Anda di halaman 1dari 13

1.

Pendahuluan

Berbagai kasus anggota DPR dan kepala daerah yang tertangkap oleh KPK
karena kasus korupsi menjadi penggugah kesadaran untuk mempertanyakan kembali
makna kampanye politik. Menurut Burton & Shea (2010, h. 5) kampanye itu
berfungsi untuk mengajak khalayak menentukan pilihannya. Kaid (dikutip dari
Hughes 2018, h. 40) mengatakan bahwa kampanye adalah sarana bagi partai dan
kandidat untuk hadir di tengah masyarakat melalui media massa. Tak jarang bahwa
kampanye politik juga didesain sedemikian rupa untuk membangkitkan emosi
masyarakat (Hughes, 2018, h. 44). Ini dilakukan agar kampanye politik dapat meraih
simpati masyarakat

Pertanyaan dapat dimunculkan ketika substansi kampanye kandidat tidak


menjadi arah perjuangannya ketika yang bersangkutan sudah terpilih, entah sebagai
kepala daerah, anggota legislatif, ataupun presiden. Tak jarang mereka yang
menampilkan citra yang baik dalam kampanye atau yang menawarkan
visi-misi-program yang baik ketika kampanye malah terjerumus dalam berbagai kasus
hukum yang mengingkari isi dan janji kampanyenya.

Terkait dengan kasus korupsi, sudah ada 255 anggota DPR/DPRD, 6 pimpinan
parpol, 130 kepala daerah dan 27 kepala lembaga atau kementrian yang dijadikan
tersangka korupsi (Ibrahim, 2019). Saat masa kampanye, anggota DPR dan kepala
daerah tentu memberikan janji-janji dan nilai-nilai luhur yang ditujukan untuk
kepentingan bersama (common good).

Di saat kampanye, mereka “seolah-olah” menampilkan yang baik. Berikut ini


akan disebutkan beberapa contoh kampanye dengan janji-janji luhur dari anggota
DPR dan kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi. Zumi Zola, pada saat
kampanye berjanji untuk menstabilkan harga sawit dan memberi beasiswa (Andika
Arnoldy, 2015), Angleina Sondhakh pada 2003 menyebutkan bahwa tujuannya terjun
ke dunia politik adalah untuk memperjuangkan agenda kebijakan yang berguna bagi
masyarakat banyak (Febriyan, 2013), Romahurmuziy membuat slogan “Mari
Membangun Indonesia”, dan Moch. Anton merepresentasikan diri sebagai sahabat
orang-orang kecil dengan slogan “Peduli Wong Cilik”. Isi dari janji dan nilai yang
ditawarkan mereka bisa saja berbeda, namun semangatnya sama, yakni menawarkan

1
kebaikan bersama. Namun ketika sudah menjabat, mereka melakukan praktik korupsi
yang berlawanan dengan visi kebaikan bersama.

Sebenarnya, untuk apa berkampanye politik jika pada akhirnya, tindak-tanduk


yang bersangkutan malah mengingkari janji kampanye yang telah dibuat? Jikalau
demikian, bukanlah kampanye hanya dijadikan alat untuk merekayasa citra? Asumsi
bahwa kampanye adalah bentuk lain dari rekayasa citra berangkat dari bentuk
kampanye yang mengandung unsur “kepura-puraan”; setiap langkah diperhitungkan,
pidato pembuka diperhatikan dengan baik, dan semuanya harus diliput oleh media
(Burton & Shea, 2010, h. 202).

2. Landasan teori

a. Kampanye politik sebagai suatu iklan

Menurut Kaid (1999, h. 423), iklan politik ini selalu ada dalam kampanye
politik. Tujuan dari iklan politik ini adalah membuat target market tahu akan
nilai-nilai yang ditawarkan dan untuk mempengaruhi mereka untuk suka dan
memilih satu “merk” (Hughes, 2018, h. 36). Sedangkan menurut Kaid (dikutip
dari Hughes, 2018, h.36) iklan politik itu adalah cara bagi partai atau kandidat
menunjukkan dirinya, sebagian besar dalam media, agar terpilih dalam pemilihan.
emilih ditempatkan sebagai pihak yang harus dimengerti, dipahami dan dicarikan
jalan pemecahan dari setiap permasalahan yang dihadapi (Shiboy & Khoiron,
2018, h. 1). Maka dari itu, jika tujuan akhir dari kampanye adalah keterpilihan
kandidat, maka kandidat atau “produk” itu harus benar-benar sesuai dengan
promosi atau deskripsi dalam kampanye.

