Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH HUKUM DAN ETIKA BISNIS

“Perlindungan Konsumen”

Dosen Pengampu : Iin Inayah SH,M.Pdi

Disusun :

Indah Nuraeni 1762201424

Melani Nur Syafitri 1762201014

Nanda Amelia 1762201138

Nani FebriYanti 1762201146

Zulrisma Warnis 1762201271

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG

2017-2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan makalah Mata Kuliah Hukum dan Etika Bisnis yang
berjudul “Perlindungan Konsumen” .

Kami sampaikan terima kasih kepada pihak yang telah berperan serta dalam proses
penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca dan penulis pada khususnya.

Tangerang, 7 Juli 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1

A. LATAR BELAKANG ............................................................................................ 1

B. RUMUSAN MASALAH ........................................................................................ 2

C. TUJUAN PEMBAHASAN..................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................... 3

A. ASAS DAN TUJUAN PERLINDUNGAN KONSUMEN .................................... 3

B. PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN . 4

C. SENGKETA KONSUMEN .................................................................................... 8

D. KETENTUAN PENCANTUMAN KLAUSULA BAKU .................................... 10

E. TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA .......................................................... 11

F. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN ........................................................ 12

G. KELEMBANGAN, KEDUDUKAN, DAN KEANGGOTAAN BPSK ............... 16

H. LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA MASYARAKAT


(LPKSM) ...................................................................................................................... 19

BAB III PENUTUP .......................................................................................................... 22

A. KESIMPULAN ..................................................................................................... 22

B. SARAN ................................................................................................................. 22

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 23

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kondisi konsumen yang banyak dirugikan memerlukan peningkatan upaya untuk


melindunginya, sehingga hak-haknya dapat ditegakkan. Namun di sisi lain, perlindungan
tersebut harus juga melindungi eksistensi produsen yang sangat esensial dalam
perekonomian negara. Oleh karena itu, diperlukan perundang-undangan yang dapat
melindungi kedua belah pihak.

Permasalahan perlindungan konsumen ini tidak akan pernah habis dan akan selalu
menjadi bahan perbincangan di masyarakat. Selama masih banyak konsumen yang
dirugikan, masalahnya tidak akan pernah tuntas. Oleh karena itu, masalah perlindungan
konsumen perlu diperhatikan.

Hak konsumen yang diabaikan oleh pelaku usaha perlu dicermati secara seksama.
Pada era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini, banyak bermunculan berbagai macam
produk barang/pelayanan jasa yang dipasarkankepada konsumen di tanah air, baik melalui
promosi, iklan, maupun penawaran barang secara langsung.

Jika tidak berhati-hati dalam memilih produk barang/jasa yang diinginkan,


konsumen hanya akan menjadi objek eksploitas dari pelaku usaha yang tidak bertanggung
jawab. Tanpa disadari, konsumen menerima begitu saja barang/jasa yang dikonsumsinya.

1
B. RUMUSAN MASALAH

1. Asas dan tujuan perlindungan konsumen


2. Pihak-pihak yang terkait dalam perlindungan konsumen
3. Sengketa Konsumen
4. Ketentuan pencantuman klausula baku
5. Tanggung Jawab pelaku usaha
6. Badan Perlindungan konsumen
7. Kelembagaan, kedudukan, dan keanggotaan BPSK
8. Lembaga perlindungan konsumne swadaya masyarakat

C. TUJUAN PEMBAHASAN
Untuk mengeetahui pentingnya pelaksanaan perlindungnan
konsumen dapat mensejajarkan kedudukan antara pelaku usaha dengan
konsumen sehingga mampu menciptakan kondisi pasar yang sehat dan
saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Khusus di sektor jasa
keuangan, perlindungan konsumen yang dilakukan OJK memberikan
banyak manfaat bagi masyarakat, antara lain meningkatkan aspek
transparansi produk dan jasa keuangan.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. ASAS DAN TUJUAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

 Asas Perlindungan Konsumen

 Asas Manfaat; mengamanatkan bahwa segala upaya dalam


penyelenggaraan perlindungan konsumen harus memberikan manfaat
sebesar-besarnya bagi kepentingan konsumen dan pelaku usaha secara
keseluruhan,
 Asas Keadilan; partisipasi seluruh rakyat dapat diwujudkan secara
maksimal dan memberikan kesempatan kepada konsumen dan pelaku
usaha untuk memperoleh haknya dan melaksanakan kewajibannya secara
adil,
 Asas Keseimbangan; memberikan keseimbangan antara kepentingan
konsumen, pelaku usaha, dan pemerintah dalam arti materiil ataupun
spiritual,
 Asas Keamanan dan Keselamatan Konsumen; memberikan jaminan atas
keamanan dan keselamatan kepada konsumen dalarn penggunaan,
pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang dikonsumsi atau
digunakan;
 Asas Kepastian Hukum; baik pelaku usaha maupun konsumen mentaati hukum
dan memperoleh keadilan dalam penyelenggaraan perlindungan konsumen, serta
negara menjamin kepastian hukum.

