Anda di halaman 1dari 6

TUGAS KELOMPOK

SEMINAR KEUANGAN

oleh:

Clara Nathania (01011170188)

Nathaniel Richard Suandi (01011170235)

Sonia Gunawan (01011170068)

Viladelva Vio Vieresta Saras Manu (01011170434)

JURUSAN MANAJEMEN

UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

KARAWACI

2020
1. Introduction

The theory of capital structure telah dikuasai oleh pencarian capital structure yang
optimal yang membutuhkan tradeoff. Contohnya , antara keuntungan pajak dari uang pinjaman
dengan biaya financial distress. Ketika perusahaan meminjam terlalu banyak , perusahaan
tersebut akan memaksimalkan nilai yang sama dengan manfaat biaya pada margin dan dapat
beroperasi di bagian atas kurva. Di dalam kurva tersebut akan menunjukan debt ratio yang
relatif tinggi supaya perusahaan tersebut aman dan menguntungkan banyak pajak yang bisa
melindungi dan asset yang nilainya akan terhindar dari financial distress. Static tradeoff theory
dapat diasumsikan sebagai hipotesis empiris yang dapat diprediksikan actual return debt ratio
terhadap target yang optimal dan dapat memprediksi hubungan antara cross sectional dengan
average debt ratio , asset risk , profitability , tax status and asset type. Di sisi lain terdapat
hipotesis time series yang berdasarkan pecking order theory dan teori tersebut memiliki lebih
banyak varian time series dalam debt ratio daripada target adjustment model berdasarkan
static tradoff theory. Selain itu , pecking order theory menunjukan bahwa hipotesis dapat
ditolak jika actual financing mengikuti spesifikasi target adjustment. Di dalam pecking order
theory tidak ada optimal debt ratio yang optimal dan daya tarik interest tax shield dan threat
of financial distress dianggap sebagai sekunder. Debt ratio dapat berubah jika terjadi
ketidakseimbangan arus kas internal , net dividen dan peluang investasi.

2. Two Simple Models


2.1. The Pecking Order
The pecking order model mengatakan bahwa ketika arus kas internal tidak cukup untuk
melakukan investasi riil dan komitmen dividen, maka perusahaan akan menerbitkan hutang.
Ekuitas diterbitkan jika terdapat kemungkinan perusahaan hanya mampu menerbitkan junk
debt dan memikiki kesulitan dalam pembiayaan finansial yang tinggi. Maka variable yang
digunakan adalah:
Dengan semua variable di atas yang di ukur dengan akhir periode t , maka kita bisa
mengukur defisit aliran dana dengan :

Dalam Strict Pecking Order Model, semua komponen defisit bersifat eksogen selama
hutang aman bisa dikeluarkan. Tidak ada insentif untuk bergerak ke bawah The Pecking Oder
dan menerbitkan stok. Hipotesis pecking order yang akan diuji adalah:

2.2. Asymmetric Information And The Pecking Order


The Pecking Order merupakan salah satu implikasi analisis dari Myres-Majluf (1984)
tentang bagaimana asymmetric information dapat memengaruhi keputusan investasi dan
finansial. Maka dari itu , analysis dari Myres-Majluf (1984) memiliki 2 hasil , yang pertama ,
jika biaya kesulitan keuangan diabaikan , maka perusahaan akan meningkatkan investasi nyata
dengan menerbitkan sekuritas yang tidak terpengaruh oleh informasi internal. Lalu yang kedua
, jika mengalami kesulitan dalam biaya keuangan , perusahaan akan mempertimbangkan untuk
menerbitkan ekuitas untuk membiayai investasi atau membayar hutang.
2.3. A Target Adjustment Model
The Target Adjustment Model menyatakan bahwa perubahan di dalam rasio hutang
terjadi dikarenakan adanya penyimpangan dari target current ratio. Di sisi lain Target
Adjustment Model dapat memprediksi perubahan rasio hutang yang bergantung pada jumlah
bersih dari hutang yang dikeluarkan Maka dari itu spesifikasi regresi adalah :