Iklan politik dalam kampanye politik itu mempunyai tiga karakteristik


(Hughes, 2018, h. 38). Pertama pola komunikasinya menawarkan hal positif
(nilai-nilai yang akan ditawarkan) sekaligus hal-hal negatif (nilai-nilai yang tidak
akan dihidupi). Hal-hal negatif di sini bukan berarti keburukan. Maksdunya,
ketika kandidat atau partai akan selalu menghadirkan dua hal yang bertolak
belakang saat mengiklankan atau mempromosikan diri, misalnya janji untuk
melakukan transparansi di bidang keuangan (hal positif) untuk mencegah korupsi
(hal negatif).

2
Kedua, seluruh masyarakat akan menjadi bagian dari marketing politik, tapi
hanya beberapa yang akan memberikan suaranya. Jadi, agar komunikasi berjalan
efektif, setiap partai atau kandidat harus mengatasi atau merubah cara-cara
beriklannya.

Ketiga, iklan politik tidak mempunyai jangka waktu yang lama, tergantung
kebijakan sistem negara setempat.

Karena beriklan adalah cara utama dalam berkomunikas dan menaikkan daya
tawar di dalam marketing politik, cara-cara lain pun diintegrasikan dii dalamnya,
seperti promosi penjualan dan penggalangan sponsor (Hughes, 2018, h. 38).
Unsur-unsur tadi dikombinasikan dengan kepribadian partai atau kandidat dan
membentuk satu pesan politik yang akan melekat pada diri partai atau kandidat.

b. Rekayasa citra dalam kampanye politik

Di dalam citra yang ditunjukkan, ada makna yang disembunyikan (Doom,


2016, h. 7). Citra yang ditampilkan itu adalah alat strategis untuk membentuk
ikatan emosional dengan brand yang ditawarkan. Dalam konteks kampanye
politik, tampilan visual dan citra yang baik akan menarik pemilih. Bahkan,
terkadang tampilan dan citra itu bisa memalingkan pemilih dari pesan inti yang
dibawakan oleh kandidat (Doom, 2016, h. 1). Rekayasa citra ini membawa tugas
berat karena kandidat harus menjaga keseimbangan 2 kutub, citra yang dibangun
saat dan menghidupi “karakteristik asli” yang bisa jadi tidak ditampakkan saat
kampanye (Kaleli & Eroglu, 2015, h. 31)

Pembangunan citra ini biasanya diiringi oleh penekanan pada keahlian dan
keistimewaan kandidat. Menurut Zittel (dikutip dari Simunjak, Dubravka &
Ruzica, 2015, h. 542). Hal yang semacam ini dilakukan untuk menghadirkan
karakter mereka dalam nada yang positif tanpa intervensi dari media.
Ansolabehere dan Iyengar (dikutip dari Hughes, 2018, h. 26) berpendapat bahwa
pesan yang diformulasikan dengan baik dan positif akan menstimulasi orang
untuk memberikan suaranya

Hughes (2018, h. 126) menyebutkan tiga unsur penting yang perlu


diperhatikan agar sebuah kampanye politik dapat dikatakan berhasil: emosi,
perjumpaan (engagement) dan pengalaman langsung (experience). Kampanye

3
yang kuat (baik positif maupun negatif) akan menggerakkan emosi dan simpati
masyarakat, lebih-lebih bila itu terkait dengan isu terkini. Semakin kuat emosi
yang terbangun, maka semakin kuat hubungan yang terjalin antara masyarakat
dengan satu. Perjumpaan memainkan peran penting dalam kampanye karena di
sanalah kandidat dan masyarakat berkontak secara langsung. Akan ada perasaan
dan kedekatan emosi yang terbangun apabila kandidat mau berjumpa langsung
dengan masyarakat. Perjumpaan yang mendalam akan menghasilakan unsur
ketiga, yakni pengalaman. Perjumpaan yang baik akan menghasilkan kesan yang
baik. Dengan ini masyarakat (tertentu) menganggap dirinya menjadi bagian dari
kandidat.

c. Karakteristik Semar

Semar adalah salah satu tokoh dalam kesenian wayang kulit. Berbeda dari
tokoh-tokoh lain yang kisanya berasal dari epos Mahabarata dan Ramayana,
Semar termasuk salah satu tokoh (selain Petruk, Gareng, Togog, Bilung, yang
biasa disebut sebagai punakawan) asli dari Jawa.

