Anda di halaman 1dari 32

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1. Konsep Dasar Pneumotoraks

Pada sub bab ini akan di bahas mengenai pengertian pneumotoraks, etiologi

pneumotoraks, patofisiologi pneumotoraks, tanda dan gejala pneumotoraks,

pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan pneumotoraks.

2.1.1. Pengertian Pneumotoraks


Pneumotoraks adalah adanya udara di dalam ruang pleura yang menghalangi

expansi paru sepenuhnya. Ekspansi paru yang terjadi bila lapisan pleura dari

dinding dada dan lapisan visera dari paru-paru dapat memelihara tekanan negtif

pada rongga pleura. Ketika kontinuitas sistem ini hilang, paru akan kolaps,

menyababkan tension pneumothoraks.

Walaupun berbahaya memiliki udara keluar masuk di rongga pleura pada tiap

napas, klien akan berada pada resiko yang lebih besar jika udara hanya bergerak

pada rongga pleura dan tidak dapat kembali keluar. Tension pneumotoraks

merupakan kedarudatan yang sesungguhnya. Udara memasuki rongga pleura pada

tiap inspirasi, terjebak disana dan tidak dapat di keluarkan saat ekspirasi. Tekanan

akan berkumpul pada dada karena peningkatan akumulasi udara di rongga pleura.

Tension pneumotoraks paling sering terjadi dengan cidera traumatic tumpul dan

sering berhubungan dengan cidera dada.

Jika tidak di tangani, tekanan pneumotoraks akan membuat paru kolaps pada

sisi yang terluka karena peningkatan intrapleura, menyebabkan pergeseran

mediastinum (jantung, trakea, esophagus, pembuluh darah besar) kearah yang tidak

terjadi cidera. Pergerseran mediastinum dapat menyebabkan kompresi paru pada

7
8

arah pergeseran yaitu paru pada sisi yang berlawanan dari pneumotoraks, dan

kompresi, traksi, torsi, atau penekukan pada pembuluh darah besar, sehingga darah

yang kembali ke jantung sangat terganggu. Situasi terakhir tesebut dapat

menyebabkan gangguan peredaran darah dan gangguan paru yang serius serta dapat

mematikan dengan cepat. Ini merupakan kedaruratan prioritas utama yang

membutuhan pemeriksaan dan intervensi segera.

2.1.2. Etiologi Pneumotoraks


Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan

penyebabnya menurut Alsegaf (2004), yaitu:

1. Pneumotoraks primer: terjadi tanpa disertai penyakit paru yang mendasarinya.

2. Pneumotoraks sekunder: merupakan komplikasi dari penyakit paru yang

mendahuluinya.

3. Pneumotoraks traumatik: terjadi akibat cedera traumatik pada dada.Traumanya

bisa bersifat menembus (luka,tusuk,peluru atau tumpul(benturan pada

kecelakaan bermotor). Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari

tindakan medis tertentu(misal torakosentesis).

2.1.3. Patofisiologi Pneumotoraks


Tekanan diruang pleura normalnya negatif dalam kaitannya dengan tekanan

atmosfer. Tekanan negatif ini penting untuk proses bernapas. Kontraksi diafragma

dan otot interkosta menarik paru keluar, meningkatkan volume sehingga udara

bergerak masuk mengisi ruang paru yang mengembang.

Ketika pleura visceral maupun parietal bolong, udara masuk ruang pleura,

menyamankan tekanan ini. Ekspansi paru terganggu dan rekoil alami kecondongan
9

paru menyebabkan kolaps hingga derajat terbesar atu terkecil, bergantung pada

ukuran dan kecepatan akumulasi udara.

Table 2.1. Klasifikasi Pneumotoraks

Jenis Patofisiologi Manifestasi

Pneumotoraks Rupture pada bleb permukaan  Awitan tiba-


Spontan paru memungkina udara masuk tiba
ruang pleura dari jalan napas.  Nyeri dada
 Pneumotoraks primer pleuritic
mengenai orang yang  Dyspnea, sesak
sebelumnya sehat napas
 Pneumotoraks sekunder  Takipnea,
mengenai orang yang takikardia
mengelami penyakit paru  Eksrusi paru
yang telah di derita yang tidak
sebelumnya (mis. COPD) sama
 Penurunan
suara napas dan
nada perkusi
hiperresonan
pada sisi yang
terkena
Pneumotoraks Luka pungsi/ luka tusuk melalui  Nyeri
Traumatis dinding dada. Trauma ke  Dyspnea
dinding dada atau pleura  Takipnea,
mengganggu membrane pleura takikardia
 Terbuka terjadi dengan  Penurunan
trauma dada penetrasi yang ekskrusi
memungkinkan udara dari pernapasan
lingkungan masuk ruang  Tidak ada suara
pleura napas pada area
 Tertutup terjadi dengan yang terkena
trauma tumpul yang  Udara bergerak
meungkinkan udara dari melalui luka
paru masuk ruang pleura terbuka
 Iatrogenik melibatkan
laserasi pleura visceral
selama prosedur seperti
torasintesis atau
pemasangan selang sentral
Tension Udara masuk pleura melalui  Hipotensi, syok
Pneumotoraks dinding dada atau dari jalan
10

Lajutan table 2.1. Klasifikasi Pneumotoraks


napas tetapi tidak dapat keluar,  Distensi vena
menyebabkan akumulasi cepat. leher
Paru pada sisi yang terkena  Dyspnea berat
mengalami kolaps. Kerena  Takipnea,
tekanan intrpleura meningkat, takikardia
jantung, pembuluh darah besar,  Penurunan
trakea, dan esophagus bergeser akskursi
keaarah sisi yangtidak terkena pernapasan
 Tidak ada suara
napas pada sisi
yang terkena
deviasi trakea
ke arah sisi
yang tidak
terkena
Pathway Berdasarkan Penyimpangan Pneumotoraks

Gambar 2.1. Pathway Berdasarkan Penyimpangan Pneumotoraks


Pneumotoraks terbuka Pneumotoraks tension Pneumotoraks tertutup

Kelanjutan dari pneumotoraks tertutup


Trauma dada penetrasi trauma dada penetrasi Cedera tumpul

Membuka ruang intra pleura kedalam tekanan atmosfer Udara memasuki ruang pleura (pada saat inspirasi)
dan tidak dapat keluar pada saat ekspirasi Rusuk yang fraktur
(menusuk dan merobek
membran pleura
Udara terhisap kedalam ruang intra pleura
Akumulasi udara dalam rongga dada
(tekanan positif)

