Anda di halaman 1dari 3

PENGEMBANGAN DAN PENGERUTAN

Valensia Dwi Pajonga (G011191393)


Kelas F, Kelompok 54, Natasya Apriyanti Sitorus
Program Studi Agroteknologi, Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas
Hasanuddin Makassar

ABSTRAK
Tanah dapat mengembang selama proses pembasahan dan tanah dapat mengalami pengerutan
selama pengeringan. Sifat mengembang dan mengerut ini dipengaruhi oleh kandungan dan
tipe liat tanah. Semakin tinggi kandungan liat, semakin besar kapasitas pengembangan dan
pengerutan. Tipe liat montmorilonit mengembang/ mengerut jauh lebih besar daripada tipe
kaolin. Sifat mengembang/mengerut ini mempunyai implikasi terhadap sifat mekanik tanah.
Praktikum ini bertujuan untuk mendemonstrasikan sifat mengembang dan mengerut tanah dan
mengukur besarnya pengembangan dan pengerutan berdasarkan koefisien linier(Coefficient of
linear extensibility). Praktikum ini dilakukan di Laboratorium Fisika Tanah Fakultas
Pertanian Universitas Hasanuddin. Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah COLE
device, spatula, dan mistar dengan panjang 30 cm dan bahan yang digunakan adalah sampel
tanah terganggu, air, dan gemuk. Pada praktikum ini dilakukan dengan mula-mula
menyiapkan COLE device yang telah diolesi gemuk, lumatkan remold pada pasta tanah yang
telah dibuat sebelumnya, tuangkan pasta tanah tersebut ke dalam COLE device, dan biarkan
tanah mongering di ruangan selama 1 minggu. Setelah tanah mongering 1 minggu, lalu diukur
panjang tanah dan dihitung menggunakan rumus COLE. Berdasarkan hasil pengamatan dan
pengukuran yang dilakukan, maka hasil yang kami dapatkan bahwa tanah mengamlami
pengerutan atau penurunan panjang tanah. Hal ini dapat disebabkan karena kandungan air
yang terkandung di dalam pasta tanah tersebut mongering dan berkurang karena adanya udara
dari luar dan waktu pengeringan yang cukup lama.

