Anda di halaman 1dari 15

STUDI KASUS

KESELAMATAN KERJA PT. SRITEX


KELOMPOK III

NAMA ANGGOTA KELOMPOK III

dr. Rizqi Anugrahyani Amir


dr. Simanjuntak Janson
dr. Siti Desy Astari
dr. Vena Risti Dilgantari
dr. Zulia Pradhita Nilasari
drg. Novi Khoiro Ummi

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA
PERIODE 22-27 APRIL 2019
SAMARINDA
BAB I

LATAR BELAKANG

Perkembangan teknologi saat ini begitu pesatnya sehingga peralatan sudah menjadi
kebutuhan pokok pada berbagai lapangan kerja. Peralatan dan teknologi merupakan penunjang
yang penting dalam upaya menignkatkan upaya produktifitas untuk berbagai jenis pekerjaan.
Disamping itu, menjadikan dampak negative bila kita kurang waspada menghadapi bahaya
potensial yang mungkin timbul

Suatu perusahaan yang aman adalah perusahaan yang teratur terpelihara dengan baik dan
cepat menjadi terkenal sebagai tempat naungan buruh yang baik. Program keselamatan kerja
yang baik adalah program yang terpadu dengan pekerjaan sehari-hari sehingga sukar untuk
dipisahkan satu dengan yang lainnya. Study kasus ini dimaksutkan untuk memberikan bimbingan
ke arah pencegahan kecelakaan pada saat kita bekerja, pertolongan pertama pada kecelakaan dan
lain-lain.

Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubuungan dengan peralatan tempat kerja
dan lingkungan serta cara cara melakukan pekerjaan. Arti dan tujuan keselamatan kerja untuk
menjamin keadaan, keutuhan, dan kesempurnaan baik jasmani dan rohani manusia serta hasil
karya dan budayanya, tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan manusia pada
khususnya.

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam
maupun diluar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat. Tempat kerja adalah ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergegrak atau
tetap, dimana tenaga kerja untuk suatu keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber
bahaya, termasuk tempat kerja, semua ruangan, lapangan, halaman, dan sekelilingnya, yang
merupakan bagian atau berhubungan dengan tempat kerja tersebut.

Menyadari aspek keselamatan dan kesehatan kerja, pemerintah mengeluarkan Undang—


Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yang bertujuan melindungi tenaga kerja
dan orang lain yang ada di tempat kerja.
PROFIL PERUSAHAAN
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keselamatan Kerja

1. Definisi Keselamatan Kerja


Keselamatan berasal dari bahasa Inggris yaitu kata ‘safety’ dan biasanya selalu
dikaitkan dengan keadaan terbebasnya seseorang dari peristiwa celaka (accident) atau
nyaris celaka (near-miss). Jadi pada hakekatnya keselamatan sebagai suatu
pendekatan keilmuan maupun sebagai suatu pendekatan praktis mempelajari faktor-
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan dan berupaya mengembangkan
berbagai cara dan pendekatan untuk memperkecil resiko terjadinya kecelakaan.
Keselamatan kerja sendiri adalah suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja
maupun pengusaha sebagai upaya pencegahan (preventif) timbulnya kecelakaan kerja
dalam lingkungan kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan tindakan antisipatif bila terjadi hal demikian.
Menurut Mangkunegara (2002), keselamatan kerja adalah ilmu dan penerapan
yang berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya,
landasan tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan pekerjaan guna
menjamin keselamatan tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar dari
kecelakaan dan kerugian lainnya. Keselamatan kerja meliputi penyediaan Alat
Pelindung Diri (APD), perawatan mesin dan pengaturan jam kerja yang manusiawi.
Slamet (2012) mendefisinikan keselamtan kerja sebagai suatu keadaan terhindar dari
bahaya selama melakukan pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan
salah satu faktor yang harus dilakukan selama bekerja, karena tidak yang
menginginkan terjadinya kecelakaan di dunia ini. Keselamatan kerja sangat
bergantung .pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu dilaksanakan.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa keselamatan adalah suatu usaha
untuk mencegah terjadinya kecelakaan sehingga manusia dapat merasakan kondisi
yang aman atau selamat dari penderitaan, kerusakan atau kerugian. Agar kondisi ini
tercapai di tempat kerja maka diperlukan adanya keselamatan kerja.Keselamatan
kerja secara filosofi diartikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin
keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada
khususnya dan manusia pada umumnya serta hasil budaya dan karyanya. Dari segi
keilmuan diartikan sebagai suatu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha
mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja.

2. Tujuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Tujuan Pemerintah mengenai kesehatan dan keselematan kerja (K3) dapat dilihat
pada Pasal 3 Ayat 1 UU No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja, yaitu:
a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan
b. Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran
c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan
d. Memberi kesempatan atau jalan menyelematkan diri pada waktu kebakaran atau
kejadian-kejadian lain yang berbahaya
e. Memberikan pertolongan pada kecelakaan
Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerjaan
f. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar-luaskan suhu, kelembaban,
debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan
getaran
g. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik maupun
psikhis, peracunan, infeksi dan penularan
h. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai
i. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik
j. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup
k. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban
l. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan
proses kerjanya
m. Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau
batang;
n. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
o. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan
penyimpanan barang
p. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya
q. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang
berbahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
Dari tujuan pemerintah tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa dibuatnya aturan
penyelenggaraan K3 pada hakikatnya adalah pembuatan syarat-syarat keselamatan kerja
sehingga potensi bahaya kecelakaan kerja tersebut dapat dieliminir.

3. Dasar Hukum Peraturan K3


Berbicara penerapan K3 dalam perusahaan tidak terlepas dengan landasan hukum
penerapan K3 itu sendiri. Landasan hukum yang dimaksud memberikan pijakan yang
jelas mengenai aturan apa dan bagaimana K3 itu harus diterapkan. Adapun sumber
hukum penerapan K3 adalah sebagai berikut:
a. UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

b. UU No. 3 tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja.


c. PP No. 14 tahun 1993 tentang Penyelenggaraan Program Jaminan Sosial Tenaga
Kerja.
d. Keppres No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan
Kerja.
e. Permenaker No. Per-05/MEN/1993 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran
Kepesertaan, pembayaran Iuran, Pembayaran Santunan, dan Pelayanan Jaminan Sosial
Tenaga Kerja.
Semua produk perundang-undangan pada dasarnya mengatur tentang kewajiban
dan hak Tenaga Kerja terhadap Keselamatan Kerja untuk :

a. Memberikan keterangan yang benar bila diminta oleh pegawai pengawas dan atau ahli
keselamatan kerja;

b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan;


c. Memenuhi dan mentaati semua syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja yang
diwajibkan;
d. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat keselamatan dan kesehatan
kerja yang diwajibkan;
Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan di mana syarat keselamatan kerja serta
alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan diragukan olehnya kecuali dalam hal-hal khusus
ditentukan lain oleh pegawai pengawas dalam batas-batas yang masih dapat
dipertanggungjawabkan.

4. Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

a. Penyebab Langsung (Immediate Causes)


Penyebab langsung Kecelakaan Adalah suatu keadaan yang biasanya bisa dilihat dan di
rasakan langsung, yang di bagi 2 kelompok :
1) Tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) yaitu Perbuatan berbahaya dari dari
manusia yang dalam bbrp hal dapat dilatar belakangi antara lain:
a) Cacat tubuh yang tidak kentara (bodilly defect)
b) Keletihan dan kelesuan (fatigiue and boredom)
c) Sikap dan tingkak laku yang tidak aman
d) Pengetahuan.
2) Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) yaitu keadaan yang akan menyebababkan
kecelakaan, terdiri dari:
a) Mesin, peralatan, bahan.
b) Lingkungan
c) Proses pekerjaan
d) Sifat pekerjaan
e) Cara kerja
b. Penyebab Dasar (Basic causes).
Penyebab Dasar (Basic Causes), terdiri dari 2 faktor yaitu
1) Faktor manusia/personal (personal factor)
a) Kurang kemampuan fisik, mental dan psikologi
b) Kurangnya /lemahnya pengetahuan dan skill.
c) Stres.
d) Motivasi yang tidak cukup/salah
2) Faktor kerja/lingkungan kerja (job work enviroment factor)

a) Faktor fisik yaitu, kebisingan, radiasi, penerangan, iklim dll.

