Anda di halaman 1dari 19

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk

mendeskripsikan perilaku ibu terhadap penanganan diare pada anak toddler di

wilayah kerja Puskesmas Jayengan Surakarta. Penelitian dilakukan terhadap

51 Ibu yang memiliki anak usia toddler. Setelah dilakukan analisis data, maka

hasil penelitian adalah sebagai berikut.

1. Karakteristik responden

Tabel 4.1. Karakteristik Responden


No Karakteristik Frekuensi Persentase
1. Umur
a. 20 – 30 tahun 35 69
b. 31 – 38 tahun 16 31
Total 51 100
2. Pendidikan
a. SD 5 10
b. SLTP 18 35
c. SLTA 20 39
d. Diploma/Sarjana 8 16
Total 51 100
3. Pekerjaan
a. Ibu rumah tangga 32 63
b. Karyawan 10 19
c. Guru 9 18
Total 51 100

Karakteristik responden sebagaimana ditampilkan pada tabel diatas

menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah berumur 20 – 30

tahun sebanyak 35 responden (69%), selanjutnya sebagian besar responden


berpendidikan SLTA yaitu sebanyak 20 responden (39%) dan sebagai ibu

rumah tangga sebanyak 32 responden (63%).

2. Analisis deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengetahui gambaran perilaku

ibu terhadap penanganan diare pada anak usia toodler, berdasarkan

distribusi frekuensi jawaban responden dan tanggapan atas pernyataan-

pernyataan dalam kuesioner. Item-item pernyataan dalam perilaku

penanganan diare tersebut secara keseluruhan digambarkan dalam bentuk

table deskripsi frekuensi. Dalam hal ini peneliti melakukan dengan analisis

deskriptif frekuensi, sehingga diketahui frekuensi, persen, dan kategori.

Untuk memberikan gambaran hasil penelitian yang diteliti, maka

ditentukan kategori penilaian berdasarkan skor nilai yang diperoleh dari

hasil kuesioner, adapun cara menentukan kategori penilaian dimaksudkan

adalah sebagai berikut:

a. Menentukan bobot penilaian untuk setiap item pernyataan, dalam hal ini

ditentukan berdasarkan skala penilaian yaitu skala Guttman. Skala yang

mempunyai jawaban tegas “Ya atau Tidak”, dengan skor “ya = 1,

tidak= 0”

b. Menghitung skor nilai untuk setiap item pernyataan, yaitu dengan cara

menjumlahkan jawaban responden yang menjawab “Ya”.

c. Nilai terendah dan tertinggi, dalam hal ini nilai terendah = jumlah

responden (jumlah responden 51, maka nilai terendah adalah 0),

sedangkan nilai tertinggi 51.


