Anda di halaman 1dari 9

.

Best Side Teaching

Blefarokonjungtivitis OD
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik

di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSMH Palembang

Oleh:

Muhammad Fadlillah Al Fitrah, S.Ked 04084821921110

Pembimbing:

Dr. Ani Ismail, Sp.M (K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2020
HALAMAN PENGESAHAN
Bed Site Teaching
Topik

Blefarokonjungtivitis

Disusun oleh:

Muhammad Fadlillah Al Fitrah, S.Ked 04084821921110

Laporan kasus ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik di Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya periode 20 Januari -
24 januari 2020.

Palembang, Februari 2020


Pembimbing

Dr. Ani Ismail, Sp.M (K)


STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien
Nama : Tn. MZF
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Palembang
Tanggal Pemeriksaan : 27 Januari 2020

2. Anamnesis (Autoanamnesis dan alloanamnesis)


a. Keluhan Utama
Mata kanan terasa nyeri, bengkak, dan merah pada mata kanan sejak 1
hari yang lalu.
b. Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak sekitar 1 hari yang lalu pasien mengeluh nyeri, dan merah mata
kanan, pasien juga merasakan mata kanan gatal, sering berair, terasa
mengganjal dan penglihatan sesekali silau saat melihat cahaya, banyak
kotoran pada kedua mata, berwarna putih kekuningan sehingga agak sulit
ketika ingin membuka mata. Pasien mengeluh bengkak dan gatal pada
kelopak mata kanan. Riwayat suka mengucek mata ada. Benjolan pada
mata disangkal. Pandangan kabur disangkal. Pandangan berkabut
disangkal. Air mata berbusa disangkal. Pasien dibawa ke RSMH
Palembang untuk tatalaksana lebih lanjut.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
• Riwayat mata terkena benda asing disangkal
• Riwayat trauma mata disangkal
• Riwayat menggunakan kacamata sebelumnya disangkal
• Riwayat operasi sebelumnya disangkal
• Riwayat alergi disangkal
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal
Riwayat alergi pada keluarga disangkal.

3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Nadi : 90 x/min regular, isi dan tegangan cukup
Frekuensi napas : 20 x/min
Suhu : 37,2 oC
Status gizi : gizi baik

b. Status Oftalmologis
Okuli Dekstra Okuli Sinistra
Visus 6/7,5 ph 6/6 6/6
Tekanan Intraokular P = N+0 P = N+0

Okuli Dekstra Okuli Sinistra


KBM Ortoforia
GBM 0 0 0 0
0 0 0 0
0 0 0 0
Palpebra Spasme (+), edema (+) Tenang
Konjungtiva Injeksi konjungtiva (+), Jernih
sekret (+) mukopurulen
Kornea Jernih, FT (-) Jernih, FT (-)
BMD Sedang Sedang
Iris Gambaran baik Gambaran baik
Pupil Bulat, sentral, refleks Bulat, sentral, refleks
cahaya (+), ɸ 3 mm cahaya (+), ɸ 3 mm
Lensa Jernih Jernih
Segmen Posterior
Refleks RFOD (+) RFOS (+)
Fundus
Papil Bulat, batas tegas, warna Bulat, batas tegas, warna
merah normal, c/d 0,3, merah normal, c/d 0,3, a/v
a/v 2/3 2/3
Makula Refleks fovea (+) Refleks fovea (+)
Retina Kontur pembuluh darah Kontur pembuluh darah
baik baik

4. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan fluorescent test
- Pemeriksaan slit lamp
- Saran dilakukan pemeriksaan mikrobiologi dan biakan kerokan
palpebral dan konjungtiva

5. Diagnosis Banding
- Blefarokonjungtivitis ec bakteri
- Blefarokonjungtivitis ec viral
- Konjungtivits alergika

6. Diagnosis Kerja
Blefarokonjungtivitis bakteri OD
7. Tatalaksana
1. Non Farmakologi
 Eyelid hygiene dua sampai empat kali sehari.
2. Komunikasi, Informasi dan Edukasi
 Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan prognosisnya.
 Menjelaskan kepada pasien tentang rencana pengobatan dan
pemeriksaan yang akan dilakukan.
 Menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit dapat berulang
kembali apabila kebersihan mata tidak dijaga.
 Menjelaskan kepada pasien pentingnya eyelid hygiene dan cara
melakukannya.
 Menjelaskan kepada pasien untuk tidak menggosok-gosok mata
agar meminimalkan penyebaran infeksi dan mengurangi trauma
pada mata.
3. Farmakologi
 Antibiotik Ointment (Chloramphenicol 1% Tube u.e/8 jam )
kelopak mata atas kanan
 Antibiotik (Levofloksasin 0,5% ED 1gtt/4 jam) ODS
 Cendo Lyteers 1gtt /4 jam OD

8. Prognosis
- Okuli Dextra
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

- Okuli Sinistra
Quo ad vitam : bonam
Quo ad functionam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
ANALISIS KASUS