Peningkatan tekanan intrapleura Terputusnya


Udara memasuki
kontinuitas tulang dan
Pergeseran membran pleura
jaringan
mediastinum kompresi
organ-organ
penurunan ekspansi paru mediastinum

Noisiseptor Peningkatan tekanan


Insersi WSD mengeluarkan zat intra pleura dan
Insersi WSD Pola napas tidak kimia bradikinin mengempisnya paru
efektif

Mobilitas terbatas Resiko infeksi


Mobilitas terbatas Pasien dan keluarga
Pasien dan keluarga Resiko Infeksi sering bertanya Menurunnya ambang Terjadi kolaps pada
sering bertanya nyeri alveolus
Resiko gangguan integritas
Gangguan mobilitas kulit
fisik
Kurang menerima Nyeri Insersi WSD
Kurang menerima informasi
informasi Gangguan mobilitas
fisik Resiko infeksi mobilitas terbatas
Pasien dan keluarga
sering bertanya
Cemas Cemas

Kurang menerima
informasi

Cemas

11
Gangguan mobilitas
fisik
11
12

2.1.4.Tanda dan Gejala Tension Pneumotoraks


Joyce M. Black (2014) mengatakan, tanda dan gejala dari tension

pneumotoraks adalah sebagai berikut:

1. Dispnea yang parah

2. Takipnea

3. Emfisema subkutan di leher dan dada atas

4. Sianosis progesif

5. Nyeri dada akut di sisi yang terluka

6. Hiperresonansi (timpani) saat perkusi pada sisi yang terluka

7. Takikardi

8. Gerakan dada tidak simetris

9. Suara napas yang berkurang atau mengihilang pada sisi yang terluka

10. Kegelisahan serta agitasi yang hebat.

Tanda dan gejala lain meliputi:

1. Distensi vena leher

2. Deviasi atau pergeseran laring dan trakea ke arah sisi sehat

3. Perasaan sesak atau tekanan dalam dada

4. Titik impuls apeks bergeser kea rah lateral atau medial

5. Hipotensi parah yang meyebabkan syok

6. Dan suara jantung yang teredam

Dugaan pergeseran mediastinum dapat di konfirmasi dengan rongent. Deviasi

laring dan trakea ke arah sisi yang tidak terluka dapat di deteksi dengan palpasi

lembut dan dengan pemeriksaan rongent. Analisis AGD menunjukkan alkaliosis

respiratorik dan hipoksia. Ketika pergeseran mediastinum sudah parah dan tidak

diperbaiki segera, asidosis respiratoris akan segera menyusul.


13

2.1.5. Pemeriksaan Penunjang


1. Foto toraks : deviasi mediastinal menunjukkan adanya tegangan. Umumnya

didapat garis penguncupan paru yang sangat halus. Bila diserta darah atau

cairan lainnya akan tampak garis mendatar yang merupakan batas udara dan

cairan

2. Saturasi oksigen: harus diukur, biasanya normal kecuali ada penyakit paru

3. USG atau CT-Scan toraks baik dalam mendeteksi pneumotoraks kecil dan

biasanya digunakan setelah biopsy paru perkutan

2.1.6. Penatalaksanaan
Tatalaksana dari kelainan ini bergantung pada tipe, ukuran, manifestasi klinis,

penyakit yang menyertainya. Ukuran pneumotoraks ditentukan berdasarkan jarak

antara apeks paru dengan kubah ipsilateral rongga toraks seperti yang terlihat pada

rongent dada posisi tegak. Dikatakan pneumotoraks minimal bila jaraknya adalah

<3 cm dan besar bila jaraknya >3cm.

Pada kelainan yang minimal biasanya tidak membutuhkan adanya intervensi

dan pasien cukup di observasi kecuali menetapnya udara yang terkumpul. Tidak

dibutuhkan adanya tindakan yang lebih jauh lagi bila pada pemeriksaan foto

rongent menunjukkan hasil sama dalam 24 jam. Pada pneumotoraks yang luas di

butuhkan tatalaksana rawat inap

Tatalaksana dari kelainan ini termasuk evakuasi udara dari rongga pleura dan

menutup kebocoran yang terjadi. Pada keadaan dimana udara yang terjebak

memiliki volume yang cukup besar dan pasien mengalami kesulitan bernapas

dibutuhkan penusukan selang torakostomi dan pemberian tekanan negatif dengan

menggunakan suction. Selang torakostomi ditusuk pada garis mid aksila sela iga 4-

5. Paru harus mengalami ekspansi secara lambat karena ekspansi secara cepat

akibat evakuasi udara terjebak, dapat meimbulkan komplikasi paru baru yaitu
14

edema paru. Pada keadaan pneumotoraks yang cukup luas, akan lebih baik untuk

tidak memberikan tekanan negatif secara terburu-buru namun sebaliknya

membiarkan udara yang terjebak untuk keluar secara perlahan-lahan dan kemudian

membaik secara spontan sebelum suction digunakan

Suction dapat dipertahankan sampai tidak didapatkannya udara pada rongga

toraks. Suction kemudian dapat dilepaskan namun selang WSD dapat

dipertahankan. Jika pada pemantauan selama 24 jam tidak ditemukan adaya udara

lagi, maka selang dapat dilepas. Bila udara tetap ditemukan maka hal tersebut

merupakan tanda adanya kerusakan lapisan pleura, parenkim paru atau fistula

bronkopleura yang membutuhkan tindakan operasi.

2.2. Konsep Dasar Selang Dada Atau Water Seal Drainage (WSD)
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai pengertian water seal drainage

(WSD), jenis-jenis WSD, asuhan prapsosedur WSD dan asuhan pascaprosedur

WSD.

2.2.1. Pengertian Selang Dada atau WSD

Selang dada atau WSD adalah sistem drainage yang menggunaan water seal

untuk mengalirkan udara atau cairan dari cavum pleura (rongga pleura). Terapi

pilihan untuk pneumotoraks signifikan adalah penempatan kateter dada tertutup

untuk memungkinakan paru mengembang kembali (Potter & Perry, 2006) . Ketika

selang dipasang di rongga pleura untuk mengeluarkan udara atau cairan, selang

harus dirapatkan untuk mencegah udara juga mask ke selang dan, pada intinya,

menciptakan pneumotoraks terbuka. Selang dada ditutup atau di bungkus dengan

katub Heimlich (satu arah) atau di hubungakan dengan sistem drainase tertutup

dengan sumbat air. Katup atau sumbat air mencegah udara masuk kerongga dada
15

selama inspirasi dan memungkinkan udara keluar selama ekspirasi. Memberikan

tekanan rendah Suction ke sistem membantu menetapkan kembali tekanan negatif

pada ruang pleura, memungkinkan paru mengembang kembali.