3
 Tujuan Perlindungan Konsumen

Sesuai dengan pasal 3 Undang-undang Perlindungan Konsumen, tujuan dari


Perlindungan Konsumen adalah

1. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk


melindungi diri,
2. Mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara
menghindarkannya dari ekses negatif pemakaian barang dan/atau jasa,
3. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen,
4. Menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur
kepastian hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan
informasi,
5. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggungjawab dalam
berusaha,
6. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan, keamanan dan
keselamatan konsumen.

B. PIHAK-PIHAK YANG TERKAIT DALAM PERLINDUNGAN


KONSUMEN

1. Konsumen

Konsumen secara umum adalah pihak yang mengkonsumsi


suatu produk. Istilah konsumen berasal dari bahasa asing, consumer
(Inggris); dan consumenten (Belanda). Menurut kamus hukum
Dictionary of Law Complete Edition konsumen merupakan pihak yang

4
memakai atau menggunakan barang dan jasa, baik untuk kepentingan
diri sendiri maupun untuk kepentingan orang lain.

Arti konsumen di Indonesia sesuai dengan Pasal 1 angka (2) UUPK


adalah: “Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa
yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri,
keluarga, orang lain, maupun mahluk hidup lain dan tidak untuk
diperdagangkan”. Unsur-unsur konsumen dalam rumusan tersebut,
ialah:

1. Setiap orang;
Setiap orang adalah perseorangan dan tidak termasuk badan hukum
maupun pribadi hukum.

2. Pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat;


Barang dan/atau jasa yang dimaksud dapat diperoleh di tempat
umum, misalnya pasar, supermarket dan toko.

3. Untuk kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, atau mahluk hidup lain;
Barang dan/atau jasa digunakan, dipakai, dimanfaatkan tidak untuk
keperluan konsumen, keluarga konsumen atau orang lain.

4. Tidak untuk diperdagangkan.

Barang dan/atau jasa digunakan, dipakai, dimanfaatkan tidak untuk


keperluaan komersil.

Jadi jelas bahwa yang dimaksudkan dengan konsumen itu


hanyalah orang pemakai akhir dari suatu produk barang dan jasa.
Dalam pengertian bahwa produk yang dibelinya tersebut adalah
untuk dikonsumsinya sendiri dan tidak untuk diperjualbelikan lagi

5
2. Pelaku Usaha

Pasal 1 ayat (3) UUPK, memberikan pengertian pelaku usaha sebagai


berikut:“Pelaku Usaha adalah setiap perseorangan atau badan usaha, baik
yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan
dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum Negara
Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui
perjanjian penyelenggaraan kegiatan usaha dalam berbagai bidang
ekonomi”.

Pelaku usaha yang dimaksud dalam UUPK sama dengan


cakupan produsen yang dikenal di Belanda, karena produsen dapat
berupa perorangan atau badan hukum.

Hubungan antara Konsumen dan Pelaku Usaha

Konsumen dan pelaku usaha merupakan subyek hukum dalam


UUPK. Transaksi antara kedua subyek hukum itu akan menentukan
adanya hubungan hukum dan menjadi syarat pokok untuk menentukan
apakah suatu tuntutan atau gugatan dapat diajukan berdasarkan UUPK
atau tidak, sehingga dapat dikualifikasi sebagai tuntutan konsumen.
Sehubungan dengan hal itu, perlu dipelajari unsur-unsur dan karakter
kedua subyek hukum tersebut.

Hubungan antara konsumen dan pelaku usaha relevan dan


memiliki arti penting dalam penyusunan gugatan konsumen. Gugatan
konsumen hanya dapat ditujukan kepada pihak-pihak yang memiliki
hubungan hukum. Karena dengan adanya hubungan hukum
menunjukkan adanya kepentingan hukum antar pihak yang
berhubungan. Oleh karena itu, gugatan konsumen yang terjadi karena
hubungan hukum yang bersifat tak langsung akan memperbanyak
pihak-pihak yang akan digugat. Mulai dari pengecer sampai dengan
produser, atau cukup hingga ke agen saja. Pelaku usaha akan banyak
terdiri dari banyak pihak, antara lain:

6
1) Produser (Produce );
2) Importer;
3) Agen (Agent );
4) Kantor Cabang (Branch Office);
5) Kantor Perwakilan (Representatives Office);
6) Perantara (Broker);
7) Pedagang (Trader);
8) Dealer;
9) Penyalur (Distributor);
10) Grosir (Wholeseller);
11) Pengecer (Reatiler).

Hubungan antara konsumen dan pelaku usaha merupakan


hubungan hukum yang umumnya didasari pada transaksi berupa kontrak
atau kesepakatan (agreement) dari kedua belah pihak. Hubungan hukum
adalah hubungan antar subyek hukum yang dilakukan menurut hukum
yang dapat berupa ikatan hak dan kewajiban.

