Anda di halaman 1dari 47

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Rumah Sakit

1. Definisi Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009

tentang rumah sakit, ruma sakit adalah insitusi pelayanan kesehatan yang

menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Rumah sakit adalah bagian dari integral dari keseluruhan system sv

kesehatan yang dikembangkan mealui rencana pembangunan Kesehatan

Nasional dan repelita dibidang kesehatan serta peraturan perundang-

undangan.

Menurut peraturan Menteri Kesehatan Tahun 1988 No. 15b/Men-

Kes/Kes/II/1988 Bab II pasal tiga dinyatakan bahwa:

a. Rumah sakit dapat dimiliki dan diselenggarakan oleh pemerinta dan

swasta,

b. Rumah sakit pemerintah dimiliki dan diselenggarakan oleh :

Departemen Kesehatan, Pemerintah Daerah, ABRI, Badan Usaha Milik

Negara,

c. Rumah sakit swasta dimiliki dan diselenggarakan oleh : yayasan dan

badan hukum lain yang bersifat social.

11
2. Tugas dan Fungsi Rumah Sakit

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun

2009 tentang rumah sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan

pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009,

rumah sakit mempunyai fungsi :

a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan

sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit.

b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatn perorangan melalui

pelayanan kesehatan paripurna.

c. Penyelenggaraan pendidikan danpelatihan sumber daya manusia

dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan

kesehatan.

d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapian

teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan

kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang

kesehatan.

3. Struktur Organisasi Rumah Sakit

Struktur organisasi rumah sakit umumnya terdiri atas bedan

pengurus yayasan, dewan Pembina, dewan penasehat, dewan penyantun,

badan penyelenggara. Badan penyelenggara terdiri atas direktur, komite

medic satuan pengawas dan berbagai bagian dari instaasi. Sebuah rumah

12
sakit bisa memiliki lebih dari seorang wakil direktur, tergantung pada

besarnya rumah sakit.

Wakil direktur pada umumnya terdiri atas wakil direktur pelayanan

medic, wakil direktur penunjang medic dan keperawatan, serta wakil

direktur keuangan dan administrasi. Staf Medik Funsional (SMF) berada

di bawah koordinasi komite medic. SMF terdiri atas dokter umum, dokter

gigi dan dokter spesialis dari semua disiplin yang ada di suatu rumah sakit.

B. Konsep Dasar Appendisistis

1. Definisi Appendisitis

Appendisitis adalah peradangan aibat infeksi pada usus buntu atau

umbai cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum (cecum).

Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga memerlukan

tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya

berbahaya (Nurarif dan Kusuma, 2015).

Appendicitis merupakan penyebab yang paling umum dari inflamasi

akut kuadran kanan bawah abdomen dan penyebab yang paling umum dari

pembedahan abdomen darurat. Pria lebih banyak terkena daripada wanita,

remaja lebih banyak dari orang dewasa; insiden tertinggi adalah mereka

yang berusia 10 sampai 30 tahun (Baughman dan Hackley, 2016).

2. Klasifikasi

Menurut Nurarif dan Kusuma (2015), Aapendisitis diklasifikasikan

menjadi 3 yaitu :

13
a. Appendisitis akut

Appendicitis akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh

bacteria, dan faktor pencetusnya disebabkan oleh sumbatan lumen

apendiks. Selain itu hyperplasia jaringan limf, fikalit ((tinja/batu),

tumor apendiks dan cacing askari yang dapat menyebabkan sumbatan

dan juga erosi mukosa apendiks karena parasit (E. histolycita).

b. Appendicitis rekurans

Appendicitis kronis memiliki semua gejala riwayat nyeri perut

kanan bawah lebih dari 2 minggu, radang kronik apendiks secara

makroskopik dan mikroskopik (fibrosis enyeuruh di dinding apendiks,

sumbatan parsial atau umen apendiks, adanya jaringan paru dan ulkus

lama dimukosa dan infiltasi sel inflamasi kronik), dan keluhan

menghilang setelah apendiktomi.

Sedangkan menurut Sjamsuhidayat dan De Jong W (2011), appendicitis

dikalasifikasikan menjadi 2 yaitu:

a. Appendicitis akut

Appendicitis akut sering tampil dengan gejala khas yang didasari

oleh radang mendadak umbai cacing yang memberikan tanda setempat,

disertai maupun tidak disertai rangsangan peritoneum local. Gejala

appendicitis akut nyeri samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri

visceral didaerah epigastrium disekitar umbilicus. Keuhan ini sering

disertai mual dan kadang muntah. Umumnya nafsu makan menurun.

14
Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ketitik mcBurney. Disini nyeri

dirasakan lebih tajam dan lebih jelas letaknya sehingga merupakan nyeri

somatic setempat.

b. Appendicitis kronis

Diagnosis appendicitis kronis baru dapat ditegakkan jika

ditemukan adanya riwayat nyeri perut kanan bawah lebih dari 2 minggu,

raang kronik apendiks secara makroskopik appendicitis kronik adalalh

fibrosis menyeluruh dinding apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus

lama dimukosa dan adanya sel infamasi kronik. Insiden appendicitis

kronik antara 1-5%.

3. Manifestasi klinis

Menurut Baughman dan Hackley (2016), manifestasi

klinis apendisitis meliputi:

a. Nyeri kuadran bawah biasanya disertai dengan demam derajat

rendah, mual dan seringkali muntah.

b. Pada titik McBurney (terletak dipertengahan antara umbilicus dan

spina anterior dari ilium) nyeri tekan setempat karena tekanan dan

sedikit kaku dari bagian bawah otot rektus kanan.

c. Nyeri alih mungkin saja ada, letak apendiks mengakibatkan sejumlah

nyeri tekan, spasm otot, dan konstipasi atau diare kambuhan.

d. Tanda rovsing (dapat diketahui dengan mempalpasi kuadran kanan

bawah, yang menyebabkan nyeri pada kuadran kiri bawah

15
e. Jika terjadi rupture apendiks, maka nyeri akan menjadi lebih

melebar; terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik dan kondisi

memburuk.

Sedangkan menurut Grace dan Borley (2014), manifestasi klinis

apendisitis meliputi :

a. Nyeri abdomen periumbilikal, mual, muntah

b. Lokalisasi nyeri menuju fosa iliaka kanan.

c. Pereksia ringan.

d. Pasien menjadi kemerahan, takikardi, lidah berselaput, halitosis.

e. Nyeri tekan (biasanya saat lepas) di sepanjang titik McBurney).

f. Nyeri tekan pelvis sisi kanan pada pemeriksaan per rektal.

g. Peritonitis jika apendiks mengalami perforasi

h. Masa apendiks jika pasien datang terlampat.

4. Patofisiologi

Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen

apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid, fekalit, benda asing, striktutur

karena fibrosis akibat perdangan sebelumnya, atau neoplasma. Obtruksi

tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami

bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas

dindidng apendiks mempinyai keterbatasan sehingga menyebabkan

peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat tersebut akan

menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema, diapedesis bakteri,

dan ulsera mukosa. Pada saat inilah terjadi appendicitis akut fokal yang

16
ditandai oleh nyeri epigastrium. Apabila sekresi mucus terus berlanjut,

tekanan akan terus meningkat. Hal terseubut akan menyebabkan obstruksi

vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan

yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga

menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah. Keadaan ini disebut dengan

appendicitis supuraktif akut. Apabila kemudian aliran arteri terganggu akan

terjadi infark dinding apendiks yang di ikuti dengan gengrem. Stadium

disebut dengan appendicitis gangrenosa. Bila dinidng yang rapuh itu

pecah, akan terjadi appendicitis perforasi. Bila proses di atas berjalan

lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kea rah apendiks

hingga timbul suatu massa local yang disebut infitrat apendikuaris. Oleh

karena itu tindakan yang paling tepat adalah apendiktomi, jika tidak

dilakukan tindakan segera mungkin maka peradangan apendiks tersebut

dapat menjadi abses atau menghilang (Mansjoer, 2012).

5. Pemeriksaan penunjang

Menurut Nurarif dan Kusuma (2015) pemeriksaan penunjang meliputi :

a. Pemeriksaan fisik

1) Inspeksi : akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga

perut di mana dinding perut tampak mengencng distensi).

