Anda di halaman 1dari 16

1.

PENYEBARAN ORGANISASI KOPERASI MODERN


Pada mulanya koperasi tumbuh di negara industri di Eropa Barat, namun setelah
munculnya kolonialisme di beberapa negara di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan, koperasi
juga tumbuh di negara-neraga berkembang. Setelah negara-negara jajahan mengalami
kemerdekaan, banyak negara yang memanfaatkan koperasi sebagai salah satu alat
pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya.
Koperasi modern didirikan pada akhir abad ke-18 terutama sebagai jawaban atas
masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal revolusi industri. Perubahan-
perubahan yang berlangsung saat itu, yang disebabkan oleh perkembangan ekonomi pasar dan
penciptaan berbagai persyaratan pokok untuk berlangsungnya proses industrialisasi serta
modernisasi perdagangan dan pertanian yang cepat, membawa dampak yang menguntungkan
dan merugikan bagi berbagai kalangan masyarakat.
Terdesak oleh keinginan untuk memperbaiki diri, orang-orang yang tersisih dari
derasnya arus modernisasi mencoba mencari alternatif usaha yang dapat membantu
meningkatkan pendapatan mereka. Orang-orang seperti ini dalam sejarah gerakan koperasi
sering disebut sebagai pionir atau pelopor-pelopor koperasi modern.
Pelopor-pelopor organisasi koperasi dari Rochdale (Inggris), telah memberikan andil yang
cukup besar dalam perkembangan koperasi hingga menjadi Prinsip-prinsip Koperasi
rochdale yang dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai koperasi di dunia. Prinsip-prinsip
tersebut adalah:
1) Keanggotaan yang bersifat terbuka (open memberships and voluntary)
2) Pengawasan secara demokratis (democratic control)
3) Bunga yang terbatas atas modal (limited interest of capital)
4) Pembagian SHU yang sesuai dengan ajsa anggota (proportional distribution of
surplus)
5) Penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang berlaku dan secara tunai (trading
in cash)
6) Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, suku, agama dan politik (politica, rasial
relligious netrality)
7) Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli, tidak rusak atau
palsu (adulted goods forbiden to sell), dan
8) Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan (promotion of education)
Di Jerman, Herman Schulze-Delitzsch (1808-1883) adalah orang pertama yang
berhasil mengembangkan sebuah organisasi koperasi kredit perkotaan. Terdapat tiga prinsip
yang dikembangkan oleh Herman Schulze-Delitzsch yang menjadi dasar koperasi yaitu:
1) Prinsip menolong diri sendiri (self-help)
2) Prinsip pengurus atau mengelola sendiri (self-management)
3) Mengawasi sendiri (self-control)
Merujuk pada historis di atas, koperasi adalah organisasi independen yang mengelola
usahanya dengan prinsip swadaya dan manajemen yang demokratis. Terdapat dua alasan
mengapa pemerintah membantu pengembangan organisasi koperasi yaitu alasan nonekonomi
dan alasan ekonomi. Bantuan pemerintah terutama dalam bentuk permodalan, sarana dan
prasarana fisik, serta kelembagaan diperlukan untuk menyetarakan kedudukan koperasi dalam
persaingan.

2. KOPERASI MODERN AKHIR ABAD KE-18


Disebabkan oleh:
a) Perkembangan ekonomi pasar dan berbagai persyaratan pokok untuk
berlangsungnya proses industrialisasi serta modernisasi perdagangan dan
pertanian yang cepat.
b) Industri mula-mula bercorak ppadat karya menjadi paat modal dan produksi.
c) Mula-mula berdasarkan pesanan menjadi industri memproduksi untuk
kebutuhan pasar (produksi masal).
d) Perubahan struktur ekonomi yang radikal berdampak pada buruh.
e) Para pekerja dan pengrajin kecil kalah bersaing dengan perusahaan industri
berskala besar dan petani penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan
karena proses pengintegrasian ke dalam ekonomi pasar yang sedang
berkembang. (Hanel, 1988)
Pelopor organisasi koperasi dan Rochdale (Inggris) koperasi konsumen. Prinsip
prinsip koperasi Rochdale dijadikan dasar kegiatan oleh berbagai koperasi di dunia.
a) Keanggotaan yang bersifat terbuka
b) Pengawasan secara demokratis
c) Bunga yang terbatas atas modal
d) Pembagian SHU yang sesuai dengan jasa anggota
e) Penjualan dilakukan sesuai dengan harga pasar yang ebrlaku dan secara tunai
f) Tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, suku, agama, dan politik
g) Barang-barang yang dijual harus merupakan barang-barang yang asli, tidak rusak atau
palsu
h) Pendidikan terhadap anggota secara berkesinambungan
3. SEJARAH AWAL KOPERASI DI INDONESIA

Koperasi pertama kali diperkenalkan oleh seorang berkebangsaan Skotlandia, yang bernama
Robert Owen (1771-1858). Setelah koperasi berkembang dan diterapkan di beberapa Negara-negara
eropa. Koperasi pun mulai masuk dan berkembang di Indonesia.

