Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS

KELAINAN KONGENITAL

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan pada Neonatus

Dosen Pengampu : Siti Yulaikah, S.S.T.,M.Keb

Disusun oleh :

Intan Fitriyanti P27224020017

Irma Ayu Larasati P27224020018

Junita Utami Dewi P27224020019

JURUSAN KEBIDANAN

PROGRAM STUDI DIV ALIH JENJANG REGULER

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN

KESEHATAN SURAKARTA

2020

i
KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehdiran Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya dengan
Rahmat-Nyalah kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “ASUHAN KEBIDANAN
PADA NEONATUS KELAINAN KONGENITAL” ini dengan baik dan tepat waktu.

Tidak lupa kami menyampaikan rasa terima kasih kepada dosen Mata Kuliah Asuhan
Kebidanan Pada Neonatus yang telah memberikan materi kuliah dan tugas makalah ini . rasa
terimakasih juga hendak kami ucapkan kepada rekan-rekan mahasiswa yang telah
memberikan kontribusinya sehingga tugas kelompok ini bisa selesai pada waktu yang telah
ditentukan

Meskipun kami sudah mengumpulkan banyak referensi untuk menunjang penyusunan


tugas makalah ini, namun kami menyadari bahwa di dalam makalah yang telah kami susuh
ini masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan. Sehingga kami mengharapkan saran
serta masukan dari para pembaca demi tersusunnya makalah lain yang lebih lagi. Akhir kata,
kami berharap agar makalah ini bisa memberikam banyak manfaat bagi para pembaca

Klaten, 12-Februari-2020

Penyusun

DAFTAR ISI

ii
COVER.................................................................................................................................... i

KATA PENGANTAR............................................................................................................ ii

DAFTAR ISI ................................................................................................................ iii

BAB I :PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................................1
C. Tujuan.................................................................................................................................2
a. Tujuan Umum...............................................................................................................2
b. Tujuan Khusus..............................................................................................................2

BAB II: TINJAUAN TEORI

A. Kelainan Kongenital..........................................................................................................3
B. Hernia Diagfragmatika......................................................................................................3
C. Atresia Duodeni.................................................................................................................4
D. Esophagus ........................................................................................................................5
E. Meningokel........................................................................................................................6
F. Ensafalokel........................................................................................................................6
G. Hidrosefalus......................................................................................................................7
H. Fimosis ........................................................................................................................8
I. Hipospadia .......................................................................................................................10
J. Kelainan Metabolisme dan Endokrin........................................................................... 11

BAB III PEMBAHASAN......................................................................................................13

BAB IV : PENUTUP

A. Kesimpulan...................................................................................................................14
B. Saran ...................................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelainan bawaan (kelainan kongenital) adalah suatu kelainan pada struktur fungsi
maupun metabolism tubuh yang ditemukan pada bayi ketika dia dilahirkan. Sekitar 3-4 %
bayi baru lahir memiliki kelainan bawaan yang berat. Beberapa kelainan baru ditemukan
pada saat anak mulai tumbuh, yaitu sekitar 7,5% terdiagnosa ketika anak berusia 5 tahun,
tetapi kebayakan bersifat ringan (Muslihatum, 2010).
Malformasi kongenital (kelainan kongenital) adalah kelainan dalam pertumbuhan
janin yang terjadi sejak konsepsi dan selama dalam kandungan. Diperkirakan 10 – 20 %
dari kematian janin dalam kandungan dan kematian neonatal disebabkan oleh kelainan
kongenital. Khususnya pada bayi berat badan diperkirakan kira- kira 20 % diantaranya
meninggal karena kelainan kongenital dalam minggu pertama kehidupannya (Sofian,
2011).
Menurut WHO ( World Health Organization ), lebih dari 8 juta bayi di seluruh dunia
setiap tahunnya lahir dengan kelainan bawaan. Kelainan bawaan menjadi salah satu
penyebab faktor kematian bayi disebabkan oleh kelainan bawaan sebanyak 1,4%,
sedangkan pada usia 7-28 hari menjadi meningkat presentasenya menjadi 18,1% ( pusat
data dan informasi Kemenkes, 2018)
Semua bayi baru lahir harus dinilai tanda-tanda kegawatan/kelainan yang
menunjukkan suatu penyakit. Bayi baru lahir dinyatakan lahir sakit apabila mempunyai
satu atau tanda-tanda sesak napas, frekuensi napas lebih dari 60 kali per menit, tampak
tertraksi dinding dada, malas minum, panas atau suhu badan bayi rendah, kurang aktif
berat badan lahir rendah dengan kesulitan umum sedangkan pada bayi labioskizis ditandai
dengan adanyta kelainan pada bentuk bibir sumbing atau tidak sempurna (Muslihatun,
2010).

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kelainan kongenital ?
2. Apa pengertian dari hernia diagfragmatika ?
3. Bagaimana gambaran klinis dan penatalaksanaan hernia diagfragmatika ?
4. Apa pengertian dari atresia duodeni, esophagus, meningokel dan ensafalokel ?
5. Bagaimana gambaran klinis dan penatalaksanaan
a. atresia duodeni
b. esophagus
c. meningokel
d. ensafalokel ?
6. Apa pengertian hidrosefalus ?
7. Bagaimana gambaran klinis dan penatalaksanaan hidrosefalus ?
8. Apa perngertian dari fimosis ?
9. Bagaimana gambaran klinis dan penatalaksanaan fimosis ?
10. Bagaimana kelainan metabolic dan kelainan endokrin ?

1
C. Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui kelainan kongenital seperti hernia diagframnatika, atresia
duodeni. Esophagus, meningokel, ensafalokel, hidrosefalus,fimosis dan kelainan
metabolic serta endokrin
b. Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian dari kelainan kongenital
2. Untuk mengetahui pengertian , gambaran klinis dan penatalaksanaan dari
hernia diagfragmatika
3. Untuk mengetahui pengertian, gambaran klinis dan penatalaksanaan dari
atresia duodeni, esophagus, meningokel, ensafalokel
4. Untuk mengetahui pengertian, gambaran klinis dan penatalaksanaan dari
hidrosefalus
5. Untuk mengetahui pengertian, gambaran klinis dan penatalaksanaan fimosis
6. Untuk mengetahui bagaimana kelainan metabolic dan kelainan endokrin

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kelainan Kongenital

Kelainan kongenital adalah kelainan yang sudah ada sejak lahir yang dapat
disebabkan oleh faktor genetik maupun non genetik. Ilmu yang mempelajari tentang
kelainan bawaan disebut dismorfologi (Effendi,2015).

Kelainan kongenital atau cacat bawaan adalah kelainan dalam pertumbuhan struktur
bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan bawaan dapat
2
dikenali sebelum kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun setelah kelahiran.
Kelainan bawaan dapat disebabkan oleh keabnormalan genetika, sebab-sebab alamiah
atau faktor yang tidak diketahui (wiknjosastro,2014).

B. Hernia Diagfragmatika

Hernia diafragmatika adalah masuknya organ abdomen melalui defek (lubang) pada
diafragma ke dalam rongga toraks.Lubang ini hanya ditutup oleh lapisan pleura dan
peritoniun. Secara umum terdapat tiga tipe dasar hernia diafragmatika, yaitu hernia
Bochdalek (melalui defek posterolateral), hernia morgagni (melalui defek anterio
retosternal) dan hiatus hernia, yaitu masuknya bagian atas lambung, yaitu kardiak gaster
kedalam rongga toraks melalui pelebaran hiatus esophagus. Kelainan yang paling sering
ditemukan adalah hernia Bochdalek (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).

