Anda di halaman 1dari 26

1

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Atresia ani adalah kelainan congenital dimana lubang anus tertutup
secara abnormal. Atresia ani atau anus imperforate memiliki anus tampak
rata, cekung ke dalam, atau kadang berbentuk anus tetapi lubang anus yang
ada tidak terbentuk secara sempurna sehingga lubang tersebut tidak
terhubung dengan saluran rectum. Rectum yang tidak terhubung dengan anus
maka feses tidak dapat keluarkan dari tubuh secara normal. Tidak adanya
lubang anus ini karena terjadi gangguan pemisahan kloaka pada saat
kehamilan (Yeyen, 2009)
Indonesia memiliki angka kejadian atresia ani sangat tinggi yaitu 90%.
Masyarakat pada daerah perkotaan sangat erat kaitannya dengan kepadatan
penduduk dan lingkungan yang kumuh. Lingkungan yang kumuh dapat
menjadi faktor pendukung terjadinya atresia ani. Tingkat pendidikan dan
pengetahuan yang rendah dan pola nutrisi yang kurang baik memungkinkan
bahwa keluarga dengan i bu hamil kurang memperoleh informasi mengenai
kesehatan, pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan.
Lingkungan yang terpapar dengan zat-zat racun seperti asap rokok, alcohol
dan nikotin dapat mempengaruhi perkembangan janin (Arifin, 2011).
Maka dari itu untuk menambah wawasan khususnya keluarga dan ibu
hamil penulis mengangkat tema atresia ani.

1.2 Tujuan
1) Tujuan Umum
Agar mahasiswa mengetahui tinjauan teori atresia ani serta asuhan
keperawatannya.
2) Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengkajian pada pasien atresia ani.
b. Untuk mengetahui analisa data pada pasien atresia ani.
c. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan pada pasien atresia ani.
d. Untuk mengetahui intervensi keperawatan pada pasien atresia ani.
2

e. Untuk mengetahui implemenatasi pada pasien atresia ani.


f. Untuk mengetahui evaluasi pada pasien atresia ani.

1.3 Manfaat Penelitian


Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa dapat memahami dan mengaplikasikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan atresia ani.
b. Bagi keluarga
Diharapkan makalah ini dapat menambah pengetahuan keluarga dalam
merawat pasien dengan atresia ani.
3

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian
Anus Imperforta (Atresia Ani) merupakan suatu kelainan
malformasi congenital dimana terjadi ketidaklengkapan perkembangan
embrionik pada bagian anus atau tertutupnya anus secara abnormal atau
dengan kata lain tidak ada lubang secara tetap pada daerah anus. Lokasi
terjadinya anus imperforate ini meliputi bagian anus, rectum, atau bagian di
antara keduanya. (Aziz Alimul Hidayat, 2008)

Atresia ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus


imperforata meliputi anus, rektum, atau batas di antara keduanya (Betz,
2002). Atresia ani merupakan kelainan bawaan (kongenital), tidak adanya
lubang atau saluran anus (Donna, 2003).

Atresia ani adalah tidak lengkapnya perkembangan embrionik


pada distal anus atau tertutupnya anus secara abnormal (Suradi, 2001).
Atresia ani atau anus imperforata adalah tidak terjadinya perforasi membran
yang memisahkan bagian endoterm mengakibatkan pembentukan lubang
anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam
atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan
rektum (Purwanto, 2001).
4

2.2 Etiologi
Penyebab sebenarnya dari atresia ani ini belum diketahui pasti, namun
kelainan bawaan anus dapat di sebabkan oleh (Arifin, 2011):

1. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit karena


gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari tonjolan
embrionik.
2. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur, sehingga bayi lahir
tanpa lubang anus.
3. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena ada
kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau
3 bulan.

Berkaitan dengan sindrom down. Penelitian menunjukkan adanya


hubungan antara atresia ani dengan pasien dengan trisomi 21 (Down's
syndrome). Kedua hal tersebut menunjukkan bahwa mutasi dari
bermacam-macam gen yang berbeda dapat menyebabkan atresia ani atau
dengan kata lain etiologi atresia ani bersifat multigenik.

4. Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah


usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara
minggu keempat sampai keenam usia kehamilan.
5. Kelainan sistem pencernaan terjadi kegagalan perkembangan anomali
pada gastrointestinal.
6. Kelainan sistem perkemihan terjadi kegagalan pada genitourinary.
7. Risiko atresia ani meningkat pada bayi yang memiliki saudara dengan
kelainan atresia ani yakni 1 dalam 100 kelahiran, dibandingkan dengan
populasi umum sekitar 1 dalam 5000 kelahiran.
Penyebab sebenarnya dari atresia ani ini belum diketahui pasti,
namun ada sumber yang mengatakan bahwa kelainan bawaan anus
disebabkan oleh:

1. Karena kegagalan pembentukan septum urorektal secara komplit


karena gangguan pertumbuhan, fusi, atau pembentukan anus dari
5

tonjolan embrionik.
2. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan dubur, sehingga bayi
lahir tanpa lubang anus.
3. Gangguan organogenesis dalam kandungan penyebab atresia ani, karena
ada kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12
minggu atay 3 bulan.
4. Kelainan bawaan, anus umumnya tidak ada kelainan rektum, sfingter,
dan otot dasar panggul. Namun demikian pada agenesis anus, sfingter
internal mungkin tidak memadai. Menurut penelitian beberapa ahli
masih jarang terjadi bahwa gen autosomal resesif yang menjadi
penyebab atresia ani. Orang tua tidak diketahui apakah mempunyai gen
carrier penyakit ini. Janin yang diturunkan dari kedua orang tua yang
menjadi carrier saat kehamilan mempunyai peluang sekitar 25% - 30%
dari bayi yang mempunyai sindrom genetik, abnormalitas kromosom,
atau kelainan kongenital lain juga beresiko untuk menderita atresia ani.

2.3 Patofisiologi
Kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorektal
secara komplit karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus
dari tonjolon embrionik, sehingga anus dan rectum berkembang dari
embrionik bagian belakang. Ujung ekor dari bagian belakang berkembang
menjadi kloaka yang merupakan bakal genitourinari dan struktur anorektal.
Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal.
Terjadi atresia anal karena tidak ada kelengkapan dan perkembangan
struktur kolon antara 7-10 minggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan
migrasi dapat juga kerena kegagalan dalam agenesis sacral dan
abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang
keluar melalui anus sehingga intestinal mengalami obstruksi. Putusnya
saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi baru lahir
tanpa lubang anus. Atresia ani ini adalah suatu kelainan bawaan, terdapat
tiga letak:
6

1) Letak tinggi (supralevator): rectum berakhir di atas M. levator ani (M.


puborektalis) dengan jarak antara ujung buntu rectum dengan kulit
perineum lebih dari 1 cm. letak upralevator biasanya disertai dengan fistel
ke saluran kencing atau saluran genital.
2) Letak tengah (intermediate): rectum terletak pada M. levator ani tetapi
tidak menembusnya.
3) Letak rendah: rectum berakhir di bawah M. levator ani sehingga jarak
antara kulit dan ujung rectum paling jauh 1 cm.

2.4 Faktor Resiko

a. Pemakaian alkohol oleh ibu hamil


Pemakaian alkohol oleh ibu hamil bisa menyebabkan sindroma alcohol
pada janin dan obat-obat tertentu yang diminum oleh ibu hamil juga bisa
menyebabkan kelainan bawaan.
b. Penyakit Rh
Terjadi jika ibu dan bayi memiliki faktor Rh yang berbeda.
c. Teratogenik
Teratogen adalah setiap faktor atau bahan yang bisa menyebabkan atau
meningkatkan resiko suatu kelainan bawaan. Radiasi, obat tertentu dan
racun merupakan teratogen.

d. Infeksi pada ibu hamil juga bisa merupakan teratogen. Beberapa


infeksi selama kehamilan yang dapat menyebabkan sejumlah kelainan
bawaan:
1) Sindroma rubella congenital ditandai dengan gangguan penglihatan
atau pendengaran, kelainan jantung, keterbelakangan mental dan
cerebral palsy.
2) Infeksi toksoplasmosis pada ibu hamil bisa menyebabkan infeksi
mata yang bisa berakibat fatal, gangguan pendengaran,
ketidakmampuan belajar, pembesaran hati atau limpa, keterbelakangan
mental dan cerebral palsy.
7

3) Infeksi virus herpes genitalis pada ibu hamil, jika ditularkan kepada
bayinya sebelum atau selama proses persalinan berlangsung, bisa
menyebabkan kerusakan otak, cerebral palsy, gangguan penglihatan
atau pendengaran serta kematian bayi.
4) Penyakit bisa menyebabkan sejenis anemia yang berbahaya, gagal
jantung dan kematian janin.
5) Sindroma varicella congenital disebabkan oleh cacar air dan bisa
menyebabkan terbentuknya jaringan parut pada otot dan tulang,
kelainan bentuk dan kelumpuhan pada anggota gerak, kepala yang
berukuran lebih kecil dari normal, kebutaan, kejang dan
keterbelakangan mental.
e. Gizi
Menjaga kesehatan janin tidak hanya dilakukan dengan menghindari
teratogen, tetapi juga dengan mengkonsumsi gizi yang baik. Salah satu
zat yang penting untuk pertumbuhan janin adalah asam folat .
Kekurangan asam folat bisa meningkatkan resiko terjadinya spina bifida
atau kelainan tabung saraf lainnya. Karena spina bifida bisa terjadi
sebelum seorang wanita menyadari bahwa dia hamil, maka setiap wanita
usia subur sebaiknya mengkonsumsi asam folat minimal sebanyak 400
mikrogram/hari.