2) Palpasi : didaerah perut kanan baah bila ditekan akan terasa nyeri

dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign)

yang mana merupakan kunci dari diagnosis appendicitis akut.

17
3) Dengan tindakan tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di

angkat tingi-tingi, maka rasa nyeri di perut semakin parah psoas

sign).

4) Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila

pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga.

5) Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih

menunjang lagi adanya radang usus buntu.

6) Pada apendiks terletak pada retro sekal maka uji Psoas akan positif

dan tanda perangsangan peritoneum akan lebih menonjol.

b. Pemeriksaan Laboratorium

Kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000-

18.00/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka

emungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

c. Pemeriksaan radiologi

1) Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit (jarang

membantu).

2) Ultrasonografi USG). CT scan.

6. Komplikasi

Komplikasi yang terjadi pasca operasi menurut Mansjoer (2012) :

a. Perforasi apendiks

Perforasi adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri

menyebar ke rongga perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam

pertama sejak awal sakit, tetapi meningkat tajam sesudah 24 jam.

18
Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70% kasus dengan gambaran

klinis yang timbul dari 36 jam sejak sakit, panas lebih dari 38,5 derajat

celcius, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut dan leukositisis.

Perforasi dapat menyebabkan peritonitis.

b. Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi

berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Bila

infeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum menyebabkan

timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltic berkurang sampai

timbul ileus paralitik, usus meregang dan hilangnya cairan elektrolit

mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oligouria.

Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, nyeri abdomen

demam dan leukositosis.

c. Abses

Abses merupakan peradangan appendicitis yang berisi pus teraba masa

lunak di kuadran kanan bawah atau daerah pelvis. Masa ini mula-mula

berupa flegmon dan berkembang menjadi rongga yang mengandung

pus. Hal ini terjadi bila appendicitis gangrene atau mikroperforasi

ditutupi oleh omentum.

7. Penatalaksanaan

Tatalaksana appendicitis pada kebanyakan kasus adalah apendiktomi.

Keterlambatan dalam tatalaksana dapat meningkatkan kejadian perforasi.

Teknik laparoskopik, apendiktomi laparoskopik sudah terbukti

19
menghasilkan nyeri pasca bedah yang lebih sedikit, pemulihan yang lebih

cepat dan angka kejadian infeksi luka yang lebih rendah. Akan tetapi

terdapat peningkatan kejadian abses intra abdomen dan pemanjangan

waktu operasi. Laparoskopi itu dikerjakan untuk diagnose dan terapi pada

pasien dengan akut abdomen, terutama pada wanita.

C. Konsep Bedah Abdomen

1) Definisi

Pembedahan abdomen adalah tindakan operasi yang melibatkan

rongga abdomen yang dapat dilakukan dengan pembedahan terbuka (Higgins,

Naumann, & Hall, 2007). Pembedahan abdomen meliputi pembedahan pada

berbagai organ abdomen yaitu kandung empedu, duodenum, usus halus dan

usus besar, dinding abdomen untuk memperbaiki hernia umbilikalis,

femoralis dan inguinalis, appendiks, dan pankreas. Jenis-jenis pembedahan

abdomen diantaranya adalah appendektomi, seksio cesar, histerektomi,

kolesistektomi, kolektomi, nephrektomi, perbaikan hernia, gastrektomi, dan

lain-lain (Jong & Sjamsuhidajat, 2005).

Banyak pendapat tentang petunjuk insisi, tergantung dari bentuk

dinding abdomen. Insisi sebaiknya seminimal mungkin mengganggu fungsi

dinding abdomen (Patnaik, et al., 2001). Oleh sebab itu, pemahaman

mengenai anatomi dinding abdomen menjadi suatu hal yang penting untuk

memilih, menentukan, dan membuat insisi bedah yang tepat. Otot-otot

dinding abdomen tersusun menjadi dua kelompok otot. Satu kelompok otot

yang mendatar terdiri dari oblik eksternal, oblik internal, dan abdominal

20
transversal. Kelompok kedua adalah kelompok otot yang terdiri dari dua otot

yang letaknya vertikal, rektus abdominal, dan piramidalis (Higgins,

Naumann, & Hall, 2007).

Dinding abdomen diinervasi oleh syaraf torakoabdominalis,

ilioinguinalis, dan iliohipogastrik. Syaraf torakoabdominalis berjalan melalui

cauda antara abdominal transversal dan oblik internal. Syaraf-syaraf ini

menginervasi otot-otot yang mendatar pada otot dinding abdomen dan otot

rektus. Dinding abdomen bawah diinervasi oleh syaraf iliohipogastrik dan

ilioinguinalis. Kedua syaraf ini muncul dari serabut syaraf lumbalis pertama.

Kerusakan pada syaraf-syaraf ini menyebabkan perubahan sensoris pada

mons pubis dan labia mayora (Higgins, Naumann, & Hall, 2007).

Insisi yang digunakan untuk pembedahan abdomen dapat diklasifikasikan

sebagai berikut:

1. Insisi Vertikal

Insisi vertikal meliputi insisi midline dan paramedian. Insisi ini

mempercepat pencapaian ke dalam rongga abdomen dengan sedikit

kehilangan darah, namun kerugiannya dibandingkan dengan insisi

transversal adalah meningkatnya risiko dehisen luka dan terjadinya

herniasi (Rothrock & Meeker, 2003; Higgins, Naumann, & Hall, 2007).

2. Insisi Oblik

Insisi oblik meliputi insisi McBurney dan subkostal. Insisi

subkostal memberikan manfaat berupa hasil kosmetik yang baik, karena

mengikuti garis kulit. Insisi oblik mengakibatkan kerusakan syaraf

21
minimal, karena hanya satu atau dua syaraf yang terpotong dan

kebanyakan syaraf pada interkosta kedelapan. Selain itu, ketegangan pada

tepi insisi lebih sedikit dirasakan daripada insisi vertikal (Rothrock &

Meeker, 2003).

3. Insisi Transversal

Insisi transversal terdiri dari insisi Pfannenstiel’s, midabdominal

transversum, thoracoabdominal, dan upper inverted-U abdominal. Insisi

ini memberikan manfaat berupa hasil kosmetik yang lebih baik,

komplikasi dini pasca bedah seperti nyeri lebih sedikit dirasakan,

gangguan paru-paru, dan insiden herniasi lebih rendah (Rosenberg &

Grantacharov, 2001; Higgins, Naumann, & Hall, 2007).

Beberapa kerugian dari insisi jenis ini adalah ekplorasi abdomen

bagian atas terbatas, risiko kehilangan darah lebih besar, dan terbentuknya

hematom dibandingkan insisi midline (Higgins, Naumann, & Hall, 2007).

Cidera syaraf yang dapat menimbulkan parestesia pada kulit lebih sering

terjadi pada insisi transversal dibandingkan insisi midline (Rothrock &

Meeker, 2003).

Pengaruh letak insisi terhadap rasa nyeri pasca bedah abdomen

telah diuji oleh beberapa peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh

Rosenberg dan Grantacharov (2001) membuktikan bahwa pada letak insisi

transversal, nyeri terasa lebih hebat daripada insisi vertikal, sedangkan

pada letak insisi oblik nyeri terasa lebih ringan dibandingkan insisi

vertical.

22
Berbeda halnya dengan penelitian Brown dan Goodfellow (2005)

menunjukkan bahwa pasien pasca bedah abdomen merasakan nyeri lebih

ringan pada letak insisi transversal (termasuk insisi oblik) dibandingkan

insisi midline dan insisi vertikal. Hasil yang sama juga ditemukan pada

penelitian Proske, Zieren, dan Muller (2005) dengan menggunakan studi

komparasi pada sekelompok pasien yang dilakukan pembedahan pankreas.

Penelitian ini membandingkan pasien yang dilakukan insisi tranversal

dengan pasien yang dilakukan pembedahan dengan insisi midline. Hasil

penelitian membuktikan bahwa pasien yang mendapatkan insisi tranversal

nyeri dirasakan lebih ringan daripada pasien yang mendapatkan insisi

midline (p<0,05).

Penelitian yang dilakukan oleh Zeljko, et al. (2007) yang bertujuan

untuk menilai beratnya gangguan respirasi pasca bedah abdomen dan

untuk mengidentifikasi insisi bedah terhadap komplikasi respirasi dan

nyeri pasca bedah. Hasil dari penelitian menunjukan semua insisi abdomen

bagian bawah (insisi midline) ditemukan gangguan respirasi rendah, skor

nyeri rendah, dan kurang menggunakan analgesik tramadol dibandingkan

insisi abdomen bagian atas signifikan secara statistic.

