Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah,


taufik, dan inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kami bisa menjalani
kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Syukur Alhamdulillah kami dapat
menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Makalah ini kami beri judul “
Tindakan Suction Dengan Sistem Terbuka dan Tertutup” dengan tujuan untuk
menambah pengetahuan kita.
Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata
kuliah Keperawatan Kritis yang telah memberikan bimbingan kepada kami dalam
pembuatan makalah ini hingga selesai. Tidak lupa kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Kami mohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat banyak
kesalahan didalamnya. Kami mengharapkan saran dan kritik yang membangun
demi tercapainya kesempurnaan makalah selanjutnya. Semoga makalah ini dapat
memberikan manfaat bagi semua. Atas perhatiannya, kami ucapkan terimakasih.

Padang, 8 Februari 2020

Penyusu
n

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar1

Daftar Isi2

BAB I

A. Latar Belakang3

B. Rumusan Masalah3

C. Tujuan 3

BAB II

A. Definisi Suction 5
B. Prinsip Suction 6
C. Tekanan Saat Melakukan Suction 8
D. Indikasi Suction 8
E. Kontra Indikasi Suction 9
F. Persiapan Alat 9
G. Persiapan Pasien 9
H. Langkah Prosedur Melakukan Suction 10
I. Hal Yang Perlu Diperhatikan 15

BAB III

A. Kesimpulan 16
B. Saran 16

DAFTAR PUSTAKA17

BAB I

PENDAHULUAN

2
A. Latar Belakang

Suctioning atau penghisapan merupakan tindakan untuk mempertahankan jalan


nafas sehingga memungkinkan terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat
dengan cara mengeluarkan secret pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya
sendiri. . Sebagian pasien mempunyai permasalahan di pernafasan yang
memerlukan bantuan ventilator mekanik dan pemasangan ETT (Endo Trakeal
Tube), dimana pemasangan ETT (Endo Trakeal Tube) masuk sampai percabangan
bronkus pada saluran nafas. Pasien yang terpasang ETT (Endo Trakeal Tube) dan
ventilator maka respon tubuh pasien untuk mengeluarkan benda asing adalah
mengeluarkan sekret yang mana perlu dilakukan tindakan suction. Suction adalah
suatu tindakan untuk membersihkan jalan nafas dengan memakai kateter
penghisap melalui nasotrakeal tube (NTT), orotraceal tube (OTT), traceostomy
tube (TT) pada saluran pernafasa bagian atas. Bertujuan untuk membebaskan jalan
nafas, mengurangi retensi sputum, merangsang batuk, mencegah terjadinya infeksi
paru. Prosedur ini dikontraindikasikan pada klien yang mengalami kelainan yang
dapat menimbulkan spasme laring terutama sebagai akibat penghisapan melalui
trakea gangguan perdarahan, edema laring, varises esophagus, perdarahan gaster,
infark miokard.

Tindakan suction di area kritis pada dasarnya merupakan tindakan yang umum
dilakukan terutama pada pasien yang terpasang ventilator, dengan melakukan
intervensi tersebut diharapkan dapat memperbaiki jalan napas Parekh, et al., (2011
Dalam Jurnal Kesehatan Keperawatan Universitas Padjajaran, 2016) . Pada
prinsipnya prosedur suction sangat bermanfaat untuk pasien. Hal ini seperti yang
diungkapkan oleh pastisipan bahwa partisipan merasakan nyaman. Rasa nyaman
yang dirasakan oleh partisipan didukung oleh penelitian Parekh et al. (2011 dalam
Jurnal Keperawatan Kesehatan Universitas Padjajaran 2016) bahwa dengan
dilakukan suction akan memperbaiki jalan napas pasien sehingga akan
menimbulkan rasa nyaman. Selain merasakan keuntungan dan rasa nyaman dari

3
prosedur suction beberapa partisipan juga mengungkapkan adanya nyeri.
Pengisapan dilakukan hanya bila diindikasikan dan frekuensinya tidak ditentukan.
Selain itu prosedur suction dapat menimbulkan panik terutama jika itu
pengalaman pertama, untuk mengurangi rasa panik sebaiknya perawat terlebih
dahulu memberikan penjelasan prosedur setiap kali dilakukan Karlsson, et al.,
( 2011 dalam Jurnal Kesehatan Keperawatan Universitas Padjajaran).

