Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS VEGETASI METODE TITIK

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Ekologi yang dibimbing oleh:

Prof. Dr. Ir. Suhadi, M.Si. dan Bagus Priambodo, S.Si., M.Si., M.Sc.

Oleh:

Calista Dhea S. 180341617540

Sherina Nabila W. P. 180341617594

Setyaningrum Tri W. 180341617562

Suci Yana Lestari 180342618026

Verona Tri Nur J. 180341617541

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
ANALISIS VEGETASI METODE TITIK

TUJUAN

1. Dapat menggunakan variabel dominansi dan frekuensi yang diaplikasikan pada


metode titik
2. Dapat memberi nama suatu vegetasi berdasarkan Indeks Nilai Penting (NIP)
3. Dapat memahami analisis vegetasi dengan metode tanpa plot.

DASAR TEORI

Vegetasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari sekelompok besar tumbuhan
yang menghuni suatu wilayah (Mareel, 2005). Vegetasi dapat juga diartikan sebagai
keseluruhan tumbuhan dari suatu area yang berfungsi sebagai area penutup lahan yang
terdiri dari beberapa jenis tumbuhan seperti herba, perdu dan pohon yang hidup bersama
dalam suatu wilayah dan saling berinteraksi satu sama lain serta lingkungannya dan
memberikan kenampakan luar vegetasi (Agustina, 2008). Vegetasi menurut Smith, dkk
(2000), memiliki peranan penting antara lain sebagai penyimpan dan daur ulang nutrisi,
penyimpanan karbon, purifikasi air serta keseimbangan dan penyebaran dan komponen
penting penyusun ekosistem.

Struktur suatu vegetasi merupakan organisasi dalam ruang, tegakan, tipe


vegetasi atau asosiasi tumbuhan dengan unsur utamanya adalah bentuk pertumbuhan,
stratifikasi dan penutupan tumbuhan. Lebih jauh, struktur vegetasi hutan dapat dibagi
menjadi tiga komponen, yaitu (1) struktur vertikal (stratifikasi berdasarkan lapisan tajuk),
(2) struktur horisontal (stratifikasi berdasarkan penyebaran spasial individu suatu jenis
dalam populasi), dan (3) kelimpahan jenis. Disamping ketiga komponen tersebut, masih
terdapat struktur didalam satuan waktu, yaitu suksesi dan klimaks yang hanya dipusatkan
pada struktur spasial yang merupakan struktur yang berhubungan dengan waktu
(Mulyana, dkk; 2005).

Analisis vegetasi merupakan suatu cara untuk mempelajari susunan atau


komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi (Maridi, dkk; 2015). Dalam ekologi
hutan, satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang
merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu
habitat (Tjitrosoepomo, 2002). Sucipto (2008), menyatakan bahwa luas area tempat
pengambilan contoh komunitas tumbuhan atau vegetasi sangat bervariasi, tergantung
pada bentuk atau struktur vegetasi tersebut.

Salah satu metode yang dapat digunakan dalam analisis vegetasi adalah metode
titik. Metode titik ini cocok untuk komunitas tumbuhan bawah seperti rumput, herba, dan
semak. Dalam pelaksanaannya di lapangan dapat menggunakan alat bantu yaitu point
frame, dengan mengangkat dan menyentuhkan pin yang terbuat dari kawat maka kita
dapat mencatat jenis/spesies tanaman yang tersentuh sehingga dominansi dari tanaman
tersebut dapat dihitung (Kusmana, 2017).

ALAT DAN BAHAN

Alat Bahan

1. Roll meter 1. Plastik

2. Kamera HP 2. Kertas Label

3. Lux meter

4. Soil Tester

5. Soil Termometer

6. Point Frame
PROSEDUR KERJA

Dipilih titik awal plot yang akan digunakan

Diletakkan point frame pada titik awal plot

Dilakukan analisis berdasarkan spesies yang ditemukan di setiap titik kemudian


dimasukkan ke dalam tabel

Dilanjutkan dengan mencari indeks nilai penting dari setiap jenis tumbuhan

Disusun pada suatu tabel dengan ketentuan bahwa tubuhan nyang nilai pentingnya
tertinggi diletakkan pada tempat teratas

Diberi nama vegetasi berdasarkan dua jenis / spesies yang memiliki nilai penting
terbesar.
DATA PENGAMATAN

Metode Titik

PLOT
NO SPESIES 1 2 3 TOTAL
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Axonopus
1 √ √ √ √ √ √ √ - √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 28
compressus
Cyperus
2 - - √ - √ √ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 3
rotundus
Lotus
3 - - - - - √ - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 1
corniculatus
Ageratum
4 - - - - - - - - - √ - - - - - - - - - - - - - √ - - - - - - 2
conyzoides
Lycium
5 - - - - - - - - - - √ - - - - - - - - √ - - - - - - - - - - 2
chinense
Lactula
6 - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - √ - - - - - - - √ 2
serriola
Tabel Analisis

