Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ANATOMI DAN FISIOLOGI TRNAK SISTEM OTOT

Dosen pengampu : Hanum muarifah S.Pt,M.Sc

BATOR TRI LAKSONO

195050107113012

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS II

KEDIRI

2020
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

2.2 Struktur

2.3 Fungsi otot

2.4 Kelompok otot bergaris melintang

2.5 mekanisme kontraksi otot

2.6 perubahan yang terjadi selama penegangan otot rangka

2.7 tipe serat dan hubungannya dengan kualitas daging (karkas dan
kualitas karkas)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
BAB 1

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ
satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang
berfungsi untuk bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh
hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh
stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu
struktur filamen yang berukuran sangat kecil tersusun dari protein kompleks,
yaitu filamen aktin dan miosin (Awik, 2004).
Pada saat otot berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan yang
mendapatkan energi dari mitokondria di sekitar miofibril. Oleh karena itu, banyak
jenis otot yang saling berhubungan walaupun jenis otot terdiri dari otot lurik, otot
jantung, dan otot rangka. Ketiganya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda
pula.
Otot dapat bergerak karena adanya sel otot. Otot bekerja dengan cara
berkontraksi dan relaksasi. Selain itu otot juga menyebabkan pergerakan pada
organisme maupun pergerakan dari organ dalam organisme tersebut. selanjutnya
otot diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu Otot Lurik, Otot Polos dan Otot
Jantung.
Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu
berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit
dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang
berukuran sangat kecil yang tersusun dari protein kompleks, yaitu filamen aktin
dan miosin. Pada saat berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan
yang mendapatkan energi dari mitokondriadi sekitar miofibil.
Terdapat pula macam – macam otot yang berbeda pada vertebrata. Yang
pertama ialah otot jantung, yaitu otot yang menyusun dinding jantung. Otot polos
terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang (kecuali jantung).
Kontraksi otot polos yang umumnya tidak terkendali, memperkecil ukuran
struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus, kandung kemih dan
rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang dindingnya sebagian besar
terdiri atas otot polos.
Sehingga kontraksi otot polos melaksanakan bermacam-macam tugas
seperti meneruskan makanan kita dari mulut ke saluran pencernaan,
mengeluarkan urin, dan mengirimkan bayi ke dunia. Otot kerangka, seperti
namanya, adalah otot yang melengkat pada kerangka. Otot ini dikendalikan
dengan sengaja. Kontraksinya memungkinkan adanya aksi yang disengaja seperti
berlari, berenang, mengerjakan alat-alat, dan bermain bola. Akan tetapi, apabila
otot jantung, otot polos, ataupun otot kerangka atau lurik memberikan suatu ciri,
maka otot tersebut merupakan alat yang menggunakan energi kimia dan makanan
untuk melakukan kerja mekanisme.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Otot


Pengertian sistem otot adalah sistem organ baik pada hewan dan manusia
yang mengizinkan makhluk tersebut bergerak. Sistem otot dikontrol oleh sistem
saraf, dan walaupun beberapa otot (seperti otot jantung) dapat bergerak secara
otonom, Otot merupakan suatu organ alat yang dapat bergerak ini adalah sesuatu
yang penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah
bentuk. Pada sel-sel sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang
panjang disebut miofibril. Kalau sel otot yang mendapatkan rangasangan maka
miofibril akan memendek.

Otot merupakan suatu organ/alat yang dapat bergerak ini adalah sutau
penting bagi organisme. Gerak sel terjadi karena sitoplasma merubah bentuk.
Pada sel-sel sitoplasma ini merupakan benang-benang halus yang panjang disebut
miofibril. Kalau sel otot yang mendapatkan rangasangan maka miofibril akan
memendek, dengan kata lain sel otot akan memendekkan dirinya kearah tertentu.

Otot merupakan jaringan pada tubuh hewan yang bercirikan mampu


berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh stimulus dari sistem saraf. Unit
dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu struktur filamen yang
berukuran sangat kecil yang tersusun dari protein kompleks , yaitu filamen aktin
dan miosin. Pada saat berkontraksi, filameb-filamen tersebut saling bertautan
yang mendapatkan energi dari mitokondriadi sekitar miofibil. Terdapat pula
macam – macam otot yang berbeda pada vertebrata.