3. Pemerintah

Peranan pemerintah sebagai pemegang regulasi dan kebijakan


sangat penting. Tanggung jawab pemerintah dalam melakukan
pembinaan penyelenggaraan perlindungan konsumen dimaksudkan
untuk memberdayakan konsumen agar mendapat hak-haknya,
sementara itu tanggung jawab pemerintah dalam melakukan
pengawasan penyelenggaraan perlindungan konsumen juga menjadi
bagian yang penting dalam upaya membangun kegiatan usaha yang
positif dan dinamis, sehingga hak-hak konsumen tetap bisa diperhatikan
oleh para pelaku usaha.

7
Upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dari produk
yang merugikan dapat dilaksanakan dengan cara mengatur, mengawasi,
serta mengendalikan produksi, distribusi dan peredaran produk sehingga
konsumen tidak dirugikan, baik kesehatannya maupun keuangannya.

Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dan kebijaksanaan yang


akan dilaksanakan, maka langkah-langkah yang dapat ditempuh
pemerintah adalah:

1) Registrasi dan penilaian;


2) Pengawasan produksi;
3) Pengawasan distribusi;
4) Pembinaan dan pengembangan usaha;
5) Peningkatan dan pengembangan prasarana dan tenaga.

Peranan pemerintah sebagaimana disebutkan diatas dapat


dikategorikan sebagai peranan yang berdampak jangka panjang
sehingga perlu dilakukan secara terus menerus memberikan penerangan,
penyuluhan dan pendidikan bagi semua pihak. Dengan demikian,
tercipta lingkungan berusaha yang sehat dan berkembangnya pengusaha
yang bertanggung jawab. Termasuk disini menciptakan pasar yang
kompetitif dengan berangsur-angsur menghilangkan monopoli dan
proteksi. Dalam jangka pendek, pemerintah dapat menyelesaikan secara
langsung dan cepat masalah-masalah yang timbul.

C. SENGKETA KONSUMEN

Sengketa konsumen adalah sengketa antara pelaku usaha dengan konsumen yang
menutut ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan atau yang menderita kerugian
akibat mengkonsumsi barang atau memanfaatkan jasad.

8
Melalui pasal 45 ayat (1) ini dapat diketahui bahwa untuk menyelesaikan sengketa
konsumen , terdapat dua pilihan yaitu :

1. Melalui lembaga yang bertugas menyelesaikan sengketa antara konsumen


dan pelaku usaha, atau
2. Melalui peradilan yang berada di lingkungan peradilan umum.

 Alternatif penyelesaian sengketa dapat dilakukan dengan cara berikut :


a) Konsultasi

b) Negosiasi

c) Mediasi

d) Konsialisasi

e) Penilaian ahli

 Sanksi-sanksi

a. Sanksi Perdata

Ganti rugi dalam bentuk :

o Pengembalian uang
o Penggantian barang
o Perawatsan keehatan, dan/atau
o Pemberian santunan
o Ganti rugi diberikan dalam tenggang waktu 7 hari setelah tanggal
transaksi.
b. Sanksi Administrasi

Maksimal Rp. 200.000.000 (dua ratus juta rupiah), melalui BPSK jika
melanggar Pasal 19 ayat (2) dan (3), 20, 25

c. Sanksi Pidana
o Penjara, 5 tahun, atau denda Rp. 2.000.000.000 (dua milyar rupiah)
(Pasal 8, 9, 10, 13 ayat (2), 15, 17 ayat (1) huruf a, b, c, dan e dan Pasal
18
o Penjara, 2 tahun, atau denda Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah)
(Pasal 11, 12, 13 ayat (1), 14, 16 dan 17 ayat (1) huruf d dan f

9
o Ketentuan pidana lain (di luar Undang-undang No. 8 Tahun. 1999
tentang Perlindungan Konsumen) jika konsumen luka berat, sakit berat,
cacat tetap atau kematian Hukuman tambahan , antara lain :
 Pengumuman keputusan Hakim
 Pencabuttan izin usaha;
 Dilarang memperdagangkan barang dan jasa ;
 Wajib menarik dari peredaran barang dan jasa;
 Hasil Pengawasan disebarluaskan kepada masyarakat .

D. KETENTUAN PENCANTUMAN KLAUSULA BAKU

 KLAUSA BAKU DALAM PERJANJIAN

 Klausula Baku adalah setiap aturan atau ketentuan dan syarat-syarat


yang telah dipersiapkan dan ditetapkan terlebih dahulu secara sepihak
oleh pelaku usaha yang dituangkan dalam suatu dokumen dan / atau
perjanjian yang mengikat dan wajib dipenuhi oleh konsumen.
 Klausula Baku aturan sepihak yang dicantumkan dalam kwitansi, faktur
/ bon, perjanjian atau dokumen lainnya dalam transaksi jual beli yang
sangat merugikan konsumen.

