Anda di halaman 1dari 214

Journal BIJAK Vol. 2, No.

1, November 2018 ISSN 2599-011X


PERAN GURU AGAMA KRISTEN DALAM
MEMBANGUN KARAKTER SISWA DI ERA
DIGITAL

Talizaro Tafonao

Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta


Weron, Balong RT/RW 002/012, Umbulharjo,
Cangkringan, Sleman-Yogyakarta
Email: talizarotafonao@gmail.com

Abstrak
Dalam tulisan ini, penulis mengangkat judul tentang peran guru
Agama Kristen dalam membangun karakter Siswa di era digital. Salah
satu indikator penting yang harus dilakukan oleh guru Agama Kristen
adalah membangun karakter siswa dengan baik. Dari karya tulis ini,
penulis mendreskripsikan peran guru Agama Kristen dalam
membangun karakter Siswa di era digital. Dalam menemukan jawaban
penelitian ini maka penulis menggunakan metode penelitian kualitatif
dengan melakukan kajian terhadap peran guru Agama Kristen tersebut.
Salah satu tantangan besar dalam membangun karakter siswa di era
digital adalah kemajuan teknologi itu sendiri. Dampak dari
perkembangan teknologi terhadap kehidupan siswa adalah
kemerosotan moral yang tinggi. Dalam menghadapi berbagai problem
ini, maka guru memiliki tanggung jawab penting dalam membangun
konsep diri siswa sesui dengan nilai-nilai kebenaran Alkitab, agar
siswa dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Guru Agama
Kristen adalah salah satu komponen penting dalam membentuk
karakter anak-anak melalui pembelajaran.

Kata kunci: Guru, Siswa, Digital

Pendahuluan
Kemajuan teknologi di abad ke-21 ini menjadi
tantangan besar bagi masyarakat pada umumnya, namun di
sisi lain, kemajuan teknologi menjadi peluang positif bagi
orang-orang yang dapat memanfaatkannya dengan baik.
1
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Bagaimana tidak, menurut hemat, Maharsi bahwa sebagian
besar masyarakat merasakan kehadiran informasi sebagai
salah satu kebutuhan pokok, disamping kebutuhan sandang,
pangan dan papan.1 Harus diakui bahwa kehadiran
teknologi saat ini telah ada sejak dulu seiring dengan
berlangsungnya kehidupan manusia. Keadaan ini terbukti
dengan semakin berkembangnya bisnis pelayanan
informasi, seperti stasiun televisi, surat kabar, radio dan
internet yang telah memasuki sendi-sendi kehidupan
manusia.2 Tetapi ironisnya dengan canggihan teknologi,
yang ada di tengah-tengah masyarakat saat ini dapat
merubah pola kehidupan manusia dari yang baik menjadi
buruk, seperti yang diungkapkan oleh Ngafifi, mengatakan
bahwa:
(1). Teknologi layar mampu membius manusia untuk
tunduk pada layar dan mengabaikan yang lain. Jika
manusia tidak sadar akan hal ini, maka dia akan
kesepian dan kehilangan sesuatu yang amat penting
dalam dirinya, yakni kebersamaan, hubungan
keluarga, dan sosial yang hangat. (2). Teknologi
sedang melanda kehidupan manusia sekarang ibarat
orang yang betah di samping kandang ayam, saking
asyiknya dia tidak sadar bahwa teknologi layar
membuat dirinya terpinggirkan dari sebuah kebutuhan
mendasar. (3). Manusia saat ini benar-benar telah
menjadi budak teknologi. Berdasarkan survei yang
dilakukan Secur Envoy, sebuah perusahaan yang
mengkhususkan diri dalam password digital, yang

1
Maharsi, Sri, Pengaruh Perkembangan Teknologi Informasi Terhadap Bidang
Akuntansi Manajemen. Dalam Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 2, No. 2, Nopember
2000, hal. 129
2
Loc.cit, Maharsi, hal.129
2
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
melakukan survei terhadap 1.000 orang di Inggris
menyimpulkan bahwa mahasiswa masa kini
mengalami nomophobia, yaitu perasaan cemas dan
takut jika tidak bersama dengan telpon selulernya.3

Dulu handphone hanya digunakan untuk telepon dan


sms untuk sekedar menanyakan kabar, sekarang ini
handphone tidak hanya bisa telepon dan sms, akan tetapi
sekarang ini bisa juga menjadi sebuah komputer mini, bisa
menjadi tv, dan lain-lain. Selain handphone ini sebagai alat
komunikasi, handphone telah menjadi gaya hidup bagi yang
menggunakannya. Di sisi lain, kecanggihan teknologi ini
dapat mempermudah para pengguna dalam mendapatkan
pengetahuan dari berbagai penjuru dunia dengan cepat dan
mudah. Namun sangat disayangkan sekali, Jika di era
digital saat ini masih banyak manusia yang salah dalam
memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai alat
komunikasi kepada sesama. Menurut penjelasan Puspita
bahwa penggunaan media komunikasi saat ini selain
membawa nilai-nilai positif, juga membawa nilai-nilai
negatif yang dapat berpengaruh pada manusia tersebut
dimana nilai-nilai negatif itu dibawa dari kemudahan
manusia dalam menggunakan media komunikasi terkini
serta ketidakpekaan manusia dalam menfilter nilai-nilai
yang dibawa oleh media komunikasi tersebut.4

3
Ngafifi, Muhamad, Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia Dalam
Perspektif Sosial Budaya. Dalam Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi
Volume 2, Nomor 1, 2014, hal. 35
4
Puspita, Yesi, Pemanfaatan New Media dalam Memudahkan Komunikasi dan
Transaksi Pelacur Gay. Dalam Jurnal Pekommas, Vol. 18 No. 3, Desember 2015, hal.
204
3
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Akibat dari kecerobohan orang-orang yang ada di
zaman era digital saat ini, dengan mudahnya menggunakan
dan memanfaatkan media teknologi sebagai alat dalam
menyebarkan berita-berita hoax, seperti isu-isu bangkitnya
PKI, Indonesia Darurat Utang, Rupiah Melemah,
Kemiskinan semakin bertambah, Pemerintah kurang
berpihak kepada Ulama, Sikap seperti ini harus dilawan dan
diberi sanksi tegas, agar media sosial ini tidak
dimanfaatkan demi kepentingan sendiri. Karena, menurut
Mulawarman, Aldila Dyas Nurfitri menegaskan bahwa
media sosial bahkan menjadi “senjata baru” bagi banyak
bidang. Seperti kampanye politik pada Pemilu 2014 lalu
banyak melibatkan peran media sosial5 tentu hal ini sama
dengan pada Pemilu yang akan datang pada tahun 2019.
Penulis meyakinkan bahwa berita-berita hoax dan
ujaran kebencian (hate speech) yang sudah tersebar di media
sosial adalah salah satu skenario seseorang untuk
mendokrak popularitasnya atau kelompok dan untuk
menjatuhkan lawan politiknya. Jika seseorang tidak cerdas
dalam memilah dan memahami isi berita yang ada di media
sosial, maka hal ini sangat berbahaya pada keutuhan
bangsa Indonesia. Oleh karena itu, mari bersama-sama
memerangi perilaku yang tidak terpuji ini, sebagai orang
Kristen seharusnya cerdas dan tidak ikut-ikutan dalam
menyebarkan berita hoax kepada publik. Dalam Surat
Yakobus memberi nasihat kepada semua orang “Saudara-
saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa

5
Nurfitri, Aldila. Dyas Mulawarman, Perilaku Pengguna Media Sosial beserta
Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial Terapan. Dalam Jurnal Psikologi
Buletin, Vol. 25, No. 1, 2017, hal.3
4
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela
hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi
hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi
hakimnya.” Yak. 4:11. Selanjutnya Surat Kolose lebih tegas
lagi mengatakan bahwa … sekarang, buanglah semua itu:
kemarahan, kemurkaan, kebencian, fitnah, dan perkataan
kotor dari bibirmu.” Kol. 3:8.
Jelas ayat di atas adalah salah satu teguran tegas atas
tindakan-tindakan yang sedang dilakukan oleh orang-orang
sekarang ini. Oleh karena itu, agar manusia tidak
terperangkap dalam aktivitas tersebut, maka seseorang
harus menjauhkannya. Amsal 22:10 “Usirlah si pencemooh,
maka perselisihan akan pergi, bahkan perbantahan serta
cemooh akan berhenti.” Berdasarkan persoalan yang telah
dipaparkan di atas menjadi salah satu isu yang sedang
hangat dibicarakan diberbagai media dan sekaligus sebagai
tantangan bagi masyarakat umum dan secara khusus kepada
anak-anak Tuhan saat ini. Dengan mencermati berbagai isu
yang sedang dipertontonkan oleh media sosial saat ini, tentu
memiliki dampak negatif besar terhadap perilaku anak-
anak, dimana anak-anak ikut-ikutan juga dalam
menyebarkan berita hoax dan tidak sedikit diantara anak-
anak sekolah yang marak dengan mempostingkan status
tentang fitnah terhadap sesamanya dan pimpinan Negara.
Sikap ini tidak sesuai dengan kepribadian dan nilai-nilai
Kristen, sebagaimana telah dipaparkan dalam Surat 1 Tim.
4:12b. “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam
perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu,
dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. Oleh karena
itu, salah satu peran Guru Agama Kristen Dalam
5
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Membangun Karakter siswa di Era Digital adalah mendidik
dan mengajar sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Yao Tung, mengatakan bahwa mendidik anak
dalam Kristus adalah mendidik dalam kepemimpinan yang
spiritual.6 Itulah sebabnya Stephen Tong menegaskan
bahwa guru agama Kristen adalah seorang yang di dalam
dirinya sendiri memiliki keyakinan, kepercayaan yang
teguh, ibadah yang baik, memiliki sifat moral yang baik dan
hidup dalam kesucian, memiliki kebajikan yang sesuai
dengan agamanya sehingga ia mengerjakan segala sesuatu
dengan bertanggung jawab untuk kekekalan.7
Guru sebagai pendidik akan mengalami keberhasilan
apabila mampu mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam
kehidupannya sehari-hari. Para pendidik harus memiliki
kedewasaan iman dan terus meningkatkan kepribadiannya8
melalui firman Tuhan. Menurut hemat penulis bahwa
tantangan terbesar bagi guru Agama Kristen di era digital
atau dikenal dengan istilah zaman now, bukan karena anak
itu tidak taat dan disiplin, tetapi yang menjadi tantangan
besar bagi guru Agama Kristen saat ini adalah kemajuan
teknologi itu sendiri. Oleh karena itu, guru harus benar-
benar melaksanakan tugas panggilannya sebagai guru
dengan penuh tanggung jawab dan penuh dengan dedikasi
dalam membangun karakter siswa sesuai dengan karakter
Kristus ditengah-tengah kemajuan teknologi.

6
Tung Yao, Khoe, Menuju Sekolah Kristen Impian Masa Kini, (Yogyakarta:
Andi Offset, 2018), hal. 2
7
Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, (Surabaya: Momentum, 2008), hal. 9
8
John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen: Suatu Upaya Peningkatan
Mutu Dan Kualitas Profesi Keguruan, (Bandung: Generasi Info Media, 2006), hal.3-9.
6
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan
artikel ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut
Sugiyono, mengatakan bahwa metode penelitian kualitatif
adalah dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti kondisi objek yang almiah,
dimana peneliti berperan sebagai instrument kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
(gabungan).9 Sumber data yang dipakai dalam penelitian
kualitatif berupa lingkungan alamiah. Kajian utama dalam
penelitian kualitatif adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi
dalam kondisi dan situasi sosial. Penulis melakukan analisis
data dengan memperbanyak informasi, mencari hubungan
ke berbagai sumber, membandingkan, dan menemukan
hasil atas dasar data sebenarnya (tidak dalam bentuk
angka). Dalam tulisan ini, hasil analisis data tersebut berupa
pemaparan yang berkenaan dengan situasi yang sedang
diteliti dan disajikan dalam bentuk uraian narasi.

Kajian Pustaka
Pengertian Peran Guru Agama Kristen
Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan
dari seseorang pada situasi sosial tertentu. Peran menjadi
bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komunitas
sosial atau politik. Peran biasa juga disandingkan dengan
fungsi. Peran dan status tidak dapat dipisahkan. Tidak ada
peran tanpa kedudukan atau status, begitu pula tidak ada

9
Sugioyono, Metode Penelitian Manajemen. (Bandung: Alfa Beta, 2014), hal.
347
7
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
status tanpa peran.10 Jadi, peran di sini bisa berarti
peraturan yang membimbing seseorang dalam masyarakat.
Sedangkan Guru Agama Kristen adalah seseorang guru
yang profesional dalam bidangnya dengan tugas utamanya
mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai dan mengevaluasi untuk diajarkan kepada peserta
didik dan sumber pengajarannya adalah Alkitab. Menurut
hemat Intarti bahwa guru tidak hanya dituntut untuk
memiliki pemahaman atau kemampuan dalam bidang
belajar dan pembelajaran tetapi juga dalam memotivasi
peserta didik. Guru Pendidikan Agama Kristen berperan
dalam mengajarkan nilai-nilai spritual dan memotivasi
peserta didiknya. Guru PAK harus memahami konsep-
konsep motivasi sehingga mampu berfungsi sebagai
fasilitator perkembagan peserta didik, baik yang
menyangkut aspek intelektual, emosional, sosial, maupun
mental spiritual.11
Berdasarkan pengertian di atas, maka penulis
menyimpulkan bahwa Guru Agama Kristen memiliki peran
penting dalam mendidik, mengajar, membimbing,
mengarahkan, melatih serta mengajarkan nilai-nilai spritual
berdasarkan Alkitab. Dalam Kitab Amsal menyatakan
dengan tegas “Didiklah orang muda menurut jalan yang
patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak
akan menyimpang dari pada jalan itu. Amsal 22:6.
Jelas peran Guru Agama Kristen adalah mengembangkan
sikap positif, watak, nilai moral, dan mampu
10
http://umum-pengertian.blogspot.com/2016/06/pengertian-peran-secara-
umum.html, diakses pada Tanggal 11 Oktober 2018. Pukul 18:51
11
Intarti, Esther Rela, Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai
Motivator. Dalam Regula Fidei- Volume 1, Nomor 2, September 2016, hal. 260
8
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
mengembangkan potensi anak didik menuju kedewasaan
rohani yang beriman kepada Tuhan.
Homrighausen menguraikan ada empat poin penting
yang harus dimiliki oleh guru Pendidikan Agama Kristen,
yakni: (1). Penafsir iman. Dialah yang menguraikan dan
menerangkan kepercayaan Kristen itu. Ia harus dapat
mengambil dari penyataan Tuhan dalam Yesus Kristus
sebagaimana tertulis dalam Alkitab kepada para peserta
didiknya. (2). Gembala bagi peserta didiknya. Ia
bertanggung jawab atas hidup rohani mereka; ia wajib
membina dan memajukan hidup rohani mereka. (3).
Pedoman dan pemimin. Ia hendaknya menjadi teladan yang
menarik orang kepada Kristus, mencerminkan Kristus
dalam sejarah pribadinya. Ia tidak boleh memaksa peserta
didiknya untuk masuk kedalam kepercayaan Kristen,
melainkan membimbing mereka dengan halus dan lemah
lembut. (4). Penginjil. Ia bertanggung jawab atas
penyerahan diri setiap peserta didiknya kepada Yesus.
Artinya peserta didik menjadi murid Tuhan Yesus yang taat
dan setia kepadaNya.12

Peran Guru Agama Kristen dalam membangun


karakter siswa di era digital

1. Guru sebagai pembimbing bagi siswa.


Salah satu peran guru Agama Kristen di era digital
adalah menjadi pembimbing. Menurut Lebar bahwa peran
guru Agama Kristen tidak hanya sebagai pengajar yang

12
Homrighausen, E.G. dan I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, (Jakarta:
BPK gunung Mulia, 1985), hal. 180-181
9
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
hanya memberikan ilmu, tetapi juga sebagai pendidik dan
pembimbing yang memperlengkapi siswa dalam semua
tahap pertumbuhannya”13 Namun menjadi guru
pembimbing bagi anak didik di zaman modern ini bukan
hal yang mudah, karena karakter anak di era digital sangat
berbeda dengan karakter anak-anak di zaman dulu. Siswa di
zaman dulu mudah diatur dan diarahkan, tetapi peserta
didik di era digital sangat susah diatur, diarahkan dan
dinasihati, karena mereka memiliki pola hidup yang
berbeda-berbeda. Dengan katan lain, anak-anak di era
digital telah terbentuk dan dipengaruhi oleh perkembangan
teknologi. Lihat saja gaya hidup anak-anak sekolah di
zaman sekarang, mereka sudah bisa menikmati layanan
mobile Internet yang super cepet. Bukan hanya menikmati
kecanggihan teknologi tersebut, namu bisa melakukan
apapun lewat smartphone, mulai dari entertainment, belajar,
kerja, dll.
Salah satu dampak negatif tentang perkembangan
teknologi terhadap pembaharuan karakter siswa di era
digital adalah kemerosotan moral di kalangan masyarakat
khususnya remaja dan pelajar menjadi salah satu tantangan
sosial budaya yang serius.14 Dalam menghadapi berbagai
problem ini, maka guru memiliki tanggung jawab dalam
membangun konsep diri siswa, misalnya tentang

13
Lebar, Lois E. Lebar, Educational That Is Christian: Proses Belajar Mengajar
Kristiani & Kurikulum Yang Alkitabiah (Malang: Gandum Mas, 2006), 76. Pertumbuhan
yang dimaksud adalah cara berpikir, sikap, iman dan perilaku dengan berfokus kepada
keteladanan Yesus sebagai Guru Agung berdasarkan kepada Firman Tuhan dan Kuasa
Roh Kudus.
14
Setiawan, Wawan, Era Digital dan Tantangannya, Universitas Pendidikan
Indonesia: Seminar Nasional Pendidikan, 2017), hal. 5
10
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
moralitas.15 Guru Agama Kristen adalah salah satu
komponen penting dalam membentuk karakter anak-anak
melalui pembelajaran di kelas. Dalam Surat Roma Paulus
sangat tegas “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan
Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu
mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang
hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu
adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi
serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh
pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan
kepada Allah dan yang sempurna. Rom. 12:1-2.
Artinya Guru Agama Kristen harus mampu
membimbing, menasihati dan mengarahkan peserta didik ke
jalan yang benar, agar anak-anak ini tidak salah dalam
bergaul dan juga dalam memanfaatkan perkembangan
teknologi, sebaliknya dengan kemajuan teknologi nilai-nilai
agama tetap terjaga sesuai dengan kehendak Tuhan Yesus
Kristus sebagai guru yang Agung. Sebagai guru yang
mengajar di bidang PAK, harus mampu menjadi garam dan
terang dunia (Mat 5:13-16). Wijanarko mengatakan:
“Keteladanan membuat pelajaran, ajaran, aturan menjadi
real, mudah dimengerti karena ada contohnya.16
Tujuan menjadi pembimbing bagi peserta didik di
sekolah adalah untuk menjadikan mereka menjadi manusia
dewasa dan memiliki moral yang baik. Tanpa bimbingan

15
Angraini, dkk, Erubahan Paradigma Peran Guru Dalam Pembelajaran Era
Digital. Dalam Prosiding Seminar Nasional, (Universitasi PGRI Palembang: Program
Pascasarjana, November 2015), hal. 200
16
Wijanarko, Jarot, Mendidik Anak Nilai Hidup Integritas Karakter, (Jakarta:
Suara Pemulihan, 2008), hal. 45.
11
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang baik dari guru, maka peserta didik akan mengalami
kesulitan dalam menghadapi berbagai tantangan di era
digital saat ini. Oleh karena itu, peranan guru Pendidikan
Agama Kristen dalam membangun karakter siswa di era
digital, yakni: (1). Guru bersikap terbuka kepada siswa
dalam menghadapi perkembangan dunia digital. (2). Guru
membantu siswa agar mampu memanfaatkan media sosial
sesuai kebutuhan serta memahami dampak daripada
penggunaan teknologi. (3). Guru menunjukkan kemahiran
dalam sistem teknologi dan mentransfer pengetahuan ke
teknologi dan situasi yang baru. (4). Guru dapat
berkolaborasi dengan siswa dalam menggunakan teknologi
sebagai sumber belajar. Jadi guru harus bersedia sepenuh
jiwa untuk menjadi pembimbing bagi generasi penerus
dalam menghadapi perkembangan zaman.

2. Guru sebagai motivator bagi siswa


Tidak sedikit guru mengalami kesulitan dalam
mengajar ketika diperhadapkan siswa yang kurang
semangat dalam belajar. Bahkan ada beberapa guru Agama
Kristen yang mengeluh serta tidak mau mengajar karena
melihat anak didiknya tidak ada respon atas pembelajaran.
Sebenarnya, peran seorang guru bukan hanya semata-mata
mentransfer ilmu mata pelajarannya kepada siswa, tetapi,
guru juga sebagai motivator bagi siswa agar memiliki
orientasi dalam belajar. Menurut Manizar, motivasi berasal
dari kata motif (dikutip dalam W.S.Winkel,1983:27) yang
bermaknakan suatu keadaan, kebutuhan, atau dorongan
yang disadari atau tidak disadari yang membawa kepada
terjadinya suatu perilaku. Motif adalah daya penggerak
12
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan
aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.
Motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, atau dorongan
dalam diri seseorang, yang disadari atau tidak disadari,
yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.17
Berdasarkan penjelasan Manizar di atas, maka Intarti
menambahkan bahwa:
Tanggung jawab guru adalah membantu peserta
didik agar dapat mengembangkan potensi yang
dimilikinya secara maksimal. Potensi peserta
didik yang harus dikembangkan bukan hanya
menyangkut masalah kecerdasan dan keterampilan,
melainkan menyangkut seluruh aspek kepribadian.
Sehubungan dengan hal tersebut, guru tidak
hanya dituntut untuk memiliki pemahaman atau
kemampuan dalam bidang belajar dan
pembelajaran tetapi juga dalam bidang memberi
dorongan untuk mencapai tujuan. Terlebih bagi
mereka yang mengalami misalnya, patah semangat,
keputusasaan, kegagalan, peran motivator sangat
diperlukan agar mereka dapat bangkit kembali.18

Artinya guru harus mampu menumbuhkan dan


merangsang semua potensi yang terdapat pada siswanya
serta mengarahkan agar mereka dapat memanfaatkan
potensinya tersebut secara tepat, sehingga siswa dapat
belajar dengan tekun untuk mencapai cita-cita yang
diinginkan. Itulah sebabnya, guru Kristen adalah guru yang
memiliki otoritas dalam kelas. Otoritasnya digunakan

17
Manizar, Elly, Peran Guru Sebagai Motivator Dalam Belajar. Dalam Jurnal
Tadrib Vol. 1, No 2. Desember 2015, hal. 173
18
Op.cit, Intarti, hal. 262.
13
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dalam penatalayanan pekerjaan Tuhan. Guru Kristen adalah
gembala bagi murid-muridnya.19 Oleh karena itu, guru
sebaikanya perlu melakukan pendekatan person kepada
setiap peserta didik. Karena peserta didik yang diajar adalah
peserta didik yang penuh dengan banyak problem. Ada
banyak masalah yang dihadapi oleh anak-anak di zaman
digital ini. Harapan satu-satunya adalah guru, guru
Agama Kristen sangat berperan dalam mengelolah
proses belajar mengajar dan harus bertindak sebagai
motivator dengan berusaha menciptakan kondisi belajar
mengajar yang aktif dan mengembangkan bahan pengajaran
yang baik dan dapat dinyatakan dalam tingkah laku dalam
kehidupan sehari-hari.20 Pengertian ini, diterjemahkan oleh
Lefever, mengatakan bahwa saat guru memahami gaya
belajar para siswa dan kemudian mengantur gaya mengajar
mereka menurut gaya tersebut, siswa akan belajar.
Mengajar berdasarkan gaya belajar siswa memampukan
para guru untuk mulai menjangkau setiap orang yang Tuhan
berikan untuk mereka didik.21 Karena tugas utama
pendidikan nasional kita adalah pembinaan watak peserta
didik baik dalam jenjang pendidikan dasar, pendidikan
menengah maupun pendidikan tinggi.22

19
Tung, Yao Khoe, Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen Yang berhati Hamba,
(Yogyakarta: Adi Offset, 2018:5.
20
Op.cit, Intarti, hal. 267
21
Lefever. Marlene D, Learning Styles, (Bandung: Gandum Mas, 2015), hal. 12
22
Santoso, Slamet Iman, Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan, (Jakarta:
Univertasi Indonesia Press, 1979).
14
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
3. Guru sebagai orangtua bagi siswa
Dibagian sebelumnya penulis memposisikan guru
sebagai pembimbing dan motivator. Tetapi dibagian
berikutnya adalah guru sebagai orangtua bagi siswa. Salah
satu peran yang dilakukan oleh guru sebagai pendidik di
sekolah adalah berperan sebagai orang tua. Jika dilihat dari
definisi daripada guru adalah mendidik dan mengajar.
Namun, keberhasilan siswa bukan hanya terfokus pada ilmu
yang ditransfer oleh guru saja, tetapi tugas guru sebagai
pengajar belum cukup untuk mencapai keberhasilan siswa
dan tujuan Pendidikan Nasional. Hal ini ditegaskan oleh
Amrulloh bahwa peran seorang guru dalam pendidikan
tidak hanya sekadar mentransfer informasi dari dirinya
kepada para peserta didik, namun juga harus berperan aktif
dalam mengembangkan secara optimal segala potensi yang
ada pada mereka. Tujuan akhir seorang guru tidak hanya
sekadar menjadikan anak-anak didiknya sebagai para
intelek, namun juga menjadikan mereka sebagai pribadi-
pribadi yang berkarakter mulia.23
Penulis sependapat dengan apa yang diutarakan oleh
Amrulloh di atas bahwa ada banyak guru saat ini tidak bisa
diandalkan untuk menjadi orangtua bagi siswa. Seringkali
guru-guru di zaman era digital lupa akan tugasnya sebagai
orangtua. Salah satu kebiasaan guru di era digital ini adalah
lebih banyak memperhatikan Honphonenya daripada
memperhatikan tingkah laku anak-anak didiknya. Salah
satu permasalahan serius yang sering dijumpai di kalangan

23
Amrulloh, Guru Sebagai Orang Tua Dalam Hadis “Aku Bagi Kalian Laksana
Ayah”. Dalam Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam Volume 2, Nomor 1, Desember
2016, hal. 72
15
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
siswa adalah kenakalan yang tidak bisa dikendalikan
sehingga menimbulkan perpecahan dalam masyarakat yang
berkepanjangan.
Ada tiga tingkatan kenakalan remaja/siswa menurut
(Sunarwiyati S, 1985), yakni: (1) kenakalan biasa, seperti
suka berkelahi, suka keluyuran, membolos sekolah, pergi
dari rumah tanpa pamit (2) kenakalan yang menjurus pada
pelanggaran dan kejahatan seperti mengendarai sepera
motor tanpa SIM, mengambil barang orang tua tanpa ijin
(3) kenakalan khusus seperti penyalahgunaan narkotika,
hubungan seks diluar nikah, pemerkosaan dll. Selain itu,
Sudarsono menambahkan yang termasuk kenakalan siswa
atau remaja meliputi: Pertama, perbuatan awal pencurian
meliputi perbuatan berkata bohong dan tidak jujur; kedua,
perkelahian antar siswa termasuk juga tawuran antar pelajar
dan membentuk geng sendiri; ketiga, mengganggu teman;
keempat, memusuhi orang tua dan saudara, meliputi
perbuatan berkata kasar dan tidak hormat pada orang tua
dan saudara; kelima, menghisap ganja, meliputi perbuatan
awal dari menghisap ganja yaitu merokok; keenam,
menonton pornografi; dan, ketujuh, corat-coret tembok
sekolah. 24
Lantas, apakah hal ini dibiarkan begitu saja? Tentu
tidak! Oleh karena itu, para guru Agama Kristen memiliki
peran penting untuk menjadi orangtua/konselor bagi siswa.
Sekalipun tugas ini adalah tugas para guru Bimbingan
Konseling, namun bukan berarti guru-guru lain tidak
berkesempatan menolong setiap murid yang sedang

24
Sudarsono, Kenakalan Remaja, (Jakarta: Rineka, 1995), hal. 13
16
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
bermasalah, termasuk guru Agama Kristen. Guru sebagai
konselor akan menolong setiap murid yang sedang
bermasalah, bukan saja memposisikan dirinya sebagai
konselor tetapi lebih dari itu, yakni sebagai orang tua.
Menurut Usman, guru berperan sebagai orang tua kedua,
yang memberi dan membangun motivasi murid-muridnya
untuk belajar serta menambah wawasan dalam berbagai hal
dalam bidang kemasyarakatan, guru bertugas mendidik dan
mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara yang
baik serta bertanggung jawab.25 Dengan demikan guru
harusnya memperlakukan setiap siswa seabagai anaknya
sendiri. Karena hubungan sebagai anak-orang tua, maka
guru dapat berperan lebih luas untuk membentuk karakter
anak. Berdasarkan penjelasan dan uraian di atas, maka ada
beberapa peran guru Agama Kristen dalam bertindak
sebagai orang tua dalam membangun karakter siswa di era
digital, sebagai berikut:
Pertama, Guru Agama Kristen mendampingin anak
dalam berbagai pergumulan dan permasalahan yang ada
pada diri siswa. Pendampingan itu bertujuan agar siswa
mampu mengatasi pergumulan dan permasalahannya.
Kedua, Guru Agama Kristen harus bersedia menjadi
konselor bagi siswa yang memiliki masalah. Artinya guru
memposisikan dirinya sebagai pendengar bagi siswa.
Tujuannya adalah siswa yang memiliki masalah segera
dapat jalan keluar, sehingga siswa tersebut tidak hidup
dibawah tekanan masalah. Ketiga, Guru Agama Kristen,
khususnya, dapat membimbing siswa dengan memberikan

25
M Uzer Usman., Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
1995), hal 7 – 8
17
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
nasihat yang berdasar pada kebenaran firman Tuhan, Sebab,
firman Tuhan yang menjadi penuntun di setiap kehidupan
kita.
Keempat, Guru Agama Kristen harus mengajari siswa
untuk mempercayai Alkitab (Yohanes 8:31-32), bahwa di
dalam Alkitab Allah tidak pernah berbohong kepada
umatnya. Jika guru menunjukkan pendampingan, perhatian,
dan kasih yang tulus kepada siswa, tentu siswa akan merasa
dihargai dan memiliki semangat belajar yang tinggi di
sekolah. Kelima, Guru Agama Kristen harus menasihati
peserta didik untuk menjalin pertemanan yang sehat. Dalam
Surat 1 Kor. 15:33 dijelaskan bahwa Janganlah kamu sesat:
Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa
lagi! Ada di antara kamu yang tidak mengenal Allah. Hal
ini kukatakan, supaya kamu merasa malu.
Berdasarkan poin di atas, maka Sidjabat (dikutip
dalam Lucie Barber) mengusulkan ada tujuh nilai hidup
utama yang perlu dikembangkan dari anak-anak sampai
menjadi dewasa, yakni: (1). Memahami potensi diri
(talenta) secara objektif. (2). Mengerti dan mengatasi
masalah pengenalan penerimaan diri. (3). Memiliki
panggilan hidup. (4). Membiasakan perilaku yang
bertujuan. (5). Memperoleh bimbingan rohani. (6). Berani
belajar-berani menghadapi kenyataan. (7). Menumbuhkan
kebijakan dalam mengambil keputusan.26 Supaya ketujuh
nilai ini menjadi filsafat dan gaya hidup siswa di era digital
saat ini. Oleh karena itu, guru Kristen memegang otoritas

26
Sidjabat, B.S, Membangun Pribadi Unggul-Suatu Pendekatan Teologis
terhadap Pendidikan Karakter, (Yogyakarta: Andi Offset, 2015), hal. 271
18
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
tertinggi dalam kelas dan menjadi orang yang paling
bertanggung jawab dalam mempersiapkan anak
menghadapi kehidupan dunia dan kehidupan dalam
kekekalan. Dengan demikian, guru-guru Kristen harus
menyadari posisi mereka sebagai orang yang diberi otoritas
oleh Tuhan untuk mendidik murid-muridnya agar tunduk
kepada-Nya dengan penuh kasih. Terlebih lagi guru harus
berperan sebagai in loco parentis, menjadi rekan orangtua
dalam kelas untuk mengajarkan kebenaran.27

4. Guru sebagai teladan bagi siswa


Kata keteladanan berasal dari kata teladan yang dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “perbuatan yang
patut ditiru, dicontoh.”28 Sedangkan kata “keteladanan”
diartikan “hal-hal yang dapat ditiru atau dicontoh.”29 Kata
“teladan” dalam bahasa Yunani berasal dari kata u`po,
deigma (hupodeingma) yang diterjemahkan “teladan,
contoh, tiruan.”30 Di dalam Perjanjian Baru kata ini hanya
muncul enam (6) kali (Yoh. 13:15; Ibr. 4:11; 8:5; 9:23;
Yak. 5:10; 2Ptr. 2:6). Keteladanan adalah hasil dari
tindakan proses ketaatan dan ketekunan akan Firman
Tuhan. Orang dikatakan teladan bila ia sudah melakukan
hal yang benar dan berdampak positif bagi orang lain.
Keteladanan harus bersifat permanen/tetap dan konsisten.
Dalam Yohanes 13:15 Yesus berkata “sebab Aku telah

27
Ibid, Tung Yao, hal. 95
28
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar BahasaIndonesia (Jakarta:
Balai Pustaka, 2001), hal. 1160.
29
Ibid.
30
Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan
Konkordansi Perjanjian Baru II, (Jakarta: LAI, 2004), hal. 780.
19
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga
berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak hanya sekedar
mengajar murid-murid-Nya tetapi juga menjadi teladan bagi
mereka. Keteladanan yang ditunjukkan dalam pengajaran
dan pelayanan Yesus memiliki tujuan yang jelas,
sebagaimana diungkapkan dalam Yohanes 13:15, “Supaya
kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat
kepadamu.” Dalam bahasa Yunani digunakan kata “kaqw.j”
(kathōs) yang berarti “sebagai, seperti, bahkan sebagai”.
Yesus melalui keteladanan-Nya menghendaki supaya setiap
orang percaya menjadi sama seperti Yesus. Menjadi sama
dalam arti mampu melakukan dengan baik apa yang telah
diteladankan Yesus kepada murid-murid-Nya, orang-orang
yang percaya. Yesus layak menjadi figur teladan bagi
semua orang. Meri Setiawan dan Stephen Tong
mengemukakan bahwa: “Kristus teladan, segala zaman,
sebagai Yesus Kristus selain menjadi Juruselamat dan
Tuhan juga menjadi teladan bagi karakter-karakter di segala
zaman.”31
Berangkat dari uraian dan penjelasan Stephen Tong di
atas, maka guru Agama Kristen di era digital diharapkan
menjadi teladan bagi siswa seperti Yesus lakukan
sebelumnya. Hal ini sangat penting, karena adanya
perubahan sikap dan karakter siswa di era digital. Salah satu
karakter siswa di era digital/ kids zaman now yang sering
dijumpai adalah (1). Siswa di era digital/ kids zaman now
lebih berkiblat ke arah negatif yang melanggar norma-

31
Tong, Stephen Mary Setiawan, Seni Membentuk Karakter Kristen, (Jakarta:
Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995), hal. 66.
20
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
norma yang ada, seperti berpacaran lewat batas serta
merokok, bertato, minum minuman keras, pergaulan yang
melampaui batas, sampai penyalahgunaan obat obatan
terlarang (2). Siswa di era digital/ kids zaman now yang
semakin jauh dari nilai – nilai kesopanan dan nilai luhur
budaya bangsa, seperti berani melawan orang tua dan guru,
dll. Kedua fenomena ini, seringkali para orangtua dan guru
bingung menghadapi sikap anak-anak yang memiliki
kepribadian seperti ini. Oleh karena itu, sebaiknya guru
Agama Kristen di zaman era digital ini hendaknya menjadi
guru yang menyesuikan zaman. Zaman yang dimaksud di
sini adalah guru Agama Kristen yang dapat mengikuti
berbagai perkembangan Ilmu Teknologi dan karakter anak-
anak.
Itu sebabnya, tujuan keteladanan Yesus adalah supaya
murid-Nya dapat melihat secara langsung ajaran Tuhan
Yesus terwujud dalam hidup manusia dalam segala situasi,
hingga akhirnya mereka dapat menjadi sama dengan-Nya
dalam arti mampu melakukan dengan baik apa yang
menjadi pengajaran dan yang telah diteladankan Yesus bagi
mereka. Sebagimana teori di atas, Andar Ismail dalam buku
“Selamat Menabur” mengusulkan, “Mendidik adalah
pekerjaan yang sulit, lebih-lebih lagi mendidik melalui
teladan. Banyak orang berkata, “Turutilah ajaranku.” atau
“Turutilah nasihatku.” “Turutilah petunjuk dan
pengarahanku.” “Turutilah khotbahku.” Tetapi jarang orang
berkata, “Turutilah teladanku.” Teladan yang baik
tentunya.”32 Jadi, keteladanan adalah hasil dari tindakan

32
Ismail, Andar, Selamat Menabur 33 Renungan tentang Didik-Mendidik,
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal. 13.
21
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
proses ketaatan dan ketekunan akan Firman Tuhan.
Sebagaimana Yesus menjalani kehidupan manusiawi yang
dapat diteladani setiap orang. Yesus adalah contoh pengajar
yang bisa menyesuaikan berbagai situasi saat itu. Kiranya
guru Agama Kristen yang ada di zaman era digital ini dapat
menginspirasi siswanya, bukan hanya mengenali siswanya
dari nama, namun lebih daripada itu adalah mengenal setiap
karakter siswa.
Ini salah satu tujuan dari pengajaran Yesus yang
dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Yesus
Kristus tidak hanya pandai mengajarkan, tetapi juga
menghidupi sendiri ajaran-Nya. Artinya pengajaran
merupakan bantuan bimbingan yang diberikan pendidik
terhadap peserta didik menuju kedewasaannya. Sejauh dan
sebesar apapun bantuan itu diberikan sangat berpengaruh
oleh pandangan pendidik terhadap kemungkinan peserta
didik utuk di didik. Artinya pengajaran Yesus sangat
berhubungan dengan sikap dan tindakan hidup-Nya
sehingga dampak pengajaranNya ini dapat mendewasakan
seseorang/ peserta didik. Oleh karena itu, membangun
karakter dan watak siswa merupakan tugas utama guru yang
tidak bisa ditunda, untuk itu guru memiliki peran yang
sangat penting dalam membangun karakter siswa di era
digital.

22
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Upaya-upaya yang dilakukan oleh Guru Agama Kristen
dalam Membangun Karakter Siswa di Era Digital

1. Menanamkan kedisiplinan
Salah satu upaya yang harus dilakukan oleh Guru
Agama Kristen dalam membangun karakter siswa di era
digital ini adalah menanamkan kedisplinan kepada siswa.
Bagian ini sering diabaiakan oleh para pendidik dan
orangtua siswa. Padahal kedisplinan menjadi salah satu
indikator penting dalam membangun kepribadian siswa.
Secara etimologi, disiplin berasal dari bahasa Latin
“disipel” yang berarti pengikut. Seiring dengan
perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan
menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang
menyangkut tata tertib.33 Selanjutnya, disiplin adalah sikap
dari seseorang atau kelompok orang yang senantiasa
berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala aturan
atau keputusan yang ditetapkan.34 Berdasarkan uraian dan
definisi disiplin di atas, maka penulis menguraikan peran
guru dalam menanamkan disiplin kepada siswa di era
digital. Karna “disiplin adalah salah satu kunci kesuksesan.
Tanpa disiplin seseorang tidak dapat meraih apa yang
menjadi impiannya”.35 Jadi kepribadian guru memiliki andil
yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan,
khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Pribadi guru juga
sangat berperan dalam membentuk pribadi peserta didik.

33
Wursanto, Manajemen Kepegawaian, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hal. 147
34
Muchdarsya Sinungan, Produktifitas, Apa dan Bagaimana, (Jakarta: Bumi
Aksara, 1987), hal. 135
35
.Mulyana A.Z, Rahasia Menjadi Guru Hebat Motivasi Diri Menjadi Guru Luar
biasa, (Jakarta: Grasindo, 2010 ), hal. 201
23
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Salah satu kedisiplinan yang ditanamkan oleh guru
Agama Kristen kepada siswa di era digital ini adalah: (1).
Guru Agama Kristen sebagai teladan kedisiplinan. Dalam
pendidikan, mendisiplinkan peserta didik harus dimulai dari
pribadi guru yang disiplin, arif dan berwibawa. Disiplin
peserta didik tidak akan terbentuk bila pribadi guru tidak
disiplin, arif, dan berwibawa. (2). Guru Agama Kristen
berperan dalam mendisiplinkan peserta didik. Jelas tugas
guru bukan hanya sekedar mengajar, tetapi guru harus
senantiasa mengawasi perilaku peserta didik, terutama pada
jam-jam sekolah, agar tidak terjadi penyimpangan perilaku
atau tindakan yang indisiplin. Disiplin pada siswa sangat
penting, agar siswa mengerti batas-batas kebebasan dalam
bergaul, apalagi dalam memanfaatkan kemajuan teknologi.
(3). Guru Agama Kristen berperan dalam mendisiplinkan
diri dalam menggunakan waktu. Disiplin waktu menjadi
salah poin penting dalam membentuk karakter siswa.
Menurut Ariwibowo bahwa “disiplin dalam waktu memiliki
pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan manusia.
Karena dengan disiplin waktu manusia dapat mencapai
sasaran hidup, dan mencapai pekerjaan yang ditetapkan
dengan efektif dan efesien”.36 Oleh karena itu, guru Agama
Kristen harus menanamkan disiplin waktu kepada siswa,
sebab waktu adalah bagian dari pendidikan. Dengan kata
lain, guru berperan untuk menyadarkan setiap anak untuk
memanfaatkan waktu untuk sekolah, belajar, dalam
menyelesaikan tugas, dan lain sebagainya.

36
. Ariwibowo Prijosaksono dan HM Roy Sember, Control Your Life, Aplikasi
Manajemen Diri dalam Kehidupan Sehari-hari, (Jakarta: PT. Elex Media Komputindo,
2002), hal. 33
24
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2. Menanamkan rasa bertanggung jawab
Tanggung jawab tidak dengan sendirinya ada dalam
diri setiap anak atau setiap orang. Anak-anak sebetulnya
lahir tanpa mempunyai kesadaran akan tanggung jawabnya.
Jadi dalam menanamkan rasa bertanggung jawab kepada
siswa adalah tugas orangtua dan guru. Menurut Asmani
bahwa tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang
untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang
seharusnya dilakukan baik terhadap diri sendiri,
masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara
dan Tuhan Yang Maha Esa.37 Hal ini sejalan dengan apa
yang di jelaskan oleh Rochmah bahwa dalam menanamkan,
menumbuhkan, dan mengembangkan kesadaran
bertanggung jawab dalam bersikap dan berperilaku, bisa
dilakukan melalui pendidikan dan penyuluhan dengan
metode pengajaran, peneladanan, dan penanaman takwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa.38 Salah satu keberhasilan
guru Agama Kristen di era digital ini adalah menanamkan
rasa tanggung jawab kepada siswa. Tuhan menghendaki
setiap siswa menjalankan rasa tanggung jawab sebagai
bagian dari karakter. Artinya setiap peserta didik harus
bertanggung jawab pada dirinya sendiri. “Tanggung jawab
siswa sebagai pelajar adalah belajar dengan baik,
mengerjakan tugas sekolah yang sudah diberikan
kepadanya, disiplin dalam menjalani tata tertib

37
Asmani, mur Jamal Ma, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di
Sekolah, (Yogyakarta: Diva Press, 2013), hlm. 37
38
Rochmah, Elfi Yuliani, Mengembangkan Karakter Tanggung Jawab Pada
Pembelajar. Dalam Jurnal Al Murabbi, Volume 3, Nomor 1, Juli 2016, hal. 37
25
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sekolah”.39 Namun fakta di lapangan saat ini banyak siswa
yang merasa terbebani dengan kewajiban sebagai
pelajar. Akhirnya siswa berangkat dari rumah pergi ke
sekolah hanya dijadikan sebagai ajang untuk ketemu,
kumpul dengan teman-teman, ngobrol dan lain sebagainya.
Sementara tugas sejatinya untuk belajar dan menimba ilmu
sudah bukan lagi menjadi pokok utama.
Lantas bagaimana cara menumbuhkan kembangkan
rasa tanggung jawab kepada siswa, yaitu: (1). Guru
memberi pemahaman kepada siswa tentang tanggung
jawab. (2). Guru Agama Kristen memberikan tugas. (2).
Guru Agama Kristen membiarkan anak mengambil
keputusan sendiri. (3). Guru Agama Kristen membiarkan
siswa melakukan “kesalahan” tanpa ditinggalkan. (4). Guru
Agama Kristen memberikan kepercayaan pada anak, agar
siswa dapat memiliki kepercayaan diri. (5) Guru Agama
Kristen mengajarkan begaimana cara kerja kelompok. (6).
Guru Agama Kristen mengajarkan anak untuk punya harga
diri. (7). Guru Agama Kristen memberi contoh dan menjadi
teladan bagi anak. Selain poin-poin di atas, maka Rochmah
(dikutip dalam Fitzpatrick, 1993),40 memberikan beberapa
pedoman untuk mengajak murid berbagi dan mengemban
tanggung jawab di kelas, diantaranya adalah:
(1). Libatkan murid dalam perencanaan dan
implementasi inisiatif sekolah dan kelas. Partisipasi
ini membantu memuaskan kebutuhan murid untuk
merasa percaya diri dan merasa memiliki. (2) Dorong
murid untuk menilai tindakan mereka sendiri.
39
.Nur Hidayat dan Adi Atmoko, Sosial Budaya dan Psikologis Pendidikan:
Terapannya di Kelas, (Malang: Gunung Samudera, 2013), hal 65
40
Op.cit, Rochmah, hal. 42
26
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Ketimbang penghakiman atas perilaku murid,
lebih baik ajukan pertanyaan yang memotivasi
murid untuk mengevaluasi perilaku mereka
sendiri. (3). Jangan menerima dalih. Alasan biasanya
dimaksudkan untuk menghindari tanggung jawab.
Jangan mendiskusikan alasan. Lebih baik tanya pada
murid tentang apa yang akan mereka lakukan
suatu kali nanti jika situasi yang sama terjadi.
(4). Beri waktu agar murid mau menerima
tanggung jawab. Murid tidak akan berubah menjadi
anak bertanggung jawab dalam waktu semalam.