d. Sesuai skala Guttman, maka kategori penilaian menurut Arikunto

(2013): baik jika 76- 100%, cukup jika 61- 75%, kurang jika ≤ 60%

3. Analisis deskriptif perilaku penanganan diare

Tabel 4.2 Tanggapan responden terhadap penanganan diare

No Item Pertanyaan Skor Persentase Kategori


Mencegah Terjadinya Dehidrasi
1. Apakah ibu memberikan air minum lebih banyak 39 77 Baik
dari biasanya ketika anak diare?
2. Apakah ASI yang Ibu berikan lebih sering dan lebih 44 86 Baik
lama ketika anak diare?
3. Apakah Ibu memberikan ORALIT ketika anak 41 80 Baik
diare?
4. Apakah Ibu selalu menyediakan ORALIT di rumah? 34 67 Cukup
5. Apakah Ibu memberikan cairan rumah tangga sperti 32 63 Cukup
(tajin, kuah sayur, dll) ketika anak diare?
Mempercepat Kesembuhan
6. Ketika diare anak tidak kunjung sembuh, apakah Ibu 39 77 Baik
segera membawa anak ke sarana kesehatan?
7. Apakah Ibu memberikan suplemen ZINC ketika 23 45 Kurang
anak diare?
8. Apakah Ibu selalu mencuci tangan sebelum dan 27 53 Kurang
sesudah kontak fisik dengan anak saat diare?
9. Apakah Ibu memberikan obat anti diare diawal anak 29 57 Kurang
mulai diare?
Memberi Makanan
10. Apakah Ibu memberikan makanan yang banyak 38 75 Cukup
mengandung air seperti sup ketika anak diare?
11. Apakah Ibu mengganti makanan yang lebih lunak 37 73 Cukup
seperti bubur ketika anak diare?
12. Apakah Ibu memberikan makanan extra/ makanan 31 61 Cukup
berenergi selama 2 minggu?
13. Apakah Ibu memberikan makanan dalam porsi kecil 30 59 Kurang
tapi sering ketika anak diare?
14. Apakah Ibu memberikan buah segar/ jus buah ketika 32 63 Cukup
anak diare?
15. Setelah diare berhenti, apakah ibu tetap memberikan 34 67 Cukup
makanan extra/ makanan berenergi selama 2
minggu?

Berdasarkan tabel tersebut dapat dideskripdikan tanggapan responden

terhadap item-item pernyataan perilaku penanganan diare sebagai berikut:


a. Mencegah terjadinya dehidrasi

1) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 1 yaitu, “Apakah

ibu memberikan air minum lebih banyak dari biasanya ketika anak

diare?“, 77% responden menjawab Ya dengan skor nilai 39.

Kondisi ini termasuk kedalam kategori baik. Artinya banyak ibu

yang sudah berperilaku sesuai dalam penanganan mencegah

terjadinya dehidrasi dengan memberikan air minum yang lebih

banyak.

2) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 2 yaitu, “Apakah

ASI yang Ibu berikan lebih sering dan lebih lama ketika anak

diare?”, 86% responden menjawab Ya dengan skor nilai 44.

Kondisi ini termasuk kedalam kategori baik. Artinya banyak ibu

yang sudah berperilaku sesuai dalam penanganan mencegah

terjadinya dehidrasi dengan memberikan ASI lebih sering dan lebih

lama.

3) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 3 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan ORALIT ketika anak diare?”, 80% responden

menjawab Ya dengan skor nilai 41. Kondisi ini termasuk kedalam

kategori baik. Artinya banyak ibu yang sudah berperilaku sesuai

dalam penanganan mencegah terjadinya dehidrasi dengan

memberikan Oralit.

4) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 4 yaitu, “Apakah

Ibu selalu menyediakan ORALIT di rumah?”, 67% responden


menjawab Ya dengan skor nilai 34. Kondisi ini termasuk kedalam

kategori cukup. Artinya banyak ibu yang berperilaku cukup dalam

penanganan mencegah terjadinya dehidrasi dengan menyediakan

Oralit di rumah.

5) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 5 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan cairan rumah tangga sperti (tajin, kuah sayur, dll)

ketika anak diare?”, 63% responden menjawab Ya dengan skor

nilai 32. Kondisi ini termasuk kedalam kategori cukup. Artinya

banyak ibu yang berperilaku cukup dalam penanganan mencegah

terjadinya dehidrasi dengan memberikan cairan rumah tangga.

Rekapitulasi hasil jawaban responden dicari rata-ratanya dengan

perhitungan sebagai berikut:

Skor rata-rata = total skor


Jumlah item

Skor rata-rata = 190


5

= 38

Selanjutnya ditentukan dalam bentuk persentasi dengan

perhitungan sebagai berikut:

Persentase skor = skor rata-rata


Skor ideal

Persentase skor = 38 x 100%


51

= 74,51%
Dari perhitungan tersebut diperoleh persentase skor 74,51%.