D. Konsep Nyeri

1. Pengertian Nyeri

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri

adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang

didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau

23
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan. Shweder and Sullivan

mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman persepsi kompleks yang dapat

dipengaruhi oleh faktor situasi, dan oleh proses fisiologis termasuk emosi,

kognitif dan motivasi, dimana semua hal tersebut bergantung kepada

pengaruh budaya, etnis dan bahasa.

Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan actual atau potensial. Nyeri

adaah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan perawatan kesehatan.

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan

beberapa pemeriksaan diagnostic atau pengobata. Nyeri sangat mengganggu

dan menyulitkan lebih banyak orang disbanding suatu penyakit manapun

(Brunner & Suddarth, 2002).

Definisi keperawatan tentang nyeri adalah apapun yang

menyakitkan tubuh yang dikatakan individu mengatakannya. Peraturan

utama dalam merawat pasien dengan nyeri adalah bahwa semua nyeri

adalah nyata, meskipun penyebabnya tidak di ketahui (Brunner & Suddarth,

2002).

2. Klasifikasi Nyeri

Nyeri dapat diklasifikasin berdasarkan durasi nyeri dan kondisi patologis.

a. Berdasarkan durasi Nyeri

1) Nyeri akut

Nyeri akut adalah nyeri yang timbul secara mendadak dan

berangsung dalam waktu singkat kurang dari 6 bulan (Burnner &

24
Suddarth, 2002). Nyeri akut bersifat melindungi, penyebabnya dapat

didentifikasi, berdurasi pendek dan memiliki sedikit kerusakan jaringan

serta respon emosional (Potter & Perry, 2009). Nyeri akut biasanya

disebabkan oleh trauma, bedah, atau inflamasi (Prasetyo, 2010). Durasi

nyeri akut berkaitan dengan faktor penyebab dan umumnya dapat

diperkirakan (Price, 2005). Nyeri akut dapat diredakan dan perahan-lahan

akan menghilang ketika kelainan yang mendasarinya disembuhkan

(Robinson & Saputra, 2016).

2) Nyeri Kronis

Nyeri kronis adalah nyeri yang berangsung lebih lama

dibandingkan nyeri akut (Hariyanto & Sulistyowati, 2015). Nyeri kronis

merupkan nyeri yang timbul secara perlahan-lahan dan berlangsung

dalam waktu yang cukup lama yaitu lebih dari 6 bulan (Hidayat, 2009).

Nyeri dapat berupa hal yang bersifat kanker atau bukan. Contoh dari nyeri

yang bersifat bukan kanker termasuk arthritis, nyeri punggung (lao back

pain), nyeri miofasial, sakit kepala dan neuropatik perifer. Nyeri kronis

yang bersifat bukan kanker biasanya tidak mengancam hidup. Terkadang

area yang terkena cedera telah sembuh bertahun-tahun lalu, namun nyeri

yang dirasakan masih tetap berlanjut dan menunjukkan tidak adanya

respon terhadap pengobatan Potter & Perry, 2009). Nyeri kronis

berlangsung lebih lama dari yang diharapkan, tidak sealu memiliki

penyebab yang dapat didentifikasi, dan dapat memicu penderita yang

teramat sangat bagi seseorang (Potter & Perry, 2009). Berbeda dengan

25
nyeri akut, nyeri kronis memiliki neurofisiologis dan tujuan yang lebih

kompleks dan sulit dipahami (Lemone, 2015). Pasien dengan nyeri kronis

tidak atau kurang memperlihatkan hiperativitas autonom tetapi

memperlihatkan gejala irritabilitas.

Tabel 2 : Perbandingan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis

Karakteristik Nyeri Akut Nyeri Kronis


Memperingatkan adanya

Tujuan/keuntungan cedera atau masalah Tidak ada


Awitan Mendadak Terus-menerus atau
Intensitas Ringan sampai berat Ringan sampai berat
intermiten
Durasi singkat (dari

Durasi beberapa detik sampe Durasi lama (enam bulan


- Konsistensi dengan Tidak terdapat respon
enam bulan) atau lebih)
respon simpatis otonom

Respon otonom - Frekuensi jantung

meningkat

- Volume sekuncup

meningkat

- Tekanan darah

meningkat

- Dilatasi pupil

meningkat

- Tegangan otot

meningkat

26
- Motilitas

gastrointestinal menurun

- Aliran saliva menurun

(mulut kering)

Komponen psikologis Ansietas - Depre

- Mudah marah

- Menarik diri dari minat

- dunia
Tidur luar
terganggu

-- Menarik diri dari


Libido menurun
Contoh Nyeri bedah, taruma Nyeri kanker, artritis
Respon jenis lainnya - persahabatan
Nafsu makan menurun
Sumber : Keperawatan Medikal Bedah Vol 1

Kehilangn semangat dan gangguan kemampuan berkonsentrasi.

Nyeri kronis ini sering mempengaruhi semua aspek kehidupan

penderitanya. Menimbulkan distress, emosi, dan mengganggu fungsi fisik

dan social (Price, 2005). Pasien dengan nyeri kronis mungkin

menunjukkan suasana hati depresif dan memperlihatkan perilaku individu

dengan penyakit kronis. Seiring berjalannya waktu dan berlanjutnya

manisfestasi, kondisi ini menjadi lebih kompleks dan faktor lain yang

27
memengaruhi maisfestasi, perilaku, gejala klien dengan nyeri kronis dapat

menjadi 3 kategori yaitu :

a) Nyeri Kronis Intermiten

Nyeri kronis intermien (hilang – timbul) yaitu nyeri yang muncul

pada periode tertentu, di waktu yang lain, klien tidak merasakan nyeri.

Contohnya sakit kepala migraine dan nyeri abdomen intermiten yang

dihubungkan dengan gangguan sindrom iritasi bowell (Black & Hawks,

2009).

b) Nyeri Maligna Kronis

Nyeri maligna kronis disebabkan oleh berkembangnya penyakit

yang mengancam jiwa atau berhubungan dengan terapi. Nyeri kanker

merupakan jenis nyerimaligna kronis (lemone, 2015).

c) Nyeri Nonmaligna Kronis

Nyeri nonmaligna kronis merupakan nyeri yang tidak mengancam

jiwa dan tidak melibihi waktu penyembuhan yang diharakan. Nyeri

punggung bawah (low back pain). Penyebab utamapenderitaan dan

merupakan penyita wkatu kerja masuk dalam kategori ini (Lemone,

2015).

3. Berdasarkan Lokasi Nyeri

1) Nyeri superficial

Ada dua macam bentuk nyeri superficial. Bentuk yang pertama

adalah nyeri dengan onset yang tiba-tiba dan mempunyai kualitas yang

tajam dan bentuk kedua adalah nyeri dengan onset yang lambat disertai

28
rasa terbakar. Nyeri superficial dpat dirasakan diseluruh permukaan kulit

klien. Traumagesejan, suhu yang terlalu panas dapat menjadi penyebab

timbulnya nyeri superficial ini (Prasetyo, 2010). Contohnya klien dengan

luka sayatan dengan mudah menunjukkan lokasi nyeri (Black & Hawks,

2009).

2) Nyeri somatic dalam

Nyeri somatic dalam mengacu kepada nyeri yang berasal dari otot,

tendon, ligamentum, tulang, sendi, dan arteri. Struktur-struktur ini

memiliki lebih sedikit reseptor nyeri sehingga lokasi nyeri sering tidak

jelas. Nyeri dirasakan lebih difus (menyebar) berada dengan nyeri

superficial yang mudah untuk dilokalisir (Price,2005).

3) Nyeri visceral

Nyeri visceral mengacu pada nyeri yang berasal dari organ-organ

tubuh. Nosiseptor visera terletak didalam bagian organ dan celah bagian

dalam. Terbatasnya jumlah nosiseptor di area ini menghasilkan nyeri yang

biasanya lebih menyakitkan dan berlangsung lebih lama dari nyeri

somatic. Nyeri viscera sangat sulit untuk dilokalisasikan dan beberapa

cedera pada jaringan visera mengakibatkan terjadi nyeri yang menjalar,

dimana sensasi nyeri berada di area yang sebenarnya tidak berkaitan

dengan lokasi cedera (Black & Hawks, 2009). Contoh dari nyeri visceral

yaitu appendicitis akut, cholecytis, penyakit kardiovaskuler, renal kolik

uretra dn lain-lain (Prasetyo, 2010).