Pada saat siswa mulai memikul tanggung jawab,


maka saat itu juga siswa akan lebih bisa mempercayai
kelebihannya. Sebab akan ada banyak hal yang dia mampu
lakukan, hal-hal kecil yang tadinya dia pikir tidak berguna,
tapi waktu dia mulai lakukan, sesungguhnya itu akan
menumbuhkan rasa keyakinan dirinya. Oleh karena itu,
peran guru Agama Kristen sangat diperlukan untuk
mengajarkan peserta didik untuk bertanggung jawab agar
kelak siswa ini menjadi seorang yang memiliki karakter
yang baik. Menurut Tung Yao bahwa pembentukan
karakter sering didengung-dengungkan sebagai bagian
solusi atas persoalan kehidupan yang bermoral dalam
masyarakat. Pelajarin ini dianggap mampu memperbaiki
berbagai penyimpangan kehidupan dalam masyarakat.41
Dalam mencapai hal ini, maka diperlukan guru Kristen
yang mempraktikan dasar-dasar pendidikan berdasarkan
kebenaran Firman Tuhan.42 Karena guru juga merupakam

41
Op.cit, Tung Yao, Khoe, hal. 193
42
Op.cit, Tung Yao, Khoe, 189
27
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
wakil Tuhan dalam kehidupan siswa/mahasiswa. Pelajar
atau mahasiswa dipandang sebagai anak Allah, penebusan
darah Yesus Kristus menjadikan mereka sebagai anggota
keluarga secara ilahi. Intelektualitas perlu diarahkan
melalui proses control diri,43 sehingga siswa akan lebih
realistik. Maksdunya adalah siswa yang sudah diajar
bertanggung jawab sejak kecil akan menjadi anak-anak
yang mengerti realitas kehidupan serta membedakan antara
yang baik dan buruk.

3. Menanamkan nilai kejujuran


Beberapa tahun belakangan ini yang menjadi isu di
negeri ini adalah ketidakjujuran atas kebenaran. Misalnya
semua orang mengerti bahwa korupsi, penipuan dan
penyerbaran berita bohong (hoax) adalah tindakkan yang
salah. Namun sebaliknya orang yang mengerti tentang
kebenaran ini justru itulah yang melakukannya. Hal-hal
seperti ini jangan sampai anak didik terpengaruh dengan
perilaku-perilaku yang tidak terpuji ini. Dalam mengatasi
berbagai problem ini maka diperlukan pendidikan karakter
kejujuran yang ditanamkan oleh guru sejak dini kepada
siswa. Menurut penjelasan Mansur mengatakan bahwa
kejujuran merupakan sikap dasar yang menunjukkan
tingkat moralitas seseorang. Seseorang biasanya dinilai
berkualitas dan berintegritas dari seberapa tinggi nilai-nilai
kejujuran termanivestasi dalam dirinya.44 Sikap ini dapat

43
GP, Harianto, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia Pendidikan
Masa Kini, (Yogyakarta: Andi Offset, 2012), hal. 156
44
Model Pengajaran Kejujuran Menggunakan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) di Pondok Pesantren Al-Azhaar Lubuklinggau. Dalam Epistemé, Vol.
11, No. 2, Desember 2016, hal. 341
28
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dilihat dalam Kitab Ayub “Ada seorang laki-laki di tanah
Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan
Allah dan menjauhi kejatan. Ayub. 1:1.
Perbuatan yang Ayub teladankan bagi kita para
pembaca Alkitab, siapa saja, kapan saja dan dimana saja,
mencerminkan nilai kesalehan, ketaatan, kejujuran, dan
kesetian kepada Tuhan yang diyakini dan dpercayai selalu
mendatangkan kebaikan dalam segala perkara yang
didatangkan-Nya bagi kita.45 Kejujuran sesungguhnya
berkaitan erat dengan nilai kebenaran, termasuk di
dalamnya kemampuan mendengarkan, kemampuan
berbicara, serta perilaku yang biasa muncul dari
tindakan manusia.46 Dalam menyikapi persoalan mengenai
menurunya nilai kejujuran dalam diri siswa saat ini, maka
ada beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
guru, antara lain: melakukan pendampingan secara rutin,
kerjasama antara sekolah dan orangtua murid, dll. Dengan
menanamkan sikap seperti ini mau tak mau siswa akan
cenderung memiliki karakter jujur dan berusaha untuk
berbuat jujur, bahkan bisa jadi mencegah orang lain berbuat
tidak jujur. Jadi peran guru Agama Kristen dalam
menumbuhkan rasa jujur kepada siswa sangat penting,
yakni guru Agama Kristen memiliki kepribadian yang baik.
Andar Gultom memaparkan standar kompetensi
kepribadian yang harus dimiliki para pengajar kristiani
meliputi: memiliki integritas yang mantap, memiliki
kepribadian yang dewasa, berpikir alternatif, mempunyai
45
Brotosudarmono, Drie, dkk, Teladan Kehidupan 2, (Yogyakarta: Andi Offset,
2013), hal. 63
46
Al-Asfahani, Al-Raghib, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, (Beirut: Dar al-
Fikr, t.t.), hal. 63.
29
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sifat jujur, adil, dan obyektif, berdisiplin dalam
menjalankan tugas, memiliki kepribadian yang arif,
berwibawa, dan memiliki akhlak dan dapat menjadi
teladan.47
Kepribadian berarti mutu, sifat, atau keadaan yang
menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga memiliki
potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan
dan kejujuran. Di dalam Kamus Psikologi dinyatakan
bahwa, “Kepribadian adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang;
biasanya memunyai kaitan dengan sifat-sifat yang relatif
tetap.”48 Jadi dari berbagai penjelasan ini maka penulis
memberi beberap tips untuk menanamkan rasa kejujuran
kepada siswa di era digital saatnya, antara lain: (1).
Kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan
realiti. (2). Kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian
antara ucapan dan perbuatan. (3). Kejujuran dalam niat,
yaitu kejujuran tertinggi di mana ucapan dan perbuatan
semuanya hanya untuk Allah. (4). Jujur dalam menepati
janji. (5). Jujur dalam berkendak. Oleh karena itu, dalam
mewujudkan hal ini, maka diperlukan peran guru dalam
menanamkan nilai kejujuran kepada siswa. Salah satu cara
guru menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada peserta
didik di sekolah adalah: (1). Memberikan pengajaran secara
terus menerus dan terintegrasi. (2). Memberikan

47
Andar Gultom, Profesionalie, Standar Kompetensi, dan Pengembangan
Profesi Guru PAK, (Bandung: Bina Media Informasi, 2007), hlm. 39-40.
48
Gulo Dali, Kamus Psikologi, (Bandung: Tonis, 1982), hlm. 29.
30
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
keteladanan. (3). Membiasakan berperilaku. (4).
Mengadakan refleksi. (5). Memberikan punishment.49

4. Menanamkan rasa takut akan Tuhan


Erastus Sabdono pernah menyampaikan dalam
khotbahnya, beliau mengatakan bahwa di era modernisasi
sekarang ini banyak orangtua takut/kuatir anaknya gagal
kalau tidak masuk Perguran Tinggi daripada takut anaknya
gagal mengenal Tuhan. Pesan ini sebenarnya menjadi suatu
koreksi bagi para orangtua yang sedang mendidik anaknya.
Namun seringkali para orangtua lupa akan tugas utama
dalam membawa anaknya untuk mengenal Tuhan. Jangan
lupa bahwa keluarga memiliki peran yang besar dalam
pembentukan perilaku individu dan ketenangan dalam
benak anak-anak karena melalui keluarga merka
mendapatkan bahasa, nilai-nilai, yang berguna. Keluarga
bertanggungkawab mendidik anak-anak dengan benar
dalam kreteria yang benar, jauh dari penyimpangan.
Karena Alkitab menyatakan tugas utama orang dalam
mendidik anak-anak ada pada orang tua.50 Artinya anak-
anak mengikuti kebiasaan orang tua dalam berbagai
perilaku dalam keluarga. Keluarga adalah salah satu
elemen pokok utama dalam pendidikan, karena melalui
keluarga dapat menciptakan proses naturalisasi sosial,
membentuk kepribadian dalam berbagai kebiasaan baik
yang terus bertahan dalam diri anak. Namun perlu
disadari bahwa peran orangtua dalam mendidik anaknya
49
Amin, Muhammad, Peran Guru Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran Pada
Lembaga Pendidikan. Dalam Jurnal Jurnal Studi Manajemen Pendidikan vol.1, No 01,
2017, hal. 118-122
50
Op.cit, Yao Tung , Khoe, hal. 106.
31
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
memiliki keterbatasan, untuk itu diperlukan kerjasama
antara orangtua dan guru.
Menurut Pratiningsih bahwa kerjasama antara guru dan
orang tua sama-sama memiliki tujuan untuk memperbaiki
diri anak. Guru sangat membutuhkan keterlibatan peran
orangtua dalam mendukung pembelajaran yang sudah
diberikan oleh guru kepada anak.51 Oleh karena itu, peran
guru Agama Kristen sangat penting dalam menanamkan
rasa takut akan Tuhan kepada siswa. Sekalipun pada
faktanya masih banyak guru Agama Kristen di era digital
ini, yang melakukan pengajarannya masih menekankan
pada pengetahuan/intelektual tanpa menyetuh kehidupan
spiritual anak. Makanya jangan heran jika peserta didik di
era digital tidak berjalan sesui dengan nilai-nilai kebenaran
firman Tuhan, sebab dalam dirinya belum sepenuhnya
tertanam rasa takut akan Tuhan, karena yang ada hanya
keinginan daging semata. Untuk mengatasi hal itu, maka
pendidikan anak-anak harus berdasarkan pada takut akan
Tuhan. Dengan pengenalan ini murid akan berjalan sesui
jalan yang patut baginya. Mereka yang takut akan Tuhan
mengenal kasih yang sejati dan membenci kejahatan (Ams.
8:13a).52
Kitab Amsal mendifinisikan bahwa “Takut akan
TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang
bodoh menghina hikmat dan didikan” (Ams. 1:7). Orang
yang takut akan Tuhan akan menghargai kehadiran Tuhan
dalam dirinya serta memahami bahwa Allah membenci
51
Pratiningsih, Dwi, Ektivitas Kerjasama Guru Dan Orang Tua dalam
Mendukung Pembelajaran Baca Al-Quran Anak Di SD IT Nurul Ishlah Banda Aceh.
Dalam Jurnal Ilmiah Didaktika, Vol. 17, No. 2, Februari 2017, hal. 179
52
Op.cit, Tung, Yao Khoe, hal. 114
32
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dosa. Dengan kata lain takut dalam arti ‘perasaan takut’,
maupun ‘ketakutan yang amat sangat’. Dalam Luk. 21:11,
TB LAI memilih kata ‘mengejutkan’. Namun, dalam Ibr.
10:31, TB LAI menterjemahkan ‘ngeri’.53 Takut akan Allah
berarti memiliki rasa hormat hingga berdampak kepada cara
hidup siswa tersebut. Oleh karena itu, sebagai guru harus
mampu membawa peserta didik memahami serta
menjalankan nilai-nilai agama yang dipelajarinya dengan
mengandalkan kemampuan dan karakter yang tinggi dan
mengacu pada sosok Yesus sebagai Guru yang Agung.54
Dengan harapan bahwa setiap guru Agama Kristen dapat
menjadi figur yang akan dituruti oleh anak didiknya.
Sebagai figur guru harus mampu mendidik sifat, sikap, dan
mental anak didiknya melalui pendidikan. Menurut Robert
W. Pazmino bahwa Pendidikan mengupayakan perubahan,
pembaruan dan reformasi pribadi-pribadi, kelompok dan
struktur, oleh kuasa Roh Kudus, sehingga anak didik hidup
sesuai dengan kehendak Allah, sebagaimana dinyatakan
oleh Alkitab dan oleh Tuhan Yesus sendiri.55

Kesimpulan
Kemajuan teknologi di abad ke-21 ini menjadi
tantangan besar bagi masyarakat pada umumnya, namun di
sisi lain, kemajuan teknologi menjadi peluang positif bagi
orang-orang yang dapat memanfaatkannya dengan baik.

53
W.R.F. Kamus Alkitab, (Jakarta: PT.BPK. Gunung Mulia, 2007), 434
54
Robert R. Boehlke, Sejarah perkembangan pikiran dan praktek pendidikan
agama Kristen, (BPK Gunung mulia, Jakarta, 2009), hal. 807-80
55
Robert W. Pazmino, Foundational Issues in Christian Education, Grand
Rapids, Michigan, Baker Book House, 1988, p.81, sebagaimana dikutip Samuel Sidjabat
dalam bukunya Strategi Pendidikan Kristen,Yogyakarta; Andi, 1994, h. 106.
33
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kemajuan teknologi ini memiliki dampak negatif bagi
kehidupan para peserta didik di sekolah. Salah satu dampak
negatif tentang perkembangan teknologi terhadap
pembaharuan karakter siswa di era digital adalah
kemerosotan moral di kalangan masyarakat khususnya
remaja dan pelajar menjadi salah satu tantangan sosial
budaya yang serius dihadapi bersama. Oleh karena itu,
dalam menghadapi kemajuan teknologi ini, maka
diperlukan peran guru Agama Kristen dalam membangun
karakter siswa di era digital. Guru memiliki tanggung jawab
dalam membangun konsep diri siswa, misalnya tentang
moralitas. Guru Agama Kristen adalah salah satu komponen
penting dalam membentuk karakter anak-anak melalui
pembelajaran di kelas. Selain itu, guru Agam Kristen harus
memiliki upaya dalam membangun karakter siswa tersebut.
Tujuannya adalah agar siswa tidak menjadi korban dari
perkembangan teknologi saat ini.

Saran
(1). Guru Agama Kristen harus mampu mengarahkan
peserta didik dalam memanfaatkan teknologi sebagai
penunjang dalam proses pembalajaran. (2). Guru Agama
Kristen harus bertindak sebagai pembimbing, motivator,
orangtua dan memberi teladan kepada siswa. (3). Guru
Agama Kristen harus berupaya membangun karakter siswa
dengan cara menanamkan kedisiplinan, bertanggung jawab,
kejujuran dan takut akan Tuhan.

Daftar Pustaka

34
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Angraini, dkk, Erubahan Paradigma Peran Guru Dalam Pembelajaran
Era Digital. Dalam Prosiding Seminar Nasional, Universitasi
PGRI Palembang: Program Pascasarjana, November 2015.
Amrulloh, Guru Sebagai Orang Tua Dalam Hadis “Aku Bagi Kalian
Laksana Ayah”. Dalam Jurnal Manajemen & Pendidikan Islam
Volume 2, Nomor 1, Desember 2016.
Ariwibowo Prijosaksono dan HM Roy Sember, Control Your Life,
Aplikasi Manajemen Diri dalam Kehidupan Sehari-hari, Jakarta:
PT. Elex Media Komputindo, 2002.
Asmani, mur Jamal Ma, Buku Panduan Internalisasi Pendidikan
Karakter di Sekolah, Yogyakarta: Diva Press, 2013.
Al-Asfahani, Al-Raghib, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Beirut:
Dar al-Fikr, t.t.
Andar Gultom, Profesionalie, Standar Kompetensi, dan Pengembangan
Profesi Guru PAK, Bandung: Bina Media Informasi, 2007.
Amin, Muhammad, Peran Guru Dalam Menanamkan Nilai Kejujuran
Pada Lembaga Pendidikan. Dalam Jurnal Jurnal Studi
Manajemen Pendidikan vol.1, No 01, 2017.
Brotosudarmono, Drie, dkk, Teladan Kehidupan 2, Yogyakarta: Andi
Offset, 2013.
GP, Harianto, Pendidikan Agama Kristen dalam Alkitab & Dunia
Pendidikan Masa Kini, Yogyakarta: Andi Offset, 2012.
Gulo, Dali, Kamus Psikologi, Bandung: Tonis, 1982.
Homrighausen, E.G. dan I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen,
Jakarta: BPK gunung Mulia, 1985.
Ismail, Andar, Selamat Menabur 33 Renungan tentang Didik-Mendidik,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Intarti, Esther Rela, Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Sebagai
Motivator. Dalam Regula Fidei- Volume 1, Nomor 2, September
2016.
John M. Nainggolan, Menjadi Guru Agama Kristen: Suatu Upaya
Peningkatan Mutu Dan Kualitas Profesi Keguruan, (Bandung:
Generasi Info Media, 2006.
Lebar, Lois E. Lebar, Educational That Is Christian: Proses Belajar
Mengajar Kristiani & Kurikulum Yang Alkitabiah, Malang:
Gandum Mas, 2006.
35
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Lefever. Marlene D, Learning Styles, Bandung: Gandum Mas, 2015
Maharsi, Sri, Pengaruh Perkembangan Terhadap Bidang Akuntansi
Manajemen. Dalam Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 2, No. 2,
Nopember 2000.
Manizar, Elly, Peran Guru Sebagai Motivator Dalam Belajar. Dalam
Jurnal Tadrib Vol. 1, No 2. Desember 2015.
M Uzer Usman., Menjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja Rosda
Karya, 1995.
Muchdarsya Sinungan, Produktifitas, Apa dan Bagaimana, Jakarta:
Bumi Aksara, 1987.
Mulyana A.Z, Rahasia Menjadi Guru Hebat Motivasi Diri Menjadi
Guru Luar biasa, Jakarta: Grasindo, 2010.
Ngafifi, Muhamad, Kemajuan Teknologi dan Pola Hidup Manusia
Dalam Perspektif Sosial Budaya. Dalam Jurnal Pembangunan
Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Volume 2, Nomor 1, 2014.
Nurfitri, Aldila. Dyas Mulawarman, Perilaku Pengguna Media Sosial
beserta Implikasinya Ditinjau dari Perspektif Psikologi Sosial
Terapan. Dalam Jurnal Psikologi Buletin, Vol. 25, No. 1, 2017.
Nur Hidayat dan Adi Atmoko, Sosial Budaya dan Psikologis
Pendidikan: Terapannya di Kelas, Malang: Gunung Samudera,
2013.
Puspita, Yesi, Pemanfaatan New Media dalam Memudahkan
Komunikasi dan Transaksi Pelacur Gay. Dalam Jurnal
Pekommas, Vol. 18 No. 3, Desember 2015.
Pratiningsih, Dwi, Ektivitas Kerjasama Guru Dan Orang Tua dalam
Mendukung Pembelajaran Baca Al-Quran Anak Di SD IT Nurul
Ishlah Banda Aceh. Dalam Jurnal Ilmiah Didaktika, Vol. 17, No.
2, Februari 2017.
Rochmah, Elfi Yuliani, Mengembangkan Karakter Tanggung Jawab
Pada Pembelajar. Dalam Jurnal Al Murabbi, Volume 3, Nomor
1, Juli 2016.
Robert R. Boehlke, Sejarah perkembangan pikiran dan praktek
pendidikan agama Kristen, BPK Gunung mulia, Jakarta, 2009.
Stephen Tong, Arsitek Jiwa II, Surabaya: Momentum, 2008.
Sugioyono, Metode Penelitian Manajemen, Bandung: Alfa Beta, 2014.

36
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Setiawan, Wawan, Era Digital dan Tantangannya, Universitas
Pendidikan Indonesia: Seminar Nasional Pendidikan, 2017.
Santoso, Slamet Iman, Pembinaan Watak Tugas Utama Pendidikan,
Jakarta: Univertasi Indonesia Press, 1979.
Sudarsono, Kenakalan Remaja, Jakarta: Rineka, 1995.
Sidjabat, B.S, Membangun Pribadi Unggul-Suatu Pendekatan Teologis
terhadap Pendidikan Karakter, Yogyakarta: Andi Offset, 2015.
Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear Yunani-Indonesia dan
Konkordansi Perjanjian Baru II, Jakarta: LAI, 2004.
Tung Yao, Khoe, Menuju Sekolah Kristen Impian Masa Kini,
Yogyakarta: Andi Offset, 2018.
Tung, Yao Khoe, Terpanggil Menjadi Pendidik Kristen Yang berhati
Hamba, Yogyakarta: Adi Offset, 2018.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa, Kamus Besar BahasaIndonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 2001.
Tong, Stephen Mary Setiawan, Seni Membentuk Karakter Kristen,
Jakarta: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1995.
Wijanarko, Jarot, Mendidik Anak Nilai Hidup Integritas Karakter,
Jakarta: Suara Pemulihan, 2008.
Wursanto, Manajemen Kepegawaian, Yogyakarta: Kanisius, 1987.
W.R.F. Kamus Alkitab, Jakarta: PT.BPK. Gunung Mulia, 2007.

37
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
KAJIAN BIBLIKA TENTANG KONTROVERSI
NAMA YHWH DALAM KITAB KELUARAN 6:2-3

Timotius Sukarna

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor


Jl. Transyongy Cibubur, KM 32 Cariu Desa Cibatuti, Bogor-
Jawa Barat
Email: timotiussukarna@gmail.com

Abstrak

Adanya pemahaman bahwa tidak mungkin Sang Pencipta


memiliki nama diri atau proper name-proper noun dengan alasan
hanya ada satu Sang Pencipta alam semesta dan itu untuk semua
agama. Fakta Alkitab mencatat dalam PL-Ibrani atau Tanakh,
terdapat 6750 nama YHWH yang muncul sebagai proper noun.
Persoalan muncul ketika dunia terjemahan tidak sepakat dalam
menyalin (transliterate) atau menerjemahkan (translate) nama Sang
Pencipta tersebut. Dalam dunia terjemahan, secara gramatika, setiap
proper noun apapun, khususnya yang memiliki personalitas selalu
disalin sesuai bunyi huruf-huruf yang menyusunnya, berbeda dari
commom noun (sebutan umum) yang bisa diterjemahkan menurut
padanan kosa kata bahasa (lokal) yang bersangkutan. Fakta
menunjukkan bahwa sebagian besar terjemahan “mengganti” nama
YHWH menjadi sebutan umum tetapi ditulis dengan menggunakan
huruf kapital semua untuk menghindari tabrakan dengan sebutan umum
yang memang sudah ada dan sama persis, yakni Adonay (Tuhan)
ataupun dalam sebutan beruntun misalnya Adonay YHWH.
Pemahaman keliru berikutnya adalah nama YHWH dikatakan baru
dikenal pada zaman Musa dengan mendasarkan pada Kel. 6:3
Terjemahkan ulang Keluaran 6:3 secara akurat menyatakan bahwa
nama YHWH telah dikenal oleh Abraham-Ishak-Yakub, bahkan para
leluhur mereka, mendahului perkenalanNya dengan nama El-Shadday.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
kajian pustaka, studi gramatikal, eksegesis, dan analisis.

Kata Kunci: Biblika, Nama Yhwh , Keluaran 6:2-3


38
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pendahuluan
Ada suatu pemahaman bahwa tidak mungkin Sang
Pencipta memiliki nama diri atau proper name-proper noun
dengan alasan hanya ada satu Sang Pencipta alam semesta
dan ini tentu saja untuk semua agama. Namun, fakta tertulis
dalam Kitab Suci Kristiani menunjukkan bahwa PL-Ibrani
mencatat nama YHWH yang muncul sebagai proper noun
sebanyak tidak kurang dari 6750 kali dalam Tanakh, dan
tentu saja diperlakukan secara sama seperti halnya proper
noun lain dalam gramatika, dan oleh sebab itu Ia adalah
nama-diri personal Sang Pencipta. Persoalan muncul ketika
dunia terjemahan tidak sepakat dalam menyalin
(transliterate) ataukah menerjemahkan (translate) nama
Sang Pencipta tersebut. Dalam dunia terjemahan, secara
gramatika, setiap proper noun apapun khususnya yang
memiliki personalitas selalu disalin sesuai bunyi huruf-
huruf yang menyusunnya, berbeda dari commom noun
(sebutan umum) yang pasti diterjemahkan menurut padanan
kosa kata bahasa (lokal) yang bersangkutan. Akan tetapi
fakta menunjukkan bahwa sebagian besar terjemahan
“mengganti” nama YHWH menjadi sebutan umum tetapi
ditulis dengan menggunakan huruf kapital semua untuk
menghindari tabrakan dengan sebutan umum yang memang
udah ada sama persis, yakni Adonay (Tuhan) ataupun
dalam sebutan beruntun misalnya Adonay YHWH. Dalam
kasus ini terjemahan LAI berbahasa Indonesia menuliskan
TUHAN atau ALLAH (untuk nama) dan Tuhan (untuk
sebutan umum) yang tentu saja hanya bisa dikenali ketika
nama ini ditulis dan tidak mungkin terbedakan ketika
diperdengarkan melalui bacaan-percakapan. Akibatnya para
39
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
penggunanya hampir pasti menyatakan bahwa Sang
Pencipta tidak memiliki nama diri. Menghadapi masalah ini
dalam tulisan ini dipilih pengejaan proper noun YHWH
menjadi Yehuwah, suatu pelafalan yang “terbaca” paling
banyak dalam kodek Leningrad dan juga menurut Kitab
Suci Bahasa Jawa terbitan LAI, walaupaun menurut LAI
dalam glosary Alkitab tertulis TUHAN = Yahweh.
Bagi yang kurang setuju adanya nama Sang
Pencipta muncullah pemahaman bahwa nama YHWH
dipahami baru dikenal mulai zaman Musa dengan
mendasarkan pada Kel. 6:3 (2) menurut terjemahan LAI
(dalam kurung tambahan dari penulis).
6: 2 (1), “Selanjutnya berfirmanlah Allah (Elohim) kepada
Musa: "Akulah TUHAN (Ani YHWH- Akulah Yehweh).”
6: 3 (2), “Aku telah menampakkan diri kepada Abraham,
Ishak dan Yakub sebagai Allah (El) Yang Mahakuasa
(Shaddai), tetapi dengan nama-Ku TUHAN (YHWH) Aku
belum menyatakan diri. 6: 4 (3) “Bukan saja Aku telah
mengadakan perjanjian-Ku dengan mereka untuk
memberikan kepada mereka tanah Kanaan, tempat mereka
tinggal sebagai orang asing, …”.
Oleh sebab fakta tertulis menunjukkan bahwa nama
YHWH bertebaran dalam kitab Kejadian dimunculkanlah
semacam teori bahwa nama Yehuwah ini diselipkan pada
masa penulisannya (oleh Musa) untuk memperoleh
sinkronisasi. Dengan demikian tulisan ini terkonsentrasi
pada kajian ayat tersebut untuk menjawab masalah yang
terumus sebagai berikut.
Benarkah bahwa Sang Pencipta belum menyatakan
nama YHWH setidaknya kepada Abraham, Ishak, dan
40
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Yakub, sebab Ia menampakkan diri sebagai El Shaddai?
Susunan terjemahan LAI untuk ayat tersebut memang
sangat berpotensi terjadinya misinterpretasi dan berlanjut
pada miskonsepsi atas pengenalan nama diri Yehuwah.
Dengan demikian kajian diarahkan pada terjemahan-ulang
atas Kel.6:3 (2). Nama YHWH dilafalkan atau dibaca
Yahweh atau Yehuwah. Keluaran 6: 2(1) – 3 (2).
Terjemahan LAI Kel. 6: 3 (2) khususnya (juga
umumnya terjemahan dalam bahasa Inggris) sangat
berpotensi membangun pemahaman bahwa nama Yehuwah
belum dikenalkan kepada para leluhur Israel, khususnya
Abraham, Ishak, dan Yakub, dan baru diperkenalkan
pertama kali kepada Musa. Pemahaman demikian ini
membawa konsekuensi adanya semacam “teori” bahwa
telah terjadi semacam “penyelipan nama Yehuwah” oleh
Musa agar nama yang baru dikenalnya itu merupakan
kelanjutan dari nama “sesembahan” para leluhur Israel yang
sejak awal dikenal sebagai Elohim maupun El (khususnya
El Shaddai); dan inilah yang didemonstrasikan oleh salah
satunya, seorang teolog, Herlianto (2005) dalam
pernyataannya dalam bukunya SBYAI halaman 115
terhadap Kel. 6:3(2) sebagai berikut.56
Sebenarnya peristiwa yang disebutkan dalam
Keluaran 3 adalah peristiwa di mana nama ’Yahweh’
belum diberitahukan kepada Araham, Ishak dan Yakub, dan
baru pada pasal 6 (Kej. 6:1-2) nama itu diperkenalkan
kepada Musa. Selanjutnya berfirmanlah Allah (MT:
Elohim) kepada Musa: "Akulah TUHAN (MT: YAHWEH),

56
Alkitab Edisi Study, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta. 2013.
41
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan
Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa (MT: El Shadday),
tetapi dengan nama-Ku TUHAN (MT: YHWH) Aku belum
menyatakan diri.
Ayat ini menunjukkan bahwa sebelumnya nama diri
yang dipakai adalah ’El’ atau ’El Shadday’ di samping
secara terbatas nama ’Elohim/Eloah’ dan naskah-naskah
kuno memang menunjukkan fakta ini, tetapi dengan
meningkatnya kegairahan menggunakan nama suci
’YAHWEH’ khususnya sesudah pembuangan, maka dalam
proses penyalinan naskah Ibrani telah terjadi penyesuaian
dan penggantian nama itu menjadi nama ’YAHWEH’
sehingga dalam ayat-ayat sebelumnya banyak nama itu
diganti dengan nama ’YAHWEH’ pula. Dan telah
disebutkan sebelum ini bahwa sekalipun nama ’YAHWEH’
sudah diperkenalkan, nama ’El’ juga masih digunakan
bahkan sampai sesudah pembuangan (Yes. 40 dst. ...).57
(MT = Masoretic Text).
Pertanyaannya adalah: Benarkah bahwa Sang
Pencipta mengenalkan diri hanya sebagai El Shaddai atau
Benarkah bahwa nama Yehuwah belum pernah
diperkenalkan kepada leluhur bangsa Israel Abraham-
Ishak-Yakub?; dan bagaimana pula cara Sang Pencipta
mengenalkan diriNya?
Analisis berikut akan menjawab pertanyaan ini, dan
metode analisis yang diterapkan adalah, (1) seluruh ayat
alkitab dipahami sebagaimana adanya sebagai fakta tertulis
untuk penelusuran pengenalan El Shaddai maupun nama

57
(MT = Masoretic Text)
42
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Yehuwah kepada para leluhur Israel, (2) peninjauan ulang
terjemahan yang ada (khususnya LAI) untuk ayat 3(2), (3)
sinkronisasi (sintesis) antara keduanya yang merupakan
salah satu syarat yang utama dalam melakukan tafsir
tersebut.

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan
artikel ini adalah metode penelitian kualitatif. Menurut
Sugiyono mengatakan bahwa metode penelitian kualitatif
adalah dapat diartikan sebagai metode penelitian yang
digunakan untuk meneliti kondisi objek yang almiah,
dimana peneliti berperan sebagai instrument kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
(gabungan). Sumber data yang dipakai dalam penelitian
kualitatif berupa lingkungan alamiah.58
Penulis melakukan analisis data dengan
memperbanyak informasi, mencari hubungan ke berbagai
sumber, membandingkan, dan menemukan hasil atas dasar
data sebenarnya (tidak dalam bentuk angka). Dalam tulisan
ini, penulis melaukan kajian terhadap teks Kitab Keluaran
6:2-3 untuk menganalisis pandangan Alkitab tentang
kontroversi nama YHWH. Sumber utama dalam penulisan
ini adalah Alkitab. Proses analisis yang dilakukan oleh
penulis adalah menggunakan berbagai sumber pustaka
maupun elektronik yang terpercaya untuk mendukung
analisis penulis.

58
Sugioyono, Metode Penelitian Manajemen, (Bandung: Alfa Beta, 2014), hal.
347
43
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kajian Pustaka
Penelusuran ayat-ayat pengenalan El Shaddai dan nama
Yehuwah.

Term El pertama kali muncul dengan atribut-Nya


sebagai El Elyon (El Yang Mahatinggi) dalam perikop
pertemuan Abram dengan Melkisedek (Kej. 14:18-), dan El
Shaddai justru baru muncul dalam perikop “perjanjian
sunat (dan jumlah keturunan) dengan Abraham” dalam Kej.
17:1- Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan
tahun, maka Yehuwah menampakkan diri kepada Abram
dan berfirman kepadanya: “Akulah El Shaddai, …. (LAI).59
Nats tersebut sangat tegas bahwa El Shaddai
memperkenalkan diri-Nya, namun tegas pula bahwa yang
menampakkan diri adalah Pribadi yang bernama Yehuwah.
Jika ada pertanyaan, siapakah yang menampakkan
diri-Nya dan berfirman kepada Abram pada nats itu?
Jawabnya sudah pasti hanya satu yakni Yehuwah. Ia tidak
tertulis sebagai Elohim, Eloah, Adonai, bahkan juga bukan
sebagai El ketika Dia menyatakan dirinya sebagai El
Shaddai. Jadi, maksud ayat ini adalah bahwa Yehuwah
memeperkenalkan diri-Nya sebagai El yang Mahakuasa,
bukan hanya sekedar El saja atau El yang lain. Ini artinya
pada masa itu memang disekeliling umat Israel telah ada
pemahaman atas sebutan El yang mungkin berbeda dari
satu bangsa dengan bangsa yang lain.

59
Alkitab Edisi Study, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta. 2013.
44
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
1. Pengenalan El Shaddai dengan Ishak dan Yakub
Tidak hanya Abram melainkan Ishak juga mengenal
El Shaddai (Kej. 28:3) ketika dia memberkati Yakub:
“Moga-moga El Shaddai memberkati engkau, membuat
engkau …..” Demikian pula Yakub pun mengenal-Nya
melalui pernyataan-Nya (Kej. 35:11): “Lagi firman Elohim
kepadanya (Yakub), “Akulah El Shaddai. Beranakcuculah.”
Jadi, baik Abraham, Ishak, maupun Yakub, memang
mengenal Sang Pencipta sebagai El Shaddai sebagaimana
dinyatakan dalam Kel. 6: 3(2) tersebut. Namun, secara aktif
reflektif , hanya kepada Abraham dan Yakub-lah Dia
menyatakan diri sebagai El Shaddai: “Ani El Shaddai -
Akulah El Shaddai” (Kej. 17:1; 25:11).

2. Penampakan diri Yehuwah kepada Abraham.


Jika pengenalan diri El Shaddai dilakukan melalui
penelusuran ayat-ayat sebelum Kel. 6:3(2), hal yang sama
pun harus berlaku bagi nama Yehuwah. Kisah Abram
dimulai melalui panggilan yang dilakukan oleh Yehuwah,
yakni dalam Kej.12:1- . Secara tekstual (Alkitabiah)
Yehuwah menampakkan diri kepada Abram dengan janji
perihal “tanah Kanaan” (Kej. 12:7) bahkan mendahului
pengenalannya sebagai El Shaddai menurut urutan nats:
“Ketika itu YHWH (Yehuwah) menampakkan diri kepada
Abram dan berfirman: ‘Aku akan memberikan negeri ini
kepada keturunanmu’. Maka didirikannya di situ mezbah
bagi YHWH (Yehuwah) yang telah menampakkan diri
kepadanya.”
Bukti atas penampakan diri tersebut adalah respon
Abram dalam bentuk pembangunan mezbah bagi Yehuwah;
45
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
ketika pindah ke tempat lain pun (dekat Betel), lagi-lagi dia
mendirikan mezbah bagi Yehuwah, dan disertai respon
memanggil nama Yehuwah (Kej. 12:8): “Kemudian ia
pindah dari situ ke pegunungan di sebelah timur Betel. Ia
memasang kemahnya dengan Betel di sebelah barat dan Ai
di sebelah timur, lalu ia mendirikan di situ mezbah bagi
Yehuwah dan memanggil nama Yehuwah.”
Jika ada pertanyaan, nama mana yang disebutkan oleh
Abram pada prosesi panggilan itu? Jawaban secara
Alkitabiah hanya satu yakni, nama Yehuwah; ia tidak
memanggil dengan nama sebutan lain, Elohim, juga El.
Bagaimana mungkin jika Abram belum mengenal nama-
Nya, namun bisa menyebut-Nya? Jika ada pertanyaan:
”Siapa pula yang menampakkan diri kepada Abram saat
itu.” No doubt, plainly written Yehuwah.Kisah Abram
berlanjut ketika dia bertemu dengan Imam Melkisedek
(Kej. 14:18-20), meskipun Sang Pencipta dikenal sebagai
El Elyon (Yang Mahatinggi), Alkitab mencatat atas sumpah
Abram sebagai berikut (Kej. 14:22); “Tetapi kata Abram
kepada Raja Sodom itu: ‘Aku bersumpah demi Yehuwah
(dalam nama Yehuwah), El Elyon, Pencipta langit dan
bumi’”. Demi nama siapakah Abram bersumpah ketika itu?
Sangat jelas, demi (nama) Yehuwah yang ternyata (bukan
hanya sebagai El Shaddai sebagaimana sebelumnya,
melainkan) sebagai El Elyon Pencipta langit-bumi.
(Sumpah demi Yehuwah juga ditemui dalam Kej. 24:3).
Selanjutnya kisah ini berlanjut dalam Kej. 15:1
mencatat: “Kemudian datanglah firman Yehuwah kepada
Abram dalam suatu penglihatan: ‘Janganlah takut, Abram,
Akulah perisaimu …’”. Tak pelak lagi bahwa Yehuwah
46
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
telah menampakkan diri lagi kepada Abram dalam
penglihatan, dan ini dibuktikan dengan responnya
(Kej.15:2): “Abram menjawab: ‘Ya Tuhan Yehuwah
(Adonai YHWH), apakah yang akan Engkau berikan
kepadaku, …’” [catatan: LAI menyalin Tuhan ALLAH
untuk Ibrani Adonay YHWH).
Mengapa Abram bisa menyebut nama Yehuwah?
Tentulah karena memang Yehuwah telah menampakkan
diri kepadanya. Bukankah Yehuwah belum juga
menyatakan lafal nama diri-Nya? Kej. 15:7, “Lagi firman
Yehuwah kepadanya: ‘Akulah Yehuwah (hwhy yna - Ani
YHWH), yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim
untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.’”
Lagi respon Abram (ay.8), “Kata Abram: ‘Ya Adonay
Yehuwah, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan
memilikinya ?’”
Cara (style) pengenalan nama diri Yehuwah dalam
Kej. 15:7 ini jelas-jelas sama persis dengan pengenalan-
Nya pada Kej. 17:1, “Ani El Shaddai: Akulah El Yang
Mahakuasa”. Jadi jika Kel. 6:3 dipahami Tuhan belum
mengenalkan nama Yehuwah melainkan El Shaddai, ini
jelas keliru. Sebaliknya jika dipahami bahwa nama
(sebutan) El Shaddai sudah dikenal, tentulah nama diri
Yehuwah demikian juga, bahkan secara urutan nats, nama
Yehuwah lebih duluan munculnya. Tambahan pula
penampakan diri Yehuwah kepada Abram dalam ayat
tersebut berkaitan dengan perjanjian atas tanah Kanaan,
persis sama dengan Kel 6: 4(3), artinya terjadi semacam
pernyataan pengulangan; jadi tidak mungkin nama
Yehuwah belum dikenalnya dalam Kej. 6: 3(2). Nama
47
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Yehuwah tentu saja dikenal pula oleh isterinya, Sarai,
sebagaimana Alkitab mencatat dalam Kej. 16:2,
“Berkatalah Sarai kepada Abram: ‘Engkau tahu, Yehuwah
tidak memberi aku ….’”

3. Penampakan diri Yehuwah kepada Ishak


Lalu apakah nama Yehuwah juga dikenal oleh Ishak
maupun Yakub? Jawabannya, pasti sudah dikenal. Ishak
berdoa kepada Yehuwah untuk isterinya Ribka yang
(masih) mandul (Kej. 25:21). “Berdoalah Ishak kepada
Yehuwah (YHWH) untuk isterinya, …”; Secara tekstual,
Yehuwah menampakkan diri kepada Ishak sebagaimana
tertulis dalam Kej 26:2, “Lalu Yehuwah (YHWH)
menampakkan diri kepadanya (Ishak) serta berfirman:
"Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan
Kukatakan kepadamu.”
Selanjutnya ay 22, “….. dan ia (Ishak) berkata:
’Sekarang Yehuwah telah memberi kelonggaran kepada
kita, sehingga kita dapat beranak cucu di negeri ini.’”
Yehuwah menampakkan diri lagi kepada Ishak
sebagaimana terekam dalam Kej. 26: 24 “Lalu pada malam
itu Yehuwah menampakkan diri kepadanya (Ishak) serta
berfirman: "Akulah Elohim (Elohe) ayahmu Abraham;
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau; Aku akan
memberkati engkau dan membuat banyak keturunanmu
karena Abraham, hamba-Ku itu." Ishak mengenal betul
akan Yehuwah sebagaimana ia merespon Kej. 26: 25
“Sesudah itu Ishak mendirikan mezbah di situ dan
memanggil nama Yehuwah, …” Juga ketika dia
memberkati Yakub, Kej. 26:27…..’Sesungguhnya bau
48
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati
Yehuwah….’”
Dari ayat-ayat tersebut (Kej. 26: 25-26) jelas bahwa
Ishak mengenali Yehuwah sebab Dia telah menampakkan
diri kepadanya, bahkan lebih dahulu ketimbang Dia
menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai (yakni baru di
Kej. 28:3).

4. Penampakan diri Yehuwah kepada Yakub.


Beginilah jawab Yakub ketika dia ditanyai Ishak,
mengapa begitu cepat mendapat binatang buruan, Kej.27:20
“Jawabnya: ‘Karena Yehuwah (YHWH), Elohimmu
(Eloheka), membuat aku mencapai tujuanku.’" Tentulah
Yakub mendengar pula ucapan berkat yang disampaikan
oleh ayahnya, Ishak, sehingga dia mengenal akan nama
Yehuwah, sebagaimana dalam Kej. 27:27, "Sesungguhnya
bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati
Yehuwah (YHWH).
Namun, secara khusus ia (Yakub) mengenal-Nya
dalam mimpi, sebagaimana terekam dalam Kej. 28: 12,13
“Maka bermimpilah ia,….. Berdirilah Yehuwah (YHWH)
di sampingnya dan berfirman: ‘Akulah Yehuwah (Ani
YHWH), Alohim (Elohe) Abraham, nenekmu, dan Elohim
Ishak; tanah tempat engkau berbaring ini akan Kuberikan
kepadamu dan kepada keturunanmu. Mimpi tersebut
dikonfirmasi oleh Yakub melalui ucapannya dalam Kej.
28:16, “Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia:
‘Sesungguhnya Yehuwah (YHWH) ada di tempat ini, dan
aku tidak mengetahuinya.’" Dari ayat-ayat tersebut (ps. 27-
28) lagi-lagi jelas bahwa Yakub mengenali Yehuwah sebab
49
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Dia telah menampakkan diri kepadanya, lebih dahulu
ketimbang Dia menyatakan diri-Nya sebagai El Shaddai
(baru di ps 35:11) . Ayat-ayat tersebut jelas mencerminkan
kesejajaran pengenalan diri Yehuwah dengan El shaddai.
Dengan demikian tidak ada alasan bahwa Kel. 6: 3(2)
menentang pengenalan tersebut. Namun, teolog Herlianto
mengajukan semacam teori atau asumsi bahwa nama
Yehuwah “diselipkan” pada masa penulisan Alkitab hingga
masa Keluaran. Bila halnya demikian, adakah bukti
semacam naskah atau cerita terkait Abraham-Ishak-Yakub
sebelum diselipi nama YHWH oleh Musa? Teori yang
mirip adalah penggabungan antara 2 sumber utama yakni
dari sumber Elohim dan dari sumber YHWH dalam 4
gabungan JEDP untuk seluruh kitab Musa. Walter Lempp
(1974) mengajukan teori gabungan naskah Jehovah dengan
naskah Elohim. Namun, naskah Jehovah justru diduga lebih
tua ketimbang naskah Elohim.

