Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES SUBMANDIBULA

Disusun Oleh
NUR SANTI

(201907017)

PROGRAM PROFESI NERS


STIkes IMC Bintaro
LAPORAN PENDAHULUAN ABSES SUBMANDIBULA

A. Definisi
Abses adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.
(Siregar, 2004). Sedangkan abses mandibula adalah abses yang terjadi di mandibula.
Abses dapat terbentuk di ruang submandibula atau salah satu komponennya sebagai
kelanjutan infeksi dari daerah leher. (Smeltzer dan Bare, 2001).
Abses submandibula adalah suatu peradangan yang disertai pus pada daerah
submandibula. Keadaan ini merupakan salah satu infeksi pada leher bagian dalam
(deep neck infection). Pada umumnya sumber infeksi pada ruang submandibula
berasal dari proses infeksi gigi, dasar mulut, faring, dan kelenjar limfe submandibula.
Mungkin juga infeksi dari ruang dalam leher yang lain.
Akhir-akhir ini abses leher bagian dalam termasuk abses submandibula sudah
semakin jarang dijumpai. Hal ini disebabkan penggunaan antibiotik yang luas dan
kesehatan mulut yang meningkat. Walaupun demikian angka morbiditas yang timbul
akibat abses submandibula masih cukup tinggi sehingga diagnosis dan penanganan
yang cepat dan tepat sangat diperlukan.

B. Etiologi
Infeksi dapat bersumber dari gigi, dasar mulut, faring, kelenjar limfe submandibula.
Sebanyak 61% kasus abses submandibula disebabkan oleh infeksi gigi. Infeksi pada
gigi berasal dari gigi molar kedua dan ketiga dari mandibula, jika apeksnya
ditemukan dibawah perlekatan dari muskulus mylohyoid. Infeksi dari gigi dapat
menyebar ke ruang submandibula melalui beberapa jalan yaitu, secara langsung
melalui pinggir mylohyoid, posterior dari ruang sublingual, periostitis dan melalui
ruang mastikor.
Sebagian besar abses leher dalam disebabkan oleh campuran berbagai kuman, baik
aerob, anaerob, maupun fakultatif anaerob. Kuman aerob yang sering ditemukan
adalah Staphilococcus, Streptococcus sp, Haemofilus influenza, Streptococcus
pneumonia, Moraxtella catarrhalis, Klebsiella sp, dan Neisseria sp. Kuman anaerob
yang sering ditemukan pada abses leher dalam adalah kelompok batang gram negatif,
seperti Bacteroides, Prevotella, maupun Fusobacterium.
C. Patofisiologi
Infeksi pada ruang ini berasal dari gigi molar kedua dan ketiga dari mandibula, jika
apeksnya ditemukan di bawah perlekatan dari muskulus mylohyoid. Infeksi dari gigi
dapat menyebar ke ruang submandibula melalui beberapa jalan yaitu secara langsung
melalui pinggir mylohyoid.
Adanya infeksi menyebabkan terjadinya vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah (
Rubor ). Akibat pelebaran pembuluh darah ini, aliran darah akan meningkat sehingga
menimbulkan panas pada jaringan yang terluka ( Kalor ). Sel-sel darah putih yang
merupakan pertahanan tubuh dalalm melawan infeksi, bergerak kedalam rongga
tersebut, dan setelah menelan bakteri.sel darah putih akan mati, sel darah putih yang
mati inilah yang membentuk nanah yang mengisis rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan terdorong, pada
akhirnya tumbuh di sekliling abses dan menjadi dinding pembatas. Abses hal ini
merupakan mekanisme tubuh mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut jika suatu
abses pecah di dalam tubuh maka infeksi bisa menyebar kedalam tubuh maupun
dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses.
Dinding pembuluh darah menjadi lebih permeable sehingga zat antibodi dan cairan
yang mengandung protein dapat keluar dari pembuluh darah dan masuk ke jaringan
sekitar luka. Akibat masuknya cairan ke jaringan menyebabkan terjadinya edema (
Tumor ). Cairan ini akan mendesak saraf-saraf disekitarnya dan menimbulkan rasa
nyeri ( Dolor ). Akibat dari itu semua, maka fungsi dari bagian badan itu terganggu (
Fungsiolaesa ). Cairan yang terjadi pada proses radang ini disebut eksudat,
sedangkan proses keluarnya eksudat dari pembuluh darah di sebut eksudasi. Proses
radang tersebut di atas merupakan perlawanan tubuh terhadap rangsangan yang
berasal dari dalam dan luar tubuh.

