Anda di halaman 1dari 31

a

Bab
11
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com

MR. Collection's

DENGAN demikian, Starling kembali ke tempat segalanya bermula. Rumah


Sakit Umum Baltimore untuk Para Kriminal Penderita Sakit Jiwa yang
kini telah ditutup. Gedung tua berwarna cokelat itu kini dirantai dan
dipalang, serta dipenuhi corat-coret, menunggu diruntuhkan.
Rumah sakit itu sudah bertahun-tahun mengalami penurunan sebelum
hilangnya Dr. Frederick Chilton, sang direktur, selama liburan. Setelah
terungkapnya sekian banyak pemborosan dan manajemen yang buruk,
serta kelapukan gedung itu sendiri, maka pihak legislator langsung
menghentikan dana. Beberapa pasien dipindahkan ke institasi-institosi
negeri lainnya, dan ada beberapa yang meninggal. Ada pula yang
bergelandangan di jalan-jalan Baltimore seperti orang linglung yang
diobati Torazin, akibat mengikuti program rawat jalan yang salah, yang
menyebabkan lebih dari satu orang di antaranya mati beku.
Clarice Starling, yang sedang menunggu di depan gedung tua itu,
sadar betul bahwa ia telah lebih dulu meneliti semua kemungkinan lain
karena ia tidak mau kembali lagi ke tempat ini.
Penjaga rumah sakit terlambat tiga perempat jam. Ia seorang pria tua
yang kekar, dengan sepatu tambal sulam yang berderap bila dibawa
berjalan. Rambutnya dipangkas dalam gaya Eropa Timur dan rasanya
merupakan hasil guntingan sendiri. Napasnya bercuit-cuit ketika ia men-
dahului Starling menuju sebuah pintu samping, beberapa langkah di
bawah trotoar. Gerendel telah dirusak dan pintu diberi pengaman rantai
dan dua gembok. Ada sarang labah-labah di antara gelang-gelang rantai.
Rumput yang tumbuh di celah anak tangga menggelitik kaki Starling.
Sementara itu, si penjaga sibuk dengan kuncinya. Suasana menjelang

66
sore itu agak gelap, cahaya tampak kelabu samar dan tanpa bayang-
bayang.
"Aku tidak mengenal gedung ini dengan baik. Aku hanya bertugas
memeriksa alat alarm kebakaran," kata orang itu.
"Apakah Anda tahu ada kertas-kertas tersimpan di sini? Ada lemari
arsip, berkas-berkas?"
Ia angkat bahu. "Setelah rumah sakit tutup, mereka memindahkan
klinik metadon kemari beberapa bulan. Mereka meuempatkan semuanya
di lantai bawah tanah. Beberapa ranjang, beberapa seprai. Aku tidak tahu
apa saja itu semua. Di dalam sana tidak baik bagi asmaku. Berjamur.
Jamur jahat. Kasur-kasur di ranjang berjamur semua. Jamur jahat di
ranjang. Aku tak bisa bernapas di situ. Dan anak tangga terlalu tinggi
buat kakiku. Sebenarnya aku ingin mengantar, tapi..."
Sesungguhnya Starling merasa senang bila ditemani, walau oleh pak
tua ini. Tapi orang ini pasti akan memperlambat kerjanya. "Tak usah.
Teruskan saja. Di mana kantor Anda?"
"Di sana, di blok bekas kantor pemberian SIM."
"Kalau aku tidak kembali dalam satu jam..."
Si penjaga melihat jamnya. "Aku bebas tugas setengah jam lagi."
Keterlaluan. "Dengar, Sir, Anda mesti menunggu kunci-kunci ini
kembali di kantor Anda. Kalau aku tidak kembali dalam satu jam,
telepon nomor di kartu ini dan beritahukan ke mana aku pergi. Kalau
Anda tidak ada saat aku keluar, kalau Anda tutup dan pulang, aku akan
menjumpai penyelia Anda keesokan harinya untuk melaporkan Anda.
Sebagai tambahan, Anda akan diaudit oleh Dinas Pajak Intern dan situasi
Anda akan diperiksa oleh Kantor Imigrasi... dan Naturalisasi. Paham?
Aku menunggu jawaban, Sir."
"Sudah tentu aku akan menunggu Anda. Anda tak perlu mengatakan
itu semua."
"Terima kasih banyak, Sir," kata Starling.
Penjaga itu memegangi langkan dengan kedua tangan dan mengangkat
dirinya naik ke tingkat trotoar. Starling mendengar langkahnya yang
terseret-seret menjauh dan semakin samar. Ia membuka pintu dan masuk
ke dalam, ke tingkat teratas tangga kebakaran. Cahaya kelabu menyorot
masuk dari jendela-jendela tinggi dan berkisi-kisi di dinding tangga.
Starling mempertimbangkan akan mengunci pintu di belakangnya, tapi
kemudian hanya mengaitkan rantai pada pintu menjadi simpul, sehingga
ia dapat membuka pintu bila kehilangan kunci.
Pada kunjungan-kunjungan sebelumnya ke asilum ini untuk me-
wawancarai Dr. Lecter, ia masuk melalui pintu depan, dan kini ia
memerlukan sedikit orientasi.
Ia mendaki anak tangga bahaya kebakaran menuju lantai utama.
Jendela-jendela buram menghalangi cahaya yang telah redup, dan ruangan

67
itu menjadi setengah gelap. Dengan senter yang berat Starling menemukan
saklar dan menyalakan tiga buah lampu di atas. Terminal kabel telepon
terletak di meja resepsionis.
Gedung itu telah dimasuki para berandalan yang membawa kaleng cat
semprot. Gambar penis setinggi dua setengah meter menghiasi dinding
ruang resepsi.
Pintu menuju ruangan direktur terbuka. Starling berdiri di ambangnya.
Ke sinilah ia datang pada penugasan pertamanya dari FBI. Waktu itu ia
masih seorang trainee, masih mempercayai segalanya, masih berpendapat
bahwa jika dapat melaksanakan tugas dan bisa menuntaskannya, kau
pasti diterima. Tidak memandang ras, agama, warna kulit, asal-usul
kebangsaan, atau apakah kau penurut atau tidak. Dari itu semua, hanya
satu hal yang masih ia percayai sekarang ini: ia percaya bahwa ia bisa
menyelesaikan tugasnya.
Di sinilah Direktur Chilton pernah mengulurkan tangannya yang
berlemak dan mendekati Starling. Di sinilah ia menjual rahasia-rahasia
dan hasil menguping. Dan karena mengira dirinya secerdas Hannibal
Lecter, ia mengambil keputusan yang mengakibatkan lolosnya Lecter
dengan banyak pertumpahan darah.
Meja Chilton masih ada di ruang kantornya, tapi tanpa kursi, karena
kursi cukup kecil untuk dicuri. Laci-lacinya kosong, hanya ada sebotol
air mineral yang telah penyok. Ada dua lemari arsip di ruangan itu.
Kunci-kuncinya sederhana, hingga mantan agen teknis Starling dapat
membukanya dalam waktu kurang dari semenit. Di laci paling bawah
ada sandwich yang sudah mengering di dalam kantong kertas dan
beberapa formulir klinik metadon, disertai penyegar napas dan satu tube
tonik rambut, sebuah sisir, dan beberapa kondom.
Starling memikirkan lantai bawah tanah asilum tempat Dr. Lecter tinggal
selama delapan tahun. Ia tidak mau masuk ke sana. Ia bisa menggunakan
ponselnya untuk meminta satuan polisi kota menemaninya ke sana. Ia
sebenarnya dapat juga menelepon kantor daerah Baltimore supaya
mengirimkan seorang agen FBI lain untuk menemaninya. Tapi sore itu telah
larut, dan ia tak mungkin bisa menghindari lalu lintas padat kota
Washington. Bila ia menunggu, situasinya akan lebih parah lagi.
Ia bersandar pada meja Chilton yang berdebu dan mencoba mengambil
keputusan. Apakah ia benar-benar berpendapat ada berkas-berkas di
bawah tanah, ataukah ia hanya tertarik untuk kembali ke tempat ia
pertama kali berjumpa dengan Hannibal Lecter?
Satu hal yang dipelajari Starling tentang dirinya dalam kariernya
sebagai penegak hukum: ia bukan orang yang senang mencari ketegangan,
dan ia senang bila tidak perlu merasa takut lagi. Tapi mungkin ada
berkas-berkas di lantai bawah tanah. Ia dapat mengetahuinya dalam lima
menit.