Abad 20: Asal-usul sejarah koperasi di Indonesia ini diawali dengan dimulainya dari hasil
usaha kecil yang secara spontan yang dilakukan oleh rakyat kecil biasa. Karena adanya pengetahuan
dan wawasan mengenai ekonomi yang rendah saat itu, sehingga membuat para pengusaha rakyat
kecil terdorong untuk lepas dari penderitaan. Sederhananya, mereka ingin mengubah kehidupan
mereka yang terpuruk ke kehidupan yang tinggi.

3.1. Sejarah Koperasi di Indonesia Pada Tahun 1896-1908


Sejarah koperasi di Indonesia pada tahun 1896 sampai dengan 1908 merupakan titik awal
dikenalnya koperasi di Indonesia. Pada tahun 1896, R Aria Atmadja seorang Patih Pamong Praja
mendirikan suatu Bank Simpanan untuk menolong para pegawai negeri (kaum priyai) yang terjerat
tindakan dalam soal riba dari kaum lintah darat. Cita-cita dan ide beliau ini mendapat rintangan
atau hambatan sebagai kegiatan politik pemerintah penjajah waktu itu. Adapun karya dari beliau
yang telah ia lakukan adalah:

a. Mendirikan bank simpanan yang dia anjurkan untuk kemudian diubah menjadi
koperasi.

b. Dihidupkannya sistem Lumbung Desa untuk usaha penyimpanan padi rakyat pada
musim panen, yaitu dikelola untuk menolong rakyat dengan cara memberikan
pinjaman pada musim paceklik. Lumbung Desa ini nantinya akan ditingkatkan
menjadi KKP (Koperasi Kredit Padi).

3.2. Sejarah Koperasi di Indonesia Pada Tahun 1908-1927

Sejarah Koperasi di Indonesia, pada tahun 1908 Boedi Oetomo mencoba memajukan
koperasi-koperasi rumah tangga, koperasi toko, yang selanjutnya menjadi koperasi konsumsi yang
di dalam perkembangannya kemudian menjadi koperasi batik. Gerakan Boedi Utomo pada tahun
1908 dengan dibantu oleh Serikat Islam inilah yang melahirkan koperasi pertama kali di Indonesia,
koperasi ini bersamaan dengan lahirnya Gerakan Kebangkitan Nasional. Namun perkembangan
koperasi pada waktu itu kurang memuaskan, karena adanya hambatan yang datang dari pemerintah
Belanda. Meskipun perkemabangan koperasi kurang lancar, pemerintah belanda tetap khawatir
jika koperasi makin tumbuh dan berkembang di kalangan Bumi Poetra. Saat itupun undang-
undang yang diatur pemerintahan Belanda pada tahun 1915 agar perkembangan koperasi tidak
meluas.

a. Tahun 1908

Dimana Dr. Sutomo ikut mengembangkan perkoperasian di Indonesia dengan mendirikan


Budi Utomo. Sehingga dapat dikatakan bahwa Dr. Sutomo memiliki peranan yang sangat
penting pada gerakan koperasi.

b. Tahun 1915

Adanya beberapa peraturan sebagai kebijakan perkoperasian di Indonesia dinamakan


“Verordening op de Cooperative Vereeenging”.

c. Tahun 1927

Peraturan “Verordening op de Cooperative Vereeenging” dikembangkan dan diganti oleh


peraturan “Regeling Inlandsche Cooperatiev” pada tahun yang sama pun dibentuk
Serikat Dagang Islam.

3.3 Sejarah Koperasi di Indonesia Pada Tahun 1927-1942

Dengan keluarnya UU koperasi tahun 1927,maka koperasi di Indonesia mulai berkembang dan
bangkit lagi. Akan tetapi koperasi mundur lagi karena mendapat saingan berat dari kaum pedagang
yang mendapat fasilitas dari Belanda. Pada tahun 1933,Pemerintah Belanda mengeluarkan lagi
peraturan koperasi sebagai pengganti peraturan koperasi tahun 1915. Peraturan baru ini tidak ada
bedanya dengan peraturan tahun tersebut dan tidak cocok dengan kondisi rakyat Indonesia yang
menyebabkan mundurnya perkoperasian. Tahun 1935, Jawatan koperasi dipindahkan dari
Departemen Dalam Negeri ke Departemen Ekonoi karena banyaknya kegiatan di bidang ekonomi
pada waktu itu dan dirasakannya bahwa koperasi lebih sesuai berada di bawah Departemen Ekonomi.
Pada tahun 1937 dibentuklah kperasi simpan pinjam yang diberi bantuan modal oleh
pemerintah,dengan tugas sebaai koperasi pemberantas hutang rakyat,terutama kaum tani yang tidak
lepas dari cengkeraman kaun pengijon dan lintah darat. Selanjutnya, pada tahun 1939 jawatan
koperasi yang berada di bawah Departemen Ekonomi,diperluas ruang lingkupnya menjadi jawatan
koperasi dan perdagangan dalam negeri. Hal ini disebabkan karena koperasi pada waktu otu belum
mampu untuk mandiri,sehingga pemerintah penjajah Belanda ini menaruh perhatian dengan
memberikan bimbingan,penyuluhan,pengarahan dan sebagainya tentang bagaimana cara koperasi
dapat memperoleh barang dan memasarkan hasilnya.