Yang pertama ialah otot jantung, yaitu otot yang menyusun dinding
jantung. Otot polos terdapat pada dinding semua organ tubuh yang berlubang
(kecuali jantung). Kontraksi otot polos yang umumnya tidak terkendali,
memperkecil ukuran struktur-struktur yang berlubang ini. Pembuluh darah, usus,
kandung kemih dan rahim merupakan beberapa contoh dari struktur yang
dindingnya sebagian besar terdiri atas otot poos. Sehingga kontraksi otot polos
melaksanakan bermacam-macam tugas seperti meneruskan makanan kita dari
mulut ke saluran pencernaan, mengeluarkan urin, dan mengirimkan bayi ke
dunia.Otot kerangka, seperti namanya, adalah oto yang melengkat pada kerangka.

Otot ini dikendalikan dengan sengaja. Kontraksinya memungkinkan


adanya aksi yang disengaja seperti berlari, berenang, mengerjakan alat-alat, dan
bermain bola. Akan tetapi, apabila otot jantung, otot polos, ataupun otot kerangka
atau lurik memeberikan suatu ciri, maka otot tersebut merupakan alat yang
menggunakan energi kimia dan makanan untuk melakukan kerja mekanisme.

2.2 struktur
Otot dalam tubuh terhimpun dalam sutau sistem: Sistem Pergerakan. Otot
sebagian terbesar menyelaputi rangka dan tersusun teratur di bawah kulit. Jika
diamati otot pangkal lengan atas orang, tampaklah bahwa otot itu tersusun atas
beberapa gumpalan. Gumpalan itu bekerja antagonis (timbal-balik): jika satu
gumpalan mengerut, gumpalan lain mengendur.

Gumpalan terdiri dari beberapa berkas otot, yang disebut fasciculus. Tiap
berkas dibina atas banyak serat otot. Satu serat otot adalah 1 sel otot, yang
bentuknya kecil panjang seperti serat tumbuhan (Yatim, 1990).

Setiap jaringan otot disarafi oleh beberapa saraf motor. Setiap serabut saraf
motor tunggal akan bercabang-cabang menjadi kurang lebih 100 cabang kecil-
kecil. Masing-masing cabang kecil ini akan berakhir pada satu sel otot. Ujung
saraf yang melekat pada sel otot ini. Ujung saraf yang melekat pada sel otot ini
dikenal dengan nama motor end plate atau myoneural junction. Jadi satu serabut
saraf motor akan mensarafi kurang lebih 100 sel otot. Satu serabut saraf motor
tunggal, bersama-sama dengan sel-sel otot yang disarafi disebut unit motor
(Soewolo, 2003).

Serat otot memiliki komponen seperti sel pada umumnya: plasmalemma,


inti, sitoplasma, dan organel. Plasmalemma disebut sarkolemma, sitoplasma
disebut sarkoplasma. Organelnya yang penting ialah retikulum endoplasma,
mitokondria, dan serabut intraseluler.

Retikulum endoplasma disebut retikulum sarkoplasma. Retikulum


sarkoplasma bercabang halus dan bersusun membentuk jalinan yang teratur
sekeliling serabut intraseluler. Mitokondria, sesuai dengan fungsinya sebagai
pembangkit energi, banyak sekali terkandung dalam serat otot. Serabut
intraseluler otot disebut miofibril. Miofibril puluhan hingga ratusan banyaknya
dalam 1 serat otot. Setiap miofibril dibina atas puluhan mikrofilamen.
Mikrofilamen otot ialah aktin dan miosin, yang bersusun berjejer dan berdempet
(Yatim, 1990).

2.3 FUNGSI OTOT

Sistem otot yang ada di seluruh tubuh juga memiliki fungsi yang berbeda-
beda. Untuk lebih jelasnya, Anda bisa menyimak informasi di bawah ini:

Melakukan gerakan tubuh


Fungsi utama dari sistem otot di tubuh adalah untuk melakukan gerakan.
Ketika Anda melakukan gerakan, otot mengikuti arah gerakan yang Anda
maksudkan, bersama-sama dengan tulang dan tendon.
Menjaga keseimbangan tubuh
Sistem otot membuat tubuh menjadi stabil, karena otot melindungi
bagian-bagian penting yang bertugas untuk membuat tubuh menjadi tegak, yaitu
bagian punggung. Ada otot yang disebut dengan otot inti, yaitu pada punggung,
perut, dan panggul. Semakin kuat otot-otot inti ini, tubuh akan semakin stabil
sehingga mampu menjaga keseimbangan.

