Anda di halaman 1dari 9

TUGAS BOTANI

POPULASI GENETIK DAN EVOLUSI

Disusun oleh :
Taufik Arrahman (195040201111089)
Noviany Harahap (195040201111090)
Risky Eka Putra (195040201111091)
Tasya Putri Anggraeni (195040201111092)
Ganis Elgusta (195040201111093)
Mita Arinda Pangastuti (195040201111094)
Risma Yulia Birizqi (195040201111095)

KELAS / KELOMPOK : J / 03
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2019
1. Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal
balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa
dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap
unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan
penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik
antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu
struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme
dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama
dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan
lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk
keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme,
khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan
suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan". Hal
ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat
terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya.
Kehadiran, kelimpahan dan penyebaran suatu spesies dalam ekosistem
ditentukan oleh tingkat ketersediaan sumber daya serta kondisi faktor kimiawi dan
fisis yang harus berada dalam kisaran yang dapat ditoleransi oleh spesies tersebut,
inilah yang disebut dengan hukum toleransi. Misalnya: Panda memiliki toleransi
yang luas terhadap suhu, namun memiliki toleransi yang sempit terhadap
makanannya, yaitu bambu. Dengan demikian, panda dapat hidup di ekosistem
dengan kondisi apapun asalkan dalam ekosistem tersebut terdapat bambu sebagai
sumber makanannya. Berbeda dengan makhluk hidup yang lain, manusia dapat
memperlebar kisaran toleransinya karena kemampuannya untuk berpikir,
mengembangkan teknologi dan memanipulasi alam.
A. Komponen-komponen pembentuk ekosistem
a. Abiotik
Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang
merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan,
atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi
dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik,
senyawa anorganik, dan faktor yang memengaruhi distribusi organisme, yaitu:
1. Suhu, proses biologi dipengaruhi oleh
suhu. Mamalia dan unggas membutuhkan energi untuk meregulasi
temperatur dalam tubuhnya.
2. Air. Ketersediaan air memengaruhi distribusi organisme. Organisme di
gurun beradaptasi terhadap ketersediaan air di gurun.
3. Garam. Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam
organisme melalui osmosis. Beberapa organisme terestrial beradaptasi
dengan lingkungan dengan kandungan garam tinggi.
4. Cahaya matahari. Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi
proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada
lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau
cahaya matahari. Di gurun, intensitas cahaya yang besar membuat
peningkatan suhu sehingga hewan dan tumbuhan tertekan.
5. Tanah dan batu. Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur
fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme
berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.
6. Iklim. Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu
area. Iklim makro meliputi iklim global, regional dan lokal. Iklim mikro
meliputi iklim dalam suatu daerah yang dihuni komunitas tertentu.
b. Biotik
Biotik adalah istilah yang biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang
hidup (organisme). Komponen biotik adalah suatu komponen yang menyusun
suatu ekosistem selain komponen abiotik (tidak bernyawa). Berdasarkan peran
dan fungsinya, makhluk hidup dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Heterotrof / Konsumen
Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-
bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai
makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof)
karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof
adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
2. Pengurai / Dekomposer
Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan
bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga
konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih
besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan
melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali
oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula
pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa
bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu[:
1. Aerobik: oksigen adalah penerima elektron / oksidan
2. Anaerobik: oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron
/oksidan
3. Fermentasi: anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai
penerima elektron. komponen tersebut berada pada suatu tempat dan
berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur.
B. Tipe-Tipe Ekosistem
Secara umum ada tiga tipe ekosistem, yaitu ekositem air, ekosisten darat, dan
ekosistem buatan.
1. Akuatik (air)
Ekosistem air terdiri dari :
a. Ekosistem air tawar.
b. Ekosistem air laut.
c. Ekosistem estuari.
d. Ekosistem pantai.
e. Ekosistem sungai.
f. Ekosistem terumbu karang.
g. Ekosistem laut dalam.
h. Ekosistem lamun.
2. Terestrial (darat)
Ekosistem darat terdiri dari :
a. Hutan hujan tropis.
b. Sabana.
c. Padang rumput.
d. Gurun
e. Hutan gugur.
f. Taiga.
g. Tundra.
3. Buatan
Contoh ekosistem buatan adalah :

