Anda di halaman 1dari 33

PROYEK KAT 3 - WDK 3

1. MENONIT
a) Tokoh Sentral
Ulrich Zwingli, seorang imam Gereja Katolik Roma, yang mencanangkan
reformasi di Swiss serta cikal bakal ajaran Menonit. Ia lahir pada 1 Januari 1484 di
Wildhaus, berasal dari keluarga petani, dan merupakan anak ketiga dari Sembilan
bersaudara. Tahun 1518, Zwingli menjadi pendeta di Zurich dan mulai menyampaikan
khotbah yang berisikan imbauan reformasi. Berbeda dari Luther, Zwingli sangat
dipengaruhi oleh Humanisme dari Erasmus dank arena itu memberi tempat yang penting
bagi akal-budi dalam memahami ajaran gereja. Saat berada di kota Glarus, ia banyak
terlibat dalam dunia politik dan berpihak dengan setia kepada Roma Katolik. Turning point
dialami oleh Zwingli saat ia melihat immoralitas yang dilakukan oleh para tentara,
sehingga ia memustukan untuk mengundurkan diri dari dunia politik serta memfokuskan
dirinya dalam aktivitas gerejawi. Zwingli sangat disenangi oleh banyak orang dan memiliki
teman-teman serta murid-murid yang setia. Bukan hanya dikenal sebagai Bapak Reformasi
Gereja yang pendiam dan tegang, Zwingli dikenal sebagai seorang yang memiliki sense of
humor yang luar biasa serta kemampuan dogeng yang menggairahkan. Ia mempunyai
hasrat untuk membantu orang-orang miskin, yang oleh dirinya dipercayai harus
diperhatikan oleh komunitas Kristen yang sejati.
Ulrich Menno Simons, tokoh kegerakan Anabaptis di Belanda, yang menganut
garis moderat dan anti-kekerasan. Sebelumnya ia adalah imam di Gereja Katolik Roma,
yang meninggalkan jabatan tersebut karena banyak ajaran dan praktik Gereja Katolik
Roma tidak sesuai dengan Alkitab. Menno Simons pada mulanya banyak dipengaruhi oleh
pandangan Luther dan kawan-kawan, tetapi kemudian meninggalkan pandangan tersebut
karena mereka membela baptisan anak –yang menurut Menno Simons- tidak alkitabiah.
Pada tanggal 30 Januari 1536, Menno Simons secara terbuka menyatakan meninggalkan
jabatan imam Katolik dan beralih pada kaum Anabaptis. Kendati demikian, ia bukan yang
menganut garis keras, melainkan cinta damai dan menolak kekerasan. Pada tahun 1537 ia
ditahbiskan menjadi pendeta Anabaptis dan segera diangkat menjadi pemimpin kaum
Anabaptis di Belanda. Selama 25 tahun, Menno Simons menulis banyak buku serta traktat
dan terus mendalami Alkitab sampai akhir. hidupnya.
b) Sejarah
Gereja Menonit dimulai di Swiss tahun 1525, merupakan bagian dari gerakan
Anabaptis yang muncul di daratan Eropa tidak lama sesudah Martin Luther mencanangkan
Reformasi. Nama Menonit berasal dari nama Menno Simons, tokoh gerakan Anabaptis di
Belanda. Ajaran ini sebenarnya dimulai oleh Ulrich Zwingli, yang menyatakan tuntutan
pembaruan secara radikal dalam gereja. Uskup dan imam-imam Gereja Katolik Roma di
kota itu tidak mendukung tuntutan tuntutan tersebut, sehingga Zwingli kemudian berhenti
sebagai imam seraya menolak wewenang gereja atas dirinya. Pemerintah kota Zurich
segera mengangkatnya kembali ke posisi semula, tetapi tidak lagi dibawah wewenang
hierarki Gereja Katolik Roma, melainkan langsung di bawah pemerintah. Pihak Katolik
Roma berusaha memprotes tindakan pemerintah tersebut, tetapi tidak dihiraukan. Dalam
waktu singkat, pemerintah kemudian melihat bahwa gerakan reformasi itu perlu
dikendalikan karena tuntutan yang mengandung konsekuensi politis yang besar.
Pada Desember 1523, pemerintah kota kemudian menolak untuk memberi
dukungan sehingga Zwingli terpaksa menandatangani beberapa kesepakatan yang
menggiring gerakan Reformasi berada di tangan pemerintah. Jemaat reformatis menjadi
tidak puas karena melihat adanya indikasi ke arah status gereja-negara, sehingga dibawah
pimpinan Conrad Grebel, mereka menggugat hal tersebut. Kelompok ini mengajukan dua
pokok pikiran, yaitu membentuk Partai Reformasi sebagai partai politik baru, serta ketidak
sahan baptisan anak karena tidak memungkinkan calon baptis untuk merespons secara
pribadi atas pengampunan dosa. Ternyata gagasan itu tidak didukung oleh Zwingli, karena
ia membela baptisan anak atas dasar bahwa baptisan merupakan tanda perjanjian dan
perjanjian itu meliputi seluruh keluarga sehingga bukan hanya terbatas kepada si terbaptis.
Akibat sanggahan Zwingli terhadap pengajuan itu, Grebel dan kawan-kawan kemudian
menulis surat kepada tokoh-tokoh Reformasi, seperti Martin Luther, Andreas Carlstadt,
dan Thomas Munzer, dengan harapan bahwa mereka akan memberi dukungan.
Sayangnya surat-surat itu tidak berjawab sehingga Grebel dan kawan-kawan
memutuskan untuk maju terus, kendati mereka mulai menghadapi hambatan dan aniaya
karena dianggap sebagai penyesatan. Pada tanggal 21 Januari 1525, kelompok kecil
tersebut berkumpul mengadakan penelaahan Alkitab, hingga tiba-tiba seorang pesertanya,
Georg Cajacob (George Blaurock), meminta Grebel untuk melayankan baptisan yang
benar dan sesuai dengan amanat Alkitab. Grebel akhirnya memenuhi permintaan tersebut,
serta melayankan baptisan atas orang-orang lain dalam kumpulan itu yang juga
memintanya. Peristiwa ini dipahami oleh kalangan Menonit sebagai hari lahirnya
Anabaptisme, bahkan lahirnya Reformasi sejati. Peristiwa itu membuat pemerintah dan
gerakan resmi di Zurich untuk semakin memperkeras hambatan atas kelompok tersebut.
Paham Anabaptis tiba di Belanda merupakan kiprah utama Melchior Hoffman.
Hoffman sendiri semula adalah seorang pengkhotbah dan penginjil Lutheran yang
kemudian beralih menjadi pengikut Zwingli, lalu sejak 1530 beralih menjadi Anabaptis.
Jan Matthijs, seorang tukang roti dari Haarlem yang terpengaruh oleh ajaran dan nubuat
Hoffman, kemudian mengklaim diri sebagai pemimpin Anabaptis di Amsterdam. Ia
bersama kelompoknya memaksa masyarakat bertobat serta dibaptis dibawah ancaman
senjata. Uskup kota itu, dengan dukungan para pangeran setempat, mengerahkan tentara
dan mematahkan kekuatan gerakan itu. Matthijs tewas, dan kepemimpinan beralih kepada
Jan van Leiden yang ternyata lebih gila lagi. Ia mengklaim dirinya sebagai Raja Daud dan
memerintah dengan tangan besi sambil membenarkan poligami.
Untungnya ada seseorang diantara mereka yang menolak kekerasan dan nubutana
itu, yaitu Menno Simons. Dalam masa kepemimpinan Simons, kaum Anabaptis di Belanda
banyak menghadapi pergumulan dan tekanan oleh Katolik Roma ataupun Protestan sbeagai
penganut ajaran sesat. Sejak akhir abad ke-17, kaum Menonit dari Belanda bersama kaum
Anabaptis lainnya masuk ke kawasan Amerika Serikat, Canada, amupun Amerika Latin.
Dalam waktu sekitar dua setengah abad, jumlah mereka mencapai ratusan ribu orang.