NO SPESIES KM KR DM DR FM FR INP
(%) (%) (%) (%)
1 Axonopus 0,933 73,64 1 33,34 106,98
compressus
2 Cyperus 0,1 7,89 0,333 11,1 18,99
rotundus
3 Lotus 0,033 2,6 0,333 11,1 13,7
corniculatus
4 Ageratum 0,067 5,29 0,667 22,24 27,53
conyzoides
5 Lycium chinense 0,067 5,29 0,333 11,1 16,39
6 Lactula serriola 0,067 5,29 0,333 11,1 16,39
TOTAL 1,267 2,999

Faktor Abiotik

Alat Plot 1 Plot 2 Plot 3


Soil Tester pH = 7 pH = 6,9 pH = 7
Kelembapan: 50% Kelembapan: 70% Kelembapan: 50%
Soil Survey Suhu: 29o Suhu: 30o Suhu: 30o
Instrumen pH: 7 pH: 6 pH: 6,5
Lux meter 96 x 100 Lux 85 x 100 Lux 92 x 100 Lux
Termohigrometer Suhu: 32o Suhu: 32o Suhu: 32o
Kelembapan: 68% Kelembapan: 68% Kelembapan: 68%

ANALISIS DATA

Dari hasil pengamatan yang telah kami amati, terdapat 6 spesies yang terkena
saat vegetasi menggunakan metode titik. Spesies yang paling banyak yaitu Axonopus
compressus sebesar 28 tanaman. Spesies yang lain seperti Cyperus rotundus sebanyak
3 tanaman, Lotus corniculatus hanya 1 tanaman dan spesies Ageratum conyzoides,
Lycium chinense, Lactula serriola sebanyak 2 tanaman. Pada Indeks Nilai Penting
tertinggi yaitu dimiliki oleh spesies Axonopus compressus sebesar 106,98%. Kemudian
spesies Cyperus rotundus sebesar 18,99%, spesies Lotus corniculatus sebesar 13,7%,
spesies Ageratum conyzoides sebesar 27,53%, spesies Lycium chinense dan Lactula
serriola sebesar 16,39%. Faktor abiotik saat melakukan analisis vegetasi dengan
metode garis yaitu pH, suhu, kelembapan dan intensitas cahaya. Antara plot 1, plot 2
dan plot 3 selisih nilai dari keempat faktor abiotic tidak begitu jauh.

PEMBAHASAN

Dalam praktikum analisis vegetasi ini kami menggunakan metode titik, metode
titik ini menggunakan alat berupa point frame set yang terbuat dari pipa paralon dan besi.
Kami mengambil data dengan cara menjatuhkan besi pada lubang yang terdapat pada
point frame set. Dari hasil praktikum yang kami lakukan dengan metode ini, kami
menemukan hasil bahwa spesies dari 6 spesies yang kami temukan, spesies A (Axonopus
compressus) adalah yang paling mendominasi.

Axonopus compressus adalah spesies tumbuhan yang dapat tumbuh dengan baik
di daerah yang kering, cerah agak lembab tapi tidak basah. Tanaman ini dapat tumbuh
pada daerah tropis dan subtropis (Sriyani, dkk; 2014). Axonopus compressus tumbuh
menahun dan membentuk lempengan rapat terutama pada lokasi yang agak terlindung
atau agak terbuka (Solikin, 2004). Menurut Chijioke-Osuji, dkk (2017), Axonopus
compressus adalah rumput yang sering digunakan sebagai padang rumput permanen,
penutup tanah dan rumput di tanah lembab, kesuburan rendah khususnya dalam situasi
teduh.

Dari beberapa pernyataan tersebut maka sesuai dengan hasil praktikum yang
kami dapatkan dimana pH tanah rata-rata adalah 7, dengan suhu 32°C dan kelembaban
68 % yang diukur menggunakan Termohigrometer spesies yang paling mendominasi
adalah Axonopus compressus. Tempat kami melakukan pengambilan sampel adalah
tempat teduh yang dekat dengan sumber air, sehingga ini juga sesuai dengan pernyataan
dari Chijioke-Osuji (2017) yang menyatakan bahwa Axonopus compressus tumbuh pada
daerah dengan situasi teduh dan bertanah lembab.