2.2.2. Indikasi Pemasangan WSD


1. Pneumothoraks
Adalah pengumpulan udara atau gas lain dalam ruang pleura. Gas menyebabkan
paru menjadi kolaps karena gas tersebut menghilangkan tekanan negatif intrapleura
dan suatu tekanan ( counter pressure ) yang diberikan untuk melawan paru, yang
kemudian tidak mampu mengembang. Terdapat berbagai mekanismeuntuk
pneumothoraks. Mekanisme tersebut terjadi secara spontan atau diakibatkan oleh
trauma dada. Misalnya, disebabkan oleh tikaman atau trauma akibat kecelakaan
mobil, akibat ruptur bula emfisematosa pada permukaan paru ( sebuah bula besar
akibat kerusakan yang disebabkan oleh emfisema ), atau akibat prosedur invasif,
seperti insersi slang intravena subklavia. Seorang klien yang mengalami
pneumothoraks biasanya merasakan nyeri karena udara mengiritasi pleura
parietalnya. Nyeri dapat berupa nyeri yang tajam dan bersifat pleuritik. Dispneu
merupakan hal yang umum dan memburuk karena ukuran.
Pneumothoraks yang meningkat. Untuk mencegah terjadinya sesak nafas berat
yang disebabkan oleh karena meningginya tekanan intratorak, maka diperlukan
pemasangan WSD. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa terdapatnya
pneumotorak yang besar merupakan indikasi perlunya pemasangan WSD. Hal ini
atas pertimbangan bahwa paru akan tetap menguncup dalam waktu yang cukup
lama. Beberapa kasus pneumothoraks yang termasuk indikasi pemasangan WSD
adalah :
a. Pneumothoraks tension
Pemasangan kateter pada keadaan ini harus dilakukan secepat mungkin.Pada
keadaan darurat dekompresi dapat dilakukan dengan insersi jarum besar ke
dalam kavum pleura melalui intercosta II anterior. Tindakan ini akan mengubah
tension pneumothorak menjadi pneumothorak.
16

b. Pneumothoraks totalis
Pemasangan kateter thorak pada keadaan ini tetap dilakukan meskipun tanpa
tanda-tanda sesak.
c. Pneumothoraks parsial
Pneumothoraks parsial dengan kolaps paru lebih dari 20% perlu pemasangan
kateter thorak.Sedangkan pada pneumothorak parsial dengan kolaps paru
kurang dari 20% tanpa gejala ataupun penyakit dasar, perawatan dapat
dilakukan secara konservatif.Prosentase kolaps merupakan perbandingan antara
luas bagian paru yang kolaps dengan luas seluruh hemithoraks. Pengembangan
paru diperkirakan 1,25%, sehari bertambah luasnya kolaps atau keterlambatan
pengembangan merupakan indikasi untuk melakukan tindakan yang lebih
invasif.
d. Pneumothorak simptomatis
Pemasangan kateter juga tergantung pada ada tidaknya gejala penyakit dan
cadangan fisiologi paru penderita.Timbulnya keluhan sesak dan hypoksemia
menunjukkan indikasi pemasangan kateter thorak, walaupun dengan derajat
kolaps paru minimal.
e. Pneumothoraks bilateral
Untuk keadaan ini juga merupakan indikasi pemasangan kateter thorak.
Biasanya diikuti tindakan thorakotomi
2. Hemathoraks
Merupakan akumulasi darah dan cairan di dalam rongga pleura di antara pleura
parietal dan pleura viseral, biasanya merupakan akibat trauma. Hemathoraks
menghasilkan tekanan ( counter pressure ) dan mencegah paru berekspansi penuh.
Hematothoraks juga disebabkan oleh perdarahan dari jantung, paru, pembuluh
darah besar serta percabangannya, arteri / vena intercostalis, diafragma, pembuluh
darah dinding dada, rupturnya pembuluh darah pada perlekatan pleura, neoplasma,
kelebihan antikoagulan, pascabedah thorak juga ruptur pembuluh darah kecil
akibat proses inflamasi, seperti pneumonia atau tuberkulosis. Selain terjadi nyeri
dan dispneu, juga dapat terjadi tanda dan gejala syok apabila mengalami kehilangan
darah yang banyak. Hemathoraks di atas 400cc (Moderat : 300 – 800 cc , Severe :
17

lebih 800 cc) atau symptomatis merupakan indikasi pemasangan kateter thorak.
Evakuasi darah pada hemathoraks masiv (lebih dari 2000 cc) harus diawali dengan
penggantian cairan atau darah. Hemathoraks yang termasuk dalam indikasi
pemasangan kateter thoraks adalah Hematothoraks bilateral, Hemato-
pneumothoraks. Pemasangan kateter thoraks untuk mencegah pembentukkan
bekuan darah dalam kavum pleura dan untuk memonitor kemungkinan berlanjutnya
perdarahan.

3. Kilotoraks
Suatu keadaan dimana terdapatnya cairan limfa di pleura. Warna cairan ini
seperti susu, hal ini disebabkan oleh karena terdapatnya kilomikron, yakni butir-
butirlemak dengan ukuran 1 mikron yang diserap dari dalam intestinum. Secara
kimiawi butir-butir lemak ini terdiri dari komplek trigliserida dengan lipoprotein,
fosfolipid dan kolesterol.Melalui duktus limfatikus cairan ini sampai ke duktus
toraksikus dan oleh karena sesuatu sebab maka cairan ini masuk ke
pleura.Penyebab yang paling sering adalah trauma, tetapi dapat juga nontrauma,
bahkan dapat pula penyebabnya tidak diketahui (idiopatik).
Bila terjadi trauma, misalnya, maka kilotorak akan berkumpul di mediastinum
dan bila mediastinum ini robek, maka cairan ini akan masuk ke dalam pleura. Pada
penyebab yang nontrauma, terutama disebabkan oleh kelainan dari duktus
toraksikus dan keadaan ini merupakan 50-60% dari kasus dibandingkan dengan
yang trauma, yakni hanya 10-40% dari kasus.Sedangkan pada yang nontrauma,
terutama disebabkan oleh congenital, yakni fistula antara duktus toraksikus dengan
pleura.Tumor limfoma, fibrosis mediastinum, limfangiomiomatosis pulmonal,
keseluruhannya dapat menyebabkan terjadinya kilotorak. Tindakan pemasangan
WSD dengan pipa yang mutipel (multiple tube) hasilnya akan tergantung kepada
ada tidaknya perlengketan pleura dan tertutupnya duktus.
Kilotoraks Chylothoraks sulit diterapi, meskipun dengan pemasangan kateter
thorak dan disertai pleurodesis. Penyebab chylothoraks adalah trauma, malignansi,
abnormalitas kongenital.
18

4. Empisema
Empisema thoracis setelah dipungsi tidak berhasil atau pus sangat kental,
sehingga perlu dipasang WSD dengan chest tube yang besar, kadang harus
dilakukan reseksi iga. Cairan empiema perlu didrainase secepatnya dan sebanyak-
banyaknya, untuk mengurangi gejala toksis dan mempercepat resolusi proses
inflamasi. Pada fase akut, permukaan paru masih fleksibel dan akan mengembang
sempurna setelah cairan empiema di drainase sampai habis. Keterlambatan drainase
sering perlu diikuti dekortikosi, karena terbentuk peel pada permukaan paru.