c) Ajaran
Pokok-pokok ajaran Menonit tertuang dalam beberapa Pengakuan Iman
Anabaptis/Menonit, tetapi ajarab dibawah ini berdasarkan pada Confession of faith in a
Mennonite Perspective (2003).
 Allah
Kami percaya bahwa Allah itu ada dan berkenan terhadap semua orang yang
mendekati-Nya melalui iman. Kami menyembah Allah yang satu, suci dan penuh
kasih yang adalah Bapa, Putra dan Roh Kudus yang kekal. Allah telah menciptakan
segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan, telah membawa keselamatan dan
kehidupan baru bagi umat manusia melalui Yesus Kristus, dan terus menghidupi
gereja dan segala sesuatu sampai akhir zaman.
 Yesus Kristus
Kami percaya akan Yesus Kristus, Firman Allah yang menjadikan manusia. Ia
adalah Juru Selamat dunia, yang telah membebaskan kita dari kuasa dosa dan
mendamaikan kita dengan Allah melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Ia
dinyatakan sebagai Anak Allah melalui kebangkitan-Nya dari antara orang mati. Ia
adalah Kepala Gereja, Tuhan yang ditinggikan, Anak Domba yang telah dibunuh,
yang datang kembali untuk memerintah bersama Allah dalam kemuliaan. ”Karena
tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah
diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1 Kor 3:11)
 Roh Kudus
Kami percaya akan Roh Kudus, Roh Allah yang kekal, yang ada dalam Yesus
Kristus, yang memberi kuasa kepadai gereja, yang sebagai sumber hidup kita dalam
Kristus, dan yang dicurahkan atas mereka yang percaya sebagai jaminan
keselamatannya dan keselamatan ciptaan.
 Alkitab
Kami percaya bahwa seluruh Alkitab, Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru adalah dari Allah. Alkitab itu terinspirasi oleh Roh Kudus untuk menuntun
kami kepada keselamatan dan mendidik terhadap kebenaran. Kami menerima Kitab
Suci sebagai Firman Allah dan sebagai ukuran yang benar-benar dapat diandalkan
dan dipercaya bagi iman dan kehidupan Kristen, yang dipimpin oleh Roh Kudus
dalam gereja, kami menafsirkan Alkitab sesuai dengan sabda dan karya Yesus
Kristus.
 Ciptaan dan Pemeliharaan-Nya
Kami percaya bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi dan segala sesuatu
yang ada di dalamnya, dan bahwa Allah memelihara dan memperbaharui apa yang
sudah Ia ciptakan. Seluruh ciptaan bersumber di luar dirinya sendiri dan menjadi
milik Sang Pencipta. Dunia telah diciptakan baik, karena Allah itu baik dan
menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan bagi kehidupan.
 Panggilan Manusia sebagai Ciptaan dan Gambar Khalik-Nya
Kami percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia menurut gambarNya. Allah
membentuk mereka dari debu tanah dan memberikan suatu martabat yang khusus
di antara semua karya ciptaan. Manusia telah diciptakan untuk menjalin hubungan
dengan Allah untuk hidup bersama dalam damai, dan untuk memelihara ciptaan
lainnya.
 Dosa
Kami mengakui bahwa manusia dari permulaan tidak patuh kepada Allah, bahwa
dia menyambut penggoda dan olehnya menjadi berdosa. Karena dosa manusia tidak
dapat memenuhi Pencipta, merusak gambar Allah di mana mereka sudah
diciptakan, mengacaukan tatanan dalam dunia dan membatasi kasih mereka
terhadap orang lain. Oleh karena dosa umat manusia telah diserahkan pada kuasa-
kuasa yang membelenggu dari iblis dan maut.
 Keselamatan
Kami percaya bahwa melalui Yesus Kristus, Allah menyediakan keselamatan dari
dosa dan jalan hidup yang baru. Kami menerima keselamatan Allah bila kami
menyesal dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Di dalam
Kristus, kami diperdamaikan dengan Allah dan dibawa ke dalam persekutuan yang
telah diperdamaikan. Kami percaya kepada Allah bahwa dengan kuasa yang sama
telah membangkitkan Kristus dari orang mati, kami diperkenankan diselamatkan
dari dosa untuk mengikuti Kristus dan mengenal keselamatan yang sepenuh-
penuhnya.
 Gereja adalah Milik Yesus Kristus
Kami percaya bahwa gereja adalah persekutuan dari orang-orang yang telah
menerima undangan keselamatan Allah melalui iman dalam Yesus Kristus. Gereja
ialah komunitas baru yang terdiri dari para murid yang diutus ke dalam dunia untuk
memberitakan pemerintahan Allah dan memberikan cicipan dari pada harapan
gereja yang mulia. Itulah masyarakat yang dibangun dan ditopang oleh Roh Kudus.
 Pengutusan untuk Memberitakan Injil
Kami percaya bahwa misi gereja adalah untuk memberitakan dan menjadi suatu
tanda bagi pemerintahan Allah. Kristus telah mengutus gereja untuk menjadikan
semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka dan mengajar mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Ia perintahkan.
 Baptisan
Kami percaya bahwa baptisan orang percaya dengan air adalah suatu tanda
pembersihan mereka dari dosa. Baptisan juga merupakan suatu janji dihadapan
gereja atas janji mereka dengan Allah untuk berjalan dalam jalan Yesus Kristus
melalui kuasa Roh Kudus. Orang-orang percaya dibaptis dalam Kristus dan tubuh-
Nya oleh Roh, air dan darah.
 Perjamuan Tuhan
Kami percaya bahwa Perjamuan Tuhan merupakan suatu tanda di mana gereja
dengan rasa ucapan syukur mengingat perjanjian (covenant) baru yang Yesus
tetapkan melalui kematian-Nya. Dalam perjamuan persekutuan ini, gereja
memperbaharui perjanjiannya dengan Allah dan dengan masing-masing orang dan
ikut serta dalam kematian dan kehidupan Yesus Kristus, sampai Ia datang.
 Pembasuhan Kaki
Kami percaya bahwa dalam membasuh kaki para murid-Nya Yesus meminta kami
untuk melayani satu sama lain dalam kasih seperti yang sudah Ia lakukan. Dengan
demikian, kami mengakui bahwa kami semua membutuhkan pembersihan, dan
kami memperbaharui kerinduan kami untuk melepaskan keangkuhan dan kuasa
duniawi dan memberikan kehidupan kami melalui pelayanan rendah hati dan kasih
yang berkorban.
 Disiplin Gereja
Kami menerapkan disiplin gereja sebagai suatu tanda bahwa Allah menawarkan
ampunanNya dan kasih karuniaNya yang memperbarui. Disiplin gereja
dimaksudkan untuk membebaskan saudara-saudara seiman yang sesat dari dosa,
dan memulihkan mereka pada hubungan yang benar dengan Allah dan persekutuan
dalam gereja. Pelaksanaan disiplin memberikan integritas pada kesaksian gereja
dalam dunia.
 Pelayanan dan Kepemimpinan
Kami percaya bahwa pelayanan adalah kelanjutan dari karya Kristus, yang
memberikan karunia-karunia melalui Roh Kudus kepada semua orang percaya dan
memberikan kuasa kepada mereka untuk pelayanan dalam gereja dan dalam dunia.
Kami juga percaya bahwa Allah memanggil orang-orang secara khusus dalam
gereja untuk pelayanan-pelayanan dan jabatan-jabatan kepemimpinan yang khusus.
Semua orang yang melayani bertanggung jawab pada Allah dan kepada
persekutuan jemaat atas cara mereka melayani.
 Kesatuan Tubuh Kristus
Kami percaya bahwa gereja Yesus Kristus adalah satu tubuh dengan banyak
anggota, diatur sedemikian rupa supaya melalui satu Roh. Orang-orang percaya
dibentuk secara rohani menjadi tempat kediaman bagi Allah.
 Panggilan dalam Penderitaan bersama Kristus
Kami percaya bahwa Yesus Kristus memanggil kita untuk hidup sebagai murid,
untuk memikul salib kami dan mengikuti-Nya. Melalui karunia anugerah Allah
yang menyelamatkan, kami diberi kuasa untuk menjadi murid-murid Kristus,
dipenuhi dengan Roh-Nya, mengikuti ajaran-Nya dan janji-Nya, maka kami
dibentuk sesuai dengan Kristus dan terpisah dari kejahatan di dunia.
 Kedewasaan Iman sebagai Orang Percaya
Kami percaya bahwa menjadi seorang murid Yesus adalah mengenal kehidupan
dalam Roh. Bila kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus menjadi
tampak dalam diri kami, maka kami bertumbuh menurut gambar Kristus dan dalam
hubungan kami dengan Allah. Di dalam doa pribadi dan persekutuan Roh Kudus
hadir dan bekerja, dan Dia membawa kami ke dalam pengalaman bersama Allah
yang makin mendalam.
 Menjaga Kesetiaan dan Kesucian Hidup dalam Keluarga
Kami percaya bahwa Allah bermaksud agar kehidupan manusia dimulai dalam
keluarga dan diberkati melalui keluarga. Bahkan lebih dari itu, Allah menghendaki
semua orang menjadi bagian dari gereja, keluarga Allah. Jika anggota-anggota
keluarga Allah, baik yang menikah maupun belum/tidak menikah, memberi dan
menerima pembinaan dan penyembuhan, maka keluarga dapat bertumbuh dalam
keutuhan seperti yang Allah maksudkan. Kami dipanggil untuk memelihara
kesucian, kesetiaan dan cinta kasih dalam perkawinan.
 Berkata Jujur dan Tidak Bersumpah
Kami mengikat diri kami sendiri untuk mengatakan yang sebenarnya untuk
memberikan jawaban ya atau tidak yang sesungguhnya, dan menghindari sumpah.
 Penatalayanan Gereja
Kami percaya bahwa segala sesuatu itu milik Allah, yang memanggil gereja untuk
hidup dalam penatalayanan yang setia terhadap semua yang telah Allah percayakan
kepada kami dan saat ini menikmati perhentian dan keadilan yang telah Allah
janjikan.
 Hidup dalam Perdamaian, Keadilan, dan Pantang Kekerasan
Kami percaya bahwa perdamaian adalah kehendak Allah. Allah menciptakan dunia
dalam perdamaian, dan perdamaian Allah itu sungguh-sungguh dinyatakan dalam
Yesus Kristus, yang merupakan perdamaian kami dan perdamaian-perdamaian bagi
seluruh dunia. Dipimpin oleh Roh Kudus, kami ikut Kristus melalui jalan
perdamaian, melakukan keadilan, memperdamaikan mereka yang berselisih, dan
mempraktekkan pantang kekerasan bahkan dalam menghadapi kekerasan dan
peperangan.
 Hubungan antara Jemaat, Pemerintah, dan Masyarakat
Kami percaya bahwa gereja adalah umat Allah yang suci, dipanggil untuk
memberikan kesetiaan yang penuh kepada Kristus Kepala Gereja dan bersaksi
kepada setiap bangsa, pemerintahan, dan masyarakat tentang kasih Allah yang
menyelamatkan.
 Akhir Zaman dan Pengharapan Pemerintahan Allah yang Baru
Kami menaruh harapan kami dalam pemerintahn Allah dan kepenuhannya pada
waktu Kristus akan datang kembali dalam kemuliaan untuk menghakimi orang
hidup dan orang mati. Ia akan mengumpulkan gereja-Nya yang sudah hidup di
bawah pemerintahan Allah. Kami menunggu kemenangan Allah yang terakhir,
akhir dari masa perjuangan dewasa ini, kebangkitan orang mati, dan langit dan
bumi baru. Di sana umat Allah akan memerintah bersama Kristus dalam keadilan,
kebenaran dan damai untuk selamanya.
d) Organisasi
Mennonite World Conference (MWC) merupakan perwakilan mayoritas keluarga
global gereja-gereja Kristen yang berakar pada Reformasi Radikal abad ke-16 di Eropa,
khususnya dalam gerakan Anabaptis. Keanggotaan MWC pada tahun 2018 mencakup satu
asosiasi international dan 107 gereja nasional Menonit dan Brethren in Christ dari 58
negara, dengan sekitar 1,47 juta orang percaya yang dibaptis di hampir 10.000 sidang.
Sekitar 81% dari orang percaya yang dibaptis di gereja-gereja anggota MWC adalah
Afrika, Asia, atau Amerika Latin, dan 19% berlokasi di Eropa dan Amerika Utara.

Visi
Mennonite World Conference dipanggil untuk menjadi persekutuan (Koinonia) dari gereja-gereja
yang berhubungan dengan Anabaptis, yang terhubung satu sama lain dalam komunitas iman
sedunia untuk persekutuan, ibadah, pelayanan, dan kesaksian.
Misi
Mennonite World Conference hadir untuk (1) menjadi komunitas iman global dalam tradisi
Anabaptis, (2) memfasilitasi hubungan antara gereja-gereja yang berhubungan dengan Anabaptis
di seluruh dunia, dan (3) berhubungan dengan persekutuan dan organisasi dunia Kristen lainnya.