Dengan pencantuman Klausula Baku posisi konsumen sangat lemah / tidak


seimbang dalam menghadapi pelaku usaha.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen menetapkan bahwa Klausula


Baku yang dituangkan dalam suatu dokumen dan/atau perjanjian dilarang
bagi pelaku usaha, apabila dalam pencantumannya mengadung unsur-unsur
atau pernyataan sebagai berikut :

1. Pengalihan tanggungjawab dari pelaku usaha kepada konsumen;


2. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan kembali barang yang dibeli
konsumen;

10
3. Pelaku usaha berhak menolak penyerahan uang yang dibayarkan atas barang
atau jasa yang dibeli oleh konsumen;
4. Pemberian kuasa dari konsumen kepada pelaku usaha baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk melakukan segala tindakan sepihak yang
berkaitan dengan barang yang dibeli secara angsuran;
5. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya kegunaan barang atau
pemanfaatan jasa yang dibeli konsumen;
6. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk mengurangi manfaat jasa atau
mengurangi harta kekayaan konsumen yang menjadi obyek jual beli jasa;
7. Tunduknya konsumen kepada peraturan yang berupa aturan baru, tambahan
atau lanjutan dan / atau pengubahan lanjutan yang dibuat secara sepihak oleh
pelaku usaha dalam masa konsumen memanfaatkan jasa yang dibelinya;
8. Konsumen memberi kuasa kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak
tanggungan, hak gadai, hak jaminan terhadap barang yang dibeli oleh
konsumen secara angsuran;

 Contoh Klausa Baku

a) Formulir pembayaran tagihan bank dalam salah satu syarat yang harus
dipenuhi atau disetujui oleh nasabahnya menyatakan bahwa “ Bank tidak
bertanggung jawab atas kelalaian atau kealpaan, tindakan atau keteledoran
dari Bank sendiri atau pegawainya atau koresponden, sub agen lainnya, atau
pegawai mereka
b) Kwitansi atau / faktur pembelian barang, yang menyatakan :

 "Barang yang sudah dibeli tidak dapat ditukar atau dikembalikan"


 "Barang tidak diambil dalam waktu 2 minggu dalam nota penjualan
kami batalkan"

E. TANGGUNG JAWAB PELAKU USAHA

Didalam UU No.8 Tahun 1999 diatur dalam pasal 19 mengatur tanggung


jawab pelaku usaha yaitu :

11
1. Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan,
pencemaran, dan/atau kerugian konsumen akibat mengkonsumsi barang
dan/atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan.
2. Ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dapat berupa
pengembalian uang atau penggantian barang dan/atau jasa yang sejenis
atau setara nilainya, atau perawatan kesehatan dan/atau pemberian
santunan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
3. Pemberian ganti rugi dilaksanakan dalam tenggang waktu 7 (tujuh) hari
setelah tanggal transaksi.
4. Pemberian ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak
menghapuskan kemungkinan adanya tuntutan pidana berdasarkan
pembuktian lebih lanjut mengenai adanya unsur kesalahan.

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan ayat 2 tidak berlaku


apabila pelaku usaha dapat membuktikan bahwa kesalahan tersebut merupakan
kesalahan konsumen

F. BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN

Perkembangan masyarakat secara dibidang bisnis dan ekonomi ternyata telah


membawa implikasi yang cukup mendasar terhadap pranata dan lembaga hukum
diindonesia. Implikasi terhadap pranata hukum disebabkan kurang memadainya
perangkat norma untuk mendukung kegiatan bisnis dan ekonomi yang sedemikian
pesatnya, kondisi tersebut kemudian diupayakan dengan melakukan reformasi hukum.
Adapun implikasi dari kegiatan bisnis terhadap lembaga hukum, juga berkakibat
terhadap lembaga pengadilan yang tidak peofesional dalam menangani sengketa bisnis,
bahkan tidak independen. Akibatmya, lembaga pengadilan dianggap tidak efektif dan
efisien dalam memeriksa, mengadili, serta menyelesaikan sengketa bisnis yang
diajukan.

12
Alasan terakhir tersebut cukup menguatkan pelaku usaha untuk memilih
penyelesaian sengketa bisnisnya di luar pengadilan. Di samping itu, penyelesaian
sengketa di luar pengadilan menawarkan karakteristik, yaitu : (1) menjamin
kerahasian;(2) melibatkan para ahli dalam bidangnya;(3) prosedur cepat dan
sederhana;(4) putusan final dan mengikat (fimal and binding);(5) putusan tidak
dipublikasikan tanpa izin para pihak.

BPSK adalah badan yang bertugas menangani dan menyelesaikan sengketa antara
pelaku usaha dan konsumen. BPSK dibentuk oleh pemerintah di daerah tingkat II
(kabupaten/kota) untuk penyelesaian sengketa konsumen diluar pengadilan, maka
putusan BPSK bersifat final dan mengikat. Tanpa upaya banding dan kasasi.