Semar adalah wayang paling dicintai (Magniz-Suseno, 1984, h. 188). Hal ini
tak bisa dilepaskan dari karakteristiknya yang paradoksal dalam arti yang positif.
Semar adalah jelmaan dari Hyang Ismaya, kakak dari Batara Guru yang adalah
“raja” para dewa. Namun, dari segi perawakan, ia jelek dan penuh paradoks. Ia
adalah dewa sekaligus rakyat biasa, pelindung sekaligus pelayan manusia, paling
bijaksana tapi fisknya paling buruk (Geertz, 1976, h. 276).

Semar adalah antitesis dari konsep lelananging jagad atau ksatria sejati.
Gelar lelananging jagad biasanya disematkan dalam diri Arjuna, tokoh yang
mempunyai fisik tampan, sakti dan berwatak luhur, serta mempunyai posisi yang
baik. Meski tak mengemban gelar itu, Semar adalah tokoh yang dihormati. Ia
dihormati pertama-tama bukan karena kedudukan, kesaktian dan tampilan
fisiknya. Penggambaran yang paradoksal dalam diri Semar menunjukkan
pengertian yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bernilai pada manusia:
bukan wujud yang kelihatan,bukan pembawaan lahiriah yang sopan santun, bukan
penguasaan tata krama kehalusan, melainkan yang sebenarnya menentukan
derajat kemunusaan seseorang adalah sikap batin (Magniz-Suseno, 1984, h. 190)

4
3. Diskusi

a) Kampanye politik sebagai rekayasa citra

Secara teori, kampanye politik yang telah dilakukan oleh anggota DPR dan
kepala daerah yang menjadi tersangka korupsi bisa dibilang sukses. Indikatornya
adalah keberhasilan mereka menjadi kepala daerah dan anggota DPR. Namun
sampai pada titik ini, isi dan visi mereka patut dipertanyakan kembali: apakah itu
memang mencerminkan arah perjuangan mereka ataukah hanya untuk rekayasa
citra semata. Apakah kampanye itu hanya menjadi sarana untuk menampilkan diri
secara baik agar masyarakat memilih mereka? Pertanyaan ini diajukan karena
untuk sukses dalam menjalankan marketing politik, kandidat harus tahu
seluk-beluk target pasar mereka.

Menurut Kotler & Kotler (1999, h. 3) setiap kandidat harus tau siapa sasaran,
apa kebutuhan, aspirasi dan kepentingan mereka. Ketika sudah tahu seluk
beluknya, kandidat berkampanye sekaligus melakukan proses pertukaran. Yang
dimaksud dengan proses pertukaran adalah kandidat akan melakukan sesuatu bagi
pemberi suara, dalam hal ini pemenuhan janji. Apabila janji-janji saat kampanye
bisa sesuai dengan kehendak pemilih, maka reputasi kandidat akan naik (Kotler
& Kotler, 1999, h. 4)

Permasalahan terjadi apabila janji tidak dipenuhi. Di sini bisa ada asumsi
bahwa janji saat kampanye politik hanyalah instrumen untuk merayu masyarakat
agar mereka memberikan suara. Janji-janji semasa kampanye politik hanyalah
bentuk rekayasa citra. Wacana-wacana diri yang baik dipertontonkan untuk
mengonstruksi citra diri demi kepentingan politik (Simunjak, Dubravka & Ruzica
tahun, 2015, h. 542) Wacana tersebut bisa tercermin dari janji-janji kandidat yang
memberikan iming-iming nilai-nilai luhur, seperti beasiswa bagi anak sekolah
(Zumi Zola), memperjuangkan kepentingan rakyat kecil (Moch. Anton), dan
membangun Indonesia (Romahurmuziy). Dengan janji-janji tersebut ada wacana
yang ingin dibentuk..

