Anda di halaman 1dari 12

Kebijakan Pendidikan Era Politik Etis

Oleh Rum Rosyid

Menurut Anthony Reid dalam bukunya Dari Ekspansi Hingga Krisis : Jaringan
Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680, adalah sebuah kesalahan persepsi jika
dikatakan bahwa di masa itu, Asia Tenggara berada dalam periode statis, hanya
masyarakat statis yang memiliki teknologi sederhana, tertutup dari dunia luar, tidak mau
menerima ide-ide baru, dan berperadaban sederhana. Nenek moyang kita di masa itu
berperadaban kosmopolitan, dilambangkan dengan berdirinya kota-kota yang teratur,
keterbukaan terhadap pedagang asing, bahkan berada dalam tahap sejarah yang sama
(merujuk pada teori sejarah Alvin Toffler) yaitu pada gelombang revolusi pertanian.
Ketika Portugis dan Spanyol, kemudian Belanda dan Inggris, datang untuk menjajah dan
menguasai Nusantara berkedok Gold, Glory and Gospel, seketika itu pula sejarah
Nusantara berkutat pada perlawanan mengusir bangsa asing, tusuk-menusuk antar bangsa
sendiri.

Perdagangan Nusantara dimatikan oleh EIC dan VOC, sampai-sampai untuk mematikan
perdagangan Nusantara ini, bandar Banten dihancurkan dan kesultanan Banten
dimusnahkan, tinggallah para panglima dan prajuritnya lari ke hutan-hutan menjadi
jawara Banten sampai sekarang dilanjutkan oleh keturunannya. Kalau sejarah yang ditulis
di SMP dan SMA ditulis dalam bentuk bagaimana elit-elit politik, pedagang dan
intelektual Nusantara melawan VOC Belanda, adalah sebuah kenyataan bahwa Bangsa
Indonesia mampu bertarung di era globalisasi saat itu, untuk kemudian melawan Belanda
sampai baru benar-benar berada dalam satu kekuasaan Hindia Belanda awal abad ke-20,
disebabkan karena pendidikan yang berkualitas. Lembaga pendidikan semacam
Meunasah di Aceh, Surau di Minang, Pesantren di Palembang, Sunda dan Jawa, dan
lembaga pendidikan lainnya di seluruh pelosok nusantara, adalah tempat lahirnya para
pemimpin Nusantara saat itu.

Belanda tidak pernah bisa menghancurkan lembaga-lembaga pendidikan tersebut.


Kekurangan tenaga militer yang dimiliki Belanda, maupun cara pandang para pendidik
yang akhirnya menganggap segala sesuatu yang berbau asing harus ditolak, sedikit
banyak membuat kearifan lokal bangsa kita ini terjaga dari proses pemusnahan. Hanya
saja, segelintir elit politik keturunan bangsawan, mendapatkan kesempatan memperoleh
pendidikan modern ala Belanda.

Di penghujung abad 19, kaum liberal/borjuis (pengusaha dan pedagang) memperoleh


kemenangan gemilang di parlemen Belanda melawan kaum konservatif (bangsawan).
Sebagai pemenang, mereka kemudian merubah struktur negara Belanda dari kerajaan
yang menyandarkan diri pada pertanian menjadi pada masyarakat Industri (monarkhi
parlementer/konstitusional). Angin perubahan yang jauh terjadi di negeri seberang itu,
ternyata sampai pula ke nusantara. Bentuk penghisapan sistem penjajahan di Hindia
Belanda (Nusantara-Indonesia) kemudian dirombak, dari sistem penjajahan yang primitif
menjadi sistem penjajahan yang lebih modern dengan menggunakan alat-alat modern
(mesin).
Perubahan itu dimapankan dengan diterbitkanya undang-undang penanaman modal asing
dalam sektor agraria pada tahun 1870 yaitu Agrarische Wet. Setelah itu mulailah para
pengusaha dari Belanda, Inggris dan Amerika berbondong-bondong menanamkan
modalnya dengan membuka perkebunan, pertanian, pertambangan, transportasi dan
perbankan. Perubahan itu tentunya menimbulkan kebutuhan akan tenaga-tenaga ahli
(buruh terampil) untuk menjalankan roda industi kapitalisnya. Namun, hal itu menemui
kendala dengan minimnya tenaga ahli tersebut. Mayoritas masyarakat Indonesia masih
belum banyak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tidak mungkin bisa
menjalankan sistem modern tersebut. Dan kondisi itu tentunya juga tidak mungkin bisa
disulap oleh Belanda dalam sekejap. Hal itu kemudian menimbulkan pemikiran pada
penjajah Belanda, untuk membangun dan menyiapkan infrastruktur pendukung
berjalannya sistem baru tersebut.

