Anda di halaman 1dari 41

MAKALAH

“GANGGUAN HAID DAN SIKLUSNYA ”


Mata Pelajaran Obestertik Kebidanan

Disusun oleh :

1. Aurelia Verrent I P3.73.24.2.18.046


2. Devina Silviana P P3.73.24.2.18.048
3. Fatimah Wafa Viola E P3.73.24.2.18.053
4. Lusi Seliawati P3.73.24.2.18.060
5. Nadya Putri N P3.73.24.2.18.065
6. Shanaiz Qirana P3.73.24.2.18.072
7. Sisca Panda Sari P3.73.24.2.18.075

PROGRAM STUDI : D-III KEBIDANAN


I.B

POLTEKNIK KESEHATAN JAKARTA 3


TAHUN AJARAN

2018/2019
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik
serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan studi kasus dengan judul “Gangguan
Haid Dan Siklusnya”.

Makalah ini memberi perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang
kebidanan.Di dalam sub bab makalah ini sudah ada uraian & teori pendukung yang menjelaskan
tentang asuhan kebidanan. Bagian lampiran di sajikan secara sistematis dan di sertai dengan
gambar-gambar yang relevan,sehingga mempermudah untuk memahami maksud dari isi makalah
ini.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran demi penyempurnaan makalah ini. Semoga laporan ini
bermanfaat bagi pembaca.

Bekasi, Maret 2019

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................... 2


DAFTAR ISI................................................................................................................................... 3
BAB I .............................................................................................................................................. 4
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 4
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 4
1.3 Tujuan............................................................................................................................... 5
BAB II ............................................................................................................................................ 6
2.1 Hypermenorrhoe............................................................................................................... 6
2.2 Hypomenorrhe .................................................................................................................... 16
2.3 Polimenorrhoe ................................................................................................................ 18
2.4 Oligomenorrhoe ............................................................................................................. 20
2.5 Amenorrhoe .................................................................................................................... 22
2.6 Pendarahan Bukan Haid ................................................................................................. 32
BAB III ......................................................................................................................................... 40
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................... 41

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menstruasi dianggap normal jika terjadi dengan interval 22-35 hari (dari hari 1 menstruasi
sampai pada permulaan periode menstruasi berikutnya). Jika lamanya perdarahan kurang dari 7
hari, dan jika jumlah darah yang hilang kurang dari 80 ml perlu di catat bahwa discharge
menstruasi terdiri dari cairan jaringan (20-40 % dari total discharge), darah (50-80%), dan
fagmen-fragmen endometrium. Namun, bagi wanita discharge menstruasi tampak seperti darah
dan inilah yang dilaporkan.

Disepakati pencatatan menstruasi dan gangguannya ditulis dengan, misalnya; 5/28. Ini
menunjukkan bahwa wanita tersebut mengalami perdarahan selama 5 hari dan menstruasi terjadi
dengan interval 28 hari. Jumlah darah menstruasi digolongkan sebagai ringan, normal atau berat

Gangguan menstruasi paling umum terjadi pada awal dan akhir masa reproduktif, yaitu di
bawah usia 19 tahun dan di atas usia 39 tahun. Gangguan ini mungkin berkaitan dengan lamanya
siklus menstruasi, atau jumlah dan lamanya menstruasi. Seorang wanita dapat mengalami kedua
gangguan ini.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu Hypermenorrhoe ?

2. Apa itu Hypomenorrhoe ?

3. Apa itu Pollymenorrhoe ?

4. Apa itu Oligomenorrhoe ?

5. Apa itu Amenorrhor ?

6. Apa saja Pendarahan Bukan Haid ?

4
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Hypermenorrhoe.
2. Untuk mengetahui apa itu Hypomenorrhoe.
3. Untuk mengetahui apa itu Pollymenorrhoe.
4. Untuk mengetahui apa itu Oligomenorrhoe.
5. Untuk mengetahui apa itu Amenorrhor.
6. Untuk mengetahui apa itu Pendarahan Bukan Haid.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Hypermenorrhoe

1. Pengertian

Hipermenorea adalah perdarahan haid yang banyak dan lebih lama dari normal, yaitu 6-7
hari dan ganti pembalut 5-6 kali perhari. Haid normal (Eumenorea) biasanya 3-5 hari (2-7 hari
masih normal), jumlah darah rata2 35 cc (10-80 cc masih dianggap normal), kira2 2-3 kali ganti
pembalut perhari.Penyebab hipermenorea bisa berasal dari rahim berupa mioma uteri (tumor
jinak dari otot rahim, infeksi pada rahim atau hiperplasia endometrium (penebalan lapisan dalam
rahim). Dapat juga disebabkan oleh kelainan diluar rahim seperti kelainan darah: anemia,
gangguan pembekuan darah dll, juga bisa disebabkan kelainan hormon (gangguan endokrin).

2. Tanda dan Gejala

1. Masa menstruasi lebih dari 7 hari

2. Aliran menstruasi yang terus-menerus selama beberapa jam

3. Membutuhkan pembalut wanita secara berlapis

4. Membutuhkan penggantian pembalut pada tengah malam

5. Terdapat gumpalan darah dalam jumlah tidak sedikit

6. Pendarahan berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari

7. Nyeri terus menerus pada perut bagian bawah selama masa menstruasi

8. Waktu menstruasi tidak teratur

9. Keletihan, kelelahan dan nafas pendek-pendek (mirip gejala anemia).

6
3. Penyebab

Penyebab hipermenore juga dapat dikelompokan menjadi empat katagori :

1) Gangguan pembekuan

Walaupun keadaan perdarahan tertentu seperti ITP dan penyakit von willebrands
berhubungan dengan peningkatan menorrhagia, namun efek kelainan pembekuan terhadap
individu bervariasi. Pada wanita dengan tromboitopenia kehilangan darah berhubungan dengan
jumlah trombosit selama haid. Splenektomi terbukti menurunkan kehilangan darah

2) Disfunctional uterine bleeding (DUB)

Pada dasarnya peluruhan saat haid bersifat self limited karena haid berlangsung secara
simultan di seluruh endometrium serta jaringan endometrium yang terbentuk oleh estrogen dan
progesterone normal bersifat stabil. Pada DUB, keadaan ini sering terganggu.

DUB dapat terjadi disertai ovulasi maupun anovulasi. Pada keadaan terjadinya ovulasi,
perdarahan bersifat lebih banyak dan siklik hampir sesuai dengan siklus haid. Pada keadaan
anovulasi, perdarahan bersifatlebih sedikit namun dengan siklus yang tidak teratur sehingga
sering disebut menometrorrhagia. DUB dapat disebabkan estrogen withdrawl bleeding,
progesteron withdrawl bleeding, estrogen breakthrough bleeding, progesterone breakthrough
bleeding.Estrogen withdrawl bleeding terjadi pada keadaan setelah ooparektomi bilateral, radiasi
folikel yang matur atau penghentian tiba-tiba obat-obatan yang mengandung estrogen.Estrogen
breakthrough bleeding menyebabkan lapisan endometrium menjadi semakin menebal namun
akhirnya runtuh karena kurang sempurnanya struktur endometrium karena tidak sebandingnya
jumlah progesterone yang ada disbanding jumlah estrogen. Perdarahan biasanya bersifat
spotting.

Estrogen breakthrough bleeding yang berkelanjutan mengacu pada keadaan amenorrhea


namun secara tiba-tiba dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak.Progesteron withdrawl
bleeding terjadi bila korpus luteum dihilangkan. Progesteron withdrawl bleeding hanya akan
terjadi bila diawali proliferasi endometrium yang diatur oleh estrogen. Namun bila kadar
estrogen meningkat 10-20 kali lipat, progesteron withdrawl bleeding tidak akan

7
terjadi.Progesterone breakthrough bleeding terjadi bila kadar progesterone melebihi
keseimbangan dengan estrogen. Dinding endometrium yang menebal akan meluruh sedikit demi
sedikit akibat struktur yang tidak kuat. Hal ini terjadi saat menggunakan pil kontrasepsi dalam
jangka waktu lama.Pada keadaan progesteron withdrawl bleeding dan estrogen breakthrough
bleeding diberikan terapi progesteron sehingga tercapai keseimbangan jumlah progesterone-
estrogen.

