Anda di halaman 1dari 15

Dafa Zenobia

1102019051
PBL SK 3 Langkah 2
MEDICAL CHECK UP
Sasbel
1. MM Tujuan Pemeriksaan Lab
2. MM Jenis – jenis Pemeriksaan Lab
3. MM Tahapan Pemeriksaan Lab
4. MM Tahapan Pra-Analitik
5. MM Medical Check-Up Geriatri
5.1 Definisi
5.2 Tujuan
5.3 Jenis
5.4 Persiapan
5.5 Tahapan
5.6 Faktor yang Mempengaruhi

1. MM Tujuan Pemeriksaan Lab


Manfaat tujuan pemeriksaan laboratorium salah satunya adalah digunakan untuk menegakkan
diagnosa penyakit dan juga memantau perkembangan pengobatan terhadap suatu jenis
penyakit tertentu melalui pemeriksaan yang diperlukan. Karena memang untuk bisa
menegakkan diagnosa penyakit diperlukan beberapa media pemeriksaan baik itu hasil
anamnese medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologi (rontgen) dan juga laboratorium
pula. Sampel lab bisa diambil dari pasien berupa darah, sputum, air kencing (urine), dan
sebagainya.

Yang dimaksud dengan pengertian pemeriksaan laboratorium adalah merupakan suatu


tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari
penderita (pasien), yang bisa berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), dan
sebagainya untuk menentukan diagnosis atau membantu menentukan diagnosis penyakit
bersama dengan tes penunjang lainya, anamnesis, dan pemeriksaan lainnya yang diperlukan.
Ada beberapa tujuan dan manfaat dari pemeriksaan darah maupun pemeriksaan laboratorium
lainnya yaitu diantaranya :

1. Pemeriksaan Penunjang dalam menegakkan diagnosis penyakit.


2. Menemukan kemungkinan diagnostik yang dapat menyamarkan gejala klinis.
3. Membantu pemantauan pengobatan dan juga pemberian obat.
4. Memantau perkembangan penyakit pasien.
5. Skrining/uji saring adanya penyakit subklinis yang mungkin menyertai.
6. Menyediakan informasi prognostik atau perjalanan sebuah penyakit.

2. MM Jenis – jenis Pemeriksaan Lab


1. Kimia Klinik. Pemeriksaan lab dalam bagian kimia klinik ini mempunyai tujuan
mendeteksi awal adanya infeksi virus, memperkirakan status imun seseorang dan juga
dapat digunakan dalam rangka pemantauan respon pasca vaksinasi.

2. Hematologi. Pemeriksaan darah hematologi ini adalah bagian dari penilaian


komponen sel darah secara lebih lengkap, yang bertujuan dan bermanfaat dalam
rangka mengetahui adanya kelainan darah seperti anemia ( kurang darah ), adanya
infeksi atau kelainan sel darah putih yang lain, alergi dan gangguan pembekuan darah
akibat kelainan jumlah trombosit. Pemeriksaan meliputi keseluruhan darah dan
plasma. Mereka melakukan perhitungan darah dan selaput darah

3. Imunologi. Pemeriksaan imunologo darah ini bertujuan untuk mendeteksi awal


adanya infeksi virus, mempekirakan status imun dan juga menguji antibodi pada diri
seseorang yang akan diperiksa terkait dengan penyakit yang sedang dialami.

4. Mikrobiologi. Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikrobiologi adalah pemeriksaan


lab terhadap sampel darah, urin , feses , serta sekret dan kerokan kulit yang dapat
dilakukan melalui pemeriksaan mikroskopis, pengecatan maupun pembiakan.

5. Patologi. Adalah merupakan jenis pemeriksaan bedah menguji organ, ekstremitas,


tumor, janin, dan jaringan lain yang dibiopsi pada bedah seperti masektomi payudara.

6. Sitologi. Adalah jenis pemeriksaan untuk menguji usapan sel (seperti dari mulut
rahim) untuk membuktikan kanker dan lain-lain.