Tn. MZF, usia 21 tahun datang ke RSMH dengan keluhan mata kanan nyeri
dan merah sejak sekitar 1 hari yang lalu, merasakan mata kanan gatal, sering berair,
terasa mengganjal dan penglihatan sesekali silau saat melihat cahaya, banyak
kotoran pada kedua mata, berwarna putih kekuningan sehingga agak sulit ketika
ingin membuka mata. Pasien mengeluh bengkak dan gatal pada kelopak mata
kanan. Riwayat suka mengucek mata ada. Benjolan pada mata disangkal.
Pandangan kabur disangkal. Pandangan berkabut disangkal. Air mata berbusa
disangkal.
Hasil anamnesis menunjukkan pasien mengeluh mata kanan nyeri dan merah.
Kelopak mata gatal dan bengkak. Gejala-gejala ini mengarah pada diagnosis
blefaritis. Diperkuat dengan pemeriksaan oftalmologi pasien yakni pada palpebra
didapati edema, palpebra hiperemis, terdapat sekret dan krusta putih kekuningan
merupakan salah satu gejala khas dari blefaritis.
Blefaritis adalah suatu penyakit inflamasi pada mata yang melibatkan
lipatan palpebra/ eyelid margin, dapat disebabkan infeksi dan alergi. Blefaritis dapat
dibedakan menjadi blefaritis anterior dan posterior. Blefaritis anterior adalah radang
bilateral kronik yang umum di tepi palpebra. Ada dua jenis utamanya: stafilokokus
dan seboroik. Blefaritis stafilokokus dapat disebabkan oleh infeksi Staphylococcus
aureus, blefaritis seborreik (non-ulseratif) berhubungan kuat dengan dermatitis
seboroik menyeluruh yang secara khas melibatkan kulit kepala, lipatan nasolabial,
kulit di belakang telinga dan sternum sedangkan blefaritis posterior adalah
peradangan palpebra akibat disfungsi kelenjar meibom. Blefaritis sering disertai
dengan konjungtivitis, keratitis dan dan dapat pula terjadi beriringan dengan
penyulit lain seperti hordeolum, kalazion, dan madarosis.
Blefaritis stafilokokus ditandai pada pemeriksaan didapatkan erythema dan
edema pada kelopak mata. Pasien dapat menunjukkan gejala kehilangan bulu mata,
tanda yang jarang dilihat pada blefaritis tipe lain. Gejala lainnya dapat termasuk
telangiectasia pada kelopak mata anterior, krusta keras yang mengelilingi dasar bulu
mata margin eyelid anterior (collarettes), dan perubahan kornea (infiltrat). Pada
kasus yang parah dan jangka panjang, dapat terjadi ulserasi kelopak mata dan
jaringan parut kornea. Staphylococcus aureus seringkali dihubungkan dengan
krusta yang kering dan bewarna kuning-madu. Sedangkan blefaritis seboroik
ditandai dengan peradangan yang lebih sedikit dibandingkan dengan blefaritis
stafilokok tetapi dengan krusta yang mempunyai konsistensi berminyak.
Injeksi konjungtiva yang ditemukan menunjukkan kemungkinan terjadi
konjungtivitis pada pasien ini. Konjungtivitis terjadi akibat dari blefaritis yang tidak
ditatalaksana dengan baik. Pada konjungtivitis bakteri gejala khas yang dapat
ditemukan diantaranya yakni mata yang mengeluarkan sekret yang purulent
maupun mukopurulen. Penumpukan sekret akan mengakibatkan kelopak mata
pasien melekat di pagi hari. Selain itu, pasien akan merasakan nyeri pada matanya.
Pada kasus, pasien mengeluh terdapat kotoran pada matanya bewarna putih
kekuningan sehingga sulit membuka mata.
Penatalaksaan dengan menggunakan modalitas farmakologi seperti
antibiotik topikal, antibiotik eye drop dan CD Lyteers. Pada blefaritis anterior,
antibiotik topikal ditemukan efektif mengeradikasi bakteri dari margin kelopak
mata. Salep topikal yang dapat digunakan adalah seperti bacitracin, eritromycin,
asam fusidat, erythromycin, azithromycin atau chloramphenicol dapat digunakan
dikelopak mata satu atau lebih kali sehari. Mengikuti lid hygiene, salep harus di
berikan pada margin kelopak mata anterior dengan cotton bud atau jari yang bersih.
Oleh karena itu pilihan antibiotik topikal yang diberikan pada pasien adalah
Chloramphenicol 1% Tube u.e/8 jam. Konjungtivitis dan keratitis dapat terjadi
sebagai komplikasi blepharitis dan memerlukan terapi tambahan selain terapi
margin kelopak mata. Terapi antibiotik dapat mengurangi peradangan dan gejala
konjungtivitis. Antibiotik eye drop yang dipilih adalah Levofloksasin 0,5% ED
1gtt/4 jam.

LAMPIRAN
Gambar 1. Okuli Dekstra dan Sinistra dalam keadaan terbuka

Gambar 2. Okuli Dekstra dan Sinistra dalam keadaan tertutup

Gambar 3. Okuli Sinistra

Gambar 4. Okuli Dekstra