Anda di halaman 1dari 9

20/05/2013

ANALISIS MODEL TENURIAL


Analisa
DALAM Model
UNITTenurial Dalam Unit
MANAJEMEN
Manajemen
KPH KPH
PUSPIJAK

I. Pendahuluan
II. Landasan Teori
III. Kerangka Pikir Tenurial Kawasan Hutan
IV. Tahapan Analisis Model Tenurial
V. Hasil Analisis Model Tenurial
VI. Penutup

1
20/05/2013

i. PENDAHULUAN

Institusi
pengelola
kawasan (KPH)

ORGANISASI
TENURIAL

A. Konsep Tenurial
 KPH adalah wilayah pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok
dan peruntukannya yang dapat dikelola secara efisien dan
lestari.
 Tenurial : sistem tentang hak-hak dan kelembagaan yang
menata, mengatur dan mengelola akses dan penggunaan
lahan. Karakteristik tenurial berkaitan sebagai penyebab
permasalahan konflik lahan, diantaranya berhubungan
dengan tata-kelola (governance) dan kepastian lahan
 Ridell (1987) dalam Ichwandi (2003) memaknai sistem
tenurial sebagai sekumpulan atau serangkaian hak-hak,
“tenure system is a bundle of rights”. Pada setiap sistem
tenurial, masing-masing hak sekurang-kurangnya
mengandung 3 komponen, yaitu subyek hak, obyek hak,
dan jenis haknya

2
20/05/2013

Konflik Sumberdaya
hutan

Konflik lahan karena tumpang tindih


penggunaan lahan, penyerobotan
Sengketa dan perladangan liar.
Pemerintah

Konflik sumberdaya hutan/alam


atl penjarahan, pencurian kayu
dan hasil hutan lainnya
Masyarakat Swasta

Konflik sosial/etnis, antara


pendatang dan penduduk asli.

1.RATA (Rapid Land Tenure Assessment)


Dikembangkan oleh ICRAF bersama mitra
2. Huma Win (Data base konflik kehutanan)
Mengurai dinamika permasalahan tenurial dalam bentuk yang
terkomputerisasi berbasis Window
3. AGATA (Analisis Gaya Pihak Bersengketa)
Samdhana sebuah lembaga reflektif untuk memahami gaya
para pihak menghadapi dinamika perbedaan

3
20/05/2013

EKONOMI

SOSIAL LAHAN
EKOLOGI
KAW.HUT
AN

POLITIK
HUKUM

•Sejarah kawasan menguraikan penunjukan kawasan


Hutan (TGHK), awal pemukiman masyarakat , penerbitan
hak garap.
•Perkembangan penggunaan dan pemanfaatan kawasan
oleh masyarakat untuk lahan pertanian, permukiman,
peternakan dan fasilitas umum.
•Dampak penggunaan dan pemanfaatan kawasan,
menguraikan tentang konflik yang terjadi antara
masyarakat dengan pemerintah daerah, antara pengusaha
dan pemerintah pusat.
•Beberapa anternatif solusi yang dapat direkomendasikan
dalam rangka mengurangi konflik yang terjadi.

4
20/05/2013

Metode Tahapan Kegiatan Data dan informasi Luaran/sasaran


Penelitian Pemilihan areal study SK Menhut, SK Wilayah konflik
Desk study (lokasi) Gubernur, SK Bupati
1 Deskripsi tenurial
Sejarah penggunaan dan
Konsultasi pemanfaatan kawasan oleh : Laporan : Risalah penggunaan
wawancara pemegang ijin, masyarakat Ditplan, BUK, PHKA kawasan
2

Dokumentasi
Pengumpulan Analisis perkembangan Dokumen Perusahaan, Produksi Kelembagaan
data dan penggunaan dan Dinas Kehutanan, Dinas Tenaga kerja, embiayaan
informasi pemanfataan kawasan Perindag, BPN, Agraria
3

Survey pangan Statistik Kehut, Kondisi kawasan,


wawancara Analisis sebab akibat Perusahaan, Dishut, Desa/ pemanfaatan lahan oleh
land tenure Tokoh masyarakat masyarakat/ perusahaan,
4
LSM, Perda

Survey lap. Studi perkembangan


Diskusi (FGD) kondisi lahan di Monografi desa, dokumentasi Okupasi (pertambangan,
5 Wawancara lapangan (desa/dukuh) lapangan, dokumen BPN, perkebunan, pemukiman),
Peraturan terkait, tingkat Desa definitive, kebun, usaha
konflik tenurial (strata 1, lain dalam kawasan
2,3,4)
Pilihan alternative
FGD Rumusan pemanfaatan dan Konsep Desa Hutan
Kebijakan penggunanaan kawasan Sasaran pilihan
6 Penyelesaian/saran konflik
kedepan Kebijakan lahan HTR, HKM, Hutan
Desa