a. Sejarah koperasi saat kependudukan Jepang


Dimana Koperasi di Indonesia pada tahun 1942 sampai 1945 mengalami perubahan peran
menjadi kumiai yang berfungsi sebagai pengumpul barang untuk keperluan perang. Pada
masa ini,koperasi tidak mengalami perkembangan bahkan semakin hancur. Hal ini
disebabkan oleh adanya ketentuan dari penguasa Jepang bahwa koperasi harus
mendapatkan izin pemerintah setempat yang tergolong sangat sulit.

b. Sejarah koperasi pada masa sebelum kemerdekaan

Koperasi adalah institusi yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan kerjasama antar
individu,yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal Revolusi
Industrial di Eropa pada akhir abad 18 dna selama abad 19,sering disebut sebagai Koperasi
Historis atau Koperasi Pra-Industri. Koperasi Modern didirikan pada akhir abad
18,terutama sebagai jawaban atas masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal
Revolusi Industri.

Pada tahun 1896 perkoperasian didirkan oleh Patih di Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria
Wiraatmadja. Pada tahun 1908 Budi Utomo didirkan oleh Dr. Sutomo memberikan pergerakan bagi
gerakan koperasi untuk memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan
Verordening op de Cooperative Vereegining, dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe
Cooperatiev. Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam,yang bertujuan untuk memperjuangkan
kedudukan ekonomi pengusaha-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Parta
Nasional yang memperjuangkan penyerbarluasan semangat koperasi. Kronologis lembaga yang
menangani pembinaan koperasi pada saat itu adalah sebagai berikut :

a. Tahun 1930

Pemerintah Hindia Belanda membentuk Jawatan Koperasi yang keberadaannya dibawah


Departemen Dalam Negeri,dan diberi tugas untuk melakukan pendaftaran dan
pengesahan koperasi, tugas ini sbeelumnya dilakukan oleh Notaris

b. Tahun 1935

Jawatan koperasi dipindahkan Departemen Economische Zaken, dimasukkan usaha


hukum (Bafdeeling Algemeene Economische Aanglegenheden) Pimpinan Jawatan
Koperasi diangkat menjadi Penasehat.

c. Tahun 1939

Jawatan koperasi dipisahkan dari Afdeeling Algemeene Aanglegenheden ke Departemen


Perdagangan Dalam Negeri menjadi Afdeeling Cooperatie en Binnenlandsche Handel.
Tugasnya tidak hanya memberi bimbingan dan penerangan tentan koperasi tetapi meliputi
perdagangan untuk Bumi Putra.

d. Tahun 1942

Pendudukan Jepang berpengaruh pada terhadap keberadaan jawatan koperasi. Saat ini
jawatan koperasi dirubah menjadi SYOMIN KUMLAI TYUO DIMUSYO dan Kantor di
daerah diberi nama SYOMIN KUMLAI DJIMUSYO.

e. Tahun 1944

Didirikan JUMIN KEIZAKYO (Kantor Perekonomian Rakyat) Urusan Koperasi menjadi


bagiannya dengan nama KUMAIKA,tugasnya adalah mengurus segala aspek yang
bersangkutan dengan koperasi.

4. SEJARAH KOPERASI SETELAH INDONESIA MERDEKA

4.1 pertumbuhan Koperasi setelah Kemerdekaan Indonesia

Gerakan koperasi di Indonesia yang lahir pada akhir abad 19 dalam suasana sebagai Negara
jajahan tidak memiliki tidak memiliki suatu iklim yang menguntungkan bagi pertumbuhannya. Baru
kemudian steelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya,dengan tegas perkoperasian ditulis
di dalam UUD 1945. DR.H> Moh Hatta sebagai seorang “Founding Father” Republik Indonesia.
Lalu di dalam pasal 33 UUd 1945 tersebut diatur pula di samping koperasi,juga peranan daripada
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Swasta. Pada
tahun 1946,berdasarkan hasil pendaftaran secara sukarela yang dilakukan Jawatan Koperasi terdpat
2500 buah koperasi. Lalu pada tanggal 12 Juli 1947 diselenggarakan kongres koperasi se-Jawa yang
pertama di Tasikmalaya dalam kongres tersebut diputuskan antara lain terbentuknya Sentral
Organisasi Koperasi Rakyat hingga menjadikan tanggal 12 Juli sebagai Hari Koperasi serta
menganjutkan diselenggarakan pendidikan koperasi di kalangan pengurus, pegawai, dan masyarakat.

