Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOKINETIKA

PEMBERIAN PER ORAL GANDA


Hari, Tanggal Praktikum: Selasa, 26 November 2019

Disusun oleh:

Kelompok 7 - Praktikum Farmakokinetika A (Selasa Pagi)

Devi Rahmadhanti N 1706034716

Devina Septianasari 1706034571

Farah Salsabilah 1706078560

Hana Kristina Tanius 1706034363

Jessica Audrienna 1706034016

Nabila Junita P 1706974523

Rifa Zakiyah Arifah 1706026065

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK, NOVEMBER 2019
I. TUJUAN PERCOBAAN

Setelah mengikuti perocbaan ini, tujuan yang diharapkan tercapai antara lain,
1. Mahasiswa mampu memplot grafik Cp vs waktu pada kertas semilog.
2. Mahasiswa mampu mngetahui data yang diperlukan unutk perhitungan
pemberian per oral ganda.
3. Mahasiswa mampu menganalisis data yang diperoleh dengan menggunakan
persamaan farmakokinetik untuk pemberian per oral ganda.

II. TEORI DASAR

Setelah pemberian dosis tunggal, kadar obat dalam plasma meningkat di


atas dan kemudian menurun dibawah konsentrasi efektif minimal (MEC),
mengakibatkan penurunan efek terapeutik. Beberapa obat diberikan dalam suatu
aturan dosis ganda untuk memperpanjang aktivitas terapeutik. Kadar obat dalam
plasma yang diberikan dalam dosis ganda harus dipertahankan di dalam batas yang
sempit dari rentang terapeutik untuk mencapai efektivitas klinis yang optimal.untuk
memperkirakan kadar obat dalam plasma selama pemerian dosis ganda, paramter
farmakokinetik diperoleh dari kurva kadar plasma vs. waktu. yang didapat melalui
dosis tunggal. Parameter farmakokinetik, pengetahuan tentang ukuran dosis, dan
jarak waktu pemberian dapat digunakan untuk memperkirakan kurva kadar plasma
vs waktu yang lengkap atau kadar plama setiap waktu setelah dilakukannya
pengaturan dosis. Berikut ini merupakan kurva hubungan konsentrasi plasma
terhadap waktu pada pemberian obat oral dosis berganda,
Gambar 1. Kurva hubungan konsentrasi plasma terhadap waktu pada pemberian obat
oral dosis berganda

Jika suatu obat diberikan dengan dosis dan jarak waktu pemberian dosis
yang tetap, jumlah obat dalam tubuh akan naik dan plateau pada suatu kadar plasma
rata-rata yang lebih tinggi daripada puncak Cp yang diperoleh dari dosis awal. Bila
dosis kedua yang diberikan dalam suatu jarak waktu yang lebih pendek daripada
waktu yang diperlukan untuk mengeliminasi dosis sebelumnya, maka obat akan
terakumulasi di dalam tubuh, begitu pula sebaliknya jika dosis kedua diberikan
dalam jarak waktu yang lebih panjang. Akumulasi obat dalam tubuh dipengaruhi
oleh waktu paruh eliminasi obat (t1/2) dan jarak waktu pemberian dosis obat.
Sehingga, indeks pengukuran akumulasi obat (R) dapa dihitung dengan
munggunakan persamaan berikut,

atau
Kadar obat dalam plasma atau Cp dapat dihitung dengan menganggap suatu
model kompartemen satu, dosis obat dan jarak pemberian dosis konstan,

𝐹 𝑘𝑎 𝐷𝑜 −𝑛𝑘𝑎𝜏 −𝑛𝑘𝜏
𝐶𝑝 =
𝑉𝑑 (𝑘−𝑘𝑎)
[(1−𝑒
1−𝑒 −𝑘𝑎𝜏 ) 𝑒 −𝑘𝑎𝑡 - (1−𝑒
1−𝑒
) 𝑒 −𝑘𝑡 ]
−𝑘𝜏

Keterangan:
n = number of doses
τ = dosage interval
F = fraction of doses absorbed
t = time after administration of n doses

Rerata kondisi tunak (steady state), Cav∞ plasma dapat ditentukan oleh persamaan
berikut :