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kandidat hendak membangun


citra sedemikian rupa, dan citra itu haruslah citra yang dapat menarik simpati
masyarakat. Pembangunan citra itu dimulai dari konstruksi wacana yang

5
dibangun melalui janji-janji saat kampanye Lebih jauh, penarikan simpati ini
akan berujung pada pemberian suara kepada kandidat terkait.

Di lain pihak, perilaku koruptif memang tidak bisa dideteksi saat masa
kampanye, apalagi saat pemaparan janji-janji. Namun, dengan menjadi tersangka
kasus korupsi, barulah masyarakat mengetahui bahwa janji-janji saat kampanye
politik itu kosong. Slogan-slogan dan ajakan untuk mebangun kebaikan bersama
ternyata tidak terbukti. Yang terjadi, mereka malah mengkhianati kebaikan
bersama karena anggota DPR dan kepala daerah tadi memperjuangkan
kepentingan diri sendiri dengan wewenang yang dimandatkan rakyat
(Kemenristekdikti, 2018, h. 3)

b) Ketika dikaitkan dengan praktik korupsi dalam jabatan politik, maka


rekayasa citra dalam kampanye politik adalah bentuk kekerasan simbolik

Ketika dikaitkan dengan kasus korupsi anggota DPR dan kepala daerah,
rekayasa citra (dalam kampanye politik) adalah bentuk kekerasan karena ada
kebohongan, penghilangan pengertian dan digunakan untuk mengalahkan
resistensi (Haryatmoko, 2007, h. 26). Unsur simbolik pada kekerasan
ditambahkan karena ada ketidaktahuan dari yang didominasi atau yang diatur.
Unsur simbolik ini bisa berupa bahasa, gaya hidup, cara berpikir, cara bertindak,
dan kepemilikan yang khas pada kelompok tertentu yang didasarkan pada
kebutuhan (Haryatmoko, 2016, h. 58). Jadi para penerima janji tidak sadar bahwa
mereka (kelak akan) ditipu.

Rekayasa citra juga disebut kebohongan karena melalui hal itu, rakyat
ditawari realitas palsu lewat janji-janji kampanye. Kandidat akan cenderung
bersembunyi di balik janji dan kalimat-kalibat kabur. Zumi Zola, berjanji untuk
stabilkan harga sawit dan memberi beasiswa (Andika Arnoldy, 2015), Angleina
Sondhakh pada 2003 berjanji untuk memperjuangkan agenda kebijakan yang
berguna bagi masyarakat banyak (Febriyan, 2013), Romahurmuziy menjanjikan
pembangunan Indonesia dan Moch. Anton merepresentasikan diri sebagai sahabat
orang-orang kecil dengan slogan “Peduli Wong Cilik”. Janji-janji itu kabur
karena tidak dilaksanakan karena mereka melakukan praktik korupsi, yang
bertolak belakang dengan nilai-nilai janji yang mereka tawarkan.

6
Menurut Kaid (1999, h. 423), strategi kampanye dan janji-janji itu memang
berperan penting. Dengan mengampanyekan diri, seorang kandidat dapat
menunjukkan bahwa ia lebih superior dari rivalnya; ia juga punya kendali penuh
atas pesan yang diberikan ke publik, terutama atas isi, tampilan dan formatnya.
Banyak bentuk kampanye digunakan untuk menyaring atau menintervensi
berita-berita dalam media (mainstream) dalam proses politik. Apa yang
dipaparkan Kaid tersebut bisa dipandang sebagai proses membangun citra dan
perbaikan citra. Hal ini nyata dalam diri Moch. Anton yang tetap berkampanye
sekalipun ia telah menjadi tersangka kasus korupsi (Fizriyani, 2018)

Tak jarang pula bahwa pemilihan isu dan format presentasi saat kampanye
berpusat pada citra yang hendak dibangun (Shyles, dikutip dari Kaid, 1999, h.
426). Hal inilah yang disebut sebagai medium is the message di mana teknik
presentasi mengalahkan isi pesan yang mau disampaikan. Janji-janji luhur dari
kandidat telah menutupi citra yang sebenarnya. Ketika melihat praktik korupsi
yang mereka lakukan, masyarakat tahu bahwa mereka sebenarnya tidak
memperjuangkan kepentingan rakyat; ada kebohongan di balik itu semua
Alih-alih memproduksi citra otentik dari kandidat, informasi atau janji-janji itu
malah menghabiskan tenaga untuk presentasi citra palsu.