Gereja dan konferensi anggota MWC masing-masing mengirim satu hingga tiga
delegasi (berdasarkan populasi gereja atau konferensi) ke pertemuan Dewan Umum.
Kelompok pemimpin gereja ini bertemu setiap tiga tahun untuk membentuk mandate
MWC, berbagi keprihatinan dan wawasan, serta beribadah bersama. Komite Eksekutif
dipilih dari Dewan Umum dan bertemu setiap tahun. Dua angggota dari setiap wilayah
continental dipilih dari Dewan, seorang Presiden dan Wakil Presiden juga dipilih oleh
Dewan. Bendahara dan Sekretaris Jenderal juga merupakan anggota Komite Eksekutif.

Officers
Sekretaris Jenderal: César García (Kolombia)
Presiden: J. Nelson Kraybill (Amerika Serikat)
Wakil Presiden: Rebecca Osiro (Kenya)
Bendahara: Sunoko Lin (Amerika Serikat / Indonesia)
Presiden Pilihan: Henk Stenvers (Belanda)
Perwakilan Afrika
Steven Mang'ana (Tanzania)
Samson Omondi (Kenya)

Perwakilan Asia / Pasifik


Paul Phinehas (India),
MZ Ichsanudin (Indonesia)

Perwakilan Karibia, Amerika Tengah dan Selatan


Carlos Martínez García (Mexico)
Juan Silverio Verón Aquino (Paraguay)

Perwakilan Eropa
Alexander Neufeld (Jerman)
Wieteke van der Molen (Belanda)

Perwakilan Amerika Utara


Lisa Carr Pries (Kanada)
Bill Braun (AS)

e) Praktek Ibadah
Seperti Anabaptis, kaum Menonit mempraktikan pembaptisan orang dewasa
terhadap orang percaya yang mampu mengakui iman mereka kepada Kristus. Tindakan itu
bisa dengan cara diselamkan, dipercikkan, ataupun dituangkan air dari kendi. Di beberapa
gereja, persekutuan terdiri dari mencuci kaki serta membagikan roti dan anggur. Komuni
atau Perjamuan Kudus adalah tindakan simbolis yang dilakukan sebagai peringatan
pengorbanan Kristus. Beberapa mempraktikkan Perjamuan Tuhan setiap tiga bulan,
beberapa lagi dua kali setahun. Ciuman Kudus, di pipi, hanya dibagikan di antara anggota
yang berjenis kelamin sama di gereja-gereja konservatif. Mennonit modern biasanya hanya
berjabat tangan. Ibadah ibadat hari Minggu menyerupai yang ada di gereja-gereja
evangelis, dengan menyanyi, pendeta memimpin doa, meminta kesaksian, dan
memberikan khotbah. Banyak gereja Mennonite menampilkan empat bagian bernyanyi
cappella tradisional, walaupun organ, piano, dan alat musik lainnya adalah umum.
Layanan ibadah Mennonite berpusat pada khotbah. Liturgi sederhana, nyaris keras
mengelilingi proklamasi Injil. Nyanyian jemaat adalah empat bagian a cappella. Namun,
pada akhir abad ke-20, ada banyak tanda-tanda percobaan dalam ibadat yang sama dengan
yang ditemukan di denominasi lain, termasuk penggunaan musik organ. Mennonite dan
Amish muncul dari akar yang sama, tetapi Mennonite pada umumnya kurang terikat oleh
aturan kaku mengenai pakaian dan pilihan gaya hidup lainnya. Pakaian Mennonites
konservatif mengenakan pakaian yang sangat polos, seperti halnya rekan-rekan Amish
mereka, tetapi juga diizinkan untuk mengenakan kain dengan cetakan kecil dan pakaian
dengan ritsleting. Kelompok Mennonite yang kurang konservatif mengenakan pakaian
seperti "Inggris" - istilah yang digunakan untuk merujuk pada non-Mennonite - meskipun
pakaian mencolok, terbuka atau pakaian yang terlalu terang masih disukai. Wanita
Mennonite tradisional menjaga rambut mereka diikat ke belakang atau ditutupi oleh topi
doa putih kecil, untuk melambangkan penghormatan dan pentingnya kehidupan spiritual
mereka.
Sementara bernyanyi di gereja adalah bagian dari banyak sistem kepercayaan, itu
biasanya terbatas pada beberapa himne dan respons doa yang akrab. Namun, dalam tradisi
keagamaan Mennonite, seluruh praktik ibadah dilakukan melalui nyanyian. Bernyanyi,
sering dalam harmoni empat bagian oleh seluruh jemaat, digunakan untuk pujian,
penyembahan, berbagi tulisan suci dan doa dan hampir semua aspek lain dari pelayanan
keagamaan. Kelompok Mennonite yang paling konservatif tidak mengizinkan iringan
instrumental, sehingga semua nyanyiannya adalah capella. Kelompok yang kurang ketat
mengizinkan iringan musik dengan piano, organ, gitar atau kuningan.
Di Amerika Utara, gereja-gereja Menonit memiliki gaya ibadah berbeda-beda
tetapi penekanannya adalah pada Allah sebagai “penonton” daripada jemaat sebagai
penonton. Beberapa gereja Menonit mengikuti kalender liturgy, sedangakn yang lainnya
tidak. Ibadah yang dilakukan sangat mirip dengan ibadah injili lainnya, dengan pemimpin
ibadah dan pendeta menyediakan kerangka kerja untuk ibadah. Kebanyakan gereja
Menonit memiliki Sekolah Minggu untuk anak-anak maupun orang dewasa, baik sebelum
atau setelah ibadah pagi. Beberapa kaum Menonit senang menggunakan sebuah buku doa,
yang memuat doa khusus untuk pagi dan sore hari, serta doa untuk waktu ibadah secara
personal maupun bersama-sama.
Bagi kaum Menonit moderat, tidak ada bentuk pakaian khusus dan tidak ada
batasan dalam penggunaan teknologi. Gaya ibadah sangat bervariasi di antara berbagai
jemaat. Tidak ada liturgy formal, dan kebaktian biasanya terdiri dari menyanyi, membaca
tulisan suci, berdoa, dan berkhotbah. Beberapa gereja lebih menyukai hymned an paduan
suara, sedangkan lainnya memanfaatkan music Kristen kontemporer dengan instrument
elektronik. Bagi kaum Menonit Reformed, terdapat pemisahan yang ketat dari semua
bentuk ibadah dan pakaian.

f) Gereja-gereja yang termasuk aliran ini


Di Indonesia, gereja-gereja yang menganut teologi Menonit adalah Gereja Kristen Muria
Indonesia (GKMI) yang kantor Sinodenya berada di Semarang, Gereja Injili di Tanah Jawa
(GITJ) yang kantor pusatnya berada di Pati, serta Jemaat Kristen Indonesia (JKI) yang
kantor pusatnya berada di Salatiga.

2. BAPTIS
a) Tokoh Sentral
William Franklin (Billy) Graham, seorang penginjil dunia serta lambang dan mata
air kebangunan rohani Amerika. Kedekatannya dengan para presiden AS, membuat Billy
seakan-akan adalah bapa rohani mereka. Ia lahir pada 7 November 1918, dan dibesarkan
di sebuah peternakan sapi perah di Charlotte, N.C. Tercatat Billy mengkhotbahkan Injil
kepada orang-orang secara langsung lebih banyak daripada siapapun dalam sejarah; hampir
215 juta orang di lebih dari 185 negara melalui berbagai pertemuan, televisi, video, film,
dan siaran web. Dimulai dengan Perang Salib Los Angeles 1949, Billy memimpin ratusan
ribu orang untuk membuat keputusan pribadi dalam hal hidup bagi Kristus. Pada musim
gugur 1934, saat berusia 15, ia membuat komitmen pribadi kepada Kristus melalui
pelayanan Mordecai Ham, seorang penginjil keliling, yang sedang mengunjungi Charlotte.
Ditahbiskan pada tahun 1939 oleh Gereja Baptis Peniel di Palatka, Florida (sebuah gereja
di Southern Baptist Convention), Billy menerima landasan yang kuat dalam Kitab Suci di
Florida Bible Institute (sekarang Trinity College of Florida). Setelah lulus, ia
menggembalakan The Village Church of Western Springs (now Western Springs Baptist
Church) di Western Springs, Illinois.
Martin Luther King Jr., seorang pejuang keadilan dan persamaan hak bagi kulit
hitam. Ia mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian pada tahun 1964, namun ditembak
mati oleh penentangnya di kota Memphis, tanggal 4 April 1968. Meskipun King baru
berusia 39 tahun pada saat kematiannya, hidupnya sangat luar biasa karena cara hidupnya
yang mengilhami begitu banyak perkembangan intelektual, budaya, dan politik utama pada
abad kedua puluh. King ditahbiskan selama semester terkahirnya di Atlanta’s Morehouse
College, dan saat itu juga ia mengambil langkah pertama menuju aktivisme politik. Selama
tahun terakhirnya, ia bergabung dengan Dewan Intercollegiate, sebuah kelompok diskusi
mahasiswa antar ras yang bertemu setiap bulan di Universitas Emory, Atlanta. Tahun 1954
King memutuskan untuk menerima tawaran untuk menjadi pendeta Gereja Baptis Dexter
Avenue di Montgomery, Alabama. Salah satu aspek kunci dari kepemimpinan King adalah
kemampuannya untuk mendapatkan dukungan dari banyak jenis organisasi, termasuk
serikat pekerja, organisasi perdamaian, organisasi reformasi selatan, dan kelompok agama.

