Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFARMASETIK DAN FARMAKOKINETIKA

PENGARUH FORMULASI TERHADAP LAJU DIFUSI ASAM SALISILAT KE


DALAM AGAR

OLEH :

REFI PANGESTI

(2016.01.00.02.012)

DOSEN PENGAMPU : WIDYA ASTUTI, S.SI, M.FARM., APT.

PROGRAM STUDI FARMASI

UNIVERSITAS MOHAMMAD NATSIR

BUKITTINGGI

2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Obat dalam tubuh mengalami proses absorbsi, sehingga obat akan diserap dan
terdistribusi secara merata. Proses absorbsi obat dalam membran dapat melalui proses difusi,
transpor aktif, pinositosis, fagositosis, dan persopsi. Proses ini dipengaruhi oleh beberapa hal
diantaranya sifat fisikokimia senyawa obat, jenis dan basis yang digunakan serta fisiologis
membran yang dilewati.

Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh
gerakan molekuler secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran
molekul melalui suatu batas, misalnya membran polimer (Martin dkk, 1993).

1.2. Tujuan praktikum


Tujuan dari percobaan ini yaitu:
a. Untuk mengetahui difusi zat aktif sediaan secara semi kuantitatif
b. Mengetahui pengaruh formulasi terhadap difusi asam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Umum
Difusi bebas atau transpor pasif suatu zat melalui cairan zat padat atau melalui membran
adalah suatu proses yang sangat penting dalam ilmu farmasi. Difusi didefinisikan sebagai
suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekuler
secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui
suatu batas.
Difusi masa – tunak
Hukum fick pertama. Sejumlah M benda yang mengalir melalui satu satuan penampang
melintang, S, dari suatu pembatas dalam satu satuan waktu t dikenal sebagai aliran dengan
simbol, J.
𝑑𝑀
𝐽=
𝑠. 𝑑𝑡
Sebaliknya aliran berbanding lurus dengan perbedaan konsentrasi,/𝑑𝑥 :
𝑑𝐶
−𝐽 = −𝐷
𝑑𝑥
Tanda negatif pada persamaan menggambarkan bahwa proses difusi terjadi dalam arah
yang berlawanan dengan kenaikan konsentrasi, yang mana D diketahui sebagai koefisien
difusi (satuan = cm2/det). Koefisien difusi adalah ukuran laju permeabilitas dari molekul
melintasi suatu area. Jadi, difusi terjadi dalam arah penurunan konsentrasi difusan. Difusi
akan berhenti jika tidak terdapat lagi gradien konsentrasi. (Martin, 2006)
Hukum fick kedua. Seseorang sering ingin menguji kecepatan perubahan konsentrasi
difusan pada suatu titik dalam suatu sistem dengan hukum kedua :
𝑑𝐶 𝑑2𝐶
=𝐷
𝑑𝑡 𝑑𝑥 2
Dimana D adalah koefisien difusi dari penetran (disebut juga difusan) dalam cm2/detik.
C adalah konsentrasinya dalam gram/cm3, dan x jarak dalam cm dari pergerakan tegak lurus
terhadap permukaan batas tersebut. Konstanta difusi D atau sering disebut difusivitas, tidak
selamanya konstan, karena konstanta tersebut bisa berubah harganya pada konsentrasi yang
lebih tinggi. Harga D juga dipengaruhi oleh temperatur, tekanan, sifat pelarut, dan sifat kimia
dari difusan. Oleh karena itu, D lebih tepat dikatakan sebagai suatu koefisien difusi daripada
sebagai suatu konstanta.
Keadaan yang penting dalam difusi adalah keadaan masa-tunak (steady state). Hukum
fick pertama memberikan aliran (laju difusi melalui satuan luas) dalam aliran pada keadaan
tunak. Difusivitas bergantung pada tahanan/hambatan terhadap jalannya molekul yang
berdifusi. Molekul gas berdifusi dengan cepat melalui udara dan melalui gas lainnya.
Difusivitas dalam cairan lebih kecil dan dalam padatan lebih kecil lagi. Keseimbangan
kelarutan dari obat sebagai zat terlarut dibutuhkan dalam mempelajari difusi.
Salep adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau
selaput lendir (FI ed IV). Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep
yang cocok (FI ed III). Salep yang baik tidak boleh berbau tengik. Kecuali dinyatakan lain
kadar bahan obat dalam salep yang mengandung obat keras atau narkotik adalah 10 %.
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari
60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (FI III)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat
terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. (FI IV hal. 6)
Krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang
dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. (Formularium Nasional)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat berupa emulsi yang mengandung satu atau
lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai (mengandung air
tidak kurang dari 60%). (Ilmu Resep hal. 74)

