Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ILMU BEDAH KHUSUS

“KATETERISASI PADA KUCING”

Oleh:

Kelompok 4 - 2014 B

Lady Konfidenia Chintari 145130100111018


Febrina Niken Larasati 145130101111030
Adi Purwo Jatmiko 145130107111007
Ghifari Syafrizaldi Nasukha 145130107111012

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kucing merupakan hewan yang populer untuk dijadikan hewan kesayangan. Menurut
survei, terdapat sekitar 86,4 juta kucing peliharaan di Amerika Serikat pada tahun 2009-2010.
Tren ini juga dialami di Indonesia dan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Kedekatan
psikologi pemilik dengan hewan kesayangan sebagai salah satu anggota keluarga menuntut
pemilik untuk memperhatikan keadaan fisik, makanan maupun kesehatan tubuh hewan
kesayangannya. Kesehatan hewan kesayangan menjadi sangat penting selain faktor kedekatan
psikologi untuk tidak membiarkan anggota keluarganya sakit juga berpotensi menularkan
penyakit terhadap pemiliknya. Untuk menjaga kesehatan hewan kesayangannya pemilik
mempercayakan kepada dokter hewan. Sehingga sebagai calon dokter hewan harus memiliki
skill dalam menangani hewan kesayangan.
Salah satu penyakit saluran kemih pada kucing adala urolithiasis. Urolithiasis adalah
pembentukan batu ginjal atau Kristal dalam system urinary. Penyakit ini terjadi karena
komposisi pakan yang tidak sehat dan ketidakseimbangan nutrisi. Dry food untuk kucing dapat
menyebabkan terjadinya lower urinary tract disease. Selama ini urolithiasis dilaporkan karena
adanya penumpukan Kristal struvite, kalsium oksalat, dan asam urat. Ras kucing Himalayan dan
Persian merupakan kucing yang paling sering mengalami urolith karena penumpukan Kristal
struvite.
Salah satu penanganan urolithiasis adalah dengan pemasangan kateter. Pemasangan
kateter merupakan salah satu intervensi yang diberikan kepada pasien dengan gangguan saluran
perkemihan. Pemasangan kateter bertujuan untuk mengeluarkan urin dan kristal pada vesical
urinaria. Pemasangan kateter merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan kateter
ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan
eliminasi dan sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Tindakan pemasangan kateter urin
dilakukan dengan memasukan selang plastik atau karet melalui uretra ke dalam kandung kemih.
Kateter memungkinkan mengalirnya urin yang berkelanjutan pada klien yang tidak mampu
mengontrol perkemihan atau klien yang mengalami obstruksi. Kateter juga menjadi alat untuk
mengkaji pengeluaran urin per jam pada klien yang status hemodinamiknya tidak stabil.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana anatomi dan fisiologi organ urinaria pada kucing
1.2.2 Apakah definisi dari kateterisasi?
1.2.3 Apa saja kegunaan dan tujuan dari kateterisasi pada kucing?
1.2.4 Bagaimana prosedur dari tindakan kateterisasi pada kucing?
1.2.5 Apa obat yang digunakan ketika prosedur kateterisasi dilaksanakan?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui anatomi dan fisiologi organ urinaria pada kucing
1.3.2 Untuk mengetahui definisi dari kateterisasi
1.3.3 Untuk mengetahui kegunaan dan tujuan dari kateterisasi pada kucing
1.3.4 Untuk mengetahui prosedur dari tindakan kateterisasi pada kucing
1.3.5 Untuk mengetahui obat yang digunakan ketika prosedur kateterisasi dilaksanakan
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Anatomi dan Fisiologi Organ Urinaria Kucing