Sehingga apabila dimasukkan kedalam kategori persentase menurut

Arikunto (2013) yaitu:

Tabel 4.3 Kategori persentase

Baik 76- 100%


Cukup 61- 75%
Kurang ≤ 60%

maka disimpulkan bahwa rata-rata perilaku ibu terhadap

penanganan diare pada anak usia toddler dalam mencegah terjadinya

dehidrasi adalah cukup baik.

b. Mempercepat kesembuhan

6) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 6 yaitu, “Ketika

diare anak tidak kunjung sembuh, apakah Ibu segera membawa

anak ke sarana kesehatan?”, 77% responden menjawab Ya dengan

skor nilai 39. Kondisi ini termasuk kedalam kategori baik. Artinya

banyak ibu yang sudah berperilaku sesuai dalam penanganan

mempercepat kesembuhan dengan segera membawa anak ke sarana

kesehatan.

7) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 7 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan suplemen ZINC ketika anak diare?”, 45%

responden menjawab Ya dengan skor nilai 23. Kondisi ini termasuk

kedalam kategori kurang. Artinya banyak ibu yang berperilaku

kurang sesuai dalam penanganan mempercepat kesembuhan

dengan memberikan suplemen ZINC.


8) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 8 yaitu, “Apakah

Ibu selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak fisik

dengan anak saat diare?”, 53% responden menjawab Ya dengan

skor nilai 27. Kondisi ini termasuk kedalam kategori kurang.

Artinya banyak ibu yang berperilaku kurang sesuai dalam

penanganan mempercepat kesembuhan dengan selalu mencuci

tangan.

9) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 9 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan obat anti diare diawal anak mulai diare?”, 57%

responden menjawab Ya dengan skor nilai 29. Kondisi ini termasuk

kedalam kategori kurang. Artinya banyak ibu yang berperilaku

kurang sesuai dalam penanganan mempercepat kesembuhan

dengan memberikan obat.

Rekapitulasi hasil jawaban responden dicari rata-ratanya dengan

perhitungan sebagai berikut:

Skor rata-rata = total skor


Jumlah item

Skor rata-rata = 118


4

= 29,5

Selanjutnya ditentukan dalam bentuk persentasi dengan

perhitungan sebagai berikut:

Persentase skor = skor rata-rata


Skor ideal
Persentase skor = 29,5 x 100%
51

= 57,84%

Dari perhitungan tersebut diperoleh persentase skor 57,84%, maka

disimpulkan bahwa rata-rata perilaku ibu terhadap penanganan diare

pada anak usia toddler dalam mempercepat kesembuhan adalah kurang

baik.

c. Memberi makanan

10) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 10 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan makanan yang banyak mengandung air seperti sup

ketika anak diare?”, 75% responden menjawab Ya dengan skor

nilai 38. Kondisi ini termasuk kedalam kategori cukup. Artinya

banyak ibu yang berperilaku cukup dalam penanganan memberi

makanan dengan memberikan makanan yang banyak mengandung

air.

11) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 11 yaitu, “Apakah

Ibu mengganti makanan yang lebih lunak seperti bubur ketika anak

diare?”, 73% responden menjawab Ya dengan skor nilai 37.

Kondisi ini termasuk kedalam kategori cukup. Artinya banyak ibu

yang berperilaku cukup dalam penanganan memberi makanan

dengan mengganti makanan yang lebih lunak.

12) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 12 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan makanan extra/ makanan berenergi selama 2

minggu?”, 61% responden menjawab Ya dengan skor nilai 31.


Kondisi ini termasuk kedalam kategori cukup. Artinya banyak ibu

yang berperilaku cukup dalam penanganan memberi makanan

dengan memberikan makanan extra/ makanan berenergi.

13) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 13 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan makanan dalam porsi kecil tapi sering ketika anak

diare?”, 59% responden menjawab Ya dengan skor nilai 30.

Kondisi ini termasuk kedalam kategori kurang. Artinya banyak ibu

yang berperilaku kurang sesuai dalam penanganan memberi

makanan dengan memberikan makanan dalam porsi kecil tapi

sering.

14) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 14 yaitu, “Apakah

Ibu memberikan buah segar/ jus buah ketika anak diare?”, 63%

responden menjawab Ya dengan skor nilai 32. Kondisi ini termasuk

kedalam kategori cukup. Artinya banyak ibu yang berperilaku

cukup dalam penanganan memberi makanan dengan memberikan

buah segar/ jus buah.