Cav∞ berbanding langsung dengan ukuran dosis dan jumlah obat yang
terabsorpsi. Bila jarak waktu pemberian dosis diperpendek, maka harga Cav∞ akan
meningkat. Cav∞ dapat diperkirakan akan lebih tinggi untuk obat-obat yang
terdistribusi dalam VD kecil atau mempunyai waktu paruh eliminasi yang panjang
dibandingkan obat-obat yang terdistribusi dalam VD besar atau yang mempunyai
waktu paruh eliminasi yang sangat pendek. Jika ClT menurun, maka Cav∞
meningkat.
Cav∞ tidak memberikan informasi mengenai fluktuasi konsentrasi plasma
(Cmax∞ dan Cmin∞). Konsentrasi maksimum dan minumum obat yang diberikan
dengan peroral ganda dapat diperoleh dengan menggunakan persamaan berikut,
Waktu tercapainya konsentrasi maksimum dalam plasma atau tmaks setelah
pemberian dosis oral tunggal dapat dihitung dengan persamaan berikut,

Sedangkan, untuk menghitung waktu puncak konsentrasi plasma setelah


pemberian oral ganda/berulang atau tpeak dapat digunakan persamaan,

Fluktuasi antara Cmax∞ dan Cmin∞ yang besar dapat berbahaya, terutama
pada obat-obat yang memiliki jendela terapi yang sempit. Makin besar jumlah dosis
terbagi, semakin kecil fluktuasi konsentrasi plasma. Pada obat-obat yang
mempunyai jendela terapi yang sempit, jarak pemberian dosis hendaknya tidak
lebih panjang daripada wakru paruh eliminasi.

III. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Alat simulasi model kompartemen
2. Buret 50 ml
3. Pengaduk magnet (Magnetic Stirer)
4. Standar dan statif
5. Tabung reaksi
6. Spektrofotometer
7. Pipet ukur
8. Labu takar
9. Beaker glass 50 ml
10. Stopwatch

Bahan:

1. Aquadest
2. KmnO4
3. Kertas saring
4. Tali kasur

IV. CARA KERJA


1. Siapkan alat model kompartemen yang terdiri dari buret 50 ml sebagai
reservoir, gelas piala 1 liter dan pengaduk magnet (magnetic stirrer).
2. Kalibrasi gelas piala yang telah berisi pengaduk magnet (magnetic stirrer)
dengan air 500 ml dan tandai dengan label. Masukkan 500 ml aquadest
(sesuai tanda kalibrasi) ke dalam gelas piala dalam keadaan kran tertutup.
3. Putar pengaduk magnet pada kecepatan rendah
4. Buka kran buret dan kran gelas piala, atur kecepatan aliran masing-masing
hingga terjadi keseimbangan antara air yang masuk dan keluar. Kecepatan
aliran dipertahankan pada 25 ml/menit.
5. Masukkan kantung pertama berisi serbuk KMnO4 sebagai dosis pertama
ke dalam gelas piala yang berisi aquades. Tempatkan beaker glass untuk
menampung cairan yang keluar dari kran (hanya digunakan 1 kran). Waktu
mulai dihitung saat kantung KMnO4 dimasukkan. Pada menit ke-10,
kantong KMnO4 diangkat dari gelas piala tersebut. Masukkan kembali
kantung kedua berisi dosis kedua KMnO4 pada menit ke-20, angkat
kembali pada menit ke-30. Masukkan kembali kantung yang berisi dosis
ketiga KMnO4 pada menit ke-40 setelah sampling dilakukan dan angkat
kembali pada menit ke-50. Masukkan kembali kantung yang berisi
KMnO4 pada menit ke-60 setelah, angkat kembali pada menit ke-70.
6. Sampel plasma diambil pada menit ke-2,5; 5; 7,5; 10; 12,5; 15; 20; 25; 30;
40; 45; 50; 60; 70; 80; dan 90 menggunakan pipet volume 5,0 ml.
7. Tentukan kadar KMnO4 dalam sampel, dengan cara mengukur serapannya
menggunakan spektroofotometer pada panjang gelombang maksimum 525
nm. Sebagai blanko gunakan aquadest.
8. Buat kurva plot Cp vs t pada kertas semilog serta hitung parameter-
parameter farmakokinetikanya.

Anda mungkin juga menyukai