5. Pengenalan Lanjut Yehuwah (YHWH)


Mengenai nama Yehuwah (YHWH), hambanya
Abraham pun sudah sangat familiar, sebagaimana ketika dia
diutus Abraham untuk mencari jodoh bagi Ishak; berulang
kali dia menyebutkan “Yehuwah (YHWH) Elohim tuanku
Abraham” (Kej 24: 12, 26, 42, 48); Kej. 24:26-27, “Lalu
berlututlah orang itu dan sujud menyembah Yehuwah
(YHWH), serta berkata: ‘Terpujilah Yehuwah (YHWH),
Elohim tuanku (Elohe adoni) Abraham, yang tidak menarik
kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan
Yehuwah (YHWH) telah menuntun aku di jalan ke rumah
saudara-saudara tuanku ini!’"; Untuk seterusnya hambanya
50
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Abraham itu pun lalu menyebut nama Yehuwah (YHWH)
berulang kali dalam ayat-ayat selanjutnya. Nama Yehuwah
(YHWH), sesungguhnya telah muncul sejak awal
penciptaan sebagai Sang Pencipta alam semesta dengan
nama compound (gabungan), Yehuwah-Elohim sebanyak
20 kali dalam Kitab Kejadian (Kej. 2: 4 – 3: 23), dan 17
kali dalam Kitab Keluaran-hingga Kitab Yunus. Munculnya
nama compound ini barangkali untuk melegitimasi bahwa
term generik Elohim yang juga dipakai oleh para pagan
(penyembah berhala) menjadi berbeda secara signifikan
ketika yang dimaksudkan adalah Elohim yang bernama
Yehuwah, sebab para pagan pun juga menyembah elohim
mereka.
Hawa bahkan menyebut nama Yehuwah ketika dia
mendapat anaknya yang pertama, Kej.4:1 “Kemudian
manusia itu bersetubuh dengan Hawa, isterinya, dan
mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Kain; maka
kata perempuan itu: "Aku telah mendapat seorang anak
laki-laki dengan pertolongan Yehuwah (YHWH)." Nama
Yehuwah ternyata sudah mulai dipanggil/dikenal orang
(kebanyakan) sejak zaman Enos (Kej. 4:26); panggilan ini
pun diteruskan oleh Nuh, “Lagi katanya: Terpujilah
Yehuwah (YHWH), Elohim (Elohe) Sem, tetapi hendaklah
Kanaan menjadi hamba baginya. (Kej.9:26).
Panggilan untuk nama Yehuwah (YHWH) bahkan
diteruskan oleh orang kebanyakan ketika menjuluki
Nimrod, cicit Nuh, ” ia (Nimrod) seorang pemburu yang
gagah perkasa di hadapan Yehuwah (YHWH), sebab itu
dikatakan orang: ‘Seperti Nimrod, seorang pemburu yang
gagah perkasa di hadapan Yehuwah (YHWH).’" (Kej.
51
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
10:9). Panggilan nama Yehuwah (YHWH) ini pun berlanjut
hingga Abraham-Ishak-Yakub, sebagai leluhur Israel.
Bahkan orang-orang di sekitar mereka pun telah
mengenalnya, misalnya Abimelekh dengan pesertanya dari
Gerar, Kej. 26: 28-30, “Jawab mereka: ‘Kami telah melihat
sendiri, bahwa Yehuwah (YHWH)menyertai engkau
(Ishak);…. bukankah engkau sekarang yang diberkati
Yehuwah (YHWH).’ "Perlu kita sadari bahwa dalam
seluruh Tanakh (PL-Ibrani) tidak pernah ditemui ungkapan-
frase beShem El (dalam nama El) bahkan sekalipun dalam
Kitab Kejadian, melainkan hanya beShem YHWH (dalam
nama Yehuwah) sebanyak 43 kali, yakni dalam: Kej. 4:26;
12:8 ; 13:4 ; 21:33; 26:25; sisanya diluar Kitab Kejadian.
Berikut ini disajikan 3 contoh khusus. Kej. 21:33,
“Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di
Bersyeba, dan memanggil di sana nama Yehuwah, El yang
kekal (beshem YHWH, El Olam).” Mazm. 20:8, “Orang ini
memegahkan kereta dan orang itu memegahkan kuda, tetapi
kita bermegah dalam nama TUHAN, Allah kita (beshem
YHWH, Elohenu).” Ezra 5:1, “……….bernubuat terhadap
orang-orang Yahudi yang tinggal di Yehuda dan di
Yerusalem dalam nama Allah Israel (beshem Elah Israel),
yang menyertai mereka.”
Dua contoh pertama di atas jelas bahwa YHWH
adalah nama diri, sedangkan El dan Elohim adalah nama
generik atau titel bagi YHWH; dan untuk contoh ketiga,
Elah (aramaik untuk God) juga nama generik atau title,
sebab dalam frase ini Elah dalam bentuk construct-terikat
oleh kata berikutnya yakni Israel. Jadi jelas bahwa
Herlianto (2005) disesatkan oleh cara analisisnya yang
52
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
main comot per kalimat / ayat tidak dalam keseluruhan
konteks “titel sesembahan” dalam seluruh Alkitab.60
Pertanyaan yang perlu direnungkan adalah secara
Alkitabiah, seringkah Abraham-Ishak-Yakub memanggil
Sang Pencipta dengan sebutan El Shaddai atau El saja?
Pertama kali ketika Abraham menyebutnya nama Yehuwah
(YHWH), diikuti sebutan El Elyon (Yang Mahatinggi), Kej.
14:22; Abraham memanggil nama Yehuwah (YHWH)
dengan julukan El Olam, seperti dalam Kej. 21:33 tersebut
di atas. Sebutan kepada Sang Pencipta yang biasa dilakukan
para leluhur Israel adalah “ Yehuwah (YHWH)” dalam
jumlah yang sangat-sangat banyak, selain itu juga “Elohim”
seperti pada contoh berikut: Kej. 20:11, “Lalu Abraham
berkata, Aku berpikir: Takut akan Elohim tidak ada di
tempat ini.... ”Lanjutnya pada ay 13, “Ketika Elohim
menyuruh aku mengembara keluar dari rumah ayahku ......”
Jawaban Abraham atas pertanyaan Ishak pun menyebutnya
Elohim, Kej. 22:8, “Sahut Abraham: Elohim yang akan
menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya,
anakku."
Demikian juga Sarai isteri Abram, Kej. 21:6,
“Berkatalah Sara: Elohim telah membuat aku tertawa.....”
Yakub menyebutnya, El, sekali dalam Kej. 49:25, “oleh El
ayahmu yang akan menolong engkau, dan oleh Dia Yang
Mahakuasa.” Namun sebelumnya, dia memanggil nama
Yehuwah (YHWH), Kej. 49:18, “Aku menanti-nantikan
keselamatan yang dari pada-Mu, ya Yehuwah (YHWH)”
Dari analisis di atas jelas bahwa para leluhur Israel justru

60
Herlianto, Siapakah yang Bernama Allah itu? Cetakan ke 3. (BPK Gunung
Mulia, Jakarta2005).
53
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
lebih mengenal dan familiar akan nama Yehuwah (YHWH)
ketimbang El Shaddai (yang hanya dikenal oleh Abrahm-
Ishak-Yakub).
Lalu apa yang terjadi atas Kel. 6:3 (2) tersebut?
Jawabannya adalah telah terjadi ”kesalah pahaman” atas
bacaan Kel. 6:3(2) terjemahan LAI tersebut. Nama
Yehuwah (YHWH) yang diduga belum dikenalkan dalam
Kej. 6:3(2) tersebut mestinya dipahami dalam arti belum
dikenal “kehebatan-Nya” berkaitan dengan mukjizat yang
memang belum dikenalkan pada atau disaksikan sama
sekali oleh para leluhur Israel dan baru dikenalkan kepada
Musa. ”The NIV Study Bible”, 1985, hal. 94 memberi
catatan kaki sangat excellent untuk hal ini: This does not
necessarily mean that the patriacts were totally ignorant of
the name Yahweh (”the LORD”), but it indicates that they
did not understand its full implications as the name of the
One who would redeem His people (see notes on v. 6; Ge
2:4)61 Terjemahan literal: Ini tidak harus berarti bahwa
para leluhur (Abraham-Ishak-Yakub) abai (tidak peduli)
sama sekali nama Yahweh, tetapi ini mengindikasikan
bahwa mereka tidak memahami implikasinya secara total
sebagai nama Pribadi yang akan menebus umatnya (lihat
cacatan ayat 6; Kej. 2:4 dalam BW6).62
Lalu, mengapa teolog Herlianto (2005) tidak
(mampu) melakukan analisis semacam ini? Jawabannya
sangat mungkin: (1). Ia sangat terobsesi atas “kebenaran”
pemahaman bahwa nama Yehuwah (YHWH) baru
diperkenalkan kepada Musa berdasarkan tafsirannya atas

61
Study Bible, The New International Version”, (1985), hal. 94
62
Kitab Suci Elektronik. BibleWorks6
54
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kel. 6:3(2) terjemahan LAI. (2). Ia melakukan demikian
karena dia menderita YAHWEH fobia, sehingga ini semua
seolah-olah menjadi ”selubung” yang menghalangi
ketajaman intelektualnya. (2). Pengetahuannya atas term El,
Eloah, Elohim, Elah, Elaha, dalam seluruh Alkitab ditinjau
dari aspek constructivistik, tidak tertata dengan baik, oleh
karena itu tidak cermat mengujinya dengan Hebrew
Scripture, sebagaimana akan saya bahas kemudian.

Tinjauan Ulang Terjemahan, Kel. 6:3


Berikut ditampilkan bahasa Ibrani “gundul” (agar dapat
dipostingkan) dari WTT (BHS Hebrew OT) dan BHT
(Transliterated Hebrew OT) Kel. 6: 3
laeäB. bqoß[]y:-la,(w> qx'îc.yI-la, ~h'²r"b.a;-la, ar"ªaew"
:WTT

`~h,(l' yTi[.d:ÞAn al{ï hw"ëhy> ymiäv.W yD"_v;

BHT (transliterasi Ibraninya): “wa era el-abraham el-


yishaq we el-yaaqob be el shadday usemi yhwh lo nodati
lahem”Arti masing-masing kata dengan parsing menurut
BibleWorks 6, wa era (dan Aku telah menampakkan diri /
telah dilihat /terlihat) el-abraham (kepada/oleh -Abraham)
el-yishaq (kepada/oleh -Ishak) we el-yaaqob (dan
kepada/oleh -Yakub); be el shadday (dalam =
sebagai/pada/oleh/dengan/di antara- in/at/by/with/among -
El Yang Mahakuasa) usemi yhwh (dan/jadi/maka/ketika-
apabila/sekarang/atau/tetapi/agar -nama-Ku YAHWEH) lo
(tidak) nodati (Aku telah dikenal) lahem (oleh mereka).63

63
BibleWorks 6,
55
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Dalam ayat tersebut terdapat dua kata kerja utama,
era dan nodati yang menurut parsing WTT BibleWorks 6,
keduanya termasuk jenis kata niphal yang maknanya
bentuk aktif reflektif atau pasif. Nampaknya LAI memilih
keduanya sebagai kata kerja jenis aktif reflektif (era = to
appear, be seen = menampakkan diri; nodati = to be made
known = menyatakan diri), namun sebagian besar
terjemahan Alkitab berbahasa Inggris memilih jenis aktif
reflektif hanya untuk kata kerja pertama (era), tetapi jenis
pasif untuk yang kedua (nodati) termasuk hasil parsing
Bible Works 6. Kedua kata kerja tersebut pun dikategorikan
perfect, sehingga tepat dengan penambahan kata kerja bantu
“telah” untuk kalimat positif atau “belum” untuk kalimat
negatif.64
Jadi secara struktur tidak ada masalah dalam
terjemahan LAI meskipun LAI membuang kata terakhir
”kepada/oleh mereka”. Jika terjemahan (LAI) tersebut
“tepat” secara makna, maka terjemahan tersebut memang
“berpotensi” menuntun pembaca pada kesimpulan bahwa
Sang Pencipta mengenalkan diri kepada para leluhur Israel
(Abraham-Ishak-Yakub) sebagai El Shaddai dan nama
Yehuwah (YHWH) belum diperkenalkan-Nya, dan ini
membawa konsekuensi lanjut bahwa nama Yehuwah
(YHWH) baru dikenalkan oleh Musa yang kemudian
menjadi suatu teori bahwa nama Yehuwah diselipkan mulai
dari Kitab Kejadian sebagaimana dugaan teolog Herlianto
(2005).

64
parsing WTT BibleWorks 6
56
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Namun, setelah kita meneliti bahwa secara tekstual-
Alkitabiah ternyata nama Yehuwah sudah dikenal oleh
Abram-Ishak-Yakub, bahkan para leluhur yang lain
termasuk pula “di luar jalur Israel ”, maka secara sintesis,
penafsiran Keluaran 6:3 (2), yang oleh Herlianto (juga
beberapa pihak yang meragukannya) ditafsirkan bahwa
“Sang Pencipta” baru memperkenalkan nama diri-Nya
kepada Musa, jelas-jelas “menyesatkan”; mestinya paling
tidak, frase “Aku belum menyatakan diri” bisa saja
dipahami bahwa secara detail “kehebatan” Yehuwah
memang belum Dia nyatakan, dan baru mulai dari Musa-
lah, kehebatan tersebut nyata dalam berbagai “mukjizat”
yang kasat mata, dan itu sama sekali belum pernah
disaksikan oleh para leluhur Israel.
Kenyataan bahwa terjemahan yang umum termasuk
LAI atas Kej. 6:3(2) tersebut memang berpotensi
“miskonsepsi”, oleh karena itu timbulah pertanyaan,
“Benarkah terjemahan tersebut sudah maksimum akurat,
atau adakah terjemahan alternatif lain?” Atas dasar itulah,
akurasi terjemahan tersebutperlu dikaji-ulang dan hasilnya
diuraikan berikut.
Sebagai pembanding dikemukakan terjemahan
menurut KJV (King James Version): “And I appeared unto
Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, by the name of God
Almighty, but by my name JEHOVAH was I not known to
them.”65 KJV menggunakan preposisi (kata depan) by dan
menambahkan kata the name of di depan El Shaddai (God
Almighty), dan menggunakan kata depan but (tetapi) serta

65
Study Bible, King James Versions
57
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menambahkan kata depan lagi by, atau menggunakan 2 kata
depan but by di depan my name YHWH. Satu hal yang
membedakan dari terjemahan umumnya yakni KJV (juga
GNV) memberi peluang terjemahan dalam bentuk
interogatif tanpa jawaban seperti yang saya garisbawahi di
atas. Bahkan NIV Bible-elektronik dalam data base
BibleWorks 6 dan NIB menyajikan alternatif terjemahan
dengan adanya tanda tanya (?), sungguh mencengangkan;
dan berikut ini saya sajikan terjemahan yang berindikasi
interogatif, bersama WEB, dan RWB.66
NIB
Exodus 6:3 I appeared to Abraham, to Isaac and to Jacob
as God Almighty, {Hebrew El-Shaddai} but by my name
the LORD {See note at Exodus 3:15.} I did not make
myself known to them. {Or Almighty, and by my name the
LORD did I not let myself be known to them?}67
NIV
Exodus 6:3 I appeared to Abraham, to Isaac and to
Jacob as God Almighty, {3 Hebrew El-Shaddai} but by my
name the LORD {3 See note at Exodus 3:15.} I did not
make myself known to them. {3 Or Almighty, and by my
name the LORD did I not let myself be known to them?}
(New International Version, US 1984)68
WEB
Exodus 6:3 And I appeared to Abraham, to Isaac, and
to Jacob, by {the name of} God Almighty, but by my name
JEHOVAH was I not known to them. (1833)69
RWB
Exodus 6:3 And I appeared to Abraham, to Isaac, and
to Jacob, by the name of God Almighty, but by my name
JEHOVAH was I not known to them. (1995)70
66
Ibid
67 NIB
Exodus 6:3
68
Study Bible, New International Versions. Exodus 6:3
69 WEB
Exodus 6:3
58
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
BBE
Exodus 6:3 I let myself be seen by Abraham, Isaac, and
Jacob, as God, the Ruler of all; but they had no knowledge
of my name Yahweh.71
LXE
Exodus 6:3 And I appeared to Abraam and Isaac and
Jacob, being their God, but I did not manifest to them my
name <1> Lord. {1) Or, The Lord}72
NLT
Exodus 6:3 I appeared to Abraham, to Isaac, and to
Jacob as God Almighty,1 though I did not reveal my name,
the LORD,2 to them.73
BBE mengubah gaya bahasa yang aktif pada mereka
(Abraham-Ishak-Yakub) dan menggunakan kata kerja had
no knowledge of my name Yahweh (tidak mempunyai
pengetahuan tentang nama-Ku Yahweh); ini
mengindikasikan mereka hanya sebatas
mengenal/menyebut saja, dan tidak memahami makna lebih
dalam tentang Sang Nama Yahweh. LXE dan NLT masing-
masing menggunakan kata kerja manifest dan reveal, suatu
kata kerja yang melukiskan tidak hanya sekedar
mengenalkan (nama). 74
Terjemahan literal Ul. 6:3, dalam bahasa Inggris
berdasarkan parsing WTT Bible Works 6, adalah “And I
have appeared unto Abraham, unto Isaac, and unto Jacob, in
El Shaddai and my name YHWH, was I not made known to
them.”75 Ada 2 hal yang perlu diperhatikan untuk
memperoleh akurasi yang tinggi dalam terjemahan tersebut,

70 RWB
Exodus 6:3
71 BBE
Exodus 6:3
72 LXE
Exodus 6:3
73 NLT
Exodus 6:3
74
BBE
75
WTT Bible Works 6,
59
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yakni: Pertama, perlu diingat bahwa dalam teks Ibrani asli
(“gundul”), tanda baca secara umum seperti koma, titik
koma, titik, tanda seru, tanda tanya, sama sekali tidak
dituliskan; jadi pemberian tanda baca ini sepenuhnya
bergantung pada “akurasi” penerjemah. Kenyataan bahwa
baik El Shaddai maupun nama Yehuwah, memang sudah
diperkenalkan sendiri oleh “Sang Pencipta” sebagaimana
saya uraikan di atas, maka keduanya ini cara bacanya
disatukan saja, dan ini bisa dilakukan dengan
pemberian/peletakan tanda baca yang tepat, dalam hal ini
bisa dilakukan dengan memberikan tanda baca titik-koma
(;)di depan kata El Shaddai. Kedua, demikian pula, jenis
kalimat tanya (interogatif), atau kalimat tanya tanpa
jawaban (interogatif), kalimat perintah (imperatif), maupun
kata seru, juga sama sekali tidak diindikasikan dalam teks
Ibrani; jadi, pemberian tanda baca untuk jenis kalimat ini
pun sepenuhnya bergantung pada “akurasi” penerjemah.
Oleh karena dengan mudah dapat dikenali bahwa
dalam nats ini, 6:3(2), ada dua kata kerja, maka nats ini bisa
saja ”dipisahkan” menjadi 2 kalimat pula dengan batas
tanda baca titik-koma (;). Kalimat pertama merupakan
kalimat berita biasa (aktif reflektif), dan kalimat kedua
berupa interogatif-retorik, bentuk aktif reflektif ataupun
pasif, sehingga hasil akhir terjemahan tersebut menjadi,
yakni: “And I have appeared unto Abraham, unto Isaac, and
unto Jacob; in El Shaddai and my name Yehuwah was I not
made known to them?” Terjemahan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi: “Dan Aku telah menampakkan diri
kepada Abraham, kepada Ishak, dan kepada Yakub; dengan

60
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
El Shaddai dan nama-Ku Yehuwah, tidakkah Aku telah
(membuat) dikenal oleh mereka?”
Dan jika dipilih kedua kata kerja aktif reflektif, maka
terjemahan menjadi berikut ini. “Dan Aku telah
menampakkan diri kepada Abraham, kepada Ishak, dan
kepada Yakub; dengan El Shaddai dan nama-Ku Yehuwah,
tidakkah Aku telah menyatakan diri kepada mereka?”
Dengan demikan yang menjadi catatan penting adalah: (1).
kata depan in dalam teks bahasa Inggris sesungguhnya tidak
terlalu masalah, namun dalam bahasa Indonesia nampaknya
lebih tepat diterjemahkan ”dengan” meskipun
diterjemahkan ”di dalam” (yang maksudnya di dalam diri)
pun tidak akan membingungkan. (2). ayat tersebut untuk
kata kerja yang kedua tidak memuat kata ganti acusatif
(objek langsung) sehingga membuka kemungkinan tafsir
bentuk pasif dengan objek bukan hanya menunjuk salah
satu yakni nama Yehuwah (sebagaimana terjemahan LAI)
melainkan keduanya, yakni El Shaddai dan Yehuwah. (3)
penempatan tanda baca titk koma (;) pada posisi tersebut
tidaklah terlalu rigid, hanya untuk mengambil nafas baca
saja; tentu saja jika posisi titik koma dipindah setelah kata
Yehuwah, hasilnya pun tidak menyimpang dari makna
terjemahan yang dimaksudkan sebagi berikut.
“Dan Aku telah menampakkan diri kepada Abraham,
kepada Ishak, dan kepada Yakub dengan El Shaddai dan
nama-Ku Yehuwah; tidakkah Aku telah (membuat) dikenal
oleh mereka?” Jadi jelaslah bahwa terjemahan tersebut
sejalan dengan kenyataan pengenalan Yehuwah kepada
leluhur Israel, dan dengan demikian memenuhi syarat
sintesis. Ayat ini pun sangat tegas bahwa Elohim (Kel.6:
61
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2(1)) menyebutkan “nama-Ku” Yehuwah, dan tidak
demikian untuk El Shaddai.
Memang dalam bahasa Ibrani dikenal (setahu saya) 2
kata tanya-interogatif, wh, yakni mah (menurut parsing
Bibleworks6 berarti, what, how, why), dan mih (berarti
who). Interrogative mâ "what" asks for the character of a
person, while mî "who?" only requires identity.76 Namun
kenyataannya dalam banyak ayat diterjemahkan dengan
memakai tanda tanya sekalipun tidak disertai kata tanya
tersebut; apa lagi yang bersifat retorik, artinya tidak
memerlukan jawaban. Salah satu jenis kalimat tanya tanpa
kata tanya yang juga dikenal sebagai “yes or no question”
(polar question) yang menyangkut “fakta” ada 2 jenis jakni
tanpa dan dengan ditandai dengan huruf he (Waltke &
O’Connor Introduction to Hebrew Syntax, Section. 40.3b
Polar Questions, dengan contoh 2 Sam 18:29, ....
~A+lv'b.a;l. r[;N:ñl; ~Alv', - šälôm lannaº`ar lü´abšälôm -
“Is the young man Absalom all right - Selamatkah
Absalom, orang muda itu?").
Kalimat tanya tersebut juga bisa bermakna retorika,
dan tentu tidak memerlukan jawaban, sebab jawabannya
sudah ada dalam teks itu sendiri, dan ini bisa saja
ditafsirkan merupakan ”suatu peringatan” bagi Musa,
bahwa dia tidak perlu kawatir jika bangsa Israel sampai
menanyakan ”nama-Nya” (Kel. 3:3), toh kenyataannya
Alkitab tidak merekam adanya pertanyaan yang
dikawatirkan Musa itu. Model terjemahan demikian inipun
ditemui dalam banyak tempat, misalnya dalam Kel. 8:26,

76
parsing Bibleworks6
62
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
YLT
Exodus 8:26 and Moses saith, 'Not right to do so, for the
abomination of the Egyptians we do sacrifice to Jehovah
our God; lo, we sacrifice the abomination of the Egyptians
before their eyes -- and they do not stone us!77
Terjemahanya: “Dan, Musa menjawab, “Tidak benar
kami berbuat demikian itu, sebab kami mempersembahkan
kurban kebencian orang Mesir itu bagi Yehuwah, Elohim
kami; lihatlah, jika kami mempersembahkan kurban
kebencian orang Mesir itu di depan mata mereka, lalu
tidakkah mereka akan melempari kami dengan batu? Jika
kita bandingkan dengan terjemahan LAI, Kel. 6:3 (2) “Aku
telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub
sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku
TUHAN Aku belum menyatakan diri.”78 Dengan demikian
LAI tidak mengikuti dengan setia teks Hebrew untuk
terjemahan kata depannya, mungkin dari teks berbahasa
Inggris (jadi menambahkan kata depan di muka kata nama-
Ku Yehuwah), dan menghilangkan kata depan ”kepada”
untuk Ishak dan Yakub, yang benar-benar ada dalam teks
Hebrew; bahkan LAI juga menghilangkan kata akhir
kalimat, ”kepada mereka.”
Kesimpulan atas pernyataan Herlianto (2005) pada
bagian awal tersebut adalah: Pertama, Kel. 6:3(2) lebih
akurat diartikan sebagaimana terjemahan yang saya usulkan
berdasarkan aspek sintesis menurut tata cara “Ilmu Tafsir”.
Kedua, Sdr. Herlianto telah “menuduh” (para) penyalin
Alkitab Tenakh (Ibrani) melakukan penggantian/penyelipan
dengan nama Yehuwah (YHWH);

77 YLT
Exodus 8:26 and Moses
78
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia.
63
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Atas dasar tuduhan butir (b) ini saya mengajukan
pertanyaan: (1) ‘Naskah kuno’ yang mana yang menjadi
kepercayaan Anda bahwa telah terjadi penyalinan dengan
memasukkan nama Yehuwah (YHWH). Berapa jumlah
kosa kata yang menyangkut nama Sang Pencipta dalam
‘naskah kuno’ tersebut; naskah kuno tersebut untuk
masyarakat mana? (2) Jika memang telah terjadi
“penggantian” dalam proses penyalinan Alkitab Tenakh,
lalu apakah dapat ditunjukkan bukti adanya naskah sebelum
terjadi penggantian/penyelipan terhadap nama YHWH?

Kesimpulan
Pernyataan Herlianto (2005) pada bagian awal
tersebut adalah: Pertama, Kel. 6:3(2) lebih akurat diartikan
sebagaimana terjemahan yang saya usulkan berdasarkan
aspek sintesis menurut tata cara “Ilmu Tafsir”. Kedua, Sdr.
Herlianto telah “menuduh” (para) penyalin Alkitab Tenakh
(Ibrani) melakukan penggantian/penyelipan dengan nama
Yehuwah (YHWH); Keluaran 6:3 telah berhasil
diterjemahkan ulang secara akurat sehingga tidak
memungkinkan terjadinya miskonsepsi atas pengenalan
nama YHWH yang telah dikenal oleh Abraham-Ishak-
Yakub bahkan para leluhur mereka, mendahului
perkenalanNya dengan nama El-Shadday.

Daftar Pustaka
Alkitab Edisi Study, Lembaga Alkitab Indonesia: Jakarta, 2013.
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Seri Life Application Study
Bible, Malang: Gandum Mas, 2014.
Bruce K. Waltke & Michael O’Connor, Introduction to Hebrew Syntax,
Section. 40.3b Polar Questions. Eisenbrauns, Indiana, 1990.
64
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Herlianto, Siapakah yang Bernama Allah itu? Cetakan ke 3. Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2005.
I.J. Setyabudi. Kontroversi Nama Allah. Wacana Press, Jakarta
Jahja Iskandar, Mengapa Nama Yahweh Semakin Populer, Edisi
Terbaru. PT. Jakarta: Abiyah Pratama, 2009.
Jeff Hamond, n.d. Jawaban Sejarah, Linguistik & Theoligia atas
Kontroversi Nama Allah. Abbalove Ministries, Jakarta, 2005.
Kitab Suci Elektronik BibleWorks6
Kitab Suci Indonesian Literal Translation, Yayasan Lentera Bangsa,
Jakarta, 2008.
Kitab Suci Terjemahan Baru, Lembaga Alkitab Indonesia: Jakarta,
1996.
Walter Lempp, Tafsiran Alkitab Kejadian 1:1-4:26. Djakarta: BPK
Gunung Mulya, 1964.
Sugioyono, Metode Penelitian Manajemen, Bandung: Alfa Beta, 2014

65
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
PEMIMPIN SEBAGAI GEMBALA
BERDASARKAN INJIL YOHANES 10:1-18

Elianus Telaumbanua

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta


Weron, Balong, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman
Tromol Pos 4 Kaliurang 55585 Yogyakarta-Indonesia
email: eliadhelau@gmail.com

Abstrak
Kajian ini memaparkan sebuah gambaran kehidupan seorang
pemimpin yang berkecipung dalam dunia pengembalaan. Gembala
adalah seorang pemimpin, yang harus mampu membawa pengaruh
yang baik terhadap pengikut-pengikutnya, terlebih-lebih dalam
memengaruhi untuk melakukan sesuatu hal sesuai target percapaian.
Dalam Konteks Yohanes 10:1-18, Yesus memberi sebuah gambaran,
bagaimana kehidupan sebagai gembala yang baik, pemimpin yang baik
dan berpengaruh baik terhadap bawahannya. Dalam kajian ini,
dipaparkan bagaimana kehidupan dan kepribadian seorang gembala
yang sedang memimpin, sehingga kepemimpinannya berhasil dan
orang-orang yang dipimpin mengalami kemajuan dalam berbagai
aspek kehidupan.

Kata-kata Kunci: Pemimpin, Gembala

Pendahuluan
Dalam sebuah lembaga/organisasi atau kelompok
akan bisa mencapai visi yang telah ditetapkan apabila peran
setiap yang terlibat didalamnya bertindak sebagai mana
mestinya. Pemimpin mempunyai pengaruh dalam
tercapainya visi tersebut karena pemimpin sebagai
pengendali, pengemudi dan pengarah oraganisasi tersebut.
Kepemimpinan berarti cara memimpin, yang berasal dari
kata dasar kata benda pimpin yang berarti tuntunan,
66
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
bimbingan, hasil memimpin dan kata kerja Memimpin yang
berarti mengepalai, mengetuai; memandu; memegang
tangan seseorang untuk dibimbing dan ditunjukkan jalan;
melatih, mendidik, mengajar agar dapat mengerjakan
sendiri.79 Kepemimpinan sebagai satu keahlian atau
kecakapan untuk mempengaruhi orang lain dalam rangka
pencapaian tujuan yang diharapkan oleh pemimpin. Alkitab
mencatatkan beberapa catatan penting tentang
kepemimpinan Yesus. Banyak orang yang hidup di zaman
itu kagum melihat kepribadian dan filosofi-filosofi yang
diajarkan-Nya (Matius 7: 28-29), bahkan orang yang
tadinya menjadi penentang-Nya pada akhirnya menjadi
imitating-Nya (band. Kis 6:7; 8:1-3, 9:1-20).
Kepemimpinan-Nya sungguh memberikan dampak luar
biasa dalam peradaban manusia. Ia menjadi inspirasi bagi
pemimpin-pemimpin di kemudian hari. Lincoln pemimpin
besar Amerika pada era tahun 1800-an. Setiap pemikiran,
dan tindakannya dinafasi oleh filosofi yang diterimanya
dari pemimpin Agung yaitu Yesus Kristus. Di akhir
hayatnya, menteri Angkatan Bersenjata Stanton berkata: “di
sana terbaring lelaki paling sempurna yang pernah ada di
dunia.”80

79
Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen, (Jakarta
Prenada Media), 2005, hal. 255.
80
Careneige, Dale, How to win friends and influence people, (Jakarta: Binarupa
Aksara, 1993), hal 6.
67
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kajian Teori
Kepemimpinan
1. Pengertian Kepemimpinan
Pengertian “kepemimpinan” secara umum adalah
mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama guna
mencapai tujuan. Prinsip in berlaku secara universal seperti
yang dikatakan oleh Kenneth, pemimpin adalah orang yang
dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinn.81 Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia Purwadarminta, pemimpin
berasal dari sebuah kata kerja “pimpin” yang artinya antara
lain.82 Mengetahui atau mengepalai, Memenangkan paling
banyak, Memegang tangan seseorang sambil berjalan,
Memandu untuk kendaraan atau sebuah perjalanan, Melatih
mendidik, mengajari dan lain sebagainya. Seorang
pemimpin haruslah memiliki kualitas diri lebih tinggi atau
unggul dari orang-orang lain, sehingga ia dapat memiliki
otoritas atas orang lain dalam suatu komunitas untuk
membawa mereka mencapai suatu tujuan tertentu.
Pemimpin adalah seseorang yang mengarahkan orang lain
dalam suatu komunitas untuk mencapai suatu tujuan
tertentu. Di sini pemimpin juga berperan sebagai pendidik,
pengajar dan pelatih bagi orang lain. Leadership is
interpersonal influence eDercised in a situatio, and
directed, through the communication process, toward the
attainment of a specified goals.83 Dengan demikian,
kepemimpinan adalah sebagai proses mempengaruhi

81
Kenneth O Gangel, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen, (Malang,
Gandung Mas, 1998), hal. 1000
82
Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 874.
83
Wahjo Sumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2002), hal. 17.
68
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
seseorang untuk mengambil tindakan guna mencapai
tujuan bersama.84 Oleh sebab itu, seorang pemimpin harus
dihargai oleh orang yang dipimpinnya, dan memiliki
kecakapan yang melebihi dari orang-orang yang
dipimpinnya. Kepemimpinan berarti cara memimpin, yang
berasal dari kata dasar kata benda Pimpin yang berarti
tuntunan, bimbingan, hasil memimpin dan kata kerja
Memimpin yang berati mengepalai, mengetuai; memandu;
memegang tangan seseorang untuk dibimbing dan
ditunjukkan jalan; melatih, mendidik, mengajar agar dapat
mengerjakan sendiri.85 Kepemimpinan juga dapat diartikan
sebagai proses memengaruhi dan mengarahkan para
pegawai dalam melakukan pekerjaan yang telah ditugaskan
kepada mereka. Oleh karena itu, pemimpin dapat
didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kemampuan
untuk memengarui perilaku orang lain tanpa menggunakan
kekuatan, sehingga orang-orang yang dipimpinnya
menerima dirinya sebagai sosok yang layak memimpin
mereka. Kepemimpinan merupakan suatu proses terencana yang
dinamis melalui suatu periode waktu dalam situasi, yang
didalamnya pemimpin menggunakan perilaku (pola/gaya), sarana
prasarana, bawahan/pengikut untuk melaksanakan
tugas/pekerjaan mencapai tujuan. Kepemimpinan secara
praktisnya merupakan: (1). Seni bekerja bersama. (2). Seni
pemenuhan kebutuhan orang yang dipimpin. (3). Seni
kemampuan memadukan ide/gagasan orang, benda, waktu dan
iman untuk mencapai sasaran. (4). Seni merangkum dan

84
Edwin A. Locke, The Essence of Leadership, (New York: LeDington Books,
1991), hal. 2.
85
Ernie Tisnawati Sule & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen,
(Jakarta: Prenada Media, 2005), hal. 255.
69
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menyampaikan perintah. (5). Seni membuat peta keinginan
tentang masa depan/visi.86

2. Dasar Kepemimpinan Kristen Secara Alkitabiah


Pada hari ciptaan keenam Tuhan Allah menciptakan
Adam dan Hawa. Dia memberkati dan berfirman kepada
mereka, bertambah banyaklah dan kuasailah mahluk hidup
(Kej 1:28). Salah satu maksud Tuhan menciptakan manusia
pertama ialah untuk menjadi pemimpin bersama Tuhan.
Namun dengan kejatuhan manusia dalam dosa, maka
mandat untuk manusia berubah dari suatu kepemimpinan
Tuhan menjadi suatu kepemimpinan yang beralasan, yakni
kekuasaan yang bersifat egoistis. Manusia memberontak
melawan penciptaan-Nya dan dengan cara yang sama
ciptaan lain juga melawan manusia. Sejak kejatuhan itu
manusia telah melanggar perintah Tuhan, sehingga rencana
awal Tuhan mengenai kepemimpinan sudah tergantikan
dengan kepemimpinan yang bersifat ganas dan kejam.
Tuhan memanggil Abraham, meninggalkan negeri
dan keluarganya dengan suatu janji, Tuhan akan membuat
dia menjadi berkat bagi semua bangsa-bangsa di dunia ini
(Kej 12:13). Abraham taat pada perintah Tuhan dan
menjadi sahabat Tuhan dan Bapa suatu bangsa rohani yang
baru. Keturunan Abraham yaitu Israel. Israel sebagai
bangsa dipilih dan diangkat oleh Tuhan untuk
melaksanakan suatu rencana penebusan dan menjalankan
suatu misi khusus dalam rangka penyelamatan seluruh
bangsa. Karya utama penebusan Kristus ialah, supaya
orang kafir dapat menerima berkat yang sudah dijanjikan
86
Ibid, Ernie Tisnawati Sule, hal. 20-22
70
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kepada Abraham dan dapat pula menerima janji Roh
Kudus, sehingga oleh iman semua orang percaya pada
Kristus, tanpa membedakan ras dan seks, semua orang
dapat menerima penebusan (Gal 3:13-14).

3. Belajar dari kepemimpinan Tuhan Yesus


Tuhan Yesus Kristus memperbaiki kembali pola Ilahi
kepemimpinan manusia sesuai dengan keadaan semuala.
Pola kepemimpnan Kristus “Nabi, Iman dan Penguasa”.
Kepempinan Kristus beralaskan kasih dan tanggung jawab
kepada Sang Pencipta. Tuhan Yesus mengutus murid-
murid-Nya mengabarkan Injil, menyembuhkan orang sakit,
mengusir roh jahat, mentahirkan orang kusta dan
membangkitkan orang mati (Mat 10:17,8). Tuhan Yesus
satu-satunya manusia yang taat. Pemimpin kristen
mengikuti teladan Kristus. Pertama-tama menyajikan tugas
vertikal seorang pemimpin Kristen terhada Tuhan. Tugas
vertikal inilah yang dapat memelihara kesatuan orang
percaya dengan Kristus sebagai ranting pokok anggur yang
benar dan yang kedua mengemukakan tugas horisontal
semua pemimpin Kristen terhadap sesama. Sebagai ranting
yang benar harus menghasilkan buah-buah yang dapat
bertahan dan membawa kemuliaan bagi nama Yesus
Kristus.
Oleh sebab itu, fungsi dan kecakapan kepemimpinan
dapat (a). Mengetahui tugasnya sesuai dengan yang
digariskan dalam proses perencanaan (planning),
pengorganisasian (organizationing), pelaksanaan
(implementing), dan pengawasan (controlling). (b). Mampu
mengkoordinasikan (coordinating) berbagai kegiatan yang
71
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
terdapat dalam organisasi supaya tercapai kesatuan kerja.
(c). Lekas tanggap atau peka terhadap keadaan lingkungan
(socializing) yaitu cepat membaca situasi baik secara segi
peralatan dan prasarana kerja, mengenal berbagai
kebutuhan dan adat istiadat para karyawannya. (d).
Memupuk hubungan antar manusia (Human Relationship)
yang baik karena unsur manusia merupakan faktor penentu
untuk keberhasilan pencapaian tujuan organisasi. (e).
Kemampuan mengadakan hubungan masyarakat (Public
relation) yaitu mampu memberikan informasi dan mampu
memberikan kenyakinan kepada masyarakat yang berada
diluar organisasi.
Jadi, fungsi dan kecakapan seorang pemimpin yang
sebenarnya adalah kejituan, ketepatan dan kecepatannya.
Dalam hal ini kemampuan manusialah yang sangat
berperan dan menonjol. Setelah mendapat informasi dari
bawahannya seorang pemimpin harus mampu membuat
keputusan tindakan yang akan dilakukan, kemudian
keputusan itu dinyatakan dalam bentuk peraturan secara
tertulis, berupa perintah atau instruksi, kebijaksanaan dan
selanjutnya diedarkan kepada semua pihak yang
berkepentingan. Dalam membahas masalah kepemimpinan
saat ini perlu mengenal tipe-tipe pemimpin yang terdapat
baik dalam suatu organisasi maupun dalam sebuah gereja.
Prof. Dr. Sondang P. Siagan, memperkenalkan tipe-tipe
kepemimpinan sebagai berikut:
Pertama, Pemimpin yang Demokratis.87 Pemimpin
yang demokratis adalah pemimpin yang menerapkan

87
Yosafat Bangun. Intergritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: Andi Offset.
2010, hal. 152
72
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
demokrasi dalam menjalankan tugasnya. Kedua, Pemimpin
yang Otokratis. Sifat-sifat pemimpin yang otokratis tidak
tepat untuk organisasi modern, dimana hak-hak asasi
manusia yang menjadi bawahan itu harus dihormati. Ketiga,
Pemimpin yang Militeristis. Kepemimpinan Militeristis
sering menuntut disiplin yang tinggi pada bawahan tetapi
pemimpin sendiri tidak melakukannya. Pemimpin yang
Paternalistis. Seorang pemimpin yang menganggap
bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa. Tidak
memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk
mengambil inisiatif. Keempat, Pemimpin yang Kharismatik.
Berakar dari kata benda kharis serta kata kerja kharisomai
(present infinitive: kharistai). Kharis berarti sesuatu yang
menggembirakan atau menyenangkan; artinya sesuatu itu
mempunyai sifat menimbulkan rasa senang di pihak yang
melihat atau mendengarnya. Ciri umum kharismatik
menurut pandangan Paulus adalah:88 Kharisma adalah
kenyataan terkait dengan karya Roh Allah dalam
kehidupan manusia,yang berlandaskan Anugrah Allah.
Kepemimpinan adalah menerima tanggung jawab
yang dijalankan dengan rajin, sungguh-sungguh, dalam
membangun orang lain dan menyalakan iman mereka,
sehingga mereka bersedia mengikuti sang pemimpin
dengan sukacita.89 Yesus merupakan sosok pemimpin yang
ideal dan menunjukkan suatu perbedaan dengan pemimpin
yang lain. Pemimpin yang ideal ini bukanlah seperti sosok
pemimpin di sebuah perusahaan biasa atau pemimpin dalam
88
Ayub Ranoh. Kepemimpinan Kharismatis. (Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2011), hal. 165-166
89
Paulus Trimanto, Dikta Pasca Sarjana Kepemimpinan Kristen, (Yogyakarta:
STT Kadesi, 2012), hal.1
73
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
organisasi pada umumnya. Dapat diandaikan bahwa Yesus
adalah pemimpin yang ada di perusahaan Allah yang
memiliki produk yang dibutuhkan oleh umat manusia,
yakni keselamatan seluruh umat manusia.

Pemimpin Kristen
1. Pengertian Pemimpin Kristen
Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah
dipanggil oleh Allah sebagai pemimpin yang ditandai oleh
kapasitas memimpin, tanggung jawab memimpin umat
Allah untuk mencapai tujuan-Nya. Pemimpin harus yakin
bahwa dirinnya dipanggil oleh Allah untuk diberi tanggung
jawab besar. Pemimpin Kristen juga hrus memiliki dasar
teologis-filosofis sebagai ”pelayan-hamba”, selain itu
memiliki motif yang benar dalam membina hubungan
dengan orang yang dipimpinnya dan sekaligus memahami
proses kepemimpinan serta ketrampilan untuk memimpin.
Kehidupan pemimpin Kristen harus memiliki sikap
sebagai pemimpin yang : (1). Bertanggung jawab. (2).
Bertumbuh dalam kepribadian dan karakter. (3). Menjadi
model keteladanan hidup rohani dan jasmani yang baik. (4).
Memiliki motif dasar pelayanan hamba. (5). Memiliki
paradigma alkitabiah untuk segala aspek kehidupan dan
kepemimpinan. Sumber daya kepemimpinan Kristen yang
holistik90, yakni: (1). Faktor dasar penentu pengembangan
pemimpin, dipengaruhi oleh: faktor internal, faktor
eksternal, pengaruh ilahi yang beriteraksi kearah
perwujudan kepemimpinan yang kompeten dan kapabel.

90
Yakob Tomatola. Kepemimpinan Yang Dinamis, (Malang: Gandung Mas.
1997), hal. 84
74
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
(2). Faktor pengaruh yang mengarah kepada pengembangan
holistik adalah; Pemrosesan, merupakan campur tangan
Allah lewat segala aspek.

1. Dasar teologi kepemimpinan Kristen


Kepemimpinan Kristen adalah suatu proses terencana
yang dinamis dalam kontek pelayanan Kristen (Yang
menyangkut faktor waktu, tempat dan situasi Khusus)yang
didalam nay oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi
diri-Nya seorang pemimpin (dengan Kapasitas Penuh)
untuk memimpin umatNyaguna mencapai tujuan Allah bagi
dan melalui umatNya, untuk kejayaan KerajaanNya. Dari
defenisi ini, ada beberapa yang perlu diperhatikan dalam
kepemimpinan Kristen saat ini sebagai berikut: Pertama,
Kepemimpina Kristen merupakan suatu proses terencana
dan dinamis. Kedua, Kepemimpinan Kristen memiliki
Konteks pelayanan. Kepemimpina Kristen pada sisi ini
lebih menekankan aspek melayani( yaitu melayani Allah ,
Gereja dan penginjinlan dunia). Ketiga, Kepemimpinan
Kristen memiliki presuposisi yang berkenaan dengan
Anugrah khusus yang menekankan bahwa Allah dengan
kedaulatan-Nya. Memilih pemimpin kristen bagi diriNya.
Keempat, Dalam epemimpina Kristen, umat Allah sebagai
orang yang dipimpin memiliki tanggung jawab integral
untuk secara bersama terlibat dalam pengerjaan pelayanan
yang dipercayakan kepada setiap individu. Kelima, Dalam
kepemimpinan Kristen, tujuan Allah adalah dasar utama
yang diatasnya tujuan umat Allah dibangun.
Jadi, dari sekian urain di atas, maka Kepemimpinan
Kristen harus didasarkan pada premis utama bahwa Allah
75
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
didalam kehendak-Nya yang berdaulat, telah menetapkan
dan memilih setiap pemimpin Kristen untuk memimpin
sebagai pelayanan. Premis ini ditegaskan oleh J. Robert
Clinton yang mengatakan” pemimpin Kristen adalah
sesorang yang telah dipanggil Allah sebagai Pemimpin
yang ditandai dengan, yakni: (1). Kapasitas memimpin. (2).
Tanggaung jawab pemberian Allah. (3). Memimpin suatu
kelompok umat Allah (Gereja). (4). Mencapai tujuanNya
bagi, serta melalui kelompok ini.
Dari penjelasan Clinton di atas dapat dikatakan bahwa
seorang pemimpin Kristen harus memiliki kesadaran diri
dan kualifikasi penting yang ada pada dirinya sebagai
pemimpin. Hal ini dipertegas oleh Tomatala, mengatakan
bahwa sebagai berikut:
Pertama, Seorang pemimpin Kristen seorang yang
telah ditebus Allah, harus yakin bahwa dirinya dipanggil
oleh Allah untuk tanggung jawab kepemimpinan, guna
memimpin kelompok umat Allah. Kedua, Pemimpin
Kristen harus memahami dasar kepemimpinan Kristen
bahwa ia terpanggil sebagai pelayan-hamba (Markus 10:42-
45). Pemimpin Kristen bukannya terpanggil kepada posisi
atau jabatan tertentu, tetapi ia terpanggil kepada Tugas dan
tanggung jawab sebagai pelayan/hamba Allah. Ketiga,
Pemimpin Kristen harus memiliki motif dasar
kepemimpinan Kristen, yaitu: (a). Membina hubungan
dengan orang yang dipimpin/orang lain (Markus 3:13-19;
Matius 10:1-4; Lukas 6:12-16). (b). Mengutamakan
pwengabdian (Lukas 17:7-10). Menekankan bahwa kerja
adalah fokus, prioritas, sikap utama serta tekanan utama.