D. Manifestasi Klinis
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan
pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa :
1. Nyeri
2. Nyeri tekan
3. Teraba hangat
4. Pembengakakan
5. Kemerahan
6. Demam

E. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Siregar (2004), abses dikulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali.
Sedangkan abses dalam sering kali sulit ditemukan. Pada penderita abses, biasanya
pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih.

F. Komplikasi
Proses peradangan dapat menjalar secara hematogen, limfogen, atau langsung
(perkontinuitatum) ke daerah sekitarnya. Infeksi dari submandibularis paling sering
meluas ke ruang parafaring karena pembatas antara ruang ini cukup tipis. Perluasan
ini dapat secara langsung atau melalui ruang mastikor melalui muskulus pterygoid
medial kemudian ke parafaring. Selanjutnya infeksi dapat menjalar ke daerah
potensial lainnya.
Penjalaran ke atas dapat mengakibatkan peradangan intrakranial, kebawah
menyusuri selubung karotis mencapai mediastinum menyebabkan mediastinitis.
Abses juga dapat menyebabkan kerusakan dinding pembuluh darah. Bila pembuluh
karotis mengalami nekrosis, dapat terjadi ruptur, sehingga terjadi perdarahan yang
hebat, bila terjadi periflebitis atau endoflebitis, dapat timbul tromboflebitis dan
septikemia.