Progesterone bersifat antiestrogen dimana menstimulasi perubahan estradiol menjadi


estron sulfat yaitu bentuk tidak aktif estrogen. Progesterone juga menghambat pembentukan
reseptor estrogen. Estrogen juga mencegah transkripsi onkogen yang dimediasi oleh
estrogen.Pada oligomenorrhea (estrogen breakthrough bleeding) preparat progesterone yang
digunakan adalah medroxypogesteronaseta, 5-10 mg/hari selama 10 hari. Pada menorrhagia
(estrogen breakthrough bleeding yang berlangsung lama dan progesteron withdrawl bleeding)
progestin digunakan selama 10 hari hingga 2 minggu untuk menstabilkan dinding endometrium
lalu dihentikan secara tiba-tiba dengan maksud mengikis semua dinding endometrium dan
bersifat kuretase alami.Terapi estrogen diberikan pada Estrogen withdrawl bleeding dan
progesterone breakthrough bleeding untuk memperkuat stroma tempat kelenjar yang hiperplasia
karena dirangsang progesterone. Pada keadaan ini diberikan 25 mg estrogen terkonjugasi secara
intra vena tiap 4 jam hingga perdarahan berhenti atau selama 24 jam untuk menghindari
terbentuknya trombus pada kapiler uterus.

Semua terapi estrogen harus diikuti terapi progesteron dan withdrawl bleeding.Dapat juga
diberikan anti prostaglandin untuk vasokontriksi darah sehingga perdarahan dapat
berhenti.Desmopresin asetat (analog sintetik dari arginin vasopresin) digunakan untuk mengobati
DUB pada pasien gangguan pembekuan terutama pada penyakit von willebrands dan dapat
diberikan intranasal maupun intravena. Pengobatan dapat meningkatkan kadar faktor VIII dan
faktor von willebrands yang berlangsung sekitar 8 jam.

3) Gangguan pada organ dalam pelvis

Menorrrhagia biasanya berhubungan dengan fibroid pada uterus, adenommiosis, infeksi


pelvis, polips endometrial, dan adanya benda asing seperti IUD. Wanita dengan perdarahan haid
melebihi 200 cc 50% mengalami fibroid. 40% pasien dengan adenomiosis mengalami

8
perdarahan haid melebihi 80cc. Menorrhagia pada retrofleksi disebabkan karena bendungan pada
vena uterus sedangkan pada mioma uteri, menorrhagia disebabkan oleh kontraksi otot yang
kurang kuat, permukaan endometrium yang luas dan bendungan vena uterus.4.

4) Gangguan medis lainnya Gangguan medis lainnya yang dapat menyebabkan menorrhea
diantaranya hipotiroid dan sindrom cushing, patifisiologi terjadinya belum diketahui dengan
pasti.Dapat juga terjadi pada hipertensi, dekompsatio cordis dan infeksi dimana dapat
menurunkan kualitas pembuluh darah. Menorrhagia dapat terjadi pada orang asthenia dan yang
baru sembuh dari penyakit berat karena menyebabkan kualitas miometrium yang jelek.

Penyebab hypermenorrhea dalam konsep singkat :

a. Adanya kelainan organik, seperti: infeksi saluran reporduksi, kelainan koagulasi


(pembekuan darah), misal : kekurangan protrombin, idiopatik trombositopenia purpura (ITP), dll.
Disfungsi organ yang menyebabkan terjadinya menoragia seperti gagal hepar atau gagal ginjal.
Penyakit hati kronik dapat menyebabkan gangguan dalam menghasilkan faktor pembekuan darah
dan menurunkan hormon estrogen.

b. Kelainan hormon endokrin misal akibat kelainan kelenjar tiroid dan kelenjar adrenal,
tumor pituitari, siklus anovulasi, Sindrome Polikistik Ovarium (PCOS), kegemukan, dll

c. Kelainan anatomi rahim seperti adanya mioma uteri, polip endometrium, hiperplasia
endometrium, kanker dinding rahim dan lain sebagainya.

d. Iatrogenik : misal akibat pemakaian IUD, hormon steroid, obat-obatan kemoterapi, obat-
obatan anti-inflamasi dan obat-obatan antikoagulan.

1) IUD dapat menyebabkan peningkatan perdarahan dan kram menstruasi karena efek iritasi
lokal.

2) hormon steroid dan agen kemoterapi mengganggu siklus menstruasi normal, yang
dipulihkan mudah atas penghentian produk.

3) Antikoagulan penurunan faktor pembekuan yang diperlukan untuk menghentikan setiap


aliran darah yang normal, termasuk mens. Jenis menorrhagia juga mudah reversible.

9
4. Patofisiologi

Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi Gonadotropin releasing hormon


(GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan Folicle-stimulating hormone (FSH). Hal
ini pada gilirannya menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan leteinzing hormon (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi.

Perkembangan folikel menghasilkan esterogen yang berfungsi menstimulasi endometrium


agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan kadar FSH dan LH rendah. Folikel yang telah
kehilangan ovum akan berkembang menjadi korpus luteum, dan korpus luteum akan mensekresi
progesteron. Progesteron menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferemnsiasi dan
stabilisasi. 14 hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi.

Menstruasi berasal dari dari peluruhan endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar
esterogen dan progesteron akibat involusi korpus luteum.Pada siklus anovulasi, perkembangan
folikel terjadi dengan adanya stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi
tidak terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada progesteron yang
disekresi.

Endometrium berplroliferasi dengan cepat, ketika folikel tidak terbentuk produksi


esterogen menurun dan mengakibatkan perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung
dengan pendarahan yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi endometrium yang
berlangsung tidak mengakibatkan pendarahan hebat.

5. Anatomi

10
etiologies anatomi untuk menorrhagia termasuk fibroid uterus, polip endometrium,
hiperplasia endometrium, dan kehamilan.

Fibroid dan polip jinak yang mendistorsi struktur dinding rahim dan / atau endometrium.
Entah mungkin berlokasi di dalam lapisan rahim, tetapi fibroid mungkin terjadi hampir di mana
saja pada rahim.

Mekanisme dengan mana polip endometrium atau fibroid menyebabkan menorrhagia


belum dipahami dengan baik. Pasokan darah ke fibroid atau polip berbeda dibandingkan dengan
endometrium sekitarnya dan dianggap berfungsi secara independen. Ini suplai darah lebih besar
dari pasokan endometrium dan mungkin telah menghambat aliran balik vena, menyebabkan
penyatuan di bidang fibroid. Berat pooling dianggap melemahkan endometrium di daerah itu,
dan terobosan terjadi kemudian perdarahan.

Fibroid terletak di dalam dinding rahim dapat menghambat kontraktur otot, sehingga
mencegah upaya rahim normal di hemostasis. Ini juga sebabnya mengapa fibroid intramural
dapat menyebabkan sejumlah besar rasa sakit dan kram. Fibroid bisa membesar ke titik bahwa
mereka mengatasi suplai darah mereka dan mengalami nekrosis. Hal ini juga menyebabkan
banyak rasa sakit untuk pasien.

Hiperplasia endometrium biasanya hasil dari produksi estrogen dilawan, terlepas dari
etiologi. Hiperplasia endometrium dapat menyebabkan kanker endometrium pada 1-2% pasien
dengan perdarahan anovulasi, tetapi merupakan diagnosis dari pengecualian dalam pendarahan
pascamenopause (usia rata-rata pada menopause adalah 51 y). Jika seorang wanita membutuhkan
estrogen terlindung (tanpa progesteron), risiko relatif nya kanker endometrium 2,8 dibandingkan
dengan nonusers.

Iatrogenik penyebab menorrhagia meliputi IUD, hormon steroid, agen kemoterapi, dan
obat (misalnya, antikoagulan).

IUD dapat menyebabkan peningkatan perdarahan dan kram menstruasi karena efek iritasi
lokal.

hormon steroid dan agen kemoterapi mengganggu siklus menstruasi normal, yang
dipulihkan mudah atas penghentian produk.

11
Antikoagulan penurunan faktor pembekuan yang diperlukan untuk menghentikan setiap
aliran darah yang normal, termasuk mens. Jenis menorrhagia juga mudah reversibel.

6. Terapi Medis

Selain menurunkan atau menghentikan volume perdarahan yang cukup banyak dan
mencegah terjadinya anemia defisiensi besi, pengobatan menorrhagia juga bertujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup penderitanya. Namun, apabila dokter tidak mencurigai adanya
masalah serius yang menyebabkan menorrhagia atau kondisi tersebut tidak mengganggu aktivitas
sehari-hari penderitanya, pengobatan tidak diperlukan.

Ada dua cara untuk mengobati menorrhagia, yaitu melalui obat-obatan dan operasi. Obat-
obatan seringkali dijadikan pilihan utama, terutama jika pemeriksaan masih berjalan dan belum
menunjukkan hasil pasti mengenai penyebab menorrhagia. Dokter dapat memberikan obat jika
pasien tidak merasakan gejala apa pun yang mengarah pada kondisi serius.

Beberapa jenis obat-obatan yang bisa digunakan untuk menangani menorrhagia adalah:

• Tablet asam traneksamat. Obat ini terbukti mampu menurunkan perdarahan hingga
hampir 50%. Asam traneksamat bekerja dengan cara membantu proses penggumpalan darah di
dalam rahim. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan obat ini adalah diare
dan

• Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAIDs). Selain dapat meredakan gejala nyeri, obat ini
juga dapat menurunkan produksi salah satu hormon yang berperan dalam terjadinya
menorrhagia, yaitu hormon prostaglandin. Contoh obat OAINS yang bisa digunakan adalah
ibuprofen, naproxen, dan asam mefenamat. Obat ini bisa menurunkan perdarahan hingga 20-
50%. Efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan OAINS sama seperti asam
traneksamat, yaitu diare dan dispesia.