76
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Keempat, Pemimpin Kristen harus memahami proses
kepemimpinan serta keterampilan memimpin.91

2. Faktor dasar pengembangan pemimpin Kristen.


Ada tiga faktor dasar penentu pengembangan yang
mempengaruhi perkembangan kapasitas seorang pemimpin,
yaitu: (1). Pengaruh Internal; dalam diri pribadi (bawaan
lahir) dan pengaruh psikologis, antara lain genetika, dan
tempramen dasar yang diturunkan/diterima dari orang tua.
(2). Pengaruh Eksternal; yaitu social mikro dan kontekstual
yang makro, antara lain pengaruh keluarga dekat/jauh ,peer
(sahabat dekat) dan masyaralkat umum dimana sesorang
berada. (3). Pengaruh Ilahi, yaitu faktor rohani khusus yang
adalah wujud campurtangan Tuhan dalam hidup seorang
individu92

Gembala Sebagai Pemimpin


1. Pengertian Gembala sebagai Pemimpin
Gembala dalam Alkitab menunjukan kepada pribadi
atau kelompok yang berbeda-beda. Namun semuanya
menunjukkan kepada pengertian yang sama yaitu:
“memelihara”. Kata Gembala pertama kali digunakan
dalam kitab Kejadian menunjukkan kepada Habel sebagai
gembala ternak (Kej 4:2). Gembala menurut
Poerwadarminto ada dua arti secara harafiah kata”
Gembala” memiliki arti’ penjaga atau pemelihara binatang

91
Ibid. Yakob Tomatala, hal. 45-48
92
Op.cit. Tomatala, ha. 84
77
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
ternak.” Secara rohani berarti penjaga Keselamatan umat
Nasrani.93
Gembala sidang adalah seorang pemimpin yang
memiliki tanggung jawab yang besar, ia dituntut dalam
banyak hal, namun tuntutan itu bukanlah merupakan beban
tetapi suatu kewajiban yang harus dijalankan dengan tulus
terutama dalam melayani jemaat Tuhan. Schuneman
mengatakan, seorang pemimpin gembala sidang harus
menjadi pemimpin yang baik, menyediakan makanan
rohani, menopang serta membangun mereka yang lesu
secara rohani dan mereka yang kehilangan semangat dalam
kebenaran.94
Dalam Injil Yohanes 10:1-18 termasuk dalam situasi
yang lebih dekat dengan Yoh. 9, yaitu masih dalam pesta
Pondok Daun. Pada bagian ini berisi suatu alegori dari
kehidupan gembala yaitu pada ayat 1-5: Pencuri tidak lewat
pintu kandang, sedang domba mengikuti gembala. Setelah
ada catatan tentang kurang pemahaman orang Yahudi,
Penginjil menerangkan alegori itu dalam tiga penerapan:95
(a). Yesus adalah pintu, dan orang yang tidak masuk
melewati pintu dia adalah pencuri (ay.7-8). (b). Yesus
adalah pintu, dan orang yang melewati Dia sampai pada
keselamatan Allah (ay.9). (c). Yesus adalah Gembala yang
baik, yang mengenali domba-domba dan menjadi
pemersatu mereka (ay.11-18).

93
Poewodarminto. WJS. Kamus Besar Bahsa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,
1992). hal. 156
94
D. Schuneman, Pemimpin Yang Baik, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982). hal.
86
95
William Barclay. Yohanes Ps. 8-21. Jakarta: BPK 1991
78
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Meskipun yang terakhir ini dirasa tidak pas untuk
alegori, dan tidak lagi dilawankan dengan pencuri, namun
dengan gembala sewaan, tetapi penginjil jelas mau
menegaskan peranan Yesus sebagai gembala yang
didambakan sejak lama, sebagai pemenuhan harapan itu.
(Yeh. 34:11). Aspek Kristologis yang nyata terungkapkan
dalam pernyataan bahwa Yesus menyerahkan hidup agar
dapat membahagiakan sesama (ay.17-18). Menurut James
Strong kata Gembala dalam PL menggunakan kata “ra’ah
mengandung makna to tend yang berarti memelihara;
pasture yang berarti memberi makan rumput segar,
mengembalakan.96 Gambaran gembala tidak hanya dipakai
untuk melukiskan hubungan antara Allah dengan umat
pilihan-Nya, tetapi juga dipakai untuk melukiskan
hubungan antar sesama manusia. Gelar Gembala
diterapkan secara luas pada semua orang yang
mengabdikan diri kepada kehendak Allah untuk
kesejahteraan umat-Nya. Para raja, misalnya, disebut
sebagai gembala seperti para imam dan semua orang yang
berada pada posisi sebagai pemimpin umat. Namun, perlu
disadari bahwa sebutan ini tidak selalu berkaitan dengan
peran positif mereka untuk menyediakan keamanan dan
perlindungan bagi rakyatnya. Kepada pemimpin yang tidak
memberikan rasa aman dan perlindungan itulah nabi
Yehezkiel menghakimi mereka karena melepaskan
tanggung jawab mereka untuk memperhatikan kawanan
domba.

96
James Strong. The New Strong”s Exhaustive Concondace of the Bible “ Greek
Dictionary of the New Testament, (Kanada: Thomas Nelson Publisher”s. 1990), hal 27
79
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Robert Cowles menandaskan bahwa” seorang
gembala sungguh-sungguh, bukan dia yang memilih
jabatannya, melainkan dia dipilih untuk jabatannya.
Seorang gembala sidang yang benar menjadi gembala
sidang bukan karena ia memilih jabatan itu melainkan
sebab ia taat pada panggilan Ilahi. 97

Yehezkiel menubuatkan penghakiman Allah bagi


gembala Israel yang jahat yang hanya mereka
memperhatikan diri mereka sendiri. Dikatakan bahwa Allah
sendiri yang akan menjadi lawan gembala-gembala itu dan
Allah akan menuntut kembali domba-domba-Nya dari
mereka dan akan memberhentikan mereka
menggembalakan domba-domba-Nya. Gembala-gembala
itu tidak akan terus lagi menggembalakan dirinya sendiri;
Allah akan melepaskan domba-domba-Nya dari mulut
mereka, sehingga tidak terus lagi menjadi makanannya”
(Yeh 43: 10-11). Para gembala Israel akan diberhentikan
dan Allah sendiri akan menggembalakan domba-domba
(Yeh. 34:15). Allah akan mencari domba yang hilang dan
mengumpulkan mereka di dalam satu kawanan untuk
mendapatkan kembali gembala yang baik (Yeh 34:11-16).
Nubuat ini berakhir dengan kata-kata Tuhan, “Dan mereka
akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, Allah mereka,
menyertai mereka dan mereka, kaum Israel, adalah umat-
Ku, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Kamu adalah
domba-domba-Ku, domba gembalaan-Ku, dan Aku adalah
Allahmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH" (Yeh 34:30-
31).
97
J. Oswald Sander, Kepemimpinan Rohani, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2006), hal. 9
80
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Yesus Gembala yang Baik
Dalam Perjanjian Baru, Yesus mengangkat kembali
gambaran tentang gembala yang baik dan yang jahat
dengan nada yang baru. Yesus menampilkan diri-Nya
sebagai gembala yang baik (ay. 11, 14). Kisah tentang diri-
Nya sebagai gembala yang baik terbagi atas dua bagian
utama. Pertama, ay. 11-13 tentang pertentangan antara
gembala yang baik dengan yang jahat. Kedua, ay 14-18
tentang ikatan yang erat antara gembala yang baik dan
domba-domba-Nya. Ikatan ini memperlihatkan Yesus
sebagai gembala yang luar biasa.
Bagian ini menceritakan sikap para pemimpin agama
Yahudi dan juga menegaskan kontras antara sikap Tuhan
Yesus dan sikap para pemimpin agama Yahudi. Dalam
Yohanes 10:1-21 mereka disebut “pencuri” dan
“perampok” domba. Bagian ini dilatarbelakangi oleh
beberapa nas dalam Perjanjian Lama yang menegur para
pemimpin agama Yahudi, yang disebut “gembala”. Lihat
Yeremia 23:1-4; 25:32-38; Zakharia 11; dan Yesaya 56:9-
12. Dalam Mazmur 80:1 Allah dikiaskan sebagai Gembala
Israel. Lihat juga Mazmur 23:1 dan Yesaya 40:11. Dalam
Yehezkiel 34:20-24, Tuhan Allah menjelaskan bahwa Dia
akan menempatkan seorang gembala di antara mereka,
karena domba-domba Israel telah menjadi mangsa gembala-
gembala Israel. Gembala itu, yang dikiaskan sebagai
"Daud", adalah Mesias (Leon Morris, p 498).
Menjadi gembala sidang yang berhasil merupakan
pekerjaan terbesar yang mungkin dalam hidup ini. Hal itu
tidak akan tercapai dengan hanya satu jam penyerahan
dihadapan Allah, atau satu malam bergumul dalam doa,
81
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
atau satu usaha yang singkat, meskipun dengan
bersungguh-sungguh. Bangunan yang besar memerlukan
perencanaan yang teliti dan panggilan yang dalam. Karir
yang berhasil, mula-mula memerlukan kemampuan-
kemampuan tertentu dan minat yang kuat, lalu kemudian
diikuti persiapan yang rajin, praktek dan pengalaman
selama bertahun-tahun. Demikian halnya bagi seorang yang
ingin menjadi gembala sidang yang berhasil. Sebelum ia
dilahirkan. Allah sudah mempunyai rencana ini baginya, Ia
harus dipanggil dan dilengkapi, ditahbiskan dan diutus-
seluruh rencana itu hendaknya berasal dari Allah, dan
mendapat tanggapan sepenuh hati dari yang dipanggil, dan
tanpa ragu-ragu didukung oleh orang-orang percaya.
Perumpamaan Yesus itu menggambarkan pekerjaan sehari-
hari seorang gembala. Setiap hari gembala itu memasuki
kandang melalui pintu, bukan dengan memanjat dari tempat
lain. Lalu ia membawa kawanan dombanya ke luar, ke
tempat yang banyak rumputnya. Ia harus melindungi
kawanan domba itu dari penyamun dan serigala. Pada
malam hari Ia membawa kawanan domba itu pulang ke
kandangnya. Hal itu adalah hal yang biasa bagi orang-orang
Yahudi dan banyak kesusasteraan mereka mengenai
gembala, misalnya Mazmur 23, yang menyatakan Allah
sebagai Gembala yang memelihara kaum-Nya. Dengan
perumpamaan itu dan keterangan yang diberikan-Nya,
Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Gembala (dan juga
Raja) bagi seluruh bangsa Israel: Tetapi Ia bukan hanya
Gembala bagi bangsa Israel saja, melainkan bagi "domba-
domba lain" (ayat 16), yakni bangsa asing juga, Orang yang
matanya dimelekkan oleh Yesus diusir dari kawanan domba
82
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
orang Yahudi, tetapi Yesus rnenyambut dia ke dalam
kawanan domba yang baru, yakni orang-orang yang
percaya kepada Yesus Kristus.
Yohanes 10:16”Ada lagi pada-Ku domba-domba lain,
yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus
Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-
Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan
satu gembala. και αλλα προβατα εχω α ουκ εστιν εκ
της αυλης ταυτης κακεινα με δει αγαγειν και της
φωνης μου ακουσουσιν και γενησεται μια ποιμνη εις
ποιμην. (dibaca kai alla probata ekhô ha ouk estin
ek tês aulês tautês kakeina me dei agagein kai tês
phônês mou akousousin kai genêsetai mia poimnê
heis poimên). 98

Gembala yang baik akan menyerahkan nyawanya


untuk domba-damba-Nya, agar dapat melepaskan mereka
dari serigala ganas, lalu Ia mengambil kembali hidup-Nya
serta memberikan hidup itu kepada domba-damba-Nya.
Karena hal demikian Yesus, sangat dikasihi oleh Bapa-
Nya. Dalam perumpamaan itu Yesus menggambarkan
hidup keagamaan orang Yahudi. Banyak gembala palsu,
yakni mesias palsu, yang muncul sebelum kedatangan
Yesus ke dalam dunia ini, juga sesudah Yesus naik ke
sorga. Merekalah pencuri dan penyamun. Domba-domba
adalah orang-orang yang mendengar suara Yesus, lalu
mengikuti Dia. Orang upahan bukanlah gembala. Ia adalah
pengecut yang hanya mengasihi diri sendiri. Ketika melihat
serigala datang, ia lari meninggalkan domba-domba itu.

98
Dave Hagelberg, Tafsiran Yohanes Pasal 6-12 dari Bahsa Yunani,
(Yogyakarta: Andi Offset, 200), hal. 260-261
83
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Dalam kajian ini, ada beberapa Kriteria yang perlu
dimiliki oleh seorang pemimpin dalam menjalankan
kepemimpinan sebagai gembala berdasarkan Yohanes 10:1-
18, yang berpatokan pada kepemimpinan Yesus sebagai
gembala yang baik.

1. Hidup sesuai kebenaran firman Tuhan


Yohanes 10:1 dan 2 mengatakan “Aku berkata
kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam
kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan
memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang
perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah
gembala domba. Artinya bahwa seorang gembala
seharusnya masuk dan keluar melalui pintu bukan
memanjat tembok, karena pintu merupakan jalan untuk
masuk keluar kedalam kandang domba. Dalam hal ini
bahwa seorang gembala harus hidup sesuai dengan
kebenaran dalam arti bahwa sebagai pemimpin rohani
seharusnya melakukan setiap firman dan melakukan
kebenaran merupakan sebuah gaya hidup. Kebenaran itu
adalah Yesus Kristus, Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya:
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang
pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Hidup di dalam kebenaran firman Tuhan berarti
hidup menuruti segala keinginan Tuhan dan melakukan
perintah-Nya. Betapa pentingnya seorang pemimpin
rohani (gembala) dan orang percaya (jemaat) untuk hidup
berdasarkan firman Tuhan. Karena firman Allah
merupakan otoritas tertinggi dalam kehidupan orang
percaya. Bahkan Tuhan Yesus berkata; barang siapa

84
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia
sudah ada hakimnya, yaitu Firman yang telah
Kukatakan, itulah yang menjadi hakim pada akhir
dalam (Yohanes 12 : 48). Jikalau kamu tinggal dalam
Aku dan Firman-Ku tinggal dalam kamu, minta apa
saja’ (Yohanes 15:7). Dalam hal ini setiap orang
percaya harus hidup dalam Firman dan melakukan
Firman Tuhan sehinga setiap orang percaya dapat
hidup dalam kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus
berkata; bahwa orang yang mendengar dan melakukan
Firman-Nya adalah orang yang bijaksana yang
membangun rumahnya di atas batu, mampu mangatasi
cuaca dan badai. Bersama Tuhan, orang percaya akan
mampu bertahan dalam segala tekanan karena mereka
hidup dalam kebenaran firman Tuhan (Matius 7:24-25).
Hal ini juga di jelaskan oleh; Hana Suparti, “ Hidup
dalam kebenaran firman Tuhan merupakan ciri orang
percaya yang mengalami perubahan. Hidup dalam
firman Tuhan adalah hidup menurut kemauan Tuhan,
karena seluruh hidupnya adalah berada dalam kendali
Firman”99. Dalam kehidupan orang percaya, Firman
Allah harus dilakukan sehingga menghasilkan buah -
buah roh dalam kehidupan (Galatia 5: 22 ). Menurut
Rick Warren:
Firman Tuhan menghasilkan kehidupan yang
menimbulkan Iman, mendatangkan perubahan,
membuat iblis takut, menyebabkan mujizat
menyembuhkan yang sakit hati, membangun

99
Hana Suparti, Tesis Korelasi Etika Kristen dengan pertumbuhan Rohani
Hal 69.
85
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
karakter mengubah keadaan, memberikan sukacita,
mengatasi kesusahan, mengalahkan pencobaan
memberikan pengharapan, melepaskan kuasa,
menyucikan pikiran , menciptakan berbagai hal dan
menjamin masa depan kita selama kita tidak biasa
hidup tanpa Firman jangan pernah meremehkan-
Nya”.100

Hidup dalam kebenaran Firman Tuhan berarti


tinggal didalam Yesus Kristus, karena Firman Tuhan
Berkata; “ Tinggalah didalam Aku dan Aku tinggal dan
Aku di dalam kamu,...Akulah pokoh anggur dan
kamulah ranting – ranting jikalau kamu tinggal di dalam
Aku dan Firman-Ku tinggal di dalam kamu, minta apa
saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan
menerimanya. (Yohanes 15 :3 -7). Alkitab Penuntun
bahwa, Tinggal dalam Aku. Setelah seseorang percaya
kepada Yesus dan menerima pengampunan dosa Dia
menerima hidup kekal dan menerima kuasa di dalam
Kristus. Setelah kuasa itu diberikan, orang percaya harus
menerima tanggung jawab supaya tetap selamat dan tinggal
di dalam Kristus. Kata Yunani (meno) berarti tetap tinggal.
Sebagamana ranting anggur tetap melekat pada pohon.
Pertama, Memelihara Firman Allah senantiasa
dalam hati dan pikiran serta menjadikanya penuntun
tindakan kita. Kedua, memelihara kebiasan persekutuan
yang intim dan tetap dengan Kristus supaya mengambil
kekuatan dari pada-Nya. Ketiga, Mentaati perintah-Nya
tinggal dalam kasih-Nya. Keempat, Memelihara

100
Rick Warren, The Purpose Driven life, (Malang Jawa Timur : Gandum
Mas, 2005), hal. 193
86
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kebersihan hidup kita melalui Firman Allah, menolak
kepada dosa dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus.101
Hidup dalam kebenaran Firman Tuhan berarti
tinggal dalam kebenaran serta melakukan kebenaran
Firman Tuhan itu, dalam kehidupan sehari - hari .
Sebagai orang Kristen Firman Tuhan merupakan
sumber kebenaran, yang mutlak dapat dipercaya,
dipatuhi dan dilakukan didalam kehidupan sehari- hari
baik itu, ditengah masyarakat sehingga kehidupan orang
Kristen sesuai dengan Firman Allah dan Tuhan Yesus
dimulikan.
a. Bergaul karib dengan Tuhan (Hubungan Intim)
Yohanes 10:15, mengatakan; “Sama seperti Bapa
mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku
memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. καθως
γινωσκει με ο πατηρ καγω γινωσκω τον πατερα και την
ψυχην μου τιθημι υπερ των προβατων. (dibaca: kathôs
ginôskei me ho patêr kagô ginôskô ton patera kai tên
psukhên mou tithêmi huper tôn probation). Dalam ayat ini
mengatakan Yesus sebagai gembala mengenal Bapa dan
Bapa Mengenal gembala. Dengan kata lain antara keduanya
saling mengenal. Hubungan saling mengenal melibatkan
dua belah pihak, dengan tujuan supaya terjalin sebuah
hubungan yang baik. Sebagai seorang gembala harus
senantiasa membangun hubungan yang baik dengan Bapa
supaya mengerti apa isi hati-Nya Bapa supaya kita
melakukannya. Bergaul karib dengan Tuhan yang
membuat hubungan itu menjadi lebih baik dengan cara;

101
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Malang; Gandum Mas1993 Hal
1735
87
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
berdoa, menyembah, baca Firman, merenungkan Firman
dan melakukannya. Gembala yang senantiasa membangun
hubungan dengan Bapa di sorga apapun yang dilakukannya
pasti berhasil.
Dalam Mazmur 1:1-3, dikatakan ”bahwa
berbahagialah orang yang kesukaannya merenungkan
Taurat Tuhan siang dan malam, sehingga apapun yang di
buatnya berhasil karena Tuhan menyertainya. Untuk
seorang gembala dalam melakukan setiap tanggung jawab
yang Tuhan percayakan hidupnya harus benar-benar
dipenuhi dengan Firman, senatiasa merenungkan firman
sebagai landasan hidupnya. Yosua 1:8,” janganlah engkau
lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah
itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati
sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab
dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau
akan beruntung. Wiliam Bridge berpendapat:
Merenungkan Firman Tuhan meningkatkan
pengetahuan, daya ingat juga semakin kuat. Hati akan
semakin hanyut, terlepas dan pikiran-pikiran yang
cemar dan jahat, hati akan siap melakukan kehendak
Tuhan, bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan.
Kehidupan akan menjadi semakin berarti, tahu
bagaimana mengisi waktu luang, menggunakannya
untuk bergaul akrab dengan Tuhan. Anda dapat
memetik pelajaran dan hikmat dari kejadian yang
buruk, tidakkah itu semua menarik anda untuk
merenungkan Firman Tuhan.102

102
William Bridge, The works of The Referend William Bridge, Reprint, Beaver
Falls, A. Soli Deo Gloria, 1989, hal. 135
88
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Merenungkan firman Tuhan adalah salah satu bukti
bahwa kita hidup bersandar kepada Tuhan, apabila kita
fokus pada kebenaran firman Tuhan. Dengan senantiasa
merenungkan firman Tuhan pasti hidup kita akan berubah
kearah yang Tuhan kehendaki, kehidupan dan kebiasaan
lama serta kedagingan kita semakin hari semakin kita
tinggalkan dan kita hidup seperti teladan kita yaitu Yesus
Kristus. Sehingga kepemimpinan seorang gembala menjadi
kepemimpinan yang berdasarkan pada kebenaran Ilahi dan
setiap tindak atau keputusan yang ambil senantiasa
berdasarkan standar dari kebenaran firman Tuhan.
b. Memiliki motifasi yang benar dalam melayani Tuhan
Kata motivasi dalam Kamus Besar Besar Bahasa
Indonesia memiliki pengertian yaitu dorongan yang timbul
pada diri seseorang baik secara sadar atau tidak sadar untuk
melaksanakan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Dari
kamus psikologi motivasi berarti usaha yang dapat
menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu
tergerak melakukan sesuatu, karena ingin mencapai tujuan
yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan
perbuatannya.103
Pelayanan merupakan sebuah tanggung jawab yang
Tuhan percayakan dalam kehidupan setiap orang percaya.
Yesus memberi contoh kepada bahwa Ia melayani bukan
dilayani, Ia melayani bukan mencari upah dan Ia
memperhatikan. Pelajaran ini sangat berharga bagi setiap
para gembala karena orang yang hidup dalam kebenaran
adalah memiliki motifasi yang benar. Kata motivasi

103
Kamus Besar Bahasa Indonesia, 756.
89
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sebenarnya berasal dari bahasa Latin, yakni movere yang
berarti “menggerakan” (to move).104 Kata “movere”
menunjuk kepada sesuatu yang aktif, dinamis dan
berkembang atau progresif. Sondang P. Siagian mengulas
secara etimologis, bahwa kata motivasi berasal dari kata
motif, yang artinya dorongan, kehendak alasan atau
kemauan.105 Yakob Tomatala mendeskripsikan definisi
motivasi secara etimologi sebagai berikut: 106
Kata motivasi berasal dari akar kata "motive" atau
"motiwum", yang berarti "a moving cause" yang
berhubungan dengan "inner drive, impulse, intension."
Kata "motive" atau motif ini bila berkembang menjadi
motivasi, maka artinya menjadi: "sedang digerakkan atau
telah digerakkan oleh sesuatu, dan apa yang
menggerakkan itu terwujud dalarn tindakan.

Dari penjelasan tersebut maka; pengertian motifasi adalah


sesuatu alasan yang mendorong, menggerakan, memacu,
menyemangati seseorang untuk melakukan sesuatu, awalnya
muncul dari hati dan diwujudkan dengan tindakan serta gaya hidup.
Dalam Yohanes disebutkan bahwa; 10:8 “Semua
orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan
perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan
mereka. sedangkan seorang upahan yang bukan
gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu
sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan
domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu

104
J. Winardi, Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajemen, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2007), hal. 1.
105
Sondang P. Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya (Jakarta: Rineka Cipta,
2004), hal. 142.
106
Yakob Tomatala, Penginjilan Masa Kini Jilid 2 (Jakarta: YT Leadership
Foundation,1998), hal. 214.
90
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak
memperhatikan domba-domba itu. Pencuri datang
hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala
kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala
yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombanya;

Dalam ayat di atas sangat jelas kita melihat seorang


gembala upahan tidak peduli akan keadaan domba-
dombanya sehingga ia melarikan diri. Ada orang yang
dibayar untuk menggembalakan domba. Jika ada bahaya
yang mengancam mereka dan domba yang mereka
gembalakan, mereka pasti lari, karena mereka hanya
memikirkan uang atau upah, dan bukan domba. Dia
melakukan tugas dengan baik, asalkan tugasnya tidak
menjadi terlalu berat. Seorang gembala yang hidup dalam
kebenaran firman Tuhan pastinya memiliki motifasi yang
benar dalam mengembalakan. Yesus berkata: Aku datang,
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya
dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombanya. Yesus sebagai teladan yang harus kita contoh
dalam hal pelayanan, Ia datang memberikan hidup dan
dalam segala kelimpahan, Ia rela memberikan nyawanya
demi domba-dombanya. Sebagai seorang gembala harus
menjalin hidup karib dengan firman Tuhan setia membaca
serta mentaatinya sebagai dasar hidup. Donald S. Whitney
mengatakan:
91
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
“Tuhan berjanji, orang-orang yang membaca serta
mentaati Firman-Nya akan diberkati. Dengan
perkataan lain, orang mendisiplinkan dirinya dengan
bergaul karib dengan Tuhan akan menerima berkat.
Dan terus membaca sampai tidak dapat lagi
membacanya, dalam arti sampai menutup mata
selamanya”.107

Menurut, Rick Warren: “Membaca Alkitab setiap


hari akan membuat anda tetap berada dalam jangkauan
suara Allah. Itulah sebabnya Allah merintahkan raja -
raja Israel untuk menyimpan salinan Firman-Nya di
dekat mereka; “ Itulah yang harus ada disampingnya
dan harus ia membaca seumur hidupnya”.108
Membaca firman Tuhan merupakan bagian
kedisplinan rohani seorang gembala supaya melihat setiap
apa yang kita lakukan dalam pelayanan dengan dasar
firman Tuhan. Apakah itu motifasi untuk kemuliaan nama
Tuhan atau tujuan yang lain. Dalam Yosua 1:8 “Janganlah
engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi
renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau
bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di
dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan
berhasil dan engkau akan beruntung”. Sedangkan menurut
Rick Warren, bahwa; “Roh kudus memakai Firman
Allah untuk menjadikan kita serupa dengan Anak
Allah. Untuk menjadi serupa dengan Yesus, kita harus
memenuhi hidup kita mendengar Firman-Nya”.109
Betapa pentingnya orang percaya membaca dan
merenungkan firman Tuhan. Hal ini juga dijelaskan

107
Donald S. Whitney,”10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen”, Lembaga
Literatur Baptis, Bandung,2001, hal.32,
31
Rick Warren, The Purpuse Driven Life, Malang Jawa Timur : Gandum Mas
2004 Hal 196
32
Rick Warren, Ibid
92
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
oleh; Jonatan David, berkata; “ Roh kudus mengingatkan
hal – hal pernah kita, dengar atau kita baca dan yang
telah tersimpan dalam ingatan”110. Karena firman Tuhan
memiliki otoritas Allah yang sanggup mengubahkan
kehidupan orang percaya. Maka sangat penting bagi
orang pecaya mengisi hati dan pikiran dengan
membaca firman Tuhan.
Menurut James Wilson, berkata; “ Tuhan lebih
memperhatikan keadaan hati dalam diri orang
percaya dari pada memuaskan keinginan untuk
mempertahankan nama baik. Yesus mengginkan
mata dan perhatian kita terarah hanya kepada-
Nya, bukan pada hak - hak Istimewa kita baik
nyata maupun angan - angan.”111.

2. Hidup Penuh Tanggung Jawab


Sebagai seorang gembala memang seharusnya
bertanggung jawab atas kehidupan domba-dombanya.
Begitu juga dalam kehidupan kepemimpinan gembala
bahwa gembala mempunyai tanggung jawab yang besar
untuk memelihara, menjaga, melindungi serta memberi
makanan rohani supaya keadaan jasmani maupun rohani
mereka tetap terjag dan terpelihara. Sehingga mereka
semakin hari semakin dewasa di dalam Kristus.
Dalam Yohanes 10 dikatakan “Jika semua dombanya
telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka
dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka
mengenal suaranya. Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi

33
Jonatan David, Pola Pikir Yang Mengalami Terobosan, (Jakarta: Nafiri
Gabriel, 2002), hal. 39
34
James A. Wilson , The Holy Spirit And The Endtimes, (Yogyakarta: Andi
Offset 2008, hal. 42
93
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang
bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-
domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang,
meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga
serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-
domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak
memperhatikan domba-domba itu.112

Kebanyakan orang farisi dan pemimpin-pemimpin


orang Yahudi adalah bagaikan "orang upahan". Mereka
tidak mau masuk Kerajaan Sorga, dan mereka merintangi
orang-orang yang berusaha untuk masuk (Matius 23:13).
Bagian ini menceritakan sikap para pemimpin agama
Yahudi dan juga menegaskan kontras antara sikap Tuhan
Yesus dan sikap para pemimpin agama Yahudi. Dalam
Yohanes 10:1-21 mereka disebut "pencuri" dan "perampok"
domba. Bagian ini dilatarbelakangi oleh beberapa nas
dalam Perjanjian Lama yang menegur para pemimpin
agama Yahudi, yang disebut "gembala". Lihat Yeremia
23:1-4; 25:32-38; Zakharia 11; dan Yesaya 56:9-12. Dalam
Mazmur 80:1 Allah dikiaskan sebagai Gembala Israel.
Lihat juga Mazmur 23:1 dan Yesaya 40:11. Dalam
Yehezkiel 34:20-24, Tuhan Allah menjelaskan bahwa Dia
akan menempatkan seorang gembala di antara mereka,
karena domba-domba Israel telah menjadi mangsa gembala-
gembala Israel. Gembala itu, yang dikiaskan sebagai
"Daud", adalah Mesias (Leon Morris, p 498). Dalam
Yohanes 10:1-9 Dia adalah "pintu", suatu kiasan yang
menceritakan kepada kita bahwa hanya Dialah Juru Selamat

112
Yohanes 10:4-7 ( TB)
94
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang benar. Akan tetapi, dalam ayat 10-21 Dia adalah
"Gembala yang Baik". Kiasan "Gembala yang Baik"
mengembangkan ajaran mengenai Dia sebagai Juru
Selamat. Kedua kiasan ini "Pintu" dan "Gembala yang
Baik" sulit disatukan secara logika. Robert Cowles
menandaskan bahwa: “Seorang gembala sungguh-sungguh,
bukan dia yang memilih jabatannya, melaikan dia dipilih
untuk jabatannya. Seorang gembala sidang yang benar
menjadi gembala sidang bukan karena ia memilih jabatan
itu melainkan sebab ia taat pada panggilan Ilahi.113
Seorang Gembala menerima perintah dari surga dan
harus melakukannya, apapun yang akan terjadi. Pada
akhirnya dia akan memberikan pertanggungan jawabnya
kepada Allah karena itu Allahlah yang harus dilayaninya
dengan bersungguh-sungguh hari demi hari. Paulus
mengatakan “Hendaklah kami disifatkan orang seperti
hamba-hamba Kristus dan pemeliharaan rahasia Allah”.
Ada perbedaan antara seorang wali dan seorang pemelihara.
Di mana seorang pemelihara merupakan hubungan majikan
dan tuannya. Sedangkan wali merupakan wakil yang sah
dan yang akan menjadi pengganti pemiliknya apabila
pemiliknya mati. Allah mempercayakan injil-Nya kepada
kita. Kita dipercayakan untuk menyampaikan berita gratis
bagi mereka yang akan mati konyol kalau kita tidak
menyampaikannya. Sungguh berat mendapatkan
kepercayaan semacam ini. Alkitab juga menyatakan bahwa
Allah telah mendapatkan kita sebagai imam dihadapanNya
demi keselamatan manusia.

113
J. Oswald Sander, Kepemimpinan Rohani, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2006), hal. 9
95
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
a. Sikap Peduli.
Dalam Yohanes 10:12 dan 13, mengatakan
“Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang
bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat
serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari,
sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan
domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan
tidak memperhatikan domba-domba itu. ο δε μισθωτος
φευγει οτι μισθωτος εστιν και ου μελει αυτω περι των
προβατων (dibaca:ho de misthôtos pheugei hoti misthôtos
estin kai ou melei auto peri tôn probation). Dalam ayat ini
dijelaskan bahwa seorang gembala yang tidak
memperhatikan atau tidak mempedulikan domba-
dombanya, sehingga ia lari untuk menyelamatkan diri, ia
egois dan tidak bertanggung jawab.
Kata “mempedulikan” memiliki arti yang sangat
beragam dan mengandung pengertian yang berbeda-beda.
Kata dasar dari “memperdulikan” adalah peduli yang sudah
mendapatkan awalan “mem” dan akhiran “kan”. Dalam
Kamus Bahasa Inggris, kata peduli adala Care yeng berarti:
pemeliharaan, penyelenggaraan, penjagaan dengan alamat,
memelihara, memperdulikan, mengindahkan, mengsukai
dan menjaga.114 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
mendefenisikan arti kata peduli adalah: mengindahkan,
memperhatikan, menghiraukan.115 Kata memperdulikan
berarti memberikan perhatian secara terus menerus tanpa
ada batasan sampai sesuatu yang diperhatikan tersebut
114
A.L.N. Kreamer Sr, Kamus Bahsa Inggris, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,
2002), hal. 44
115
Suharso dan Dra. Ana Retnoningsih, KBBI, (Semarang: Indonesia, 2005),
hal. 365
96
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
merasa aman dan berarti. Kepedulian merupakan tindakan
yang menyertai sikap dan karakter dalam menerima realita
kehidupan yang selalu mengucap syukur.116 Seorang
gembala seharusnya memperhatikan atau mempedulikan
apa yang sedang dialami oleh jemaat Tuhan. Baik segi
kehidupan jasmani dan kerohanian.

b. Hati yang membimbing


Dalam Ayat 3 dikatakan “Untuk dia penjaga
membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya
dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing
menurut namanya dan menuntunnya keluar, τουτω ο
θυρωρος ανοιγει και τα προβατα της φωνης αυτου ακουει
και τα ιδια προβατα καλει κατ ονομα και εξαγει αυτα.
(dibaca: toutô ho thurôros anoigei kai ta probata tês phones
autou akouei kai ta idia probata kalei kat onoma kai exagei
auta) kata menuntun disini dikatakan εξαγει (exigei) yaitu
menuntun keluar.
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
“Membimbing” diartikan dengan memegang tangan untuk
menuntun; memimpin; memberi petunjuk; mengasuh; dan
memberi penjelasan. Fungsi pembimbingan mengandung
makna membantu orang-orang yang kebingungan untuk
menentukan pilhan yang pasti di antara berbagi alternatif
pikiran dan tindakan yang ada. Orang itu dibimbing supaya
bisa menentukan pilihan yang tepat. Dalam menghadapi
masalah-masalah dan pergumulan tertentu, orang sering
mengalami kebingungan. Orang itu mengalami

116
Paul G. Caram, Pedoman Bagi hamba Tuhan untuk mempertajam visi rohani
kita, (Jakarta : Voice Of Hope, 2007), hal. 91
97
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kebimbingan dan keraguan. Dalam keadaan seperti ini,
maka orang itu butuh bimbingan. Fungsi pembimbingan
dalam hal ini ialah memberikan nasihat-nasihat supaya
orang yang sedang menghadapi masalah itu tidak menjadi
salah jalan sehingga ia bisa dihindarkan dari hal-hal yang
buruk akibat dari pengambilan keputusan yang tidak tepat.
Fungsi pembimbingan ini memiliki kemiripan atau
hampir sama dengan fungsi Helping dan Solving. Fungsi
pembimbingan mengandung makna bahwa melalui
pelayanan gembala mengupayakan jemaat yang
kebingungan dibimbing untuk bisa menentukan pilihan
yang tepat dan juga jemaat dibimbing untuk bisa
memperoleh pemecahan atau solusi atas masalah yang
dialami. Dengan demikian, seorang gembala diharapkan
memiliki kapasitas dan kemampuan untuk memberi
bimbingan atau arahan dengan baik.

c. Pribadi yang terus menopang


Yohanes 10:10 “Pencuri datang hanya untuk mencuri
dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan; ο κλεπτης ουκ ερχεται ει μη ινα κλεψη
και θυση και απολεση εγω ηλθον ινα ζωην εχωσιν και
περισσον εχωσιν (dibaca: ho kleptês ouk erkhetai ei mê
hina klepsê kai thusê kai apolesê egô êlthon hina zôên
ekhôsin kai perisson ekhôsin.117
Pernyataan ini ditekankan dengan sebuah perbedaan.
Di luar Kristus, tujuan pemimpin adalah untuk mencuri dan

117
Dave Hagelberg, Tafsiran Injil Yohanes Pasal 6-12, (Yogyakarta: Andi
Offset, 2001), hal. 144-145
98
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
membunuh dan membinasakan. Mereka dikisahkan sebagai
pencuri. Tetapi Kristus tidak seperti itu. Dia datang, supaya
mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam
segala kelimpahan. Dalam ayat 9 Ia mengatakan bahwa
melalui Dia domba-domba "selamat", dan dalam ayat ini Ia
mengatakan bahwa Ia datang, supaya mereka mempunyai
hidup. Yesus Kristus adalah Juru Selamat dunia. Dia
menyediakan keselamatan kekal, sehingga setiap orang
yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup kekal, hidup
ilahi, dan tidak mengalami kematian kekal. Yesus
menopang setiap orang percaya yang sedang dijerat oleh
pencuri yaitu Iblis. Ketika iman jemaat Tuhan sudah mulai
lemah gembala mempunyai tanggung jawab menopang
supaya tetap kuat didalam Kristus. Dalam Mazmur
dikatakan (Maz 37: 23-24) bahwa TUHAN menetapkan
langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-
Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab
TUHAN menopang tangannya.118
Sebagai gembala harus mampu menjadi penopang
bagi jemaatnya. Fungsi penopangan ialah menolong orang
yang “terluka” (mengalami luka-luka batin) perlu mendapat
topangan sehingga dapat bertahan dalam melewati masa
krisis yang dialaminya sampai orang itu memperoleh
pemulihan. Fungsi penopangan ini memiliki hubungan atau
hampir sama dengan fungsi Helping, yaitu menolong orang
yang sedang dalam krisis karena masalah yang sedang
dialami untuk supaya mampu bertahan. Orang yang sedang
mengalami luka batin yang dalam, ia mengalami syok yang

118
Mazmut 37:23-24
99
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
luar biasa. Mental dan semangat hidup mengalami down, ia
menjadi lunglai dan tak berdaya. Orang yang seperti ini
pikirannya selalu diliputi keputusasaan dan harapan
hidupnya menjadi hilang. Kadang-kadang dalam kondisi
seperti ini orang rasanya ingin bunuh diri karena ia merasa
bahwa hidupnya tidak berarti lagi. Penopangan juga
mengandung makna membangun semangat hidup agar
orang itu memiliki pengharapan yang positif akan
kehidupannya dalam waktu kedepan di dalamKristus.
Dengan demikian maka orang itu akan mampu bertahan
dalam melewati masa krisis yang dialaminya.