BAB III
CARA KERJA
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi beaker glass, batang
pengaduk, cawan petri, gelas ukur, jangka sorong.
3.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah asam salisilat, vaselin,
dasar krim, agar-agar serbuk (tidak berwarna), FeCl3 10%, kertas saring, aquadest.
3.2. Cara kerja
1. Siapkan 3 cawan petri yang telah berisi media agar yang telah didinginkan.
2. Tambahkan 2mL larutan FeCl3 kedalam masing-masing cawan petri, sampai menutupi
semua permukaan agar
3. Diamkan selama 3 menit, kemudian sisa larutan FeCl3 dibuang dan keringkan agar
dengan menggunakan kertas saring
4. Buat 3 lubang pada masing-masing cawan petri
5. Letakkan sediaan uji (krim dan salep asam salisilat 2%) denagn jumlah yang sama
pada lubang agar
6. Simpang cawan petri didalam kulkas selama 30, amati perubahan yang terjadi.
Kemudian biarkan pada suhu kamar dan amati perubahan yang terjadi setelah 60
menit dan 90 menit
7. Amati ketajaman warna dan kedalaman warna pada agar dengan jumlah salisilat yang
lepas dari basisnya

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Gambar.1 Salep Gambar. 2 Krim

4.2 Pengolahan Data


a. Krim asam salisilat
Waktu Diameter (mm) Intensitas warna
(menit) F1 F2 F3 F1 F2 F3
30 1,5 1,5 1,5 Ungu pekat Ungu pekat Ungu pekat
60 1,36 1,46 1,36 Ungu pekat Ungu pekat Ungu pekat
90 1,47 1,43 1,6 Ungu pekat Ungu pekat Ungu pekat
Tabel 3.1 hasil uji krim asam salisilat

b. Salep asam salisilat


Waktu Diameter (mm) Intensitas warna
(menit) F1 F2 F3 F1 F2 F3
30 1,4 1,4 1,4 Ungu Ungu Ungu
60 1,23 1,23 1,17 Ungu pekat Ungu pekat Ungu pekat
90 1,4 1,4 1,4 Ungu pekat Ungu pekat Ungu pekat
tabel 3.2 hasil uji salep asam salisilat

4.3 Pembahasan

Difusi bebas bahan melalui cairan, padatan dan membran merupakan suatu proses yang
sangat penting dalam ilmu farmasetika. Zat terlarut atau pelarut memiliki beberapa cara untuk
dapat melewati membran fisik atau membran biologis.

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami proses difusi zat
aktif sediaan secara semi kuantitatif. Pada uji difusi terhadap suatu zat tertentu dimana dibuat
suatu mekanisme kerja layaknya difusi didalam membran sel tubuh manusia. Adapun sediaan
yang diuji menggunakan bahan aktif asam salisilat dalam bentuk sediaan salep dan krim.
Kemudian diukur diameter yang terabsorbsi pada media agar sebagai membrane terhadap
waktu, dimana obat yang terabsorbsi seolah-olah menembus membran sel yang ada didalam
tubuh.