15) Tanggapan responden terhadap pertanyaan No. 15 yaitu, “Setelah

diare berhenti, apakah ibu tetap memberikan makanan extra/

makanan berenergi selama 2 minggu?”, 67% responden menjawab

Ya dengan skor nilai 34. Kondisi ini termasuk kedalam kategori

cukup. Artinya banyak ibu yang berperilaku cukup dalam

penanganan memberi makanan dengan tetap memberikan makanan

berenergi setelah diare berhenti.


Rekapitulasi hasil jawaban responden dicari rata-ratanya dengan

perhitungan sebagai berikut:

Skor rata-rata = total skor


Jumlah item

Skor rata-rata = 202


6

= 33,7

Selanjutnya ditentukan dalam bentuk persentasi dengan

perhitungan sebagai berikut:

Persentase skor = skor rata-rata


Skor ideal

Persentase skor = 33,7 x 100%


51

= 66,08%

Dari perhitungan tersebut diperoleh persentase skor 66,08%, maka

disimpulkan bahwa rata-rata perilaku ibu terhadap penanganan diare

pada anak usia toddler dalam memberi makanan adalah cukup baik.

B. Pembahasan

1. Karakteristik responden

Karakteristik responden menurut umur menunjukkan bahwa sebagian

besar responden adalah berumur 20 – 30 tahun (69%). Umur berhubungan

dengan kemampuan daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin

bertambah usia maka akan semakin berkembang daya tangkap dan pola

pikirnya, sehingga pengetahuan yang dimilikinya juga semakin membaik.

Semakin bertambah usia seseorang akan semakin bijaksana seiring dengan


bertambahnya pengalaman yang dia dapatkan, sehingga dengan

pengalaman yang diperolehnya akan menambah pengetahuan yang

menjadi landasan dalam dia melakukan suatu tindakan (Sitompul, 2012).

Pengetahuan yang dimiliki oleh ibu merupakan dasar dari tindakan ibu

dalam melakukan tindakan penanggulangan awal diare pada anaknya. Hal

tersebut sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian Kurniati (2013) yang

menunjukkan bahwa perilaku penanggulangan awal diare oleh ibu

terhadap anak balita dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan sikap itu

tentang diare pada balita.

Penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar ibu merupakan

kelompok yang berusia 20 – 30 tahun. Hal ini salah satunya disebabkan

bahwa sebagian besar responden merupakan kelompok keluarga muda

yang baru menjalani pernikahan antara 1 – 10 tahun dan rata-rata masih

memiliki satu hingga dua orang anak.

Karakteristik pendidikan responden menunjukkan bahwa sebagian

besar responden berpendidikan SLTA (39%). Tingkat pendidikan ibu

berkaitan dengan kemampuan ibu dalam memahami suatu informasi yang

selanjutnya menjadi dasar dalam pembentukan pengetahuan. Notoatmodjo

(2010) menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,

maka kemampuannya dalam memahami suatu informasi dan

menangkapnya menjadi pengetahuan semakin meningkat.

Pendidikan merupakan suatu tindakan untuk membimbing seseorang

menuju suatu tujuan tertentu. Pendidikan salah satunya adalah sebagai


upaya untuk meningkatkan kemampuan seseorang dalam memahami suatu

informasi, menganalisis suatu situasi, sehingga semakin tinggi pendidikan

maka kemampuannya untuk menerima informasi dan menganalisis suatu

situasi semakin meningkat (Wawan dan Dewi, 2011).