68
la masih ingat dentang pintu berpengamanan tinggi di belakangnya
ketika ia masuk ke sana bertahun-tahun silam. Untuk berjaga-jaga kalau
pintu itu terkunci di belakangnya, ia menelepon kantor daerah Baltimore
dan memberitahukan di mana ia berada, serta membuat janji untuk
menelepon kembali dalam satu jam, untuk mengatakan ia sudah keluar.
Lampu-lampu di anak-anak tangga menyala. Di situlah Chilton
mengantar Starling memasuki lantai bawah tanah bertahun-tahun yang
lalu. Di situlah Chilton menjelaskan prosedur keamanan dalam menangani
Hannibal Lecter, dan di situlah ia berhenti, tepat di bawah lampu ini,
untuk menunjukkan foto di dompetnya dari perawat yang lidahnya
dimakan Dr. Lecter dalam usaha pemeriksaan fisik. Jika sendi bahu Dr.
Lecter terlepas saat ia diringkus, pasti ada foto rontgen-nya.
Angin semilir mengembus tengkuk Starling di anak tangga, seolah-
olah ada jendela yang terbuka, entah di mana.
Sebuah kotak hamburger McDonald tergeletak di lantai terbawah anak
tangga, berikut serbet kertas yang berserakan. Sebuah kaleng karatan
yang dulu berisi buncis. Makanan buangan. Lampu tidak menyala di
akhir anak tangga, sebelum pintu baja besar menuju ruangan para pasien
berbahaya. Pintu itu kini terbuka dan dikaitkan pada dinding. Senter
Starling berisi lima baterai, jadi memancarkan sorot terang dan luas.
Starling menyoroti gang panjang dari unit yang dulu berpengamanan
paling tinggi. Di ujung sana ada sesuatu yang sangat besar. Ngeri juga
melihat pintu-pintu sel itu terbuka. Bungkus roti dan cangkir-cangkir
plastik berserakan di lantai.
Sebuah kaleng soda yang kini telah menghitam karena digunakan
sebagai pipa untuk mengisap kokain tergeletak di meja perawat.
Starling menjentik saklar-saklar di belakang pos perawat. Tidak terjadi
apa-apa. Ia mengambil ponselnya. Cahaya merahnya tampak sangat
terang dalam kegelapan itu. Di bawah tanah, ponsel itu tak ada gunanya,
tapi Starling berbicara keras-keras di situ, "Barry, pasang truk di pintu
masuk samping. Bawalah lampu sorot besar. Perlu beberapa kereta
dorong untuk mengangkut barang-barang ini naik tangga... yeah, turunlah
kemari."
Kemudian Starling berteriak ke dalam kegelapan. "Perhatian. Aku
petugas federal. Kalau kau tinggal di situ secara ilegal, kau bebas pergi.
Aku tidak akan menahanmu. Aku tak punya urusan denganmu. Kalau
kau kembali setelah aku selesai dengan urusanku, aku tak akan ikut
campur. Kau boleh keluar sekarang. Kalau kau mencoba mencampuri
urusanku, kau akan kesakitan bila kutembak pantatmu. Sekian."
Suara Starling menggema masuk gang di mana dulu banyak sekali
orang berkaok-kaok hingga serak dan menggigiti jeruji setelah gigi
mereka ompong.
Starling ingat akan kehadiran perawat kekar Barney yang meyakinkan,

69
ketika ia datang untuk mewawancarai Dr. Lecter. Ia ingat akan rasa
saling menghargai yang aneh antara Barney dan Dr. Lecter. Kini tak ada
Barney. Sesuatu yang ia pelajari di sekolah membersit dalam benaknya,
dan ia mencoba mengingat-ingatnya:

Dalam kenangan menapak gema langkah


Melalui jalanan yang tak pernah kita jelajah
Menuju pintu yang tak pernah kita buka
Masuk ke kebun mawar.

Benar. Kebun mawar. Tapi tempat ini sudah pasti bukan kebun mawar.
Starling, yang dalam terbitan beberapa tajuk baru-baru ini didorong
untuk membenci pistol dan dirinya sendiri, merasa sentuhan senjata itu
sama sekali tidak mengganggunya saat ia sedang gelisah. Ia memegang
pistol kaliber .45 itu rapat ke kakinya dan mulai menyusuri lorong,
dengan lampu senter di depannya. Sulit untuk mengawasi dua sisi
sekaligus, dan jangan sampai ada orang di belakang. Terdengar bunyi air
menetes-netes di suatu tempat.
Kerangka-kerangka tempat tidur yang sudah dilepas bertumpuk di
dalam sel-sel. Juga ada kasur-kasur di sel-sel lain. Air menggenang di
tengah lantai koridor dan Starling, yang sangat memperhatikan sepatunya,
menghindari genangan kecil itu sambil terus maju. Ia ingat nasihat
Barney bertahun-tahun yang lalu, ketika semua sel itu masih berpenghuni.
Tetaplah di tengah saat berjalan.
Lemari-lemari arsip. Di tengah koridor, di ujung sana, warnanya
cokelat suram dalam cahaya lampu senter.
Ini dia sel yang dulu ditempati oleh Multiple Miggs, yang paling
dibenci Starling saat harus melewatinya. Miggs, yang membisikkan kata-
kata kotor padanya dan melemparkan cairan-cairan tubuh. Miggs, yang
dibunuh oleh Dr. Lecter yang menyuruhnya menelan lidahnya sendiri.
Setelah Miggs mati, sel itu ditempati oleh Sammie. Sammie, yang
puisinya dipuji oleh Dr. Lecter—pujian yang memberikan efek me-
ngejutkan pada penyairnya. Sampai sekarang pun Starling masih ingat
bait-bait puisi yang diteriakkan Sammie:

/ WAN TO GO TO JESA
I WAN TO GO WIV CRIEZ
I CAN GO WIV JESA
EF I AC RELL NIZE

Starling masih menyimpan teks yang ditulis dengan krayon itu, entah di
mana.
Sekarang sel itu ditumpuki kasur dan seprai-seprai yang diikat jadi satu.

70
Dan akhirnya, sel Dr. Lecter.
Meja kokoh tempat dokter itu biasa membaca masih tetap dibautkan
di lantai, di tengah-tengah ruangan. Papan-papan tempat menaruh buku-
bukunya di rak sudah tidak ada lagi, tapi bagian sisinya masih terpasang
pada dinding.
Starling mestinya memeriksa lemari-lemari arsip, tapi perhatiannya
terpusat pada sel tersebut. Di sinilah ia mengalami suatu pertemuan yang
paling luar biasa dalam hidupnya. Di sinilah ia telah dibuat terperanjat,
shock, terkejut.
Di sinilah ia telah mendengar berbagai hal yang begitu benar tentang
dirinya, hingga hatinya bergema bagaikan lonceng besar yang berat.
Ia ingin masuk ke dalam sel itu. Ia ingin masuk ke sana, seperti
orang yang tergoda ingin melompat dari balkon, atau ingin melompat ke
tengah rel saat mendengar kereta semakin dekat.
Starling menyorotkan lampu senter ke sekitarnya, memandang ke sisi
belakang deretan lemari arsip, lalu menyapukan sinar senternya ke sel-
sel di dekatnya.
Rasa ingin tahu membawanya melangkah ke ambang pintu sel. Ia
berdiri di tengah-tengah sel tempat Dr. Hannibal Lecter menghabiskan
delapan tahun masa hidupnya. Starling memasuki sel itu, tempat ia
pernah melihat sang dokter berdiri. Ia mengira bulu kuduknya akan
meremang, tapi ternyata tidak. Ditaruhnya pistol dan lampu senternya di
meja sang dokter, berhati-hati agar lampu senternya tidak terguling jatuh,
lalu diletakkannya kedua tangannya di permukaan meja itu. Di bawah
telapak tangannya ia hanya merasakan butiran-butiran remah.
Secara keseluruhan, apa yang ia rasakan sangat mengecewakan. Sel
itu sudah kosong dari penghuninya, seperti ular yang telah melepaskan
kulitnya. Pada saat itu, Starling merasa mendapat pemahaman baru:
Kematian dan bahaya tidak harus datang dalam bentuk yang tampak
jelas dari luar. Bisa saja mereka datang dalam napas manis orang yang
kaucintai. Atau datang pada suatu siang yang cerah di pasar ikan,
diiringi lagu La Macarena yang mengalun keras.
Kembali ke urusan di depan mata. Deretan lemari arsip itu panjangnya
sekitar delapan kaki. Semuanya ada empat lemari, setinggi dagu. Masing-
masing mempunyai lima laci, diamankan dengan satu gerendel empat
pasak di samping laci paling atas. Semuanya tidak dikunci. Semuanya
penuh dengan arsip, ada yang tebal, dan semuanya dimasukkan ke dalam
map. Map-map lama dari bahan keras yang sudah lunak dimakan waktu,
dan map-map karton manila yang lebih baru. Arsip-arsip tentang kesehatan
pasien-pasien yang sudah meninggal, dari tahun 1932 saat rumah sakit
itu baru dibuka. Semuanya disusun menurut abjad, dengan beberapa
material disusun rata di balik map-map di dalam laci-laci panjang.
Starling memeriksa dengan cepat, sambil memegangi lampu senternya

71
yang berat di bahu. Jemarinya bergerak di antara arsip-arsip itu, dan ia
menyesali kenapa tidak membawa senter kecil yang bisa ia gigit di
antara giginya. Begitu mengetahui susunan arsip-arsip tersebut, ia bisa
mencari dengan cepat, melewati huruf J, K, dan langsung ke L. Ini dia:
Lecter, Hannibal.
Starling mengeluarkan map panjang itu, meraba-rabanya untuk mencari
kalau-kalau ada film negatif hasil rontgen. Ia menaruh map itu di atas
arsip-arsip lain, lalu membukanya. Ternyata isinya sejarah kesehatan
almarhum I.J. Miggs. Sial. Miggs masih juga menghantuinya dari dalam
kubur. Ditaruhnya arsip itu di atas lemari, lalu ia mencari-cari di antara
huruf M. Map Miggs sendiri ada di situ juga, sesuai susunan abjad, tapi
tidak ada isinya. Apakah ini kesalahan mengarsip? Apa seseorang tak
sengaja menaruh arsip Miggs di dalam map Hannibal Lecter? Starling
memeriksa seluruh arsip M, mencari arsip yang tidak disimpan dalam
map. Lalu ia kembali ke huruf J. Makin lama ia makin jengkel. Dan
semakin terganggu oleh bau tempat ini. Si penjaga benar juga. Sulit
bernapas di tempat ini. Ia sudah memeriksa setengah arsip J ketika
menyadari bahwa bau tidak enak itu... meningkat dengan cepat.
Terdengar suara kecipak pelan di belakangnya dan Starling berbalik
cepat, lampu senternya dimiringkan untuk menghantam, tangan satunya
siap mencabut pistol. Seorang lelaki jangkung dalam pakaian compang-
camping yang kotor berdiri dalam sorotan cahaya lampu senter Starling,
salah satu kakinya yang bengkak menginjak genangan air. Satu tangannya
terentang, satunya lagi memegang sepotong pecahan piring. Kedua kakinya
diikat dengan helai-helai kain.
"Halo," katanya, lidahnya penuh bercak-bercak putih karena jamur.
Dari jarak lima kaki Starling bisa mencium bau napasnya. Di balik
jaketnya, tangan Starling berpindah dari pistol ke tabung Mace.
"Halo," kata Starling. "Bisakah kuminta kau berdiri di sana, menempel
ke terali?"
Lelaki itu tidak bergerak. "Apa kau Jesa?" tanyanya.
"Bukan," sahut Starling. "Aku bukan Yesus." Suara itu. Starling ingat
suara itu.
"Apa kau Jesa!" Wajah lelaki itu berkedut-kedut.
Suara itu. Cepat, berpikirlah. "Halo, Sammie," kata Starling. "Apa
kabar? Aku baru saja teringat kau."
Apa yang diingatnya tentang Sammie? Informasi yang dipaksa muncul
cepat itu tidak persis berurutan. Dia menaruh kepala ibunya di piring
kolekte ketika para jemaat sedang menyanyikan "Give of Your Best to the
Master." Katanya itulah harta miliknya yang paling berharga. Di Gereja
Baptis di suatu tempat. Dia marah, kata Dr. Lecter, karena Yesus begitu
lama datang.
"Apa kau Jesa?" tanyanya lagi, kali ini nadanya sedih. Ia merogoh