b) Faktor kimia yaitu debu, uap logam, asap, gas dst


c) Faktor biologi yaitu bakteri,virus, parasit, serangga.
d) Ergonomi dan psikososial.
Menurut Henrich faktor penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-tindakan
tidak aman (unsafe acts) 80 % dan Kondisi yang tidak aman (unsafecondition) 20%. Faktor
penyebab kecelakaan disebabkan oleh faktor tindakan-tindakan tidak aman (unsafe acts) 85
% dan Kondisi yang tidak aman (unsafe condition) 15 %. Faktor utama yang menyebabkan
kecelakaan adalah:

1) Lingkungan kerja

2) Metode kerja
3) Pekerja sendiri
Namun pada akhirnya semua kecelakaan baik langsung maupun tidak langsung, di
akibatkann kesalahan manusia. Selalu ada resiko kegagalan (risk of failures) pada setiap proses/
aktifitas pekerjaan. Dan saat kecelakaan kerja (work accident) terjadi, seberapapun kecilnya,
akan mengakibatkan efek kerugian (loss). Karena itu sebisa mungkin dan sedini mungkin,
kecelakaan/ potensi kecelakaan kerja harus dicegah/ dihilangkan, atau setidak-tidaknya dikurangi
dampaknya.

Penanganan masalah keselamatan kerja di dalam sebuah perusahaan harus dilakukan


secara serius oleh seluruh komponen pelaku usaha, tidak bisa secara parsial dan diperlakukan
sebagai bahasan-bahasan marginal dalam perusahaan. Salah satu bentuk keseriusan itu adalah
resourcing, baik itu finansial dan sumber daya manusia

Secara umum penyebab kecelakaan di tempat kerja adalah sebagai berikut:

1. Kelelahan (fatigue)
2. Kondisi tempat kerja (enviromental aspects) dan pekerjaan yang tidak aman (unsafe
working condition)
3. Kurangnya penguasaan pekerja terhadap pekerjaan, ditengarai penyebab awalnya (pre-
cause) adalah kurangnya training
4. Karakteristik pekerjaan itu sendiri.
Hubungan antara karakter pekerjaan dan kecelakaan kerja menjadi fokus bahasan yang
cukup menarik dan membutuhkan perhatian tersendiri. Kecepatan kerja (paced work), pekerjaan
yang dilakukan secara berulang (short-cycle repetitive work), pekerjaan-pekerjaan yang harus
diawali dengan “pemanasan prosedural”, beban kerja (workload), dan lamanya sebuah pekerjaan
dilakukan (workhours) adalah beberapa karakteristik pekerjaan yang dimaksud. Penyebab-
penyebab di atas bisa terjadi secara tunggal, simultan, maupun dalam sebuah rangkain sebab-
akibat (cause consequences chain).

5. Unsur Penunjang Keselamatan K3

Unsur-unsur penunjang keselamatan kerja adalah sebagai berikut:

a) Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja


b) Adanya kesadaran dalam menjaga keamanan dan kesehatan kerja.
c) Teliti dalam bekerja
d) Melaksanakan prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.

