Anda di halaman 1dari 146

BAB I

ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab I ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan memahami dan
mampu menjelaskan tentang ilmu dan proses berpikir, pengertian penelitian, hubungan ilmu, penelitian dan
kebenaran, kebenaran non ilmiah dan pengertian proposisi, dalil, teori dan fakta.

Pendahuluan
Ilmu atau Scains adalah pengetahuan tentang fakta-fakta, baik natural atau sosial,
yang berlaku umum dan sistematik
ILMU DAN PROSES BERPIKIR
Dua buah definisi dari ilmu adalah sebagai berikut :
Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari
mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu untuk menurut kaidah-kaidah yang
umum.
Ilmu ialah pengetahuan yang sudah dicoba dan diatur menurut urutan dan
arti serta menyeluruh dan sistematis.
Ilmu lahir karena manusia diberkahi Tuhan suatu sifat ingin tahu. Keingintahuan
seseorang terhadap permasalahan disekelilingnya dapat menjurus kepada
keingintahuan ilmiah
Contoh : Apakah Bulan mengelilingi Bumi,
Apakah Matahari mengelilingi Bumi.
Maka timbul keinginnan untuk mengadakan pengamatan secara sistematis, yang
akhirnya melahirkan kesimpulan bahwa bumi itu bulat, bahwa Bulan mengelilingi
Matahari.
Menurut “ Maranon (1953)”, Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas,
menjakau semua aspek tentang progres manusia secara menyeluruh. Termasuk
didalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui
pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan
kebenaran yang bersifat umum.

1
“ Tan (1954)” berpendapat bahwa ilmu bukan saja merupakan suatu himpunan
pengetahuan yang sistematis, tetapi juga merupakan suatu
metodelogi.
Ilmu telah memberikan metode dan sistem, yang mana tanpa ilmu itu
merupakan suatu kebutuhan saja. Nilai dari ilmu tidak saja terletak dalam
pengetahuan yang dikandungnya, sehingga sipenuntut ilmu menjadi seorang yang
ilmiah baik dalam ketrampilan, dalam pandangan maupun tindak tanduknya.
Ilmu menemukan materi-materi alamiah serta memberikan suatu
rasionalisasi sebagai hukum alam. Ilmu membentuk kebiasaan serta
meningkatkan keterampilan observasi, eksperimen,klassifikasi, analisis serta
membuat generalisasi. Dengan adanya keigintahuan manusia yang terus menerus
maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta
kemampuan berpikir secara logis yang disebut penalaran.
“ Konsep antara Ilmu dan Berpikir “ adalah sama. Dalam memecahkan
masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan akan suatu hal
yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas dan
selanjutnya dipilih suatu pemecahahan tentatif untuk suatu penyelidikan.
Proses berpikir adalah suatu refleksi yang teratur dan hati-hati. Proses
berpikir lahir dari suatu rasa sangsi akan sesuatu keinginan untuk memperoleh
suatu ketentuan yang kemudian tumbuh menjadi suatu masalah yang khas.
Biasanya, manusia normal selalu berpikir dengan situasi permasalahan
hanya terhadap hal-hal lumrah saja. Biasanya reaksi manusia terjadi tanpa
berpikir, ini adalah suatu kebiasaan atau tradisi. Akan tetapi, jika masalah yang
dihadapi adalah masalah yang rumit, maka manusia normal akan mencoba
memecahkan masalah tersebut menurut langkah-langkah tertentu. Berpikir
demikian dinamakan berpikir secara reflektif (reflektif thingking).
Bagaimana kira-kira proses yang terjadi ketika berpikir ? Menurut “ Dewey
(1933) “ proses berpikir dari manusia normal mempunyai urutan berikut :

 Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal
sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.

2
 Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
 Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka , hipotesis,
inferensi atau teori.
 Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan
implikasi dengan jalan mengumpulkan bukti-bukti (data).
Menguatkan pembuktian tentang ide-ide di atas dan menyimpulkan baik
melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan
Menurut “ Kelly (1930) “, proses berpikir menuruti langkah-langkah berikut :
 Timbul rasa sulit
 Rasa sulit tersebut didefinisikan.
 Mencari suatu pemecahan sementara
 Menambah keterangan terhadap pemecahan tadi yang menuju kepada
kepercayaan bahwa pemecahan tersebut adalah benar.
 Melakukan pemecahan lebih lanjut dengan verifikasi eksperimental
(percobaan)
 Mengadakan penilaian terhadap penemuan-penemuan eksperimental
menuju pemecahan secara mental untuk diterima atau ditolak sehingga
kembali menimbulkan rasa sulit.
 Memberikan suatu pandangan ke depan atau gambaran mental tentang
situasi yang akan datang untuk dapat menggunakan pemecahan tersebut
secara tepat.
Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa berpikir secara nalar
mempunyai dua buah kriteria penting yaitu :
1. ada unsur logis didalamnya
2. ada unsur analitis didalamnya.
Ciri pertama dari berpikir adalah adanya unsur logis didalamnya. Tiap bentuk
dari berpikir mempunyai logikanya tersendiri. Karena suatu kegiatan berpikir
dapat saja logis menurut logika lain.
Ciri kedua dari berpikir adalah adanya unsur analitis didalam berpikir itu
sendiri, Dengan logika yang ada ketika berpikir ,maka kegiatan berpikir secara

3
sendirinya mempunyai sifat analitis, yang mana sifat ini merupakan konsekwensi
dari adanya pola berpikir tertentu. Berpikir secara ilmiah berarti melakukan
kegiatan analitis dalam menggunakan logika secara ilmiah.
Pada hakekatnya berpikir secara ilmiah merupakan gabungan antara
penalaran secara deduktif dan induktif. Masing-masing penalaran ini berkaitan
erat dengan rasionalisme atau emperisme.
“ Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual “.
Misal: Fakta menunjukkan bahwa ayam perlu makan untuk hidup. Anjing perlu
makan. Singa perlu makan. Akar dari fakta-fakta di atas, secara induktif, dapat
ditarik kesimpulan bahwa semua hewan perlu makan untuk hidup.
“ Dilain pihak, terdapat cara berpikir yang berpangkal dari pernyataan
yang bersifat umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Berpikir secara demikian dinamakan berpikir secara “ deduktif “.

APA YANG DIMAKSUD DENGAN PENELITIAN


Penelitian adalah terjemahan dari kata Inggris “ research “ . Dari beberapa
ahli menterjemahkan research sebagai riset. Research berasal dari kata “ re “
yang berarti kembali dan to search yang berarti mencari. Dengan demikian
reaserch atau riset adal;ah “ mencari kembali “.
Menurut kamus Webster, s New International, penelitian adalah
penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip ;
suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.
Penelitian juga bertujuan untuk mengubah kesimpulan-kesimpulan yang
telah diterima, ataupun mengubah dalil-dalil dengan adanya aplikasi baru dari
dalil-dali tersebut. Dari itu penelitian dapat diartikan sebagai pencarian
pengetahuan dan pemberi artian yang terus menerus terhadap sesuatu. Penelitian
juga merupakan percobaan yang hati-hati dan kritis untuk menemukan sesuatu
yang baru.
Penelitian dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method) disebut
penelitian ilmiah. Dalam penelitian ilmiah selalu ditemukan dua unsur penting

4
yaitu unsure Observasi (pengamatan) dan unsur nalar (reasoning). Unsur
pengamatan merupakan kerja dengan mana pengetahuan mengenai fakta-fakta
tertentu.diperoleh mellalui kerja mata (pengamatan) dengan menggunakan
persepsi (sense of persepsion).
Nalar adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan
dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul, sebegitu jauh ditetapkan sebagai
pengetahuan yang sekarang.

ILMU, PENELITIAN DAN KEBENARAN


Ilmu adalah suatu pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi
sedangkan penelitian yaitu suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan
terus menerus untuk memecahkan masalah.
Hubungan antara ilmu dan penelitian mempunyai hubungan yang erat.
Menurut Almarck (1930), hubungan antara ilmu dan penelitian adalah seperti
hasil dan proses. Penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu.
Tetapi Whitney (1960) berpendapat bahwa ilmu dan penelitian adalah sama proses
yang sama. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran (truht) (Lihat Gambar
dibawah ini) Terdapat suatu kesamaan yang tinggi derajatnya antara konsep ilmu
dan penelitian.

GAMBAR

PENELITIA ILMU
N

5
PENELITIAN ILM `KEBENARAN
U

Umumnya suatu kebenaran ilmiah dapat diterima dikarenakan oleh 3 hal,


yaitu :

1. adanya koheren
2. adanya koresponden, dan
3. pragmatis

” Suatu pernyataan dianggap benar jika pernyataan tersebut “ Koheren “ atau


konsisten dengan pernyataan sebelumnya. Misalnya, suatu pernyataan bahwa si
Badu akan mati dapat dipercaya, karena pernyataan tersebut koheren dengan
pernyataan bahwa semua akan mati “.

“ Suatu pernyataan dianggap benar jika materi pengetahuan yang terkandung


dalam pernyataan tersebut berhubungan atau mempunyai korespondensi dengan
objek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misal : Pernyataan bahwa ibukota
Propinsi Daerah Istimewa Aceh adalah Banda Aceh adalah benar karena
pernyataan tersebut mempunyai korespondensi dengan lokasi atau faktualitas
bahwa Banda Aceh memang ibu Kota Propinsi Aceh

6
Kebenaran lain dipercaya karena adanya sifat pragmatis. Dengan perkataan
lain, pernyataan dipercayai benar karena pernyataan tersebut mempunyai sifat
fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan atau suatu kesimpulan
dianggap benar jika pernyataan tersebut mempunyai sifat pragmati dalam
kehidupan sehari-hari.

KEBENARAN NON ILMIAH


Tidak selamanya penemuan kebenaran diperoleh secara ilmiah.
Kadangkala kebenaran dapat ditemukan melalui proses non ilmiah, seperti :
a. Penemuan kebenaran secara kebetulan,
b. Penemuan kebenaran secara common sence (akal sehat)
c. Penemuan kebenaran melalui wahyu
d. Penemuan kebenaran secara intuitif
e. Penemuan kebenaran secara trial dan error
f. Penemuan kebenaran secara spekulasi
g. Penemuan kebenaran secara kewibawaan
a.Penemuan kebenaran secara kebetulan
Penemuan kebenaran secara kebetulan tidak lain dari takdir Allah.
Walaupun kebenaran secara kebetulan bukanlah kebenaran yang ditemukan secara
ilmiah, tetapi banyak penemuan tersebut telah menggoncangkan dunia
pengetahuan. Misalnya, penemuan kristal oleh “ Dr. J.S. Summers adalah secara
kebetulan saja di tahun 1926. Pada suatu hari Summers sedang bekerja dengan
ekstrak aceton, karena dia ingin bermain tennis, maka ekstrak aceton tersebut
disimpannnya didalam kulkas dan dia bergegas pergi kelapangan tennis.
Keesokan harinya, ketika dia ingin meneruskan percobaan dengan ekstrak aceton
yang disimpannya dalam kulkas, dilihatnya telah timbul kristal-kristal baru pada
ekstrak aceton tersebut. Kemudian ternyata kristal-kristal tersebut adalah emzim
urease yang amat berguna bagi manusia.
Akan tetapi, tidak selalu penemuan secara kebetulan merupakan kebenaran
asasi. Adakalanya, penemuan secara kebetulan dapat membuat sesseorang

7
menjadi tertipu karena hubungan yang seakan-akan ada artinya padahal hubungan
tersebut berdiri sendiri.

b. Penemuan dengan cara akal sehat (common sence)


Common sence merupakan serangkaian konsep atau bagan konsepsual
yang memuaskan untuk digunakan secara praktis. Akal sehat dapat menghasilkan
kebenaran dan dapat pula menyesatkat. Misal : di abad ke 19 dengan akal sehat
orang percaya bahwa hukuman untuk anak didik merupakan alat utama dalam
pendidikan. Kemudian ternyata pendapat tersebut tidak benar. Hasil penelitian di
bidang psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa alat yang baik bagi
pendidikan bukan hukuman tetapi ganjaran.

c. Penemuan kebenaran secara wahyu


Kebenaran yang didasarkan kepada wahyu merupakan kebenaran mutlak,
jika wahyu datangnya dari Allah melalui Rasul dan Nabi. Kebenaran yang
diterima sebgai wahyu bukanlah disebabkan oleh hasil usaha penalaran manusia
secara aktif. Wahyu diturunkan oleh Allah kepada Rasul dan Nabi. Akan tetapi,
kebenaran yang dibawakan melalui wahyu merupakan kebenaran yang asasi.

d. Penemuan kebenaran secara intuitif


Kebenaran dapat juga diperoleh berdasarkan intuisi. Kebenaran dengan
intuisi diperoleh secara cepat sekali melalui proses luar sadar tanpa menggunakan
penalaran dan proses berpikir, ataupun melalui suatu renungan. Kebenaran yang
diperoleh secara intuisi sukar dipercaya, karena kebenaran ini tidak mengunakan
langkah yang sistematis untuk memperolehnya.

e. Penemuan Kebenaran melalui Trial dan Error


Bekerja secara trial dan error adalah melakukan sesuatu secara aktif
dengan mengulang-ulang pekerjaan tersebut berkali-kali dengan menukar-nukar
cara dan materi. Pengulangan tersebut tanpa dituntun oleh suatu petunjuk yang
jelas sampai seseorang menemukan sesuatu. Penemuan dengan trial dengan error

8
menelan waktu yang lama, memerlukan biaya yang tinggi, dan selalu dalam
keadaan meraba-raba.

f. Penemuan kebenaran melalui spekulasi


Penemuan kebenaran secara spekulasi sedikit lebih tinggi tarafnya dari
penemuan secara trial dan error. Jika dalam penemuan secara trial dan error
peneliti tidak mempunyai panduan sama sekali, maka dalam penemuan spekulasi
seseorang dibimbing oleh suatu pertimbangan, walaupun pertimbangan kurang
dipikirkan secara masak-masak, tetapi dikerjakan dalam suasana penuh dengan
resiko.

g.Penemuan kebenaran karena wibawa


Kebenaran ada kalanya diterima karena dipengaruhi oleh kewibawaan
seseorang. Pendapat dari seseorang ilmuan yang berbobot tinggi ataupun yang
mempunyai otorita dalam suatu bidang ilmu dan banyak mempunyai pengalaman
sering diterima begitu saja tanpa perlu diuji kebenaran tersebut terlebih dahulu.
Kebenaran itu diterima karena wibawa saja.

PROPOSISI, DALIL, TEORI DAN FAKTA


Proposisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita. Proposisi dapat diuji
kebenarannya jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian rupa dan sementara
diterima untuk diuji kebenarannya, proposisi tersebut disebut hipotesis contoh :
 Tingkat modernitas suami istri adalah salah satu faktor penentu perilaku
kontraseptik mereka.
 Penerimaan kontrasepsi modern dipengaruhi oleh persepsi tentang nilai
ekonomi anak.
Kedua pernyataan di atas adalah proposisi. Proposisi menghubungkan dua faktor
penyebab dari faktor lainnya.
Proposisi yang sudah mempunyai jangkauan cukup luas dan telah
didukung oleh data empiris dinamakan “ Dalil (scientific law) “. Dengan
perkataan lain penemuan –penemuan empiris pada mana dalil didasarkan. dalil

9
adalah singkatan dari suatu pengetahuan tentang hubungan sifat-sifat tertentu,
yang bentuknya lebih umum jika dibandingkan dengan
Teori adalah sarana pokok untuk menyatakan hubungan sistematis dalam
gejala sosial atau natura yang ingin diteliti. Teori adalah merupakan abtrasksi dari
pengertian atau hubungan dari proporsi atau dalil. Menurut ´Kerlinger (1973) “
Teori adalah sebuah set konsep atau contract yang berhubungan satu dengan yang
lainnya, suatu set dari proporsi yang mengandung suatu pandangan sistematis dan
fenomena.
Fakta adalah pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris. Fakta
dapat menjadi ilmu dapat juga tidak. Jika fakta hanya diperoleh saja secara
random, fakta tersebut tidak menjadi ilmu. Sebaliknya, jika dikumpulkan secara
sistematis dengan beberapa sistem serta beberapa pokok;pokok pengurutan, maka
fakta tersebut dapat menghasilkan ilmu. Fakta tanpa teori juga tidak akan
menghasilkan apa-apa.
Ada 3 hal yang perlu diperhatikan jika ingin mengenal teori :
1. Teori adalah sebuah set proposisi yang terdiri atas kontrak (contarac) yang
sudah didefinisikan secara luas dan dengan hubungan unsur-unsur dalam
set tersebut secara jelas pula.
2. Teori menjelaskan hubungan antar variabel antar contrac sehingga
pandangan yang sistematis dari fenomena-fenomena yang diterangkan
oleh variabel dengan jelas kelihatan.
3. Teori menerangkan fenomena dengan cara mensfesifikasikan variabel
mana yang berhubungan dengan variabel mana.

RANGKUMAN
Ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan
dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu untuk menurut kaidah-kaidah
yang umum.“ Konsep antara Ilmu dan Berpikir “ adalah sama. Dalam
memecahkan masalah, keduanya dimulai dari adanya rasa sangsi dan kebutuhan
akan suatu hal yang bersifat umum. Kemudian timbul suatu pertanyaan yang khas
dan selanjutnya dipilih suatu pemecahahan tentatif untuk suatu penyelidikan

10
Nalar adalah suatu kekuatan dengan mana arti dari fakta-fakta, hubungan
dan interelasi terhadap pengetahuan yang timbul, sebegitu jauh ditetapkan sebagai
pengetahuan yang sekarang.
“ Induksi merupakan cara berpikir untuk menarik suatu kesimpulan yang
bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual “.
Misal: Fakta menunjukkan bahwa ayam perlu makan untuk hidup. Anjing perlu
makan. Singa perlu makan. Akar dari fakta-fakta di tas, secara induktif, dapat
ditarik kesimpulan bahwa semua hewan perlu makan untuk hidup.
“ Dilain pihak, terdapat cara berpikir yang berpangkal dari pernyataan
yang bersifat umum, dan dari sini ditarik kesimpulan yang bersifat khusus.
Berpikir secara demikian dinamakan berpikir secara “ deduktif “.
Ilmu adalah suatu pengetahuan yang sistematis dan terorganisasi sedangkan
penelitian yaitu suatu penyelidikan yang hati-hati serta teratur dan terus menerus
untuk memecahkan masalah. Proposisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita.
Proposisi dapat diuji kebenarannya jika proposisi sudah dirumuskan sedemikian
rupa dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya, proposisi tersebut disebut
hipotesis
Hubungan antara ilmu dan penelitian mempunyai hubungan yang erat.
Menurut Almarck (1930), hubungan antara ilmu dan penelitian adalah seperti
hasil dan proses. Penelitian adalah proses, sedangkan hasilnya adalah ilmu.
Tetapi Whitney (1960) berpendapat bahwa ilmu dan penelitian adalah sama proses
yang sama. Hasil dari proses tersebut adalah kebenaran (truht) (Lihat Gambar
dibawah ini) Terdapat suatu kesamaan yang tinggi derajatnya antara konsep ilmu
dan penelitian.

Soal-soal
1. Sebutkan beberapa difinisi tentang ilmu
2. Bedakan antara ilmu, konsep dan proses berpikir.
3. Tuliskan bagaimana seorang manusia proses yang terjadi ketika berpikir
4. Apa yang dimaksud dengan penelitian dan sebutkan perbedaan antara ilmu
dan kebenaran.

11
BAB II
PERANAN DAN JENIS-JENIS PENELITIAN

TJUAN INSTRUKTUSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab II ini secara seksama, maka para mahasiswa diharapkan dapat memahami dan
mampu menjelaskan tentang kegunaan dan peranan penelitian, jenis-jenis penelitian, sifat dan ciri-ciri
penelitian, perbedaan ilmu sosial dan ilmu natura dan syarat penelitian.

JENIS-JENIS PENELITIAN
Secara umum, penelitian dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian dasar
(basic reseach) dan penelitian terapan ( applied reseach)

a.Penelitian Dasar (Basic Reseach).


Peneliatian dasar atau penelitian murni adalah pencarian terhadap sesuatu
karena ada perhatian dan keigintahuan tehadap hasil suatu aktivitas. Penelitian
dasar dikerjakan tanpa memikirkan ujung praktis atau titik terapan. Penelitian
murni tidak dibayang-bayangi oleh pertimbangan penggunaan dan penemuan
tersebut untuk masyarakat.
Charters (1920) menyatakan bahwa penelitian dasar terdiri atas halnya
pemilihan sebuah masalah khas dari sumber mana saja, dan secara hati-hati
memecahkan masalah tersebut tanpa memikirkan kehendak sosial atau ekonomi
ataupun masyarakat. Contoh penelitian murni misalnya penelitian tentang gene,
tentang nucleus dan sebagainya.

b. Penelitian Terapan (Applied Reseach)


Penelitian terapan adalah penyelidikan yang hati-hati, sistematik dan terus-
menerus terhadap suatu masalah dengan tujuan untuk digunakan dengan segera
untuk keperluan tertentu. Hasil penelitian tidak perlu sebagai satu penemuan
baru, tetapi merupakan aplikasi baru dari penelitian yang telah ada. Penelitian
yang mengerjakan penelitian dasar atau murni tidak mengharapkan hasil
penelitiannya digunakan secara praktik. Peneliti terapanlah akan merinci
penemuan penelitian dasar untuk keperluan praktis dalam bidang-bidang tertentu.

12
Tiap ilmuwan yang mengerjakan penelitian terapan mempunyai keinginan agar
dengan segera hasil penelitiannya dapat digunakan masyarakat, baik untuk
keperluan ekonomi, politik, maupun sosial.

PENELITIAN ILMU SOSIAL VS ILMU NATURA


Ilmu-ilmu sosial seperti halnya dengan ilmu-ilmu natura merupakan suatu
pengetahuan yang bersifat umum, sistematis dalam mana disimpulkan dalil-dalil
tertentu dalam hubungan manusia yang bersifat umum. Ilmu sosial seperti halnya
dengan ilmu natura selalu dimulai dari suatu premis bahwa semua gejala maupun
keadaan yang bagaimanapun sulitnya akan dapat dipecahkan dan diterangkan.
Penelitian ilmu sosial juga berpijak kepada metode ilmiah, tetapi beberapa ciri
khas dari ilmu sosial itu sendiri membuat sipeneliti harus mempunyai ketrampilan
yang harus didukung oleh kerangka analitik dan teori yang agak berbeda dalam
menganalisis sebab musabab dibandingkan dengan penelitian dalam ilmu eksata.
Ini dikarenakan oleh sangat rumitnya interelasi antar fenomena dalam ilmu sosial
itu sendiri
Ilmu-ilmu natura mempunyai umur sudah lebih tua dibandingkan dengan
ilmu-ilmu sosial, sehingga pengalaman peneliti dengan ilmu natura sudah lebih
mantap dan cukup trampil. Dengan kelahirannya yang lebih awal, peneliti-
peneliti ilmu natura telah mempunyai unit pengukur yang lebih perfect
dibandingkan dengan unit-unit pengukur yang digunakan dalam penelitia-
penelitian ilmu-ilmu sosial. Penggunaan metode kwantitatif yang telah lazim
pada penelitian ilmu-ilmu natura, belum lagi cukup berkembang didalam
penelitian-penelitian ilmu sosial.

BEBERAPA SIFAT (CIRI) KHAS PENELITIAN


Penelitian mempunyai beberapa ciri khas. Oleh Crawford (1928) telah
diberikan 9 buah kriteria penting dari penelitian. Sebenarnya ciri-ciri penelitian
dari Crawford ini tidak lain dari suatu kesimpulan tentang ilmu dan pemikiran
reflektif seperti dibawah ini :

13
1. Penelitian harus berkisar di sekeliling masalah yang ingin dipecahkan
2. Penelitian sedikit-dikitnya harus mengandung unsur-unsur oraginalitas
3. Penelitian harus didasarkan pada pandangan “ingin tau”
4. Penelitian harus dilakukan dengan pandangan terbuka.
5. Penelitian harus berdasarkan pada asumsi bahwa suatu fenonema
mempunyai hukum dan pengaturan (order).
6 Penelitian berkehendak untuk menemukan generalisasi atau dalil
7 Penelitian merupakan study tentang sebab akibat.
8 Penelitian harus menggunakan pengukuran yang akurat
9 Peneliti harus menggunakan tehnik yang secara sadar diketahui

SYARAT UTAMA UNTUK BERHASILNYA PENELITIAN


Penelitian efektif tidak dapat terjadi seenaknya saja, tetapi harus didukung
oleh faktor-faktor penunjang serta sarana dan prasarana yang cukup. Disamping
faktor peneliti sendiri, maka faktor lingkungan sangat penting artinya dalam
menunjang keberhasilan penelitian. Misalnya : penelitian yang direncanakan oleh
Fakultas Pertanian Universitas Filipina di Los Banos.. Sejak tahun 1940-1942
dan 1947-1959 telah dikerjakan 163 buah penelitian. Akan tetapi, antara 1942-
1947 tidak satu penelitianpun yang dikerjakan oleh Fakultas tersebut. Hal ini
disebabkan oleh beberapa hal antara lain sebagai berikut :
- Atmosfir untuk penelitian tidak memungkinkan
- Data penelitian sebelumnya telah kehilangan akibat Perang Dunia 2
- Perangsang untuk mengadakan penelitian menurun, karena kekurangan
sarana penelitian, kurangnya dana, tidak ada ketenangan jiwa, serta kurang
jaminan atas keselamatan diri dari peneliti.
- Perhatian peneliti lebih banyak dicurahkan untuk mencari nafkah sehari-
hari untuk menambah pendapatan, karena gaji tidak memadai.

Sommers (1959) memberikan beberapa syarat agar pelaksanaan penelitian dapat


berjalan lancar sebagai berikut :

14
1. Adanya kesadaran masyarakat tentang pentingnya penelitian untuk suatu
negara ataupun daerah.
2. Harus ada sarana dan pembiayaan yang cukup
3. Hasil penelitian harus dengan segera diterapkan
4. Harus ada kebebasan dalam melakukan penelitian
5. Peneliti harus mempunyai kualifikasi yang diperlukan

Tingkat keterampilan dalam melaksanakan penelitian dapat dikatagorikan 4


tingkat (Boyce dan Evenson, 1975) yaitu sebagai berikut :
1. Keterampilan inventif (inventif skill)
2. Keterampilan teknis (engineering)
3. Keterampilan teknis-ilmiah
4. Keterampilan ilmiah-konseptual.

RANGKUMAN
Secara umum, penelitian dapat dibagi atas dua jenis yaitu penelitian dasar
(basic reseach) da Penelitian efektif tidak dapat terjadi seenaknya saja, tetapi
harus didukung oleh faktor-faktor penunjang serta sarana dan prasarana yang
cukup. Disamping faktor peneliti sendiri, maka faktor lingkungan sangat penting
artinya dalam menunjang keberhasilan penelitian.n penelitian terapan ( applied
reseach). Ilmu-ilmu sosial seperti halnya dengan ilmu-ilmu natura merupakan
suatu pengetahuan yang bersifat umum, sistematis dalam mana disimpulkan dalil-
dalil tertentu dalam hubungan manusia yang bersifat umum.
Penelitian efektif tidak dapat terjadi seenaknya saja, tetapi harus didukung
oleh faktor-faktor penunjang serta sarana dan prasarana yang cukup. Disamping
faktor peneliti sendiri, maka faktor lingkungan sangat penting artinya dalam
menunjang keberhasilan penelitian.

15
Soal-soal
1. Tuliskan dan jelaskan kegunaan penelitian
2. Sebutkan jenis-jenis penelitian.
3. Jelaskan perbedaan antara penelitian ilmu sosial dan ilmu natura
4. Upaya suatu metode yang digunakan mempunyai beberapa kriteria
jelaskan

16
BAB III
METODE ILMIAH DAN METODE PENELITIAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab III ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang pengertian metode ilmiah dan metode penelitian, ciri-ciri metode ilmiah dan
metode penelitian dan langkah-langka metode ilmiah dan metode penelitian.

METODE ILMIAH
Metode ilmiah boleh dikatakan suatu pengejaran terhadap kebenaran
yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal ilmu adalah
untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah
berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan
pendekatan kesangsian sistematis. Karena itu, penelitian dan metode ilmiah
mempunyai hubungan yang dekat sekali, jika tidak dikatakan sama. Dengan
adanya metode ilmiah hubungan, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil
umum akan mudah terjawab, seperti menjawab seberapa jauh, mengapa begitu,
apakah benar dan sebagainya.
Menurut Almack (1939), metode ilmiah adalah cara menerapkan
prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran
terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.

Metode Ilmiah didalam meneliti mempunyai kriteria serta langkah-


langkah tertentu dalam bekerja seperti tetera pada skema dibawah ini

17
KRITERIA DAN LANGKAH-LANGKAH METODE ILMIAH

METODE ILMIAH

KRITERIA LANGKAH-LANGKAH

1. Berdasarkan fakta 1. Memilih dan


2. Bebas dari prasangka mendefinisikan masalah.
3. Menggunakan prinsip- 2. Survei terhadap data yang
prinsip analisis tersedia
4. .Menggunakan hipotesis 3. Memformulasikan hipotesis
5. .Menggunakan ukuran 4. Membangun kerangka
objektif analisis serta alat-alat dalam
6. Menggunakan tehnik menguji hipotesis
kuantifikasi 5. Mengumpulkan data primer
6. Mengolah, menganalisis
serta membuat interpretasi
7. Membuat generalisasi dan
kesimpulan.
8. Membuat laporan

18
METODE PENELITIAN

Pembagian penelitian menurut Crawford di atas memakai kriteria metode


(Sejarah, Eksperiment, Survey , tehnik Questioner, Interview dan sebagainya)
yang tidak dipisahkan olehnya secara jelas.
Antara tahun 1914 telah muncul ahli-ahli untuk membagi penelitian dalam
kelompok penelitian tertentu. Antara tahun 1914-1931 terdapat empat buah
metode favorit yaitu :
- metode eksperimen
- metode sejarah
- metode deskriptif
- metode kuestioner

Pada tahun 1931, penelitian dokelompokkan atas 4 yaitu :


1. metode sejarah
2. metode eksperimen
3. metode filsafah
4. metode deskriptif

Antara tahun 1932-1938 metode yang banyak digunakan dalam penelitian


masih dalam pengelompokan seperti diatas, hanya saja urutan-urutan menurut
popularitas berubah menjadi :
1. metode eksperimen
2. metode sejarah
3. metode deskriptif

Jika kita teliti kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengelompokan


penelitian-penelitian tempo dulu, maka kita lihat adanya campur baur antara
metode, prosedur, waktu, area pemikiran, tujuan , lokasi dimana penelitian
dilakukan.