Ideologi Pendidikan : Kolonialisme


Pada jaman kolonial pendidikan hanya diberikan kepada para penguasa serta kaum
feodal. Pendidikan rakyat cukup diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar penguasa
kolonial. Pendidikan diberikan hanya terbatas kepada rakyat di sekolah-sekolah kelas 2
atau ongko loro tidak diragukan mutunya. Sungguhpun standar yang dipakai untuk
mengukur kualitas rakyat pada waktu itu diragukan karena sebagian besar rakyat tidak
memperoleh pendidikan, namun demikian apa yang diperoleh pendidikan seperti
pendidikan rakyat 3 tahun, pendidikan rakyat 5 tahun, telah menghasilkan pemimpin
masyarakat bahkan menghasilkan pemimpin-pemimpin gerakan nasional.
Pendidikan kolonial untuk golongan bangsawan serta penguasa tidak diragukan lagi
mutunya. Para pemimpin nasional kita kebanyakan memperoleh pendidikan di sekolah-
sekolah kolonial bahkan beberapa mahasiswa yang dapat melanjutkan di Universitas
terkenal di Eropa. Dalam sejarah pendidikan kita dapat dikatakan bahwa intelegensi
bangsa Indonesia tidak kalah dengan kaum penjajah. Masalah yang dihadapi oleh bangsa
Indonesia pada waktu itu adalah kekurangan kesempatan yang sama yang diberikan
kepada semua anak bangsa.

Pada tahun 1899, seorang tokoh politik beraliran liberal bernama Van Deventer, pertama
kali mengusulkan adanya Politik Etik (Balas Budi) kepada orang-orang Indonesia. Ia
menulis sebuah artikel dalam majalah De Gids dengan judul Een Eeeres Chuld atau
‘Utang Kehormatan’. Dalam artikel tersebut, Van Deventer menjabarkan bahwa
kemakmuran yang dinikmati oleh bangsa Belanda waktu itu, sebenarnya adalah perasan
darah dan keringat penduduk pribumi Indonesia. Terutama berasal dari cultuur stelsel,
pajak, maupun kerja rodi. Oleh karena itu, sudah sepantasnya apabila bangsa Belanda
membayar utang kebaikan dengan meningkatkan kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.
Van Deventer menawarkan tiga solusi guna mencapai tujuan itu. Ketiga solusi tersebut
adalah edukasi, irigasi, dan transmigrasi (khususnya perpindahan dari Pulau Jawa ke luar
Pulau Jawa).

Dengan semakin timbulnya banyak desakan yang menginginkan perbaikan taraf hidup
orang pribumi, pemerintah Belanda terpaksa segera merealisasikan usulan Van Deventer
itu. Di dunia pendidikan, Belanda mendirikan Van Deventer School, yakni beberapa
sekolah mulai dari sekolah dasar hingga menengah untuk bangsa pribumi. Sebutlah
misalnya, Holland Inlands School (HIS) diperuntukkan bagi jenjang sekolah dasar
dengan lama pendidikan tujuh tahun. Setelah lulus jenjang sekolah dasar, selanjutnya
dapat masuk ke Meer Uitgebried Lager Onderwigs (MULO) yang saat ini setingkat
sekolah menengah pertama. Setelah itu untuk tingkat setaraf sekolah menengah atas
pemerintah Belanda mendirikan Algemene Middelbare School (AMS). Akan tetapi,
sekolah-sekolah bentukan Belanda tersebut dibatasi hanya untuk anak-anak dari kalangan
priyayi.

Kebijakan Pendidikan : dari politik etis menjadi politik asosiasi


Pada tahun 1901 lahirlah kebijakan baru berdasar usulan dari Van de Venter, yang
kemudian orang lebih mengenalnya dengan istilah Politic Etis (Politik Balas Budi).
Bahwa pemerintah Belanda mempunyai utang budi dan tanggung jawab moral untuk
menaikkan derajat dan kesejahteraan pribumi karena segala pembangunan dan
kemewahan yang kini dirasakan masyarakat dinegerinya didataran Eropa merupakan
hasil dari kejamnya penghisapan yang dilakukan selama proses politik tanam paksa
(1830-1870). Peningkatan kesempatan pendidikan pada anak-anak bumi putera yang
diperoleh lewat politik etis pada dasarnya hanyalah kedok belaka.

Selain untuk memenuhi tuntutan kaum humanis dan sosial demokrat Belanda,
pemberlakuan politik etis di bidang pendidikan ada kaitannya dengan kepentingan politik
pintu terbuka. Dengan berakhirnya politik konservatif atau politik eksploitasi dan dengan
di mulainya politik pintu terbuka telah memunculkan kebutuhan akan tenaga yang
terdidik dan terampil di bidang Administrasi. Oleh karena itu pendidikan di Indonesia
diarahkan untuk sebesar-besarnya kepentingan Belanda. Dengan kata lain telah terjadi
penyelewengan politik etis di dalam pelaksanaannya yakni menjadi politik Assosiasi,
artinya di arahkan untuk kepentingan Belanda.

