Anda di halaman 1dari 7

BAB II

INFORMASI TENTANG PERUSAHAAN TEMPAT KERJA PRAKTEK

2.1 Data Perusahaan


Informasi data perusahaan tempat kerja praktek penulis sebagai berikut ini :
Nama Perusahaan : PT. TETHAGRA CATUR MATRA
Alamat Perusahaan : Gd. Menara Hijau 7th Floor, Suite 708,
Jl. MT Haryono Kav.33, Pancoran,
Jakarta Selatan, 12770.
Telepon : (021) 79 009 19
Fax : (021) 79 009 45
e-mail : tethagra.cm@gmail.com
Akte Pendirian Perusahaan : Notaris : IRWAN AZWIR TANJUNG, SH
No. 01 – Tgl 02 September 2014
Akte Perubahan : Notaris : IRWAN AZWIR TANJUNG, SH
No. 04 – Tgl 19 Maret 2015
Bidang Usaha : Jasa Konsultansi
Golongan/ Kualifikasi : Menengah (Grade 3)
Tanda Daftar Perusahaan (TDP) : No. 09.03.1.68.94251
Surat Keterangan Terdaftar Direktorat : S-3699KT/WPJ.04/KP.0803/2014
Jenderal Pajak : Tgl. 16 Oktober 2014
Izin Usaha Jasa Konstruksi Nasional : No. 1-908658-3171-4-00932
Sertifikat Badan Usaha Jasa Konsultan : No. 4-3171-04-008-1-09-908658
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : No. 71.235.307.7-061.000
Tanda Anggota INKINDO : No. 15724/P/3234.DKI
Keterangan Domisili Perusahaan : No. 2016/1.824.5/2014

Gambar 2.1 Profil PT. Tethagra CM


(Sumber : Dokumentasi PT. Tethagra CM, 2019)

7
2.2 Organisasi Perusahaan
1. Direktur Utama
Nama : Ir. Firman Widodo, MM.
Tempat, tanggal lahir : Salatiga, 16 Juni 1956
Pendidikan : Teknik Sipil
Magister Manajemen
Ahli : Manajemen proyek / manajemen konstruksi
Surveyor kuantitas
Kontraktor dan pedagangan umun
Pengembangan
Sistem kualitas proyek ISO 9000-2001
2. Direktur
Nama : Ir. Listyanto BK, IAI.
Tempat tanggal lahir : Salatiga, 5 November 1955
Pendidikan : Arsitek
Ahli : Master planner
Arsitektur dan desain interior
Pengembangan desain rekayasa
Manajemen proyek / manajemen konstruksi
Surveyor kuantitas
3. Komisaris : Ratnaningrum.
4. Tenaga Ahli Manajemen Konstruksi :
Project Manager : 8 Orang
Ahli Manajemen Konstruksi : 12 Orang
Ahli Teknik Arsitektur : 8 Orang
Ahli Teknik Sipil : 8 Orang
Ahli Teknik MEP : 8 Orang
Ahli Geodetik : 1 Orang
Senior Supervisor : 28 Orang
Supervisor : 50 Orang

8
2.3 Daftar dan Gambar-Gambar Proyek PT. Tethagra Catur Matra
Jenis pekerjaan yang pernah dikerjakan oleh PT. Tethagra Catur Matra beserta
pihak yang memberi tugas dan tahun mulai pekerjaan proyeknya yaitu sebagai berikut :
Tabel 2.1 daftar proyek yang sudah atau sedang dikerjakan oleh PT. Tethagra Catur
Matra
No Jenis Pekerjaan & Lokasi Pemberi Tugas Tahun
Manajemen Konstruksi Proyek
1 Pembangunan Komplek Aeropolis Intiland Group 2010-2017
Tahun 2010 - Tangerang
Manajemen Proyek Gani Djemat Tower PT Gama Bangun
2 2015-2017
– Jakarta Tatajaya
Manajemen Konstruksi Proyek West PT Harapan Global
3 2015-2019
Vista – Jakarta Niaga
Manajemen Konstruksi Proyek
Pembangun Jakarta Garden City Cluster PT Modernland
4 2015-2016
Thames dan Cluster Mississippi - Realty
Jakarta
Manajemen Konstruksi Proyek Astra PT Astra
5 2015-2016
Biz Center - BSD Banten. International Tbk.
Manajemen Konstruksi Proyek New
2016-2017
6 SKM Gudang Garam Unit IV Tahap 2 - PT Gudang Garam
Kediri
Manajemen Konstruksi Proyek Gudang 2016-2017
7 PT Gudang Garam
Garam Training Centre Yogyakarta
Manajemen Konstruksi Proyek PT China Sonangol
8 2016-2020
Indonesia 1 Tower Jakarta Media Investama
Manajemen Konstruksi Proyek Relokasi PT Kereta Cepat
9 Rumah Dinas di Area Halim Perdana Indonesia-China 2017-2018
Kusuma, Jakarta
Manajemen Konstruksi Proyek
10 PT PP Property 2018-2019
Apartemen Begawan Malang
Manajemen Konstruksi Proyek Lagoon
PT PP Property
11 Avenue Sungkono Grand Sungkono 2018-2019
Lagoon, Surabaya
Manajemen Konstruksi Proyek Urban PT Urban Jakarta
12 2018-2021
Sky Apartment, Bekasi Propertindo
Manajemen Konstruksi Proyek The Park PT Nirvana Wastu
13 2018-2019
Sawangan, Depok Amerta
Manajemen Konstruksi Proyek The PT Adhi Persada
14 2018-2020
Conexio, Bekasi Property
Manajemen Konstruksi Proyek
PT Waskita
15 Apartemen Nines Plaza Residences, 2018-2021
Property
BSD Tangerang
(Sumber : Dokumentasi PT. Tethagra CM, 2019)