b) Sejarah
Rumpun gereja Baptis cukup rumit, karena di dalamnya terdapat berbagai aliran
atau paham yang ikut mengakibatkan terbentuknya puluhan organisasi gereja juga. Hal ini
diakibatkan oleh tidak sependapatnya para sejarawan di lingkungan gereja ini tentang titik
awal sejarah gereja ini. Menurut kelompok pandangan ketiga, garis sejarah gereja Baptis
yang tidak terputus-putus dari dulu sampai sekarang bermula pada awal abad ke-17.
Mereka mengakui adanya hubungan tertentu antara tokoh-tokoh pendiri gereja Baptis yang
pertama dengan kaum Anabaptis, terutama kaum Mennonit. Cikal bakal gereja ini mengacu
kepada John Smyth. Ia berasal dari kelompok Separatis, salah satu kelompok dalam
lingkungan kaum Puritan di Gereja Inggris (Anglican). Kelompok ini bercita-cita
mengembalikan Gereja Anglican kepada model gereja dalam Perjanjian Baru dan
memurnikan gereja itu dari ajaran serta praktek yang tidak alkitabiah. Oleh karena tindakan
mereka yang menolak keterikatan dan ketundukan gereja terhadap kuasa negara, kelompok
ini ditindas dan dipandang oleh gereja resmi dan pemerintah Inggris sebagai kelompok
sectarian yang berbahaya. Akibatnya John Smyth dan sejumlah rekannya mengungsi ke
Belanda pada akhir tahun 1607, dan menjalin hubungan dengan kaum Mennonit. Sejumlah
rekannya yang dipimpin oleh Thomas Helwys menolak bergabung dengan Smyth, lalu
pulang ke Inggris dan mendirikan jemaat Baptis yang pertama tahun 1612.
Jemaat Baptis pertama di Inggris tersebut bertahan hidup dengan susah-payah,
karena ditindas oleh gereja resmi dengan menggunakan jasa pemerintah. Sampai dasawarsa
1640-an, gereja jemaat dan paham Baptis ini tetap dinilai sebagai sekte radikal, bahkan
sesat, hingga dasawarsa berikutnya mereka bisa berkembang dan mulai mendapat tempat
yang jelas di dalam kehidupan bergereja di Inggris. Sementara itu, dilingkungan kelompok
Independen muncul pula aliran Particular Baptist, yang bependapat bahwa keselamatan
dan penebusan Kristus tidak disediakan Allah bagi semua orang, melainkan bagi orang-
orang yang sudah dipilih sebelum dunia dan manusia diciptakan. Tak lama kemudian,
sekitar dasawarsa 1640-an atau 1650-an muncul pula kelompok Sevent-Day Baptist, yang
tiba pada kesimpulan bahwa pemeliharaan hari Sabat merupakan tuntutan mutlak bagi
kekristenan yang alkitabiah. Ketika 1660 berlangsung restorasi di Inggris (yaitu pemulihan
pemerintahan ke bentuk monarki), gereja Baptis sudah merupakan kekuatan besar sehingga
tidak mudah ditindas lagi.
Di lingkungan Amerika, pada awalnya kaum baptis harus menghadapi banyak
penentangan dari kelompok gereja lain, terutama Presbyterian dan Anglican/Episcopal.
Abad ke-17 rumpun gereja Baptis lambat berkembang, hingga pada abad ke-18 baru terjadi
perkembangan yang cukup mengesankan, antara lain karena kalangan Baptis ikut
menerima suntikan ‘darah segar’ dari gerakan Kebangunan Besar (Great Awakening).
Hingga akhir abad ke-18 keluarga Baptis di Amerika sudah berhasil mendirikan sekitar
750 jemaat dengan sekitar 80.000 anggota, tetapi masih sering dianggap sebagai kelompok
sectarian. Sejak awal abad ke-19, jemaat Baptis di Amerika memberi banyak perhatian
kepada upaya penginjilan di dalam dan di luar negeri. Bahkan gereja Baptis di Inggris telah
terlebih dahulu dengan mendirikan Baptist Missionary Society tahun 1792, seraya
mengutus salah seorang penggagasnya, William Carey, ke India. Memang di kalangan
baptis sempat muncul gerakan ‘anti-pekabaran injil’ yang kemudian menjadi Gereja Baptis
Primitif, yang berpendapat bahwa tidak perlu dilakukan penginjilan kepada orang-orang
kafir, karena adanya predestinasi Allah. Sementara di AS gereja Baptis berkembang pesat
-walaupun sering juga sambil bertikai dan berpecah-, di negeri asalnya Inggris maupun di
negeri-negeri lain gereja Baptis tidak memperlihatkan perkembangan yang spektakuler.

c) Ajaran
Pokok-pokok ajaran yang dipegang haruslah yang diungkapkan dalam Pengakuan
Iman berikut dan apa yang umumnya diterima oleh gereja-gereja Baptis.
 Kitab Suci
Kami percaya bahwa Alkitab, sebagaimana aslinya ditulis, diilhami secara verbal
(II Timotius 3: 16-17) dan produk manusia yang dikendalikan Roh (II Petrus 1: 19-
21), dan oleh karena itu, memiliki kebenaran tanpa kesalahan (Yohanes 17:17).
Kami percaya bahwa enam puluh enam buku dalam Alkitab adalah pusat sejati
persatuan Kristen dan standar tertinggi yang dengannya semua perilaku manusia,
keyakinan, dan pendapat, akan diadili (Yudas 1: 3).
 True Godhead
Kami percaya bahwa hanya ada satu Allah yang hidup dan sejati (Ulangan 6: 4; I
Timotius 2: 5), tak terbatas dalam setiap keunggulan; bahwa dalam kesatuan
Ketuhanan ada tiga pribadi - Bapa, Anak, dan Roh Kudus - namun satu secara
substansi dan setara dalam setiap kesempurnaan ilahi (Yesaya 48:16; Matius
28:19), dan melaksanakan yang berbeda tetapi jabatan yang harmonis dalam karya
besar penciptaan (Kejadian 1: 1) dan penebusan (Yohanes 3:16).
 Bapa: Kami percaya pada Tuhan Bapa, bukan sebagai satu-satunya Tuhan,
tetapi hanya satu perbedaan dari Tuhan yang Sejati. Anak telah secara
sukarela memilih untuk melakukan kehendak Bapa dengan bergantung pada
Roh. Dia adalah Bapa dari ciptaan (Maleakhi 2:10), Israel (Keluaran 4:22),
Yesus Kristus (Yohanes 20:17) (bukan hubungan derivasi atau inferioritas),
dan orang percaya (Roma 8: 15-16) .
 Putra: Kami percaya bahwa Yesus Kristus, anggota kedua dari Trinitas
adalah sama dengan Allah Bapa, dan semua sifat Allah dinyatakan dalam
Dia (Yohanes 1: 1). Ketika kepenuhan waktu telah tiba, Kristus menjadi
menjelma oleh konsepsi adikodrati dan kelahiran perawan (Yesaya 7:14)
dengan tujuan untuk menjadi "pengorbanan untuk dosa". Dengan kematian-
Nya yang berubah-ubah, Dia memungkinkan rekonsiliasi manusia yang
bejat dengan Allah yang kudus dan adil (Ibrani 10:12). Kami lebih lanjut
percaya bahwa Dia secara fisik mati dan bangkit dari kubur. Setelah
menyelesaikan pelayanan pasca-kebangkitan-Nya, Dia naik ke tempat
tinggi di mana Dia saat ini menjadi perantara bagi orang-orang percaya
(Ibrani 7:15), dan kemudian akan kembali untuk orang-orang percaya (I
Tesalonika 4: 15-17) dan mendirikan kerajaan duniawi-Nya ( Lukas 1:33).
 Roh: Kami percaya bahwa Roh Kudus adalah Pribadi Ilahi (Yohanes
16:13), setara dengan Bapa dan Anak dan dari substansi dan sifat yang
sama; bahwa Dia menginsafkan akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (II
Korintus 13:14), menjadi saksi kebenaran (Yohanes 14:16), adalah Agen
dari Kelahiran Baru (Yohanes 3: 6), dan bahwa Dia memeteraikan, bertahan
(I Korintus 12: 7), membimbing, mengajar, bersaksi, menguduskan, dan
membantu orang percaya, mendiami setiap Anak Allah yang sejati (Roma
8: 14-27).
 Malaikat:
Malaikat diciptakan (Kolose 1:16; Mazmur 148: 5), makhluk roh dari berbagai
tingkatan dan keteraturan. kumpulan makhluk abadi ini adalah manusia super
dalam kecerdasan dan kekuatan. Mereka diciptakan suci dan baik (Kejadian 1:31),
tetapi karena dosa banyak yang jatuh dari keadaan suci mereka dan sekarang
dikukuhkan dalam kejahatan (Yesaya 14; Yehezkiel 28). Mereka yang memelihara
integritas mereka adalah utusan Allah (Ibrani 1:14), sedangkan para malaikat yang
jatuh mengeksekusi keinginan Setan dalam menghalangi pekerjaan Allah dan
menindas umat Allah.
Kami percaya pada kepribadian Setan yang berbeda (Matius 4: 1-3), bahwa ia
adalah dewa yang tidak suci pada zaman ini (II Korintus 4: 4), penulis segala kuasa
kegelapan dan dosa, dan ditakdirkan untuk dihakimi oleh keadilan abadi di lautan
api (Wahyu 20:10).