Karakteristik pekerjaan responden menunjukkan sebagian besar

responden merupakan ibu rumah tangga (63%). Sebagai ibu rumah tangga,

maka kesempatan luang atau waktu responden dalam memperhatikan dan

merawat anak lebih besar. Besarnya kesempatan dalam lebih

memperhatikan kondisi anak, maka sewajarnya jika responden memiliki

kesempatan yang lebih baik dalam melaksanakan perilaku-perilaku

kehidupan bersih dan sehat di rumah, misalnya memperhatikan sanitasi

rumah, gizi keluarga, serta faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan

adanya gangguan kesehatan pada anggota keluarganya. Ibu berperan

dalam menjaga kesehatan anak dengan memperbaiki pola konsumsi anak,

memperhatikan pola kebersihan anak sehari-hari, dan menciptakan budaya

hidup bersih dan sehat pada diri anak. Disebutkna pula bahwa peran ibu

terhadap menjaga kesehatan anak akan semakin maksimal ketika ibu

berada di rumah sebagai ibu rumah tangga (Pati., dkk , 2013).

2. Perilaku ibu terhadap penanganan diare pada anak usia toddler

a. Perilaku ibu terhadap penanganan diare pada anak usia toddler dalam

mencegah terjadinya dehidrasi

Pada penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku penanganan diare

dalam pencegahan dehidrasi dilakukan dengan memberikan minum


lebih banyak (77%), tetap memberikan ASI (86%), memberikan oralit

(80%), menyediakan oralit di rumah (67%), memberikan cairan lain

yang dapat dikonsumsi anak (63%). Perilaku pencegahan diare dalam

penanganan dehidrasi yang dilakukan oleh responden sesuai dengan

arahan dari pemerintah tentang pencegahan dehidrasi.

Tindakan pencegahan dehidrasi yang bisa dilakukan di tingkat

rumah tangga jika anak mengalami diare menurut Kemenkes RI (2011)

meliputi (1) memberi cairan lebih banyak untuk mencegah dehidrasi

mulai dari air putih, meneruskan pemberian ASI atau susu formula.

Memberikan ASI lebih sering dan lebih lama dari biasanya, (2)

memberikan cairan yang mengandung lebih banyak garam seperti

larutan oralit. Memberikan oralit sampai diare berhenti, untuk itu

sediakanlah selalu oralit di rumah anda, (3) memberikan cairan rumah

tangga, seperti air beras/ tajin, kuah sup, dan kuah sayur.

Tindakan-tindakan ibu dalam penanganan diare khususnya untuk

menghindari terjadinya dehidrasi pada anak dalam penelitian ini

sebagian besar telah dilakukan sesuai dengan ketentuan kesehatan yang

ada, sehingga secara umum perilaku ibu adalah cukup baik, hal

tersebut juga ditunjukkan dalam distribusi frekuensi tingkat perilaku ibu

terhadap penanganan diare pada anak usia toddler dalam mencegah

terjadinya dehidrasi yang menunjukkan bahwa sebagian besar

responden memiliki perilaku yang cukup (74,51%).


Faktor yang berhubungan dengan perilaku ibu yang baik ini adalah

semakin meningkatnya pengetahuan ibu tentang penatalaksanaan diare

pada anak. Peningkatan pengetahuan ibu tentang penatalaksanaan diare

pada anak diperoleh dari semakin banyaknya informasi penatalaksaan

diare yang diperoleh ibu baik dari petugas kesehatan, maupun dari

sumber-sumber informasi lainnya, misalnya internet yang saat ini sudah

semakin mudah diakses melalui smartphone misalnya. Hal ini

sebagaimana dikemukakan dalam penelitian Putri (2015) yang meneliti

hubungan pengetahuan dengan perilaku dalam rehidrasi oral pada ibu

yang mempunyai anak diare. Penelitian ini menunjukkan bahwa

sebagian besar ibu memiliki pengetahuan yang baik, dimana salah satu

faktor yang menyebabkan pengetahuan baik tersebut adalah kemudahan

ibu dalam mendapatkan informasi tentang penatalaksanaan diare pada

anak khususnya dari puskesmas serta dari sumber-sumber lain misalnya

internet. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu

berhubungan positif terhadap perilaku dalam penanganan rehidrasi oral

pada anak diare.

