Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR MORFOLOGI BUNGA

untuk memenuhi tugas Matakuliah Struktur Perkembangan Tumbuhan II

yang dibimbing oleh

Dr. Sulisetojono, M.Si dan Umi Fitriyati,S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :

Oktaviani Jannati Kolbi (180342618038)

Offering I 2018

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

DESEMBER 2019
A. Topik : Struktur Bunga
Hari/Tanggal : Jumat, 4 oktober 2019,
Kamis, 10 oktober 2019,
Kamis, 17 oktober 2019,
Kamis, 24 oktober 2019.
B. Tujuan
a. Mengetahui struktur morfologi pada bunga
b. Memahami bagian-bagian bunga
c. Membedakan bunga tunggal dan bunga majemuk
d. Menentukan rumus bunga dan diagram bunga
C. Alat dan Bahan
a. Alat
1) Kamera handphone
2) Mikroskop stereo
b. Bahan
1) Bunga Sirsak ( Annona muricata )
2) Bunga Pisang ( Musa L )
3) Bunga Kembang Sepatu ( Hibiscus rosasinensis )
4) Bunga Markisa ( Passiflora edulis )
5) Bunga Canna ( Canna indica )
6) Bunga Waluh Jantan ( Cuciurbita )
7) Bunga Waluh Betina ( Cuciurbita )
8) Bunga Racunan ( Euphorbia pulcherima )
9) Bunga Paitan ( Tithonia diversifolia )
10) Bunga Pepaya Jantan ( Carica papaya )
11) Bunga Pepaya Betina ( Carica papaya )
12) Bunga Pepaya Hermafrodit ( Carica papaya )
13) Bunga Coklat ( Zephyranthes candida )
14) Bunga Turi ( Sesbania grandiflora )
15) Bunga Jagung ( Zea mays ) Jantan
16) Bunga Jagung ( Zea mays ) Betina
17) Bunga Soka ( Ixora sp )
18) Bunga Krangkong ( Ludwiga adscendes L )
19) Bunga Kembang Merak ( Caesalpinia pulcherrima )
20) Bunga Kantil (Magnolia alba)
21) Bunga Bauhinia purpurea
22) Bunga Nerium oleander
23) Bunga Kertas (Zinnia sp.)
24) Bunga Bougenvillia sp.
D. Hasil Pengamatan
E. Pembahasan
Bunga merupakan alat reproduksi seksual. Bunga terdiri atas bagian yang
fertil, yaitu benang sari dan daun buah, serta bagian yang steril yaitu daun kelopak
dan daun mahkota. Bunga merupakan sebagian dari cara reproduksi seksual yang
menghasilkan biji, dan akhirnya dari bijilah diperoleh tumbuhan baru
(Tjitrosoepomo, 2006).
Menurut Tjitrosoepomo (2006) bunga berdasarkan tempatnya dibedakan
menjadi bunga pada ujung batang (flos terminalis) bila letaknya di ujung cabang atau
ujung batang dan apabila bunga terletak di ketiak daun dinamakan (flos lateralis/flos
axillaris). Berdasarkan hasil pengamatan, bunga coklat, bunga soka, bunga racunan,
bunga jagung jantan, bunga turi, kembang merak, bunga tasbih, bunga paitan, bunga
bakung, bunga pisang mempunyai tipe flos terminalis. Sedangkan yang termasuk
dalam tipe flos axillaris yaitu bunga bunga sepatu, bunga waluh, bunga markisa,
bunga sirsak, bunga pepaya, bunga krangkong, dan bunga jagung betina.
Tipe bunga berdasarkan jumlah bunga, tumbuhan dapat dibedakan menjadi
tumbuhan berbunga tunggal (planta uniflora) yaitu tumbuhan yang hanya
menghasilkan satu bunga (Allard, 2011). Berdasarkan hasil pengamatan, seperti
terdapat pada bunga coklat, dan tumbuhan yang berbunga banyak (planta multiflora)
seperti pada bunga sepatu, bunga waluh, bunga markisa, bunga sirsak, bunga pepaya,
bunga pisang, bunga krangkong, bunga paitan, bunga racunan, bunga turi, kembang
merak, dan bunga jagung.
Menurut Tjitrosoepomo (2006), planta multifora dapat dibagi lagi menjadi
dua yaitu flores sparsi dan inflorescentia. Dikatan flores sparsi jika bunga pada satu
tanaman tersebut terpencar atau terpisah-pisah, misalnya pada bunga sepatu, bunga
waluh, bunga sirsak, bunga markisa, dan bunga cempaka. Sedangkan bunga yang
berkumpul membentuk suatu rangkaian dengan susunan yang beraneka ragam
dinamakan bunga majemuk atau inflorescentia, misalnya pada bunga kembang
merak, bunga jagung, bunga jagung, bunga pepaya, bunga krangkong, bunga paitan,
bunga racunan, bunga pisang, dan bunga turi.
