Anda di halaman 1dari 13

UJIAN AKHIR SEMESTER

ANATOMI dan HISTOLOGI SISTEM REPRODUKSI


(GENITALIA PRIA)

Oleh:
HASVIA BERLIANI
NO BP : 1920332027

PROGRAM STUDI S2-ILMU KEBIDANAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
GENITALIA PRIA

1. Genitalia Internal
a. Testis
1) Anatomi Testis
Testis berjumlah 2 dengan
bentuk ovoid, pipih dengan
ketebalan ± 2,5 cm, berwarna
putih, terletak di dalam cavum
skroti. Testis terletak di ekstra
abdominal atau di luar perut testis
berada pada kantung scrotum
kanan dan kiri pada umumnya
testis sebelah kiri letaknya lebih
rendah dibandingkan sebelah
kanan. Ukuran testis rata –rata 4 x
3 x 2,5 cm, dengan berat ± 32
gram.
Morfologi testis terdapat 2
permukaan datar disebut facies
lateralis medialis dan 2 kutub atau
polus yaitu polus superior dan
polus inferior. Testis dibungkus oleh tunika vaginalis pars parietalis, tunika
vaginalis pars visceralis, tunika albuginea dan tunikavaskulosa. Testis memiliki
lobulus yang dipisahkan oleh septum testis yang dibentuk dari penebalan tunika
albuginea. Setiap lobus pada testis terdiri dari tubulus seminiferus dan
interstitial testis.
Nutrisi testis utamanya dipasok oleh arteri testicularis yang merupakan
cabang dari aorta abdominalis. Cabang-cabang arteri testikularis ber-
anasotomose dengan arteri dari duktus deferens. Drainase vena dari testis dan
epididimis dimulai dari plexus pampiniformis yang kemudian akan membentuk
vena testikularis. Vena testikularis kanan masuk ke vena cava inferior
sedangkan yang kiri akan bergabung dengna vena renalis kiri. Drainase limfe
mengikuti pembuluh darah testikularis berada didalam spermatic cordmenuju
ke nodula limfatik daerah lateral aorta atau lumbal dan pre-aortic lumbal dua.
Testis disarafi oleh plexus testikularis yang berisi parasimpatis n. vagus,
serabut afferent visceral dan serabut simpatis yang berasal dari segment torakal.

2) Histologi Testis
Testis dibungkus oleh tunika vaginalis pars parietalis dan tunika vaginalis
pars visceralis yang dipisahkan oleh celah berisi cairan serosa jaringan pengikat
ini dilapisi mesotel sedangkan tunika albuginea memiliki jaringan pengikat
padat fibrosa. Tunika albuginea ini adalah lapisan yang langsung menempel
pada parenkim testis dan menebal membentuk septum yang memisahkan
lobulus testis.
Di sepanjang septulum terdapat tunika vaskulosa yang berasal dari jaringan
pengikat longgar yang berbentuk anayaman dari pembuluh –pembuluh darah
yang nantinya akan berlanjut sebagai jaringan interstitial. Interstitial testis ini
berisi makrofag, fibroblas, mastosit dan sel mesenkim.
Terdapat juga sel leydig yaitu sel endokrin pada testis yang berfungsi
sebagai produksi hormon kelamin laki –laki atau biasa disebut sebagai hormon
testosteron. Di bagian tengah testis terdapat mediastinum yaitu tempat
penebalan sebagai tempat berakhirnya septum testis atau bisa disebut juga
daerah penebalan diujung testis. Mediastinum ini diisi oleh tubulus rektus dan
rete testis.
Tubulus rektus adalah bagian akhir dari tubulus seminiferus dan memiliki
epitel kuboid selapis. Sedangkan rete testis adalah lanjutan dari tubulus rektus,
sebuah ruangan yang memiliki dinding tidak rata dan memiliki epitel skuamus
simpleks. Rete testis ini nantinya akan berlanjut sebagai duktus
efferen.14,15Tubulus seminiferus memiliki bentuk seperti pipa berkelok –
kelok memiliki diameter 150 –250 μm dan berfungsi sebagai pars sekretori dari
kelenjar sitogenik. Dinding tubulus seminiferus memiliki epitel yang berlapis
yaitu 4 sampai 8 lapis. Terdapat sel spermatogenik yaitu spermatogonium,
spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, spermatozoa, terdapat
juga sel penyokong yaitu sel sertoli yang berfungsi menyokong pemberian
nutrisi untuk proses spermatogenesis dan terdapat membrana basalis. Lamina
propianya terdapat sel –sel mesenkhim dari jaringan interstitial dan sel myoid
yang terdiri dari epiteloid dan jaringan kontraktil.