Tilaar (1995) dalam pandangannya menyebutkan ada 5 ciri pendidikan pada masa
kolonial Belanda, yaitu :
1. Sistem Dualisme, dalam sistem Dualisme diadakan garis pemisah antara sistem
pendidikan untuk golongan Eropah dan sistem pendidikan untuk golongan bumi putera.
2. Sistem Konkordansi, sistem ini berarti bahwa pendidikan di daerah penjajah di arahkan
atau disesuaikan dengan pendidikan yang terdapat di negeri Belanda.
3. Sentralisasi, kebijakan pendidikan di Zaman kolonial diurus oleh sebuah Departemen
pengajaran.
4. Menghambat Gerakan Nasional, sistem pendidikan pada masa itu sangat selektif
karena bukan di peruntukan agar masyarakat bumi putera dapat memperoleh pendidikan
yang seluas-luasnya atau pendidikan yang lebih tinggi.
5. Perguruan Swasta yang Militan, salah satu sekolah swasta yang sangat gigih
menentang kekuasaan kolonial ialah sekolah-sekolah Taman Siswa yang didirikan oleh
Ki Hajar Dewantara.

Proses panjang perjuangan pembentukan nasionalisme patriotik yang dimulai dengan


lahirnya Boedi Oetomotanggal 20 Mei 1908. Sejak timbulnya Boedi Oetomo pada tahun
1908 yang dipelopori oleh para mahasiswa Stovia (Kedokteran), a.l. Cipto
Mangunkusumo dan Wahidin Sudirohusodo mulailah bermunculan timbul banyak
organisasi pergerakan (antara lain Sarekat Islam pada tahun 1911). Memang Boedi
Oetomo sebagai organisasi kebangsaan masih dalam taraf terbatas ruang lingkupnya
(Jawa-Madura) dan masih terkait dengan suku Jawa-Madura. Meskipun demikian Boedi
Oetomo yang menitik beratkan gerakannya dalam lapangan pendidikan dan budaya
mempunyai arti penting dalam pembinaan jiwa nasionalisme.

Sekolah dan universitas mulai banyak didirikan atas nama politik etis. Sudah bukan
merupakan rahasia umum bahwasannya Politik Etis merupakan representasi dari
kemenangan Kaum Liberal di Negeri Belanda telah menciptakan suatu babak baru bagi
sistem pendidikan di Nusantara. Di mana program politik etis (balas budi) bukan
dimaksudkan untuk membalas budi, namun untuk membentuk kelas baru, kaum elit baru,
demi memenuhi tenaga kerja dengan upah murah yang akan tetap membungkuk kepada
orang Barat dan memandang rendah kaum inlander (bumiputera) kelas bawah.

Kebijakan ini mencakup tiga hal yaitu Edukasi, Transmigrasi dan Irigasi. Awalnya Van
Deventer yang berwatak Humanisme Liberal bermaksud memberikan pendidikan yang
dapat mencerdaskan kehidupan bangsa jajahan, tetapi sekali lagi (setelah irigasi dan
transmigrasi), sekolah-sekolah tersebut lebih dimanfaatkan untuk mencetak para pegawai
rendahan yang sekadar bisa sedikit berbahasa Belanda, mampu memahami perintah
atasannya, namun sekaligus dibuat sedemikian rupa agar tamatannya sangat loyal kepada
Belanda.

Proyek-proyek Pendidikan : pendidikan yang diskriminatif


Bentuk pelaksanaan proyek pendidikan ini adalah dengan dibukanya beberapa sekolah
umum di kota-kota besar di Nusantara. Misalnya, didirikan STOVIA di Jakarta, MULO
di Yogyakarta, Toghsen Hoggenst school di Bandung dan Nederlands-Indische Artzhen
School (NIAS) sekarang Unair di Surabaya. Bahkan ketika berdiri Sekolah Tinggi
Hukum (Rechthoogeschool) dan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige
Hoogeschool) di Jakarta pada tahun 1924 dan 1927, serta Sekolah Tinggi Teknik
(Technische Hoogescchool) di Bandung pada tahun 1920, ketiga perguruan tinggi ini
bertujuan mendidik tenaga kerja terampil dan murah dalam bidang Hukum, Kedokteran
dan Teknik, karena memang sarjana keturunan Eropa dan Indo Eropa tidak mau dibayar
murah.

Pada tahun 1850, Belanda mendirikan STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandse
Artsen), artinya adalah Sekolah Pelatihan (Opleiding) Dokter Pribumi, walaupun
pendidikannya diselesaikan dalam waktu 9 Tahun. STOVIA menerima lulusan setingkat
SMP saat itu, dan baru dibuka untuk pribumi pada awal abad ke-20.
Kalau kita tidak jeli dan hanya melihat pada permukaannya saja, kebijakan itu pasti
tampak sangat humanis (manusiawi). Akan tetapi bila digali lebih mendalam lagi, itu
semua ternyata hanya diatas kertas saja. Pelaksanaan proyek tersebut masih tetap saja
untuk melayani kepentingan pengusaha Belanda saja. Memuluskan dan memudahkan
pengusaha Belanda, Amerika, dan Inggris dalam mendapatkan buruh-buruh murah yang
terdidik dan terampil yang kemudian akan dipekerjakan dalam kantor-kantor
pemerintahan, pabrik, jasa transportasi atau perkebunan.
Disinilah, untuk pertama kalinya masyarakat Indonesia mulai bersentuhan dan mengenal
sistem pendidikan formal. Anak-anak elite local ini ada yang belajar ke sekolah
kedokteran dan pangreh praja, tetapi ada pula yang melanjutkan studinya ke Belanda,
negeri sang penjajah. Di awal abad ke dua puluh ini jumlah kaum terpelajar dari seluruh
wilayah Hindia Belanda ini tidak lebih seratus orang dan sekitar tiga puluhan orang
belajar ke Belanda di antaranya Mohammad Hatta, Nazir Pamuntjak, Sjahrir, dan
sebagainya. Politik Etis ini membawa perubahan struktural seperti semakin terbukanya
akses pendidikan