19
Dewasa ini pengelompokkan penelitian lebih banyak didasarkan pada :
1. sifat masalahnya, disamping alat dan tehnik digunakan
2. tempat dimana penelitian dilakukan
3. waktu jangkauan penelitian serta
4. area ilmu pengetahuan yang mendukung penelitian tersebut

Untuk dapat memberikan dengan jelas beberapa metode penelitian, maka


penelitian dikelompokkan dalam lima kelompok umum sebagai berikut :
1. Metode Sejarah
2. Metode Deskripsi/Survey :- metode survey, deskriptif
berkesambungan,study kasus, analisa pekerjaan dan aktivitas, study
komperatif, study waktu dan gerakan
3. Metode Eksperimental
4. Metode Grounded Riset
5. Metode Penelitian Tindakan

Metode Sejarah
Penelitian dapat kita lihat dari segi perspektif serta waktu terjadinya
fenomena-fenomena yang diselidiki. Metode sejarah mempunyai perspektif
historis. Definisi sejarah adalah pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah
terjadi. Sejarah adalah deskripsi yang terpadu dari keadaan atau fakta-fakta masa
lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta study yang kritis untuk mencari
kebenaran.
JENIS-JENIS PENELITIAN SEJARAH
Penelitian historis banyak sekali macamnya. Tetapi secara umum, dapat dibagi
atas empat jenis :
- Penelitian Sejarah Komperatif
- Penelitian Yuridis atau Legal
- Penelitian Biografis
- Penelitian Bibliografis

20
Penelitian Sejarah Komperatif adalah jika penelitian dengan metode sejarah
dikerjakan untuk membandingkan faktor-faktor dari fenomena-fenomena sejenis
pada suatu periode masa lampau.
Penelitian yuridis atau legal adalah jika dalam metode sejarah diinginkan
untuk menyelidiki hal-hal yang menyangkut dengan hukum, baik hukum formal
ataupun hukum non formal dalam masa lalu.
Penelitian biografis adalah metode sejarah yang digunakan untuk meneliti
kehidupan seseorang dan hubungannya dengan masyarakat.
Penelitian bibliografis adalah penelitian dengan metode sejarah untuk mencari,
menganalisa, membuat interpretasi serta generalisasi dari fakta-fakta yang
merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau se suatu . Kerja
penelitian ini termasuk menghimpun karya-karya tertentu dari seorang penulis
atau seorang filosof dan menerbitkan kembali dokumen-dokumen unik yang
dianggap hilang dan tersembunyi
Seraya memberikan interpretasi serta generalisasi yang tepat terhadap karya-karya
tersebut.

METODE DESKRIPTIF
Metode deskriptif adalah metode dalam meneliti status sekelompok
manusia, suatu subjek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu
kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari metode ini adalah untuk
membuat deskrpisi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.

JENIS-JENIS PENELITIAN DESKRIPTIF


Ditinjau dari jenis masalah yang diselidiki, tehnik dan alat yang digunakan dalam
meneliti, serta tempat dan waktu penelitian deskriptif dapat dibagi atas beberapa
jenis yaitu :
1. metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh
fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada mencari keterangan-keterangan

21
secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari
suatu kelompok ataupun suatu daerah’
2. metode deskriptif berkesambungan adalah kerja meneliti secara
deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atau suatu objek
penelitian.
3. study kasus adalah penelitian tentang status subjeck penelitian yang
berkenan dengan suatu fase specifik atau khas dari keseluruhan
personalitas.
4. Penelitian komperatif adalah sejenis penelitian deskriptif yang ingin
mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat, dengan
mangalisa faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu
fenomena.
5. Analisis Kerja dan Aktifitas (Job and activicity analisys), merupakan
penelitian dengan menggunakan metode deskriptif yaitu untuk
menyelidiki secara terperinci aktivitas dan pekerjaan manusia.
6. Study waktu gerakan (time and motion study) adalah penelitian dengan
metode deskriptif yang berusaha untuk menyelidiki efisiensi produksi
dengan mengadakan study yang mendetail tentang penggunaan waktu
serta perilaku waktu pekerja dalam proses produksi.

METODE EKSPERIMENTAL
Eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan (artificial condition)
dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti. Dengan penelitian
eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi
terhadap objek penelitian serta adanya kontrol
Metode eksperimen sering sekali dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu
eksakta. Walaupun demikian, penggunaan metode eksperimen didalam ilmu-ilmu
sosial, akhir-akhir ini semakin banyak peminatnya.
Jika kita bandingkan dengan metode deskriptif, maka ada 2 hal yang
cukup membedakan metode eksperimen dengan metode deskriptif. Perbedaan
pokok tersebut adalh sebagai berikut :

22
1. Pada metode eksperimen terdapat kontrol, sedangkan pada metode
deskriptif kontrol tidak ada. Kontrol ini, dapat saja merupakan
manipulasi fisik, seperti penggunaan cara, dana. alat, ataupun kontrol
dengan cara mengadakan seleksi terhadap materi maupun objek
penelitian.
2. Pada metode eksperimen si peneliti mengadakan manipulasi terhadap
variabel, sedangkan pada metode deskriptif, variabel yang diteliti
berada dalam keadaan sebagaimana adanya. Pada metode eksperimen,
objek diatur lebih dahulu untuk diadakan perlakuan-perlakuan,
sedangkan penelitian deskriptif, sifatnya adalah ex post facto.
Beberapa kriteria umum dalam metode eksperimental :
1. Masalah yang dipilih harus masalah yang penting dan dapat dipecahkan
2. Faktor-faktor serta variabel dalam percobaan harus didefinisikan seterang-
terangnya,
3. Percobaan harus dilaksanakan dengan desain percobaan yang cocok,
sehingga maksimisiasi variabel perlakuan dan meminisasikan variabel
pengganggu dan variabel random
4. Ketelitian dalam observasi serta ketepatan ukuran sangat diperlukan
5. Metode, material serta referensi yang digunakan dalam penelitian harus
dilukiskan seterang-terangnya karena kemungkinan pengulangan
percobaan atau penggunaan metode dan material untuk percobaan lain
dalam bidang yang serupa
6. Interpretasi serta uji statistik harus dinyatakan dalam signifikasi dan
parameter-parameter yang dicari atau yang diestimasikan.
Merencanakan Percobaan
Percobaan yang akan dilakukan harus direncanakan sebaik-baiknya,
sehingga dalam pelaksanaan percobaan sudah ada garis pembatas yang nyata
tentang apa yang akan dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan.
Ada dua hal penting yang harus memperoleh khusus dalam percobaan yaitu:

1.Langkah-langkah yang digunakan

23
Langkah – langkah yang diperlukan dalam percobaan harus jelas diberikan
Ada 3 hal penting yang harus diterangkan yaitu :
1. Rumusan masalah serta pernyataan tentang tujuan percobaan atau
penelitian
2. Gambaran dari percobaan yang akan dilakukan termasuk tentang besarnya
percobaan, jumlah dan jenis perlakuan, material yang dipakai dan
sebagainya
3. Outline dari penganalisa yang akan dikerjakan.
Desain percobaan.
Desain percobaan adalah step-step atau langkah-langkah yang utuh dan
berurutan yang dibuat lebih dahulu sehingga keterangan yang ingin diperoleh oleh
percobaan akan mempunyai hubungan yang nyata dengan masalah penelitian.
Ciri-ciri desain percobaan yang baik adalah :
a. Desain yang baik dapat mengatur variabel-variabel dan kondisi percobaan
secara utuh dan ketat, baik dengan manipulasi, randominisasi dan kontrol.
b. Perlakuan-perlakuan yang dilakukan dapat dibandingkan secara nyata
dengan kontrol
c. Desain yang baik memaksimisasikan variance dan variabel-variabel yang
berkaitan dengan hipoptesa yang diuji, serta dapat meminisasikan variance
dan variabel pengganggu serta variabel random yang berada diluar
penelitian. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan randominisasi
terhadap perlakuan serta replikasi.
d. Desain yang baik harus menjawab dua pertanyaan pokok yaitu validitas
internal, atau apakah manipulasi percobaan memang benar-benar
menimbulkan perbedaan, dan kedua validitas eksternal, atau sampai
berapa jauh penemuan-penemuan percobaan cukup representatif untuk
dibuat generalisasi pada kondisi yang sejenis.
e. Desain yang baik, secara srimultan dapat memberikan keterangan tentang
efek variabel perlakuan, variasi yang berkaitan dengan variabel yang
digunakan untuk membuat klasifikasi serta dapat diketahui interaksi antara

24
kombinasi variabel bebas dan/atau variabel-variabel yang digunakan untuk
membuat klasifikasi tertentu.
Melaksanakan percobaan
Setelah perencanaan rampung, dan desain yang cocok telah dipilih maka
tibalah saatnya untuk melaksanakan percobaan. Hal yang pertama-tama perlu
diperhatikan dalam percobaan adalah pengenalan terhadap material yang
digunakan dalam percobaan. Jika material yang digunakan cukup banyak, maka
diperlukan adanya check list dari materila yang digunakan. Jika digunakan
bahan-bahan kimia, maka harus dicatat sumber, ferifikasi, dari bahan tersebut.
Misalnya jika dalam perlakuan insektisida, maka perlu dijelaskan apakah
insektisida tersebut dalam formulasi tertentu seperti 50 WP, 20 EC dan
sebagainya.
Syarat-syarat Percobaan yang baik
Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh suatu percobaan yang
memenuhi syarat. Syarat-syarat pokok antara lain adalah sebagai berikut :

a.Percobaan harus bebas dari bias


Percobaan harus sedemikian rupa direncanakan sehingga tidak bias. Ketidak
biasan satu percobaan dapat dijamin dengan adanya desain yang baik. Secara
garis besar, adanya randomisasi mengurangi sifat bias percobaan

b. Harus ada ukuran terhadap error


Dengan adanya desain yang baik maka error dapat diukur. Dalam istilah desain
percobaan error tidak sama artinya dengan kesalahan. Yang dimaksud dengan
error adalah semua variabel ekstra yang juga mempengaruhi hasil disamping
pengaruh perlakuan-perlakuan. Dengan adanya ukuran error maka percobaan
menjadi objektif. Ukuran eror ini bergantung pada desain percobaan yang dipilih

c. Percobaan harus mempunyai ketetapan


Percobaan harus dilakukan dengan desain yang dapat menambah ketetapan.
Ketetapan dapat terjamin jika error teknis dapat dihilangkan dan adanya replikasi

25
pada percobaan. Ketetapan atau presisi dapat ditingkatkan jika error teknis,
seperti kurang akuratnya alat penimbang, kurang baiknya dalam penggunaan
meteran dan sebagainya, maka jumlah replikasi dapat menambah ketetapan
percobaan.

d. Tujuan percobaan harus jelas


Sering kita lihat bahwa percobaan-percoban yang dilaksanakan oleh peneliti-
peneliti muda kurang jelas tujuan percobaannya. Tujuan percoban dengan
mengatakan, “.... bertujuan untuk membandingkan perlakuan A dengan perlakuan
B, dan seterusnya, adalah kurang jelas. Tujuan percobaan harus dibuat sejelas-
jelasnya, ditambah dengan alasan-alasan yang kuat mengapa memilih perlakuan
yang demikian. Pada kondisi mana hasilnya akan diaplikasikan serta pada daerah
ilmu mana sasaran penelitian tersebut ingin dtetapkan. Tujuan percobaan
didefinisikan dan dapat dituangkan dalam hipotesa-hipotesa nol yang akan
dkembangkan.

e.Percobaan harus punya jangkauan yang cukup


Tiap percobaan harus mempunyai jangkauan atau skope yang cukup sesuai
dengan tujuan penelitian. Untuk lebih memperjelas pengertian jangkauan atau
skope, marilah kita lihat percobaan dibawah ini. Seorang peneliti ingin melihat
pengaruh memberikan susu pada anak lembu. Peneliti akan melakukan
percobaan. Timbul pertanyaan. Sampai umur berapa kita sebutkan lembu sebagai
anak lembu. Sampai umur 3 bulan, 5 bulan. Sampai umur dimana anak lembu
berhenti menyusui ? Pemilihan umur anak lembu yang akan dicoba dalam
penelitian tersebut adalah kecil, karena sipeneliti hanya mengamati atau satu stage
saja dari seluruh perkembangan lembu sampai lembu tersebut itu mati. Skope
penelitian harus sesuai dengan dengan percobaan penelitian. Apakah percobaan
hanya dilakukan untuk bibit satu tanaman untuk melihat daya kecambahnya,
ataukah sampai tanaman tersebut berbuah dan sebagainya.

26
JENIS-JENIS METODE EKSPERIMEN
Percobaan banyak ragamnya. Ada yang dinamakan percobaan absolut, dimana
percobaan digunakan untuk mengadakan estimasi terhadap suatu set observasi
dengan hasil yang mempunyai reabilitasi yang tinggi. Misalnya percobaan untuk
menentukan muatan dari satu elektron. Dengan mengulang-ngulang percobaan
maka walaupun hasil pengamatan tidak sama, tetapi denga desain dan tehnik yang
sepadan, peneliti dapat mengadakan estimasi terhadap muatan elektron tersebut.
Dilain pihak percobaan ada percobaan yang dilakukan untuk mengadakan
perbandingan, ini dinamakan percobaan perbandingan (comparative experiment).
Dalam hal ini dilakukan suatu percobaan dengan membandingkan perlakuan-
prlakuan tersebut terhadap populasi yang dipilih.
Dari sudut lain, metode eksperimen dapat juga dibagi atas penelitian
eksperimental sungguhan (true experimental) dan eksperimental semu (quasi
experimental).

RANGKUMAN
Metode ilmiah adalah suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur
oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Upaya suatu metode yang digunakan
dalam penelitian disebut metode ilmiah maka metode tersebut ada beberapa
metode antara lain berdasarkan fakta, bebas dari prasangka (bias), menggunakan
prinsip-prinsip analisis, menggunakan hipotesis, menggunakan ukuran objektif
dan menggunakan tehnik kuantifikasi.
Dalam mengelompokkan metode-metode penelitian, kriteria yang dipakai
adalah tehnik serta prosedur penelitian. Namun tidak jarang terdapat, bahwa
pengelompokkan yang dibuat ada kalanya berdasarkan kepada prosedur saja dan
ada kalanya didsarkan pada tehnik saja, karena ahli-ahli mencampuradukkan
antara metode dan tehnik pnelian dalam membuat prngelompokkan penelitian.
Penelitian dibagi oleh Crawford (1928) atas 14 jeneis yaitu ekspeimen, psikologis,
survei, analisis pekerjaan, questioner, pengukuran, tabel dan grafik, sejarah, case
study, membuat kurikilum, interview, statistik dan tehnik pustaka.

27
Soal-soal
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan metode ilmiah dan apa perbedaannya
dengan metode penelitian.
2. Menurut Crawford ada beberapa kriteria yang diatur dalam metode
penelitian. Sebutkan.

28
BAB IV

DESAIN PENELITIAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab IV ini secara seksama, maka mahasiswa/peminat diharapkan dapat memehami dan
mampu menjelaskan tentang pengertian desain penelitian, merencanakan desain penelitian, jenis-jenis
penelitian dan ciri-ciri desain penelitian.

Desain dari penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam


perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam pengertian yang lebih sempit,
desain penelitian hanya mengenai pengumpulan dan analisa data saja.
Dalam pengertian yang lebih luas, desain penelitin mencakup proses-proses
sebagai berikut :
1. Identifikasi dan pemilihan masalah penelitian.
2. Pemilihan kerangka konsepsual untuk masalah penelitian serta
hubungan-hubungan dengan penelitian sebelumnya.
3. Memformulasikan masalah penelitian termasuk membuat spesifikasi
dari tujuan, luas jangkau dan hipotesa untuk diuji.
4. Membangun penyelidikan atau percobaan.
5. Memilih serta memberi definisi terhadap pengukuran variabel-
variabel.
6. Memilih prosedur dan tehnik sampling yang digunakan.
7. Menyusun alat serta tehnik untuk mengumpulkan data.
8. Membuat coding, serta mengadakan editing dan procesing data.
9. Menganalisa data serta pemilihan prosedur statistik untuk mengadakan
generalisasi serta inferensi statistik.
10. Pelaporan hasil penelitian, termasuk proses penelitian, diskusi serta
interpretasi data, generalisasi, kekurangan-kekurangan dalam
penemuan, serta menganjurkan beberapa saran dan kerja penelitian
yang akan datang.
Dari proses di atas, jelas terlihat bahwa psoses tersebut terdiri dari dua
bagian yaitu :

29
1. Perencanaan penelitian.
2. Pelaksanaan penelitian atau proses operasional penelitian.
Proses perencanaan penelitian dimulai dari identifikasi, pemilihan serta
rumusan masalah sampai dengan perumusan hipotesa serta kaitannya dengan teori
dan kepustakaan yang ada. Proses selebihnya merupakan tahap operasional dari
penelitian.

Beberapa ciri Desain Penelitian


Desain penelitian tidak pernah dilihat sebagai ilmiah atau tidak ilmiah
tetapi dilihat darin segi baik atau tidak baik. Karena desain juga mencakup
rencana study maka di dalamnya selalu ada trade off antara kontrol atau tanpa
kontrol, antara objektifitas denagan subjektifitas. Desain tergantung dari derajat
akurasi yang diingainkan, level pembuktian dari tingkat perkembangan dari
bidang ilmu yangn bersangkutan.
Desain yang tepat sekali tidak pernah ada. Hipotesa dirumuskan bisa
dalam bentuk alternatif, karena itu desain itu juga, dapat berbentuk alternatif.
Desain yang dipilih biasanya yang merupakan kompromi, yang banyak ditentukan
oleh pertimbangan praktis.

Desain dalam Merencanakan Penelitian


Dalam merencanakan penelitian, desain dimulai dengan mengadakan
penyelidikan dan evaluasi terhadap penelitian yang sudah dikerjakan dan
diketahui dalam memecahkan masalah. Dari penyelidikan itu akan terjawab
bagaimana hipotesa dirumuskan dan diuji dengan data yang diperoleh untuk
memecahkan suatu masalah.

Desain Pelaksanaan Penelitian


Desain pelaksanaan penelitian meliputi proses membuat percobaan
ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran variabel, memilih
prosedur dan tehnik sampling, alat-alat untuk memngumpulkan data kemudian
coding, editing dan memproses data yang dikumpulkan . Dalam pelaksananaan

30
penelitian termasuk juga proses analisa data “ Sachman (1967) desain dalam
pelaksanaan penelitin dibagi atas :
1. Desain sampel
2. Desain alat (instrumen)
3. Desain administrasi
4. Desain analisa

JENIS-JENIS DESAIN PENELITIAN


Pengelompokan desain percobaan yang menyeluruh belum dapat dibuat
dewasa ini, karena masing-masing ahli pengelompokan jenis desain penelitian
sesuai dengan kondisi dari ilmuwan sendiri.
Shah (1972) mencoba membagi desain penelitian atas 6 jenis yaitu :
1. Desain untuk penelitian yang ada kontrol.
2. Desain untuk study deskriptif dan analitis
3. Desain untuk study lapangan
4. Desain untuk study dengan dimensi waktu
5. Desain untuk study evaluasi no evaluatif
6. Desain dengan menggunakan data primer atau sumber data skunder

1. Desain penelitian yang ada kontrol


Desain ini adalah desain percobaan atau desain bukan percobaan. Kedua
desain tersebut mempunyai kontrol. Dalam desain percobaan , beberapa
variabel di kontrol dan beberapa merupakan kontrol. Dalam percobaan, si
peneliti mengadakan manipulasi terhadap beberapa variabel atau faktor yang
merupakan fenomena yang menyebabkan munculnya hasil yang sedang
diteliti. Desain percobaan ini biasanya dipakai untuk meneliti fenomena
natura.

2. Desain Penelitian Deskriptif-Analisis


Penelitian yang non experimental dapat dibagi atas penelitian deskriptif dan
penelitian analisis. Penelitian deskriptif adalah study untuk menemukan fakta

31
dengan interpretasi yang tepat. Dalam desain study deskriptif ini, termasuk desain
study formulatif yang exploratif yang berkehendak hanya untuk mengenal
fenomena-fenomena untuk keperluan study selanjutnya.
Dalam study deskriptif juga termasuk :
1. study untuk melukiskan secara akurat sifat-sifat dari beberapa fenomena,
kelompok atau individu.
2. study untuk menentukan frekwensi terjadinya suatu keadaan untuk
meminimisasikan bias dan memaksimumkan realibilitas.

Sesuai dengan metode penelitian, maka desain deskriptif dan analisa dapat
dibagi atas tiga :
1. Desain study history.
2. Desain study kasus.
3. Desain survey

3. Desain Penelitian Lapangan atau Bukan


Desain percobaan dapat dilihat dari sudut apakah penelitian tersebut
merupakan setting dengan menggunakan lapangan atau tidak. Misalnya desain
penelitian sejarah kurang menggunakan penelitian lapangan, karena banyak kerja
penelitian dilakukan untuk mencari dokumen-dokumen di musium, perpustakaan
dan sebagainya
.
4. Desain Penelitian dalam Hubungan dengan Waktu
Dalam hubungannya dengan waktu serta pengulangan penelitian, maka kita
lihat bahwa penelitian dengan menggunakan metode sejarah memakai desain di
mana penyelidikan dilakukan dalam suatu interval tertentu.

5. Desain dengan Tujuan Evaluatif atau Bukan


Dalam sutu horizon penelitian, maka dapat dipikirkan suatu penelitian yang
melulu dengan tujuan mengumpulkan pengetahuan atau penelitian dasar, dan pada
ujung horizon lain adanya penelitian tindakan bertujuan terapan yang hasilnya

32
dengan segera diperlukan untuk merumuskan kebijakan, Kemudian terdapat pula
suatu penelitian yang dinamakan penelitian evaluatif, yang merupakan penelitian
yang berhubungan keputusan administratif terhadap aplikasi hasil penelitian.
Suchman (1967) memberi definisi penelitian evaluatif sebagai penentuan (apakah
berdasarkan opini, catatan data subjektif atau data objektif). Dalam penelitian
evaluatif peneliti harus membuat desain sehingga pertanyaan-pertanyaan tentang
aspek-aspek evaluasi dapat terjawab. Desai penelitian hampir seluruh menjurus
kepada model percobaan sebelum dan sesudah pengukuran dari kelompok
percobaan sebelum dan sesudah pengukuran dari kelompok percobaan dan
kontrol. Desain penelitian evaluatif harus selalu mengenai perubahan yang terjadi
menurut waktu.
Walaupun tujuan dari penelitian evaluatif dan penelitian nonevaluatif sangat
berbeda. Tetapi significannya hasil penelitian harus dinyatakan menurut standar
ilmiah yang berlaku.

6. Desain Penelitian dengan Data Primer/Skunder


Sebagian besar dari tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data yang
relevan, dapat dipercaya dan valid. Dalam mengumpulkan data maka sipeneliti
dapat bekerja sendiri untuk mengumpulkan data atau menggunakan data orang
lain. Jika data primer yang dinginkan, maka sipeneliti dapat menggunakan teknik
dan alat untuk mengumpulkan data seperti observasi langsung (participant atau
non participant), menggunakan questioner, schedule atau interview guide dan
sebagainya.
Jika data yang diinginkan adalah data primer, maka desain yang dibuat
harus menjamin pengumpulan data yang efisien dengan alat dan teknik serta
karakteristik dari responden. Jika peneliti ingin menggunakan data skunder, maka
si peneliti harus mengadakan evaluasi terhadap sumber, keadaan data skundernya
dan juga sipeneliti harus terhadap sumber, keadaan data tersebut.
Desain yang ideal sekurang-kurangnya harus mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut (Suchman, 1967) :
1. Dibentuk berdasarkan metode ilmiah

33
2. Dapat dilaksanakan dengan data dan teknik yang ada
3. Cocok untuk tujuan penelitian, dalam artian harus menjamin validitas
penemuan untuk memecahkan masalah.
4. Harus ada originilitas dalam membuat desain, dalam artian bahwa desain
tersebut seimbang.
5. Desain harus cocok dengan biaya penelitian, dan dengan kemampuan
sumber daya manusia.

RANGKUMAN
Penelitian adalah suatu proses mencari sesuatu secara sitematik dalam waktu
yang lama dengan menggunakan metode ilmiah serta aturan-aturan yang berlaku.
Sedangkan desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam
perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Desain pelaksanaan penelitian meliputi
membuat percobaan ataupun pengamatan serta memilih pengukuran-pengukuran
variabel, memilih prosedur dan tehnik sampling. Alat-alat untuk mengumpulkan
data kemudian membuat coding, dan memproses data yang dikumpulkan. Dalam
pelaksanaan penelitian termasuk juga proses analisis data serta membuat
pelaporan. Oleh Suchman (1967) desain dalam penelitian dibagi atas :
1. Desain sampel
2. Desain alat (insrument)
3. Desain administrasi dan,
4. Desain analisis.

Soal-soal
1. Sebutkan dan jelaskan apa yang dimaksud dengan desain penelitian.
2. Tuliskan beberapa ciri-ciri dari desain penelitian .
3. Dalam pelaksanaan penelitian termasuk juga proses analisis data serta
membuat pelaporan Suchman membagi pelaksanaan penelitian ada
beberapa macam sebutkan.

34
BAB V

STUDI KEPUSTAKAAN

TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab V ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat
memahami dan mapu menjelaskan tentang study pustaka, mengenal perpustakaan dan cara memperoleh
sumber kepustakaan.

Mengadakan survei terhadap data yang ada merupakan langkah yang


penting sekali dalam metode ilmiah. Memperoleh informasi dari penelitian
terdahulu harus dikerjakan, tanpa memperdulikan apakah sebuah penelitian
menggunakan data primer atau data skunder.
Survei terhadap data yang telah tersedia dapat dikerjakan setelah masalah
penelitian dipilih atau dilakukan sebelum masalah dipilih. Jika study
kepustakaan dilakukan sebelum pemilihan masalah, penelaahan kepustakaan
termasuk memperoleh ide tentang masalah apa yang paling up to date untuk
dirumuskan dalam penelitian.
Dengan mengadakan survei terhadap data yang telah ada, si peneliti bertugas
menggali teori-teori yang telah berkembang dalam bidang ilmu yang
berkepentingan, mencari metode-metode serta tehnik penelitian, baik dalam
mengumpulkan data atau dalam menganalisa data, yang telah pernah
digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu, memperoleh orientasi yang lebih
luas dalam permasalahan yang dipilih, serta menghindarkan terjadinya
duplikasi yang tidak diinginkan.
Study literatur, selain dari mencari sumber data skunder yang akan
mendukung penelitian, juga diperlukan untuk mengetahui sampai kemana
ilmu yang berhubungan dengan penelitian telah berkembang sampai kemana
terdapat kesimpulan dan degeneralisasi yang telah pernah dibuat sehingga
citasi yang diperlukan dapat diperoleh. Dengan mengadakan study terhadap
literatur yang ada, sipeneliti juga dapat belajar secara lebih sistematis lagi
tentang cara-cara menulis karya ilmiah, cara mengungkapkan buah pikiran

35
yang akan membuat peneliti lebih kritis dan analitis dalam mengerjakan
penelitiannya.

Mengenal Perpustakaan
Dalam rangka menelusuri literatur serta menelaah study yang ada pada
perpustakaan, maka sipeneliti harus lebih dahulu mengenal perpustakaan
secara lebih baik, sistem pelayanan, sistem penyusunan literatur dan
klasifikasi buku yang dianut oleh perpustakaan tersebut.

Sistem Pelayanan
Sistem pelayanan secara umum dapat dibagi atas dua jenis yaitu :
1. Sistem tertutup dan
2. Sistem terbuka

Sistem tertutup
Sistem pelayanan tertutup, pembaca tidak dapat langsung ke rak buku untuk
memilih buku atau bacaan lainnya. Pembaca hanya dapat mengetahui koleksi
yang ada diperpustakaan tersebut melalui katalog, sipembaca mencatat nomor
buku atau literatur yang diinginkan, dan menyerahkan pada petugas untuk
mencari buku yang bersangkutan di rak.

Sistem terbuka
Jika perpustakaan yang menganut pelayanan terbuka, sipembaca dapat
langsung menuju rak buku. Biasanya susunan buku pada rak berdasarkan
topik umum. Dalam sistem ini, si pembaca dapat melihat-lihat sampai
menemukan bahan yang dicari. Resiko bagi perpustakaan dengan sistem
terbuka adalah tidak adanya jaminan bahwa buku atau bahan-bahan lain tidak
akan hilang dan terbawa oleh si pembaca. Sebenarnya sitem pelayanan
tersebut tidaklah sangat nyata pembagiannya seperti diatas. Banyak
perpustakaan dimana sebagian dari buku/litratur merupakan pelayanan
tertutup, sedangkan sebagian lagi merupakan pelayanan terbuka.

36
Sistem Klasifikasi
Dalam mengenal perpustakaan, sipeneliti juga harus mengetahui sitem
klasifikasi buku/literatur yang dianut oleh perpustakaan tersebut, dalam
mengatur buku-bukunya. Sistem klasifikasi diatur menurut jumlah bahan
bacaan yang ada, mulai dari yang tersulit sampai kepada yang cukup standar,
ataupun yang sederhana, yang disesuaikan dengan kondisi yang sedang dibina.
Dalam klsifikasi standar ada dua sistem yang dianut :
 Sistem Librari of Conggres (LC)
 Sistem Dewey Decimal (DD)
Kedua sistem tersebut pada prinsipnya mempunyai filosofi yang sama yaitu
menandai buku-buku dengan nomor katalog. Jika peneliti mengetahui sistem
klassifikasi mana yang dianut oleh suatu perpustakaan, maka pencarian literatur
yang diinginkan tidak akan mengalami kesukaran sama sekali.