3. Menjadi Teladan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
“Teladan” merupakan sesuatu yg patut ditiru atau baik
untuk dicontoh baik dari segi perbuatan, kelakuan, sifat,
dsb. Dalam bahasa Yunani, kata keteladanan ada beberapa
istilah, yaitu: tupos, mimetes, mimeomai, summimetes,
hupodeigma, hupogrammnos, dan ichnos. dalam Yohanes
13:15, Tuhan Yesus sendiri mengatakan, “Sebab Aku telah
memberikan suatu teladan (hupodeigma, contoh, pola;
salinan, tiruan, gambaran, model) kepada kamu, supaya
kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat
kepadamu,” yaitu wajib (opheilo, berhutang; bersalah
terhadap) saling membasuh kaki (ay. 14). Untuk menjadi
teladan seorang gembala harus hidupnya berpadanan
dengan Kristus dan hidup seutuhnya di dalam kebenaran
Firman serta ada keselarasan terhadap apa yang didalam
hati, yang diucapkan, dan praktek hidup sehari-hari yaitu
perbuatan.
100
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
a. Teladan dalam Kerendahan Hati
Dalam ayat 11 dikatakan” Akulah gembala yang baik.
Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombanya”, εγω ειμι ο ποιμην ο καλος ο ποιμην ο καλος
την ψυχην αυτου τιθησιν υπερ των προβατων dibaca (egô
eimi ho poimên ho kalos ho poimên ho kalos tên psukhên
autou tithêsin huper tôn probation). Di dalam ayat ini saya
melihat bahwa seorang yang mempunyai kerendahan hati,
ia rela melakukan apa saja demi tugas dan tanggung jawab
yang sedang ia laksanakan dan tidak melihat tanggung
jawab tersebut sebagai jabatan. Dimana seorang gembala
secara logika tidak mungkin mati konyol untuk domba-
dombanya akan tetapi disini Yesus memberikan sebuah
keteladanan kerendahan hati rela berkorban demi dosa umat
manusia sehingga Ia sangat ditinggikan oleh Bapa disurga.
Posisi kepemimpinan dalam Kerajaan Allah bukanlah
kedudukan tinggi seperti yang dibayangkan oleh Yakobus
dan Yohanes, Matius 20:21, dan Markus 10:37. Sebaliknya
kepemimpinan dalam Kerajaan Allah dilakukan oleh
mereka yang mengambil peran sebagai hamba, seperti yang
telah kita ketahui, Yesus adalah model kepemimpinan yang
melayani yang ideal.119 Rasul Paulus, mengangkat sikap
dan integritas Yesus terhadap kepemimpinan yang patut
diteladani, yakni:
Dalam Filipi 2:3 menerangkan, dengan tidak mencari
kepentingan diri sendiri atau pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati seorang
menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya

119
Jerry C Wofford, Kepemimpinan Kristen Yang Mengubahkan, (Yogyakarta:
Yayasan Andi Offset. 2008), hal. 179
101
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sendiri. Andrew Murray berkata, satu-satunya
kerendahan hati yang menjadi milk kitaq bukan
kerendahan hati yang kita tunjukan kepada Allah
dalam doa, tetapi suatu kerendahan hati yang ada di
dalam diri kita, dan dilakukan dalam perilaku sehari-
hari.120

Salah satu yang sangat menonjol dalam kepemimpinan


Yesus adalah kerendahan hati, dalam mengerjakan tugas
pelayanan-Nya. “Dan barangsiapa yang meninggikan diri, ia
akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan
ditinggikan” Matius 23:12 (TB). Namun, tidak semua sikap
rendah hati yang ditampilkan seseorang memiliki kebenaran
yang sesuai dengan iman Kristen. Jim Collins mengatakan
”seorang yang memiliki kerendahan hati melihat keluar jendela
untuk menemukan dan menyambut dengan gembira sumber
kesuksesan sejati dan melihat ke cermin untuk menemukan dan
memikul tanggung jawab atas kegagalan.121 Namun perlu
dilihat, bahwa ada perbedaan besar antara menunjukkan
kerendahan hati di hadapan orang lain dengan sengaja dan
bersikap sungguh-sungguh rendah hati di hadapan Allah.
Kerendahan hati bisa teruji oleh waktu dan keadaan. Orang-
orang yang rendah hati tidak menyangkal kekuatan mereka;
mereka hanya mengakui kekuasaan itu hanya melalui mereka,
bukan dari mereka.122
Memimpin seperti Yesus berarti memimpin dengan
kerendahan hati, yang menuntut untuk mengetahui milik
siapakah. Pengenalan diri yang benar akan menerima diri dalam
segala keberadaannya. Ini berarti seorang pemimpin rohani tidak

120
Andrew Murray. Kerendahan hati, (Yogyakarta: Yayasan Andi Offset 1994),
hal. 46
121
Ken Blanchard and Phil Hodges, Lead Like Jesus , (Jakarta: Visimedia, 2006),
hal. 86.
122
Ibid., 87.
102
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
perlu menutup-nutupi kekurangan dan kelemahan yang ada
padanya. Aspek lain, seorang pemimpin rohani harus bisa
menerima kritik dan saran orang lain.
Kerendahan hati di sini berangkat dari kesadaran
bahwa seseorang adalah “hamba” dan Dia adalah Tuan di
atas segala tuan. Setiap orang percaya harus merendahkan
diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kerendahan hati ini adalah
sikap hati, sesuatu yang bersifat batiniah. Kesadaran ini
akan membuat seseorang dengan tegas menolak segala
bentuk pengkultusan atas dirinya. Pengkultusan diri, baik
secara terang-terangan maupun terselubung, adalah sikap
penolakan terhadap Tuhan sebagai satu-satunya yang layak
disembah. Keberhasilan, sukses dan segala perestasi
pelayanan hendaknya tidak menjadi alasan untuk
meninggikan diri. Manusia hanya alat, dan sesungguhnya
Allah yang mengerjakan. Kerendahan hati berpangkal pada
sikap tidak meninggikan diri sendiri, Matius 23:7; Menjadi
kebiasaan manusia pada umumnya mencari hormat bagi
dirinya sendiri dengan segala rekayasa yang dibuatnya,
Markus 12:38; Lukas 11:43; 14:7-11. Yang terbesar
menurut Allah adalah mereka yang melayani Tuhan,
Markus. 9:33-37; Yohanes. 13:12-15 ; Filipi 2:5-8.
Mengutamakan orang lain, Yesus Kristus dalam
hidup-Nya memiliki filosofi: sama seperti Anak Manusia
datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani
dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi
banyak orang" Matius 20:28. Kristus telah memberikan
contoh kerendahan hati yang paling sempurna ketika Ia
disalibkan. “Mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi
sama dengan manusia”. Kerendahan hati (humility) seperti
103
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang ditampilkan Yesus ini merupakan kerendahan hati
yang paling ekstrim yang telah dibuat Yesus semasa hidup-
Nya. Semua itu dilakukan demi untuk kepentingan orang
lain.
b. Teladan Dalam Rela Berkorban
Pengorbanan hanya bisa terjadi pada diri seorang
pemimpin yang memimpin dengan hati seorang hamba
atau pelayan. Pemimpin yang memimpin dengan hati tidak
mementingkan diri sendiri. Pengorbanannya menunjukkan
bahwa ia berbuat bukan untuk diri sendiri, ia pedui dengan
orang lain. Pemimpin ini mencintai dan mengasihi orang
yang dipimpinnya. Melayani dan berkorban adalah hal
yang tidak terpisahkan. Karena, tidak mungkin seseorang
mau melayani tanpa mau berkorban.
Dalam Yohanes 10:10-13, mengatakan”Pencuri
datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan
membinasakan; Aku datang, supaya mereka
mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala
kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala
yang baik memberikan nyawanya bagi domba-
dombanya; εγω ειμι ο ποιμην ο καλος ο ποιμην ο
καλος την ψυχην αυτου τιθησιν υπερ των προβατων
dibaca (egô eimi ho poimên ho kalos ho poimên ho
kalos tên psukhên autou tithêsin huper tôn probation.
Sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan
yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika
melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba
itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan
mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia

104
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-
domba itu.123

Yesus memberi teladan seorang gembala yang mau


berkorban, bahkan mau mati untuk kepentingan pengikut-
Nya. Akan tetapi seorang upahan tidak akan peduli
kehidupan domba-dombanya yang penting ia dapat upah,
tanggung jawab itu nomor dua. Pengorbanan adalah salah
satu bentuk pelayanan dan pasti datang dari hati yang tulus.
Mengharapkan imbalan bukanlah pengorbanan, melainkan
sebuah sogokan atau suap yang berharap mendapat sesuatu
dari pengorbanan. Pengorbanan bukanlah suatu upeti,
tetapi bagian dari dorongan hati seorang pemimpin untuk
mencapai hasil dan tujuan yang telah ditetapkan,
berdasarkan pemikiran yang muncul dari kehendak hati
yang tulus sebagai seorang pemimpin harus bisa
memberikan teladan kepada pengikutnya untuk hidup rela
berkorban demi kepentingan orang lain.
Pemimpin yang memimpin dengan hati mau
berkorban demi kepentingan orang lain. Pengorbanan
harus dengan hati yang tulus tanpa mengharapkan
imbalan , karena “pengorbanan” dengan
mengharapkan imbalan bukanlah pengorbanan tetapi
sebuah suap atau sogok.124

Seorang gembala rela mengorbankan apa saja demi


kehidupan, keselamatan dan keamanan domba-dombanya.
Ia berusaha supaya domba-dombanya tetap dalam keadaan

123
Alkitab Terjemahan Baru, Alkitab Elektroni. Lembaga Alkitab
Indonesia.1974. Yohanes 10:10-13
124
Jonathan Willy S, Lead By Heart, (Yogyakarta: Andi Offset, 200), hal. 101
105
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
tidak merasa ketakutan. Gembala yang mengasihi
dombanya, ia rela melakukan apa saja untuk dombanya;
seperti seorang gembala harus tetap siap sedia kapan pun
waktunya dibutuhkan oleh domba-dombanya. Begitu juga
seorang gembala terhadap jemaat yang terkadang setiap
saat membutuhkan kehadiran seorang gembala ditengah-
tengah kehidupan mereka yang sedang menghadapi
masalah yang mungkin secara manusia jemaat merasa tidak
mampu, namun kehadiran gembala membuat mereka
bersukacita dan bersemangat, oleh karena mereka tahu
bahwa gembala bisa mengarahkan dan memberjalan keluar
dalam mengahadapi setiap permasalahan dan persoalan
mereka.
Kehidupan jemaat Tuhan tidak ada yang sama. Ada
yang pertumbuhan rohaninya cepat ada juga yang biasa-
biasa saja. Dalam melakukan tugas pelayanan selalu ada
perbedaan. Disisi lain juga berkat secara materi
membedakan kehidupan mereka. Terkadang jemaat Tuhan
karena sibuk mencari nafkah untuk sesuap nasi waktu
beribadah pun terabaikan. Dan disisi lain juga terkadang
ada jemaat Tuhan yang hanya mampu mengharapkan
uluran tangan dari gereja. Seorang gembala tidak terlepas
dari hal ini untuk senantiasa memperhatikan jemaat Tuhan
yang telah dipercayakan kepadanya untuk campur tangan
dalam menolong baik dari segi waktu datang mengujungi
mereka dan dari segi materi juga perlu diperhatikan.
Yohanes 10:11” Akulah gembala yang baik. Gembala
yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
εγω ειμι ο ποιμην ο καλος ο ποιμην ο καλος την ψυχην
αυτου τιθησιν υπερ των προβατων dibaca (egô eimi ho
106
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
poimên ho kalos ho poimên ho kalos tên psukhên autou
tithêsin huper tôn probation. Memimpin dari depan berarti
gembala menjadi teladan bagi domba-dombanya. Gembala
harus bisa memberikan contoh yang terbaik kepada domba-
dombanya. Dia (gembala) yang membuka jalan dan
mengarahkan domba-dombanya. Dan apabila ada masalah
atau musuh yang mengancam keselamatan domba-
dombanya, maka seorang gembala berusaha supaya musuh
tersebut tidak mencelakai kawanan domba yang
dipimpinnya. Ia berusaha semaksimal mungkin segala
sesuatu ia korbankan, nyawa sekalipun ia pertaruhkan. Ini
adalah gambaran yang Yesus sampaikan bahwa seorang
gembala yang baik ia rela berkorban demi dombanya baik
dalam segi waktu, materi dan bahkan nyawa sekalipun
dipertaruhkan demi keselamatan dombanya. Ia begitu
peduli terhadap domba yang hilang dan tersesat.

Kesimpulan
Berdasarkan Kajian ini, telah dipaparkan kepada kita
bagaimana kehidupan seorang gembala sebagai pemimpin
ditengah-tengah umat Tuhan.
Pertama:Gembala harus hidup dalam kebenaran
firman Tuhan, tetap menjaga hubungan yang intim dengan
Tuhan, sebagai sumber segala-galanya, yang memberi
kemampuan kepada gembala dalam menghadapi berbagai
tantangan dalam pelayanan. Memiliki motivasi yang benar
dalam melakukan tugas pelayanan, tanpa harus mengejar
upah atau imbalan dalam menjalani tugas tersebut. Kedua,
Gembala harus menjadi pribadi yang penuh dengan
tanggung jawab terhadap tugas dan panggilan sorgawi
untuk mengembalakan domba-domba (jemaat) yang telah
Tuhan percayakan, membimbing kepada kebenaran,
107
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
memperhatikan, dan juga menopang supaya umat Tuhan
terus maju di dalam Tuhan. Ketiga, Gembala harus mampu
menjadi teladan, baik dalam hal kerendahan hati, dalam hal
rela berkorban. Inilah beberapa hal yang tentunya ada di
dalam pribadi seorang gembala yang sedang memimpin
dalam kajian ini.

Daftar Pustaka
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, Malang; Gandum Mas, 1993
Alkitab Terjemahan Baru. AE. Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
Barclay, William, Yohanes Ps. 8-21, Jakarta: BPK, 1991
Bangun, Yosafat. Intergritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta: Andi
Offset, 2010
Bridge, William, The works of The Referend William Bridge, Reprint,
Beaver Falls, A. Soli Deo Gloria, 1989
Blanchard, Ken and Phil Hodges, Lead Like Jesus. Jakarta: Visimedia,
2006
Caram, Paul G, Pedoman Bagi hamba Tuhan untuk Mempertajam Visi
Rohani kita, Jakarta : Voice Of Hope, 2007.
David, Jonatan, Pola Pikir Yang Mengalami Terobosan, Jakarta: Nafiri
2002
Gangel , Kenneth O, Membina Pemimpin Pendidikan Kristen. Malang,
Gandung Mas, 1998
Hagelberg, Dave. Tafsiran Yohanes Pasal 6-12 dari Bahasa Yunani.
Andi Offset. Yogyakarta. 2001
Hadiwiyata, A.S..Tafsir Injil Yohanes. Yogyakarta: Kanisius 2008
Kreamer Sr, A.L.N, Kamus Bahsa Inggris, Jakarta: Ichtiar Baru Van
Hoeve, 2002.
Locke, Edwin A, The Essence of Leadership. New York: LeDington
Books, 1991
Murray, Andrew. Kerendahan hati, Yayasan ANDI Offset Yogyakarta
1994.
Ranoh, Ayub. Kepemimpinan Kharismatis. BPK Gunung Mulia,
Jakarta. 2011.
Sumidjo, Wahjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah . Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2002
Schuneman, D, Pemimpin Yang Baik, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1982

108
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Strong , James. The New Strong”s Exhaustive Concondace of the Bible
“Greek Dictionary of the New Testament, Kanada: Thomas
Nelson Publisher”s, 1990
Sander , J. Oswald, Kepemimpinan Rohani. Bandung Yayasan Kalam
Hidup, 2006
Siagian, Sondang P, Teori Motivasi dan Aplikasinya, Jakarta: Rineka
Cipta, 2004
Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Widya
Karya Semarang, Indonesia, 2005.
Tisnawati Sule, Ernie & Kurniawan Saefullah, Pengantar Manajemen.
Jakarta Prenada Media, 2005
Tomatola, Yakob. Kepemimpinan Yang Dinamis, Malang: Gandung
Mas, 1997
Tomatala, Yakob. Penginjilan Masa Kini Jilid 2, Jakarta: YT
Leadership Foundation,1998
Warren, Rick . The Purpose Driven life, Malang Jawa Timur: Gandum
Mas, 2004
Whitney, Donald S. 10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen, Lembaga
Literatur Baptis, Bandung, 2001
Wilson, James A. The Holy Spirit And The Endtimes, Yogyakarta:
Andi Offset 2008
Warren, Rick . The Purpose Driven Life, Malang : Gandum Mas, 2005
Willy S, Jonathan, Lead By Heart, Yogyakarta: Andi Offset, 2005.
Winardi, J. Motivasi dan Pemotivasian dalam Manajeme, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2007
Wofford, Jerry C, Kepemimpinan Kristen Yang Mengubahkan,
Yogyakarta: Yayasan Andi Offset. 2008.

109
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
STUDI TEOLOGIS TENTANG PANGAJARAN
PAULUS MENGENAI PEMBENARAN OLEH IMAN
BERDASARKAN EFESUS 2:8-10
DAN HUBUNGANNYA DENGAN IMAN DALAM
SURAT YAKOBUS 2:14-26

Elia Umbu Zasa

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor


Jl. Transyogy Cibubur, KM 32 Kampung Lampingbinong,
Desa Cibatutiga,
Kec. Cariu, Kab. Bogor- Jawa Barat, 16840
Email: umbuzasaelia@gmail.com

Abstraksi
Salah kaprah terhadap pandangan Paulus mengenai
pembenaran oleh imanEfesus 2:8-9 dan hubungannya dengan Yakobus
mengenai iman perbuatan Yakobus 2:14-26 menyebabkan sejumlah
pihak memberi kesimpulan yang subjektif. Karya ini, akan berusaha
menyajikan studi teologis dan penyelidikan induktif terhadap kedua teks
tersebut di atas untuk membantu pembaca mengetahui inspirasi
kebenaran yang disajikan oleh oleh Paulus maupun Yakobus. Penelitian
ini masuk dalam studi kualitatif biblika yang dilandaskaan pada riset
kajian pustaka (research library). Untuk melihat hubungan antara
pandangan Paulus dan Yakobus; tentu juga memperhatikan keterkaitan
budaya, pemahaman teologis dan misiologi bahkan juga dalam
beberapa aspek terkait. Inerrancy Alkitab sungguh terbukti. Kedua
penulis melihat dari sudut pandang yang berbeda namun tujuan yang
sama, ibarat dua sisi mata uang. Karena itu, dapat disimpulkan bahwa
tidak ada perbedaan substansial dalam menyoroti hasil pembenaran
yang dikerjakan oleh Allah dalam kehidupan orang berdosa.

Kata kunci: Pangajaran Paulus, Pembenaran, Iman


Pendahuluan
Filosofi dunia ini pada umumnya menyatakan “hidup
ini adalah ketidakpastian. “Dunia terbatas, manusia
110
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
terbatas, semua ciptaan Allah terbatas. Karena itu, dunia
serta makhluk ciptaan di dalamnya selalu memandang
dunia sebagai ketidakpastian. Kata pembenaran tidak selalu
mudah dipahami, seperti yang diakui oleh penulis berikut:
“Pembenaran merupakan dasar ide deklarasi Allah sebagai
hakim yang benar.”125 Banyak teolog menyadari bahwa
pembenaran adalah hasil karya Allah di dalam Tuhan Yesus
yang demikian berharga, yakni Allah menyatakan benar
orang yang semestinya dihukum oleh karena menerima
Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan. Seorang
teolog terkemuka, Charles Ryrie, ketika berbicara mengenai
pembenaran, ia mengatakan bahwa pembenaran merupakan
ajaran pokok dalam kekristenan.126 Sesungguhnya, pokok
atau tema tersebut sangat menonjol diseluruh Alkitab.
Pembenaran adalah status yang diperlukan manusia di
hadapan Allah. Kebutuhan ini berhubungan dengan sifat
dasar dan keberadaan Allah.127 Menurut Paulus,
pembenaran terjadi apabila orang mempercayakan diri
secara pribadi kepada Allah dan menjalin hubungan yang
baik dengan Dia berdasarkan iman.128 Perjanjian Lama
mengisahkan bahwa secara jujur Abraham mengakui bahwa
Allah adalah hakim yang benar dan adil (Kej. 18:25). Bila
tulisan-tulisan Musa dicermati, nabi ini mengatakan bahwa

125
Geoge Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, pen., Urbanus Selan dan Henry
Lantang, peny., Soemitro Onggosardojo dan Ridwan Sutedja, (Bandung: Yayasan Kalam
Hidup, 1993), hal. 186.
126
Charles C. Ryrie, Teologia Dasar, peny., Efi, (Yogyakarta: Yayasan ANDI,
2002), hal. 45.
127
A. Berkeley Mickelsen, “Efesus,” dalam The Wyclife Bible Commentary,
peny., Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison, (Malang: Gandum Mas, 2001), hal.518.
128
F.Davidson dan Ralph P.Martin, “Roma,” dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini,
pen., Soedarmo, peny., Donald Guthrie (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF,
1999), hal.414.
111
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
nyanyian keadilan dan kebenaran Allah diulang-ulang.
Dalam Perjanjian Baru, rasul Paulus dan penggembalaan,
yakni tulisannya yang terakhir, menyebut Allah sebagai
hakim yang adil (2Tim.4:8). Yakobus mengingatkan
seluruh pembacanya bahwa Allah adalah hakim yang
berdiri diambang pintu (Yak. 5:9).
Berbicara masalah pembenaran oleh iman, Paulus
mengatakan dalam Surat Efesus 2:8-10”... orang benar
karena kasih karunia dan oleh iman.” Pemahaman Yakobus
sedikit berbeda, sebab ia mengatakan “...manusia
dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan
hanya karena iman” (Yak. 2:24). Dari dua pernyataan
diatas terkesan adanya kontradiksi antara Paulus dan
Yakobus, dan menyebabkan orang dapat berpikir bahwa
Alkitab salah. Martin Luther adalah tokoh sejarah yang
memiliki pengaruh yang besar dalam masa Reformasi, bagi
kekristenan abad pertengahan hingga kini. Ia memegang
teguh konsep “orang benar akan hidup oleh iman.”
Di Universitas Wittenberg, Luther mengajar mata
kuliah tafsiran kitab Mazmur, Roma, Galatia dan Ibrani.
Sementara itu, pergumulan rohaninya terus berjalan, yaitu
mencari kebenaran yang rahmani. F. D. Wellem,
mengatakan: “Barangkali pada tahun 1514 Luther
menemukan jalan keluar dari pergumulannya itu. Ia
menemukan pengertian yang baru tentang perkataan-
perkataan Paulus dalam surat Roma 1:16-17.”129 Luther
mengartikan kebenaran Allah tersebut sebagai rahmat
Allah, yang menerima orang-orang berdosa serta berputus

129
F. D. Wellem, Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Sejarah Gereja,
(Jakarta:BPK. Gunung Mulia, 2003), hal.126.
112
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
asa terhadap diri-Nya, tetapi yang menolak orang-orang
yang menganggap dirinya baik. Tuhan mengenakan
kebenaran Kristus kepada manusia berdosa, sehingga Ia
memandang manusia berdosa sebagai orang-orang benar.130
Penemuan Luther disarikan oleh Wellem, sebagai berikut:
Aku mulai sadar bahwa kebenaran Allah tidak lain
dari pada pembenaran yang dianugrahkan Allah
kepada manusia untuk memberi hidup kekal
kepadanya; pemberian kebenaran itu harus disambut
dengan iman. Injillah yang menyatakan kebenaran
Allah itu, yakni kebenaran yang diterima oleh
manusia, bukan kebenaran yang harus dikerjakan
sendiri.Dengan demikian Tuhan yang rahmani
membenarkan kita oleh rahmat dan iman saja.Aku
seakan-akan diperanakkan kembali dan pintu firdaus
terbuka bagiku.Pandanganku terhadap seluruh
Alkitab berubah sama sekali karena mataku sudah
celik sekarang.131

Gereja-gereja pada era modern ini, khususnya gereja-


gereja aliran Lutheran, masih memegang konsep yang
dianut oleh Luther. Usaha keras dan dedikasi, antusias yang
tinggi, loyalitas serta keberanian Luther dalam menyelidiki
Kitab Suci memang patut dihargai.Namun ada juga unsur
kelemahan-kelemahan dalam pandangannya yang harus
dicermati. Pernyataan Luther mengenai Kitab Roma,
Galatia dan hubungannya dengan kitab Yakobus, tidak
obyektif. Salah seorang teolog, Peter H. Davids, pernah
mengamati tulisan Martin Luther, dan mengatakan bahwa
Luther meyakini “Kitab Yakobus merupakan surat rasul
130
Ibid., 126.
131
Ibid., 127.
113
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang bertentangan dengan pandangan Paulus yang
mendasar terhadap Injil.”132 Dibeberapa kalangan
mahasiswa teologi sekalipun, masih ada yang bimbang dan
bingung dalam menanggapi persoalan tersebut.
Sejak zaman Marthin Luther, orang Kristen telah
bergumul untuk memahami Yakobus 2:24 dan
membandingnya dengan pernyataan Paulus yaitu “manusia
dibenarkan karena kasih karunia (Ef.2:8-9) dan karena
iman, dan bukan karena pengamalan terhadap Taurat” (Rm.
3:28). Sepintas lalu Yakobus tampaknya menyatakan
bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan, sedangkan
Paulus menyatakan manusia dibenarkan karena iman.
Kesan tersebut timbul karena masing-masing
memperlihatkan contoh mengenai Abraham untuk
mendukung argumentasinya. Hal inilah yang membuat
seorang Luther berkesimpulan bahwa “Surat Yakobus
bertentangan dengan Surat Paulus yang mendasar terhadap
Injil.”133
Dengan bergulirnya waktu, perkembangan Gereja
dari zaman ke zaman selalu diwarnai dengan berbagai
ragam pendapat. Aliran Wesley, Methodis berkenyakinan
bahwa keselamatan seseorang bisa hilang. Sedangkan aliran
kaum Injili berkenyakinan bahwa keselamatan adalah
Anugerah Allah yang diterima secara cuma-cuma dan
bernilai kekal artinya diberikan untuk selamanya kepada
orang percaya.

132
Peter H. Davids, Ucapan Yang Sulit dalam Perjanjian Baru, pen., Fenny
Veronica, peny., Yahya Gunawan, (Malang: Seminar Alkitab Asia Tenggara, 2001), hal.
159.
133
Ibid., 154.
114
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pada kenyataannya, bagi sebagian orang (jemaat)
termasuk kaum injili, juga masih “bingung,” mengenai
hubungan iman dan perbuatan jika diperdebatkan,
kecenderungan perbuatan manusia atau pengamalan
terhadap norma hukum alam menjadi salah satu
pertimbangan untuk diselamatkan. Salah kaprah terhadap
pemahaman tersebut di atas menjadi urgen untuk dibahas
dan disosialisasikan secara serius dan terus menerus mulai
dari para petobat baru, jemaat bahkan pada tingkat
Perguruan Tinggi Teologi.

Tujuan Penelitian
Pandangan para teologis yang telah dipaparkan
sebelumnya (lih.Latar belakang), menjadi pijakan dalam
merumuskan tujuan penelitian. Pertama, untuk mengetahui
bahwa pewahyuan Allah bersifat sistematis, teratur, disiplin
dan akurat tanpa kesalahan (inneranci) Alkitab. Kedua,
untuk mengetahui latar belakang dan konteks pelayanan
baik Paulus maupun Yakobus sehingga ada penekanan
pengajaran teologi bagi para pendengarnya.

Metodologi Penelitian
Penelitian ini masuk dalam studi kualitatif biblika
yang dilandaskaan pada riset kajian pustaka (Research
Library). Senada dengan Ragil Kristiawan, yang melakukan
dua pendekatan secara bersamaan yakni hermeneutika
umum dan hermeneutika khusus.134 Hermeneutika umum

134
Ragil Kristiawan, Kajian Biblika tentang Nubuatan Hamba yang Menderita
Berdasarkan Yesaya 52:13-53 dan Penggenapannya dalam Yesus Kristus. Dalam Journal
BIJAK, No. 1, Vol. Novomber 2017), hal.174
115
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
adalah serangkaian penafsiran secara komprehensif baik
Perjanjian Lama mapun Perjanjian Baru. Sedangkan
hermeneutika khusus adalah konsentrasi pada prinsip
pendekatan genre dari sebuah tulisan atau konteks. Untuk
melihat hubungan antara pandangan Paulus dan Yakobus
tentu juga memperhatikan keterkaitan budaya, pemahaman
teologis dan misiologi bahkan juga dalam beberapa aspek
terkait.

Kajian Pustaka
Kajian pustaka dalam penelitian ini menitikberatkan
pada studi studi teologis tentang pembenaran oleh Allah
dan studi eksposisi terhadap teks Efesus 2:8-10 berkaitan
dengan pembenaran oleh iman dengan teks dalam Yakobus
2:14-26 mengenai pembenaran melalui iman pembuatan.

Pengajaran Paulus mengenai Pembenaran oleh Iman


dalam Efesus 2:8-10.

1. Pengajaran mengenai pembenaran oleh iman


Kata pembenaran merupakan istilah yang sering
dipakai didalam pengadilan.Pada waktu memeriksa perkara,
hakim dapat menjatuhkan keputusan kepada orang yang
terlibat, entah menyatakan benar atau salah. Dalam Alkitab
istilah pembenaran mengacu kepada apa yang dilakukan
Allah kepada manusia, artinya Allah membenarkan
manusia, dan menganggap benar lebih daripada sekedar
menjadi anak-anak-Nya.135 Latar belakang atau landasan

135
Harun Hadiwijono, Iman Kristen (Jakarta: BPK, Gunung Mulia, 1999), hal.
407.
116
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
doktrin pembenaran Paulus terdapat di dalam Perjanjian
Lama:
Di dalam Perjanjian Lama kebenaran jelas merupakan
doktrin keagamaan kata kerja yang diterjemahkan
“membenarkan” adalah sadag kalaupun makna yang
benar dari akar kata itu hilang, para pakar pada
umumnya menyetujui bahwa ide dasarnya adalah
kepatuhan kepada peraturan. Istilah Yunani
“membenarkan” adalah dikaio dan kata benda
dikaiosune dapat diterjemahkan dengan kata
“pembenaran” dan dari kata sifat dikaios dapat
diterjemahkan adil dan benar.Beberapa pakar katolik
mengemukakan bahwa pengertian dikaioo adalah
“menjadikan benar” dan dikaiosune adalah
136
menunjukkan kualitas dari kebenaran itu.

Bagi Paulus, kata pembenaran lebih dari sekedar


mengacu kepada kualitas etis, karena penekanan Rasul
Paulus adalah hubungan posisi benar dengan Allah. Dengan
kata lain, orang yang benar memang sudah benar pada
waktu keputusan pembenaran diumumkan.137 Jadi,
hubungan antara iman dan pembenaran dapat dikatakan
“satu paket.” Artinya keduanya tidak dapat dipisahkan.
Pada saat seseorang mengambil keputusan untuk percaya,
menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat secara
pribadi, maka pada saat yang sama ia dibenarkan. Iman
kepada Kristus, membawa seseorang keluar dari kuasa maut
kepada hidup kekal. Pekerjaan yang telah dikerjakan

136
George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru, Pen., Urbanus Selan, dan Henny
Lantang, Peny., Soemintro, dan Ridwan Sutedja, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup,
2002), hal. 2:189.
137
Carlres C. Ryrie, Teologi Dasar,Peny., Efi, (Yogyakarta: Yayasan ANDI,
2002), hal. 2:46.
117
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kristus bagi umat percaya membawa hasil yaitu penebusan
dosa dan pendamaian orang berdosa dengan Allah.
Berdasarkan pemahaman tersebut Paulus dalam Surat Roma
1:17 berkata: kebenaran Allah itu bertolak dari iman
memimpin kepada iman. Pembenaran menjadi sumber
pembaharuan hidup orang beriman.
Pembenaran bukan hanya sekedar istilah yang
mengandung makna teologis, tetapi merupakan istilah yang
memberi pengharapan hidup pada orang Kristen.Iman yang
sungguh kepada Kristus membenarkan orang berosa
menjadi tidak berdosa. Seiring dengan pernyataan iman
tersebut, kepastian keselamatan (kesejahteraan/jaminan
dalam pikiran), kekuatan untuk tetap berdiri diatas
kebenaran firman Allah ditengah-tengah pencobaan, dapat
menjadi bagian hidup orang percaya.

2. Pengajaran tentang Keselamatan Ef. 2:8-10


Kata “diselamatkan” σεσωρμενοι adalah bentuk Kala
Perfek, kalimat Pasif, Modus Partisip.138 Pendekatan studi
gramatika dari prase tersebut sebagai berikut: kala perfek
menunjuk pada suatu peristiwa yang telah dilakukan secara
sempurna oleh seseorang atau pribadi tertentu. Adanya
kalimat pasif membuktikan bahwa subjek dikenai atau
dilimpahi sesuatu. Dengan lain perkataan subjek tidak
melakukan peran, namun secara inisiatif dan sempurna
dilimpahi sesuatu. Demikian juga munculnya modus
partisif pada prase tersebut menegaskan bahwa proses atau
kegiatan penyelamatan terjadi dalam bentuk “present

138
http://alkitab.sabda.org/verse.php? book=efesus&chapter=2&verse=8
118
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
tense” yaitu sedang berlangsung. Berdasarkan pengamatan
gramatik tersebut di atas maka diskripsi terhadap teks
adalah peran inisiatif Allah yang sempurna dalam
menyelamatkan manusia yang berdosa. Dosa menyebabkan
manusia tidak berdaya dalam menyelamatkan diri, manusia
pasif tiada berdaya.Hanya Allah yang datang
menyelamatkan manusia oleh kasih dan anugerah-Nya yang
besar.
Kata “iman” menunjuk pada kata benda dengan kasus
genetif yang berarti penegasan secara jelas bahwa iman
adalah sarana dalam menerima pembenaran dari Allah.
Karena itu patut dimengerti bahwa “iman tidak
menyelamatkan” sebab iman hanyalah sarana (plus-
genetif). Yang menyelamatkan dan membenarkan
seseorang ialah iman kepada Allah di dalam Yesus
Kristus.Tulisan-tulisan Paulus khususnya dalam surat
Efesus 2:8-10 sangat menjungjung tinggi nilai iman percaya
kepada Allah sebagai penentu hasil akhir dari kehidupan
seseorang. J. I. Packer, menyatakan bahwa hanya Paulus
dari penulis Perjanjian Baru lainnya yang menggunakan
kata “membenarkan” sebagai istilah teknis, yaitu mengacu
kepada tindakan Allah menerima manusia jika mereka
percaya pada-Nya.139
Perbuatan dan usaha manusia tidak mempengaruhi
Allah dalam melimpahkan keselamatan. Dalam ayat 9
tertulis dengan jelas bahwa peran manusia justru memberi
peluang untuk kesombongan. Manusia tidak memiliki jasa

139
Packer, “Benar, Pembenaran,” dalam Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Pen.,
M.H. Simanungkalit, dan H.A. Oppusunggu, Peny., J. D. Dounglas, (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1994), hal. 1:171-74
119
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dalam misi penyelamatan yang dikerjakan secara sempurna
oleh Allah.Namun yang penting diketahui dan dilakukan
ialah ayat 10 yaitu kata “melakukan pekerjaan baik” dalam
pemahaman Rasul Paulus. Kata yang pakai adalah
“αγαθος” agathos yang berarti baik, bermutu, berguna, dan
sempurna. Dapat dipahami bahwa seseorang yang telah
menerima anugerah keselamatan secara sempurna di dalam
Yesus Kristus, dalam hidupnya harus mempertontonkan
kualitas yang baik dan hidup berguna bagi sesama sebagai
wujud tanggung jawab kepada Allah. Orang yang bẻriman
kepada Kristus secara serius dalam hidupnya akan
tercermin atau nampak perbuatan baik, kebajikan yang
memiliki manfaat bagi sesama, tetapi orang yang selalu
berbuat baik belum tentu memiliki iman kepada Kristus.
Itulah sebabnya rasul Paulus menjadikan iman sebagai
sarana yang mutlak untuk memperoleh pembenaran.
Salah satu penulis yang terkenal, R.C. Sproul, juga
menegaskan bahwa “Iman merupakan kondisi yang amat
penting untuk menerima pelimpahan karya Kristus. Iman
bukan merupakan suatu loncatan pada kegelapan, tetapi
mẻrupakan suatu kepercayaan đi dalam Allah yang
memindahkan kita dảri kegelapan kepada tẻrang.140 Karena
itu, tidak berlebihan kalau Paulus dalam suratnya
menegaskan bahwa pembenaran menuntut iman yang nyata
dan hidup yang menjadi berkat, bukan hanya sekedar
pengakuan iman secara seremonial.

140
R.C. Sproul, Kebenaran-kebenaran Dasar Iman Kristen,pen., Rahmiati
Tanudjaja (Malang: Seminary Alkitab Asia Tenggara, 1998), hal. 245.
120
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pengajaran Yakobus mengenai Iman Perbuatan
Yakobus 2:14-26
Sangat penting untuk mengeksposisi Yakobus 2:14-
26 terlebih dahulu untuk mendapatkan relasi yang tepat dan
benar antara iman dan perbuatan karena ayat-ayat inilah
yang diaanggap akan memberikan informasi yang lengkap
akan hubungan keduanya. Menurut Douglas J. Moo seorang
penafsir konservatif memberi judul untuk Yakobus 2:14-26,
Iman yang menyelamatkan menyatakan dirinya dalam
perbuatan-perbuatan.141 Kalau memperhatikan isi dan unsur
retorik dalam Yakobus 2:14, 17, 20 dan 26, jauh lebih baik
Yakobus 2:14-26 dibagi menjadi tiga bagian subbagian:
Yakobus 2:14-17, 18-20, 21-26. Dengan pembagian ini,
tiga subbagian berdiri sendiri namun saling berkaitan. Garis
besar seperti ini akan lebih memperhatikan argument-
argumen Yakobus yang kuat dan menarik. Pembagian ini
dilakukan karena masing-masing subbagian mempunyai
pembahsan yang utuh.Ditambah lagi ayat 17, 20 dan 26
mempunyai topik dan pola yang mirip yang menandakan
berakhirnya suatu subbagian.142
Tafsiran J.J.W. Gunning menyatakan, “Tidak ada
gunanya kalau seseorang mempunyai iman yang tidak
disertai perbuatan. Iman itu sendiri tidak dapat
menyelamatkan atau dengan kata lain iman itu tidak akan
diterima Allah.143 Iman itu tidak menyelamatkan dirinya
dan karena itu tidak berguna. Jadi kata Iman di dalam ayat
141
Douglas J. Moo, The Letter of James, (Grand Rapids: Wm. B. Eerdman,
1985), hal. 118
142
Hasan Susanto, Yakobus: Berita yang Patut Didengar, (Malang: SAAT, 2006),
hal. 205
143
J.J.W. Gunning, Tafsiran Alkitan Surat Yakobus, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1997), hal. 30
121
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
14 kemungkinan besar adalah kepercayaan kepada Yesus
Kristus secara pribadi Pengertian ini dikuatkan oleh
kenyataan bahwa iman dihubungkan dengan keselamatan
seseorang. Kemudian kata perbuatan jangan diartikan sama
dengan pengertian yang biasa terdapat dalam surat-surat
Paulus yaitu menaati peraturan hukum Musa. Disini yang
dimaksud adalah perbuatan-perbuatan baik seperti belas
kasihan (ay 13) dan pemberian sedekah kepada orang
miskin yang berkekurangan (ay 15 dan 16). Perbuatan yang
dimaksud oleh Yakobus bukanlah perbuatan menurut
pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk memperoleh
keselamatan, namun perbuatan iman hasil moral dari
kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih.144
Kalimat dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Di
sini Yakobus seolah-olah tidak sepakat bahwa keselamatan
hanya oleh iman saja. Namun, umumnya penafsir
menjawab pertanyaan ini “tidak”.Charles F. Pfeifer dan
Everent F. Harrison menyatakan, “Jawaban yang
diharapkan dari pertanyaan dalam ayat ini adalah “tidak”
yang tegas. Mengapa? Karena penting untuk dicatat bahwa
iman yang dibahas di sini adalah iman yang palsu. Hal ini
di jelaskan oleh: (1) pernyataan jika seorang mengatakan
bahwa ia mempunyai iman dan (2) pemakaian kata sandang
tertentu yang digabungkan dengan kata iman pada anak
kalimat terakhir. Hanya iman palsu yang tidak dapat
menghasilkan perbuatan dan tidak mampu
145
menyelamatkan. Apa yang ingin ditekankan Yakobus

144
Carles C. Ryrie, “Yakobus”, dalam Tafsiran Alkitab Wycliffe, Peny., Charles
F. Pfeifer dan Everent F. Harrison (Malang: Gandum Mas, 2001),h al. 978
145
Ibid.
122
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
adalah kenyataan bahwa iman tanpa perbuatan tidak
memiliki kekuatan: iman itu tidak dapat menyelamatkan.
Yakobus menekankan bahwa tidak ada pemisahan
antara iman dan perbuatan. Tidak ada seorangpun dapat
mengatakan bahwa dirinya memiliki iman jika tidak ada
perbuatan yang membuktikannya. Iman yang sesungguhnya
harus diungkapkan dalam perbuatan. William Barclay,
“Satu hal yang yang ditentang penulis surat yakobus adalah
pengakuan iman tanpa dibarengi praktek, kata-kata tanpa
perbuatan.”
Pada ayat 15 Yakobus memberi gambaran seseorang
yang sangat miskin sehingga kebutuhan hidup yang paling
dasarpun seperti pakaian dan makanan, tidak dapat
dipenuhi.Ini merupakan gambaran seorang yang kedinginan
(kalau daerah itu memang dingin) atau kelaparan. Pada ayat
16 dia melanjutkan ilustrasinya yang hampir sama makna.
William Barclay menyatakan, “Yakobus memilih ilustrasi
yang secara gamblang menjelaskan maksudnya. Jikalau
seorang tidak meiliki pakaian untuk melindungi dirinya
ataupun makanan untuk dimakan, dan sahabat orang itu
mengungkapkan rasa simpatinya yang terdalam untuk
keadaan yang menyedihkan itu, namun simpatinya itu
berhenti hanya pada kata-kata dan tidak ada usaha yang
dilakukannya untuk mengatasi keadaan orang yang malang
itu, apa gunanya semua itu? Apakah gunanya simpati itu
tanpa ada usaha mewujudkannya dalam tidndakan
nyata.Iman tanpa perbuatan adalam mati.”146 Dalam
Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika

146
Ibid.
123
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada
hakekatnya adalah mati. Klausa ‘demikian juga halnya
dengan iman’ merupakan kesimpulan dari perbandingan
pada ayat sebelumnya.Yakobus melakukannya dengan
menggunakan kata “demikian” yang mempunyai arti sejajar
dengan contoh yang diberikan. Demikian di sini sama
artinya dengan frasa “dengan cara yang sama.”
Kata iman (ay. 17) yang digunakan Yakobus menunjuk
pada apa yang disebut iman pada ayat 14. Demikianlah juga
iman yang tidak disertai dengan perbuatan tidak ada
artinya. Iman yang demikian tidak boleh sama sekali
disebut iman.147
Kata-kata jika iman itu tidak disertai perbuatan secara
harafiah berarti “jika iman tidak memiliki perbuatan” maka
jelas bahwa perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan
pada iman - keduanya harus ada bersama-sama.Penulis
tidak bermaksud untuk membedakan antara iman dan
perbuatan; yang dibedakan adalah antara iman yang disertai
perbuatan dan iman yang tidak disertai perbuatan.Bagi
Yakobus iman harus disertai oleh perbuatan. Yang satu
tidak dapat ada tanpa yang lain, sebab iman yang tanpa
perbuatan adalah mati. Kemudian Yakobus menyatakan,
“Maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
“Kata mati dipakai sebagai kiasan yang artinya “tidak
hidup, tidak bekerja, tidak berguna”. Dalam banyak bahasa,
penerjemah perlu mengatakan sebagai berikut:
kepercayaanmu tidak berguna, atau percaya seperti itu tidak
berguna/ (tidak menghasilkan apa-apa). Kesimpulan itu

147
J. J. W. Gurning, 30
124
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menjelaskan bahwa orang Kristen tidak cukup hanya
mengucapkan kata-kata harapan kepada saudara dan
saudarinya yang berkekurangan. Orang yang mengaku
Kristen harus memberikan pertolongan kepada yang
membutuhkannya. Kalau tidak kepercayaan itu keparcayaan
yang mati. Ronald A. Ward menyatakan,
“Dalam hal ini kita mendapat suatu ajaran bila
membandingkan dengan Lukas 23:43. Penjahat yang
bertobat itu tidak mempunyai waktu lagi untuk
berbuat sesuatu sedangkan imannya tidak mempunyai
waktu untuk mati. Tentu Yakobus tidak mau
menyangkal hal ini. Yang dimaksud ialah iman yang
sungguh-sungguh mempunyai kesempatan untuk
dinyatakan di dalam perbuatan, tetapi kesempatan
yang ada tidak digunakannya.”148

Jadi, ayat 14 menjelaskan dengan terus terang bahwa


iman tidak berguna tanpa perbuatan. Dalam ayat 17, Iman
demikian tidak ada gunanya.Karena iman yang tanpa
perbuatan itu tidak ada gunanya, maka iman kepercayaan
demikian tidak dapat menyelamatkan jiwanya. Artinya
Iman tanpa perbuatan adalah iman yang palsu. Karena iman
ini mati, maka iman ini tidak dapat menyelamatkan orang
yang bersangkutan.149
Yakobus 2:20 Hai manusia yang bebal, maukah
engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan
adalah iman yang kosong? Kalimat Hai manusia yang
bebal berarti “orang bodoh yang kosong kepalanya.” Kata

148
Ronald A. Ward, Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta, BPK Gunung Mulia,
1999), hal. 794
149
Hasan Susanto, Surat Yakobus, 205-6
125
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kosong di sini menunjukkan kurangnya pengertian yang
berarti “tidak berakal” atau “bodoh.” Maukah engkau
mengakui bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang
kosong. Pemikiran yang sama dengan ini telah dinyatakan
beberapa kali. Iman tidak ada perbuatan disebut tidak ada
gunanya pada ayat 14, disebut mati pada ayat 17 dan di sini
disebut kosong yang secara harafiah berarti “tidak bekerja,”
yaitu “tidak berpengaruh” atau “tidak menghasilkan”.
Dapat diamati permainan kata-kata di sini: “iman tanpa
perbuatan adalah tidak berbuat.” Pernyataan ini
menyimpulkan pokok pikiran utama dalam bagian ini.
Yakobus hendak menegaskan adanya iman tidak
dapat dibuktikan tanpa melalui perbuatan. Iman justru
menyatakan keberadaannya melalui perbuatan.Perbuatan-
perbuatan Yakobus merupakan bukti nyata tentang adanya
iman pada dirinya.Ini tidak berarti perbuatan itu lebih
penting daripada iman.Bila seseorang berbuat baik
(membuahkan perbuatan) tetapi itu bukan hasil dari
beriman, maka sia-sialah perbuatan itu. Maksudnya
perbuatan itu tidak ada artinya di mata Tuhan. Bukankah
kita diselamatkan oleh iman kepada Yesus, bukan karena
perbuatan baik kita? Kita tidak berbuat baik untuk
diselamatkan, tetapi kita berbuat baik karena sudah
diselamatkan.150 Sub unit ini mengambil dua tokoh dalam
sejarah orang Yahudi Abraham dan Rahab sebagai contoh.
Mereka telah membuktikan iman mereka dengan berani
dalam tindakan nyata.Iman Abraham terbuti dengan
mempersemahkan anak yang dikasinya. Sedangkan Rahab

150
Doren Wijdana, Kupasan Firman Surat Yakobus, (Jakarta: LLB, 2001), hal.
53
126
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menyatakan imannya melalui pertolongan yang dia berikan
kepada dua orang pengintai.
Yakobus 2:21 Bukankah Abraham, bapa kita,
dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia
mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
Penafsiran tentang kata “dibenarkan karena perbuatan-
perbuatannya” perlu diperhatikan suasana perselisihan di
antara yang kaya dan yang miskin.Berita utama Yakobus
dalam konteks ini tidak berkaitan langsung dengan
soteriologi.Maka kalimat “dibenarkan karena perbuatan-
perbuatannya” di Yakobus 2:21 harus dimengerti dari
Perjanjian Lama. Tindakan Abraham mempersembahkan
Ishak diperkenan Allah (Kej. 22:1-19). Dengan konteks ini
kata “dibenarkan” mempunyai arti dikenal dan diberi
pahala oleh Allah; Perbuatannya diperkenankan
Allah.151 Dengan demikian pembaca surat Yakobus
mendapat dorongan besar untuk mengikuti jejak bapak
leluhur mereka, Abraham. Di lain pihak, contoh ini
mengingatkan mereka akan keputusan berani yang diambil
Abraham. Banyak hal memang membutuhkan keberanian.
Ini amat dirasakan oleh pembaca kitab ini.Tidak mudah
untuk tidak memandang muka atau memberi bantuan
kepada saudara seiman yang kelaparan. Dalam masyarakat
yang kebanyakan penduduknya miskin, tidak mudah
membantu orang lain. Bukan saja karena kebutuhan sendiri
belum terjamin, tetapi juga karena pemberian sedikit
bantuan akan menarik lebih banyak orang datang untuk
minta bantuan. Ini semua sangat tidak mudah di atasi.152

151
Hasan Susanto, Yakobus, 266
152
Ibid.
127
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Menurut Charles F. Pfeiffer dan Everent F. Harison
bahwa kata yang dibenarkan di sini jangan
dikelirukan dengan pemakaian istilah tersebut oleh
Paulus dalam hubungan dengan Abraham (bnd Rm.
4:1-5).Paulus menunjuk kepada pembenaran awal
Abraham ketika “percayalah Abraham kepada Allah,
maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya
sebagai kebenaran (bnd. Kej 15:6). Yakobus mengacu
pada suatu peristiwa yang terjadi beberapa tahun
kemudian, yaitu ketika Abraham diminta untuk
mempersembahkan anaknya Ishak. Melalui tindakan
ini dia menunjukkan realitas dari pemahaman
kejadian 15.153

Yakobus 2:22, Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama


dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan
itu iman menjadi sempurna.Nya. Bagi Yakobus, iman tidak
mungkin bisa dipisahkan dengan perbuatan-perbuatan,
karena seseorang yang mengaku diri beriman kepada Allah,
ia harus menjalankan perintah-perintah-Nya dan otomatis
perbuatan-perbuatannya mencerminkan bahwa seseorang
itu beriman kepada Allah atau bukan. Doren Wjdana
menyatakan bahwa Perbuatan tanpa iman adalah perbuatan
yang sia-sia.Iman tanpa perbuatan adalah iman yang
kosong. Iman yang bekerja sama dengan perbuatan adalah
iman sejati.154
Perbuatan dan iman kepercayaan sama pentingnya.
Untuk menegaskan maksud ini, Yakobus memakai kata
“bekerja sama” dan menjadi “sempurna” (atau
diterjemahkan “disempurnakan”, kata pertama “bekerja
153
Wicflife, “Roma,” 979
154
Doren, Kupasan , 54
128
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sama” dapat dibaca sebagai suatu permaiman kata yang
menanggapi kata “perbuatan” di ayat 21. Kata “bekerja
sama” ini dapat juga diterjemahkan “membantu”.
Terjemahan ini serasi dengan kata “disempurnakan” di ayat
22b.