Mengatur postur
Otot juga berfungsi dalam mengatur postur tubuh. Jika ada keluhan atau
kondisi otot yang tidak semestinya seperti otot pinggul yang tegang atau otot
leher yang kaku, akan memengaruhi postur tubuh. Sebaliknya, jika postur tubuh
tidak dijaga baik, akan membuat otot semakin lemah dan sendi terasa nyeri,
misalnya kebiasaan posisi duduk atau berjalan membungkuk.

Membantu proses melahirkan


Pada saat Anda hamil, otot-otot polos yang ada di rahim bekerja
menopang rahim yang terus membesar seiring bertambahnya berat janin. Ketika
tiba saatnya melahirkan, otot polos ini mendorong bayi menuju jalan lahir,
dengan cara kontraksi.

Pernapasan
Ketika Anda bernapas, ada sistem otot yang bekerja. Diafragma adalah
otot yang digunakan untuk pernapasan. Ketika bernapas sehari-hari, otot
diafragma bekerja sendiri. Ketika Anda sedang bernapas yang lebih berat,
misalnya sedang berlari atau bernapas, otot diafragma memerlukan bantuan dari
otot tubuh lain. Seperti otot punggung, otot perut, atau otot leher.

Penglihatan
Anda mungkin saja tidak menyadari bahwa ada rangkaian otot yang
berada di mata. Otot polos inilah yang membuat Anda dapat menggerakkan
mata seperti berkedip dan membuat Anda mampu menyesuaikan jarak pandang
serta menggerakkan bola mata ke segala arah. Jika ada kerusakan pada otot-otot
ini, maka Anda pun dapat mengalami gangguan penglihatan.
2.4 kelompok otot bergaris melintang

A. Otot Lurik (Otot Rangka)

Otot rangka tersusun atas sel-sel panjang tidak bercabang, disebut serabut otot
(muscle fiber). Serabut-serabut ini merupakan sel-sel berinti banyak (multiseluler)
yang terletak pada bagian pinggir (perifer) sel. Sel-sel otot terbentuk sejak
perkembangan embrionik melalui fusi dari banyak sel-sel kecil yang membentuk
sinsitium. Apabila dilihat dengan mikroskp cahaya, serabut otot Nampak
bergaris-garis melintang (Soewolo, 2003).

Seperti halnya sel saraf, sel otot mampu merespon terhadap rangsangan.
Bila membrane sel otot dikenai neurotransmitter yang di hasilkan oleh ujung
saraf motor yang mensarafinya, maka pada membrane sel otot tadi akan timbul
suatu impuls bioelektrik. Impuls ini akan merambat sepanjang membrane serabut
otot, seperti merambatnya impuls pada serabut saraf yang tidak bermielin
(Soewolo, 2003). Setiap serabut otot rangka dibungkus oleh lapisan jaringan ikat
lembut yang di sebut endomisium. Beberapa serabut tunggal akan bergabung
menjadi satu berkas yang disebut fasikulus. Fasikulus ini dibungkus oleh jaringan
ikat yang disebut perimisium. Seluruh fasikulus tersebut kemudian di bungkus
bersama-sama oleh epimisium (Soewolo, 2003).
Pada kebanyakan otot, epimisium bersatu pada kedua ujung otot dan membentuk
tendon yang biasanya melekat pada suatu tulang. Karena tendon bersambung
dengan episium, dan karena perimisium dan endomisium melekat padanya, maka
kontraksi ottot dapat menimbulkan suatu tarikan yang kuat pada titik lekatnya
(Soewolo, 2003).