• Pil kontrasepsi kombinasi. Pil yang mengandung hormon progestogen dan estrogen ini
dapat mencegah pelepasan sel telur di dalam rahim setiap bulannya. Selain mengobati
menorrhagia, obat ini juga dapat mengurangi nyeri haid dan mengatasi siklus menstruasi yang

12
tidak teratur sekitar 40%. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan obat ini
adalah retensi cairan, mual, nyeri payudara, dan perubahan suasana hati.

• LNG-IUS (levonorgestrel-releasing intrauterine system). Ini merupakan sejenis alat


kontrasepsi yang mampu menurunkan perdarahan hingga 90%. LNG-IUS bekerja dengan cara
memperlambat pertumbuhan lapisan rahim. Alat plastik berukuran kecil ini digunakan dengan
cara dimasukkan ke dalam rahim. Di dalam rahim LNG-IUS kemudian akan melepaskan hormon
progestogen secara perlahan-lahan. Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari penggunaan
obat ini adalah munculnya jerawat, nyeri atau rasa tidak nyaman di payudara, dan amenorea
(terhentinya menstruasi) selama masa penggunaan obat.

• Progestogen suntik dannorethisterone Kinerja keduanya dalam mengobati menorrhagia


sama seperti LNG-IUS, yaitu memperlambat pertumbuhan dinding sel rahim. Efek samping yang
biasa muncul dari penggunaan progestogen suntik adalah kenaikan berat badan, tertundanya
kehamilan (biasanya hingga enam bulan sampai setahun setelah pengobatan dihentikan), sindrom
prahaid (nyeri payudara, retensi cairan, dan perut kembung). Sedangkan efek samping
norethisterone oral adalah nyeri payudara dan tumbuhnya jerawat.

• Analog GnRH-a (gonadotropin releasing hormone analogue). Ini merupakan salah satu
obat yang efektif dalam mengurangi perdarahan saat menstruasi. Terapi agonis GnRH-a biasanya
tidak dilakukan secara rutin, namun lebih sekadar pengobatan sementara bagi pasien yang akan
menempuh jalan operasi untuk mengobati menorrhagia. Kadang-kadang, dalam kasus tumor
jinak di dalam rahim atau fibroid, hormon agonis GnRH-a dapat diberikan dalam bentuk suntik.
Efek samping yang mungkin ditimbulkan dari terapi ini adalah berkeringat, sensasi panas di
tubuh (hot flashes), dan vagina kering.

Prosedur operasi biasanya akan direkomendasikan oleh dokter apabila menorrhagia sudah
tidak bisa lagi ditangani dengan obat-obatan, atau untuk menghindari komplikasi seperti anaemia
parah dan nyeri haid (dysmenorrhea) yang hebat. Ada bermacam-macam jenis operasi untuk
kondisi ini, dan beberapa di antaranya adalah:

• Dilatasi dan kuretase (D&C).Dalam prosedur ini, dokter akan melakukan dilatasi
(pembukaan) pada serviks dan melakukan kuretase (pengerokan) dinding dalam rahim untuk
mengurangi perdarahan saat menstruasi. Tindakan ini biasanya dilakukan kembali jika kambuh.

13
• Embolisasi arteri rahim. Prosedur ini diperuntukkan untuk menangani menorrhagia yang
disebabkan oleh fibroid. Fibroid adalah tumor jinak yang tumbuh di dinding rahim. Pada
prosedur embolisasi arteri rahim, fibroid disusutkan dengan cara memblokir arteri yang
mensuplai darah ke daerah tersebut. Embolisasi arteri rahim adalah prosedur yang paling banyak
dipilih dokter karena selain tingkat keberhasilannya yang tinggi dalam mengobati menorrhagia
yang disebabkan fibroid, prosedur ini juga jarang menimbulkan komplikasi.

• Miomektomi. Dalam miomektomi, fibroid diangkat melalui pembedahan. Prosedur ini


dapat dilakukan dengan dengan membuka dinding abdomen (laparotomi), menggunakan pipa
optik dan alat khusus yang dimasukkan lewat beberapa sayatan kecil pada dinding perut
(laparoskopi), atau melalui vagina (histerokopi). Pada sebagian kasus, fibroid tumbuh kembali
setelah miomektomi.

• Reseksi endometrium. Prosedur ini mengangkat endometrium (dinding dalam uterus)


menggunakan kawat panas. Setelah menjalani prosedur ini, kehamilan tidak dianjurkan.

• Ablasi endometrium. Prosedur ini dilakukan dengan cara menghancurkan lapisan


endometrium secara permanen, baik dengan laser, radiofrekuensi (RF), atau dengan pemanasan.

• Histerektomi. Biasanya prosedur ini ditempuh apabila menorrhagia sudah tidak bisa lagi
ditangani oleh cara apa pun dan gejalanya sudah sangat parah. Histerektomi adalah operasi
pengangkatan rahim yang otomatis akan menghentikan menstruasi selamanya dan membuat
pasien tidak bisa memiliki anak lagi.

7. Asuhan Kebidanan

Terapi Hipermenorrhea meliputi :

a. Suplemen Zat Besi

Jika kondisi ini disertai dengan anemia, dokter mungkin merekomendasikan Anda untuk
mengkonsumsi suplemen zat besi secara teratur. Jika level zat besi didalam tubuh rendah tapi
anda belum mengalami anemia, Anda juga mungkin disarankan untuk mengkonsumsi untuk
mencegah terkena anemia.

14
b. Kontrasepsi Oral

Kontrasepsi oral (seperti pil KB) dapat dipilih untuk membantu keteraturan ovulasi dan
mengurangi pendarahan hebat dan jangka waktu lama menstruasi

c. Obat-obatan yang termasuk dalam NSAID (Nonsteroidal anti-imflammatory drugs)


seperti ibuprofen (advil dan motrin) membantu mengurangi derasnya aliran darah

d. Progesteron Hormon

Progesterone dapat membantu mengoreksi ketidaknormalan hormon dan mengurangi


menorrhagia

Penatalaksanaan hipermenorhoe :

a. Istirahat Cukup

Dokter akan merekomendasikan cukup istirahat jika mengalami pendarahan hebat dan
ketidakteraturan menstruasi.

b. Catat Pembalut yang Digunakan

Catat jumlah pelindung wanita yang telah digunakan agar dokter dapat menarik kesimpulan
kurang lebih jumlah darah yang keluar. Gantilah secara teratur pelindung yang digunakan paling
tidak setiap 4 jam.

c. Apabila dijumpai kelainan organik, tentu dengan sendirinya penyebabnya dapat


dihilangkan.

d. Pada kelainan hormonal dapat diberikan beberapa jenis terapi hormon, progesteron
seperti MPA 10mg /hari, didrogesteron 10mg/hari, dari hari ke 16-25 siklus haid. Dapat pula
diberi kombinasi progesteron dan esterogen dari hari 16-25 siklus haid.

e. Jika obat-obat tersebut tidak bisa dijangkau oleh pasien kita dapat memberikan terapi pil
KB dengan kadar progesteron yang tinggi.

f. Pada wanita yang ingin punya anak dapat diobati dengan pemberian obat obat pemicu
ovulasi. dan jika memungkinkan bisa dilakukan pemeriksaan hormon FSH, LH dan PRL.

15
g. Pada setiap wanita yang berusia 35 tahun harus dilakukan kuretase diagnostik untuk
menyingkirkan adanya keganasan.

h. Memberikan anti perdarahan seperti ergometrin tablet/injeksi, KIEM untuk pemeriksaan


selanjutnya

i. Merujuk ke fasilitas yang lebih tinggi dan lengkap.

2.2 Hypomenorrhe
A. Definisi Hipomenorea

Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang biasa, sebab
kelainan ini terletak pada konstitusi penderita, pada uterus ( misal : sesudah operasi mioma).
Hipomenorea tidak mengganggu fertilitas. Hipomenorea adalah pendarahan dengan jumlah darah
sedikit, melakukan pergantian pembalut sebanyak 1-2 kali per hari, dan berlangsung selama 1-2
hari saja. Perdarahan haid yg jumlahnya sdkt kurang lebih 40 ml siklus regular. Hipomenorea
adalah terjadinya perdarahan menstruasi yang lebih sedikit dari biasanya dan lamanya kurang
dari 3 hari. (Manuaba, 2003)

B. Etiologi Hipomenorea

Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang akibat dari kurang gizi,
penyakit menahun maupun gangguan hormonal. Sering disebabkan karena gangguan endokrin.
Kekurangan estrogen maupun progesterone, stenosis hymen, stenosis serviks uteri, sinekia uteri
(sindrom asherman). Sebab-sebabnya dapat terletak pada konstitusi penderita, pada uterus
(misalnya sesudah meomektomi), pada gangguan endoktrin, dan lain-lain, kecuali bila ditemukan
sebab yang nyata, terapi terdiri atas menenangkan penderita. Salah satu penyebab
hypomenorrhea adalah sindrom Asherman (adhesi intrauterine), yang hypomenorrhea (atau
amenore) mungkin satu-satunya tanda yang jelas. Tingkat kekurangan menstruasi berkorelasi
erat dengan sejauh mana adhesi.

