Anda di halaman 1dari 23

KALIBRASI LABU UKUR

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Pelajaran Analisis Kimia Terpadu

Oleh :

Delis Julia R.H 171810144


Dini Andriani 171810146
Mila Nuramalia 171810155
Moch. Damanggala P. H 171810156
Reyhan Khalid M 171810161
Silsilah Marhamah 171810164

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN


BINA PUTERA NUSANTARA
KOTA TASIKMALAYA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
petunjuk dan kemudahan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas
karya tulis ilmiah ini. Karya tulis ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata pelajaran Analisis Kimia Terpadu.
Banyak siswa yang belajar menggunakan alat-alat gelas tetapi kurang
mengetahui perawatan alat tersebut seperti mengkalibrasi. Berdasarkan hal
tersebut, dalam penulisan makalah ini penulis akan membahas mengenai prosedur,
alat, bahan, dan perhitungan yang harus dilakukan untuk mengkalibrasi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Pipit Pujiawati ST selaku guru
mata pelajaran Analisis Kimia Terpadu yang telah memberikan bimbingannya
dalam pembuatan karya tulis ini. Begitu juga kepada teman-teman atau pihak-
pihak terkait yang telah memberikan dukungan moral atau material hingga
terselesaikannya pembuatan karya tulis ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini, masih jauh dari
kesempurnaan karena adanya keterbatasan ilmu dan pengetahuan serta referensi
yang penulis miliki. Namun dengan demikian penulis berharap semoga isi karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis, khususnya para pembaca. Penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pihak pembaca, sehingga
dapat menambah pengetahuan dalam penulisan karya tulis ilmiah.

Tasikmalaya, 5 November 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i


DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................... 3
1.3 Tujuan .............................................................................................. 3
1.4 Manfaat ............................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................. 4
2.1 Pengertian Labu Ukur ..................................................................... 4
2.2 Cara Membersihkan Labu Takar ..................................................... 5
2.3 Pengertian Kalibrasi ........................................................................ 5
2.4 Metode Metode Kalibrasi ................................................................. 7
2.5 Persyaratan Kalibrasi........................................................................ 8
2.6 Tujuan Kalibrasi ............................................................................... 9
2.7 Manfaat Kalibrasi ............................................................................. 10
2.8 Standar Kalibrasi .............................................................................. 11
2.9 Cara Mengkalibrasi Labu Takar ....................................................... 14
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16
3.1 Kesimpulan....................................................................................... 16
3.2 Saran ................................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15
LAMPIRAN ...................................................................................................... 19

ii
iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mendengar kata kalibrasi tentunya masih asing di telinga masyarakat

awam namun bagi tenaga laboratorium kata kalibrasi ini wajib untuk

diketahui. Kalibrasi merupakan suatu kegiatan untuk menentukan

keberadaan konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur

berdasarkan standar. Untuk proses kalibrasi, perlu ada pengukuran terlebih

dahulu pada objek yang ada misalnya pada temperatur proses. Ada

beberapa metode dalam kalibrasi antara lain sensor plus indikator.

Umumnya yang banyak digunakan berupa metode kalibrasi sensor plus

indikator untuk membandingkan kalibrator standar alat ukur terhadap

beban ukur yang dipakai, baru dilakukan perhitungan deviasi berdasarkan

standar. Setiap instrumen ukur harus dianggap tidak cukup baik sampai

terbukti melalui kalibrasi dan atau pengujian bahwa instrumen ukur

tersebut memang baik.

Setiap alat ukur yang telah dikalibrasi akan mendapatkan sertifikat

kalibrasi yang berlaku untuk jangka waktu tertentu, dan harus dikalibrasi

ulang jika jangka waktu berlakunya sertifikat tersebut telah habis.

Pemberian sertifikat ini akan mempermudah penelusuran kebenaran alat

ukur. Hanya dengan alat ukur yang terkalibrasi bisa diperoleh hasil

pengukuran yang tepat dan teliti. Pada alat ini standardisasi produk, jasa

dan pelayanan serta keselamatan kerja dan lingkungan bersandar. Masih

1
2

berkaitan dengan masalah kalibrasi, perlu juga diperhatikan persyaratan

lain dalam hal pemeliharaan alat, seperti penyimpanannya harus ditempat

atau ruang yang terkondisi, baik suhu maupun kelembabannya.