Otot motoritas
disebut juga otot serat lintang oleh karena di dalamnya
protoplasma mempunyai garis-garis melintang. Pada umumnya otot ini melekat
pada kerangka sehingga disebut juga otot kerangka. Otot ini dapat bergerak
menurut kemauan kita (otot sadar), pergerakannya cepat tetapi lekas lelah,
rangsangan dialirkan melalui saraf motoris
Otot jantung,

bentuknya menyerupai otot serat lintang di dalam sel protoplsmanya


terdapat serabut-serabut melintang yang bercabang-cabang tetapi kalau kita
melihat fungsinya seperti otot polos, dapat bergerak sendiri secara otomatis oleh
karena ia mendapat rangsangan dari susunan otonom. Otot semacam ini hanya
terdapat pada jantung yang mempunyai fungsi tersendiri.
Sebagian besar otot tubuh ini melekat pada kerangka, dapat bergerak secara
aktif sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian kerangka dalam suatu letak
yang tertentu. Jadi Otot kerangka merupakan sebuah alat yang menguasai gerak
aktif dan memelihara sikap tubuh. Dalam keadaan istriahat, keadaannya tidak
kendur sama sekali, tetapi mempunyai ketegangan sedikit yang disebut tonus.
Ini pada masing-masing orang berlainan bergantung pada umur, jenis kelamin,
dan keadaan tubuh.
2.5 MEKANISME KONTRAKSI OTOT

Hewan dan manusia dapat bergerak, mengangkat barang, dan melakukan


aktivitas lainnya karena adanya kontraksi otot yang menyebabkan munculnya
gerakan. Kontraksi adalah menegangnya otot sehingga menjadi lebih pendek dan
dapat menggerakkan tulang, kontraksi tersebut akan selalu diiukti dengan
relaksasi yang menyebabkan otot kembali ke ukurannya semula. Apabila otot
berkontraksi namun gagal berelaksasi akan terjadi kelainan yang disebut dengan
kram. Sebelum membaca artikel ini akan lebih baik anda mempelajari dulu :
Struktur Otot Rangka Otot tersusun atas serabut miofibril yang terdiri atas
filamen tipis dan filament tebal. Filamen tipis tersusun atas protein aktin
sedangkan filamen tebal tersusun atas protein miosin. Pada miofibril nampak
bagian gelap dan terang (lurik) oleh karena itu sel-sel otot rangka sering disebut
dengan nama sel otot lurik. Bagian gelap dan terang ini terus berulang-ulang,
setiap set bagian gelap-terang disebut dengan sarkomer. Untuk memahami
mekanisme kontraksi otot, mari kita perhatikan bagian sarkomer berikut.

Garis horizontal tebal adalah filamen tebal dan garis tipis merupakan filamen
tipis. Setiap sarkomer akan dibatasi oleh dua buah garis Z, pada tengah-tengah
sarkomer terdapat bagian saling tumpang tindih yang disebut pita A. Tepat di
tengah-tengah pita A terdapat bagian yang hanya terdapat filamen tebal saja yang
disebut zona H, dan di tengah-tengah zona H terdapat garis M (tidak ada pada
gambar di atas). Pada bagian ujung sarkomer terdapat bagian yang hanya terdiri
dari filamen tipis dan garis Z, bagian ini disebut pita I.
Mekanisme kontraksi otot disebut dengan sliding filament model, karena
berkaitan dengan gerakan meluncur dari filamen tebal dan tipis. Sebelum sampai
pada penjelasan sliding filament model, perhatikanlah bagian sarkomer di bawah
ini. Filamen tebal digambarkan dengan garis tebal biru, sedangkan filament tipis
digambarkan dengan garis kuning.

Pada filamen tebal (miosin) terdapat bagian mirip kepala yang berfungsi mengait
filament tipis (aktin). Kaitan dari kepala miosin inilah yang menyebabkan
terjadinya gerakan meluncur (sliding) yang menimbulkan otot berkontraksi.

Penjelasan tentang sliding filament model adalah sebagai berikut.

Pertama, kepala miosin akan mengikat ATP sebagai sumber energi untuk
terjadinya kontraksi.
Kepala miosin akan menghidrolisis ATP menjadi ADP dan fosfat anorganik dan
menggunakan energi yang timbul dari pemecahan ATP tersebut.

Setelah mendapat energi dari ATP, kepala miosin akan mengait (berikatan
dengan) aktin.

Terjadi pelepasan ADP dan fosfat anorganik yang menyebabkan kepala miosin
bergerak sehingga menggerakkan aktin.