 Penciptaan:
Kami percaya bahwa Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian 1-2), termasuk
semua kehidupan (Kolose 1: 16-17; Yohanes 1: 3), "masing-masing menurut
jenisnya sendiri" (Kejadian 1:24), dengan mengarahkan bertindak, dan bukan
dengan proses evolusi (Mazmur 33: 6).
 Manusia:
Kami percaya bahwa manusia dalam pribadi Adam yang pertama, diciptakan di
Innocence tetapi dengan pelanggaran sukarela jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3),
sehingga menjerumuskan seluruh ras ke dalam penghukuman (Roma 5:12) dan
kerusakan total (Efesus 2: 1) sebagai akibatnya semua manusia dilahirkan sebagai
orang berdosa dan diarahkan oleh kodrat dosa mereka kepada tindakan dosa yang
disengaja. Dengan demikian memiliki pengetahuan tentang dosa mereka dan
manifestasi dari kuasa Allah, tanpa alasan di hadapan Allah (Roma 1: 18-2: 1).
Terlepas dari pekerjaan anugerah Allah, semua orang akan menuju siksaan kekal
(Wahyu 20:15). Allah memampukan beberapa orang untuk menerima terang Injil
Kristus yang mulia, mereka kemudian dialihkan dari kematian ke kehidupan kekal
yang selamanya aman di Surga (Yohanes 10: 28- 29; Roma 8: 29-39).
 Keselamatan:
Kami percaya bahwa satu-satunya jalan keluar dari penghukuman dosa adalah
melalui penebusan yang dilakukan oleh Yesus Kristus, ketika Ia secara sukarela
mengambil tubuh dan sifat manusia, tanpa dosa (Ibrani 4:15), dan dengan kematian-
Nya menjadi penuh dan penebusan perwakilan yang cukup untuk semua dosa (I
Yohanes 2: 2), bahwa penebusan-Nya tidak berarti memberi kita teladan dengan
kematian-Nya sebagai martir, tetapi penggantian sukarela dari diri-Nya sendiri di
tempat orang berdosa, Orang yang mati bagi orang yang tidak benar (Aku Peter
3:18).
Kami percaya bahwa untuk diselamatkan, orang berdosa harus dilahirkan kembali
(Yohanes 3: 3), bahwa kelahiran baru adalah ciptaan baru dalam Kristus Yesus;
bahwa itu seketika; bahwa dalam kelahiran baru yang mati dalam pelanggaran dan
dosa berdiam oleh Roh Kudus dan menerima kehidupan kekal, pemberian Allah
yang cuma-cuma (Yohanes 3:16; Roma 3:24); dan aman selamanya di dalam
Kristus. Ciptaan baru dibawa dengan cara di atas pemahaman kita, semata-mata
oleh kuasa Roh Kudus sehubungan dengan kebenaran ilahi, sehingga dapat
mengamankan kepatuhan kita secara sukarela terhadap Injil; bahwa bukti yang
tepat muncul dalam buah-buah suci pertobatan dan iman dan kebaruan hidup (II
Korintus 5:17; Efesus 2: 8).
 Gereja:
Kami percaya bahwa gereja rohani yang sejati adalah lembaga Perjanjian Baru yang
tidak diketahui oleh para nabi Perjanjian Lama (Matius 16:18); didirikan oleh
Yesus Kristus, yang adalah Kepala satu-satunya (Efesus 1: 22-23); diwahyukan
melalui para Rasul kudus; diberdayakan dan diabadikan oleh Roh Kudus (Kisah
Para Rasul 1: 8); "Tubuh" -nya untuk melayani (I Korintus 12: 13-28); dan
"mempelai" -nya untuk kemuliaan. Itu dimulai dengan Pentakosta, setelah kenaikan
Kristus dan akan disempurnakan pada kedatangan Kristus dalam Pengangkatan (I
Tesalonika 4: 13-18).
Kami percaya bahwa ada dua tata cara gereja: Baptisan dan Perjamuan Tuhan.
Baptisan adalah pencelupan orang percaya dalam air dan secara tepat disebut
"Pembaptisan Orang Percaya" (Kisah Para Rasul 8: 36-39). Itu ditetapkan dalam
cara yang indah dan khidmat iman kita dalam Juruselamat yang disalibkan,
dikuburkan, dan bangkit, dengan efek dari iman itu dalam hidup kita karena itu
menghasilkan kematian bagi dosa dan kebangkitan untuk hidup baru (Roma 6:3-5).
Baptisan adalah prasyarat untuk hak istimewa hubungan gereja (Kisah Para Rasul
2:41). Perjamuan Tuhan adalah peringatan kematian Tuhan kita sampai Ia datang
dan persekutuan kita yang terus-menerus dengan-Nya, harus didahului dengan
baptisan dan selalu memeriksa diri sendiri (I Korintus 11: 23-32).
 Last Things:
Kami percaya pada tubuh (Kisah Para Rasul 1: 4), pribadi (Yohanes 14: 3),
kembalinya Yesus Kristus premillennial (Wahyu 19: 11-20); bahwa Ia akan datang
sebelum masa tujuh tahun kesusahan besar (Wahyu 3:10; I Tesalonika 5: 9) untuk
merebut gereja-Nya, dan bahwa Ia akan datang dengan gerejanya pada penutupan
kesusahan untuk menghakimi bangsa-bangsa yang hidup (Matius 25). : 31-46) dan
untuk mendirikan kerajaan-Nya di bumi (Lukas 1:33).
Kami percaya pada kebangkitan tubuh orang mati (I Korintus 15: 12-58) bahwa
orang percaya yang mati dalam Yesus akan dibangkitkan pada kedatangan Kristus
untuk gereja-Nya dan ditangkap dengan orang-orang kudus hidup yang telah
bertransformasi untuk bertemu dengan Tuhan di dalam udara (I Tesalonika 4: 13-
18) dan bahwa orang fasik yang mati akan dibangkitkan pada penutupan Kerajaan
Seribu Tahun (Wahyu 20: 4-5), dan berdiri di tubuh mereka di Tahta Putih Besar
pengadilan untuk menerima penghukuman terakhir mereka malapetaka (Wahyu 20:
11-15).
 Pemerintahan Sipil:
Kami percaya bahwa pemerintahan sipil adalah penunjukan ilahi untuk
kepentingan dan ketertiban masyarakat manusia (Roma 13: 1); dan jaminan
kebebasan hati nurani. Jaminan ini terdiri dari batasan mutlak pemerintah terhadap
ranah sipil, tidak ikut campur atau memengaruhi ranah spiritual Gereja. Agar orang
percaya melihat bahwa para hakim harus didoakan, dihormati, dan dipatuhi dengan
sadar (Matius 22:21); kecuali dalam hal-hal yang bertentangan dengan kehendak
Tuhan kita Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 5:29; 4: 19-20) yang merupakan satu-
satunya Tuhan yang memiliki hati nurani, dan pangeran Raja-Raja bumi yang akan
datang.
 Pernikahan dan Seksualitas
Kami percaya bahwa Allah menciptakan pria dan wanita dalam gambar Allah
(Kejadian 1:27) dan bahwa pernikahan, sebagaimana ditetapkan Allah, hanya
memiliki satu makna dan itu adalah pernikahan yang disetujui oleh Allah yang
menggabungkan satu pria dan satu wanita secara spiritual dan fisik, dalam kesatuan
tunggal, eksklusif, seperti yang digambarkan dalam Alkitab (Mat. 19: 4-6). Pria dan
wanita dirancang secara unik untuk menampilkan Kemuliaan Allah dalam Injil
melalui pernikahan. Tuhan menciptakan pernikahan (Kejadian 2: 18-25) dan Paulus
memberi tahu kita bahwa ketika kita menerima kepemimpinan dan ketundukan
Alkitab, kita membantu mengilustrasikan Injil. Ketika para suami dan istri
bersama-sama mengejar gambaran Injil tentang Kristus dan gereja ini, mereka
secara pribadi mengejar keserupaan dengan Kristus (Efesus 5: 22-33). Kami
percaya bahwa Allah bermaksud keintiman seksual hanya terjadi antara seorang
pria dan seorang wanita, sebagaimana ditentukan secara biologis saat lahir, dalam
batas-batas pernikahan (1 Kor. 7: 2). Kami percaya bahwa amoralitas seksual,
seperti perzinahan, homoseksualitas, perilaku biseksual, atau segala upaya untuk
mengubah jenis kelamin seseorang, atau ketidaksetujuan dengan jenis kelamin
biologis saat lahir, adalah berdosa dan menyinggung Allah (Kejadian 1:27, 31; Im.
18) : 22; Rm 1: 26-27; 1 Kor 6: 9-11; Ibr 13: 4).

d) Organisasi
Selama hampir 175 tahun, Southern Baptist telah berusaha untuk memberitakan
Injil Yesus Kristus kepada semua orang di mana saja. Southern Baptist Convention
dibentuk dengan visi Injil. Piagam pendirian konvensi ini mengidentifikasi fokus tunggal:
untuk memunculkan, menggabungkan, dan mengarahkan energy dari denominasi Kristen
baptis untuk penyebaran Injil. Southern Baptist Convention (SBC) telah berkembang
menjadi jaringan lebih dari 50.000 gereja yang bekerja sama dan gereja tipe misi yang
disatukan untuk memberi dampak bagi Kerajaan Allah. Kaum Baptis Selatan sangat
beragam dan berbeda, baik dari sisi kota, lingkungan, dan komunitas pedesaan tempat
mereka tinggal. Setiap gereja Baptis Selatan bersifat otonom dan unik, yang hanya dapat
dilihat secara bersama-sama dalam keragaman yaitu Southern Baptist Convention.

Gereja-gereja Baptis Selatan mewakili jangkauan luas dalam hal:


 ukuran – sangat kecil hingga sangat besar
 budaya – Utara, Selatan, Timur, Barat, dan setiap subkultur di setiap wilayah
 usia – gereja yang baru bertumbuh hingga organisasi yang bersifat historical
 pengaturan pelayanan – pusat kota, etalase, pinggiran kota, kota kecil, pedesaan
terbuka, koboi, sepeda motor
 ras dan etnis – Kaukasia, Amerika Afrika, Hispanik, Korea, China, penduduk asli
Amerika, Rusia, dan berbagai kelompok etnis lainnya
 bahasa – Tuhan disembah dalam lebih dari serratus bahasa setiap hari Minggu di
gereja-gereja Baptis Selatan yang tersebar di seluruh Amerika Serikat
 gaya ibadah – tradisional, kontemporer, dan semua di antaranya
 perspektif teologis – semua dalam kerangka ortodoksi alkitabiah historis.
Di tingkat nasional, pelayanan-pelayanan Southern Baptist Convention terbagi dalam tujuh
kategori umum:
 Misi Internasional
 Misi Amerika Utara
 Pendidikan Teologis
 Advokasi untuk kebebasan beragama
 Produksi sumber daya gereja
 Layanan asuransi dan pensiun untuk pendeta dan pekerja gereja lainnya
 Fasilitas sehari-hari untuk menjaga agar upaya kerja sama ini tetap berjalan di
antara pertemuan dua-hari tahunan Southern Baptist Convention

Pernyataan Misi
“sebagai sebuah konvensi gereja, visi yang missional kita adalah untuk menyajikan Injil
Yesus Kristus kepada setiap orang di dunia dan menjadikan semua bangsa murid.”
-diadopsi oleh para utusan Southern Baptist Convention 2010 di Orlando, Florida pada 15 Juni
2010 sebagai tanggapan terhadap Laporan dari Satuan Tugas Komisi Besar