a. Bendungan
b. Hutan tanaman produksi seperti jati dan pinus
c. Agroekosistem berupa sawah tadah hujan
d. Sawah irigasi
e. Perkebunan sawit
f. Ekosistem pemukiman seperti kota dan desa
g. Ekosistem ruang angkasa.

2. Habitat
Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak. Pada
dasarnya, habitat adalah lingkungan lingkungan fisik di
sekeliling populasi suatu spesies yang memengaruhi dan dimanfaatkan oleh spesies
tersebut.
Menurut Sovianti (2017), habitat merupakan tempat tinggal satu individu atau
populasi spesies tertentu. Habitat sering di sebut juga sebagai lingkungan yang di
diami oleh makhluk hidup, pada dasarnya habitat terdiri dari unsur maupun faktor
fisik seperti tanah, lalu terdapat juga suhu, sinar mata hari, serta faktor biotik,
ketersediaan makanan, dan lain-lain.
Berikut ini fungsi utama dari habitat, diantaranya:
a.Tempat untuk hidup
Fungsi utama dari habitat yaitu sebagai tempat hidup makhluk hidup. Dengan
habitat yang sesuai maka suatu spesies makhluk hidup dapat berkembangbiak,
mencari makanan, hingga bertahan hidup.
b. Sebagai tempat perlindungan
Habitat yang cocok bagi suatu spesies makhluk hidup, maka spesies tersebut
kemungkinan besar dapat bertahan dari berbagai macam ancaman, misalnya seperti
ancaman dari predator atau pemangsa.
Terdapat beberapa golongan habitat: hutan rimba, hutan kecil, gurun, lereng
pegunungan, kolam, sungai, rawa, dan laut. Area padang rumput tertentu seperti
Pampas di Argentina adalah contoh suatu habitat. Habitat yang lebih luas seperti
padang belantara atau hutan hujan dinamakan Bioma.
3. Pupulasi Genetik