Tapi sekolah ini sangat diskriminatif. Murid yang bisa bersekolah disana adalah hanyalah
anak-anak dari Pejabat Belanda, Indo Belanda, Timur Asing (Eropa, Cina, Arab) dan
tentunya keturunan bangsawan kerajaan. Sementara itu, anak petani dan buruh tidak
diperbolehkan untuk bersekolah lebih tinggi. Hal ini adalah siasat licik Belanda agar
tenaga mereka dapat digunakan secepatnya untuk menjalankan mesin-mesin produksi
serta untuk mencegah perlawanan dari anak petani dan buruh, dua kelas sosial yang
selama ini adalah lapisan masyarakat yang paling tertindas oleh penjajahan Belanda.
Tapi alumni dan sarjana didikan Belanda ini bukannya tidak ada yang sadar kalau mereka
dididik hanya untuk menjadi buruh berdasi. Mereka tetap berorganisasi untuk menjaga
cita-cita memerdekan Indonesia serta berupaya mendidik rakyat Indonesia yang tidak
memiliki kesempatan menikmati pendidikan. Baik dengan cara Tjokroaminoto dengan
SI-nya, Soekarno dengan PNI-nya, Tan Malaka dengan PKI-nya, Hatta dan Sjahrir
dengan PI-nya, Mohammad Yamin dengan Kongres Pemoeda-nya, dan lain-lain dengan
cara masing-masing tapi dengan satu tujuan, Indonesia Merdeka.

Perubahan Struktural : berkembangnya organisasi kemerdekaan bangsa


Politik Etis ini membawa perubahan struktural seperti semakin terbukanya akses
pendidikan terhadap masyarakat kecil dan membiakkan perkumpulan- perkumpulan yang
berujung dengan penggugatan dan pembangkangan terhadap kekuasaan kolonial yang
dilakukan lewat organisasi, serikat buruh, pers, dan sebagainya. Sementara itu kaum
terpelajar yang di Belanda seperti Hatta dan Sjahrir membentuk perkumpulan yang
bertujuan memerdekaan bangsa, yaitu Perhimpunan Indonesia.

Bergemuruhnya pembangkangan terhadap kuasa kolonial itu semakin nyata setelah


muncul serikat-serikat buruh, organisasi massa, Indische partij, Sarekat Islam, yang
kemudian diteruskan oleh Soekarnolewat Partai Nasional Indonesia, dilanjutkan Sjahrir
dan Mohammad Hatta saat pulang dari Belanda mendirikan Partai Nasional Indonesia
Baru dan Gerindo oleh Amir Sjarifuddin yang melawan kuasa kolonial dengan
mengumandangkan anti kolonialism, anti imperalisme sembari meneriakkan Menghadapi
meluasnya perlawanan atas kuasa kolonial ini pemerintah Belanda dengan
menggunakan kekerasan menindas kaum pergerakan kebangsaan kemerdekaan Indonesia.

Kekuatan buruh dan tani mengalami peningkatan. Sangat ditakuti dan diperhitungkan
oleh Belanda karena mempunyai semangat radikal dan revolusioner dalam melakukan
pemogokan-pemogokan. Salah satu Serikat Buruh yang terbesar pada waktu ini adalah
ISDV (1919). Tapi sayangnya, perlawanan tersebut terhenti dan akhirnya meredup,
seiring dengan kekalahan PKI pada saat mereka melakukan Perjuangan Bersenjata
melawan kolonial Belanda (1926/1927) di Jawa dan Sumatera. Kemudian, tidak kurang
dari 13.000 lebih kader PKI dibuang ke Pulau Digul, Papua.

Ketika mulai menguatnya gerakan perlawanan di Indonesia, pemerintah memberlakukan


kontrol yang ketat pada setiap kegiatan sosial rakyat demi mencegah perlawanan.
Menghadapi meluasnya perlawanan atas kuasa kolonial ini pemerintah Belanda dengan
menggunakan kekerasan menindas kaum pergerakan kebangsaan. Tahun 1905
Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Goeroe Ordonatie yang pada intinya bahwa
pendidikan agama harus ada izin serta harus menyerahkan daftar peserta didik. Meskipun
akhirnya di tahun 1925 peraturan ini dirubah sedikit lunak, yaitu dengan memberikan
alasan pendidikan agama; tetapi daftar murid dan kurikulam harus tunduk pada
pemerintah.

Teori Pendidikan Integralistik : Ki Hajar Dewantara


Periode tahun 1908-1945 ditandai dengan kehadiran pemimpin-pemimpin politik yang
penuh dedikasi dan gigih dalam perjuangan mereka membebaskan bangsa ini dari tangan
penjajah. Mereka adalah tokoh dan pemimpin politik keagamaan yang dapat dipandang
sebagai model yang pantas ditiru, seperti tokoh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad
Dahlan, sesepuh NU KH Hasyim Asy’ari, dan Dr. Wahidin Sudirohusodo kala itu begitu
yakin bahwa pendidikan merupakan resep mujarab untuk mengentaskan bangsa dari
keterbelakangan, kemelaratan dan kolonialisme.

