Anda di halaman 1dari 6

1.

Jenis – jenis Bencana Alam

Bencana alam dapat dibagi menjadi beberapa katergori, yaitu bencana alam yang bersifat
meteorologis,bencana alam yang bersifat geografis, wabah dan bencana ruang angkasa.

A. Bencana meteorologi.
Bencana alam meteorology atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim. Bencana
ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus, walaupun ada daerah-daerah
yang menderita banjir musiman, kekeringan atau badai tropis dikenal terjadi pada
daerah-daerah tertentu. Bencana alam bersifat meteorologis seperti banjir dan
kekeringan merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi diseluruh dunia.
Beberapa di antaranya hanya terjadi suatu wilayah dengan iklim tertentu. Kekhawatiran
terbesar pada abad modern adalah bencana yang disebabkan oleh pemanasan global.
B. Bencana alam geologi.
Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti
gempa bumi,tsunami,tanah longsor dan gunung meletus. Gempa bumi dan gunung
meletus terjadi di hanya sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau
laut samudera. Contoh bencana alam geologi yang paling umum adalah gempa bumi,
tsunami dan gunung meletus. Gempa bumi terjadi karena gerakan lempeng tektonik.
Gempa bumi pada lantai samudra dapat memicu gelombang tsunami ke pesisir-pesisir
yang jauh. Gelombang yang disebabkan oleh peristiwa seismic memuncak pada
ketinggian kurang dari 1 meter di laut lepas namun bergerak dengan kecepatan ratusan
kilometer per jam. Jadi saat mencapai perairan dangkal, tinggi gelombang dapat
melampaui 10 meter. Gunung meletus diawali oleh suatu periode aktivitas vulkanis
seperti hujan abu, semburan gas beracun, banjir lahar dan muntahan batu-batuan.
Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur atau kombinasi lumpur dan debu yang
disebabkan mencairnya salju di puncak gunung atau dapat disebabkan hujan lebat dan
akumulasi material yang tidak stabil.
C. Wabah.
Wabah atau epidemic adalah penyakit menular yang menyebar melalui populasi
manusia di dalam ruang lingkup yang besar, misalnya antar Negara atau seluruh dunia.
Contoh wabah terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah pandemic flu,
cacar dan tuberkolosis.
D. Bencana alam dari ruang angkasa.
Bencana dari ruang angkasa adalag datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau
gangguan badai matahari. Meskipun dampak langsung asteroid yang berukuran kecil
tersebut tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga
berkemungkinan besar untuk menabrak bumi.
2. Faktor Resiko (Disaster Risk)

Dalam Manajemen Bencana, risiko bemcana adalah interaksi antara tingkat kerentanan
daerah dengan ancaman bencana yang ada. Ancaman bencana, khususnya bahaya alam bersifat
tetap karena bagian dari dinamika proses alami pembangunan atau pembentukan roman muka
bumi baik dari tenaga internal maupun eksternal. Sedangkan tingkat kerentanan daerah dapat
dikurangi, sehingga kemampuan dalam menghadapi ancaman tersebut semakin meningkat.

Dalam kaitan ini, bahaya menunjukkan kemungkinan terjadinya bencana baik alam
maupun buatan di suatu tempat. Kerentanan menunjukkan kerawanan yang dihadapi suatu
masyarakat dalam menghadapi ancaman. Ketidakmampuan merupakan kelangkaan upaya atau
kegiatan untuk mengurangi korban jiwa atau kerusakan. Dengan demikian semakin tinggi
bahaya, kerentanan dan ketidakmampuan, akan semakin besar pula resiko bencana yang
dihadapi.

Berdasarkan potensi ancaman bencana dan tingkat kerentanan yang ada, maka dapat
diperkirakan risiko bencana yang akan terjadi di wilayah Indonesia tergolong tinggi. Risiko
bencana pada wilayah Indonesia yang tinggi tersebut disebabkan oleh potensi bencana yang
dimiliki wilayah-wilayah tersebut yang memang sudah tinggi. Ditambah dengan tingkat
kerentanan yang sangat tinggi pula. Sementara faktor lain yang mendorong semakin tingginya
risiko bencana adalah menyangkut pilihan masyarakat. Banyak penduduk yang memilih atau
dengan sengaja tinggal dikawasan yang rawan/rentan terhadap bencana dengan berbagai alas
an seperti kesuburan tanah atau peluang lainnya yang dijanjikan oleh lokasi tersebut. Atau
karena memang tidak ada kemampuan ekonomi untuk memiliki tanah/rumah, sebagai contoh