Sistem Library of Conggress(LC).


Pada klasifikasi dengan menggunakan LC, klasifikasi besar dinyatakan
dengan huruf, sedangkan klasifikasi dibawahnya dinyatakan dengan angka. Dalam
sistem klasifikasi ini ilmu pengetahuan dibagi atas 20 golongan besar yang
simbolnya ditentukan dengan huruf. Kemudian tiap golongan ini dibagi atas
golongan lagi, dengan demikian angka kode pada buku terdiri dari huruf dan
angka. Kode-kode dan angka tersebut dimuat dalam kartu katalog yang ada.pada
perpustakaan.
Kelas utama dari sistem Library of Conggress adalah sebagai berikut :
A.Kerja umum, Poligrafi.
B .Falsafah,Agama
C. Sejarah
D.Musik
E. Seni murni
E.Bahasa kesenian
F. Ilmu natura

37
G.Obat-obatan
H.Ilmu sosial
J. Ilmu Politik
H. dan lain lain

Sistem Dewey Decimal


Kalau kode buku dengan sistem Library of Congress terdiri dari huruf dan angka,
maka pada sistem Dewey Decimal, kode sebuah buku terdiri dari angka dulu.
Sistem Dewey Decimal cukup baik untuk perpustakaan yang koleksi bacaannya
tidak terlalu banyak.
Dalam klasifikasi Dewey Decimal cabang ilmu pengetahuan dibagi atas 9 jenis
ditambah1 jenis pengetahuan yang bersifat umum.
Pembuatan indeks dengan klasifikasi ini dalam kelas besar sebagai berikut :
000. Umum (General Works)
100. Falsafah
200. Agama
300. Pengetahuan sosial
400. Fisiologi
dan lain-lain

Membaca dan mencatat bahan bacaan


Setelah bahan bacaan ditelusuri, maka tibalah membaca dan mencatat
bahan-bahan perpustakaan yang bersangkutan untuk memperoleh informasi yang
diperlukan. Membaca dan mencatat informasi merupakan bagian yang penting
dalam studi kepustakaan.
Membaca
Membaca segala keterangan yang ada hubungannya dengan penelitian
sangat penting peranannya dalam study kepustakaan. Disamping pentingnya
membaca, dilain pihak membaca juga mempunyai kerugian-kerugian. Wilson
(1952) memberikan tujuan utama membaca yaitu untuk mencari apakah
keterangan-keterangan yang mengenai penelitian ada dan tersedia, dan kedua

38
untuk memperoleh latar belakang yang cukup dalam bidang penelitian yang
dilakukan si peneliti.
Secara umum kegunaan membaca adalah :
1. Untuk menghindari duplikasi yang tidak diperlukan dengan melihat
apakah masalah penelitian sudah pernah diuji ataukah masih diperlukan
peneliti lebih lanjut.
2. Untuk memperoleh ide, keterangan-keterangan, metode-metode yang
berguna dalam memecahkan masalah, ataupun dalam rangka memilih
masalah-masalahnya sendiri.
3. Untuk menunjukkan data komparatif yang berguna dalam mengadakan
interpretasi hasil penelitian nantinya.
4. Untuk menambah pengetahuan umum si peneliti.
Disamping banyak kegunaannya, membaca juga mengandung bahaya, antara lain
 Ketakutan akan ketergantungan kepada apa yang dibaca.
 Memperoleh informasi-informasi yang salah
Mengutip informasi
Karena daya ingat seseorang selalu dibatasi oleh dimensi waktu maka apa
yang penting dalam bacaan perlu dicatat.
Jenis-jenis kutipan
Kutipan yang dibuat bisa dalam berbagai bentuk.
Bentuk-bentuk penting adalah :,
quotasi, paraprhrase, kesimpulan dan praisi.
Quotasi adalah mengutip secara langsung tanpa mengubah satu katapun dari kata-
kata pengarang. Dalam hal ini harus digunakan koma dan buka dan koma dan
tutup.
Paraphrase adalah mengutip seluruh isi bacaan dengan menggunakan kata-kata
sipeneliti atau sipembaca.
Ikhtisar atau summary adalah mencatat sinopsis atau kependekan dari
keseluruhan pemikiran.

39
Precis (Praisi) adalah kependekan isi yang lebih padat dari sammary, dengan
memilih secara hati-hati materia yang akan dipendekkan dengan menggunakan
kata-kata sendiri yang tidak lari dari rencana irisinal artikel.

Tehnik mencatat dan mengutip


Dalam rangka membuat catatan tentang apa yang kita baca, maka perhatikan
hal-hal berikut :
 Sebelum membaca dan mengutip dari buku teks maka lihat dahulu daftar
indeks isi di belakang buku tersebut untuk mencari hal-hal yang berkenaan
dengan materi yang akan dikutip.
 Jika kutipan ingin dibuat dari majalah ilmiah, leaflet dan sebagainya, maka
lihatlah lebih dahulu judul dari artikel.
 Baca dahulu secara keseluruhan dari artikel yang ingin kita kutip.
 Kemudian baru baca sekali lagi secara hati-hati dan seksama untuk
membaca catatan yang diperlukan

Sumber bacaan
Sumber bacaan banyak sekali, dari buku teks sampai dengan surat kabar,
Dalam penelitian ilmiah, selain dari buku referensi, digunakan juga sumber
berikut :
 Buku teks (text book)
 Jurnal
 Periodical
 Yearbook
 Buletin
 Annual review
 Recen advances

40
Buku teks
Buku teks adalah tulisan ilmiah yang dijilid rapi yang diterbitkan dengan
interval yang tidak tentu. Buku teks berkenaan dengan suatu bidang ilmu yang
isinya menyeluruh dan biasanya digunakan sebagai buku wajib dalam mata kuliah
tertentu.
Contoh :
Pengantar ekonomi Pertanian, karangan Mubyarto. Penerbit Lembaga penelitian
Pendidikan dan penerangan ekonomi dan sosial (LPS), Jakarta, tahun 1977.
Jurnal
Jurnal adalah majalah ilmiah yang berisi tulisan ilmiah atau hasil-hasil
seminar yang diterbitkan oleh Himpunan Propesi Ilmiah. Biasanya diterbit sekali
tiga bulan atau sekitar 3-4 jilid setahun.
Contoh :
Jurnal od Economic Entomology, diterbitkan oleh EntomologySocoety of
America.
Review Jurnal
Review jurnal adalah majalah ilmiah yang berisi artikel-artikel yang
dipersingkat dalam suatu cabang pengetahuan. Singkatan artikel bukan saja berisi
ikhtisar dari hasil penemuan tetapi dimulai dari masalah dan termasuk metode
penelitian.
Contoh :
 Science Progress
 Biological Review
Abstrak jurnal
Abstrak jurnal adalah majalah yang berisi singkatan atau ikhtisar dari artikel-
artikel dari jurnal-jurnal terbaru.
Contoh :
International Abstrak Of Biological Science (terbit sejak 1956)

41
Periodical
Periodical adalah majalah ilmiah yang diterbitkan secara berkala oleh
lembaga-lembaga baik pemerintah atau swasta yang berisi hasil penelitian yang
dikerjakan. Banyak periodical diterbitkan oleh perguruan tinggi.
Contoh :
Economi dan Keuangan Indonesia, diterbitkan triwulan oleh lembaga
penyelidikan ekonomi masyarakat. Fakultas Ekonomi. Universitas Indonesian.
Year book
Year book adalah buku mengenai fakta-fakta dan statistik setahun yang
diterbitkan tiap tahun oleh lembaga pemerintah atau swasta
Contoh :
U. N Statistica Yearbook for Asia and the far East
Buletin
Buletin adalah tulisan ilmiah pendek yang terbit secara berkala yang berisi
catatan-catatan ilmiah ataupun petunjuk-petunjuk ilmiah tentang satu kegiatan
operasional.
Contoh :
Contribution of Central Research for Agriculture, Bogor. Indonesia No. 60 tahun
1980.
Circular
Circular adalah tulisan ilmiah pendek dan praktis biasanya dikeluarkan oleh
lembaga Negara atau swasta seperti Universitas. Lembaga Penelitian dan
sebagainya.
Contoh :
Agricultal Axtension Service. University of Florida Circular No.1945. April 1962
Leaflet
Leaflet adalah karangan kecil yang sifatnya ilmiah praktis. Diterbitkan oleh
lembaga-lebaga negara atau swasta, dengan interval yang tidak tetap.
Contoh :

42
USDA Leaflet dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat. USDA
leaflet N0. 506, Mei, 1950, memuat karangan “ Wind Erocion Control on
IRRigation Land” karangan Stephen J. Mech.
Annual Review
Anual review berisi ulasan-ulasan tentang literatur yang telah diterbitkan
selama masa setahun atau beberapa tahun yang lampau. Dalam menggunakan
Annual review ini maka carilah Annual review yang terbaru.
Contoh :
Annual Review of Microbiology ( sejak 1947)

Beberapa Sumber Bacaan Lain


Disamping dari bentuk-bentuk sumber bacaan seperti yang diterangkan di
atas, banyak lagi sumber lain yang tidak diturunkan satu persatu> tetapi
diantaranya seperti yang dibawah ini :
Off print : kiriman artikel dari pengarang yang terlepas dari majalah
Reprint : majalah yang dicetak ulang
Recent print : sejenis majalah ilmiah yang berisi artikel-artikel yang tidak
Diperoleh dalam review journal.
Bibliografi : buku yang berisi judul-judul artikel yang membahas bidang-
bidangIlmu tertentu.
Handbook : Handbook adalah buku kecil yang diterbitkan oleh lembaga
negara atau swasta yang biasanya berisi petunjuk-petunjuk tentang suatu masalah
tertentu, ataupun tentang suatu fenomena yang bersifat umum.
Manual : Manual adalah buku petunjuk tentang mengerjakan atau
melakukan sesuatu secara terperinci. Biasanya mengenai suatu masalah praktis,
baik dalam mengukur, melakukan kegiatan atau memakai sesuatu secara benar.

RANGKUMAN
Dalam rangka menelusuri literatur serta menelaah studi yang ada pada
perpustakaan, maka sipeneliti harus lebih bdahulu mengenal perpustakaan secara

43
lebih baik, termasuk sistem pelayanan, sistem penyusunan literatur dan klasifikasi
buku yang dianut oleh perpustakaan tersebut.
Sistem pelayanan perpustakaan secara umum dapat dibagi atas dua jenis
yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Untuk mengenal perpustakaan, sipeneliti
juga harus mengetahui klassifikasi buku/literatur yang dianut oleh perpustakaan
tersebut, dalam mengatur buku-bukunya. Dalam klassifikasi standar, maka ada
dua sistem umum klassifikasi yang dianut :
1. Sitem library of conggres (LC).
2. Sistem dewey decimal (DD).
Sumber bacaan banyak sekali, dari buku teks sampai dengan surat kabar.
Dalam penelitian ilmiah, selain dari buku referensi digunakan juga sumber-
sumber berikut :
Buku teks, jurnal, periodical, yearbook, buletin, annual review dan recent
advances.

Soal-soal
1. Dalam rangka menelusuri literatur serta menelaah studi perpustakaan ada
beberapa sistem pelayanan yang dianut sebutkan dan jelaskan.
2. Untuk suatu tulisan ilmiah maka sumber bacaan atau literatur sangat
penting sekali jelaskan contoh-contoh sumber bacaan yang bisa dikutip.

44
BAB VI

PERUMUSAN MASALAH

TUJUAN INTSRUKTUSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab VI ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang ciri-ciri masalah yang baik, sumber memperoleh masalah dan cara
merumuskan masalah.

Tiap kerja meneliti harus mempunyai masalah penelitian untuk dipecahkan.


Perumusan masalah penelitian merupakan kerja yang bukan mudah, termasuk
bagi peneliti-peneliti yang sudah berpengalaman. Padahal masalah selalu ada
disekeliling kita.
Masalah timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun
kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena seperti :
Kemenduaan arti ( ambiguiti) : adanya halangan dan rintangan.
Adanya celah (gap) : baik antar kegiatan atau fenomena, baik yang akan
ada
Penelitian masalah yang dirumuskan dalam penelitian, sangat berguna untuk
membersihkan kebingungan kita akan sesuatu hal, untuk memisahkan
kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antar
kegiatan atau fenomena. Karenanya, peneliti harus dapat memilih suatu masalah
bagi penelitiannya, dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap
masalah tersebut. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian dan
merupakan langkah yanag penting dan pekerjaan yang sulit dalam penelitian
ilmiah.
Tujuan dari pemilihan serta perumusan masalah adalah untuk :
 Mencari sesuatu dalam rangka perumusan akademis seseorang.
 Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru.
 Meletakkan dasar memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya
ataupun dasar untuk penelitian selanjutnya.
 Memenuhi keinginan sosial.

45
 Menyediakan sesuatu yang bermanfaat.

Ciri-ciri Masalah Yang Baik


Sebelum seorang meneliti dapat merumuskan suatu masalah untuk
penelitiannya, maka ia lebih dahulu harus mengidentifikasikan dari masalah itu.
Ada beberapa ciri-ciri masalah yang harus diperhatikan, baik dilihat dari
segi isi (content) dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi penunjang yang
diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah dipilih ciri-cirinya adalah :
 Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian.
 Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas.
 Masalah yang dipilih harus sesuai dengan dengan kualifikasi si peneliti.

Masalah harus ada nilai penelitian


Masalah untuk suatu penelitian tidaklah dipilih seadanya saja. Masalah harus
mempunyai isi yang mempunyai nilai penelitian, yaitu mempunyai kegunaan
tertentu serta dapat dipergunakan untuk suatu keperluan. Dalam memilih
masalah, maka masalah akan mempunyai nilai penelitian jika hal-hal berikut
diperhatikan.
 Masalah haruslah mempunyai keaslian artinya masalah yang dipilih
haruslah mengenai hal-hal yang up todate dan baru. Hindarkan masalah
yang sudah banyak sekali dirumuskan orang dan sifatnya sudah usang
serta masalah harus ilmiah.
 Masalah harus menyatakan suatu hubungan artinya suatu masalah harus
hubungan antara dua atau lebih variabel.
 Masalah harus merupakan hal yang penting artinya suatu masalah yang
dipilih harus mempunyai arti yang penting dan nilai, baik dalam bidang
ilmunya sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian terapan.
 Masalah harus dapat diuji dengan perlakuan-perlakuan serta data dan
fasilitas yang ada. Sekurang-kurangnya masalah yang dipilih harus

46
sedemikian rupa sehingga memberikan implikasi untuk kemungkinan
pengujian secara empiris.
 Masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan artinya suatu masalah
harus dinyatakan secara jelas dan tidak membingungkan dalam bentuk
pertanyaan.

Masalah harus Fisbel


Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas yaitu masalah tersebut
dapat dipecahkan. Ini berarti :
 Data serta metode untuk memecahkan masalah harus tersedia.
 Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus dalam batas-batas
kemampuan.
 Waktu untuk memecahkan masalah harus wajar.
 Biaya dan hasil harus seimbang.
 Administrasi dan sponsor harus kuat.
 Tidak bertentangan dengan hukum dan adat.
Masalah fisibilitas dalam memilih penelitian harus benar-benar diperhatikan
oleh peneliti. Misalnya dalam skripsi S1 dari mahasiswa Fakultas Pertania
UNsyiah yang harus menyelesaikan studynya dalam waktu 4 tahun dengan 1
tahun waktu penelitian, tidaklah mungkin untuk memilih masalah : “ Apakah
pemuliaan kelapa dengan perkawinan silang akan menambah hasil perhektar “
karena :
 Pembiayaan yang cukup besar.
 Waktu yang relatif terlalu lama.
 Sponsor tidak ada dan kemampuan Fakultas yang masih lemah.
 Equipmen untuk itu belum dipunyai Fakultas

Masalah Harus Sesuai dengan Kualifikasi Peneliti

47
Masalah yang dipilih, selain mempunyai nilai ilmiah serta fisibel, juga harus
sesuai dengan kualifikasi sipeneliti sendiri. Dalam hal ini masalah yang dipilih
sekurang-kurangnya :
1. Menarik bagi sipeneliti.artinya cocok dengan bidang kemampuannya,
seorang pertanian haruslah memilih judul mengenai pertanian.
2. Cocok dengan kualifikasi ilmiah sipeniliti. Artinya sukar mudahnya
masalah yang ingin dipecahkan harus sesuai dengan derajat ilmiah yang
dipunyai peneliti.

Sumber untuk Memperoleh Masalah


Sebenarnya banyak sekali masalah yang perlu dipecahkan berdasarkan
disekeliling peneliti. Yang menjadi kendala untuk memperoleh masalah adalah
kesanggupan peneliti dan mengidentifikasi masalah serta mengetahui sumber-
sumber dimana masalah diperoleh dengan mudah antara lain :
1. Pengamatan terhadap kegiatan manusia.
2. Bacaan.
3. Analisa bidang pengetahuan.
4. Cabang study yang sedang dikerjakan.
5. Pengalaman dan catatan pribadi.
6. Praktek serta keinginan masyarakat.
7. Bidang specialisasi.
8. Pelajaran dan mata ajaran yang sedang diikuti.
9. Pengamatan terhadap alam sekeliling.
10. Diskusi-diskusi ilmiah.

Cara Merumuskan Masalah


Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih maka tibalah saatnya masalah
tersebut dirumuskan. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan
hipotesa nantinya dan dari rumusan masalah dapat menghasilkan topik penelitian
atau judul dari penelitian.
Umumnya rumusan masalah harus dilakukan denga kondisi berikut :

48
1. Masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
2. Rumusan hendaklah jelas dan padat.
3. Rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan
masalah.
4. Rumusan masalah harus merupakan dasar dalam membuat hipotesa.
5. Masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian.
Misalnya, masalah yang dirumuskan adalah sebagai berikut :
“ Apakah hasil ladang akan bertambah jika dipupuk dengan pupuk K”
Membuat masalah penelitian merupakan hal yang sukar antara lain karena :
1. Tidak semua masalah di lapangan dapat diuji secara empiris.
2. Tidak ada pengetahuan atau tidak diketahui sumber atau tempat mencari
masalah-masalah.
3. Kadangkala sipeneliti dihadapkan kepada banyak sekali masalah
penelitian, dan sang peneliti tidak dapat memilih masalah mana yang lebih
baik untuk dipecahkan.
4. Adakalanya masalah cukup menarik, tetapi data yang diperlukan untuk
memecahkan masalah tersebut sukar diperoleh.
5. Peneliti tidak tahu kegunaan specifik yang ada di kepalanya dalam
memilih masalah.
Sesudah kita formulasikan masalah, maka langkah selanjutnya adalah
membangun tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan atau
statement tentang apa yang ingin kita cari atau yang ingin kita tentukan. Kalau
masalah penelitian dinyatakan dalam kalimat pertanyaan (bentuk introgatif).
Tujuan penelitian biasannya dimulai dengan kalimat :
“ Untuk menentukan apakah ..... atau Untuk mencari .... “ dan sebagainya. Tujuan
penelitian haruslah dinyatakan secara lebih specifik dibandingkan dengan
perumusan masalah. Jika masalah merupakan konsep yang abstrak, maka tujuan
penelitian haruslah konstrak yang lebih kongkrit.

RANGKUMAN

49
Pemecahan masalah yangdirumuskan dalam penelitian, sangat berguna
untuk membersihkan kebingunan kita akan suatu hal, untuk memidsahkan
kemenduaan, untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antar
kegiatan atau fenomena. Karenya penelitia harus dapat memilih suatu masalah
bagi penelitiannya, dan menrumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap
masalah tersebut.
Tujuan dari pemilihan serta perumusan masalah adalah :
- Mencari sesuatu dalam rangka pemuasan akademis seseorang.
- Memuaskan perhatian serta keingintahuan seseorang akan hal-hal yang baru
- Memenuhi keinginan sosial
- Menyediakan sesuatu yang bermanfaat
Ada beberapa ciri-ciri masalah yang harus diperhatikan, baik dilihat dari
segi isi (content) dari rumusan masalah, ataupun dari segi kondisi penunjang yang
diperlukan dalam pemecahan masalah yang telah dipilih. Ciri-ciri masalah yang
baik adalah :
- Masalah yang harus mempunyai nilai penelitian
- Masalah yang dipuluh harus mempunyai fisibilitas.
- Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti
Soal-soal
1. Tuliskan ciri-ciri masalah yang baik.
2. Perumusan masalah merupakan hulu dari penelitian dan merupakan
langkah yang penting . Sebutkan tujuan dari perumusan masalah.
3. Jelaskan darimana sumber untuk memperoleh masalah

50
BAB VII

MEMILIH VARIABEL DAN TEHNIK PENGUKURANNYA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab VII ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang konsep, kontrak, variabel dan difinisi variabel, reliabilitas dan validitas.

Sesudah masalah penelitian dirumuskan dan study kepustakaan dilakukan


maka tibalah saatnya bagi seorang peneliti untuk merumuskan hipotesa. Hipotesa
tersebut harus berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan. Peneliti juga
harus menentukan variabel-variabel mana yang akan digunakan dalam penyajian
hipotesa tersebut.
Dalam ilmu eksata variabel-variabel yang digunakan umumnya mudah
diketahui karena dapat dilihat ataupun divisualisasikan. Tetapi variabel-variabel
dalam ilmu sosial, sifatnya lebih abstrak sehingga sukar dijamah secara realita.
Variabel-varibel ilmu sosial berasal dari suatu konsep yang perlu diperjelas dan
diubah bentuknya sehingga dapat diukur dan dipergunakan secara operasional.
Alat pengukur yang tepat untuk mengukur variabel atau konsep sangat
penting artinya. Dengan adanya alat ukur yang tepat, peneliti dapat
menghubungkan suatu konsep yang abstrak dengan realita dan dapat merumuskan
serta menguji hipotesa tanpa memperoleh kesulitan. Masalah pengukuran
memegang peranan yang amat penting, lebih-lebih dalam penelitian ilmu-ilmu
sosial, karena variabel atau konsep yang dibentuk tidak dapat diraba serta
dimensinya tidak dapat dilihat dengan nyata.
Karena banyak variabel yang konsep dalam ilmu-ilmu atau konsep
dalam ilmu-ilmu sosial yang mempunyai dimensi lebih dari satu, maka perlu
diuraikan lebih dalam dimensi-dimensi yang dipercayai oleh konsep tersebut.

51
Kemudian barulah dipilih cara pengukuran, unit ukuran serta validitas dan
reabilitas dari alat yang digunakan.

Konsep, Konstrak dan Variabel


Ilmu sosial banyak menggunakan abstraksi-abstraksi yang dibuat secra
umum yang dinamakan konsep. Konsep menggambarkan suatu fenomena secara
abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang
khas.
Dalam ilmu-ilmu natura, konsep-konsep dapat dengan jelas diukur. Berat,
misalnya adalah konsep, yang menyatakan berbagai pengamatan dari sesuatu
objek yang cirinya ringan atau tidak ringan. Konsep-konsep dari ilmu natura,
sepert gaya, enerji, masa, luas, panjang, tinggi dan sebagainya, mudah sekali
dipikirkan. Dalam ilmu sosial dilain pihak terdapat juga konsep-konsep seperti
fertilitas dan fekunditas untuk menggambarkan kapasitas reproduksi, migrasi dan
mobilitas untuk menggambarkan fenomena bunuh diri, pemabuk, lesbian dan
sebagainya.
Umunya konsep dibuat dan dihasilkan oleh ilmuwan untuk keperluan ilmiah
yang khas dan tertentu. Konsep yang begini dinamakan konstrak (Contruct).
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai., misalnya
adalah konsep dan bukan variabel, karena badan tersebut tidak mempunyai
keragaman nilai. Sebaliknya besar badan, adalah variabel. Berat badan adalah
variabel, karena ada keragaman nilai. Sexs adalah variabel dan mempunyai dua
keragaman yaitu laki-laki dan perempuan.
Konsep bisa dibuat diubah menjadi variabel, caranya adalah dengan
memusatkan pada aspek tertentu dari variabel itu sendiri misalnya : konsep
perilaku kontrasepsi dapat diubah menjadi penggunaan kontrasepsi.
Umumnya variabel dibagi menjadi 2 bagian :
 Variabel kontimu (continous variable)
 Variabel deskrit (descrete variable).

Variabel Kontinu

52
Adalah variabel yang dapat kita tentukan nilainya dalam jarak jangkau
tertentu dengan desimal yang tidak terbatas.
Contoh : variabel ini misalnya berat, tinggi, luas, pendapatan dan sebagainya.

Variabel Descrete
Adalah konsep yang nilainya tidak dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan
atau desimal dibelakang koma. Variabel ini sering juga dinyatakan sebagai
variabel katagori. Kalau dia mempunyai dua katagori misalnya dikoton kelamin.
Jika lebih dari dua katagori disebut juga variabel politon misalnya tingkat
pendidikan.

Tehnik Pengukuran
Pengukuran adalah penetapan/pemberian angka terhadap objek atau
fenomena menurut aturan tertentu. Ada tiga buah kata kunci yang diperlukan
dalam memberikan definisi terhadap pengukuran tersebut yaitu :
 Angka
 Penetapan
 Aturan
Angka tidak lain dari sebuah simbol dalam bentuk 1, 2, 3, .... dan seterusnya.

Penetapan adalah memetakan (mapping)


Aturan adalah panduan atau perintah untuk melaksanakan sesuatu. Fungsi
dalam matematika adalah suatu aturan atau korespondensi.

REABILITAS DAN VALIDITAS


Setelah peneliti memilih ukuran untuk variabel maka timbul sekurangnya
dua pertanyaan lain yaitu ;
1. Bagaimana reliabilitas dari alat pengukur
2. Bagaimana validiatasnya.
Jika reliabilitas dan validitas tidak diketahui, maka akibatnya menjadi fatal
dalam memberikan kesimpulan ataupun dalam memberi alasanterhadap

53
hubungan- hubungan antar variabel. Bahkan secara luas, reabilitas dan validitas
mencakup mutu seluruh proses pengumpulan data sejak konsep disiapkan sampai
kepada data siap untuk dianalisis.

Reliabilitas
Reabilitas adalah menyangkut ketepatan alat ukur. Pengertian reliabilitas
dapat lebih mudah dipikirkan jika pertanyaan berikut terjawab :
1. Jika set objek yang sama diukur berkali-kali dengan alat ukur yang sama,
apakah kita akan memperoleh hasil yang sama?
2. Apakah ukuran yang diperoleh dengan menggunakan alat ukur tertentu
adalah ukuran sebenarnya dari objek tersebut?
3. Beberapa besar error yang kita peroleh dengan menggunakan ukuran
tersebut terhadap objek.
Jawaban terhadap pertanyaan tersebut tidak lain dari 3 aspek pengertian
tentang reliabitas. Suatu alat ukur disebut mempunyai reliabilitas tinggi atau
dapat dipercaya, jika alat ukur itu mantap dalam pengertian bahwa alat ukur
tersebut stabil, dapat diandalkan (dependability) dan dapat diramalkan
(predictability). Suatu alat ukur yang mantap tidak berubah-ubah pengukurannya
dan dapat diandalkan karena penggunaan alat ukur tersebut berkali-kali
memberikan hasil yang serupa.

VALIDIATAS
Reliabilitas alat ukur menunjukkan pada kita tentang sifat alat ukur dalam
pengertian apakah suatu alat ukur cukup akurat, stabil dan konsisten dalam
mengukur apa yang ingin diukur. Validiatas dilain pihak, mempersoalka apakah
benar-benar kita mengukur apa yang kita pikirkan sedang kita ukur?
Validitas banyak macamnya. Ada yang membagi validitas:
1. Concurrent validity (hubungan antar skor dengan kriteria penampilan)
2. Construct validity (kualitas psikologi yang diukur)
3. Vace validity (hubungan apa yang nampak untuk mengukur sesuatu)
4. Factorial validity (korelasi alat-alat ukur dengan faktor-faktor)

54
5. Empirical validity (hubungan antara skor dengan sebuah kriteria)
6. Intrinsic validity (penggunaan tehnik percobaan
7. Predictive validity (hubungan antar skor dengan suatu ktriteria).

RANGKUMAN
Alat pengukur yang tepat untuk mengukur variabel atau konsep sangat
penting artinya. Dengan adanya alat ukur yang tepat, peneliti dapat
menghubungkan suatu konsep yang abstrak dengan realita dan dapat merumuskan
serta menguji hipotesa tanpa memperoleh kesulitan. Masalah pengukuran
memegang peranan yang amat penting, lebih-lebih dalam penelitian ilmu-ilmu
sosial, karena variabel atau konsep yang dibentuk tidak dapat diraba serta
dimensinya tidak dapat dilihat dengan nyata.
Umunya konsep dibuat dan dihasilkan oleh ilmuwan untuk keperluan ilmiah
yang khas dan tertentu. Konsep yang begini dinamakan konstrak (Contruct).
Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai., misalnya
adalah konsep dan bukan variabel, karena badan tersebut tidak mempunyai
keragaman nilai. Sebaliknya besar badan, adalah variabel. Berat badan adalah
variabel, karena ada keragaman nilai. Sexs adalah variabel dan mempunyai dua
keragaman yaitu laki-laki dan perempuan.

Soal-soal
1. Bagaimana cara menetapakan atau memilih variabel dan menetukan
tehnik-tehnik pengukuran.
2. Jelaskan perbedaan antara konsep, konstrak dan variabel.
3. Tuliskan jenis-jenis ukuran yang ada dalam variabel.

55
BAB VIII

MERUMUSKAN DAN MENGUJI HIPOTESA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab VIII ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat
memahami dan mampu menjelaskan tentang difinisi hipotesa, ciri-ciri hipotesa, jenis-jenis hipotesa,
merumuskan hipotesa dan menguji hipotesa.