Demikian pula, tutur tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara mengemas pemikirannya


tentang pendidikan dalam sebuah konsep: Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo Mangun
Karso, Tut Wuri Handayani (Di depan memberi tauladan, di tengah membangun
semangat, dan di belakang mengawasi). Teori “dasar” dan “ajar” menurut Ki Hajar
Dewantara pada hakikatnya sama dengan teori konvergensi. Makna dasar tidak lain
adalah bakat dan kemampuan. Sementara ajar pada hakikatnya adalah proses
mempengaruhi peserta didik, baik dari lingkungan maupun proses pembelajaran dan
pengajaran di lembaga pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal.
Teori ini berpendapat bahwa selain manusia itu memang telah dibekali potensi dasar
berupa bakat dan kemampuan, tetapi bakat dan kemampuan itu akan dipengaruhi oleh
ruang (space) dan waktu (time). Dalam hal ini, William Stern percaya bahwa sejak lahir
manusia telah memiliki potensi. Jika potensi ini diibaratkan dengan bibit unggul, maka
bibit unggul itu akan akan tumbuh secara optimal jika bibir itu mendapatkan tempat
persemaian yang subur, dan memperoleh rawatan secara intensif.

Pada tahun 1920-an pemimpin pergerakan kebangsaan terkemuka Soekarno ditangkap


dan dipenjara, Bergemuruhnya pembangkangan terhadap kuasa kolonial itu semakin
nyata setelah muncul serikat-serikat buruh, organisasi massa, Indische partij, Sarekat
Islam, yang kemudian diteruskan oleh Soekarno lewat Partai Nasional Indonesia,
dilanjutkan Sjahrir dan Mohammad Hatta saat pulang dari Belanda mendirikan Partai
Nasional Indonesia Baru dan Gerindo oleh Amir Sjarifuddin yang melawan kuasa
kolonial dengan mengumandangkan anti kolonialism, anti imperalisme sembari
meneriakkan kemerdekaan Indonesia.
Tripusat Pendidikan
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) mendirikan salah satu taman siswa pada
3 Juli 1922 untuk sekolah kerakyatan di Yogyakarta. Dalam bentuk yayasan, mulai
mendirikan Taman Indria, kursus guru, Taman Muda (SD), Taman Dewasa Merangkap
Taman Guru (Mulo Kweekschool), Taman Madya, prasarjana, dan Sarjana Wiyata.
Asas dan Tujuan Taman Siswa
1. Bahwa setiap orang mempunyi hak mengatur dirinya sendiri, dengan terbitnya
persatuan dalam peri kehidupan umum
2. Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah dalam arti lahir dan
batin dapat memerdekakan diri.
3. Bahwa pengajaran harus berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
4. Bahwa pengajaran harus tersebar luar sampai dapat menjangkau seluruh rakyat
5. Bahwa untuk mengajar kemerdekaan hidup yang sepenuhnya lahir maupun batin
hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri, danmenolak bantuan dari siapapun yang
mengikat, baik lahir maupun batin
6. Bahwa setiap konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus
membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan
7. Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu ada keikhlasan lahir dan batin mengorbankan
segala kepentingan pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak
Panca Dharma Taman Siswa
Tahun 1947 Taman Siswa melengkapi asas 1977, yaitu dari wawasan guru yang dikenal
dengan Panca Dharma, yaitu:
1. Arti kemerdekaan harus diartikan disiplin terhadap diri sendiri oleh diri sendiri atas
dasar nilai hidup yang tinggi, baik hidup sebagai individu atau anggota masyarakat.
Kemerdekaan menjadi alzt pengembang pribadi yang kuat dat sadar dalam suatu
perimbangan dan keselarasan dengan masyarakat tertib damai di tempat keanggitaannya.
2. Asas kodrat alam. Pada hakekatnya manusia itu seebagai mahluk adalah satu dengan
koodrat alam. Ia tidak bisa lepada dari kehendaknya, tetapi akan mengalami bahagia jika
bisa menyatukan diri dengan kodrat alam
3. Asas kebudayaan
4. Asas kebangsaan, tidak boleh bertentangan dengan kemanusiaan, malahan harus
mkenjadi bentuk dan fiil kemanusiaan yang nyata dan oleh dan oleh karena tidak
mengandung arti permusuhan dengan bangsa lain
5. Asas kemanusiaan
Tujuan Perguruan Taman Siswa
1. Sebagai badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat tertib dan damai
2. Tujuan pendidikanTaman Siswa adalah membangun anak didik menjadi manusia yang
merdeka lahir batin, luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota
masyarakat yang berguna dan bertangung jawab atas keserasian bangsa tanah air serta
manusia pada umumnya