Tipe perbungaan hanya dimiliki oleh bunga majemuk, dari hasil pengamatan
yang termasuk bunga majemuk yaitu bunga racunan, bunga jagung jantan, kembang
merak, bunga paitan, bunga pisang, bunga pepaya, bunga krangkong, bunga turi, dan
bunga jagung betina. Tipe perbungaan tandan seperti pada bunga turi, dan bunga
kembang merak. Tipe perbungaan cawan seperti yang terdapat pada bunga paitan.
Tipe perbungaan bulir terdapat pada bunga jagung jantan. Tipe perbungaan tongkol
seperti pada bunga pisang dan bunga jagung betina, pada bunga racunan jantan tipe
perbungaannya yaitu cincinus. Pada bunga krangkong tipe perbungannya dichasial.
Menurut Tjitrosoepomo (2006), bunga lengkap atau bunga sempurna (flos
completus), yang dapat terdiri atas kelopak, mahkota, benang-benang sari dan putik.
Bunga yang bagian-bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran dikatakan bersifat
tetrasiklik, dan jika bagian-bagiannya tersusun dalam lima lingkaran dikatakan
pentrasiklik. Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos incompletus), jika
salah satu bagian hiasan bunganya atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika
bunga tidak mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu disebut telanjang (nudus), jika
hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya dinamakan
berkelamin tunggal (unisexualis). Sebagian besar bunga yang telah diamati
merupakan bunga lengkap, tetapi ada beberapa bunga yang tidak lengkap seperti
bunga jagung, bunga racunan, dan bunga coklat.
Keadaan bunga dapat ditinjau dari beberapa macam hal seperti letak masing-
masing bagian bunga yaitu cyclis, acyclis, dan hemicylis (Tjitrosoepomo,2006).
Bunga dikatakan cyclis ketika semua bagian-bagian bunganya tersusun dalam
lingkaran contohnya seperti bunga sepatu, bunga jagung, kembang merak, bunga
turi, bunga paitan, bunga pepaya, bunga krangkong, bunga pisang, bunga coklat,
bunga markisa, dan bunga waluh. Bunga dikatakan acyclis ketika bagian-bagian
bunganya tersusun menurut garis spriral contohnya seperti bunga racunan.
Sedangkan bunga dikatakan hemicyclis jika sebagian bagian-bagian bunga duduk
dalam lingkaran dan sebagian lain terpencar atau menurut garis spiral contohnya
seperti bunga sirsak.
Menurut Tjitrosoepomo (2006), simetri bunga dapat dibedakan menjadi
asimetris, monosimetris, disimetris, polysimetris. Asimetris yaitu bunga yang tidak
dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapun . Monosimetris yaitu jika pada
bunga hanya dapat dibuat satu bidang simetri misalnya pada bunga jagung, bunga
turi, kembang merak. Polysimetris yaitu jika bungadapat dibuat banyak bidang
simetri misalnya pada bunga sepatu, bunga krangkong, bunga pepaya, bunga
racunan, dan bunga waluh.
Sifat sepal pada bunga ada dua yaitu gamosepalus dan polysepalus.
Gamosepalus yaitu pada kelopak biasanya yang berlekatan hanya bagian bawah
daun-daun kelopaknya saja, bagian atasnya tetap bebas, misalnya pada bunga
pepaya, bunga paitan. Polysepalus yaitu jika daun-daun kelopak yang satu dengan
yang lain benar-benar terpisah-pisah atau tidak berlekatan, misalnya pada bunga
krangkong, bunga sirsak, bunga markisa.
Sifat petal pada bunga ada dua yaitu gamopetalus dan polypetalus.
Gamopetalus yaitu pada mahkota biasanya yang berlekatan hanya bagian bawah
daun-daun mahkotanya saja, bagian atasnya tetap bebas, misalnya pada bunga soka,
bunga paitan, bunga krangkong. Polypetalus yaitu jika daun-daun mahkota yang satu
dengan yang lain benar-benar terpisah-pisah atau tidak berlekatan, misalnya pada
bunga pepaya, bunga sirsak, dan bunga markisa.
Menurut Tjitrosoepomo (2006), berbagai jenis tumbuhan mempunyai hiasan
bunga yang tidak lagi dapat dibedakan mana kelopak dan mana tajuknya, itulah yang