(Histologi Testis)
(Histologi Tubulus Seminiferus)

(Histologi Spermatogenesis Pada Tubulus Seminiferus Pada Sel Sertoli)

3) Fisiologi Testis
Testis memiliki fungsi ganda, yaitu untuk memproduksi hormon yaitu
androgen, testosteron dan dihidrotestosteron, dan untuk memproduksi
spermatozoa. Sekitar 80% dari massa testis terdiri dari tubulus seminiferus.
Proses pembentukan spermatozoa disebut spermatogenesis. Spermatozoa
dibentuk dari sel germinal primitif di sepanjang dinding tubulus seminiferus.
Di dalam tubulus seminiferus juga terdapat sel Sertoli yang memiliki fungsi
membantu sel germinal dalam memelihara suasana agar sel tersebut dapat
berkembang dan menjadi dewasa, mengirimkan sinyal untuk memulai
spermatogenesis dan mempertahankan perkembangan spermatid, mengatur
fungsi kelenjar pituitari sekaligus mengontrol spermatogenesis.
Di antara tubulus seminiferus terdapat sel Leydig yang memproduksi
testosteron dan dihidrotestosteron keduanya adalah suatu hormon steroid yang
berasal dari prekursor kolestrol. Hormon ini akan disekresikan ke dalam aliran
darah terutama dalam bentuk terikat ke protein plasma menuju ketempat
kerjanya. Sebgaian dari testosteron yang baru dibentuk mengalir ke lumen
tubulus seminiferus tempat hormon ini berperan penting dalam produksi
sperma.
Efek testosteron dapat dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu (1) Efek
sebelum lahir, untuk memaskulinisasi saluran reproduksi dan genetalia
eksterna, serta mendorong turunnya testis ke dalam skrotum, (2) Efek pada
jaringan spesifik seks setelah lahir, untuk mendorong pertumbuhan dan
pematangan sistemreproduksi saat masa pubertas serta proses spermatogenesis
dan memelihara saluran reproduksi sepanjang masa dewasa, (3) Efek terkait
reproduksi lainya, untuk membentuk dorongan seks saat pubertas dan
mengontrol sekresi hormon gonadotropin, (4) Efek pada karakteristik seks
sekunder, untuk memicu pertumbuhan rambut pria contohnya janggut serta
menyebabkan suara lebih berat karena menebalnya lipatan pita suara dan
mendorong pertumbuhan otot yang membentuk pola tubuh pria, (5) Efek non-
reproduktif, untuk efek anabolik protein, mendorong pertumbuhan tulang saat
pubertas, menutup lempeng epifisis setelah diubah menjadi estrogen oleh
aromatase dan memicu perilaku agresif.
Pada testis tubulus-tubulus seminiferus akan bergabung membentuk duktus
yang lebih besar yang disebut tubulus rektus. Tubulus rektus akan membentuk
rete testis yang akan berakhir membentuk duktus efferen. Di dalam tubulus -
tubulus tersebut mengalir cairan seminalis yang mengandung sperma dari testis
menuju ke epididimis. Dari epididimis spermatozoa memasuki vas deferens
lalu duktus ejakulatorius dan terakhir menuju ke urethra. Testis normal berada
di dalam kantung yang disebut skrotum, berfungsi untuk melindungi testis dan
menjaga agar suhu testis sekitar 1,5 –2 ºC dibawah suhu tubuh.