BPSK dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh sekertariat, Adapun tugas dan
wewenang BPSK meliputi :

1. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian sengketa konsumen, dengan cara


melalui mediasi atau arbitrase atau konsiliasi.
2. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen.
3. Melakukan pengawasan terhadap pencantuma klausula buku.
4. Melaporkan kepada penyidik umum apabila terjadi pelanggaran ketentuan dalam
undang-undang ini.
5. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak tertulis, dari konsumen tentang
terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan konsumen.
6. Melakukan penelitaian dan pemerikasaan sengketa perlindungan konsumen.
7. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen .
8. Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli dan / atau setiap orang yang
dianggap mengetahui pelanggaran terhadap undang-undang ini.
9. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli,
atau setiap orang yang bersangkutan, yang tidak bersedia memenuhi panggilan
badan penyelesaian sengketa konsumen.
10. Mendapatkan, meneliti dan / atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain
guna penyelidikan dan / atau pemeriksaan.
11. Memutuskan dan mendapatkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak
konsumen.

13
12. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha yang melakukan pelanggaran
terhadap perlindungan konsumen.
13. Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku usaha yang melanggar
ketentuan undang-undang.

Untuk menghindari proses penyelesaian sengketa konsumen yang berlarut-larut,


undang-undang perlindungan konsumen memberikan batasan kepada BPSK. Setelah
gugatan diteriama, BPSK eajib mengeluarkn putusan paling lambat dalam waktu 21
hari kerja.

Ketentuan ini dipandang snagat penting bagi konsumen, mengingat posisi


ekonomi dan daya tawar konsumen berada dibawah pelaku usaha. Maka,melalui
proses penyelesaian sengketa dengan jangka waktu yang singkat sangat
menguntungkan konsumen guna menghindari pembengkakan biaya. Pasal krusial
dalam pelaksanaan putusan BPSK ini terdapat dalam pasal 56 Undang-indang
perlindungan konsumen yang berbunyi :

1. Dalam waktu paling lambat tujuh hari kerja sejak menerima putusan badan
penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana di maksud dalam pasal 55 pelaku
usaha wajib melaksanakan putusan tersebut.
2. Para pihak dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri paling lambat
14 hari kerja setelah menerima pemberitahuan putusan tersebut.
3. Pelaku usaha yang tidak mengajukan keberatan dalam jangka waktu sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dianggap menerima putusan badan penyelesaian sengketa
konsumen.
4. Apabila ketentuan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) tidak
dijalankan oleh pelaku usaha, badan penyelesaian sengketa konsumen
menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk melakukan penyidikan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
5. Putusan badan penyelesaian sengketa konsumen sebagaimana dimaksud pada
ayat (6) merupakan bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan
penyidikan.

Dalam penjelsan disebutkan yang dimaksud dengan putusan majelis


bersifat final adalah dalam BPSK tidak ada upaya banding dan kasasi. Bahwa,

14
dengan adanya peluang mengajukan keberatan atas putusan BPSK kepada
pengadilan, sesungguhnya memiliki hakikat yang sama dengan upaya banding
putusan BPSK. Keduanya adalah sama-sama menganulir sifat final dan mengikat
dari putusan yang dilakukan oleh BPSK.

Lebih lanjut, UUPK memberikan kemudahan kepada konsumen, hal ini


terbukti dari permintaan penetapan eksekusi putusan majelis BPSK kepada
pengadilan negeri di tempat tinggal konsumen.Ketentuan ini sama halnya dengan
tuntutan ganti rugi kepada pelaku usaha, konsumen dapat mengajukan gugatan
kepada pengadilan negeri atau BPSK di tempat konsumen tinggal,dengan
demikian konumen dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan.

Dalam pasal 58 UUPK ditentukan bahwa; pengadilan negeri wajib


mengeluarkan putusan atas keberatan dalam waktu paling lambat 121 hari sejak
diterimanya keberatan. Terhadap putusan pengadilan negeri tersebut, para pihak
dalam waktu 14 hari dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik
Indonesia. Adapun Mahkmah Agung Republik Indonesia wajib mengeluarkan
putusan dalam waktu paling lambat 30 hari sejak penerimaan permohonan kasasi.

Walaupun ketentuan ini memiliki banyak upaya mempercepat


penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK, yang putusannya dinyatakan final
dan mengikat, namun UUPK masih membuka ruang bagi pihak untuk mengajukan
keberatan atas putusan tersebut kepada pengadilan negeri. Hanya saja, pihak yang
tidak puas atas putusan pengadilan tersebut tidak lagi mengajukan upaya hukum
banding,melainkan langsung upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung.

Berdasarkan Undang-Undang perlindungan konsumen, jangka waktu


penyelesaian untuk masing-masing tahap telah dibuat. Maka dalam waktu
maksimum 100 hari semua tahapan telah selesai untuk mencapai putusan yang
memperoleh kekuatan hukum tetap, sehingga penyelesaia akan lebih cepat
dibandingkan dengan perkara lainnya.

15
G. KELEMBANGAN, KEDUDUKAN, DAN KEANGGOTAAN
BPSK

Salah satu pasal dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan
Konsumen Pasal 23, menjelaskan bahwa apabila pelaku usaha menolak dan atau tidak
memberikan tanggapan dan atau tidak memenuhi tuntutan ganti rugi atas tuntutan
konsumen, maka konsumen diberikan hak untuk menggugat pelaku usaha, dan
menyelesaikan perselisihan yang timbul melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
(BPSK), atau dengan cara mengajukan gugatan kepada badan peradilan di tempat
kedudukan konsumen. Di sini terlihat bahwa UUPK memberikan alternatif penyelesaian
melalui BPSK serta melalui Pengadilan Negeri yang daerah hukumnya melalui tempat
kedudukan konsumen.