Kepala miosin yang menangkap ATP baru akan menyebabkan kepala miosin
melapaskan diri dari aktin dan siklus akan berulang kembali.
Perhatikanlah gambar di bawah ini. Gambar paling atas adalah sarkomer ketika
dalam keadaan relaksasi, sarkomer lebih panjang dan zona H nampak cukup
lebar. Gambar di bawahnya adalah sarkomer dalam keadaan berkontraksi, terlihat
bahwa sarkomer tersebut memendek dan zona H mulai menyempit. Gambar
paling bawah adalah sarkomer dalam keadaan kontraksi penuh, zona H hilang
sama sekali karena aktin saling tumpuk-menumpuk.

Mekanisme sliding filament model secara keseluruhan dapat diperhatikan pada


gambar berikut ini.
2.6 PERUBAHAN YANG TERJADI SELAMA PENEGANGAN OTOT
RANGKA

Penegangan dan perubahan yang terjadi selama penegangan otot


Penegangan otot atau kontraksi terjadi apabila otot menerima rangsangan.
Dikenal dua macam penegangan otot yaitu isotonik dan isometrik. Kontraksi
isotonik adalah penegangan otot yang mengakibatkan otot mengalami
pemendekan, contohnya adalah orang mengangkat beban yang tidak terlalu
berat, sehingga beban terangkat. Kontraksi isometrik adalah timbulnya
penegangan otot tanpa mengalami pemendekan, contohnya adalah bila orang
mengangkat beban yang terlalu berat, sehingga beban sama sekali tidak
terangkat. Pada umumnya kontraksi isometrik digunakan untuk mengetahui
panas yang timbul di dalam otot (Wulangi, 1994).
Hukum Starling menyatakan bahwa kuat kontraksi otot berbanding lurus
dengan panjang awal (initial length) otot tersebut. Ini berarti otot diberi beban,
karena sifat dapat memanjang yang dimiliki otot, maka otot akan sedikit
memanjang sehingga kalau otot berkontraksi, kuat kontraksinya akan lebih
besar. Hukum Starling jangan diartikan bahwa otot yang panjang akan
berkontraksi lebih kuat daripada otot lain yang lebih pendek. Otot rangka dapat
berkontraksi menurut kehendak atau kemauan kita. Tanggapan otot terhadap
kemauan kita dilaksanakan dengan perantaraan sistem saraf pusat dan saraf
motorik yang mempersarafi otot itu. Setiap ada kerusakan pada sistem saraf
pusat atau pada saraf motorik yang menyebabkan terganggunya perambatan
impuls dari korteks otak ke otot, mengakibatkan pula otot tidak dapat
mengadakan tanggapan terhadap kemauan kita. Hal ini disebut paralisis
(Wulangi, 1994).
Bila otot melakukan kerja berat secara terus-menerus, otot akan membesar.
Membesarnya otot ini disebut hipertrofi. Otot yang mengalami hipertrofi,
diameter serabut ototnya meningkat dan jumlah zat yang terdapat di dalam otot
juga bertambah. Sebaliknya, otot yang tidak digunakan dapat menjadi kecil, dan
hal ini disebut atropi. Hiperplasia adalah membesarnya otot yang disebabkan
karena membesarnya serabut otot (Wulangi, 1994).
Bila otot rangka menegang, terjadilah beberapa perubahan yaitu perubahan
bentuk, perubahan kimia, perubahan panas dan perubahan elektrik. Selama
masa kontraksi, otot menjadi pendek dan gemuk, tetapi tidak mengalami
perubahan volume. Studi mengenai kontraksi otot menunjukkan bahwa
kontraksi otot merupakan hasil perubahan bentuk molekul protein. Menurut
Szent-Gyorgi, protein utama yang terlibat dalam kontraksi adalah aktin dan
miosin yang dapat berkombinasi menjadi aktomiosin. Kontraksi terjadi karena
pemendekan aktin dengan jalan menggeser sambil berputar (Wulangi, 1994).
Pada perubahan kimia, energi yang digunakan oleh otot selama kontraksi
berasal dari perubahan kimia yang terjadi di dalam otot iu sendiri. Otot dalam
keadaan istirahat mengandung zat seperti air 75%, protein 20%, glikogen 1%,
fosfokreatin 0,3%, asam laktat 0,5%, dan heksosefosfat 0,05%. Analisis kimia
menunjukkan bahwa setelah kontraksi berakhir, jumlah fosfat anorganik dan
asam laktat meningkat, sedangkan glikogen dan asam fosfat menurun. Oksigen
(O2) banyak digunakan, sedangkan karbondioksida (CO2) dan air (H2O)
banyak dihasilkan. Energi yang digunakan untuk kontraksi otot berasal dari
proses sebagai berikut :