29
Menurut mekanisme terjadinya nyeri dapat diklasifikasikan menjadi

nosiseptif dan nyeri non nosiseptif.

1. Nyeri nosiseptif adalah nyeri yang ditimbulkan oleh rangsangan

disebabkan kerusakan jaringan dan reaksi inflamasi. Tergantung

lokasinya nyeri dapat digolongkan nyeri somatic dan nyeri visera.

2. Nyeri non nosiseptif (nyeri neuropatik) yaitu nyeri yang disebabkan

kerusakan jaringan saraf sentral maupun perifer. Kerusakan saraf

dapat disebabkan oleh infeksi /inflamasi, proses metabolic(diabetes

mellitus), trauma pembedahan maupun infiltrasi atau tekanan tumor.

a) Nyeri pada kerusakan saraf sentral yaitu kerusakan pada tingkat

corda spinalis atau thalamus misalnya differentiation pain atau

central pain.

b) Nyeri pada kerusakan saraf perifer / regional misalnya nyeri pada

polineuropati dan causalgia ( sympathetic dystrophy pain)

4. Fisiologi Nyeri

Reseptor nyeri (nosi receptor) adalah organ tubuh yang berfungsi untuk

menerima rangsang nyeri. Organ tubuh yang berperan sebagai reseptor nyeri

adalah ujung syaraf bebas dalam kulit yang berespon hanya terhadap

stimulus kuat yang secara potensial merusak.Bila stimulus akibat adanya

kerusakan jaringan, mekanisme tersebut akan melewati 4 tahapan yaitu :

a) Transduksi

Kerusakan jaringan karena trauma atau pembedahan

menyebabkan dikeluarkannya berbagai senyawa biokimia antara lain ion

30
H, K, prostaglandin dari sel yang rusak, bradikinin dari plasma,

histamine dari sel mast, serotonin dari trombosit dan substansi P dari

ujung saraf. Senyawa biokimia ini berfungsi sebagai mediator yang

menyebabkan perubahan potensial nosiseptor sehingga terjadi arus

elektrobiokimiawi sepanjang akson. Perubahan menjadi arus

elektrobiokimia atau impuls merupakan proses transduksi.

Kemudian terjadi perubahan patofisiologi karena mediator-

mediator ini mempengaruhi nosiseptor diluar daerah trauma sehingga

lingkaran nyeri meluas. Selanjutnya terjadi proses sensitisasi perifer

yaitu menurunnya nilai ambang rangsang nosiseptor karena pengaruh

mediator-mediator tersebut diatas dan penurunan pH jaringan. Akibatnya

nyeri dapat timbul karena rangsangan yang sebelumnya tidak

menimbulkan nyeri misalnya rabaan. Sensitisasi perifer ini

mengakibatkan pula terjadinya sensitisasi sentral yaitu hipereksitabilitas

neuron pada korda spinalis. Terpengaruhnya neuron simpatis dan

perubahan intraseluler yang menyebabkan nyeri dirasakan lebih lama.

b) Transmisi

Transmisi adalah proses penerusan impuls nyeri dari nosiseptor

saraf perifer melewati kornu dorsalis korda spinalis menuju korteks

serebri. Transmisi sepanjang akson berlangsung karena proses polarisasi

depolarisasi, sedangkan dari neuron presinaps ke pasca sinaps melewati

neurotransmitter.

31
c) Modulasi

Modulasi adalah proses pengendalian internal oleh system

saraf, dapat meningkatkan atau mengurangi penerusan impuls nyeri.

Hambatan terjadi melalui system analgesia endogen yang melibatkan

bermacam neurotransmitter antara lain golongan endorphin yang

dikeluarkan oleh sel otak dan neuron di korda spinalis. Impuls ini

bermula dari area periaquaductusgrey (PAG) dan menghambat transmisi

impuls pre maupun pasca sinaps di tingkat spinalis.

d) Persepsi

Persepsi adalah hasil rekontruksi susunan saraf pusat tentang

impuls nyeri yang diterima. Rekontruksi merupakan hasil system saraf

sensorik, informasi kognitif ( korteks serebri) dan pengalaman emosional

(hipokampus dan amigdala). Persepsi menentukan berat ringannya nyeri

yang dirasakan. Sebagai contoh, terdapat penderita yang tenang

menghadapi pembedahan karena menerima pembedahan sebagai upaya

penyembuhan. Motivasi positif ini memicu pelepasan endorphin dan

rangkaian reaksi yang mengaktifkan system analgesia endogen, hasil

akhir adalah rangsang nyeri berkurang.

32
Gambar 1: Fisiologi Nyeri

5. Intenitas Nyeri

a. Pengertian Intensitas Nyeri

Intensistas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri

yang diraskan oleh individu. Pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif

dan individual (Hariyanto & Sulistyowati, 2015). Setiap pasien akan

memiliki perilaku yang berbeda terhadap nyeri karena intensitas nyeri dan

toleransi setiap orang terhadap nyeri sangat beragam (Robinson &

Saputra, 2016). Pengukuran nyeri dengan pendekan objektif yang paing

mungkin adalah dengan menggunakan respons fisiologik tubuh dan

perilaku terhdap nyeri. Penilaian terhadap klinis nyeri dapat digunakan

untuk mengkaji persepsi nyeri seseorang (Hariyanto & Sulistyowati,

2015).

Intensitas nyeri dapat dibagi menjadi beberapa tingkat

keparahannya :

1) Nyeri ringan

33
Nyeri yang timbul dengan intensitas yang ringan. Individu secara

objektif mampu berkomunikasi dengan baik. Skala nyeri pada nyeri

ringan adalah pengukuran nyeri dengan menggunakan skala numeric

(Blackonja et al, 2010)

2) Nyeri sedang

Nyeri yang timbul dengan intensitas nyeri sedang. Pada nyeri

sedang secara objektif pasien mendesis, menyeringai dapat menunukkan

lokasi nyeri, dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan

baik. Skala nyeri berkisar anata 5-6 dalam skala numeric (Blackonja et al,

2010 dalam Simamora, 2015).

3) Nyeri berat

Nyeri berat adalah nyeri yang timbul dengan intensitas yang

berat. Pada nyeri berat secara objektif pasien terkadang tidak dapat

mengikuti perintah tetapi masih respon terhadap tindakan, dapat diatasi

dengan alih posis nafas panjang. Skala nyeri di atas 7 dengan skala nyeri

numerik (Blackonja et al, 2010 dalam Simamora, 2015).

4) Pengukuran Intensitas Nyeri

Ada empat skala yang digunakan untuk menentukan derajat intesitas

nyeri.

a. Eskpresi wajah. Skala ini digunakan untuk pasien yang mengalami

komunikasi. Misalnya anak-anak, orang tua, pasien jiwa, pasien ganguan

mental atau pasien yeng tidak dapat berbicara dengan bahasa setempat.

34
b. Verbal Rating Scale (VRS). Dimana pasien ditanya tentang derajat nyeri.

Yaitu nyeri ringan, sedang, hebat dan sangat hebat

c. Numerical Rating Scale (NRS) terdiri daripada angka 0-5 atau 0-10

dimana pasien ditanya tentang intensitas nyerinya dalam bentuk angka.

Skala terdiri dari 10 poin yang mana 0 menunjukkan “tidak ada nyeri”

dan 10 menunjukkan “nyeri sangat berat”, penilaian dari 1-3 disamakan

dengan nyeri ringan, 4-6 untuk nyeri sedang, dan 7-10 untuk nyeri berat

(Fishman, 1987 dalam Buku ajar ilmu penyakit dalam, 2007).

d. Visual Analog Scale (VAS). Terdiri dari pada garis lurus sepanjang 100

ml meter dimana pasien membuat tanda silang pada garis yang

mengambarkan itensitas nyerinya

Gambar 3. Pilihan Pengunaan Skala Penilaian nyeri

Gambar 2: pilihan alat penilaian skala nyeri

35
Bila pasien tidur, tidak dibutuhkan penilaian lebih lanjut. Bila pasien

bangun periksalah hal-hal berikut:

Cry Not crying Score 0

Crying Score 1

Posture Relaxed Score 0

Tense Score 1

Expression Relaxed or happy Score 0

Distressed Score 1

Response Responds when spoken to Score 0

No response Score 1

Note: Total skor 1: nyeri ringan, 2: nyeri sedang, 3: nyeri berat dan 4:

nyeri yang mungkin paling buruk.