72
sakunya dan mengeluarkan puntung rokok yang panjangnya lebih dari
dua inci. Ditaruhnya puntung itu di pecahan piring yang dipegangnya,
lalu diulurkannya seperti persembahan.
"Sammie, maaf, aku bukan Yesus. Aku..."
Sammie mendadak jadi sangat marah karena wanita yang ada di
depannya ini bukan Yesus. Suaranya menggema di koridor yang basah
itu:

I WAN TO GO WIV JESA


I WAN TO GO WIV CRIEZ!

Ia mengangkat pecahan piring itu, ujungnya yang tajam tampak seperti


cangkul, lalu ia maju selangkah ke arah Starling. Sekarang kedua
kakinya menginjak genangan air dan wajahnya berkerut-kerut, tangannya
yang bebas mencengkeram udara kosong di antara mereka.
Starling terpojok ke lemari-lemari arsip di belakangnya.
"YOU CAN GO WITH JESUS... IF YOU ACT REAL NICE," kata
Starling dengan suara jelas dan keras, seolah-olah ia bicara pada orang
yang jauh darinya.
"Uh huh," kata Sammie dengan tenang dan berhenti melangkah.
Starling mencari-cari di dalam tasnya dan menemukan sebatang cokelat.
"Sammie, aku punya cokelat. Kau suka cokelat?"
Sammie tidak menjawab.
Starling menaruh cokelat itu di sebuah map manila dan mengulurkannya
pada Sammie, seperti Sammie tadi mengulurkan pecahan piringnya.
Sammie menggigit cokelat itu, meludahkan pembungkusnya, dan meng-
gigitnya lagi, memakan setengahnya.
"Sammie, apa pernah ada yang datang kemari?"
Sammie tidak mengacuhkan pertanyaan Starling. Ia menaruh sisa
cokelatnya di pecahan piring dan menghilang di balik setumpuk kasur di
selnya yang lama.
"Ada apa ini?" Suara seorang wanita. "Terima kasih, Sammie."
"Siapa kau?" seru Starling.
"Bukan urusanmu."
"Apa kau tinggal di sini bersama Sammie?"
"Tentu saja tidak. Aku ke sini untuk janji kencan. Bisa tidak kau
meninggalkan kami berdua saja?"
"Ya. Jawab pertanyaanku. Sudah berapa lama kau di sini?"
"Dua minggu."
"Apa pernah ada orang lain yang datang kemari?"
"Beberapa gelandangan yang lalu diusir Sammie."
"Sammie melindungimu?"
"Coba saja ganggu aku, dan kau akan tahu sendiri. Aku bisa jalan

73
dengan baik. Aku bisa dapat makanan, dia punya tempat aman untuk
memakannya. Banyak orang yang hidup seperti itu."
"Apa salah satu dari kalian ikut program di suatu tempat? Apa kau
ingin ikut? Aku bisa membantumu kalau kau mau."
"Dia sudah pernah mencoba semuanya. Kau pergi ke dunia luar,
melakukan semua itu, dan kembali ke tempat yang sudah kaukenal. Apa
yang kaucari? Apa yang kauinginkan?"
"Beberapa arsip."
"Tidak ada di sini, seseorang mencurinya. Apa perlu jadi orang pintar
dulu untuk tahu itu?"
"Sammie?" kata Starling. "Sammie?"
Sammie tidak menjawab. "Dia tertidur," kata temannya.
"Kalau aku meninggalkan sedikit uang di sini, maukah kau meng-
gunakannya untuk membeli makanan?" tanya Starling.
"Tidak, aku akan beli minuman keras. Makanan bisa ditemukan. Tapi
minuman keras tidak. Jangan sampai pantatmu kena tombol pintu kalau
kau keluar nanti."
"Uangnya akan kutaruh di meja," kata Starling. Rasanya ia ingin lari
saja. Ia ingat ketika dulu pergi meninggalkan Dr. Lecter, bagaimana ia
berpegang pada dirinya sendiri saat ia melangkah ke tempat Barney
yang tenang dan rapi.
Dalam cahaya dari tangga, Starling mengeluarkan lembaran dua puluh
dolar dari dompetnya. Ditaruhnya uang itu di meja Barney yang sudah
tergores-gores dan terlupakan, dan ditindihnya dengan botol anggur yang
sudah kosong. Lalu ia membuka lipatan sebuah kantong plastik belanjaan
dan memasukkan map arsip Lecter yang berisi catatan tentang Miggs,
berikut map Miggs yang kosong.
"Sampai jumpa. Sampai jumpa, Sammie," serunya pada lelaki yang
telah berkeliling di dunia dan kembali ke neraka yang dikenalnya ini. Ia
ingin mengatakan pada Sammie, bahwa ia berharap Yesus akan cepat
datang, tapi kedengarannya terlalu konyol mengatakan itu.
Starling naik kembali ke cahaya terang di atas, untuk melanjutkan
perjalanannya di dunia.

74
a
Bab
12
eBook oleh Nurul Huda Kariem MR.
nurulkariem@yahoo.com
MR. Collection's

JIKA ada pos-pos di jalan menuju Neraka, pasti pos-pos itu mirip jalan
masuk ambulans ke Rumah Sakit Umum Misericordia di Maryland.
Bagaikan pilar api Nabi Musa yang menjulang dalam kegelapan dan
berubah menjadi awan di siang hari, pilar-pilar uap yang tampak merah
oleh cahaya lampu neon besar bertuliskan EMERGENCY muncul meng-
atasi lolongan sirene yang semakin samar, serta jeritan orang-orang
sekarat, derak-derak kereta dorong, serta lengkingan dan pekikan.
Barney muncul dari antara pilar uap sambil mengenakan jaket di
bahunya yang bidang, kepalanya yang dicukur cepak menunduk sementara
ia menapaki trotoar yang retak-retak dengan langkah-langkah panjang,
menuju timur, menyongsong pagi hari.
Ia terlambat dua puluh lima menit pulang kerja. Polisi tadi membawa
seorang muncikari mabuk dengan luka tembakan. Muncikari ini suka
bertengkar dengan wanita, dan kepala perawat meminta Barney untuk
tetap jaga. Mereka selalu meminta Barney untuk tetap jaga bila menerima
pasien yang suka kekerasan.
Clarice Starling mengintip Barney dari balik tudung jaketnya, dan ia
membiarkan Barney melangkah setengah blok mendahuluinya di seberang
jalan. Kemudian barulah ia mengangkat kantong plastiknya ke punggung,
lalu mengikuti Barney. Ketika Barney melewati area parkir dan halte
bus, Starling merasa. lega. Barney lebih mudah diikuti bila berjalan kaki.
Ia tidak tahu pasti di mana Barney tinggal, dan ia perlu mengetahuinya
sebelum Barney melihatnya.
Lingkungan di belakang rumah sakit itu tenang. Lingkungan kaum
buruh dan ras campuran. Sebuah lingkungan yang mengharuskan orang

75
memasang kunci Chapman di mobil, tapi tak perlu membawa masuk aki
ke dalam rumah di waktu malam, dan anak-anak dapat bermain-main di
luar.
Setelah melewati tiga blok, Barney menunggu sebuah mobil van
melewati lintasan penyeberangan. Kemudian ia belok ke utara, memasuki
jalan dengan rumah kecil-kecil, beberapa di antaranya dengan anak
tangga batu pualam serta kebun depan yang rapi. Beberapa depan toko
yang kosong tetap utuh, dengan etalase telah tercuci dengan sabun.
Beberapa toko mulai buka, dan beberapa orang telah keluar. Selama
setengah menit truk-truk yang diparkir pada kedua sisi jalan menghalangi
pandangan Starling. Maka ia cepat-cepat mengikuti Barney. Ternyata
Barney telah berhenti. Ia berada tepat di seberang jalan ketika melihat
Barney. Mungkin Barney melihatnya juga. Ia tidak yakin.
Barney berdiri dengan kedua tangan di dalam saku jaketnya, kepala
menunduk ke depan, menatap sesuatu yang bergerak di tengah jalan.
Seekor merpati mati tergeletak di jalan, salah satu sayapnya bergerak-
gerak terkena angin mobil yang lewat. Pasangan merpati mati itu berjalan
mengitari bangkai tersebut sambil menatapnya. Kepalanya yang kecil
tersentak-sentak seraya ia menapak dengan kakinya yang merah muda.
Berputar-putar sambil mendekut. Beberapa mobil dan sebuah van lewat.
Merpati yang masih hidup itu baru menghindar terbang dari lalu lintas
pada saat-saat paling akhir.
Mungkin Barney melirik ke arahnya, Starling tidak tahu pasti. Ia
harus jalan terus kalau tidak mau ketahuan. Ketika ia menengok ke
Barney, Barney sedang berjongkok di tengah jalan sambil mengacungkan
tangan ke lalu lintas.
Starling belok di sudut hingga tidak kelihatan. Ia melepas jaketnya
yang bertudung, mengeluarkan sweater serta topi bisbol dan tas olahraga
dari kantong plastik. Cepat-cepat ia ganti pakaian dan memasukkan jaket
serta kantong plastik ke dalam tas olahraga dan menutupi rambut dengan
topi. Ia bergabung dengan para wanita pembersih ruangan yang akan
pulang dan membelok di sudut, kembali ke jalan tempat Barney berada.
Barney memegangi merpati yang mati itu. Pasangan burung itu terbang
dengan sayap berkeresik, naik ke kabel-kabel di atas dan mengawasinya.
Barney meletakkan merpati mati itu di rerumputan dan mengelus-elus
bulunya. Ia mendongakkan wajahnya yang lebar itu kepada burung di
atas kabel dan mengatakan sesuatu. Ketika ia meneruskan perjalanan,
merpati yang masih hidup itu turun ke rumput dan meneruskan berjalan
berputar-putar mengelilingi bangkai pasangannya. Barney tidak menoleh
lagi. Ketika ia menaiki anak tangga sebuah gedung apartemen, sekitar
seratus meter kemudian, dan mencari-cari kunci, Starling lari sejauh
setengah blok sebelum Barney membuka pintu.
"Barney, halo."