Penggunaan ventilasi mekanik menimbulkan efek samping dan


komplikasi, salah satunya adalah infeksi jalan nafas. Infeksi jalan nafas yang
berhubungan dengan pemakaian ventilator dikenal dengan Ventilator Assisted
Pneumonia (VAP). Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan
pneumonia yang terjadi 48 jam atau lebih setelah ventilator mekanik diberikan.
Ventilator Asociated Pneumonia (VAP) merupakan bentuk infeksi nosokomial
yang paling sering ditemui diruang perawatan intensif (ICU), khususnya pada
pasien yang menggunakan ventilator mekanik. Ventilator Assosiated Pneumonia
(VAP) merupakan komplikasi sebanyak 28% dari pasien yang menerima ventilasi
mekanik. Kejadiannya meningkat seiring dengan peningkatan durasi penggunaan
ventilasi mekanik. Estimasi insiden adalah sebanyak 3% per hari selama 5 hari
pertama, 2% per hari selama 6-10 hari, dan 1% per hari setelah 10 hari
(Amanullah & Posner,2010). Insiden Ventilator Assosiated Pneumonia (VAP)
pada pasien yang mendapat ventilasi meknik sebanyak 22,8% dan pada pasien
yang mendapat ventilasi mekanik menyumbang sebanyak 86% dari kasus infeksi
nosokomial. Selanjutnya resiko terjadinya pneumonia meningkat 3 sampai 10 kali
lipat pada pasien yang mendapat ventilasi mekanik.

Ventilator Assosiated Pneumonia (VAP) mempunyai banyak resiko. Akan


tetapi, banyak intervensi keperawatan yang dapat menurunkan insiden VAP.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah VAP diantaranya cuci tangan dan
pemakaian sarung tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan,
dekontaminasi oral, intervensi farmakologis oral, stres ulser prophilaksis,
penghisapan sekret endotrakheal, perubahan posisi klien, posisi semi-fowler,
penghisapan sekret orofaringdan pemeliharaan sirkuit ventilator.

4
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan suction ?
2. Sebutkan apa saja indikasi dan kontraindikasi dari tindakan suction
?
3. Apa saja alat yang harus dipersiapkan untuk melakukan tindakan
suction ?
4. Apa saja persiapan pasien sebelum dilakukan tindakan suction ?
5. Bagaimana langkah prosedur dalam melakukan tindakan suction ?
6. Apa saja hal yang perlu diperhatikan setelah dilakukan tindakan
suction ?

C. Tujuan
1. Menjelaskan definisi dan perbedaan suction terbuka dan tertutup
2. Menyebutkan indikasi dan kontraindikasi tindakan suction
3. Menjelaskan alat yang harus dipersiapkan sebelum dilakukan
tindakan suction
4. Menjelaskan persiapan pasien yang harus dilakukan sebelum
tindakan suction
5. Mendiskripsikan langkah prosedur tindakan suction terbuka dan
tertutup
6. Menyebutkan hal-hal yang harus diperhatikan setelah dilakukan
tindakan suction.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN
Suction merupakan suatu cara untuk mengeluarkan sekret dari saluran nafas
dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui hidung atau rongga

5
mulut kedalam pharyng atau trachea. Penghisapan lendir digunakan bila
pasien tidak mampu membersihkan sekret dengan mengeluarkan atau
menelan. Tindakan penghisapan lendir perlu dilakukan pada pasien yang
mengalami penurunan kesadaran karena kurang responsif atau yang
memerlukan pembuangan sekret oral. Dengan dilakukan tindakan suction
diharapkan saturasi oksigen pasien dalam batas normal (>95 %). ( Jurnal
Keperawatan Global, Volume 2, No 2, Desember 2017)

B. MACAM SELANG SUCTION


a. Closed Suction System (CSS)
Close Suction merupakan kanul dengan sistem tertutup yang selalu
terhubung dengan sirkuit ventilator dan penggunaanya tidak perlu
membuka konektor sehingga aliran udara yang masuk tidak terinterupsi.
CSS digunakan pada pasien yang terpasang endotracheal atau
ventilator, terutama dalam pencegahan hipoxemia dan infeksi
nosokomial VAP. Closed Suction System digunakan untuk mencegah
kontaminasi udara luar, kontaminasi pada petugas dan pasien, mencegah
kehilangan suplai udara paru, mencegah terjadinya hipoksemia,
mencegah penurunan saturasi oksigen selama dan sesudah melakukan
suction, menjaga tekanan positive pressure ventilasi dan PEEP, terutama
pasien yang sensitif bila lepas dari ventilator seperti pasien apneu atau
pasien yang butuh PEEP tinggi.
Closed Suction System merupakan salah satu penggunaan ventilasi
mekanik yang menimbulkan efek samping dan komplikasi, salah
satunya adalah infeksi jalan nafas. Infeksi jalan nafas yang berhubungan
dengan pemakaian ventilator dikenal dengan Ventilator Assisted
Pneumonia. Hal ini diakibatkan salah satunya karena tindakan suction
yang dilakukan untuk mempertahankan efektifnya jalan nafas,
merangsang batuk, membersihkan sekret pada pasien yang terpasang
endotracheal tub.
Namun dengan menggunakan CSS, pasien dapat mempertahanakan
volume tidal, konsentrasi oksigen, dan Positive End Expiratory Pressure