Selanjutnya pada tanggal 15 sampai dengan 17 Juli 1953 dilangsukngkan kongres koperasi
Indonesia yang ke II di Bandung. Keputusannya antara lain merubah Sentral Organisasi Koperasi
Rakyat Indonesia (SOKRI) menjadi Dewan Koperasi Indonesia (DKI). Dan pada tanggal 17 Juli 1953
diangkatlah Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia, tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta
mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia. Karena besarnya aktivas
Bung Hatta dalam gerakan koperasi,maka tanggal 17 Juli 1953 beliau diangkat menjadi Bapak
Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia di Bandung.

4.2. Perkembangan Koperasi Pada Masa Ekonomi Demokrasi Terpimpin


Dalam tahun 1959 terjadi suatu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia.
Setelah Konstituante tidak dapat menyelesaikan tugas menyusun Undang-Undang Dasar Baru pada
waktunya, maka pada tanggal 15 Juli 1959 Presiden Soekarno yang juga selaku Panglima Tertinggi
Angkatan Perang mengucapkan Dekrit Presiden yang memuat keputusan dan salahsatu daripadanya
ialah menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
Tanah Tumpah Darah Indonesia, terhitung mulai dari tanggal penetapan dekrit dan tidak berlakunya
lagi Undang-Undang Dasar Sementara.

Pada tanggal 17 Agustus 1959 Presiden Soekarno mengucapkan pidato kenegaraan yang
berjudul “Penemuan Kembali Revolusi Kita”, atau lebih dikenal dengan Manifesto Politik (Manipol).
Dalam pidato itu diuraikan berbagai persoalan pokok dan program umum Revolusi Indonesia yang
bersifat menyeluruh. Dalam tahun 1960 Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.140
tentang penyaluran bahan pokok dan penugasan Koperasi untuk melaksanakannya. Dengan peraturan
ini maka mulai ditumbuhkan koperasi-koperasi konsumsi. Tindakan yang berselang lama yakni
dalam bulan September 1965 terjadi pemberontakkan Gerakan 30 September yang didalangi oleh
Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terpengaruh besar terhadap pengembangan koperasi.
Mengingat dalam UU no.14 tahun 1965 secara tegas memasukkan warna politik ke dalam kehidupan
perkoperasian,maka akibat pemberontakkan G30S/PKI pelaksanaannya perlu di pertimbangkan
kembali. Bahkan segera disusul langkah-langkah memurnikan kembali ke koperasi kepada azas-azas
yang murni dengan cara “deverpolitisering”. Koperasi-koperasi menyelenggarakan rapat anggta
untuk memperbaharui kepengurusan dan Badan Pemeriksaannya. Reorganisasi dilaksanakan secara
menyeluruh untuk memurnikan koperasi di atas azas-azas koperasi yang sebenarnya (murni).

4.3. Perkembangan Koperasi Pada Masa Orde Baru

Semangat Orde Baru yang dimulai titik awalnya 11 Maret 1996 segera setelah itu pada tanggal
18 Desember 1967 telah dilahirkan Undang-unang Koperasi yang baru yakni dikenal dengan UU No.
12/1967 tentang pokok-pokok perkoperasian. Dalam rangka kembali kepada kemurnian pelaksanaan
Undang-undang Dasar 1945,sesuai pula dengan Ketatapn MPRS No. XXIII/MPRS/1966 tentang
Pembaharuan Kebijaksanaan Landasan Ekonomi, Keuangan dan Pembangnan, maka peninjuaian
serta perombakan Undang-undang No.14 tahun 1965 tentang Perkoperasian merupakan suatu
keharusan karena baik isi maupun jiawanya undnag-undang tersebut mengandung hal-hal yang
bertentangan dengan azas-azas pokok,lanndasan kerja serta landasan idiil koperasi, sehingga akan
menghambat kehidupan dan perkembangan serta mengaburkan hakekat koperasi sebagai organisasi
ekonpmi rakyat yang demokratis dan berwatak sosial.
Lalu adanya pelita V kebijakan pembangunan tetap bertumpu pada trilogi pembangunan
dengan menekankan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju terciptanya keadilan sosial
bagi seluruh rakyat di Indonesia, yang disertai pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi serta
stabilitas yang mantap. Ketiga usnur trilogi pembangunan saling mengkait dan sling memperkuat
serta perlu dikembangkan secara selaras,serasi,dan seimbang. Keberhasilan atau kegagalan koperasi
ditentukan oleh keunggulan komparatif koperasi. Hal ini dapat dilihat dalam kemampuan koperasi
berkompetisi memberikan pelayanan kepada anggota dan dalam usahanya tetap hidup dan
berkembang dalam melaksanakan usaha. Pengalaman empiris di mancanegara dan di negeri kita
sendiri menunjukkan bahwa struktur pasar dari usaha koperasi mempengaruhi performance dan
success koperasi (Ismangil, 1989).