Kritik juga bisa disampaikan atas pendapat Doom (2016, h. 7) yang


menyatakan bahwa citra yang ditampilkan adalah alat strategis untuk membentuk
ikatan emosional. Selain itu kritik keras juga bisa disampaikan atas pendapat
Shiboy & Khoiron (2018, h. 1) yang mengatakan bahwa pemilih ditempatkan
sebagai pihak yang harus dimengerti, dipahami dan dicarikan jalan pemecahan
dari setiap permasalahan yang dihadapi.

Poin kritik yang hendak disampaikan atas pendapat tersebut adalah kandidat
bisa saja membuat rekayasa citra agar ia didengar oleh audience. Kandidat
menyampaikan apa yang ingin didengar oleh khalayak (bdk. pendapat Doom,
2016, h. 7 dan Shiboy & Khoiron, 2018 h. 1). Kandidat berusaha mengerti
kebutuhan masyarakat dan berusaha menawarkan solusi atas kebutuhan mereka.
Namun, hal ini tidak akan memunculkan otentisitas dari kandidat. Ia bersembunyi
di balik citra (yang direkayasa) demi menggaet simpati dan suara. Maka realitas

7
dikesampingkan untuk mengobok-obok perasaan dan pikiran pendengarnya
(Haryatmoko, 2007, h. 70).

Penjelasan-penjelasan ini meneguhkan bahwa ada unsur kebohongan yang


terejawantahkan dalam rekayasa citra dalam kampanye politik. Kandidat
menampilkan merekayasa citra (demi citra yang baik) agar mereka terpilih.
Kebohongan dalam membangun citra ini semakin diteguhkan tatkala mereka
melakukan praktik korupsi ketika terpilih

Terhadap nilai kebenaran, rekayasa citra ini termasuk dalam diskualifikasi


kebenaran karena tidak dapat lagi dibedakan antara realitas (yang objektif ada dan
benar), dan hal-hal yang palsu (Baudrillard, 1994, h. 27). Mengutip pendapat
Haryatmoko (2007, h. 26), hal ini adalah bentuk penghilangan pengertian dan ini
termasuk dalam kekerasan simbolik.

Bentuk kekerasan simbolik ini hanya dapat berlangsung karena


ketidaktahuan serta adanya pengakuan dari yang ditindas (Haryatmoko, 2016, h.
58). Kekerasan simbolik ini jarang disadari karena tidak dilakukan secara fisik,
melainkan secara batiniah.

Kekerasan, apa pun bentuknya mengandaikan ada kehadiran 2 belah pihak,


yakni yang menguasai dan yang dikuasai. Kandidat dikatakan sebagai pelaku
kekerasan simbolik yang menguasai karena mereka mengetahui dan
mempraktikkan prinsip simbolik yang juga diterima secara baik dikuasai. Prinsip
simbolik tersebut bisa berupa bahasa, gaya hidup dan cara berpikir.
Prinsip-prinsip tersebut ada di dalam kampanye politik para kandidat. Dengan
prinsip2 simbolik dalam kampanye itulah kandidat membentuk wacana (Simunjak,
Dubravka & Ruzica, 2015, h. 542)

Sampai pada tahap ini kekerasan memang belum muncul. Bentuk kekerasan
akan ketahuan ketika sesudah terpilih mereka melakukan praktik korupsi, sebuah
kejahatan yang mengkhianati citra baik dan janji-janji luhur yang telah dibangun
oleh kandidat terkait. Menurut Haryatmoko (2014, h. 136) korupsi itu merusak
nilai-nilai kebaikan bersama karena, pertama, korupsi merusak sendi-sendi
penopang hidup baik bersama dan untuk orang lain karena yang dicari adalah
kepentingan diri atau kelompok saja. Padahal, hidup baik dalam kehidupan
bersama tidak lain adalah cita-cita kebebasan yang ingin menggapai keutamaan.