f. Faktor fisik pada rahim


Di dalam rahim, bayi terendam oleh cairan ketuban yang juga
merupakan pelindung terhadap cedera. Jumlah cairan ketuban yang
abnormal bisa menyebabkan atau menunjukkan adanya kelainan
bawaan.Cairan ketuban yang terlalu sedikit bisa mempengaruhi
pertumbuhan paru-paru dan anggota gerak tubuh atau bisa
menunjukkan adanya kelainan ginjal yang memperlambat proses
pembentukan air kemih. Penimbunan cairan ketuban terjadi jika janin
mengalami gangguan menelan, yang bisa disebabkan oleh kelainan otak
yang berat (misalnya anensefalus atau atresia esofagus).
8

g. Faktor genetik dan kromosom


Genetik memegang peran penting dalam beberapa kelainan bawaan.
Beberapa kelainan bawaan merupakan penyakit keturunan yang
diwariskan melalui gen yang abnormal dari salah satu atau kedua orang
tua. Gen adalah pembawa sifat individu yang terdapat di dalam
kromosom setiap sel di dalam tubuh manusia. Jika 1 gen hilang atau
cacat, bisa terjadi kelainan bawaan.

h. Semakin tua usia seorang wanita ketika hamil (terutama diatas 35 tahun)
maka semakin besar kemungkinan terjadinya kelainan kromosom pada
janin yang dikandungnya. (Donna, 2004)

2.5 Klasifikasi
Secara fungsional, pasien atresia ani dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar
yaitu:
1) Tanpa anus tetapi dengan dekompresi adequate traktus gastrointestinalis
dicapai melalui saluran fistula eksterna. Kelompok ini terutama melibatkan
bayi perempuan dengan fistula rectovagina atau rectofourchette yang relatif
besar, dimana fistula ini sering dengan bantuan dilatasi, maka bisa didapatkan
dekompresi usus yang adequate sementara waktu

2) Tanpa anus dan tanpa fistula traktus yang tidak adequate untuk jalan
keluar tinja. Pada kelompok ini tidak ada mekanisme apapun untuk
menghasilkan dekompresi spontan kolon, memerlukan beberapa bentuk
intervensi bedah segera.

2.3 Manifestasi klinis


Bayi muntah-muntah pada 24-48 jam setelah lahir dan tidak terdapat
defekasi mekonium.Gejala ini terdapat pada penyumbatan yang lebih
tinggi. Pada golongan 3 hampir selalu disertai fistula. Pada bayi wanita
sering ditemukan fistula rektovaginal (dengan gejala bila bayi buang air
besar feses keluar dari (vagina) dan jarang rektoperineal, tidak pernah
rektourinarius. sedang pada bayi laki-laki dapat terjadi fistula
9

rektourinarius dan berakhir di kandung kemih atau uretra dan jarang


rektoperineal. (Ngastiyah, 2005)

Menurut suriadi & yuliani (2006), tanda dan gejala yang khas pada klien
antresia ani seperti :

Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran.

Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi.

Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah


letaknya

Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus (bila tidak


ada fistula).

Bayi muntah-muntah pada umur 24-48 jam.


Pada pemeriksaan rectal touché terdapat adanya membran anal.
Perut kembung.

2.6 Pemeriksaan diagnostik


Untuk memperkuat diagnosis sering diperlukan pemeriksaan penunjang
sebagai berikut:
1. Pemeriksaan radiologis

Dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya obstruksi intestinal.

2. Sinar X terhadap abdomen


Dilakukan untuk menentukan kejelasan keseluruhan bowel dan untuk
mengetahui jarak pemanjangan kantung rektum dari sfingternya.

3. Ultrasound terhadap abdomen


Digunakan untuk melihat fungsi organ internal terutama dalam sistem
pencernaan dan mencari adanya faktor reversible seperti obstruksi oleh
karena massa tumor.

4. CT Scan
Digunakan untuk menentukan lesi.

5. Pyelografi intra vena


Digunakan untuk menilai pelviokalises dan ureter.
10

6. Pemeriksaan fisik rektum


Kepatenan rektal dapat dilakukan colok dubur dengan menggunakan
selang atau jari.

7. Rontgenogram abdomen dan pelvis


Juga bisa digunakan untuk mengkonfirmasi adanya fistula yang
berhubungan dengan traktus urinarius.

Untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan anamnesa,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1) Anamnesa
Anamnesa dilakukan untuk menggali keluhan dan riwayat kesehatan.
Pada anamnesa biasanya hal yang sering ditemukan adalah bayi tidak
mengeluarkan mekonium setelah 24 jam kelahiran

2) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi perinatal sangat penting. Flat “bottom” atau flat perineum
ditandai dengan tidak adanya garis anus dan anal dimple yang
mengindikasikan bahwa pasien memiliki otot-otot perineum yang sangat
sedikit. Tanda ini berhubungan dengan atresia ani letak tinggi. Sementara
tanda pada perineum yang ditemukan pada pasien dengan atresia ani
letak rendah meliputi adanya mekonium pada peritonium, “bucket-
handle” (skin tag yang terdapat pada anal dimple) dan adanya membran
pada anus (tempat keluarnya mekonium)
b. Perkusi abdomen biasanya dilakukan dan hasil temuannya adalah
berupa perut yang kembung
c. Pada auskultasi dapat ditemukan adanya hiperperistaltik

d. Memasukkan termometer rektal untuk mengetahui kondisi anus.

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dalam tindakan atresia ani yatu:
a. Pembuatan kolostomi. Kolostomi adalah sebuah lubang buatan yang
dibuat oleh dokter ahli bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan
11

feses. Pebuatan lubang biasanya sementara atau permanen dari usus besar
atau colon iliaka. Untuk anomaly tinggi, dilakukan kolostomi beberapa hari
setelah lahir.
b. PSARP (Posterio Sagital Ano Rectal Plasty). Bedah definitifnya, yaitu
anoplasty dan umumnya ditunda 9 sampai 12 bulan. Penundaan ini
dimaksudkan untuk memberiwaktu pelvis untuk membesar dan pada otot-
otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk
menambah berat badannya dan bertambah baik status nutrisinya.
c. Tutup kolostomi. Tindakan yang terakhir dari atresia ani. Biasanya
beberapa hari setelah operasi, anak akan mulai BAB melalui anus. Pertama,
BAB akan sering, tetapi seminggu setelah operasi BAB berkurang
frekuensinya dan agak padat.
2.8 Pathway
12

2.9 Konsep Asuhan Keperawatan


1) Pengkajian
1. Identitas klien
Terjadi terutama pada neonatus dan kanak-kanak. Lebih sering terjadi
pada laki-laki daripada perempuan.
2. Keluhan utama
Ibu mengatakan mekonium lambat keluar atau tidak keluar
3. Riwayat penyakit sekarang
Mekonium lambat keluar lebih dari 24-48 jam setelah lahir, perut
kembung, muntah muntah, dan nyeri abdomen.
4. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit diketahui adanya peningkatan kesulitan dalam
defekasi yang dimulai pada beberapa minggu pertama kehidupan,
konstipasi sejak lahir dan ditemukannya rektum yang kosong.
5. Riwayat penyakit keluarga
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada
anaknya.
6. Riwayat kesehatan lingkungan.
Tidak ada hubungan dengan kesehatan lingkungan.
7. Imunisasi.
Tidak ada imunisasi untuk bayi atau anak dengan penyakit atresia ani.
8. Kebutuhan nutrisi
Pola nutrisi didapatkan penurunan nafsu makan, minum, dan muntah
muntah.
9. Kebutuhan eliminasi
Konstipasi, tinja seperti pita dan berbau busuk.
10. Pemeriksaan
1) Pemeriksaan umum
Kesadaran compos mentis, keadaan umum lemah dan gelisah, suhu
tubuh meningkat bila terdapat enterokolitis, nadi cepat dan lemah,
respirasi takipnea , BB menurun.
2) Pemeriksaan fisik
13

a. Sistem kardiovaskuler.
Tidak ada kelainan.
b. Sistem pernapasan.
Sesak napas, distres pernapasan.
c. Sistem pencernaan.
Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah
muntah. yang menyemprot.
d. Sistem saraf.
SSP: Tidak ada kelainan, namun ada kelainan sel ganglion pada
ususnya.
e. Sistem lokomotor/musculoskeletal
Gangguan rasa nyaman.
f. Sistem integumen.
Akral hangat.
g. Sistem pendengaran.
Tidak ada kelainan.

2) Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan penyakit
atresia ani adalah:
a. Gangguan eliminasi BAK berhubungan dengan vistel rektovaginal, dysuria
b. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d vistel rektovaginal, dysuria
c. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual, muntah,
anoreksia
d. Nyeri berhubungan dengan trauma jaringan post operasi (kolostomi)
e. Resti kerusakan integritas kulit berhubngan dengan perubahan pola defekasi,
pengeluaran tidak terkontrol.