Kehadiran Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen yang diamanatkan oleh UUPK


merupakan suatu lembaga yang dapat digunakan oleh konsumen dalam penegakan hak-
haknya. BPSK telah dibentuk di berbagai kota di Indonesia. Pembentukan BPSK ini tentu
saja membawa amanat dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen, sehingga kinerja
yang optimal dari BPSK akan menjadi faktor penentu bagi BPSK dalam pelaksanaan tugas
dan wewenangnya.

Pasal 49 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan konsumen


menyebutkan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dibentuk oleh pemerintah
untuk menyelesaikan sengketa konsumen diluar pengadilan. Kedudukan badan ini berada
di daerah tingkat II. Susunan pengurus BPSK dibentuk oleh gubernur masing-masing
propinsi dan diangkat dan diberhentikan oleh menteri perdagangan. Keanggotaan BPSK
terdiri dari tiga unsur yaitu unsur pemerintah, konsumen, dan pelaku usaha. Setiap unsur
anggota sebagaimana dimaksud pada pasal 49 ayat 3 Undang-Undang No 8 Tahun 1999,
berjumlah sedikit-dikitnya tiga orang, dan sebanyak-banyaknya lima orang.

BPSK sebenarnya dibentuk untuk menyelesaikan kasus-kasus sengketa konsumen


yang berskala kecil dan bersifat sederhana. Dasar hukum pembentukan BPSK adalah pasal
49 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen dan
Kepmenperindag Nomor 350/MPP/Kep/12/2001 yang mengatur bahwa di setiap kota atau
kabupaten harus dibentuk BPSK. Menurut ketentuan Pasal 90 Keppres Nomor 9 Tahun

16
2001, biaya pelaksanaan tugas BPSK dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBD).

Pembentukan BPSK tidak lepas dari peranan pemerintah sebagai pemegang regulasi
dan kebijakan sangat penting. Tanggung jawab dalam melakukan pembinaan dan
penyelenggaraan perlindungan konsumen di maksudkan untuk memberdayakan konsumen
agar mendapatkan hak-haknya, sementara itu tanggung jawab pemerintah dalam
melakukan pengawasaan penyelenggaraan perlindungan konsumen juga menjadi bagian
yang penting dalam upaya membangun kegiatan usaha yang positif dan dinamis.

Dalam hal itu norma-norma yang bersifat formal pun (hukum acara) menimbulkan
birokrasi baru bagi konsumen yang gagal menuntuk keadilan lewat Badan Penyelesaian
Sengketa Konsumen (BPSK) akibat pelaku usaha tidak secara sukarela melaksanakan
putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK), padahal tenggang waktu untuk
mengajukan keberatan atas putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK)
kepada Pengadilan Negeri telah dilampau atau pelaku usaha tidak mengajukan keberatan.
Dalam pasal 56 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 Tentang Perlindungan Konsumen,
keadaan seperti itu Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) menyerahkan
putusan tersebut kepada pejabat penyidik.

Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) tidak mengatur dalam waktu


berapa lama putusan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) diberitahukan
kepada para pihak. (Bila disepakati) tidak diaturnya hal itu karena menyangkut salah satu
“ketentuan teknis lebih lanjut tentang pelaksanaan tugas majelis”, maka pasal 54 ayat 4
Undang-Undang Perlindungan Konsumen (UUPK) memberi Menteri Perindustrian dan
Perdagangan kewenangan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri. Surat Keputusan
Menperindag Nomor: 350/MPP/Kep/12/2001 merupakan salah satu Surat Kepetusan
Menteri yang dimaksudkan dalam pasal 54 ayat 4 Undang-Undang Perlindungan
Konsumen.

Sebagai suatu badan yang merupakan “peradilan semu” keputusan BPSK tidak
mempunyai kekuatan hukum yang tetap tetapi ternyata tidak dipatuhi atau dilaksanakan
maka harus dimintakan penetapan eksekusi kepada Pengadilan Negeri. Namun masalahnya
Pengadilan Negeri tidak bersedia memberikan fiat eksekusi terhadap putusan BPSK karena
belum adanya peraturan yang mengatur tata cara penyelesaian putusan BPSK.

17
Dengan demikian sepanjang belum adanya koordinasi dengan instansi penegak hukum
terkait konsumen yang memenangkan gugatan sepertinya belum merasakan kemenangan
yang sempurna karena sanksi yang telah dijatuhkan BPSK, tidak dipatuhi oleh beberapa
pelaku usaha. Padahal penyelesaian sengketa konsumen melalui BPSK yang mengadopsi
prosedur Small Claim Court atau Pengadilan dengan tuntutan kecil diharapkan dapat
menjadi lembaga penyelesaian sengketa alternative yang ideal karena memiliki prosedur
sederhana, proses yang cepat serta biaya murah tanpa mengesampingkan azas peradilan
dalam sudut pandang perlindungan konsumen.