5. Effusi Pleura

Peningkatan tekanan intra pleura karena cairan akan memberikan pendorongan


pada mediastinum dengan akibat gangguan fungsi paru dan kardiovaskuler.
Pemasangan kateter thorak terutama dilakukan pada efusi pleura maligna dengan
tujuan untuk mengurangi keluhan dan mencegah reakumulasi cairan.Keadaan ini
sering harus diikuti dengan pleurodesis.Cairan hemoragik yang terdapat pada effusi
pleura akibat dari adenokarsinoma dapat berasal dari berbagai organ tubuh, antara
lain paru dan ovarium. Untuk membuktikan bahwa cairan pleura yang terjadi adalah
oleh karena keganasan maka harus dapat dibuktikan dengan melakukan
pemeriksaan sitologi.Indikasi pemasangan kateter thorak pada efusi pleura non
maligna masih controversial.Keuntungan dari tindakan ini tidak seimbang dengan
komplikasi yang mungkin terjadi, misalnya pendarahan dan infeksi sekunder.
6. Flail Chest
Flail chest adalah akibat dari trauma pada thorax, disebabkan oleh gangguan
struktur semirigid secara normal pada tulang dada,disebabkan dari: (1). Fraktur
pada tiga atau lebih sendi iga pada satu atau lebih lokasi, (2). Fraktur iga dengan
terpisahnya kostokondral atau (3). Fraktur sentral. Dimanapun fraktur terjadi,
segmen tersebut kehilangan kontuinitasnya dengan dinding dada yang masih utuh
dan terjadi gerakan paradoksial. Selama inspirasi, tekanan intrapleural pada sisi
sehat lebih besar, sehingga merubah posisi mediastinum kearahnya. Sebaliknya
selama ekspirasi tekanan negatif pada sisi sehat kurang dari yang sakit dan
19

mediastinum miring ke arah sisi yang sehat. Kejadian ini diketahui sebagai flutter
mediastinal, selanjutnya mengganggu ventilasi dan curah jantung.

7. Fluidothoraks

Fluidothoraks yang hebat, karena adanya cairan yang banyak


menyebabkan pasien sesak

Gambar 2.2. Ilustrasi Pasien Terpasang WSD

2.2.3. Jenis-jenis Selang Dada atau WSD


1. WSD dengan satu botol

Merupakan sistem drainage yang sangat sederhana. Botol berfungsi selain

sebagai water seal juga berfungsi sebagai botol penampung. Drainage

berdasarkan adanya grafitasi. Umumnya digunakan pada pneumotoraks

Gambar 2.3. WSD Botol Satu


20

2. WSD dengan dua botol

Botol pertama sebagai penampung / drainase. Botol kedua sebagai water seal.

Keuntungannya adalah water seal tetap pada satu level. Dapat dihubungkan

sengan suction control.

Gambar 2.4. WSD Botol Dua

3. WSD dengan 3 botol

Botol pertama sebagai penampung / drainase. Botol kedua sebagai water seal.

Botol ke tiga sebagai suction kontrol, tekanan dikontrol dengan manometer.

Gambar 2.5. WSD Botol Tiga


21

2.2.4. Asuhan Praprosedur Selang Dada atau WSD


1. Pastikan informed consent telah di tandatangani untuk pemasangan selang dada.

Prosedur innvasif ini memerlukan informed consent

2. Beri informasi tambahan jika di indikasikan. Jelaskan bahwa anastesi local akan

diberikan tetapi tekanan dapat dirasakan ketika toraks di tusuk. Tenangkan

bahwa bernapas akan lebih mudah ketika selang dada terpasang dan paru

mengembang kembali. Pasien dapat mengalami dyspnea dan ansietas yang

ekstrim serta memerlukan penentram hati bahwa prosedur invasive ini akan

memberikan peredaan.

3. Kumpulkan semua peralatan yang diperlukan, termasuk baki torakkostomi,

suntikan lidokain, sarung tangan steril, dan spuit berujung kateter steril untuk

digunakan sebagai corong untuk mengisi sumbat udara dan wadah suction.

Peralatan ini digunakan selama prosedur pemasangan untuk memasang sistem

drainase sumbta udara.

4. Posisikan sesuai indikasi untuk prosedur. Baik posisi tegak, atau posisi baring

miring dapat digunakan, tergantung pada tempat terjadi pneumotoraks

5. Bantu pasang selang jika diperlukan. Prosedur dapat dilakukan di ruang

prosedur, deretan pembedahan atau di tempat tidur. Meskipun pemasangan

selang dada merupakan prosedur yang relatif sederhana, bantuan keperawatan

diperlukan untuk membantu pasien dan menetapkan secara cepat sistem

drainase tertutup.

2.2.5. Asuhan Pascaprosedur Selang Dada atau WSD

1. Kaji status pernapasan minimal setiap 4 jam. Pengkajian yang sering diperlukan

untuk memonitor status pernapasan dan efek selang dada.


22

2. Pertahankan sistem tertutup. Plaster semua sambungan dan amankann selang

dada ke dinding dada. Tindakan ini penting untuk mencegah pelepasan seang

dada secara tidak sengaja atau gangguan integritas sistem

3. Jaga alat pengumpul di bawah dada. Cairan pleura mengalir kedalam alat

pengumpul dengan aliran gravitasi.

4. Periksa selang secara sering untuk adanya lekukan atau putaran. Hal ini dapat

mengganggu drainse.

5. Periksa sumbatan secara sering. Tingkat air harus fluktuasi dengan usaha napas.

Jika tidak, sistem mungki tidak paten atau utuh. Gelembung udara periodic

dalam wadah sumbat air normal dan mengindikasikan bahwa udara yang

terjebak di keluarkan dari dada. Pengkajian yang sering pada sistem sangan

diperlukan untuk memastikan fungsi yng tepat.