Tabel 2 : penilaian nyeri untuk anak di bawah 5 tahun

6. Perilaku Nyeri

a. Pengertian Perilaku Nyeri

Respons terhadap adanya stimulasi kerusakan dibagi menjadi dua

bagian yaitu pengalaman nyeri yang bersifat subjektif dan perilaku yang

dapat diobservasi. Kata nyeri digunakan untuk menyatakan pengalaman

yang tidak menyenangkan yang bersifat subjektif. Sementara perilaku

yang dapat diobservasi disebut dengan perilaku nyeri (Fields, 1987 dalam

Harahap 2007). Menurut Wall (1991, dalam Pasaribu, 2011) perilaku

36
nyeri adalah segala Sesutu yang dilakukan oleh seseorang dan setiap

perubahan kebiasaan ketika ia mengalammi nyeri yang dapat observasi.

Perilaku nyeri juga dapat dilihat dari perubahan perilaku individu seperti

postur tubuh, ekspresi wajah, perkataan, berbaring, mengkonsumsi obat,

mencari pengobatan, dan pencarian kompensasi. Perilaku nyeri

merupakan tindakan berkomunikasi dari ketidaknyamanan (misalnya

meringis, penurunan aktivitas) yang memiliki peran penting dlam

mengurangi fungsi tingkat individu dan memperburuk kondiri nyeri

(Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2006).

Perilaku nyeri dapat berupa : (1) respon verbal, meliputi

mengeluh, mendesah, merintih dan mengadukan nyeri yang dialami, (2)

respon non verba, meliputi wajah tegang, keresahan, sudut muut

dilengkungkan ke bawah, terlihat sedih, terlihat ketakutan, bibir berkerut,

dan dagu bergetar, (3) sikap badan dan iyarat meliputi menggosok-gosok

bagian tubuh yang nyeri, immobilisasi dan menyeringai, (4) perilaku yang

berbeda dengan keadaan normal meliputi beristirahat dan berbaring secara

berebihan (Fordyce, 1976 dalam Harahap, 2007).

b. Jenis Perilaku Nyeri

1) Respondent behavior

Respondent behavior adalah respon yang timbu akibat adanya

stimulus spesifik. Pada perilaku ini terilhat jelas hubungan antara stimulus

dan respon. Respon reflektif merupakan respon yang secara otomatis

dapat terjadi walaupun diinginkan atau tidak. Respon ini dikontrol oleh

37
stimulus nociceptif yang spesifik, contoh perilaku nyeri reflektif ini

adalah sensasi terbakar yang berhubungan dengan injuri pada kulit

ataupun pada otot (Kast, 1998 dalam Harahap, 2006).

2) Operan behavior

Opean behavior tidak selalu berhubungan dengan ransangan yang

spesifik. Operan behavior terjadi secara langsung dan otomatis terhadap

ransangan yang sama seperti perilaku responden. Tipe perilaku nyeri ini

tidak dikontrol o;eh ransangan dan bahkan saat ransangan tersebut tidak

adekuat tetapi pasien menerima pengaruh dari lingkungan (keberadaan

pasangan, perawat dan lingkungan) maka perilaku nyeri akan terlihat

(Kats, dalam Harap, 2006).

7. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nyeri

Dari penelitian-penelitian yang dilakukan ternyata timbulnya, intensitas,

dan lamanya nyeri pasca bedah sangat bervariasi dari satu penderita ke

penderita yang lain, dari rumah sakit yang berbeda apalagi dari

negara yang berbeda. Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi kualitas,

intensitas dan lamanya nyeri pasca bedah dapat disebutkan sebagai berikut:

a) Lokasi operasi, jenis operasi dan lamanya operasi serta berapa

besar kerusakan ringan akibat operasi tersebut.

b) Persiapan operasi baik psychologik, fisik dan pharmakologik

dari penderita oleh anggota / team pembedahan atau dengan kata lain

disebut pelaksanaan perioperatif dan premedikasi.

c) Adanya komplikasi yang erat hubungannya dengan pembedahan.

38
d) Pengelolaaan anestasi baik sebelum, selama, sesudah pembedahan.

e) Kualitas dari perawatan pasca bedah.

f) Suku, ras, warna kulit, karakter dan sosiokultural penderita

g) Jenis kelamin, perempuan lebih cepat merasakan nyeri

h) Umur, ambang rangsang orang tua lebih tinggi.

i) Kepribadian, pasien neurotik lebih merasakan nyeri bila

dibandingkan dengan pasien dengan kepribadian norma

j) Pengalaman pembedahan sebelumnya, bila pembedahan di tempat

yang sama rasa nyeri tidak sehebat nyeri pembedahan sebelumnya.

k) Keadaan psikologis dari penderita / pasien.

l) Dari segi pembedahan, lokasi nyeri pasca bedah yang paling sering

terjadi dan sifat nyerinya paling hebat (severe) adalah sebagai berikut :

1) Operasi daerah thoracoabdominal

2) Operasi ginjal

3) Operasi columna vertebralis (spine)

4) Operasi sendi besar

5) Operasi tulang panjang di extremitas

Macam luka pembedahan (incision) juga sangat berperan dalam

timbulnya nyeri pasca bedah, pada luka operasi atau insisi subcostal kurang

menimbulkan rasa nyeri pasca bedahnya dibandingkan luka operasi

midline, pada insisi abdomen arah transversal akan terjadi kerusakan syaraf

intercostalis minimal. Pada pembedahan yang letaknya di permukaan

39
(superficial), daerah kepala, leher, extrimitas, dinding thorax dan

dinding abdomen rasa nyerinya sangat bervariasi, :

1) Nyeri hebat (severe) 5 – 15 %

2) Nyeri yang sedang (moderate) 30 – 50 % dari penderita.

3) Nyeri yang ringan atau tanpa nyeri : 50%, dimana penderita

tidak memerlukan analgetik narkotik.

Dari segi penderita, timbulnya dan beratnya rasa nyeri pasca bedah juga

sangat dipengaruhi fisik, psikis atau emosi, karakter individu dan

sosiokultural maupun pengalaman masa lalu terhadap rasa nyeri. Derajat

kecemasan penderita pra bedah dan pasca bedah juga mempunyai peranan

penting. Penderita yang masuk rumah sakit akan timbul reaksi

cemas/strees. Dan keadaan ini membentuk pra kondisi nyeri pasca bedah.

Keadaan tersebut digolongkan “hospital stress”. Pada golongan

penderita dengan hospital stress tinggi cenderung mengalami nyeri

lebih hebat daripada golongan hospital stress rendah. Faktor-faktor

hospital stress :

a. Rasa tidak bersahabat disekelilingnya.

b. Pemisahan dengan keluarga, orang tua, suami/istri. c. Informasi yang

kurang atau tidak jelas.

c. Pengalaman masa lalu tentang penanggulan nyeri yang tidak adekuat.

Nyeri merupakan hal yang kompleks, banyak faktor yang mempengaruhi

pengalaman seseorang terhadap nyeri. Seorang perawat harus

40
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menghadapi klien yang

mengalami nyeri hal ini sangat penting dalam pengkajian nyeri yang akurat dan

memilih terapi nyeri yang efektif. Menurut Berger, (2005) beberapa faktor

yang mempengaruhi nyeri tersebut antara lain: (1) usia, (2) jenis kelamin, (3)

tingkat pendidikan (4) pengalaman masa lalu dengan nyeri, (5) ansietas, (6)

budaya, (7) sikap dan keyakinan terhadap nyeri (8) keluarga dan support social.

1) Usia

Usia merupakan variabel penting yang mempengaruhi nyeri,

khususnya pada anak-anak dan lansia. Perbedaan perkembangan, yang

ditemukan di antara kelompok usia ini dapat mempengaruhi bagaimana

anak-anak dan lansia bereaksi terhadap nyeri (Potter & Perry: 2005).

Usia juga berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap nyeri.