3) Rencana asuhan keperawatan


Dx Tujuan / KH Intervensi
1. Tujuan :  Kaji pola eliminasi BAK
Tidak terjadi pasien
perubahan pola  Awasi pemasukan dan
eliminasi BAK pengeluaran serta karakteristik
14

setelah dilakukan urine


tindakan keperawatan  Selidiki keluhan kandung
dengan KH: kemih penuh
1) Pasien dapat BAK  Awasi/observasi hasil
dengan normal laboratorium
2) Tidak ada  Kolaborasi pemberian obat
perubahan pada sesuai indikasi
jumlah urine.

2. Tujuan:  Kaji tingkat nyeri yang


Pasien merasa dirasakan pasien
nyaman setelah  Ajarkan teknik relaksasi
distraksi
dilakukan tindakan
 Berikan posisi yang nyaman
keperawatan selama pada pasien
2 x 24 jam dengan  Jelaskan penyebab nyeri dan
KH: awasi perubahan kejadian
1) Nyeri berkurang  Kolaborasi pemberian obat
2) Pasien merasa sesuai indikasi
tenang

3. Tujuan :  Kaji KU pasien


Tidak terjadi  Timbang berat badan pasien
kekurangan nutrisi  Catat frekuensi mual, muntah
setelah dilakukan pasien
tindakan keperawatan  Catat masukan nutrisi pasien
selama 2 x 24 jam  Beri motivasi pasien untuk
dengan KH : meningkatkan asupan nutrisi
 Kolaborasi dengan ahli gizi
 Pasien tidak dalam pengaturan menu
mengalami
penurunan
berat badan
 Turgor pasien
baik
 Pasien tidak
mual, muntah
 Nafsu makan
bertambah

4. Tujuan :  Kaji tingkat nyeri yang


Nyeri berkurang dirasakan pasien
setelah dilakukan  Berikan penjelasan pada pasien
tindakan keperawatan tentang nyeri yang terjadi
selama 24 jam  Berikan tindakan kenyamanan,
yakinkan pada pasien bahwa
15

pertama dengan KH: perubahan posisi tidak


menciderai stoma
 Nyeri  Ajarkan teknik relaksasi,
berkurang distraksi
 Pasien merasa  Bantu melakukan latihan
tenang rentang gerak
 Tidak ada  Awasi adanya kekakuan otot
perubahan abdominal
tanda vital  Kolaborasi pemberian
analgetik

5. Tujuan:  Lihat stoma/area kulit


Tidak terjadi peristomal pada setiap
kerusakan integritas penggantian kantong
kulit setalah  Ukur stoma secara periodik
dilakukan tindakan misalnya tiap perubahan
keperawatan 24 jam kantong
pertama dengan KH:  Berikan perlindungan kulit
yang efektif
 Mempertahan  Kosongkan irigasi dan
kan integritas kebersihan dengan rutin
kulit  Awasi adanya rasa gatal
 Tidak terdapat disekitar stoma
tanda-tanda  Kolaborasi dengan ahli terapi.
kerusakan
integritas kulit
 Mengindentifi
sikasi faktor
resiko
individu
16

BAB 3
GAMBARAN KASUS

Nama mahasiswa : Helny Aprilia


NIM : 19091028
Tanggal praktik : 03-02-2020
Ruang rawat : Neonatus

Identitas klien
Nama klien : By. Y
Tempat/tanggal lahir : Siak, 29-01-2020
Usia : 5 hari
Nama ayah : Tn. A
Pendidikan ayah : SD
Nama ibu : Ny. Y
Pendidikan ibu : SMP
Pekerjaan ayah : Wiraswasta
Alamat : Dayun, Siak
Pekerjaan ibu : IRT
Agama : Islam
Suku/bangsa : Batak
Diagnosa medis : Atresia ani post op anoplasty hari ke 2
No. RM : 01035285

Keluhan utama (alasan dirawat)


Bayi dibawa ke RSUD Tengku Rafiah Siak dengan keluhan perut bayi membesar
setelah diberi susu dan tidak ada BAB pada saat usia 14 jam. Lalu dirujuk ke
RSUD AA Pekanbaru dengan diagnose atresia ani.

Riwayat kehamilan dan kelahiran


1) Masa prenatal: Ibu mengatakan memeriksakan kandungan ke bidan, ibu
mengatakan saat hamil merasakan mual, muntah dan mudah lelah. Tidak
memliliki riwayat DM dan hipertensi.

2) Masa intra natal: Bayi lahir tanggal 29-01-2020 pukul 02.30. Lahir spontan
dibantu bidan desa. Bayi langsung menangis, tidak sianosis, tidak sesak dan tidak
kejang. BBL 3400 gram, PB 47 cm.

3) Masa post natal: Setelah dilahirkan, pada saat usia bayi 7 jam, ibu dan bayi
sudah dibolehkan pulang. Sampai dirumah, bayi diberi susu dan setelah itu perut
bayi membesar dan tidak BAB. Lalu bayi dibawa ke RSUD Tengku Rafiah Siak
dan dirawat selama 1 hari dan dirujuk ke RSUD AA Pekanbaru dan didiganosa
atresia ani.