7. Serologi. Menerima sampel serum untuk mencari bukti penyakit seperti Hepatitis
atau HIV AIDS.

8. PCR (Polimerase Chain Reaction). Merupakan pemeriksaan dengan menggunakan


teknologi amplifikasi asam nukleat virus, untuk mengetahui ada tidaknya virus / DNA
virus, untuk memperkirakan jumlah virus dalam tubuh, untuk mengetahui jenis virus (
genotipe atau subgenotipe ) yang menginfeksi.

3. MM Tahapan Pemeriksaan Lab


Dalam proses pemeriksaan laboratorium ada 3 tahapan penting, yaitu:
1) Pra analitik, tahap-tahap pemeriksaan pra analitik meliputi :
a. Persiapan pasien
b. Pemberian identitas spesimen
c. Pengambilan spesimen
d. Pengolahan spesimen
e. Penyimpanan spesimen
f. Pengiriman spesimen ke laboratorium
2) Analitik, tahap-tahap pemeriksaan analitik meliputi:
kegiatan pemeliharaan/kalibrasi alat, pelaksanaan pemeriksaan, pengawasan ketelitian dan
ketepatan.
3) Pasca Analitik, tahap-tahap pemeriksaan pasca analitik meliputi:
kegiatan pencatatan hasil pemeriksaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan.
Dibagi dalam 3 tahap,yaitu:
1.Tahap pra analitik
2.Tahap analitik
3.tahap pasca analitik
Agar pemeriksaan laboratorium mendapatkan hasil yang bermutu baik maka ketiga tahap
tersebut harus dilakukan sesuai dengan prosedur
1.TAHAP PRA ANALITIK
Dimulai ketika dokter memutuskan untuk meminta pemeriksaan laboratorium,dokter akan
menjelaskan kepada pasien pemeriksaan apa yang dilakukan,apa manfaatnya dan
bagaimana mempersiapkan diri untuk pelaksanaan pemeriksaan tersebut
Tahap pra analitik meliputi :
A.persiapan pasien
B.pengambilan sampel
C.penampung sampel
D.penyimpanan sampel
E.pengiriman sampel
A.persiapan pasien
Pemeriksaan laboratorium yang terencana,terbaik dilakukan pagi hari karena keadaan
tubuh pasien belum dipengaruhu oleh makanan,aktifitas fisik,dan mental.
Faktor yang mempengaruhi variasi hasil pemeriksaan laboratorium:
1. Makanan : kerena terjadi peningkatan volume plasma.penurunan Hb.
2. Merokok : meningkatkan jumlah eritrosit,leukosit,dan Hb.
3. Kehamilan : pengenceran darah (hemodelusi)
4. Penggunaan obat : menurunkan jumlah eosinofil,limfosit dan meningkatkan
netrofil
5. Donor darah : merubah susunan darah
6. Variasi diurnal : hasil eosinofil lebih rendah
7. Exercise (aktifitas fisik) : hemoglobinemia (menurunkan jumlah eritrosit).

B.pengambilan sampel
 Sebelum pasien diambil darah dipersiapkan dan disediakan alat dan bahan
pengambilan darah selain itu dipersiapkan formulir permintaan laboratorium yang
telah diisi lengkap meliputi:

 Nama lengkap

 Nomor medical record

 Ruang perawatan

 Tanggal dan jam pengambilan

 Nama dokter yang memita

 Jenis pemeriksaan yang dilakukan.

Pada pengambilan darah harus diperhatikan posisi pasien,bendungan,letak


vena,penggunaan desinfektan,ukuran jarum dan spuit,penampung dan labeling.
Hal-hal yang harus dihindarkan pada waktu pengambilan darah:
1. Hemokonsentrasi
2. Hematoma
3. hemodilusi
4. hemolisis
5. mikrotrombi (pembekuan parsial)