Hasil Analisis terhadap pembenaran oleh Iman


menurut Paulus dan Iman dalam Surat Yakobus
Pembenaran Iman Menurut
Iman Menurut Yakobus
Paulus
Keselamatan adalah anugerah
yang diterima melalui iman
seperti yang diungkapkan
Menekankan perbuatan baik
oleh Paulus dalam Efesus 2:8
sebagai hasil dari keselamatan
di mana Paulus menekankan
itu
keselamatan itu dari sisi
anugerah sebagai dasar dari
keselamatan itu
Rasul Paulus lebih banyak
dan luas membicarakan Yakobus lebih spesifik
doktrin ini
Paulus lebih melihat inisiatif
Allah dalam mengupayakan
keselamatan bagi manusia
berdosa sehingga lebih Yakobus lebih memperhatikan
menekankan karya Allah realisasi dari keselamatan itu
dalam merealisasikannya. dalam kehidupan manusia.
Hal itu terlihat dalam Itulah sebabnya dia lebih
pernyataannya dalam Efesus menekankan apa yang manusia
2:8-9 yang berkata; “Sebab lakukan dalam menanggapi
karena kasih karunia kamu keselamatan yang Allah
diselamatkan oleh iman; itu sediakan.
bukan hasil usahamu, tetapi
pemberian Allah, itu bukan
hasil pekerjaanmu: jangan
129
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
ada orang yang memegahkan
diri.” Ungkapan ini
menunjukkan bahwa karya
keselamatan itu mutlak
adalah prakarsa Allah dan
pelaksanaannyapun semata-
mata adalah karya Allah.
Yakobus mengamati
kehidupan kekristenan pada
jaman itu yang setengah hati.
Dengan demikian “Yakobus
melawan kecenderungan
banyak orang Kristen yang
menjadi puas dengan iman
Keselamatan yang sudah
yang dipraktekkan dengan
disediakan oleh Allah perlu
setengah hati dan sikap
direspons manusia apabila
kompromi yang mencari hal-
ingin menikmatinya. Respons
hal yang dianggap terbaik dari
itu adalah iman.
dunia ini.” Itulah sebabnya
Yakobus ingin
mempertanyakan kontribusi
apa yang harus dilakukan oleh
manusia dalam hubungannya
dengan keselamatan yang
sudah tersedia
Yakobus ingin
Paulus ingin menegaskan mempertanyakan bukti
respon terhadap keselamatan keselamatan dari orang-orang
yang dianugrakan oleh Allah yang mengaku diri sudah
diselamatkan.
Respon yang tepat adalah
Respon yang tepat adalah iman
iman
Paulus tidak pernah memberi
Yakobus memahami iman
ruang kepada perbuatan
sebagai sebuah karya bukan
untuk mengadakan atau
pernyataan semata-mata.
menyediakan keselamatan.

130
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kesimpulan
Harus diakui, bahwa sejak manusia lahir ke dunia,
usaha pendidikan telah dilakukan.155 Alkitab menegaskan
bahwa sejak dari dalam kandungan Tuhan telah memilih
umat-Nya, dan Ia memiliki rancangan untuk kehidupan
umat-Nya. Dalam karya ilmiah ini, pengajaran Alkitab
sangat memadai dalam memberi ilmu, dan penghapan,
bahkan Alkitab menjadi sumber segala ilmu. Salah satu
cara membangun hubungan vertical dengan Tuhan ialah
melalui “reading the bible.” Pengertian yang baik terhadap
firman Tuhan, akan menyebabkan pertumbuhan yang
signifikan sebagai sebuah gereja. Berikut adalah beberapa
hal yang menjadi pusat perhatian khusus; yaitu:
Pengajaran Paulus mengenai pembernaran oleh iman
harus diajarkan secara intensif baik melalui khotbah,
kelompok sel, ibadah keluarga.Bahkan sejak dari anak-anak
sekolah minggu harus diajarkan sehingga gereja memiliki
generasi yang mengerti kebenaran dan bertumbuh secara
rohani.
Keselamatan adalah anugerah Allah semata-mata.
Manusia menerima keselamatan dari Allah hanya karena
iman, bukan karena perbuatan. Setelah menerima
keselamtan dengan cara demikian, manusia harus
mengerjakan keselamatan itu di dalam kehidupan melalui
perbuatan-perbuatan yang manusia lakukan dan kerjakan.
Jika manusia tidak aktif mengerjakan keselamatan dengan
cara demikian sesudah ia menjadi percaya, itu
menunjukkan bahwa iman yang diakuinya dengan mulut itu

155
J. M. Nainggolan, Strategi Pendidikan Agama Kristen, (Bandung: Generasi
Info Media, 2008), hal. 113.
131
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
adalah iman yang mati. Itu tandanya bahwa ia belum
sungguh-sungguh mengalami keselamatan.
Manusia tidak diselamatkan karena perbuatan. Tetapi
perbuatan-perbuatan merupakan tanda apakah iman itu
benar-benar hidup, sekaligus perbuatan-perbuatan itulah
yang akan meningkatkan kadar iman orang
percaya. Perbuatan bukan sesuatu yang ditambahkan pada
iman.Keduanya harus ada bersama-sama. Yakobus tidak
bermaksud untuk membedakan antara iman dan perbuatan;
yang dibedakan adalah antara iman yang disertai perbuatan
dan iman yang tidak disertai perbuatan. Bagi Yakobus iman
harus disertai oleh perbuatan. Yang satu tidak dapat ada
tanpa yang lain, sebab iman yang tanpa perbuatan adalah
mati.
Yakobus tidak bertentangan dengan Rasul-rasul lain,
khususnya Rasul Paulus. Yakobus menghadapi tantangan
berbeda dengan Paulus. Paulus berjuang melawan konsep
para rabi Yahudi tentang keselamatan yang diperoleh
perbuatan berdasarkan hukum taurat. Yakobus berhadapan
dengan (a) Orang Kristen Yahudi yang memandang muka
dan berpeluk tangan terhadap kebutuhan saudara seiman
yang miskin. Yakobus ingin mendesak mereka
bertindak. (b) Orang Kristen yang hanya bersandar pada
iman tanpa perbutan. Oleh karena itu, yang dimaksud
perbuatan oleh Yakobus bukanlah perbuatan menurut
pemahaman Yahudi yaitu sarana untuk memperoleh
keselamatan, namun perbuatan iman hasil moral dari
kesalehan sejati dan khususnya perbuatan kasih. Sedangkan
pekerjaan atau usaha yang dimaksud Paulus adalah usaha

132
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
menaati hukum taurat sebagai yang olehnya mereka
(yudaisme) diselamatkan.

Saran
Dari kenyataan di atas, penulis mengajukan saran
praktis untuk bahan perhatian. Menyadari bahwa topik yang
dibicarakan dalam karya ini, belum cukup memadai karena
itu, penulis menyarankan kepada pembaca untuk
menyelidiki beberapa literatur Pernjanjian Baru lainnya.
Literatur yang menarik untuk dicermati ialah Kitab Roma
“Orang benar hidup karena percaya” (Rm. 1:16-17). Dalam
tulisan Paulus kepada jemaat di Roma, salah satu topic yang
dominan dijelaskan ialah “soteriologi” yakni pembenaran
oleh iman. Dalam konteks Perjanjian Lama juga seorang
Nabi Habakuk menyatakan “orang benar itu akan hidup
oleh percayanya” (Hab. 2:4). Ungkapan “dibenarkan” atau
“akan hidup oleh percayanya” menjadi bahan yang perlu
dicermati untuk mendapatkan informasi yang semakin
akurat dan tajam mengenai topik ini.

Daftar Pustaka
Davids, H. Peter.Ucapan Yang Sulit Dalam Perjanjian Baru,
Penerjemah, Fenny Veronica, Penyunting, Yahya Gunawan.
Malang: Seminar Alkitab Asia Tenggara, 2001.
Davidson, F. dan Ralph P. Martin, “Roma,” dalam Tafsiran Alkitab
Masa Kini, Penerjemah, Soedarmo, Penyunting, Donald Guthrie.
Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1993
Eldon Ladd, Geoge. Teologi Perjanjian Baru. Penterjemah, Urbanus
Selan dan Henry Lantang, Penyunting, Soemitro Onggosardojo
dan Ridwan Sutedja. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1993.
Gunning, J.J.W. Tafsiran Alkitan Surat Yakobus. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1997.
Hadiwijono, Harun. Iman Kristen. Jakarta: BPK, Gunung Mulia, 1999.
133
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Ladd, Eldon George. Teologi Perjanjian Baru. Jil. 2. Penerjemah,
Urbanus Selan, dan Henny Lantang, Penyunting, Soemintro, dan
Ridwan Sutedja. Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2002
MooJ. Douglas. The Letter of James. Grand Rapids: Wm. B. Eerdman,
1985
Mickelsen, A. Berkeley, The Wyclife Bible Commentary, Penyunting,
Charles F. Pfeiffer dan Everett F. Harrison. Malang: Gandum
Mas, 2001.
Nainggolan, J. M. Strategi Pendidikan Agama Kristen. Bandung:
Generasi Info Media, 2008
Packer, J. I. “Benar, Pembenaran,” Dalam Ensiklopedia Alkitab Masa
Kini, Jil. 1. Penerjemah, M.H. Simanungkalit, dan H.A.
Oppusunggu, Penyunting, J. D. Dounglas. Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 1994.
Ryrie, C. Charles. Teologi Dasar.Jil. 2. Penyunting, Efi. Yogyakarta:
Yayasan ANDI, 2002.
_______, ”Yakobus,”, dalam Tafsiran Alkitab Wycliffe, Penyunting,
Charles F. Pfeifer dan Everent F. Harrison. Malang: Gandum
Mas, 2001
Sproul, R.C. Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen,Penerjemah,
Rahmiati Tanudjaja. Malang: Seminary Alkitab Asia Tenggara,
1998.
Susanto, Hasan.Yakobus: Berita yang Patut Didengar. Malang: SAAT,
2006
Ward, A. Ronald. Tafsiran Alkitab Masa Kini. Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1999
Wellem, F. D. Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Sejarah Gereja.
Jakarta: BPK. Gunung Mulia, 2003.
Wijdana, Doren. Kupasan Firman Surat Yakobus.Jakarta: Lembaga
Literatur Baptis, 2001.
Sabda
http://alkitab.sabda.org/verse.php?book=efesus&chapter=2&verse=8
Jurnal
Kristiawan, Ragil. Kajian Biblika tentang Nubuatan Hamba yang
Menderita Berdasarkan Yesaya 52:13-53 dan Penggenapannya
dalam Yesus Kristus Dalam Journal Bijak, Vol. 1, No. 1,
November, 2017

134
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
KUALIFIKASI PEMIMPIN GEREJA
BERDASARKAN I TIMOTIUS 3:1-7 DI KALANGAN
PEJABAT GKKI

Daniel Suharto

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta


Weron, Balong RT?RW 002/012, Umbulharjo,
Cangkringan, Sleman-Yogyakarta
Email: daniel_suharto25@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini menjelaskan bahwa dalam kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan I Timotius 3:1-7 di kalangan pejabat gereja
didapati memiliki dua kecenderungan kualifikasi “kualifikasi moral
hubungan dengan keluarga dan kualifikasi personal hubungan dengan
diri pribadi memiliki kecenderungan sedang” dan yang lain memiliki
hasil kualifikasi sosial yang berhubungan dengan sesama
kecenderungan lemah dan kualifikasi profesional yang hubungannya
dengan pelayanan memiliki kecenderungan menuju sedang. Hasil
temuan tersebut dapat dilihat adalah: Pertama, kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan Timotius 3:1-7 di kalangan pejabat Gereja, maka
dilakukan analisis data dilakukan dengan confidence interval pada
taraf signifikansi 5%. Kedua, kualifikasi moral hubungan dengan
keluarga (D1) terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja adalah cenderung sedang
yakni (57.11 – 59.61). Ketiga, kualifikasi personal hubungan dengan
diri pribadi (D2) terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja adalah cenderung sedang
yakni (76.17-79.59). Keempat, kualifikasi sosial hubungan dengan
sesama (D3) terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja adalah cenderung lemah
yakni (24.87 – 25.81), Kelima, kualifikasi professional hubungan
dengan tugas pelayanan (D4) terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja adalah
cenderung lemah menuju sedang yakni (38.69 – 40.11).

Kata kunci: Pemimpin, Pejabat


135
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pendahuluan
Pada saat ini kepemimpinan gereja sangat dibutuhkan
dengan adanya perkembangan kepemimpinan zaman
modern dimana masih banyak gereja yang memiliki
pemimpin yang belum memiliki kualifikasi sesuai dengan
Firman Tuhan yang selalu dipergunakan menjadi syarat
pemimpin gereja yang tertulis I Timotius 3:1-7. Sadono
mengenai kepemimpinan, ia menyatakan bahwa
kepemimpinan di pandang sebagai kemampuan atau
ketrampilan seseorang untuk memimpin. Pemimpin
semacam ini telah memperlihatkan bahwa ia memiliki
kemampuan memimpin bawahannya untuk secara bersama-
sama mengerahkan seluruh sumber yang dimiliki untuk
mencapai tujuan tertentu.156
Sejak berdirinya Gereja Kasih Kristus Indonesia
mengadakan perikrutan para Pejabat Gereja Kasih Kristus
Indonesia masih banyak yang belum dilengkapi di sekolah
Alkitab ataupun di Sekolah Teologi rata-rata pejabat GKKI
dari latar belakang kaum awam masih banyak yang tidak
mengenyam Pendidikan Sekolah Alkitab maupun Sekolah
Teologi. Dengan demikain maka diwadah Gereja Kasih
Kristus Indonesia masih banyak yang sering kali para
pejabat gereja tidak tahu etika pelayanan konsep-konsep
teologi yang alkitabiah maka masih sering pejabat gereja
melakukan kesalahan dalam pelayanan, dengan ini maka
perlunya diadakan penelitian yang berhubungan dengan
kompetensinya dikaitkan dengan surat Paulus kepada
Timotius 3:1-7. Berdasarkan wawancara pada tgl 5 Agustus

156
Sadono, Sentot, Kepemimpinan Di Era Globalisasi dan Aplikasinya Dalam
Konteks Gereja, Jakarta 22 April 2006, hal. 1
136
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2015 dengan Pdt Suharto Setiawan sebagai Penasehat di
GKKI bahwa masih banyak para pejabat GKKI yang masih
memerlukan pembinaan secara baik dan masih ada pejabat
yang kurang memahami organisasi dan tugas dan tanggung
jawabnya serta masih ada yang kurang memiliki loyalitas
dalam pelayanan.
Ketua Badan Koordinasi Wilayah (BKW) Jateng DIY
bapak Pdt. Matias Sutrisno bahwa masih ada pejabat yang
kurang memberi perhatian di organisasi dalam hal
melakukan tata tertib GKKI sesuai dengan Tatib GKKI.
Pasal VIII poin 2. Ayat 2 yang mengatakan pejabat GKKI
harus hidup sesuai dengan Firman Tuhan I Tim 3:1-7.157
Oktavianus dalam buku pertumbuhan gereja mengatakan
bahwa Dalam kepemimpinan gereja (lembaga gerejawi),
kepribadian seorang pemimpin jauh lebih disoroti dan
diselidiki dibandingkan dengan orang-orang lain. Jatuh
bangunnya seorang pemimpin rohani sangat bergantung
kepada kehidupan pribadinya.158
Sebagian pemimpin gereja belum memenuhi
kualifikasi pejabat gereja berdasarkan I Timotius 3:1-7.
Berdasarkan teks itu, maka penulis membahas ada empat
kualifikasi sebagai pemimpin, yakni kualifikasi moral
berhubungan dengan keluarga, kualifikasi personal
berhubungan dengan diri sendiri, kualifikasi sosial
berhubungan dengan sesama, kualifikasi profesional
berhubungan dengan tugas pelayanan.

157
. Buku Pengakuan Iman Percaya, Tata Gereja, Tata Tertib GKKI, (2007), hal.
24
158
Ibid, 14
137
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Berdasarkan permasalahan yang ada di atas maka
tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kualifikasi
pejabat gereja berdasarkan I Timotius 3:1-7 di Kalangan
Gereja Kasih Kristus Indonesia.

Metode Penelitian
Pertama, Metode penelitian yang dipergunakan
dalam penelitian ini adalah rancangan penelitian kuantitatif
dengan metode survei, yang bersifat Eksplanatori dan
konfirmatori. Kedua, Penelitian ini bersifat eksplanatori
karena dalam proses penelitiannya ingin mengkaji secara
mendalam variabel terikat (Y) yang disebut dependent
variable (endogenous variable) Variabbel ini dikembangkan
dengan cara membangun konstruk secara mendalam sampai
menemukan dimensi dan indikator-indikator yang
kemudian disebut sebagai exogenous variable.

Kajian Teoritis
Kualifikasi Moral hubungannya dengan Keluarga.
Paulus menunjukkan bahwa tugas penilik jemaat
merupakan jabatan yang mulia dengan penetapan
persyaratan-persyaratan yang sepadan dengan tugas mulia
tersebut (1 Tim 3:2-4). Tugas-tugas penilik jemaat Allah
adalah mengurus jemaat Allah (1 Tim 3:5) yang merupakan
tiang penopang dan dasar kebenaran dunia (1 Tim 3:14).
Sehubungan dengan itu, seseorang yang menginginkan
jabatan penilik jemaat berarti dirinya menghendaki jabatan
yang mulia dan berharga. Namun untuk memperleh jabatan
tersebut harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang
ditetapkan sesuai dengan jabatan mulia ini. Dengan

138
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
demikian, dapat dikatakan bahwa jabatan penilik jemaat
tidak diperuntukkan untuk sembarangan orang.
Ungkapan Paulus ini dilatar belakangi oleh
pandangan masyarakat terhadap jabatan gereja pada saat
itu. Pada masa itu kedudukan sebagai penilik jemaat
tidaklah memberikan status dalam masyarakat dan tidak
memberikan jaminan ekonomi. Orang-orang Kristen di
Efesus pada jaman Timotius adalah kelompok minoritas
dan ekonomi lemah. Itulah sebabnya Paulus menasehatkan
agar para penilik jemaat dibayar sepantasnya. Ukuran
sepantasnya yang dimaksud oleh Paulus adalah secukupnya
(band. 1 Tim 6:8).
Dengan tidak ragu-ragu Paulus berkata bahwa
pelayanan Kristen adalah “tugas yang mulia”. “mulia”
adalah kata untuk status. Status seorang penilik jemaat tidak
berasal dari harta atau posisinya dalam masyarakat,
statusnya berasal dari pentingnya pekerjaan yang dia
lakukan bagi orang lain dan mulia dalam pandangan
Allah.159
‘Pekerjaan yang indah’ adalah ungkapan Paulus untuk
melukiskan pekerjaan seorang penilik jemaat. Terjemahan
kata ini dalam bahasa Inggris adalah ‘a noble task’ yang
berarti ‘suatu pekerjaan yang mulia’. Dengan menyebutkan
bahwa pekerjaan penilik jemaat dan dengan tujuan untuk
menarik orang-orang baik menyerahkan diri mereka untuk
jabatan tersebut. Dengan menjawab argumentasi ini maka
Surat I Timotius menguraikan beberapa syarat utama untuk
menjadi pemimpin gereja di era digital saat ini, yakni:

159
Abineno, Jl. Ch, Penatua, Jabatannya dan Pekerjaannya, (Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1994), hal. 76
139
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
“Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak
bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri,
bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap
mengajar orang. 1 Tim. 3:2. Dengan demikian syarat-syarat
tersebut akan dijelaskan satu persatu dibawah ini:

1. Tidak bercacat.
Kata yang ditafsirkan dari ayat di atas yang termasuk
sebagai kualitas moral adalah kata “tak bercacat”. Tak
bercacat dalam bahasa Yunani adalah “anepilambano” yang
dibentuk dari kata “lambano” dengan arti “di atas”
ditambah awalan “alpha” yang menunjuk kepada arti yang
berlawanan dengan arti positifnya. Jadi “anepolabano”
berarti seseorang yang tidak dapat dibuktikan atau
ditelanjangi serta diangkat kepermukaan atau atas segala
caca pribadinya. Gabungan kata “lambano” dan “epi”
memiliki arti “didakwa” dengan penambahan “alpha”
keseluruhan kata menjadi berarti “seseorang yang tidak
dapat didakwa.”160 Paulus menetapkan, seorang pemimpin
haruslah memiliki karakter sedemikian rupa tanpa cacat
sehingga tak seorang pun yang dapat mendakwa dia
terhadap apapun. Dari uraian ini dapat dikatakan seorang
yang “tak bercacat” tidak cukup bahwa ia bukan seorang
criminal, tapi ia haruslah seorang yang tidak mungkin untuk
didakwa atas kesalahan.
Tidak bercacat artinya bahwa penilik jemaat tersebut
tidak mempunyai kekurangan-kekurangan (terutama di
bidang etis) yang menjadikan seorang penilik jemaat mudah
160
Frank Damazio, Karakter Yang Pemimpin Harus Miliki, (Jakarta: Metanoia
2007), hal. 40-41.
140
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dikritik. Pentingnya penilik jemaat yang tidak bercacat
terkait dengan peranannya sebagai saksi kepada orang lain
(2 Tes:10). Penilik jemaat harus mampu menjadi saksi bagi
orang lain melalui seluruh perilakunya sehari-hari. Sifat
tidak bercela berhubungan dengan perilaku seseorang.
Sehubungan dengan itu, untuk jabatan penilik jemaat
telah memiliki standar yang jelas yakni bersifat moral dan
rohani. Orang yang pantas untuk menjabat sebagai penilik
jemaat adalah orang-orang yang memiliki watak yang
terbukti benar. Untuk mengetahui hal tersebut maka sejarah
rohani setiap orang yang menginginkan jabatan penilik
harus diuji dahulu (bdk 1 Tim 3:10). Terkait dengan itu,
Roh Kudus telah menetapkan standar yang tinggi bahwa
calon itu haruslah orang yang percaya dan tabah setia
kepada Yesus Kristus dan prinsip-prinsip kebenaran-Nya.
Mengacu pada syarat-syarat tersebut maka orang
dalam Gereja yang bersalah melakukan dosa serius atau
pelanggaran moral tidak memenuhi syarat untuk jabatan
gembala atau posisi kepemimpinan tinggi dalam Gereja
(bdk 1 Tim 3:8-12). Seorang pemimpin Kristen harus
menjadi “teladan bagi orang-orang percaya” (1 Tim 4:12;
bdk 1 Ptr 5:3) yang ditunjukkan di depan jemaat sebagai
sesuatu yang layak ditiru. Penilik jemaat harus
menunjukkan teladan terbaik tentang ketekunan dalam
kesalehan, kesetiaan, kekudusan dalam menghadapi
percobaan, tetap setia kepada dan kasih kepada Kristus dan
Injil-Nya (1 Tim 4,12,15).

141
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2. Suami satu istri
I Timotius 3:2 berbunyi, “Karena itu penilik jemaat
haruslah seorang yang ..... suami dari satu istri. Frasa yang
akan ditafsirkan dari ayat ini adalah yang termasuk sebagai
kualitas rumah tangga adalah “suami dari satu istri”. Dalam
semua daftar kualifikasi penilik atau pemimpin gereja lokal
dalam kitab pertama Timotius dan Titus terdapat referensi-
referensi tentang kehidupan keluarga pemimpin. Alkitab
menunjukkan prinsip-prinsip penting sehubungan dengan
keluarga pemimpin Kristen, salah satunya adalah “suami
dari satu istri”
Frasa “suami dari satu istri” dalam bahasa Yunani
adalah “miasgunaikos andra”161 yang jika diuraikan berarti
“mias” artinya “satu”, “gunaikos” artinya “wanita” dan
“andra” artinya “laki-laki”162. Terjemahan literalnya adalah
“laki-laki satu istri” yang jika digunakan dalam hubungan
pernikahan menjadi berarti “suami dari satu istri”.163 Salah
satu syarat untuk menjadi penilik jemaat adalah seorang
suami yang memiliki satu isteri. Kata “suami dari satu
isteri” (1 Tim 3:2) hendak mempertahankan pendapat
bahwa seorang calon untuk jabatan penilik haruslah orang
percaya yang secara moral setia kepada isterinya. Hampir
sama dengan penjelasan diatas. Ini berarti bahwa seorang
calon penilik harus membuktikan bahwa dia telah setia
dalam hal yang teramat penting ini. Kesetiaan moral yang

161
Barclay M. Newman dan Philip C. Stine, Pedoman Penafsiran Alkitab Injil
Matius, (Jakarta, Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia dan LAI, 2008), hal. 58
162
R. Budiman, Surat-Surat Pastoral 1&2 Timotius dan Titus, (Jakarta: BPK.
Gunung Mulia, 1989), hal. 1
163
W. Barclay, The Letters to Tomothy, Titus and Philemon. (Philadelphia: The
Westminster Press Philadelphia USA, 1975), hal. 65
142
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
tekun kepada isteri dan keluarga dituntut untuk siapapun
yang ingin menjadi pemimpin dan contoh di dalam Gereja.
Kata “suami satu isteri” juga hendak menegaskan bahwa
dalam Gereja pernikahan hanya terjadi sekali saja. Istilah
kawin hanya satu kali dapat dikatakan lebih tepat daripada
suami dari satu isteri. Artinya tidak melakukan poligami.
Paulus menginginkan agar para pemimpin memiliki prinsip
moral yang lebih tinggi daripada yang dimiliki oleh
masyarakat setempat atau orang lain. Prinsip moral yang
lebih tinggi itu adalah seorang pemimpin hanya mencintai
seorang istri dalam hidupnya.
Cara terbaik untuk memastikan bahwa seorang
pemimpin adalah tanpa cela maka karakter utamanya
haruslah penguasaan diri. Pemimpin seharusnya memiliki
konsep yang tinggi mengenai hubungan jenis kelamin, dan
jika istri meninggal maka dia lebih baik tidak menikah lagi
karena inilah salah satu pengguasaan diri tertinggi.
Pernikahan dalam agama Kristen hanya terjadi sekali
dan tidak dapat diceraikan oleh manusia, selain karena
kematian. Itu berarti bahwa meskipun isteri telah
meninggal, suami tidak diperbolehkan menikah kembali
sebagai wujud rasa kesetiaan terhadap isteri.164

164
Barclay, W. The Letters to Tomothy, Titus and Philemon. Philadelphia: The
Westminster Press Philadelphia USA, 1975. The Christian leader must have been married
only once. The Greek literally means that he must be “the husband of one wife.” Some
take this to mean that the Christian leader must be a married man, and it is possible that
the phrase could mean that. Some few take it to mean that the Christian leader cannot
marry a second time, even after his wife’s death. In support they quote Paul’s teaching in
1 Corinthians 7. But in its context here we can be quite certain that the phrase means that
the Christian leader must be a loyal husband, preserving marriage in all its purity. In later
days the Apostalic Canons laid it down : “He who is involved in two marriages, after his
baptism, or he who has taken a concubine, cannot be an episkopos, a bishop.”
143
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Penilik jemaat yang mengesampingkan kesetiaannya
kepada Allah, Firman-Nya, isteri, dan keluarganya harus
dipecat dari jabatannya. Meskipun demikian, dirinya tidak
bisa dinyatakan “tak bercacat” (3:2) lagi. Hal ini
sehubungan dengan perilaku yang dilakukan yakni telah
berzinah. Sehubungan dengan itu, Firman Allah
mengatakan bahwa “malunya tak terhapuskan” (Ams 6:32-
33).
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dikatakan
bahwa Gereja-gereja masa kini harus tetap berpegang pada
syarat-syarat kepemimpinan yang alkitabiah sebagaimana
yang sudah ditetapkan Allah bagi seorang penilik jemaat.
Para penilik jemaat harus diberi semangat dan didukung,
agar mereka tetap menjadi teladan bagi orang-orang
percaya dalam perkataan, dalam tingkah laku, dalam kasih,
dalam kesetiaan dan dalam kesucian (1 Tim 4:12).

3. Kepala keluarga yang baik.


Selanjutnya, 1 Timotius 3:4,5 berbunyi, “seorang
kepala keluarga yang baik, disegani dan di hormati anak-
anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai
keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus
jemaat Allah ? Persyaratan berikutnya yang harus dimiliki
oleh seorang pemimpin dalam hal rumah tangga ini adalah
“seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati
anak-anaknya. Kata “kepala” di sini berasal dari kata
“proistemai” yang berarti “menjadi penasehat” atau “
pemimpin yang baik”. Arti kata ini mengacu kepada fungsi
seorang ayah dalam keluarganya. Dia adalah seorang
pemimpin dengan pendekatan “menasehati” di dalam
144
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
keluarganya sehingga ia akan disegani dan dihormati anak-
anaknya. Kata “disegani” berasal dari kata “hoputage” yang
secara literal berarti “ketaatan”.165 Kata yang menjadi
bagian dari “hupotage” adalah “hupotasso” artinya “di
bawah penataan”.166 Kata ini biasanya digunakan dalam
militer yang menunjuk kepada penyusunan atau
penempatan tentera dalam batalyonnya masing-masing.167
Jadi kata “disegani” berarti adanya suatu penghormatan dan
ketaatan yang timbul karena wewenang sesuai dengan
aturan dan disiplin. Keseganan dan penghormatan itulah
yang akan diterima oleh seorang kepala keluarga yang baik
dan penuh kasih kepada keluarganya.
Kata έπίσκοποs yang mengandung arti kepala
keluarga atau diartikan berkaitan dengan kepemimpinan
dalam keluarga dan rumah Tuhan (ay 17; Rm. 12:8; 1 Tes
ay 12). Tugas-tugas yang dijalankan dalam keluarga
memiliki relevansi dengan tugas-tugas sebagai penilik
pemimpin jemaat (1 Kor 9:11; Neh 11:11). France dalam
bukunya juga menafsirkan hal yang sama bahwa
kemampuan seorang penilik jemaat menjalankan fungsinya
sebagai kepala keluarga, dapat memudahkannya untuk
memimpin jemaat Allah.

4. Disegani dan dihormati anak-anaknya.


Kata dihormati dan disegani menunjukkan sikap
positif dari anggota keluarga. Sikap tersebut muncul karena
anggota keluarga mampu melihat contoh atau teladan yang

165
Barclay, The Daily Study, op. cit. 59
166
Ibid, 59
167
R. Budiman, op. cit. p. 42
145
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
diberikan suami seperti hidup rohani yang baik. Sikap
konkrit tersebut ditunjukkan lewat kasih sayang yang
diberikan kepada anak-anak dan isteri. Kasih sayang yang
diterima anak dan isteri dapat menumbuhkan sikap
penghargaan yang tulus kepada suami sebagai kepala
keluarga.
Tuntutan yang kedua adalah kemampuan mengelola
keluarga seperti yang dinyatakan Paulus merupakan
cerminan dari pelayanan dalam Gereja (5). Kegagalan
seorang penilik jemaat untuk membangun sebuah keluarga
yang baik, dapat menghambat pelaksanaan tugas-tugasnya
sebagai penilik jemaat. Kepemimpinan dimulai dari lingkup
kecil yakni keluarga. Seorang penilik jemaat yang tidak
berhasil membina anggota keluarganya, akan
mempengaruhi tugas-tugasnya.

Kualifikasi Personal hubungannya dengan diri pribadi.


1 Timotius 3:2, 3 berbunyi, “ karena itu penilik jemaat
haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri,
dapat menahan diri, bijaksana, sopan. Kata-kata yang akan
ditafsirkan dari ayat di atas yang termasuk sebagai
kualifikasi kepribadian pemimpin adalah kata-kata “dapat
menahan diri”, “bijaksana”, “bukan peminum”, “bukan
pemarah melainkan peramah”, “pendamai” dan “bukan
hamba uang”.
Dari seluruh persyaratan yang ditetapkan oleh Paulus
bagi seorang calon pemimpin jemaat, perhatian Paulus lebih
banyak terhadap kualifikasi kepribadian pemimpin seperti
yang akan dibahas oleh penulis dalam uraian berikut.

146
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
1. Dapat menahan diri
Kata “dapat menahan diri” dalam bahasa yunani
adalah “nephalion” berarti “tenang”, “tidak memihak”.
“sangat hati-hati”. Jadi secara keseluruhan dari bahasa
aslinya kata “dapat menahan diri” berarti bersikap tenang
dan sangat hati-hati serta tidak memihak. Penggunaan kata
“dapat menahan diri” berhubungan dengan pembinaan diri
sendiri, kehati-hatian terhadap suatu permasalahan dan
kemampuan untuk menjadi penengah.168 Pada awalnya kata
“neohalion” digunakan dalam hubungannya dengan
“menahan diri terhadap minuman keras’ tetapi kemudian
artinya mengarah kepada “penguasaan diri” atau
“tenang”.169 Paulus menghendaki agar seorang yang ingin
menjadi seorang pemimpin jemaat haruslah seorang yang
dapat mempraktekkan hidup tenang.
Dari seluruh uraian di atas maka keperibadian seorang
yang “dapat menahan diri” akan menghasilkan keputusan
yang tepat. Seorang yang tahu kapan untuk menahan diri,
kapan untuk berbicara, kapan untuk mendorong, kapan
untuk marah dan kapan untuk menghukum dan terutama dia
tahu apa yang harus dia perbuat. Itu kepribadian seorang
pemimpin jemaat.

2. Bijaksana.
Selanjutnya “bijaksana”. Kata “bijaksana” berasal
dari kata “sophrona” yang berarti “berfikir sehat”, “serius”
dan “sungguh-sungguh”. “bijaksana” adalah “kontrol diri”
yang hampir sama dengan “penguasaan diri”. Kata
168
R. Budiman, op. cit. hlm. 45
169
Barclay, the Daily, op. cit. p. 62
147
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
“sophrona” yang berarti “berfikir sehat” adalah juga “self
mastery” atau “tuan terhadap diri sendiri”, “memimpin diri
sendiri’’. Untuk orang Yunani kata ini melukiskan
seseorang yang memiliki pikiran yang disiplin, tidak
impulsive dan tidak ekstrim.170 Orang bijaksana tidak
beraksi berlebihan di dalam menghadapi suatu krisis.

3. Sopan
Kata berikut yang termasuk dalam kualifikasi
kepribadian seorang pemimpin adalah “sopan”. Dalam
bahasa Yunani kata ini adalah “kosmion” yang artinya
“mampu menyatakan perintah terhadap orang yang tidak
dapat diperintah”. Dalam terjemahan bahasa Inggris kata
“sopan” adalah “hospitable” yang berarti “layak untuk
dihormati”.171 Dengan mengacu terjemahan di atas maka
kata “sopan” berarti “ perilaku yang baik yang dimiliki
seorang dalam hal ini pemimpin jemaat, yang dapat
dipercaya karena bertindak dengan cara yang baik. Cara
yang menyebabkan ia memperoleh hak untuk dihormati
orang lain. Pemimpin yang sopan adalah pemimpin yang
menerima penghormatan dari orang lain disebabkan ia
bertindak dengan baik sekali.
Dalam ayat 2 dijelaskan beberapa sifat dasar yang
harus dimiliki oleh seorang penilik jemaat yakni dapat
menahan diri, bijaksana, dan sopan. Dalam tulisan-tulisan
Yunani sifat-sifat tersebut selalu dikaitkan satu sama lain.
Seorang yang bijaksana akan berperilaku sopan dan dapat
mengendalikan dirinya dengan baik. sifat-sifat seperti inilah
170
Ibid, 56
171
Ibid, 76
148
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang harus dimiliki oleh pemimpin jemaat. Seorang yang
bijaksana (sophron) akan dapat mengendalikan setiap hal
yang ada dalam dirinya dengan baik. Orang yang bijaksana
tersebut telah mampu meneladani Hati Yesus yang selalu
lembut dan sabar.
Sehubungan dengan itu, seorang pemimpin jemaat
haruslah orang yang sophron (bijaksana) atau mampu
mengendalikan secara baik segala gejolak dan keinginan.
Selain itu, pemimpin jemaat tersebut juga harus yang
berperilaku baik yakni kosmios, yang mampu mengontrol
setiap pengaruh-pengaruh yang dialaminya dengan baik.
Pemimpin jemaat tersebut harus satu hati dengan Kristus
dan hidup dalam terang Kristus.

4. Bukan pemarah.
Frasa berikutnya sebagai kualifikasi kepribadian
pemimpin adalah “bukan pemarah melainkan peramah”.
Persyaratan berikutnya dalam kualifikasi kepribadian
seorang pemimpin adalah “bukan pemarah melainkan
peramah”. “bukan pemarah” dalam bahasa aslinya adalah
“me plekten”172 berasal dari kata benda dengan arti “jago
berkelahi”, “seorang yang selalu siap dengan pukulan”,
“suka berkelahi”, “bertengkar” dan “cekcok”.173 Jadi
seorang pemarah adalah orang yang suka bikin keributan.
Paulus sangat tidak menghendaki orang seperti itu menjadi
seorang pemimpin di dalam jemaat. Frank Damazio
mengutip pendapat Kevin J. Canner bahwa seorang penatua
tidak boleh cepat marah, sakit hati, atau menimbulkan
172
Barclay, The Daily, op. cit. p. 49
173
Ibid
149
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kemarahan. Tidak mudah diprovokasi atau terbakar, bukan
pemarah mampu mengatur rohnya sendiri. 174 Orang yang
tidak mudah marah tidak memiliki sumbu yang pendek atau
kehilangan kendali.

5. Peramah
Tetapi seorang pemimpin haruslah seorang
“peramah”. Kata “peramah” adalah “epeikes”175 dalam
bahasa Yunani. “epeikes” didefinisikan sebagai ungkapan
perasaan; yang berhubungan dengan sikap yang tidak
berlebih-lebihan, serta mengakui bahwa tidak mungkin
hukum yang resmi dipotong atau ditiadakan.176 Dari uraian
tersebut dapat disimpulkan “orang yang tidak pemarah
melainkan peramah” adalah seorang yang tidak suka
kepada keributan melainkan memiliki perasaan yang baik
serta menghargai hukum yang resmi dan mematuhinya.

6. Bukan peminum.
Selanjutnya kualifikasi kepribadian pemimpin adalah
“bukan peminum”. Kata “bukan peminum” dalam bahasa
aslinya adalah “me paroinon”177 dibentuk dari kata “para”
artinya “di samping” dan “onion yang berarti “anggur”.178
Jadi pengertian kata “paroinon” atau “peminum” adalah
orang yang selalu duduk di samping anggurnya. Sedangkan
“me” menunjukkan suatu penyangkalan, maka kata “me

174
Frank Damazio, Karakter Yang Pemimpin Harus Miliki, (Jakarta: Metanoia
2007), hal. 42.
175
Ibid
176
Ibid
177
Fernando, op. cit. p. 57
178
Ibid
150
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
paroinon” berarti seorang yang tidak duduk di samping
anggurnya.
Pada jaman kuno persediaan air sering kali tidak
cukup dan kadang-kadang berbahaya, jadi tidak
mengherankan jika anggur menjadi minuman yang terkenal
pada jaman Alkitab.179

7. Pendamai.
Persyaratan selanjutnya yang ditetapkan Paulus bagi
seorang pemimpin adalah “pendamai”. Kata “pendamai”
secara literal berarti “menolak untuk bertengkar” jadi sering
diterjemahkan sebagai “Konsiliator”. “pendamai” atau
“tidak suka bertengkar” dalam bahasa asli adalah
“amachon” dari kata “mache” artinya “berkelahi”,
bertempur yang mendapat awalan “alpha” sehingga
memiliki arti “tidak suka bertengkar/berkelahi”.180
“Seorang pendamai adalah seorang yang memilih
peperangan sebagai jalan akhir itupun dengan mengabaikan
kualitas Kristen sebagai landasannya seperti kasih,
kelembutan dan kebaikan. Pemimpin jemaat haruslah
seorang yang tidak suka bertengkar melainkan lebih suka
kedamaian. Bahkan demi tercapainya kedamaian dimaksud,
seorang pemimpin jemaat haruslah menjadi konsiliator
yang berperan besar, baik di dalam jemaat maupun di dalam
masyarakat.

179
Ibid, p. 58
180
Spiros Zodiates, op. cit. p. 8
151
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kualifikasi Sosial hubungannya dengan sesama.
1 Timotius 3:2 berbunyi, Karena itu penilik jemaat
haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri,
dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi
tumpangan, cakap mengajar orang. Kata-kata yang akan
ditafsir dari ayat di atas yang termasuk sebagai kualifikasi
sosial pemimpin adalah:

1. Suka memberi tumpangan.


Suka memberi tumpangan atau “philloxenon” berasal
dari kata “xenon”181 berarti suatu tindakan yang dilakukan
pertama-tama untuk semua orang asing atau tamu dari luar.
Kata “philos”182 berhubungan dengan seseorang yang selalu
berhubungan dengan intim atau saling mencintai. Jadi
apabila kata-kata ini digabung maka akan membentuk arti:
karena kasihnya, ia menawarkan tempat penampungan bagi
seseorang. Secara literal dapat diartikan “pencinta orang
asing”.183 “suka memberi tumpangan” adalah sifat yang
penting dalam kekeristenan Perjanjian Baru.
Suka memberi tumpangan adalah kualitas sosial yang
harus dimiliki oleh pemimpin jemaat. Rasa sosial ini akan
cepat menggembangkan hubungan sosial yang baik dengan
sesama orang percaya maupun dengan orang tidak seiman
bagi pemimpin. Sikap terpuji yang ditampilkan oleh
seorang pemimpin yang suka memberi tumpangan adalah
kemurahan hati dan keterbukaan yang tulus, inilah yang
dikehendaki oleh Paulus.

181
Fernando, op. cit. 61
182
Ibid
183
Ibid, p. 62
152
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2. Mempunyai nama baik di luar jemaat.
Mempunyai nama baik diluar jemaat kata “di luar
jemaat” di sini berarti orang-orang non Kristen.
“Mempunyai nama baik” atau “marturian kalen” artinya
“kesaksian yang indah”.184 Hal ini berhubungan dengan
kehidupan orang Kristen yang ada di tengah-tengah orang
yang tidak mengenal Allah, karena itu mereka harus
menjadi saksi yang baik dan memiliki nama baik di
masyarakat. Jika seorang telah jatuh reputasinya di luar
jemaat maka kesaksiannya akan jelek sekali. Pemimpin
tidak boleh hidupnya tercela di luar jemaat, kalau nama
mereka jatuh dan tercela di luar jemaat maka kekristenan
akan ternoda dan nama gereja akan jatuh dan yang lebih
menyedihkan tidak ada orang yang percaya kepada Kristus.
Dengan demikian berhasillah jerat yang diletakkan oleh
Iblis, sehingga Injil tidak dapat diberitakan.
Dengan mengacu pada uraian di atas maka dapat
disimpulkan bahwa seorang pemimpin haruslah orang yang
memiliki moral yang baik dalam hubungan sosialnya
dengan orang-orang yang tidak percaya di lingkungannya.
Ia selalu memelihara kesaksian yang indah sehingga ia
tidak bisa dicela orang lain dan tidak bisa kena pada jerat
yang selalu dipasang Iblis. Kehidupan seorang pemimpin di
dalam jemaat haruslah tercermin juga dalam kehidupannya
sehari-hari dengan masyarakat yang tidak percaya.
Hal itu juga ditegaskan pada bagian lain di antaranya
1 Tes 4:12, yakni “sehingga kamu hidup sebagai orang-
orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung

184
Barclay, The Daily, op. cit. p. 71
153
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
pada mereka (bdk 1 Kor 10:32; Kol 4:5; 1 Ptr 2:12; 3:1).
“Di mata orang luar” mengandung arti seluruh orang
termasuk di luar jemaat.

3. Pejabat Gereja Menurut I Timotus 3:1-7


Prasyarat yang diberikan oleh Paulus kepada
Timotius dalam memilih pemimpin jemaat sangat ketat dan
terkesan sangat perfeksionis. Dalam konteks masa itu dan
juga masa kini, tentu sangat sulit menemukan orang-orang
yang berkualitas sedemikian rupa. Namun demikian, posisi
pemimpin jemaat yang sangat sentral bagi pertumbuhan
gereja lokal, meniscayakan syarat-syarat tersebut. Di
samping, posisi penatua dan penilik jemaat merupakan
tugas mulia, banyaknya ujian dan beratnya tugas pelayanan
gereja lokal menjadi alasan strategis untuk memenuhi
prasyarat tersebut.
Robert A. Orr mengatakan, “A Christian leader must
be called by God for a particular purpose, mission and
assignment. This calling will be his anchor when the
turbulent stroms of life attempt to overwhelm him. This call
will be tested along with test of character”185 Robert
berpendapat bahwa panggilan Allah bagi pemimpin Kristen
atau gembala sidang merupakan kekuatan dalam
menghadapi ujian kehidupan dan sekaligus akan selalu diuji
melalui ujian karakter. Dengan demikian, kualitas
panggilan Tuhan kepada seorang gembala sidang
berpadanan dengan kualitas seluruh aspek hidup seorang
gembala sidang.

185
Robert A. orr, The Essentials for Efective Christian Leadership Development,
(Canada: Leadership essentials Press. 1998), hal. 81
154
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Lebih dari itu, Yosafat B. mengatakan, “Gereja
membutuhkan pemimpin pastoral yang berintegritas,
memiliki kualitas spiritual yang solid dan kehidupan yang
dapat diteladani”186 dengan memperhatikan pernyataan
diatas maka dapat disimpulkan bahwa kemampuan ‘biasa
saja’ dalam kehidupan social, moral, kepribadian, mental,
kepemimpinan dan rohani sangat tidak memadai bagi
seorang gembala sidang yang menginginkan dampak besar
bagi pertumbuhan gereja. Seorang gembala sidang harus
memiliki kehidupan social, moral, kepribadian, mental,
kepemimpinan dan rohani yang berkualitas.