Dengan adanya peranan pemerintahan dan membentuk Badan Penyelesaian Sengketa


Konsumen, tetap saja kelemahan konsumen dalam tingkat kesadaran hak dan kewajibannya
masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tingkat pendidikan konsumen yang belum
memadai sikap atau kebudayaan konsumen yang lebih suka menghindari konflik (pasrah)
yang sudah lama terpatri. Sehingga apabila konsumen dirugikan oleh pelaku usaha,
sebagian konsumen enggan memperkarakannya ke pengadilan ataupun ke Badan
Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK). Jadi perlunya penangan serius oleh pemerintah
dalam hal ini melalui instrument BPSK.

Independensi BPSK dalam menyelesaikan permasalahan sengketa konsumen tetap di


tegakkan, baik dari pihak yang bersengketa (pelaku usaha dan konsumen). Landasan
hukum yang kuat bagi pemerintah dan masyarakat (pelaku usaha dan konsumen) untuk
melakukan upaya perlindungan dan pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan
pendidikan. Undang-Undang Perlindungan Konsumen dirasa memberikan jalan alternative
dengan menyediakan penyelesaian sengketa konsumen di luar pengadilan.

Pasal 45 Ayat 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1998 Tentang Perlindungan


Konsumen menyebutkan, jika telah dipilih upaya penyelesaian sengeketa konsumen di luar
pengadilan, gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh jika upaya itu dinyatalan
tidak berhasil oleh salah satu pihak atau oleh para pihak yang bersengketa. Berarti
penyelesaian pengadilan pun tetap dibuka setelah para pihak gagal menyelesaikan sengketa
mereka di luar pengadilan. Kata-katadinyatakan tidak berhasil dalam ayat diatas tidak jelas
maksudnya. Secara redaksional, juga tidak jelas apakah yang dimaksud dengan istilah
“penyelesaian di luar pengadilan” ini adalah upaya perdamaian diantara mereka, atau juga
termasuk penyelesaian melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).

18
Dengan keberadaan BPSK yang merupakan amanat dari Undang-Undang
Perlindungan Konsumen, diharapkan menjadi perangkat Hukum yang efektif dalam
penerapannya. Apabila ada akibat cacatnya substansial dalam perangkatnya, maka tujuan
untuk melindungi konsumen tidak tercapai. Bahkan yang tujuannya untuk mengurangi
beban kualitas perkara dalam pengadilan umum, tapi berbalik menambah beban bagi
peradilan. Begitu pula kualifikasi personal perlu ditegakkan. Apabila untuk masa kini
masyarakat konsumen akan semakin meningkat tuntutan kualitas perlindungannya. Konflik
juga dapat terjadi pada transaksi konsumen. Transaksi konsumen di sini adalah proses
terjadinya peralihan kepemilikan atau penikmatan barang atau jasa dari penyedia barang
atau penyelenggara jasa kepada konsumen.

H. LEMBAGA PERLINDUNGAN KONSUMEN SWADAYA


MASYARAKAT (LPKSM)

Pengakuan pemerintah terhadap LPKSM bukanlah tanpa syarat LPKSM


harus terdaftar pada pemerintah kabupaten/kota dan bergerak di bidang
perlindungan konsumen sebagaimana tercantum dalam anggaran dasarnya.
Pendaftaran tersebut hanya di maksudkan sebagai pencatatan dan bukan
merupakan perizinan. Demikaian pula,bagi LPKSM yang membuka kantor
perwakilan atau cabang di daerah lain, cukup melaporkan kantor perwakilan
atau cabang tersebut kepada pemerintah/kota setempat dan tidak melakukan
pendaftaran di tempat kedudukan kantor perwakilan atau cabang tersebut.

Ketentuan ini ternyata mengundang kontroversi tentang semangat


independensi LPKSM. Satu sisi berpandangan, pendaftran dan pengaturan
tugas LPKSM berdasarkan peraturan pemerintah dipandang sebagai tindakan
yang bertentangan dengan semangat reformasi dan mengancam independasi
LPKSM bertujuan agar perlindungan konsumen yang diemban oleh lembaga ini
lebih terarah dan hasilnya dapat dirasakan oleh konsumen.Namun jika dicermati
secara seksama, ketentuan peraturan pemerintah tersebut dimaksudkan hanya
sebagai alat kontrol bagi pemerintah, dan tidak memberikan pengaruh apa pun

19
bagi independensi LPKSM. Karena, tentu saja pendaftaran LPKSM bertujuan
untuk menjamin ketertiban, kepastian, dan keterbukaan LPKSM dalam
penyelenggsraan perlindungan konsumen.