Gambar 1 : hernia diagframatika

a. Gambaran klinis Hernia Diagfragmatika


Berat ringannya gejala hernia diafragmatika tergantuk pada banyaknya organ
dibagian abdomen yang masuk kerongga toraks. Pada kasus hernia diafragmatika
berat, terdapat gambaran klinis sebagai berikut :
a. Gangguan pernapasan pada hari-hari pertama.
b. Sesak nafas, terutama pada saat tidur terlentang.
c. Retraksi sela iga dan substernal.
d. Perut kempis dan menunjukkan gambaran skafoid (cekung).
e. Bunyi jantung terdengar di daerah yang berlawanan karena terdorong oleh isi
perut.
f. Terdengar bising usus di daerah dada.
g. Muntah.
h. Sianosis (warna kulit kebiruan akibat kekurangan oksigen). (Saputra, Dr. Lyndon.
2014).

3
b. Penatalaksanaan Hernia Diagframatika
a. Berikan oksigen untuk mengatasi sianosis.
b. Posisi bayi semifowler atau fowler agar tekanan dari isi perut terhadap paru
berkurang dan agar diafragma dapat bergerak bebas.
c. Pasang sonde lambung untuk dekompresi abdomen.
d. Jika bayi muntah, tegakkan bayi agar tidak terjadi aspirasi.
e. Bayi tidak diberi minum, hanya diberikan infus.
f. Berikan antibiotic profilaksis.
g. Dapatkan informed consent dari orangtua untuk merujuk bayi ke pusat pelayanan
kesehatan yang lebih memadai.
h. Organ perut harus dikembalikan ke rongga abdomen dan lubang pada diafragma
diperbaiki. Hal ini dilakukan dengan cara operasi.(Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
B. Atresia Duodeni
Atresia duodeni adalah defek di mana duodenum, bagian pertama usus halus,
tidak berkembang dengan sempurna. Suatu bagian duodenum tertutup sehingga
makanan dan cairan tidak dapat masuk. Bagian duodeni yang tertutup biasanya adalah
ampula vateri. Kondisi ini sering berhubungan dengan defek kongenital yang lain
( Saputra, 2014 ).

a. Gambaran Klinis Atresia Duodeni

Gambaran klinis yang di jumpai pada bayi dengan atresia duodenum antara lain :
a. Mengalami muntah pada awal terjadinya atresia duodenum, biasanya pada hari
pertama atau kedua postnatal
b. olihidramnion terlihat pada 50 % bayi dengan atresia duodenum
c. Berat badan menurun atau sukar bertambah
d. Perut kembung di daerah epigastrum pada 24 jam atau sesudahnya
e. Pada foto polos dalam posisi tegak akan tampak gambaran pelebaran lambung dan
bagian proksimal duodenum, tanpa adanya udara di bagian usus lain(Saputra,
2014 ).
b. Penatalaksanaan Atresia Duodeni
Sebuah selang digunakan untuk mendekompresi lambung. Dehidrasi dan
ketidakseimbangan elektrolit diperbaiki dengan memberikan cairan secara IV.
Evaluasi kelainan kongenital lain perlu dilakukan. Pembedahan untuk memperbaiki
sumbatan duodenal diindikasikan untuk semua bayi yang mengalami kelainan ini
karena malformasi ini dapat diperbaiki dengan sempurna. Namun, jika ada kondisi
yang mengancam jiwa, operasi ini dapat ditunda. Dapatkan informed consent dari
orangtua sebelum melakukan rujukan atau pembedan ( Saputra, 2014 ).
C. Atresia Esophagus
Esophagus adalah kelainan kongenital pada kontiunitas esophagus dengan/tanpa
hubungan dengan trakea atau esophagus yang tidak terbentuk secara sempurna.
4
Atresia esophagus sering disertai dengan kelainan bawaan lain, seperti kelainan
jantung, kelainan gastrointestinal (misalnya atresia duodeni), dan kelainan tulang
(Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
a. Gambaran Klinis Atresia Esophagus
Selama 24-48 jam setelah lahir, bayi mengalami muntah-muntah dan tidak ada
defekasi meconium., Tidak ditemukan anus dengan ada/tidak adanya fistula., Perut
kembung baru kemudian disusul muntah., Gerak usus dan bising usus meningkat
(hiperperistaltik). Dan Jika ada fistula rektovestibular dan meconium keluar dari fistula
tersebut, berarti terjadi atresia letak rendah (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
b. Penatalaksanaan Atresia Esophagus
Pada anak yang telah dicurigai menderita Atresia Esophagus bayi tersebut harus
segera dipindahkan ke bagian neonatal atau pediantric yang memiliki fasilitas medis.
Tindakan bedah harus segera dilakukan. Sebagai penatalaksanaan preoprasi. Per;u diberi
tindakan pada bayi dengan Esophagus. Posisi tidur anak tergantung kepada ada tidaknya
fistula, karena cairan aspirasi lambung lebih berbahaya dari saliva. Anak dengan fistula
trakeo-esophagus ditidurkan setengah duduk. Anak tanpa fistel diletakan dengan kepala
lebih rendah. Bayi diletakan pada incubator dan tanda vital harus dipantau. Akses vena
harus tersedia untuk memberi nutrisi, cairan dan elektrolit
Bayi dengan distress pernafasan memerlukan perhatian khusus, seperti intubasi
endotrakeal dan ventilasi mekanik. Tidak dilakukan tindakan merupakan pilihan pada
bayi dengan sindroma potter.
D. Meningokel
Meningokel adalah tipe spinal bifida dimana kantung cairan muncul dari lubang pada
punggung bayi. Namun, medula spinalis tidak terdapat pada kandung tersebut. Biasanya
kondisi ini menyebabkan sedikit kerusakan saraf, tetapi bisa juga tidak menyebabkan
kerusakan saraf. Meningokel ini dapat menyebabkan gangguan kecil. (Saputra, Dr.
Lyndon. 2014).
a. Gambaran Klinis Meningokel
Pada umumnya berupa benjolan seperti kantung dipunggung tengah sampai bawah
pada bayi baru lahir. Kelumpuhan / kelemahan pada pinggul tungkai atau kaki. Tetapi
gejalanya terkadang bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis
yang terkena . beberapa anak terkadang memiliki gejala ringan atau tanoa gejala
sedangkan yang lainnya mengalami kelumpuhn pada daerah tertentu oleh korda spinalis
atau akar syaraf yang terkena. (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
b. Penatalaksanaan Meningokel
Tujuan dari pengobatan awal spina bifida adalah mengurangi kerusakan saraf,
meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi) serta membantu keluarga dalam
menghadapi kelainan ini. Spina bifida okulta umumnya tidak membutuhkan pengobatan.
Namun, meningokel membutuhkan pembedahan untuk menutup lubang yang terbentuk.
Sebelum melakukan pembedahan, dilakukan penilaian potensi bayi dengan pemeriksaan
secara lengkap dan tepat segera setelah bayi lahir untuk menentukan luasnya defidit
5
neurologik, ada tidaknya hidrosefalus, luasnya deformitas lubang belakang, dan adanya
kelainan kongenital yang lain. Seksio Caesarea terencana sebelum mulainya persalinan
penting dilakukan untuk mengurangi kerusakan neurologik yang terjadi pada bayi dengan
defek medula spinalis (Saputra,2014).
E. Ensafalokel
Ensefalokel adalah defek atau cacat pada kranium yang ditandai dengan adanya
penonjolan keluar meninges (selaput otak) dan otak yang biasanya ditutupi oleh kulit
melalui suatu lubang pada tulang tengkorak. Ensefalokel disebabkan oleh kegagagaln
penutupan tabung saraf selama perkembangan janin. (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
Penyebab pasti ensefalokel belum diketahui, tetapi kemungkinan merupakan
kombinasi dari berbagai faktor seperti nutrisi paa ibu, genetik, dan paparan terhadap
toksin atau infeksi pada tahap awal kehidupan janin. Defek tabung saraf tampaknya
berhubungan dengan kekurangan asam folat pada ibu, dan penambahan suplemen asam
folat pada ibu hamil atau pada wanita yang berencana hamil dapat menurunkan risiko
kelainan ini. (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
a. Penatalaksanaan
Tujuan dari pengobatan awal ensefalokel adalah mengurangi kerusakan saraf,
meminimalkan komplikasi (misalnya infeksi), serta membantu keluarga dalam
menghadapi kelainan ini. Umumnya, pembedahan dilakukan semasa bayi untuk
mengembalikan jaringan yang menonjol ke dalam tengkorak, membuang kantung, dan
memperbaiki kelainan kraniofasial yang terjadi. Sebelum pembedahan, bayi dimasukkan
de dalam inkubator dengan kondisi tanpa baju. Bayi dengan hidrosefalus mungkin perlu
dibuatkan suatu pintas (shunt). (Saputra, Dr. Lyndon. 2014).
F. Hidrosefalus
Secara umum, hidrosefalus merupakan penimbunan cairan serebrospinal yang
berlebih di dalam otak. Hidrosefalus adalah kelainan patologis otak yang mengakibatkan
bertambahnya cairan serebrospinal (CCS) dengan atau pernah dengan tekanan
intrakranial yang meningkat, sehingga terdapat pelebaran ventrikel (Darsono,2010).
a. Gambaran Klinis Hidrosefalus
b. Bayi muda
1) Kecepatan pertumbuhan kepala tidak normal
2) Penonjolan fontanel (khususnya anterior) yang kadang tanpa disertai
pembesaran kepala : tegang dan tidak berdenyut
3) Dilatasi vena pada kulit kepala
4) Terdapat peregangan sutura
5) Tanda Mecewen (bunyi “cracked-post [vas pecah]”) pada saat perkusi
6) Terjadi penipisan tulang tengkorak (Darsono,2010).
b. Penatalaksanaan Hidrosefalus
Pada sebagian besar penderita, pembesaran kepala akan berhenti dengan
sendirinya (arrested hydrocephalus). Hal ini mungkin disebabkan oleh rekanalisasi
ruang subaraknoid atau kompensasi pembentukan CSS yang berkurang. Tindakan
bedah untuk menangani hidrosefalus sebelum kelahiran tidak berhasil dan bersifat

