Anda di halaman 1dari 2

Analisis Perbedaan Permendikbud No 66 Tahun 2013 dan

Permendikbud No 23 Tahun 2016

Pada Permendikbud No.23 Tahun 2016 dalam hal menimbang terdapat 3


hal yaitu perlu diseseuaikannya perkembangan dan kebutuhan dalam penilaian
hasil belajar, perlu mmenyusun standar penilaian pendidikan dan perlu
menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Standar
Penilaian Pendidikan. Namun pada Permendikbud No. 66 Tahun 2013 dalam hal
menimbang hanya perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan tentang Standar Penilaian Pendidikan

Menurut Permendikbud no 23 tahun 2016, standar penilaian pendidikan


adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur
dan instrument penilaian hasil belajar peserta diidk yang digunakan sebagai dasar
dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan menengah.
Sedangkan menurut Permendikbud No. 66 Tahun 2013 standar penilaian
pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrument
penilaian hasil belajar peserta didik.

Prinsip penilaian hasil belajar pada permendikbud No. 23 Tahun 2016


yaitu harus sahih, objektif, adil, terpadu, terbuka, menyeluruh dan
berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria dan akuntabel. Dalam
Permendikbur No. 66 Tahun 2013 hanya terdapat objektif, terpadu, ekonomis,
transparan, akuntabel dan eduktif.

Penilaian pendidikan itu sendiri menurut Permendikbud No. 66 Tahun


2013 adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur
pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup : penilaian otentik, penilaian diri,
penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester,
ujian tingkat kompetensi, ujian mutu singkat kompotensi, ujian nasional,dan ujian
sekolah. Pada Permendikbud No. 23 Tahun 2016 penilaian adalah proses
pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar
peserta didik.
ANALISIS PERMENDIKBUD NO. 104 TAHUN 2014 TENTANG PENILAIAN
HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK PADA PENDIDIKAN DASAR DAN
PENDIDIKAN MENENGAH

Dalam Permendikbud No. 104 Tahun 2014 disebutkan bahwa penilaian


hasil belajar adalah proses pengumpulan informasi/bukti tentang capaian
pembelajaran peserta didik dalam kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial,
kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara
terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.

Pada Permendikbud No. 104 Tahun 2014 penilaian hasil belajar oleh
pendidik dilakasanakan dalam bentuk penilaian autentik dan non-autentik. Bentuk
penilaian autentik berdasarkan pengamatan, tugas ke lapangan, portofolio, projek,
produk, jurnal, kerja laboraturium, unjuk kerta serta penilaian diri. Bentuk
penilaian non-autentik mencakup tes, ulangan, dan ujian. Penilaian hasil belajar
oleh pendidik memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan kompetensi,
menetapkan ketuntasan penguasaan kompetensi, menetapkan program perbaikan
atau pengayaan berdasarkan tingkat penguasaan kompetensi dan memperbaiki
proses pembelajran.

Pada Permendikbud No. 104 Tahun 2014 nilai akhir yang diperoleh untuk
ranah sikap diambil dari nilai modus (nilai yang terbanyak muncul). Nilai akhir
untuk ranah pengetahuan diambil dari nilai rerata. Nilai akhir untuk ranah
keterampilan diambil dari nilai optimal (nilai tertingi yang dicapai). Skala penilian
untuk ranah sikap menggunakan rentang predikat Sangat Baik (SB), Baik (B),
Cukup (C), dan Kurang (K). Skala penilaian untuk ranah pengetahuan dan
ketarmpilan mengguankan rentang angka dan hurup 4,00 (A) – 1,00 (D). Modus
untuk ketentuasan ranah sikap ditetapkan dengan predikat baik. Skor rerata
ketentusan ranah pengetahuan ditetapkan paling kecil 2,67. Dan capaian otimum
untuk ranah keterampilan ditetapkan paling kecil 2,67.