6. Ukur drainase setiap 8 jam, tandai tingkat drainase pada wada drainase.

Laporkan drainase yang keruh, kelebihan 70 ml per jam, atau kemerahan,

hangat, aliran bebas. Drainase aliran bebas, dan kemerahan dapat

mengindikasian hemoragi, dan keruh dapat mengindikasikan infeksi

7. Kaji tingkat air secara periodic pada wadah pengendali suction, tambahkan air

jika diperlukan. Air yang adekuat dalam wadah pengendali suction yang

ditempatkan pada jaringan pleura yang lembut.

8. Bantu mengubah posisi secara sering dan duduk serta ambulasi jika

diperbolehkan. Selang dada seharusnya tidak mencegah performa aktivitas.

Asuhan diperlukan untuk mencegeah pelepasan yang tidak disengaja atau

pengakatan selang

9. Ketika selang dada dilepas, segera berikan balutan potreleum jeli oklusif steril.

Balutan oklusif mencegah udara masuk kembali keruang pleura melalui luka

dada.
23

2.3. Konsep Dasar Asuhan Keparawatan


Adapun yang dibahas dalam konsep dasar keperawatan adalah tentang

pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan,

implementasi keperawatan, evaluasi, dokumentasi keperawatan, pendidikan

kesehatan dan discharge planing.

2.3.1. Pengkajian

Pengkajian psikologis pasien meliputi beberapa dimensi yang

memungkinkan perawat untuk memperoleh persepsi yang jelas mengenai status

emosi, kognitif, dan perilaku klien. Perawat mengumpulkan data hasil pemeriksaan

awal klien tentang kapasitas fisik dan intelektual saat ini. Data ini penting untuk

menentukan tingkat perlunya pengkajian psiko-sosial-spritual yang seksama.

Adapun beberapa cara untuk melaksanakan pengkajian, diantaranya adalah:

A. Pengumpulan data merupakan tahap awal proses keperawatan, tahap pengkajian

diperlukan kecermatan dan ketelitian untuk mengenal masalah. Keberhasilan

proses keperawatan sangan bergantung pada tahap ini:

1. Biodata klien, meliputi nama, jenis kelamin, umur, status, agama, pekerjaan,

suku bangsa, alamat, diagnose medis, dokter yang merawat.

2. Biodata penanggung jawab pasien, meliputi nama, usia, agama, pendidikan,

pekerjaan, suku bangsa, dan hubungan dengan pasien.

B. Survey Primer:

1. Airway : hal yang perlu diperhatikan adalah suara napas normal, snoring,

gargling dan stridor.


24

2. Breathing :

a. Inspeksi, melihat keadaan umum pernapasan

b. Palpasi, untuk mengkaji adanya benjolan, nyeri dan fraktur

c. Perkusi, mengkaji suara normal atau kelainnan saat di perkusi

d. Auskultasi, mengkaji bunyi napas ( wheezing, ronchi, respiratory

rate, SpO2.

3. Circulation: mengkaji adanya sianosis, tekanan darah, CRT, suhu,

peningkatan JVP.

4. Disability, mengkaji tingkat kesadaran (GCS)

a. Eye

1. Tidak ada respon

2. Dengan rangsangan nyeri

3. Dengan perintah

4. Spontan

b. Verbal

1. Tidak ada respon

2. Mengerang

3. Kata dapat dimengerti

4. Disorientasi

5. Orientasi (waktu, tempat, orang) baik

c. Motoric

1. Tidak ada respon

2. Sikap ekstensi
25

3. Sikap fleksi

4. Menghindar terhadap rangsangan

5. Dapat melokalisir rangsangan

6. Mematuhi perintah

5. Exposure, mengkaji adanya tanda-tanda trauma.

C. Survey Sekunder

1. Tanda-tanda vital ( nadi, tekanan darah, suhu, pernapasan)

2. Kesadaran ( kompos mentis, letargik, somnolent, sopporous, semi koma,

koma)

3. Keluhan utama merupakan keadaan pasien ketika sedang di kaji

4. Riwayat penyakit sekarang:

a. P: palliative/ provocative yaitu faktor apa saja yang memperberat atau

memperingan keluhan utama

b. Q: qualitative/ quantitative yaitu berupa gangguan atau keluhan yang

dirasakan seberapa besar, tanyakan apakah keluhannya mempengaruhi

aktivitas pasien

c. R: region/ radiasi: dimana terjadi gangguan, apakan keluhan mengalami

penyebaran

d. S: scala, berupa tingkat atau keadaan sakit yang dirasakan. Tanyakan

tingkat skala yng pasien rasakan

e. T: time, yaitu waktu gangguan dirasakan apakah terus menerus atau

tidak sering.
26

5. Riwayat penyakit masa lalu, penyakit yang pernah diderita pasien yang

berhubungan dengan penyakit saat ini yang mungkin mempengaruhi

riwayat saat ini. Riwayat penyakit dalam keluarga dihubungkan dengan

kemungkinan adanya penyakit turunan.

6. Pola aktifitas sehari-hari:

a. Pernapasan: mengkaji frekuensi pernafasan ( teratur, tidak teratur,

dangkal, dalam), jenis pernapasan ( hidung, mulut, dada, perut),

kesukaran bernapas.

b. Pola nutrisi: mengkaji frekuensi makan perhari, jumlah porsi, jenis diet,

pantangan makan, makan tambahan, jumlah cc air minum perhari,

pantangan minum, kesulitan mngunyah, kesulitan menelan, mual,

muntah, kebiasaan minum minuman keras.

c. Pola eliminasi: frekuensi BAB dan BAK perhari,jumlah, warna, bau,

upaya kesulitan saat eliminasi

d. Pola tidur: jumlah jam tidur malam, jumlah jam tidur siang, kesulitan

tidur, mengigau, susah tidur.

e. Pola personal hygiene: berapa kali mandi perhari, keadaan kuku,

rambut, genitalia, gigi, mulut.