9
2.4 Latar Belakang Proyek
Seiring dengan perkembangan urbanisme vertikal, mulai bermunculan bangunan
gedung super-tinggi. Tentunya, perancangan gedung super-tinggi memiliki tantangan
tersendiri. Selain desain terhadap beban angin dan gempa yang cukup kompleks,
masalah yang kerap kali timbul terkait dengan durasi pelaksanaan konstruksi, serta
bobot gedung yang relatif besar. Karena kedua hal ini memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap biaya proyek (overhead, preliminary cost, bunga uang atau cost of
money) dan aliran penerimaan dana untuk pengembang, perlu dipikirkan bagaimana
cara mempersingkat dan mempermudah pelaksanaan konstruksi, sekaligus mengatasi
masalah bobot gedung tersebut.
Dalam hal ini, tidak hanya sistem penahan beban lateral saja yang perlu
diperhatikan. Sistem penahan beban gravitasi juga memerlukan kajian khusus. Efisiensi
biaya dan waktu, serta efektivitas pelaksanaan konstruksi bergantung pada sistem
penahan beban gravitasi yang dipilih. Oleh karena itu, studi untuk menentukan sistem
penahan beban gravitasi dibutuhkan pada tahap awal perencanaan, seperti pada kasus
Proyek Indonesia-1.

Gambar 2.2 Impresi Gedung Indonesia 1


(Sumber : Sukamta, 2016)

10
Proyek Pembangunan Indonesia 1 terlihat pada gambar 2.2 adalah salah satu mega
proyek berskala internasional yang berusaha dikembangkan oleh PT. China Sonangol
Media Investment. Proyek ini dibangun dengan menggandeng kontraktor asing dari
China yang akan bekerja sama dengan kontraktor Indonesia membentuk joint operation.
Gedung yang diproyeksikan sebagai gedung tertinggi di Indonesia ini berlokasi di jalan
Thamrin Jakarta Pusat yang merupakan daerah strategis di ibu kota. Gedung Indonesia 1
merupakan suatu pengembangan mixed-use berskala internasional, dimana pengembang
utamanya merupakan investor asing dari Tiongkok.
Gedung ini terdiri dari dua tower utama yaitu north tower (58 lantai) dan south
tower (56 lantai), dua link bridge masing-masing di lantai 5 dan lantai 20, serta 7
basement. Gendung pencakar langit yang berdiri di tengah padatnya gedung di
sepanjang jalan Thamrin ini dibangun di atas tanah seluas 19,044 m2 dengan sistem
semi top down.
Luas terbangun adalah 306.000 m2, dimana besmennya sendiri mencakup luas
sebesar 97.000 m2. Tinggi gedung mencapai 303 meter dan dengan demikian masuk
dalam kategori gedung super-tinggi menurut definisi dari Council on Tall Buildings
and Urban Habitat, CTBUH. Fungsi gedung terutama adalah sebagai perkantoran,
dengan 10 lantai teratas pada north tower berfungsi sebagai sebagai apartemen, hotel,
dan seluruh bagian podium sebagai retail.

(a)

(b)

Gambar 2.3Skema struktur 3D, sistem penahan gravitasi (a) core-wall dan (b)
outrigger.
(Sumber : Sukamta, 2016)