D*it = tingkat target hutang untuk perusahaan i pada waktu t


bTA = koefisien yang menyesuaikan target sebagai sampel konstanta yang lebar
Hipotesis yang di uji adalah bTA > 0 , dengan melakukan penyesuaian terhadap target , tetapi
bTA < 1 menyatakan secara tidak lansung bahwa biaya penyesuaian itu positif.
3. Basic tests

3.1 Sample and data


Berawal dari semua perusahaan yang memiliki file Industrial Compustat. Perusahaan
akan dimasukkan kedalam sampel akhir jika mereka tidak memiliki kesenjangan dalam data
tentang aliran dana dan variabel neraca yang relevan yang didalamnya terdapat 157 perusahaan
yang digunakan dan adanya probabilitas terjadinya bias terhadap perusahaan besar yang tidak
dapat mempengaruhi hasil dari pecking order, karena pecking order dapat memprediksi semua
financing behavior kecuali debt ratio tertinggi atau terendah. Tetapi pilihan debt ratio buku
tidak sangat penting, karena kami juga menggunakan masalah utang bersih atau kotor sebagai
variabel dependen. Dan periode sampel dimulai dari tahun 1971 sampai 1989.
3.2 Results
Basic target-adjustment model menjelaskan cara untuk merubah rasio dan koefisiennya
yang cukup masuk akal dan secara statistik cukup signifikan. Selama beberapa tahun , regresi
pecking order mengaitkan masalah utang atau pensiun dengan kontempor-defisit, termasuk
arus kas masuk atau keluar yang mungkin pertengahan atau akhir tahun. Namun, urutan model
simple pecking order memiliki kekuatan penjelas yang lebih baik. Juga dijalankan uji coba
dengan menggunakan defisit, masalah utang, dan perubahan rasio hutang yang
diakumulasikan.

3.3 Anticipated vs Actual Deficits


Apakah pecking order specification berkaitan dengan short term adjustment daripada
planned financing? Hal tersebut harus dipertimbangkan dahulu dengan catatan the pecking
order regression yang mengaitkan masalah utang atau pensiun dengan orang kontemporer.
Defisit termasuk arus masuk atau keluar kas yang mungkin bisa terjadi di pertengahan tahun
ataupun di akhir tahun. Oleh karena itu persamaan ini dibuat :

dimana Et-1 [DEFt] adalah defisit yang diharapkan pada akhir tahun dan Zt adalah arus masuk
atau dana keluar yang tak terduga. Zt mungkin merupakan prediktor yang baik untuk utang jika
sulit untuk menerbitkan pensiun ekuitas dalam waktu singkat. Ini merupakan hal yang sama
dengan pecking order — information asymmetric memberikan satu alasan bagus mengapa
ekuitas tidak dikeluarkan dalam waktu singkat - tetapi teori itu lebih meyakinkan jika
perusahaan juga berencana untuk menutupi defisit dengan menerbitkan utang. Penggunaan
instrumen diasumsikan bahwa komponen yang lain seperti modal dan dividen, direncanakan
oleh manajemen pada akhir tahun. Penggunaan tersebut diharapkan adanya korelasi serial yang
cukup dalam defisit masing - masing perusahaan.
4. Power

Ketika target adjustment model dan the pecking order model diuji secara independen
dengan zero null. Kedua tersebut menjelaskan adanya variasi dalam rasio hutang , akan tetapi
the pecking order model tidak mengalami kekurangan kekuatan dan ditolak jika salah.

4.1. Method

Dimulai dengan pengeluran investasi dan hasil dari operasional sampel perusahaan.
Lalu menghasilkan waktu hipotesis dalam serangkaian masalah hutang atau pensiun dan
menjadi dalam 1 seri yang masing-masing terdiri dari 157 sampel perusahaan menggunakan
target adjustment model atau the pecking order model. Untuk masing-masing model memiliki
157 simulasi sejarah pembiayaan hutang selama 19 tahun. Jika financing model diasumsikan
benar , maka masalah hutang dan pensiun memiliki sebuah tren , varian , korelasi dan pola
waktu yang sama dengan yang diawasi untuk perusahaan actual dengan hipotesis financing.
Pada akhirnya dengan hasil yang ada , menunjukan bahwa spesifikasi the pecking order model
ditolak dengan benar di semua kasus dimana aturan pembiayaan alternative disimulasikan.

