Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“PEMIKIRAN KALAM H.M ROSYIDI”


Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Ilmu Kalam

Dosen Pengampu : Mamluatur Rahmah, S.Psi.I, M.Ag

Anggota kelompok 12 :
1. MUHKLIS GUSTI AFANDI 185211092
2. ITA INDRIYANI 185211093
3. AH.ANDRE WIJAYA 185211094

MANAJEMEN BISNIS ISLAM


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
IAIN SURAKARTA

1
Kata Pengantar

Bismillahirrohmanirrohim
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Alhamdulillahhirobbil ‘Alamin, segala puji bagi Alloh Subhanahu Wa ta’ala.
yang senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul : “PEMIKIRAN KALAM H.M
ROSYIDI”

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada baginda besar Nabi


Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam., para sahabat dan keluarganya yang telah
membawa peradaban islam dari kegelapan sehingga terang seperti ini, Seperti
keberhasilan dalam hal mengajarkan hal nilai kebenaran dan peradaban manusia.

Terimakasih kepadan Teman-teman semua yang ikut andil dalam memberi


sport dan motivasi dalam rangka menyusun makalah ini. Dan kami memohon maaf
apabila penyusunan makalah ini banyak kesalahan dan kekurangan. Mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

2
DAFTAR ISI

Daftar Isi........................................................................................................................ 3
Kata Pengantar .............................................................................................................. 2
BAB I ............................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ........................................................................................................ 4
A. Latar Belakang ................................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 4
C. TUJUAN MASALAH ....................................................................................... 5
BAB II ........................................................................................................................... 6
PEMBAHASAN ........................................................................................................... 6
A. BIOGRAFI H.M ROSYIDI ............................................................................... 6
B. PEMIKIRAN H.M.ROYIDI .............................................................................. 8
C. KARYA-KARYA H.M ROSYIDI .................................................................. 12
BAB III ....................................................................................................................... 14
KESIMPULAN ........................................................................................................... 14
Daftar Pustaka ............................................................................................................. 15

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekitar tahun 1960-an adalah hal yang lumrah jika tamatan sekolah
Islam (pesantren atau perguruan tinggi) melanjutkan studinya ke berbagai
Negara Islam.Namun, sangat jarang sekali dari mereka yang melanjutkan
studinya ke Negara-negara Barat. Mohamad Rasjidi (1915-2001) adalah salah
satu pelajar muslim yang berkesempatan belajar di negara Barat. Oleh karena
itu, Rasjidi berupaya membuka jalan begi pelajar Indonesi agar mereka
berkesempatan belajar Agama Islam di Barat.
Mengenai hal ini, sososk dan pemikiran Rasjidi layak diteliti.
Meskipun sebagai alumni pesanren dan pernah belajar di timur tengah, bahkan
pernah menjadi dosen di Negara barat,1Rasjidi tak lantas terpesona dan
membangga-banggakan Barat dengan ilmu pengetahuannya. Rasjidi tetap
Kritis ia bahakan megeritik Mahasiswa Muslim Indonesia, tamatan perguruan
tinggi luar negri, yang pemikiranya terkontaminasi cara berpikir Barat. Untuk
itu, artikel ini akan megulas pemikiran Rasjidi tentang Islam dan Modernisme
di Indonesi dan Kritiknya para Akademis Muslim yang terkontaminasi
pemikiran modern Barat.

B. Rumusan Masalah
1. Siapa H.M Rosyidi?
2. Apa saja Pemikiran-Pemikiran tentang H.M rosyidi tentang Ilmu Kalam ?
3. Apa Saja Karya-karya H.M Rosyidi?

1
H.M Rasjidi, Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang “ Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya”,
(Jakarta Bulan Bintang, 1977), 5.

4
C. Tujuan Makalah
1. Mengetahui Siapa H.M Rosyidi
2. Mengetahui Pemikiran-Pemikiran H.M Rosyidi tentang Ilmu Kalam
3. Mengetahui Karya-Karya H.M Rosyidi?