Kemudian beliau juga sempat menulis berbagai artikel yang intinya memprotes berbagai
kebijakan para penjajah (Belanda) yang kadang membunuh serta menghambat tumbuh
dan berkembangnya pendidikan di Indonesia. Hingga salah satu artikel "Seandainya Aku
Seorang Belanda" (judul asli : Als ik eens Nederlander was) yang pernah dimuat dalam
surat kabar de Expres milik Douwes Dekker tahun 1913 adalah salah satu artikel yang
mengubah paradigma banyak orang terlebih khusus para penjajah bahwa orang Indonesia
khususnya penduduk pribumi membutuhkan pendidikan yang layaknya sama dengan para
penguasa dan kalangan berduit.
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu
usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak
hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta
memperkembangkan kebudayaan menuju kea rah keluhuran hidup kemanusiaan.
Ki Hajar Dewantara memaknai pendidikan sebagai usaha penurunan nilai-nilai budaya
kepada generasi berikutnya dalam setiap zamannya. Pendangan Ki Hajar Dewantara
mengenai pendidikan dan kebudayaan ini tertuang dalam sebuah teori sebagai hasil
pemikirannya yang dikenal dengan teori Trikon.
Upaya pembudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal
dengan Teori Trikon, yakni:
1. Kontinyu
2. Konsentris
3. Konvergen
Pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai
tempat yang oleh beliau diberi nama Tri Sentra Pendidikan, yaitu:
1. Alam keluarga
2. Alam perguruan
3. Alam pergerakan pemuda
2. Bidang Pengajaran
Pengajaran merupakan salah satu jalan pendidikan yaitu suatu usaha memberi ilmu
pengetahuan serta kepandaian dengan latihan-latihannya yang perlu dengan maksud
memajukan kecerdasan fikiran (intelek) serta berkembangnya budi pekerti.
Ki Hajar Dewantara di bidang pengajaran meletakkan konsep-konsep dasar pengajaran
meliputi:
1. Teori dasar-ajar
2. Trisakti jiwa

Ki Hajar Dewantara, melihat manusia lebih pada sisi kehidupan psikologiknya.


Menurutnya manusia memiliki daya jiwa yaitu cipta, karsa dan karya. Pengembangan
manusia seutuhnya menuntut pengembangan semua daya secara seimbang.
Pengembangan yang terlalu menitikberatkan pada satu daya saja akan menghasilkan
ketidakutuhan perkembangan sebagai manusia. Beliau mengatakan bahwa pendidikan
yang menekankan pada aspek intelektual belaka hanya akan menjauhkan peserta didik
dari masyarakatnya (Theo Riyanto, 2004). Dan ternyata pendidikan sampai sekarang ini
hanya menekankan pada pengembangan daya cipta, dan kurang memperhatikan
pengembangan olah rasa dan karsa. Jika berlanjut terus akan menjadikan manusia kurang
humanis atau manusiawi.

Integralitas pendidikan dikemukakan oleh Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar


Dewantara yang disebut Tripusat Pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengatakan
pendidikan berlangsung di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan yang humanis
menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia
lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang (menurut Ki
Hajar Dewantara menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa
(konatif)). Singkatnya, “educate the head, the heart, and the hand”.
Dari titik pandang sosio-anthropologis, kekhasan manusia yang membedakannya dengan
makhluk lain adalah bahwa manusia itu berbudaya, sedangkan makhluk lainnya tidak
berbudaya. Maka salah satu cara yang efektif untuk menjadikan manusia lebih manusiawi
adalah dengan mengembangkan kebudayaannya. Persoalannya budaya dalam masyarakat
itu berbeda-beda. Dalam masalah kebudayaan berlaku pepatah:”Lain ladang lain
belalang, lain lubuk lain ikannya.” Manusia akan benar-benar menjadi manusia kalau ia
hidup dalam budayanya sendiri. Manusia yang seutuhnya antara lain dimengerti sebagai
manusia itu sendiri ditambah dengan budaya masyarakat yang melingkupinya.

Relasi antara pendidikan di keluarga, sekolah, dan masyarakat (Tripusat Pendidikan) di


Indonesia hingga saat ini masih berkisar antara paradigma lama dan transisional. Hal
demikian terindikasi dalam kondisi sebagai berikut: (1) Keluarga, sekolah, dan
masyarakat masih memandang hasil belajar siswa lebih pada sisi kemampuan akademik
dan pengetahuan, (2) Hubungan keluarga dan sekolah masih bersifat satu arah, hirarkis,
dan birokratis, (3) Antara keluarga dan sekolah masih bersifat saling defensif, (4)
Perbedaan kultural dan sosial masih kurang mendapatkan perhatian secara wajar, (5)
Sekolah sering memandang masyarakat sebagai orang lain atau pihak yang berada di luar
sekolah, kecuali diperlukan.

Kemerdekaan Sebagai Tujuan Pendidikan


Manusia merdeka adalah tujuan pendidikan Taman Siswa. Merdeka baik secara fisik,
mental dan kerohanian. Dalam kaitan dengan kemandirian dan kemerdekaan sekolah
dalam peningkatan mutu, Ki Hadjar Dewantoro memperingatkan: “Mardika iku
jarwanya, nora mung lepasing pangreh nging ugo kuwat kuwoso amandiri pritangga”.
(Merdeka itu artinya tidak hanya terlepas dari perintah, akan tetapi juga cakap kuat
memerintah sendiri.(Majlis Luhur Taman Siswa, 2004). Namun kemerdekaan pribadi ini
dibatasi oleh tertib damainya kehidupan bersama dan ini mendukung sikap-sikap seperti
keselarasan, kekeluargaan, musyawarah, toleransi, kebersamaan, demokrasi,
tanggungjawab dan disiplin. Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah
membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa
merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan pada
aspek-aspek nasional.

Landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya


adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis,
ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural
law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya
adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan
kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia. Suasana yang dibutuhkan dalam dunia
pendidikan adalah suasana yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati,
cintakasih dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Maka hak setiap
individu hendaknya dihormati; pendidikan hendaknya membantu peserta didik untuk
menjadi merdeka dan independen secara fisik, mental dan spiritual; pendidikan
hendaknya tidak hanya mengembangkan aspek intelektual sebab akan memisahkan dari
orang kebanyakan; pendidikan hendaknya memperkaya setiap individu tetapi perbedaan
antara masing-masing pribadi harus tetap dipertimbangkan; pendidikan hendaknya
memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri; setiap orang harus hidup
sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya
demi kebahagiaan para peserta didiknya.

Ki Hajar Dewantara sendiri dengan mengubah namanya ingin menunjukkan perubahan


sikapnya dalam melaksanakan pendidikan yaitu dari satria pinandita ke pinandita satria
yaitu dari pahlawan yang berwatak guru spiritual ke guru spiritual yang berjiwa ksatria,
yang mempersiapkan diri dan peserta didik untuk melindungi bangsa dan negara. Bagi Ki
Hajar Dewantara, para guru hendaknya menjadi pribadi yang bermutu dalam kepribadian
dan kerohanian, baru kemudian menyediakan diri untuk menjadi pahlawan dan juga
menyiapkan para peserta didik untuk menjadi pembela nusa dan bangsa(Theo Riyanto,
2004). Dengan kata lain, yang diutamakan sebagai pendidik pertama-tama adalah
fungsinya sebagai model atau figure keteladanan, baru kemudian sebagai fasilitator atau
pengajar. Oleh karena itu, nama Hajar Dewantara sendiri memiliki makna sebagai guru
yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, keutamaan. Pendidik atau Sang Hajar adalah
seseorang yang memiliki kelebihan di bidang keagamaan dan keimanan, sekaligus
masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Modelnya adalah Kyai Semar (menjadi
perantara antara Tuhan dan manusia, mewujudkan kehendak Tuhan di dunia ini). Sebagai
pendidik yang merupakan perantara Tuhan maka guru sejati sebenarnya adalah berwatak
pandita juga, yaitu mampu menyampaikan kehendak Tuhan dan membawa keselamatan.

Guru yang efektif memiliki keunggulan dalam mengajar (fasilitator); dalam hubungan
(relasi dan komunikasi) dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah; dan juga
relasi dan komunikasinya dengan pihak lain (orang tua, komite sekolah, pihak terkait);
segi administrasi sebagai guru; dan sikap profesionalitasnya. Sikap-sikap profesional itu
meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti
perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu:
menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan
keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga
performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial,
kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu
adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi
pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik.

Peserta didik yang dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat
fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan
bertanggungjawab atas kebahagiaan dirinya dan kesejahteraan orang lain. Metode yang
yang sesuai dengan sistem pendidikan ini adalah sistem among yaitu metode pengajaran
dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah dan asuh (care and dedication based on
love). Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu
berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu
menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Oleh karena itu bagi Ki Hajar
Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”.

Jika dilihat dari apa yang menjadi misi Politik Etis dapat dikatakan mengalami kegagalan
karena tujuannya tidak tercapai. Anak-anak didik sang penjajah yang sejatinya disiapkan
mengisi birokrasi kolonial tidak terwujud, malah sebaliknya anak-anak didik (kaum
terpelajar yang memelopori pergerakan kebangsaan) justru melawan kekuasaan Belanda.
Perlawanan terhadap sistem pendidikan yang dinilai diskriminatif , tetap dilakukan oleh
kaum pergerakan; dengan mengupayakan pendidikan rakyat dalam rangka
membangkitkan kesadaran massa. Terdapat sebagian kecil dari mereka kemudian sadar
dan membawa obor penerang pergerakan rakyat Indonesia. Mereka rela membuang
kesempatan untuk hidup kaya dengan cara mengabdi kepada Belanda ini, dengan rajin
membentuk dan membangun berbagai organisasi-organisasi tani dan buruh sebagai
wadah perlawanan. Melakukan pendidikan rakyat mengenai kondisi penjajahan dan juga
membuat sekolah rakyat gratis untuk anak-anak Buruh dan Petani. Disinilah kosakata
baru seperti Demokrasi, Sosialisme, Nasionalisme, dan Kemerdekaan mulai
diperkenalkan dan disemaikan.