1. Uterine

Jarang kerugian kadang-kadang berarti bahwa permukaan pendarahan lebih kecil dari normal,
dan kadang-kadang terlihat ketika rongga endomaterial telah berkurang ukurannya selama
myomectomy atau operasi plastik lainnya di rahim. Namun, hal itu jarang menunjukkan rahim
16
hypoplasia karena adanya kondisi ini dalam sebuah rahim yang responsif terhadap hormon
ovarium betokens aktivitas di bawah, dan ini memanifestasikan dirinya dengan jarang daripada
langka menstruasi.

2. Hormonal

Jarang menstruasi atau menstruasi dapat terjadi secara normal pada ekstrem kehidupan
reproduksi yakni, hanya setelah pubertas dan sesaat sebelum menopause. Hal ini karena ovulasi
tidak teratur saat ini, dan lapisan endomaterial gagal untuk berkembang secara normal. Namun
masalah normal pada waktu yang lain juga dapat menyebabkan aliran darah langka.. Anovulasi
terjadi karena rendahnya tingkat hormon tiroid, tingkat prolaktin tinggi, tingkat insulin tinggi,
tingkat androgen tinggi dan masalah dengan hormon lain juga dapat menyebabkan periode
langka. Jarang mens juga dapat terjadi setelah penggunaan jangka panjang dari kontrasepsi oral
sebagai akibat dari endomaterial atrofi progresif.

3. Nervous dan emosional

Pyschogenic faktor seperti stres karena ujian, atau kegembiraan yang berlebihan tentang
peristiwa yang akan datang dapat menyebabkan hypomenorrhoea. Faktor-faktor seperti menekan
aktivitas orang-orang pusat di otak yang merangsang indung telur selama siklus ovarium (untuk
mengeluarkan hormon seperti estrogen dan progesteron), dan dapat berakibat pada produksi yang
rendah hormon ini.

4. Penyebab lain

latihan berlebihan dan dapat menyebabkan crash diet periode langka. Salah satu penyebab
hypomenorrhoea adalah sindrom Ashermn (intra uterine adhesi), yang hypomenorrhoea mungkin
satu-satunya tanda yang jelas. Tingkat kekurangan menstruasi berkorelasi erat dengan tingkat
adhesi.(R. Toaff dan S. Ballus, 1978)

17
C. Manifestasi Klinis

1. Nyeri saat mestruasi.

2. Waktu haid yang singkat < 3 hari.

3. Perdarahan haid yang memendek atau singkat < 40ml.

D. Pengobatan Hipomenorea

Tidak perlu terapi jika siklus ovulatoar subsitusi hormon Estrogen dan Progesteron bila perlu
induksi ovulasi jika siklus anovulatoar & ingin anak. Tindakan Bidan:

1. Menenangkan penderita

2. Merujuk ke fasilitas yang lebih tinggi dan lengkap

2.3 Polimenorrhoe

1. Pengertian

Polimenorhoe merupakan gangguan pada siklus haid dimana Siklus haid lebih pendek dari
normal, yaitu kurang dari 21 hari, perdarahan kurang lebih sama atau lebih banyak daripada haid
normal. Penyebabnya adalah gangguan hormonal, kongesti ovarium karena peradangan,
endometriosis, dan lain-lain. Pada gangguan hormonal terjadi gangguan ovulasi yang
menyebabkan pendeknya masa luteal sehingga siklus menstruasi juga lebih pendek atau bisa
disebabkan akibat stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek atau karena keduanya.
Diagnosis dan pengobatan membutuhkan pemeriksaan hormonal dan laboratorium lain.

2. Etiologi
Timbulnya menstruasi yang lebih sering ini tentunya akan menimbulkan kekhawatiran pada
wanita yang mengalaminya. Polimenorea dapat terjadi akibat adanya ketidakseimbangan sistem
hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium. Ketidak seimbangan hormon tersebut dapat
mengakibatkan gangguan pada proses ovulasi (pelepasan sel telur) atau memendeknya waktu

18
yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu siklus menstruasi normal sehingga didapatkan
menstruasi yang lebih sering. Gangguan keseimbangan hormon dapat terjadi pada :
- Pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama
- Beberapa tahun menjelang menopause
- Gangguan indung telur
- Stress dan depresi
- Pasien dengan gangguan makan (seperti anorexia nervosa, bulimia)
- Penurunan berat badan berlebihan
- Obesitas
- Olahraga berlebihan, misal atlit
- Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti antikoagulan, aspirin, NSAID, dll
Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat sembuh dengan sendirinya. Penderita
polimenorea harus segera dibawa ke dokter jika polimenorea berlangsung terus menerus.
Polimenorea yang berlangsung terus menerus dapat menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh
akibat darah yang keluar terus menerus. Disamping itu, polimenorea dapat juga akan
menimbulkan keluhan berupa gangguan kesuburan karena gangguan hormonal pada polimenorea
mengakibatkan gangguan ovulasi (proses pelepasan sel telur). Wanita dengan gangguan ovulasi
seringkali mengalami kesulitan untuk mendapatkan keturunan.

3. Patofisiologi
Ketidakteraturan siklus haid disebabkan karena gangguan hormon dalam tubuh. Atau bisa juga
terjadi karena penyakit di dalam organ reproduksi, contohnya tumor rahim, tumor di indung
telur. Selain itu gangguan haid disebabkan juga karena faktor lainnya seperti stres, kelelahan,
gangguan gizi dan penggunaan kontrasepsi, Siklushaid yang tidak teratur kebanyakan terjadi
akibatfaktor hormonal. Seorangwanita yang memilikihormon estrogen dan progesterone
secaraberlebihan memungkinkan terjadinya haid dalam waktu yang lebih cepat. Jika gangguan
haid dikarenakan oleh faktor hormonal maka dapat dipastikan wanita tersebut mengalami
gangguan kesuburan. Dan dapat diatasi dengan suntikan untuk mempercepat pematangan sel
telur.

19
4. Manifestasi Klinis

• Gejala berupa siklus kurangdari 21 hari (lebih pendek dari 25 hari )


• Dalam satu bulan bisa mengalami 2 kali menstruasi
• Anemia dan stress

5. Terapi & Pencegahan

Tujuan terapi pada penderita polimenorea adalah mengontrol perdarahan, mencegah perdarahan
berulang, mencegah komplikasi, mengembalikan kekurangan zat besi dalam tubuh, dan menjaga
kesuburan. Untuk polimenorea yang berlangsung dalam jangka waktu lama, terapi yang
diberikan tergantung dari status ovulasi pasien, usia, risiko kesehatan, dan pilihan kontrasepsi.
Kontrasepsi oral kombinasi dapat digunakan untuk terapinya. Pasien yang menerima terapi
hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan, dan kemudian 6 bulan untuk
reevaluasi efek yang terjadi.

Stadium proliferasi dapat diperpanjang dengan hormon estrogen dan stadium sekresi
menggunakan hormon kombinasi estrogen dan progesteron.

2.4 Oligomenorrhoe

A. Pengertian Oligomenorea

Oligomenorea merupakan suatu keadaan dimana siklus menstruasi memanjang lebih dari
35 hari, sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang mengalami oligomenorea akan
mengalami menstruasi yang lebih jarang daripada biasanya. Oligomenorea biasanya terjadi
akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Gangguan hormon tersebut menyebabkan lamanya siklus menstruasi normal menjadi
memanjang, sehingga menstruasi menjadi lebih jarang terjadi.

20
B. Penyebab Oligomenorea

Oligomenorea sering terjadi pada 3-5 tahun pertama setelah haid pertama ataupun
beberapa tahun menjelang terjadinya menopause. Oligomenorea yang terjadi pada masa-masa itu
merupakan variasi normal yang terjadi karena kurang baiknya koordinasi antara hipotalamus,
hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya menstruasi pertama dan menjelang terjadinya
menopause, sehingga timbul gangguan keseimbaangan hormon dalam tubuh. Pada kebanyakan
kasus oligomenorea kesehatan wanita tidak terganggu, dan fertilitas cukup baik. Siklus haid
biasanya juga ovulatoar dengan masa proliferasi lebih panjang dari biasanya Oligomenore yang
terjadi pada remaja, seringkali disebabkan karena kurangnya sinkronisasi antara hipotalamus,
kelenjar pituari & indung telur. Hipotalamus mengatur pengeluaran hormon yang mengatur
kelenjar pituari. Kemudian kelenjar pituari akan merangsang produksi hormon yang
mempengaruhi pertumbuhan & reproduksi. Pada awal & akhir masa reproduksi wanita, beberapa
hormon tersebut mengalami gangguan keseimbangan, sehingga akan menyebabkan terjadinya
haid yang tidak teratur.