5
BAB II

PEMBAHASAN

A. BIOGRAFI H.M ROSYIDI


Nama lengkapnya Prof. Dr. H. Mohammad Rasjidi,2 yang dilahirkan
di Kota Gede pada hari kamis pahing tanggal 20 Mei 1915 M atau bertepatan
pada tanggal 4 Rajab 1333 H di Kota Gede. Rasjidi anak kedua dari 5 orang
bersaudara.3Ayahnya bernama Atmosudigdo, seorang pengusaha batik yang
sukses dan perpengaruh, baik di lingkungannya maupun di daerah lain,4 serta
hidup dalam suasana Jawa-Islam (Kejawen), dalam arti meskipun mengaku
Islam tetapi tidak menjalankan syariat Islam.Golongan demikian dalam
masyarakat Jawa disebut Abangan, artinya Islam hanya pengakuan/faktor
keturunan.5
Walaupun orang tuanya kaum Abangan.HM Rasjidi dan saudaranya
tidak mau dikatakan sebagai pemeluk agama selain Islam. Hal ini

2
Muhammad Rasjidi adalah nama yang diberikan oleh Ahmad Sukratt. Nama kecilnya adalah saridi, yang
kedengan sedikit tipikal nama Jawa. Namun nama Muhammad Rasjidi di pakai secara resmi setelah beliau
menunaikan ibadah Haji. Hal ini menjadi cermin transformasi spiritual. Sehingga pemilik nama tersebut menjadi
lebih religius baik lahir maupun batin.
3
Pertama bernama sapardi, yang ketiga sadjiman, menjadi ahli bedah, ke empat sakidan, sarjana ekonomi, dan
terakhir sadjina yang menjadi istri Yazid ahli bedah cirebon. Lihat.N. Soebagijo, “Dari saridi ke Rasjidi” dalam
Endang Basri Ananda (Penyunting), 70 Tahun Prof. Dr. H.M. Rasjidi, (Jakarta: Harian Umum Pelita, 1985), h.
6.
4 Syamsuddin, op.cit., h. 28.
5 Ciri utama pandangan orang abangan ialah bahwa dunia dihayati penuh dengan roh-roh atau bangsa halus. Tata
cara hidupnya masih dikuasai tradisi pra islam yang menitikberatkan pada perpaduan unsur-unsur Islam, Hindu-
Budha dan sinkretisme yang sering dinamakan “agama Jawa” sebagai teradisi rakyat. Lihat Frans Magnis
Suseno dan S. Reksesusilo, Etika Jawa dalam Tantangan: Sebuah Bunga Rampai, (Yogyakarta: Kanisius,
1983), h. 47.