4.4. Perkembangan Koperasi Pada Masa Reformasi

Potensi koperasi pada saat ini sudah mampu untuk memulai gerakan koperasi yang otonom,
namun fokus bisnis koperasi harus diarahkan pada ciri universalitas kebutuhan yang tinggi seperti
jasa keuangan,pelayan infrastruktur serta pembelian bersama. Dengan otonomi selain peluang untuk
memanfaatkan potensi setempat juga terdapat potensi benturan yang harus diselesaikan di tingkat
daerah. Pemusatan koperasi di bidang jasa keuangan sangat tepat untuk dilakukan pada tingkat
kabupaten/kota atau kabupaten dan kota agar menjaga arus dana menjadi lebih seimbang dan
memperhatikan kepentingan daerah (masyarakat setempat).

Fungsi pusat koperasi jasa keuangan ini selain menjaga likuiditas juga dapat memainkan peran
pengawasan dan perbaikan manajemen hingga pengembangan sistem asuransi tabungan yang dapat
diintegrasikan dalam sistem asuransi secara nasional. Pendekatan pengembangan koperasi sebagai
instrumen pembangunan terbukti menimbulkan kelemahan dalam menjadikan dirinya sebagai
koperasi yang memegang prinsip-prinsip koperasi dan sebagai badan usaha yang kompetitif.
Reformasi keselambagaan koperasi menuju koperasi dengan jati dirinya akan menjadi agenda
panjang yang harus dilakui oleh koperasi di Indonesia.

Dalam kerangka otonomi daerah perlu penataan lembaga keuangan koperasn (simpan pinjam)
untuk memperkokoh pembiayaan kegiatan ekonomi di lapisan terbawah dan menahan arus ke luar
potensi sumberdaya lokal yang masih diperlukan. Pembenahan ini akan merupakan elemen penting
dalam membangun sistem pembiayaan mikro di tanah air yang merupakan tulang punggung gerakan
pemberdayaan ekonomi rakyat.

5. KOPERASI SYARIAH

Koperasi Syariah mulai diperbincangkan banyak orang ketika menyikapi semaraknya


pertumbuhan Baitul Maal Wattamwil di Indonesia. Baitul Maal Wattamwil yang dikenal dengan
sebutan BMT yang dimotori pertama kalinya oleh BMT Bina Insan Kamil tahun 1992 di Jakarta,
ternyata mampu memberi warna bagi perekonomian kalangan akar rumput yakni para pengusaha
gurem. Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan menyebutkan bahwa segala kegiatan
dalam bentuk penghimpunan dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan menyalurkan dalam
bentuk kredit harus berbentuk Bank (pasal 26).

Maka munculah beberapa LPSM (Lembaga Pengembangan Swadaya Masyarakat) yang


memayungi KSM BMT. LPSM tersebut antara lain: P3UK sebagai penggagas awal, PINBUK dan
FES Dompet Dhuafa Republika. BMT yang memiliki basis kegiatan ekonomi rakyat dengan falsafah
yang sama yaitu dari anggota oleh anggota untuk anggota maka berdasarkan Undang-undang RI
Nomor 25 tahun 1992 tersebut berhak menggunakan badan hukum koperasi, dimana letak
perbedaannya dengan Koperasi Konvensional (nonsyariah) hanya terletak pada teknis operasionalnya
saja, Koperasi Syariah mengharamkan bunga dan mengusung etika moral dengan melihat kaidah halal
dan haram dalam melakukan usahanya. Pada tahun 1994 berdiri sebuah forum komunikasi
(FORKOM) BMT sejabotabek yang beranggotakan BMT-BMT di Jakarta, Bogor, Tangerang dan
Bekasi (Jabotabek). Forum Komunikasi BMT Sejabotabek tersebut sejak tahun 1995 dalam setiap
pertemuan bulanannya, berupaya menggagas sebuah payung hukum bagi anggotanya, maka
tercetuslah ide pendirian BMT dengan badan hukum Koperasi, kendati badan hukum Koperasi yang
dikenakan masih sebatas menggunakan jenis Badan Hukum Koperasi Karyawan Yayasan.

Pada tahun 1998 dari hasil beberapa pertemuan Forkom BMT yang anggotanya sudah
berbadan hukum koperasi terjadi sebuah kesepakatan untuk pendirian sebuah koperasi sekunder
yakni Koperasi Syariah Indonesia (KOSINDO) pada tahun 1998, sebuah koperasi sekunder dengan
keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia Nomor.
028/BH/M.I/XI/1998. yang diketuai DR, H. Ahmat Hatta, MA. Selain KOSINDO berdiri pula
koperasi sekunder lainnya seperti INKOPSYAH (Induk Koperasi Syariah) yang diprakarsai oleh
PINBUK (Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil). ICMI, dan KOFESMID (Koperasi Forum Ekonomi
Syariah Mitra Dompet Dhuafa) yang didirikan oleh Dompet Dhuafa. Republik.

