Anda di halaman 1dari 4

Oleh Lelly Andriasanti

NIP 1006743595
Nomor Tugas 53 (THI A)

Review Tulisan
ALEXANDER WENDT
CONSTRUCTING INTERNATIONAL POLITICS
Dalam P.R. VIOTTI AND MARK V. KAUPPI
INTERNATIONAL RELATIONS THEORY 4TH EDITION (HAL 299 – 319)

Postpositivisme merupakan paham yang berbeda secara metodelogis dari pendekatan


klasik. Paham yang terdiri dari teori kritis, postmodernisme, konstruktivisme, neomarxisme dan
feminisme ini menaruh perhatian besar pada bagaimana politik dunia dikonstruksikan secara
sosial yang didasarkan pada dua klaim. Pertama, dasar dari struktut politik internasional lebih
sosial dibanding material semata. Sedang klaim berikutnya menyatakan, struktur ini membentuk
identitas dan kepentingan aktor dibanding perilakunya. Tulisan ini sendiri memaparkan paham
konstruktivisme, baik asumsi dasar dan pandangannya atas konsep-konsep yang sebelumnya
telah dibangun oleh pendekatan klasik seperti realis.
Beberapa asumsi dasar konstruktivis yang berbeda dari pendekatan tradisional antara lain
pandangannya akan kepentingan negara yang merupakan bagian yang dikonstuksikan oleh
struktur yang sistematis, bukan oleh faktor-faktor eksogen. Hal ini lebih dilatari ranah sosiologis,
daripada struktur ekonomi. konstruktivis juga melihat, struktur tidak hanya dibentuk oleh
distribusi material semata seperti anggapan kaum neorealis, tapi juga melibatkan hubungan
sosial. Pada dasarnya struktur sosial terdiri dari tiga elemen, yakni pengetahuan bersama, sumber
daya material, dan praktek.
Struktur sosial didefinisikan oleh pemahaman, harapan, dan pengetahuan bersama
sehingga menciptakan situasi dan sifat hubungan antar negara, apakah akan berbentuk kooperatif
atau konfliktual, bersehabat atau bermusuhan. Sedangkan elemen sumber daya material hanya
memperoleh makna bagi tindakan manusia melalui struktur pengetahuan bersama yang telah
tertanam. Di samping itu, struktur sosial ada bukan karena aktor ataupun kapabilitas material,
tapi terdapat dalam praktek. Dengan kata lain, struktur sosial hanya ada dalam proses.
Konstruktivis juga memiliki ketertarikan normatif dalam mempromosikan perubahan sosial.
Akan tetapi, mereka mengejarnya dengan menjelaskan bagaimana struktur sosial alamiah secara
pantas.
Konstruktivis mengkonseptualisasikan anarki berdasarkan pada pemikiran John Locke
atau biasa disebut Lockean, sehingga pandangan akan negara dan hubungan di antara mereka
juga didasarkan pada Lockean. Hal ini tentu bersebrangan dengan asumsi realis yang
menyandarkan konsep anarki pada pemikiran Thomas Hobbes.
Lockean menekankan pada the law of nature. Hal ini bukan berarti Lockean menampik
state of nature ala Hobbes, tetapi lebih pada state of nature yang terikat oleh aturan di mana
terdapat kesepakatan bersama antar negara untuk masuk ke dalam komunitas yang memiliki
badan sosial politik. Alhasil, negara-negara dapat menghindari state of war dan hubungan yang
tercipta adalah rivalitas, bukan permusuhan.1 Rivalitas dan permusuhan inilah yang menjadi
perbedaan mendasar antara Lockean dan Hobbesian
Secara otomatis, rivalitas memilki empat implikasi bagi kebijakan luar negeri dalam
hubungan internasional. Pertama, apapun konflik yang terjadi antar negara, negara bertindak
berdasarkan status quo-nya terhadap kedaulatan negara yang lain. Kedua, sifat tindakan rasional,
apakah keputusan musuh dibuat atas dasar jeda waktu yang tergolong singkat, resiko yang tinggi,
dan power relatif. Ketiga, power militer yang relatif tetaplah penting. Sebab, pesaing boleh jadi
menggunakan kekuatannya untuk membuat perselisihan. Akan tetapi, hal ini berbeda dengan
tindakan terhadap musuh karena institusi kedaulatan mengubah perimbangan ancaman.
Keempat, jika perselisihan menuju pada peperangan, pesaing akan membatasi tindakan
kekerasannya.