Visi
“Dengan komitmen penuh pada proposisi bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya
harapan bagi dunia, dan orang-orang Baptis Selatan yang percaya mendambakan
pembaruan rohani dan kehidupan yang berpusat pada Kristus, dan mengakui tantangan
Yesus untuk mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, kami , para pemimpin
denominasi Southern Baptist yang bertanda tangan di bawah ini, perjanjian satu sama lain
dan setiap Baptis Selatan yang bersedia, di bawah Tuhan,
 Untuk menjadikan kerajaan Allah prioritas dalam kehidupan pribadi kita sendiri.
 Untuk mempersembahkan energi dan sumber daya dari pelayanan kita, kita harus
mencari terlebih dahulu Raja dan kerajaan-Nya.
 Untuk bekerja sama satu sama lain dan keluarga Baptis Selatan sewaktu kami
mengejar prinsip dan praktik kerajaan.
 Untuk memberikan diri kita kepada kepemimpinan pelayan yang akan membantu
dan memungkinkan gereja-gereja lokal dalam pelayanan mereka.
 Untuk berdoa agar gairah baru bagi Yesus pecah di antara umat kita, keluarga
kita, dan gereja-gereja kita dari mana Allah dapat menempa gerakan rohani yang
ditandai oleh hidup kudus, pelayanan pengorbanan, dan kesaksian global.
 Untuk tujuan ini kami menegaskan Pemberdayaan Kerajaan Berkembang sebagai
panggilan untuk Baptis Selatan untuk mencari pertama Raja dan kerajaan-Nya.”
-diadopsi oleh para utusan Konvensi Southern Baptist 2002 di St. Louis, Missouri pada 11
Juni 2002, dalam "Perjanjian antara Kepemimpinan Denominasi Southern Baptist dan Gereja-
Gereja"

e) Praktek Ibadah
Saat melaksanakan kebaktian, tidak ada keseragaman baik dalam cara beribadah di
gereja Baptis maupun bentuk gedung gerejanya. Setiap gereja Baptis memiliki hak otonom
untuk menentukan tata laksana kebaktiannya sendiri. Walaupun demikian, gereja Baptis
mempunyai ciri khas dalam kebaktian, yaitu ada seorang yang bertugas untuk memandu
acara ibadah. Tujuannya agar ibadah dapat terarah dengan baik dan khidmat, ada juga
seorang yang memandu untuk mengajak jemaat memuji Tuhan (Leader of Praise), tujuan
agar pujian yang dinyanyikan sesuai dengan maksud si penulis. Karena itu seorang
pemimpin pujian harus menguasai not dan dinamika lagu. Sebab umat baptis lebih
menekankan pada lagu-lagu Hymn. Terdapat juga paduan suara sering muncul dalam
ibadah, walaupun tidak setiap ibadah. Tampilnya paduan suara dalam ibadah, jika ada
acara khusus atau istimewa yang berkaitan dengan upacara baptisan, upacara perjamuan
Tuhan, dan lain-lain.

Tatanan dalam ibadah umat baptis pada umumnya sebagai berikut;

 Pujian: Pujian yang dinyanyikan dalam ibadah lebih menekankan pada bobot
theologi dari lagu tersebut dan diatur sedemikian rupa, sehingga lagu yang akan
dipakai dalam ibadah harus disesuaikan dengan tema Firman Tuhan yang akan
disampaikan. Dalam penataan pujian, umat baptis telah memiliki buku panduan
yang dapat memudahkan untuk menyusun pujian dalam ibadah. Kadang dalam
memimpin pujian, MC berlaku seperti dirijent, dimana tangannya dipakai untuk
memberi gerakan 4/4 atau 3/4 supaya ketukan lagunya bisa bareng.
 Doa : Doa dapat dibagi menjadi tiga bagian antara lain: Pertama, Doa Pembukaan.
Doa ini berisi pengucapan syukur atas pemeliharaan Tuhan sepanjang hari yang
telah berlalu dan permohonan yang berkaitan dengan jalannya ibadah tersebut.
Kedua, Doa Syafaat ditujukan bagi jemaat yang sakit, yang tidak dapat berbakti
dihari itu, jemaat yang tinggal diluar kota (bekerja / studi), Gereja-gereja Tuhan di
muka bumi, serta bangsa dan Negara. Ketiga, Doa Penutup. Doa ini berisi
pengucapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam jalannya ibadah dari awal hingga
akhir, dan permohonan agar Tuhan menyertai umatNya.
 Pembacaan Silih Berganti : Pembacaan tersebut sudah dipersiapkan menurut
tema-tema yang telah ditulis dalam buku nyanyian pujian. Tujuan dari pembacaan
tersebut yaitu untuk mempersiapkan dan mendorong suasana berbakti yang
berarti. Karena itu pembacaan Firman Tuhan yang dilakukan dengan bijaksana
akan mempersatukan seluruh jemaat untuk bersekutu dengan Tuhan bersama-sama.
 Pembacaan Firman Tuhan : Biasanya diambil dari satu bagian Alkitab yang
berhubungan dengan khotbah yang akan disampaikan.
 Khotbah : Dalam mimbar Gereja Baptis, khotbah merupakan bagian yang paling
penting dalam kebaktian. Seorang pendeta menjelaskan Firman Tuhan kepada
jemaat agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Umumnya khotbah yang
disampaikan adalah secara Eksposisi bukan Topikal atau Alegoris. Khotbah ini
berlangsung selama 20–30 menit.
 Undangan : Pada akhir kebaktian ada undangan, seorang pendeta mengundang
jemaat untuk mengambil suatu keputusan. Setiap orang, secara pribadi, yang
merasa digerakan Roh Kudus untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan
juruselamatnya, akan maju ke depan mimbar (Altarcall) untuk menyatakan
imannya. (Diambil dari PRAISE #5 / Penulis : Oleh: Pdt. Hendra Wijaya Susanto,
MA., M.Th. Gembala Sidang Gereja Kristen Baptis Jakarta Jemaat Cengkareng
Pos Jemaat di Solo Baru).

Di First Baptist Madison Chruch, kebaktian Minggu pagi mereka menggunakan


beragam gaya music yang meriah, mulai dari pujian dan penyembahan hingga music dari
para master klasik, dan dari Injil selatan hingga hymne tradisional. Nyanyian jemaat
mereka selalu memadukan himne tradisional, seperti Doxology, To God Be The Glory,
dengan lagu-lagu kontemporer, seperti Cornerstone by Hillsong Church. Nyanyian-
nyayian tradisional seringkali ditawarkan dalam aransemen modern yange enrgik, tetapi
dengan melodi dan teks yang sama sehingga akan dikenali banyak orang.

f) Gereja-gereja yang termasuk aliran ini


Di Indonesia, gereja-gereja yang menganut teologi Baptis adalah Gabungan Gereja Baptis
Indonesia (GGBI), Kerapatan Gereja Baptis Indonesia (KGBI), Persekutuan Gereja-Gereja
Baptis Papua (PGBP), Gereja Perhimpunan Injili Baptis Indonesia (GPIBI), Gereja Baptis
Independen Indonesia (GBII), Sinode Gereja Kristen Baptis Jakarta (SGKBJ), Gereja
Baptis Anugerah Indonesia (GBAI).

3. Anglican
a) Tokoh Sentral
Henry Tudor, merupakan Raja Inggris dari tahun 1509 sampai kematiannya pada
tahun 1547. Ia menikah sebanyak enam kali, memenggal dua istrinya, serta merupakan
penghasut utama Reformasi Inggris. Kakak Henry, yaitu Arthur, diharapkan untuk naik
takhta namun ia meninggal pada usia 15 tahun, dan meninggalkan Henry yang berusia 10
tahun. Setelah kematian Raja Henry VII pada tahun 1509, Henry VII mengambil mahkota
pada usia 17 tahun. Dari tahun 1514 hingga 1529, Henry VIII mengandalkan Thomas
Wolsey, seorang cardinal Katolik, untuk membimbing kebijakan domestic dan luar negeri
kerajaan Inggris. Wosley menikmati kehidupan mewah di bawah Henry VIII, hingga disaat
ia gagal mengantarkan surat cerai Catherine (istri raja Henry VIII), cardinal menjadi tidak
disukai. Setelah 16 tahun berkuasa, Wosley ditangkap dan didakwa melakukan
pengkhianatan. Dia kemudian meninggal dalam tahanan. Tindakan Henry VIII terhadap
Wosley memberi sinyal kuat kepada Paus bahwa dirinya tidak akan menghormati
keinginan bahkan tidak akan tunduk kepada otoritas para pemimpin agama tertinggi.
Sebaliknya, ia akan menggunakan kekuasaan penuh di setiap wilayah/bidang di
kerajaannya.
Pada 1534, Henry VIII menyatakan dirinya sebagai kepala tertinggi Gereja Inggris.
Setelah Henry VIII menyatakan supremasinya, gereja Kristen di Inggris berpisah dari
Katolik Roma dan membentuk Gereja Inggris. Henry VIII kemudian mengesahkan
beberapa undang-undang yang menguraikan hubungan antara raja dan Paus serta struktur
dari Gereja Inggris, seperti: Act of Appeals, the Acts of Succession, dan the Act of
Supremacy yang pertama, dimana mendeklarasikan raja adalah “satu-satunya Kepala
Tertinggi di Bumi dari Gereja Inggris.” Henry VIII memerintahkan para rohaniawan untuk
berkhotbah menentang gambar-gambar takhayul, peninggalan, mukjizat dan ziarah, serta
menghilangkan hampir semua penggunaan lilin dalam kegiatan peribadatan.
Pada tanggal 28 Januari 1547, pada usia 55 tahun, Henry VIII meninggal. Sebagai
seorang pria paruh baya, Henry menderita penyakit bisul penuh nanah serta mungkin
menderita asam urat. Kecelakaan jousting menyebabkan luka ganas di kakinya yang
mengalami ulcerated dan membuatnya tidak bisa berolahraga. Kebiasaan makan daging
berlemak yang berlebihan membuat Henry VIII menderita obesitas, hingga akhirnya
menyebabkan dirinya harus digerakkan dengan menggunakan penemuan mekanis. Ia
dikebumikan di Kapel St George di Windsor Castle bersama isteri ketiganya yang sudah
meninggal, Jane Seymour.