Kualifikasi Profesional berhubungan dengan tugas


pelayanan
Paulus dalam surat-surat penggembalaan yang
ditujukan kepada pemimpin jemaat selalu menekankan agar
dalam menjalankan peranannya, para pemimpin jemaat
berpedoman pada keteladanan kepemimpinan Yesus yakni
semangat rendah hati, kasih, dan melayani. Keteladanan
Yesus tersebut ditunjukkan dengan mengambil sikap
sebagai hamba seperti dinyatakan dalam Mat. 20:28 yakni:
“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani,
melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya
menjadi tebusan bagi banyak orang. Dalam kualifikasi
profesional terdiri dari beberapa indikator antara lain
adalah:

186
Yosafat, Integritas Pemimpin Pastoral, (Yogyakarta: Penerbit Andi, 2010),
hal. 20
155
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
1. Jangan seorang yang baru bertobat.
Dalam 1 Timotius 3:6 berbunyi: Janganlah ia seorang
yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan
kena hukuman Iblis. Kualitas rohani seorang pemimpin
adalah bahwa dia bukan seorang yang baru bertobat. Kata
“baru bertobat” berarti “baru saja menjadi orang Kristen”.
Kata ini dalam bahasa aslinya “neophutos” dari kata “neos”
artinya “baru” atau “phuo” artinya “bersemi”.187 Paulus
melarang seorang calon pemimpin dari kalangan yang baru
saja bertobat tujuannya supaya mereka tidak menjadi
sombong. Kata “sombong” adalah “tuphoo” artinya
“menimbulkan asapa” atau “memancarkan asap” agar
mereka tidak kena hukuman. Kata “hukuman “ adalah
“krima” yang dalam konteks ini menunjukkan arti
membawa hukuman, dan bukan hukuman yang sebenarnya.
Secara literal kata kerja “menjadi sombong” artinya
“dibungkus oleh asap atau tertutupi oleh awan”.188 Seorang
pemimpin jemaat yang tidak kuat imannya dapat dengan
mudah jatuh pada hukuman setan. Oleh karena itu,
pemimpin jemaat tidak boleh yang baru bertobat karena
dirinya mudah menjadi sombong. Sombong dalam bahasa
Yunani dapat diartikan dilingkupi oleh awan. Artinya,
orang yang kebingungan akibat kesombongan karena
pengangkatan sekonyong-konyong memangku jabatan.
Kata “kena hukuman iblis” memiliki arti menunjukkan
pada pengadilan atas Iblis karena kecongkakannya.189

187
Fernando, op. cit. p. 65
188
Ibid, 65
189
W. Barclay, The Letters to Tomothy, Titus and Philemon. (Philadelphia: The
Westminster Press Philadelphia USA, 1975), 231
156
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2. Cakap mengajar.
1 Timotius 3:2 berbunyi: Karena itu penilik jemaat
haruslah seorang yang ......cakap mengajar orang. Kata yang
akan ditafsirkan dari ayat di atas yang termasuk sebagai
kualifikasi kemampuan khusus pemimpin adalah “cakap
mengajar orang”. Kata “cakap mengajar” atau “didaktikon”
artinya memiliki kemampuan atau skill yang tinggi di
dalam mengajar.190 Jadi bukan sekedar mengajar saja.
“cakap mengajar” menunjukkan suatu kualitas seorang
pengajar yang tidak hanya meliputi kemampuan, tetapi juga
merupakan suatu kerinduan untuk mengajar, sebagaimana
karakter dari seorang yang mau melayani Tuhan (II Tim
2:24).
Rank Damazio mengatakan bahwa cakap mengajar
yaitu, seorang pengajar yang terlatih. Dalam bahasa Yunani
kata ini bukan hanya berarti mengajar saja, kata ini berarti
mengajar dengan cara yang terlatih. Kata dalam bahasa
Yunani yang digunakan disini didakitkos berarti mampu
menyampaikan kebenaran. Kata ini juga dapat diartikan
sebagai dapat diajar. Kata ini mengacu pada sebuah kualitas
kehidupan rendah hati, peka, ingin mengetahui kehendak
Allah.191
Kata mengajar ‘διδακτικός’ (didaktikos) merupakan
salah satu fungsi dari penilik jemaat. Istilah cakap mengajar
dalam Perjanjian Baru lainnya hanya terdapat pada 2 Tim.
2:24. Dalam 1 Tim 5:17 ditegaskan bahwa penilik jemaat
memiliki tugas untuk berkhotbah dan mengajar, akan tetapi

190
Ibid, p. 72
191
. Frank Damazio, Karakter Yang Pemimpin Harus Miliki, (Jakarta, Metanoia,
2007), hal. 38
157
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
tidak disinggung mengenai ketrampilannya dalam
mengajar.

3. Bukan hamba uang


Kualifikasi kepribadian yang berikut adalah “bukan
hamba uang”. “Bukan hamba uang” atau “aphilarguron”
dibentuk dari kata “phileo” artinya “mencintai” dan
“arguros artinya “perak” dan awalan “alpha” yang
merupakan suatu penyangkalan terhadap arti positifnya.
Jadi jika kata ini digabung, maka akan membentuk arti
“tidak mencintai perak” atau “tidak mencintai uang”.

Hasil Penelitian
Untuk membuktikan variabel yang memiliki
kecenderungan kuat terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan Timotius 3:1-7 di kalangan pejabat Gereja
Kasih Kristus Indonesia, maka dilakukan analisis data
dilakukan dengan confidence interval pada taraf
signifikansi 5%. Dalam membuktikan kecenderungan
kualifikasi moral hubungan dengan keluarga (D1) terhadap
kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7
di kalangan Pejabat GKKI confidence interval pada taraf
signifikansi 5%, dan dihasilkan lower and upper bound
antara 57.11 sampai dengan 59.61; sedangkan nilai
minimum 51 dan nilai maximum 65 dengan besaran range
14.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecenderungan kualifikasi moral hubungan dengan
keluarga (D1) terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan pejabat GKKI
158
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
adalah cenderung sedang yakni (57.11 – 59.61). Dalam
membuktikan kecenderungan kualifikasi personal hubungan
dengan diri pribadi (D2) terhadap kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat
GKKI confidence interval pada taraf signifikansi 5%, dan
dihasilkan lower and upper bound antara 76.17 sampai
dengan 79.59;sedangkan nilai minimum 63 dan nilai
maximum 95 dengan besaran range 32.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecenderungan kualifikasi personal hubungan dengan diri
pribadi (D2) terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat GKKI
adalah cenderung sedang yakni (76.17 – 79.59).
Kualifikasi sosial hubungan dengan sesama (D3)
terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat GKKI confidence
interval pada taraf signifikansi 5% (Lampiran 23.), dan
dihasilkan lower and upper bound antara 24.87 sampai
dengan 25.81;sedangkan nilai minimum 23 dan nilai
maximum 30 dengan besaran range 7.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kecenderungan kualifikasi sosial hubungan dengan sesama
(D3) terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat GKKI adalah cenderung
lemah yakni (24.87 – 25.81).
Kualifikasi professional hubungan dengan tugas
pelayanan (D4) terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat GKKI
confidence interval pada taraf signifikansi 5% (Lampiran
24.), dan dihasilkan lower and upper bound antara 38.69
159
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sampai dengan 40.11; sedangkan nilai minimum 35 dan
nilai maximum 45 dengan besaran range 10. Berdasarkan
hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa kecenderungan
kualifikasi professional hubungan dengan tugas pelayanan
(D4) terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat GKKI adalah cenderung
lemah menuju sedang yakni (38.69 – 40.11).
Hasil temuan penelitian ini menjelaskan bahwa dalam
kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan I Timotius 3:1-7
di kalangan pejabat GKKI ditemukan memiliki dua
kecenderungan kualifikasi “kualifikasi moral hubungan
dengan keluarga dan kualifikasi personal hubungan dengan
diri pribadi memiliki kecenderungan sedang” dan yang lain
memiliki hasil kualifikasi sosial yang berhubungan dengan
sesama kecenderungan lemah dan kualifikasi profesinal
yang hubungannya dengan pelayanan memiliki
kecenderungan sedang.

Kesimpulan
1. Pejabat Gereja memiliki kualifikasi personal
hubungan dengan diri pribadi (D2) terhadap
kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1 Timotius
3:1-7 di Kalangan pejabat gereja GKKI cenderung
sedang yakni (84,53 – 87,95)
2. Pejabat Gereja memiliki kualifikasi moral hubungan
dengan keluarga (D1) terhadap kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di Kalangan
pejabat gereja GKKI cenderung sedang yakni (57,11
– 59,61)

160
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
3. Pejabat Gereja memiliki kualifikasi professional
hubungan dengan tugas pelayanan (D4) terhadap
kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1 Timotius
3:1-7 di Kalangan pejabat gereja GKKI adalah
cenderung lemah menuju sedang yakni (38,69 –
40,11).
4. Pejabat Gereja memiliki kualifikasi sosial hubungan
dengan sesama (D3) terhadap kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di Kalangan
pejabat gereja GKKI cenderung lemah yakni (24,87 –
25,81).
Saran
Pertama, hasil penelitian ini diharapkan dapat
digunakan oleh Gereja Kasih Kristus Indonesia, sebagai
panduan evaluasi tentang kualifikasi pejabat gereja
khususnya Kualifikasi Moral, kualifikasi personal,
kualifikasi sosial, kualifikasi profesional. berdasarkan I
Timotius 3:1-7. Kedua, hasil penelitian ini dapat
memberikan sumbangan pemikiran bagi pejabat gereja
untuk mengembangkan secara pribadi dan keluarga dalam
kualifikasi pejabat gereja yaitu : Kualifikasi Moral,
kualifikasi personal, kualifikasi sosial, kualifikasi
profesional. berdasarkan I Timotius 3:1-7. Ketiga, peneliti
mengusulkan kepada Ketua GKKI agar membuat
perencanaan untuk pembinaan para hamba Tuhan yang
berhubungan dengan kualifikasi pemimpin berdasarkan I
Timotius 3:1-7 karena dalam hasil penelitian dalam hal ini
masih memiliki kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja GKKI
cenderung lemah menuju sedang.
161
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Memiliki kualifikasi moral hubungan dengan
keluarga (D1) terhadap kualifikasi pemimpin gereja
berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja
GKKI cenderung sedang yakni (57,11 – 59,61). Memiliki
kualifikasi personal hubungan dengan diri pribadi (D2)
terhadap kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1
Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat Gereja GKKI
cenderung sedang yakni (84,53 – 87,95). Memiliki
kualifikasi sosial hubungan dengan sesama (D3) terhadap
kualifikasi pemimpin gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7
di kalangan Pejabat Gereja GKKI cenderung lemah yakni
(24,87- 25,81). Memiliki kualifikasi professional hubungan
dengan tugas pelayanan (D4) terhadap kualifikasi pemimpin
gereja berdasarkan 1 Timotius 3:1-7 di kalangan Pejabat
Gereja GKKI adalah cenderung lemah menuju sedang
yakni (38,69 – 40,11).
Daftar Perpustaka
Abineno, Jl. Ch, Penatua, Jabatannya dan Pekerjaannya, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 1994.
Buku Pengakuan Iman Percaya, Tata Gereja, Tata Tertib GKKI, 2007.
Damazio. Frank, Karakter Yang Pemimpin Harus Miliki, Jakarta:
Metanoia, 2007
R. Budiman, Surat-Surat Pastoral 1 & 2 Timotius dan Titus, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1989.
Robert A. orr, The Essentials for Efective Christian Leadership
Development, Canada: Leadership essentials Press, 1998.
Sadono, Sentot, Kepemimpinan Di Era Globalisasi dan Aplikasinya
Dalam Konteks Gereja, Jakarta 22 April 2006
Wawancara dengan Pdt Suharto Setiawan sebagai penasehat GKKI
W. Barclay, The Letters to Tomothy, Titus and Philemon, Philadelphia:
The Westminster Press Philadelphia USA, 1975
Yosafat, Integritas Pemimpin Pastoral, Yogyakarta: Penerbit Andi,
2010.

162
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
ALKITAB SEBAGAI DASAR PENDIDIKAN
DALAM MEMBENTUK IMAN ANAK USIA DINI

Djuniasih

Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Bogor


Jl. Transyongy Cibubur, KM 32 Cariu Desa Cibatuti, Kab.
Bogor- Jawa Barat.
Email: djuniasih_kim@gmail.com

Abstrak
Pendidikan Usia Dini merupakan kesempatan untuk
mempersiapkan anak-anak agar bertumbuh dan mengembangkan
potensi dan jatidirinya menuju masa depan. Lingkup perkembangan
sesuai tingkat usia anak meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik-
motorik, kognitif, bahasa, sosial-emosional dan seni sebagaimana
ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan Permendikbud 137 tahun 2014
tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Pembentukan
iman anak sejak usia dini adalah perintah Tuhan kepada para orang
tua Israel sebagaimana terdapat dalam Ulangan 6:4-5: “Dengarlah,
hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah
Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap kekuatanmu. Tradisi ini adalah dasar pengakuan
iman yang disebut shema, yang artinya dengarlah! Shema kemudian
diperintahkan untuk ditulis pada tiang pintu rumah dan pada pintu
gerbang, sebagai tanda dan lambang di dahi mereka (Ul. 6: 6-8).
Kenyataan inilah yang mendorong penulis untuk membahas karya
ilmiah ini yang berjudul “Alkitab Sebagai Dasar Pendidikan Dalam
Membentuk Iman Anak Usia Dini.”Adapun metodologi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, di mana penulis
menganalisis fenomena yang ditemukan, serta analisis teks-teks Alkitab
sebagai kajian teori.

Kata-kata kunci: Alkitab, Pendidikan, Iman, Anak

163
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pendahuluan
Anak usia dini adalah individu yang sedang
mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang
sangat pesat. Mulyasa mengemukakan bahwa masa usia dini
merupakan saat yang paling tepat untuk meletakkan dasar
pertama dan utama dalam mengembangkan berbagai potensi
dan kemampuan fisik, kognitif, bahasa, seni, sosial,
emosional, spiritual, konsep diri, disiplin diri dan
kemandirian.192 Menurut Isjoni, pada hakekatnya anak usia
dini termasuk usia prasekolah berada pada masa proses
perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan,
pematangan dan penyempurnaan, baik pada aspek fisik,
maupun psikis atau jasmani maupun rohaninya yang
berlangsung secara bertahap dan berkelanjutan.193
Selanjutnya, Isjoni mengatakan PAUD akan menjadi
cikal bakal pembentukan karakter anak negeri kita, sebagai
titik awal dari pembentukan SDM berkualitas, yang
memiliki wawasan, intelektual, kepribadian, tanggung
jawab, inovatif, kreatif, proaktif, dan partisipasi serta
semangat mandiri. Pendidikan anak memang harus dimulai
sejak dini agar anak bisa mengembangkan potensinya
secara optimal.194
Selain pertumbuhan dan perkembangan fisik dan
motorik, perkembangan spiritual, moral, sosial, emosional,
intelektual, dan bahasa juga berlangsung amat pesat.195

192
H.E. Mulyasa, Manajemen Paud, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2017), hal.
16.
193
H. Isjoni, Model Pembelajaran Anak Usia Dini, (Bandung: Alfabeta, 2017),
hal. 16.
194
Ibid., hal. 34.
195
H.E. Mulyasa, op.cit., hal. 21.
164
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Banyak ayah dan ibu yang sibuk bekerja menyerahkan
pendidikan anaknya kepada lembaga-lembaga pendidikan
anak usia dini atau tempat penitipan anak. Banyak sekolah
untuk anak usia dini adalah sekolah yang bagus untuk
mengembangkan secara maksimal potensi anak usia dini.
Banyak hal positif dalam diri anak-anak yang dididik di
sekolah untuk anak usia dini. Namun pendapat Sidjabat
perlu direnungkan. Sidjabat mengemukakan bahwa interaksi
guru dengan anak didiknya kurang begitu luwes karena ia
harus memberi perhatian pada dua puluh anak atau lebih
dari dua puluh anak. Padahal setiap anak memiliki keunikan
khusus dalam memberi respon terhadap apa yang
dipelajari.196 Hal lain yang harus diperhatikan orangtua
ialah pengajaran di sekolah seringkali menekankan aspek
hafalan atau pengetahuan kognitif dan kurang sekali pada
aspek pengertian dan tingkah laku. Hal ini menjadi lebih
berat, bila si guru kurang yakin pada apa yang ia ajarkan,
tidak menjadi bagian dari iman dan kehidupannya.197
Kenyataan ini menuntut perhatian orangtua,
khususnya menyangkut pertumbuhan iman anak-anak usia
dini. Sidjabat mengemukakan bahwa tanpa mengabaikan
peran penting guru, keluargalah yang tetap menjadi
pemeran penting, terutama pendidikan rohani anaknya.198
Ada tiga alasan yang mendasari penekanan ini: Pertama,
secara sosiologis dan kultural, orangtua adalah tokoh
terdekat bagi anak dalam hidup sehari-harinya. Kedua,
secara psikologis keluarga merupakan tempat anak
196
B.S. Sidjabat, Membesarkan Anak dengan Kreatif (Yogyakarta: Andi Offset,
2008), hal. 157.
197
Ibid.
198
Ibid.
165
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
berkembang untuk pemenuhan kebutuhan fisik, emosi,
rohani dan mental. Ketiga, secara teologis Alkitab
mengajarkan bahwa keluarga adalah hasil rencana
pembentukan Allah (Kej. 2:18; Mzm. 127:1-2).199
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, maka W.S.
Heath menjelaskan:
Adanya perubahan mental orang tua selama empat
puluh tahun terakhir sangat jelas di Indonesia. Pada
tahun 60-an seorang ayah akan dengan bersukacita
dan rasa tanggung jawab meluangkan waktu untuk
menggendong bayinya dan bermain dengan anaknya
yang masih kecil. Sekarang kebanyakan ayah
menghabiskan waktunya dengan mencari pekerjaan
tambahan atau menonton pertandingan sepak bola. Ibu
juga bekerja sehingga anak-anak dibiarkan oleh kedua
belah pihak.200

Perubahan peranan orangtua dalam keluarga dan


lingkungan masyarakat akan berpengaruh pada
pertumbuhan spiritualitas anaknya. Ditinjau dari sudut
membesarkan anak secara kristiani berdasarkan Alkitab
tentu berbeda dengan pandangan pendidikan anak secara
umum. James Dobson, seorang pakar Kristen menandaskan
bahwa banyak orang sudah melupakan nilai dari ciri-ciri
kegiatan yang membedakan keluarga sebagai sesuatu yang
unik dan lain daripada yang lain. Tradisi keluargalah yang
menyatakan kepada setiap orang siapa dia sebenarnya.201

199
Ibid., 137-138.
200
W.S. Heath, Teologi Pendidikan Anak. Dasar Pelayanan kepada Anak
(Bandung: Kalam Hidup, 2010), hal. 11.
201
James Dobson, Masalah Membesarkan Anak (Bandung: Kalam Hidup,
2005), hal. 30-31.
166
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Tantangan yang dihadapi oleh orangtua adalah betapa
rapuhnya iman anak-anak ketika berada di lingkungan yang
berbeda iman. Ada kalanya alasan kemiskinan
menyebabkan orangtua merelakan anaknya dididik di
sekolah yang mempunyai landasan iman yang berbeda
hanya demi pendidikan dan masa depan anaknya. Kondisi
demikian menimbulkan keprihatinan bagi penulis.
Identitas atau jatidiri anak-anak Kristen merupakan
cerminan dari situasi keluarga, atau pola membesarkan anak
dalam keluarga itu. Tradisi pendidikan anak seperti itu telah
lama dikenal dalam keluarga keluarga Israel dalam Alkitab.
Pola hidup yang mewajibkan setiap keluarga mengabdi
kepada Allah dinyatakan dalam Ulangan 6:4-9. Stephen
Tong menjelaskan bahwa setiap keluarga akan menjadi
bahagia bila kehidupan keluarga itu didapatkan dari Tuhan.
Keluarga yang hanya menikmati berkat dari Sion adalah
keluarga yang terus-menerus merasakan kebahagiaan.202
Penulis akan menyoroti pembentukan iman anak usia
dini berdasarkan Alkitab. Bila orangtua akan
menyekolahkan anak nya di sekolah PAUD maka pilihlah
yang diselenggarakan di kalangan Kristen yang
memperhatikan pembentukan dan pertumbuhan iman anak
didiknya, selain berorientasi pada tujuan yang telah
digariskan pemerintah. PAUD di sekolah Kristen
hendaknya mempunyai dasar dan tujuan sesuai dengan iman
Kristen, yaitu menghadirkan Kerajaan Allah. Itu berarti
Alkitab sebagai dasar Pendidikan dalam membentuk iman

202
Stephen Tong, Takhta Kristus dalam keluarga (Surabaya: Momentum, 2011),
hal. 101.
167
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
anak usia dini perlu ditekankan dalam penyelengaraan
PAUD.

Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode penelitian kualitatif, karena berhubungan
dengan apa yang terjadi, secara khusus menekankan
kegiatan sosial kehidupan sehari-hari. Dalam kaitan dengan
hal ini Sugiyono, mengatakan: Metode penelitian ini adalah
metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi
obyek alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) di
mana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik
pengumpulan data dilakukan secara trianggulasi
(gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil
penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi.203
Ciri utama dari penelitian kualitatif adalah lebih
merupakan proses penemuan daripada uji hipotesis dan
lebih menekankan penjelasan dan simpulan kualitatif
daripada statistik.204 Dalam penelitian kualitatif, peneliti
memegang peranan yang vital. Para peneliti kualitatif
mengumpulkan data sendiri dengan mempelajari dokumen-
dokumen secara mandiri.205 Moh. Nazir mengemukakan
bahwa menelusuri literatur yang ada serta menelaahnya
secara tekun merupakan kerja kepustakaan yang sangat
diperlukan dalam mengerjakan penelitian. Sumber literatur

203
Sugiyono,Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2014), hal. 1.
204
Andreas B. Subagyo, Pengantar Riset Kuantitatif dan Kualitatif: Termasuk
Riset Teologi dan Keagamaan (Bandung: Kalam Hidup, 2004), hal. 62-63.
205
John W. Creswell, Penelitian Kualitatif & Desain Riset: Memilih di antara
Lima Pendekatan (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), hal. 60.
168
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
berupa buku teks, jurnal dan sumber lainnya, terutama
internet.206
Penelitian kualitatif digunakan karena masalah-
masalah penelitian perlu digali umtuk mendapat sebuah
pengertian yang mendalam.207 Dalam penelitian kualitatif,
peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada
sebagai bahan penjelas dan berakhir dengan suatu “teori.”208
Analisis data dilakukan melalui kajian teoritis atau studi
kepustakaan dan hermeneutis terhadap teks yang digunakan
dalam Alkitab yang berhubungan dengan pembentukan
iman anak usia dini.

Kajian Pustaka
Secara nasional, kebijakan yang mengatur pendidikan
secara umum, yang di dalamnya terdapat PAUD,
dituangkan dalam, Undang-undang Nomer 20/2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).209 Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
mengamanatkan bahwa pendidikan anak usia dini adalah
suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak
lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakuka melalui
pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar

206
Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), hal. 111,
120,126.
207
John W. Creswell, Educational Research (Boston: Pearson, 2012), hal. 16.
208
Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian: Skripsi, Tesis, Disertasi, dan Karya
Ilmiah, (Jakarta: Kharisma Putra Utama, 2012), hal. 34.
209
H.E. Mulyasa., op.cit., 5.
169
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih
lanjut.210
Beberapa ahli dalam bidang pendidikan dan psikologi
memandang perkembangan anak usia dini merupakan
periode yang sangat penting dan perlu mendapat
penanganan sedini mungkin.211 Bila pada suatu keluarga
hadir seorang anak, artinya Allah menghendaki
orangtua membimbing anak-anaknya untuk mengenal dan
takut akan Tuhan.212
Dalam Kita Ulangan 6:4: Dengarlah, hai orang Israel:
Tradisi Yahudi menyebut ayat-ayat ini Shema menurut kata
pertama ayat ini (“dengarlah”). Pengakuan iman kepada
TUHAN, Allah yang esa, diulang dua kali sehari. Kata
Ibrani yang diterjemahkan sebagai “kasihilah” (Ul. 6:5) bisa
berarti perasaan kagum dan hormat yang kudus.213
Pendidikan iman anak yang baik adalah dilakukan
oleh orangtua. Kasih akan Allah harus orangtua bicarakan,
ajarkan, dan percontohkan kepada anak-anak dengan
berbagai cara dan dalam setiap kesempatan.

Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perjanjian Lama.


Pendidikan anak menurut Perjanjian Lama berkisar
pada kepercayaan mereka terhadap Allah yang Esa. Setiap
keluarga Israel berkewajiban untuk mendidik anak-anak
mereka tentang pengenalan akan Allah.

210
Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jendral
Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat. Juknis Penyelengaraan PAUD
Anak Kristen (PAK), hal. 6.
211
Loc.cit., 20.
212
B.S. Sidjabat, op.cit., 138.
213
Alkitab Edisi Studi, (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2011), hal. 294.
170
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Dalam Ulangan 6:6-9 Tuhan menyatakan kepada
umat-Nya agar mereka belajar mengenal Dia dengan
sungguh-sungguh dalam kasih dan kesetiaan (Ul. 6:4-5). 214
Ulangan 6:4-9, bagian ini merupakan tema inti dari Kitab
Ulangan. Ayat-ayat ini menetapkan suatu pola dimana
umat-Nya harus mengasihi Allah, mengingat perintah-
perintah-Nya, mengajarkan perintah-perintah-Nya kepada
anak-anak, dan hidup setiap hari berdasarkan pedoman-
pedoman di dalam firman-Nya.215 Ulangan 6:7a: Haruslah
engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-
anakmu. Cairns mengartikan Ulangan 6:7a memberi
indikasi adanya metode pengulangan.216
Metode “pengulangan” artinya metode dimana
orangtua mengajarkan Firman Tuhan kepada anaknya,
bukan hanya sekali melainkan lebih (berulangkali) supaya
anak-anak dapat memahami. Selanjutnya Cairns
mengartikan “ ... haruslah enngkau mengajarkannyua
berulang-ulang...” (Ul. 6:7a) mengandung makna harafiah
“meruncingkannya” atau “mempertajamkannya.”217
Orangtua mengajarkan Firman Tuhan berulang-ulang,
tujuannya agar anak dapat menghafal dan memahami.
Dalam The Wicliffe Bible Commentary dikemukakan
bahwa “Haruslah engkau mengajarkannya ... kepada anak-
anak-mu..”, unsur kekeluargaan dari administrasi perjanjian
mengharuskan anak-anak dituntun kepada peraturan-

214
Loc.cit.
215
Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Malang: Gandum Mas dan
Lembaga Alkitab Indonesia, 2014), hal. 350
216
I.J. Cairns , Tafsiran Alkitab-Kitab Ulangan ps. 1-11, (Jakarta: BPK Gunung
Mulia, 1994), 133-134.
217
Ibid., 134.
171
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
peraturan yang ada (bdk. Ay 20 dst). Orang saleh harus
merenungkan hukum Allah tersebut siang dan malam (ay.
7b-9; bdk. Mzm. 1:2).218
Homringhausen dan Enklaar mengemukakan tentang
pendidikan iman sebagai berikut:
Seluruh pendidikan itu bersifat agama; tak ada
sebagian jua pun dari segala lapangan hidup manusia
yang tidak dipengaruhi dan dikuasai oleh agama.
Pendidikan itu mulai dalam masing-masing rumah
tangga, dan diteruskan dalam kebaktian-kebaktian
umum dan di dalam pengajaran tentang taurat Tuhan.
Tuhan Allah sendirilah yang merupakan pusat dan
tujuan segala pendidikan masyarakat bangsa Israel,
maka sudah tentu segala hal-ihwal masyarakat umum
pula dipelajari dan diatur dalam terang penyataan
Tuhan itu.219

Selanjutnya, Homrighausen & Enklaar menjelaskan


bahwa nenek moyang kaum Israel Abraham, Ishak dan
Yakub menjadi guru bagi seluruh keluarganya.220 Peranan
orangtua amat sentral dalam mendidik dan mewariskan
pengetahuan iman kepada anak-anak mereka. Pendidikan
yang dilakukan pada masa bapak-bapak leluhur Israel tentu
saja belum bersifat formal, melainkan pendidikan yang
diadakan dalam lingkup keluarga. Pendidikan anak dengan
begitu merupakan tanggung jawab orang tua yang kemudian
berkembang menjadi suatu tradisi dalam keluarga-keluarga
Israel.
218
Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison, The Wycliffe Bible Commentary -
Tafsiran Alkitab Wycliffe Vol. 1 (Malang: Gandum Mas, 2011), hal. 463
219
E.G. Homringhausen & I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristren (Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2013), hal. 2.
220
Ibid.
172
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Tradisi pendidikan anak dalam keluarga-keluarga
Israel dimulai dari ringkasan pengakuan iman yang disebut
shema, yang terdapat dalam Ul. 6:4-5: “Dengarlah, hai
orang Israel, TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Cara orang tua mendidik anak-anak dalam pengenalan akan
Allah yang Esa menyangkut aspek verbal: dengarlah
(shema), aspek kognitif (Tuhan itu esa), dan aspek sikap
dan perilaku (Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap
hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap
kekuatanmu”).
Kata-kata itu harus dicamkan dalam hati orang Israel
dan mereka harus mengajarkannya dengan tekun kepada
anak-anak mereka. Kata-kata itu menjadi tanda dan
lambang di dahi mereka. Kata-kata itu harus ditulis pada
tiang pintu rumah dan pada pintu gerbang. Perintah itu,
yang segera menyusul syema, telah menjadi bagian ibadat
sehari-hari orang Yahudi. Yesus memakai kata-kata dalam
ayat 5 sebagai hukum pertama dan utama (Mat. 22:37).221
Perintah ini dimandatkan kepada para orangtua dalam
Ulangan 6: 6-9: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada
hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau
mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan
membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu,
apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau
berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga
engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan

221
W.S. Lasor, D.A. Hubbard, F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1
(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993), hal. 252-253.
173
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah
engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada
pintu gerbangmu.”
Tampak dari ayat-ayat di atas bahwa metode yang
digunakan adalah metode verbal dan tertulis; media dan
tempat pelaksanaan bervariasi sesuai dengan skema umur
anak-anak bangsa Israel. Menurut D. Guthrie, dkk., dalam
Tafsiran Alkitab Masa Kini 1, “Musa meneruskan
mengumumkan kekhususan Allah dan jawaban Israel dalam
kesetiaan yang tidak terbagi. Dengan ayat-ayat ini dimulai
shema Ibrani yang terkenal, yang terdiri dari Ul. 6:4-9;
11:13-21 dan Bil. 15:37-41, yang dibawakan dalam liturgi
dua kali sehari oleh orang Yahudi yang saleh.”222
Sebagai dasar pendidikan dan pengakuan iman, shema
menjadi penekanan penting dalam pendidikan anak
sepanjang Perjanjian Lama dengan beragam variasinya.
Contoh ini berulangkali kita jumpai misalnya, dalam kitab
Amsal. Shema merupakan suatu pola pendidikan anak usia
dini di kalangan bangsa Israel. Andar Ismail dalam buku
Selamat Ribut Rukun mengatakan bahwa:
Di zaman Perjanjian Lama, bangsa Yahudi
beranggapan bahwa manusia baru bisa dididik pada
usia empat tahun. Menurut mereka anak usia satu
tahun belum bisa dididik karena ia ibarat raja kecil
yang kerjanya hanya berbaring dari pagi sampai
malam dan dikagumi serta dimanja setiap orang.
Demikian juga anak yang berumur dua atau tiga
tahun, belum bisa dididik , karena menurut orang
Yahudi anak dalam usia itu tangannya ingin

222
D. Guthrie, dkk., Tafsiran Alkitab Masa Kini, (Jakarta: Bina Kasih/OMF:
1992), hal. 317.
174
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
memegang segala sesuatu. Sebab itu pendidikan
dimulai pada umur empat tahun. Pada umur ini
seorang anak sudah mulai berbicara dengan baik.
Orang Yahudi beranggapan bahwa yang pertama-tama
perlu diajarkan seorang ayah kepada anaknya yang
baru bisa berbicara adalah pengakuan percaya yang
berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel. Tuhan itu
Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul. 6:4-5).223

Salah satu metode pembelajaran yang dianggap sesuai


dalam PAUD adalah bercerita. Bercerita adalah cara
bertutur dan menyampaikan cerita secara lisan. Cerita harus
diberikan secara menarik. Anak diberi kesempatan untuk
bertanya dan memberikan tanggapan. Dengan seringnya
anak mendengarkan cerita-cerita Alkitab, maka minat anak
terhadap buku akan muncul dengan sendirinya. 224
Pendidikan anak usia dini dibuktikan oleh hasil penelitian
dalam bidang psikologi. Harianto, dalam artikelnya yang
berjudul, “Pentingnya Pendidikan Usia Dini” dalam Belajar
Psikologi.com., memaparkan sebuah hasil penelitian di
mana sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa
telah terjadi ketika anak berumur 4 tahun, 8 % telah terjadi
perkembangan yang pesat tentang jaringan otak ketika
berumur 8 tahun dan mencapai puncaknya ketika seseorang
berumur 18 tahun. Setelah itu walaupun dilakukan

223
Andar Ismail, Selamat Ribut Rukun (Jakarta: BPK gunung Mulia, 2011), hal.
83-84.
224
Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Direktorat Jendral
Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat. Juknis Penyelengaraan PAUD
Anak Kristen (PAK), hal. 29
175
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
perbaikan nutrisi tidak akan berpengaruh terhadap
perkembangan kognitif. Hal ini berarti perkembangan yang
terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama besarnya
dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14
tahun sesudahnya.225
Hasil penelitian di atas tentu menguatkan pentingnya
pendidikan anak usia dini sebgaimana ditegaskan dalam
shema Israel yang dimulai dari masing-masing keluarga.
Dalam kaitan itu Homrighausen & Enklaar menandaskan
bahwa keluarga Kristen adalah pemberian Tuhan yang tak
ternilai harganya. Keluarga Kristenlah yang memegang
peranan yang terpenting dalam PAK. Keluarga mempunyai
tempat yang mutlak dalam sejarah suci. Di seluruh Alkitab
kita menyaksikan pentingnya keluarga yang dipakai oleh
Tuhan sebagai saluran dan jalan keselamatan yang
dirancangkan Tuhan bagi manusia.226
Selain itu dalam kitab Amsal kita juga menemukan
anjuran menyangkut pendidikan. Amsal 1:7: “Takut akan
Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh
menghina hikmat dan pendidikan.” Takut akan Tuhan
(iman) menjadi unsur primer, sedangkan pendidikan
menjadi unsur sekunder yang sama pentingnya. Selanjutnya
anak-anak dinasihati untuk mendengarkan didkan ayah dan
tidak menyia-nyiakan atau menganggap sepele ajaran
ibunya (Amsal 1:8). Pentingnya pendidikan dalam Kitab
Amsal juga dijumpai dalam Amsal 3:11; 4:13; 8:33; 12:1;
15:10; 15:32; 19:27; 23:12-13, yang secara keseluruhan

225
Belajarpsikologi.com02/07/2012.
226
Ibid, 144-145.
176
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
bersifat komprehensif menyangkut relasi dengan Tuhan,
orang tua, pentingnya pendidikan serta disiplin.

Pendidikan Anak Menurut Perjanjian Baru


Pendidikan anak usia dini dalam Perjanjian Baru,
merupakan kelanjutan tradisi syema dalam Perjanjian Lama
di mana setiap orangtua wajib mendidik anak-anaknya
dalam jalan dan nasihat Tuhan. Hal ini tampak dalam
Matius 19: 13-15, ketika orang membawa anak-anak kepada
Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya ke atas mereka
dan mendoakan mereka. Tuhan Yesus menegaskan:
“Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi
mereka; sebab orang-orang seperti itulah yang empunya
kerajaan sorga” (Mat. 19:14). Perikop ini menunjukkan
betapa pentingnya kedudukan anak di mata Tuhan Yesus.
Orang dewasa harus meniru sikap kerendahan anak-anak
serta memperlakukan mereka sama seperti mereka
menyambut Tuhan. Tuhan Yesus juga memberi peringatan
keras kepada orang dewasa yang menyesatkan anak (Mat.
18:4-6).
Sehubungan dengan perikop di atas, B.S. Sidjabat
menekankan bahwa Tuhan Yesus memberi peringatan
kepada murid-murid-Nya yang tentu juga berlaku bagi
orang tua Kristen sekarang ini agar berusaha menuntun anak
mengenal dan menjadi warga Kerajaan Allah. Anak-anak
dapat percaya kepada Tuhan Yesus dan menjadi warga
Kerajaan Allah jika dibimbing dengan baik. Karena itulah
Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan: “Ingatlah, jangan
menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini.
Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di
177
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku di sorga
(Mat. 18:10). Bagi Tuhan Yesus anak sangat bernilai karena
Allah Bapa juga datang untuk menyelamatkan mereka, serta
menghendaki agar mereka diarahkan kepada jalan yang
benar (Mat. 18:14).227
Peranan orang tua dalam mendidik anak-anaknya
ditekankan dalam Efesus 6: 4: “Dan kamu, bapa-bapa,
janganlah bangkitkan amarah di dalam hati nanak-
anakmu, tetapi didiklah mereka dalam ajaran dan
nasihat Tuhan.” Dua kata kunci dalam ayat ini adalah
didiklah dan nasihat. Kata didklah yang digunakan di
sini adalah ektrefete (ektrefete), yang berasal dari akar
kata ekstrefo yang artinya memelihara hingga
dewasa. Sedangkan kata nasihat adalah nouthesia
(nouqesia) yang berasal dari akar kata noutheteo yang
artinya dalam hati, pikiran, memberikan pemahaman,
mengajar. Sedangkan nouthesia kemudian diartikan
peringatan . Kata nouthesia mengandung pengertian
peringatan yang didesain untuk memberi koreksi dan
bukan untuk provokasi atau menyakiti, memahitkan
hati (embittering).228

Jadi jika diterjemahkan secara harfiah Ephesus 6: 4b:


akan berbunyi tetapi peliharalah anak-anakmu di dalam
pengertian atau pengenalan akanTuhan. Seorang ayah
dianjurkan untuk memelihara dan memberi pengertian
tentang ajaran dan pengertian akan Tuhan.

227
B.S. Sidjabat. Membesarkan Anak dengan Kreatif, (Yogyakarta: Andi
Offset, 2008), hal. 138.
228
Gerhard Kittel. Theological Dictionary of The New Testament Vol. IV (Grand
Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1983), 1020-1021.
178
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Hasil Analisis anatara Perjanjian Lama dan Perjanjian
Baru

Dalam syema pendidikan anak yang dimulai sejak


usia dini mengedepankan pendidikan agama. Andar Ismail
Mengatakan:
Mulai umur empat tahun seorang anak diajak orang
tuanya pergi ke sinagoge atau rumah ibadat tiap hari
Sabat. Bagi umat Yahudi beribadat berarti belajar. Di
sinagoge orang belajar membaca dan mempelajari
kitab-kitab suci. Pola menggabungkan unsur ibadat
dengan unsur belajar seperti ini di kemudian hari
diteruskan oleh agama Kristen. Keluarga, sinagoge
dan sekolah menjadi tiga serangkai yang saling
melengkapi. Itulah keistimewaan keluarga Yahudi.
Walaupun anak-anak dikirim ke sinagoge, orang tua
tetap mengajarkan segala sesuatu kepada anak-anak
mereka. Faedah yang tampak mencolok dai
pendidikan secara berkesinambungan adalah
keberhasilan bangsa dalam mewariskan nilai-nilai
budaya dan agamanya.229

Peranan orang tua dalam mendidik anak-anak agar


bertumbuh dalam iman pada masa kini melibatkan orang
tua, gereja dan lembaga-lembaga para gereja yang menaruh
perhatian pada pendidikan anak usia dini. Beragam pola
PAUD Kristen antara lain: Sekolah Minggu yang diadakan
oleh gereja, persekutuan keluarga, sekolah-sekolah Kristen
yang mengembangkan PAUD melalui Kelompok Bermain
(KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK). Di samping itu orang-
orang dewasa yang menaruh perhatian pada pendidikan

229
Andar Ismail, Ibid, hlm. 84-85.
179
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
anak usia dini melakukannya dengan beragam cara. Di
lingkungan tempat tinggal penulis, orang-orang dewasa
menghimpun anak-anak untuk bermain, belajar Alkitab dan
memuji Tuhan yang mereka namakan “Pondok
Gembira.”Di tempat lain pola yang sama dilakukan dengan
istilah “Sabtu Ceria” yaitu persekutuan anak-anak
usiadini.Awalnya kelompok ini dinisiasi oleh Persekutuan
Evangelisasi Anak (PEA), yang berdomisili di Bandung,
yang secara aktif menginjili anak-anak, membina para guru
Sekolah Minggu, mengadakan seminar-seminar penginjilan
anak.
Kepedulian pada PAUD di kalangan umat Kristen
juga dilaksanakan oleh yayasan-yayasan atau organisani
para gereja lainnya. Sebagai contoh, Jaringan Pelayanan
Anak (JPA) yang berkedudukan di Jakarta melakukan
kegiatan penginjilan bagi anak-anak, seminar-seminar
tentang pendidikan anak, serta menyediakan Alkitab dan
bacaan-bacaan untuk anak-anak di seluruh
230
Indonesia. Masih terdapat sejumlah lembaga yang
menaruh minat terhadap pertumbuhan iman anak-anak usia
dini yang tersebar di seluruh Nusantara. Semuanya
memberikan kontribusi dan bukti pentingnya pembentukan
iman anak usia dini.Temuan-temuan di atas menunjukkan
betapa pentingnya pembentukan iman anak usia dini yang
sudah dikembangkan. Jika penggabungan ibadat dan belajar
diteruskan dalam pendidikan Kristen, berarti bahwa

230
JPA menerbitkan buku-buku Pemahaman Alkitab buat Anak, misalnya:
Kumpulan Cerita Pengharapan. Sebuah Buku untuk Keluarga; Pengharapanku, Buku
Pengharapan edisi animasi, Buku Pengharapanmu, dan masih banyak judul lainnya.
Selain itu JPA bekerjasama dengan Yayasan Pondok Sentosa menerbitkan Kisah Alkitab
Anak Ceria.
180
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
pendidikan anak usia dini (PAUD) mesti meneruskan
dengan Alkitabsehingga anak-anak sejak usia dini sudah
diajarkan untuk belajar mengenal Allah dan belajar
membaca Alkitab atas bimbingan orang tua mereka dan
guru-guru, dan orang dewasa yang terpanggil untuk
pelayanan itu. Sehubungan dengan hal ini maka Stephen
Tong menegaskan bahwa:
Tetapi Jika Tuhan memercayakan anak-anak untuk
kita didik, ini merupakan kepercayaan yang luar biasa.
Tidak ada sesuatu yang lain yang lebih penting
daripada anak kita. Karena anak adalah harta orang
tua secara pribadi, yang juga harus dipertanggung
jawabkan kepada Allah, dan merupakan kewajiban
yang bersifat kekal. Itu sebabnya mendidik anak-anak
merupakan hal yang serius. Jika orang tua adalah
wakil Allah, bolehkah kita bertindak sebagai wakil
Tuhan? Kalau kita salah mewakili Tuhan, salah
berbicara, mengajar dengan prinsip yang tidak benar,
maka itu mengakibatkan anak-anak tidak mungkin
melihat kemuliaan dan keadilan Tuhan dengan konsep
yang benar.231

Agar tidak terjadi kesalahan dan prinsip yang tidak


benar maka Alkitab harus menjadi dasar agar konsep yang
benar dikembangkan dalam PAUD oleh orang Kristen.Hal
senada diungkapkan oleh B.S. Sidjabat dalam bukunya,
Membesarkan Anak Secara Kreatif. Beliau menandaskan
bahwa pembentukan watak anak tidak terpisahkan dari
pertumbuhan imannya. Kalau sejak dini anak sudah
dibimbing untuk beriman kepada Allah dan percaya kepada
231
Stephen Tong. Membesarkan Anak dalam Tuhan, (Surabaya: Momentum,
2015), hal. 8.
181
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Kristus, Roh Kudus mengerjakan pembaruan hidup dalam
diri anak. Roh hadir mendampingi dan memampukan anak
dalam pertumbuhan kepribadiannya.232
Dalam kaitan ini tentu saja pendidikan anak usia dini
model syema, meliputi keutuhan pertumbuhan anak secara
jasmani, rohani dan kejiwaan. Hal ini sekarang ini
dilaksanakan oleh gereja melalui Sekolah Minggu dengan
metode yang lebih bervariasi. Walaupun patut disadari
bahwa mengajar seorang anak kecil untuk mengenal dan
takut akan Tuhan bukanlah persoalan yang mudah.
Menurut Andar Ismail,
Sebenarnya mengajar anak kecil justru lebih sulit
daripada mengajar remaja, pemuda, atau orang
dewasa. Ini disebabkan untuk mengajar anak kecil
kita perlu menempatkan diri pada tahap
perkembangan anak itu, misalnya, tahap
perkembangan intelektualnya. Hal ini juga berlaku
dalam hal mengajar anak di Sekolah Minggu. Kepada
orang dewasa, seorang pendeta bisa berkhotbah
tentang pertobatan, pengampunan atau pengorbanan,
tetapi tahukan ia bagaimana caranya
mengkomunkasikan pokok seperti itu kepada anak
Sekolah Minggu? Sebab mengajar Sekolah Minggu
sebenarnya jauh lebih sulit daripada berkhotbah
kepada orang dewasa. Metode khotbah atau renungan
sama sekali tidak cocok untuk golongan anak, apalagi
metode kebaktian kebangunan rohani. Untuk
mengajar anak kecil, kita harus seperti anak kecil,
dalam arti berpikiran dan berperasaan seperti anak