langkah pertama dalam praktikum ini dilakukan Pembuatan Media Difusi Agar. Cawan
petri yang berisi media agar didinginkan hingga memadat. Kemudian ditambahkan 2mL
larutan FeCl3 ke dalam cawan petri sampai menutupi semua permukaan agar. Kemudian
didiamkan. Sisa larutan FeCl3 dikeringkan dengan kertas saring. Dilakukan uji pada interval
30 menit, 60 menit, dan 90 menit. Pada 30 menit di masukkan ke dalam kulkas dan pada 60
menit dan 90 menit dibiarkan pada suhu kamar dan dilakukan pengukuran diameter

Nilai diameter hambat masing-masing kelompok uji di rata-ratakan, Analisa Data


Untuk menganalisis data hasil penelitian dianalisa dengan Analisis Varian (Anava) satu arah
untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau pengaruh pada tiap perlakuan dan dilanjutkan
dengan T-test dengan taraf kepercayaan 95 %. 9.
Pada krim yang kami lakukan pengujian, hasil yang didapat sesuai dengan tabel 3.1
krim asam salisilat. Diameter rata-rata pada setiap waktunya berbeda namun ada juga yang
sama. Begitu juga hasil pengujian yang didapat pada salep asam salisilat, namun pada salep
diameter mengecil pada waktu 60 menit dan 90 menit. Intensitas warna yang didapat pada
krim asam salisilat yang kami uji adalah ungu pekat mulai dari 30 menit pertama sampai pada
suhu ruang pada waktu ke 90 menit. Sedangkan pada salep intensitas warna yang dihasilkan
sama pada 30 menit pertama antara F1, F2, dan F3 yaitu ungu, sedangkan pada menit 60 dan
90 pada suhu ruang intenstas warna yang didapat yaitu ungu pekat dengan diameter yang
llebih kecil.

Difusi yang terjadi merupakan difusi pasif yaitu suatu proses perpindahan masa dari
tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah tanpa membutuhkan
energi. Membran dalam kajian formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat,
setengah padat atau cair dengan ukuran tertentu, tidak larut atau tidak tercampurkan dengan
lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dengan lainnya, umumnya oleh fase cair.

Dalam biofarmasi, membran padat digunakan sebagai model pendekatan membran


biologis. Membran padat juga digunakan sebagai model untuk mempelajari kompleks atau
interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan serta proses pelepasan dan pelarutan. Membran
difusi tiruan ini berfungsi sebagai sawar yang memisahkan sediaan dengan cairan
disekitarnya.

BAB V

KAESIMPULAN

Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh
gerakan molekuler secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran
molekul melalui suatu batas, misalnya membran polimer (Martin dkk, 1993).

Difusi yang terjadi merupakan difusi pasif yaitu suatu proses perpindahan masa dari
tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah tanpa membutuhkan
energi.

Membran dalam kajian formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat, setengah
padat atau cair dengan ukuran tertentu, tidak larut atau tidak tercampurkan dengan
lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dengan lainnya, umumnya oleh fase cair.

Hasil pada F1, F2, dan F3 pada krim asam salisilat berdiameter rata-rata kurang dari
1,65 dan intensitas warna yang dihasilkan adalah ungu pekat. Sedangkan pada salep asam
salisilat diameter yang didapat kurang dari 1,5 dan intensitas warna yang dihasilkan ungu
pada 30 menit pertama dan ungu pekat pada 60 dan 90 menit.
DAFTAR PUSTAKA
Aiache, J.M. 1993. Farmasetika 2-Biofarmasi. Edisi Kedua. Paris : Lavoiser.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1979 . Farmakope Indonesia Edisi III . Jakarta
: Dekpes RI
Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 1995 . Farmakope Indonesia Edisi IV . Jakarta
: Dekpes RI
Martin, A., Swarbick, J., dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik 2. Edisi III.Jakarta: UI
Press. Pp. 940-1010, 1162, 1163, 1170.
Shargel, Andrew. 1988. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan. Edisi ke- 2.
Surabaya: Universitas Airlangga Press.
Sinko, Patrick J. 2006. Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Martin. Edisi ke-5. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Syamsuni . 2007 . Ilmu Resep . Jakarta : EGC
Watson, David G. 2009. Analisi Farmasi. Edisi ke-2. Jakarta : EGC.