G. Penatalaksanaan Medis
Terapi yang diberikan pada abses submandibula adalah:
1. Antibiotik (parenteral).
Untuk mendapatkan jenis antibiotik yang sesuai dengan kuman penyebab, uji
kepekaan perlu dilakukan. Namun, pemberian antibiotik secara parenteral sebaiknya
diberikan secepatnya tanpa menunggu hasil kultur pus. Antibiotik kombinasi (mencakup
terhadap kuman aerob dan aerob, gram positif dan gram negatif) adalah pilihan terbaik
mengingat kuman penyebabnya adalah campuran dari berbagai kuman. Secara empiris
kombinasi ceftriaxone dengan metronidazole masih cukup baik. Setelah hasil uji
sensitivitas kultur pus telah didapat pemberian antibiotik dapat disesuaikan.
Berdasarkan uji kepekaan, kuman aerob memiliki angka sensitifitas tinggi
terhadap ceforazone sulbactam, moxyfloxacine, ceforazone, ceftriaxone, yaitu lebih dari
70% . Metronidazole dan klindamisin angka sensitifitasnya masih tinggi terutama untuk
kuman anaerob gram negatif. Antibiotik biasanya dilakukan selama lebih kurang 10 hari.
2. Bila abses telah terbentuk, maka evakuai abses dapat dilakukan. Evakuasi abses
dapat dilakukan dalam anastesi lokal untuk abses yang dangkal dan terlokalisasi atau
eksplorasi dalam narkosis bila letak abses dalam dan luas. Insisi dibuat pada tempat yang
paling berfluktuasi atau setinggi os hioid, tergantung letak dan luas abses. Bila abses
belum terbentuk, dilakukan penatalaksanaan secara konservatif dengan antibiotik IV,
setelah abses terbentuk (biasanya dalam 48-72 jam) maka evakuasi abses dapat
dilakukan.
3. Mengingat adanya kemungkinan sumbatan jalan nafas, maka tindakan
trakeostomi perlu dipertimbangkan.
H. Konsep Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Data yang harus dikumpulkan dalam pengkajian yang dilakukan pada kasus
abses mandibula menurut Doenges, (2001) adalah sebagai berikut :
a. Aktifitas/istirahat
Data Subyektif : Pusing, sakit kepala, nyeri, mulas.
Data Obyektif : Perubahan kesadaran, masalah dalam keseimbangan cedera
(trauma).
b. Sirkulasi
Data Obyektif: kecepatan (bradipneu, takhipneu), pola napas (hipoventilasi,
hiperventilasi, dll).
c. Integritas ego
Data Subyektif: Perubahan tingkah laku/ kepribadian (tenang atau dramatis)
Data Obyektif : cemas, bingung, depresi.
d. Makanan dan cairan
Data Subyektif : Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera makan.
Data Obyektif : Mengalami distensi abdomen.
e. Nyeri dan kenyamanan
Data Subyektif : nyeri pada rahang dan bengkak
Data Obyektif : Wajah meringis, gelisah, merintih.
f. Pernafasan
Data Subyektif : Perubahan pola nafas.
Data Objektif: Pernapasan menggunakan otot bantu pernapasan/ otot
aksesoris.
2. Dignosa keperawatan
Pre Operatif
a. Nyeri Akut
b. Hipertermi
c. Ansietas
d. Gangguan Integritas Kulit
Intra Operatif
a. Resiko Infeksi
Post Operatif
a. Nyeri Akut
b. Hipotermi
3. Intervensi Keperawatan
Pre operatif
Daftar Diagnosa NOC NIC
Nyeri akut Kontrol nyeri Manajemen Nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Lakukan pengkajian nyeri komprehensif
selama lebih dari 1x24 jam klien dapat yang meliputi lokasi, karakteristik,
mengatasi nyerinya ditandai dengan : onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas
1. Dapat mengenali kapan nyeri terjadi atau beratnya nyeri dan faktor pencetus
2. Klien dapat menggunakan tindakan 2. Berikan informasi mengenai nyeri
pengurangan nyeri tanpa analgesic 3. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen nyeri
3. Klien melaporkan perubahan terhadap 4. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor yang
gejala nyeri pada professional kesehatan dapat mencetuskan nyeri dan
4. Klien mengenali apa yang terkait dengan meningkatkan nyeri
gejala nyeri 5. Gali bersama pasien faktor-faktor yang
Klien melaporkan nyeri yang terkontrol dapat menurunkan dan memperberat nyeri
6. Kolaborasi dengan pasien, orang terdekat
dan tim kesehatan lainnya untuk memilih
dan mengimplementasikan tindakan
penurun nyeri non farmakologi, sesuai
kebutuhan
Cemas Anxiety control Anxiety Reduction
berhubungan 1. Gunakan pendekatan yang menenangkan
1. Klien mampu mengidentifikasi dan
dengan krisis dan meyakinkan
mengungkapkan gejala cemas.
situasi ditandai 2. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi
2. Mengidentifikasi, mengungkapkan, dan
dengan yang dirasakan yang mungkin akan dialami
menunjukkan teknik mengontrol cemas.
peningkatan 3. Berikan informasi factual terkait diagnosis,
3. Vital sign dalam batas normal.
ketegangan, perawatan dan prognosi
4. Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa
gemetar dan 4. Berada disisi klien untuk meningkatkan
tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan
gelisah rasa aman dan mengurangi ketakutan
berkurangnya kecemasan
5. Dengarkan klien
6. Kontrol stimulus untuk kebutuhan klien
yang tepat