11
Konstruksi gedung berupa mixed concrete-steel dengan sistem penahan lateral
tunggal berupa coupled core-wall dan outrigger beton bertulangyang dirancang untuk
memenuhi kriteria performance-based. Sistem penahan gravitasi berupa balok baja
komposit dengan lantai beton di atas metal deck. Fundasi gedung ini menerapkan sistem
post-grouted bored-pile yang mempertinggi daya dukung tiang dibandingkan metode
konvensional. Gambar 1.2 menunjukkan skema struktur secara 3 dimensi, baik struktur
secara keseluruhan maupun sistem lantai tipikal dengan core-wall beton dan balok-
balok baja komposit.
Sistem penahan lateral tunggal coupled core-wall dan outriggerdigunakan karena
sistem ini dapat memberikan efisiensi material yang lebih baik untuk gedung super-
tinggi seperti Indonesia-1 dibandingkan dengan sistem ganda core-wall dan frame,
selain pengerjaannya juga akan lebih sederhana. Di lain pihakpenggunaannya
mengharuskan perencana menggunakan pendekatan berbasis kinerja yang memerlukan
kajian enjinering mendalam, dimana modalpush-over analysis digunakan untuk gedung
Indonesia-1. Pendekatan ini memfasilitasi studi perilaku struktur secara lebih cermat
sehingga komponen yang benar-benar memerlukan dapat diberikan kekuatan yang
diperlukan dan diberikan detil yang baik.
Perancangan gedung tinggi di Indonesia dilakukan mengikuti ketentuan SNI 03-
1726: 2012, yang merupakan peraturan gempa yang didasarkan pendekatan preskriptif.
Pada peraturan tersebut tercantum daftar sistem struktur yang diijinkan berdasarkan
ketinggian bangunan dan juga kategori desain seismik. Meski aplikasi daftar sistem
struktur tersebut cukup efektif digunakan untuk jenis bangunan yang tergolong tipikal
dengan jumlah lantai di bawah sekitar 40 lantai, namun daftar tersebut menjadi tidak
efektif atau bahkan tidak relevan digunakan untuk kasus gedung yang sangat tinggi,
dimana sistem struktur yang tepat dan efektif digunakan tidak tercakup dalam daftar
tersebut (contoh: coupled wall dengan outrigger). Untuk gedung supertinggi seperti
Indonesia-1, pemilihan sistem penahan lateral tunggal coupled corewall dan outrigger
didasarkan atas kenyataan bahwa sistem ini akan memberikan efisiensi material yang
lebih baik dibandingkan dengan sistem ganda corewall dan frame, selain pengerjaannya
juga akan lebih sederhana. Di lain pihak penggunaannya mengharuskan perencana
menggunakan pendekatan berbasis kinerja yang memerlukan kajian enjinering
mendalam.

12
Ada dua jenis analisis yang saat ini umum digunakan dalam Performance-Based
Seismic Design (PBSD), yaitu Nonlinear Response History Analysis (NLHRA) dan
Nonlinear Static Procedure (NSP). NLRHA dinilai paling ideal dan akurat untuk
analisis tall building namun tidak praktis dilakukan karena running time yang sangat
lama dan kendala pada pemilihan ground motion input, khususnya di Indonesia. NSP
merupakan jenis analisis nonlinear yang paling praktis dilakukan namun dinilai kurang
akurat karena keterbatasannya mencakup pengaruh ragam getar tinggi. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu prosedur analisis yang masih praktis dilakukan namun juga dapat
memberikan hasil yang relatif cukup akurat. Berdasarkan verifikasi hasil studi dan riset
analitis, Modal Pushover Analysis (MPA) merupakan prosedur alternatif yang dinilai
dapat mengatasi kekurangan maupun kendala prosedur lain (Chopra).
Dengan adanya kendala pada NLRHA dan NSP, ada satu metode analisis yang
menarik untuk ditinjau karena dikembangkan untuk mengatasi kendala NLRHA dan
NSP namun dinilai masih dapat mempertahankan tingkat akurasi yang cukup memadai,
yaitu MPA. Secara prinsip, MPA merupakan pengembangan dari NSP yang
dikombinasikan dengan RSA, yaitu dengan penambahan pengaruh ragam getar tinggi
untuk meningkatkan akurasi hasil analisis. Analisis pushover tidak hanya dilakukan
untuk mode fundamental, melainkan untuk juga untuk modemode yang dianggap
memberi kontribusi besar terhadap respons struktur yang ditinjau. Validasi prosedur
MPA dikembangkan dari beberapa asumsi sehubungan pengaruh taraf nonlinearitas
gedung terhadap analisis modal. Meskipun analisis modal tidak sepenuhnya berlaku
untuk sistem yang mengalami nonlinearitas, namun pembahasan respons dinamik
berbasis modal sistem struktur saat kondisi linear masih bisa memberi manfaat.
Berdasarkan studi analytical, ditunjukkan bahwa meskipun mode getar sudah tidak lagi
uncoupled satu sama lain, namun taraf modal coupling masih terlihat sangat kecil. Oleh
karena itu, berdasarkan studi analytical tersebut, hasil MPA dibuktikan masih memiliki
tingkat akurasi yang cukup baik, mendekati hasil NLRHA (Chopra). Running time
untuk analisis MPA, untuk gedung setinggi 60lantai adalah sekitar 6 jam sehingga
relatif praktis dilakukan.

13