Memformulasikan hipotesa adalah suatu pekerjaan yang sukar dalam


penelitian. Hal ini terasa jika permasalahan yang ingin dipecahkan tidak
mempunyai kerangka teori yang jelas. Di lain pihak kesukaran merumuskan
hipotesa disebabkan oleh kurangnya kemampuan untuk menggunakan kerangka
teori secara logis disamping kurang mengenal tehnik serta metode penelitian yang
ada.
Suatu hal yang masih kontraversial adalah pertanyaan apakah hipotesa
diperlukan dalam suatu penelitian ? Sudah terang, jawabannya bisa “ ya “ dan bisa
juga “tidak “. Jika penelitian ilmiah adalah berkenaan dengan verifikasi, dimana
langkah pokok dituntun oleh komponen “ masalah hipotesa- data – analisa-
kesimpulan “ yang mana komponen-komponen ini dijalin oleh suatu kerangka
teori maka hipotesa ini tidak dapat dimungkiri merupakan langkah yang amat
penting dalam metode ilmiah. Dilain pihak jika penelitian masih bersifat
eksploratif dan deskriptif , maka hipotesa tidak diperlukan.

56
Penelitian eksploratif adalah penelitian pendahuluan sebelum penelitian
yang terperinci dan mendalam dilaksanakan. Karena itu penelitian yang demikian
belum memerlukan adanya hipotesa-hipotesa.
Hipotesa yang telah dirumuskan, kemudian diuji. Cara mengujinya
bergantung dari metode penelitian itu sendiri yang penting adalah, hipotesa harus
diuji dan dievaluasikan, hipotesa tersebut harus dicari kecocokannya dengan fakta
ataupun dengan logika.

Merumuskan Hipotesa
Definisi hipotesa
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang
kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesa menyatakan hubungan apa
yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesa adalah pernyataan yang
diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat
fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta panduan dalam verifikasi.
Trelease (1960), memberikan definisi hipotesa sebagai “ suatu keterangan
sementara dari suatu fakta yang dapat diamati “ sedangkan Good dan Scates
(1954) menyatakan bahwa “ Hipotesa adalah sebuah taksiran atau sebuah
referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat
menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan
digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah penelitian selanjutnya.
Secara garis besar , kegunaan hipotesa adalah sebagai berikut :
1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja
penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang
kadang kala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. Sebagai alat sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-cerai
tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan
antar fakta.
Tinggi rendahnya kegunaan hipotesa sangat bergantung dari :

57
 Pengamatan yang tajam dari sipeneliti.
 Imajinasi serta pemikiran kreatif dari sipeneliti.
 Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
 Metode serta desain penelitian yang dipilih oleh sipeneliti.

Ciri-ciri Hipotesa
Hipotesa yang baik, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
 Hipotesa harus menyatakan hubungan.
 Hipotesa harus sesuai dengan fakta.
 Hipotesa harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dan tumbuh dengan
ilmu pengetahuan.
 Hipotesa harus dapat diuji.
 Hipotesa harus sederhana.
 Hipotesa harus bisa menerangkan fakta.
Jenis-jenis hipotesa
Hipotesa dapat dibagi :
1. Hipotesa tentang perbedaan vs hubungan.
2. Hipotesa kerja vs hipotesa nul
3. Hipotesa common sense dan ideal.

Hipotesa tentang perbedaan dan hubungan


Hipotesa dapat kita bagi dengan melihat apakah pernyataan sementara yang
diberikan hubungan ataukah perbedaan. Hipotesa tentang hubungan adalah
pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel
atau lebih, yang mendasari tehnik korelasi ataupun regresi.
Sebaliknya hipotesa yang menyatakan perbedaan adalah ketidaksamaan antar
variabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda.
Hipotesa ini mendasari tehnik penelitian komperatif.

Hipotesa kerja dan hipotesa nul

58
Dengan melihat pada cara seorang peneliti menyusun pernyataan dalam
hipotesanya, hipotesa dapat dibedakan antara hipotesa kerja dan nul. Hipotesa nul
yang mula-mula diperkenalkan oleh bapak statistik Fisher, diformulasikan untuk
ditolak sesudah pengujian. Dalam hipotesa nul ini selalu ada inplikasi “tidak ada
beda “. Perumusan bisa dalam bentuk :
“ Tidak ada beda a ntara .... dengan.....”. Hipotesa nul dapat juga dalam bentuk : “
.... tidak mem.....”.
Hipotesa nul biasa nya diuji dengan menggunakan statistika, dan seperti
telah dinyataka di atas hipotesa nul ditolak. Dengan menolak hipotesa nul, maka
menerima hipotesa pasangan yang disebut hipotesa alternatif.
Hipotesa nul biasanya digunakan dalam penelitian experimental. Akhir-
akhir ini hipotesa nul juga digunakan dalam penelitian sosial, seperti penelitian di
bidang sosiologi, pendidikan dan lain-lain.
Hipotesa kerja mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di
dalamnya. Hipotesa kerja dirumuskan biasanya sebagai berikut :
“ Andaikata....., maka.....”
Hipotesa kerja biasanya diuji untuk diterima. Hipotesa ini dirumuskan oleh
peneliti sosial dalam desain yang nonexperimental.

Hipotesa tentang ideal dan Common sense


Hipotesa yang menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaja
dan common sense (akal sehat). Hipotesa ini biasanya menyatakan hubungan
keseragaman kegiatan terapan. Contohnya hipotesa sederhana tentang produksi
dan status kepemilikan tanah, hipotesa mengenai hubungan antara dosis
pemupukan dengan daya tahan terhadap insekta, hubungan antara kegiatan-
kegiatan dalam industri dan sebagainya.

RANGKUMAN
Hipotesa adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang
kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesa menyatakan hubungan apa
yang kita cari atau yang ingin kita pelajari. Hipotesa adalah pernyataan yang

59
diterima secara sementara sebagai suatu kebenaran sebagaimana adanya, pada saat
fenomena dikenal dan merupakan dasar kerja serta panduan dalam verifikasi.
Trelease (1960), memberikan definisi hipotesa sebagai “ suatu keterangan
sementara dari suatu fakta yang dapat diamati “ sedangkan Good dan Scates
(1954) menyatakan bahwa “ Hipotesa adalah sebuah taksiran atau sebuah
referensi yang dirumuskan serta diterima untuk sementara yang dapat
menerangkan fakta-fakta yang diamati ataupun kondisi-kondisi yang diamati dan
digunakan sebagai petunjuk untuk langkah-langkah penelitian selanjutnya.
Secara garis besar , kegunaan hipotesa adalah sebagai berikut :
1. Memberikan batasan serta memperkecil jangkauan penelitian dan kerja
penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubunagan antar fakta,
yang kadang kala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. Sebagai alat sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-cerai
tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan
antar fakta.
Jenis-jenis hipotesa
Hipotesa dapat dibagi :
1. Hipotesa tentang perbedaan vs hubungan.
2. Hipotesa kerja vs hipotesa nul
3. Hipotesa common sense dan ideal.

Soal-soal
1. Tuliskan apa yang disebut dengan hipotesa dan sebutkan kegunaan
hipotesa.
2. Terangkan ciri-ciri hipotesa

60
BAB IX

MENGUMPULKAN DATA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab IX ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang tentang pengumpulan data dengan observasi langsung, pengumpulan data
dengan wawancara dan pengumpulan data dengan quesioner.

Pendahuluan
Pengumpulan data tidak lain dari suatu proses pengadaan data primer untuk
keperluan penelitian. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting
dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data dikumpulkan digunakan,
kecuali untuk penelitian eksploratif, untuk menguji hipotesis.
Data yang dikumpulkan harus cukup valid untuk digunakan. Validitasi data
dapat ditingkatkan jika alat pengukur serta kualitas dari pengambil datanya sendiri
cukup valid. Dalam penelitian untuk bidang tertentu, seperti pada penelitian
beberapa masalah psikologis, si pengambil data adalah peneliti sendiri.
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode
mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah
memberi arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data. Banyak masalah
yang dirumuskan tidak akan bisa terpecahkan karena metode untuk memperoleh
data yang digunakan tidak memungkinkan, ataupun metode yang ada tidak dapat

61
menghasilkan data seperti yang diinginkan. Jika hal demikian terjadi, maka tidak
ada lain jalan bagi si peneliti kecuali menukar masalah yang ingin dipecahkan.
Secara umum metode pengumpulan data dapat dibagi atas beberapa
kelompok yaitu :
- Metode pengamatan langsung.
- Metode dengan menggunakan pertanyaan.
- Metode khusus.
Dalam pembagian diatas, dasar pembagian adalah sampai berapa jauh si
pengambil data langsung atau tidak langsung bergaul degan subjek penelitian.

Pengumpulan Data Dengan Observasi langsung


Pengumpulan data dengan observasi langsung adalah cara pengambilan data
dengan menggunakan mata tanpa ada pertolongan alat standar lain untuk
keperluan tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari kita selalu menggunakan mata
untuk mengamati sesuatu. Kita sering mengamati bulan purnama, mengamati
lampu warna-warni, mengamati gunung yang indah ataupun mengintip gadis yang
cantik sedang mandi di sungai. Tetapi yang dimaksud dengan pengamatan dalam
metode ilmiah, bukanlah kegiatan pengamatan seperti diatas. Penagamatan baru
tergolong sebagai tehnik mengumpulkan data, jika pengamatan tersebut
mempunyai kriteria berikut :
a.Pengamatan digunakan untuk penelitian dan telah direncanakan secara
sitematik.
b. Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah
direncanakan.
c.Pengamatan tersebut dicatat secara sistematik dan dihubungkan dengan
proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu set yang menarik
perhatian saja.
d. Penagamatan dapat dicek dan kontrol atas validitas dan realibilitasnya.
Penggunaan pengamatan langsung sebagai cara mengumpul data
mempunyai beberapa keuntungan :

62
1. Dengan cara pengamatan langsung terdapat kemungkinan untuk mencatat
hal-hal , perilaku, pertumbuhan dan sebagainya.
2. Pengamatan langsung dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak
dapat berkomunikasi secara verbal atau yang tak mau berkomunikasi
secara verbal.
Selain dari keuntungan yang telah diberikan di atas, pengamatan secara
langsung sebagai salah satu metode dalam mengumpulkan data, mempunyai
kelemahan-kelemahan. Kelemahan yang penting dari penagamatan langsunhg
adalah:
1. Kadang kala diperlukan waktu menunggu yang lama untuk memperoleh
pengamatan langsung terhadap suatu kejadian. Misalnya : jika seorang
ahli antropologi ingin mengetahui adat perkawinan suatu suku asing di
suatu daerah, maka ia harus menunggu sampai ada upacara tersebut.
2. Pengamatan terhadap suatu fenomena yang lama tidak dapat dilakukan
secara langsung. Misalnya untuk mengamati sejarah kehidupan seseorang
sejak bayi sampai meninggal tidak mungkin sama sekali. Tetapi life
history dari objek yang mempunyai durasi pendek, misalnya , sejarah
hidup dari lalat, masih bisa dilakukan dengan pengamatan langsung.
3. Ada kegiatan-kegiatan yang tidak mungking diperoleh datanya dengan
pengamatan langsung. Misalnya pertengkaran keluarga dan sebagainya.
Data yang dikumpulkan melalui pengamatan langsung ada yang dapat
dikuantifikasikan. Tetapi ini bukan berarti bahwa semua data yang diperoleh
secara pengamatan langsung harus dikuantifikasikan.
Secara umum pengamatan langsung ini dapat dibagi dua, yaitu :
- Pengamatan tidak bersruktur
- Pengamatan berstruktur
Untuk menentukan sesuatu pengamatan yang dilakukan tidak bertruktur atau
berstruktur, maka terdapat 4 pertanyaan dibawah ini harus dijawab oleh si peneliti
yaitu :
- Apa yang akan diamati
- Bagaimana pengamatan tersebut dicatat

63
- Prosedur apa yang digunakan untuk memperoleh pengamatan yang akurat
- Bagaimana hubunan antara pengamat dengan yang diamati dan bagaimana
hubungan tersebut dibina.

Pengumpulan Data Berstruktur


Pada pengamatan yang bersruktur, sipeneliti tidak mengetahui aspek-aspek
apa dari kegiatan-kegiatan yang ingin diamatinya relevan dengan tujuan
penelitiannya. Peneliti juga tidak mempunyai suatu rencana tentang cara-cara
pencatatan dari pengamatannya, sebelum ia memulai kerja pengumpulan data.
Pengamatan yang tidak berstruktur sering digunakan dalam penelitian antropologi
ataupun dalam penelitian yang sifatnya eksploratori.
Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam pengamatan berstruktur
adalah :
1. Isi dari pengamatan
2. Mencatat pengamatan
3. Ketetapan pengamatan
4. Hubunagan antara pengamatan dan yang diamati
Isi Pengamatan
Pertanyaan yang amat sukar untuk dijawab dalam hubungannya dengan
pengamatan yang tidak berstruktur adalah berikut ini :
Apakah yang ingin diamati? Karena dalam pengamatan yang tidak berstruktur,
peneliti sendiri tidak tahu apa yang akan diamati. Seyogianya, semua harus
diamati, asal saja yang berhubungan dengan masalah yang ingin dipecahkan.
Misalnya, peneliti ingin mengamati bagaimana seseorang ibu rumah tangga
menggunakan waktunya dalam berbelanja. Si peneliti mengamati frekwensi serta
tempat berbelanja. Tetapi kemudian ia heran bahwa ibu rumah tangga hanya
berbelanja sekali sebulan. Kemudian baru diketahui bahwa yang mempunyai
tugas berbelanja bukanlah ibu rumah tangga, tetapi suaminya sendiri. Karena itu
si peneliti mengubah fokus pengamatannya kepada sang suami dan tidak kepada
sang istri lagi, karena rupanya dalam masyarakat yang ditelitinya, sang istri
bertugas bekerja di sawah dan bukan berbelanja.

64
Karena tidak ada suatu ketentuan mengenai apa yang harus diamati oleh
peneliti dalam pengamatan tak berstruktur, maka beberapa aspek cek dapat
diberikan :

-Partisipan
Dalam hal ini peneliti mengadakan pengamatan untuk mengetahui siapa
partisipan dan bagaimana hubungan partisipan satu dengan yang lain.
Beberapa ciri-ciri partisipan yang ingin diketahui adalah sebagai berikut
- Seks
- Umur
- Pekerjaan
- Fungsional (tuan rumah, langganan dan sebagainya).
-Setting
Suatu keadaan atau kegiatan terjadi pada setting yang berbeda-beda seperti
rumah sakit, simpang jalan, pabrik, restoran, halaman, tanah lapang dan kampus.
Sehubungan dengan ini ingin juga diketahui bukan saja keadaan dari setting
tersebut, tetapi juga hal-hal yang berhubungan dengan perilaku seperti apa yang
dilarang atau apa yang dibolehkan dalam setting tertentu.
-Tujuan
Pengamatan juga difokuskan untuk melihat apakah tujuan terjadinya suatu
fenomena atau terjadinya suatu komunikasi, atau terbentukka suatu kelompok.
Apakah tujuan darifenomena, apakah untuk suatu gotong royong atau untuk suatu
yang antogonistis.
-Perilaku sosial
Peneliti juga ingin mengetahui apakah yang terjadi secara aktual. Apa yang
dikerjakan oleh partisipan dan bagaimana ia melakukannya? Dalam hubungannya
dengan perilaku, beberapa hal yang ingin diselidiki dapa :
- Stimulus apakah terjadi sehingga kejadian kejadian dimulai.
- Apakah kira-kira tujaunnya.
- Untuk siapa atau ke arah mana suatu perilaku ditunjukkan.

65
- Bentuk antivitas apa yang dinyatakan oleh perilaku (bercakap-cakap), lari,
duduk, mengenderai sepeda dan sebagainaya.
- Bagaimana kualitas dari perilaku (intensitas, kecocokan, lama, sopan,
congkak dan sebagainaya.
- Apakah akibat dari perilaku tersebut.

-Frekwensi Dan Lamanya Kejadian


Dalam hal ini pengamatan ditujukan untuk mengetahui bila suatu situasi
terjadi dan bila berakhir. Apakah fenomena tersebut berulang, ataukah suatu yang
terjadi itu merupakan suatu fenomena yang istimewa. Kegiatan apa yang
menyebabkan peristiwa tersebut terjadi. Apakah kejadian – kejadian terbut sudah
lumrah dan terjadi dalam intervala tertentu.

Mencatat Pengamatan
Dalam hal mencatat pengamatan yang tidak berstruktur, maka dua hal perlu
diperhatikana yaitu :
- Waktu pengerjaan pencatatan
- Bagaimana fenomena atau kejadian dicatat.
Waktu terbaik untuk mencatat pengamatan adalah langsung on the spot
ketika terjadi kejadian sedang berlaku. Pencatatan on the spot dapat mengurangi
bias yang disebabkan oleh kelupaan. Akan tetapi, pencatatan on the spot terhadap
perilaku mengakibatkan dua hal :
- Konsentrasi pengamatan menjadi berkurang.
- Dapat mengakibatkan tidak terjadinya sesuatu yang sebenarnya harus terjadi
akibat adanya reaksi kecurigaan dari objek.

Meningkatkan ketepan pengamatan


Untuk meningkatkan ketepatan penagamatan maka, ada beberapa cara yang
dapat ditempuh, antara lain :

66
- Peneliti menggunakan tape recorder untuk merekam pembicaraan.
Kelemahannya hanya dapat mencatat pembicaraan, tetapi tidaka dapat
merekam suatu perbiatan.
- Peneliti menggunakan kamera, tetapi hal ini terlalu mahal dan dapat
mengganggu kegiatan normal dan objek peneliti.
- Pengamat bukan terdiri dari satu orang saja, tetapi terdiri dari lebih dari satu
orang. Dalam hal ini masing-masing pengamat mencatat fenomena, dan
nanti catatannya masing-masing dibandingkan.

Pengamatan Berstruktur
Pengamatan berstruktur berbeda dengan pengamatan tidak berstruktur dalam
sistematis tidak adanya pengamatan yang dikukan.. Pada pengamatan bersruktur,
sipeneliti telah mengetahui aspek apa dari aktivitas yang diamatinya yang relevan
dengan masalah serta tujuan peneliti, dengan pengungkapan yang sistematis untuk
menguji hipotesisnya. Pengamatan bisa saja di lapangan, dilaboratarium, bisa
terhadap manusia, hewan ataupun tumbuh-tumbuhan. Jika digunakan desain
noneksperimental, maka sipeneliti tidak mempunyai kontrol terhadap variabel,
tetapi dalam pengamatan berstruktur, sipeneliti masih dapat secara lebih awal
menentukan secara umum, perilaku apa yang ingin diamati agar masalah yang
dipilih dapat dipecahkan. Pada desain metode ekperimental, sipeneliti dapat
mengadakan pengaturan terhadap beberapa perlakuan dan mengadakan kontrol
yang sesuai dengan keperluan menguji hipotesis dan memecahkan masalah
penelitian.
Isi pengamatan
Karena pengamatan yang bersruktur telah direncanakan serta sistematis,
maka sudah terang isi dari observasinya lebih sempit dan terarah dibandingkan
dengan isi pengamatan yang tidak berstrukur. Dalam menentukan isi dari
pengamatan, peneliti dapat menggunakan berbagai tehnik.
Pada pengamatan fenomena sosial, peneliti dapat menggunakan dua alat,
yaitu :
1. Sistem kategori

67
2. Menggunakan rating scale (skala nilai).
Mencatat pengamatan
Cara mencatat pengamatan tidak mempunyai standar tertentu, yang penting
adalah fenomena dapat dicatat dan perilaku dapat diketahui dengan jelas. Yang
paling mudah, lebih-lebih kesulitan pembiayaan, dengan menggunakan kertas
yang terdiri dari urutan kategori dan sel-sel dimana kategori tersebut ditandai.
Pencatat, dengan menggunakan pensil, memberi tanda pada katagori tersebut
dimanan perilaku tersebut cocok ditempatkan dalam sel tertentu. Ada juga
instrumen yang telah dibuat untuk mencatat dinamakan Chronograf ataupun
interaction recorder yang berguna untuk mencatat kategori yang terlalu banyak.
Meningkatkan reliabilitas pengamatan
Reliabilitas pengamatan dapat ditingkatkan dengan cara menjaga beberapa
hal mempengaruhi error pengamatan, antara lain:
a.Perumusan definisi yang tepat tentang kategori. Definisi yang kurang jelas
dan tidak lengkap tentang kategori yang ingin diamati yang berkaitan
dengan konsep-konsep yang dibuat, dapat mengurangi reliabilitas serta
valitas pengamatan.
b. Derajat kepercayaan dalam memutuskan suatu kategori harus lebih dahulu
ditetapkan sehingga dalam menilai suatu pengamatan, peneliti telah
mempunyai pegangan dalam menilai pengamatan tersebut.
c.Hindarkan persepsi kepentingan pribadi atau nilai sendiri dalam
pengamatan. Banyak sekali kejadian timbul error karena peneliti telah
merusak persepsi dengan menggunakan nila-nilai pribadi.
d. Adakan latihan yang intensif terhadap pengamat. Dalam hubungan ini
perlu dijelaskan prosedur pengamatan, tujuan dari penelitian, teori-teori
yang berhubungannya, tentang kategori serta peraturan-peraturan dalam
penggunaaanya. Adakan diskusi sebanyak mungkin.
e.Adakan pre-test pada kelompok kecil yang serupa dengan kelompok dimana
pengamatan yang sebenarnya akan dilakukan.
f. Gunakan lebih dari satu orang pengamat.

68
Hubungan antara pengamat yang diamati
Yang penting dalam hal ini adalah pengamat harus berbuat sedemikian rupa
supaya dia diterima dalam kelompok yang akan diamati, dan kelompok yang
diamati menyetujui penelitian dilakukan. Kelakuan pengamat harus dapat
menyakinkan kelompok yang diamati bahwa kehadiran pengamat tidak merugikan
kelompok yang sedang diamati. Kembangkan rapport sehingga perilaku
kelompok dapat terjadi secara wajar.

Beberapa Ciri Umum dari Pengamatan


Beberapa ciri umum dari metode observasi dalam mengumpulkan data
adalah sebagai berikut :
1. Harus secara jelas diamati apa yang ingin diamati
2. Perilaku dibuat dalam kategori-kategori
3. Unit yang digunakan dalam mengukur perilaku harus ada
4. Derajat inferensi yang diinginkan harus jelas diketahui
5. Harus punya derajat terapan atau generalisasi
6. Jenis serta besar sampel harus ditentukan
7. Pengamatan harus reliabel dan valid

Yang diamati harus jelas.


Dalam setiap pengamatan, apa yang diamati harus jelas. Misalnya, seorang
peneliti ingin melihat hubungan antara perilaku ketidak tergantungan dengan
kemampuan memecahkan soal ujian. Peneliti mempunyai hipotesis bahwa makin
kecil ketergantungan seorang murid, makin sanggupia memecahkan soal ujian.
Tetapi , harus diketahui apa itu ketidaktergantungan ? Apakah juka seorang anak
terus mengerjakan sesuatu sendiri adalah seorang anak yang menunjukkan
ketrgantunagan? Ataukan jika seorang anak selalu mengambil inisiatif dalam tiap
tindakan, ia tergantung atas sesuatu? Dari itu, peneliti perlu sekali memberi
definisi sejelas-jelasnya apa yang ingn diamati.

Membuat kategori

69
Apa yang ingin diamati harus dibuat dalam kategori-kategori. Kategori
sebaiknya dibuat secara eksaustif. Karena itu, peneliti harus memberi definisi
dulu terhadap universe perilaku yang ingin diamati. Dari universe ini baru dibuat
subset dankemudian kategori dari perilaku. Besar kecilnya universe bergantung
dari masalah penelitian dan tujuan penelitian.

Unit perilaku
Unit perilaku harus dibentuk, apakah dalam unit besar atau kecil. Secara
teori seseorang akan memperoleh reliabilitas yang lebih tinggi dengan
menggunakan unit yang kecil, mudah diamati dan mudah dicatat. Akan tetapi
terdapat reliabilitas yang tinggi tersebut dapat mengorbankan validitas. Dilain
pihak peneliti dapat menggunakan unit yang lebih umum, tapi dapat menghasilkan
suatu kekaburan dalam pengamatan, sehingga mengurangi reliabilitas, tetapi
meningkatkan validitas. Jika unit perilaku yang digunakan bersifat umum, sering
disebut sebagai pendekatan molar. Sebaliknya, jika pendekatan dilakukan dengan
unit yang kecil disebut pendekatan molecular.

Derajat inferensi pengamat


Pengamatan dapat dibedakan dengan melihat pada penggunaan inferensi
pengamatan. Jika unit dengan pendekatan molecular, inferensinya relatif kecil.
Umumnya, inferensi yang diinginkan jangan terlalu kecil dan jangan pula terlalu
besar. Inferensi medium agaknya lebih baik dalam membuat kategori-kategori.

Terapan dan sifat numum


Banyak sistem kategori yang dibentuk bersifat umum. Artinya, kategori
tersebut dapat digunakan pada banyak penelitian. Akan tetapi, ada juga sistem
kategori yang hanya dapat diterapakan pada suatu situasi saja dan bersifat sangat
specifik.

Sampling perilaku

70
Sebelum pengamatan dimulai maka harus diputuskan apakah semua perilaku
diamati ataukah hanya sampel dari perilaku saja yang diamati. Sampling perilaku
dapat merupakan event sampling (sampling kejadiannya) ataupun sampling waktu
yaitu, memilih pengamatan terhadap perilaku menurut waktu tertentu.

Pengamatan pada Penelitian Imu Natura


Dalam banyak hal, pengamatan juga dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu
natura. Misalnya dalam penelitian tentang pemupukan, peneliti meneliti “
perilaku “ serta pertumbuhan dari tanaman. Tetapi pengamatan dalam ilmu natura
lebih mudah, karena pengukuran dapat dilakukan tethadap bagian-agian tertentu
dari objek dengan menggunakan ukuran yang cukup eksak. Misalnya pengamatan
dilakukan terhadap berat tongkol jagung, terhadap panjang binatang ataupun
terhadap lebar dada dari hewan. Alat pengukurannya juga cukup jelas, apakah
menggunakan meteran atau menggunakan timbangan atau menghitung banyak
lubang misalnya dalam mengukur intensitas serangan.

PENGUMPULAN DATA DENGAN WAWANCARA


Selain dari pengumpulan data dengan cara pengamatan, maka dalam ilmu
sosial data dapat juga diperoleh dengan mengadakan interview atau wawancara.
Dalam hal ini informasi atau keterangan diperoleh langsung dari responden atau
informan dengan cara tatap muka dan bercaka-cakap.

Definisi
Yang dimaksud dengan wawancara adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tangan jawab, sambil bertatap muka antara
sipenanya atau pewawancara dengan menggunakan alat yang dinamakan
interview guide (panduan wawancara).
Walaupun wawancara adalah proses percakapan yang berbentuk tanya jawab
dengan tatap muka, wawancara adalah suatu proses pengumpulan data untuk suatu
penelitian. Beberapa hal dapat membedakan wawancara dengan percakapan
sehari-hari antara lain :

71
- Pewawancara dan responden biasanya belum saling mengenal sebelumnya
- Responden selalu menjawab pertanyaan.
- Pewawancara tidak menjuruskan pertanyaan kepada suatu jawaban tetapi
harus bersifat netral.
- Pertanyaan yang dinyatakan mengikuti panduan yang telah dibuat
sebelumnya. Pertanyaan ini dinamakan interview guide.

Wawancara Sebagai Proses Interaksi


Interview merupakan proses interaksi antara pewawancara dan responden.
Walaupun bagi pewawancara, proses tersebut adalah suatu bagian dari langkah-
langkah dalam penelitian, tetapi belum tentu bagi responden, wawancara adalah
bagian dari penelitian.
Dalam interaksi tersebut, masalah isyarat-isyarat yang berada dibawah
persepsi (subliminal cues) sukar dikenali karena antara pewawancara dan
responden belum saling mengenal. Karena itu, pewawancara sedapat mungkin
dapat memperbaiki wawasan atau pengertian dalam interaksi antara lain :
- Siaga terhadap banyak isyarat dan mencoba isyarat tersebut.
- Memcoba membawa isyarat tersebut kebatas dapat diberi makna.

Sasaran Isi Wawancara


Seperti telah dijelaskan, data yang diperoleh dengan tehnik wawancara
adalah dengan menanyakan sesuatu kepada responden. Sudah jelas, keterangan
tersebut diperoleh berdasarkan apa yang diketahui dan yang ingin diberikan oleh
responden, baik tentang :
- suatu fakta
- suatu kepercayaan
- suatu standar
- suatu alasan dan sebagainya.
Sasaran isi dari pertanyaan atau keterangan yang ingin diperoleh berjenis-
jenis banyak sifatnya dan sukar dikelompokkan dalam jenis-jenis umum. Tetapi

72
Selltiz (1964) mencoba mengelompokkan isi dari keterangan yang ingin diperoleh
dengan wawancara sebagai berikut :
1. Sasaran isi untuk memperoleh atau memastikan suatu fakta
2. Isi yang mempunyai sasaran untuk memastikan kepercayaan tentang
keadaan fakta.
3. Isi yang mempunyai untuk menemukan suatu standar kegiatan.
4. Isi yang mempunyai sasaran untuk mengetahui perilaku sekarang atau
perilaku terdahulu
5. Isi yang mempunyai sasaran mengetahui alasan-alasan.
Jawaban lain yang harus digali adalah jawaban ‘tidak tahu”. Jawaban ini
diberikan oleh responden sekurang-kurangnya, karena alasan tersebut :
a.Responden tidak mengetahui atau tidak mengerti tentang beberpa perkataan
dalam kalimat pertanyaan yang diajukan.
b. Responden tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan
segera.
c.Responden merasa takut untuk menjawab pertanyaan tersebut.
d. Responden tidak menginginkan memberikan jawaban terhadap pertanyaan
tersebut.

Menggali Keterangan Lebih Dalam


Jika keterangan yang diberikan masih bersifat sangat umum, maka perlu
digali keterangan tentang hal tersebut secara lebih mendalam. Bahkan dalam
banyak hal, jika banyak sekali jawaban “ tidak tahu “, peneliti perlu menggali
tentang jawaban “tidak tahu” tersebut, pada akhirnya diperoleh jawaban yang
jelas.
Untuk menghindari jawaban tidak tahu, pewawancara dapat menggunakan
pertanyaan-pertanyaan penyelidikan atau memberi sedikit penjelasan tentang
pertanyaan, kecuali alasan keempat yang diberikan di atas. Jika beberapa kata
yang tidak dipahami, maka buatlah pertanyaan lain sehingga perkataan yang tidak
dimengerti itu menjadi jelas.

