Anda di halaman 1dari 6

1.1.

1 Pengertian stroke

https://www.alodokter.com/stroke

Fisher, et al. (2016). Definition and Implications of the Preventable Stroke. JAMA Neurology, 73(2),
pp. 186-9.

Musuka, et al. (2015). Diagnosis and management of acute ischemic stroke: speed is critical. CMAJ :
Canadian Medical Association Journal, 187(12), pp. 887–893.

National Stroke Association (2018). What is Stroke?

Kementrian Kesehatan RI (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan
Dasar 2013.

Kementrian Kesehatan RI (2008). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Kesehatan
Dasar 2007.

Yudiarto, et al. (2014). Indonesia Stroke Registry. Neurology, 82 (10).

NHS Choices UK (2017). Health A-Z. Physical Activity Guidelines for Older Adults.

NHS Choices UK (2017). Health A-Z. Stroke.

Mayo Clinic (2018). Diseases & Conditions. Stroke.

WebMD (2018). Stroke.

1.1.2

http://digilib.poltekkesdepkes-sby.ac.id/public/POLTEKKESSBY-Studi-2992-PDF.pdf

http://eprints.umpo.ac.id/1307/1/HALAMAN%20DEPAN.pdf
http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/1148/9/KTI.pdf

1.1.1 Pengertian Stroke

Stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat
penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa darah,
otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian area otak
akan mati. Ketika sebagian area otak mati, bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak
tidak dapat berfungsi dengan baik. Stroke adalah keadaan darurat medis karena sel otak dapat mati
hanya dalam hitungan menit. Penanganan yang cepat dapat meminimalkan kerusakan otak dan
kemungkinan munculnya komplikasi

Menurut riset kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh Kementrian Kesehatan RI pada tahun
2013, di Indonesia terdapat lebih dari 2 juta penduduk, atau 12 dari 1000 penduduk, menderita
stroke dengan persentase terbesar berasal dari provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu, stroke juga
merupakan pembunuh nomor 1 di Indonesia, lebih dari 15% kematian di Indonesia disebabkan oleh
stroke. Stroke iskemik memiliki kejadian yang lebih sering dibandingkan dengan stroke hemoragik,
namun stroke hemoragik membunuh lebih sering dibandingkan dengan stroke iskemik. Hipertensi
yang diikuti dengan diabetes dan kolesterol tinggi merupakan kondisi yang paling sering
meningkatkan risiko terjadinya stroke di Indonesia.

Gejala stroke dapat berbeda pada tiap penderitanya, tetapi gejala yang paling sering dijumpai
adalah: Tungkai mati rasa, bicara menjadi kacau, wajah terlihat menurun. Penyebab stroke sangat
bervariasi, mulai dari gumpalan darah pada pembuluh darah di otak, tekanan darah tinggi, hingga
pengaruh obat-obatan pengencer darah. Stroke sangat berisiko dialami penderita tekanan darah
tinggi, kolesterol tinggi, berat badan berlebih, dan diabetes. Risiko yang sama juga dapat terjadi pada
orang yang kurang olahraga, serta memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol dan merokok.

Pengobatan stroke tergantung kepada kondisi yang dialami pasien. Dokter dapat memberikan obat-
obatan atau melakukan operasi. Sedangkan untuk memulihkan kondisi, pasien akan dianjurkan
menjalani fisioterapi, dan diikuti terapi psikologis apabila diperlukan. Untuk mencegah stroke, dokter
menyarankan untuk: Menerapkan pola makan yang sehat., berolahraga secara rutin, hindari
merokok dan mengonsumsi minuman keras, komplikasi Stroke dapat menyebabkan munculnya
berbagai masalah kesehatan lain yang dapat membahayakan nyawa, antara lain: Deep vein
thrombosis atau penggumpalan darah di tungkai, hidrosefalus akibat menumpuknya cairan otak di
dalam rongga otak, disfagia atau gangguan refleks otot saat menelan.

1.1.2 Gejala Stroke

Setiap bagian tubuh dikendalikan oleh bagian otak yang berbeda-beda, sehingga gejala
stroke tergantung pada bagian otak yang terserang dan tingkat kerusakannya. Gejala atau tanda
stroke bervariasi pada setiap orang, namun umumnya muncul secara tiba-tiba. Ada 3 gejala utama
stroke yang mudah untuk diingat, yaitu:

• Face (wajah). Wajah akan terlihat menurun pada satu sisi dan tidak mampu tersenyum
karena mulut atau mata terkulai.

• Arms (lengan). Orang dengan gejala stroke tidak mampu mengangkat salah satu lengannya
karena terasa lemas atau mati rasa. Tidak hanya lengan, tungkai yang satu sisi dengan lengan
tersebut juga mengalami kelemahan.
• Speech (cara bicara). Ucapan tidak jelas, kacau, atau ba hkan tidak mampu berbicara sama
sekali meskipun penderita terlihat sadar.