6
eksperimental. Jika penyebab hidrosefalus adalah tumor, tindakan bedah untk
mengangkat tumor tersebut dapat dipertimbangkan. (Darsono,2010).
Penatalaksanaan hidrosefalus antara lain adalah :
a. Lakukan perawatan umum, misalnya pengawasan suhu, pencegahan infeksi,
pengawasan asupan dan haluaran, serta perawatan setelah BAK dan BAB.
b. Ukur lingkar kepala secara berkala untuk mengetahui laju perta,bahan CSS.
c. Lakukan pengawasan dan pencegahan muntah.
d. Lakukan pengawasan kejang. Jika perlu, spatel lidah dapat dipasang untuk
mencegah retraksi lidah yang dapat menyebabkan perdarahan atau sumbatan pada
saluran pernapasan.
e. Dapatkan informed consent dari orangtua untuk merujuk ke pusat pelayaan
kesehataan yang lebih memadai.
G. Fimosis
Fimosis (Phimosis) merupakan salah satu gangguan yang timbul pada organ kelamin
bayi laki-laki, yang dimaksud dengan fimosis adalah keadaan dimana kulit kepala penis
(preputium) melekat pada bagian kepala (glans) dan mengakibatkan tersumbatnya lubang
di bagian air seni, sehingga bayi dan anak kesulitan dan kesakitan saat kencing, kondisi
ini memicu timbulnya infeksi kepala penis (balantis). Jika keadaan ini dibiarkan dimana
muara saluran kencing di ujung penis tersumbat maka dokter menganjurkan untuk
disunat. Tindakan ini dilakukan dengan membuka dan memotong kulit penis agar
ujungnya terbuka (Rukiyah,2010:230)
Menurut (Muslihatun,2010:160) Fimosis adalah keadaan kulit penis (preputium)
melekat pada bagian kepala penis dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran air
kemih, sehingga bayi dan anak jadi kesulitan dan kesakitan saat kencing. Sebenarnya
yang berbahaya bukanlah fimosis sendiri, tetapi kemungkinan timbulnya infeksi pada
uretra kiri dan kanan, kemudian ke ginjal. Infeksi ini dapat menimbulkan kerusakan pada
ginjal. Merupakan kondisi penis dengan kulit yang melingkupi kepala penis (glans) tidak
bisa ditarik ke belakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis (kulup,prepuce,
preputium, foreskin). Preputium terdiri dari dua lapis, bagian dalam dan luar, sehingga
dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis. Pada fimosis, lapis bagian dalam
preputium melekat pada glans penis. Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya
bagian lubang untuk berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka.
a. Gambaran Klinis Fimosis
Gejala yang sering terjadi pada fimosis menurut (Rukiyah,2010:230) diantaranya:
1. Bayi atau anak sukar berkemih
2. Kadang-kadang begitu sukar sehingga kulit preputium menggelembung seperti
balon
3. Kulit penis tidak bisa ditarik kearah pangkal
4. Penis mengejang pada saat buang air kecil
5. Bayi atau anak sering menangis sebelum urin keluar/Air seni keluar tidak lancar

b. Penatalaksanaan Fimosis

7
Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan pada saat membersihkan
penis, karena dapat menimbulkan luka dan terbentuksikatriksa pada ujung preputium
sehingga akan terbentuk fimosis sekunder. Fimosis yang disertai balaniits xerotica
obliterans dapat diberikan salep deksamethasone 0,1% yang dioleskan 3-4 kali sehari,
dan diharapkan setelah 6 minggu pemberian, preputium dapat diretraksi spontan.
(Rukiyah,2010:230)

Fimosis dengan keluhan miksi, menggelembungnya ujungpreputium pada saat


miksi, atau infeksi prostitis merupakan indikasi untukdilakukan sirkumsisi. Fimosis yang
disertai balantis atau prostitis harus diberikan antibiotika lebih dahulu sebelum dilakukan
sirkumsisi. Jika fimosis menyebabkan hambatan aliran air seni, diperlukan tindakan
sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian kulit preputium) atau teknik bedah
lainnya seperti preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa
memotongnya). Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak
adalah fimosis patologik (Muslihatun,2010:162)

Menurut (Putra,2012:395) penatalaksanaan fimosis yang dapat dilakukan terbagi


menjadi dua, yakni secara medis dan secara konservatif. Berikut penjelasan masing-
masing.