76
Barney membalikkan tubuh di anak tangga dengan pelan-pelan dan
memandanginya. Starling sudah lupa bahwa mata Barney letaknya sangat
berjauhan. la melihat kecerdasan yang terpancar di mata itu dan merasakan
percikan elektronis hubungan arus.
Starling membuka topi dan membiarkan rambutnya tergerai. "Aku
Clarice Starling. Ingat aku? Aku..."
"Orang FBI itu," kata Barney tanpa ekspresi.
Starling menangkupkan kedua telapak tangannya dan mengangguk.
"Ya, memang aku orang FBI. Barney, aku ingin bicara denganmu.
Memang tidak resmi. Aku ingin menanyakan beberapa hal."
Barney menuruni tangga. Ketika ia telah berdiri di trotoar di depan
Starling, Starling masih juga harus mendongak memandang wajah Barney.
Tapi ia tidak merasa takut akan postur tubuh Barney yang tinggi besar.
"Officer Starling, sebagai catatan, apakah kau setuju bahwa aku belum
dibacakan hak-hakku?" Suaranya tinggi dan kasar, seperti suara Tarzan
Johnny Weismuller.
"Ya, tentu. Aku belum membacakan hak-hakmu. Aku mengakui hal itu."
"Bagaimana kalau dibacakan ke dalam tasmu saja?"
Starling membuka tasnya dan berteriak ke dalamnya, seolah-olah tas
itu berisi orang kerdil. "Aku belum membacakan hak-hak Barney. Dia
tidak tahu hak-haknya."
"Di ujung jalan sana ada kedai kopi yang cukup baik," kata Barney.
"Berapa topi kausimpan dalam tas itu?" tanyanya sambil berjalan.
"Tiga," sahut Starling.
Ketika mobil van dengan pelat nomor penderita cacat lewat, Starling
sadar bahwa para penumpang mobil itu memandanginya, tapi mereka
memang sering begitu. Para laki-laki muda di mobil di perlintasan
berikutnya juga memandanginya, tapi tidak berkata apa-apa karena ada
Barney. Apa pun yang menonjol keluar dari jendela pasti akan langsung
diperhatikan Starling—ia benar-benar waspada terhadap balas dendam
kelompok Crip—tapi sekadar tatapan diam-diam tidak apalah.
Ketika Starling dan Barney memasuki kedai kopi, mobil van itu
mundur memasuki jalan kecil untuk memutar dan kembali lagi ke jalan
yang tadi dilaluinya.
Mereka berdua harus menunggu tempat kosong di restoran ham dan
telur yang sangat ramai itu, sementara pelayan berteriak-teriak dalam
bahasa Hindi kepada koki yang sedang memegang daging dengan jepitan
panjang dan menunjukkan ekspresi bersalah.
"Ayo kita makan," kata Starling setelah mereka berdua duduk. "Ini
atas biaya pemerintah. Apa kabar, Barney?"
"Pekerjaannya bagus."
"Sebagai apa?"
"Perawat, Perawat Berizin Praktek alias LPN."

77
"Kukira sekarang kau sudah menjadi Perawat Teregistrasi, RN, atau
mungkin malah kuliah di kedokteran."
Barney angkat bahu dan mengambil wadah susu. la menatap Starling.
"Apa mereka mengurungmu karena menembak Evelda?"
"Masih harus kita lihat dulu. Kau mengenal Evelda?"
"Aku pernah melihatnya satu kali, ketika mereka memasukkan suami-
nya, Dijon. Dijon sudah mati. Dia banyak mengeluarkan darah sebelum
mereka dapat memasukkannya ke dalam ambulans. Dia sudah kehabisan
cairan ketika tiba di tempat kami. Evelda tak mau melepaskannya dan
mencoba melawan para perawat. Aku harus... tahu, kan. Dia wanita yang
cantik, dan kuat. Mereka tidak mengajukannya ke pengadilan setelah..."
"Tidak. Dia dijatuhi hukuman di tempat kejadian peristiwa."
"Sudah kuduga."
"Barney, setelah kau menyerahkan Dr. Lecter kepada orang-orang
Tennessee itu..."
"Mereka tidak sopan terhadapnya."
"Setelah kau..."
"Dan mereka semua sekarang sudah mati."
"Ya. Penjaga-penjaganya hanya mampu bertahan hidup tiga hari. Kau
bisa bertahan delapan tahun menjaga Dr. Lecter."
"Hanya enam tahun. Dia sudah berada di sana sebelum aku datang."
"Bagaimana kau bisa melaksanakannya, Barney? Kalau kau tidak
keberatan dengan pertanyaanku, bagaimana kau dapat tetap hidup men-
jaganya? Pasti bukan hanya soal bersikap santun, kan?"
Barney memandangi bayangannya di sendok. Mula-mula bayangan itu
tampak cembung, kemudian cekung. la berpikir sesaat. "Dr. Lecter
punya tingkah laku sempurna. Tidak kaku, tapi santai dan elegan. Waktu
itu aku sedang mengikuti kursus tertulis dan dia berbagi pikiran denganku.
Itu tidak berarti dia tidak akan membunuhku kalau ada kesempatan. Satu
sifat dalam diri seseorang tidak menghilangkan sifat lainnya. Sifat-sifat
itu bisa berdiri berdampingan. Sifat baik dan sifat mengerikan. Socrates
mengatakannya dengan jauh lebih baik. Dalam kurungan berpenjagaan
sangat ketat, orang tak boleh melupakan itu. Bila hal itu terus kauingat,
kau akan aman. Dr. Lecter mungkin menyesal menunjukkan Socrates
padaku." Bagi Barney yang tidak mengenyam pendidikan formal,
pengetahuan tentang Socrates merupakan pengalaman baru yang bisa
dianggap seperti pertemuan langsung dengan tokoh tersebut.
"Masalah keamanan sama sekali terpisah dari percakapan," katanya.
"Keamanan tak pernah bersifat pribadi, bahkan bila aku harus meng-
hentikan surat-suratnya atau harus memperketat kendali."
"Kau banyak bercakap-cakap dengan Dr. Lecter?"
"Kadang-kadang berbulan-bulan lamanya dia tidak mengucapkan sepatah
kata pun. Kadang-kadang kami bercakap-cakap di larut malam, bila

78
teriakan-teriakan sudah berhenti. Sebenarnya aku sedang mengikuti kursus-
kursus melalui pos. Sedikit sekali pengetahuanku, dan Dr. Lecter
menunjukkan banyak sekali bahan padaku: Suetonius, Gibbon, semacam
itu." Barney mengambil cangkirnya. Ada segaris Betadin oranye pada
goresan baru di punggung tangannya.
"Ketika dia lolos, apa kau pernah berpikir bahwa dia mungkin akan
mengejarmu?"
Barney menggelengkan kepalanya yang besar. "Dia pernah berkata
bahwa kalau 'ada kemungkinan', dia memilih memangsa orang kasar.
Berbagai macam orang kasar, katanya." Barney tertawa. Pemandangan
yang jarang terlihat. la memiliki gigi kecil-kecil dan kegembiraannya
tampak agak sinting, seperti kegembiraan bayi saat menyemprotkan
bubur sereal ke wajah seorang paman.
Starling bertanya-tanya apakah Barney sudah terlalu lama berada di
bawah tanah bersama orang-orang gila.
"Kau sendiri bagaimana, apa pernah merasa.... ngeri setelah dia kabur?
Apa pernah berpikir mungkin dia akan mengejarmu?" tanya Barney.
"Tidak."
"Mengapa?"
"Dia bilang tidak akan melakukan itu."
Anehnya jawaban ini tampaknya memuaskan bagi mereka berdua.
Telur pesanan sudah datang. Barney dan Starling lapar, maka untuk
beberapa menit lamanya mereka makan dengan tenang. Kemudian...
"Barney, ketika Dr. Lecter telah dipindahkan ke Memphis, aku me-
mintamu mengambilkan lukisan-lukisannya dari sel, dan kau membawanya
padaku. Lalu apa yang terjadi dengan barang-barang lain: buku-buku,
kertas? Rumah sakit itu bahkan tidak memiliki catatan medisnya."
"Ada masalah besar." Barney berhenti sejenak. la menjentik-jentik
wadah garam ke telapak tangannya. "Ada masalah besar di rumah sakit
itu. Aku di-PHK. Banyak yang di-PHK. Dan barang-barang berserakan
ke mana-mana. Tak bisa ditebak..."
"Maaf?" kata Starling. "Aku tak dapat mendengar apa yang kaukatakan
karena kegaduhan di sini. Semalam aku mengetahui bahwa buku
Alexander Dumas Dictionary of Cuisine milik Dr. Lecter yang telah
dibubuhi tanda tangan dan catatan muncul dalam lelang pribadi di New
York, dua tahun yang lalu. Buku itu laku enam belas ribu dolar, dibeli
oleh seorang kolektor pribadi. Tanda tangan kepemilikan penjual adalah
'Cary Phlox.' Kau kenal 'Cary Phlox', Barney? Kuharap demikian,
sebab dialah yang menuliskan dengan tangan surat lamaranmu kepada
rumah sakit tempat kau bekerja sekarang ini, tapi dia menandatanganinya
dengan 'Barney'. Dia juga mengisi formulir pajakmu. Maaf aku tidak
menangkap apa yang kaukatakan sebelumnya. Mau mengulang? Berapa
yang kauperoleh untuk buku itu, Barney?"