Selain itu, ada beberapa gejala dan tanda stroke lain yang mungkin muncul, antara lain:

a. Mual dan muntah.

b. Sakit kepala hebat yang datang secara tiba-tiba, disertai kaku pada leher dan pusing
berputar (vertigo).

c. Penurunan kesadaran.

d. Sulit menelan (disfagia), sehingga mengakibatkan tersedak.

e. Gangguan pada keseimbangan dan koordinasi.

f. Hilangnya penglihatan secara tiba-tiba atau penglihatan ganda.

1.1.3 Penyebab Stroke

Berdasarkan penyebabnya, ada dua jenis stroke, yaitu:

a. Stroke iskemik. Sekitar 80% stroke adalah jenis stroke iskemik. Stroke iskemik terjadi ketika
pembuluh darah arteri yang membawa darah dan oksigen ke otak mengalami penyempitan atau
terhambat, sehingga menyebabkan aliran darah ke otak sangat berkurang. Kondisi ini disebut juga
dengan iskemia. Stroke iskemik dapat dibagi lagi ke dalam 2 jenis, di antaranya:

b. Stroke trombotik, yaitu stroke yang terjadi ketika gumpalan darah terbentuk di salah satu
pembuluh darah arteri yang memasok darah ke otak. Pembentukan gumpalan darah ini disebabkan
oleh timbunan lemak atau plak yang menumpuk di arteri (aterosklerosis) dan menyebabkan
menurunnya aliran darah.

c. Stroke embolik, yaitu stroke yang terjadi ketika gumpalan darah atau gumpalan yang
terbentuk di bagian tubuh lain, umumnya jantung, terbawa melalui aliran darah dan tersangkut di
pembuluh darah otak, sehingga menyebabkan arteri otak menyempit. Jenis gumpalan darah ini
disebut embolus. Salah satu gangguan irama jantung, yaitu fibrilasi atrium, sering menyebabkan
stroke embolik.

d. Stroke hemoragik. Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah dan
menyebabkan perdarahan. Pendarahan di otak dapat dipicu oleh beberapa kondisi yang
memengaruhi pembuluh darah.

Kondisi tersebut meliputi:

- Hipertensi yang tidak terkendali.

- Melemahnya dinding pembuluh darah (aneurisma otak).

- Pengobatan dengan antikoagulan (pengencer darah).

Ada dua jenis stroke hemoragik, antara lain:

a. Perdarahan intraserebral. Pada perdarahan intraserebral, pembuluh darah di otak pecah dan
menumpahkan isinya ke jaringan otak di sekitarnya, sehingga merusak sel otak.
b. Perdarahan subarachnoid. Pada perdarahan subarachnoid, pembuluh darah arteri yang
berada dekat permukaan otak, pecah dan menumpahkan isinya ke rongga subarachnoid, yaitu ruang
antara permukaan otak dan tulang tengkorak.

Transient Ischemic Attack (TIA)

TIA memiliki gejala yang serupa dengan jenis stroke lainnya, namun TIA umumnya hanya
berlangsung selama lima menit. Kondisi ini disebabkan oleh penurunan suplai darah ke otak akibat
gumpalan darah yang menghambat aliran darah ke otak. TIA tidak mengakibatkan kerusakan
jaringan otak secara permanen dan gejalanya pun tidak berlangsung lama. Meskipun demikian,
segera hubungi dokter untuk mencegah serangan stroke dan mengendalikan faktor risikonya.

Faktor Risiko Stroke

Terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko stroke. Selain stroke, faktor risiko di
bawah ini juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Faktor-faktor tersebut meliputi:

Faktor kesehatan, yang meliputi:

Hipertensi.

Diabetes.

Kolesterol tinggi.

Obesitas.

Penyakit jantung, seperti gagal jantung, penyakit jantung bawaan, infeksi jantung, atau aritmia.

Sleep apnea.

Pernah mengalami TIA atau serangan jantung sebelumnya.

Faktor gaya hidup, yang meliputi:

Merokok.

Kurang olahraga atau aktivitas fisik.

Konsumsi obat-obatan terlarang.

Kecanduan alkohol.

Faktor lain yang berhubungan dengan risiko stroke, antara lain:

Faktor keturunan. Jika anggota keluarga pernah mengalami stroke, maka risiko terkena stroke juga
semakin tinggi.

Usia. Dengan bertambahnya usia, seseorang memiliki risiko stroke lebih tinggi dibandingkan orang
yang lebih muda.
http://yankes.kemkes.go.id/read-disfagia-pada-pasien-stroke-dan-tatalaksana-nutrisinya-5257.html

DISFAGIA PADA PASIEN STROKE DAN TATALAKSANA NUTRISINYA

Pasien stroke sering mengalami disfagia yaitu sekitar 30-50% pasien. Tatalaksana nutrisi yang tepat
diperlukan untuk mencegah malnutrisi dan mempertahankan status hidrasi yang adekuat.
Pemberian nutrisi dapat dilakukan melalui jalur enteral dan parenteral jika terjadi disfagia.