6
membuktikan bahwa dalam kehidupan sehari-hari Rasjidi dan saudara-
saudaranya yang lain diajari tata cara shalat dan membaca Al-Qur’an yang
setiap pagi gurunya datang ke rumah.6 Setelah itu, Rasjidi masuk ke sekolah
Ongko Loro, setingkat sekolah dasar yang berada di kampong halamannya.7
Kemudian meneruskan studinya ke Holland Schinlandsche School (HIS)
Muhammmadiyah di Kota Gede. Selanjutnya, Rasjidi masuk ke Kweekschool
Muhammadiyah atau sekolah pendidikan guru model belanda di Yogyakarta.
Disekolah ini Rasjidi tidak menyia-nyiakan waktu untuk belajar dengan
sebaik-baiknya dengan mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang diadakan
oleh pihak sekolah, seperti Hizbul Wathan (WH) dan kegiatan-kegiatan lain
yang dapat menunjang atau membantu kreativitas belajarnya di sekolah.8
Meskipun sekolah ini cukup komprehensif, namun Rasjidi merasa
kurang cocok pada pelajaran yang diperoleh dari bangku sekolah dengan
tuntutan jiwanya menghendaki lebih dari apa yang diterimanya dari sinilah
awal pengembaraan intelektual dan spiritualnya sudah terlihat. Berkat
kerajinan Rasjidi disamping membaca buku pelajaran di sekolah, ia juga
gemar membaca majalah dan surat kabar yang menjadi langganan ayahnya.
Melalui surat kabar inilah Rasjidi dapat mengetahui perguruan Islam modern
Al-Irsyad Islamiyah (dikenal dengan Irsyad) dibawah pimpinan Syekh Ahmad
Surkatt Al-Anshori (W. 1943)9 yang berada di jawa timur, sebelumnya
6 M. Rasjidi, Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam?, (Jakarta : Bulan Bintang, 1974), Cet. 3, h. 9.
7 Nina M, Armando (ed), Ensikopedi Islam, jilid. VI (Jakarta: Ikctiar Baru Van Hoeve, 2005), h. 41.
8 Pada Masa itu Kweekschool Muhammadiyah Sekolah ini secara tidak langsung merupakan tempat pemusatan
pemuda muslim indonesia, muridnya berasal dari berbagai daerah, seperti ujung padang (Makasar), manado,
minangkabau dan kalimantan barat, serta daerah-daerah lain yang ada di pulau jawa. Lihat soebagijo, op.cit., h.
45.
9 Ahmad surkatt lahir di sudan pada tahun 1871 M. Pernah belajar di masjidil haram, dan datang ke indonesia
1911 di kontrak oleh jami’atul khairiyah yang dikelola sejumlah sayyid. Namun dalam perkembangannya
surkatt bentrok dengan sayyid tersebut, sehingga memisahkan diri lalu membuat organisasi dengan nama al-
Irsyad. Lihat Baha Uddin, “pembaharuan hukum Islam di indonesia: studi pemikiran Harun Nasution dan M.
Rasjidi”, Skripsi yang tidak diterbitkan pada Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005, h. 93.

7
bertempat di Jakarta.10Sedangkan guru-guru yang mengajar di sekolah ini
berasal dari Mesir, Sudan, Mekkah dan Indonesia sendiri.11 Hal ini membuat
Rasjidi tertarik dengan berkirim surat dan menjelaskan niatnya untuk menjadi
siswa di sekolah tersebut. Selangg beberapa waktu diterima jawabannya yang
mempersilahkan Rasjidi datang ke Lawang, Jawa timur. Setelah mendapat
izin dari kedua orang tuanya, Rasjidi yang pada waktu itu memasuki usia
antara 14 dan 15 tahun.12

B. PEMIKIRAN H.M.ROYIDI
Rajidi menegasakan akan pentingnya mengetahui dan megetahui
estimologi islam dalam pendidikan tinggi. Walau bagaimanapun, tanpa
megetahui prinsip-prinsip asas epistemologi islam, seorang muslim mungkin
tidak dapat melihat perpaduan pemikiran dalam tradisi intelektual islam.13
Kriteria benar atau salah terhadap sesuatu perkara dan penilaian
terhadap etika haruslah berdasarkan ilmu syariat (al-Qur’an dan al-Sunnah),
sehingga seseorang betul-betul menjiwai agama islam.14 Hal tersebut juga
ditegaskan oleh imam al-Ghazali bahwa sesorang muslim tidak akan
mengenal kebenaran ataupun kebatilan akan sesuatu melainkan melalui dalil
syariat.15
Kebudayaan Barat modern dan pemikirannya mempunyai ciri khas
utama, yaitu menyempitkan doktrin agama Kristen dan atau bahkan