Energi (E) yang dilepas dapat segera digunakan untuk kontraksi otot E.

Energi (E) yang dilepas dari reaksi ini digunakan untuk sintesis kembali ATP
(adenosin trifosfat).

Energi (E) yang dilepas digunakan untuk sintesis kembali fosfokreatin.

Energi (E) yang dilepas digunakan untuk mengubah 4/5 asam laktat menjadi
glikogen (Wulangi, 1994).

Hutang Oksigen
Bila aktivitas otot sangat meningkat, oksidasi asam laktat dan
perubahannya menjadi glikogen tidak seimbang dengan pembentukan asam
laktat. Setelah otot berhenti berkontraksi, oksidasi asam laktat yang banyak
tertimbun masih terus berlangsung meskipun kontraksi otot telah selesai.
Dengan perkataan lain, selama aktivitas otot sangat meningkat otot seolah-olah
berhutang oksigen. Hutang oksigen ini dikembalikan pada masa pemulihan
(Wulangi, 1994).
Selama kontraksi otot terjadi perubahan panas. Dari seluruh energi yang
digunakan untuk kontraksi, hanya kurang lebih 20% sajalah digunakan untuk
melakukan kerja, selebihnya hilang dalam bentuk panas. Jadi otot dapat
dikatakan tidak 100% efisien. Namun demikian panas yang timbul dapat
digunakan untuk mempertahankan suhu tubuh. Pada hawa dingin, produksi
panas dapat ditingkatkan dengan jalan pergerakan otot. Perlu diulang disini
bahwa pada semua makhluk hidup, energi selalu dibutuhkan untuk melakukan
bermacam-macam proses hidup. Sebagian dari energi tampak sebagai panas,
bahkan pada otot yang tidak berkontraksi pun (otot dalam keadaan agak
istirahat), panas selalu timbul (Wulangi, 1994).
Panas ini disebut panas istirahat. Selama otot berkontraksi panas yang timbul
melebihi panas istirahat. Panas yang melebihi panas istirahat ini disebut Panas
Awal (initial heath). Panas awal ini dibedakan menjadi panas aktivasi dan
pemeliharaan, panas pemendekan dan panas relaksasi. Baik pada kontraksi
isotonik maupun kontraksi isometrik, selalu ada panas aktivasi dan
pemeliharaan, karena energi selalu digunakan untuk kontraksi. Bila otot tidak
memendek, panas pemendekan tidak ada. Panas pemendekan mungkin
dibutuhkan untuk kerja dari jembatan silang (cross-bridge) pada proses
pemendekan. Bila otot melakukan kerja (mengangkat beban), segera setelah
kontraksi otot berakhir dan relaksasi dimulai, tampak bahwa beban akan
menyebabkan otot memanjang. Energi tidak diperlukan selama otot dalam
keadaan relaksasi. Panas relaksasi berasal dari energi yang disimpan selama otot
berkontraksi. Akhirnya, ada panas pemulihan yang disebabkan karena adanya
energi yang digunakan oleh reaksi kimia untuk resintesis ATP (Wulangi, 1994).
Ada 2 macam panas produksi yaitu panas awal yang dilepas selama proses
kontraksi dan panas pemulihan yang terjadi setelah proses kontraksi selesai.
Panas awal terdiri dari (a) panas aktivasi dan pemeliharaan yang merupakan
panas yang dilepas dari suatu proses kimia yang mengubah otot dari keadaan
istirahat menjadi keadaan aktif. Panas ini timbul baik pada otot yang memendek
(kontraksi isotonik) atau otot yang tidak memendek (kontraksi isometrik); (b)
panas pemendekan yang merupakan panas yang timbul karena adanya
pemendekan. Bila otot tidak memendek, panas pemendekan juga tidak timbul.
Ini mungkin ditimbulkan karena meningkatnya liberasi energi oleh jembatan
silang pada waktu terjadi pergeseran terhadap miosin; (c) panas relaksasi yang
timbul karena liberasi energi potensial otot, bila otot dalam keadaan relaksasi.
Ini tidak merupakan proses kimia, tetapi hanya sekedar perubahan fisika dari
energi potensial yang tersimpan, pada waktu otot memendek berubah menjadi
panas selama fase relaksasi, (d) panas pemulihan yang merupakan panas yang
dilepas oleh proses kimia (resintesis ATP). Kurang lebih 9/10 dari panas ini
berasal dari proses metabolisme anaerob (Wulangi, 1994).