disebut tenda bunga (perigonium) atau tepal. Menurut bentuk dan warnanya dapat
dibedakan menjadi dua yaitu perigonium yang serupa kelopak (calcycinus) dan
perigonium yang serupa tajuk/mahkota (corollinus. Sifat perigonium juga ada dua
yaitu berlekatan (gamophyllus) seperti pada bunga pisang dan lepas atau bebas
(pleiophyllus) seperti pada bunga coklat dan bunga jagung.
Berdasarkan hasil pengamatan ditemukan berbagai model aestivatio kelopak
dan mahkota bunga. Terbuka (aperta) misalnya pada bunga cempaka, berkatup
(valvata) seperti pada bunga sirsak, berkatup dengan tepi melipat kedalam
(induplicativa) seperti pada bunga waluh, berkatup dengan tepi melipat keluar
(reduplicativa) seperti pada bunga turi, menyirap (imbricata) bunga pepaya dan
bunga sepatu, kohlearis (cochlearis) seperti pada bunga kembang merak.
Jika dalam satu tumbuhan terdapat 2 macam alat reproduksi (jantan dan
betina), maka tumbuhan tersebut disebut monoecus seperti pada bunga waluh, bunga
sepatu, bunga pisang, bunga sirsak, bunga turi, bunga bakung, bunga coklat, bunga
krangkong. Jika individu hanya mendukung 1 macam alat reproduksi dan alat
reproduksi lain didukung di individu yang berbeda namun sama jenisnya, maka
tumbuhan tersebut disebut diooecus, tipe ini tidak ditemukan pada bahan pengamtan
akan tetapi contoh lainnya yaitu pada salak. Jika pada satu tumbuhan terdapat bunga
jantan, betina dan banci secara bersamaan, maka tumbuhan tersebut disebut
polygamus seperti pada bunga pepaya (Tjitrosoepomo, 2006).
Tumbuhan memiliki dua alat kelamin bunga yaitu alat kelamin jantan
(Androcium) dan alat kelamin betina (Gynecium). Pada pengamatan (Androcium)
dilakukan pengmatan dengan memperhatikan beberapa karakteristik yaitu duduk
benang sari, jumlah benang sari, jumlah berkas dan duduk kepala sari. Duduknya
benang sari dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu benang sari jelas duduk pada
dasar bunga (Thalamiflorae) contohnya yaitu bunga kupu-kupu. Benang sari tampak
seperti duduk di atas kelopak .Benang sari tampak duduk di atas tajuk bunga
(Corolliflorae) contohnya yaitu bunga krangkong. Selanjutnya yaitu jumlah benang
sari, pada hasil pengamatan didapatkan jumlah benang sari yang bermacam-macam
yaitu sama banyak dengan daun tajuk, contohnya bunga paitan, jumlah benang sari
yang episepal ditemukan pada bunga nerium dan bauhinia.
Jumlah berkas benang sari sering berkaitan sengan jumlah benang sari,
apabila jumlah benang sari banyak maka jumlah berkas juga banyak. Kemudian yaitu
duduknya kepala sari pada tangkai yang dibedakan menjadi tiga yaitu tegak (innatus)
contohnya yaitu bunga sepatu, menempel (adnatus), contohnya bunga waluh, dan
bergoyang (versatilis) contohnya yaitu bunga bakung.
Pada pengamatan alat kelamin betina (Gynecium) dilakukan pengamatan
dengan memperhatikan beberapa karakteristik. Pada hasil pengamatan, banyak daun
penyusun putik dapat dibedakan menjadi dua yaitu putik tunggal (simplex) putik
hanya tersusun atas sehelai daun buah saja, misalnya pada bunga kembang merak
Sedangkan putik majemuk (Compositus), jika putik terjadi dari dua daun buah atau
lebih, misalnya pada bunga sepatu, bunga krangkong (Tjitrosoepomo, 2006).
Menurut Tjitrosoepomo (2006), letak bakal buah yang dibagi menjadi tiga
yaitu bakal buah menumpang (superus) ialah jika bakal buah duduk di atas dasar
bunga, misalnya pada pada bunga sepatu. Bakal buah setengah tenggelam (hemi
inferus), jika bakal buah dudk pada dasar bunga yang cekung. Bakal buah tenggelam
(inferus), jika seluruh bagian samping bakal buah berlekatan dengan dasar bunga,
misalnya pada bunga waluh betina.
Kemudian yaitu bakal buah berdasarkan daun buah yang dapat dibagi