Dewasa ini kebenaran hasil ukur sudah menjadi kebutuhan terutama

di bidang pengawasan dan pengendalian mutu. Meskipun sebagian

masyarakat masih menganggap bahwa kalibrasi merupakan salah satu

pemenuhan syarat akreditasi, namun ternyata kalibrasi sangat diperlukan

dalam pengendalian mutu produk terutama ketika akurasi dibutuhkan.

Ketidakpastian pengukuran adalah proses mengaitkan sesuatu angka

secara empirik dan objektif pada sifat-sifat objek atau kejadian nyata

sedemikian rupa sehingga angka tadi dapat memberikan gambaran yang

jelas mengenai obyek atau kejadian tersebut.Hasil pengukuran harus

mencantumkan suatu perkiraan yang menggambarkan seberapa besar

kesalahan yang mungkin terjadi, dalam batas-batas kemungkinan yang

wajar. Nilai ini sekaligus menunjukkan kualitas pengukuran. Semakin

kecil nilai perkiraan itu, berarti semakin baik pula kualitas pengukurannya.

(Killian, 2004, 242-247). Pelaksanaan kalibrasi dilakukan dengan cara

membandingkan alat ukur dan bahan ukur yang akan dikalibrasi terhadap

standar ukurnya yang mampu telusur (traceable) ke standar nasional dan

atau internasional. Sedangkan tujuan dengan kalibrasi dapat ditentukan

deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukkan suatu alat ukur, atau

deviasi dimensi nominal yang seharusnya suatu bahan ukur. Manfaat

dengan kalibrasi kondisi alat ukur dan bahan ukur dapat dijaga tetap sesuai
3

dengan spesifikasinya. Semua jenis alat ukur pelu dikalibrasi, baik alat

ukur besaran dasar (panjang, massa, waktu, arus listrik, suhu, jumlah zat,

intensitas cahaya), luas, isi, kecepatan, tekanan, gaya, frekuensi, energi,

gaya dan sebagainya. Bila suatu alat ukur termasuk katagori legal, maka

periode kalibrasinya telah ditentukan, kalibrasinya tergantung pada

keperluan dan frekuensi penggunaanya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian kalibrasi labu takar ?

2. Bagaimana cara mengkalibrasi labu takar?

3. Apa kelebihan dan kekurangan kalibrasi labu takar?

4. Apa saja standar acuan yang digunakan untuk kalibrasi labu takar

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian kalibrasi Labu takar

2. Untuk mengetahui cara kalibrasi labu takar

3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan labu takar

4. Untuk mengetahui standar acuan labu takar

1.4 Manfaat

Penulis khususnya pembaca bisa lebih mengenal dan mempelajari

mengenai kalibrasi baik dari segi pengertian, tujuan, prinsip, periode

kalibrasi, dan cara mengkalibrasi pada labu takar


BAB II

PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Labu Ukur

Labu volumetrik atau labu ukur yaitu sebuah bejana kaca yang

berleher panjang dan berbadan lebar yang mempunyai satu atau lebih

tanda tera disekitar lehernya. Kadang-kadang ada labu takar yang

mempunyai tutup asah. Pada umumnya, tanda tera harus berada cukup

jauh di bawah tutup asah untuk memberikan meniskus yang baik. Labu

ukur digunakan untuk persiapan larutan dengan volume tertentu. Biasanya

labu ukur dibuat dalam ukuran 50, 100, 250, 500, 1000, dan 2000 mL.

untuk tujuan khusus, ada juga labu takar dalam ukuran 25, 20, 10, bahkan

5 mL dalam bermacam-macam bentuk. Biasanya labu takar dikenal

dengan alat ukur to contain (volume yang ditampung).

Menurut VOGEL labu ukur merupakan suatu wadah berdasar datar,

berbentuk alpuket, dengan leher panjang dan sempit. Suatu lingkaran tipis

yang dietsa pada leher menunjukan volumenya pada temperature tertentu.

Tanda itu melingkari leher labu ketika mengimpitkan pinggir bawah

meniskus hendaknya menyinggung tanda volume, dan baik depan maupun

belakang lingkaran itu hendaknya nampak sebagai satu garis tunggal.