Anak-anak dan orang tua mungkin lebih merasakan nyeri dibandingkan

orang dewasa muda karena mereka sering tidak dapat mengkomunikasikan

apa yang dirasakannya. Sehingga kemungkinan perawat tidak dapat

melakukan pengukuran untuk menurunkan nyeri secara adequate (Berger:

2007).

Pengaruh usia pada persepsi nyeri dan toleransi nyeri tidak diketahui

secara luas. Lansia berespon terhadap nyeri dapat berbeda dengan cara

berespon orang yang berusia lebih muda (Smeltzer & Bare, 2003). Beberapa

faktor yang memengaruhi respon orang tua antara lain orang tua berpendapat

bahwa nyeri yang terjadi merupakan sesuatu yang harus mereka terima (Herr

& Mobily, 1991, dalam Potter & Perry, 2006), kebanyakan orang tua takut

41
terhadap efek samping obat dan menjadi ketergantungan, sehingga mereka

tidak melaporkan nyeri atau menanyakan obat untuk menghilangkan nyeri.

Faktor lainnya adalah ketakutan, karena nyeri merupakan gambaran penyakit

serius atau akan kehilangan kemandirian (Brown, 2004, dalam Lemone &

Burke, 2008).

Beberapa penelitian yang terkait adanya perbedaan pengaruh usia

terhadap nyeri pasca bedah antara lain penelitian yang dikemukakan oleh

Lueck (1992) bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara lansia (65

tahun keatas) dengan dewasa pertengahan (38-64 tahun) terhadap kualitas

nyeri dan intensitas nyeri pasca bedah abdomen yang sama. Kualitas nyeri

tidak mengalami penurunan yang signifikan dari hari pertama sampai hari

ketiga pasca bedah setelah diberikan dosis dan jumlah analgesik yang sama

pada lansia dan dewasa pertengahan.

Penelitian Yuliawati (2008) yang bertujuan untuk mendapatkan

gambaran tentang pengaruh kombinasi teknik relaksasi sistematik dan terapi

analgesik terhadap rasa nyeri pasien pasca bedah abdomen di Rumah Sakit

Haji Jakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa usia tidak mempengaruhi

rasa nyeri pada pasien pasca bedah abdomen setelah mendapatkan intervensi

analgesik ditambah teknik relaksasi sistematik (p=0,97). Penelitian ini

merekomendasikan untuk penelitian lebih lanjut terkait dengan faktor-faktor

yang mempengaruhi nyeri pasca bedah abdomen.

Penelitian dari Gagliese dan Katz (2003) yang bertujuan untuk

menilai intensitas dan kualitas nyeri pasca bedah pada pasien lansia dengan

42
pasien yang lebih muda yang mendapatkan opiat melalui Patient-Controlled

Analgesia (PCA). Jumlah responden 95 pasien muda dan 105 lansia.

Pengukuran nyeri dengan menggunakan alat ukur seperti: McGill Pain

Questionnaire (MPQ), Present Pain Intensity (PPI), dan Visual Analog

Scale (VAS). Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien lansia kurang

menggunakan opiat daripada yang lebih muda dan skor VAS pada lansia

lebih rendah dari pada yang lebih muda. Hasil yang sama juga ditemukan

pada penelitian oleh Ene, et al. (2008) dimana pasien yang lebih muda

mengalami nyeri yang lebih hebat daripada yang tua.

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Gangliese, et al. (2008)

mengenai korelasi nyeri pasca bedah terhadap penggunaan PCA dengan

jumlah responden sebesar 246 pasien. Hasil penelitian menunjukan bahwa

pasien yang lebih muda dengan status fisik yang lebih baik, secara signifikan

lebih banyak menggunakan morpin melalui PCA dibandingkan pasien

lansia.

2) Jenis kelamin

Jenis kelamin secara umum, pria dan wanita tidak berbeda secara

bermakna dalam berespons terhadap nyeri (Potter & Perry: 2005).

Diragukan apakah hanya jenis kelamin saja yang merupakan suatu faktor

dalam pengekspresian nyeri. Beberapa kebudayaan yang mempengaruhi

jenis kelamin. Misalnya, menganggap bahwa seorang anak laki-laki

harus berani dan tidak boleh menangis, sedangkan anak perempuan boleh

menangis dalam situasi yang sama (Potter & Perry: 2005).

43
Jenis kelamin mempunyai pengaruh penting dalam berespon terhadap

nyeri (Matasarin-Jacobs, 1997). Perbedaan jenis kelamin telah diidentifikasi

dalam hal nyeri dan respon nyeri. Laki-laki memiliki sensitifitas yang lebih

rendah dibandingkan wanita atau kurang merasakan nyeri (Smeltzer & Bare,

2003; Black & Hawks, 2005). Laki-laki kurang mengekspresikan nyeri yang

dirasakan secara berlebihan dibandingkan wanita.

Hasil penelitian McDonald (1994) yang bertujuan untuk menilai

apakah jumlah analgesik narkotik berbeda antara pasien laki-laki dan wanita.

Penelitian ini menggunakan survey retrospektif pada pasien appendektomi

tanpa komplikasi dengan jumlah 101 pasien laki-laki dan 79 pasien wanita.

Hasil penelitian menunjukan bahwa pasien laki-laki secara signifikan

menerima lebih besar dosis awal analgesik narkotik daripada wan ita, tetapi

tidak ada perbedaan jumlah analgesik yang diterima antara laki-laki dan

wanita pada periode pasca bedah.

Hasil yang sama dengan penelitian Yuan-Yi, et al. (2002) mengenai

korelasi karakteristik pasien, dan hubungan pasca bedah dengan kebutuhan

morpin dan penilaian nyeri saat istirahat dan bergerak. Penelitian dilakukan

dengan jumlah total responden sebesar 2.298 yang menerima morpin. Hasil

penelitian menunjukan bahwa wanita kurang mengkonsumsi morpin melalui

PCA daripada laki-laki pada hari pertama sampai hari ketiga pasca

bedah (P < 0,05).

44
3) Tingkat Pendidikan

Pendidikan diinterpretasikan dengan makna untuk mempertahankan

individu dengan kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa bertambah dan

merupakan suatu harapan untuk dapat mengembangkan diri agar berhasil

serta untuk memperluas, mengintensifkan ilmu pengetahuan, dan memahami

elemen- elemen yang ada disekitarnya. Pendidikan juga mencakup segala

perubahan yang terjadi, sebagai akibat dari partisipasi individu dalam

pengalaman- pengalaman dan belajar (Crow, 2000, dalam Supriyatno, 2001).

Tingkat pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan

terhadap terjadinya perubahan perilaku, dimana semakin tinggi tingkat

pendidikan pada seseorang, maka berarti telah mengalami proses belajar

yang lebih sering, dengan kata lain tingkat pendidikan mencerminkan

intensitas terjadinya proses belajar (Notoatmodjo, 2002).

4) Pengalaman masa lalu dengan nyeri

Riwayat sebelumnya berpengaruh terhadap persepsi seseorang

tentang nyeri. Orang yang sudah mempunyai pengalaman tentang nyeri

akan lebih siap menerima perasaan nyeri. Sehingga dia merasakan nyeri

lebih ringan dari pengalaman pertamanya (Taylor: 2007).

Cara seseorang berespon terhadap nyeri adalah akibat dari banyak

kejadian nyeri selama rentang kehidupannya (Smeltzer & Bare, 2003).

Apabila individu sejak lama sering mengalami serangkaian episode nyeri

tanpa pernah sembuh atau menderita nyeri yang hebat, maka kecemasan atau

bahkan rasa takut dapat muncul. Sebaliknya apabila individu mengalami

45
nyeri dengan jenis yang sama berulang-ulang, tetapi nyeri tersebut berhasil

dihilangkan, maka akan lebih mudah bagi individu tersebut untuk melakukan

tindakan- tindakan yang diperlukan untuk menghilangkan nyeri (Potter &

Perry, 2006).

Pengalaman nyeri sebelumnya tidak selalu berarti bahwa individu

tersebut akan menerima nyeri dengan lebih mudah di masa yang akan

datang. Jika pengalaman nyeri yang lalu teratasi dengan cepat dan adekuat,

individu mungkin mengalami sedikit ketakutan terhadap nyeri yang dialami

di masa mendatang dan mampu mentoleransi nyeri secara lebih baik

(Smeltzer & Bare, 2003).