7. Data Biologis

a. Mata: penglihatan (jelas, kabur, perih, berkunang-kunang), konjungtiva,

skelra, reaksi pupil, bola mata

b. Telinga: pendengaran ( jelas, berkurang), nyeri, serumen


27

c. Hidung: pasien dapat membedakan bau, sekresi, pembengkakan,

pernapasan cuping hidung

d. Mulut: bibir (warna, simetris), lidah (warna, lesi, pergerakan, sensasi

rasa), reflex menelan, reflex mengunyah, pembesaran tonsil, bau mulut,

secret.

e. Leher: bentuk, pembesaran kelenjar, peninggian JVP, pembesaran tiroid

f. Dada: bentuk, bercak-bercak merah, bentuk mamae, putting susu

masuk, eksresi mamae, warna, benjolan, lesi, suara paru, suara jantung,

pembesaran kelenjar pada aksila.

g. Abdomen: bentuk, kulit, benjolan, nyeri tekan, bising usus

h. Genitalia: bentuk utuh, peradangan, secret, pembengkakan skrotum,

kelengkapan testis, rectum, lesi

i. Ekstremitas atas: bentuk simetris, sensasi(panas, tajam, halus, dingin),

gerakan ROM, reflex (bisep, trisep), pembengkakan, kelembaban,

temperature

j. Ekstermitas bawah: bentuk simetris, sensasi (panas, tajam, halus,

dingin), gerakan ROM, reflex (bisep, trisep), pembengkakan,

kelembaban, temperature, reflex Babinski, varises, nyeri

thrombophiebitis.

k. Kulit: warna (pucat, icterus), turgor, kelembaban, lesi, edema, tekstur

(licin, keriput, kasar)

l. Rambut: penyebaran, kemudahan dicabut, warna

m. Kuku: bentu, warna, adanya clubbing finger.


28

8. Pemeriksaan penunjang: meliputi hasil pemeriksaan laboratorium, hasil

pemeriksaan bronkoskopi, USG, CT-Scan dan X-Ray, EKG, BGA, dll.

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendukung diagnose yang telah

ditegakkansehingga dapat memperoleh tindakan yang benar

2.3.2. Analisis Data

Merupakan proses berpikir secara ilmiah berdasarkan teori-teori yang

dihubungkan dengan data-data yang ditemukan saat pengkajian.

Menginterpretasikan data atau membandingkan dengan standar fisiologis setelah di

analisa, maka akan didapatkan penyebab terjadinya masalah klien.

2.3.3. Diagnosa Keperawatan yang Muncul

1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak

maksimal karena akumulasi udara/cairan

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflex

spasme otot sekunder

3. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan mobilitas fisik terbatas

4. Risiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder

terhadap trauma. Faktor risiko : destruksi jaringan dan peningkatan paparan

lingkungan terhadap pathogen, kebersihan selang dan botol

5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap tindakan yang akan

dilakukan

6. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terpasang ETT, guedle


29

7. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya peningkatan

sekresi secret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan

keletihan,penumpukan cairan atau udara dalam rongga dada

2.3.4. Intervensi Keperawatan

1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak

maksimal karena akumulasi udara/cairan

Tujuan: Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Pasien akan mempertahankan pola napas efektif

dengan kriteria: napas sesuai dengan irama ventilator, volume napas adekuat,

alarm ventilator tidak berbunyi.

Table 2.2. Intervensi Pertama

No Intervensi Rasional

1 Lakukan pemeriksaan ventilator Deteksi dini adanya kelainan atau


setiap 2 jam gangguan fungsi ventilator
2 Evaluasi semua alarm dan Bunyi alarm menunjukkan adanya
tentukan penyebabnya gangguan fungsi ventilator
3 Pertahankan alat resusitasi Mempermudah melakukan
manual ( bag, mask) pada posisi pertolongan bila sewaktu-waktu ada
tempat tidur disepanjang waktu gangguan fungsi ventilator
4 Monitor selang / cubbing Mencegah berkurangnya aliran udara
ventilator dari terlepas, terlipat, napas
bocor atau tersumbat
5 Evaluasi tekanan atau kebocoranMencegah berkurangnya aliran udara
balon cuff napas
6 Masukan penahan gigi (guedle) Mencegah tergigitnya selang
endotracheal tube (ETT)
7 Amankan selang ETT dengan Mencegah terlepasnya atau
fiksasi yang baik tercabutnya selang ETT
8 Monitor suara napas dan Untuk mengetahui kefektifan pola
pergerakan dada secara teratur napas
9 Kaji status pernapasan minimal Pengkajian yang sering dipeerlukan
setiap 4 jam. untuk memonitor status pernapasan
dan efek selang dada
30

Lanjutan Tabel 2.2. Intervensi Pertama

10 Plaster semua sambungan dan Untuk mencegah pelepasan selang


amankan selang dada kedinding dada secara tidak sengaja atau
dada. gangguan integritas sistem
11 Periksa selang secara sering Untuk mencegah terjadinya gangguan
untuk adanya lekukan atau pada drainase.
putaran
12 Periksa sumbatan secara sering Tingkat air harus fluktuasi dengan
usaha napas. Jika tidak, sistem
mungkin tidak paten atau utuh.
Gelembung udara periodic dalam
wadah sumbat air normal dan
mengindikasikan bahwa udara yang
terjebak di keluarkan dari dada.
Pengkajian yang sering pada sistem
sangan diperlukan untuk memastikan
fungsi yng tepat.
13 Ukur drainase setiap 8 jam, tandai Drainase aliran bebas, dan kemerahan
tingkat drainase pada wada dapat mengindikasian hemoragi, dan
drainase. Laporkan drainase yang keruh dapat mengindikasikan infeksi
keruh, kelebihan 70 ml per jam,
atau kemerahan, hangat, aliran
bebas.
14 Observasi gelembung udara botol Gelembung udara selama ekspirasi
penempung. menunjukkan lubang angin dari
penumotoraks/kerja yang diharapka.
Gelembung biasanya menurun seiring
dengan ekspansi paru dimana area
pleural menurun. Tak adanya
gelembung dapat menunjukkan
ekspansi paru lengkap/normal atau
slang buntu.

2. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan trauma jaringan dan reflex

spasme otot sekunder

Tujuan : Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Nyeri klien dapat berkurang atau hilang, klien tidak

meringis kesakitan, klien menyatakan nyerinya berkurang, tanda-tanda vital

dalam batas normal.


31

Tabel 2.3. Intervensi Kedua

No Intervensi Rasional
1 Jelaskan dan bantu klien dengan Pendekatan dengan menggunakan
tindakan pereda nyeri relaksasi dan nonfarmakologi lainnya
nonfarmakologi dan non invasif. telah menunjukkan keefektifan dalam
mengurangi nyeri.
2 Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik Akan melancarkan peredaran darah,
untuk menurunkan ketegangan otot sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan
rangka, yang dapat menurunkan akan terpenuhi, sehingga akan
intensitas nyeri dan juga mengurangi nyerinya.
tingkatkan relaksasi masase.

3 Ajarkan metode distraksi selama Mengalihkan perhatian nyerinya ke


nyeri akut. hal-hal yang menyenangkan.