79
"Sekitar sepuluh ribu," jawab Barney sambil memandang lurus ke
Starling. Starling mengangguk. "Kuitansinya menyatakan sepuluh ribu lima
ratus. Berapa yang kauterima untuk wawancara dengan Tattler setelah Dr.
Lecter lolos?"
"Lima belas ribu."
"Bagus. Bagus untukmu. Kau meramu segala omong kosong yang
kauceritakan pada mereka."
"Aku tahu Dr. Lecter tidak akan keberatan. Dia akan kecewa jika aku
tidak mempermainkan mereka sedikit."
"Dia menyerang perawat sebelum kau pindah ke Rumah Sakit Umum
Baltimore?"
"Ya."
"Sendi bahunya lepas."
"Begitulah setahuku."
"Apa ada foto rontgen-nya?"
"Sangat mungkin."
"Aku menginginkan foto rontgen itu."
"Hmmm."
"Aku menemukan bahwa tulisan-tulisan tangan Lecter dibagi menjadi
dua. Satu yang ditulis dengan tinta, atau pada masa sebelum dipenjara,
dan yang lain yang ditulis dengan krayon atau bulu kempa di asilum.
Tulisan krayon lebih bernilai, tapi kurasa kau sudah tahu itu, Barney.
Kurasa kau memiliki semua tulisan itu dan merencanakan untuk men-
jualnya sedikit demi sedikit pada pedagang tulisan tangan."
Barney angkat bahu dan tidak berkata sepatah pun.
"Kurasa kau menunggu hingga dia menjadi topik laris lagi. Apa yang
kaukehendaki, Barney?"
"Aku ingin melihat setiap lukisan Vermeer sebelum aku mati."
"Perlukah aku menanyakan siapa yang membuatmu mulai tertarik
pada Vermeer?"
"Di tengah malam, kami memperbincangkan banyak hal."
"Apa kau membicarakan apa yang ingin dia lakukan bila dia bebas?"
"Tidak. Dr. Lecter tidak berminat terhadap hipotesis. Dia tidak
mempercayai silogisme, sintesis, atau sesuatu yang mutlak."
"Apa yang dia percayai?"
"Kekacau-balauan. Dan kau bahkan tak usah mempercayainya. Itu
jelas dengan sendirinya."
Untuk saat itu Starling ingin membiarkan Barney merasa senang.
"Kau bicara seolah kau mempercayainya," kata Starling. "Tapi pe-
kerjaanmu di Rumah Sakit Umum Baltimore adalah menegakkan tata
tertib. Kau perawat kepala. Kau dan aku bergerak dalam penegakan tata
tertib. Dr. Lecter tak pernah bisa kabur dari pengawasanmu."
"Itu sudah kujelaskan tadi padamu."

80
"Sebab kau tidak pernah melonggarkan penjagaanmu. Walau dari satu
segi kau bersahabat dengannya..."
"Aku tidak bersahabat," jawab Barney. "Dia bukan sahabat siapa pun.
Kami membicarakan hal-hal yang menarik bagi kami berdua. Setidaknya
bahan itu menarik bagiku ketika aku mengetahuinya."
"Apakah Dr. Lecter pernah mempermainkanmu karena tidak tahu
sesuatu?"
"Tidak. Apakah dia mempermainkanmu?"
"Tidak," jawab Starling guna menjaga perasaan Barney, saat ia untuk
pertama kalinya menyadari pujian yang terkandung dalam ejekan mon-
ster itu. "Dia bisa saja mempermainkanku kalau mau. Apa kau tahu di
mana bahan-bahan itu, Barney?"
"Apakah ada hadiah untuk menemukannya?"
Starling melipat serbet kertasnya dan meletakkannya di bawah tepi
piring. "Hadiahnya adalah aku tidak mengajukan tuntutan kepadamu
karena menghambat proses pengadilan. Sebelum ini kau juga kubebaskan
ketika memasang mikrofon di mejaku di rumah sakit."
"Mikrofon itu milik almarhum Dr. Chilton."
"Almarhum? Bagaimana kau tahu Dr. Chilton sudah almarhum?"
"Ah, bagaimanapun dia sudah terlambat tujuh tahun," jawab Barney.
"Aku tidak mengharapkan dia muncul dalam waktu dekat. Boleh aku
bertanya kepadamu, Agen Khusus Starling, apa yang dapat membuatmu
puas?"
"Aku ingin melihat foto rontgen itu. Aku menginginkan foto itu. Jika
ada buku-buku milik Dr. Lecter, aku ingin melihatnya."
"Misalnya kita menemukan barang-barang itu, lalu apa yang terjadi
dengannya?"
"Yah, aku tidak yakin mengenai hal itu. Kejaksaan Amerika Serikat
dapat mengambil semua itu sebagai barang bukti dalam investigasi
lolosnya Dr. Lecter. Lalu semua barang itu akan menjamur di Ruang
Bukti Kejaksaan yang sangat besar. Kalau aku sudah memeriksa bahan-
bahan tersebut dan tidak menemukan sesuatu yang bermanfaat dalam
buku-buku itu, dan aku mengatakannya demikian, kau boleh menyatakan
bahwa Dr. Lecter memberikan bahan-bahan itu padamu. Dia sudah in
absentia selama tujuh tahun, maka kau boleh mengklaim hak sipil. Dia
tidak memiliki saudara yang dikenal. Aku akan merekomendasikan supaya
semua bahan yang tidak merugikan diserahkan padamu. Kau harus tahu
bahwa rekomendasiku ada di tingkat paling bawah di kehakiman. Mungkin
sekali kau tidak akan memperoleh kembali foto rontgen itu ataupun
catatan medisnya, sebab barang-barang itu bukan milik Dr. Lecter."
"Dan jika aku mengatakan padamu bahwa aku tidak memiliki barang-
barang itu?"
"Bahan-bahan Lecter akan menjadi sangat sulit dijual, karena kami

81
akan mengeluarkan buletin mengenai hal itu dan akan mengumumkan
kepada pasar bahwa kami akan menangkap dan menuntut siapa pun
yang menerima atau memilikinya. Aku akan mengeluarkan surat
penggeledahan dan penangkapan di rumahmu dan sekitarnya."
"Karena sekarang kau sudah tahu rumah dan sekitarku."
"Yang kutahu pasti adalah kalau kau menyerahkan bahan-bahan itu,
kau tidak akan mendapat kesulitan karena telah mengambilnya, mengingat
apa yang akan terjadi dengan barang-barang itu jika kau meninggalkannya
di tempat. Mengenai janji bahwa kau akan memperolehnya kembali, aku
tak bisa menjanjikan dengan pasti." Starling mengaduk-aduk di dompetnya
untuk memberi penegasan kata-katanya. "Barney, aku memperkirakan
kau tidak memperoleh gelar kedokteran lebih lanjut karena mungkin kau
tak bisa diberi tanggungan. Mungkin kau pernah ditahan, entah di mana?
Begitu? Nah, lihat, aku tak pernah menahanmu. Aku tak pernah me-
meriksa."
"Tidak. Kau hanya melihat formulir pajak dan lamaran kerjaku. Itu
saja. Aku terharu."
"Kalau kau pernah ditahan di suatu tempat, mungkin Jaksa Distrik
dapat mengatakan sesuatu dan kau akan dicoret."
Barney membersihkan piringnya dengan secuil roti. "Kau sudah selesai?
Mari jalan-jalan sedikit."
"Aku melihat Sammie. Ingat dia mengambil alih sel Miggs? Dia
masih menghuninya," kata Starling ketika mereka berada di luar.
"Kukira tempat itu sudah diturup."
"Memang."
"Apa Sammie mengikuti suatu program?"
"Tidak. Dia hanya tinggal di sana, dalam kegelapan."
"Kurasa kau harus memperingatkan dia. Dia penderita diabetes parah.
Dia bisa mati. Tahukah kau kenapa Dr. Lecter memerintahkan Miggs
menelan lidahnya sendiri?"
"Kurasa aku tahu."
"Dr. Lecter membunuh Miggs karena Miggs menyinggung perasaanmu.
Itulah sebabnya. Jangan merasa sedih. Bagaimanapun, dia akan me-
lakukannya juga."
Mereka meneruskan melewati gedung apartemen Barney, menuju
padang rumput tempat burung itu masih mengitari bangkai pasangannya
yang sudah mati. Barney mengusirnya dengan tangan. "Ayolah," katanya
pada burung itu. "Sudah cukup lama bersedih-sedih. Nanti kau dimakan
kucing kalau terus berkeliaran di sini." Burung itu terbang sambil
mendekut. Mereka tak dapat melihat di mana ia hinggap.
Barney mengambil bangkai burung yang mati itu. Bulunya yang halus
membuatnya sangat mudah masuk ke dalam saku Barney.
"Kau tahu, Dr. Lecter pernah membicarakanmu sedikit. Mungkin saat

82
terakhir kali aku bicara dengannya. Salah satu dari saat-saat terakhir.
Burung itu tadi mengingatkanku. Kau ingin tahu apa yang dikatakannya?"
"Tentu," kata Starling. Sarapannya terasa meremas perut. la memutuskan
tak akan terpengaruh.
"Waktu itu kami sedang membicarakan kelakuan keras yang merupakan
sifat keturunan. Dia menggunakan contoh genetika burung merpati balap.
Mereka terbang tinggi-tinggi di udara dan kembali terjun ke tanah untuk
pamer di musim berkembang biak. Ada merpati balap terjun dalam dan
terjun dangkal. Dua penerjun dalam tak bisa dikawinkan, salah-salah
keturunannya akan terjun terus, hingga akhirnya terbanting dan mati.
Kata Dr. Lecter, 'Officer Starling adalah burung penerjun dalam, Barney.
Mudah-mudahan salah satu orangtuanya bukan penerjun dalam.'"
Starling harus mencerna kalimat itu. "Burung itu akan kauapakan?"
tanyanya.
"Kucabuti bulunya dan kumakan," jawab Barney. "Ayo mampir ke
rumah dan akan kuberikan foto rontgen itu serta buku-bukunya."
Seraya membawa bungkusan barang-barang itu kembali ke rumah
sakit dan ke mobilnya, Starling mendengar burung yang berkabung itu
mendekut di pepohonan.