4. Spesiasi
Spesiasi adalah proses dalam evolusi yang mengarah pada pembentukan
spesies baru yang berbeda yang secara reproduktif terisolasi satu sama lain.
Anagenesis, atau ‘evolusi filetik’, terjadi ketika evolusi bertindak untuk
menciptakan spesies baru, yang berbeda dari nenek moyang mereka, sepanjang satu
garis keturunan, melalui perubahan bertahap pada sifat fisik atau genetik.
Dalam hal ini, tidak ada perpecahan dalam pohon filogenetik. Sebaliknya,
‘spesiasi’ atau cladogenesis muncul dari peristiwa pemisahan, di mana spesies
induk dibagi menjadi dua spesies berbeda, sering sebagai hasil isolasi geografis atau
kekuatan pendorong lain yang melibatkan pemisahan populasi.
Isolasi reproduksi yang merupakan bagian integral dari proses spesiasi
terjadi karena hambatan reproduksi, yang terbentuk sebagai konsekuensi dari
perbedaan genetik, perilaku atau fisik yang timbul antara spesies baru. Ini adalah
mekanisme pra-zigotik (pra-perkawinan), misalnya, perbedaan dalam ritual
pacaran, alat kelamin yang tidak kompatibel, atau gamet, yang tidak dapat
membuahi antar spesies. Atau, mereka pasca-zigotik (pasca-kawin), misalnya
kematian zigot atau produksi keturunan steril. Isolasi reproduktif mengarah pada
penguatan perbedaan antara spesies melalui seleksi alam dan seleksi seksual.
a. Spesiasi alopatrik
Spesiasi alopatrik terjadi ketika anggota populasi menjadi terasing secara
geografis dari satu sama lain, sehingga pertukaran genetik, melalui perkawinan,
dicegah atau diganggu. Ini mungkin akibat perubahan geografis, seperti
pembentukan gunung oleh gunung berapi, formasi pulau, pemisah habitat oleh
gletser dan sungai, atau fragmentasi habitat yang disebabkan oleh aktivitas
manusia. Atau, anggota spesies dapat beremigrasi, menghasilkan pemisahan
populasi dengan penyebaran; ini umumnya dikenal sebagai vicariance.
Populasi yang terpisah kemudian mengalami divergensi dalam sifat genotip
atau fenotip sebagai akibat dari tekanan selektif berbeda yang bekerja pada
populasi. Hal ini menyebabkan seleksi alam menyebabkan pergeseran genetik
ketika mutasi muncul di dalam populasi. Seiring waktu, populasi yang terpisah
dapat mengembangkan fitur morfologis yang berbeda karena beradaptasi
dengan lingkungan baru mereka. Ciri-ciri dapat menjadi sangat berbeda
sehingga isolasi reproduktif terjadi, mencegah kawin sedarah populasi dan
dengan demikian membentuk spesies baru. Jika populasi menjadi cukup
berbeda sehingga mereka diklasifikasikan sebagai spesies baru, tetapi tidak
cukup berbeda untuk isolasi reproduktif untuk terjadi, spesies dapat kembali
bersentuhan dan kawin, menghasilkan hibrida.
Sejauh mana pengaruh hambatan geografis terhadap suatu populasi sering
bergantung pada kemampuan penyebaran organisme; misalnya, formasi baru
sungai dalam lanskap akan menciptakan penghalang yang tak dapat dilewati
bagi mamalia terestrial kecil, serangga dan reptil. Namun, burung dan mamalia
yang lebih besar kemungkinan akan menyebar ke seberang sungai dengan
mudah.
Contoh elegan dari spesiasi alopatrik, yang pertama kali mengilhami
Charles Darwin untuk mengembangkan teori evolusi dan seleksi alam, adalah
populasi burung kutilang yang berbeda yang mendiami Kepulauan Galapagos,
dan dikenal sebagai ‘kutub Darwin’. Darwin memperhatikan bahwa masing-
masing Kepulauan Galapagos menampung populasi burung finch, yang
meskipun relatif mirip dalam morfologi (dibandingkan dengan spesies burung
lainnya), menunjukkan perbedaan kecil dalam fitur seperti ukuran tubuh, warna
dan panjang atau bentuk paruh. Dia mencatat bahwa ada sumber makanan yang
berbeda tersedia untuk burung-burung di masing-masing pulau yang berbeda,
dan sampai pada kesimpulan bahwa perbedaan dalam bentuk paruh
adalah adaptasi terhadap memperoleh sumber makanan tertentu.
b. Spesiasi Simpatrik
Spesiasi simpatrik adalah proses evolusi di mana spesies terbentuk dari
spesies leluhur tunggal saat menghuni wilayah geografis yang sama.
Berbeda dengan spesiasi alopatrik, rentang distribusi spesies yang
berevolusi melalui simpatrik mungkin identik atau hanya tumpang tindih.