4) Spermatogenesis
Spermatogenesis adalah proses berkelanjutan dari pembelahan sel
germinal untuk menghasilkan spermatozoa yang terjadi epitelium tubulus
seminiferus melalui tahap perubahan dari spermatogonia yang masing –masing
mengandung komponen diploid 46 kromosom mengalami proliferasi dan
diubah menjadi spermatozoa yang sangat khusus dan dapat bergerak masing –
masing mengandung komponen haploid 23 kromosom yang terdistribusi secara
acak.
Spermatogenesis terjadi di dalam semua tubulus seminiferus saat mulai
masa seksual aktif akibat dari rangsangan hormon gonadotropin releasing
hormone(GnRH) pada hipotalamus yang akan memberikan sinyal pada
hipofisis anterior untuk mengeluarkan hormon FSH yang berfungsi untuk
merangsang pembentukan sperma secara langsung serta merangsang sel sertoli
untukmenghasilkan androgen binding protein (ABP) untuk memacu
spermatogonia dalam melakukan spermatogenesis, hormon GnRH juga
merangsang pengeluaran hormon LH yang berfungsi untuk merangsang sel
leydig untuk memperoleh sekresi testosteron suatu hormon seks yang penting
untuk perkembangan sperma.
Pengeluaran hormon ini dimulai rata-rata padausia 13 tahun dan berlanjut
seumur hidup. Proses spermatogenesis dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu
proliferasi mitotik, meiosis, dan pengemasan atau spermiogenesis. Pada tahap
awal spermatogenesis, spermatogonia primitif mengandung komplemen
lengkap 46kromosom identik dengan sel induk berkumpul di tepi membran
basal epitel germinativum untuk mempertahankan sel germinativum, disebut
sebagai spermatogonia tipe A, spermatogonia tersebut membelah menjadi sel
yang sedikit lebih berdiferensiasi, yaitu spermatogonia tipe B. Pada tahap ini
spermatogonia bermigrasi ke arah sentral lumen di antara sel-sel sertoli untuk
menghasilkan spermatozoa.
Dalam waktu kira-kira 24 hari setiap spermatogonium yang melewati
lapisan pertahanan masuk ke dalam lapisan sel Sertoli dimodifikasi secara
berangsur-angsur dan membesar untuk membentuk spermatozit primer yang
besar dengan 46 kromosom. Setelah pembelahan mitotik terakhir, spermatosit
primer masuk ke fase istirahat saat kromosom –kromosom terduplikasi dan
untai –untai rangkap tersebut tetap menyatu sebagai persiapan untuk
pembelahan meiosis pertama. Pada akhir hari ke-24, terjadi pembelahan
meiosis pertama yaitu setiap spermatosit primer terbagi dua menjadi
spermatosit sekunder masing –masing dengan jumlah haploid 23 kromosom
rangkap. Dalam 2 sampai 3 hari meiosis kedua terjadi menghasilkan empat
spermatid yang masing –masing memiliki 23 kromosom tunggal. Setelah fase
meiosis selesai, tidak lagi terjadi pembelahan sel.
Setiap spermatid mengalami modifikasi menjadi sebuah spermatozoa
pada proses pengemasan atau yang biasa disebut sebagai fase spermiogenesis.
Selama beberapa minggu berikutnya setelah meiosis, setiap spermatid secara
perlahan-lahan berubah menjadi spermatozoa dengan (1) menghilangkan
beberapa sitoplasmanya dimana sebagian besar sitosol dan semua organel yang
tidak dibutuhkan untuk menyampaikan informasi genetik sperma ke ovum
telah disingkirkan karena itu sperma dapat bergerak cepat, (2) mengatur
kembali bahan kromatin dari inti spermatid untuk membentuk satu kepala yang
padat terutama terdiri dari nukleus yang mengandung infromasi genetik sperma
serta terdapat akrosom vesikel berisi enzim yang menutupi ujung kepala
digunakan sebagai bor enzim untuk menembus ovum, dan (3) mengumpulkan
sisa sitoplasma dan membransel pada salah satu ujung dari sel untuk
membentuk ekor seperti cambuk yang gerakannya dijalankan oleh energi yang
dihasilkan oleh mitokondria yang terkonsetrasi di bagian tengah sperma. Proses
pembentukan spermatozoa ini membutuhkan waktu kira-kira 64 hari.

(Tahapan Pembelahan Spermatogenesis)


(Spermatogenesis Pada Tubulus Seminiferus)

