Anda di halaman 1dari 1

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Jati (Tectona grandis Liin.f.) merupakan salah satu jenis tanaman yang sudah banyak
dikenal dan dikembangkan oleh masyarakat luas dalam bentuk hutan tanaman maupun
hutan rakyat. Hal ini dikarenakan hingga saat ini Jati merupakan komoditas kayu meah,
berkualitas tinggi, harga jualnya mahal, dan bernilai ekonomis tinggi. Kayu Jati dapat
digunakan sebagai bahan dasar pembangunan ruma, kontruksi jembatan, kayu lapis,
rangka kusen, pintu, jendela, kerajinan pahat yang bernilai seni tinggi juga untuk
furniture. Di Indonesia, Jati merupakan salah satu tanaman yang mampu memberikan
kontribusi nyata dalam menyediakan bahan baku kayu. Kelebihan Jati tidak hanya
terletak pada kualitas kayu yang sangat bagus dan bernilai ekonomis sangat tinggi tetapi
juga karena sifat-sifat silvikulturnya yang secara umum telah dikuasai. Kayu jati tahan
lama dan kuat. Karena alasan-alasan tersebut maka banyak pihak Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), swasta, masyarakat, perusahaan-perusahaan ingin menanam mati.
Kebutuhan bibit Jati berkualitas dan unggul sangat tinggi. Salah satu Badan Usaha
Milik Negara berproduksi 200 juta bibit Jati unggul itupun hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhannya sendiri. Usaha mendapatkan tegakan Jati dengan kualitas dan kuantitas
tinggi dapat dilakukan melalui peningkatan atau perbaikan teknik budidaya antara lain
dengan tersedianya bibit bermutu baik dalam pengelolaan hutan Jati sudah lama
dilakukan, tetapi penggunaan bibit dari sumber benih bergenetik unggul/level terbaik
masih perlu digalakkan. Benih merupakan salah satu faktor penentu bagi keberhasilan
pembangunan hutan. Penggunaan benih unggul dapat meningkat produktivitas dan
kualitas Jati.