Perubahan Elektrik Bila otot berkontraksi, terjadilah perubahan Elektrik.


Perubahan Elektrik ini dapat dideteksi oleh instrumen yang khusus untuk itu.
Otot mempunyai kelakuan seperti baterei, bila otot tersebut berkontraksi. Otot
yang berkontraksi akan menimbulkan suatu arus yang biasa dikenal dengan
nama arus aksi. Arus aksi ini akan mengalir dari daerah positif ke daerah
negatif. Daerah yang aktif adalah relatif lebih negatif dibandingkan dengan
daerah yang tidak aktif. Bila otot dalam keadaan istirahat, tidak ada arus yang
timbul. Arus aksi yang timbul pada jantung yang berdenyut dapat dicatat oleh
alat yang disebut elektrokardiograf (Wulangi, 1994).

2.7 TIPE SERAT DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS


DAGING (KARKAS DAN
KUALITAS KARKAS)

Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah
pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas
daging antara lain genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur,
pakan termasuk bahan aditif (hormon, antibiotik atau mineral), dan stress.
Faktor setelah pemotongan yang mempengaruhi kualitas daging antara lain
meliputi metode pelayuan, stimulasi listrik, metode pemasakan, pH karkas dan
daging, bahan tambahan termasuk enzim pengempuk daging, hormon dan
antibiotik, lemak intramuskuler atau marbling, metode penyimpanan dan
preservasi, macam otot daging dan lokasi pada suatu otot daging.

Pada dasarnya, kualitas karkas adalah nilai karkas yang dihasilkan oleh
ternak relatif terhadap suatu kondisi pemasaran. Faktor yang menentukan nilai
karkas meliputi berat karkas, jumlah daging yang dihasilkan dan kualitas daging
dari karkas yang bersangkutan. Nilai karkas dikelompokkan berdasarkan jenis
kelamin atau tipe ternak yang menghasilkan karkas, umur atau kedewasaan
ternak, dan jumlah lemak intramuskular atau marbling didalam otot. Faktor nilai
karkas dapat diukur secara subyektif, misalnya dengan pengujian organoleptik
atau metode panel. Disamping kualitas (nilai) karkas, juga dikenal kualitas
hasil, yaitu estimasi jumlah daging yang dihasilkan dari suatu karkas.

Faktor kualitas daging yang dimakan terutama meliputi warna,


keempukan dan tekstur, flavor dan aroma termasuk bau dan cita rasa dan
kekasan jus daging (juiciness). Disamping itu, lemak intramuskular, susut
masak (cooking loss) yaitu berat sampel daging yang hilang selama pemasakan
atau pemanasan, retensi cairan dan pH daging, ikut menentukan kualitas daging.

Klasifikasi kualitas karkas unggas didasarkan atas tingkat keempukan


dagingnya. Unggas yang dagingnya empuk, yaitu unggas yang daging
karkasnya lunak, lentur, kulitnya bertekstur halus, dan kartilago sternalnya
fleksibel. Unggas dengan keempukan daging sedang diidentifikasikan dengan
umur yang relatif lebih tua, kulit yang kasar dan kartilago sternalnya kurang
fleksibel. Klas sedang ini meliputi: (1) stag, ayam jantan berumur kurang dari
10 bulan, dan (2) kalkun betina dan jantan berumur sekitar 1 tahun sampai 15
bulan. Klas unggas dewasa meliputi roaster, ayam betina dewasa. Klas unggas
ini memiliki daging yang alot, kulit kasar dan kartilago sternal keras. Klas
karkas unggas yang dagingnya empuk dapat dibedakan berdasarkan atas
spesies, berat karkas dan jenis kelamin.