Obat-obatan:
1) Pycin 225 mg/12 jam
2) Genta 15 mg/24 jam
17

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai normal
Darah Lengkap
Hemoglobin 19,4 g/dl 14,9-23,7
Leukosit 4,80 103/μL 10,00-26,00
Trombosit 268 103/μL 150-450
Eritrosit 5,12 106/ μL 3,70-6,50
Hematokrit 54,4 % 47,0-75,0
MCV 106,4 fL 79,0-99,0
MCH 38,3 pg 27,0-31,0
MCHC 36,0 g/dl 33,0-37,0
RDW-CV 15,7 % 11,5-14,5
RDW-SD 62,7 fL 35,0-47,0
PDW 9,5 fL 9,0-13,0
MPV 9,1 fL 7,2-11,1
P-LCR 18,0 % 15,0-25,0

Hitung Jenis
Basofil 1,0 % 0-1
Eosinofil 0,4 % 1,0-3,0
Neutrofil 53,2 % 40,0-70,0
Limfosit 19,8 % 20,0-40,0
Monosit 25,6 % 2,0-8,0

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Composmentis, GCS: 15
Tanda-tanda vital : HR: 115x/menit, RR: 35x/menit, T: 36,7OC
BB : 2950 gram
PB : 47 cm

Integumen
- Warna dan pigmentasi kulit : Putih Kemerahan
- Kelembaban Dan Tekstur : Halus
- Turgor Kulit : Elastis
- Edema : Tidak Ada Edema
- Lesi : Tidak Ada Lesi
- Tanda lahir :-
- Kuku dan rambut : Kuku dan rambut bersih
Tidak ada masalah

Kepala
- Molding : Tidak ada
- Kaput suksedaneum : Tidak ada edema pada kulit kepala
- Sefalhematoma : Tidak ada perdarahan
- Rambut : Rambut tebal dan hitam
Tidak ada masalah
18

Mata
- Reflex kornea : Respon berkedip saat diberi sentuhan
- Reflex pupil : Membesar saat diberi rangsangan cahaya
- Reflex berkedip : Berkedip (+)
Tidak ada masalah

Telinga
- Simetrisitas : Simetris
- Posisi : Puncak pinna berada pada garis horizontal bersama bagian luar
kantus mata
- Reflex moro : Bayi melakukan gerakan ekstensi dan abduksi pada ekstremitas
saat dikagetkan
- Kartilago : Pinna lentur
Tidak ada masalah

Hidung
- Kesimetrisan lipatan nasolabial : Simetris
- Ukuran dan bentuk hidung : Normal
- Nares eksternal dan kepatenan nares : Patensi nasal
- Rabas nasal : Mukus putih dan encer
Tidak ada masalah

Mulut dan tenggorokan


- Bentuk : Utuh
- Uvula : Digaris tengah
- Frenulum lidah : Ada jaringan tipis di bawah lidah
- Frenulum bibir atas : Ada jaringan tipis dibawah bibir
- Reflex menghisap : Bayi menunjukkan reflex menghisap kuat
- Reflex rooting : Bayi menole saat ada jari yang ditempelkan ke pipi
- Reflex gag : Reflex muntah (+)
- Reflex ekstrusi : Menjulurkan lidah (+)
- Saliva : Tidak ada
Tidak ada masalah

Leher
- Reflex tonik : Terjadi peningkatan kekuatan otot (tonus) pada
lengan dan tungkai ketika bayi menoleh ke salah satu sisi
- Reflex neck-righting : Badan berputar secara keseluruhan mengikuti arah
kepala
- Reflex otolith-righting : Badan bayi yang tegak ketika ditengadahkan
Tidak ada masalah

Toraks dan paru-paru


- Kesimetrisan dada : Simetris
- Lingkar dada : 33 cm
- Abnormalitas : Tidak ada
- Retraksi dinding dada : Tidak ada
19

- Jenis pernafasan : Bernafas spontan


- Hasil perkusi dinding dada : Resonan
- Hasil auskultasi : Vesikuler disemua lapang paru
Tidak ada masalah

Sistem kardiovaskuler
- Inspeksi : Simetris
- Palpasi : Ictus cordis teraba pada ICS V (kiri)
- Auskultasi : S1&S2 tunggal, tidak ada suara tambahan
Tidak ada masalah

Abdomen
- Lingkar perut :36 cm
- Kontur abdomen : Tampak bulat dan bergerak bersamaan
dengan gerakan dada
- Warna dan keadaan kulit abdomen : Warna putih, tidak ada lesi pada kulit
abdomen
- Tali pusar : Tidak ada
- Bising usus : 15x/menit
- Hepar : Hepatosplanomegali (-)
- Limpa : Pembesaran hepar (-)
Tidak ada masalah