10 Ibid.,
11 Muhmud Yunus, Sejarah pendidikan islam indonesia, (Jakarta: mutiara sumber widya, 1995). Cet. 4, h. 307.
12 Soebaginjo, op.cit., h.7.
13 H.M. Rasjidi, “ Cara Berfikir yang berbahaya karena sederhana”, panji masyarakat, 21-13 Desember 1988, 8-9:
Mohammad rasjidi, “Unity and Deversity in Islam”. Dalam islam the straight path, ed. Kenneth W. Morgan,
(Delhi: Motilal Banarsidass Publishers. 1987), 419-424.
14
H.M Rasjidi, Islam dan nilai-nilai modern, (Jakarta: Serial Media Da’wah, T.Th.), 21: faham tentang islam
dalam kesusasteraan djawa, (Jogjakarta: Perguruan tinggi agama islam negri, 1955), 34.
15 Abu Hmid Al-Ghozali, al-Istishad fi al-I’tiqad, (Beirut: dar al-minhaj, 2012), 86.

8
menghilangkannya. Hal ini tidak lain adalah dampak dari perkembangan ilmu
pengetahuan yang berdasarkan filsafah sekuler. Akibatnya, doktrin agama
dalam kehidupan masyarakat (politik dan kebudayaan serta intelektual)
menjadi semakin sempit atau bisa jadi tidak dihiraukan. Kalaupun agama
tersebut dihiraukan, ia hanya sebatas ritual tertentu, seperti kelahiaran,
perkawinan dan kematian. Mengapa barat memilih modern sekunder? Ini tak
lepas dari sejarah mereka, di mana pada masa itu masyarakat eropa (baca:
Barat) mengalami pergolakan pemikir yang berorientasi pada akal. Semangat
dan pandangan hidup Barat itu disebut moderensasi.
Yang disulut oleh semangat keilmuan (scientific)pandangan hidup
yang scientificinisangat bercorak paham sekularisme, rasionalisme,
empirisisme, cara berpikir dikotomik, desakralisasi, pragmatism, dan penafian
kebenaran metafisis (baca: agama).16

Oleh karena peran agama tidak dilibatkan secara menyeluruh dalam aspek-
aspek duniawi, maka perkembangan pengetahuan yang berasaskan
rasionalisme lebih dominan dalam menguraikan tujuan hidup manusia,
bahkan lebih dominan daripada agama itu sendiri. Jika pemikiran sains
sekuler digunakan untuk mendalami tradisi intelektual islam, maka ilmu dan
nilai-nilai islam bisa didefenisikan ulang (redfine) berdasarkan krangka
berpikir dualistik dan humanism.
Di sini terlihat, bahwa ilmu tidak netral. Siapapun dapat memberi
makna terhadapnya sesuai krangka berpikir yang , mendasarinya.17 Karena,

16 Hard Armatanto, “Problem pluralisme Agama”, Tsaqofah, vol. 10, no. 2, november (2014): 330-331. Lihat juga
H.M. rasjidi, filsafat agama, (Jakarta: bulan bintang, 1970), 17-20; keutamaan hukum islam, (Jakarta: bulan
bintang, 1980), 18; strategi kebudayaan dan pembaharuan pendidikan Nasional, (Jakarta: bulan bintang, 1980),
64.
17 Lihat syech muhammad Naqui al-attas, ploregomena to the metaphysich of islam, (kuala lumpur: ISTACA,
2001), 38, 113-4; wan mohd nor wan daud, the educational philosophy and pratice of syed muhammad naquib