Bersatunya Kekuatan Bangssa : Sumpah Pemuda


Pada perkembangan selanjutnya muncullah organisasi-organisasi pemuda kedaerahan
(seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan lain-lainnya) yang gerak langkahnya
menjurus pada jalan politik, sehingga pada tahun 1928 mengumandangkan pernyataan
"Sumpah Pemuda": "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – INDONESIA". Pada tahun
1928 Dr.Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantoro diasingkan ke Negeri Belanda,
sejak itu Perhimpunan Indonesia yang semula adalah organisasi santai non politik,
berubah menjadi organisasi politik yang tegas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Bahkan Perhimpunan Indonesia mempunyai media yang namanya "Indonesia Merdeka".
Di samping itu Perhimpunan Indonesia tidak hanya berjuang untuk kemerdekaan
Indonesia, tapi sementara dari mereka juga berjuang melawan Fasisme Jerman di Negeri
Belanda. Perhimpunan Indonesia telah banyak menyumbangkan tokoh-tokohnya di
dalam perjuangan mendirikan dan mempertahankan negara Republik Indonesia (Ali
Sastroamidjojo, Sartono, Sunito, Sjahrir, Hatta, Abdulmadjid, Jusuf Muda Dalam,
Setiadjid dan lain-lainnya).

Lalu tahun 1930-an Hatta dan Sjahrir ditangkap dan diasingkan. Setelah penangkapan
dan pengasingan pemimpin pergerakan ini situasi politik agak mereda dan kekuasaan
kolonial semakin represif dan konservatif. Pemerintah kolonial pada September 1932
memberlakukan Wilde Scholen Ordonatie. Praktis setelah itu hingga kedatangan fasisme
jepang, pergerakan rakyat mengalami kelumpuhan dan para aktifis lebih banyak berjuang
membangun kesadaran dan kekuatan rakyat lewat jalur bawah tanah (Underground),
menghindari tindakan represif dari PID (Agen Intelijen belanda).
Sikap pemerintah Hindia Belanda tersebut jelas bersandar pada kekuatan perlawanan
rakyat yang banyak menggunakan sentimen agama. Bahkan kemudian bersamaan dengan
penetrasi kapitalisme yang secara brutal pada zaman kolonial; ketika kaum borjuis
transnasional mulai menguasai alat-alat produksi, mengubah struktur masyarakat, serta
melakukan eksploitasi secara kejam; kontrol sosial yang dilakukan pemerintah makin
mengakar dalam. Namun, kekuasaan kolonial yang represif itu tidak bertahan lama
karena kekuasaan yang angker itu tidak berdaya alias bertekuk lutut ketika Jepang
mengalahkan Belanda tahun 1942.

Pada perkembangan selanjutnya muncullah organisasi-organisasi pemuda kedaerahan


(seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, dan lain-lainnya) yang gerak langkahnya
menjurus pada jalan politik, sehingga pada tahun 1928 mengumandangkan pernyataan
"Sumpah Pemuda": "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa – INDONESIA". Pada tahun
1928 Dr.Cipto Mangunkusumo dan Ki Hajar Dewantoro diasingkan ke Negeri Belanda,
sejak itu Perhimpunan Indonesia yang semula adalah organisasi santai non politik,
berubah menjadi organisasi politik yang tegas memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Bahkan Perhimpunan Indonesia mempunyai media yang namanya "Indonesia Merdeka".
Di samping itu Perhimpunan Indonesia tidak hanya berjuang untuk kemerdekaan
Indonesia, tapi sementara dari mereka juga berjuang melawan Fasisme Jerman di Negeri
Belanda. Perhimpunan Indonesia telah banyak menyumbangkan tokoh-tokohnya di
dalam perjuangan mendirikan dan mempertahankan negara Republik Indonesia (Ali
Sastroamidjojo, Sartono, Sunito, Sjahrir, Hatta, Abdulmadjid, Jusuf Muda Dalam,
Setiadjid dan lain-lainnya).

Lalu tahun 1930-an Hatta dan Sjahrir ditangkap dan diasingkan. Setelah penangkapan
dan pengasingan pemimpin pergerakan ini situasi politik agak mereda dan kekuasaan
kolonial semakin represif dan konservatif. Pemerintah kolonial pada September 1932
memberlakukan Wilde Scholen Ordonatie. Praktis setelah itu hingga kedatangan fasisme
jepang, pergerakan rakyat mengalami kelumpuhan dan para aktifis lebih banyak berjuang
membangun kesadaran dan kekuatan rakyat lewat jalur bawah tanah (Underground),
menghindari tindakan represif dari PID (Agen Intelijen belanda).
Sikap pemerintah Hindia Belanda tersebut jelas bersandar pada kekuatan perlawanan
rakyat yang banyak menggunakan sentimen agama. Bahkan kemudian bersamaan dengan
penetrasi kapitalisme yang secara brutal pada zaman kolonial; ketika kaum borjuis
transnasional mulai menguasai alat-alat produksi, mengubah struktur masyarakat, serta
melakukan eksploitasi secara kejam; kontrol sosial yang dilakukan pemerintah makin
mengakar dalam. Namun, kekuasaan kolonial yang represif itu tidak bertahan lama
karena kekuasaan yang angker itu tidak berdaya alias bertekuk lutut ketika Jepang
mengalahkan Belanda tahun 1942.

Anda mungkin juga menyukai