a. Penatalaksanaan secara medis


1) Dilakukan tindakan sirkumsisi (membuang sebagian atau seluruh bagian kulit
preputium).
2) Dilakukan tindakan teknik bedah preputioplasty (memperlebar bukaan kulit
preputium tanpa memotongnya).
b. Penatalaksanaan secara Konservatif
Cara menjaga kebersihan pada fimosis adalah dengan menjaga kebersihan bokong dan
penis.Berikut penjelasannya :
1) Bokong
Area bokong sangat mudah terkena masalah karena sering terpapar dengan popok
basah dan terkena macam-macam iritasi dari bahan kimia serta mikroorganisme
penyebab infeksi air kemih atau tinja, maupun gesekan dengan popok atau baju.
Biasanya, akan timbul gatal-gatal dan merah di sekitar bokong. Meski tidak semua
bayi mengalaminya, namun pada eberapa bayi, gatal-gatal dan merah dibokong
cenderung berulang timbul. Tindak pencegahan yang penting adalah
mempertahankan area ini tetap kering dan bersih. Tindakan yang sebaiknya
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Jangan gunakan diapers sepanjang hari. Cukup saat tidur malam atau
bepergian.
b. Jangan berganti-ganti merek diapers. Gunakan hanya satu merek yang cocok
dengan bayi

8
c. Lebih baik gunakan popok kain. Jika terpaksa memakai diapers, kendurkan
bagian paha untuk ventilasi dan seringlah menggantinya (tiap kali sehabis bu
hang air kecil atau besar).
d. Tak ada salahnya sesekali membiarkan bokongnya terbuka. Pastikan suhu
ruangan cukup hangat sehingga ia tidak kedinginan.
e. Jika peradangan kulit karena popok pada bayi tidak membaik dalam 1-2 hari
atau lebih bila timbul lecet atau bintil-bintil kecil, hubungi dokter.
2) Penis
Tindakan yang sebaiknya dilakukan pada area penis adalah sebagai berikut :
a. Sebaiknya setelah BAK, penis dibersihkan denga air hangat menggunakan
kassa. Membersihkannya harus sampai selangkangan, jangan digosok-gosok.
Cukup diusap dari atas ke bawah dengan satu arah sehingga bisa bersih dan
yang kotor bisa hilang.
b. Setiap selesai BAK, popok selalu diganti agar kondisi penis tidak iritasi.
c. Setelah BAK, penis jangan dibersihkan dengan sabun yang banyak karena bisa
menyebabkan iritasi.
d. Memberikan salep kortikoid (0,05-0,1%) 2 kali per hari selama 20-30 hari.
Terapi ini tidak dianjurkan bagi bayi dan anak-anak yang masih memakai
popok, tetapi dapat dipertimbangkan untuk usia sekitar 3 tahun.

H. Hipospadia
Hipospedia merupakan suatu cacat bawaan dimana lubang uretra tidak terletak pada
tempatnya (Maryanti, 2011). Bentuk hipospadia yang lebih berat terjadi jika lubang
uretra terdapat di tengah batang penis atau pada pangkal penis dan kadang pada skrotum
atau di bawah skrotum. Kelainan ini seringkali berhubungan dengan kordi atau suatu
jaringan fibrosa yang kencang, yang menyebabkan penis melengkung ke bawah pada
saat ereksi. Jika tidak diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam pelatihan berkemih
pada anak dan gangguan berhubungan seksual pada saat dewasa (Maryanti, 2011).
a. Gambaran Klinis Hipospadia
Pada gelaja Klinis Hipospadia, menurut (corwin,2009) yaitu :
1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri
2. Chordee (Melengkungnya Penis) dapat menyertai hipospadia
3. Hernia Inguinalis ( Testis tidak turun ) dapat menyertai hipospadia
Lokasi Meatus urine yang tidak tepat terlihat pada saat lahir
b. Penatalaksanaan Hipospadia
Pada bayi dilakukan tindakan kordektomi tetapi, Pada anak usia 2-4 tahun
dilakukan rekonstruksi uretra. Jika neonatus memiliki mikro penis, maka akan
mendapatkan terapi hormonal sampai ukuran penis sesuai. Operasi sebaiknya telah
tuntas sebelum penderita masuk sekolah (Maryanti, 2011).
c. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir atau bayi. Karena
kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan pemeriksaan yang menyeluruh,
termasuk pemeriksaan kromosom ( Corwin,2009)
1. Rotgen
2. USG
9
3. Kulture urine
I. Kelainan Metabolic dan endokrin
1. Kelainan Metabolic
Pada saat lahir, neonatus dengan gangguan metabolik biasanya normal, namun
beberapa jam setelah melahirkan timbul tanda-tanda dan gejala-gejala seperti alergi,
nafsu makan yang rendah, konvulsi dan muntah-muntah. Kelainan metabolisme bawaan
dapat terjadi akibat gangguan metabolisme asam amino, gangguan metabolisme lipid
atau asam lemak, gangguan metabolisme karbohidrat dan gangguan metabolisme
mukopolisakarida. (Maryanti, 2011).
a. Galaktosemi
Pada awalnya mereka tampak normal, tetapi beberapa hari atau beberapa minggu
kemudian, gejala yang muncul adalah nafsu makannya akan berkurang, muntah, diare,
tampak kuning dan pertumbuhannya yang normal terhenti. Hati membesar, di dalam
air kemihnya ditemukan sejumlah besar protein dan asam amino, terjadi
pembengkakan jaringan dan penimbunan cairan dalam tubuh. Jika pengobatan
tertunda, anak akan memiliki tubuh yang pendek dan mengalami keterbelakangan
mental. Dan banyak yang menderita menderita katarak.
b. Fenilketonuria
Secara umum gejala ringan maupun berat dari Fenilketonuria antara lain: Pada saat
bayi baru lahir biasanya tidak ditemukan gejala. Kadang bayi tampak mengantuk atau
tidak mau makan, kejang, tremor. Bayi cenderung memiliki kulit, rambut dan mata
yang berwarna lebih terang dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya yang tidak
menderita penyakit ini. Beberapa bayi mengalami ruam kulit, perilaku autis dan
gangguan pemusatan perhatian serta hiperaktivitas dan pertumbuhan terhambat. Bayi
terlahir dengan kepala yang kecil (mikrosefalus) dan penyakit jantung. Jika tidak
diobati, bayi akan segera mengalami keterbelakangan mental, yang sifatnya biasanya
berat.
c. Intoleransi Fruktosa
Gejalanya terlihat saat bayi mulai makan buah atau makanan mengandung sukrosa
atau minum susu formula, kejang, rewel, sulit makan, muntah, ikterik.
2. Kelainan Endokrin
Tanda dan gejala pada kelainan endokrin tergantung pada kerenjar endokrin yang
mengalami kelainan. (Maryanti, 2011).
a. Hipotiroidsme Kongenital
rambut kering dan rapuh, ikterik, sulit makan, kehilangan tonus otot, konstipasi, suara
menangis yang serak, selalu mengantuk, bergerak lambat, perawakan pendek, dan
pertumbuhan tulang yang lambat. Jika tidak segera diobati, hipertiroidisme bisa
menyebabkan keterbelakangan mental. Hipotiroidisme congenital dua kali lebih
banyak pada anak laki-laki.
b. Hiperplasia Adrenal Kongenital
Gejala klinis tergantung pada jenis kelamin anak. Anak perempuan mengalami alat
kelamin abnormal, klitoris membesar, dan terjadi fusi labia yang dapat menyulitkan
10
penetuan jenis kelamin saat lahir. Anak laki – laki memiliki alat kelamin normal.
Sebagian besar anak dengan keadaan ini kekurangan mineralokortikoid yang timbul
pada minggu pertama karena kehilangan garam. Khasnya terdapat riwayat muntah dan
dehidrasi berat. Beberapa anak tampak sakit berat yaitu, lemah, muntah, diare, malas
minum, dehidrasi dan dapat mematikan bila tidak dikenali dan diterapi.