8
Maka korupsi mengkhianati cita-cita kebebasan itu. Lebih lanjut, korupsi juga
menghalangi upaya membangun institusi-institusi yang lebih adil karena pada
dasarnya korupsi itu adalah wujud ketidakadilan.

c) Kampanye sebagai tindakan instrumental saja

Realitas dan penjelasan di atas hendak menegaskan bahwa ada anomali dalam
kampanye politik. Rekayasa citra dalam kampanye politik yang dilakukan demi
mendapatkan sebuah jabatan, tetapi malah berakhir pada praktik korupsi oleh
kandidat terkait, malah menghasilkan satu bentuk kekerasan simbolik. Sampai
titik ini, ada asumsi yang terbangun, bahwa kampanye hanyalah sarana tindakan
instrumental saja, karena kampanye politik digunakan untuk mencapai tujuan
tertentu, yakni memperkaya diri lewat korupsi .

Untuk itu, pertanyaan “apa tujuan tertinggi yang dikejar ketika melakukan
kampanye” layak diajukan. Apakah dengan kampanye para calon pemimpin
hendak mencari suara, mendapat jabatan dan melakukan tugas dengan baik (ideal)?
Ataukah mereka hanya ingin mendapatkan jabatan, tapi mengkhianati tujuan dari
jabatan yang sudah diperoleh dan janji semasa kampanye (realitas). Data dari
Kompas (Ibrahim, 2019) kiranya cukup mengatakan bahwa tidak ada cita-cita
politik yang diperjuangkan. Yang ada hanyalah cita-cita individu dan partai.
Mengapa ini bisa terjadi?

Menurut Arendt (1999, h. 145), hal tersebut terjadi karena orang yang terjun
di dunia politik masih menganut nilai instrumentalis. Baginya, inilah yang
dinamakan dengan karakter animal laborans , bahwa yang dikejar oleh seseorang
bukanlah tujuan akhirnya, melainkan apa yang bisa didapatkan dari sebuah
proses kerja. Hal ini dipertegas lagi dengan pendapat Haryatmoko (2014, h. 137)
yang mengatakan bahwa politikus cenderung menjadikan politik tempat mata
pencarian utama dan sindrom yang menyertai salah satunya adalah korupsi.

Idealnya, politik mau menekankan aspek normatif (Haryatmoko, 2014, h. 8).


Ada cita-cita luhur yang hendak dicapai dengan politk, seperti seperti
kesejahteraan umum, keadilan dan keharuman bangsa. Selanjutnya, politik juga
dimaksudkan untuk mengusahakan dan membentuk tata hidup yang baik. Tata
hidup ini harus diikuti dengan perilaku yang kemudian akan mencerminkan etos
bangsa. Namun, situasi ideal itu bertolak belakang dengan fakta yang ada di

9
lapangan. Para politikus, terutama yang sudah terbukti korupsi, ternyata
mempraktikkan hal yang sebaliknya. Mereka menjauh dari nilai-nilai yang
menjadi cita-cita budaya politik.

Sampai di sini bisa dijawab mengapa seorang kandidat sampai harus


merekayasa citra dalam berkampanye. Sampai pada analisis ini, ada motivasi
tersembunyi yang hendak dicapai, dan motivasi itu tersibak ketika kandidat yang
bersangkutan melakukan praktik korupsi. Bahwa bukan kepentingan bersama
yang diperjuangkan, melainkan kepentingan pribadi dan golongan. Menurut
Kemenristekdikti (2018, h. 25) korupsi di dunia politik tidak lepas dari tradisi
politik di Indonesia. Para koruptor memandang politik adalah arena taruhan untuk
memperoleh keuntungan yang lebih besar. Hal ini tercermin dari penarikan pajak
atau kredit pada pengusaha.