C.penampungan sampel
Penampung sampel bisa terbuat dari plastik atau kaca,apapun bahannya penampung harus
bersih,kering,dan harus steril bila sampel darahnya akan dibiakkan.sampel darah dapat
diambil dengan spuit atau tabung hampa.bila perlu darah dicampur dengan
antikoagulan.Bila menggunakan tabung vacum tutup tabung diberikan warna tertentu untuk
menunjukan bahan yang dicampurkan ke dalam sampel darah didalamnya
1. warna putih = tanpa adiktif (steril)
2. warna merah = clot activator (beku)
3. warna kelabu = NAF
4. warna hijau = heparin
5. warna biru = Na Sitrat
6. warna ungu = EDTA
D.penyimpanan bahan
Apabila suatu sampel ditunda pemeriksaannya,maka perlu dilakukan penyimpanan sesuai
prosedur.
E.Pengiriman bahan
Sampel yang sudah diambil yang akan dikirim ke laboratorium lain (dirujuk)harus
dilengkapi folmulir permintaan yang telah diisi lengkap,jam pengambilan,jam
penerimaan.Selain itu penampung harus tertutup rapat agar tidak terkontaminasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menerima sampel darah harus memenuhi syarat
sbb:
1. Apakah penampung sudah melewati kadaluarsa
2. Apakah label masih ada dan dalam keadaan baik
3. Apakah darah yang diperoleh telah rusak selama pengiriman
4. Apakah bahan pemeriksaan mengalami hemolisa
5. Apakah terdapat bekuan pada darah
6. Apakah pengiriman bahan memenuhi syarat suhu,dan lamanya penundaan
pemeriksaan yang dapat mengakibatkan hasil tidak sesuai
7. Apakah volume bahan pemeriksaan sesuai dengan volume yang seharusnya
8. Apakah antikoagulan yang dipakai telah sesuai

2.TAHAP ANALITIK
Tahap ini sepenuhnya berada dalam laboratorium tempat dilaksanakan pemeriksaan.tahap
ini sepenuhnya tanggung jawab pihak laboratorium.tahap ini terdiri dari :
1.pengolahan sampel
2.alat
3.reagen
4.Bahan pendukung
5.Quality control

3. TAHAP PASCA ANALITIK


Tahap ini ada bagian Kegiatan yang berada di dalam laboratorium dan ada juga yang
diluar laboratorium. tahap kegiatan ini meliputi:
A.pencatatan hasil
B.pengolahan hasil
C.penyimpanan hasil

Terkait dengan hasil pemeriksaan laboratorium,Selain hasilnya diharapkan cepat


diperoleh,juga harus bermutu baik.2 indikator yang digunakan yaitu:
A.ketelitian(presisi)
Hasil pemeriksaan pada sebuah sampel,apabila diulangi pemeriksaannya,hasilnya harus
sama atau berdekatan dengan hasil sebelumnya.
B.ketepatan hasil (akurasi)
Hasil pemeriksaan yang diperoleh harus tepat atau berdekatan dengan nilai sebenarnya.

Kedua indikator tersebut terpenuhi bila ketiga tahap pemeriksaan laboratorium terlaksana
dengan baik.

4. MM Tahapan Pra-Analitik
Dimulai ketika dokter memutuskan untuk meminta pemeriksaan laboratorium,dokter akan
menjelaskan kepada pasien pemeriksaan apa yang dilakukan,apa manfaatnya dan
bagaimana mempersiapkan diri untuk pelaksanaan pemeriksaan tersebut
Tahap pra analitik meliputi :
A.persiapan pasien
B.pengambilan sampel
C.penampung sampel
D.penyimpanan sampel
E.pengiriman sampel
A.persiapan pasien
Pemeriksaan laboratorium yang terencana,terbaik dilakukan pagi hari karena keadaan
tubuh pasien belum dipengaruhu oleh makanan,aktifitas fisik,dan mental.
Faktor yang mempengaruhi variasi hasil pemeriksaan laboratorium:
8. Makanan : kerena terjadi peningkatan volume plasma.penurunan Hb.
9. Merokok : meningkatkan jumlah eritrosit,leukosit,dan Hb.
10. Kehamilan : pengenceran darah (hemodelusi)
11. Penggunaan obat : menurunkan jumlah eosinofil,limfosit dan meningkatkan
netrofil
12. Donor darah : merubah susunan darah
13. Variasi diurnal : hasil eosinofil lebih rendah
14. Exercise (aktifitas fisik) : hemoglobinemia (menurunkan jumlah eritrosit).
B.pengambilan sampel
 Sebelum pasien diambil darah dipersiapkan dan disediakan alat dan bahan
pengambilan darah selain itu dipersiapkan formulir permintaan laboratorium yang
telah diisi lengkap meliputi:

 Nama lengkap

 Nomor medical record

 Ruang perawatan

 Tanggal dan jam pengambilan

 Nama dokter yang memita

 Jenis pemeriksaan yang dilakukan.