BAB III

PEMBAHASAN

Pada gelaja Klinis Hipospadia, menurut (corwin,2009) yaitu :


1. Kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri
2. Chordee (Melengkungnya Penis) dapat menyertai hipospadia
3. Hernia Inguinalis ( Testis tidak turun ) dapat menyertai hipospadia
4. Lokasi Meatus urine yang tidak tepat terlihat pada saat lahir.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Daniel Mahendra pada Tahun 2017 yaitu
gejala yang ditimbulkan bervariasi, sesuai dengan derajat kelainan. Secara umum
jarang ditemukan adanya gangguan fungsi. Biasanya saat pemeriksaan fisik
ditemukan muara uretra pada bagian ventral penis. Kulit luar bagian ventral lebih tipis
atau bahkan tidak ada, dimana kulit bagian dorsal menebal bahkan terkadang
membentuk seperti sebuah tudung.
Pada penatalaksanaan hispospadia menurut (Maryati,2011) bayi dilakukan
tindakan kordektromi tetapi pada anak usia 2-4 tahun dilakukan rekontruksi uretra.
Jika neonatus memiliki mikro penis, maka akan mendapatkan terapo hormonal
sampao ukuran penis sesuai. Oprasi sebaiknya dilakukan sebelum penderita
memasuki usia sekolah. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Daniel Mahendra pada Tahun 2017 yaitu beberapa tahap oprasi perlu dilakukan
seperti orthoplasty yaitu melakukan koreksi chorde sehingga penis dapat tegak lurus
kembali, lalu urethroplasty yaitu membuat uretra baru yang sesuai dengan lokasi
seharusnya, serta glanplasty yaitu pembentukan glans penis kembali.
Pemeriksaan penunjang Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan fisik pada bayi
baru lahir atau bayi. Karena kelainan lain dapat menyertai hipospadia, dianjurkan
pemeriksaan yang menyeluruh, termasuk pemeriksaan kromosom ( Corwin,2009)
1 Rotgen
2 USG ginjal
3 Kulture urine
Hal ini sama dengan hasil penelitian Daniel Mahendra pada tahun 2017 yaitu
melaksanakan USG ginjal disarankan untuk mengetahui adanya anomali lainnya pada
saluran kemih pada pasien hipospadia

11
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya maka kesimpulan yang


dapat dikemukakan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :

5. Kelainan congenital merupakan kelainan pada structural bayi yang timbul sejak
kehidupan hasil konsepsi telur. Kelainan bawaan dapat dikenali sebelum kelahiran,
pada saat kelahiran atau beberapa kemudian setelah kelahiran.

6. Factor-faktor yang dapat mempengaruhi kelainan kongienietal atau cacat bawaan


pada neonatus yaitu kelahiran genetic dan kromosom, faktor genetik, fackor
infeksi, faktor obat, faktor ibu, faktor hormonal, faktor radiasi, faktor gizi , dan
faktor- faktor lainnya.

7. Kelainan kongenietal yang biasanya terjadi pada neonatus yaitu hernia


diafragmatika, atresia duodeni, eshopagus, meningokel, ensefalokel, hidrosefalus,
fimosis, hipospadia, kelainan metabolic dan endokrin.

8. Kelainan kongenietal berat dapat berupa kelainan kongenital memerlukan tindakan


bedah, kelainan kongenital bersifat medik, dan kelainan kongenital yang
memerlukan koreksi kosmetik.

Setiap ditemukannya kelainan kongenital pada bayi baru lahir, hal ini harus
dibicarakan dengan orang tuanya tentang jenis kemungkinan factor penyebab,
langkah-langkah penanganan dan prognosisnya.

Kelainan kongenital atau cacat bawaan tidak dapat dicegah, melainkan resiko
terjadinya dapat dikurangi dengan tidak mengkonsumsi alcohol, menghindari
rokok, obat terlarang, makan-makanan yang bergizi, olahraga teratur, menjalani
vaksinasi, melakukan pemeriksaan prenatal dengan rutin, dan menghindari zat-zat
berbahaya lainnya.

12
B. Saran

Dalam mempelajari asuhan neonatus, seorang calon bidan diharapkan mengetahui


kelainan koengenietal atau cacat bawaan yang biasanya terjadi pada neonatus
sehingga mampu memberikan asuhan neonatus dengan baik dan sesuai dengan
kewenangan profesi.

13
DAFTAR PUSTAKA

Maryanti, Dwi. 2011. Buku ajar Neonatus dan balita. Jakarta : CV. Trans Infomedia

Muslihatun, Wati Nur. 2010. Asuhan Neonatus Bayi Dan Balita. Yogyakarta : Fitramaya

Saputra, Dr. Lyndon. 2014. Asuhan Neonatus, Bayi, dan Balita. Tangerang : Binarupa Aksara

Sofia, Dr. Amru. 2011. Sinopsis Obstetri. Edisi 3. Jilid 1. Jakarta : EGC

Darsono . 2010. Keperawatan Anak. Jakarta : EGC

Pusdatin.2018. Kelainan Bawaan. Jakarta : Kemenkes RI

Sjamsuhidayat R, De Jong Wim. 2004.Fistel dan Atresia : Buku Ajar Ilmmu Bedah,
Edisi Ke-2. Jakarta : EGC

Daniel Mahendra.2017.Hipospadia : Bagaimana Karakteristiknya di Indonesia.


Mataram: universitas Kristen Duta Wacana

https://www.academia.edu/12967984/hipospadia diakses pada tanggal 13-02-2020


pukul 13.20 WIB

14
HIPOSPADIA: BAGAIMANA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA

Daniel Mahendra Krisna1, Akhada Maulana2 1Fakultas Kedokteran Universitas


Kristen Duta Wacana 2Bagian Urologi Universitas Mataram
Korespondensi: danielkrisna24@yahoo.com

ABSTRAK

Hipospadia merupakan kelainan kongenital berupa adanya muara urethra yang


terletak proximal dibandingkan lokasi yang seharusnya. Kelainan ini terjadi ketika
masa embrio dan dipengaruhi berbagai keadaan. Hipospadia patut di waspadai
dewasa ini karena perkembangan prevalensinya di beberapa negara yang cukup
pesat tanpa diketahui penyebabnya. Beberapa faktor resiko seperti paparan
estrogen atau zat anti-androgen pada masa kehamilan dapat dihindari untuk
menurunkan resiko terjadinya hipospadia. Keluhan yang paling sering terjadi
adalah pancaran urin yang melemah ketika berkemih, sampai terjadinya gangguan
aktivitas seksual maupun infertilitas. Pengobatan sejak dini disarankan untuk
mendapatkan hasil yang lebih baik dan komplikasi yang rendah. Teknik operasi
sudah berkembang pesat dan beberapa memiliki keunggulan masing-masing,
namun untuk hipospadia distal paling sering adalah Tubularization Incised of
urethral Plate (TIP) dan pada hipospadia proximal adalah teknik 2 stage graft. Di
Indonesia beberapa penelitian dilakukan dan menemukan angka kejadian yang
cukup merata untuk kelainan hipospadia, dengan tipe yang bervariasi. Hipospadia
distal banyak ditemukan di Indonesia dan teknik TIP sebagai tatalaksana masih
menjadi pilihan utama.

Kata Kunci: hipospadia, prevalensi, Indonesia, karakteristik.