Bahaya utama diare adalah dehidrasi karena tubuh banyak

kehilangan air dan garam yang terlarut, sehingga bisa menyebabkan

kematian. Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka

penanggulangannya dengan cara mencegah dehidrasi dan rehidrasi

intensif. Rehidrasi adalah upaya menggantikan cairan tubuh yang keluar

bersama tinja dan cairan yang memadai melalui oral dan parenteral.
Kelompok umur yang paling rawan terkena diare adalah 2-3 tahun,

walaupun banyak juga ditemukan penderita yang usianya relatif muda

yaitu antara 6 bulan–12 bulan. Pada usia ini anak mulai mendapat

makanan tambahan seperti makanan pendamping air susu ibu, sehingga

kemungkinan termakan makanan yang sudah terkontaminasi dengan

agent penyebab penyakit diare menjadi lebih besar. Selain itu anak juga

sudah mampu bergerak kesana kemari sehingga pada usia ini anak

senang sekali memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya (Purbasari,

2009).

Untuk itu peran ibu menjadi sangat penting karena di dalam

merawat anaknya ibu seringkali berperan sebagai pelaksana dan

pembuat keputusan dalam pengasuhan anak, yaitu dalam hal memberi

makan, memberi perawatan kesehatan dan penyakit, memberi stimulasi

mental. Dengan demikian bila ibu berperilaku baik mengenai diare, ibu

sebagai pelaksana dan pembuat keputusan dalam pengasuhan,

diharapkan dapat memberikan pencegahan dan pertolongan pertama

pada diare dengan baik (Sari, 2009).

b. Perilaku ibu terhadap penanganan diare pada anak usia toddler dalam

mempercepat kesembuhan

Perilaku-perilaku yang menonjol dalam upaya mempercepat

kesembuhan pada anak diare pada penelitian ini antara lain adalah

segera membawa anak ke sarana kesehatan (77%), upaya ibu untuk

memberikan suplemen Zinc (78%), memberikan obat diare pada awal


diare (57%), perilaku ibu untuk menjaga kebersihan selama merawat

anak yang diare (53%). Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku ibu

dalam penanganan diare khususnya untuk mempercepat kesembuhan

menunjukkan sebagian besar adalah kurang baik, hal tersebut juga

ditunjukkan dalam distribusi frekuensi tingkat perilaku ibu terhadap

penanganan diare pada anak usia toddler dalam mempercepat

kesembuhan yang menunjukkan bahwa sebagian besar responden

memiliki perilaku yang kurang baik (57,84%).

Diare merupakan kondisi dimana anak mengalami frekuensi buang

air besar lebih dari empat kali sehari, dimana penanganan diare yang

kurang baik memiliki resiko terhadap terjadinya angka kesakitan dan

kematian pada anak (Pausi, dkk, 2014). Risiko terjadinya kesakitan dan

kematian pada anak menjadi salah satu faktor yang menggerakkan

orang tua khususnya ibu untuk melakukan tindakan-tindakan

pengobatan kepada anaknya yang mengalami diare.

Perilaku ibu menangani diare dalam mempercepat kesembuhan

anak dipengaruhi oleh persepsi ibu terhadap pengobatan diare. Faktor

persepsi individu memegang peranan besar yang memengaruhi

perilaku. Persepsi individu bersifat subjektif maka sering tidak sesuai

dengan realitas, persepsi subjektif merupakan kunci dari suatu perilaku.

Bervariasinya persepsi dan perilaku ibu balita dalam mengobati diare.

Penyebab diare dipersepsikan karena masuk angin, terlalu lama mandi

dan makanan kecut dan diare bukan disebabkan makhluk halus. Ibu
memainkan peranan yang sangat penting dalam merawat anak terutama

pada masa balita. Masa balita merupakan masa yang sangat ideal untuk

mulai menanamkan pada anak tentang perilaku-perilaku gaya hidup

sehat. Perilaku ibu balita dalam pengobatan diare biasanya diawali

dengan pengobatan tradisional, pemberian oralit atau larutan gula-

garam dan dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan (Pausi, dkk, 2014).