73
Melaksanakan Wawancara
Wawancara dilakukan setelah persiapan untuk itu dimantapkan. Dlam
persiapan wawancara, sampel responden, kriteria-kriteria responden,
pewawancara serta interview guide telah disiapkan lebih dahulu.
Umumnya pewawancara memegang peranan yang amat penting dalam
memulai wawancara. Pewawancara harus dapat menggali keterangan-keterangan
dari responden dan harus dapat merasa serta dapat membawa responden untuk
memberikan :
1. Membuat responden merasa bahwa dengan memberikan keterangan
tersebut responden telah melepaskan kepuasannya karena suatu tujuan
tertentu telah tercapai.
2. Menghilangkan pembatas antara pewawancara dan responden sehingga
wawancara dapat berjalan lancar atau
3. Keterangan diberikan karena kepuasannya bertatap muka dan berbicara
dengan pewawancara.
Umumnya urut-urutan prosedur dalam memulai wawancara adalah sebagai
berikut :
a.Menerangkan kegunaan serta tujuan penelitian.
b. Menjelaskan mengapa responden terpilih untuk diwawancarai.
c.Menjelaskan institusi atau badan apa yang melaksanakan penelitian tersebut
d. Menerangkan bahwa wawancara tersebut merupakan sesuatu yang
confidential.

PENGUMPULAN DATA MELALUI DAFTAR PERTANYAAN


Alat lain untuk mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan, yang sring
disebutkan secara umum dengan nama kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan yang
tedapat dalam kuesioner atau daftar pertanyaan tersebut cukup terperinci dan
lengkap. Ini yang membedakan daftar pertanyaan dengan interview guide.

Isi dari Kuesioner/Schedule

74
Kuesioner atau schedule harus mempunyai center perhatian, yaitu masalah
yang ingin dipecahkan. Tiap pertanyaan harus merupakan bagian dari hipotesis
yang ingin diuji. Dalam memperoleh keterangan yang berkisar pada masalah
yang ingin dipecahkan itu, maka secara umum isi dari kuesioner atau schedule
dapat berupa :
1. Pertanyaan tentang fakta.
2. Pertanyaan tentang pendapat (opinion).
3. Pertanyaan tentang persepsi diri.

Cara Mengungkapkan Pertanyaan


Walaupun sukar untuk menentukan suatu aturan yang dapat berlaku umum
tentang cara mengungkapkan pertanyaan, beberapa petunjuk penting berkenaan
dengan hal dia atas perlu diketahui antara lain :
1. Jangan gunakan perkataan-perkataan sulit.
2. Jangan gunakan pertanyaan yang bersifat terlalu umum.
3. Hindarkan pertanyaan yang mendua arti (ambigous).
4. Jangan gunakan kata yang samar-samar.
5. Hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti (pertanyaan yang
dijuruskan).
6. Hindarkan pertanyaan yang berdasarkan presumasi (pertanyaan yang
sifatnya ingin ditanyakan.
7. Jangan membuat pertanyaan menakutkan responden.
8. Hindarkan pertanyaan yang menghendaki ingatan.

RANGKUMAN
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diperlukan. Selalu ada hubungan antara metode
mengumpulkan data dengan masalah penelitian yang ingin dipecahkan. Masalah
memberi arah dan mempengaruhi metode pengumpulan data. Banyak masalah
yang dirumuskan tidak akan bisaterpecahkan karena metode untuk memperoleh
data yang digunakan tidak memungkinkan, ataupun metode yang ada tidak dapat

75
menghasilkan data seperti yang diinginkan. Jika hal demikian terjadi, maka tidak
ada lain jalan bagi si peneliti kecuali menukar masalah yang ingin dipecahkan.
Beberapa ciri umum dari metode observasi dalam mengumpulkan data
adalah sebagai berikut :
1. Harus secara jelas diamati apa yang ingin diamati
2. Perilaku dibuat dalam kategori-kategori
3. Unit yang digunakan dalam menguku perilaku harus ada
4. Derajat inferensi yang diinginkan harus jelas diketahui
5. Harus punya derajat terapan atau generalisasi
6. Jenis serta besar sampel harus ditentukan
7. Pengamatan harus reliabel dan valid

Soal-soal
1. Secara umum metode pengumpulan data dapat dibagi atas beberapa
kelompok jelaskan.
2. Terangkan macam-macam kriteria tehnik pengumpulan data.
3. Tuliskan ciri umum dari metode observasi dalam mengumpulan data
4. Sebutkan apa yang dimaksud dengan :
a. Wawancara
b. Kuesioner
c. Schedule
d. Pretest

76
BAB X

DESAIN PERCOBAAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab iv ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang ciri –ciri desain percobaan, prinsip dasar desain percobaan, kebaikan dan
kelehan desain percobaan dan perlakuan faktor.

Definisi Desain Percobaan


Desain percobaan adalah semua proses yang diperlukan dalam
merencanakan dan melaksanakan percobaan. Secara sempit, desain penelitian
sering ditafsirkan sebagai suatu proses merencanakan percobaan sehingga hasil
yang diperoleh dari percoaan ini dapat memecahkan masalah secara mantap.
Tetapi sebenarnya, desain percobaan bukan saja memberikan proses perencanaan,
tetapi juga mencakup langkah-langkah :
 berurutan
 menyeluruh
 komplit
 dibuat lebih dahulu
 cara pelaksanaan percobaan
Supaya peneliti yakin bahwa data yang diperoleh dapat dianalisa secara objektif
dan dapat digunakan untuk mengadakan suatu iferensi yang valid berkenaan
dengan masalah yang sedang diselidiki.

77
Guna Desain Percobaan
Desain percobaan sangat diperlukan dalam melakukan penelitian
eksperimental. Guna dari desain percobaan adalah untuk memperoleh suatu
keterangan yang maksimum mengenai cara membuat percobaan dan bagaimana
proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan akan dilakukan.
Untuk melihat pentingnya desain percobaan dalam penelitian eksperimental.
Bisa kita lihat pada contoh ini. Seorang peneliti ingin menentukan pengaruh dari
inseksisida terhadap hama jagung. Peneliti tersebut mempunyai sepuluh jenis
insektisida dan mempunyai dua puluh petak tanah atau plot tanah untuk ditanami
jagung. Beberapa pertanyaan timbul dalam benak sipeneliti :
 Ciri-ciri apakah yang dianalisis, sehingga dapat diukur pengaruh dari
insektisida terhadap hama jagung
 Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi karakter atau ciri-ciri yang akan
dianalisis
 Faktor-faktor mana saja yang akan diselidiki dalam percobaan tersebut
 Berapa kalikah percobaan dasar perlu dikerjakan ?
 Dalam bentuk apa analisis akan dikerjakan ?
 Sampai berapa besar suatu pengaruh yang terjadi, baru dapat diterima
sebagai suatu pengaruh yang penting.
Dari pertanyaan diatas maka nyata kepada kita bahwa proses perencanaan
serta pelaksanaan percobaan perlu memperoleh pemikiran yang sungguh-sungguh.
Peneliti harus lebih dahulu memikirkan langkah-langkah serta jenjang
perencanaan dari percobaan yang akan dilakukannya.

Jenis-jenis Desain Penelitian


Suatu desain penelitian harus mempunyai ciri-ciri tertentu dan harus
memberikan keterangan yang cukup untuk memecahkan masalah yang sedang
diteliti atau dicoba. Jika penelitian dirancang dengan hanya mempunyai sedikit
saja ciri-ciri suatu desain percobaan, maka desain tersebut dinamakan desain
praekperimental. Dilain pihak ada juga desain penelitian percobaan dimana
sebagian besar saja dari cir-ciri desain percobaan terdapat didalamnya. Desain

78
demikian disebut desain ekperimental semu. Sedangkan desain percobaan yang
mempunyai ciri-ciri lengkap diperlukan oleh sebuah desain tersebut mempunyai
validitas yang tinggi, dinamakan desain eksperimental.

CIRI DAN PRINSIP DASAR DESAIN PERCOBAAN


Ciri-ciri Desain percobaan sebagai berikut
a) Variabel-variabel serta kondisi yang diperlukan diatur secara ketat dan
dikontrol. Manipulasi terhadap variabel baik secara langsung atau tidak
langsung dilakukan .
b) Variabel-variabel yang ingin diteliti selalu dibandingkan dengan variabel
kontrol.
c) Analisis variance selalu digunakan, yang mana analisis ini berusaha untuk:
o Meminimalkan variance dari error.
o Meminimalkan variabel yang tidak termasuk dalam variabel-
variabel yang ingin diteliti.
o Memasimalkan variance dari variabel-variabel yang diteliti dan
yang berkaitan dengan hipotesis yang dibangun.
Validitas dalam Desain Percobaan
Dalam desain percobaan, validitas menyangkut petanyaan : Apakah seorang
peneliti mengukur apa yang dipikirkan oleh sipeneliti yang diukur ? Dalam desain
percobaan , terdapat dua jenis validitas yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Validitas eksternal
2. Validitas Internal.
Validitas eksternal
Jika hasil dari percobaan dapat dibuat generalisasi untuk memberi ukuran
terhadap populasi secara mantap, maka yang dipersoalkan adalah validitas
eksternal. Suatu desain percobaan harus mempunyai validitas yang tinggi. Untuk
ini, randominisasi atau sampling harus diusahakan semaksimal mungkin. Dengan

79
eksternal validitas yang tinggi, hasil dari percobaan akan cukup representatif
untuk mewakili populasi.
Validitas internal.
Pertanyaan yang lain yang perlu dijawab adalah apakah perbedaan yang
ditujukan dalam percobaan tersebut benar-benar disebabkan oleh variabel-variabel
yang sedang diteliti, ataukah barangkali disebabkan oleh variabel lain ? Untuk
menjawab maka diperlukan validitas internal yang tinggi. Suatu desain percobaan
harus dibuat sedemikian rupa sehingga perbedaan yang diperlihatkanbenar-benar
disebabkan oleh perlakuan yang diperlukan, bukan oleh faktor atau variabel lain
diluar ini.

Tiga prinsip Dasar Desain Percobaan


Dalam rangka meningkatkan, desain percobaan harus diarahkan kepada
meningkatkan validitas eksternal dan internal dari suatu percobaan. Untuk ini,
ada tiga prinsip dasar yang perlu diketahui yaitu :
1. Replikasi
2. Randominasi (berhubungan dengan validitas eksternal ).
3. Kontrol internal (yang berhubunagan dengan validitas internal).
Replikasi
Yang dimaksud dengan replikasi adalah pengulangan dari percobaan dasar
yang berguna Untuk :
 Memberikan suatu error estimasi. Error estimasi ini diperlukan sebagai unit
untuk mengukur signifikasi tidaknya beda yang diperoleh dan juga untuk
mengukur jarak interval kepercayaan (confidence interval).
 Memberikan estimasi yang lebih tepat terhadap error percobaan
 Memperoleh estimasi yang lebih baik terhadap pengaruh mean (mean effect)
dari tiap faktor.
Unit percobaan adalah sebuah unit dimana percobaan dilaksanakan.
Misalnya, 20 plot jagung adalah unit eksperimen. Sebuah kelas percobaan dengan
30 murid adalah unit percobaan. Dalam melakukan percobaan maka akan terlihat
adanya kegagalan untuk memberikan hasil yang serupa, walaupun kedua

80
percobaan tersebut memperoleh perlakuan yang sama. Kegagalan ini disebabkan
oleh banyak hal antara lain :
 Kesalahan dari percobaan yang sedang dilakukan
 Kesalah pengamatan
 Kesalah pengukuran
 Variasi dari bahan yang digunakan dalam percobaan
 Pengaruh kombinasi dari faktor-faktor yang luar biasa

Error percobaan dapat dikurangi dengan jalan :


 Menggunakan bahan atau material percobaan yang lebih homogen
 Mengadakan stratifikasi yang lebih hati-hati
 Menggunakan desain percobaan yang lebih cocok.
Jumlah replikasi yang perlu dibedakan bergantung dari banyaknya hal.
Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi banyaknya replikasi suatu percobaan
adalah :
 Luas serta jenis percobaan
 Bentuk unit percobaan
 Derajat ketelitian yang diinginkan.
 Tersedianya materi percobaan (alat-alat, tanah, ruang kelas, mahasiswa,
guru, marmut dan sebagainya.
Secara praktis, jumlah replikasi yang digunakan adalah sedemikian rupa, sehingga
degree of freedom dalam analisis variance nantinya tidak boleh kurang dari 10 –
15%.

Randominisasi
Seperti sudah diterapkan, replikasi dapat memberikan estimasi yang lebih
baik untuk error percobaan. Dengan adanya replikasi, maka dimungkinkan
menguji signifikasi dapat dilakukan atau :
Replikasi → Error percobaan → Uji signifikasi.

81
Supaya uji signifikasi valid, maka diperlukan randomisasi. Uji signifikasi
dikatakan valid, jika beberapa hal terpenuhi, yaitu pengamatan didistribusikan
secara bebas. Untuk mendekati terdapatnya pengamatan yang mempunyai
distribusi di atas, maka pengambilan sampel harus dilakukan secara random.
Kegunaan Randominisasi ini, selain membuat uji signifikasi menjadi valid, juga
berguna :
 untuk mengurangi bias.
 dapat menghilangkan yang disebabkan oleh pilih kasih.

Kontrol Internal
Yang dimaksud dengan kontrol internal adalah banyaknya perimbangan,
blocking, yang dikelompokkan dari unit-unit percobaan yang digunakan dalam
percobaan. Kontrol internal berguna untuk membuat prosedur uji lebih kuat, lebih
efisien dan lebih sensitif.
Pengelompokkan atau gruping adalah membagi unit-unit percobaan dalam
kelompok yang homogen. Tiap unit percobaan dalam suatu kelompok harus
memperoleh perlakuan yang sama. Misalnya : jika seorang peneliti mengadakan
tentang pengaruh sejenis obat dengan tiga macam dosis terhadap manusia, maka
ia akan megelompokkan unit percobaan diatas tiga kelompok. Tiap kelompok
disuntik obat yaitu kelompok 1 dengan dosis A, kelompok 2 dengan dosis B dan
kelompok 3 dengan dosis C. Kita lihat bahwa unit percobaan tiap kelompok harus
homogen dan tiap kelompok memperoleh hanya satu perlakuan saja.
Yang dimaksud dengan blocking adalah membagi unit-unit percobaan dalam
kelompok yang homogen, tetapi tiap kelompok dibagi lagi dalam beberapa
kelompok lain. Pengelompokkan pertama dinamakan bocking dan dari masing-
masing blok dibuat perlakuan yang digunakan tidak homogen.

Perlakuan dan Faktor


Dalam membicarakan desain percobaan, istilah perlakuan dan istilah faktor
sering sekali dijumpai. Kedua istilah tersebut adalah teknis yang artinya adalah
sebagai berikut :

82
Perlakuan
Perlakuan (treatment) adalah suatu set khusus yang dikenakan atau yang
dilakukan terhadap sebuah unit percobaan dalam batas-batas desain yang
digunakan. Contoh dari perlakuan sebagai berikut :
- Dalam percobaan agronomi, perlakuan bisa saja sejenis pupuk, sejumlah
pupuk, jarak tanam, varietas tanam, pestisida dan lain-lain.
- Dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, perlakuan bisa saja umur, jenis kelamin,
jumlah tahun sekolah, motivasi dan sebagainya.
- Dalam penelitian peternakan, perlakuan bisa saja turunan lembu, jenis
kelamin hewan, canpuran makanan ternak dan sebagainya.
Jika pada sebuah percobaan dijumpai lebih dari satu perlakuan, maka
disebut perlakuan kombinasi. Misalnya : jarak tanam dan pupuk, varietas dan
dosis pupuk, umur dan jenis kelamin dan sebagainya.
Misalnya kita mempunyai suatu percobaan untuk meneliti pengaruh jarak
tanam terhadap produksi-produksi padi. Ada tiga jarak tanam yang dicoba yaitu :
- Jarak tanam 25 x 25 cm
- Jarak tanam 20 x 20 cm
- Jarak tanam 15 x 15 cm
Dalam percobaan tersebut terdapat tiga buah perlakuan yaitu tiga jenis jarak
tanam dan ini disebut tanpa kombinasi.
Ada sebuah percobaan lain yaitu : pengaruh varietas padi terhadap produksi
misalnya : dicoba empat jenis varietas padi yaitu :
- Varietas PB 8
- Varietas PB 5
- Varietas Sirendah
- Varietas Tangkai Rotan.
Dalm percobaan tersebut terdapat empat buah perlakuan yaitu, keempat jenis
varietas padi yang dicoba.
Jika kedua percobaan diatas digabung menjadi suatu percobaan, yang
meneliti pengaruh jarak tanaman dan varietas padi terhadap hasil, maka yang

83
dilakukan adalah suatu perlakuan kombinasi. Banyaknya kombinasi adalah
sebanyak perlakuan pertama dikalikan dengan perlakuan yang kedua, yaitu 3 x 4
= 12 buah perlakuan.

Faktor dan Faktorial


Dalam banyak percobaan, si peneliti bekerja dengan lebih dari satu
perlakuan atau lebih dari satu variabel bebas. Dalam bahasa desain percobaan,
variabel bebas demikian disebut juga faktor. Faktor ini sering dijabarkan dalam
huruf kecil. Misalnya, dalam suatu penelitian yang menyangkut pemupukan,
jarak tanam dan musim, maka ketiga variabel bebas di atas ditulis sebagai :
p = jenis pupuk yang digunakan
d = jarak tanam
m = musim
Jika suatu percobaan kombinasi dilakukan, dengan 4 jenis pupuk, 3 jarak
tanam dan 2 musim, perlakuan diatas dituliskan sebagai berikut :

p1 p2 p3 p4
d1 d2 d3
m1 m2

Harga atau nilai dari faktor dinamakan level dari faktor. Dari percobaan
diatas kita peroleh :
4 level dari pupuk.
3 level dari jarak tanama.
2 level musim.
Jumlah perlakaun adalah perkalian dari level faktor. Pada percobaan diatas jumlah
perlakuan adalah 4 x 3 x 2 = 24 dan disebut juga dengan percobaan tiga faktorial.

Kebaikan Dan Kelemahan Desain Percobaan


Desain percobaan, umumnya lebih banyak kebaikan dibandingkan dengan
kelemahannya. Kebaikan dari desain percobaan adalah sebagai berikut :

84
a.Dengan adanya desain percobaan maka telah terjalin kerja sam antara ahli
statistik dengan peneliti dalam menganalisis dan memberikan interprestasi
terhadap data.
b. Dalam percobaan, peneliti dapat membuat preplanting yang sistematis
terlebih dahulu.
c.Perhatian dapat ditujukan terhadap hubunga-hubungan tertentu dalam
mengukur dan mengenal sumber-sumber variasi.
d. Jumlah uji yang digunakan dapat ditentukan lebih dahulu dengan tingkat
kepercayaan yang tinggi.
e.Dengan adanya pengelompokkan, maka pengaruh yang dapat diukur secara
lebih tepat.
f. Kesimpulan yang diperoleh dapat diketahui secara pasti dengan kepastian
matematika.
Kelemahan dari desain percobaan antara lain :
a.Desain dan analisis percobaan selalu dinyatakan dalam “bahasa” ahli-ahli
statistik.
b. Desain percobaan menghendaki biaya yang besar dan juga memakan
waktu.

Langkah-langkah Pokok
Dalam membuat desain percobaan, maka buatlah sejenis check list tentang
hal-hal berikut :
Berikan penjelasan tentang masalah :
- Sampai di mana cakupan area dari masalah
- Identifikasi outline masalah serta limitasi-limitasi yang terkandung
didalamnya.
- Berikan skope atau jangkauan dari program serta perencanaan percobaan
tersebut
- Tentukan hubungan dari masalah yang khas dengan masalah keseluruhan.

Kumpulkan keterangan yang tersedia :

85
- pelajari dan selidikai semua keterangan dari sumber-sumber yang ada
tentang masalah serta percobaan yang akan dibuat.
- catat dan tabulasikan data yang ada hubungannya dengan percobaan yang
akan dilakukan.
Buat program mengenai desain percobaan
a.Diskusikan dengan anggota peneliti hal-hal berikut :
- Perumusan hipotesis yang mau diuji
- Pemilihan variabel-variabel yang akan digunakan.
- Pembuatan dari alternatif hasil yang bakal ditemui
- Pemilihan range yang praktis dari faktor-faktor tersebut dan level yang akan
digunakan.
- Penentuan ukuran yang digunakan
- Pertimbangan ukuran yang akan digunakan.
- Pertimbangan terhadap efek variabilitas sampling dan keterangan yang akan
digunakan dalam percobaan.
- Pertimbangan-pertimbangan tentang kemungkinan adanya interaksi.
- Penentuan limitasi waktu, biaya, tenaga, alat-alat, kondisis tanah, iklim serta
fasilitas lainnya.
- Pertimbangan mengenai hal-hal yang menyangkut hubungan-hubungan lain
antar manusia.
b.Rencana progaram pendahuluan.
- Buatlah yang sitematis tentang pekerjaan yang akan dilakukan.
- Berikan kemungkinan-kemungkinan akan terjadinya perubahan jadwal
- Hilangkan pengaruh-pegaruh variabel yang tidak dinginkan dengan
mengadakan kontrol, randominisasi dan balancing.
- Perhatikan supaya jumlah percobaan yang dilakukan jangan terlalu banyak.
- Pilihlah metode statistik yang akan digunakan dalam analisis.
- Jajaki jalan untuk memperoleh yang terbaik.

c.Telaah kembali desain yang akan digunakan dengan pertimbangan-


pertimbangan yang lebih masak.

86
- Dari saran-saran yang diterima, adalah perbaikan terhadap desain yang
dipilih terdahulu.
- Susun langkah-langkah yang akan dilakukan dalam bahasa yang dapat
dimengerti.

d.Rencanakan pelaksanaan percobaan


- Pilihlah metode, material serta alat-alat yang digunakan
- Laksanakan metode dan tehnik yang dipilih
- Cek sekali lagi semua hal yang berkenaan dengan percobaan, dan juka perlu
adakan modifikasi.
- Catat segala modifikasi yang dilakukan.
- Kumpulkan data secara hati-hati.
- Catat progres dari percobaan.

e.Analisis data
- Data yang dicatat perlu diubah dalam bentuk angka.
- Digunakan teknik matematika dan statistik yang cocok.
Desain Praeksperimental
Desain praeksperimental adalah desain percobaan yang tidak mencukupi
semua syarat-syarat dari suatu desain percobaan sebenarnya. Beberapa desain pra
ekperimental adalah sebagai berikut :
- One “shot case study”
- Desain “Satu kelompok Pretest-Pretes”
- Desain “Randomized Control Group Only
One-Shot Case Study
Dalam One Shot case study, perlakuan dikenakan pada suatu kelompok unit
percobaan tertentu, kemudian diadakan pengukuran terhadap variabel dependen.
Dalam percobaan ini digunakan hanya satu kelompok unit percobaan tanpa
kontrol. Misalnya menyajikan suatu pelajaran dengan sistem ceramah. Kemudian
diukur pengaruh memberikan ceramah tersebut dengan mengadakan ujian setelah

87
ceramah diberikan. Prestasi belajar kelompok tersebut diukur berdasarkan hasil
post test di atas dengan mencari mean-nya.
Keuntungan
Desain ini berguna untuk mengembangkan suatu prakarsa atau sebagai desain
untuk penelitian eksploratori atau penelitian pendahuluan.
Kelemahan
- Desain ini tidak mempunyai kontrol, karenanya validitas eksternal tidak ada
sam sekali. Validitas eksternal juga tidak ada, karena kesimpulan yang
diperoleh tidak mempunyai jaminan ketepatan.
- Desain ini tidak mempunyai dasar untuk membuat perbandingan, kecuali
secara objektif.
Desain One Group Pretest-Pretest
Dalam desain ini, kepada unit percobaan dikenakan perlakuan dengan dua
kali pengukuran. Pegukuran pertam dilakukan sebelum perlakuan diberikan, dan
pengukuran kedua dilakukan sesudah perlakuan dilaksana. Desain ini merupakan
perbaikan sebelumnya.
Desain Randomized Control Group Only
Pada desain ini, populasi dibagi atas dua kelompok, secara random.
Kelompok pertama merupakan unit percobaan untuk perlakuan dan kelompok
kedua merupakan kelompok untuk suatu kontrol. Kemudian dicari perbedaan
antara mean pengukuran dari keduanya dan perbedaan ini dianggap disebabkan
oleh perlakuan.
Prosedur dalam melaksanakan percobaan dengan desain di atas adalah
sebagai berikut :
Pilihlah unit percobaan secara random dari suatu populasi
Jagalah supaya kedua kelompok tersebut mempunya homogenitas yang tinggi.
Gunakan perlakuan terhadap kelompok percobaan dan tanpa perlakuan pada
kelompok (kontrol).
Ukurlah hasil perlakuan, misalnya dengan melakukan posttest seperti contoh yang
telah lalu.

88
Hitunglah mean dari masing-masing ukuran kelompok dan bandingkan dengan
menggunakan statistik yang cocok.
Keuntungan
Desain ini mempunyai validitas yang lebih tinggi, karen mempunyai
randomisasi dan kontrol. Juga pengaruh confounded antara pengukuran pertama
dan pengukuran kedua tidak ada, karena pengukuran perama )pretest) tidak
dilakuakn.
Kekurangan
Beberapa pengaruh luar belum tentu dihilangkan, antara lain error history,
intrumentasi dan error testing.

Dasain Eksperimental Semu


Desain percobaan yang belum secukupnya mempunyai sifat-sifat suatu
percobaan sebanarnya, dinamakan desain eksperimental semu.
Desain percobaan ini mempunyai banyak kekurangan baik dalam masalah
randomisasi, replikasi ataupun masalah kontrol internal. Karena kekurangan –
kekurangan ini, penelitian tersebut belum mempunyai cukup syarat untuk disebut
percobaan sebenarnya.
Desain-desain dalam kelompok ini yang banyak dilakukan dalam penelitian
sosial antara lain :
 Desain korelasi dan ex post facto
 Analisis regresi-discontinuity
 Desain multiple time series
 Desain separate sample pretest postest contro group.
 Desain separate sample pretest-posttest.
 Desain counter balenced
 Desain non equivalent control group
 Desain equivalent material
 Desain equivalent time sample.

89
Desain Percobaan Sebenarnya
Desain percobaan sebenarnya adalah desain dimana aturan untuk
menempakkan
perlakuan pada unit percobaan dibuat sedemikian rupa, sehingga memungkinkan
membuat perbandinagan antar kelompok dengan validitas tinggi dan dapat
mengontrol sumber-sumber variasi pada percobaan tersebut. Bergantung dari
jenis percobaan , apakah dengan faktor percobaan sebenarnya yang sering
digunakan dapat dibagi atas tiga kelompok. Ketiga desain tersebut adalah berikut
ini :
a.Compklete Block Desain, yang digunakan pada percobaan sederhana dengan
beberapa perlakuan saja.
b. Incomplede Block Desain, yang biasanya digunakan pada percobaan yang
mempunyai banyak perlakuan dimana semua perlakuan tidak dapat
ditempatkan pada blok yang homogen.
c.Split-plot Desain, yang biasa digunakan pada percobaan faktorial, dimana :
1. Banyak sekali perlakuan tertentu memerlukan plot yang lebih besar
dibandingkan dengan beberapa perlakuan lainnya.
2. Perlakuan-perlakua tertentu memerlukan plot yang lebih besar
dibandingkan degan beberapa perlakuan lainnya.

Beberapa desain Sederhana Dalam Ilmu Natura


Penggunaan penelitian eksperimental telah cukup berkembang di dalam
ilmu natura. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dilihat, bahwa
penggunaan desain percobaan sudah begitu membudaya di dalam percobaan-
percobaan ilmu natura.
1. Randomized Block Desaign
2. Randomized Complete Desaign
3. Latin Square Desaign
4. Lattice Desaign.

90
Randomized Bloct desaign
Desain ini sering juga disebut Complete Randomized Desaign. Desain ini
sering digunakan jika percobaan bersifat homogen seperti percobaan dalam
laboratarium dimana cuaca dapat dikontrol. Desain ini jarang digunakan di
lapangan.
Randomized dilakukan dengan menempatkan perlakuan secara random terhadap
unit percobaan. Randomized biasanya dilakukan dengan menggunakan tabel
angka random (Random Table Random).

Design Randomized Complete Block


Desain ini adalah desain yang banyak digunakan dalam percobaan pertanian.
Desain ini mempunyai ciri khas, dimana unit percobaan dibagi dulu atas beberapa
blok. Jumlah blok harus sama dengan jumlah replikasi. Tiap blok mengandung
semua perlakuan yang diberikan, dengan adanya blockin, maka akan terdpat
heterogenitas antar blok dan akan diperoleh homogenitas yang relatif tinggi dalam
masing-masing blok.
Dalam pembuatan desain ini, mula-mula unit percobaan dibagi atas blok,
jumlah blok harus sama dengan jumlah replikasi. Tiap blok, kemudian dibagi lagi
dalam plot, yang mana jumlah tiap blok sama dengan jumlah perlakuan.
Desain Latin Square
Pada desain Randomized Complete Bock daerah yang bisa diblok hanya
menuju dalam satu arah saja. Tetapi pada desain Latin Square, blocking dapat
dilakukan dalam dua arah.
Desain Lattice
Desain Lattice adalah desain blok yang tidak komplet. Desain Lattice
digunakan jika jumlah perlakuan terlalu besar, sehingga tidak effisien lagi
dikerjakan desain Lattice Square dan desain lain. Dengan menggunakan desain-
desain tersebut diatas pada percobaan yang perlakuan terlalu banyak, peneliti amat
sukar untuk mengontrol error yang terjadi. Untuk menanggulangi kesukaran ini
maka peneliti menggunakan desain incomplete dan yang sering digunakan adalah
desain llatice.

91
Dalam penelitian pertanian, desain blok yang tidak complete (incomplete
block design) yang sering digunakan adalah desain balanced lattice dan partially
balance, mempunyai syarat-syarat berikut :
- Jumlah perlakuan harus pangkat dua seperti 52 = 25, 81, 100, 16 dan
sebagainya.
- Jumlah plot dalam tiap blok harus sama dengan akar jumlah perlakuan.