Selain itu, ini dapat disebabkan oleh gangguan pada indung telur, seperti pada sindrome
polikistik ovarium, stres dan depresi, sakit kronis, pasien dengan gangguan makan dan
malnutrisi, penurunan berat badan berlebihan, serta olahraga berlebihan. Namun, bisa saja
oligomenorrhea disebabkan karena adanya kelainan struktur pada rahim atau serviks, serta
penggunaan obat-obatan tertentu, yang memengaruhi kerja hipotalamus.

C. Gejala Oligomenorea
Gejala oligomenorrhea ditandai dengan perpanjangan siklus menstruasi lebih dari 35 hari
dan kurang dari 3 bulan. Secara umum, tidak terjadi ganguan pada siklus ovulasi dan fertilitas,
serta tanpa ada perdarahan. Gejala oligomenorrhea terdiri dari periode menstruasi yang lebih
panjang dari 35 hari dimana hanya didapatkan 4-9 periode dalam 1 tahun.

D. Pencegahan Oligomenorea
Tidak ada tindakan pencegahan secara khusus untuk penyakit ini. Namun dengan
mengontrol penyebabnya, akan membantu mencegah terjadinya oligomenorrhea.

21
E. Penanganan Oligomenorea
Pengobatan oligomenore tergantung dengan penyebab, berikut uraiannya:
1. Pada oligomenore dengan anovulatoir serta pada remaja dan wanita yang
mendekati menopouse tidak memerlukan terapi.
2. Perbaikan status gizi pada penderita dengan gangguan nutrisi dapat memperbaiki
keadaan oligomenore.
3. Oligomenore sering diobati dengan pil KB untuk memperbaiki ketidak
seimbangan hormonal.
4. Bila gejala terjadi akibat adanya tumor, operasi mungkin diperlukan: Adanya
tumor yang mempengaruhi pengeluaran hormon estrogen, maka tumor ini perlu di tindak
lanjuti seperti dengan operasi, kemoterapi, dll
5. Pengobatan alternatif lainnya dapat menggunakan akupuntur atau ramuan herbal.

2.5 Amenorrhoe
1. pengertian

Amenorea adalah keadaaan tidak terjadinya menstruasi pada seorang wanita. Hal tersebut normal
terjadi pada masa sebelum pubertas, kehamilan dan menyusui, dan setelah menopause. Siklus
menstruasi normal meliputi interaksi antara komplek hipotalamus-hipofisi-aksis indung telur
serta organ reproduksi yang sehat (lihat artikel menstruasi). Amenorea sendiri terbagi dua, yaitu:

1. Amenorea primer

Amenorea primer adalah keadaan tidak terjadinya menstruasi pada wanita usia 16 tahun.
Amenorea primer terjadi pada 0.1 – 2.5% wanita usia reproduksi

2. Amenorea sekunder

Amenorea sekunder adalah tidak terjadinya menstruasi selama 3 siklus (pada kasus
oligomenorea ), atau 6 siklus setelah sebelumnya mendapatkan siklus menstruasi biasa. Angka
kejadian berkisar antara 1 – 5%

22
2. Penyebab

Amenorea bisa terjadi secara fisiologis dan patologis, ada beberapa penyebab amenorea
fisiologis, yaitu kehamilan, menopause, prepubertas. Dan laktasi. Sedangkan pada amenorea
patologis bisa disebabkan oleh beberapa hal , diantaranya : ada kelainan pada otak, gangguan
pada kelenjar hipofisis, kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, klenjar ovarium, kelianan kejiwaan,
gangguan pada hipothalamus.

Penyebab amenorea primer yaitu :

Tertundanya menarke, kelainan bawaan pada sistem kelamin ( misalnya tidak memiliki rahim
atau vagina, adanya sekat pada vagina , serviks yang sempit, lubang pada selaput yang menutupi
vagina ), penurunan berat badan yang drastis, kelainan kromosom, obesitas yang ekskrim,
hipoglikemia, disgenesis gonad, hipogonadisme hipogonadotropik,sindrom feminisasi testis,
hermafrodit sejati, penyakit menahun, kekurangan gizi, penyakit cushing, fibrosis kistik,
penyakit jantung bawaan, tumor ovarium, hipotiroidisme, sindroma adrenogenital, sindroma
prader – Willi, penyakit ovarium polikista, hiperplasia adrenal kongenital.

Penyebab tersering dari amenorea primer adalah:

1. Pubertas terlambat
2. Kegagalan dari fungsi indung telur
3. Agenesis uterovaginal (tidak tumbuhnya organ rahim dan vagina)
4. Gangguan pada susunan saraf pusat
5. Himen imperforata yang menyebabkan sumbatan keluarnya darah menstruasi dapat
dipikirkan apabila wanita memiliki rahim dan vagina normal

23
Penyebab Amenorea sekunder :

Kehamilan, kecemasan akan kehamilan, penurunan berat badan yang drastis, olah raga yang
berlebihan, lemak tubuh kurang dari 15 – 17 extreme, mengkomsumsi hormon tambahan,
obesitas, stress emotional, menopause, kelainan endokrin, obat – obatan, prosedur dilatasi dan
kuretase, kelainan pada rahim, seperti mola hidatidosa

Penyebab terbanyak dari amenorea sekunder adalah kehamilan, setelah kehamilan, menyusui,
dan penggunaan metode kontrasepsi disingkirkan, maka penyebab lainnya adalah:

a. Sindrom Asherman
Pada sindrom Asherman, amenore sekunder terjadi setelah kerusakan endometrium.
Umumnya hal ini disebabkan kuretase berlebihan yang kemudian menghasilkan jaringan
parut intrauterin. Pola yang khas yaitu sinekia multipel yang tampak pada histerogram.
Diagnosis dengan histeroskopi lebih akurat karena dapat mendeteksi perlekatan minimal
yang tidak tampak pada histerogram. Perlekatandapat terjadi secara sebagian atau
seluruh-nya menutup rongga endometrium atau kanalis servikalis. Sindrom
Ashermandapat juga terjadi setelah pembedahanuterus, meliputi seksio saesaria atau
miomektomi.
 Gangguan pada Hipofisis Anterior
a) Sindrom Sheehan
Penyebab terbanyak amenorea karena gangguan di hipofisis ialah sindrom
Sheehan yang terjadi akibat adanya iskemik atau nekrosis adenohipofisis.
Kelainan ini sering dijumpai pada postpartum dengan perdarahan banyak. Perlu
24
diketahui, bahwa adenohipofisis sangat sensitif dalam kehamilan. Gejala baru
muncul bila ¾ dari adenohipofisis mengalami kerusakan. Bila hal ini terjadi,
maka semua hormon yang dihasilkan oleh adenohipofisis akan mengalami
gangguan.

a. Stress dan depresi


b. Nutrisi yang kurang, penurunan berat badan berlebihan, olahraga
berlebihan, obesitas
b) Olah raga dan amenore
Atlet wanita dengan olahraga yang penuh tekanan memiliki peningkatan insidensi
bermakna dari ketidakteraturan menstruasi dan amenore akibat efek penekanan
hipotalamus. Bila latihan dimulai sebelum menarke, menarke dapat tertunda
hingga 2-3 tahun, dan insidensi berikutnya dari ketidakteraturan menstruasi lebih
tinggi. Olahraga menurunkan gonadotropin dan meningkatkan prolaktin, hormon
pertumbuhan,testosteron, ACTH, steroid adrenal, dan endorfin sebagai akibat dari
sekresi yang meningkat maupun bersihan yang berkurang. Hormon yang
melepaskan kortikotropin (CRH) secara langsung menghambat sekresi GnRH
hipotalamik, mungkin dengan meningkatkan sekresi opioid endogen. Wanita
dengan amenore hipotalamik (termasuk olahragawan dan wanita dengan
gangguan pola makan) memperlihatkan hiperkortisolisme (karena peningkatan
CRH dan ACTH), yang menunjukkan bahwa ini merupakan jalur dimana tekanan
mengganggu fungsi reproduktif. Atlet amenore yang memiliki kadar kortisol
kembali ke rentang normal memperoleh kembali fungsi menstrual dalam 6 bulan,
kebalikan dengan atlet yang mempertahankan kadar kortisol yang meningkat dan
terus mengalami amenore.
c) Anoreksia nervosa dan bulimia
Wanita yang mengalami gangguan pola makan seperti anoreksia nervosa dan
dapat menyebabkan gangguan psikis, dan neurotik, sehingga dapat terjadi
kerusakan organ (atrofi). Bila kerusakan tersebut mengenai hipotalamus, maka
dengan sendirinya hipotalamus tidak dapat lagi memroduksi GnRH. Pengeluaran