Pada pengambilan darah harus diperhatikan posisi pasien,bendungan,letak


vena,penggunaan desinfektan,ukuran jarum dan spuit,penampung dan labeling.
Hal-hal yang harus dihindarkan pada waktu pengambilan darah:
6. Hemokonsentrasi
7. Hematoma
8. hemodilusi
9. hemolisis
10. mikrotrombi (pembekuan parsial)

C.penampungan sampel
Penampung sampel bisa terbuat dari plastik atau kaca,apapun bahannya penampung harus
bersih,kering,dan harus steril bila sampel darahnya akan dibiakkan.sampel darah dapat
diambil dengan spuit atau tabung hampa.bila perlu darah dicampur dengan
antikoagulan.Bila menggunakan tabung vacum tutup tabung diberikan warna tertentu untuk
menunjukan bahan yang dicampurkan ke dalam sampel darah didalamnya
7. warna putih = tanpa adiktif (steril)
8. warna merah = clot activator (beku)
9. warna kelabu = NAF
10. warna hijau = heparin
11. warna biru = Na Sitrat
12. warna ungu = EDTA

D.penyimpanan bahan
Apabila suatu sampel ditunda pemeriksaannya,maka perlu dilakukan penyimpanan sesuai
prosedur.
E.Pengiriman bahan
Sampel yang sudah diambil yang akan dikirim ke laboratorium lain (dirujuk)harus
dilengkapi folmulir permintaan yang telah diisi lengkap,jam pengambilan,jam
penerimaan.Selain itu penampung harus tertutup rapat agar tidak terkontaminasi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum menerima sampel darah harus memenuhi syarat
sbb:
9. Apakah penampung sudah melewati kadaluarsa
10. Apakah label masih ada dan dalam keadaan baik
11. Apakah darah yang diperoleh telah rusak selama pengiriman
12. Apakah bahan pemeriksaan mengalami hemolisa
13. Apakah terdapat bekuan pada darah
14. Apakah pengiriman bahan memenuhi syarat suhu,dan lamanya penundaan
pemeriksaan yang dapat mengakibatkan hasil tidak sesuai
15. Apakah volume bahan pemeriksaan sesuai dengan volume yang seharusnya
16. Apakah antikoagulan yang dipakai telah sesuai

5. MM Medical Check-Up Geriatri


5.1 Definisi
Geriatri adalah cabang ilmu kedokteran dengan fokus pada penuaan dini dan tatalaksana
penyakit terkait usia lanjut. Proses menua mengakibatkan penurunan fungsi sistem organ
seperti sistem sensorik, saraf pusat, pencernaan, kardiovaskular, dan sistem respirasi. Selain itu
terjadi pula perubahan komposisi tubuh, yaitu penurunan masa otot, peningkatan masa dan
sentralisasi lemak, serta peningkatan lemak intramuskular. Masalah yang sering dijumpai pada
pasien geriatri adalah sindrom geriatri yang meliputi: imobilisasi, instabilitas, inkontinensia,
insomnia, depresi, infeksi, defisiensi imun, gangguan pendengaran dan penglihatan, gangguan
intelektual, kolon irritable, impecunity, dan impotensi. Di masa yang akan datang diperlukan
tempat rawat jalan terpadu dan perawatan kasus akut geriatri di rumah sakit di seluruh
Indonesia. Program lainnya adalah nutrisi usia lanjut, tempat istirahat sementara, layanan
psiko-geriatri dan dementia care, dukungan care giver, pencegahan penyakit kronis dan
konseling, serta menyiapkan moda transportasi yang sesuai.
5.2 Tujuan
Proses penuaan membuat kelompok lansia cenderung lebih rentan terhadap beragam penyakit
degeneratif. Itu sebabnya, Lansia penting untuk mendeteksi penyakit-penyakit degeneratif ini
secara dini agar lansia bisa mendapatkan penanganan medis yang optimal. Beberapa penyakit
degeneratif yang cukup banyak ditemukan pada lansia adalah diabetes mellitus, hipertensi,
hingga penyakit sereberovaskular. Kemampuan fungsi beberapa organ penting seperti ginjal,
hati, maupun jantung juga dapat mengalami penurunan pada lansia. Permasalahan lain yang
cukup banyak ditemukan pada lansia adalah demensia. Penyakit-penyakit ini bisa saja tidak
terdeteksi dan tertangani dalam waktu lama. Bila terabaikan, penyakit-penyakit ini dapat
memunculkan masalah kesehatan yang lebih berat pada lansia di kemudian hari. Penyakit-
penyakit degeneratif hingga permasalahan kesehatan lain pada lansia bisa terdeteksi lebih dini
melalui pemeriksaan kesehatan MCU geriatri. Bila terdeteksi lebih dini, masalah kesehatan
pada lansia juga bisa mendapatkan penanganan yang lebih cepat. MCU geriatri pada dasarnya
melakukan beragam rangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh seperti MCU biasa. Yang
membedakan, pertanyaan dan pemeriksaan yang dilakukan dalam MCU geriatri tak hanya
menyasar masalah kesehatan umum tetapi juga kepada masalah kesehatan yang lebih spesifik
dan banyak ditemukan pada lansia. Misalnya penilaian atau pemeriksaan terhadap risiko
demensia, gangguan keseimbangan, hingga gangguan buang air kecil.