Bukan karena jarak geografis yang mendorong pengurangan aliran gen antar
populasi, simpatrik terjadi ketika anggota satu populasi memanfaatkan
niche baru. Hal ini dapat terjadi, misalnya, jika serangga herbivora mulai
memakan sumber tanaman baru atau baru yang tidak terkait dengan nenek
moyang, atau jika spesies tanaman baru diperkenalkan ke rentang geografis
spesies. Karena serangga umumnya bereproduksi atau bertelur dalam jenis
buah yang dilahirkan, seiring waktu, individu akan mengkhususkan diri
dalam memberi makan dan kawin pada buah-buahan tertentu. Akibatnya,
aliran gen antara populasi yang berspesialisasi dalam buah yang berbeda
akan berkurang, yang mengarah ke isolasi reproduktif dari populasi. Ada
kemungkinan bahwa populasi juga akan mengembangkan perbedaan
morfologi karena mereka beradaptasi dengan mengeksploitasi paling
efektif pada ceruk baru. Meskipun spesiasi simpatrik kadang-kadang terjadi,
hal ini jarang terjadi, terutama dalam organisme multisel besar.
c. Spesiasi Parapatrik
Spesiasi parapatrik adalah kasus spesiasi yang sangat langka yang
terjadi ketika populasi terus didistribusikan dalam area geografis tanpa
hambatan khusus untuk aliran gen. Meskipun demikian, populasi tidak
berpasangan secara acak di dalam populasi, tetapi lebih kepada individu
kawin lebih sering dengan tetangga geografis terdekatnya, menghasilkan
aliran gen yang tidak merata. Perkawinan non-acak dapat meningkatkan
tingkat dimorfisme dalam populasi, di mana bentuk morfologi yang
bervariasi dari spesies yang sama ditampilkan. Hasil spesiasi parapatrik
adalah satu atau lebih sub-populasi yang berbeda (dikenal sebagai ‘spesies
adik’), yang memiliki tumpang tindih kecil yang terus menerus dalam
rentang biogeografi mereka dan secara genotip dimorfik.
d. Spesiasi Peripatrik
Spesiasi peripatrik adalah bentuk spesiasi alopatrik yang terjadi
ketika populasi yang telah menjadi terisolasi memiliki sangat sedikit
individu. Melalui proses ini, penduduk mengalami hambatan genetik.
Dalam sub populasi kecil, organisme yang dapat bertahan hidup di
lingkungan baru dapat membawa gen yang jarang di dalam populasi utama
tetapi itu menyebabkan sedikit variasi pada perilaku atau morfologi. Melalui
perkawinan berulang, frekuensi ini, sekali jarang, gen meningkat dalam
populasi kecil. Ini dikenal sebagai ‘efek pendiri’. Seiring waktu,
karakteristik yang ditentukan oleh gen menjadi tetap dalam populasi, yang
mengarah ke spesies terisolasi yang secara evolusi berbeda dari populasi
utama.
e. Spesiasi Buatan
Spesiasi buatan adalah bentuk spesiasi yang dapat dicapai oleh input
pengaruh manusia. Dengan memisahkan populasi, dan dengan demikian
mencegah pembiakan, atau dengan sengaja membiakkan individu dengan
sifat morfologi atau genotipik yang diinginkan, manusia dapat menciptakan
spesies baru yang berbeda. Ini juga dikenal sebagai ‘seleksi buatan’;
kebanyakan hewan dan tanaman jinak modern telah menjalani seleksi
buatan.
Meskipun evolusi tanaman dan ternak modern kita telah memakan
waktu ribuan tahun, adalah mungkin untuk memvisualisasikan proses
seleksi buatan pada spesies yang memiliki siklus hidup yang pendek.
Spesiasi buatan telah terbukti paling efektif dalam spesies Fruit Fly
(Drosophila melanogaster). Eksperimen di mana lalat ditempatkan ke dalam
lingkungan yang mengandung sumber daya atau habitat yang berbeda
menunjukkan perubahan yang terjadi ketika lalat beradaptasi dengan
lingkungan masing-masing. Setelah beberapa generasi, lalat dipindahkan
dari zona percobaan dan dibiarkan hidup bersama, meskipun populasi tidak
dapat kawin karena proses isolasi reproduktif yang terjadi selama isolasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm. 13-15
Campbell NA, Reece JB. 2009. Biology. USA: Pearson Benjamin Cummings.
Page. 415-419.
Sovianti.2017. Habitat Hewan dan Lingkungannya. Sidoarjo : Universitas
Muhammadiyah Sidoarjo
Budiatma, H. 2018. Pengertian Spesiasi, Jenis Dan Contoh Mereka, (online),
https://usaha321.net/pengertian-spesiasi-jenis-dan-contoh-mereka.html
diakses pada 1 Desember 2019