15
HYPOSPADIA: HOW IS THE CHARACTERISTICS IN INDONESIA

Daniel Mahendra Krisna1, Akhada Maulana2


1MedicalFaculty of Duta Wacana Christian University
2Urology Department Mataram University

Correspondence: danielkrisna24@yahoo.com

ABSTRACT

Hypospadia is a congenital anomaly characterized by a urethral meatus located


proximally to the normal place on the ventral penis. This anomaly is formed in embryonal
phase and affected by various condition. Hypospadia should be has more attention
because there is increasing incidence in developed countries. Estrogen or anti androgen
activity exposure such as pesticide in maternal could be a risk factor for developing
hypospadia, which is should be avoided. The most common complaint is weakness in
micturition stream, to sexual activity problems such as unsatisfying ejaculation and
infertility. Early treatment should be considered. There is eveidence that early treatment
would give better outcomes and less complication. Surgery technique in pediatric urology
is rapidly grows in decade. Tubularization Incised of urethral Plate (TIP) still be
considered as first choice in distal hypospadia, while 2 stage graft technique in proximal
hypospadia. In Indonesia, some studies found that hypospadia prevalence has equitable
distribution, with various type. Distal hypospadia has been the most common type of
hypospadia in Indonesia and TIP is considered to treating this anomaly.

Keywords: hypospadia, prevalence, Indonesia, characteristic.

16
PENDAHULUAN stabil pada rentang waktu tersebut. 8
Hasil ini serupa dengan penelitian
Hipospadia merupakan kelain-an
yang dilakukan oleh Aho et al di
kongenital yang paling sering
Finlandia untuk mengetahui
ditemukan pada anak laki-laki.1,2,3
prevalensi hipospadia di tahun
Kata hipospadia berasal dari bahasa
1970-1994.1 Di negara Eropa terjadi
Yunani yaitu Hypo, yang berarti
peningkatan prevalensi hipospadia
dibawah, dan Spadon, yang berarti
pada tahun 1970-1980 tanpa
lubang.4,5 Hipospadia dapat di-
diketahui penyebabnya. Di Amerika
definisikan sebagai adanya muara
Serikat berdasarkan Metropolitan
urethra yang terletak di ventral atau
Atlanta Congenital Defect Program
proximal dari lokasi yang seharus-nya.
(MACDP) dan the Nationwide Birth
Kelainan ini terbentuk pada masa
Defects Monitoring Program (BDMP)
embrional karena adanya defek pada terdapat peningkatan 2 kali lipat
masa perkembangan alat kelamin dan terhadap insidens hipospadia.5,7 Hal
sering dikaitkan dengan gangguan ini dikaitkan dengan peningkatan
pembentukan seks primer ataupun insidensi kelahiran prematur, berat
gangguan aktivitas seksual saat lahir bayi rendah, ataupun
dewasa.6 terpaparnya janin terhadap zat
Belum ada penelitian yang progestin atau anti androgen.
menyebutkan angka kejadian Di Indonesia prevalensi hipospadia
Hypospadia yang pasti di Indonesia. belum dketahui secara pasti.
Namun terdapat beberapa penelitian Limatahu et al menemukan 17 kasus
yang tersebar di beberapa daerah di di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandau
Indonesia yang menemukan kasus ini Manado pada periode Januari 2009-
tidak dalam jumlah yang sedikit. Hal Oktober 2010.9 Duarsa et al
ini menguatkan fakta bahwa melakukan penelitian deskriptif
hipospadia di Indonesia memilki angka terhadap kasus hipospadia pada
kejadian yang cukup tinggi, namun Januari 2009 hingga april 2012 di RS
kurangnya pengetahuan masyarakat Sanglah Bali menemukan sebanyak
mengenai kelainan ini menyebabkan 53 kasus.10 Tirtayasa et al juga
tidak banyak kasus yang dapat melakukan penelitian mengenai hasil
ditangani di rumah sakit, ataupun
luaran dari pembedahan urethroplasty
fasilitas dan tenaga kesehatan yang
pada kasus hipospadia di RS M.
belum merata sehingga kasus ini tidak
Djamil Padang pada rentang Januari
terdeteksi.
2012 - Januari 2014 dengan jumlah
Diharapkan melalui tinjauan pustaka 44 kasus.11 Maritzka et al pada studi
ini dapat meningkatkan kewaspadaan observasinya pada rentang tahun
terhadap kelainan hipospadia di 2010-2012 di Jawa Tengah
Indonesia. menemukan 120 kasus, sedangkan
Prevalensi & Insidensi Mahadi et al menemukan 24 kasus
Prevalensi hipospadia di dunia sangat pada rentang tahun 2009-2011 di RS
luas secara geografis dan bervariasi. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. 12,13
Insidensi kelainan ini berkisar 1:250 Di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta,
kelahiran bayi atau 1:300 kelahiran Aritonang et al melakukan studi
bayi. Peningkatan insidensi hipospadia retrospektif mengenai komplikasi TIP
masih menuai berbagai kontroversi. 5,8 pada rentang tahun 2002-2014
Bergman et al melakukan penelitian mendapat-kan sampel sebanyak 124
epidemiologi mengenai prevalensi kasus.14 Hal ini menunjukkan bahwa
hipospadia dari tahun 2001-2010 pada daerah yang berbeda secara
menemukan bahwa insidens etnis dan geografis hipospadia dapat
hipospadia cukup ditemu-