6. SEJARAH DEPARTEMEN KOPERASI DAN UMKM INDONESIA

6.1 Periode Sebelum Kemerdekaan

Koperasi adalah institusi (lembaga) yang tumbuh atas dasar solidaritas tradisional dan
kerjasama antar individu, yang pernah berkembang sejak awal sejarah manusia sampai pada awal
Revolusi Industrial di Eropa pada akhir abad 18 dan selama abad 19, sering disebut sebagai Koperasi
Historis atau Koperasi Pra-Industri. Koperasi Modern didirikan pada akhir abad 18, terutama sebagai
jawaban atas masalah-masalah sosial yang timbul selama tahap awal Revolusi Industri. Di Indonesia,
ide-ide perkoperasian diperkenalkan pertama kali oleh Patih di Purwokerto, Jawa Tengah, R. Aria
Wiraatmadja yang pada tahun 1896 mendirikan sebuah Bank untuk Pegawai Negeri. Cita-cita
semangat tersebut selanjutnya diteruskan oleh De Wolffvan Westerrode. Pada tahun 1908, Budi
Utomo yang didirikan oleh Dr. Sutomo memberikan peranan bagi gerakan koperasi untuk
memperbaiki kehidupan rakyat. Pada tahun 1915 dibuat peraturan Verordening op de Cooperatieve
Vereeniging , dan pada tahun 1927 Regeling Inlandschhe Cooperatiev.

Pada tahun 1927 dibentuk Serikat Dagang Islam, yang bertujuan untuk memperjuangkan
kedudukan ekonomi pengusah-pengusaha pribumi. Kemudian pada tahun 1929, berdiri Partai
Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat koperasi. Hingga saat ini
kepedulian pemerintah terhadap keberadaan koperasi nampak jelas dengan membentuk lembaga yang
secara khusus menangani pembinaan dan pengembangan koperasi. Kronologis Lembaga yang
Menangani Pembinaan Koperasi Pada Saat itu Adalah Sebagai

a. Tahun 1930. Pemerintah Hindia Belanda membentuk Jawatan Koperasi yang


keberadaannya dibawah Departemen Dalam Negeri, dan diberi tugas untuk melakukan
pendaftaran dan pengesahan koperasi, tugas ini sebelumnya dilakukan oleh Notaris.

b. Tahun 1935. Jawatan Koperasi dipindahkan ke Departemen Economische Zaken,


dimasukkan dalam usaha hukum ( Bafdeeling Algemeen Economische
Aanglegenheden). Pimpinan Jawatan Koperasi diangkat menjadi Penasehat.

c. Tahun 1939. Jawatan Koperasi dipisahkan dari Afdeeling Algemeene Aanglegenheden ke


Departemen Perdagangan Dalam Negeri menjadi Afdeeling Coperatie en Binnenlandsche
Handel . Tugasnya tidak hanya memberi bimbingan dan penerangan tentang koperasi tetapi
meliputi perdagangan untuk Bumi Putra.

d. Tahun 1942. Pendudukan Jepang berpengaruh pula terhadap keberadaan jawatan koperasi.
Saat ini jawatan koperasi dirubah menjadi SYOMIN KUMIAI TYUO DJIMUSYO dan
Kantor di daerah diberi nama SYOMIN KUMIAI DJIMUSYO.

e. Tahun 1944. Didirikan JUMIN KEIZAIKYO (Kantor Perekonomian Rakyat) Urusan


Koperasi menjadi bagiannya dengan nama KUMAIKA, tugasnya adalah mengurus segala
aspek yang bersangkutan dengan Koperasi.

6.2 Periode Setelah Kemerdekaan

a. Tahun 1945. Koperasi masuk dalam tugas Jawatan Koperasi serta Perdagangan Dalam
Negeri dibawah Kementerian Kemakmuran.
b. Tahun 1946.Urusan Perdagangan Dalam Negeri dimasukkan pada Jawatan Perdagangan,
sedangkan Jawatan Koperasi berdiri sendiri mengurus soal koperasi.

c. Tahun 1947-1948. Jawatan Koperasi dibawah pimpinan R. Suria Atmadja, pada masa ini
ada suatu peristiwa yang cukup penting yaitu tanggal 12 Juli 1947, Gerakan Koperasi
mengadakan Kongres di Tasikmalaya dan hasil Kongres menetapkan bahwa tanggal 12
Juli dinyatakan sebagai Hari Koperasi.

d. Tahun 1949. Pusat Jawatan Koperasi RIS berada di Yogyakarta, tugasnya adalah
mengadakan kontak dengan jawatan koperasi di beberapa daerah lainnya. Tugas pokok
yang dihasilkan telah melebur Bank dan Lumbung Desa dialihkan kepada Koperasi. Pada
tahun yang sama yang diundangkan dengan Regeling Cooperatieve 1949 Ordinasi 7 Juli
1949 (SBT. No. 179).

e. Tahun 1950. Jawatan Koperasi RI yang berkedudukan di Yogyakarta digabungkan dengan


Jawatan Koperasi RIS, bekedudukan di Jakarta.

f. Tahun 1954. Pembina Koperasi masih tetap diperlukan oleh Jawatan Koperasi dibawah
pimpinan oleh Rusli Rahim.