Menelan merupakan mekanisme yang kompleks, makanan didorong melalui faring dan esofagus,
dan makanan dicegah supaya tidak masuk ke dalam saluran napas. Proses menelan makanan terdiri
dari tiga fase yaitu fase oral, fase faringeal, dan fase esophageal. Pada awalnya terjadi pencampuran
makanan dengan saliva pada fase oral, kemudian dikunyah dan terbentuk bolus, bolus makanan ini
mencapai arkus faringeal pada fase faringeal, akibatnya palatum mole naik menutup nasofaring
sehingga mencegah regurgitasi orofaringeal dan aspirasi. Selanjutnya bolus makanan akan didorong
menuju lambung pada fase esophageal.

Gangguan menelan pada pasien stroke sering terjadi pada fase oral dan fase faringeal sehingga
menyebabkan disfagia. Oleh karena itu saat awal masuk rumah sakit, pada semua pasien stroke
harus dilakukan skrining disfagia. Terdapat beberapa metode skrining disfagia seperti water
swallowing test, multiple consistency test, dan swallowing provocation test.

Tatalaksana nutrisi yang diberikan bertujuan untuk mencegah malnutrisi dan mempertahankan
status hidrasi yang adekuat, akibat disfagia, penurunan kesadaran dan depresi yang dapat
mengurangi asupan nutrisi pasien. Selain itu faktor risiko stroke perlu dipertimbangkan juga dalam
memberikan nutrisi.

Jalur enteral atau tube feeding dapat digunakan untuk pemberian nutrisi jika terjadi disfagia.
Pemakaian tube feeding sering dirasakan kurang nyaman oleh pasien, oleh karena itu sering
digunakan tube feeding ukuran yang lebih kecil pada orang dewasa dengan ukuran 8-Fr, 10-Fr, atau
12-Fr. Ukuran kecil ini juga dibutuhkan pada saat akan weaning enteral nutrition. Apabila terdapat
kontra indikasi pemberian nutrisi enteral, dapat diberikan parenteral nutrisi.

National Dysphagia Diet (NDD) merupakan tatalaksana nutrisi pada pasien yang mengalami disfagia.
Pemberian makanan dilakukan secara bertahap, yang disesuaikan dengan tingkat keparahan disfagia
pasien, yaitu terdapat 4 tingkat cairan (makanan cair) yang kekentalannya diturunkan bertahap dan
3 tingkat makanan padat, yang dimulai dari bubur kemudian ditingkatkan secara bertahap. Cairan
(makanan cair) dapat dikentalkan dengan menggunakan susu bubuk tanpa lemak atau tepung
maizena.

Level satu NDD diberikan pada pasien dengan disfagia sedang sampai berat, terdapat gangguan
bicara, terjadi gangguan menelan pada fase oral dan menurunnya kemampuan untuk melindungi
jalan napas. Maka pasien diberikan bubur, dan makanan yang memiliki tekstur seperti puding.
Makanan dengan tekstur kasar seperti kacang-kacangan, buah-buahan mentah, dan sayuran tidak
diizinkan. Cairan yang dapat diberikan dengan tingkat kekentalan spoon-thick.

Tingkat dua NDD, diberikan makanan transisi dengan tekstur yang lebih
padat daripada bubur, tetapi masih memiliki tekstur yang lembut. Pasien memiliki kemampuan
mengunyah dan mengalami disfagia oropharyngeal derajat ringan sampai sedang. Semua bentuk
diet yang diberikan pada NDD tingkat satu dapat juga diberikan pada tingkat ini. Cairan yang dapat
diberikan sampai tingkat kekentalan nectar-thick.

Tingkat tiga NDD, diberikan makanan transisi untuk diet biasa, teksturnya hampir sama dengan
makanan biasa kecuali untuk yang sangat keras, renyah, atau lengket. Makanan tetap dalam
potongan yang kecil sehingga memudahkan untuk ditelan. Cairan yang dapat diberikan sampai
tingkat kekentalan honey-thick. Diet ini ditujukan untuk pasien dengan disfagia orofaring ringan,
setelah pasien menunjukkan kemampuan untuk mentolerir makanan ini dengan baik, diet dapat
ditingkatkan ke diet biasa.

Tahap weaning enteral nutrition adalah dilakukan secara bertahap pemberian nutrisi melalui oral,
seiring dilakukan penurunan bertahap nutrisi melalui tube feeding. Jika pasien mampu
menghabiskan 75% atau lebih dari kebutuhan nutrisinya melalui oral secara konsisten, selama tiga
hari berturut-turut, maka nutrisi melalui tube feeding dapat dihentikan. Status hidrasi dan
kemampuan menelan dipantau secara ketat selama tahap ini, terutama terfokus kepada komplikasi
pernapasan.

Strategi postural dapat efektif dalam mencegahaspirasi pada 75%−80% dari pasien stroke.
Perubahan posisi pada saat makan dengan sudut tertentu dan gaya gravitasi yang memungkinkan
proses menelan yang aman dari bolus makanan, sehingga aspirasi dapat dicegah. Posisi chin tuck,
chin up dan rotasi kepala ke sisi yang terkena, dan kepala miring ke sisi yang lebih kuat, adalah
contoh dari teknik postural.