu siapa ? dan senang dipanggil apa ? ”

b. Evaluasi/validasi

25
“Bagaimana perasaan Ibu saat ini ? saya akan menemani ibu mulai dari jam 08.00
sampai jam 14.00.

c. Kontrak

“Baiklah, pagi ini kita akan berbincang-bincang mengenai perasaan yang saat ini ibu
rasakan ”. saya siap mendengarkan sesuatu yang ibu sampaikan“Mari kita bercakap-
cakap ke taman !” “Atau ibu ingin ke tempat lain ?”. “Berapa lama ibu mau kita
berbincang-bincang ? bagaimana kalau 15 menit setelah ibu makan siang jam 13.00?”

d. Kerja

Bagaimana perasaan Ibu setelah bencana itu terjadi? Apakah dengan bencana
tersebut Ibu merasa paling menderita di dunia ini? Apakah Ibu kehilangan kepercayaan
diri? Apakah Ibu merasa tidak berharga dan lebih rendah dari pada orang lain? Apakah
Ibu sering mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi? Apakah Ibu berniat untuk
menyakiti diri sendiri seperti ingin bunuh diri atau berharap Ibu mati? Apakah Ibu
mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya? Jika klien telah menyampaikan ide bunuh
diri, segera memberikan tindakan untuk melindungi klien. Baiklah tampaknya Ibu
memerlukan bantuan untuk menghilangkan keinginan untuk bunuh diri. Saya perlu
memeriksa seluruh kamar Ibu untuk memastikan tidak ada benda-benda yang
membahayakan Ibu. Nah, karena Ibu tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat
untuk mengakhiri hidupIbu, maka saya tidak akan membiarkan Ibu sendiri. Apakah
yang akan Ibu lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Ya, saya setuju. Ibu harus
memaggil perawat yang bertugas di tempat ini untuk membantu Ibu. Saya percaya Ibu
dapat melakukannya.

III.Terminasi

a. Evaluasi

“Bagaimana ibu perasaannya setelah kita berbincang - bincang tadi? Coba ibu sebutkan
cara tersebut?ya bagus ibu sudah dapat menyebutkan cara tsb.

26
b. Rencana Tindak lanjut

“Ibu, untuk pertemuan selanjutnya kita membicarakan tentang meningkatkan harga diri
pasien isyarat bunuh diri. Jam berapa Ibu bersedia bercakap-cakap lagi? mau berapa
lama? Ibu, mau dimana tempatnya?

Strategi Pelaksanaan Keluarga

SP 1 Keluarga : Mendiskusikan masalah yg dirasakan dalam merawat pasien

I. Orientasi

a. Salam Terapeutik

“Selamat pagi !”perkenalkan saya inna Perawat yang merawat Ibu S

b. Validasi

“Bagaimana keadaan Bapak/Ibu pagi ini ?”

c. Kontrak (waktu, tempat, topik)

“Bagaimana kalau pagi ini kita ngobrol tentang masalah yang dihadapi Bapak/ibu
dalam merawat ibu S? Berapa lama waktu Bapak/Ibu? 30 menit? Baik, mari duduk di
ruangan wawancara!”

d. Kerja

“Apa masalah yang Ibu hadapi dalam merawat ibu S? ohh baiklah ternyata ibu tidak
mengetahuhi penyakit yang diderita ibu S? Ibu S memiliki masalah resiko bunuh diri.”
Oleh karena itu Ibu S membutuhkan perawatan untuk mengatasi penyakitnya. Maka
dari itu ibu harus tau bagaimana cara merawat Ibu S”

II. Terminasi

a. Evaluasi

”Bagaimana perasaan ibu setelah percakapan kita ini?” oh iya ibu ingin mengetahui
bagaimana cara merawat ibu S.”

27
b. Rencana Tindak Lanjut

“Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk memberitahu bagaimana penyakit RBD dan
cara merawat ibu S. Jam berapa Bp/Ibu datang? Baik saya tunggu. Sampai jumpa.”

28
KESIMPULAN DAN SARAN

I. KESIMPULAN

Resiko bunuh diri dapat terjadi pada semua jenjang usia mulai dari anak –
anak sampai lansia. Faktor predisposisi resiko bunuh diri adalah dari perilaku
koping yang tidak adaptif, trauma masa lalu yang berkepanjangan, riwayat
gangguan jiwa, konsep diri yang negatif dan kurangnya dukungan dari orang
terdekat.

Masalah keperawatan yang timbul dari perilaku bunuh diri atau suicide
adalah resiko mencederai diri sendiri, orang lain atau lingkungan, harga diri
rendah dan perilaku bunuh diri.

Dukungan dari keluarga dan pendampingan dari perawat sangat dibutuhkan


dalam penanganan klien dengan perilaku bunuh diri atau suicide. Perawat sebagai
pemberi asuhan keperawatan harus mampu menemukan core problem dari
perilaku bunuh diri atau suicide agar dapat memberikan asuhan keperawatan
secara tepat.

II. SARAN

Perilaku bunuh diri merupakan salah satu masalah yang ada di keperawatan
jiwa yang cukup kompleks. Sebagai seorang perawat jiwa dituntut untuk mampu
merawat dan mendampingi klien sehingga perilaku bunuh diri atau suicide tidak
terjadi.

Keluarga sebagai orang terdekat klien senantiasa harus mengetahui tanda


dan gejala dari perilaku bunuh diri. Motivasi sangat diperlukan untuk membangun
kepercayaan diri klien

29
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. (2011). Program Kesehatan Jiwa. www.depkes.go.id.

Iskandar, & Damaiayanti, M. (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung: PT Refika


Aditama.

(2019, Januari Sabtu,19). Retrieved Juni Senin, 10, 2019, from Detik News:
https://news.detik.com/berita/d-4391681/tingkat-bunuh-diri-indonesia-
dibanding-negara-negara-lain

Mulyani, A. A., & Eridiana, W. (2018). Faktor-Faktor yang Meletar Belakangi Fenomena
Bunuh Diri. Sosietas Vol 8 No. 2, 510-516

(2016, November Rabu 02). Retrieved Juni Senin, 10, 2019, from Kementerian
Kesehatan
RepublikIndonesia:http://www.depkes.go.id/article/view/16110400002/komunik
asi-dan-kepedulian-antar-anggota-keluarga-dibutuhkan-untuk-cegah-kejadian-
bunuh-diri-.html

Nihayati, E. H. (2015). Buku Ajara Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba


Medika.

NANDA Internasional (2012-2014). Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi.


Jakarta: ECG.

Stuart, G. W. (2011). Principles and practice of psychiatric nursing 9 th ed. mosby.Inc .

Santoso, M. B., Kirana, C., & Kirana, C. I. (2017). Bunuh Diri dan Depresi Dalam
Perspektif Pekerjaan Sosial. Prosiding Penelitian dan Pengabdian Terhadap
Masyarakat Vol 4 No.3, 390-447.

30
31