Sistem urinaria merupakan sistem dengan proses perjalanan penting dalam pembersihan
produk-produk yang tidak berguna dalam tubuh. Proses pembersihan tersebut meliputi semua
produk yang larut dalam darah. Beberapa fungsi dari sistem ini adalah mengeluarkan semua
material yang tidak dibutuhkan oleh tubuh dan mengeliminasi kelebihan air dalam tubuh
(Fauziah, 2015). Fauziah (2015) menyatakan bahwa sistem urinari pada hewan kecil terdiri dari
dua ginjal, dua ureter, vesika urinaria dan uretra.
1) Ginjal
Ginjal ialah organ tubuh yang menjalankan proses filtrasi glomerulus, reabsorpsi tubulus dan
sekresi tubulus. Cairan yang menyerupai plasma difiltrasi melalui dinding kapiler glomerulus
ke tubulus renalis di ginjal. Dalam perjalanannya sepanjang tubulus ginjal, volume cairan
filtrat akan berkurang dan susunannya berubah akibat proses reabsorpsi tubulus untuk
membentuk urin yang akan disalurkan ke dalam pelvis renalis. Filtrasi glomerulus
berdasarkan faktor-faktor hemodinamik dan osmotik (Fauziah, 2015).
2) Ureter
Setiap ginjal memiliki saluran yang disebut ureter terdapat di hilus dan merupakan saluran
berotot yang mengangkut urin dari ginjal menuju vesika urinaria. Ureter terdiri dari tiga
lapisan yaitu lapisan luar fibrosa, lapisan otot tengah yang dibentuk oleh otot halus dan
lapisan dalam epitel transisional. Ureter merupakan lanjutan dari pelvis renalis. Tiap ureter
meninggalkan ginjal di hilus. Epitel transisional menyebabkan ureter meregang ketika
dilewati oleh urin sampai ke vesika urinaria. Lapisan otot halus pada ureter adalah lapisan
yang fungsional, menggunakan gerak peristaltik untuk memindahkan urin, sama seperti
kontraksi usus. Gerak peristaltik adalah suatu kontraksi gelombang ototuntuk menggerakkan
isi saluran dalam satu arah. Dalam hal ini, urin didorong untuk pembukaan bagian dasar
vesika urinaria (Fauziah, 2015)
3) Vesika Urinaria
Vesika urinaria menampung urin yang diproduksi dan mengeluarkannya secara periodik dari
tubuh. Vesika urinaria memiliki dua bagian yaitu kantung otot dan leher yang terlihat seperti
balon. Ukuran dan posisi vesika urinaria bervariasi berdasarkan jumlah urin yang terkandung
di dalamnya. Vesika urinaria dilapisi oleh epitel trasisional yang meregang ketika berisi urin.
Ketika otot berkontraksi, vesika urinaria tertekan dan urin akan keluar. Leher vesika urinaria
merupakan lanjutan caudal dari vesika urinaria menuju uretra. Pada leher vesika urinaria
terdapat otot halus yang bercampur dengan banyak jaringan elastik yang berfungsi sebagai
otot sphincter internal. Kontraksi dan relaksasi otot sphincter di bawah kontrol kesadaran,
membuka dan menutup jalan urin meninggalkan vesika urinaria dan memasuki uretra
(Fauziah, 2015).
4) Uretra
Uretra adalah lanjutan dari leher vesika urinaria yang berjalan melalui ruang pelvis menuju
lingkungan luar. Uretra dilapisi oleh epitel transisional yang menyebabkan uretra dapat
meluas. Uretra jantan berjalan sepanjang pusat penis, membawa urin dari vesika urinaria
sampai ke lingkungan luar. Uretra jantan juga mempunyai fungsi sebagai alat reproduksi.
Vas deferens dan kelenjar asesoris masuk ke uretra melalui ruang pelvis. Sedangkan pada
uretra betina hanya memiliki fungsi urinaria saja. Uretra betina berjalan secara caudal di atas
lantai pelvis di bawah saluran reproduksi. Uretra betina relatif pendek menghubungkan
vesika urinaria menuju sphincter uretra eksternal. Sedangkan pada jantan relatif lebih
panjang, saluran tersebut berjalan melalui kelenjar prostat dan berjalan sepanjang penis
sebelum mencapai sphincter eksternal. Sphincter uretra eksternal bekerja di bawah kesadaran
(voluntarily) dan direlaksasikan ketika waktu dan tempat yang cocok untuk urinasi telah
ditentukan. Sphincter eksternal terletak di luar vesika urinaria, tersusun dari otot rangka yang
melingkari uretra (Fauziah, 2015).