Beberapa Desain Dalam Ilmu sosial


Desain percobaan bukan saja milik ilmu natura, tetapi juga telah banyak
dalam ilmu sosial, lebih-lebih dalam ilmu pendidikan. Denga percobaan dalam
ilmu sosial mempunyai dasar yang sama dengan desain pada percobaan ilmu
natura, hanya namanya saja yang ada kalanya berbeda.
Dua buah desain percobaan dalam ilmu pendidikan dibawah ini yaitu :
1. Desain Randomized Control Group Pretest-Postest.
2. Desain Randomized Solomon Four Group

Desain randomized Control Group Pretest-Postest


Desain ini dalam bentuknya yang sederhana terdiri hanya stu perlakuan
sebuah control. Akan tetapi bisa dikembangkan menjadi beberapa perlakuan.
Untuk desain dengan satu desain perlakuan, prosedur yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
a.Pilihlah unit percobaan secara random.
b. Bagi unit percobaan atas dua kelompok. Kelompok I diberikan perlakuan.
Sedangkan perlakuan II, tanpa perlakuan dan merupakan
kelompokkontrol.
c.Berikan pretest untuk kedua kelompok dan hitung mean prestasi untuk
masing-masing keolompok.
d. Berikan postest untuk kedua kelompok dan hitung mean prestasi untuk
masing-masing kelompok.
e.Hitung perbedaan mean (posttest dan pretest) dari masing-masin kelompok
dan bandingkan perbedaan tersebut secara statistik.

92
Dasain Randomized Solomon Four Group
Desain ini dapat mengurangi kelemahan desain desain sebelunya, lebih-lebih
dalam meningkatkan validitas eksternal dan internal. Desain dapat memperbaiki
dua hal, yaitu :
- Mengurangi pengaruh pretesting terhadap unit percobaan.
- Mengurangi error interaksi antara pretesting dengan perlakuan.
Hal diatas dilakuakan dengan tersedianya dua kelompok lain yang tidak
diadakan pretestng dala desain ini.
Dalam desain ini, unit percobaan dibagi atas empat kelompok yaitu :
- Kelompok perlakuan dengan pretesting.
- Kelompok kontrol dengan pretesting.
- Kelompok perlakuan tanpa pretest.
- Kelompok kontrol tanpa pretest.

Percobaan Faktorial
Dalam penjelasan yang lalu percobaan ini yang dilakukan hanya terbatas
kepada perlakuan-perlakuan dimana tiapa perlakuan mempunyai intensitas
ataupun dosis yang sama ataupun perlakuan yang terdiri dari dari satu level saj .
Percobaan faktorial dilain pihak, adalah percobaan dimana perlakuan terdiri dari
semua kemungkinan kombinasi level. Yang paling sederhana adalah percobaan 2 2
faktorial, yaitu percobaan yang terdiri dari dari perlakuan dan tiapa perlakuan
terdiri dari dua level, misalnya :
Responsi dua varietas padi terhadap 2 level pupuk.
Pengaruh 2 jenis penyajian materi dalam 2 waktu ceramah.

RANGKUMAN
Desain percobaan adalah semua proses yang diperlukan dalam
merencanakan dan melaksanakan percobaan. Guna dari desain percobaan adalah
untuk memperoleh suatu keterangan yang maksimum mengenai cara membuat

93
percobaan dan bagaimana proses perencanaan serta pelaksanaan percobaan akan
dilakukan.
Beberapa desain Sederhana Dalam Ilmu Natura
Penggunaan penelitian eksperimental telah cukup berkembang di dalam
ilmu natura. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dilihat, bahwa
penggunaan desain percobaan sudah begitu membudaya di dalam percobaan-
percobaan ilmu natura.
1. Randomized Block Desaign
2. Randomized Complete Desaign
3. Latin Square Desaign
4. Lattice De

Desain percobaan bukan saja milik ilmu natura, tetapi juga telah banyak dalam
ilmu sosial, lebih-lebih dalam ilmu pendidikan. Denga percobaan dalam ilmu
sosial mempunyai dasar yang sama dengan desain pada percobaan ilmu natura,
hanya namanya saja yang ada kalanya berbeda.
Dua buah desain percobaan dalam ilmu pendidikan dibawah ini yaitu :
1. Desain Randomized Control Group Pretest-Postest.
2. Desain Randomized Solomon Four Group

Soal-soal
1. Tuliskan apa yang dimaksud dengan desain percobaan
2. Suatu desain percobaan harus mempunyai ciri-ciri tertentu dan harus
memberikan keterangan yang cukup untuk memecahkan masalah yang
sedang diteliti sebutkan ciri-ciri tersebut.
3. Jelaskan dalam desain percobaan ada tiga prinsip yang harus valid satu
sama lain . Sebutkan.
4. Sebutkan kebaikan dan kelemahan – kelemahan desain percobaan.

94
BAB XI

TEHNIK MEMBUAT PLOT LAPANGAN

TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XI ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat memahami
dan mampu menjelaskan tentang prinsip dasar, menghitung koefisien heterogenitas tanah dan cara
randomisasi.

Dalam penelitian pertanian, percobaan-percobaan yang dilakukan banyak


mempergunakan plot-plot di lapangan, karena lapangan banyak dipengaruhi oleh
lingkungan, baik suhu, tanah, iklim dan sebagainya, maka tehnik membuat plot
lapangan perlu diketahui oleh peneliti-peneliti pertanian yang menggunakan
metode eksperimental.

Beberapa Prinsip Dasar


Dalam percobaan lapangan, seorang peneliti perlu membuat plot-plot yang
sesuai dengan desain percobaan yang dipilihnya. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam membuat plot lapangan antara lain :
1. Tanah tempat percobaan harus tepat.

95
2. Pengaruh batas harus dihilangkan.
3. Besar serta bentuk dari plot harus sesuai.
4. Desain yang dipilih harus cocok.
5. Kegiatan serta manipulasi yang dilakukan harus tertib.

Lokasi Tempat Percobaan


Lokasi tempat percobaan harus dipilih daerah yang tepat untuk percobaan.
Untuk ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Daerah harus representatif untuk mewakili daerah yang ingin dibuat
inferensinya, serta baik untuk perlakuan yang ingin dikerjakan.
2. Tanah harus dipilih yang homogen serta uniform.
3. Sejarah tanah. Lebih-lebih mengenai tanaman yang pernah ditanam
sebelumnya, perlu diketahui.
4. Tanah untuk tanaman ladang diperlukan tanah yang selopnya sedikit
heleng sehingga drainase dapat dijamin.

Pengaruh Batas
Pengaruh batas atau border effect harus dihilangkan. Pengaruh batas adalah
pengaruh akibat kompetisi ini bentuknya baik berupa kompetisi terhadap zat hara,
terhadap sinar matahari dan sebagainya.

Kompetisi harus dihilangkan, yang terdiri dari :


 Kompetisi antara tanaman dalam satu unit percobaan (kompetisi intra
unit percobaan).
 Kompetisi antara tanaman antara satu unit percobaan dengan percobaan
lain (kompetisi antar unit percobaan).
 Kompetisi antara tanaman pinggir (border plant).
Untuk menghilangkan kompetisi-kompetisi di atas maka dalam membuat
percobaan di lapangan, perlu diperhatikan beberapa hal berikut, yaitu :
 Usahakan plot yang ditanami, sekurang-kurangnya mempunyai 3 jajar
tanaman.

96
 Sediakan satu jajar batas atau border row yang dalam pengukuran
nantinya tidak diperhatikan (tidak diukur).
 Tanamlah tanaman penjaga (guard row).

Luas dan Bentuk Plot


Luas serta jumlah plot yang digunakan bergantung dari banyak hal, antara
lain :
1. Tanah yang tersedia.
2. Uniformias tanah.
3. Jenis tanaman yang dijadikan unit percobaan.
4. Jenis desain yang dipilih
5. Kegiatan serta teknik pertanian yang digunakan dalam perlakuan.
6. Biaya yang tersedia.
Luas serta bentuk plot yang digunakan haruslah sedemikian rupa sehingga
dapat dimaksimisasikan homogenitas dari individu.
Uniformitas tanah dapat dihitung lebih dahulu dengan menanam indikator.
Dari tanaman indikator koefisien heterogenitas tanah. Tanaman yang sering
digunakan sebagai tanaman indikator adalah tanaman jagung.
Untuk percobaan dengan tanaman padi, luas plot yang biasa digunakan
adalah 3 x 6 m. Untuk menanam tanaman muda lainnya, luas plot yang
digunakan berkisar antara 100 m sampai dengan 400 m. Untuk tanaman tahunan,
luas plot tanaman bergantung dari jarak tanamnya. Biasanya sebuah plot
percobaan untuk tanaman tahunan minimal memuat 10 batang tanaman.

Desain yang dipilih


Desain percobaan harus dipilih sedemikian rupa sehingga memungkinkan
untuk menghilangkan error-error yang terjadi. Desain harus efisien dan tepat.
Dalam pertimbangan pemilihan desain harus juga diperhatikan :
1. Biaya untuk percobaan tersebut.
2. Kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam membuat percobaan.
3. Derajat homogenitas tanah dan

97
4. Fasilitas-fasilitas yang tersedia
Jika peneliti dihadapkan kepada pemilihan antara desain yang mudah
dengan desain yang kompleks, maka perlu dipertimbangkan keutungan relatif
yang diperoleh dengan adanya tambahan biaya untuk desain yang kompleks.

Jenis Kegiatan Dalam Percobaan


Kegiatan percobaan harus dilakukan secara tertib, tepat dan teratur sehingga
pengaruh dari perlakuan dapat dengan jelas diukur. Waktu mengadakan perlakuan
harus sama jika digunakan desain completely randomized. Tetapi untuk desain
lain, waktu tersebut dapat berbeda sedikit. Kegiatan perlakuan harus dibuat
sehomogen mungkin, sehingga error dapat dihilangkan. Metode-metode yang
lebih efisien dalam menghitung biji, menyemai, memupuk dan sebagainya harus
dijaga.

Cara Randomisasi
Randomisasi merupakan persyaratan dalam menepatkan perlakuan terhadap
suatu plot tertentu dalam suatu desain percobaan. Randomisasi dilakukan
biasanya dengan menggunakan Tabel Angka Random.

Desain Completely Randomized


Desain ini sering digunakan pada percobaan di mana unit percobaan adalah
homogen. Biasa digunakan pada percobaan-percobaan dalam laboratarium atau
dalam rumah kaca. Desain ini adalah desain yang paling sederhana dibandingkan
dengan desain-desain lain. Desain ini kurang digunakan dalam percobaan
lapangan di luaran. Randomisasi dilaksanakan dengan menentukan perlakuan
terhadap semua unit percobaan secara random.

Desain Randomized Complete Block


Desain Randimized Compele Bolock paling banyak digunakan dalam
percobaan dilapanngan. Ciri-ciri desain ini adalah :

98
1. Bloknya sama besar.
2. Setiap blok mempunyai semua perlakuan.
Tujuan utama blocking adalah menjaga supaya terdapat homogenitas tanah
untuk semua perlakuan. Randomisasii dengan menggunakan tabel Ramdom
Number pada desain Complete Block Randomozed.

Desain Latin Square


Desain Latin Square dapat membuat bloking dengan dua arah. Bloking dua
arah ini dapat dilaksanakan dengan mengatur perlakuan sedemikian rupa sehingga
tiap perlakuan masing-masing kolom dan sekali dalam masing-masing jajar (row).

Desain Lattice
Jika percobaan yang ingin dilakukan mempunyai perlakuan yang terlalu
banyak, maka Desain Completely Randomized, Complete Block Randomized
ataupun desain Latin Square tidak efisien lagi untuk digunakan, karena sukar bagi
sipeneliti untuk mengkontrol error yang terjadi. Si peneliti, dengan percobaan
yang mempunyai banyak sekali perlakuan, akan beralih kepada desain tidak
komplit. Dari banyak desain yang tidak komplit, maka disini akan diterangkan
salah satu dari desain yaitu desain Latice.
Desain Latice adalah desain yang bloknya tidak komplit. Desain ini sering
sekali digunakan pada percobaan lapangan pertanian.

Percobaan Faktorial
Percobaan faktorial mempunyai desain dasar seperti yang telah diterangkan
sebelumnya. Karena itu randomisasi pada percobaan faktorial akan mengikuti
randomisasi seperti yang sudah diterangkan sebelumnya. Untuk ilustasi, akan
diberikan contoh dua buah desain pada percobaan dengan 2 faktor. Desain yang
dijelaskan randomisasinya adalah :
1. Desain split-plot
2. Desain strip-plot

99
Desain split-plot
Misalnya percobaan faktorial dengan dua faktor, yaitu percobaan
pemupukan terhadap beberapa varietas padi. Percobaan akan dibuat dengan 6
level pupuk Urea terhadap 4 varietas padi :
Dalam hal ini levelnya adalah sebagai berikut adalah sebagai berikut :
 Pupuk : P0 P1 P2 P3 P4 P5
 Varietas : V1V2V3 V4
Pada percobaan dua faktor, maka plot dibagi dua yaitu :
 Plot utama, jumlah plot utama di tiap replikasi sama dengan jumlah level
faktor pertama.
 Subplot, masing-masing plot utama sama dengan jumlah level faktor
kedua.

Desain Strip-plot
Jika pada percobaan faktorial dengan dua faktor memerlukan plot yang besar
untuk kedua faktor tersebut, maka desain yang baik untuk digunakan adalah
desain strip-plot.
Caranya membagi blok adalah sebagai berikut :
 Mula-mula blok dibagi atas strip horisontal untuk suatu faktor
 Kemudian blok dibagi atas strip vertikal untuk faktor yang satu lagi.

RANGKUMAN
Dalam percobaan lapangan, seorang peneliti perlu membuat plot-plot yang
sesuai dengan desain percobaan yang dipilihnya. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam membuat plot lapangan antara lain :
1. Tanah tempat percobaan harus tepat.
2. Pengaruh batas harus dihilangkan.
3. Besar serta bentuk dari plot harus sesuai.
4. Desain yang dipilih harus cocok.
5. Kegiatan serta manipulasi yang dilakukan harus tertib.

100
Desain percobaan harus dipilih sedemikian rupa sehingga memungkinkan
untuk menghilangkan error-error yang terjadi. Desain harus efisien dan tepat.
Dalam pertimbangan pemilihan desain harus juga diperhatikan :
1. Biaya untuk percobaan tersebut.
2. Kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam membuat percobaan.
3. Derajat homogenitas tanah dan
4. Fasilitas-fasilitas yang tersedia
Jika peneliti dihadapkan kepada pemilihan antara desain yang mudah
dengan desain yang kompleks, maka perlu dipertimbangkan keutungan relatif
yang diperoleh dengan adanya tambahan biaya untuk desain yang kompleks.

Soal-soal
1. Dalam percobaan lapangan seorang peneliti perlu membuat plot-plot
dilapangan sesuai dengan desain percobaan yang dipilihnya. Sebutkan
beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat plot lapangan.
2. Apa yang dimaksud dengan randominisasi dan jelaskan bagaimana cara
merandominisasi,
3. Tuliskan apa yang dimaksud :
a. Sampel
b. populasi

101
BAB XIII

TEKNIK SAMPLING DAN MEMBUAT SKALA

TUJUAN INSTUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XIII ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat
memahami dan mampu menjelaskan tentantang pengertian populasi, desain survei sampel, random sampling
sederhana dan jenis-jenis skala.

Populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang
telah ditetapkan . Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Sebuah populasi
dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit sedangkan jika jumlah
individu dalam kelompok tidak mempunyai jumlah yang tetap, ataupun jumlahnya
tak terhingga disebut infinit.

Populasi dapat dikumpulkan dengan dua cara yaitu :


1. Cara sensus adalah :Tiap unit populasi dapat dihitung .
2. Cara Survei sample adalah : keterangan diambil dari wakil populasi atau
dari sampel.

102
Sampel adalah bagian dari populasi. Survey sampel adalah suatu prosedur
dalam mana hanya sebagian dari populasi saja yang diambil dan dipergunakan
untuk menentukan sifat serta ciri yang dikehendaki dari populasi.
Dalam mencari sampel, para ahli biasanya menggunakan “pobability
sample” yaitu suatu sampel yang ditarik sedemikian rupa dimana suatu elemen
(unsur) individu dari populasi, tidak didasarkan pada pertimbangan pribadi tetapi
tergantung kepada aplikasi kemungkinan (probabilitas). Jika pemilihan individu
populasi didasarkan atas pertimbangan pribadi, maka sampel tersebut dinamakan
“juggement sample”.

Dalam hal menarik sampel ada 2 cara yaitu :


1. Sampling without replacement yaitu individu yang telah ditarik tidak
dimasukkan lagi dalam kelompok populasi.
2. Sampling with replacement yaitu jika kartu yang sudah ditarik dimasukkan
kembali kedalam kotak populasi.

Beberapa Terminologi
Survei sampel adalah berkenaan dengan pengukuran keadaan ataupun atribut
dari entitas tertentu, seperti keluarga,areal, produksi, usaha tani, guru, penyakit
dan sebagainya. Atribut serta objek yang menjadi tujuan penelitian disebut sifat
atau ciri (charakteristic). Unit yang mempunyai sifat ini dinamakan unsur
(element) atau unit elementer (elementery unit). Unit elementer adalah sebuah
objek dimana akan dilakukan pengukuran-pengukuran . Unit elementer ini
mempunyai sifat kuantitatif (dapat diukur dengan unit-unit pengukur tertentu
seperti kg, meter, rupiah, mikron dan sebagainya) ataupun mempunyai sifat
kuantitatif, karena dapat diukur dengan rupiah. Sebaliknya jenis kelamin
merupakan sifat kuantitatif.

103
Kumpulan dari ukuran unit-unit elementer disebut populasi. Populasi adalah
kumpulan dari ukuran-ukuran tentang sesuatu yang ingin kita buat inferensi.
Populasi adalah berkenaan dengan data, bukan dengan orangnya ataupun dengan
bendanya. Jadi misalnya populasi adalah luas sawah, umur mahasiswa, berat
kerbau, bukan sawah, mahasiswa atau kerbau.
Unit yang membentuk proses sampling dinamakan unit sampling. Dengan
perkataan lain, unit sampling adalah kumpulan dari unsur-unsur populasi yang
tidak tumpang tindih. Unit sampling ini dapat saja elementery unit ataupun
kelompok dari unit elementer. Misalnya kitaingin mendapatkan pendapatan
petani.
Sampel adalah kumpulan dari unit sampling. Ia merupakan subset dari
populasi, yang ditarik biasanya dari sebuah frame. Langkah-langkah yang
diambil untuk memperoleh sampel dari suatu populasi disebut sampling plan
( rencana sampling). Sebuah frame adalah list atau urutan unit sampling yang
tersedia.
Mengadakan generalisasi terhadap populasi dengan dasar sampel yang
diambil dari populasi tersebut dinamakan “ inferensi statistik”. Dengan kata kita
membuat suatu generalisasi terhadap parameter berdasarkan statistik.

Dalam inferensi statistik ini kita mengerjakan dua hal yaitu :


1. Mengadakan estimasi
2. Menguji hipotesis.

Desain Dari Survei Sampel


Tujuan dari survei sampling adalah untuk mengadakan estimasi dari menguji
hipotesis tentang parameter populasi dengan menggunakan keterangan-keterangan
yang diperoleh dari sampel. Keterangan-keterangan yang diperoleh dapat
dilakukan dan tergantung dari dua hal yaitu
1. Jumlah unit sampling yang dimasukkan dalam sampel dan
2. Teknik yang digunakan dalam memilih sampel.

104
Pilihan terhadap sampling desain bayak sekali. Untuk memudahkan mari
kita lihat pembagian dari C. W. Churhman, et. Al yaitu desain sampling tetap
(fixed sampling design). Dalam desain sampel tetap, sampel dibentuk mengikuti
aturan tertentu dan aturan ini tidak berubah- rubah selam apenarikan sampel
berlaku.
Desain sampling tetap dibagi dua yaiu :
a) Untrestricted random sample (sampel tanpa batasan).
b) Restristed random sample (sampel dengan batasan-batasan).
Jika aturan dalam penarikan tidak sama selama penarikan sampel
berlangsung, maka desain sampling disebut sampel skuensial. Cara penarikan
dalam sampel skuensial adalah sebagai berikut. Mula-mula ditarik sebuah sampel
kecil secara random dan dianalisis, untuk menentukan apakah perlu ditarik sampel
lain yang lebih besar. Analisis sampel kecil tersebut menentukan penarikan
sampel besar selanjutnya. Sampling skuensial dapat dilakukan dengan dua cara :
a) Menarik sampel secara bertingkat.
b) Mengamati satu per satu anggota-anggota populasi.

Sampel ditarik secara bertingkat


Disini sampel ditarik beberapa kali untuk memenuhi kepuasan dan tiap
sampel yang ditarik digabung dengan sampel sebelumnya. Misalnya untuk satu
keperluan, kita menarik sebuah sampel yang besarnya 20. Sesudah itu kita
analisis, maka kita kurang puas terhadap gamabaran yang kita inginkan. Lalu kita
putuskan untuk menarik sebuah sampel lagi sebanyak 30 anggota. Sampel ini
kita gabungkan dengan sampel pertama sehingga sekarang kita memperoleh 50
anggota sampel dan seterusnya sampai beberapa kali penarikan sampel sampai
kita puas dan sampel ini disebut dengan double sampling. Kalau lebih dari dua
sampel disebut tripling dan jika terus lagi disebut multiple sampling.

Cara mengguna satu persatu terhadap anggota populasi

105
Dalam hal ini satu persatu anggota sampel kita amati. Pengamatan kita
lakukan terus-menerus sampai kita merasa puas tentang keterangan yang kita
inginkan. Cara ini dianggap khas dari multiple sampling.
Desain sampling tetap dibagi atas dua yaitu :
- Unrestricted random sample.
- Restricted random sample.
Pada unnresticted random sample sampel ditarik secara langsung dari
populasi. Populasi tidak dibagi-bagi terlebih dahulu atas sub sampel.
Unresticted dibagi atas dua yaitu :
o Sampel random sederhana (simple random sample)
o Sampel sistematis (Sistimatic sample).

Simple Random Sample (sampel random sederhana)


Tiap unit populasi diberi nomor. Kemudian sampel yang diingingkan ditarik
secara random, baik dengan menggunakan random number ataupun dengan
undian biasa.

Sistematic sample (sampel sistemas)


Unit dari populasi diberi nomor dan diurutkan. Kemudian ditentukan satu
nomor sebagai titik tolak menarik sampel. Nomor berikut dari anggota yang ingin
dipilih ditentukan secara sistematis, midsalnya tiap nomor ke m dari titik tolak
dan dari unit selanjutnya akan dipilih sebagai anggota sampel.

Pada restrictet sample, sampel ditarik dari populasi yang telah


dikelompokkan lebih dahulu. Mula-mula populasi dibagi atas kelompok atau sub
sampel. Sampel ditarik dari masing-masing kelompok tersebut ataupun ditarik
dari beberapa buah sub populasi merupakan sampel dimana seluruh unit dalam
kelompok-kelompok tersebut dijadikan anggota sampel, ataupun tidak seluruh
anggota dari sub populasi menjadi anggota sampel, tetapi hanya sebagaian saja
dari anggota subpopulasi tersebut yang menjadi anggota sampel.

106
Resricted sampel dapat dibagi atas :
a) Multiple stage sampling.
b) Stratified sample.
c) Cluster sample.
d) Stratified sample.

Multiple stage sample


Sampel ditarik dari kelompok populasi, tetapi tidak semua anggota
kelompok populasi menjadi anggota sampel. Hanya sebagaian dari anggoata sub
populasi menjadi anggota sampel. Caranya bisa dengan equal probality ataupun
dengan proportional probality. Pada equal probality, maka dari tiap kelompok
populasi kita pilih sejumlah anggoya tertentu untuk dimasukkan dalam sampel
dan tiap anggota kelompok tersebut mempunyai probalitas yang sama untuk
dimasukkan ke dalam sampel. Pada proportional probality, maka tiap anggoata
kelompok mempunyain probalitas yang sebanding dengan besar realtif dari
kelompok-kelompok yang dimasukkan dalam sub sampel.

Stratified sample
Populasi dibagi dalam kelompok yang homogen lebih dahulu atau dalam
srata. Anggota sampel ditarik dari setiap srata. Jiak tidak semua srata ditarik
sampelnya maka ia menjadi multiple stage sampling.

Cluster sampling
Populasi dibagi dalam kelompok yang berdasarkan area atau cluster.
Anggota subpopulasi tiap cluster tidak perlu homogen, beberapa cluster dipilih
sebagai sampel. Dalam memilih anggota unit, bisa diambil seluruh elementary
unit dari cluster atau sebagian dari unit elementer dari cluster.

Staratified cluster sample


Sampel ditarik dengan tehnik kombinasi antara stratifield sampling dan
cluster sampling.

107
Step sebelum mengumpulkan data (survey) yaitu :
1. Tentukan tujuan survey
2. Tetapkan populasi yang akan disurvey.
3. Pilihlah data yang relevan.
4. Tentukan derajad ketepatan.
5. Tentukan tehnik mengumpulkan keterangan.
6. Carilah frame ( yang menggambarkan) untuk menetapkan sampel.
7. Tentukan unit sampling
8. Buat interview guide, questioneaire atau schedule.
9. Adakan training
10. Adakan pretest.
11. Tetapkan waktu penelitian.

RANDOM SAMPLING SEDERHANA


Bilakah simple random sampling digunakan
Simple random sampling hanya dapat digunakan :
1. Tehnik sampling yang lebih efisien tidak ada atau memungkinkan untuk
dilakukan.
2. Keterangan-keterangan atau nama-nama dari semua unit elementer telah
diketahui lebih dahulu.
Cara menarik simple random sampling
Dua cara yang dilakukan dalam menarik simple random sample. Cara ini
adalah:
1. Cara undian
2. Cara menggunakan angka random

Sifat populasi yang ingin dicari


Sampling dilakukan untuk mengadakan estimasi terhadap parameter
populasi. Misalnya, populasi adalah luas sawah di aceh. Maka kita menarik

108
sampel dan mengambil statistik dari sampel untuk mengadakan estimasi terhadap
parameter dari populasi.

Parameter yang penting adalah :


 Mean (rata-rata luas sawah Aceh)
 Rasio antara dua total atau dua mean.
 Proporsi yaitu bagian dari unit yang termasuk dalam satu kelas tertentu
(misalnya bagian dari populasi yang tidak beririgasi).
 Variance

Besar Sampel
Besarnya sampel untuk mengadakan estimasi terhadap populasi harus
diperhatikan dalam kita melaksanakan survei sampel. Terlalu besar berati
pemborosan tenaga dan uang dan terlalu kecil sampel dapat menjurus kepada
besarnya error.

Cluster Sampling
Cluster sampling adalah tehnik memilih sebuah sampel dari kelompok-
kelompok unit-unit yang kecil atau cluster. Populasi dari cluster merupakan
subpopulasi dari total populasi. Unsur-unsur dalam cluster sifatnya tidak
homogen yang berbeda dengan unit-unit elementer dalam srata. Tiap cluster
mempunyai anggota yang heterogen menyerupai populasi sendiri.

Bila tehnik Cluster Sampling digunakan.


Tehnik cluster sampling digunakan jika catatan lengkap tentang unit
elementer dalam populasi tidak diperoleh. Umpamanya seorang peneliti ingin
mengetahui rata-rata luas sawah per usaha tani di aceh. Tentu sangat sukar
memperoleh data tentang petani serta luas sawah yang dipunyainya kecuali
dengan melakukan sensus. Namun sudah jelas, sensus akan memakan lebih

109
banyak biaya. Karena itu, peneliti dapat menggunakan cluster sampling untuk
keperluan tsb.
Ada dua kelebihan dari cluster sampling :
- Tidak diperlukan frame yang berisi list dari unit elementer, tetapi cukup
dengan list dari cluster saja.
- Andaikata pun ada frame yang terdiri dari list unit elementer, cluster
sampling pun lebih mudah dibandingkan dengan stratified atan random.

TEHNIK MEMBUAT SKALA


Tehnik membuat skala tidak lain dari tehnik mengurutkan sesuatu dalam
suatu kontinu. Tehnik membuat skala ini penting sekali artinya dalam penelitian
ilmu-ilmu sosial, karena banyak data dalam ilmu-ilmu sosial mempunyai sifat
kualitatif. Sehingga ada ahli yang berpendapat bahwa tehnik membuat skala
adalah mengubah fakta-fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan kuantitatif
(variabe).
Mengubah fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan kuantitatif telah
menjadi suatu kelaziman atau “mode” karena beberapa alasan. Pertama, ilmu
pengetahuan akhir-akhir ini lebih cendrung menggunakan matematika sehingga
mengundang kuantitatif variabel. Kedua, ilmu penegetahuan semakin meminta
presisi yang lebih baik, lebih lebih dalam hal mengukur gradasi.
Banyak sekali jenis skala yang telah dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial.
Tetapi dalam bab ini hanya akan dikaji beberpa buah saja dari skala tersebut, yaitu
:
1. Skala jarak sosial (skala Bogardus dan sosiogram).
2. Skala penilaian (rating scales)
3. Skala membuat rangking
4. Skala konsistensi internal (skala Thurstone)
5. Skala liket (mengukur sikap masyarakat)
6. Skala kumulatif Guttman (skala kumulatif).
7. Semantic differential (mengukur perbedaan).

110
RANGKUMAN
Populasi adalah kumpulan dari individu dengan kualitas serta ciri-ciri yang
telah ditetapkan . Kualitas atau ciri tersebut dinamakan variabel. Sebuah populasi
dengan jumlah individu tertentu dinamakan populasi finit sedangkan jika jumlah
individu dalam kelompok tidak mempunyai jumlah yang tetap, ataupun jumlahnya
tak terhingga disebut infinit.

Populasi dapat dikumpulkan dengan dua cara yaitu :


1. Cara sensus adalah :Tiap unit populasi dapat dihitung .
2. Cara Survei sample adalah : keterangan diambil dari wakil populasi atau
dari sampel.