5.3 Jenis
1. Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
1. Inspeksi
Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat .
Langkah kerja :
 Atur pencahayaan yang cukup
 Atur suhu dan suasana ruangan nyaman
 Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien
 Buka bagian yang diperiksa
 Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku, ekspresi, penanmpilan umum,
pakainan, postur tubuh, dan gerakan dengan waktu cukup.
 Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu bandingkan bagian sisi tubuh
pasien.

2. Palpasi
Adalah pemeriksaan dengan perabaan, menggunakan rasa propioseptif ujung jari
dan tangan.
Cara kerja :
 Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi
 Cuci tangan
 Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya
 Yakinkan tangan hangat tidak dingin
 Lakukan perabaan secara sistematis , untuk menentukan ukuran, bentuk,
konsistensi dan permukaan :
 Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran
 Jari 2,3,4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda
 Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran
 Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit

3. Perkusi
Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara
perantara jari tangan, untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam tubuh.
Cara Kerja :
 Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan
 Luruskan jari tengah kiri , dengan ujung jari tekan pada permukaan yang
akan diperkusi.
 Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri, dengan
lentur dan cepat, dengan menggunakan pergerakan pergelangan tangan.
 Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.

4. Auskultasi
Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan menggunakan alat
STETOSKOP.

STETOSKOP
Bagian-bagian stetoskop :
 Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga
 Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada rendah
 Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi dengan
nada tinggi.
Cara Kerja:
a. Ciptakan suasana tenang dan aman
b. Pasang Ear piece pada telinga
c. Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar
d. Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat

 Tekanan Darah. Lansia sebaiknya memeriksa tekanan darah setiap ada kesempatan,
bahkan jangan menunggu sampai setahun. Saat ini bahkan tersedia alat praktis yang
bisa digunakan untuk tes tekanan darah secara mandiri di rumah. Apabila kamu
mengalami diabetes, penyakit jantung, penyakit hati, atau penyakit lainnya, kamu wajib
memeriksakan tekanan darah secara rutin.

 DEXA Scan. Pindai DEXA melalui rontgen atau sinar-X bermanfaat untuk meninjau
kepadatan tulang. Melalui pemeriksaan ini, kamu dapat melihat risiko patah tulang,
osteoporosis, atau masalah lainnya yang berkaitan dengan kesehatan tulang. Semakin
bertambah usia, jaringan tulang akan melemah dan tulang juga tidak menyerap mineral
dengan baik.

 Berat Badan. Naik atau turunnya berat badan secara drastis bisa menandakan kondisi
medis tertentu. Berat badan bertambah bisa berarti retensi cairan (edema), penyakit
ginjal, hati, atau jantung. Sementara itu, berat badan turun dapat berarti infeksi atau
kanker.

 Pemeriksaan Darah. Usahakan untuk selalu melakukan cek darah lengkap setiap
tahun. Mulai dari sel-sel darah, gula darah, kolesterol, kadar hormon, hingga kadar
elektrolit.