Individu akan sedikit mentoleransi nyeri, jika individu tersebut

menerima penghilang nyeri yang tidak adekuat di masa lalu. Sekali individu

mengalami nyeri yang hebat, individu tersebut mengetahui bagaimana nyeri

hebat itu dapat terjadi. Sebaliknya individu yang tidak pernah mengalami

nyeri hebat tidak mempunyai rasa takut terhadap nyeri (Smeltzer & Bare,

2003).

Penelitian Perry, et al. (1994) menemukan bahwa 29% wanita dengan

pembedahan abdomen histerektomi dilaporkan mempunyai nyeri yang lebih

hebat daripada pengalaman nyeri pembedahan abdomen sebelumnya.

Sisanya 71% wanita yang dilakukan histerektomi mangalami nyeri ringan

atau sama seperti pengalaman nyeri sebelumnya.

46
5) Ansietas

a. Pengertian

Ansietas pada umumnya akan meningkatkan nyeri, penggunaan rutin

medikasi ansietas pada seseorang dengan nyeri dapat merusak kemampuan

pasien untuk melakukan napas dalam. Secara umum, cara yang lebih efektif

untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan pada

nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer & Bare: 2001).

Anxiety is state in which the individual experiences feeling of

uneasiness (apprehension) and ctivtion of the autonomic nervous system

inrespon to vague, non specific threat” (Carpenito, 1989). “ Kecemasan

mengandung arti sesuatu yang tidak jeas & berhubungan dengan perasaan

yang tidak menentu dan tidak berday” (Stuart & Sundeen, 1995).

Ansietas merupakan penglaman individu yang bersifat subjetif, yang

sering bermanifestasi sebagai perilaku yang fungsional yang diartikan

sebagai perasaan “kesulitan” dan kesusahan terhadap kejadian yang tidak

diketahui dan pasti (Varcarolis, 2007).

i) Faktor predisposisi

Faktor predisposisi adalah faktor yang mempengaruhi jenis dan

jumlah yang dapat digunakan individu untuk mengatasi stress (Stuart &

Sudeen, 2005) (dalam buku psikologi keperawatan (2017):

a) Biologi

Model biologis menjelaskan bahwa ekspresi emosi melibatkan struktur

anatomi di dalam otak (Fortinash, 2006). Aspek biologis yang

47
mejelaskan gangguan ansietas adalah pengaruh neurotransmitter. Tiga

neurotransmitter utama yang berhubungan dengan anietas adalah

nerepineprin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid (GABA).

b) Psikologis

Stuart & Laraia (2005) menjelaskan bahwa aspek psikologis

memandang ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua

elemen kepribadian yaitu id dan suoerego. Menurut Tarwoto dan

Wartonah (2003), maturitas individu tipe kepribadian, dan pendidikan

juga memengaruhi tingkat ansietas seseorang.

c) Social budaya

Riwayat gangguan ansietas dalamkeluarga akan memengaruhi rspon

individu dalam bereaksi terhadap konflik dan cara mengatasi ansietas.

Dikatakan bahwa social budaya, potensi stress, serta lingkungan,

merupakan faktor yang memengaruhi terjadinya ansietas.

ii) Presipita

Stuart & Laraia (2005) menggambarkan stressor pencetus sebagai

stimulus yang dipersepsikan oleh individu sebagai tantangan, ancamn atau

tuntutan yang memerlukan energy ekstra untuk koping. Stressor pencetus

dapat berasal dari sumber internal atau eksternal.

1) Biologi (fisik)

Gangguan fisik adalah suatu keadaan yang terganggu secara fisik oleh

penyakit maupun secara fungsional berupa penurunan aktifitas sehari-

hari. Stuart & Laraia (2005) mengatakan bahwa, kesehatan umum

48
individu memiliki efek nyata sebagai presipitasi terjadinya ansietas.

Apabila kesehatan individu terganggu, maka kemampuan individu

untuk mengatasi ancaman berupa penyakit (gangguan fisik) akan

menurun.

2) Psikologi

Ancmn terhadap integritas fisik dapat mengaibatkan ketidakmampuan

psikologis atau penurunan aktivitas sehari-hari seseorang. Ancaman

eksternal yang terkait dengan kondisi psikologis dan dapat mencetusan

terjadinya ansietas diantaranya adalah peristiwa kematian,perceraian,

dilemma etik, pindah kerja, perubahan dalam status kerja, sedangkan

yang termaksud ancaman internal adalah gangguan hubungan

interpersonal di rumah, di tempat kerja atau ketika menerima peran

baru (istri, suami, murid, dan sebagainya).

3) Social budaya

Status ekonomi dan pekerjaan akan memengaruhi timbulnya stress dan

lebih lanjut dapat mencetuskan terjadinya ansietas. Orang dengan

status ekonomi yang kuat akan lebih sukar mengalami stress

disbanding mereka yang status ekonominya lemah. Hal ini secara tidak

langsung dpat memengaruhi seseorang mengalami ansietas, demikian

pula fungsi integritas sosialnya menjadi terganggu,yang pada akhirnya

mencetuskan terjadinya ansietas.

49
b. Tanda dan Gejala

Gangguan ini memiliki beberapa tanda, baik itu secara fisik,

kognitif, perilaku, maupun emosi. Misalnya tanda fisik penderita ansietas,

adalah sering nafas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut kering,

anoreksia, diare/konstipasi, gelisah, tremor, berkeringat, sulit tidur, dan sakit

kepala.

Ansietas menyerang bagian kognitif seseorang, gejala yang dapat

terlihat secara kognitif dapat dilihat dari cara penderita mempersepsikan

sesuatu. Persepsinya cenderung menyempit. Ia tidak mampu menerima

rangsangan dari luar. Yang seringkali terlihat, penderita kerap berfokus pada

apa yang menjadi perhatiannya.

c. Tingkat Kecemasan

1. Kecemasan ringan (Mild Anxiety)

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari.

Penyebabnya, seseorang menjadi lebih waspada,sehingga persepsinya

meluas dan memiliki indra yang tajam.kecemasan ringan masih mampu

memotivasi individu untuk menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.

2. Kecemasan sedang

Memusatkan perhatian pada hal-hal yang penting dan

mengesampingkan yang lain. Perhatian seseorag menjdi selektif, namun

dapat melaukan sesuatu yang lebih terarah lewat arahan dari orang lain.

50
3. Kecemasan berat (Severe Anxiety)

Kecemasan berat ditandai lewat sempitnya persepsi seseorang.

Selain itu,memiliki perhatian terpusat pada hal yang spesifik dan tida

dapat berpikir tentang hal-hal lain, di mana semua perilau ditunjukan

untuk mengurangi ketengagan.

4. Panic

Setiap orang memiliki kepanikan. Hanya saja, keadaran dan

kepanikan itu memiliki kadarnya masing-masing. Kepanikan muncul

disebabkan karena kehilangan kendali diri dan setail perhatian kurang.

Ketidakmampuan melakukan apapun meskipun dengan perintah

menambah tingkat kepanikan seseorang. Adapun hal lain,penyimpangan

persepsi, dan hilangnya pikiran rasional, disertai dengan disorganisai

kepribadian, Donsu .J.D.T, 2017

6) Budaya

Budaya mempengaruhi bagaimana seseorang mengartikan nyeri,

bagaimana mereka memperlihatkan nyeri serta keputusan yang mereka

buat tentang nyeri yang dirasakannya. Masyarakat dalan suatu kebudayaan

mungkin merasa bangga bila tidak merasakan nyeri karena mereka

menganggap bahwa nyeri tersebut merupakan sesuatu yang dapat ditahan

(Berger: 2007).

Keyakinan dan nilai-nilai budaya mempengaruhi cara individu

mengatasi nyeri. Individu mempelajari apa yang diharapkan dan apa yang

51
diterima oleh kebudayaan mereka. Hal ini meliputi bagaimana bereaksi

terhadap nyeri (Potter & Perry: 2005).

Ras dan suku merupakan faktor penting bagi seseorang dalam

merespon nyeri (Smeltzer & Bare, 2003). Peneliti antropologi kedokteran

Lipton dan Marbach (1984, dalam Bandyopadhyay, Markovic, & Manderson,

2007) menyatakan bahwa latar belakang budaya mempengaruhi komunikasi,

ekspresi, dan respon terhadap nyeri. Suku juga mempunyai peran bagaimana

cara individu menerima dan mengkomunikasikan nyeri mereka.