b) Sejarah
Ada beberapa factor yang memicu lahirnya gerakan reformasi di lingkungan gereja
Inggris. Pada abad ke-14, muncul pemikiran kritis yang menggugat berbagai segi ajaran
maupun praktek dalam gereja. Salah seorang perintis Reformasi, John Wycliffe, yang
dijuluki ‘bintang pagi Reformasi’, memiliki cita-cita untuk memulihkan kedudukan
Alkitab sebagai otoritas tunggal bagi kehidupan dan ajaran gereja. Untuk itu ia
memprakarsai terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, walaupun hasil terjemahannya
dinilai jauh dari cermat. Gagasan ini kemudian dilengkapi dengan berbagai gagasan
teologis lainnya, sehingga menjadi kekuatan pendorong lahirnya gerakan reformasi di
lingkungan gereja Inggris. Walaupun kekuatan religious menjadi yang utama, namun yang
biasanya menjadi acuan sebagai pemicu lahirnya Gereja Anglican atau Gereja Inggris
(Church of England) adalah serangkaian peristiwa mengenai Raja Henry VIII. Ia
mengalami konflik dengan Paus Clemens sehubungan dengan masalah perkawinannya,
yaitu Paus Clemens VII menolak untuk membatalkan pernikahan Henry VIII dengan
Catherine Aragon. Henry VIII lalu secara resmi menyatakan putus hubungan dengan Roma
pada tahun 1534 dan memulai proses pembentukan Gereja Inggris.
Setelah pemisahan dengan Gereja Roma Katolik, Gereja Inggris tetap
mempertahankan struktur yang sudah ada, lengkap dengan uskup, rohaniawan, gedung-
gedung gereja, dan jemaat-jemaat. Semuanya itu ditempatkan dibawah kendali Uskup
Agung Canterbury, sehingga tidak lagi berada di bawah Paus. Dalam hal ajaran, tata ibadah
dan pola organisasi, Gereja Anglican cukup banyak mempertahankan dan memelihara
tradisi Katolik Roma, sambil mengembangkan kekhasannya sendiri dan mengambil
banyak hal dari kalangan reformator di Eropa. Pada masa pemerintahan Henry VIII, Gereja
Anglican menjadi semacam Gereja Katolik yang otonom, bebas dari Roma, kira-kira
seperti Gereja Ortodoks Timur pada abad-abad pertama.
Setelah kematian Henry VIII, Uskup Agung Thomas Cranmer memulai perubahan
yang menyatukan Gereja Inggris dengan Reformasi. The Book of Common Prayer yang
ditulisnya merevisi bentuk-bentuk ibadah tradisional untuk memasukkan ide-ide Protestan.
Upaya ini kemudian dibatalkan oleh Ratu Mary, yang berusaha untuk mengembalikan
Katolik Roma di Inggris. Ketika Elizabeth I naik takhta pada tahun 1558, dinyatakan bahwa
Reformasi di Inggris menang. Teolog John Jewel menulis bahwa Gereja Inggris telah
kembali ke presedan kuno.

c) Ajaran
 Injil dan Allah Tritunggal
Kami bersukacita dalam kasih karunia Allah Tritunggal, yang telah mengampuni
dosa-dosa kami dan memberi kami penebusan di dalam Yesus Kristus. Kami
memberitakan Injil Yesus Kristus, yang sepenuhnya manusiawi dan ilahi
sepenuhnya, yang menjadi inkarnasi dari Perawan Maria, menjalani kehidupan
kepatuhan yang sempurna kepada Bapa surgawinya, mati di kayu salib untuk
menebus dosa-dosa dunia, dan bangkit secara jasmani di sesuai dengan Kitab Suci.
Allah Roh Kudus menarik kita untuk beriman kepada Yesus Kristus, yang hanya
melalui Dia kita dibenarkan dan diterima oleh Allah Bapa.
 Ketaatan Kristen
Kami mengakui Yesus sebagai Tuhan kepada siapa semua otoritas di surga dan
bumi telah diberikan oleh Bapa. Kami berkomitmen untuk mengikutinya dan
mencintai dia di atas segalanya dan untuk menyesuaikan hidup kami dengan teladan
dan pengajarannya oleh kasih karunia Roh Kudus.
 Kitab Suci
Kami percaya semua Kitab Suci "ditulis untuk pembelajaran kita" (Roma 15: 4),
bahwa itu adalah "Firman Allah yang tertulis," dan bahwa kita harus "mendengar,
membaca, menandai, belajar, dan mencernanya ke dalam hati." Kami berkomitmen
untuk mempelajari Alkitab secara teratur dan untuk berkhotbah dan mengajar
hanya apa yang sesuai dengan Kitab Suci.
 Kehidupan Kongregasional
Kami memegang ibadat bersama, pemuridan, dan misi untuk menjadi aspek yang
saling terkait dan tak terpisahkan dari respons kita terhadap Allah ketika dia
menyatakan diri kepada kita dalam Yesus Kristus. Kami berkomitmen untuk
terlibat secara pengorbanan dalam ketiga aspek kehidupan sidang.
 Misi dan Misi
Tuhan Yang Bangkit menugaskan murid-muridnya untuk mengkhotbahkan Injil
dan mengikuti perintah-perintahnya. Misi Gereja mencakup proklamasi penginjilan
dan tindakan cinta dan pelayanan. Kami berkomitmen untuk diri sendiri dan sumber
daya kami untuk misi ini, baik secara lokal maupun ke bagian paling ujung bumi.
Kami menegaskan tanggung jawab khusus kami untuk mengetahui, mencintai, dan
melayani Tuhan dalam lingkungan dan konteks lokal kami. Karena pola alkitabiah
dari kesaksian bergerak dari lokal ke global, kami akan berusaha untuk mendapat
informasi tentang komunitas lokal kami dan aktif dalam penanaman gereja,
penginjilan, pelayanan, keadilan sosial, dan misi lintas budaya, internasional,
dengan perhatian khusus untuk orang miskin dan orang-orang yang belum
terjangkau di dunia.
 Iman Historis, Visi Ekumenis
Kami menegaskan Iman Gereja seperti yang ditetapkan dalam Pengakuan Iman
Nicea dan Rasul serta dalam tradisi Buku Doa klasik, termasuk dokumen-dokumen
yang terkandung di bagian "Dokumen Sejarah" pada 1979 Book of Common Doa
(BCP hal.863). Kami lebih jauh menegaskan prinsip-prinsip Chicago-Lambeth
Quadrilateral (BCP hal.876) sebagai ekspresi otoritas normatif Kitab Suci dan
sebagai dasar untuk persatuan kita sekarang dengan saudara-saudari di Persekutuan
Anglikan dan untuk persatuan masa depan semua cabang-cabang yang terpisah dari
satu Gereja yang kudus, katolik, dan apostolik Kristus.
 Keunikan Yesus Kristus
Sementara agama dan filsafat dunia bukan tanpa unsur kebenaran, Yesus Kristus
sendiri adalah wahyu Allah yang sepenuhnya. Di dalam dan melalui Injil, Yesus
menghakimi dan mengoreksi semua pandangan dan doktrin. Semua orang di mana
saja perlu belajar tentang dia, mengenal dan percaya kepadanya, dan menerima
pengampunan dan kehidupan baru di dalam dirinya, karena tidak ada nama lain
yang diberikan di bawah langit yang dengannya kita harus diselamatkan (Kisah
Para Rasul 4:12).
 Gereja dan Negara
Perintah-perintah sosial alkitabiah dan prinsip-prinsip etika Kristen merupakan
fondasi bagi kesejahteraan setiap masyarakat. Menyadari panggilan umat Kristen
untuk menjadi saksi yang setia dan kehadiran yang menantang di masyarakat, kami
berkomitmen untuk mencari cara untuk mengekspresikan perintah dan asas ini di
semua bidang kehidupan, termasuk kehidupan publik bangsa.
 Kesucian Kehidupan
Semua kehidupan manusia adalah anugerah suci dari Tuhan dan harus dilindungi
dan dipertahankan dari pembuahan hingga kematian alami. Kami akan menjunjung
tinggi kesucian hidup dan membawa rahmat dan belas kasihan Kristus kepada
mereka yang menghadapi kenyataan aborsi sebelumnya, kehamilan yang tidak
diinginkan, dan penyakit akhir hayat.
 Inklusivitas Sejati
Dalam tanggapan yang bersyukur kepada Kristus Yesus, yang di dalamnya tidak
ada orang Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, pria maupun wanita,
kami akan memperluas sambutan Gereja kepada setiap orang, tanpa memandang
ras, jenis kelamin, status sosial atau ekonomi, orientasi seksual, atau perilaku masa
lalu. Kita akan menentang prasangka dalam diri kita sendiri dan orang lain dan
meninggalkan anggapan salah tentang inklusivitas yang menyangkal bahwa semua
adalah orang berdosa yang perlu bertobat.
 Pernikahan, Keluarga, dan Kehidupan Lajang
Allah telah melembagakan pernikahan sebagai persatuan suami-istri seumur hidup,
yang dimaksudkan untuk kebahagiaan, pertolongan, dan kenyamanan bersama
mereka, dan, ketika itu adalah kehendak Allah, untuk prokreasi dan pengasuhan
anak-anak. Perceraian selalu bertentangan dengan niat awal Allah, meskipun di
dunia yang jatuh itu kadang-kadang merupakan kebutuhan yang tragis. Peran ayah
dan ibu, dilaksanakan dalam berbagai cara, diberikan Tuhan dan sangat penting
karena mereka adalah penyedia utama pengajaran moral dan kehidupan yang saleh.
Kehidupan lajang, baik melalui panggilan atau keadaan, dihormati oleh Allah.
Karena itu penting bagi orang yang belum menikah untuk memeluk dan dipeluk
oleh keluarga Kristen.
 Seksualitas Manusia
Seksualitas melekat dalam ciptaan Tuhan dari setiap pribadi manusia dalam
gambarnya sebagai pria dan wanita. Semua orang Kristen dipanggil untuk
kesucian: suami dan istri dengan kesetiaan seksual eksklusif satu sama lain dan
orang lajang dengan berpantang dari hubungan seksual. Allah bermaksud dan
memungkinkan semua orang untuk hidup dalam batas-batas ini, dengan bantuan
dan dalam persekutuan Gereja.