 Pemeriksan EKG. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk mengecek aktivitas elektrik


jantung. Dari pemeriksaan ini, kamu dapat memantau kesehatan jantung. Sebaiknya
pemeriksaan EKG dilakukan kira-kira 3 tahun sekali. Namun, jika kamu memiliki
penyakit jantung atau keluhan berkaitan dengan penyakit jantung, sebaiknya lebih
sering lagi memeriksakan diri.

 Kolonoskopi. Untuk mencegah gangguan pencernaan atau kanker usus, lakukan


pemeriksaan kolonoskopi. Sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan kira-kira setiap 2
tahun sekali. Apabila saat ini kamu memiliki masalah pencernaan, sebaiknya lakukan
kolonoskopi.

 Tes Mata. Proses penuaan memengaruhi kesehatan mata. Salah satu keluhan yang
sering diadukan lansia adalah penglihatan berkurang atau hilang. Penyebabnya
kemungkinan mata plus, glaukoma, atau katarak. Maka dari itu, sebisa mungkin
lakukan pemeriksaan mata secara rutin jika kamu mengalami gejala tertentu.

5.4 Persiapan

 Perhatikan jika Anda pernah mengalami suatu keluhan atau hal-hal yang tidak
semestinya. Misalnya, perubahan siklus haid, perubahan bentuk tubuh, adanya
benjolan, atau perubahan kulit. Catat seluruhnya, lalu sampaikan ke dokter.
 Jangan remehkan keadaan seperti pusing, lelah, dan pola makan yang berubah. Hal ini
bisa menjadi tanda bahwa Anda mengalami sesuatu yang berhubungan dengan
kesehatan.
 Jika Anda mengalami sulit tidur, kegelisahan, depresi, atau trauma, sampaikan juga ke
dokter yang akan melakukan check up.
 Mengingat kembali riwayat kesehatan keluarga. Jika ada anggota keluarga yang
mengalami penyakit seperti stroke, penyakit jantung, diabetes, atau kanker, bersiaplah
untuk menyampaikan pada dokter Anda. Tujuannya agar dokter memeriksa tingkat
risiko tersebut pada Anda.
 Periksa kembali jadwal pemeriksaan kesehatan Anda. Mungkin saja Anda sudah
waktunya melakukan pemeriksaan ulang untuk pap smear, mammogram, skrining
penyakit lain atau vaksinasi.
 Perhatikan juga obat yang sedang atau pernah Anda konsumsi jika dalam masa
penyembuhan suatu penyakit. Sampaikan pada dokter agar pemeriksaan medical
check up nanti dokter sudah memiliki data lengkap.
 Bila memungkinkan, cari tahu mengenai pemeriksaan yang akan dilakukan pada
medical check up, beberapa pemeriksaan mungkin memerlukan Anda untuk berpuasa
selama 8 hingga 12 jam sebelum pemeriksaan dilakukan, seperti pemeriksaan
kolesterol dan gula darah.
 Catat semua hal itu agar Anda tidak lupa menyampaikannya ketika sudah bertemu
dengan dokter.
 Siapkan berbagai pertanyaan yang ingin Anda sampaikan. Catat agar tidak lupa.

Biasanya, Anda akan diminta untuk berpuasa dalam jangka waktu tertentu, sebelum
menghadapi medical check up. Selain itu, ada baiknya Anda membuat daftar yang
berisi informasi tentang hal-hal berikut ini, jika Ada.

 Penyebab alergi
 Pengobatan yang sedang dijalani
 Gejala-gejala, apabila sedang mengalami penyakit tertentu
 Hasil pemeriksaan laboratorium terkini
 Alat pacu jantung
 Nama, nomor telepon, maupun tempat praktik dokter spesialis yang baru -baru
ini Anda kunjungi

Dalam medical check up, biasanya dokter juga akan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan berikut ini.

 Seberapa rutin Anda berolahraga?


 Apakah Anda merokok atau mengonsumsi alkohol?
 Apakah Anda sedang menjalani diet?
 Apakah Anda merasakan adanya sakit yang tidak wajar?
 Jika ya, di mana Anda merasakannya?
 Bagaimana dengan pola tidur Anda?