g. Tahun 1958. Jawatan Koperasi menjadi bagian dari Kementerian Kemakmuran.

h. Tahun 1960. Perkoperasian dikelola oleh Menteri Transmigrasi Koperasi dan


Pembangunan Masyarakat Desa (TRANSKOPEMADA), dibawah pimpinan seorang
Menteri yang dijabat oleh Achmadi.

i. Tahun 1963. Transkopemada diubah menjadi Departemen Koperasi dan tetap dibawah
pimpinan Menteri Achmadi.

j. Tahun 1964. Departemen Koperasi diubah menjadi Departemen Transmigrasi dan


Koperasi dibawah pimpinan Menteri Achmadi kemudian diganti oleh Drs. Achadi, dan
Direktur Koperasi dibawah pimpinan seorang Direktur Jenderal yang bernama Chodewi
Amin.

6.3 Periode Tahun 1966-2004

a. 1966. Dalam tahun 1966 Departemen Koperasi kembali berdiri sendiri, dan dipimpin
oleh Pang Suparto. Pada tahun yang sama, Departemen Koperasi dirubah menjadi
Kementerian Perdagangan dan Koperasi dibawah pimpinan Prof. Dr. Sumitro
Djojohadikusumo, sedangkan Direktur Jenderal Koperasi dijabat oleh Ir. Ibnoe
Soedjono (dari tahun 1960 s/d 1966).
b. 1967. Pada tahun 1967 diberlakukan Undang-undang Nomor 12 Tahun 1967 tentang
Pokok-pokok Perkoperasian tanggal 18 Desember 1967. Koperasi masuk dalam
jajaran Departemen Dalam Negeri dengan status Direktorat Jenderal. Mendagri dijabat
oleh Basuki Rachmad, dan menjabat sebagai Dirjen Koperasi adalah Ir. Ibnoe
Soedjono.

c. 1968. Kedudukan Direktorat Jenderal Koperasi dilepas dari Departemen Dalam


Negeri, digabungkan kedalam jajaran Departemen Transmigrasi dan Koperasi,
ditetapkan berdasarkan:

 Keputusan Presiden Nomor 183 Tahun 1968 tentang Susunan Organisasi


Departemen.

 Keputusan Menteri Transmigrasi dan Koperasi Nomor 120/KTS/ Mentranskop /


1969 tentang Kedudukan Tugas Pokok dan Fungsi Susunan Organisasi berserta
Tata Kerja Direktorat Jenderal Koperasi. Menjabat sebagai Menteri Transkop
adalah M. Sarbini, sedangkan Dirjen Koperasi tetap Ir. Ibnoe Soedjono.

d. 1974. Direktorat Jenderal Koperasi kembali mengalami perubahan yaitu digabung


kedalam jajaran Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi, yang
ditetapkan berdasarkan:

1. Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi


Departemen Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi.

2. Instruksi Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Nomor :


INS19/MEN/1974, tentang Susunan Organisasi Direktorat Jenderal Koperasi
tidak ada perubahan (tetap memberlakukan Keputusan Menteri Transmigrasi
Nomor :120/KPTS/Mentranskop/1969) yang berisi penetapan tentang Susunan
Organisasi Direktorat Jenderal Koperasi. Menjabat sebagai Menteri adalah
Prof. DR. Subroto, adapun Dirjen Koperasi tetap Ir. Ibnoe Soedjono.

e. 1978. Direktorat Jenderal Koperasi masuk dalam Departemen Perdagangan dan


Koperasi, dengan Drs. Radius Prawiro sebagai Menterinya. Untuk memperkuat
kedudukan koperasi dibentuk puia Menteri Muda Urusan Koperasi, yang dipimpin
oleh Bustanil Arifin, SH. Sedangkan Dirjen Koperasi dijabat oleh Prof. DR. Ir.
Soedjanadi Ronodiwiryo.

f. 1983. Dengan berkembangnya usaha koperasi dan kompleksnya masalah yang


dihadapi dan ditanggulangi, koperasi melangkah maju di berbagai bidang dengan
memperkuat kedudukan dalam pembangunan, maka pada Kabinet Pembangunan IV
Direktorat Jenderal Koperasi ditetapkan menjadi Departemen Koperasi, melalui
Keputusan Presiden Nomor 20 Tahun 1983, tanggal 23 April 1983.

g. 1991. Melalui Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 1991, tanggal 10 September 1991
terjadi perubahan susunan organisasi Departemen Koperasi yang disesuaikan keadaan
dan kebutuhan.

h. 1992. Diberlakukan Undang-undang Nomor: 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,


selanjutnya mancabut dan tidak berlakunya lagi Undang-undang Nomor: 12 Tahun
1967 tentang Pokok-pokok Perkoperasian.

i. 1993. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 96 Tahun 1993, tentang Kabinet