Sistem reproduksi (pria)


- Lubang uretra : Pada puncak glen penis
- Testis : Dapat diraba didalam setiap skrotum
- Skrotum : Besar, pendulus dan tertutup dengan rugae
- Smegma : Berkemih dalam 24 jam
Tidak ada masalah

Punggung dan rectum


- Spina : Utuh, tidak ada lubang dan massa, kurva
menonjol (-)
- Reflex melengkung batang tubuh : Reflex (+)
- Lubang anus : Post op Anoplasty
Resiko infeksi

Ekstremitas
- Jari tangan dan kaki : Lengkap
- Reflex babinski : Jari membuka ketika bagian telapak kaki
diusap
- Telapak kaki : Datar
- Posisi ekstremitas bawah : Simetris
- Tonus otot ekstremitas bawah : Sama secara bilateral
Tidak ada masalah
20

Analisa data
Data klien
Bagan Etiologi Masalah Keperawatan
(DO & DS)
Ds: - Atresia ani Nutrisi kurang dari
↓ kebutuhan tubuh
Do: Feses tidak keluar
- BB awal bayi 3400 ↓
gram Feses menumpuk
- BB sekarang 2950 ↓
gram Reabsorbsi sisa
- Bayi tampak lemah metabolism oleh tubuh
- Terdapat reflex ↓
menelan dan reflex Keracunan
hisap ↓
Mual, muntah

Nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Ds: - Faktor resiko



Do: Kelainan congenital pada Resiko infeksi
- Bayi post op Anoplasty anorektal
hari ke-2 ↓
- Leukosit 4,8 103/ μL Atresia ani
- T: 36oC ↓
Dilakukan operasi
anoplasty

Terjadi trauma jaringan

Pertahanan tubuh tidak
adekuat

Peningkatan leukosit

Resiko infeksi

Diagnosa keperawatan
1) Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat
2) Resiko infeksi berhubungan dengan proses pembedahan
21

Rencana asuhan keperawatan


Tanggal pengkajian : 03-02-2020
Nama mahasiswa : Helny Aprilia
Ruang rawat : Neonatus

Inisial klien : By. Y


Umur : 5 hari
No. Rekam medis : 01035284
Jenis kelamin : Laki-laki
Diagnosa medik : Atresia ani post op anoplasty hari ke-2
Diagnosa
No. Tujuan & Kriteria hasil Intervensi keperawatan
keperawatan
1. Gangguan Setelah dilakukan 1) Observasi reflex
nutrisi kurang tindakan keperawatan menghisap bayi
dari kebutuhan selama 3x24 jam 2) Observasi intake dan
tubuh diharapkan tidak terjadi output
berhubungan kekurangan nutrisi dengan 3) Kolaborasi dengan
dengan intake kriteria hasil: dokter untuk membantu
yang tidak 1) Pasien tidak mengalami memilih cairan yang dapat
adekuat penurunan BB memenuhi kebutuhan gizi
2) Turgor pasien baik pasien
3) Pasien tidak mual,
muntah
4) Pasien dapat menelan
dengan baik
5) Pasien dapat minum
dengan baik

Resiko infeksi Setelah dilakukan 1) Pantau suhu tubuh klien


b.d proses tindakan keperawatan 2) Ajarkan keluarga teknik
pembedahan selama 3x24 jam mencuci tangan
diharapkan tidak 3) Kolaborasi dalam
ditemukannya tanda-tanda pemberian antibiotik
infeksi dengan kriteria
hasil:
1) Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi
2) Jumlah leukosit dalam
batas normal
22

Catatan perkembangan
Tanggal pengkajian : 03-02-2020
Nama mahasiswa : Helny Aprilia
Ruang rawat : Neonatus

Inisal klien : By. Y


Umur : 5 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Diagnosa medis : Atresia ani post op anoplasty hari ke-3
No. Rekam medis : 01035285
No.
Tgl/Jam Implementasi keperawatan Evaluasi (SOAP)
Diagnosa
3-2-20 1 1) Mengobservasi intake dan output 15.00 WIB
14.00 2) Memberikan asi 20 cc via OGT S: -
melalui syringe pump
3) Mengobservasi reflex menghisap O:
bayi - BAB dan BAK 30
- Asi 20 cc via OGT
- Reflex menghisap
baik, muntah
setelah 15 menit
diberikan ASI
- BB: 2250 gram

A: Masalah belum
teratasi

P: Lanjutkan
intervensi
- Observasi reflex
menghisap
- Observasi ntake
dan output