Pada prinsipnya, jumlah daging yang dihasilkan adalah proporsional secara


langsung terhadap berat karkas dan berbalikan secara proporsional terhadap
jumlah lemak karkas. Jadi penilaian karkas dapat didasarkan atas berat karkas
dan tingkat perlemakan. Meskipun demikian, karena lemak tidak selalu
terdistribusi secara merata, maka estimasi nilai-nilai karkas (kualitas hasil)
masih menghadapi problem yang komples.

Daging unggas bisa berasal dari (1) cock, ayam jantan dewasa, (2) hen, ayam
atau kalkun betina dewasa, (3) ram, domba betina dewasa, (4) capon, ayam
kastrasi. Anak ayam, kalkun, itik dan angsa, masing-masing disebut chick,
poult, duckling dan goshing.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Jaringan otot merupakan jaringan yang mampu melangsungkan kerja
mekanik dengan jalan kontraksi dan relaksasi sel atau serabutnya. Otot dapat
melekat di tulang yang berfungsi untuk bergerak aktif. Otot tersusun atas
beberapa gumpalan, gumpalan terdiri dari beberapa berkas otot, yang disebut
fasciculus. Tiap berkas dibina atas banyak serat otot. Satu serat otot adalah 1 sel
otot. Serat otot memiliki terdiri dari komponen seperti sarkolemma, sarkoplasma,
inti, dan Organelnya yang penting yaitu retikulum sarkoplasma, mitokondria, dan
miofibril. Setiap miofibril dibina atas puluhan mikrofilamen. Mikrofilamen otot
ialah aktin dan miosin, yang bersusun berjejer dan berdempet.
Jaringan otot dibedakan menjadi 3 jenis yaitu otot polos, otot lurik, dan otot
jantung. Otot polos terletak pada saluran alat-alat di dalam tubuh manusia seperti
manusia seperti yang terdapat pada saluran pencernaan, dinding pembuluh darah,
dinding pembuluh darah, dinding rahim, saluran pernapasan, dan saluran
kelamin. Otot lurik melekat pada rangka, dan otot jantung hanya terdapat pada
dinding jantung.
Otot menjadi begitu penting bagi tubuh karena ia memiliki 3 fungsi utama
yaitu melaksanakan gerakan, memelihara postur dan memproduksi panas pada
tubuh.
SARAN

Dari uraian di atas penulis berharap agar kita bisa memahami betapa

pentingnya sistem rangka pada manusia. Dengan adanya makalah ini dapat

memberikan manfaat yang banyak bagi kita semua


DAFTAR PUSTAKA

Arthur J. Vander (1986). Human Physiology, 4th ed. Mc Graw: Hill Internasional
Editions.

Razak. Datu (2004). Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Unhas. Jakarta:


Gitamedia.

Kus. Irianto (2004). Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.
Gramedia: Jakarta.

Setiadi.2007.Anatomi Fisiologi Manusia. Yogyakarta. Graham Ilmu

Syaifuddin (1997). Anatomi dan Fisiologi Untuk Siswa Perawat. Jakarta: EGC.

Wulangi. S Kartolo (2000). Prinsip-prinsip Fisiologi Manusia. DepDikBud:


Bandung
Campbell, Neil A. 2003. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Kus. Irianto. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis.
Gramedia: Jakarta.

Razak. Datu. 2004. Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Unhas. Jakarta:


Gitamedia.

Sonic, 2008. Sistem Gerak Vertebrata. www.blogspot.com. Diakses pada tanggal


7 Mei 2010.

Ville dkk. 1984. Zoologi Umum. PT Gelora Aksara Pratama. Jakarta.

Wangko, Sunny.2014. Jaringan Otot Rangka Sistem Membran Dan Struktur


Halus Unit Kontraktil. Jurnal Biomedik. Vol 6 No.3 : (27:32)

Wulangi. S. Kartolo. 2000. Prinsip-prinsip Fisiologi Manusia. DepDikBud:


Bandung