6. Pelaksanaan K3

Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan
dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja
semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja Dalam melaksanakan K3, terdapat
beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:

1. Identifikasi potensi bahaya


Merupakan tahapan yang dapat memberikan informasi secara menyeluruh dan mendetail
mengenai risiko yang ditemukan dengan menjelaskan konsekuensi dari yang paling ringan
sampai dengan yang paling berat. Pada tahap ini harus dapat mengidentifikasi hazard yang
dapat diramalkan (foreseeable) yang timbul dari semua kegiatan yang berpotensi
membahayakan kesehatan dan keselamatan terhadap:
1. Karyawan
2. Orang lain yg berada ditempat kerja
3. Tamu dan bahkan masyarakat sekitarnya
Pertimbangan yang perlu diambil dalam identifikasi risiko antara lain :
1. Kerugian harta benda (Property Loss)
2. Kerugian masyarakat
3. Kerugian lingkungan
Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Apa Yang Terjadi Hal ini dilakukan untuk mendapatkan daftar yang komprehensif
tentang kejadian yang mungkin mempengaruhi tiap-tiap elemen.
2. Bagaimana dan mengapa hal itu bisa terjadi Setelah mengidentifikasi daftar kejadian
sangatlah penting untuk mempertimbangkan penyebab-penyebab yang mungkin
ada/terjadi.
3. Alat dan Tehnik Metode yang dapat digunakan untuk identifikasi risiko antara lain
adalah:
a. Inspeksi
b. Check list
c. Hazops (Hazard and Operability Studies)
d. What if
e. FMEA (Failure Mode and Effect Analysis)
f. Audits
g. Critical Incident Analysis
h. Fault Tree Analysis. Event Tree Analysis
j. Dalam memilih metode yang digunakan tergantung pada type dan ukuran risiko.
2. Penilaian Risiko
Terdapat 3 (tiga) sasaran yang akan dicapai dalam pelaksanaan penilaian risiko di tempat
kerja yaitu untuk :
a. mengetahui, memahami dan mengukur risiko yang terdapat di tempat kerja;
b. menilai dan menganalisa pengendalian yang telah dilakukan di tempat kerja;
c. melakukan penilaian finansial dan bahaya terhadap risiko yang ada.
d. mengendalikan risiko dengan memperhitungkan semua tindakan penanggulangan yang
telah diambil;
3. Pengendalian Risiko
Pengendalian dapat dilakukan dengan hirarki pengendalian risiko sebagai berikut:
1. Eliminasi Menghilangkan suatu bahan/tahapan proses berbahaya
2. Substitusi
a. Mengganti bahan bentuk serbuk dengan bentuk pasta
b. Proses menyapu diganti dengan vakum
c. Bahan solvent diganti dengan bahan deterjen
d. Proses pengecatan spray diganti dengan pencelupan
3. Rekayasa Teknik
a. Pemasangan alat pelindung mesin (mechin guarding)
b. Pemasangan general dan local ventilation
c. Pemasangan alat sensor otomatis
4. Pengendalian Administratif
a. Pemisahan lokasi
b. Pergantian shift kerja
c. Pembentukan sistem kerja
d. Pelatihan karyawan
5. Alat Pelindung Diri

7. Potensi Bahaya dan Risiko Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Motivasi utama dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk
mencegah kecelakaan kerja dan penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan. Oleh karena itu perlu
melihat penyebab dan dampak yang ditimbulkannya. Potensi Bahaya adalah sesuatu yang
berpotensi untuk terjadinya insiden yang berakibat pada kerugian. Risiko adalah kombinasi dan
konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan peluang terjadinya kejadian tersebut. Mustahil
untuk mengetahui semua bahaya yang ada. Beberapa hal yang tampak jelas berbahaya, seperti
bekerja dengan menggunakan tangga yang tidak stabil atau penanganan bahan kimia bersifat
asam. Namun demikian, banyak kecelakaan terjadi akibat dari situasi sehari-hari misalnya
tersandung tikar di lantai kantor. Ini tidak berarti bahwa tikar pada umumnya berbahaya! Namun
demikian, hal ini bisa terjadi karena tikar tersebut dalam posisi terlipat atau tidak seharusnya dan
menjadi potensi bahaya dalam kasus ini.
BAB II

STUDY KASUS
BAB III

PENUTUP

Study kasus yang kami lakukan di PT. SRITEX adalah penggunaan mesin carding
memiliki resiko-resiko timbulnya kejadian kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.
Identifikasi resiko tersebut penting guna pengendalian dampak yang dapat terjadi.
BAB IV
PENUTUP