Cara menarik simple random sampling


Dua cara yang dilakukan dalam menarik simple random sample. Cara ini
adalah:
1. Cara undian
2. Cara menggunakan angka random

Sifat populasi yang ingin dicari


Sampling dilakukan untuk mengadakan estimasi terhadap parameter
populasi. Misalnya, populasi adalah luas sawah di aceh. Maka kita menarik
sampel dan mengambil statistik dari sampel untuk mengadakan estimasi terhadap
parameter dari populasi.
Besarnya sampel untuk mengadakan estimasi terhadap populasi harus
diperhatikan dalam kita melaksanakan survei sampel. Terlalu besar berati
pemborosan tenaga dan uang dan terlalu kecil sampel dapat menjurus kepada
besarnya error.
Tehnik membuat skala tidak lain dari tehnik mengurutkan sesuatu dalam
suatu kontinu. Tehnik membuat skala ini penting sekali artinya dalam penelitian
ilmu-ilmu sosial, karena banyak data dalam ilmu-ilmu sosial mempunyai sifat

111
kualitatif. Sehingga ada ahli yang berpendapat bahwa tehnik membuat skala
adalah mengubah fakta-fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan kuantitatif
(variabe).

Soal-soal
Jelaskan apa yang disebut dengan probality sample.
Tuliskan bagaimana cara menarik sample random sampling.
Sebutkan langkah-langkah apa saja yang dilakukan dalam membuat skala

BAB XIII

ANALISIS DAN PENAFSIRAN DATA

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XIII ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat
memahami dan mampu menjelaskan tentang editing, mengodekan data, membuat skala tabulasi, menganalisa
data, analisis hubungan, analisis silang, penafsiran data dan generalisasi dan kesimpulan.

Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti tidak akan gunanya jika
tidak dianalisis. Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam metode
ilmiah, karena dengan analisislah, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang
berguna dalam memecahkan masalah penelitian. Data mentah yang telah
dikumpulkan perlu dipecahkan dalam kelompok-kelompok, diadakan katagorisasi,
dilakukan manipulasi, serta diperas sedemikian rupa, sehingga data tersebut
mempunyai makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji
hipotesa.

112
Mengadakan manipulasi terhadap data mentah berarti mengubah data
mentah tersebut dari bentuk awalnya menjadi suatu bentuk yang dapat dengan
mudah memperlihatkan hubungan-hubungan antara fenomena. Beberapa
tingkatan kegiatan perlu dilakukan, antara lain memeriksa data mentah sekali lagi,
membuatnya dalam bentuk tabel yang berguna baik secara manual ataupun
dengan menggunakan komputer. Penggunaan komputer berhajat pula kepada
kodifikasi data diatas.
Setelah data disusun dalam kelompok-kelompok serta hubungan-hubungan
yang terjadi dianalisis, perlu pula dibuat penafsiran-penafsiran terhadap hubungan
antara fenomena yang terjadi dan membandingkannya dengan fenomena-
fenomena lain diluar penelitian lain. Berdasarkan analisis dan penafsiran yang
dibuat perlu pula ditarik kesimplan-kesimpulan yang berguna serta implikasi-
implikasi dan sara-saran untuk kebijakan selanjutnya.

Editing
Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit lebih dahulu. Dengan
perkataan lain, data atau keterangan yang telah dikumpulkan dalam record book,
daftar pertanyaan ataupun pada interview guide perlu dibaca sekali lagi dan
diperbaiki jika disana sini masih terdapat hal-hal yang salah atau yang masih
meragukan. Kerja memperpaiki kualitas data serta menghilangkan keraguan data
dianamakan mengedit data.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam mengedit data :
1. Apakah data sudah lengkap atau sempurna?
2. Apakah data sudah cukup jelas tulisannya?
3. Apakah semua catatan sudah dapat dipahami?
4. Apakah semua data sudah cukup konsisten?
5. Apakah data cukup uniform (seragam)?
6. Apakah ada responsi yang tidak sesuai?
Dalam mengedit, juga perlu dicek pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
tidak cocok. Jika banyak jawaban pertanyaan yang tidak sesuai, maka daftar
pertanyaan tersebut perlu dikumpulkan dan harus diklasifikasikan dalam suatu

113
kelompok. Jika hanya beberapa saja yang tidak cocok, maka hal ini merupakan
kesalahan enumerator (petugas) dan perlu diperbaiki.
Perlu diingat jangan sekali-kali mengganti jawaban, angka ataupun
pertanyaan-pertanyaan dengan maksud membuat data tersebut sesuai, konsisten
dan cocok untuk maksud tertentu. Mengganti data orisinal demi mencocokan
dengan suatu keinginan peneliti berarti melanggar prinsip kejujuran (intelektual).

MENGKODEKAN DATA
Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit lebih dahulu. Dengan
perkataan lain, data atau keterangan yang telah dikumpulkan dalam record book,
daftar pertanyaan ataupun pada interview guide perlu dibaca sekali lagi dan
diperbaiki jika disana sini masih terdapat hal-hal yang salah atau yang masih
meragukan. Kerja memperpaiki kualitas data serta menghilangkan keraguan data
dianamaka mengedit data.
Kode dan Jenis Pertanyaan/Pernyataan
Pemberian kode dapat dilakukan dengan melihat jenis pertanyaan, jawaban atau
pernyataan. Dalam hal ini dapat dibedakan :
1. Jawaban yang berupa angka
2. Jawaban dari pertanyaan tertutup.
3. Jawaban pertanyaan semi terbuka.
4. Jawaban pertanyaan kombinasi.

Tempat Kode
Kode dapat dibuat pada IBM coding sheet, pada kartu tabulasi atau pada
daftar pertanyaan itu sendiri. Jika data ingin diolah dengan komputer maka kode
harus dibuat pada Coding Sheet.

Coding Sheet
Data untuk komputer kodenya harus dibuat pada coding sheet yang telah
tersedia. Yang penting digunakan adalah IBM coding sheet. Coding Sheet adalah

114
lembaran kertas yang mempunyai 80 kolom dan 25 baris. Jika data yang dikode
melebihi 80 kolom maka cara pengisian kode adalah :
1. Menyambung data responden tersebut kebaris kedua
2. Menyambung kode pada baris yang sama ke lembaran kedua dari coding
sheet

MEMBUAT TABULASI
Membuat tabulasi termasuk dalam kerja memproses data. Membuat tabulasi
tidal lain adalah memasukkan data ke dalam tabel-tabel dan mengatrur angka-
angka sehingga dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai teori.

Bagian-bagian dari Tabel


1. Tabel terdiri dari kolom dan baris (jajar). Tabel yang sederhana
mempunyai 4 bagian penting yaitu :
2. Nomor dan judul tabel
3. Stub
4. Box head
5. Body (badan).
6. Footnote
7. Sumber
Nomor dan judul tabel terletak di bagian paling atas tabel. Judul harus jelas,
lemgkap, sesuai dengan isi tabel, dan tidak perlu panjang. Isi tabel harus
menyatakan apa, dimana dan bagaiman dari hal-hal yang dinyatakan dalam tabel.
Stub adalah bagian paling kiri dari tabel, termasuk kepala kolom, tetapi tidak
termasuk jajar ( baris ) total. Dalam stub terdapat keterangan-keterangan yang
menjelaskan secara terperinci angka-angka pada tiap jajar (baris) dalam body
(badan) tabel.
Box head merupakan tempat diaman kepala kolom ditempatkan. Box head
memberi penjelasan secara terperinci tentang hal=hal dan gambaran yang terdapat
pada tiap kolom badan tabel (body).
Body (badan tabel) terdiri atas kolom-kolom yang berisi angka-angka.

115
Tabel yang mempunyai kotak tempat tempat total yang terdiri dari total
baris, total kolom dan juga grand total. Disamping itu, pada bagian bawah
ditempatkan footnote (catatan kaki) dan dibawahnya ditempatkan catatan tentang
sumber dari data.

Jenis-jenis Tabel
Ada beberapa jenis tabel yang sering digunakan antara lain :
1. Tabel induk (master table).
2. Tabel text table.
3. Tabel frekuensi
Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia secara
terperinci. Tabel ini biasa dibuat untuk melihat kategori secara keseluruhan.
Tabel tersebut tidak pernah dimasukkan dalam penjelasan keterangan, tetapi
digunakan sebagai dasar tabel untuk membuat tabel lain yang lebih singkat.
Tabel teks (text table) adalah tabel yang telah diringkas untuk suatu
keperluan tertentu. Tabel ini biasanya diletakkan dalam teks keterangan yang
dibuat. Tabel ini juga digunakan ketika membuat penafsiran. Tabel teks lebih
pendek dan padat, serta tidak mengandung banyak kolom dan jajar (baris).
Tabel frekuensi adalah tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu hal terjadi.
Kategori dinyatakan dalam kelas tertentu terdapat dalam stub. Kelas atau
kelompok diletakkan dalam kolom kedua, dan jika dinginkan suatu persentase
diletakkan pada kolom ketiga. Tabel frekuensi yang menyatakan persentase
dinamakan tabel frekuensi relatif, sedangkan jika angka kumulatif yang
digunakanmaka tabel tersebut dinamakan tabel frekuensi kumulatif.

Sifat-sifat Tabel
Sebuah tabel yang baik harus jelas, merupakan suatu unitas, akurat dan
ekonomis. Bentuk tabel harus diatur sedemikian rupa sehingga
memperlihatkansemua isi tabel secara jelas.

116
Cara Membuat Tabulasi langsung
Selain memindahkan data yang sudah diberi kode ke dalam coding sheet
atau kedalam kartu tabulasi, data juga dapat dipindahkan langsung dari daftar
pertanyaan ke dalam tabel. Cara ini adalah yang termudah, lebih-lebih untuk data
yang variabelnya tidak lebih dari 100 buah. Tabel yang dibuat adalah tabel induk,
dimana pada stub diurutkan jumlahresponden, sedangkan pada box head
ditempatkan berjenis-jenis variabel. Tabel ini bentuknya panjang sekali dan dapat
digunakan berlembar-lembar.

MENGALISIS DATA
Analisis adalah mengelompokkan, membuat sesuatu urutan, memanipulasi
serta menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca.
Step pertama dalam analisis adalah membagi data atas kelompok atau
kategori-kategori. Kategori tidak lain dari bagian. Beberapa ciri dalam membuat
kategori adalah sebagai berikut :
1. Kategori yang dibuat harus sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
2. Kategori harus lengkap (exaustive)
3. Kategori harus bebas dan terpisah.
4. Tiap kategori harus berasal dari satu kaidah klasufikasi.
5. Tiap kategori harus dalam satu level

RANGKUMAN
Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah,
karena dengan analisislah, data tersebut dapat diberi arti dan makna yang berguna
dalam memecahkan masalah penelitian. Data mentah yang telah dikumpulkan
perlu dipecahkan dalam kelompok-kelompok, diadakan katagorisasi, dilakukan
manipulasi, serta diperas sedemikian rupa, sehingga data tersebut mempunyai
makna untuk menjawab masalah dan bermanfaat untuk menguji hipotesa.
Sebelum data diolah, data tersebut perlu diedit lebih dahulu. Dengan
perkataan lain, data atau keterangan yang telah dikumpulkan dalam record book,
daftar pertanyaan ataupun pada interview guide perlu dibaca sekali lagi dan

117
diperbaiki jika disana sini masih terdapat hal-hal yang salah atau yang masih
meragukan. Kerja memperpaiki kualitas data serta menghilangkan keraguan data
dianamaka mengedit data.
Analisis adalah mengelompokkan, membuat sesuatu urutan, memanipulasi serta
menyingkatkan data sehingga mudah untuk dibaca.
Step pertama dalam analisis adalah membagi data atas kelompok atau
kategori-kategori. Kategori tidak lain dari bagian. Beberapa ciri dalam membuat
kategori adalah sebagai berikut :
1. Kategori yang dibuat harus sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian.
2. Kategori harus lengkap (exaustive)
3. Kategori harus bebas dan terpisah.
4. Tiap kategori harus berasal dari satu kaidah klasufikasi.
5. Tiap kategori harus dalam satu level

Soal-soal
1. Tuliskan langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam membuat
skala
2. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam mengedit data.
3. Sebutkan kode apa saja yang biasa digunakan dalam mengkode data.

118
BAB XIV

TEHNIK STATISTIK DALAM ANALISIS

TUJUAN INSTRKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XIV ini secara seksama, maka para mahasiswa/peminat dihaeapkan dapat
memahami dan mampu menjelaskan tentang tehnik satistik dalam analis, tabel distribusi frekuensi dan tehnik
korelasi.

Statistik memegang peranan penting dalam penelitian, baik dalam


penyusunan model, dalam perumusan hipotesa, dalam pengembangan alat dan
instrumen pengumpulan data. Dalam banyak hal , pengolahan dan analisis data
tidak luput dari penerapan tehnik dan metode statistik tertentu, yang mana
kehadirannya dapat memberikan dasar bertolak dalammenjelaskan hubungan yang
terjadi. Statistik dapat digunakan sebagai alat untuk mengetahui apakah hubungan
kausalitas antara dua atau lebih variabel benar-benar terkait secara benar dalam
suatu kausalitas empiris, ataukah hubungan tersebut hanya bersifat random atau
kebetulan saja.

119
Statistik telah memberikan tehnik-tehnik sederhana dalam
mengklasifikasikan data serta dalam menjajikan data secara lebih mudah,
sehingga data tersebut dapat dimengerti secara lebih mudah. Statistik telah dapat
menyajikan suatu ukuran yang dapat menyifatkan populasi, ataupun menyatakan
variasinya dan memberikan gambaran yang lebih baik tentang kecendrungan
tengah-tengah dari variabel.
Statistik dapat menolong peneliti untuk menyimpulkan , apakah suatu
perbedaan yang diperoleh benar-benar berbeda secara signifikan. Apakah
kesimpulan yang diambil cukup representatif untuk memberikan inferensi
terhadap populasi tertentu.
Tehnik statistik juga dapat digunakan dalam pengujian hipotesis. Mengingat
tujuan penelitian pada umumnya adalah untuk menguji hipotesis- hipotesis yang
telah dirumuskan, maka statistik telah banyak sekali menolong peneliti dalam
mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu hipotesa. Statistik
juga dapat meningkatkan kecermatan penelitian dalam rangka mengambil
keputusan terhadap kesimpulan-kesimpulan.
Penarikan kesimpulan secara statistik memungkinkan peneliti melakukan
kegiatan ilmiah secara lebih ekonomis dalam pembuktian induktif. Tetapi, harus
disadari bahwa statistik hanya merupakan alat dan bukan tujuan dari analisis.
Karena itu janganlah dijadikan statistik sebagai tujuan yang menentukan
komponen-komponen penelitian lain.
Beberapa tehnik statistik yang sering digunakan dalam analis akan
dijelaskan dibawah ini. Tetapi penggunaan alat ini sembarangan tidak akan
memberi manfaat apapun, jika pengertian dari rumus-rumus yang diberikan tidak
didalami secara lebih baik.

TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI


Data yang diperoleh tanpa melakukan suatu pengaturan tertentu terhadap
data tersebut dinamakan data mentah. Data ini dapat diatur dalam kategori-

120
katagori atau kelas. Misalnya, kita mempunyai data mentah tentang berat badan
dari 10 pemimpin dunia sebagai berikut :
72 kg 74kg 60kg 61 kg 69 kg
79 kg 79 kg 61kg 61 kg 60 kg
Berat yang terendah adalah 60 kg dan yang tertinggi adalah 79 kg. Selisih
antara berat yang tertinggi dan yang terendah yaitu 79-60 =19, disebut range dari
berat badan dikelompokkan, misalnya atas dua kelompok yaitu berat badan 60-69
kg dan 70-79 kg. Kelompok-kelompok dinamakan interval kelas. Angka-angka
ujung dari kelas yaitu 60, 69, 70 dan 79 dinamakan limit kelas. Yang terendah
yaitu 60 dan 70 dinamakan limit atas kelas. Interval kelas di atas, mempunyai
limit bawah saja dinamakan interval kelas terbuka. Interval kelas demikian dapat
ditulis sebagai “60 tahun keatas”, “70 tahun ke atas “atau “ 70 tahun kebawah”,”
lebih dari 60 tahun”.

Tabel Distribusi Frekuensi


Frekuensi adalah jumlah pemunculan. Jika data mentah diatur dalam kelas
dengan frekuensinya, tabel tersebut dinamakan tabel distribusi frekuensi. Dalam
membuat tabel distribusi ini, besar interval kelas harus sama. Jumlah interval
kelas bergantung dari jumlah data mentah. Pengelompokkan data mentah terlalu
banyak dan range-nya cukup besar, maka jumlah kelas dapat dicari dengan rumus
Sturge, yaitu :
k = 1 + 3,3 log n
dimana :
n = jumlah pengamatan k = jumlah interval kelas
Percobaan dua Faktorial dengan Desain Blok Lengkap Random
Jika suatu percobaan dilaksanakan untuk melihat perbedaan hasil
pemupukan 3 jenis padi dengan 4 level pupuk N, maka percobaan tersebut adalah
percobaan faktorial, karena ada dua faktor yang diselidiki, yaitu varietas padi dan
pupuk N. Jika desain yang digunakan untuk percobaan 2 faktorial di atas adalah
desain Blok Lengkap random dengan r buat replikasi, v buat varietas, dan n level

121
pupuk N maka SS total dibagi 6 komponen. Rumus untuk mencari SS,
Meansquare dan F adalah seperti tertera pada bagan dibawah ini :
Degree of freedom dalah :
Untuk Blok : DFB = r – 1
Untuk Varietas: DFV = v – 1
Untuk Nitrogen : DFN = n – 1
Untuk interaksi : DF1 =(v – 1)(n – 1)
Untuk error : DFE = (r – 1)(vn – 1)
Untuk total : DFT = r.v.n – 1

RANGKUMAN
Tehnik statistik juga dapat digunakan dalam pengujian hipotesis.
Menginngat tujuan penelitian pada umumnya adalah untuk menguji hipotesis-
hipotesis yang telah dirumuskan, maka statistik telah banayaksekali menolong
peneliti dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu
hipotesa. Statistik juga dapat meningkatkan kecermatan penelitia dalam rangka
mengambil keputusan terhadap kesimpulan-kesimpulan.
Penarikan kesimpulan secara statistik memungkinkan peneliti melakukan
kegiatan ilmiah secara lebih ekonomis dalam pembuktian induktif. Tetapi, harus
disadari bahwa statistik hanya merupakan alat dan bukan tujuan dari analisis.
Karena itu janganlah dijadikan statistik sebagai tujuan yang menentukan
komponen-komponen penelitian lain.

Soal-soal
1. Apa kegunaan tehnik statistik dalam analisis
2. Sebutkan apa yang dimaksud dengan frekuensi

122
BAB XV

MENULIS LAPORAN ILMIAH

TUJUAN INTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XV ini secara seksama, maka para mahasiswa diharapkan dapat memahami dan
mampu menjelaskan tentang jenis laporan ilmiah, artikel ilmiah dan tahapan dalam membuat laporan ilmiah.

Seperti telah dijelaskan pada Bab-bab yang diatas, langkah terakhir dari
suatu penelitian ilmiah adalah membuat laporan. Bagaimanapun baiknya
penelitian yang telah dilaksanakan, bagamanapun bermutunya model-model yang
sudah dibangun, bagaimana tepatnya hipotesa dirumuskan ataupun bagaimana
lengkapnya desain percobaan telah dipergunakan, penelitian belum dianggap
berhasil jika laporan hasil penelitian belum dibuat.
Hasil penelitian harus dilaporkan dan ditulis, karena laporan tersebut
merupakan median komunikasi antara peneliti dengan pembaca ataupun antara
peneliti dengan badan-badan yang akan menggunakan hasil penelitian tersebut.

123
Penulisan laporan penelitian tidak lain dari penyampaian pengalaman
penelitian dan hasil-hasilnya kepada masyarakat. Tanpa ada penulisan laporan,
penelitian akan merupakan barang mati yang hanya dinikmati oleh si peneliti itu
sendiri. Padahal tujuan penelitian tidak lain dari mencari sesuatu dan
menyampaikan hasilnya sebagai sumbangsih ilmuwan kepada pengetahuan.
Hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dengan segera didalam masyarakat
ataupun digunakan sebagai penambah khasanah ilmu pengetahuan.
Teknik menulis laporan ilmiah mempunyai ciri-ciri tersendiri. Penulisan
laporan ilmiah lebih banyak merupakan suatu seni, sehingga pengalaman menulis
lebih banyak berperan dalam menambah keindahan penulisan ilmiah.
Jika dalam langkah-langkah lain, peneliti dapat meminta bantuan pembantu-
pembantunya dalam menyelesaikan kegiatan penelitian, tetapi dalam penulisan
laporan peneliti sendiri akan banyak mencurahkan tenaganya.
Bentuk penulisan ilmiah merupakan kunci penting dalam keseluruhan
kegiatan penelitian , karena disinilah hasil penelitian dapat dievaluasikan, dan
dapat diketahui secara pasti apakah penelitian tersebut telah berhasil baik atau
tidak. Dari tulisan ilmiah tersebut masyarakat dapat menilai apakah hal-hal baru
benat-benar telah ditemukan.
Bentuk yang digunakan untuk laporan sangat tergantung dari jenis pembaca
yang ditargetkan. Bahasa yang digunakan, gaya bahasa yang dipakai serta istilah-
istilah yang dipilih dimasudkan supaya pembaca dapat mencerna isi laporan
tersebut dan dapat memahami penemuan-penemuan yang disampaikan. Karena
itu, sistematika penulisan, cara penyampaian penemuan, alat-alat yang digunakan
serta penafsiran yang diberikan harus dapat menemui sasaran. Memang ,
pekerjaan menulis laporan kurang mengasyikkan bagi seseorang peneliti. Tetapi,
pelaporan harus dibuat, karena segala kegiatan-kegiatan penelitian terdahulu harus
diakhiri dengan suatu laporan.
Yang perlu digaris bawahi dalam menulis laporan penelitian adalah fungsi
komunikatif yang diemban oleh peneliti. Laporan yang dibuat bukan
diperuntukkan bagi peneliti sendiri, tetapi sebagai alat komunikasi dengan orang
lain. Oleh sebab itu, jenis pembaca yang ditujukan kepada semua kolega

124
ilmuwan, akan berbeda denga laporan yang ingin disampaikan kepada pembuat
keputusan., karena bagi pembuat keputusan , laporan tersebut perlu segera
dituangkan dalam suatu kegiatan yang nyata. Laporan juga akan berbeda dalam
bentuk dan cara pengungkapannya jika ditujukan kepada masyarakat awam.

Jenis Konsumen
Penulisan laporan penelitian harus disesuaikan dengan konsumen hasil
penelitian tersebut. Seorang peneliti perlu mempertimbangkan 3 hal dalam
menulis laporan, yaitu :
1. Sampai dimana tingkat pengetahuan dari pembaca
2. Apakah yang perlu diketahui oleh pembaca tersebut.
3. Bagaimana cara menyampaikan hasil penelitian sehingga keterangan yang
diberikan dapat dicerna dengan mudah oleh pembaca.

Secara umum, hasil penelitian dapat ditujukan kepada tiga jenis konsumen
yaitu
1. Masyarakat Umum
2. Sponsor Penelitian
3. Masyarakat Ilmiah
Pendekatan yang terbaik adalah laporan ditulis untuk memenuhi suatu jenis
konsumen saja, dalam tingkat pengungkapan yang sesuai dengan pengetahuan dan
kebutuhan dari kelompok konsumen yang bersangkutan

1. Masyarakat Umum
Laporan yang ditujukan kepada masyarakat umum, harus dapat menberi
gambaran praktis kepada pembaca. Laporan ini berupa brosur, artikel ataupun
summary report (laporan ringkasan) yang berisi hal-hal yang praktis yang dapat
dipergunakan langsung oleh masyarakat. Dalam laporan ini penelitian tidak perlu
menyampaikan teknik-teknik yang sukar untuk dicerna oleh masyarakat umum.

2. Sponsor Penelitian

125
Banyak penelitian yang dilakukan baik oleh institusi ilmiah atau Universitas,
disponsori oleh suatu badan tertentu. Karena itu hasil penelitian tersebut perlu
dilaporkan kepada sponsor yang telah membiayai penelitian tersebut. Jenis
laporan yang disampaikan harus sesuai dengan keinginan dan tujuan sponsor,
lebih-lebih dalam hubungannya dengan penerapan penemuan penelitian tersbut.

3. Masyarakat Ilmiah
Konsumen ketiga dari penelitian adalah masyarakat ilmiah. Penelitian-
penelitian , baik yang berupa skripsi, tesis maupun disertasi, pertama-pertama
ditujukan kepada Komisi Pembimbing atau Komisi skripsi. Karena itu, bentuk,
gaya bahasa dan isi laporan harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam
suatu Universitas.
Untuk konsumen masyarakat ilmiah, laporan penelitian harus dibuat seutuh
mungkin, tanpa meninggalkan penulisan tentang komponen-komponen teknik,
alat-alat dan desain yang dipergunakan dalam penelitian . Semua kegiatan yang
berhubunan dengan daya nalar dan proses penelitian yang telah dikerjakan harus
dilaporkan secara mendalam dan terperinci. Hasil laporan penelitian demikian
bisa berbentuk monograf ataupun artikel ilmiah.

Jenis Laporan Ilmiah


Sekurang-kurangnya terdapat 4 jenis laporan ilmiah yaitu :
1. Laporan Lengkap (Monograf)
Beberapa hal berikut perlu diperhatikan , jika laporan penelitian dibuat
dalam bentuk monograf :
a. Laporan harus berisi proses penelitian secara menyeluruh denga mengutamakan
semua teknik dan pengalaman peneliti dalam melaksanakan kegiatan penelitian
tersebut. Tujuan pelaporan adalah untuk menyampaikan penemuan penelitian
dengan komunikasi yang cukup terperinci, sehingga masyarakat ilmiah dapat
memberi makna kepada data, menentukan validitas, serta menghayati pentingnya
kesimpulan yang ditarik.

126
b. Karena laporan ilmiah ini merupakan suatau bahan komunikatif dengan
masyarakat ilmiah, maka teknik penulisan harus sesuai dengan kelompok target
tersebut.
c. Laporan ilmiah juga harus menjelaskan hal-hal yang sebenarnya terjadi
disetiap tingkatan analisa. Penjelasan tentang penggantian-penggantian ataupun
penukaran teknik yang digunakan, serta alternatif-alternatif pemecahan yang
dilakukan perlu disampaikan dengan jelas. Janganlan dilapor kan perasaan-
perasan penulis ataupun khayalan-khayalan penulis tentang apa yang terjadi,
kecuali ramalan tersebut didasarkan kepada fakta-fakta.
d. Jika diperoleh pengalaman-pengalaman atau penemuan-penemuan yang tidak
ada hubungan langsung dengan tujuan penelitian yang dilaksanakan janganlah
penemuan tersebut dibuang dengan serta merta. Ada kemungkinan hasil
penemuan tersebut atau pengalaman dapat merupakan kunci bagi penulis lain
dalam memberi makna pada penelitian lain dibelakang hari.
e. Peneliti juga harus menyampaikan kegagalan-kegagalan yang dilaminya , serta
limitasi-limitasi yang dihadapi disamping sukses yang diperoleh.
f. Perlu diperingatkan , peneliti lebih mudah mengubah outlinenya daripada
mengubah keseluruh draf laporan. Karena itu siapkan outline penulisan lebih
dahulu dan baru dikembangakan menjadi laporan terperinci.

g. laporan ilmiah harus dibagi dalam bab-bab, bagian-bagian, sub-sub bagian


dengan judul yang padat, sehingga pembaca dapat memilih materi-materi yang
relevan baginya dengan lebih mudah.

2. Artikel Ilmiah
Laporan dalam bentu artikel ilmiah adalah perasan dari laporan lengkap
(monograf). Penulisan laporan tersebut bersifat lebih padat, dan disesuaikan
dengan jumlah halaman yang disediakan dalam jurnal-julnal ilmiah. Laporan
dalam bentuk artikel ilmiah adalah laporan tentang salah satu dari facet-facet
penelitian atau salah satu dari aspek-aspek yang terdapat dalam laporan lengkap.

127
Laporan dalam bentuk artikel ilmiah perlu berisi desain penelitian, procesing
data dan analisa dalam bentuk yang lebih diperpendek dan dipadatkan. Tabel-
tabel juga perlu dipadatkan .

Laporan Ringkas (Summary Report)


Artikel yang sudah diterbitkan ataupun study-study yang berkenaan dengan
kepentingan masyarakat sering juga ditulis kembali dalam bentuk yang mudah
dimengerti dengan bahasa yang tidak terlalu teknis .

Laporan untuk administrator dan Pembuat Keputusan


Kadangkala laporan yang dibuat ingin disampaikan kepada administrator
atau pembuat kebijakan karena :
1. Penelitian yang dilakukan berkenaan dengan implikasi yang diperlukan
dalam pengambilan kebijakan.
2. Penelitian yang dilakukan disponsori oleh badan-badan tertentu yang
berkehendak untuk mengadakan diagnosa terhadap situasi ataupun dalam
rangka mengadakan evaluasi terhadap suatu program kegiatan (action
research).
Yang diperlukan dalam laporan tersebut adalah penjelasan serta diagnosa
terhadap masalah yang diperlukan. Rekomendasi tersebut akan dipergunakan,
baik untuk meneruskan program-program yang ada, ataupun dalam rangka
mengadakan beberapa perubahan, sehingga kegiatan yang akan datang dapat
dilaksanakan secara lebih baik. Laporan kepada administrator dan pembuat
kebijakan tidak perlu berisi keterangan-keterangan yang terperinci tentang desain
dan pelaksanaan penelitian.
Dalam rangka memberikan penjelasan dan evaluasi terhadap program yang
sedang berjalan, laporan harus berisi hal-hal dibawah ini :
1. Penelitian, baik tentang kualitas maupun kuantitas dari usaha yang sedang
dikerjakan.
2. Keterangan tentang hasil dari usaha-usaha yang sedang dijalankan
(performance).