4
5

Menurut VASTENGER I. M. KOITHOFF labu takar adalah labu yang

mempunyai leher panjang berbadan lebar yang mempunyai satu atau lebih

tanda tera disekitar lehernya. Seringkali tersedia bersama sumbat botolnya.

1.2 Cara Membersihkan Labu Takar

Labu ukur dibersihkan dengan asam krom (campuran H2SO4 pekat dengan

K2Cr2O7)

1. Asam itu diisikan kedalam labu takar dibiarkan beberapa waktu,

sampai sehari semalam.

2. Jika belum bersih gunakan KOH dalam alcohol (boleh langsung

memakai KOH tanpa asam krom terlebih dahulu)

3. Latutan disidikan pada labu yang hendak dibersihkan lalu dikocok

4. Larutan tak boleh lebih dari 6 menit berada dalam labu

5. Untuk menghilangkan air, gunakan alcohol untuk membilas kemudian

dikeringkan dengan Hair Dryer (tidak boleh dalam oven)

2.3 Pengertian Kalibrasi

Kalibrasi pada umumnya merupakan proses untuk menyesuaikan

keluaran atau indikasi dari suatu perangkat pengukuran agar sesuai dengan

besaran dari standar yang digunakan dalam akurasi tertentu. Menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia atau kita sering menyebutnya dengan

KBBI, kalibrasi/ka·lib·ra·si/n Graf adalah tanda-tanda yang menyatakan

pembagian skala. Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran

konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara
6

membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur (traceable) ke

standar nasional maupun internasional untuk satuan ukuran dan bahan-

bahan acuan tersertifikasi.

Definisi Kalibrasi Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 dan

Vocabulary of International Metrology (VIM) adalah serangkaian kegiatan

yang membentuk hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen

ukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur,

dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang

diukur dalam kondisi tertentu. Dengan kata lain, kalibrasi merupakan suatu

kegiatan untuk menentukan keberadaan konvensional nilai penunjukkan

alat ukur dan bahan ukur berdasarkan standar. Hasil kalibrasi harus disertai

pernyataan "traceable uncertainity" untuk menentukan tingkat

kepercayaan yang di evaluasi dengan saksama dengan analisis

ketidakpastian.

Alat ukur yang telah dikalibrasi tidak akan secara terus menerus

berlaku masa kalibrasinya, karena peralatan tersebut selama masa

penggunaanya pasti mengalami perubahan spesifikasi akibat pengaruh

frekuensi pemakaian, lingkungan penyim-panan, cara pemakaian, dan

sebagainya. Untuk itulah selama berlakunya masa kalibrasi alat

bersangkutan perlu dipelihara ketelusurannya dengan cara perawatan dan

cek antara secara periodik.


7

Hasil pengukuran yang diberikan oleh beberapa alat sejenis tidak

selalu menunjukkan hasil yang sama, meskipun alat tersebut mempunyai

tipe yang sama. Perbedaan ini diperbesar lagi dengan adanya pengaruh

lingkungan, operator, serta metode pengukuran. Padahal dalam

menghasilkan hasil pengukuran tersebut sangat diharapkan bahwa setiap

alat ukur yang digunakan dimanapun memberikan hasil ukur yang sama

dalam kaitannya dengan keperluan keamanan, kesehatan, transaksi, dan

keselamatan.

Agar setiap alat dapat memberikan hasil ukur yang sama, alat ukur

tersebut perlu mempunyai ketelusuran kepada standar nasional atau

standar internasional. Cara untuk memberikan jaminan bahwa alat yang

digunakan mempunyai ketelusuran kepada standar nasional adalah dengan

melakukan kalibrasi terhadap alat tersebut. Lebih dari itu untuk

memelihara ketelusuran tersebut perlu dilakukan perawatan alat dalam

selang kalibrasi tertentu.

Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang memiliki kapasitas antara 5

mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan

zat tertentu hingga batas leher labu ukur

2.4 Metode-Metode Kalibrasi

1. Metode kalibrasi langsung

Metode langsung adalah metode yang ditentukan secara langsung dan

merupakan kalibrasi absolut. Metode kalibrasi langsung didasarkan


8

pada volume air yang ditampung dalam Erlenmeyer atau ditransfer

dengan pipet volume atau buret, yang ditentukan secara langsung dari

berat dan kerapatan air

2. Metode Kalibrasi Tidak Langsung

Metode tidak langsung atau sering disebut metode kalibrasi

perbandingan, juga merupakan kalibrasi absolut. Pada metode kalibrasi

tidak langsung, alat gelas yang akan dikalibrasi pada suhu tertentu

dibandingkan dengan alat gelas lain yang sudah dikalibrasi, dimana

volume berhubungan langsung dengan massa dan kerapatan air.

Metode ini biasanya dilakukan apabila peralatan gelas yang akan

dikalibrasi dalam jumlah banyak.

3. Metode Kalibrasi Relatif

Kadangkala perlu diketahui hubungan antara dua hal dari peralatan

gelas tanpa mengetahui volume absolut dari keduanya. Misalnya, dari

250 mL larutan dalam erlenmeyer diambil 50 mL dengan pipet volume

untuk dititrasi. Pada perhitungan tidak perlu diketahui berapa volume

absolut dari erlenmeyer ataupun pipet, tetapi yang perlu diketahui

adalah bahwa pipet volume benar-benar mentransfer 50 mL larutan,

sama banyak dengan berkurangnya volume larutan dalam erlenmeyer.

2.5 Persyaratan Kalibrasi

1. Standar kalibrasi yang mampu telusur ke standar nasional atau

internasional

2. Metode kalibrasi yang diakui secara nasional atau internasional


9

3. Personil kalibrasi yang terlatih, yang dibuktikan dengan sertifkasi dari

laboratorium yang terakreditasi

4. Ruangan atau tempat kalibrasi yang terkondisi, seperti suhu,

kelembaban, tekanan udara, aliran udara, dan kedap getaran

5. Alat yang dikalibrasi dalam keadaan berfungsi baik/tidak rusak.

2.6 Tujuan Kalibrasi

1. Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat

dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti (standar

primer nasional dan / internasional), melalui rangkaian perbandingan

yang tak terputus.

2. Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai konvensional

penunjukan suatu instrument ukur.

3. Menjamin hasil-hsil pengukuran sesuai dengan standar Nasional

maupun Internasional.

2.7 Manfaat Kalibrasi

1. Menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai

dengan spesefikasinya

2. Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai industri

pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.

3. Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara harga benar

dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.


10

2.8 Standar Kalibrasi

Alat standar yang digunakan dalam kalibrasi dan tera dipersyaratkan

harus mempunyai ketelusuran (traceability) yang dibuktikan antara lain

dengan adanya sertifikat kalibrasi. Ini berarti hasil ukur alat standar

bersangkutan pernah dibandingkan dengan hasil ukur alat standar yang

setingkat lebih tinggi hirarkinya. Hirarki alat standar dapat diuraikan

sebagai berikut :

1. Standar Internasional

Standar internasional didefinisikan oleh perjanjian internasional

karenanya disebut juga standar konvensional. Definisi standar di

bawah ini diacu dari The international System Unit (SI) cetakan ke 7

tahun 1998 (BIPM).

2. Standar dimensi

Standar meter mula-mula disepakati tahun 1889 berupa batang Pt-Ir.

Tahun 1960 diubah berdasarkan gelombang radiasi krypton 86. Meter

didefinisikan sebagai 1.650.763,73 kali panjang gelombang radiasi

krypton 86. Tahun 1983 definisinya dirubah menjadi jarak yang

ditempuh oleh cahaya dalam vakum selama 1/299 792 458 detik.

Prototip meter pertama tetap disimpan dan dipelihara di BIPM

(Bureau International des Poids et Mesures) dibawah kondisi yang

disepakati tahun 1889.


11

3. Standar massa

Standar kilogram mula-mula didefinisikan sebagai massa 1 dm3 air

suling pada densitas maksimumnya. Pada tahun 1889 disepakati

sebagai massa dari prototip kilogram yang terbuat dari Pt-Ir dengan

diameter dan tinggi 39 mm. Prototip ini tetap digunakan hingga

sekarang dan disimpan di BIPM.