Perilaku ibu dalam pengobatan diare umumnya dilakukan oleh ibu

dengan memberikan larutan gula dan garam, ada pula yang memberikan

obat tradisional misalnya memberikan daun jambu biji kepada anak dan

sebagainya. Perilaku pengobatan diare yang dilakukan oleh ibu sangat

dipengaruhi oleh pengetahuan ibu serta budaya yang ada dalam

masyarakat yang masih diyakini masih relevan dalam penanganan diare

pada anak (Ningsih, 2013).

c. Perilaku ibu terhadap penanganan diare pada anak usia toddler dalam

memberi makanan

Perilaku ibu dalam memberikan makanan sebagai upaya

penanganan diare pada anak toddler dalam penelitian ini ditunjukkan

dengan ibu memberikan makanan banyak mengandung air (75%),

mengubah makanan yang lebih lunak ketika anak diare (73%),

memberikan makanan extra/ makanan berenergi ketika diare (61%),

merikan makan porsi kecil tapi sering (59%), memberikan buah atau jus

buah kepada anak (63%), tetap memeberikan makanan berenergi

setelah diare (67%). Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku ibu


dalam penanganan diare khususnya dalam memberi makanan

menunjukkan sebagian besar adalah cukup, hal tersebut juga

ditunjukkan dalam distribusi frekuensi tingkat perilaku ibu terhadap

penanganan diare pada anak usia toddler dalam memberi makanan yang

menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku yang

cukup baik (66,08%).

Kejadian diare seringkali membuat panik pada orang tua khususnya

ibu. Kondisi panik yang dialami ibu seringkali menyebabkan ibu tidak

dapat berpikir secara rasional dalam mengambil langkah-langkah yang

terbaik dalam mengobati anaknya, bahkan seringkali ibu berpikir

negative terhadap kondisi anaknya, misalnya beranggapan bahwa diare

yang dialami anaknya disebabkan karena ibu sedang kurang enak

badan, sehingga ASI yang diberikan kepada anak menyebabkan anak

sakit, sehingga ASI dihentikan dan sebagainya (Aminatun, 2015).

Pemenuhan nutrisi pada anak diare sangat penting dilakukan untuk

mempertahankan dan meningkatkan status gizi pada anak. Karena

status gizi berpengaruh terhadap kejadian penyakit diare. Pada anak

yang mengalami gizi buruk atau gizi kurang, dan mendapatkan asupan

gizi yang kurang, maka akan mengakibatkan episode diare menjadi

lebih lama dan sering. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Adisasmito (2007) yaitu penelitian faktor resiko diare di Indonesia,

didapatkan hasil bahwa status gizi yang buruk merupakan faktor resiko

terjadinya diare.
Faktor pengalaman pribadi seorang ibu mempengaruhi

pengetahuannya mengenai pemenuhan nutrisi. Ibu yang telah

mempunyai pengalaman sebelumnya tentang bagaimana cara

memenuhi kebutuhan nutrisi pada anak lebih cenderung memiliki

perilaku yang baik dalam hal ini. Sebagaimana yang dikemukakan oleh

Nasution (2010) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi

pengetahuan seseorang adalah pengalaman. Hasil penelitian ini juga

didukung oleh penelitian sebelumnya oleh Anisa Dewati (2010) dengan

tujuan penelitian mengetahui hubungan antara pengetahuan dan

perilaku ibu dalam pemenuhan nutrisi. Hasil penelitian tersebut

menyebutkan bahwa tingkat pengetahuan ibu akan diikuti oleh perilaku

ibu dalam pemenuhan nutrisi yang setara.

C. Keterbatasan Penelitian

1. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dimana

pengumpulan data penelitian dilakukan dengan memberikan kuesioner

tertutup kepada responden. Salah satu kelemahan kuesioner tertutup adalah

tidak adanya opsi lain ketika jawaban responden kurang relevan dengan

pilihan yang disediakan oleh penelitan.

2. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan kuesioner yang

menyebabkan gambaran tentang perilaku ibu dalam penanganan diare

yang dilakukan oleh ibu terbatas, gambaran perilaku ibu akan lebih luas

jika dilakukan pula observasi aktivitas sehari-hari ibu dalam mencegah

kejadian diare pada anak.