b. Tractus Genitalis
1) Ductus Efferens
Tubulus serniniferus dibagian atas lobus membentuk tubulus lurus(tubulus
rectus)dan masuk kebagian testis yang disebut Rete testisdan keluar sebagai
duktus eferens.
2) Ductus Epididimis
Saluran ini menempel pada testis. Saluran epididimis merupakan duktus
eferens bersatu yang berkelok-kelok. Sperma membutuhkan waktu 20hari di
epididimis yang panjangnya hampir mencapai 6 meter. Selama perjalanan
sperma di epididimis, sperma menjadi motil dan mendapatkan kemampuan
untuk membuahi. Lapisan otot saluran ini, makin tebal kearah ekor, ini sesuai
dengan fungsi epididimis untuk mendorong sperma menuju ke vas deferens.
3) Vas Deferens
Merupakan saluran berotot yang keluar dari ekor epididimis menuju
keuretra, tetapi sebelum sampai di uretra, terjadi pelebaran saluran yang disebut
ampula, diakhir saluran ampula akan bersatu dengan saluran vesika seminalis
membentuk saluran kecil yang disebut duktus ejakulasi, duktus inimasuk
kedalamprostate dan bermuara pada uretra. Saluran uretra disamping
merupakan saluran eksresi juga sebagai saluran reproduksi
4) Ductus Ejaculatorius
Setiap saluran ejakulasi dibentuk oleh penyatuan vas deferens dengan
saluran vesikula seminalis .Mereka melewati prostat , dan membuka ke dalam
uretra di colliculus seminalis . Selama ejakulasi, semen melewati kelenjar
prostat, memasuki uretra dan keluar dari tubuh melalui meatus urine.
2. Genitalia Eksterna
a. Scrotum
Scrotum adalah kantong yang membungkus dari testis, epididimis, dan ujung
bawah funiculus spermatikus. Scrotum berfungsi sebagai termoregulator yang
mengatur suhu testis agar tetap terjaga dalam suhu yang normal agar sperma tidak
rusak. Pada keadaan dingin scrotum akan mengkerut untuk mendekatkan testis
dengan tubuh agar tetap hangat. Namun sebaliknya ketika panas maka scrotu akan
merenggang untuk menjauhkan testis dari tubuh.Scrotum dibentuk oleh cutis scroti
pada bagian luar. Bagian tengah dari scrotum akan membentuk lipatan-lipatan yang
disebut raphe scroti ( rugae scroti ).

Lapisan scrotum :
 Cutis scroti : lapisan kulit luar scrotum
 Tunica dartos : terdapat muskulus dartos yang di persarafi oleh saraf simpatis
yang mengakibatkan scrotum menggerut pada saat dingin atau menggendur
pada suhu panas.
 Fascia spermatica externa : adalah lanjutan dari muskulus oblique eksternus
abdominalis.
 Tunica cremaster : terdapat muskulus cremaster lanjutan dari muskulus oblique
internus abdominalis. Musculus cremaster dapat di uji kontraksinya dengan
cara menggores kulit paha bagian dalam. Ini di uji untuk melihat Refleks
Cremaster. Serabut aferen berjalan pada ramus femoralis nervus
genitofemoralis sedangkan serabut eferen berjalan pada ramus genitalis nervus
geniofemoralis. Muskulus scremaster berfungsi mengangkat testis pada suhu
dingin.
 Fascia spermatica interna : berasal dari fascia transversalis.
 Tunika vaginalis testis : terbagi menjadi dua yaitu lamina viceralis ( epiorchium
) adalah bagian yang langsung melekat pada testis. Lamina parietal (
periorchium ) bagian yang tidak melekat langsung dengan testis.
b. Penis
Anatomi dan histologi penis penting
diketahui dalam penentuan stadium dan
pemahaman karsinoma penis. Penis
tersusun atas tiga bagian yaitu akar,
korpus dan glans. Bagian akar berperan
dalam fiksasi dan stabilitaspenis. Bagian
korpus merupakan bagian terbesar,
tersusun atas tiga jaringan erektil dan
kenyal berbentuk silindris, yaitu
sepasang korpora kavernosadan sebuah
korpus spongiosum. Korpora
kavernosaterletak di bagian dorsal penis
dan korpus spongiosum terletak di aspek
ventral penis, mengelilingi urethra di
bagian pusatnya. Glans penis merupakan
perluasan distal dari korpus spongiosum,
bentuknya mengerucut dan dibungkus
oleh prepusium
Prepusium merupakan jaringan tipis, warnanya gelap dan berhubungan longgar
dengan tunika albugenia. Jaringan prepusium tersusun atas lima lapisan,yaitu
epidermis, dermis, otot Dartos, lamina propria dan epitelskuamousmukosa. Jaringan
epidermis dan dermis serupa dengan jaringan di bagian kulit lainnya, tetapitidak
mengandung jaringan lemak subkutis. Kelenjar minyak(kelenjar Tyson) dapat
ditemukan pada dermis bagian superfisial. Kelenjar initidak berkaitan dengan folikel
rambut maupun kelenjar keringat. Epitel skuamous mukosa prepusium merupakan
kelanjutan dari epitel skuamous pada glans dan sulkus balanoprepusium.
Glans penis terdiri dari lapisan epitel, lamina propria, korpus spongiosum,
tunika albugenia dan korpora kavernosa. Epitel glans terdiri dari tiga sampai lima
lapis sel-sel epitel skuamous, tanpa atau dengan keratinisasi, tergantung status
sirkumsisi. Pada laki-laki yang tidak disirkumsisi, mukosa glans dilapisi sel-sel
epitel skuamous tanpa keratinisasi, sedangkan padalaki-laki yang disirkumsisi
berkeratinisasi. Lamina propria merupakan lapisan jaringan ikat longgar setebal 1-3
mm, mengandung pembuluh darah kecil, pembuluh limfe, saraf dan korpuskel
Vater-Pacini. Dalam korpus spongiosum terdapat urethra yang bermuara pada
bagian meatus glans. Meatus berhubungan dengan prepusium melalui suatu struktur
triangular di ventral mukosa yang disebut frenulum. Korona adalah jembatan
sirkuler yang sedikit meninggi yang mengelilingi glans dan menjadi basis dari
kerucut.