25
FSH dan LH dari hipofisis pun berhenti. Akibatmya pematangan folikel dan
ovulasi di ovarium tidak terjadi.
 Gangguan hipotalamus
a) Amenore hipotalamik
Gangguan hipotalamus didiagnosis dengan menyingkirkan lesi
hipofisis.Gangguan ini sering berhubungan dengan keadaan yang penuh dengan
tekanan. Penyebab fungsional yang paling sering ditemukan berupa gangguan
psikis. Gangguan fungsional seperti ini paling banyak dijumpai pada wanita
pengungsi, dipenjara, sering mengalami stres, atau hidup dalam ketakutan. Pasien
dengan amenore hipotalamik (hipogonadotropin hipogonadisme) memiliki
defisiensi dari sekresi pulsatil GnRH. Tingkat penekanan GnRH menentukan
bagaimana klinis pasien ini. Penekanan ringan dapat berhubungan dengan efek
marginal dari reprofuksi, khususnya fase luteal yang tidak adekuat. Penekanan
sedang dapat menghasilkan anovulasi dengan ketidak teraturan menstruasi, dan
penekanan yang kuat bermanifestasi sebagai amenore hipotalamik
 Gangguan pada ovarium
a) Tumor ovarium
Amenorea yang terjadi dapat disebab-kan oleh tumor ovarium yang tidak
memroduksi hormon maupun oleh tumor ovarium yang memroduksi hormon.
Tumor ovarium yang tidak memroduksi hormon akan merusak seluruh jaringan
ovarium. Hormon yang diproduksi oleh tumor ovarium ialah androgen dan
estrogen. Androgen yang tinggi menekan sekresi gonadotropin, sehingga
menyebabkan amenorea, hirsutisme, hipertrofi klitoris, perubahan suara, dan
akne. Tumor yang memroduksi estrogen jarang menyebabkan amenorea, namun
sering terjadi perdarahan yang memanjang akibat hiperplasia endometrium.
b) Sindrom resistensi ovarium
Sindrom resistensi ovarium terjadi pada wanita amenore dengan pertumbuhan dan
perkembangan yang normal, namun memiliki peningkatan kadar gonadotropin.
Wanita ini akan sulit untuk hamil, bahkan dengan dosis gonadotropin eksogen
yang tinggi. Penyebab pasti kelainan ini belum sepenuhnya terungkap. Diduga
adanya gangguan pembentukan reseptor gonado-tropin di ovarium akibat proses

26
autoimun. Perlu dilakukan biopsi ovarium untuk membedakan dengan menopause
perokok.

c) Obat-obatan
d) Penyakit kronik

Beberapa penyakit kronis yang menjadi penyebab terganggunya siklus haid, Kanker payudara
dan lain-lain. Kelainan ini menimbulkan berat badan yang sangat rendah sehingga datangnya
haid akan terganggu (Suhaemi, 2006).

27
3. Patofisiologi

Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagai bagian dari sindrom hemaprodit
seperti testicular feminization, adalah penyebab utama dari amenore primer. Testicular
feminization disebabkan oleh kelainan genetik. Klien dengan aminore primer yang diakibatkan
oleh testicular feminization menganggap dan menyampaikan dirinya sebagai wanita yang
normal, memiliki tubuh feminin. Vagina kadang – kadang tidak ada atau mengalami kecacatan,
tapi biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir sebagai kantong kosong dan tidak
terdapat uterus. Gonad, yang secara morfologi adalah testis berada di kanal inguinalis. Keadaan
seperti ini menyebabkan klien mengalami amenore yang permanen.

Amenore primer juga dapat diakibatkan oleh kelainan pada aksis hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Hypogonadotropic amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana terdapat sedikit sekali kadar FSH
dan SH dalam serum. Akibatnya, ketidakadekuatan hormon ini menyebabkan kegagalan stimulus
terhadap ovarium untuk melepaskan estrogen dan progesteron. Kegagalan pembentukan estrogen
dan progesteron akan menyebabkan tidak menebalnya endometrium karena tidak ada yang
merasang. Terjadilah amenore. Hal ini adalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi
hipotalamus atau hipofosis anterior, seperti adenoma pitiutari.

Hypergonadotropic amenorrhoea merupakan salah satu penyebab amenore primer.


Hypergonadotropic amenorrhoea adalah kondisi dimnana terdapat kadar FSH dan LH yang
cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan
progesteron. Hal ini menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan
FSH dan LH dari hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau prematur menopause adalah penyebab
yang mungkin. Pada tes kromosom seorang individu yang masih muda dapat menunjukkan
adanya hypergonadotropic amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan seorang wanita tidak
pernah mengalami menstrausi dan tidak memiliki tanda seks sekunder. Hal ini dikarenakan
gonad ( oavarium ) tidak berkembang dan hanya berbentuk kumpulan jaringan pengikat.

Amenore sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi hipotalamus-hipofosis-ovarium.


Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-hipofosis-ovarium dapat bekerja secara fungsional.
Amenore yang terjadi mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi terhadap aliran darah yang

28
akan keluar uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasi ovarium sperti kelebihan
androgen yang menyebabkan polycystic ovary syndrome.

Tanda dan gejala yang muncul diantaranya :

 Tidak terjadi haid

 Produksi hormone estrogen dan progesterone menurun.

 Nyeri kepala

 Badan lemah

Tanda dan gejala tergantung dari penyebabnya :

a) Jika penyebabnya adalah kegagalan mengalami pubertas, maka tidak akan ditemukan

tanda – tanda pubertas seperti pembesaran payudara, pertumbuhan rambut kemaluan dan

rambut ketiak serta perubahan bentuk tubuh.

b) Jika penyebanya adalah kehamilan, akan ditemukan morning sickness dan pembesaran

perut.

c) Jika penyebabnya adalah kadar hormon tiroid yang tinggi maka gejalanya adalah denyut

jantung yang cepat, kecemasan, kulit yang hangat dan lembab.

d) Sindroma Cushing menyebabkan wajah bulat ( moon face ), perut buncit, dan lengan

serta tungkai yang lurus.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada amenore :

 Sakit kepala

 Galaktore ( pembentukan air susu pada wanita yang tidak hamil dan tidak sedang

menyusui )

 Gangguan penglihatan ( pada tumor hipofisa )

 Penurunan atau penambahan berat badan yang berarti

29
 Vagina yang kering

 Hirsutisme ( pertumbuhan rambut yang berlebihan, yang mengikuti pola pria ),

perubahan suara dan perubahan ukuran payudara

Terapi Penanganan Amenorrhea

Pengobatan yang dilakukan sesuai dengan penyebab dari amenorrhea yang dialami,
apabila penyebabnya adalah obesitas, maka diet dan olahraga adalah terapinya. Belajar untuk
mengatasi stress dan menurukan aktivitas fisik yang berlebih juga dapat membantu. Terapi
amenorrhea diklasifikasikan berdasarkan penyebab saluran reproduksi atas dan bawah, penyebab
indung telur, dan penyebab susunan saraf pusat.

Saluran Reproduksi

Aglutinasi labia (penggumpalan bibir labia) yang dapat diterapi dengan krim estrogen. Kelainan
bawaan dari vagina, hymen imperforata (selaput dara tidak memiliki lubang), septa vagina
(vagina memiliki pembatas diantaranya). Diterapi dengan insisi atau eksisi (operasi kecil).

1. Sindrom Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser

Sindrom ini terjadi pada wanita yang memiliki indung telur normal namun tidak
memiliki rahim dan vagina atau memiliki keduanya namunkecil atau mengerut.
Pemeriksaan dengan MRI atau ultrasonografi (USG) dapat membantu melihat
kelainan ini. Terapi yang dilakukan berupa terapi non-bedah dengan membuat vagina
baru menggunakan skin graft.

2. Sindrom feminisasi testis

Terjadi pada pasien dengan kromosom 46, XY kariotipe, dan memiliki dominan X-
linked sehingga menyebabkan gangguan dari hormon testosteron. Pasien ini memiliki
testis dengan fungsi normal tanpa organ dalam reproduksi wanita (indung telur,
rahim). Secara fisik bervariasi dari wanita tanpa pertumbuhan rambut ketiak dan
pubis sampai penampakan seperti layaknya pria namun infertil (tidak dapat memiliki
anak)

30
3. Parut pada rahim

Parut pada endometrium (lapisan rahim) atau perlekatan intrauterine (dalam rahim)
yang disebut sebagai sindrom Asherman dapat terjadi karena tindakan kuret, operasi
sesar, miomektomi (operasi pengambilan mioma rahim), atau tuberkulosis. Kelainan
ini dapat dilihat dengan histerosalpingografi (melihat rahim dengan menggunakan
foto rontgen dengan kontras). Terapi yang dilakukan mencakup operasi pengambilan
jaringan parut. Pemberian dosis estrogen setelah operasi terkadang diberikan untuk
optimalisasi penyembuhan lapisan dalam rahim.