6
(PEEP) disampaikan oleh ventilator saat dilakukan suction. Pada
akhirnya, hal ini akan mengurangi terjadinya hipoksemia pada induced
suction.
Keuntungan lain dalam penggunaan CSS adalah dapat menurunkan
resiko infeksi, bahkan ketika selang suction yang sama digunakan
berkali-kali. Hal ini disebabkan karena selang suction berada dalam
kantong plastik / catheter sleeve. Sehingga perawat tidak perlu
menyentuh selang suction dan sirkuit ventilator dapat tertutup
b. Open Suction System (OSS)
Closed Suction System (CSS) lebih efektif dari Open Suction
System (OSS) karena tidak memerlukan dua tenaga, tidak menggunakan
glove steril dan tidak sering menganti kateter suction.
Menurut penelitian Mazhari (2010) menemukan bahwa metode
hisap terbuka lebih meningkatkan denyut jantung segera setelah
penyedotan tabung trakea dibandingkan dengan metode tertutup dan
saturasi oksigen darah arteri segera setelah metode hisap terbuka
memiliki penurunan yang signifikan Di sisi lain, metode hisap terbuka
rata-rata meningkatkan denyut jantung hingga enam ketukan. Open
suction memiliki beberapa kelebihan yaitu berdasarkan penelitian Jung
(2014) penggunaan single use open suction mampu meminimalkan
kepadatan kolonisasi. Penelitian Irene (2014) juga membuktikan
kelebihan Open suction yaitu mampu menghilangkan sekret lebih
banyak, meningkatkan SaO2 dan biaya operasional yang lebih murah.
Berdasarkan kesimpulan dari penelitian yang di lakukan Yunita (2015)
metode open suction system mampu mencegah terjadinya pneumonia
nosokomial yang lebih baik jika dilakukan dengan prosedur yang tepat
seperti penerapan teknik aseptik yang tepat, penggunaan kateter suction
dengan sistem single use, dan desinfeksi peralatan yang sesuai standar.
( Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Tanjung Pura, 2017)

C. INDIKASI
Menurut Rini, Ika Setyo dkk (2019) indikasi dari suction adalah :

7
1. Mempertahankan kepatenan jalan nafas
2. Menghilangkan secret melalui endotracheal jalan napas dan
menyebabkan hypoksia, pneumonia, bronkritis atau etelekstasis.
Kebutuhan suction diindikasikannya adanya penurunan saturasi oksigen,
suara gurgling, atau gelisah.
3. Menstimulasi refleks batuk dalam pada pasien yang mendapat
sedasi atau gangguan neurologi untuk memobilisasi secret agar jalan
napas lebih longgar.
4. Mengambil sputum untuk analisa laboratorium.

D. KONTRA INDIKASI
Menurur Rini, Ika Setyo dkk ( 2019) Kontraindikasi dari suction adalah :
1. Memperburuk tekanan intracarnial atau tekanan darah tinggi yang
berat
2. Jangan menurunkan endotrakeal tube atau trakeostomi cuff
sebelum suction. Cuff yang ditingkatkan dapat membantu mencegah
aspirasi benda apapun kedalam paru-paru jika gog reflek dirangsang dan
terjadi muntah. Memposisikan pasien dengan tempat tidur ditinggikan 30
derajat selama dan setelah suction dapat meminimalkan risiko aspirasi.
3. Untuk mencegah hipoksia, suction tidak boleh melebihi 10 detik
tiap kali dilakukan
4. Untuk pasien yang mendapat ventilasi mekanik dengan positive
end-expiratoty pressure (PEEP), sebuah adaptor PEEP dapat
ditambahkan pada alat blog-valve-mask atau menghindari gangguan pada
tekanan.
5. Suction harus didasarkan pada kebutuhan individu dan sebuah
bukan prosedur yang dijadwalkan. Pembatasan suction menghindari
kerusakan mukosa berlebihan dan penurunan paparan kolonisasi bakteri.
6. Pemberian saline untuk melonggarkan sekresi tidak efektif dan
dapat menurunkan oksigenasi arteri, saline dapat meningkatkan
kolonisasi bakteri pada jalan napas bawah.

