Anda di halaman 1dari 3

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN

SETIAP HARI

Disusu Oleh :

RESTU APRIANISA
AKX.17.074

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN


KONSENTRASI ANESTESI DAN GAWAT DARURAT
UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG
2019
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
SETIAP HARI
Nama Pasien : Ny. D
Hari/ tanggal : Kamis, 5 Januari 2020
Pertemuan ke : 2
Fase : SP 2 Perilaku Kekerasan
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi klien
DS : “klien mengatakan pernah melakukan tindak kekerasan memukul seseorang”
Klien mengatakan sering merasa marah tanpa sebab dan mudah tersinggung

DO : klien tampak antusias bercerita


Nada suara tinggi
Pembicaraan klien kasar jika dia menceritakan marahnya

2. Diagnosis keperawatan: Perilaku kekerasan


3. Tujuan khusus
Setelah melakakukan komunikasi terapeutik, klien mampu:

a) Menyebutkan kegiatan yang sudah dilakukan


b) Memperagakan cara fisik untuk mengontrol perilaku kekerasan
4. Tindakan keperawatan

a) Evaluasi kegiatan yang lalu SP.1


b) Latih cara fisik 2:
a. Pukul kasur/bantal
c) Masukan dalam jadwal harian pasien
B. Strategi Komunikasi Dalam Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
Pertemuan Ke : 4
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik, “Selamat pagi Bu. Perkenalkan nama saya Restu Aprianisa yang
dines dari jam 07.00 pagi sampai jam 14.00 siang
b. Evaluasi / validasi
“Bagaimana kabarnya hari ini ? kalau boleh tahu, sudah berapa lama di sini ?
Apakah Ibu masih ingat siapa yang membawa kesini ? bagaimana perasaan saat
ini? Saya lihat ibu sering tampak marah dan kesal, sekarang masih merasa kesal
atau marah ?”
c. Kontrak :
Topik “Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang hal-hal yang membuat
Ibu marah dan bagaimana cara mengontrolnya?”
Waktu “Berapa lama ibu mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 10 menit
saja?”
Tempat “Ibu mau ngobrolnya disini atau ke tempat lain bu?”
2. Fase kerja (langkah-langkah tindakan keperawatan)
“Nah, sekarang coba ceritakan, Apa yang membuat Ibu merasa tersinggung atau marah? ”
Apakah sebelumnya Ibu pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang
sekarang?”
“Lalu saat sedang marah apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan? ”
“Apakah dengan cara itu marah/kesal Ibu dapat terselesaikan?” Ya tentu tidak, apa
kerugian yang Ibu alami?”
“Menurut Ibu adakah cara lain yang lebih baik? Maukah Ibu belajar cara mengungkapkan
kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”
”Jadi, ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan. Salah satunya adalah dengan cara
fisik. Jadi melalui kegiatan fisik, rasa marah dapat tersalurkan.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar 1 cara dulu? Namanya teknik napas
dalam”
”Begini Bu, kalau tanda-tanda marah tadi sudah dirasakan, maka Ibu berdiri atau duduk
dengan rileks, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahan –
lahan melalui mulut”
“Ayo Bu coba lakukan apa yang saya praktikan tadi. Bagus..lakukan 3-5kali. “
“Bagus sekali, Ibu sudah bisa melakukannya”
“Ibu tadi telah melakukan latihan teknik relaksasi nafas dalam, sebaiknya latihan
ini dilakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul Ibu sudah
terbiasa melakukannya”

3. Fase terminasi
a. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan
Evaluasi klien (subjektif) : “Bagaiman perasaan ibu setelah kita ngobrol?”
Evaluasi perawat (objektif setelah reinforcement) : “Coba sebutkan lagi apa yang
membuat Ibu marah, lalu apa yang dirasakan dan apa yang akan Ibu lakukan untuk
meredakan rasa marah. Coba ibu tunjukkan ke saya cara mengontrol marah dengan
teknik napas dalam yang kita praktekkan tadi? ”
b. Rencana tindak lanjut :