9
Rasjidi mengingat seorang muslim untuk berhati-hati terhadap pemikitran
sarjana Barat yang sekuler dalam mengkaji islam. Meski demikian, rasjidi
tidak menafikan bahwa di antara mereka ada yang bersikap ilmiah dan
objektif, yang megkaji islam tanpa tujuan mendistorsi. Mereka yang demikian
akhirnya akan menyadari bahwa agama islam dan epistemologinya adalah
benar dan tidak mungkin palsu.18 Sebab melalui penelitian tersebut, tentunya
dengan hidayah alllah SWT, sebagian dari mereka memilih menjadi seorang
muslim. Jika memang tidak menjadi seseorang mulim, makna ia akan
memberikan pandangan yang tepat sesuai dengan islam.19
Rasjidi menegaskan lagi walaupun ada bagian dari pada akademis
Barat yang secara jujur menaruh hormat kepada tradisi intelektual Islam, tapi
masih ada juga dari mereka yang menaruh sikap benci, curiga, dan kurang
tepat, sehingga dapat menimbulkan kekeliruan orang Islam.20 Ada kesan yang
ingin ditinggalkan oleh sebagian mereka bahawa didalam konsep pemikiran
dan sumber keilmuan islam terdapat kekeliruan dan gejoalk yang tidak
berkesudahan.

Menurut mereka, hal ini disebabkan oleh adanyakonflik politik dan sosial
yang terdapat pada diri di umat Islam dalam memandang Barat.Hal ini
ditekankan oleh Harun Nasution, dan menjadikannya alasan ketika

al-Attas, (kuala lumpur: ISTAC, 1998), 72. Harda Armayanto, ed., Framework studi Islam: kajian multidisiplin
wacana keislaman kontemporer,( ponorogo: Fakultas Ushuluddin Unida Gontor dan Unida Gontor Press).
18 H.M. Rasjidi, koreksi terhadap Dr. Harun Nasution...., 4.
19 H.M. Rasjidi, “Apakah Kebatinan itu?” dalam disekitar kebatinan, ed. Warsito, Rasjidi dan Hasbullah Bakry,
(Jakarta: bulan bintang , 1973), 32.
20 H.M. Rasjidi, Hukum Islam Dan pelaksanaan dalam sejarah, (Jakarta: bulan bintang, 1976), 24-26.

10
megajarkan pemikiran moderenisme Ilam di perguruan tinggi di
Indonesia.Harun beranggapan bahwa ide pembaharuan (moderensasi)
pengetahuan dan pemikiran yang bersal dari barat masih mendapat tantangan
dan dicurigai ulama.21
Rasjidi menilai bahawa pandangan Harun tersebut menunjukan sikap
benci, anti-Islam, dan menunjukan sikap kritis terhadap pemikiran orientalis.
Beliau bahkan megatakan bahwa Harun Nasution sudah menelan apa saja
yang telah ditulis oleh orientalis yang anti-Islam, tanpa menggunakan daya
kritis pemikiranya sebagai seorang sarjana.22 Karenanya, Rasjidi sangat
kecewa. Apalagi, cara pandang Harun yang demikian itu telah tertulis dalam
buku-bukunya dan diajarkan di perguruan tinggi Islam tanpa analisis. Isi buku
tersebut digambarkan Rasjidi bagaikan”telah megusap wajah Islam dengan
debu yang basah, sehingga wajahnya tampak dalam keadaan seburuk-
buruknya.”23
Rasjidi menilai hal tersebut dapat menimnbulkan sikap ragu dan
rendah diri (inferiority) padadiriIntelektual Muslim, sehingga pada mereka
yang belum kuat dasar keilmuanya, terutama yang berkenaan dengan
epistemology dan tradisi Intelektual Islam, akan berepengaruh pandangan
hidup Barat.24 Selain itu, akan juga berakibat pada hal-hal berikut;
menimbulakan keengganan seseorang mahasiswa muslim untuk mempelajari
Islam, disebabkan oleh sifat rendah diri tersebut; menjauhkanya dari sikap
meghargai ulama dan tradisi Intelektual Islam: dan melemahkan daya kritis
tehadap segala hal yang bertentangan dari ajaran agama Islam.

21 Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, (Jakarta: bulan bintang 1974) Jil. 2, 94.
22 H.M. Rasjidi, koreksi terhadap Dr. Harun Nasution....,128.
23 H.M. Rasjidi “Resensi buku pergolakan pemikiran Islam Ahmad Wahib”, Dalam kiblat, no 16, 1992, 29-30.
24 H.M. Rasjidi, “Cara Berpikir yang berbahaya...”,9.