Kemenristekdikti (2018, h. 26) juga menilai bahwa ada yang salah dengan
perilaku kampanye. Para calon pemimpin berkelana dengan mengeluarkan
banyak dana bagi kemenangan partai dan kemenangan diri sendiri. Namun hanya
sedikit yang secara sungguh-sungguh menyampaikan paket program yang harus
mereka wujudkan saat memerintah. Mereka hanya berusaha memenangankan diri,
bukan memnangkan cita-cita politik untuk kesejahteraan rakyat

Hal yang terjadi ini sungguh bertolak belakang dengan tujuan politik dan
kampanye politik. Tujuan kampanye politik itu baik, salah satunya untuk
memberikan pendidikan politik (mengacu pada Peraturan KPU no. 23 tahun 2018
pasal 5 (2)). Namun, melihat beberapa fakta di atas, kiranya ada paradoks yang
terjalin saat momentum kampanye politik dan apa yang dilakukan atau apa yang
terjadi ketika mereka sudah terpilih menjadi anggota DPR atau kepala daerah.
Praktik korupsi yang dilakukan oleh mereka mematikan etika sosial politik
(Kemenristekdikti, 2018, h. 47) dan menghilangkan kepercayaan publik terhadap
pemerintah (h. 50)

4. Karakteristik abdi (pelayan) dalam tokoh Semar sebagai kritk atas rekayasa
citra dalam kampanye politik

10
Corini (2018, h. 3) menilai korupsi itu mengguncang stabilisasi demokrasi
karena di sana ada favoritisme satu kelompok. Korupsi yang dilakukan oleh pejabat di
tingkat pemerintahan juga mengarahkan orang pada ketidakpercayaan antara
pimpinan politik dan masyarakat kebanyakan. Korupsi akan menaikkan ketimpangan
sosial yang akan menuntun orang pada ketidakpercayaan atas sistem sosial.

Penjelasan-penjelasan di atas hendak menggambarkan bahwa praktik kesuksesan


kampanye politik yang diiringi dengan keberhasilan kandidat memperoleh jabatan
publik namun berakhir pada praktik korupsi adalah masalah etika politik. Haryatmoko
(2014, h. 136) mengatakan bahwa etika politik membidik tujuan hidup baik bersama
dan untuk orang lain dalam institusi yang adil dan dalam kerangka memperluas
lingkup kebebasan. Tapi dengan adanya praktik korupsi oleh pejabat publik (wakil
rakyat), etika politik dirusak. Untuk mengembalikan tatanan etis pada praktik politik
tersebut, penulis menghadirkan karakteristik abdi pada diri Semar.

Semar adalah perwujudan dari Dewa Ismaya, kakak dari Batara guru, raja dari
segala dewa. Meski demikian ia tidak mau mengambil rupa seorang dewa. Ia malah
mengambil wujud hamba, atau abdi dalam bahasa Jawa. Semar rela menjadi abdi
yang rendah bagi ksatria yang mempunyai sifat luhur. Namun dengan mengambil
posisi abdi, Semar tidak serta merta mempunyai mental abdi. Justru sebaliknya,
dengan karakter abdi itu Semar mengantar ksatria utama ketika melalui bahaya agar
sampai pada tujuan. Ia juga memberikan nasihat apabila para ksatria terlalu agresif
dan emosi; dan bila para ksatria berada dalam bahaya Semar juga sekali-sekali
menyelamatkannya (Magniz-Suseno, 1984, h. 188). Pada titik ini kita tahu bahwa
karakter pemimpin dan pengayom melebur dalam diri Semar, walaupun dia hanyalah
seorang abdi.

Sifat pemimpin yang “tersembunyi” ini tak bisa dielpaskan dari kesaktian Semar.
Semar berani meyapa dewa-dewa lain dengan bahasa ngoko (bahasa Jawa kasar) dan
apabila ia marah, dewa-dewa takut. Semar adalah pelindung sekaligus pelayan ksatria
utama yang tidak terkalahkan. Semar juga dipandang sebagai roh pelindung utama
dari masyarakat Jawa (Geertz, 1969, h. 264). Ia menilai bahwa sosok Semar adalah
tokoh yang paling penting di seluruh cerita wayang.