Gangguan Indung Telur

1. Disgenesis Gonadal

Adalah tidak terdapatnya sel telur dengan indung telur yang digantikan oleh jaringan
parut. Terapi yang dilakukan dengan terapi penggantian hormon pertumbuhan dan
hormon seksual.

2. Kegagalan Ovari Prematur

Kelainan ini merupakan kegagalan dari fungsi indung telur sebelum usia 40 tahun.
Penyebabnya diperkirakan kerusakan sel telur akibat infeksi atau proses autoimun.

3. Tumor Ovarium

Tumor indung telur dapat mengganggu fungsi sel telur normal.

Gangguan Susunan Saraf Pusat

Gangguan Hipofisis

Tumor atau peradangan pada hipofisis dapat mengakibatkan amenorrhea.


Hiperprolaktinemia (Hormone prolaktin berlebih) akibat tumor, obat, atau kelainan
lain dapat mengakibatkan gangguan pengeluaran hormon gonadotropin. Terapi
dengan menggunakan agonis dopamin dapat menormalkan kadar prolaktin dalam
tubuh. Sindrom Sheehan adalah tidak efisiennya fungsi hipofisis. Pengobatan berupa
penggantian hormon agonis dopamin atau terapi bedah berupa pengangkatan tumor.

31
Gangguan Hipotalamus

Sindrom polikistik ovari, gangguan fungsi tiroid, dan sindrom cushing merupakan
kelainan yang menyebabkan gangguan hipotalamus. Pengobatan sesuai dengan
penyebabnya.

Hipogonadotropik

Penyebabnya adalah kelainan organik dan kelainan fungsional (anoreksia nervosa


atau bulimia). Pengobatan untuk kelainan fungsional membutuhkan bantuan
psikeater.

2.6 Pendarahan Bukan Haid


Pengertian
Perdarahan diluar haid adalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid. Ada
dua macam perdarahan di luar haid yaitu metroragia dan menometroragia
Metroragia adalah perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus
haid. Perdarahan ovulatoir terjadi pada pertengahan siklus sebagai suatu spotting dan dapat
lebih diyakinkan dengan pengukuran suhu basal tubuh. Penyebabnya adalah kelainan
organik (polip endometrium, karsinoma endometrium, karsinoma serviks), kelainan
fungsional dan penggunaan estrogen eksogen
Menoragia adalah Perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari 7 hari dengan
jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Penyebab dan pengobatan kasus ini sama
dengan hipermenorea.

Beberapa Penyebab Perdarahan Diluar Haid


1. Polip
a. Pengertian
Polip adalah tumor bertangkai yang kecil dan tumbuh dari permukaan
mukosa. Servikal polip adalah polip yang terdapat dalam kanalis servikalis (Denise
tiran:2005 )

32
b. Gejala
Polip serviks bias saja dialami seseorang tanpa ia ketahui kalau ia memiliki
polip serviks, leukorea yang susah disembuhkan. Jika sudah digunakan berbagai
macam obat, dan personal hygiene telah dijaga tetapi leukorea belum juga sembuh
maka akan terasa discomfort dalam vagina yaitu perasaan tidak nyaman dalam
vagina, baik sebelum minum air maupun dalam kondisi biasa, kontak berdarah
misalnya; vagina selalu mengeluarkan darah setelah melakukan hubungan seks,
perlu di curigai adanya polip serviks.

c. Dasar Diagnosis
Berdasarkan keluhan yang dikemukakan, pada pemeriksaan inspekulum di jumpai:
 Jaringan bertambah
 Mudah berdarah
 Terdapat pada vagina bagian bawah

d. Penanganan
Polip hanya dipelintir sampai putus, kemudian tangkainya di kuret. Tindakan
dilakukan dalam pembiusan umum (general anasthesia). Selanjutnya jaringan polip
dikirim ke laboratorium patologi guna memastikan bahwa histologis-nya
jinak/sesuai dengan gambaran jaringan polip serviks. Kemungkinan ganasnya
kecil.

2. Ero portio
a. Pengertian
Erosio porsiones (EP) adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang
terjadi pada daerah porsio serviks uteri (mulut rahim). Penyebabnya bisa karena
infeksi dengan kuman-kuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat
kimia/alat tertentu; umumnya disebabkan oleh infeksi.
Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya
sebagian/seluruh permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal

33
pada permukaan dan atau mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami
inflamasi dari kanalis serviks. Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan
granuler, sehingga serviks akan tampak merah, erosi dan terinfeksi. Erosi serviks
dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.

Erosi serviks dapat dibagi menjadi 3 yaitu:


a Erosi ringan : meliputi ≤ 1/3 total area serviks
b Erosi sedang : meliputi 1/3-2/3 total area serviks
c Erosi berat : meliputi ≥ 2/3 total area serviks.

b. Penyebab
1) Level estrogen: : Erosi serviks merupakan respon terhadap sirkulasi estrogen
dalam tubuh :
a. Dalam kehamilan: Erosi serviks sangat umum ditemukan dalam kehamilan
karena level estrogen yang tinggi. Erosi serviks dapat menyebabkan
perdarahan minimal selama kehamilan, biasanya saat berhubungan seksual
ketika penis menyentuh serviks. Erosi akan menghilang spontan 3-6 bulan
setelah melahirkan.
b. Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB : erosi serviks lebih umum terjadi
pada wanita yang mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang
tinggi.
c. Pada bayi baru lahir : erosi serviks ditemukan pada 1/3 dari bayi wanita
dan akan menghilang pada masa anak-anak oleh karena respon maternal
saat bayi berada di dalam rahim.
d. Wanita yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT): karena
penggunaan estrogen pengganti dalam tubuh berupa pil,dan krim.

a) Infeksi: Teori bahwa infeksi menjadi penyebab erosi serviks mulai


menghilang. Bukti-bukti menunjukkan bahwa infeksi tidak menyebabkan erosi,
tapi kondisi erosi akan lebih mudah terserang bakteri dan jamur sehingga
mudah terserang infeksi.

34
b) Penyebab lain : infeksi kronis di vagina, dan kontrasepsi kimia dapat
mengubah level keasaman vagina dan sebabkan erosi serviks. Erosi serviks
juga dapat disebabkan karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon,
benda asing di vagina, atau terkena speculum)

c. Gejala
1 Mayoritas tanpa gejala
2 Perdarahan vagina abnormal (yang tidak berhubungan dengan siklus
menstruasi) yang terjadi setelah berhubungan seksual (poscoital), diantara siklus
menstruasi, disertai keluarnya cairan mucus yang jernih/kekuningan, dapat
berbau jika disertai infeksi vagina.
3 Erosi serviks disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks meningkat
secara signifikan, berbentuk mucus, mengandung banyak sel darah putih,
sehingga ketika sperma melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan
menyulitkan perjalanan sperma. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya
infertilitas pada wanita.

d. Penanganan
a) Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio.
b) Melakukan penatalaksanaan pemberian obat. Lyncopar 3x1 untuk infeksi berat
yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus pneomokokus stafilokokus dan
infeksi kulit dan jaringan lunak.
Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan. Mefinal 3x1 berfungsi untuk
menghilangkan rasa sakit.

3. Ulcus portio
a. Pengertian
Ulkus portio adalah suatu pendarahan dan luka pada portio berwarna merah
dengan batas tidak jelas pada ostium uteri eksternum.

35
b. Etiologi
Penggunaan IUD, pemakaian pil, perilaku seksual yang tidak sehat, trauma.
c. Patofisiologi
Proses terjadinya ulkus portio dapat disebabkan adanya rangsangan dari luar
misalnya IUD. IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat
membentuk ion Ca, kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi
koalugasi membaran sel dan terjadilah erosi portio. Bisa juga dari gesekan benang
IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan sel superfisialis
terkelupas dan terjadilah ulkus portio dan akhir nya menjadi ulkus. Dari posisi IUD
yang tidak tepat menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan
sekresi sekret vagina yang meningkat dan menyebabkan kerentanan sel
superfisialis dan terjadilah erosi portio.Dari semua kejadian ulkus portio itu
menyebabkan tumbuhnya bakteri patogen, bila sampai kronis menyebabkan
metastase keganasan leher rahim.

d. Gejala
a. Adanya fluxus
b. Portio terlihat kemerahan dengan batas tidak jelas
c. Adanya kontak berdarah
d. Portio teraba tidak rata

e. Penanganan
1) Membatasi hubungan suami istri
Adanya ulkus porsio membuat porsio mudah sekali berdarah setiap kali
mengalami gesekan sekecil apapun, sehingga sebaiknya koitus dihindari
sampai ulkus sembuh
2) Menjaga kebersihan vagina
Bila kebesihan vagina tidak dijaga, maka akan dapat memperburuk kondisi
porsio, sebab akan semakin rentan terkena infeksi lainnya.
3) Lama pemakaian IUD harus diperhatikan.