Dr. Anandika mengatakan, sebenarnya tidak ada hal khusus yang perlu dilakukan
sebelum medical check-up. Sebab, pada dasarnya, medical check up dilakukan untuk
memeriksa kesehatan secara umum.

Namun memang ada beberapa hal yang harus dihindari, menjelang medical check up.
"Misalnya jangan banyak mengonsumi makanan berlemak," kata dr. Anandika. Selain
itu, Anda juga disarankan untuk tidak mengonsumsi obat flu. Sebab, obat flu bisa
memengaruhi hasil medical check up. Begitu pula dengan alkohol dan kafeina.

Lalu, hindari aktivitas berat atau olahraga secara berlebihan sebelum tes. Sebab,
aktivitas fisik berat, dapat mengganggu fungsi hati, ginjal atau gula darah Anda.

5.5 Tahapan
1. Pemeriksaan riwayat kesehatan:
Dokter bisa menanyakan tentang kondisi kesehatan terkini Anda, termasuk adanya
perkembangan dan perubahan pada kesehatan. Kemungkinan, dokter akan mengajukan
pertanyaan tentang pekerjaan Anda, pengobatan yang sedang dijalani, serta alergi
yang dimiliki.

2. Pemeriksaan tanda vital:


Pemeriksaan vital ini termasuk pengukuran tekanan darah dan detak jantung, serta laju
napas. Anda perlu menjalani pemeriksaan tekanan darah setidaknya sekali dalam
setahun, hingga tiga tahun sekali, tergantung pada riwayat kesehatan pribadi.

3. Pemeriksaan fisik:
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan mengamati kondisi kepala, mata,
dada, perut, otot dan tulang, serta fungsi sistem saraf Anda, misalnya dalam berbicara
dan berjalan.

Selanjutnya, dengan bantuan peralatan medis, dokter akan memeriksa mata, telinga,
hidung, dan tenggorokan Anda. Dokter pun akan mendengarkan detak jantung serta
kinerja paru-paru.
4. Tes laboratorium
Untuk melengkapi pemeriksaan kesehatan, dokter akan mengambil sampel darah
Anda, untuk diteliti di laboratorium. Pemeriksaan di laboratorium ini berguna untuk
melihat kemungkinan gangguan pada ginjal, hati, darah, maupun sistem kekebalan
tubuh.

5.6 Faktor yang Mempengaruhi


Makanan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa jenis pemeriksaan, baik langsung
maupun tidak langsung, misalnya:
1) Pemeriksaan gula darah dan trigliserida Pemeriksaan ini dipengaruhi secara langsung oleh
makanan dan minuman (kecuali air putih tawar). Karena pengaruhnya yang sangat besar,
maka pada pemeriksaan gula darah puasa, pasien perlu dipuasakan 10-12 jam sebelum darah
diambil dan pada pemeriksaan trigliserida perlu dipuasakan sekurang kurangnya 12 jam.
2) Pemeriksaan laju endap darah, aktivitas enzim, besi dan trace element Pemeriksaan ini
dipengaruhi secara tidak langsung oleh makanan dan minuman karena makanan dan
minuman akan mempengaruhi reaksi dalam proses pemeriksaan sehingga hasilnya menjadi
tidak benar

B.Obat-obat
Obat-obat yang diberikan baik secara oral maupun cara lainnya akan menyebabkan terjadinya
respon tubuh terhadap obat tersebut. Disamping itu pemberian obat secara intramuskular akan
menimbulkan jejas pada otot sehingga mengakibatkan enzim yang dikandung oleh sel otot
masuk ke dalam darah, yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan antara lain
pemeriksaan Creatin kinase (CK) dan Lactic dehydrogenase (LDH).

c. Merokok
Merokok menyebabkan terjadinya perubahan cepat dan lambat pada kadar zat tertentu yang
diperiksa. Perubahan cepat terjadi dalam 1 jam hanya dengan merokok 1-5 batang dan terlihat
akibatnya berupa peningkatan kadar asam lemak, epinefrin, gliserol bebas, aldosteron dan
kortisol. Ditemukan peningkatan kadar Hb pada perokok kronik. Perubahan lambat terjadi
pada hitung leukosit, lipoprotein, aktivitas beberapa enzim, hormon, vitamin, petanda tumor
dan logam berat.