(Histologi Penis)
Korpus spongiosum merupakan jaringan utama penyusun glans penis, berupa
jaringan erektil setebal 8-10 mm,tersusun atas pembuluh darah, jaringan 12 otot
polos dan saraf perifer. Transisi antara lamina propria dan korpus spongiosum tidak
berbatas tegas sehingga sulit ditentukan. Korpora kavernosamerupakan komponen
utama korpus penis,memanjang ke arah glans dengan ukuran bervariasi antar
individu. Korpus spongiosum dan korpora kavernosadipisahkan oleh suatu membran
fibroelastik yang padat dan putih yaitu tunika albugenia. Tebal tunika albugenia1-2
mm dalam kondisi flasid, dan semakin menipis dalam kondisi ereksi. Jaringan ini
berperan sebagai barier yang menghalangi penyebaran kanker ke korpora kavernosa.
Sulkus koronarius merupakan celah sempit melingkar di perbatasan antara glans
dan korpus penis. Sulkus tersusun atas epitel skuamus, lamina propria, otot Dartos
dan fascia Buck. Sulkus koronarius merupakan area umum terjadinya kekambuhan
karsinoma atau batas tumoryang sering diinvasi oleh sel-sel ganaspada kanker
prepusium primer.

(Anatomi Penis)

Bagian korpus penis tersusun


atas epidermis, dermis, otot Dartos,
jaringan lemak, fascia Buck, tunika
albugenia, korpora kavernosadan
korpus spongiosum. Epidermis
sangat tipis, mengkerut dan berwarna
gelap, serta hanya mengandung
sedikit jaringan adneksa. Pada fascia
Buck tampak sejumlah pembuluh
darah dan saraf.
3. Kelenjar Aksesoris
a. Kelenjar Prostat
1) Pengertian
Kelenjar Prostat merupakan organ yang berfungsi untuk memproduksi
dan menyimpan sejenis cairan yang akan menjadi sebagian besar air mani
“semen”. Prostat ialah kelenjar eksokrin berukuran sebesar buah kenari yang
terletak antara kandung kemih dan penis, di depan rektum
Cairan yang dikeluarkan prostan memberikan nutrisi dan melindungi
sperma. Selama ejakulasi, prostat akan membuat cairan ini keluar melalui
uretra, bersamaan dengan sperma membentuk cairan mani.

2) Fungsi Kelenjar Prostat


 Fungsi utama prostat ialah mengeluarkan 30-35% atau satupertiga cairan
dari air mani. Cairan ini berfungsi untuk memberikan nutrisi dan
perlindungan terhadap sperma agar dapat bertahan dalam lingkungan
vagina.
 Prostat mengandung jaringan otot polos, sehingga turut membantu untuk
memompa air mani keluar melalui penis dengan kekuatan yang cukup
untuk masuk ke dalam vagina untuk membantu sperma membuahi ovul.
 Prostat yang mengelilingi bagian uretra dapat berfungsi sebagai katup yang
mencegah urin keluar kecuali apabila memang ada rangsangan buang air
kecil.
 Sistem saraf prostat akan membantu proses terjadinya ereksi penis.