4. Standar waktu

Standar detik tahun 1968 didefinisikan sebagai 1/86400 rataan waktu

1 hari matahari. Namun karena waktu edar bumi ternyata tidak

konsisten, maka pada tahun 1968 definisinya diganti menjadi

9.192.631.770 kali waktu yang diperlukan untuk peralihan atom

cesium 133 pada kondisi bebas medan maknit dan pada suhu 0°K.

5. Standar kuat arus

Standar kuat arus, ampere, tahun 1946 didefinisikan sebagai arus

konstan yang dipertahankan dalam dua buah konduktor, sehingga

diantara kedua konduktor tersebut muncul gaya sebesar 2 x 10-7

Newton. Kedua konduktor tersebut lurus, sejajar pada jarak 1 m,

panjangnya tak berhingga, masing-masing diameternya dapat

diabaikan, dan terletak dalam vakum.

6. Standar suhu

Satuan termodinamik suhu, Kelvin, tahun 1968 didefinisikan sebagai

1/273.16 kali termodinamik suhu titik tripel air yaitu kondisi air yang
12

berada dalam tiga fase cair, padat, dan gas pada tekanan 1 atmosfir.

Titik tripel tersebut terjadi pada suhu 0.01°C.

7. Standar kuantitas bahan

Standar kuantitas bahan tahun, mol, 1969 didefinisikan sebagai jumlah

bahan yang setara dengan jumlah atom dari 0.012 kg carbon 12.

Satuan mol harus dijelaskan mengenai bahan yang diukur seperti

atom, molekul, ion, elektron, atau partikel lain, atau gabungan partikel

tadi.

8. Standar kuat cahaya

Standar kuat cahaya tahun 1980 didefinisikan sebagai kekuatan

cahaya dari suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi

monokromatis pada frekuensi 540 x 1012 hertz dengan kekuatan

1/683 watt per steradian.

9. Standar primer

Standar primer adalah turunan pertama dari standar internasional yang

merupakan standar tertinggi di suatu negara (Standar Nasional).

Prototip standar primer untuk masing-masing besaran adalah sebagai

berikut:

a. Prototip standar primer untuk massa dan dimensi sama dengan

standar internasionalnya.

b. Prototip untuk standar primer waktu adalah sebuah jam atom

yang didasarkan pada waktu peralihan atom cesium.


13

c. Prototip standar primer untuk kuat arus adalah standar primer

resistor dan standar primer tegangan.

d. Prototip standar primer suhu adalah termometer tahanan platina.

Tahun 1927 IPTS (International Practical of Temperature Scale)

menyetujui penggunaan skala praktis untuk pengukuran suhu.

e. Prototip standar primer kuat cahaya adalah alat pengukur

kekuatan radiasi optik dengan metode radiometri.

10. Standar sekunder

Standar sekunder merupakan turunan dari standar primer yang

disimpan atau dipelihara di berbagai industri alat ukur atau di

laboratorium kalibrasi. Standar sekunder dapat diproduksi dan di

gunakan untuk kalibrasi alat standar dibawahnya. Standar sekunder

waktu berupa alat yang disebut frequency counter dijual secara bebas.

11. Standar kerja

Standar kerja adalah standar kalibrasi yang digunakan untuk

mengkalibrasi alat ukur atau alat uji. Standar kerja sering disebut

sebagai kalibrator. Hasil pengukuran yang diberikan oleh beberapa

alat sejenis tidak selalu menunjukkan hasil yang sama, meskipun alat

tersebut mempunyai tipe yang sama. Perbedaan ini diperbesar lagi

dengan adanya pengaruh lingkungan, operator, serta metode

pengukuran. Agar setiap alat dapat memberikan hasil ukur dengan

keabsahan yang sama, alat ukur tersebut perlu mempunyai ketelusuran

kepada standar nasional atau standar internasional yaitu dengan


14

melakukan kalibrasi terhadap alat tersebut. Lebih dari itu untuk

memelihara ketelusuran tersebut perlu dilakukan perawatan alat dalam

selang kalibrasi tertentu..

12. Standar sekunder

Standar sekunder merupakan turunan dari standar primer yang

disimpan atau dipelihara di berbagai industri alat ukur atau di

laboratorium kalibrasi. Standar sekunder dapat diproduksi dan di

gunakan untuk kalibrasi alat standar dibawahnya. Standar sekunder

waktu berupa alat yang disebut frequency counter dijual secara bebas.