83
Bab
13

BERKAT ulah Hannibal Lecter dan obsesi Jack Crawford, untuk saat ini
Starling memperoleh apa yang sudah lama ia kehendaki. Sebuah kantor
di koridor bertingkat di bawah tanah dari seksi Ilmu Perilaku. Memang
pahit harus memperoleh kantor dengan cara demikian.
Ketika lulus dari Akademi FBI, Starling tak pernah mengharapkan
dapat langsung masuk ke seksi Ilmu Perilaku yang elite itu. Tapi ia
memperkirakan dapat memperoleh tempat di situ. Ia tahu bahwa selama
beberapa tahun ia harus berdinas di beberapa kantor cabang dahulu.
Starling cemerlang dalam bertugas, tapi ia tidak pandai dalam liku-
liku politik kantor. Maka ia memerlukan bertahun-tahun untuk memahami
bahwa ia takkan pernah masuk Ilmu Perilaku, walau Jack Crawford,
pimpinan seksi tersebut, menghendakinya.
Ada suatu alasan besar yang tak pernah diketahui Starling, namun
akhirnya ia menyadarinya, seperti seorang astronom menemukan lokasi
lubang hitam. Ia menemukan Asisten Deputi Inspektur Jenderal Paul
Krendler karena pengaruh-pengaruhnya terhadap badan-badan di sekitarnya.
Krendler tak pernah memaafkan Starling karena mendahuluinya me-
nemukan pembunuh berantai Jame Gumb, dan ia tak pernah bisa me-
nerima perhatian pers terhadap Starling karena perkara itu.
Pernah Krendler menelepon Starling di suatu malam musim dingin
yang berhujan. Starling menerima telepon itu dengan mengenakan man-
tel kamar dan selop kelinci, rambutnya dibungkus handuk. Ia ingat
persis tanggalnya, sebab waktu itu adalah minggu pertama Perang Teluk.
Waktu itu Starling seorang agen teknik. Ia baru saja kembali dari New
York, mengganti radio di sebuah limousine Misi PBB ke Irak. Radio

84
baru itu sama seperti yang terdahulu, hanya saja benda itu bisa menyiarkan
pembicaraan di dalam mobil ke satelit Departemen Pertahanan di atas.
Tindakan itu sangat penuh risiko, dilakukan di sebuah garasi pribadi, dan
ia masih merasa gugup.
Selama sesaat Starling mengira Krendler meneleponnya untuk memuji
hasil kerjanya.
Starling ingat hujan yang menerpa jendela, dan suara Krendler di
telepon. Ia bicara agak lamban, dengan latar belakang keramaian di bar.
Krendler mengajaknya jalan-jalan keluar. Katanya ia bisa datang dalam
waktu setengah jam. Padahal ia sudah menikah.
"Kurasa tidak, Mr. Krendler," jawab Starling, lalu memencet tombol
rekaman mesin penjawab telepon. Mesin itu berbunyi cuiit, dan telepon
itu mati.
Kini, bertahun-tahun kemudian, di kantor yang telah lama ia dambakan,
Starling menuliskan namanya dengan pensil di secarik kertas dan me-
nempelkannya pada pintu dengan selotip. Tapi itu tidak lucu, dan ia
menyobeknya lagi serta membuangnya di keranjang sampah.
Ada sepucuk surat dalam nampan pos yang masuk hari ini. Tenyata
sebuah kuesioner dari The Guinnes Book of World Records yang me-
nyiapkan untuk memasukkan Starling ke dalam buku itu, karena ia telah
membunuh napi lebih banyak daripada para penegak hukum wanita
lainnya dalam sejarah Amerika Serikat. Istilah napi digunakan secara
sengaja, menurut keterangan penerbit, sebab semua yang telah meninggal
itu telah beberapa kali dikurung karena melakukan tindak pidana berat,
dan tiga di antaranya pernah mendapat surat perintah penahanan.
Kuesioner itu dibuang ke keranjang sampah juga.
Starling baru dua jam sibuk dengan komputernya, dan sedang me-
nyibakkan rambut yang mengganggu di wajahnya, ketika Crawford me-
ngetuk pintu dan melongokkan kepala ke dalam.
"Brian menelepon dari lab, Starling. Foto rontgen Mason dan foto
yang kauperoleh dari Barney ternyata cocok. Itu memang lengan Lecter.
Mereka akan mendigitnya dalam komputer menjadi gambar dan akan
membandingkannya, tapi katanya tak ada pertanyaan. Kita akan
mengirimkannya melalui pos ke berkas VICAP Lecter yang aman.
"Bagaimana dengan Mason Verger?"
"Kita beritahukan yang sebenarnya pada Mason," jawab Crawford.
"Kau dan aku tahu bahwa dia tak akan berbagi informasi, kecuali kalau
dia mendapatkan sesuatu yang tidak bisa dia tangani sendiri. Tapi kalau
kita mengambil alih petunjuknya dari Brazil dalam hal ini, semuanya
akan menguap."
"Anda menyuruhku membiarkannya saja, maka kubiarkan."
"Waktu itu kau melakukan sesuatu."

85
"Foto rontgen dari Mason datang dengan DHL Ekspres. DHL telah
mengambil informasi kode dan label serta menunjukkan dengan persis
lokasi pengambilannya, yaitu di Hotel Ibarra, Rio." Starling mengacungkan
tangan, minta agar kalimatnya tidak diinterupsi. "Ini semua sumber-
sumber New York. Di Brazil tak ada penyelidikan sama sekali.
"Mason banyak sekali melakukan urusan telepon melalui switchboard
saluran taruhan olahraga di Las Vegas. Bisa dibayangkan berapa besar
jumlah telepon yang mereka tangani."
"Haruskah aku tahu dari mana kau mengetahui itu semua?"
"Aku memperolehnya dengan cara sah," kata Starling. "Yah, cukup
sah. Tak ada satu pun yang kutinggalkan di rumahnya. Aku punya kode-
kode untuk meneliti rekening teleponnya. Itu saja. Semua agen teknik
memilikinya. Misalkan dia menghalangi penyelidikan. Dengan pengaruh
yang dia miliki, berapa lama kita harus mengemis-ngemis untuk mem-
peroleh surat perintah guna melacak dan menjebak? Apa yang bisa kita
lakukan kepadanya jika dia dikurung? Dia toh hanya menggunakan
saluran taruhan."
"Oh, begitu," kata Crawford. "The Nevada Gaming Commission bisa
menyadap telepon atau memaksa orang di sana untuk memperoleh
informasi yang kita perlukan, yaitu telepon itu ditujukan ke mana saja."
Starling mengangguk. "Mason kubiarkan saja, seperti yang telah Anda
katakan padaku."
"Ya, aku tahu," kata Crawford. "Kau bisa mengatakan pada Mason
bahwa kita mengharapkan dapat membantu melalui Interpol dan kedutaan.
Katakan padanya bahwa kita perlu mengerahkan orang-orang ke sana
dan memulai mengerjakan kerangka kerja ekstradisi. Lecter kemungkinan
besar telah melakukan tindak pidana di Amerika Selatan, jadi kita lebih
baik mengadakan ekstradisi sebelum polisi Rio mencari-cari dalam berkas
mereka di bawah entry Cannibalismo. Itu seandainya dia benar-benar ke
Amerika Selatan. Starling, apa kau merasa tak enak harus bicara dengan
Mason?"
"Aku harus menyesuaikan diri. Anda pernah membimbingku melaku-
kannya ketika kita menangani gelandangan di West Virginia itu. Kenapa
aku memakai istilah itu? Dia manusia, seorang wanita bernama Fredericka
Bimmel. Dan memang benar Mason membuatku muak. Banyak hal yang
akhir-akhir ini membuatku tak enak, Jack."
Starling terperanjat sendiri hingga bungkam. Sebelum ini ia tak pernah
menyapa Kepala Seksi Jack Crawford dengan nama pertamanya. Ia tak
pernah merencanakan menyebut Jack, dan itu membuatnya terkejut. Ia
mengamati wajah Crawford, wajah yang terkenal sulit dibaca.
Crawford mengangguk. Dengan senyuman masam ia berkata, "Aku
juga, Starling. Mau tablet Pepto-Bismol untuk dikunyah sebelum bicara
dengan Mason?"

86
Mason Verger tak mau menerima telepon Starling. Seorang sekretaris
berterima kasih atas telepon Starling dan berkata Mason akan menelepon
kembali. Tapi ia tidak menelepon kembali. Bagi Mason, yang menduduki
peringkat beberapa tingkat lebih tinggi daripada Starling di daftar pem-
beritahuan, kecocokan foto rontgen itu merupakan berita basi.