d. Alkohol
Konsumsi alkohol juga menyebabkan perubahan cepat dan lambat beberapa kadar analit.
Perubahan cepat terjadi dalam waktu 2-4 jam setelah konsumsi alkohol dan terlihat akibatnya
berupa peningkatan pada kadar glukosa,50 laktat, asam urat, dan terjadi asidosis metabolik.
Perubahan lambat berupa peningkatan aktifitas γ-glutamyltransferase, AST, ALT, trigliserida,
kortisol dan MCV (mean corpuscular volume) sel darah merah.

e. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik dapat menyebabkan terjadinya pemindahan cairan tubuh antara kompartemen
di dalam pembuluh darah dan interstitial, kehilangan cairan karena berkeringat dan perubahan
kadar hormon. Akibatnya akan terdapat perbedaan yang besar antara kadar gula darah di
arteri dan di vena serta terjadi perubahan konsentrasi gas darah, kadar asam urat, kreatinin,
aktivitas CK, AST, LDH, LED, Hb, hitung sel darah dan produksi urin.

f. Ketinggian/altitude
Beberapa parameter pemeriksaan menunjukkan perubahan yang nyata
sesuai dengan tinggi rendahnya daratan terhadap permukaan laut. Parameter tersebut adalah
CRP, B2-globulin, hematokrit, hemoglobin dan asam urat. Adaptasi terhadap perubahan
ketinggian daratan memerlukan waktu harian hingga berminggu-minggu.

g. Demam
Pada waktu demam akan terjadi:
1) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan, dengan akibat terjadi peningkatan kadar
insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar gula darah pada tahap lebih
lanjut.
2) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan, dengan akibat terjadi peningkatan kadar
insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar gula darah pada tahap lebih
lanjut.
3) Lebih mudah menemukan parasit malaria dalam darah.
4) Lebih mudah mendapatkan biakan positif.
5) Reaksi anamnestik yang akan menyebabkan kenaikan titer Widal.

J.Umur
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktivitas zat dalam darah. Hitung
eritrosit dan kadar Hb jauh lebih tinggi pada neonatus daripada dewasa. Fosfatase alkali,
kolesterol total dan kolesterol-LDL akan berubah dengan pola tertentu sesuai dengan
pertambahan umur
k. Ras
Jumlah leukosit orang kulit hitam Amerika lebih rendah daripada orang kulit putihnya.
Demikian juga dengan aktivitas CK. Keadaan serupa dijumpai pada ras bangsa lain seperti
perbedaan aktivitas amilase, kadar vitamin B12 dan lipoprotein.

l. Jenis Kelamin (gender)


Berbagai kadar dan aktivitas zat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Kadar besi serum dan kadar
Hb berbeda pada wanita dan pria dewasa. Perbedaan ini akan menjadi tidak bermakna lagi
setelah umur lebih dari 65 tahun. Perbedaan akibat gender lainnya adalah aktivitas CK dan
kreatinin. Perbedaan ini lebih disebabkan karena massa otot pria relatif lebih besar daripada
wanita. Sebaliknya kadar hormon seks wanita, prolaktin dan kolesterol-HDL akan dijumpai
lebih tinggi pada wanita daripada pria.

m. Kehamilan
Bila pemeriksaan dilakukan pada pasien hamil, sewaktu interpretasi hasil perlu
mempertimbangkan masa kehamilan wanita tersebut. Pada Kehamilan akan terjadi
hemodilusi (pengenceran darah) yang dimulai pada minggu ke-10 kehamilan dan terus
meningkat sampai minggu ke-35 kehamilan. Volume urin akan meningkat 25% pada
trimester ke-3. Selama kehamilan akan terjadi perubahan kadar hormone kelenjar tiroid,
elektrolit, besi, dan ferritin, protein total dan albumin, lemak, aktivitas fosfatase alkali
danfaktorkoagulasisertalajuendapdarah.Penyebab perubahan tersebut dapat disebabkan
karena induksi oleh kehamilan, peningkatan protein transport, hemodilusi, volume tubuh
yang meningkat, defisiensi relatif karena peningkatan kebutuhan atau peningkatan protein
fase akut.