4.2. Generating The Financing Time Series

Semua Book Debt Ratio perusahaan berawal dari tahun 1971 yang dihasilkan dari dana
yang mengalami deficit dengan menggunakan data actual “Operating Cash Flow” , Real
Investment , dividen dan lain-lain. Perusahaan diasumsikan menerbitkan hutang jika deficit
tersebut positif dan retire debt itu negative. Rasio Hutang yang diprediksikan untuk akhir tahun
dapat dilakukan dengan cara yang sama. Proses ini dilanjutkan dari tahun 1971 – 1989. Target
hutang rasio tidak mungkin tetap konstan selama 19 tahun. Jika itupun terjadi rasio hutang
tidak bisa diukur dengan tepat. Dalam hal ini setiap target perusahaan dihitung dari
karakteristiknya dengan menggunakan cross-sectional.

Model static tradeoff menyatakan bahwa rasio hutang optimal merupakan fungsi dari
resiko , jenis asset , status pajak dan profitabilitas dengan persamaan ini , untuk menghitung
perubahan target perusahaan

4.3 The Fitted Model

Panel A menunjukan hasil untuk spesifikasi The Pecking Order , yang sesuai dengan
data actual tetapi tidak memiliki kekuatan signifikasi atau penjelas untuk disimulasikan data
berdasarkan Target Adjustment Spesification. Dengan hasil penyesuaian terhadap The Pecking
Order dan Target Adjustment Model untuk data actual yang di simulasikan 157 perusahaan dari
1971 – 1989. Dengan persamaan :
Panel B menunjukan hasil penyesuaian The Target Adjustment Spesification , dengan
berasumsi target yang konstan terhadap rasio hutang untuk setiap sampel perusahaan. Dengan
menggunakan persamaan :

Panel C memperkirakan dengan menggunakan 2 model yang digabungkan


menggunakan rasio hutang dan disimulkan dengan asumsi The Pecking Order dan penyesuaian
Target Adjustment dengan Fixed Target. Maka dari itu Panel C menyatukan 2 spesifikasi

4.4 A Comment On Cross Sectional Tests

The cross sectional model bisa dimasukan ke data actual dan untuk pembiayaan setiap
sejarah perusahaan. Dapat disimulasikan menggunakan The Pecking Order , jika tes Cross
Sectional memiliki kekuatan maka model tersebut gagal saat dijalankan ketika di simulasikan
tetapi jika tidak gagal , tes pada data actual tidak memiliki kekuatan untuk menolak. Poin
pentingnya adalah periksa kekuatan sebelum menarik kesimpulan. Perusahaan bisa mengikuti
A Pure Pecking Order yang tidak didorong sama sekali oleh pertimbangan konvensional
tradeoff. Akan tetapi Cross Sectional Tests menggunakan proxy yang masuk akal , setidaknya
ada sebagian penerimaan teori tradeoff dari struktul modal. Hal tersebut menggarisbawahi tema
dari teori tradisional struktur modal yang diuji terhadap zero null yang bukan bukti persuasive

5. Conclusion
Dengan demikian , dapat di simpulkan bahwa :

1. The Pecking Order merupakan yang paling baik dari perilaku pembiayaan perusahaan ,
setidaknya untuk sampel perusahaan.
2. The simple target adjustment model , ketika di uji secara independen hasilnya memiliki
kinerja yang baik.
3. ketika dua model diuji secara bersamaan , koefisien dan signifikasi dari rangka The Pecking
Order Model hasilnya tidak berubah dan kinerja Target Adjustment Model mengalami
penurunan , walaupun koefisien masih tampak signifikan secara statistik.
4. The Pecking Order memiliki kinerja yang kuat akan tetapi hal itu tidak terjadi hanya karena
dana perusahaan akan kebutuhan uang tunai yang tidak terduga dengan hutang dalam waktu
jangka pendek tetapi perusahaan harus mempunyai rencana untuk membiayai defisit yang di
antisipasi dengan hutang.
5. The Target Adjustment Models menunjukan bahwa tidak ditolak walaupun salah , tetapi The
Pecking Order ketika salah dapat ditolak. Secara keseluruhan menunjukan The Pecking Order
lebih memiliki power yang lebih besar dibandingkan Target Adjustment Model.