Hipertermi Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Monitor suhu sesering mungkin


selama 1x24 jam diharapkan suhu tubuh 2. Monitor warna dan suhu kulit
kembali normal dengan Kriteria Hasil : 3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
1. Suhu tubuh dalam rentang normal 4. Monitor penurunan tingkat kesadaran
2. Nadi dan RR dalam rentang normal 5. Monitor WBC, Hb, dan Hct
3. Tidak ada perubahan warna kulit dan 6. Monitor intake dan output
tidak ada pusing 7. Berikan anti piretik
8. Berikan pengobatan untuk mengatasi
penyebab demam
9. Selimuti pasien
10. Berikan cairan intravena
11. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
12. Tingkatkan sirkulasi udara
13. Berikan pengobatan untuk mencegah
terjadinya menggigil
Intra Operatif
Daftar diagnosa NOC NIC
Resiko infeksi - Immune Status Infection Control (Kontrol infeksi)
- Knowledge : Infection control 1. Bersihkan lingkungan setelah
- Risk control dipakai pasien lain
2. Pertahankan teknik isolasi
Setelah dilakukan tindakan 3. Gunakan sabun antimikrobia
keperawatan dalam 1x24 jam untuk cuci tangan
diharapkan klien terhindar dari resiko 4. Cuci tangan setiap sebelum dan
infeksi dengan Kriteria Hasil : sesudah tindakan kperawtan
1.Klien bebas dari tanda dan gejala 5. Gunakan baju, sarung tangan
infeksi sebagai alat pelindung
2.Jumlah leukosit dalam batas normal 6. Pertahankan lingkungan aseptik
selama pemasangan alat
7. Ganti letak IV perifer dan line
central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum
8. Gunakan kateter intermiten untuk
menurunkan infeksi kandung
kencing
9. Tingktkan intake nutrisi
10. Berikan terapi antibiotik bila perlu
Post Operatif
Daftar Diagnosa NOC NIC
Nyeri akut Kontrol nyeri Manajemen Nyeri
Setelah dilakukan tindakan 7. Lakukan pengkajian nyeri
keperawatan selama lebih dari 1x24 komprehensif yang meliputi lokasi,
jam klien dapat mengatasi nyerinya karakteristik, onset/durasi,
ditandai dengan : frekuensi, kualitas, intensitas atau
5. Dapat mengenali kapan nyeri terjadi beratnya nyeri dan faktor pencetus
6. Klien dapat menggunakan tindakan 8. Berikan informasi mengenai nyeri
pengurangan nyeri tanpa analgesic 9. Ajarkan prinsip-prinsip manajemen
7. Klien melaporkan perubahan nyeri
terhadap gejala nyeri pada 10. Kurangi atau eliminasi faktor-faktor
professional kesehatan yang dapat mencetuskan nyeri dan
8. Klien mengenali apa yang terkait meningkatkan nyeri
dengan gejala nyeri 11. Gali bersama pasien faktor-
Klien melaporkan nyeri yang terkontrol faktor yang dapat menurunkan dan
memperberat nyeri
12. Kolaborasi dengan pasien,
orang terdekat dan tim kesehatan
lainnya untuk memilih dan
mengimplementasikan tindakan
penurun nyeri non farmakologi,
sesuai kebutuhan
Hipotermi Termoregulasi Temperature regulation
Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
keperawatan selama 1x24 jam 2. Rencanakan monitoring suhu secara
diharapkan suhu tubuh klien dalam kontinyu
batas normal dengan kriteria hasil : 3. Monitor TD, nadi, dan RR
Kriteria Hasil : Nadi dan RR dalam 4. Monitor warna dan suhu kulit
rentang normal 5. Monitor tanda-tanda hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah
hilangnya kehangatan tubuh
Vital sign Monitoring
1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
2. Catat adanya fluktuasi tekanan
darah
3. Monitor sianosis perifer
4. Monitor adanya cushing triad
(tekanan nadi yang melebar,
bradikardi, peningkatan sistolik)
5. Identifikasi penyebab dari
perubahan vital sign
DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth’s. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah Edisi 8
volume 2. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan: diagnosis NANDA,
intervensi NIC, kriteria hasil NOC. Jakarta: EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.