17
kan dengan jumlah angka yang tidak 17.393 anak laki-laki yang tidak
jauh berbeda, sehingga dapat terpapar zat tersebut hanya di-
disimpulkan prevalensi hipospadia di temukan 44 kasus (OR: 4.99; CI
Indonesia cukup merata. 95%). Tidak ada hubungan antara
Etiologi & Faktor Resiko hipospadia dengan usia ibu ketika
hamil.
Etiologi hipospadia sangat bervariasi dan
Pada Ibu hamil yang melakukan diet
multifaktorial, namun belum ditemukan
vegetarian diperkira-kan terjadi
penyebab pasti dari kelainan ini.
peningkatan resiko terjadinya
Beberapa penelitian mengemukakan
hipospadia.19 Hal ini dapat disebabkan
semakin berat derajat hipospadia,
adanya kandungan yang tinggi dari
semakin besar terdapat kelainan yang
fitoestrogen pada sayuran. Respon
mendasari.5
Activating Transcription Factor (ATF3)
Beberapa kemungkinan di-kemukakan
terhadap aktivitas anti-androgen
oleh para ahli mengenai etiologi
terbukti berperan penting terhadap
hipospadia. Adanya defek pada
kelainan hipospadia.20 Pada ibu hamil
produksi testosterone oleh testis dan
yang mengkonsumsi obat-obatan anti
kelenjar adrenal, kegagalan konversi
epilepsy seperti asam valproat juga
dari testosteron ke dihidrotestoteron,
diduga meningkatkan resiko
defisiensi reseptor androgen di penis,
hipospadia.21
maupun penurunan ikatan antara
dihidros-testoteron dengan reseptor Pada anak laki-laki yang lahir
androgen dapat menyebabkan dengan program Intra-cystolasmic
hipospadia.15 sperm Injection (ICSI) atau In Vitro
Fertilization (IVF) memiliki insidensi
Adanya paparan estrogen atau
yang tinggi pada hipospadia. Intra
progestin pada ibu hamil di awal
uterine growth retardation, berat bayi
kehamilan dicurigai dapat me-
ningkatkan resiko terjadinya hipospadia. lahir rendah, bayi kembar, turunan
Lingkungan yang tinggi terhadap hipospadia juga merupakan faktor
aktivitas estrogen sering ditemukan pada resiko hipospadia yang dapat
pestisida di sayuran dan buah, susu dikendalikan semasa kehamilan.
3,22,23 Chong et al tidak menemukan
sapi, beberapa tanaman, dan obat
adanya korelasi antara kelahiran
-obatan. Namun beberapa penelitian
prematur dengan hipospadia.3
mengemukakan bahwa pil kontrasepsi
Beberapa kelainan yang sering
tidak menimbulkan hipospadia.16,17 Be-
ditemukan bersamaan dengan
berapa penelitian menemukan bahwa
hipospadia adalah kelainan
ibu hamil yang terpapar
kromosom dan ambigu genitalia
diethylstilbestrol meningkatkan resiko
seperti hermafrodit maupun
terjadinya hipospadia. Klip et al
melakukan penelitain pada 8.934 anak pseudohermafrodit.24
laki-laki, pada 205 ibu muda yang Klasifikasi
terpapar diethylstilbestrol ditemukan 4 Klasifikasi hipospadia terbagi
kasus hipospadia.17 Sedangkan pada berdasarkan lokasinya. Klasifikasi
8.729 kelahiran yang tidak terpapar yang paling sering digunakan adalah
diethylstilbestrol hanya ditemukan 8 klasifikasi Duckett yang membagi
kasus (OR: 21.3; CI 95%). Begitu pula hipospadia menjadi 3 lokasi, yaitu
Pons et al melakukan survey pada anterior (Glandular, coronal, dan
17.633 anak laki-laki, 3 dari 240 anak distal penile), middle (midshaft dan
laki-laki yang terpapar diethylstilbestrol proximal penile), dan posterior
ketika janin menderita hipospadia. 18 Dari (Penoscrotal, scrotal, dan perineal).
25,26 Lokasi yang paling sering
ditemukan adalah di subcoronal.4
Klasifikasi hipospadia ber- seharusnya (Perineal, Scrotal,
dasarkan derajat sangat subyektif Penoscrotal).
tergantung dari ahli bedah masing- Di Indonesia berbagai variasi
masing.4 Beberapa ahli membagi ditemukan berdasarkan tipe letak
menjadi: 1) Mild hypospadia/ Grade muara urethra. Mahadi et al
1, yaitu muara urethra dekat dengan menemukan tipe Penile paling
lokasi normal dan berada pada ujung banyak ditemukan (41,7%), Duarsa
tengah glans (glanular, coronal, et al menemukan paling banyak
subcoronal), 2) Moderate adalah tipe Penoscrotal (33.3%),
hypospadia/ Grade 2, muara urethra sama dengan yang didapatkan oleh
berada ditengah-tengah lokasi Limatahu et al, dan Tirtayasa et al
normal dan scrotal (Distal penile, menemukan paling banyak adalah
Midshaft), 3) Severe hypospadia/ tipe middle shaft penile
Grade 3&4, yaitu muara urethra (33.3%).9,10,11,13
berada jauh dari lokasi yang

Gambar 1. Klasifikasi Hipospadia.30

Gejala Klinis Chorda adalah adanya pem-


bengkokan menuju arah ventral dari
Gejala yang timbul bervariasi sesuai
penis.4 Hal ini disebabkan oleh
dengan derajat kelainan. Secara umum
karena adanya atrofi dari corpus
jarang ditemukan adanya gangguan
spongiosum, fibrosis dari tunica
fungsi, namun
albuginea dan fasia di atas tunica,
cenderung berkaitan dengan masalah
pengencangan kulit ventral dan fasia
kosmetik pada pemeriksaan fisik
Buck, perlengketan Antara kulit
ditemukan muara uretra pada bagian
penis ke struktur disekitarnya, atau
ventral penis.7 Biasanya kulit luar
perlengketan Antara urethral plate
dibagian ventral lebih tipis atau bahkan
ke corpus cavernosa. Keluhan yang
tidak ada, dimana kulit luar di bagian
mungkin ditimbulkan adalah adanya
dorsal menebal bahkan terkadang
pancaran urin yang lemah ketika
membentuk seperti sebuah tudung. Pada
berkemih, nyeri ketika ereksi, dan
hipospadia sering ditemukan adanya
gangguan dalam berhubungan
chorda.
seksual.5 Hipospadia sangat sering
ditemukan bersamaan dengan yaitu pembentukan glans penis
cryptorchismus dan hernia inguinalis kembali. Glansplasty sering diikuti
sehingga pemeriksaan adanya testis dengan prepucioplasty. 6,27,28
tidak boleh terlewatkan. Usia yang ideal untuk dilakukan
Pemeriksaan Penunjang operasi adalah pada usia 6-12
bulan. Semakin dini dilakukan
Tidak ada pemeriksaan laboratorium
operasi semakin mudah perawatan
yang disarankan untuk
paska operasinya, termasuk dalam
penegakkan pasti diagnosis
masalah higienitas, pemakaian
hipospadia. USG Ginjal disarankan
kateter, kebutuhan analgesik, dan
untuk mengetahui adanya anomali
perubahan emosi paska operasi.4,6
lainnya pada saluran kemih pad pasien
Beberapa teknik operasi ditemukan
hipospadia. Karyotyping disarankan
dan semakin mengalami banyak
pada pasien dengan
perkembangan. Teknik operasi yang
ambigu genitalia ataupun
paling sering dilakukan adalah
cryptochirdism. Beberapa test seperti
urethroplasty seperti Meatal
elektrolit, 17- hydroxyprogesterone,
Advancement-Glanuloplasty (MAGPI),
testosterone, luteinizing hormon, follicle-
Glans Approximation Procedure (GAP),
stimulating hormon, sex-hormon binding
dan Tubularization Incision of the
globulin, dan beberapa tes genetik
Urethral Plate (TIP).4 Pada hipospadia
dipertimbang-kan apabila
proximal paling sering digunakan
memungkinkan.5
teknik 2 stage graft. Apabila pasien
Tatalaksana ingin disirkumsisi maka kulit
Tujuan dari tatalaksana hipospadia preputium dapat digunakan sebagai
adalah: 1) membuat penis tegak lurus bahan flap, namun apabila pasien
kembali sehingga dapat digunakan tidak ingin disirkumsisi maka dapat
untuk berhubungan seksual, 2) reposisi dilakukan prepucioplasty dan bahan
muara urethra ke ujung penis agar flap didapatkan dari mukosa mulut. 6
memungkinkan pasien berkemih sambil Indikasi pemilihan teknik operasi yang
berdiri, 3) membuat neourethra yang tepat dapat dilakukan ber-dasarkan
adekuat dan lurus, 4) merekonstruksi lokasi serta derajat kurvatura penis
penis menjadi terlihat normal, 5) dan seperti terlihat pada gambar 2. Di
menurunkan resiko terjadinya Indonesia, teknik yang paling sering
komplikasi seminimal mungkin. 4,5,6 digunakan adalah TIP seperti yang
beberapa tahap operasi perlu dilakukan dilakukan Duarsa et al (55.56%),
seperti orthoplasty (Chordectomy) yaitu Tirtayasa et al (50%), dan Mahadi et al
melakukan koreksi chorde sehingga (95.8%).10,11,13 Hal ini dimungkinkan
penis dapat karena teknik TIP fleksibel, angka
tegak lurus kembali, lalu urethroplasty, komplikasi rendah, dan menghasilkan
yaitu membuat urethra baru yang sesuai muara urethra vertikal, dan jenis
dengan lokasi seharusnya, serta hipospadia yang ditemukan adalah
Glansplasty, hipospadia distal.
Gambar 2. Algoritma Teknik Operasi Hipospadia.6

Teknik operasi dilaporkan terdapat menjadi dua yaitu komplikasi dini


beberapa komplikasi yang sering dan komplikasi lanjutan seperti
terjadi. Komplikasi dibagi tertera di Tabel 1.