3) Struktur Kelenjar Prostat


Bentuk prostat ialah seperti segitiga terbalik yang ukurannya panjang
sekitar 4 cm, lebar 3 cm, dan telah 2,5 cm, beratnya kurang lebih 20 gram.
Kelenjar Prostat merupakan kelenjar fibromuskuler “serabut otot polos yang
bercampur dengan serat kolegen dan elastik”, ia selubungi oleh kapsula
prostatika “suatu jaringan fibrosa berisi pembuluh darah dan saraf” dan vagina
prostatka “jaringan fibrosa”.
Sebagian besar bagian dari kelenjar prostat
terdiri dari 30-50 komponen kelenjar tubuloasinar
atau tubulo alveolar kecil bercabang. Dinding
pelapis prostat ialah dinding mukosa, submukosa
dan lapisan perifer yang terdiri dari kelenjar utama
penyusun prostat.
Jaringan epitel yang melapisi prostat
biasanya berupa Simpleks Kolumnar atau
Pseudostratificatum kolumnar, pada beberapa
bagian dilapisi oleh epitel skuamosum atau epitel
kuboid. Prostat menerima pasukan nutrisi dan
oksifen dari arteri prostat. Persarafannya berasal
dari pleksus prostatikus “dapat berupa rangsangan
simpatis atau parasimpatis”.
4) Bagian-bagian Prostat
 Lobus Aterior/Isthmus “depan” terletak di depan uretra dan tidak
mempunyai jaringan kelenjar.
 Lobus Medius “tengah” terletak diantara uretra dan duktus ejakulatorius,
bagian ini kaya akan jaringan kelenjar.
 Lobus Posterior “belakang” merupakan lobus yang terletak di belakang
uretra dan dibawah duktus ejakulatorius, bagian ini uga kaya akan jaringan
kelenjar.
 Lobus Lateral “kanan” terdapat di sebelah kanan uretra yang dipisahkan
oleh alur vertikal dangkal pada permukaan belakang prostat, banyak
jaringan kelenjar pada lobus ini.
 Lobus Lateal “kiri” terdapat disebelah kiri uretra yang dipisahkan oleh alur
vertikal dangkal pada permukaan belakang prostat, lobus ini juga
mengandung banyak jaringan kelenjar.

b. Vesikula Seminalis

Pasangan kelenjar yang terletak di


bagian belakang-bawah kantung kemih
dari pria. Kelenjar ini dapat
menyekresikan cairan untuk membentuk
air mani. Sekitar 70% dari cairan mani
manusia berasal dari vesikula seminalis.
Panjang vesikula sekitar 5 cm. Sekret
vesikula seminalis mengandung protein,
enzim, fruktosa, fosforilklon dan
prostaglandin. Saluran vesikula seminalis
bermuara ke kelenjar prostat dan vas
deferens. Ketiga bersatu membentuk
saluran ejakulasi. Secara histologis,
vesikula seminalis dapat dikenali dengan
bagiannya yang berlika-liku, epitel
bertingkat dan kubus pada lamina
basalisnya.
c. Kelenjar Bulbouretralis
1) Pengertian
Kelenjar Bulbouretra
(Cowper) adalah sepasang kelenjar
eksokrin kecil yang merupakan
bagian dari sistem reproduksi pria.
Kelenjar ini terletak di belakang
samping bagian uretra dasar dan
dibawah kelenjar prostat. Kelenjar
Bulbouretra homolog dengan
kelenjar bartholin pada wanita.
Saluran dari kelenjar ini memiliki
panjang sekitar 2,5 cm.

2) Fungsi
Fungsi utama dari kelenjar Bulbouretra (Cowper) adalah untuk
menghasilkan cairan seperti mukus sebelum ejakulasi. Cairan yang dihasilkan
keluar sebelum keluarnya cairan semen, mukus ini berfungsi untuk
melubrikasi bagian uretra, menetralkan saluran uretra dari cairan urin dan
melindungi sperma dalam cairan semen. Cairan mukus tersebut transparan,
tidak berwarna dan kental.

3) Struktur
Kelanjar Bulbouretra dapat dibagi menjadi bagian kepala dan ekor.
Kelenjar ini tersusun atas lobus glandular yang dihubungkan oleh serat fibrosa
satu sama lainnya. Diantara lobus lobus tersebut terdapat pori – pori kecil yang
dikelilingi oleh epitel kolumnar. Lobus yang saling berhubungan satu sama
lain ini membentuk saluran yang panjangnya sekitar 2,5 cm. Sel epitel yang
melapisinya mempunyai nukleus yang kecil dan datar, serta mempunyai
sitoplasma yang bersifat basophilic.