Penyempurnaan Konstruktivis dari Pandangan Viotti, Kaupi, dan Fierke


Sejalan dengan Wendt, dalam International Relations Theory edisi keempat, Viotti dan
Kauppi juga menjelaskan asumsi pendekatan konstruktivisme yang mencoba untuk menjawab
persoalan identitas dan kepentingan negara. Tidak hanya itu, kesamaan pandangan
konstruktivisme yang dijelaskan oleh Viotti, Kaupi, dan Fierke juga tampak pada penekanan
dimensi sosial dari hubungan internasional dan faktor ideasional termasuk norma–norma,
peraturan–peraturan, hukum, dan bahasa saat melihat struktur internasional. 2 Meskipun, Wendt
lebih detail menjabarkannya dalam tiga elemen dasar.
1
State of war merupakan pertunjukan atau pernyataan kekuatan yang dilakukan satu negara terhadap negara lain
dimana tidak terdapat negara yang umumnya unggul untuk memberikan bantuan. P.R. Viotti and Mark V.
Kauppi, International Relations Theory, 4th ed. (New York: Pearson Education, Inc, 2010), h. 306.
2
Tim Dunne, Milja Kurki, dan Steve Smith, International Relations Theories: Disciplin and Diversity, 2nd ed. (New
York: Oxford University Press, 2010), h. 179.
Tidak seperti Wendt yang menjelaskan secara implisit tentang politik internasional
sebagai dunia yang diciptakan, Fierke memaparkannya secara eksplisit dengan memperkenalkan
agen dan proses interaksinya yang tidak dapat membuat keputusan secara bebas. Sedangkan,
Viotti dan Kauppi menjelaskan pandangan konstruktivis yang melihat dunia sebagai “becoming”
daripada “being”.

Kritik Terhadap Konstruktivis


Inti metodelogi konstruktivis menekankan pada “anarki adalah apa yang dibuat negara
darinya” sehingga tidak ada satu pun yang tidak dapat dihindari atau tidak dapat diubah tentang
politik dunia. 3 Tidak ada sesuatu yang given atau pasti, sebab intersubjektif dalam pandangan
konstruktifis membuat segalanya selalu berubah-ubah. Sayangnya, pendekatan ini menimbulkan
pertanyaan, apakah pemikiran intersubjektif menambahkan sesuatu yang baru dibandingkan pada
pendekatan klasik.
Tidak hanya itu, pandangan konstruktifis tentang pemikiran dan pengetahuan yang
membentuk cara dimana aktor-aktor melihat dirinya sendiri dalam politik dunia tidaklah cukup
mendalam. Lebih jauh, agenda kaum konstruktivis agak tradisional, sebab memfokuskan pada
interaksi negara-negara sehingga tidak ada tempat bagi struktur seperti kapitalisme, bahkan
patriaki. Ringkasnya, upaya konstruktivis untuk menjelaskan pendekatan baru tidak cukup
radikal.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini antara lain: pertama, asumsi dasar
konstruktivis yang menekankan pada identitas dan kepentingan negara sebagai bagian yang
dikonstuksikan oleh struktur yang sistematis. Di samping itu, struktur juga tidak hanya dibentuk
oleh distribusi material semata, tapi juga melibatkan hubungan sosial.
Kesimpulan kedua, pada dasarnya struktur sosial terdiri dari tiga elemen, yakni
pengetahuan bersama, sumber daya material, dan praktek. Kesimpulan terakhir yakni, pandangan
konstruktivis mengenai anarki lebih dilatari oleh pemikiran John Locke yang fokus pada the law
of nature, bukan Thomas Hobbes yang menekankan pada the state of nature.
3
Robert Jackson dan Georg Sorensen, Pengantar Studi Hubungan Internasionl (alih bahasa: Dadan Suaryadipura).
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 309.
Daftar Pustaka
Dunne, T., Milja Kurki, dan Steve Smith. International Relations Theories: Disciplin and
Diversity, 2nd ed. New York: Oxford University Press. 2010.
Jackson, Robert dan Georg Sorensen. Pengantar Studi Hubungan Internasionl (alih bahasa:
Dadan Suaryadipura). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.
Viotti, P.R., and Mark V. Kauppi. International Relations Theory 4th edition. New York :
Pearson Education, Inc. 2010.