1. Sejarah Kawasan
Besluit Residen Lampung Districk No. 372 tanggal 12 Juni
 Kepmenhut No. 67 thn1991 Tentang TGHK Provinsi Dati I Lampung
 Kepmenhutbun No. 416/ Kpts-II/1999 dan No. 256 / Kpts-II/2000 Kepmenhut
No388/Kpts-II/1996 jo No. SK.240/Menhut-II/2007 tentang Pemberian HPHTI
seluas ± 41.210 Ha kepada PT. Dharma Hutan Lestari d/h PT. LPFFactory.
 Kepmenhut No. SK. 248/Menhut-II/2011 tentang Pencabutan Keputusan Menteri
No. 388Kpts-II/1996
 KHP Gedong Wani Reg. 40 telah ditetapkan dengan SK Menhut No. 68/Menhut-
II/2010 dengan luas 30.243 Ha
 KPHP model Unit XVI yang terletak di wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan
Kabupaten Lampung Timur sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No. SK
427/Menhut-II/ 2011 tanggal 27 Juli 2011.

5
20/05/2013

1.Adanya peternakan ayam dan kambing yang diusahakan


secara mandiri & bermitra dengan pengusaha.

2. Adanya kebun-kebun yang dikelola secara


perorangan (sawit 30 %, karet 10 %, cokelat 15 %),

3. Adanya bangunan milik pemerintah seperti


Balai Desa, Kecamatan, SD Negeri, SMP Negeri dan swasta,
Koramil, dan Kapolsek.

4. Ada desa-desa definitif (35 desa) dalam kawasan


hutan baik yang ditetapkan melalui Surat Keputusan
Bupati maupun Keputusan Gubernur Lampung

5. Adanya Sertifikat tanah dalam kawasan


hutan, Sejak 1960 masy sudah membayar
PBB

Pemukiman dan kebun masyarakat di KPH

6
20/05/2013

Pasar trasional dan Alfamart di KPHP Desa Sripendowo, Kec


Ketapang

Dasar Hukum Dan Peraturan Ttg Kawasan Hutan


 Undang-undang No. 41 Tahun 1999 Tentang
Kehutanan ---- Kawasan Hutan (Produksi, Lindung,
Konservasi), sebelumnya UU No 5 tahun 1967
 Undang-undang No. 5 Tahun 1994 Tentang Fungsi
Kawasan Konservasi
 UU No. 6 Tahun 1961 tentang Agraria yang berada
dibawah kewenangan BPN.

Perselisihantidak dapat dihindari


Ketidakharmonisan hubungan antar instansi
Persaingan pemanfaatan lahan untuk berbagai
kepentingan semakin tajam
Rendahnya intensitas pengelolaan seperti rendahnya
tingkat pengamanan dan perlindungan

7
20/05/2013

Pendekatan dengan mengembangkan program


HTR, HKm, Hutan Desa, dan program
kolaboratif masyarakat lainnya ,lahannya harus
merupakan pola dan tehnik tenaman campuran
seperti agroforestry dan sylvopasture.

Kawasan hutan sudah diokupasi oleh


masyarakat dan ada desa definitive , maka
diperlukan adanya program untuk membentuk
“Konsep Desa Hutan”. Karena konsep Desa
Hutan ini merupakan desa yang terbentuk
karena tekanan penduduk dan inisiatif PEMDA
Kabupaten Lampung Selatan yang didasarkan
pada PERDA.
• Konsep Desa Hutan harus dijabarkan dalam
bentuk fungsi dan peran hutan dan kawasan
hutan dilihat dari aspek ekologis (konservasi
dan lindung), fungsi ekonomi (produksi) dan
fungsi social budaya

Masalah tenurial sudah berlangsung sejak lama


dengan didudukinya kawasan hutan oleh pemukiman
serta fasum, fasos dan pusat perbelanjaan dalam
bentuk desa definitive. Hal ini terjadi karena tidak
koordinasi antara kementerian Kehutanan sebagai
penguasan kawasan dengan pihak penerbit sertifikasi
tanah. .

Perlu kebijakan yang dapat mengakomodir kebutuhan


masyarakat lokal. Program Kemenhut HTR, HKM atau
Hutan Desa dengan pendekatan agroforestry dan
silvopasture (khusus untuk kawasan hutan produksi
yang telah ada pemukiman dan peternakan) serta
melakukan tata batas ulang kawasan

Khusus untuk kawasan yang sudah diokupasi


masyarakat berupa desa definitive, diperlukan
adanya rekonstruksi konsep “Desa Hutan”.

8
20/05/2013

Terima Kasih