Gambar 2.1 Sistem urinaria kucing jantan


2.2 Definisi Kateterisasi
Kateterisasi urine adalah proses atau tindakan pengeluaran urine dengan memasukkan
kateter urine dari uretra ke menuju kandung kemih. Kateterisasi urine dilakukan apabila pasien
tidak mampu mengeluarkan urine secara normal (retensi atau obstruksi urine) (Sari dan
Satyabakti, 2015). Kateter adalah alat yang didesain untuk dimasukkan ke dalam urethra hingga
kandung kemih untuk mengeluarkan urine yang tertahan (Nusrat, 2005). Sebelum dipasang
kateter, dapat dianastesi terlebih dahulu, kemudian masukan kateter kecil yang dimasukkan ke
urethra untuk menghilangkan sumbatan, kemudian dilanjutkan ke vesica urinaria untuk
mengeluarkannya (Merck, 2005).

Gambar 2.2 A : Kateter betina, B : Kateter Jantan

2.2 Kegunaan Kateterisasi


Pemasangan kateter urin merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan
kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan membantu memenuhi kebutuhan
eliminasi dan sebagai pengambilan bahan pemeriksaan (Hidayat, 2006). Tindakan pemasangan
kateter urin dilakukan dengan memasukan selang plastik atau karet melalui uretra ke dalam
kandung kemih. Kateter memungkinkan mengalirnya urin yang berkelanjutan pada klien yang
tidak mampu mengontrol perkemihan atau klien yang mengalami obstruksi. Kateterisasi urin
membantu pasien dalam proses eliminasinya. Pemasangan kateter menggantikan kebiasaan
normal dari pasien untuk berkemih.
Beberapa keuntungan penggunaan kateterisasi antara lain untuk mencegah terjadinya
tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa
kandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin. Kandung kencing dapat terisi dan
dikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal. Bila dilakukan secara dini pada
penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara
fisiologis sehingga feedback ke medula spinalis tetap terpelihara. Kerugian kateterisasi adalah
adanya bahaya distensi kandung kemih, resiko trauma uretra akibat kateter yang keluar masuk
secara berulang, resiko infeksi akibat masuknya kuman-kuman dari luar atau dari ujung distal
uretra (flora normal) (Duval, 2007).
Menurut Sudarminto (2011), indikasi kateterisasi pada hewan kecil jantan diantaranya
adalah sebagai berikut:
1) Atoni vesika urinaria
2) Memasukan obat
3) Mengambil sampel urine / mengosongkan vesika urinaria
4) Menentukan/mencari sumbatan urolit
Sedangkan indikasi kateterisasi pada hewan betina diantaranya adalah sebagai berikut
(Sudarminto, 2011):
1) Atoni vesika urinaria
2) Memasukan obat
3) Mengambil sampel urin /mengosongkan vesika urinaria.

2.3 Prosedur Kateterisasi


Prosedur pertama pemasangan kateter yang dilakukan pada hewan adalah memposisikan
hewan dalam keadaan Lateral Recumbent, ketika melakukan ini pada anjing tidak perlu
menggunakan sedasi, karena posisi ini sudah nyaman bagi anjing. Namun, apabila dilakukan
pada kucing harus diberikan sedasi agar kucing tenang saat dilakukan pemasangan kateter urin.
Pada pemasangan kateter pada hewan jantan, penis dikeluarkan terlebih dahulu dan diposisikan
pararel sejajar dengan vertebrae agar tidak terjadi trauma pada urethra. Kemudian prosedur
selanjutnya adalah bagian penis atau vulva dibersihkan menggunakan antiseptik agar tidak ada
agen infeksius yang menempel. Kemudian bagian vulva atau penis dilumasi dengan pelican
untuk mempermudah pemasangan kateter. Untuk betina, vulva dilumasi menggunakan jari dari
dorsal, hal ini untuk menghindari clitoral fossa. Kemudian dilakukan flushing menggunakan
syringe yang berisi saline, hal ini berguna untuk mendilatasi urethra agar kateter mudah untuk
dipasang. Flushing juga dapat berguna untuk meruntuhkan sel dari urethra pada kasus obstruksi.
Kemudian kateter dimasukkan secara perlahan melalui orificium urethra externa dan didorong
secara perlahan. Kateter dimasukkan hingga ke ujung urethra. Jika yang dilakukan adalah kateter
menetap makan kateter disambungkan dengan urinbag. Kemudian, setelah kateter masuk maka
dibiarkan hingga terbiasa dengan saluran kemih. Terakhir adalah melakukan fiksasi
menggunakan plester pada daerah inguinal atau bagian caudal pada paha. (Aldrich, 2006)
Pemasangan kateter pada hewan betina akan lebih mudah dikarenakan saluran
perkemihan beina lebih pendek. Pemilihan perlakuan seadasi sangat diperlukan untuk
menenangkan hewan agar mempermudah dalam pemasangan. Speculum adalah salah satu
instrument yang bisa digunakan dalam pemasangan kateter, alat ini membantu ketika membuka
saluran perkemihan bagian eksternal. Urinbag diperlukan ketika kateter dipasang menetap dalam
jangka waktu yang lama. Pemilihan katerisasi sementara atau menetap dilihat sesuai dengan
kebutuhan hewan.