3-2-20 2 1) Memantau suhu tubuh klien 15.00 WIB


14.00 2) Memberikan antibiotik : S: -
- Pycin 225 mg/12 jam
- Genta 15 mg/24 jam O:
- Suhu: 37,0oC
- Tidak terlihat
adanya tanda-
tanda infeksi
(dolor,
tumor,kalor,
rubor, fungsio
lasea).
23

A:
Masalah resiko
infeksi tidak terjadi

P:
Intervensi
dihentikan

4-2-20 1 - Mengobservasi reflex menghisap 18.00


17.00 - Mengobservasi intake dan output S:-

O:
-BAB dan BAK 40
- Diberikan asi 30
cc via OGT
- Reflex menghisap
baik, tidak ada
muntah
- BB: 2270 gram

A: Masalah teratasi

P: Intervensi
dihentikan
24

BAB 4
PEMBAHASAN
4.1 Kesenjangan antara teori dan kasus
Pembahasan ialah analisa yang membandingkan antara teori
dengan kasus yang di lapangan. Setelah dilakukan asuhan keperawatan
pada By. Ny. M dengan Atresia Ani pengkajian tidak terdapat kesenjangan
antara teori dengan kasus. Namun, tidak semua keluhan yang ada pada
teori dirasakan oleh pasien. Hal ini dikarenakan pasien sudah melalui
serangkaian pengobatan termasuk telah menjalani operasi anoplasty.
Setelah penulis membandingkan antara teori dan kasus. Terdapat
perbedaan pada diagnosa yang muncul dan dijadikan sebagai prioritas,
pada kasus ini yang menjadi diagnosa utama berdasarkan kebutuhan
pasien ialah nyeri akut berhubungan dengan proses pembedahan dan
resiko infeksi berhubungan dengan proses pembedahan. Hal ini
disesuaikan dengan keluhan dan temuan data objektif yang ditemukan oleh
penulis.
Intervensi yang dilakukan didasarkan pada kebutuhan segara
pasien. Karena apabila tidak segera diintervensi, dikhawatirkan pasien
akan mengalami nyeri yang tidak berkurang dan terjadinya infeksi post
operasi. Terdapat beberapa perbedaan intervensi antara teori dengan kasus
yang didapat. Hal ini dikarenakan, kebutuhan pasian dan diagnosa yang
ditemui berbeda, sesuai dengan kondisi pasien yang dikaji saat itu.
Implementasi yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah
direncanakan.
25

BAB 5
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Atresia ani merepakan suatu penyakit dimana tidak ada lubang anus
pada tempat yang seharusnya. Penyakit ini biasanya terjadi pada bayi baru
lahir. Atresia ani ini dapat disebabkan oleh kelainan genetic dan lingkungan.
Untuk menceha terjadinya atresia ani ini dapat dilakukan melalui pendidikan
kesehatan kepada keluarga khususnya ibu hamil mengenai informasi
kesehatan ibu hamil, pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
kandungan. Untuk penanganan dapat dilakukan dengan kolostomi yaitu
pembuatan lubang pada abdomen yang fungsinya sebagai pengganti anus.
3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini penulis sadar bahwa makalah ini masih
banyak kekurang-kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, kritik dan saran dari pembaca sangatlah saya perlukan agar dalam
pembuatan makalah selanjutnya akan lebih baik dari sekarang, dan saya juga
berharap pengetahuan tetang Asuhan Keperawatan atresia ani harus terus di
kembangkan dan di terapkan dalam bidang kesehatan dalam menangani klien.
Saya berharap dengan mempelajari Asuhan Keperawatan atresia ani, kita
menjadi mengerti dan paham baik teori maupun penerapannya dalam bidang
kesehatan.
26

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul.2008. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk


Pendidikan Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika

Arifin, Z. 2011. BAB 2 Tianjauan Pustaka.


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23480/3/Chapter%2
0II.pdf.

Wong, Donna L. 2004. Keperawatan Pediatrik . Alih Bahasa Monica Ester.

EGC: Jakarta

Knipe and Jones et al. 2015. “Anal Atresia”.


http://radiopaedia.org/articles/anal-atresia.

Rosen, Nelson G. 2014. “Pediatric Imperforate Anus”.


http://emedicine.medscape.com/article/929904-overview.

Wahid, O Romdani. 2012. “Fungsi Anus Pada Pasien Atresia Ani yang

Dioperasi dengan Metode Posterosagittal Anorectoplasty di Sub.


Bagian Bedah Anak RS Dr. Sardjito Yogyakarta”.
http://repository.unri.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/767/bab21.
PDF?se quence=6 .

Suriadi & Yuliani, R. 2006, Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : ISBN

Betz, Cecily, L. Dan Linda A. Sowden 2002. Buku Saku Keperawatan. Jakarta:
Salemba Medika

Yeyen, Rukiyah. 2009. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Trans
Info Media