E. Standar Operational Prosedure Rumah Sakit Dr. Mdamil Padang


1. Persiapan Petugas
a. Pastikan dan identifikasi kebutuhan pasien yang akan dilakukan
tindakan

8
b. Cuci tangan sesuai prosedure (lihat SPO cuci tangan)
c. Gunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan.
2. Persiapan Pasien
a. Identifikasi pasien (lihat SPO identifikasi)
b. Jaga privasi dan dan siapkan lingkungan aman dan nyaman
c. Jelaskan tentang prosedure tindakan yang akan dilakukan.
3. Persiapan alat
a. Suction pump
b. Kateter suction sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan
c. Sarung tangan steril
d. Pinset steril
e. Presure cuff atau spuit 10 cc
f. Alas dada
g. Kom berisi aqua steril
h. Ambu bag dan selang oksigen
i. Jelly
j. Aqua steril untuk pembilas
k. Botol berisi cairan desinvektan
4. Penatalaksaan tindakan
a. Pasien diberitahu tindakan yang akan dilakukan
b. Atur posisi pasien sesuai dengan kondisi pasien
c. Pasang pengalas dada
d. Beri oksigen 100%
e. Perawat mencuci tangan, pasang handscoon
f. Sambungkan selang suction dengan kateter suction, kemudian
lepaskan konektor ETT pada selang ventilator
g. Masukan kateter suction dengan tidak menutup lobang kateter
suction sampai mentok
h. Tarik kateter suction 1 sampai 2 cm lalu tutup lobang kateter
suction
i. Tarik kateter suction dengan cara memutar pada dinding kateter
suction (waktu satu kali tindakan ± 10 detik)
j. Sambungkan kembali konektor ETT dengan selang ventilator
k. Bilas kateter suction dengan aqua steril
l. Ulangi prosedure diatas bila masih perlu, pada akhir tindakan
kompreskan cuff ETT dengan spuit 10 cc dan suction lagi kemudian isi
lagi cuff ETT sampai tidak terdengar suara kebocoran
m. Bilas lagi kateter suction dengan aqua steril dan kemudian
masukkan kedalam kom yang berisi desinfektan

9
n. Evaluasi dengan auskultasi saluran nafas kemudian observasi dan
catat jam, tanggal dilakukan suction dan catat jumlah, bau, warna dan
konsistensi lender pada catatn keperawatan.
o. Bereskan alat-alat, lepaskan APD dan cuci tangan
p. Dokumentasikan kegiatan yang telah dilakukan

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Suction (Pengisapan Lendir) merupakan tindakan pengisapan yang
bertujuan untuk mempertahankan jalan napas, sehingga memungkinkan
terjadinya proses pertukaran gas yang adekuat dengan cara mengeluarkan
secret dari jalan nafas, pada klien yang tidak mampu mengeluarkannya
sendiri. Suction merupakan suatu metode untuk mengeluarkan secret jalan
nafas dengan menggunakan alat via mulut, nasofaring, atau trakeal.

B. Saran
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan yang diharapkan, karena masih terbatasnya pengetahuan
penyusun. Oleh karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang
sifatnya membangun.

10
DAFTAR PUSTAKA

Bastian. Suryani. Emaliyati, E. (2016). Pengalaman Pasien yang Pernah


Terpasang Ventilator. Keperawatan Universitas Padjadjaran.

Kozier, B., Glenora Erb, Audrey dan Shirlee J.Snyder. 2010. Buku Ajar
Fundamental Keperawatan (Alih Bahasa : Esty Wahyu Ningsih, Devi
Yuliati). Jakarta : EG

Nizar, Afif Muhammad. Dwi Susi Haryati. (2015). Pengaruh Suction


Terhadap Kadar Saturasi Oksigen Pada Pasien Koma Di Ruang Icu
Rsud Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2015. Kementerian Kesehatan
Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Keperawatan

Rini, Ika Setyo dkk. 2019. Pertolongan Pertama Gawat Darurat. Malang :

UB Press

Sari, Fitri Riri. Fauzan, Suhaimi. Budiharto, Ichsan. (2017). Pengaruh Open
Suction Terhadap Tidal Volume Pada Pasien Menggunakan Ventilator
Diruang ICU RSUD dr. Soedarso Pontianak. Fakultas Kedokteran
Universitas Tanjung Pura.

11