Dalam praktikum yang kami lakukan juga diperoleh data bahwa spesies C
(Lotus Corniculatus) adalah spesies yang paling sedikit mendominasi tempat yang kami
lekukan metode titik tersebut. Menurut GBIF (2019), Lotus Corniculatus hidup di daerah
padang rumput kering. Lotus Corniculatus dapa tumbuh di daerah dekat dengan sumber
air seperti padang rumput di tepian sungai, tetapi spesies ini tidak dapat tumbuh di daerah
teduh yang menunjukkan bahwa spesies ini tidak toleran terhadap naungan (Donovan,
2004).

Dari beberapa pernyataan tersebut maka sesuai dengan hasil praktikum yang
kami dapatkan. Lotus Corniculatus meskipun dapat hidup di tempat lembab dan dekat
dengan sumber air tapi tanaman ini tidak toleran terhadap naungan atau tempat teduh. Ini
sesuai dengan pernyataan dari Donovan (2004), bahwa Lotus Corniculatus tidak dapat
hidup pada daerah yang teduh.

KESIMPULAN

1. Dominansi mutlak ditentukan dengan cara menjumlahkan tusukan yang


menyentuh jenis dibagi dengan total tusukan sedangkan Frekuensi mutlak
ditentukan dengan cara menjumlahkan plot yang memuat spesies dibagi dengan
jumlah seluruh plot. Dominansi relatif ditentukan dengan cara dominansi mutlak
suatu spesies dibagi dominansi total dikali dengan 100%. Frekuensi relatif
ditentukan dengan cara frekuensi mutlak suatu spesies dibagi total frekuensi
mutlak dikali dengan 100%.
2. Indeks Nilai Penting adalah suatu harga yang didapatkan dari penjumlahan nilai
relatif dari sejumlah variabel yang telah diukur (Dominansi relatif dan Frekuensi
relatif). INP dapat digunakan untuk menentukan vegetasi yang paling dominan.
3. Analisis vegetasi dapat dilakukan tanpa menggunakan plot, salah satu cara
analisis vegetasi yang dapat digunakan adalah analisis vegetasi metode titik
dengan menggunakan point frame set.
DAFTAR RUJUKAN

Agustina, D.K. 2008. Studi Vegetasi di Hutan Lindung RPH Donomulyo BK PH


Sengguruh KPH Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: Jurusan Biologi
Fakultas Saintek UIN Mau-lana Malik Ibrahim Malang.

Chijioke-Osuji, C., Belford, E. & Fei-Baffoe, B. 2017. Axonopus compressus : A


Resilient Phytoremediatior Of Waste Engine Oil Contaminated Soil.
International Journal of Plant & Soil Science, 14(2): 1-10. ISSN: 2320-7035

Donovan, M. 2004. COSEWIC status report on the bog bird’s-foot trefoil Lotus pinnatus
in Canada, in COSEWIC assessment and status report on the bog bird’s-foot
trefoil Lotus pinnatus in Canada. Committee on the Status of Endangered
Wildlife in Canada. Ottawa

GBIF. 2019. Lotus corniculatus L. in GBIF Secretariat (2019). GBIF Backbone


Taxonomy. [online] Checklist dataset https://doi.org/10.15468/39omei
accessed via GBIF.org on 2020-02-12.

Kusmana, C. 2017. Metode Survey dan Interpretasi Data Vegetasi. Bogor : IPB.

Maarel, E.V.D. 2005. Vegetation Ecology. Victoria: Blackwell Publish-ing.

Maridi, Saputra, A. & Agustina, P. 2015. Analisis Struktur Vegetasi di Kecamatan


Ampel Kabupaten Boyolali. Bioedukasi, 8(1): 28-42. ISSN: 1693-2654

Mulyana, M., T.Hardjanto dan G.Hardiansyah. 2005. Membangun Hutan Tanaman,


Meranti, Membedah Mitos Kegagalan Melanggengkan Tradisi Pengusahaan
Hutan. Tangerang: Wana Aksara Serpong.

Smith, P.L. Wilson, B., Nadolny, C., Lang, D. 2000. The Ecological Ro-le of The Native
Vegetation of New South Wales. New South Wales: Native Vegetation Advisory
Coun-cil.

Solikin. 2004. Jenis-jenis Tumbuhan Suku Poaceae di Kebun Raya Purwodadi.


Biodiversitas, 5(1): 23-17. ISSN: 1412-033X

Sucipto, Hariyanto. 2008. Teori dan Praktik Ekologi. Surabaya: Penerbit Universitas
Airlangga.
Sriyani, N, Lubis, A.T, Sembodo, D.R.J, Mawardi,D, Suprapto, H, Susanto, H,
Pujisiswanto, H, Abdachi, T, Oki,Y. 2014. Upland Weed Flora of Southern
Sumatera. An Illustrated Weed Identification Book. Global Madani Press.
Bandar Lampung.

Tjitrosoepomo, G. 2002. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University


Press.
LAMPIRAN