Tugas lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat (LPKSM)


meliputi :

1. Menyebarkan informasi dalam ramgka meningkatkan kesadaran atas hak


dan kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam mengonsumsi barang
dan/atau jasa.penyebaran informasi yang dilakukan oleh LPKSM, meliputi
penyebarluasan berbagai pengetahuan mengenai perlindungan konsumen
termasuk peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah
perlindungan konsumen. Pasal 4 peraturan pemerintah nomer 59 tahun 2001
tentang lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
2. Memberikan nasihat kepada konsumen yang memerlukannya. Pemberian
nasihat kepada konsumen yang memerlukan dilaksanakan LPKSM secara
lisan atau tertulis agar konsumen dapat melaksanakan hak dan
kewajibannya. Pasal 5 peraturan pemerintah nomer 59 tahun 2001 tentang
lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat
3. Bekerja sama dengan instansi terkait dalam upaya mewujudkan
perlindungan konsumen. Pelaksanaan kerja sama LPKSM dengan instansi
terkait meliputi pertukaran informasi mengenai perlindungan konsumen,
pengawasan atas barang dan / atau jasa yang beredar dan penyuluhan serta
pendidikan konsumen. Pasal 6 peraturan pemerintah nomer 59 tahun 2001
tentang lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat.
4. Membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima
keluhan atau pengaduan konsumen. Dalam membantu konsumen untuk
memperjuangkan haknnya, LPKSM dapat melakukan advokasi atau
pemerdayaan konsumen agar mampu memperjuangkan haknya secara
mandiri, baik secara perorangan maupun kelompok. Pasal 6 peraturan
pemerintah nomer 59 tahun 2001 tentang lembaga perlindungan swadaya
masyarakat.

20
5. Melakukan pengawasan bersama pemerintah dan masyarakat terhadap
pelaksanaan perlindungan konsumen. Pengawsan perlindungan konsumen
oleh LKPSM bersama pemerintah dan masyarakat dilakukan ats barang dan
/ atau jasa yang beredar dipasar dengan cara penelitian, pengujian, dan / atau
survei. Pasal 8 peraturan pemerintah nomer 59 tahun 2001 tentang lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat.

Selanjutnya, dalam ketentuan pasal 9 peraturan pemerintah nomer 9 tahun


2001 tentang lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat,
menyatakan bahwa LPKSM dapat bekerja sama dengan organisasi atau
lembaga lainnya, baik yang bersifat nasional maupun internasional. Disamping
itu, LKPSM juga dibebani kewajiban untuk melaporkan pelaksanaan tugasnya
kepada pemerintah kabupaten / kota setiap tahun.

21
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesadaran konsumen bahwa mereka memiliki hak,kewajiban serta


perlindungan hukum atas mereka. Mengingat faktor utama perlakuan yang semena-
mena oleh produsen kepada konsumen adalah kurangnya kesadaran serta pengetahuan
konsumen atas hak-hak dan kewajiban mereka.Pemerintah sebagai
perancang,pelaksana serta pengawas atas jalannya hukum dan UU tentang
perlindungan konsumen harus benar-benar memperhatikan fenomena-fenomena yang
terjadi pada kegiatan produksi dan konsumsi dewasa ini agar tujuan para produsen
untuk mencari laba berjalan dengan lancar tanpa ada pihak yang dirugikan, Kesadaran
produsen akan hak-hak konsumen juga sangat dibutuhkan agar tercipta harmonisasi
tujuan antara produsen yang ingin memperoleh laba tanpa membahayakan konsumen
yang ingin memiliki kepuasan maksimum.

B. SARAN

Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat kesadaran


konsumen akan haknya yang masih rendah. Hal ini terutama disebabkan oleh
rendahnya pendidikan konsumen. Maka dari itu masyarakat yang selaku konsumen
harus lebih mengerti dan sadar akan haknya sebagai konsumen agar tidak menjadi
konsumen yang di curangi oleh produsen.

Pelaksanaanya undang-undang perlindungan konsumen di indonesia saat ini harus


di tegakan lagi agar tujuan dari pada undang-undang itu sendiri dapat terlaksana dengan
baik. Sehingga undang-undang ini betul-betul dapat memberikan kepastian hukum
yang jelas.

22
DAFTAR PUSTAKA

Alfatih, N. (2012, Oktober 10). wordpress.com. Retrieved from


naufalalfatih.wordpress.com:
http://naufalalfatih.wordpress.com/2012/10/10/badan-perlindungan-konsumen-
nasional-bpkn/

Dwi, D. (2016, April 2016). Blogspot.com. Retrieved from disedwi.blogspot.com:


http:/disedwi.blogspot.com/2016/04/makalah-perlindungan-konsumen.html

mousleemah, A. t. (2014, April). Blogspot.com. Retrieved from


arikathemousleemah.blogspot.com:
http://arikathemousleemah.blogspot.com/2014/01/makalah-perlndungan-
konsumen.html

Yuliyanti, R. (2014, April 1). wordpress.com. Retrieved from


retnoyulianti.wordpress.com:
https://retnoyuliyanti.wordpress.com/2012/04/01/makalah-perlindungan-
konsumen-4/

23