87
Bab
14

MASON sudah tahu bahwa foto rontgen miliknya itu adalah lengan Dr.
Lecter, lama sebelum Starling diberitahu, sebab sumber-sumber Mason di
Departemen Kehakiman jauh lebih baik daripada sumber-sumber Starling.
Mason diberitahu melalui sebuah pesan e-mail yang ditandatangani
dengan nama Token287. Itu adalah screen name kedua dari asisten
Anggota Kongres Parton Vellmore dalam Komite Pengawas Kehakiman.
Kantor Vellmore telah dikirimi e-mail oleh Cassiusl99, yang merupakan
screen name kedua dari Paul Krendler sendiri di Departemen Kehakiman.
Mason sangat antusias. la tidak mengira bahwa Dr. Lecter berada di
Brazil. Tetapi foto rontgen itu membuktikan bahwa dokter itu kini
memiliki jumlah jari normal di tangan kiri. Informasi itu berkaitan
dengan petunjuk baru dari Eropa mengenai keberadaan dokter tersebut.
Mason yakin petunjuk itu berasal dari wilayah penegakan hukum Italia,
dan itu merupakan jejak Lecter yang paling jelas yang ia temukan
setelah bertahun-tahun lamanya.
Mason tak ingin berbagi petunjuk dengan FBI. Berkat usaha tak kenal
lelah selama tujuh tahun, akses terhadap berkas-berkas rahasia federal,
penyebaran selebaran yang sangat luas, tanpa ada batasan-batasan
internasional, dan pengeluaran uang yang sangat besar, Mason sudah
mendahului FBI dalam mengumpulkan informasi tentang Lecter. Ia hanya
berbagi informasi dengan Biro bila perlu menyedot sumber-sumbernya.
Namun, untuk menjaga penampilan, ia menginstruksikan sekretarisnya
untuk tetap mencecar Starling tentang perkembangan-perkembangan baru.
Sesuai instruksi Mason, si sekretaris menelepon Starling paling sedikit
tiga kali sehari.

88
Mason langsung mengirimkan lima ribu dolar kepada informannya di
Brazil, guna melacak sumber foto rontgen itu. Dana cadangan yang ia
kirim ke Swiss jauh lebih besar, dan ia bersedia mengirim lebih banyak
lagi bila telah menerima informasi yang pasti di tangan.
Ia yakin sumbernya di Eropa telah menemukan Dr. Lecter, tapi Mason
sudah sering ditipu mengenai informasi itu, jadi ia belajar untuk berhati-
hati. Sebentar lagi bukti pasti muncul. Sementara itu, untuk menghilangkan
rasa sebal karena harus menunggu, Mason menyibukkan diri dengan apa-
apa yang akan ia lakukan bila sang dokter telah berada di tangannya.
Persiapan-persiapan ini juga memakan waktu lama untuk merencanakan-
nya, sebab Mason sudah kenyang dengan penderitaan....
Pilihan-pilihan Tuhan dalam mengirim penderitaan tidaklah memuaskan
bagi kita, juga tak bisa dimengerti, kecuali bila Ia tak suka dengan sifat
naif. Jelaslah Ia memerlukan bantuan dalam melancarkan kemurkaan
yang Ia gunakan untuk mendera bumi.
Mason mulai memahami perannya dalam semua ini setelah dua belas
tahun menderita lumpuh, ketika ia tak lagi berbentuk di bawah selimutnya
dan tahu bahwa ia tak akan pernah bisa bangkit lagi. Tempat tinggalnya
di Muskrat Farm telah selesai dibangun, dan ia memiliki sarana, tapi
bukan sarana tak terbatas, karena ayahnya, Molson Verger, masih berkuasa.
Waktu itu Natal di tahun lolosnya Dr. Lecter. Sesuai perasaan yang
lazimnya menyelimuti Natal, Mason menyesali dengan sangat, kenapa ia
tidak mengatur supaya Dr. Lecter dibunuh di asilum itu saja. Mason
tahu bahwa Dr. Lecter masih berkeliaran di bumi ini, entah di mana, dan
kemungkinan besar menikmatinya.
Mason sendiri terbaring di bawah alat pernapasan, ditutupi selimut
lembut. Seorang perawat berdiri di dekatnya dengan gelisah, berharap
bisa duduk. Beberapa anak miskin telah diangkut dengan bus ke Muskrat
Farm untuk menyanyi. Seizin dokter, jendela Mason dibuka sebentar
untuk membiarkan angin segar masuk, dan di bawah jendela anak-anak
menyanyi dengan tangan memegangi lilin.
Di kamar Mason, lampu dipadamkan, dan di udara hitam di atas
pertanian itu bintang-bintang bersinar berdekatan.

"O kota kecil Betlehem, betapa tenang kau terbaring."

Betapa tenang kau terbaring.


Betapa tenang kau terbaring.

Mason merasa tersindir dengan satu bait itu. Betapa tenang kau terbaring,
Mason!
Bintang-bintang Natal di luar jendelanya tetap bisu membeku. Bintang-
bintang itu tidak berkata apa-apa bila ia mendongak pada mereka dengan

89
mata memohon dan terbelalak, memberi isyarat dengan jemarinya yang
bisa ia gerakkan. Mason merasa tak bisa bernapas. Kalau ia tercekik di
ruang angkasa, hal terakhir yang akan dilihatnya adalah bintang-bintang
indah tak berudara yang membisu, pikirnya. Kini ia sedang merasa
tercekik. Alat pernapasannya tak mampu mengimbangi. Ia harus menunggu
napas, mengikuti baris-baris garis hijau di diagram, garis turun-naik
kecil di layar yang sehitam malam. Garis-garis denyut jantungnya:
sistolik dan diastolik.
Perawat terkejut. Ia hampir saja memencet tombol alarm. Hampir
meraih botol adrenalin.
Bait-bait lagu itu, betapa tenang kau terbaring, Mason.
Sebelum perawat dapat membunyikan alarm atau meraih botol obat,
dendam kesumat dalam diri Mason membuat ia mampu menggerakkan
tangannya yang pucat dan seperti kepiting hantu itu, dan ia mulai
merasa tenang.
Pada upacara-upacara komuni di pesta Natal di seluruh dunia, orang-
orang saleh percaya bahwa melalui mukjizat konsekrasi, mereka benar-
benar menyantap tubuh dan darah Kristus. Mason mulai mempersiapkan
upacara yang jauh lebih mengesankan. Ia mulai menyusun rencana
supaya Dr. Hannibal Lecter dimangsa hidup-hidup.

90
Bab
15

PENDIDIKAN yang diperoleh Mason agak aneh, tapi sesuai dengan ke-
hidupan yang direncanakan ayahnya baginya, dan cocok dengan kewajiban
yang dihadapinya sekarang ini.
Ketika masih kecil, ia masuk sekolah asrama. Ayahnya menyumbang
banyak kepada asrama tersebut, sehingga Mason bisa sering membolos
tanpa ditegur. Kadang-kadang selama berminggu-minggu ia mendapat
pendidikan langsung dari ayahnya. Pendidikan yang sebenarnya. Ia diajak
pergi ke kandang-kandang ternak dan rumah pejagalan yang merupakan
dasar kekayaan keluarga mereka.
Molson Verger adalah pionir di banyak bidang produksi ternak, khusus-
nya dalam segi ekonomi. Eksperimen-eksperimen awalnya dalam makanan
ternak murah setaraf dengan eksperimen Batterham lima puluh tahun
sebelumnya. Molson Verger mencampur makanan babi dengan rambut
babi, bulu ayam tumbuk dan rabuk pada taraf yang pada waktu itu
dianggap sangat berani. Ia dianggap seorang visioner yang nekat di
tahun 1940-an, ketika ia pertama-tama menggantikan minuman air segar
untuk babi dengan minuman keras terbuat dari limbah binatang yang
telah difermentasi supaya babi-babi itu cepat gemuk. Orang-orang berhenti
menertawakannya ketika keuntungan mulai membanjir masuk, dan para
pesaingnya buru-buru mengikutinya.
Kepemimpinan Molson Verger dalam industri pengepakan daging tidak
berhenti sampai di situ. Dengan berani ia berjuang dengan dana sendiri
melawan Humane Slaughter Act, melulu dari sudut pandang ekonomi,
dan ia mampu mempertahankan pengecapan ternak sebagai sah menurut
hukum, walau ia harus membayar mahal pada dewan perundang-undangan.
Dibantu oleh Mason, ia mengawasi eksperimen besar-besaran dalam