menjadi parakap, senokarp, apokarp dan sinkarp. Parakarp yaitu jika perlekatan
daun-daun buah itu hanya merupakan satu putik dengan satu ruang saja, misalnya
pada bunga pepaya. Apokarp yaitu jika pada satu bunga mungkin terdapat lebih dari
satu putik, yang masing-masing terdiri atas satu daun buah, misalnya pada bunga
sirsak. Sinkarp yaitu jika dari perlekatan daun-daun buah itu terbentuk putik dengan
jumlah ruangan yang sesuai dengan jumlah daun buahnya, misalnya pada bunga
markisa.
Bakal buah berdasarkan jumlah ruangan yaitu bakal buah beruang satu
(unilocularis), misalnya pada bunga sirsak. Bakal buah beruang dua (bilocularis).
Bakal buah beruang tiga (trilocularis), misalnya pada bunga waluh betina. Bakal
buah beruang banyak (mutilocularis). Selanjutnya yaitu letak tumbuni, letak tumbuni
atau plasenta dapat dibagi menjadi tiga yaitu parietal (parietalis), yaitu pada dinding
bakal-bakal buah, misalnya pada bunga pepaya. Letak tumbuni sentral yaitu dipusat
atau di poros, misalnya pada bunga sirsak. Letak tumbuni aksilar (axillaris) yaitu di
sudut tengah, misalnya pada bunga markisa (Tjitrosoepomo, 2006).
Setelah mengetahui sifat dan keadaan pada bunga, maka dapat menentukan
rumus bunga. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa rumus bunga merupakan
gambaran tentang keadaan suatu bunga. Rumus bunga menunjukkan keadaan
kelopak bunga, mahkota, organ-organ reproduksi dan simetrisnya. Berdasarkan hasil
pengamatan, rumus bunga yang diperoleh rumus bunga yang beraneka macam sesuai
dengan keadaan bagian-bagian bunga tersebut (Rosanti, 2013).
Kemudian setelah mengetahui rumus bunga barulah dapat menggambar
diagram bunga. Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar
dari semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram bunga digambarkan
penampang-penampang melintang bagian-bagian bunga. Berdasarkan hasil
pengamatan, rumus bunga yang diperoleh diagram bunga yang beraneka macam
sesuai dengan keadaan bagian-bagian bunga tersebut (Rosanti, 2013).
F. Kesimpulan
1. Struktur morfologi yang dimiliki bunga yaitu seperti ibu tangkai bunga, tangkai
bunga, dasar bunga, kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari dan putik. Pada
beberapa bunga, bagian-bagian ini bisa mengalami modifikasi.
2. Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga
(receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik
(pistil). Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle),
daun pelindung (bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga.
3. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya mendukung satu bunga, sedangkan pada
bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak bunga. Bunga majemuk dapat
dibedakan menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk tidak terbatas.
Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu
tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang.
4. Susunan bunga dapat pula dinyatakan dengan sebuah rumus, yang terdiri atas
lambang-lambang, huruf-huruf, dan angka-angka, yang semua itu dapat
memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian-bagiannya.
Sedangkan Diagram bunga merupakan gambaran proyeksi pada bidang datar dari
semua bagian yang dipotong melintang, jadi pada diagram itu digambarkan
penampang-penampang melintang daun-daun kelopak, tajuk bunga, benang sari,
dan putik, juga bagian yang lain yang masih ada selain keempat bagian utama
tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Allard. 2011. Materi Pokok Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Universitas
Terbuka.

Rosanti, D. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.

Tjitrosoepomo, G. 2006. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University


Press.

Anda mungkin juga menyukai