Gambar 2.3 Pemasangan Kateter Urin pada anjing

Gambar 2.4 Pemasangan Kateter Urin pada Kucing


2.4 Obat - obatan Kateterisasi
Untuk sedasi dan anasthesi, dapat digunakan kombinasi ketamine, diazepam dan
butorphanol. Ketamine digunakan sebagai anasthesi umum, diazepam digunakan sebagai
penenang dan buthorphanol untuk penyeimbang anasthesi dan anti nyeri. Untuk perawatan post-
prosedural, digunakan buprenorphipe 10–15 μg/kg IV q4–6h atau butorphanol 0.1–0.4 mg/kg IV
q4–6h sebagai analgesic dimana untuk manajemen rasa sakit. Untuk perawatan spasmus urethral,
digunakan Phenoxybenzamine 0.25–0.5 mg/kg PO q12–24h dan prazosin, 0.25–1 mg PO q8–12
Untuk terapi cairan setelah pemasangan kateter, digunakan larutan lactated Ringer’s, 0.9% NaCl.
Antibiotik jarang digunakan karena penyebab FLUTD pada hewan berbeda-beda dan hanya
ditemukan sedikit kasus dimana penyebabnya adalah bakteri. Pemberian antibiotik yang tidak
sesuai, ditakutkan akan menimbulkan terjadjnya resistensi antibiotik (Garret, 2014).
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemasangan kateter urin merupakan tindakan keperawatan dengan cara memasukkan
kateter ke dalam kandung kemih melalui uretra yang bertujuan untuk membantu memenuhi
kebutuhan eliminasi dan sebagai pengambilan bahan pemeriksaan. Prosedur pemasangan kateter
meliputi penempatan posisi hewan dalam keadaan lateral recumbent, pembersihan bagian penis
atau vulva dengan antiseptic dan selanjutnya penis atau vulva dilumasi dengan pelican untuk
mempermudah pemasangan kateter. Kateter dimasukkan hingga ke ujung urethra.
DAFTAR PUSTAKA

Aldrich, Jannet. 2006. Urethral Catheterization of The Female Dog and Cat. USA: University of
California-Davis
Duval D. 2007. Feline Urologic Syndrome, Internet Vet. Column. www.mailer.fsu.edu
Fauziah, Hasna. 2015. Gambaran Cystitis melalui Pemeriksaan Klinis & Laboratoris (Uji
Dipstik & Sedimentasi Urin) Pada Kucing di Klinik Hewan Makassar. Skripsi FKH
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Garret Pachtinger. 2014. Urinary Catheter Placement for Feline Urethral Obstruction.
Veterinary Specialty & Emergency Center Levittown, Pennsylvania.
Hidayat, Aziz A., 2008, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Merck. 2005. The Merck Veterinary Manual, Ninth Edition, National Publishing, Inc.
Philadelphia.
Nusrat, M.T. 2005. Hubungan Antara Lama Waktu Terpasang Kateter dengan Derajat
Ketidaknyamanan (Nyeri) Pada Pasien yang Terpasang Kateter Urethra di Bangsal
Rawat Inap RSU PKU Muhammadiyah Tahun 2005. Skripsi FK UMY. Yogyakarta.
Sari, E.W.P. dan P. Satyabakti. 2015. Perbedaan Risiko Infeksi Nosokomial Saluran Kemih
Berdasarkan Kateterisasi Urin, Umur, dan Diabetes Mellitus. Jurnal Berkala
Epidemiologi, 3(2):205–216.
Sudarminto. 2011. Modul: Teknik Bedah Dasar, Restrain & Casting. UGM: Yogyakarta.