Pembangunan VI dan Keppres Nomor 58 Tahun 1993, telah terjadi perubahan nama
Departemen Koperasi menjadi Departemen Koperasi dan Pembinaan Pengusaha
Kecil. Tugas Departemen Koperasi menjadi bertambah dengan membina Pengusaha
Kecil. Hal ini merupakan perubahan yang strategis dan mendasar, karena secara
fundamental golongan ekonomi kecil sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan dan
harus ditangani secara mendasar mengingat yang perekonomian tidak terbatas hanya
pada pembinaan perkoperasian saja.

j. 1996. Dengan adanya perkembangan dan tuntutan di lapangan, maka diadakan


peninjauan kembali susunan organisasi Departemen Koperasi dan Pembinaan
Pengusaha Kecil, khususnya pada unit operasional, yaitu Ditjen Pembinaan Koperasi
Perkotaan, Ditjen Pembinaan Koperasi Pedesaan, Ditjen Pembinaan Pengusaha Kecil.
Untuk mengantisipasi hal tersebut telah diadakan perubahan dan penyempurnaan
susunan organisasi serta menomenklaturkannya, agar secara optimal dapat
menampung seluruh kegiatan dan tugas yang belum tertampung.

k. 1998. Dengan terbentuknya Kabinet Pembangunan VII berdasarkan Keputusan


Presiden Republik Indonesia Nomor : 62 Tahun 1998, tanggal 14 Maret 1998, dan
Keppres Nomor 102 Thun 1998 telah terjadi penyempurnaan nama Departemen
Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil menjadi Departemen Koperasi dan
Pengusaha Kecil, hal ini merupakan penyempurnaan yang kritis dan strategis karena
kesiapan untuk melaksanakan reformasi ekonomi dan keuangan dalam mengatasi
masa krisis saat itu serta menyiapkan landasan yang kokoh, kuat bagi Koperasi dan
Pengusaha Kecil dalam memasuki persaingan bebas/era globalisasi yang penuh
tantangan.
l. 1999. Melalui Keppres Nomor 134 Tahun 1999 tanggal 10 November 1999 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara, maka
Departemen Koperasi dan PK diubah menjadi Menteri Negara Koperasi dan
Pengusaha Kecil dan Menengah.

m. 2000.

a) Berdasarkan Keppres Nomor 51 Tahun 2000 tanggal 7 April 2000, maka


ditetapkan Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi dan Pengusaha Kecil
Menengah.

b) Melalui Keppres Nomor 166 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Pemerintah Non Departemen. maka dibentuk Badan Pengembangan
Sumber Daya Koperasi dan Pegusaha Kecil dan Menengah (BPS-KPKM).

c) Berdasarkan Keppres Nomor 163 Tahun 2000 tanggal 23 November 2000


tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan
Tata Kerja Menteri Negara, maka Menteri Negara Koperasi dan PKM diubah
menjadi Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah.

d) Melalui Keppres Nomor 175 Tahun 2000 tanggal 15 Desember 2000 tentang
Susunan Organisasi dan Tugas Menteri Negara, maka Menteri Negara Urusan
Koperasi dan UKM diubah menjadi Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil
dan Menengah.

n. 2001.

a) Melalui Keppres Nomor 101 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Menteri Negara, maka dikukuhkan kembali Menteri Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah.

b) Berdasarkan Keppres Nomor 103 Tahun 2001 tanggal 13 September 2001 tentang
Kedudukan, Tugas, Fungsi, Kewenangan, usunan Organisasi dan Tata Kerja
Lembaga Non Pemerintah, maka Badan Pengembangan Sumber Daya Koperasi dan
Pengusaha Kecil Menengah dibubarkan.

c) Melalui Keppres Nomor 108 Tahun 2001 tanggal 10 Oktober 2001 tentang Unit
Organisasi dan Tugas Eselon I Menteri Negara, maka Menteri Negara Koperasi dan
UKM ditetapkan membawahi Setmeneg, Tujuh Deputi, dan Lima Staf Ahli.
Susunan ini berlaku hingga tahun 2004 sekarang ini.

6.4 Tugas dan Fungsi Kementrian Koperasi dan UMKM Indonesia:

Tugas dan fungsi Kementerian Koperasi dan UKM telah ditetapkan dalam Peraturan Presiden
Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan Kementerian Negara Serta Susunan Organisasi, Tugas,
Dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara pasal 552, 553 dan 554, yaitu: Kementerian Koperasi dan
Usaha Kecil dan Menengah mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang koperasi dan
usaha kecil dan menengah dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan
pemerintahan negara. Dalam menjalankan tugas, Kementrian Koperasi dan UMKM
menyelenggarakan fungsi:

1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang koperasi dan usaha mikro, kecil dan
menengah;

2. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang koperasi dan usaha


mikro, kecil dan menengah;

3. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab


Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah;

4. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Koperasi dan Usaha


Kecil dan Menengah; dan

5. Penyelenggaraan fungsi teknis pelaksanaan pemberdayaan koperasi, usaha mikro,


kecil dan menengah sesuai dengan undang-undang di bidang koperasi, usaha mikro,
kecil dan menengah.
DAFTAR PUSTAKA