91
masalah kandang ternak, untuk menentukan berapa lama ternak dapat
dibiarkan tanpa makanan dan minuman sebelum dijagal, tanpa kehilangan
bobot berarti.
Riset genetika yang disponsori Verger-lah yang akhirnya berhasil
menghasilkan jenis babi Belgia berotot kekar tanpa kehilangan bobot
yang selalu menyertai babi asli Belgia. Molson Verger membeli hewan-
hewan ternak di seluruh dunia, juga mensponsori sejumlah program
pembiakan di negara-negara lain.
Tapi rumah-rumah jagal pada dasarnya merupakan bisnis masyarakat,
dan tak seorang pun dapat memahami hal itu melebihi Molson Verger. la
mampu menakut-nakuti pimpinan serikat kerja ketika mereka mencoba
melanggar batas keuntungannya dengan tuntutan-tuntutan kenaikan gaji
dan keamanan. Di bidang ini, hubungannya yang kokoh dengan dunia
kriminal terorganisir menyelamatkannya selama tiga puluh tahun.
Waktu itu Mason sangat mirip ayahnya. Alis hitam mengilap di atas
mata biru dingin, dan garis rambut rendah yang melintas miring di dahi,
turun dari sisi kanan ke sisi kiri. Molson Verger sering memegangi
kepala anaknya dengan sayang dan merasakannya, seolah-olah ia sedang
meyakinkan keayahannya atas anak itu melalui bentuk kepalanya, seperti
halnya ia bisa merasakan wajah seekor babi dan menentukan susunan
genetiknya melalui struktur tulangnya.
Mason belajar dengan baik. Bahkan setelah lumpuh pun ia mampu
mengambil keputusan bisnis yang sehat untuk dilaksanakan oleh para
bawahannya. Mason-lah yang mempunyai ide agar pemerintah Amerika
dan PBB membantai semua babi pribumi di Haiti, dengan alasan mereka
sudah ketularan flu babi Afrika. Setelah itu, ia dapat menjual babi-babi
besar putih Amerika kepada pemerintah untuk mengganti babi-babi pri-
bumi. Babi-babi besar kelimis itu, saat dihadapkan pada kondisi Haiti,
cepat sekali mati dan setiap kali harus diganti lagi dari ternak Mason,
sampai akhirnya orang-orang Haiti sendiri menggantikan babi mereka
dengan babi-babi kecil yang kuat dari Republik Dominika.
Kini, dengan pengetahuan dan pengalaman sekian lama, Mason merasa
seperti Stradivarius yang sedang mendekati meja kerjanya untuk menyusun
rekayasa pembalasannya.
Betapa banyak informasi dan akal yang dimiliki Mason di balik
kepalanya yang tak berwajah itu. Sambil terbaring di ranjang, mencipta
seperti Beethoven yang tuli, ia ingat saat ia berjalan-jalan dengan ayahnya
di pasar raya babi, sambil menonton kontes babi. Molson selalu siap dengan
belati kecil dari perak untuk ditusukkan ke punggung babi, guna memeriksa
tebal lemak babi itu. Kemudian ia pergi dari babi yang memekik marah,
tanpa ada yang berani menegurnya, tangannya kembali masuk ke dalam
saku, dan ibu jarinya memberi tanda ketebalan lemak itu pada belati.
Mason niscaya tersenyum jika ia mempunyai bibir, bila ingat ayahnya

92
menusuk seekor babi 4-H yang dipertandingkan dan yang mengira setiap
orang bersahabat padanya. Anak kecil pemilik babi itu menangis. Ayah
anak itu datang dengan sangat marah, dan tukang-tukang pukul Molson
membawanya pergi ke luar tenda. Ah, masa-masa menyenangkan dan
kadang-kadang lucu.
Di pasar-pasar raya babi, Mason telah melihat babi-babi eksotis dari
seluruh dunia. Untuk tujuannya yang baru, ia mengumpulkan babi-babi
terbaik yang telah ia lihat.
Mason memulai program pembiakannya langsung sesudah Natal dan
memusatkannya di sebuah fasilitas pembiakan babi kecil yang dimiliki
keluarga Verger di Sardinia, di lepas pantai Italia. Ia memilih tempat itu
karena terpencil, namun tidak jauh dari Eropa.
Mason percaya—dan memang benar adanya—bahwa persinggahan
pertama Dr. Lecter di luar Amerika Serikat sesudah lolos adalah Amerika
Selatan. Tapi ia yakin bahwa Eropa-lah tempat orang yang berselera
seperti Dr. Lecter akan menetap. Setiap tahun ia menempatkan orang-
orangnya di Festival Musik Salzburg dan acara-acara kebudayaan lain.
Inilah yang dikirimkan Mason kepada para peternaknya di Sardinia
untuk mempersiapkan skenario kematian Dr. Lecter:
Babi hutan raksasa Hylochoerus meinertzhageni dengan enam puting
susu dan tiga puluh delapan kromosom. Ternak penuh daya dan pemakan
apa saja, seperti manusia. Keluarga babi ini, yang berasal dari pegunungan,
panjangnya dua meter dan berbobot sekitar dua ratus tujuh puluh lima
kilogram. Babi hutan raksasa ini adalah andalan utama Mason.
Babi hutan klasik Eropa, S. scrofa scrofa, dengan tiga puluh enam
kromosom dalam bentuknya yang murni, tanpa kutil pada wajah, dengan
taring siap tempur dan penyayat tajam, seekor binatang besar, galak, dan
cepat yang akan membunuh ular dengan tapaknya yang tajam dan
memangsanya dengan mudah. Bila sedang bergairah atau dalam musim
kawin atau sedang melindungi anak-anaknya, ia akan menyerang apa
saja yang mengancamnya. Babi betinanya memiliki dua belas puting
susu dan merupakan induk yang baik. Dalam diri S. scrofa scrofa ini
Mason menemukan tema dan penampilan wajah yang sesuai sebagai
gambaran terakhir bagi Dr. Lecter setelah dimangsa. (Lihat Harris on
the Pig, 1881.)
Ia membeli babi dari Ossabaw Island karena babi ini sangat agresif,
dan ia juga membeli babi Jiaxing Black karena kadar estradiolnya tinggi.
Sebuah nada sumbang adalah ketika ia memasukkan Babirusa,
Babyrousa babyrussa dari Indonesia Timur yang terkenal karena taringnya
yang sangat panjang. Sangat lamban diternakkan dan hanya punya dua
puting susu, dan dengan bobot seratus kilogram ia memerlukan pem-
biayaan terlampau besar. Tak perlu buang-buang waktu, sebab masih ada
babi-babi afkiran lain yang mirip dan tidak mencakup Babirusa.

93
Dalam hal pergigian, Mason tak punya banyak varietas pilihan. Hampir
semua spesies memiliki gigi yang memadai untuk tugas itu. Tiga pasang
gigi seri tajam, sepasang gigi taring panjang, empat pasang gigi sebelum
geraham, dan tiga pasang geraham penggerus, atas dan bawah, seluruhnya
berjumlah empat puluh empat.
Tiap babi suka memangsa mayat, tapi untuk mengajarnya memangsa
manusia hidup diperlukan pengajaran. Orang-orang Sardinia pembantu
Mason sangat sesuai untuk tugas itu.
Kini, setelah upaya selama tujuh tahun dan banyak babi afkiran akhirnya
memberi hasil... menakjubkan.

94
Bab
16

DENGAN terkumpulnya para pemain, kecuali Dr. Lecter, di Pegunungan


Gennargentu di Sardinia, Mason mulai mengalihkan perhatian ke rencana
untuk merekam proses kematian dokter itu bagi anak-cucu dan untuk
kesenangan dirinya sendiri. Semua rencana sudah lama dibuat, tapi
sekarang ia harus memberi sinyal.
la melaksanakan urusan sensitif ini dengan telepon melalui switch-
board saluran taruhan olahraganya yang sah dekat Castaways di Las
Vegas. Telepon-teleponnya merupakan hubungan-hubungan kecil dalam
sejumlah kegiatan besar pada akhir minggu di sana.
Suara Mason yang berkualitas, minus suara plosif dan frikatif, disiarkan
dari National Forest dekat pantai Chesapeake ke gurun dan kembali
melintasi Atlantik, pertama-tama ke Roma.
Di sebuah apartemen di tingkat tujuh sebuah gedung di Via Archimede,
di belakang sebuah hotel dengan nama sama, telepon berdering. Dalam
kegelapan terdengar suara terkantuk-kantuk.
"Cosa? Cosa c'e?"
"Accendi la luce, idiota."
Lampu di sisi ranjang menyala. Ada tiga orang tidur di ranjang. Pria
muda yang paling dekat dengan telepon mengangkat gagangnya dan
menyerahkannya pada pria gemuk yang lebih tua di tengah. Di sisi lain
ada seorang gadis pirang berusia dua puluhan. Gadis itu mendongakkan
wajah ke lampu, lalu tidur lagi.
"Pronto chi? Chi parla?"
"Oreste, sahabatku. Ini Mason."
Pria gemuk itu menenangkan diri dan memberi tanda pada si pria
muda untuk mengambilkan segelas air mineral.

95
"Ah, Mason, sahabatku. Maaf. Aku tadi sedang tidur. Pukul berapa di
situ?"
"Di mana pun ini sudah larut, Oreste. Kau ingat apa yang kukatakan
akan kulakukan untukmu dan apa yang harus kaulakukan bagiku?"
"Sudah tentu."
"Saatnya telah tiba, sahabatku. Kau tahu apa yang kuinginkan. Aku
menginginkan instalasi dua kamera. Aku menginginkan kualitas suara
yang lebih baik daripada kualitas suara film-film seksmu, dan kau harus
membangkitkan listrik sendiri. Maka aku menginginkan generator
ditempatkan jauh dari instalasi. Aku juga menginginkan sisipan peman-
dangan alam yang bagus dan cukup panjang, dan kicau burung. Aku
ingin kau memeriksa lokasi besok dan memasang instalasi. Barang-
barang bisa kautinggalkan di sana. Aku akan mengurusi keamanan dan
kau bisa kembali ke Roma hingga saat syuting. Tapi bersiaplah untuk
bekerja dengan pemberitahuan dua jam sebelumnya. Kau paham, Oreste?
Sebuah draft bank telah siap menunggumu di Citibank di EUR, mengerti?"
"Mason, saat ini aku sedang membuat..."
"Apa kau mau melakukan ini, Oreste? Katamu kau sudah bosan
membuat film-film hiburan picisan dan film historis omong kosong
untuk RAI. Apa kau serius mau membuat feature, Oreste?"
"Ya, Mason."
"Kalau begitu, berangkatlah hari ini. Uang tunai sudah tersedia di
Citibank. Aku ingin kau yang pergi."
"Ke mana, Mason?"
"Sardinia. Terbanglah ke Cagliari. Kau akan dijemput."
Telepon berikutnya tertuju ke Porto Torres di pantai timur Sardinia.
Pendek saja. Tak perlu banyak pembicaraan, karena peralatan di sana
telah lama terpasang dan seefisien guillotine portabel Mason. Dan secara
ekologis juga lebih sehat, walau tidak sebegitu cepat.

96