128
3. Penelitian tentang ketepatan usaha yang dilaksanakan dalam hubungannya
dengan keperluan secara menyeluruh.
4. Alasan tentang baik tidaknya program yang sedang berjalan, dan
bagaimana cara mengatasinya.
5. Jelaskan pengaruh program tersebut terhadap sikap dan peilaku
masyarakat.

Outline dari Laporan


Laporan ilmiah harus berisi hal-hal berikut :
1. Pernyataan tentang masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian
tersebut.
2. Prosedur penelitian yang mencakup desain penelitian metode
eksperimental yang dipilih, sampel yang dipilih, sampel yang ditarik,
tehnik pengumpulan serta metode-metode statistik yang digunakan, baik
dalam kegiatan pengumpulan data ataupun analisa.
3. Hasil penelitian dan penemuan-penemuan.
4. Implikasi yang dapat ditarik dari penelitian tersebut.

Di dalam pernyataan tentang masalah yang ingin dipecahkan perlu


dilaporkan alasan-alasan mengapa masalah tersebut sampai begitu penting untuk
diteliti? Latar belakang yang lengkap tentang masalah perlu diberikan untuk
mendukung alasan yang diberikan, sehingga masalah tersebut patut dipecahkan
secara ilmiah. Relevansi pemecahan masalah, baik dalam aspek-aspek teori
maupun dalam aspek-aspek praktis dalam masyarakat perlu dikemukakan sejelas-
jelasnya.

Dalam penulisan tentang pentingnya masalah yang diteliti, ringkasan-


ringkasan dari beberapa study sebelumnya mempunyai relevansi dengan masalah
yang dipecahkan, perlu juga diikut sertaka. Penyampaian study-study tersebut
dimaksudkan untuk menjamin terdapatnya suatu kesinambungan, baik dalam

129
perumusan hipotesa, konsep-konsep ataupun metodelogi. Unsur-unsur pokok
dalam masalah perlu dihubungkan secara jelas dengan tujuan penelitian.

Judul
Judul sebaiknya terdiri dari beberapa perkataan yang padat dan dapat
memberikan indikasi tentang isi serta penekanan-penekanan yang diberikan
penelitian.

Abstrak
Abstrak merupakan kondensasi singkat dari isi keseluruhan laporan.
I. Pendahuluan
A. Masalah serta posisi awal dari masalah ketika penelitian dilakukan.
B. Kegunaan, ruang lingkup dan metode penelitian.
C. Hasil penelitian yang cukup signifikan serta masalah pada akhir
penelitian.
II. Bahan dan Metode
A. Keterangan tentang alat serta bahan yang digunakan dalam penelitian.
B. Penjelasan tentang cara-cara kerja yang dilakukan dalam penelitian
secara terperinci, sehingga penelitian lain dapat mengulangi
percobaan-percobaan tersebut.
III. Percobaan dan Hasil
A. Uraian tentang percobaan.
B. Uraian tentang hasil percobaan (jika mungkin ditunjukkan dengan tabel).
IV. Pembahasan Hasil Penelitian
A. Kaidah-kaidah dasar, hubungan kausal atau generalisasi yang diperlukan
oleh hasil penelitian.
B. Bukti-bukti yang ditunjukkan oleh data untuk tiap kesimpulan utama.
C. Pengecualian dan teori-teori yang bertolak belakang serta penjelasan-
penjelasan mengenai pengecualian tersebut.

130
D. Perbandingan antara hasil penemuan dan penafsiran dengan penemuan
peneliti-peneliti lain.

Dalam penulisan laporan lengkap penelitian ilmiah, seperti penulisan


tesis atau monograf, diperlukan juga suatu kata pengantar. Kata pengantar
sekurang-kurangnya berisi :
 Keterangan yang menjelaskan dalam rangka apa laporan tersebut ditulis.
 Hubungan antara kedudukan penulisan dengan penelitian yang
dilakukan.
 Keterangan tentang sponsor penelitian dan hubungan antara usaha
penelitian, penulis dan sponsor.
 Ucapan terima kasih yang ditujukan kepada semua pihak yang telah
membantu pelaksanaan penelitian .
 Harapan-harapan serta implikasi yang timbul sebagai akibat penulisan
laporan tersebut.
Selain dari pada itu laporan lengkap perlu pula ditambah bagian yang berisi
lamporan dan referensi/bibliografi yang digunakan.

Laporan penelitian mempunyai out line sebagai berikut :


1. Judul
2. Kata Pengantar
Seperti juga pada Kata Pengantar dalam pelaporan penelitian ilmu-ilmu
natura, kata pengantar pada laporan ini juga berisi, pernyataan-pernyataan
tentang tujuan penulisan ilmiah, hubungan dengan sponsor serta ucapan terima
kasih.
3. Daftar Isi
Daftar isi diperlukan supaya pembaca dapat mengetahui bagian-bagian
dari laporan dan dapat melihat hubungan yang terjadi antara satu bagian
dengan bagian lain. Daftar isi berisi judul dari masing-masing bab, bagian,
subbagian dan seterusnya.
4. Pendahuluan

131
Didalam “ Pendahuluan”, secara singkat pembaca diperkenalkan kepada
masalah penelitian, ruang lingkup, serta pentingnya penelitian baik ditinjau
dari segi teori maupun praktis. Juga diterangkan cara yang ditempuh atau
dicoba dalam rangka menjawab atau memecahkan masalah penelitian
tersebut.
5. Masalah dan Tujuan Penelitian
Dalam bab ini masalah diungkapkan secara lebih terperinci diterangkan
bagaimana serta mengapa masalah tersebut dipilih untuk penelitian.
6. Metodologi Penelitian.
Dalam Bab “Metodologi Penelitian” peneliti menguraikan desain
penelitian, rencana pengambilan contoh, jenis responden, prosedur
pengumpulan data serta alat yang digunakan secara terperinci. Peneliti juga
memberikan definisi operasional dan variabel-variabel yang digunakan
dalam penelitian.
7. Pengolahan Data dan Analisa
Dalam Bab ini, perlu dijelaskan bagaimana diolah dan dianalisa.
Terangkan prosedur-prosedur statistik yang digunakan sejalasnjelasnya dan
ungkapkan cara-cara menangani data yang tidak masuk.
8. Hasil Penelitian.
Bagaimana hasil atau penemuan penelitian? Apa yang telah kita
pelajari dari penelitian tersebut? Bagaimana hubungan antara penemuan
dengan masalah-masalah penelitian yang telah dirumuskan ? Berikan
keteran-keterangan yang diperoleh dan hubungankan data atau fakta dengan
tabel-tabel, grafik atau gambar-gambar.
9. Ringkasan
Guna ringkasan adalah untuk menyampaikan hasil atau penemuan
dari penelitian secara singkat dan padat. Dengan membaca ringkasan ,
pembaca dapat mengetahui keseluruhan hasil penelitian, jika seseorang
tertarik untuk mendalami sebagian kegiatan penelitian, ia dapat
membacanya pada bab-bab yang bersangkutan.
10. Bibliografi dan Referensi (Daftar Rujukan)

132
Semua laporan atau artikel yang digunakan dalam penelitian ,
berupa sumber skunder ataupun buakan, perlu dilaporkan secara terperinci.
Teknik membuat referensi harur dituruti.
11. Lampiran
Lampiran berisi materi-materi teknis yang jika dimasukkan dalam
bab-bab terdahulu, dapat membuat laporan menjadi sangat menjemukan atau
dapat menghilangkan kontinuitas laporan.

RANGKUMAN
Penulisan laporan penelitian tidak lain dari penyampaian pengalaman
penelitian dan hasil-hasilnya kepada masyarakat. Tanpa ada penulisan laporan,
penelitian akan merupakan barang mati yang hanya dinikmati oleh si peneliti itu
sendiri. Padahal tujuan penelitian tidak lain dari mencari sesuatu dan
menyampaikan hasilnya sebagai sumbangsih ilmuwan kepada pengetahuan.
Hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dengan segera didalam masyarakat
ataupun digunakan sebagai penambah khasanah ilmu pengetahuan.
Yang perlu digaris bawahi dalam menulis laporan penelitian adalah fungsi
komunikatif yang diemban oleh peneliti. Laporan yang dibuat bukan
diperuntukkan bagi peneliti sendiri, tetapi sebagai alat komunikasi dengan orang
lain. Oleh sebab itu, jenis pembaca yang ditujukan kepada semua kolega
ilmuwan, akan berbeda denga laporan yang ingin disampaikan kepada pembuat
keputusan., karena bagi pembuat keputusan , laporan tersebut perlu segera
dituangkan dalam suatu keguatan yang nyata. Laporan juga akan berbeda dalam
bentuk dan cara pengungkapannya jika ditujukan kepada masyarakat awam.
Penulisan laporan penelitian harus disesuaikan dengan konsumen hasil
penelitian tersebut. Seorang peneliti perlu mempertimbangkan 3 hal dalam
menulis laporan, yaitu :
1. Sampai dimana tingkat pengetahuan dari pembaca
2. Apakah yang perlu diketahui oleh pembaca tersebut.
3. Bagaimana cara menyampaikan hasil penelitian sehingga keterangan yang
diberikan dapat dicerna dengan mudah oleh pembaca.

133
Soal-soal
1. Sebutkan ciri-ciri dalam penulisan ilmiah.
2. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan oleh seorang peneliti . Jelaskan
3. Tuliskan ada tiga jenis konsumen hasil penelitian yang ditujukan .
Sebutkan

BAB XVI

PERANAN STATISTIK DAN KOMPUTER DALAM PENELITIAN

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mempelajari Bab XVI INI secara seksama, maka para mahasiswa/peminat diharapkan dapat
memahami dan mampu menjelaskan tentang peranan statistik dan komputer dalam penelitian, peranan
komputer dalam hipotesis, peranan statistik dalam perumusan masalah dan karakteristik komputer.

Kegiatan penelitian selama tiga dasa warsa terakhir ini menunjukkan bahwa
kecendruan untuk melakukan kuantifikasi dalam penelitian makin besar. Hal ini
berarti bahwa peranan statistik dan komputer dalam penelitian itu sudah demikian
besarnya, sehingga rasanya untuk menemukan kegiatan penelitian yang tidak
melibatkan statistik dan komputer.

134
Walaupun peranan statistik dan komputer itu terutama adalah dalam
pengujian hipotesis, tetapi sebenarnya statistik dan komputer berperanan dalam
setiap langkah penelitian.

Peranan Statistik Dalam Penelitian


Peranan Statistik dalam penelitian adalah seperti yang disajikan berikut ini :
1. Peranan Statistik dalam Penyusunan Model teoritis
Dalam usaha memecahkan masalah penelitian, mula-mula orang belum
mempunyai gambaran yang jelas dan detail mengenai keadaan sesungguhnya.
Berdasarkan penelaahan kepustakaan , apa yang dimilikinya adalah gambaran
garis besar, gambaran mengenai pokok-pokonya saja, yang merupakan abstraksi
dari keadaan yang sesungguhnya. Peneliti mengimajinasikan pokok-pokok
masalah dan jalan pemecahan. Gambaran hasil imajinasi inilah yang biasa disebut
model teoritis penelitian itu. Dewasa ini model yang paling banyak digunakan
adalah model matematis, yaitu model matematis ini mempunyai beberapa
kelebihan jika dibandingkan dengan model matematis.
Kelebihan-kelebihan itu antara lain :
1. Dengan model matematis orang dapat merumuskan masalah dengan lebih
singkat dan padat, sehingga struktur masalah menjadi lebih terungkapkan
dan hubungan antara komponen-komponen lebih jelas.
2. Dengan model matematis orang lebih mudah melakukan kuantifikasi.
3. Dengan penggunaan model matematis akan lebih memudahkan
penggunaan teknis analisis statistik dan penggunaan jasa komputer.
4. Dengan model matematis lebih mudah dapat dilihat apakah asumsi-asumsi
yang mendasari berbagai komponen dalam penelitian itu terpenuhi atau
tidak.

2. Peranan Statistik dalam Perumusan Hipotesis


Perumusan hipotesis sebagai pernyataan yang menunjukkan pertautan antara
dua variabel atau lebih, sebenarnya adalah perumusan menurut model matematis

135
pula. Selanjutnya perumusan – perumusan hipotesis dalam hipotesis alternatif
dan hipotesis nol adalah konsep dalam Statistik.
Hipotesis nol dirumuskan atas dasar mengenai teori ini akan sangat
membantu seseorang untuk merumuskan hipotesisnya secara lebih cermat.

3. Peranan Statistik dalam Pengembangan Alat Pengambil Data


Telah disebutkan diatas sebelum seseorang menggunakan sesuatu alat
pengambil data, dia harus mempunyai kepastian bahwa alat yang akan
digunakannya itu mempunyai taraf reliabilitas dan taraf validitas yang diperlukan.
Untuk menguji kualitas alat pengambil data itu cara yang terbaik ialah dengan
menerapkan metode-metode statistik tertentu. Dan untuk tujuan ini dalam bidang
Statistik telah dikembangkan banyak metode atau teknik. Berbagai teknik
disajikan di bawah judul Reliabilitas dan Validitas.
4. Peranan Statistik dalam Penyusunan Rancangan Penelitian
Seperti telah dipepelajari dalam Perancangan Percobaan bahwa rancangan
penelitian terdiri dari berbagai macam yang telah disusun berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan dari sudut statistik.
Keunggulan dan kekurangan yang terlekat pada masing-masing rancangan
itu adalah dilihat dari sudut pertimbangan statistik. Hal yang demikian adalah
wajar, karena dengan cara itulah peneliti dapat mengetahui kekuatan dan
keterbatasan penelitian yang dilakukannnya sebagai upaya untuk mendapatkan
pengetahuan yang benar mengenai masalah yang sedang ditelitinya.
Untuk masing-masing rancangan itu statistik menunjukkan keterbatasannya
kecuali itu statistik juga menunjukkan cara-cara untuk mengurangi ketebatasn itu
dengan mengendalikan variabel-variabel tertentu atau memperhitungkan pengaruh
variabel-variabel tertentu.
Dengan mempergunakan rancangan yang memperhitungkan peranan lebih
banyak variabel biasanya kecermatan hasil dapat ditingkatkan, yang berarti
kekeliruan diperkecil.

5. Peranan Statistik dalam Penentuan Sampel

136
Tujuan berbagai teknik penentuan sampel ialah agar diperoleh sampel yang
representatif bagi populasinya. Bebagai teknik statistik telah dikembangkan untuk
memperkirakan besarnya sampel, untuk memilih sampel secara gamblang.
Walaupun penggunaan teknik-teknik tersebut hanya sah kalau asumsi-asumsi
yang mendasarnya terpenuhi, namun tidak dapat diingkari bahwa bagian statistik
ini telah banyak membawa para peneliti dalam melakukan kegiatannya.

6. Peranan Statistik dalam Pengolahan dan Analisis Data


Statistik memegang peranan terpenting dimana pengolahan datadan analisis
data. Dalam penelitian ilmiah pengolahan data analisis data itu tidak lain adalah
penerapan teknik-teknik atau metode-metode statistik tertentu.
Statistik telah mengembangkan teknik-teknik untuk mengklasifikasikan data
dan menyajikan data yang sangat membantu para peneliti. Dengan menggunakan
teknik-teknik penyajian data seperti yang dikembangkan dalam statistik, misalnya
dalam bentuk :
 Tabel
 Grafik dll
Sehingga dapat dimengerti secara sama oleh berbagai orang.
Statistik telah mengembangkan teknik-teknik penghitungan harga-harga
tertentu, seperti :
 Ukuran-ukuran tendensi sentral
 Ukura-ukuran kekeliruan
 Dan lain-lain
Yang diperlukan pada kebanyakan metode ilmiah.
Didalam statistik yang sangat penting lagi adalah telah dikembangkan
berbagai metode untuk menguji hipotesis. Disinilah peranan terpenting statistik
itu, karena tujuan utama penelitian pada umumnya ialah menguji hipotesis.
Penggunaan metode pengujian hipotesis yang tepat sangat meningkatkan
kecermatan keputusan yang diambil sebagai kesimpilan penelitian itu.
Maka dari itu peranan statistik dalam penelitian besar sekali bahkan dalam
beberapa penelitian mungkin menentukan dalam arah yang menguntungkan.

137
Namun statistik hanya alat dan hendaknya peranannya tetap diletakkan sebagai
alat. Artinya janganlah statistik itu lalu menjadi tujuan untuk menentukan
komponen-komponen penelitian yang lain. Yang mempunyai peranan menentukan
haruslah tetap masalah yang dicari jawabannya dari tujuan penelitian.

Karakteristik Komputer
Dewasa ini kegunaan komputer dalam penelitian boleh dikatakan tidak
diragukan lagi. Bahkan dapat dikatakan bahwa bagi seorang penelitian dapat
memanfaatkan jasa komputer adalah Conditio Sine Quanon.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa komputer adalah suatu perangkat
keras yang kompleks yang mampu memproses kata dan bilangan secara
elektronik.
Ada 5 karakteristik yang dimiliki oleh komputer yaitu :
1. Kecepatan tinggi
2. Memori luas
3. Bersifat universal
4. Fleksibel
5. Patuh

1. Kecepatan Tinggi
Komputer dapat melakukan fungsinya dengan kecepatan yang luar biasa.
Sifat inilah biasanya mudah dikenal dan populer. Pekerjaan hitung menghitung
yang kalau dilakukan tanpa bantuan mesin hitung memerlukan waktu berbulan-
bulan dan kalau dikerjakan denga bantuan mesin hitung memakan waktu berhari-
hari. Sedangkan kalau dikerjakan dengan komputer hanya memakan waktu
dalam bilangan detik. Kecepatan ini akan lebih nampak manfaatnya oleh karena
pada umumnya pengguna komputer dalam time sharing system. Tingginya
kecepatan ini juga menambah efisiensi kerja para pengguna jasa komputer.

2. Memori Luas (ingatan luas)

138
Pemrosesan kata dan bilangan memerlukan tempat penyimpanan yang
sangat luas. Suatu tugas diproses hasilnya dimasukkan dala memori untuk
diproses slanjutnya, hasilnya disimpan dalam wilayah memori yang lain untuk
diproses selanjutnya dan seterusnya. Agar fungsi ini dapat dijalankan maka
memori komputer itu harus sangat luas. Perangkat intruksi disimpan dalam
memori itu sehingga komputer itu “tahu” apa yang harus dilakukannya.
3. Universalitas
Komputer dalah mesin dengan tujuan umum. Komputer dapat
menyelesaikan apa saja yang memang dapat diselesaikan. Komputer dapat
diintruksikan (diprogram) untuk melakukan segala macam operasi dan kalkulasi.
4.. Fleksibilitas
Ada berbagai cara untuk menulis suatu program guna mencapai suatu tujuan
(sasaran). Pada dasarnya hasil yang baik dapat dicapai dengan program yang
berbeda-beda.

5. Patuh
Komputer akan patuh melakukan apa saja yang diintruksikan (diprogram),
termasuk kalau program itu salah. Karena itu komputer sering dijuluki “raksasa
dungu”. Kemampuannya luar biasa, tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk
mengetahui kekeliruan intruksi yang diberikan kepadanya. Hal ini merupakan
salah satu kendala bagi para pengguna jasa komputer.

Peranan Komputer Dalam Penelitian


Adapun peranan komputer dalam kegiatan penelitian adalah seperti diuraikan
berikut ini :
1. Peranan Komputer dalam Mencari Sumber Studi
Kegiatan awal seirang peneliti bahkan boleh dikata kegiata utama adalah
mengkaji sumber-sumber studi. Sumber studi ini pada umumnya ada
diperpustakaan. Dalam mencari sumber studi di perpustakaan itu peneliti akan
menggunakan katalog. Pada waktu ini pada umumnya katalog itu telah disajikan
dengan sistem komputer (computerized). Peneliti dapat menggunakan sistem ini

139
untuk menemukan sumber studi yang diperlukannya. Bahkan dalam sistem
terpadu dia dapat mencari juga sumber-sumber yang ada dilokasi lain, asalkan
masuk dalam satu sistem.
Dewasa ini sumber studi itu juga dapat diketemukan melalui internet.
Dengan menggunakan internet untuk mencari sumber studi itu peneliti boleh
dikata bebas dari batasan tempat dan waktu karena dia dapat mengakses sumber
dmana saja dan untuk waktu kapan saja. Dengan fasilitas semacam itu maka
prinsip kemutakhiran dalam menggunakan sumber studi dapat dengan mudah
dijaga.

2. Peranan Komputer dalam Merekam Sumber Studi


Semua sumber study harus direkam dalam sistem tertentu. Masing-masing
disiplin, dan kadang-kadang masing-masing lembaga mempunyai sistem dalam
menuliskan sumber studi itu. Dalam melakukan perekaman itu prinsip utamanya
konsistensi. Suatu sistem yang banyak yang digunakan dalam penelitian sosial
adalah sistem yang diterbitkan oleh The American Psyologycal Association.
Rekaman sumber studi yang disusun secara sistematis itu akan merupakan
“embrio”. Daftar Pustaka yang nantinya disajikan pada Laporan Penelitian.

3. Peranan Komputer dalam Merekam hasil Kajian


Intisari sumber yang dikaji itu harus direkam dengan baik dan sistematis.
Perekaman sangat perlu karena beberapa alasan .
1. Peneliti akan memerlukan isi yang telah dikaji itu dalam menyusun dasar
teori penelitiannya dan dalam memberi interpretasi hasil analisisnya.
2. Pada waktu dia memerlukan isi sumber seutuhnya.
3. Pada waktu dia memerlukan sumber-sumber tersebut tidak lagi tersedia
(mungkin sedang dipinjam orang lain).
Jadi rekaman itu berfungsi sebagai macam “bank hasil kajian Pustaka”.

4. Peranan Komputer dalam Penyusunan paradigma Penelitian

140
Hasil kajian pustaka itu akan disimpulkan dalam bentuk hipotesis, yang
merupaka kebenaran teoritis yang nantinya akan diuji secara empiris. Sebelum
sampai kepada hipotesis itu lebih dahulu harus disususn kerangka pikir teoritis
yang diperoleh dari hasil kajian itu.
Kerangka pikir inilah yang merupakan paradigma penelitian . Paradigma
penelitian ini biasa disajikan secara verbal, disertai denah atau sketsa atau gambar.
Dalam penyajian paradigma ini komputer akan sangat berguna jasanya.

5. Peranan Komputer dalam Pengembangan alat Pengambil data


Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kwantitatif pengembangan
intrumen sangat memerlukan bantuan komputer. Hampir setiap langkah , dan
pengembangan specifikasi sampai pengujian validitas diperlukan bantuan
komputer.

Secara rinci peran komputer dalam pengembangan intrumen itu dapat


disebutkan dalam hal-hal sebagai berikut :
 Pengembangan specifikasi, teruma penyusunan kisi-kisi.
 Analisis butir-butir pertanyaan dan pernyataan.
 Uji realibilitas dan
 Uji validitas

6. Peranan Komputer dalam Penyajian Hipotesis


Hipotesis adalah kebenaran teoritis yang masih harus diuji secara empiris
kesesuaiannya dengan keadaan lapangan. Inilah inti dari kegiatan penelitian itu,
yaitu mengumpulkan data, merekamnya dan mengujinya. Dalam pengujian
hipotesis ini hipotesis penelitian atau yang disebut juga hipotesis alternatif
dibandingkan dengan hipotesis nol, yaitu keadaan teoritis sekiranya hal yang
dipersoalkan (yaitu saling-hubungan atau perbedaan) itu tidak ada.
Keadaan yang demikian itu diteorikan (diasumsikan) akan terjadi kalau
syara-syarat tertentu terpenuhi. Keadaan teoritis inilah yang menjadi model
matematika hipotesis nol.

141
Dalamkegiatan pengujian hipotesis ini jasa komputer diperlukan untuk hal-
hal berikut ini.
a. Peranan komputer dalam perekaman data
Data penelitian sering direkam (diskor) dengan mempergunakan mesin
penyekor (oprical mask reader) yang menggunakan sistem komputer . Kalau
dalam merekam diterapkan rumus koreksi karena tebakan, komputer langsung
menghitungnya untuk mendapatkan data mentah.
b. Peranan Komputer dalam Konversi Data Mentah Kedata Olahan
Data mentah agar lebih bermakna lalu dikonversikan dalam data olahan
(derived data) tertetu. Data yang paling umum digunakan adalah data baku
normal (normalized standard score) atau skor Z. Karena skor Z ini sebagian
negatif dan pada umumnya berwujud pecahan, maka biasanya lalu disederhanakan
dengan menggunakan mean 50 dan simpangan baku 10, atau mean 500 dan
simpangan baku 100. Pekerjaan mengkonversikan data mentah menjadi data
olahan atau ke sekor baku tertentu itu secara efisien sekali dilakukan oleh
komputer.
c. Peranan Komputer dalam Penyajian Data Deskriptif
Pada awal sekali biasanya data itu disajikan secara deskriptif. Penerapan
statistik deskriptif ini akan tepat dan efisien kalau dikerjakan dengan bantuan
komputer. Tabel-tabel statistik misalnya akan tampil bagus dan tepat bila
dekerjakan dengan bantuan komputer.

d. Peranan Komputer dalam Menguji Kesesuaian Data Dengan Model Teoritis


(goodness of fit test)
Sebelum peneliti menguji hipotesisnya secara empiris, dia harus yakin dulu
bahwa data yang dikumpulkannnya sesuai dengan model teoritisnya, yang
biasanya diuji adalah :
1. Normalitas sebaran (untuk penelitian korelasional maupunkomperatif)
2. Homogenitas variansi (untuk penelitian komperatif).
3. Linieritas hubungan antara variabel tergantung dan variabel bebas (untuk
penelitian korelasional).

142
4. Kolinieritas hubungan antar variabel bebas (jika variabel bebas lebih dari
satu.
Untuk keperluan pengujian ini telah tersedian teknik-teknik yang kurang
lebih sudah baku, dan telah tersedia pula program-program komputer yang sesuai.

e. Peran Komputer dalam Pengujian Hipotesis


Dalam penelitian korelasional penelitian akan menguji hipotesanya melalui
teknik korelasi. Mungkin dia akan menerapkan teknik yang paling sederhana
yaitu korelasi lugas (zero-order correlation), mungkin juga akan menerapkan
teknik-teknik yang lebih canggih seperti korelasi ganda, analisis regresi ganda,
analisis jalur dan analisis kanonik.
Dalam penelitian komparatif mungkin peneliti akan menggunakan teknik uji
yang sederhana seperti uji t, analisis variansi atau analisis kovariansi dengan
segala variansinya.
Akhir-akhir ini mulai banyak digunakan teknik yang sangat komplek, yaitu
analisis struktur kovariansi yang menggunakan model persamaan struktural,
dengan program populernya LISREL.
Semua pengujian hipotesis tersebut di atas itu hampir tidak mungkin
dilakukan tanpa bantuan komputer.

7. Peranan Komputer dalam Penyusunan Laporan


Komputer sebagai pemroses kata dan bilangan sangat membantu peneliti
dalam menyusun laporannya. Dengan bantuan komputer peneliti dapat dengan
mudah mengatur tampilan laporannya dengan pedoman yang digunakannya dan
sekiranya terjadi kesalahan, dia akan dengan mudah dapat memperbaikinya.

RANGKUMAN
Kegiatan penelitian selama tiga dasa warsa terakhir ini menunjukkan bahwa
kecendruan untuk melakukan kuantifikasi dalam penelitian makin besar. Hal ini
berarti bahwa peranan statistik dan komputer dalam penelitian itu sudah demikian

143
besarnya, sehingga rasanya untuk menemukan kegiatan penelitian yang tidak
melibatkan statistik dan komputer.
Walaupun peranan statistik dan komputer itu terutama adalah dalam
pengujian hipotesis, tetapi sebenarnya statistik dan komputer berperanan dalam
setiap langkah penelitian.
Ada 5 karakteristik yang dimiliki oleh komputer yaitu :
1. Kecepatan tinggi
2. Memori luas
3. Bersifat universal
4. Fleksibel
5. Patuh

DAFTAR PUSTAKA

Bakker, Anton. (1986), Metode-metode Filsafah, Ghalia Indonesia. Bogor


Basri, MS. (2006), Metodelogi Penelitian Sejarah (Pendekatan, Teori dan Praktik),
Restu Agung. Jakarta.
Brower, M. A. W. Dan Heryadi, P. 1986. Sejarah Filsafah Barat dan Sezaman.
Penerbit Alumni. Bandung.
Bahdin Nur Tanjung, Ardial, 2005. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal,
Skripsi dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel
Ilmiah, Penerbit Kencana Prenada Media Group. Jakarta.

144
nd
Goddard, Wayne, Melville, S. 2004, Reseach Methodology An Introduction, 2 ,
juta and Co. Ltd, Johannesburg, South of Africa.
Koentjaraningrat. 1977. Metode-metode Penelitian Masyarakat. Penerbit PT.
Gramedia. Jakarta.
Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.
543a/U/1987 tentang Penyempurnaan “ Pedoman Umum Ejaan bahasa
Indonesia yang Disempurnakan “.
Moleong, Lexy. J.2002, Mtodelogi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Meliono, Irmayanti. 2007, Modul Metodelogi Penelitian dan Karya Tulis,
Lembaga Penerbitan FEUI. Jakarta.
Nazir. Moh. 2005, Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor.

Ir. Cut Mulyani, MP. Lahir di Medan 17 Juli 1965. Gelar S1


diselesaikan di Jurusan Hama Penyakit dan Tanaman (HPT) Di
Universitas Islam Sumatera Utara pada tahun 1989. Pada tahun
1990 diterima sebagai dosen di Universitas Samudra Langsa.
Pada tahun 1992 lulus PNS sebagai dosen KOPERTIS Wil. I yang
di perkerjakan di Fakultas Pertanian UNSAM Langsa. Pada tahun 2003 -2008
menjabat sebagai Kepala Laboratarium Fakultas Pertanian UNSAM. Pada tahun
2008 - 2010 menjabat sebagai Pembantu Dekan II bidang Umum dan Keuangan.

145
Pada tahun 2008 menyelesaikan S2 dijurusan Konservasi Sumber Daya lahan di
Universitas Syiah Kuala. Pada tahun 2010 - 2012 menjabat sebagai Pembantu
Dekan I bidang akademik dan pada tahun 2013 sampai dengan sekarang sebagai
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Samudra .

146

Anda mungkin juga menyukai