4 Berikan kesempatan waktu Istirahat akan merelaksasi semua


istirahat bila terasa nyeri dan jaringan sehingga akan meningkatkan
berikan posisi yang nyaman ; misal kenyamanan.
waktu tidur, belakangnya dipasang
bantal kecil.
5 Tingkatkan pengetahuan tentang : Pengetahuan yang akan dirasakan
sebab-sebab nyeri, dan membantu mengurangi nyerinya. Dan
menghubungkan berapa lama nyeri dapat membantu mengembangkan
akan berlangsung kepatuhan klien terhadap rencana
teraupetik.
6 Kolaborasi dengan dokter, Analgetik memblok lintasan nyeri,
pemberian analgetik. sehingga nyeri akan berkurang.
7 Observasi tingkat nyeri, dan respon Pengkajian yang optimal akan
motorik klien, 30 menit setelah memberikan perawat data yang
pemberian obat analgetik untuk obyektif untuk mencegah
mengkaji efektivitasnya. Serta kemungkinan komplikasi dan
setiap 1 – 2 jam setelah tindakan melakukan intervensi yang tepat.
perawatan selama 1 – 2 hari.
8 Kaji tanda-tanda vital Nyeri dapat di identifikasi saat tanda-
tanda vital mengalami peningkatan

3. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan mobilitas fisik terbatas

Tujuan: Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Kerusakan kulit terhindar, tidak ada kontraktur
32

Tabel 2.4. Intervensi Ketiga

No Intervensi Rasional

1 Berikan posisi yang benar Pemberian posisi yang benar penting


untuk mencegah kontraktur,
meredakan tekanan, mencegah
neuropati
2 Berikan posisi tempat tidur yang Mempertahankan posisi tegak tempat
tepat tidur dalam periode yang lama akan
memperberta deformitas panggul dan
pembentukan decubitus disakrum
3 Cegah aduksi bahu Membantu mencegah edema dan
fibrosis yang akan mencegah rentang
gerakan normal bila pasien telah dapat
melakkan kontrol lengan
4 Rubah posisi pasien tiap 2 jam Pemberian posisi ini penting untuk
megurangi tekanan dan mengubah
posisi dengan sering untu mencegah
pembentukan dekubitus
5 Latihan ROM 1x perhari Latihan bermanfaat untuk
mempertahankan mobilitas sendi,
mengembalikan kontrol motoric,
mencegah terjadinya kontraktur pada
ekstermitas, mencegah bertambah
buruknya sistem neurovascular dan
meningkatnya sirkulasi, latihan juga
membantu dalam mencegah terjadinya
statis vena yang dapat mengakibatkan
terjadinya trombus
6 Siapkan pasien ambulasi Untuk mempertahankan keseimbangan
saat duduk dan berdiri

4. Risiko infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder

terhadap trauma. Faktor risiko : destruksi jaringan dan peningkatan paparan

lingkungan terhadap pathogen, kebersihan selang dan botol, CVC

Tujuan: Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Resiko infeksi terkontrol dengan kriteria tidak ada

tanda-tanda infeksi (radang, kemereahan, bengkak, dan panas), tanda-tanda

vital dalam batas normal.


33

Tabel 2.5. Intervensi keempat

No Intervensi Rasional

1 Observasi keadaan luka Untuk mengetahui adanya tanda-


tanda infeksi dini
2 Gunakan teknik aseptic dan Menurunkan proses penyebab infeksi
antiseptic dalam setiap tindakan

3 Lakukan perawatan luka dengan Melakukan perawatan luka untuk


memperhatikan kesterilan menjaga agar luka tetap bersih yang
mencegah terjadinya kontaminasi
dengan mokroorganisme
4 Observasi tanda-tanda vital Adanya peningkatan tanda-tanda
terutama suhu vital terutama suhu merupakan salah
satu tanda adanya infeksi
5 Kolaborasi dengan dokter dalam Antibiotic dapat mencegah infeksi
pemberian tertapi obat: antibiotik dengan membunuh kuman yang
masuk
5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan terhadap tindakan yang akan

dilakukan

Tujuan : Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan

keluarga terhadap penyakit meningkat kriteria hasil : RR dalam batas normal,

klien tidak gelisah.

Tabel 2.6. Intervensi Kelima

No Intervensi Rasional
1 Kaji tingkat pengetahuan/persepsi Ketidaktahuan dapat menjadi dasar
klien dan keluarga terhadap penyakit peningkatan rasa cemas
2 Kaji derajat kecemasan yang dialami Kecemasan yang tinggi dapat
klien dan keluarga menyebabkan penurunan penialaian
objektif klien tentang penyakit

3 Bantu klien dan keluarga Pelibatan klien secara aktif dalam


mengidentifikasi penyebab tindakan keperawatan merupakan
kecemasan support yang mungkin berguna bagi
klien dan meningkatkan kesadaran diri
klien
34

Lanjutan table 2.6. Intervensi Kelima


4 Asistensi klien menentukan tujuan Peningkatan nilai objektif terhadap
perawatan bersama masalah berkontibusi menurunkan
kecemasan

5 Terangkan hal-hal seputar penyakit Konseling bagi klien sangat


yang perlu diketahui oleh klien dan diperlukan bagi klien untuk
keluarga meningkatkan pengetahuan dan
membangun support system
keluarga; untuk mengurangi
kecemasan klien dan keluarga.

6. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan terpasang ETT, guedle

Tujuan: Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Tidak terjadi penurunan berat badan, tonus otot tidak

lemah, tidak ada peradangan pada mulut dengan kriteria: berat badan stabil,

makanan yang tidak dicerna tidak mencapai 50cc dengan masukan minimal

100cc + 50cc air.