36
4. Trauma
b. Pengertian
Trauma adalah dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian
medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya
diskontinuitas dari jaringan.
Sedangkan dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang
alat atau benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artinya
orang yang sehat, tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda
yang dapat menimbulkan kecederaan.

c. Gejala
Nyeri vulva dan vagina, perdarahan dan pembengkakkan merupakan gejala-
gejala yang paling khas. Kemungkinan gejala lainnya adalah kesulitan dalam
urinasi dan ambulasi

d. Penyebab
Trauma yang menyebabkan perdarahan di luar haid contohnya yang sering
terjadi pada akseptor IUD dan usai berhubungan intim (utamanya pada wanita
yang telah menopause) Tempat perlukaan yang paling sering akibat koitus adalah
dinding lateral Vagina, verniks posterior dan kubah Vagina (setelah histerektomi).

e. Penanganan
Penanganannya sesuai dengan penyebabnya , misalnya trauma yang
disebabkan translokasi IUD, maka IUD nya harus dicabut, dan diganti dengan alat
kontrasepsi lain.Sedangkan buat para wanita yang menopause yang mengalami
perdarahan setelah koitus, bisa diberi terapi hormon.

5. Polip Endometrium
a. Pengertian
Polip endometrium merupakan salah satu penyebab gangguan kesuburan
karena dapat mengganggu penempelan embrio di dalam rahim. Karena itu bila

37
hasil 3 pemeriksaan dasar normal (sperma, sel telur dan saluran telur) maka perlu
dilakukan tindakan untuk mengambil polip di dalam rahim.
Polip endometrium atau polip uterus adalah massa atau jaringan lunak yang
tumbuh pada lapisan dinding bagian dalam endometrium dan menonjol ke dalam
rongga endometrium. Pertumbuhan sel – sel yang berlebih pada lapisan
endometrium (rahim) mengarah pada pembentukan polip. Besarnya polip
endometrium mulai dari beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter yang
seukuran bola golf atau lebih besar. Polip endometrium melekat pada dinding
endometrium yang dihubungkan melalui sebuah tangkai tipis.
Seorang wanita dapat memiliki polip endometrium satu atau banyak, dan
kadang-kadang menonjol melalui vagina menyebabkan kram dan
ketidaknyamanan. Polip endometrium dapat menyebabkan kram karena mereka
melanggar pembukaan leher rahim. Polip ini dapat terjangkit jika mereka bengkok
dan kehilangan semua pasokan darah mereka. Ada kejadian langka saat ini polip
menjadi kanker. Wanita yang telah mengalaminya terkadang sulit untuk hamil

b. Gejala
Tidak ada penyebab pasti dari polip endometrium, tetapi pertumbuhan mereka
dapat dipengaruhi oleh kadar hormon, terutama estrogen. Seringkali tidak ada
gejala, tetapi beberapa gejala dapat diidentifikasi terkait dengan pembentukannya,
seperti:
a) Sebuah kesenjangan antara perdarahan haid
b) Tidak teratur atau perdarahan menstruasi yang berkepanjangan
c) Perdarahan haid yang terlalu berat
d) Rasa sakit atau dismenore (nyeri dengan menstruasi)

c. Komplikasi dan Faktor Resiko


Polip endometrium biasanya sel jinak, Sekitar 0,5 persen dari polip
endometrium mengandung sel-sel adenokarsinoma. Sel-sel ini akhirnya akan
berkembang menjadi kanker. Polip dapat meningkatkan resiko keguguran pada
wanita yang menjalani fertilisasi in vitro dalam perawatan. Jika mereka

38
berkembang dekat saluran telur, mereka dapat menjadi penyebab kesulitan dalam
menjadi hamil. Polip rahim biasanya terjadi pada wanita di usia 40-an dan 50-an.
Wanita yang memiliki faktor risiko tinggi adalah mereka yang mengalami obesitas,
memiliki tekanan darah tinggi. dan memiliki sejarah polip serviks dalam keluarga
mereka. Satu dari setiap sepuluh perempuan dapat memiliki polip endometrium,
dan diperkirakan bahwa sekitar 25 persen dari mereka yang mengalami pendarahan
vagina abnormal memiliki polip endometrium.

d. Diagnosa Polip Endometrium


Berikut beberapa tes dan prosedur untuk menegakkan diagnosa polip
endometrium :
a) USG transvaginal
b) Histeroskopi
c) Kuretase

e. Pengobatan
1) Waspada. Polip kecil yang tidak menimbulkan gejala dan tanda tidak
membutuhkan pengobatan kecuali beresiko menjadi kanker endometrium
2) Obat. obat hormon tertentu, termasuk pelepas hormon progestin dan agonis-
gonadotropin, mungkin dapat mengecilkan polip endometrium dan mengurangi
gejala.namun biasanya gejala akan kambuh setelah berhenti minum obat.
3) Kuretase. Kuretase adalah tindakan untuk mengikis dinding endometrium
bagian dalam dengan menggunakan alat yang berbentuk logam yang ujungnya
tajam. Selain menghilangkan polip, kuretase bertujuan untuk mengumpulkan
sampel atau contoh jaringan untuk diperiksa di laboratorium.
4) Histerektomi. Jika pemeriksaan lebih dekat menunjukkan bahwa polip
endometrium mengandung sel kanker, operasi untuk mengangkat endometrium
(histerektomi) menjadi perlu untuk dilakukan.

39
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Haid atau menstruasi merupakan ciri khas kematangan biologis seorang perempuan. Haid
merupakan salah satu perubahan siklik yang terjadi pada alat kandungan sebagai persiapan untuk
kehamilan.
Setiap perempuan normal akan mengalami haid setiap bulannya, yang dipengaruhi oleh
faktor hormon, enzim , vascular, dan prostaglandin.
Sebelum datangnya haid perempuan akan mengalami sindrom pra-haid yang dapat
mengganggu aktivitas sehari-hari, yang berupa perubahan-perubahan atau gejala-gejala fisik
maupun mental. Sindrom pra-haid ini berkaitan dengan meningkatnya kadar hormon setiap
bulan, rendahnya kadar gula, kekurangan vitamin, perubahan yang tetap dalam bichemicals
didalam otak yang mempengaruhi mood, kombinasi dari faktor-faktor itu, atau bukan salah
satunya.
Sindrom pra-haid ini tidak selalu sama pada setiap orang, begitu juga dengan siklus haid
juga berbeda antara setiap perempuan walau saudara kembar sekalipun. Siklus haid biasanya 28
hari, yang berlangsung selama 3-7 hari. Siklus ini tidak selalu sama setiap bulannya. Perbedaan
siklus ini ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya gizi, stres, dan usia.
Siklus haid ini berlangsung dalam 4 masa (stadium) yaitu stadium menstruasi, stadium post
menstruum, stadium inter menstruum, dan stadium pramenstruum.
Sekarang para perempuan aktif yang sibuk bekerja, baik didalam maupun diluar rumah,
tidak perlu khawatir lagi, karena mereka dapat mengatur siklus haid mereka dengan cara
mengkonsumsi kontrasepsi oral yang mengandung hormone estrogen dan progesterone.

Adapun gangguan haid yang terjadi dalam masa reproduksi seperti hipermenorea,
hipomenorea, polimenorea, oligomenorea, amenorea, premenstrual mention, mastalgia,
mittelschmerz, disminorea, dan masih banyak gangguan haid lainnya yang sering dirasakan oleh
setiap perempuan.

40
DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Biran. 1996. Gangguan Haid pada Remaja dan Dewasa. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia: Jakarta.
Burns, August,dkk. 2000. Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan. Yayasan
Essentia Medica: Yogyakarta.
Masland, Robert, dkk. 2004. Apa yang Ingin Diketahui Remaja tentang Seks. Bumi
Aksara: Jakarta.
Shreeve, Caroline. 1993. Sindrom Pramenstruasi. Arcan Penerbit Umum: Jakarta.
Tan, Anthony. 2002. Wanita dan Nutrisi. Bumi Aksara: Jakarta.
Werner, David, dkk. 1999. Apa Yang Anda Kerjakan Bila Tidak Ada Dokter. Yayasan
Essentia Medica dan Andi Offset: Yogyakarta.
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo: Jakarta.
Winiastri, Virnye, dkk. 2002. Pengalaman Materi Membantu Remaja Mengatasi Dirinya.
Deputi Bidang KB dan Kespro BKKBN: Jakarta.
Zein, Asmar Yetty, dkk. 2005. Psikologi Ibu dan Anak. Fitramaya: Yogyakarta.

41