Kata kunci: Pengembangan, Pengerutan, COLE

PENDAHULUAN
Tanah mengembang atau disebut juga penambahan kadar air menyebabkan
dengan expansive soil, adalah tanah yang pengembangan.
memiliki ciri-ciri kembang susut yang Air masuk diantara partikel partikel
besar, mengembang pada musim hujan dan tanah, misalnya Montmorillonite akan
menyusut pada musim kemarau. Besarnya menyebabkan jarak antar unit dasar
pengembangan atau penyusutan tidak semakin besar sehingga hal ini
merata dari suatu titik ke titik lainnya menyebabkan bertambah besarnya volume
sehingga menimbulkan diffential tanah. Air tertarik ke sekeliling partikel
movement. sehingga menyebabkan berkurangnya
Proses pengembangan (swelling) dan tegangan efektif dari tanah dan mengurangi
penyusutan (Shrinking) tanah sebagian tegangan pengikat antar unit partikel.
besar adalah akibat peristiwa kapiler atau Swelling disebabkan oleh mineral yang ada
perubahan kadar air pada tanah tersebut. di dalam lempung. Lempung yang banyak
Tanah-tanah yang banyak mengandung mengandung Montmorillonite akan lebih
lempung mengalami perubahan volume besar tingkat swelling-nya daripada tanah
ketika kadar air berubah. Pengurangan yang mengandung Kaolinite. Besarnya
kadar air yang diikuti oleh kenaikan swelling ditentukan oleh kimia tanah atau
tegangan efektif menyebabkan volume banyaknya kation dalam tanah, terutama
tanah menyusut dan sebaliknya dengan valensi yang lebih
Dari uraian di atas maka perlu HASIL DAN PEMBAHASAN
dilakukan pengkajian mengenai bahan Berikut merupakan hasil pengamatan dan
organic tanah yang ada di Kebun deskripsi pengembangan dan pengerutan
Percobaan Tanaman Pangan Lahan Basah tanah di praktikum
Fakultas Pertanian, Universitas Tabel 9. Hasil pengamatan pengembangan
Hasanuddin. dan pengerutan
Lapisan
METODE PELAKSANAAN Parameter
Tempat dan Waktu Pengamatan Sebelum Setelah
Praktikum ini dilaksanakan di Mengerut Mengerut
Laboratorium Fisika Tanah Fakultas Sampel
Pertanian Universitas Hasanuddin. Tanah
Praktikum ini dilaksanakan dengan Kebun
pengamatan keasaman tanah pada Hari Percobaan
Jumat 8 November2019, pukul 08.00 Lahan
WITA- selesai Basah
Fakultas
Alat dan Bahan Pertanian,
Adapun alat yang digunakan saat Unhas
praktikum yaitu COLE device, spatula, dan
mistar dengan panjang 30 cm, berskala Hasil pengamatan bahan organik di
mm. Adapun bahan yang dipakai yaitu profil tanah tidak menunjukkan bahwa
sampel tanah terombak/ terganggu yang adanya bota yang hidup pada tanah
mewakili kapasitas pengembangan yang tersebut. Pada lapisan pertama hingga
kontras(COLE tinggi, sedang, dan lapisan keempat tidak terlihat biota yang
rendah)air, dan gemuk hidup karena tanah tersebut tidak subur
sehingga tidak ditumbuhi tanaman di
Prosedur Kerja atasnya. Hal ini didukung oleh Agustina
Adapun prosedur kerja pengamatan (2015) yang mengemukakan bahwa
pengembangan dan pengerutan adalah rendahnya pertumbuhan tanaman pada
sebagai berikut. perlakuan tanpa bahan organik disebabkan
1. Menyiapkan COLE device yang kurangnya bahan organik di dalam tanah
bagian dalamnya telah diolesi gemuk dan tidak tersedianya unsur hara baik
2. Melumatkan(remold) secara merata makro maupun mikro yang cukup serta
sekitar 300 g(atau secukupnya) struktur tanah berada pada kondisi yang
masing-masing sampel tanh kering kurang menguntungkan bagi pertumbuhan
udara yang telah disiapka hingga tanah dan perkembangan tanaman.
berbentuk pasta(sekitar liquid limit Kemudian Jacob dan Sutedjo (1990)
stage atau batas cair) yang halus tanpa juga menyatakan bahwa kekurangan bahan
agregat. organik dalam tanah menyebabkan tanah
3. Dengan spatula, masukkan pasta tanah mudah menjadi padat dan kemampuan
ini ke dalam COLE device menyerap air rendah sehingga kurang
4. Membiarkkan tanah mongering di menguntungkan bagi pertumbuhan akar
dalam ruangan(jangan dimasukkan di tanaman.Banyak sedikitnya bahan organic
dalam oven) yang terdapat dalam tanah juga bisa di lihat
5. Setelah tanah mongering(sekitar 1 dari warna tanah itu.
minggu), ukur panjang, lalu catat Apabila tanah kekurangan bahan
dalam lembar data. organik maka tanah akan cenderung
6. Mengitung COLE dengan rumus berwarna terang seperti pada data
𝐼𝑎 − 𝐼𝑓 pengamatan yaitu berwana agak kekuning-
𝐶𝑂𝐿𝐸 = 100% 𝑥
𝐼𝑎 kuningan dan kemampuan untuk menahan
7. Mendokumentasikan pengamatan air serta bersifat tahan terhadap korosif.
praktikum di Laboratorium
dan Pengkajian Teknologi
PENUTUP Pertanian, Palembang, 26-27
Kesimpulan Juli 2006.
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat Kariada, I K. dan I B. Aribawa. 2009.
disimpulkan bahwa dengan adanya Kajian peranan pupuk organik
pengamatan bahan organik ini dalam mendukung pengelolaan
menunjukkan bahwa tidak terdapat biota terpadu (PTT) di Subak
yang hidup pada tanah tersebut sehingga Mangku, Tabanan, Bali. Hlm
tanaman tidak tumbuh dengan baik. 265-276. Dalam Prosiding
Semakin banyak bahan organic yang Semiloka Nas. Inovasi
terkandung dalam tanah maka tanah itu Sumberdaya Lahan: Inovasi
subur dan berwarna gelap sehingga Teknologi Sumberdaya Lahan
tanaman yang di atasnya tumbuh lebat. Mendukung Sistem Pertanian
Saran Industrial, Bogor 24-25
Sebaiknya tanah yang digunakan pada November 2009.
lahan pertanian harus memiliki kandungan Kasno, A., Nurjaya, dan D. Ardi S. 2009.
bahan organic yang banyak agar tanahnya Neraca hara N, P, dan K pada
subur dan tanamannya dapat tumbuh pengelolaan hara terpadu
dengan baik. lahan sawah bermineral liat
PUSTAKA campuran dan 1:1. Hlm 205-
Hanafiah, K A. 2014. Dasar-Dasar Ilmu 219. Dalam Prosiding
Tanah. Jakarta: Rajawali Press Semiloka Nas. Inovasi
Las, I. dan D. Setyorini. 2010. Kondisi Sumberdaya Lahan: Inovasi
Lahan, Teknologi, Arah, dan Mendukung Sistem Pertanian
Pengembangan Pupuk Industrial, Bogor 24-25
Majemuk NPK dan Pupuk November 2009.
Organik. Hlm 47. Dalam Editorial, 2007. Farming Carbon. Soil and
Prosiding Semnas Peranan Tillage.Research 96(2007) 1-5
Pupuk NPK dan Organik Purwono dan Purnamawati, H. 2006.
dalam Meningkatkan Produksi Budidaya Delapan Jenis
dan Swasembada Beras Tanaman Pangan Unggul.
Berkelanjutan. Balai Besar Penebar Swadaya. Jakarta
Litbang Sumberdaya Lahan Agustina., Jumini dan Nurhayati. 2015.
Pertanian, Bogor 24 Februari Pengaruh jenis Bahan Organik
2010. Terhadap Pertumbuhan dan
Sudriatna, U. dan Subowo. 2007. Tanggap Hasil Dua Varietas Tomat
kacang hijau terhadap sisa (Lycopersicum esculentum Mill
bahan amelioran pada tanah L.). J. Floratek 10: 46 -53.
Inceptisols dan Alfisols. Hlm Jacob dan Sutedjo. 1990. Peran Bahan
12. Dalam Prosiding Seminar Organik. Rineka Cipta. Jakarta.
Nasional Hasil-hasil Penelitian 88 hlm.

Anda mungkin juga menyukai