13. Standar kerja

Standar kerja adalah standar kalibrasi yang digunakan untuk

mengkalibrasi alat ukur atau alat uji. Standar kerja sering disebut

sebagai kalibrato

2.9 Cara Mengkalibrasi Labu Takar

1. Persiapan Kalibrasi

Kalibrasikan peralatan yang akan dikalibrasi dengan menempatkannya

selama 1malam didalam ruangan kalibrasi, sehingga peralatan tersebut

terkondisi dengan baik. Bersihkan peralatan yang akan dikalibrasi

dengan menggunakan alcohol ataupun dengan cairan pembersih

lainnya, lalu dibilas dengan aquaades, sehingga permukaanya akan

mengalami basah yang merata dan akan mencegah terjadinya

kontaminasi permukaan cairan.


15

2. Kalibrasi Labu Ukur

a. Timbang labu ukur dalam keadaan kosong, lalu catat keluarannya.

b. Isi labu ukur yang akan dikalibrasi tersebut dengan air destilasi

secara hati-hati dan tidak melebihi batas garis skala yang akan

diukur (± 1 cm).

c. Lakukan setting miniskus pada garis skala yang akan diukur

dengan cara mengeluarkannya secara perlahan-lahan dengan

menggunakan pipet, hindari kemungkinannya ada gelembung udara

yang terdapat didalamnya.

d. Timbang labu ukur yang telah berisi air destilasi tersebut. Lalu

catat keluarnya.

e. Ukur temperature air destilasi, temperature tuang, kelembaban

ruang dan tekanan ruang.

f. Ulangi langkah a sampai dengan langkah e untuk titik pengukuran

yang lain diambil 5 titik pengukuran.

g. Lakukan langkah kerja a sampai dengan sebanyak 3x.

.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kalibrasi merupakan suatu proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat

ukur sesuai dengan rancangannya. Air digunakan sebgai bahan

pengkalibrasian pada umumnya hal ini disebabkan karena kerapatan air

pada berbagai suhu telah diketahui dengan tepat dalam keadaan vakum.

Toleransi yang diberikan untuk alat ukur volumetric yang ditetapkan NBS

ada 2 yaitu:

1. Kelas A (Inggris) untuk alat ukur dengan ketelitian sangat tinggi

2. Kelas B (farmakof Indonesia) untuk alat alat yang digunakan dengan

ketepatan yang biasa.

3.2 Saran

1. Bagi Pihak Sekolah

a. Sekolah lebih menyeimbangkan lagi antar waktu teori dan praktek

agar siswa bisa lebih menguasai semua mata pelajaran produktif

yang telah diberikan.

b. Alat praktek di laboratorium seperti alat timbang sebaiknya

ditambah, agar dalam melakukan penimbangan tidak mengantri,

karena itu akan menghambat dan memperlambat kegiatan praktik.

c. Alat-alat praktikum kurang memadai, sebaiknya pihak sekolah

melengkapi lagi alat-alat penunjang praktikum supaya sesuai

dengan prosedur yang dilaksanakan.

16
17

2. Bagi Praktikan

a. Praktikan harus lebih bersungguh-sungguh dalam melakukan

praktikum.

b. Praktikan dituntut untuk tidak memanipulasi data pengamatan

yang diperoleh.

c. Alat-alat laboratorium setelah praktikum harap dibersihkan

kembali dan disimpan pada tempat semulanya.

d. Laboratorium diharapkan harus bersih kembali setelah praktikum

berakhir.
DAFTAR PUSTAKA

http://farmaventirika.blogspot.com/2014/07/verifikasi-labu-takar-100ml.html

https://kalibrasibbtkl.wordpress.com/tag/tujuan-kalibrasi/

https://ipqi.org/memahami-persyaratan-dan-standar-dari-masing-masing-

konsepkalibrasi/

https://id.wikipedia.org/wiki/Kalibrasi

https://www.gurupendidikan.co.id/24-pengertian-dan-tujuan-kalibrasi-alat-ukur-

secara-lengkap/#forward

18
LAMPIRAN

19