3. Apa itu kerentanan.

Kerentanan (vulnerability) merupakan suatu kondisi dari suatu komunitas atau


masyarakat yang mengarah atau menyebabkan ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman
bahaya. Tingkat kerentanan adalah suatu hal penting untuk diketahui sebagai salah satu factor
yang berpengaruh terhadap terjadinya bencana, karena bencana baru akan terjadi apabila
“bahaya” terjadi pada “kondisi yang rentan”, seperti yang dikemukakan awotona (1997:1-2):
“…...natural disaster are the interaction between natural hazards and vulnerable condition”.
Tingkat kerentanan dapat ditinjau dari kerentanan fisik (infrastruktur), social
kependudukan, dan ekonomi. Kerentanan fisik menggambarkan suatu kondisi fidik
(infrastruktur) yang rawan terhadap factor bahaya (hazard) tertentu. Kondisi kerentanan ii dapat
dilihat dari berbagai indicator: (1) persentase kawasan terbangun; (2) kepadatan bangunan; (3)
persentase bangunan kontruksi darurat; (4) jaringan listrik; (5) rasio panjang jalan; (6) jaringan
telekomunikasi; (7) jaringan PDAM; (8) jalan kereta api.
Wilayah prmukiman di Indonesia dpat dikatakan beada pada kondisi yang sangat rentan
karena presentase kawasan terbangun, kepadatan bangunan dan bangunan konstruksi darurat
di perkotaan sangat tinggi. Sedangkan presentase, jaringan listrik, rasio panjang jalan, jaringan
telekomunikasi, jaringan PDAM, dan jalan kereta api sangat rendah.
Kerentanan social menggambarkan kondisi tingkat kerapihan social dalam menghadapi
bahaya. Pada kondisi social yang rentan, jika terjadi bencana dapat dipastikan akan
menimbulkan dampak kerugian yang besar. Beberapa indicator kerentanan social antara lain
kepadatan penduduk, laju pertumbuhan penduduk, dan presentase penduduk usia tua-balita.
Kota-kota di Indonesia memiliki kerentanan social yang tinggi karena memiliki presentase yang
tinggi pada indicator-indikator tersebut.
Kerentanan ekonomi menggambarkan suatu kondisi tingkat kerapuhan ekonomi dalam
menghadapi ancaman bahaya. Beberapa indicator kerentanan ekonomi diantaranya adalah
presentase rumah tangga yang bekerja di sector rentan (sector yang rawan terhadap pemutusan
hubungan kerja) dan presentase rumah tangga miskin.
Beberapa indicator kerentanan fisik, ekonomi dan social tersebut di atas menujukkan
bahwa wilayah Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi. Hal ini mempengaruhi atau
menyebabkan tingginya resiko terjadinya bencana. Daerah dengan kepadatan penduduk yang
tinggi juga memiliki risiko terjadinya bencana yang lebih besar.

4. RHA
Rapid HealthAsssesment (penilaian kesehatan secara yang berkaitan secara cepat)
dilakukan umtuk mengatur besarnya suatu masalah yang berkaitan dengan kesehatan akibat
bencana, yaitu dampak yang terjadi maupun yang kemungkinan dapat terjadi terhadap
kesehatan, seberapa besar kerusakan terhadap sarana permukiman yang berpotensi
menimbulkan masalah kesehatan dan merupakan dasar bagi upaya keselamatan yang tepat
dalam penanggulangan selanjutnya. RHA adalah kegiatan pengumpulan data dan informasi
dengan tujuan untuk menilai kerusakan dan mengidentifikasi kebutuhan dasar yang diperlukan
segera sebagai respon dalam suatu kejadian (WHO).

Rapid Health Assesment (RHA), melihat dampak-dampak apa saja yang ditimbulkan oleh
bencana, seperti berapa jumlah korban, barang-barang apa saja yang dibutuhkan, peralatan apa
yang harus disediakan, berapa banyak pengungsian lansia, anak-anak, seberapa parah tingkat
kerusakan dan kondisi sanitasi lingkungan.
Manfaat dan Tujuan RHA
Assessment terhadap kondisi darurat merupakan suatu proses yang berkelanjatan.
Artinya seiring dengan perkembangan kondisi darurat diperlukan suatu pnilaian yang
lebih rinci.
1. Manfaat RHA
 Mengidentifikasi fakta-fakta di lokasi bencana.
 Mengidentifikasi kebutuhan yang harus segera dipenuhi
2. Tujuan RHA
 Mendapatkan informasi yang memadai tentang perubahan keadaan
darurat.
 Menjadi dasar bagi perencanaan program.
 Mengidentifikasi dan membangun dukungan berbasis self-help serta
aktivitas-aktivitas berbasis masyarakat.
 Mengidentifikasi kesenjangan
 Pasca bencana
KONSEP KEPERAWATAN GAWAT DARURAT
Paper ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Dosen Pembimbing : Istianna Nur H S.Kep.,Ns.Sp.,Kep.Kom

Disusun Oleh

Nama : Devia Damayanti

NIM : 1702009

DIII KEPERAWATAN/KELAS IIIA

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH KLATEN

TAHUN AJARAN 2018/2019