Setiap orang dengan budaya yang berbeda akan mengatasi nyeri

dengan cara yang berbeda-beda. Orang yang mengalami intensitas nyeri yang

sama mungkin tidak melaporkan atau berespon terhadap nyeri dengan cara

yang sama. Ada perbedaan makna dan sikap yang dikaitkan dengan nyeri

pada berbagai budaya. Budaya mempengaruhi perilaku nyeri tergantung pada

banyak faktor meliputi budaya kelompok yang dipelihara dan identitas diri

(Unruh & Henriksson, 2002).

Budaya mempengaruhi seseorang bagaimana cara toleransi terhadap

nyeri, mengintepretasikan nyeri, dan bereaksi secara verbal atau non-verbal

terhadap nyeri (LeMone & Burke, 2008). Sebagai contoh adalah budaya dari

suku Jawa yang menerima terhadap nyeri, sehingga harus merasa kuat dan

sabar terhadap nyeri yang dirasakan. Berbeda halnya dengan suku Melayu

yang kurang bisa menahan nyeri, sehingga lebih mengungkapkan nyerinya

kepada orang lain.

52
Harapan budaya tentang nyeri yang dipelajari individu sepanjang

hidupnya jarang dipengaruhi oleh pemajanan terhadap nilai-nilai yang

berlawanan dengan budaya lainnya. Akibatnya, individu yakin bahwa

persepsi dan reaksi mereka terhadap nyeri adalah normal dapat diterima

(Smeltzer & Bare, 2003)

7) Sikap dan Keyakinan Terhadap Nyeri

Sikap dan keyakinan terhadap nyeri dapat mempunyai pengaruh yang

kuat tentang bagaimana nyeri dirasakan dan cara pengelolaan nyeri. Nyeri

akut sering dirasakan sebagai sebuah tanda dari kerusakan jaringan.

Pengenalan terhadap nyeri memungkinkan individu untuk membuat keputusan

kapan nyeri memberikan tanda potensial berbahaya, atau kerusakan jaringan,

dan sumber apa atau derajat nyeri dapat dianggap aman (Unruh & Henriksson,

2002).

Banyak pasien tidak mau melaporkan nyerinya karena ingin menjadi

pasien yang baik atau tidak ingin menyusahkan atau mangganggu pemberi

pelayanan kesehatan (McGuire, 2006). Pasien dapat juga tidak mau

menggunakan obat analgesik opiat karena takut menjadi ketergantungan

(Berry & Dahl, 2000, dalam McGuire, 2006).

Penelitian yang dilakukan oleh Nimmaanrat (2007) yang bertujuan

untuk meneliti pengaruh sikap, keyakinan, dan harapan pasien terhadap nyeri

pasca bedah ginekologi dan pengelolaan nyeri. Penelitian menggunakan studi

prospektif yang dilakukan pada 112 pasien yang menjalani pembedahan

ginekologi mayor. Pengukuran terhadap sikap dan keyakinan terhadap nyeri

53
yang dialami dilakukan pasca bedah. Hasil penelitian menunjukan bahwa 89%

mengalami nyeri sedang sampai sangat hebat.

8) Keluarga dan support sosial

Adanya orang-orang yang memberi dukungan amat berpengaruh

terhadap nyeri yang dirasakan. Misalnya seorang anak tidak akan berfokus

pada nyeri yang dirasakannya jika ia berada di dekat kedua orang tuanya

(Taylor: 2007).

Individu yang mengalami nyeri sering kali bergantung pada anggota

keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan, bantuan atau

perlindungan. Walaupun nyeri tetap klien rasakan, kehadiran orang yang

dicintai dapat meminimalkan kesepian dan ketakutan (Potter & Perry: 2005).

E. Penanganan Nyeri

Penanggulangan nyeri pasca bedah yang efektif merupakan salah

satu hal yang penting dan menjadi problema bagi ahli anestesi. Hal

tersebut dikarenakan berbagai hal sebagai berikut:

1. Nyeri pasca bedah sangat bersifat individual, tindakan yang sama

pada pasien yang kurang lebih sama keadaan umumnya tidak selalu

mengakibatkan nyeri pasca bedah yang sama. Pengalaman penderita

terhadap derajat atau intensitas nyeri pasca bedah sangat bervariasi.

2. Banyak penderita yang kurang mendapat terapi yang adekuat

untuk mengatasi nyeri pasca beda.

54
3. Bebas nyeri dapat mengurangi komplikasi pasca bedah. Timbulnya

nyeri, derajat maupun lamanya pengelaman nyeri dari penderita setelah

operasi yang berlainan tidak dapat diketahui dengan pasti.

Untuk mengatasi nyeri bberapa penanganan nyeri yang dapat dilakukan

adalah dengan farmakologis maupun non farmakologis, yaitu :

a. Farmakologis

Menurut Tamsuri (2006), selain tindakan farmakologis untuk

menanggulangi nyeri ada pula tindakan nonfarmakologis untuk mengatasi

nyeri terdiri dari beberapa tindakan penaganan berdasarkan :

1. Penanganan fisik/stimulasi fisik meliputi:

a) Stimulasi kulit

Messase kulit memberikan efek penurunan kecemasan dan

ketegangan otot. Rangsangan massase otot ini dipercaya akan

merangsang serabut berdiameter besar, sehingga mampu memblok atau

menurunkan impuls nyeri

b) Stimulasi elektrik (TENS)

Cara kerja dari system ini masih belum jelas, sehingga bisa

memblok stimulasi nyeri. Bisa dilakukandengan messase, mandi air

hangat , kompres dengan kantong es dan stimulasi saraf elektrik

transkutan (TENS/ Transcutaneus electrical nerve stimulation). TENS

merupakan stimulasi pada kulit dengan menggunakan arus listrik ringan

yang dihantarkan melalui elektroda luar.

c) Akupuntur

55
Akupuntur merupakan pengobatan yang sudah sejak lama

digunakan untuk mengobati nyeri. Jarum-jarum kecil yang dimasukkan

pada kulit, bertujuan menyentuh titik-titik tertentu, tergantung pada

lokasi nyeri, yang dapat memblok transmisi nyeri ke otak.

d) Plasebo

Plasebo dalam bahasa latin berarti saya ingin menyenangkan

merupakan zat tanpa kegiatan farmakologik dalam bentuk yang dikenal

oleh klien sebagai “obat” seperti kaplet, kapsul, cairan injeksi dan

sebagainya.

2. Intervensi prilaku kognitif meliputi:

a) Relaksasi

Relaksasi otot rangka dipercaya dapat menurunkan nyeri dengan

merelaksasikan keteganggan otot yang mendukung rasa nyeri. Teknik

relaksasi mungkin perlu diajarkan bebrapa kali agar mencapai hasil

optimal. Dengan relaksasi pasien dapat mengubah persepsi terhadap

nyeri.

b) Umpan balik biologis

Terapi perilaku yang dilakukan dengan

memberikanindividu informasi tentang respon nyeri fisiologis dan cara

untuk melatih kontrol volunter terhadap respon tersebut. Terapi ini

efektif untuk mengatasi ketegangan otot dan migren, dengan cara

memasang elektroda pada pelipis.

56
c) Distraksi

Mengalihkan perhatian terhadap nyeri, efektif untuk nyeri ringan

sampai sedang. Distraksi visual (melihat TV atau pertandingan bola),

distraksi audio (mendengar musik), distraksi sentuhan (massase,

memegang mainan), distraksi intelektual (merangkai puzzle, main catur).

d) Guided Imagery (imajinasi terbimbing)

Meminta klien berimajinasi membayangkan hal-hal yang

menyenangkan, tindakan ini memerlukan suasana dan ruangan yang

tenang serta konsentrasi dari klien. Apabila klien mengalami

kegelisahan, tindakan harus dihentikan. Tindakan ini dilakukan pada saat

klien merasa nyaman dan tidak sedang nyeri akut.

e) Aroma terapi

Aromaterapi ialah istilah generik bagi salah satu jenis

pengobatan alternatif yang menggunakan bahan cairan tanaman yang

mudah menguap, dikenal sebagai minyak esensial, dan senyawa

aromatik lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk mempengaruhi

suasana hati atau kesehatan seseorang, yang sering digabungkan dengan

praktek pengobatan alternatif dan kepercayaan kebatinan.

57