Tabel 2.7. Intervensi Keenam

No Intervensi Rasional

1 Evaluasi kemampuan makan Pasien dengan selang ETT harus


terpenuhhi kebutuhan makanan
melalui parenteral atau selang makan
2 Observasi penurunan kekuatan otot Penurunan jumlah komponen gizi
dan kehilangan lemak subkutan mengakibatkan penurunan cadangan
makanan energy pada otot dan dapat
menurunkan fungsi otot pernafasan
3 Timbang berat badan bila Untuk mengetahui bahwa kehilangan
memungkinkan berat badan 10% merupakan
abnormal
4 Catat masukan oral bila Untuk observasi seberapa banyak
memungkinkan masukan makanan yang dicerna dan
tidak dicerna
5 Berikan masukan makanan 6-8x50 Untuk mencegah dehidrasi
cc air perhari
35

Lanjutan tabel 2.7. Intervensi Keenam


6 Awasi pemeriksaan laboratorium: Memberikan informasi tentang
serum, glukosa, bun/kreat dukungan nutrisi adekuat atau tidak

7. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya peningkatan

sekresi secret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan

keletihan,penumpukan cairan atau udara dalam rongga dada

Tujuan: Keluhan pasien berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan

3x24 jam dengan kriteria: Menunjukkan jalan nafas yang paten (tidak merasa

tercekik, irama nafas, frekuensi nafas dalam rentang normal, tidak ada suara

nafas abnormal)

Tabel 2.8. Intervensi ketujuh

No Intervensi Rasional

1 Jelaskan klien tentang kegunaan Pengetahuan yang diharapkan akan


batuk yang efektif dan mengapa membantu mengembangkan
terdapat penumpukan sekret di sal. kepatuhan klien terhadap rencana
pernapasan. teraupetik.
2 Ajarkan klien tentang metode yang Batuk yang tidak terkontrol adalah
tepat pengontrolan batuk. melelahkan dan tidak efektif,
menyebabkan frustasi.
3 Napas dalam dan perlahan saat Memungkinkan ekspansi paru lebih
duduk setegak mungkin. luas.
4 Auskultasi paru sebelum dan Pengkajian ini membantu
sesudah klien batuk. mengevaluasi keefektifan upaya
batuk klien.
5 Dorong atau berikan perawatan Hiegene mulut yang baik
mulut yang baik setelah batuk. meningkatkan rasa kesejahteraan
dan mencegah bau mulut.
6 Kolaborasi dengan tim kesehatan memudahkan mengeluarkan lendir
lain : Dengan dokter, radiologi dan dan menevaluasi perbaikan kondisi
fisioterapi. klien atas pengembangan parunya
7 Lakukan tindakan suction Untuk mengurangi sekresi secret
pada jalan nafas
36

2.3.5. Implementasi Keperawatan


Implementasi keperawatan adalah tahapan ketika perawat menerapkan

rencana asuhan keperawatan kedalam bentuk intervensi keperawatan untuk

membantu pasien mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan yang haru

dimiliki perawat dalam menerapkan rencana keperawatan adalah kemampuan

dalam komunikasi yang efektif (komunikasi teraupetik), menciptakan hubungan

saling percaya dan membantu, kemampuan melkaukan observasi sistematis dan

memberikan pendidikan kesehatan, kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi

(Nursalam, 2008)

Implemmentasi untuk keadaan darurat atau resusitatif termasuk

pemeliharaan kepatenan jalan napas, ventilasi dan oksigenasi jaringan, penetapan

keseimbangan cairan dan elektrolit yang optimal serta fungsi organ vital,

pemeliharaan suhu tubuh normal, nyeri dan ansietas minimal dan tidak terjadi

potensial komplikasi.

2.3.6. Evaluasi
Evaluasi adalah tahapan akhir dari asuhan keperawatan yang merupakan

perbandingan yang sistematis yang terencana antara hasil akhir yang teramati dan

tujuan atau kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Nursalam, 2008)

Evaluasi untuk keadaan darurat atau resusitatif termasuk pemeliharaan

kepatenan jalan napas, ventilasi dan oksigenasi jaringan, penetapan keseimbangan

cairan dan elektrolit yang optimal serta fungsi organ vital, pemeliharaan suhu tubuh

normal, nyeri dan ansietas minimal dan tidak terjadi potensial komplikasi.

2.3.7. Dokumentasi

Pendokumentasian merupakan suatu kegiatan pencatatan, pelaporan atau

merekam suatu kejadian serta aktivitas yang dilakukan dalam bentuk pemberian
37

pelayanan yang di anggap penting dan berharga. Dokumentasi asuhan keperawatan

menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian,

perummusan diagnose, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sebagai metode

ilmiah penyelesaian masalah keperawatan pada pasien untuk meningkatkan

outcome pasien. Ciri dokumentasi asuhan keperawatan yang baik adalah

berdasarkan fakta, akurat, lengkap, ringkas, terorganisir, waktu yang tepat, bersifat

mudah dibaca. (Potter & Perry).

Nursalam mengatakan bahwa dokumentasi asuhan keperawatan

menjadikan hal yang penting sebagai alat bukti tanggung jawab dan tanggung gugat

dari perawat dalam menjalankan tugasnya. Perawat professional dihadapkan pada

suatu tuntutan tanggung jawab yang lebih tinggi dan tanggung gugat setiap tindakan

yang dilaksanakan. Artinya dokumentasi keperawatan yang diberikan kepada

pasien harus dihindarkan dari kesalahan-kesalahan denga melakukan pendekatan

dan pendokumentasian yang akurat dan benar. (Diyanto, 2007)

2.3.8. Pendidikan Kesehatan

Pendidikan kesehatan adalah behavioral investmen jangka panjang sebagai

suatu proses perubahan perilaku pada diri seseorang dalam waktu yang pendek.

Pendidikan kesehatan hanya menghasilkan perubahan atau peningkatan

pengetahuan (Notomoatnodjo, 2007). Pendidikan kesehatan merupakan suatu

program yang membawa perubahan dalam pengetahuan. (skripsi tentang

pengetahuan)

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya

tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam

menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga

dapat dikatakan pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan


seseorang (Notoatmodjo, 2007).
38

2.3.9. Discharge Planning


Discharge planning adalah pengembangan perencanaan yang dilakukan

pasien dan keluarga sebelum pasien meninggalkan rumah sakit dengan tujuan agar

pasien dapat mencapai kesehatan optimal dan mengurangi biaya rumah sakit.

Kozier mengatakan bahwa discharge planning adalah suatu proses

dimulainya pasien mendapatkan pelayanan kesehatan yang diikuti dengan

kesinambungan perawat baik dalam proses penyembuhan maupun

mempertahankan kesehatannya sampai pasien merasa siap kembali

kelingkungannya.

Pelaksanaan discharge planning menurut Potter & Perry, dumulai dari

pengkajian saat pasien masuk kerumah sakit, yaitu pengkajian mengenai kebutuhan

pemulangan pasien berdasarkan riwayat kesehatan pasien. Sumber penddukung

social, sumber finansial, tingkat pendidikan, dan hambatan yang pasien miliki.

Pengkajian ini dilakukan pada pasien dan keluarga. Sebagai persiapan pemulangan

pasien, pendidikan kesehatan dirumah disampaikan pada pasien dan keluarganya

seperti penggunaan alat medis dirumah, faktor resiko penyakit pasien, komplikasi

penyakit, dan upaya pencegahan yang dapat dilakukan di rumah.