11
C. KARYA-KARYA H.M ROSYIDI
1. Karya Asli
Rasjidi sebagai seorang intelektual Muslim yang berbasis akademis,
mantan diplomatic perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia dan
Mentri Agama pertama yang multidemensi, banyak menghasilakan karya
tulis yang dapat dijumpai dalam bentuk buku, jurnal, majalah diantaranya
adalah:
1. Islam Menentang Komunisme(yayasan Islam Study Club, 1965).
2. Islam di Indonesia di zaman moderen Bulan Bintang 1966)
3. Islam dan Kebatinan (Bulan Bintang 1967)
4. Mengapa aku tetap memeluk Agama Islam? (Bulan Bintang 1968)
5. Keutamaan Hukum Islam (Bulan Bintang 1971)
2. Karya Terjemahan
Rasjidi adalah sesorang putra bangsa Indonesia yang menimba ilmu di
dunia Timur dan Barat, sehingga membentuk salah satu kecenderungan
intelektual di samping menguasai bahasa Arab juga mendapat sertifikat
dalam bahasa Inggris dan Prancis yang membuat ia mamapu
menterjemahkan beberapa karya pemikiran Barat ke dalam bahasa
Indonesia yang dapat memperbaiki image Islam dalam pemikiran orang-
orang Barat , seperti :
1. philoshophy of Religion (filsafat Agama) karya David Trueblood
(Bulan Bintang, 1965)
2. Ia Bieble, le coran et la Science (Bieble, Qur’an dan Sain Moderen)
karya Maurice Bucaille (bulan Bintang 1978)
3. Promesses de l’Islam (janji-janji Islam) karya Roger Graudy (Bulan
Bintang 1982)
4. Living Issues In Philoshophy (persoalan-persoalan filsafat) karya
Harold H.Titus, Marilyn s. Smith dan Richard T. Nolan (Bulan
Bintang, 1984).

12
5. L’Humanisme de l’Islam (Humanisme dalam Islam) Karya Marcela
Boisard, (Bulan Bintang, 1990).

13
BAB III

KESIMPULAN

Mohammad Rasjidi dengan latar belakang pendidikan barat dan Islam, di satu sisi
membuatnya dapat lebih jelas tantangan kebudayaan dan pemikiran modern Barat
dan di sisi lain dapat menilai kesalahan metode barat itu untuk kemudia menampilkan
cara berfikir yang berlandaskan pandangan hidup islam (worldview of islam).
Pemikiran modern barat yang merasuk ke dalam pola pikir cendikiawan muslim
indonesia, khususnya yang berada pada lugkup perguruan tinggi islam, tak lepas dari
kritik rasjidi.
Rasjidi menilai bahwa modernisasi dalam ajaran islam yang dipengaruhi cara
berfikir barat adalah berbahaya. Itu karena di dalamnya terkandung sekularisasi yang
dapat menjatuhkan wibawa dan kesucian agama. Rasjidi dengan mengunkan
kerangka tauhid, meletekkan dan menguraikan fungsi akal, kemajuan ilmu
pengetahuan, fakta sosial yang berubah, sesuai dengan kerangka berfikir islam. Dari
sini, rasjidi mempu memilah dan memilih mana yang sesuai dengan ajaran islam di
tengah arus tafsiran sekuler barat yang terbungkus dalam ide modernisme.

14
Daftar Pustaka

Yusuf. 2015. Biografi dan Karya Rasjidi.UIN Sunan Kali Jaga, Yogyakarta.
Mohammad Zakki Azani, Kahlif Muammar Al-Haris. Jurnal Tsaqofah Vol. 15, No.
1, Mei 2019. Islam dan Modernisme di Indonesia: Tinjauan atas pemikiran
Mohammad Rasjidi (1915-2001). University Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur.

15