d) Organisasi
Anglican Communion tidak memiliki figur atau badan otoritas pusat. Itu terdiri dari
40 anggota otonom atau provinsi. Setiap gereja anggota membuat keputusan sendiri dengan
caranya sendiri. Namun, badan pembuat keputusan mereka dipandu oleh rekomendasi dari
masing-masing dari empat yang disebut Instrumen Persekutuan:
 Konferensi Lambeth
Konferensi Lambeth berlangsung kira-kira setiap sepuluh tahun. Yang pertama
diadakan pada tahun 1867. Para uskup dari sekitar Komuni Anglikan diundang
untuk hadir oleh Uskup Agung Canterbury. Konferensi Lambeth berikutnya adalah
di Canterbury pada bulan Juli dan Agustus 2020. Temanya adalah “Gereja Tuhan
untuk Dunia Tuhan: berjalan, mendengarkan dan bersaksi bersama”. Acara ini
diselenggarakan dan dijalankan oleh Perusahaan Konferensi Lambeth dibantu oleh
staf dari Istana Lambeth dan kantor Komuni Anglikan. Grup Desain membantu
dalam mengatur program. Sekretaris Jenderal Komuni Anglikan berfungsi sebagai
sekretaris konferensi. Lihat di sini untuk detail lebih lanjut dari Konferensi
Lambeth 2020.
 Dewan Konsultasi Anglikan
Peran Dewan Konsultasi Anglikan (ACC) adalah untuk memfasilitasi kerja sama
gereja-gereja dari Persekutuan Anglikan, bertukar informasi antara provinsi dan
gereja, dan membantu mengkoordinasikan tindakan bersama. Itu memberi nasihat
tentang organisasi dan struktur Komuni, dan berupaya mengembangkan kebijakan
bersama sehubungan dengan misi dunia Gereja, termasuk hal-hal ekumenis.
ACC memiliki undang-undang dan konstitusi serta melalui jaringan dan
programnya berupaya melayani kebutuhan gereja-gereja anggota. Ada kursi, wakil
ketua dan komite berdiri dipilih oleh anggota. Kursi saat ini adalah Most Kwai Paul
Kwong dari Hong Kong. Uskup Agung Canterbury adalah Presiden ACC.
ACC dapat dilihat sebagai badan Anglikan yang paling representatif di antara
Instrumen Komuni. Itu termasuk anggota kaum awam, uskup agung, uskup, imam,
dan diaken. Provinsi mengirimkan dua atau tiga perwakilan dan memilih mereka
dengan cara yang berbeda. Untuk pertama kalinya, di ACC-17, juga akan ada dua
delegasi muda dari masing-masing dari lima daerah. Rapat diadakan di seluruh
dunia kira-kira setiap tiga tahun. Yang terbaru (ACC-16) adalah di Lusaka, Zambia
pada April 2016. Anggota digambarkan di bawah ini. (Lihat di sini untuk
dokumen.) Berikutnya adalah di Hong Kong pada tahun 2019.
 Primates’ Meeting
Primate dari Persekutuan Anglikan adalah kepala Uskup Agung, Uskup Ketua,
Moderator dan kepala pendeta dari 40 provinsi. Gereja-gereja mereka bersifat
otonom namun saling tergantung dalam hubungan mereka satu sama lain. Uskup
Agung Canterbury memimpin pertemuan mereka, yang diadakan pada berbagai
interval di seluruh dunia. Yang terbaru adalah di Canterbury pada 2017. (Baca
komunike).
Primates tidak memiliki otoritas sebagai badan dan gereja nasional mereka sendiri
menentukan bagaimana pelayanan mereka dilakukan dalam konteks mereka
sendiri. Kebiasaan dan tanggung jawab berbeda di setiap provinsi. Pertemuan
Primata dibentuk pada tahun 1978 oleh Uskup Agung Canterbury, Donald Coggan,
sebagai kesempatan untuk "berpikir santai, berdoa dan konsultasi mendalam". Situs
web ini berisi pernyataan dan komunike dari pertemuan pada tahun 2003, 2005,
2007, 2009, 2011, 2016 dan 2017.
 Uskup Agung Canterbury
Uskup Agung Canterbury adalah Fokus Persatuan untuk tiga Instrumen Komuni
Komuni Anglikan lainnya, dan karena itu merupakan fokus unik untuk persatuan
Anglikan. Dia menyebut Konferensi Lambeth sekali-dasawarsa, mengetuai
pertemuan Primata, dan adalah Presiden Dewan Konsultasi Anglikan.
The Most Revd dan Rt Hon Justin Welby dinobatkan pada 21 Maret 2013. Dia
adalah Uskup Agung Canterbury ke-105. Pendahulunya adalah Rt Revd Lord
Williams dari Oystermouth.
Adapun peran Uskup Agung Canterbury adalah Pemimpin Komuni Anglikan,
dianggap sebagai pemimpin gereja di Inggris, memiliki otoritas metropolitik
(otoritas pengawasan untuk tujuan tertentu) dalam kaitannya dengan semua uskup
dan rohaniwan di 30 keuskupan di Inggris selatan, memimpin hubungan Anglikan
dengan gereja-gereja Kristen lainnya di Inggris dan di luar negeri. Demikian pula,
Uskup Agung Canterbury memimpin sehubungan dengan hubungan Anglikan
dengan agama lain.

Sekretariat, juga dikenal sebagai Kantor Komuni Anglikan, yang berbasis di


London, Inggris mendukung Anglikan dan Episkopal di seluruh dunia untuk melaksanakan
permintaan apa pun dari Instrumen dan bekerja untuk memungkinkan anggota Komuni
Anglikan untuk memenuhi panggilan mereka untuk menjadi umat Allah di dunia.
e) Praktek Ibadah
Kaum Anglikan, seperti banyak orang Kristen lainnya, mengatur ibadat mereka
sesuai dengan perintah yang ditetapkan. Pada tingkat mikro ada perintah ibadah untuk
layanan tertentu, masing-masing disebut liturgi. Pada tingkat makro ada urutan ibadah
untuk satu tahun kalender, yang disebut tahun liturgi. Tahun liturgi Anglikan didasarkan
pada kalender liturgi kuno barat. Ini termasuk hari raya memperingati tokoh-tokoh Alkitab
(seperti St. Markus) dan tokoh-tokoh pasca-Alkitab (seperti St. Agustinus). Versi Anglikan
juga mencakup hari-hari raya bagi tokoh-tokoh Protestan (seperti Martin Luther) dan
tokoh-tokoh Anglikan (seperti George Herbert). Ada lusinan hari raya sepanjang tahun,
meskipun kebanyakan dari mereka tidak diperhatikan oleh kebanyakan orang Anglikan
selain beberapa orang Anglo-Katolik.
Ada juga perayaan dan hari-hari suci yang lebih dikenal dalam kalender liturgi yang
merayakan peristiwa selama kehidupan duniawi Yesus Kristus, atau segera sesudahnya.
Ini termasuk kelahiran Kristus (Hari Natal), pembaptisannya, masuknya ke Yerusalem
dengan seekor keledai (Minggu Palem), penyalibannya (Jumat Agung), kebangkitannya
(Paskah), dan pencurahan Roh Kudus kepada para rasul lima puluh hari setelah
kebangkitannya (Pentakosta). Sebagian besar perayaan yang lebih menonjol ini terjadi
pada hari Minggu dan memiliki tanggal yang berbeda dengan tanggal Paskah.
Buku ritus dan upacara utama Anglikan adalah Kitab Doa Umum, atau BCP.
Pertama kali disusun oleh Thomas Cranmer pada tahun 1549, edisi BCP dapat ditemukan
di sekitar Komuni Anglikan dalam berbagai bahasa dan dengan penekanan teologis yang
beragam. Selain itu, liturgi alternatif (pesanan layanan) telah berkembang biak, Gereja
Ibadah Umum Inggris menjadi contoh yang menonjol. Di Amerika Serikat, versi terbaru
(1979) dari BCP mempertahankan banyak bahasa tradisional dari versi 1928, tetapi juga
menambahkan liturgi bahasa modern. Beberapa perubahan tidak hanya memodernisasi
bahasa, tetapi menyesuaikan penekanan teologis, umumnya ke arah Inggris-Katolik.
Terlepas dari keragaman ini, BCP masih dianggap sebagai ikatan persatuan dalam
Anglikan, dan sebagian besar edisi diakui sebagai pewaris karya Cranmer.
Ritus-ritus Anglikan umumnya berpusat pada penyembahan kepada Allah dan
penerimaan atas rahmat atau berkat Tuhan. Dua sakramen besar baptisan dan Perjamuan
Kudus (atau "Ekaristi" atau "Perjamuan Tuhan") adalah yang utama dalam hal ini. Dalam
ritus pembaptisan Anglikan, air diterapkan (dengan memercikkan atau merendamnya)
kepada seorang bayi atau orang dewasa yang baru percaya (atau anak yang lebih tua),
bersama-sama dengan pembacaan kata-kata tertentu dari tulisan suci dan penjelasan
tentang makna baptisan. Ini biasanya terjadi sebagai bagian dari kebaktian mingguan
reguler, ketika kesempatan muncul. Seseorang dibaptis sekali dalam hidupnya, meskipun
beberapa Anglikan Injili mempromosikan pembaptisan kembali mereka yang dibaptis
ketika masih bayi.
Persekutuan diterima di kebaktian reguler sepanjang kehidupan orang percaya
Anglikan. Beberapa gereja merayakan Ekaristi di setiap kebaktian mingguan, yang lain
lebih jarang. Dalam Perjamuan Kudus, para penyembah menerima sepotong roti atau
wafer, dan seteguk anggur (atau jus anggur di beberapa gereja). Pentingnya roti dan anggur,
bagaimanapun, diperdebatkan dalam Anglikan, dengan berbagai pandangan Reformed
yang paling umum. Beberapa orang memandangnya hanya sebagai roti dan anggur, dengan
signifikansi ditempatkan pada upacara Ekaristi. Upacara semacam itu dapat dilihat sebagai
peringatan pengorbanan Kristus di kayu salib, atau sebagai tindakan di mana kehadiran
rohani Kristus diterima oleh umat beriman. Yang lain memandang unsur-unsur roti dan
anggur dalam istilah yang lebih suci, sebagai instrumen yang melaluinya kehadiran rohani
Kristus diterima. Namun, beberapa orang mempertahankan perspektif yang agak Lutheran,
melihat unsur-unsur sebagai bantalan tubuh dan darah Kristus yang nyata tetapi tidak
berwujud.

f) Gereja-gereja yang termasuk aliran ini


Gereja ataupun aliran Anglican sebenarnya tidak banyak hadir di Indonesia. Beberapa
jemaat Anglican yang terdapat di Indonesia, yakni Gereja Anglikan Jakarta (Gereja Inggris
All Saints) yang gedung gerejanya di Jalan Arif Rahman Hakim (di dekat Tugu Tani)
Jakarta Pusat. Ada juga Gereja Kristus Batu Penjuru (GKBP) dan Gereja Kristus Gunung
Batu (GKGB) yang keduanya terletak di Kota Tarakan, Kalimantan Utara.