Tabel 1. Komplikasi Paska Operasi.5

Komplikasi Awal Komplikasi Lanjutan

Perdarahan Fistula Urethrokutaneus

Hematoma Stenosis Meatal

Infeksi pada luka operasi Rekuren atau persistent chordee

Wound Dehiscence Striktur Urethra

Nekrosis kulit Balanitis Xerotica Obliterans

Infeksi Saluran kemih Urethrocele

Retensi Urin Divertikula Urethra

Kesimpulan

Hipospadia Masih menjadi masalah


kesehatan dengan angka insidensi yang
tinggi di dunia kelainan ini merupakan
kelainan kongenital yang tidak diketahui
dengan pasti penyebabnya. Namun,
beberapa faktor resiko dapat dihindari dan
dikendalinan. Indonesia masih belum
diketahui angka insidensi yang pasti dan
apakah terdapat peningkatan kejadian
seperti yang terjadi di amerika dan eropa
9. Hypospadias Cases in
Sanglah General Hospital,
DAFTAR PUSTAKA Bali-Indonesia: A Descriptive
Study . Bali Med J. 2016: 5(1);
1. Lund L, Engebjerg M, Pedersen 13-16.
L, Ehrenstein V, Nørgaard M, 10.Tirtayasa PMW, Zulfiqar Y,
Sørensen H. Prevalence of Alvarino. The Outcomes of
Hypospadias in Danish Boys: A Urethroplasty for Hypospadias
Longitudinal Study, 1977–2005. Repair in M. Djamil Hospital,
European Urology. Padang, Indonesia. Journal of
2009;55(5):1022-1026. Advances in Medical and
2. Chong J, Wee C, Ho S, Chan D. Pharmaceutical Sciences.
Factors associated with 2015: 4(2); 1-5.
hypospadias in Asian newborn 11.Maritzka Z, Santosa A, Ariani
babies. Journal of Perinatal MD, Juniarto AZ, Farad SMH.
Medicine. 2006;34(6). Profile of Hypospadias Cases
3. Giannantoni A. Hypospadias in Central Java, Indonesia.
Classification and Repair: The Journal of Biomedicine and
Riddle of the Sphinx. European Translational Research. 2015:
Urology. 2011;60(6):1190-1191. 1; 16 – 21.
4. Leung A. Robson W. 12.Mahadi EP, Tarmono,
Hypospadias: an update. Asian Prastyawan W. Profil
Journal of Andrology. hipospadia di rsud dr.
2007;9(1):16-22. kanujoso djatiwibowo
5. Snodgrass WT, Bush NC. balikpapan juli 2009 – juni
Hypospadia. In In Campbell M, 2011. Jurnal Urologi
Wein A, Kavoussi L, Walsh P. Universitas Airlangga
Campbell-Walshurology. 13.Aritonang J, Rodjani A,
Philadelphia: Elsevier; 2016; Wahyudi RelationshipBetween
p2565-77 Complicating Factors Of
6. Center for the Study & Treatment Hypospadia and
of Hypospadias | UCSF
Complications After TIP: A
retrospective Study.
Department of Urology [Internet].
Indonesian Journal of
Urology.ucsf.edu. 2016 [cited 9
Urology. 2016: 23(2);103-107.
November 2016]. Available from:
14.Albers N, Ulrichs C, Gluer S,
https://urology.ucsf.edu/researc
Hiort O, Sinnecker GH,
h/children/center-study-
Mildenberger H, et al. Etiologic
treatment-hypospadias
classification of severe
7. Bergman J, Loane M, Vrijheid M,
hypospadias: implications for
Pierini A, Nijman R, Addor M et
prognosis and management. J
al. Epidemiology of hypospadias
Pediatr 1997; 131: 386–92.
in Europe: a registry-based
15.Carmichael SL, Shaw GM,
study. World J Urol.
Laurent C, Lammer EJ, Olney
2015;33(12):2159-2167.
RS. The National Birth Defects
8. Limatahu N, Oley MH, Monoarfa
Prevention Study. Paediatr
A. Angka Kejadian Hipospadia
Perinat Epidemiol 2005; 19:
Di RSUP. Prof. Dr. R. D. Kandou
406– 12.
Manado Periode Januari 2009-
16. Klip H, Verloop J, van Gool JD,
Oktober 2012. ECL. 2013:
Koster ME, Burger CW, van
1(2);1-6Duarsa GWK, Nugroho
Leeven FE, et al. Hypospadias
TD.
in sons of women exposed to a
cohort study. Lancet 2002; 359:
1102–7.
1. Kelainan kongenital adalah
a. Kelainan yang sudah ada sejak lahir
b. Kelainan karena faktor genetik
c. Kelainan karena faktor non genetik
d. Kelainan setelah lahir
e. Kelainan yang sudah ada sejak lahir yang dapat disebabkan oleh faktor genetik
maupun non genetik.

2. Masuknya organ abdomen melalui detek (lubang) pada diafragma ke dalam rongga
toraks, disebut …
a. Hipospadia
b. Fimosis
c. Hernia diafragmatika
d. Meningokel
e. Ensefalokel

3. Bunyi jantung terdengar di daerah yang berlawanan karena terdorong oleh isi perut
adalah salah satu gamabran klinis dari
a. Hernia diafragmatika
b. Atresia duodeni
c. Esophagus
d. Hidrpsephalus
e. Ensafalokel

4. Defek dimana duodenum bagian pertama usus halus, tidak berkembang dengan
sempurna disebut
a. Esophagus
b. Atresia Duodeni
c. Hidrosefalus
d. Fimosis
e. Hipospadia

5. Tipe spinal bifida dimana kantug cairan muncul dari lubang pada punggung bayi, namun
medula spinalis tidak terdapat pada kardiag tersebut adalah pengertian dari
a. Ensofalokel
b. Meningokel
c. Hidrosefalus
d. Fimosis
e. Hipospadia

6. Penyebab ensefalokael adalah


a. Kegagalan penutupan tabung saraf selama perkembangan janin
b. Kerusakan syaraf
c. Kelumpuhan pada pinggul tungkai atau kaku
d. Esofagus yang tidak terbentuk secara sempurna
e. Masuknya organ abdomen

7. Salah satu penatalaksanaan Hidrosefalus


a. Ukur lingkar kepala secara berkala untuk mengetahui laju pertambahan CSS
i
b. Sirkumsisi
c. Bayi diletakkan di inkubator
d. Berikan oksigen
e. Bayi tidak diberi minum

8. Bayi / anak sukar berkemih, preputium menggelembung, kulit penis tidak bisa ditarik ke
arah pangkal, BAK tidak lancar adalah gambaran klinis dari
a. Hipospadia
b. Hidrosefalus
c. Fimosis
d. Atresia Duodeni
e. Meningokel

9. Pada bayi dilalaikan, tindakan kordektomi tetapi pada anak usia 2-4 tahun dilakukan
rekontruksi uretra adalah penatalaksanaan dari
a. Hipspadia
b. Meningokel
c. Atresia Duodeni
d. Hidrosefalus
e. Fimosis

10. Penyebab dari kelainan metabolis adalah


a. Kerusakan syaraf
b. Gangguan metabolisme asam amino, gangguan metabolisme lipid atau asam lemak,
gangguan metabolisme karbohidrat dan gangguan metabolisme mukopoli sakarida
c. Kelumpuhan pada pinggul, tungkai atau kaki
d. Esofagus yang tidak terbentuk secara sempurna
e. Masuknya organ abdomen.

ii

Anda mungkin juga menyukai