Kehadiran Semar yang tidak merepresentasikan sosok dewa atau pun ksatria pun
layak dijadikan bahan refleksi. Di satu pihak Semar tidak terdidik, tapi para ksatria

11
mendengarkan nasihatnya. Arjuna yang menjadi sosok ideal dari seorang ksatria saja
tidak bisa dikalahkan asalkan ia bersama Semar. Maka kelihatan bahwa kekuasaan
dan keagungan yang sebenarnya tidak tergantung dari kehalusan lahiriah yang khas
dari ksatria (Magniz-Suseno, 1984, h. 190)

Ketika karakteristik abdi ini dikaitkan dengan praktik kampanye politik, ada dua
hal yang dapat ditarik. Pertama, bahwa yang menjadi jaminan seorang kandidat layak
terpilih itu bukanlah janji-janji dan tampilan luarnya saja, tetapi visinya untuk mau
menjadi pelayan. Hal ini senanda dengan semangat budaya politik itu sendiri, yakni
peduli pada kehidupan bersama. Kepedulian ini bisa diwujudkan dalam
mengusahakan kesejahteraan umum, keadilan, keharuman bangsa dan pembangunan
hidup bersama (Haryatmoko, 2014, h. 8)

Poin pertama tadi berkaitan erat dengan poin kedua, yakni sepi ing pamrih rame
ing gawe. Secara harfiah, ungkapan itu berarti “banyak bekerja tanpa meminta
imbalan). Pada tahap ini, permasalahan terkait mentalitas animal laborans menurut
Arendt (1999, h. 145) mendapat jawaban. Semar memang adalah seorang abdi,
namun tidak pernah ia memiinta satu balas jasa dari pihak ksatria, sekalipun
nasihat-nasihatnya mengantarkan mereka pada kemenangan. Sebagai abdi, Semar
bebas dari pamrih. Kesetiaan dan baktinya tanpa batas dan dengan tenang ia
menjalankan darmanya, yaitu menjadi seorang abdi yang setia. (Magniz-Suseno, 1984,
h. 193).

Terhadap praktik kampanye politik, visi abdi Semar ini bisa mendapatkan
pertimbangan etis. Dalam diri Semar tidak ada rekayasa citra sama sekali. Sekalipun
ia berposisikan seorang pelayan, ia tidak mau menampilkan dirinya seolah-olah
sebagai seorang ksatria atau pun dewa (meski dari sudut kesaktian, ia adalah seorang
dewa). Dengan tulus, Semar memosisikan dirinya sebagai seorang hamba. Selain itu,
tindakan-tindakan Semar ketika ia menjadi abdi tidaklah ditujukan untuk
mendapatkan jabatan (non-instrumentalis). Namun, uniknya pilihan Semar untuk
menjadi abdi itu malah mengantarkannya sebagai sosok yang dicintai oleh pencinta
wayang (Magniz-Suseno, 1984, h. 188).

5. Simpulan

12
Apa yang ada dalam diri Semar kiranya menjadi kritik konstruktif bagi praktik
kampanye politik. Praktik kampanye politik selalu identik dengan atribut-atribut indah
dan janji-janji manis. Namun, itu semau sering tidak koheren dengan implementasi
kebijakan ketika menjabat. Dalam beberapa kasus, kandidat malah melakukan praktik
korupsi yang bertentangan dengan semangat politik. Berbagai atribut dan janji baik itu
seolah hanya menjadi sarana agar kandidat dapat terpilih menjadi “wakil rakyat”.
Dengan kehadiran Semar yang menawarkan visi abdi, praktik kampanye politik yang
menonjolkan “tampilan luar” (janji-janji, atribut kampanye dan busana) itu bisa
dikritik.

Dengan adanya Semar, tampilan-tampilan luar yang serba mengesankan itu


dinegasi sama sekali. Tampilan lahiriah yang diperjuangkan dan diusahakn selama
kampanye politik itu tidak bermakna apa-apa. Justru, berangkat dari Semar, kehalusan
batin adalah yang utama. Wujud lahiriah yang indah dan bagus serta tampilan yang
(seolah-olah) merepresentasikan wujud “ksatria” ternyata bukan garansi budi dan
batin yang halus. Yang diperlihatkan Semar adalah keutamaan abdi yang sebenarnya:
bukan tampilan luar yang mengesankan, melainkan kepekaan batin dalam memnuhi
kewajibannya dengan setia (Magniz-Suseno, 1984, h. 193).

13