232
0p.cit, B.S. Sidjabat. hal. ix.
182
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
kecil atau menempatkan diri pada pikiran dan
perasaan anak kecil.233

Kenyataan seperti uraian di atas dijumpai dalam


pendidikan anak usia dini. Orang tua merupakan sosok yang
paling dekat dengan anaknya ketika ia mengajarkan hal-hal
yang berhubungan dengan iman. Meskipun ada guru-guru
yang dilatih untuk mengajar anak-anak usia dini.Pentingnya
Alkitab dijadikan sebagai dasar pembentukan iman anak
tampak dalam diri Timotius yang memiliki iman yang tulus
ikhlas, sebab diwariskan oleh ibunya Eunike dan neneknya
Lois (2 Tim. 1:5). Iman yang ditanamkan sejak kecill dalam
diri Timotius berasal dari Kitab Suci yang memberinya
hikmat yang menuntun kepada keselamatan oleh ima
kepada Kristus Yesus (2 Tim. 3:15). Alasannya karena :
“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk
memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran” (2 Tim. 3:16). Jika dikaitkan dengan ayat 15
maka terdapat empat manfaat firman Tuhan bagi seorang
anak kecil yaitu untuk: mengajar (didaskalian), menyatakan
kesalahan (elegmon), memperbaiki kelakuan
(epanorthosin), mendidik orang dalam kebenaran (paideian
ten dakaosune).
Dengan kata lain jika seorang guru mengajar anak
berdasarkan firman Tuhan maka hasil yang diperoleh adalah
pengetahuan, perubahan perilaku, kejujuran dan kebenaran
atau integritas. Ini merupakan bentuk pendidikan model

233
Andar Ismail. Selamat Menabur (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011), hal. 72-
73.
183
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
syema dalam keluarga-keluarga Israel sebagaimana telah
diuraikan di atas. Di sisi lain makna yang terkandung dalam
ayat ini juga sudah memenuhi standaryang digariskan dalam
Permendikbud 137 tahun 2014 Tentang Standar Nasional
Pendidikan Anak Usia Dini, pasal 10 ayat 2 nilai agama dan
moral sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 meliputi
kemampuan mengenal nilai agama yang dianut,
mengerjakan ibadah, berperilaku jujur, penolong, sopan,
hormat, sportif, menjaga kebersihan diri dan lingkungan,
mengetahui hari besar agama, menghormati dan toleran
terhadap agama orang lain.234

Kesimpulan
Dasar alkitabiah pembentukan iman anak melalui
pendidikan anak usia dini adalah sebuah model pendidikan
yang sudah dikenal dalam Perjanjian Lama. Bangsa Israel
diperintahkan Allah untuk memperkenalkan Allah yang Esa
kepada anak-anak mereka sejak usia dini sebagaimana
dalam syema (dengarlah), yang terdapat dalam Ulangan 6:4-
5. Model pendidikan ini sebagai sebuah pengakuan iman
yang diwariskan turun-temurun yang kita jumpai sepanjang
Alkitab. Selanjutnya pendidikan anak-anak usia dini
dilandasi takut Tuhan sebagai titik tolaknya dimana ayah
dan ibu memiliki peran penting dalam membimbing anak-
anak mereka untuk takut akan Tuhan sebagaimana kita
jumpai dalam Kitab Amsal 1: 7-8: “Takut akan Tuhan
adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh
menghina hikmat dan didikan. Hai anakku, dengarkanlah

234
Ibid.
184
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu.”
Sejumlah ayat lainnya dalam Kitab Amsal membuktikan
pentingnya membentuk iman anak melalui pendidikan usia
dini.
Dalam Perjanjian Baru pendidikan anak usia dini
dianjurkan oleh Tuhan Yesus di mana Ia sendiri menerima
anak-anak yang dibawa oleh orangtuanya kepada-Nya untuk
menumpangkan tangan dan mendoakan mereka. Ia
menandaskan bahwa orang-orang seperti anak-anak kecil
yang memiliki Kerajaan Sorga (Mat. 19: 13-15; Mrk. 10:13-
16; Luk. 18:15-17) merupakan tanggung jawab orang tua,
terutama bapa-bapa yang harus mendidik anak-anak dalam
jalan dan nasihat Tuhan (Ef. 6:4).
Orang Kristen juga melakukan hal yang sama dengan
mengadakan pendidikan anak usia dini dalam keluarga dan
dalam gereja melalui Sekolah Minggu. Kategori usia juga
sudah diterapkan dalam Sekolah Minggu dengan membagi
anak-anak dalam kelas: Batita: dibawah tiga tahun (0-2
tahun), balita (di bawah lima tahun (3-4 tahun), indria (5-6
tahun), dan seterusnya sesuai dengan ciri khas gereja
masing-masing. Sekolah-sekolah Kristen secara formal
membuka Pendidikan Anak Usia Dini dengan membuka
Kelompok Bermain (2-3 tahun), Taman Kanak-Kanak (TK:
4-5 tahun), Sekolah Dasar (6-12 tahun). Kiranya relevan apa
yang dikatakan oleh B.S. Sidjabat:
Tugas orang tualah untuk mentransfer nilai-nilai
rohani yang mereka perolah dari para Rasul kepada
anak-anaknya. Apa yang mereka peroleh dari
pembinaan di tempat-tempat perkumpulan mereka
demonstrasikan di tengah rumah tangga supaya anak
185
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
meneladaninya. Paulus menambahkan bahwa suami
adalah pimpinan dalam rumah tangga dan ia harus
berperan sebagai imam bagi keluarga yang
dikepalainya. Dua perkara yang muncul di sini. Ada
tindakan negatif yang harus dihindari orang tua yakni
tidak membangkitkan kekecewaan pada diri anak. Ini
terjadi jika orang tua bertutur dan bersikap kasar,
otoriter, berdusta dan menyiksa. Ada pula pesan
positif yakni, mengajar, mendidik, melatih anak
dengan ajaran dan nasihat Tuhan sebagaimana dapat
dipelajari dari Kitab Suci. Ketaatan atas perintah itu
akan membawa anak dalam kepribadian yang sehat.235

Pemerintah melalui Permendikbud 137 tahun 2014


Tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini,
menetapkan standar dan prosedur pelaksanaan pendidikan
anak usia dini yang berkembang pesat akhir-akhir ini.
Kesempatan ini seyogianya dimanfaatkan oleh orang
Kristen untuk membangun iman anak sejak dini melalui
pendidkan anak usia dini yang didirikan oleh berbagai
lembaga pendidikan Kristen maupun gereja, dengan tujuan
untuk menghadirkan Kerajaan Allah di dunia. Kenyataan
menunjukkan pertumbuhan cepat dalam pendidikan anak
usia dini, sebab itu para orang tua, gereja dan guru-guru
PAUD harus menekankan pertumbuhan iman anak
sebagaimana dilakukan oleh keluarga-keluarga dalam
tradisi Israel.
Pertumbuhan jasmani dan rohani anak, agar memiliki
kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut
merupakan tujuan dalam penyelenggaraan PAUD. Kendati

235
Ibid, 140.
186
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
begitupertumbuhan rohani pada rentang usia dini
seyogianya merupakan tanggung jawab orang tua. PAUD
yang didirikan oleh orang Kristen maupun lembaga-
lembaga Kristen harus mampu mengembangkan
pertumbuhan rohani atau iman anak sesuai dengan tujuan,
atau visi dan misi penyelenggara PAUD.

Daftar Kepustakaan
Guthrie, D., dkk., Tafsiran Alkitab Masa Kini1. Jakarta: Bina
Kasih/OMF, 1992.
Heath W.S, Teologi Pendidikan Anak. Dasar Pelayanan kepada Anak.
Bandung: Kalam Hidup, 2010.
Homrighausen, E.G. & I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen.
Jakarta: BPK gunung Mulia, 2013.
Isjoni, H, Model Pembelajaran Anak Usia Dini. Bandung: Alfabeta,
2017.
Ismail, Andar, Selamat Ribut Rukun. Jakarta: BPK gunung Mulia,
2011.
___________, Selamat Menabur. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011.
Kittel, Gerhard, Theological Dictionary of The New Testament Vol. IV .
Grand Rapids, Michigan: Eerdmans Publishing Company, 1983.
Lasor, W.S., D.A. Hubbard, F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 1.
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
Nazir, Moh, Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988.
Nugroho, Wisnu Sapto dan Sri Aryanti Kristianingsih. “Pendidikan
Agama Kristen Anak Usia Dini Dalam Bahan Ajar Sahabat Anak
GKI SW Jateng, (diunduh 15/10/2018).
Soetopo, H.B.. Metodologi Penelitian Kualitatif, Surakarta: UNS, 2006.
Sidjabat, B.S.. Membesarkan Anak dengan Kreatif, Yogyakarta: Andi
Offset, 2008.
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfabeta, 2014.
Tong, Stephen, Takhta Kristus dalam Keluarga, Surabaya: Momentum,
2011.
___________, Membesarkan Anak dalam Tuhan, Surabaya:
Momentum, 2015.

187
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
PERANAN GEMBALA SIDANG DALAM
MEMPERLENGKAPI JEMAAT UNTUK
PEMBERITAAN INJIL

Welly Hendrik

Sekolah Tinggi Teologi KADESI Yogyakarta


Weron, Balong RT/RW 002/012, Umbulharjo,
Cangkringan, Sleman-Yogyakarta

Abstrak
Dalam artikel penelitian ini terdapat beberapa hal penting yang
perlu di mengerti oleh seorang gembala sidang dalam tugas
pemberitaan Injil. Tidak harus meninggalkan tugas penggembalaan
dalam melaksanakan tugas pemberitaan Injil, melainkan harus
seimbang antara tugas penggembalaan dan keterlibatannya dalam
tugas pemberitaan injil. Sebagai contoh misalnya sebagai gembala
sidang dengan menggunakan khotbah-khotbah yang bertemakan
pemberitaan injil dan sesekali terjun langsung dalam pemberitaan injil
bersama dengan anggota jemaat yang telah siap terjun dalam
melaksanakan pemberitaan injil, yang berikut pengadaan seminar-
seminar yang berhubungan dengan pemberitaan injil atau pelatihan-
pelatihan pemberitaan injil. Dengan demikian berarti gembala sidang
telah menjalankan tugas penggembalaan/pastoral dan tugas
pemberitaan injil secara seimbang. Keseimbangan pelayanan terhadap
tugas gembala dan pemberitaan injil memang sangat penting. Karena
pemberitaan injil merupakan amanat Agung Kristus (Mat. 28:19-20)
yang harus diterapkan bagi setiap orang percaya termasuk gembala
sidang itu sendiri. Demikanlah yang harus diperhatikan dan
dilaksanakan oleh para gembala sidang dan semua anak Tuhan yang
ikut serta dalam melaksanakan tugas pemberitaan injil.

Kata kunci: Gembala, Jemaat, Injil

Pendahuluan
Peranan gembala sidang merupakan kunci
keberhasilan Pemberitaan Injil gereja lokal. Sebagai

188
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
pemimpin jemaat peranannya dalam program Pemberitaan
Injil sangat menentukan. Apabila sang gembala kurang
memberi perhatiannya kepada program Pemberitaan
Injilmaka gerejanya sulit berkembang baik secara kwalitatif
maupun secara kuantitas.236 Mata rantai yang perlu
diperhatikan dan dipertahankan dalam gereja selaku tubuh
Kristus adalah peranannya dalam Pemberitaan Injil. Sebab
tugas yang maha penting ini bukanlah semata-mata hanya
diperuntukkan bagi seorang pendeta, penginjil, majelis
gereja atau seorang penatua saja. Melainkan tugas yang
maha penting ini melibatkan semua orang percaya, yang
telah diselamatkan oleh Yesus Kristus. Bagi mereka yang
telah menerima keselamatan itu bertanggung jawab
memenangkan mereka yang belum selamat. Dalam
mengikutsertakan anggota jemaat dalam Pemberitaan Injil,
sebagai gembala berfungsi, meletakkan dasar Pemberitaan
Injil yang efektif. Yaitu melalui latihan-latihan Pemberitaan
Injilyang dapat mempersiapkan jemaatnya ikut mengambil
bagian dalam Pemberitaan Injil. Inilah maksud dalam
penelitian ini yaitu fungsi gembala dalam Pemberitaan
Injilialah meletakkan dasar-dasar Pemberitaan Injil dan
melatih jemaatnya.
Permasalahan disini terletak pada kurangnya
perhatian dan tanggung jawab gembala terhadap perannya
dalam melaksanakan program Pemberitaan Injil. Contoh
misalnya ada gembala yang suka Pemberitaan Injil,
sehingga seringkali jemaat ditinggalkan dan dilayani oleh
hamba Tuhan lain. Ada pula gembala yang perhatiannya

236
Welly Hendik, Perananan Gembala Sidang dalam Penginjilan, Institut
Alkidah Tiranus, (Bandung:1990), hal.6
189
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
lebih banyak terarah kepada penggembalaan dan kurang
memperhatikan Pemberitaan Injil. Ini adalah contoh
pernanan gembala sidang zaman dahulu dan juga masih
terdapat peranan pelayanan gembala sidang seperti ini pada
zaman now ini.
Apabila diamati secara serius maka masih terdapat di
beberapa gereja yang seperti ini. Bagi jemaat yang sering
ditinggalkan itu, suatu ketika bisa jadi akan pindah ke
gereja lain. Karena mereka merasa kurang mendapat
perhatian gembala. Sedangkan bagi jemaat yang
gembalanya lebih banyak memperhatikan bidang Pastoral
saja, dan kurang memperhatikan Pemberitaan Injil, suatu
ketika jemaatnya akan keluar dari gerejanya dan menjadi
anggota gereja lain yang seimbang antara bidang Pastoral
dan Pemberitaan Injil.
Jadi jika demikian apakah peranan seorang gembala
sidang dalam Pemberitaan Injil? Billy Graham menjelaskan
bahwa di samping tanggung jawab merkea dalam
penggembalaan, pengajaran dan administrasi, para gembala
sidang harus melibatkan diri dalam Pemberitaan Injil. 237
Keterlibatan ini dijelaskan oleh Robert E. Coleman
bahwa tugasnya ialah melatih mereka yang telah dipilih
dengan teliti.238 Jadi disini tugas sang gembala adalah
melatih anggota jemaatnya yang berbakat dan yang telah
dipilih secara selektif. Dengan demikian jemaat merasa
dihargai dan punya tanggung jawab bersama dalam bidang
Pemberitaan Injil. Sebenarnya setiap anggota jemaat adalah
237
Billy Graham, Patokan Alkitabiah Untuk Para Penginjil, (Belanda:1996), hal.
36
238
Robert E. Colemen, rencana agung penginjilan. (Bandung: Kalam
Hidup,1964), hal. 10
190
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
anggota kelompok Pemberitaan Injil.239 Oleh karena itu,
sebagai pendorong adalah untuk menolong para gembala
sidang menyadari kelemahannya dan lebih bertanggung
jawab lagi dalam bidan Pekabaran Injil. Agar pelayanan
mereka dalam Pemberitaan Injilakan lebih mantap dan
efektif.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini
adalah pertama, untuk menolong para gembala agar dapat
menyadari kekurangannya dalam program Pemberitaan
Injildan tidak semata-mata memberi perhatian hanya
kepada penggembalaan saja, melainkan juga memberi
perhatiannya bagi Pemberitaan Injil. Kedua, aplikasi-
aplikasi praktis akan mempersiapkan serta memberi
dorongan untuk para gembala dengan mudah dapat
melaksanakan Pemberitaan Injil. Alasan tujuan tersebut di
atas adalah guna mencegah tidak terjadi lagi kelemahan-
kelemahan yang menghambat Pemberitaan Injil. Akhirnya
Pemberitaan Injil dapat berjalan secara mantap dan efektif.

Metode Penelitian
Metodologi penelitian ini lebih banyak pada
penelitian literatur atau kualitatif. Metode kualitatif adalah
metode penelitian yang berlandaskan pada tingkat post
positivisme, digunakan untuk meneliti pada objek yang
alamiah, dimana peneliti membedah buku-buku adalah
sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data
dilakukan secara purposive dan snowbaal, teknik
pengumpulan dengan trianggulasi (gabungan), analisis data

239
Billy Graham, op., Cid., hal. 42-43
191
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif
lebih menekankan makna dari pada generalisasi. 240 Jenis
literatur yang lebih banyak dipergunakan dalam penulisan
ini adalah jenis buku-buku Pemberitaan Injil dan termasuk
buku-buku lain yang berkaitan dengan tema yang dipilih,
yakni Peranan Gembala Sidang Dalam Memperlengkapi
Jemaat Terhadap Pemberitaan Injil.
Sasaran penelitian ini antara lain menolong para
gembala sidang melihat betapa pentingnya keterlibatan
mereka dalam Pemberitaan Injil. Itu sebabnya gembala
sidang perlu mempersiapkan anggota jemaat dalam
Pemberitaan Injil, melatih jemaat secara khusus dalam hal
Pemberitaan Injil dan mengikutsertakan jemaat dalam
Pemberitaan Injil.
Dalam perencanaan Pemberitaan Injil, gembala
sidang perlu mempunyai perencanaan yang matang dalam
tugas Pemberitaan Injil, antara lain gembala sidang perlu
mempunyai gambaran yang jelas akan pentingnya
Pemberitaan Injilitu, dan melibatkan jemaat dalam
Pemberitaan Injil. Dan mendorong jemaat bekerjasama
dalam Pemberitaan Injil. Itulah sebabnya mereka perlu
dilatih, dikerahkan untuk ikut serta dalam tugas
Pemberitaan Injil.

Kajian Teori
Pola Pengaktifan Bagi Tugas Pemberitaan Injil
Panggilan untuk pelayanan Pemberitaan Injil perlu
dilakukan sesering mungkin lewat khotbah-khotbah dsb.

240
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif, dan R & D.
(Bandung: Alfabeta, 2010) hal. 15
192
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Jemaat perlu ditantang untuk ikut mengambil bagian dalam
Pemberitaan Injil. Jemaat perlu diberi tanggung jawab
pelayanan dan Pemberitaan Injil. Jemaat tidak dapat
menyadari tanggung jawab pelayanan Pemberitaan Injil ini
kalau tidak ditantang. Tanpa mengerti panggilan itu dengan
jelas, mereka akan pasif. Oleh sebab itu, jemaat mutlak
perlu ditantang untuk mengerti apa itu Pemberitaan Injil.
Melalui khotbah-khotbah Pemberitaan Injil, menghadirkan
seminar-seminar Pemberitaan Injil, pelatihan-pelatihan
Pemberitaan Injil, untuk merangsang mereka lebih bersedia
ikut mengambil bagian dalam pelayanan dan Pemberitaan
Injil. Sesuai dengan Amanat Agung Yesus Kristus, dalam
Matius 28:19-20; Matius 9:35-10:1; Markus 16:15-17.
sementara oleh Thomas Wade Akins menyatakan bahwa:
“tetapi bagaimana pun juga, suatu saat gereja itu akan
sampai pada titik dimana tidak akan terjadi perkembangan
lebih lanjut kalau ia tidak melatih orang-orangnya dalam
bidang metode. Ia harus mendelegasikan tanggung jawab
kepada orang-orang yang dewasa kerohaniannya dan yang
sudah terlatih.241
Perlunya persiapan pola kerja menurut Alkitab, dalam
mempersiapkan program Pemberitaan Injil perlu
mempunyai landasan Alkitabiah yang mendasari program
itu. Melalui pola kerja menurut Alkitab akan lebih mengena
dengan sasaran dalam pelayanan Penginjilan. Pola kerja
menurut Alkitab adalah strategi yang terbaik dalam
pelaksanaan pelayanan Pemberitaan Injil. Dalam pola kerja

241
Thomas Wade Akins, perintis penginjilan melalui jemaat baru (Brazil:
Conveqao Batista Blasileira, 1991), hal. 41
193
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
yang Alkitabiah akan menghasilkan teknik pelayanan yang
mantap dan efektif.
Ada pula pola atau metode pemanggilan untuk
merangsang jemaat agar mau terlibat dalam tugas
pemberitaan injil, misalnya: melalui khotbah dalam jemaat
yang sifatnya menaantang jemaat mau terlibat dalam
pemberitaan injil. Bisa juga dengan pengadaan seminar-
seminar, pelatihan-pelatihan yang sama intinya adalah
untuk mendorong agar jemaat bersedia terlibat atau
terbeban untuk tugas pemberitaan injil.

Perlunya Pembinaan Lanjutan


Pembinaan lanjutan pelayanan Pemberitaan Injil tidak
boleh terlupakan/terabaikan. Jemaat perlu dibina untuk
dapat bertindak melanjutkan pelayanan Pemberitaan Injil.
Karena seringkali terjadi dalam Pemberitaan Injil, bagi para
petobat baru kurang mendapat kunjungan atau pelayanan
tindak lanjut Penginjilan tersebut, sementara pelayanan
tindak lanjut tersebut perlu diperhatikan karena ini adalah
aspek pelayanan dalam Pemberitaan Injil yang sangat
menentukan. Penundaan pelayanan lanjutan dapat
merugikan pelayanan itu sendiri dan tidak menolong
sepenuhnya petobat baru itu sendiri. Gembala sudah
seharusnya memikirkan tentang pola pelayanan tindak
lanjut ini jauh-jauh hari sebelumnya dan memperlengkapi
jemaatnya dengan persiapan yang cukup matang. Bisa
dipikirkan berbagai cara untuk mempersiapkan tindak lanjut
pelayanan Pemberitaan Injil secara lebih baik demi
memperoleh hasil pelayanan dan Pemberitaan Injil yang
lebih efektif dan komprehensif.
194
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Temuan Pengaktifan Jemaat Terhadap Pemberitaan
Injil
Melalui khotbah-khotbah Pemberitaan Injil maupun
melalui seminar-seminar Pemberitaan Injildan berbagai
pelatihan Pemberitaan Injil. Ditemukan dalam jemaat
terdapat potensi yang besar, dan sangat disayangkan jika
potensi yang ada itu tidak dimanfaatkan khususnya bagi
tugas Pemberitaan Injil. Ada berbagai cara bisa ditemukan
agar jemaat dapat diaktifkan bagi tugas Pemberitaan Injil
diantaranya, sebagai berikut:
Pertama, perlu adanya petunjuk-petunjuk. Ketika
Tuhan Yesus akan melepaskan murid-muridNya pergi
memberitakan Injil, Ia tak lupa memberi petunjuk-petunjuk
kerja kepada mereka. Menurut Injil Matius, petunjuk-
petunjuk kerja itu adalah kedua belas murid itu diutus oleh
Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: “Janganlah kamu
menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota
orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba
yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah:
Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit;
bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah
setan-setan. Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di
situ seorang yang layak dan tinggal padanya sampai kamu
berangkat. Apabila kamu masuk rumah orang, berilah
salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya,
salammu itu turun ke atasnya, jika tidak, salammu itu
kembali kepadamu. Dan apabila seorang tidak menerima
kamu dan tidak mendengar perkataanmu, keluarlah dan
tinggalkanlah rumah atau kota itu dan kebaskanlah debu
dari kakimu. (Matius 10:5-14).
195
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang dikemukakan
Tuhan Yesus kepada murid-muridNya di atas, terlihat
adanya penegasan kembali tujuan-Nya bagi hidup mereka.
Ia mengutus mereka untuk “memberitakan Injil Kerajaan
Sorga dan untuk menyembuhkan orang sakit” (Matius 10:7,
8). Tuhan Yesus menutup penjelasannya dengan
mengemukakan tentang kebutuhan jasmani mereka. Mereka
diminta untuk melayani dengan cuma-cuma, mengingat
mereka juga telah menerima keselamatan dengan cuma-
cuma dari Tuhan (Matius 10:8). Itulah sebabnya Tuhan
Yesus berpesan kepada mereka agar jangan membawa apa-
apa dalam melaksanakan Pemberitaan Injil(Matius 10:9,
10). Apabila mereka setia kepada Allah, maka Allah sendiri
akan memenuhi kebutuhan mereka.
Petunjuk yang diberikan Tuhan Yesus ini adalah
suatu contoh yang patut ditiru dan dilakukan oleh gereja
sebagai yang mengutus para Pemberita Injil. Mungkin
petunjuk-petunjuk yang berhubungan dengan tata krama,
cara pendekatan, etika pelayanan dan sebagainya termasuk
di dalamnya.
Kedua, pengutusan. Setelah mendapat petunjuk-
petunjuk kerja, gembala sidang perlu bersama-sama
anggotanya yang terpanggil untuk melayani, diikutsertakan
dalam pelayanan Pemberitaan Injil. Gembala sidang
memberi contoh-contoh bagaimana caranya memberitakan
Injil, bagaimana caranya mendekati orang yang tertarik
pada Injil, atau sebaliknya jika ada orang yang acuh tak
acuh terhadap Injil yang diberitakan. Sampai jemaat itu
mampu melayani secara mandiri, barulah gembala sidang
boleh melepaskannya melayani.
196
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Menurut Injil Matius, Tuhan Yesus ketika akan
mengutus murid-muridNya, cukup lama Ia melatih mereka
dengan sabar. Ia memanggil mereka untuk mengikuti Dia
sambil memperlihatkan bagaimana caranya Ia bekerja.
Dipihak lain, Ia tidak memadamkan reaksi spontan mereka
untuk bersaksi mengenai iman mereka. Selanjutnya dalam
Injil Matius Tuhan Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku, dan
kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Matius 4:19), dari
ayat ini terlihat, bahwa Ia memperingatkan mereka untuk
mengikuti Dia menjadi “penjala-penjala manusia.” Setelah
beberapa waktu kemudian murid-muridNya ditetapkan
secara resmi menyertai pelayananNya (Markus 3:14-19;
Lukas 6:13-16). Sekalipun demikian mereka belum dapat
dipercayakan mengerjakan tugas Pemberitaan Injil itu
sendiri. Dari penjelasan ini ternyata dalam mengaktifkan
anggota untuk melayani perlu kesabaran.
Setelah gembala sidang melihat benar-benar mereka
yang dibabtis telah mampu mengerjakan pekerjaan itu
barulah, gembala sidang dapat mengutus mereka
mengerjakan Pemberitaan Injil. Dengan mengutus tidak
berarti tugas gembala sidang sudah selesai, gembala sidang
perlu mengawasi pelayanan tersebut.
Ketiga, pengawasan. Setelah diutus mengerjakan
Pemberitaan Injil, anggota jemaat yang diutus tersebut perlu
dikumpulkan kembali untuk mendengar hasil pelayanan
mereka, atau mengevaluasi hambatan-hambatan apa yang
mereka alami dalam mengerjakan Pemberitaan Injil. Di sini
gembala perlu mendengar dengan baik setiap kesaksian
atau berita pelayanan yang mereka saksikan. Kesaksian itu
akan menolong gembala untuk mengetahui perkembangan
197
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
pelayanan mereka selanjutnya. Dari situlah gembala
mempunyai bahan untuk mempersiapkan mereka kembali
untuk mengerjakan tugas Pemberitaan Injil dengan
pengalaman baru.
Menurut Injil Markus, Tuhan Yesus menegur murid-
murid-Nya, dengan tegas Ia berkata “Belum jugakah kamu
paham?” (Markus 8:17). Setiap kali murid-murid
menyelesaikan tugas Pemberitaan Injil Ia selalu mendekati
mereka dan mendengarkan laporan-laporan kerja mereka.
Disamping mendengar laporan-laporan kerja mereka,
Tuhan Yesus menyiapkan mereka dengan pengalaman-
pengalaman baru.

Pengutusan Terhadap Tugas Pemberita Injil dan


tantangannya
Hal yang serupa juga dilakukan Tuhan Yesus
terhadap ketujuh puluh murid ketika mereka diutus ke luar.
Tuhan Yesus memanggil mereka kembali untuk memberi
laporan mengenai pekerjaan mereka selama menjalankan
tugas Pemberitaan Injil. Dalam Injil Lukas dituliskan,
“Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan
gembira dan berkata: ‘Tuhan, juga setan-setan takluk
kepada kami demi namaMu.’” (Lukas 10:17). Tidak ada
yang membuat Tuhan Yesus lebih bersukacita selain
daripada hal ini. Melihat kemenangan yang akhirnya
dicapai oleh para muridNya, Yesus berkata, “Aku melihat
Iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Lukas 10:18). Di
samping sukacita itu, Tuhan Yesus memperingatkan
mereka agar mereka jangan menjadi sombong. Ia berkata,
“Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu
198
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada
terdaftar di sorga.” (Lukas 10:20). Dari penjelasan ini
terlihat bahwa pengawasan gembala sidang terhadap tugas
Pemberitaan Injil adalah suatu keharusan. Karena dengan
demikian tercipta kerja sama yang baik antara gembala
sidang dan anggotanya, dan di samping itu pengawasan
perlu diadakan karena ini adalah tanggung jawab seorang
gembala sidang.
Keempat, Peneguhan. Dalam mengaktifkan jemaat
terhadap tugas Pemberitaan Injil, gembala sidang perlu
mempersiapkan beberapa di antara anggota yang telah
dilatih untuk Pemberitaan Injil, diikutsertakan dalam tugas
pelayanan lanjutan, yang dilaksanakan oleh gembala
sidang. Pelayanan peneguhan atau pelayanan lanjutan ini
perlu mendapat perhatian yang serius baik oleh gembala
sidang maupun oleh mereka yang diutus memberitakan
Injil. Namun yang menjadi tantangan dalam pemberitaan
Injil sekarang ini adalah (1). Susah membangun kerja sama
dengan calon pemberita Injil dari dalam jemaat itu sendiri.
(2). Tantangan pendanaan. (3). Tantangan pengawasan dan.
(4). Tantangan sarana prasarana di era globalisasi ini.

Pelipatgandaan Jiwa Baru


Tuhan Yesus sangat mementingkan pelayanan
lanjutan. Sebagai contoh, Ia pernah berpaling kepada
murid-muridNya dan berkata, “Tetapi kamu juga harus
bersaksi karena kamu dari semula bersama-sama dengan
Aku” (Yohanes 15:27). Yesus memperlihatkan suatu
metoda sederhana kepada murid-muridNya dengan jalan
tinggal bersama-sama mereka. Dilain pihak Tuhan Yesus
199
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
juga memperhatikan orang banyak yang mengikuti Dia.
Sebagai contoh, Ia pulang bersama Zakheus yang telah
bertobat di jalan menuju Yerikho Lukas 19:7, dan Ia tinggal
untuk beberapa waktu di rumah Zakheus sebelum
meninggalkan kota itu. Yesus juga menginap dua hari lagi
di Shikar sesudah pertobatan perempuan Samaria itu, untuk
membimbing orang-orang disitu yang “percaya kepadaNya
karena perkataan perempuan itu” (Yohanes 4:39-42). Dan
karena persekutuan pribadiNya dengan mereka, maka
“lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya.
Juga kepada sekelompok kecil perempuan yang
dengan setia melayani Tuhan Yesus, misalnya, seperti
Maria dan Marta (Lukas 10:38-42), Maria Magdalena,
Yohana, Susana, dan “banyak lagi perempuan lain” (Lukas
8:1-3). Hal ini memperlihatkan bahwa pelayanan
peneguhan atau pelayanan tindak lanjut sangat perlu. Ada
contoh yang positif dari pelayanan Yesus ialah Ia sadar
betul akan adanya dinding pemisah antara Dia sebagai laki-
laki dan perempuan-perempuan itu. Dalam pelayanan
peneguhan baik yang dilaksanakan oleh gembala sidang
sendiri maupun yang oleh anggota jemaat yang turut serta
dalam pelayanan ini. Pelayanan peneguhan bagi para
petobat baru merupakan suatu pelayanan lanjutan dari
pelayanan Pemberitaan Injil. Perlu ada tujuan yang jelas
dalam pelayanan ini, agar dengan tujuan itu pelayanan
peneguhan ini tidak akan melampauii tugas gereja. W.
Stanley Heath mengemukakan, pentingnya kejelasan tujuan
yang hendak dicapai, sebagai berikut :
“Peneguhan” berarti bahwa saudara akan
membimbing orang itu sampai ia dapat berjalan
200
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
dengan teguh atas dasar Firman Allah. Akan tetapi
tugas saudara belum boleh dianggap sudah selesai
sebelum orang yang dilayani itu dihubungkan kepada
suatu gereja … Kalau ia belum mengikuti gereja
belum boleh dikatakan bahwa ia telah diteguhkan
dalam Alkitab.242

W. Stanley Heath jelas sekali beliau membatasi


pelayanan peneguhan ini, sehingga tidak terjadi bentrokan
dengan tugas gereja. Apabila orang yang baru bertobat itu
telah dapat dibimbing dengan Firman Tuhan dan ia dapat
memiliki keyakinan yang kokoh pada Firman Allah maka ia
digabungkan ke dalam gereja atau persekutuan orang-orang
percaya. Tindak lanjut dari pelayanan ini akan diambil alih
oleh gembala sidang yakni yang berhubungan dengan
pelayanan penggembalaan. Pelayanan penggembalaan ini
menyangkut bermacam-macam bentuk bimbingan.
Pelayanan bimbingan pastoral masih merupakan
lanjutan dari pelayanan peneguhan yang dilakukan oleh
siapa? Setelah orang di injili. Corak pelayanan bimbingan
pastoral di sini dibedakan dengan corak pelayanan
bimbingan pastoral bagi jemaat yang telah lama menjadi
anggota gereja. Sehingga dalam penjelasan yang
dikemukakan pada bagian ini tentu sedikit berbeda dari
corak pelayanan bimbingan pastoral untuk mereka yang
telah lama menjadi anggota jemaat.
Hampir dikebanyakan gereja seringkali apabila ada
anggota baru yang diserahkan ke gereja namun mereka

242
W. Stanley Heath, Pemberitaan injil dan Pelayanan Pribadi, (Surabaya: Yakin,
n.d), hal, 13
201
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
langsung dicatat dan ditambahkan kedalam kelas katekisasi
sebagai syarat untuk mendapat layanan baptisan dan Sidi.
W. Stanley Heath mengemukakan, tindak lanjut bimbingan
setelah seseorang mendapat pelayanan peneguhan adalah
penyerahan yang bersangkutan kepada suatu gereja guna
mendapat pengajaran “katekisasi”. Selanjutnya beliau
menjelaskan :
Setelah orang yang dibimbing secara pribadi itu
diserahkan kepada suatu gereja, ia akan diberi
pengajaran yang disebut “katekisasi” ia belajar
tentang Allah, dan tentang pertanggungannya sebagai
orang Kristen dan sebagai anggota gereja setempat.
Biasanya pokok-pokok pertumbuhan iman kurang
dibicarakan dalam pelajaran katekisasi.243

Penjelasan ini terlihat ada dua pokok pelajaran yang


diberikan kepada para petobat baru itu. Dijelaskan pula
bahwa pelajaran yang berhubungan dengan pokok-pokok
pertumbuhan iman perlu dibicarakan/dijelaskan. Hampir
dikebanyakan gereja sistim bimbingan seperti ini masih
terus dilaksanakan. Dan hasil bimbingan seperti ini tidak
terlalu menolong pertumbuhan iman mereka yang baru
percaya itu, karena mereka kurang pemahaman tentang
Yesus. Pelajaran tentang Yesus harus menjadi yang paling
utama sampai iman mereka bertumbuh.
Oswald Smith dalam buku Keajaiban Anugerah,
mengemukakan hal yang penting untuk diketahui tentang
Yesus. “Ia datang untuk mati. Ia datang untuk menjadi
Juruselamat. Ia datang untuk menebus dosa kita. Ia yang

243
W. Stanley Heath, op. cit., hal. 56
202
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
telah mati dan yang telah bangkit yang menyelamatkan
kita.” Setiap petobat baru perlu banyak mengetahui tentang
Yesus. Menurut Kitab Filipi, rasul Paulus mengemukakan
bahwa mengenal Yesus dan kuasa kebangkitanNya adalah
suatu kebenaran yang harus dihayati oleh setiap orang
percaya. Selanjutnya dijelaskan bahwa kukehendaki ialah
mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan
dalam penderitaanNya, dimana aku menjadi serupa dengan
Dia dalam kematianNya. (Filipi 3:10).
Para petobat baru perlu pemahaman tentang Yesus
Kristus, baik tentang penderitaanNya, kematianNya
maupun tentang kebangkitanNya. Apabila mereka telah
mengenal Yesus dengan jelas dan sungguh percaya
kepadaNya, mereka akan sangat menghargaiNya. Dorongan
terbesar untuk mengenal kesucian hidup ialah perasaan
takut kalau-kalau sesuatu akan menajiskan nama Yesus.
Sebab itu pelajaran tentang Yesus harus diajarkan dengan
jelas. Bagi para petobat baru yang telah mengenal Yesus
dan percaya sungguh-sungguh kepadaNya tidak ada
halangan lagi untuk dibaptiskan (Markus 16:16). Karena
syarat pembaptisan ialah percaya Yesus. Seringkali
dikebanyakan gereja melakukan yang terbalik. Mereka
mengajarkan segala sesuatu sampai akhirnya orang sudah
bosan mendengar, baru melakukan pelayanan baptisan.
Sebab itu seringkali banyak orang tidak tahan menunggu
karena terlalu lama baru dibaptis, mereka terpaksa lari
meninggalkan kelas pengajaran katekisasi itu. Padahal
Firman Tuhan dengan jelas mengemukakan “baptislah
mereka … dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu …
(Matius 28:19-20).
203
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Setelah para petobat baru itu dibaptis mereka
diajarkan tentang perlengkapan lainnya sesuai dengan
anggaran dasar gereja setempat. Termasuk adalah berbagai
bentuk penggembalaan selanjutnya. Bentuk-bentuk
penggembalaan selanjutnya akan dilaksanakan oleh
gembala sidang sesuai dengan program gereja setempat.
Jadi suatu pelayanan Pemberitaan Injil baru dapat dianggap
selesai apabila para petobat baru telah digabungkan kepada
gereja setempat dan mendapatkan pelayanan lanjutan dari
gembala sidang gereja tersebut.

Kesimpulan
Telah disinggung di depan bahwa peranan gembala
sidang dalam Pemberitaan Injil. Pertama, gembala sidang
perlu menggumuli pelayanan Pemberitaan Injil dengan
serius dan menganggap pelayanan Pemberitaan Injil itu
merupakan suatu tugas yang tak terabaikan dari bagian
pelayanan kependetaan.
Kedua, gembala sidang perlu memahami bahwa
Pemberitaan Injil telah dirancang oleh Allah sejak
kekekalan, dengan tujuan agar seluruh umat manusia
memperoleh penebusan di dalam Yesus Kristus (Markus
16:16). Karena itu, tugas ini tidak lepas pula dari tanggung
jawab jemaat lokal, dan pelaksanaannya adalah terletak
pada sejauh mana gereja mulai mementingkan pelayanan
Pemberitaan Injil.
Ketiga, gembala sidang perlu menyadari dengan
adanya hambatan-hambatan terhadap pelayanan
Pemberitaan Injil, yang harus segera teratasi demi
kelancaran pelayanan Pemberitaan Injil.
204
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Keempat, gembala sidang perlu memberi motivasi
bagi jemaat terhadap tugas Pemberitaan Injil, dengan
membuka pikiran mereka melalui khotbah-khotbah
Pemberitaan Injil, seminar-seminar Pemberitaan Injil, dan
berbagai latihan-latihan Pemberitaan Injil sebagai suatu
strategi untuk memperlengkapi mereka terhadap tugas
Pemberitaan Injil (Efesus 4:11-13).
Kelima, Dengan Pemberitaan Injil adalah pekerjaan
Allah yang melibatkan semua umatNya (I Petrus 2:9, 10),
maka gembala sidang selaku pemimpin jemaat yang
mempunyai peranan penting dalam pekerjaan ini ia perlu
menjadi contoh dalam pelayanan ini dan sekaligus memberi
petunjuk-petunjuk praktis terhadap jemaat dalam
mengaktifkan mereka bagi tugas Pemberitaan Injil.
Keenam, untuk pelayanan tindak lanjut dari hasil
Pemberitaan Injil yang telah dikerjakan oleh jemaat, bagi
petobat-petobat baru, sebaiknya dilaksanakan oleh gembala
sidang sendiri. Mengingat pelayanan tindak lanjut ini sering
kurang diperhatikan, untuk itu gembala sidang perlu
menyediakan waktu khusus. Dengan demikian, para petobat
baru dapat ditolong dan bertumbuh di dalam iman kepada
Yesus Kristus.
Ketujuh, pelayanan Pemberitaan Injil baru berakhir
setelah para petobat baru dihubungkan dengan gereja
setempat. Dengan demikian maka tugas Pemberitaan Injil
telah terpenuhi dalam pelaksanaan Amanat Agung Yesus
Kristus (Matius 28:19, 20).

205
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Saran
Diharapkan agar para pembaca dapat mengerti
pentingnya pemberitaan injil, terlebih para gembala sidang
agar bersedia menyeimbangkan antara tugas pastoral dan
pemberitaan injil.

Daftar Pustaka
Billy Graham, Patokan Alkitabiah Untuk Para Penginjil, dicetak di
Negeri Belanda, 1996.
Heath, W. Stanley. Penginjilan Dan Pelayanan Pribadi. Surabaya:
Yakin, n.d.
Heath, W. Stanley. Tak Mengambang Tak Melesat. Yogyakarta: Andi
Offset, 1989.
Smith, Oswald J. Keajaiban Anugerah. Jakarta: Yayasan Pekabaran
Injil Imanuel, 1977.
Smith, Oswald J. Merindukan Jiwa Yang Tersesat. Surabaya: YAKIN,
n.d.
Sugiono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif
Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta,
Welly Hedrik, Skripsi Peranan Gembala Sidang Dalam Penginjilan.
Institut Tiranus Bandung, 1990.
Thomas Wade Akins, Perintis Penginjilan Memulai Jemaat Baru Brazil,
199.

206
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
CURRICULUM VITAE
Talizaro Tafonao
Jenjang Pendidikan:
1. Sarjana Teologia (S.Th), STT Biwar Wacana Yogyakarta, tahun
2011;
2. Magister Pendidikan Agama Kristen (M.Pd.K) STT KADESI
Yogyakarta, tahun 2014;
3. Doktor Pendidikan Agama Kristen (Dr) STT KADESI Yogyakarta,
tahun 2018

Pengalaman Pekerjaan:
1. Dosen Tetap, staf full timer dan Guru SMTK KADESI Yogyakarta
2013-sekarang
2. Pendeta pembantu (Pdp) di GBI Teleios Yogyakarta 2015-
sekarang
3. Ketua Redaksi Kadesi Publisher Yogyakarta dan Jounal BIJAK
2017-sekarang
4. Wakil Ketua Umum 1 DPD HIMNI Yogyakarta 2018-2022.

Buku Terpublikasi:
1. Pendidikan Agama Kristen Dalam Masyarakat Majemuk,
Yogyakarta: illumination Publishing, 2015, ber-ISBN 978-602-
19080-5-1.
2. Gembala Sebagai Pengajar, Motivator dan Inspirator, Yogyakarta:
illumination Publishing, 2016, ber-ISBN 978-602-19080-4-4.
3. Perubaha Dimulai Dari Sendiri: Pendidikan Dasar Bagi Kaum
Remaja & Pemuda, Yogyakarta: Kadesi Yogyakarta, 2017, ber-
ISBN 978-602-61127-1-2.
4. Prosiding Seminar Nasional “Tata Kelola Perguruan Tinggi
Kristendi Indonesia di STT KADESI Yogyakarta, 18-Januari, 24
Maret dan 6 April 2018” dengan Judul Makalah “Penerapan
Strategi Pengajaran Tuhan Yesus Terhadap Pencapaian Tujuan
Pendidikan Agama Kristen”, Yogyakarta: Kadesi Publisher
Yogyakarta, 2018, ber-ISBN 978-602-61127-6-7.

Jurnal/Penelitian:
1. Peran Gembala Sidang Dalam Mengajar dan Memotivasi Untuk
Melayani Terhadap Pertumbuhan Rohani Pemuda. Dalam Jurnal
Evangelikal (STT Simpson Semarang), Vol, 2, No, 1 Januari 2018,
ber-ISSN 2548-7558 (online).

207
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
2. Penerapan Metode Pengajaran Efektif Menurut Teori Quantum.
Dalam Jurnal Edudikara (IPTPI Sukarta), Vol, 3, No, 1 Maret 2018
ber-ISSN 2541-0261 (online).
3. Makna Penderitaan Menurut Rasul Paulus Berdasarkan II Korintus
12. Dalam Journal BIJAK (STT Kadesi Yogyakarta), Vol, 1, No, 2
Mei 2018, ber-ISSN 2599-011X (cetak).
4. Peranan Media Pembelajaran Dalam Meningkatkan Belajar
Mahasiswa. Dalam Jurnal Komunikasi Pendidikan/Komdik
(Universitasi Veteran Bangunan Nusantara), Vol, 2, No, 2 Juli 2018,
ber-ISSN 2549-4163 (online).
5. Peran Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga Terhadap
Perilaku Anak. Dalam Jurnal Edudikara (IPTPI Sukarta), Vol, 3,
No, 2 Juni 2018 ber-ISSN 2541-0261(online).
6. Peran Guru Dalam Mengajar dan Mendisiplinkan Siswa di era
digital. Dalam Jurnal Koulutus (Univesitas Kahuripan Kediri), Vol,
1, No 2 September 2018, ber-P-ISSN 2620-6277/ E-ISSN 2620-
6285 (online).

Timotius Sukarna
Jenjang Pendidikan:
1. Sarjana Pendidikan Agama Kristen (S.Pd.K) Ujian Negara, STT
Kadesi Yogyakarta, tahun 2009
2. Magister Teologi (M.Th) Ujian negara STTII Yogyakarta, tahun
2010.
3. Doktor Teologi (Dr) Ujian Negara STTII Yogyakarta, 2012.

Pelatihan Profesional:
1. Diktat Pengajar GGP (copy sertifikat terlampir), Majelis Pusat GGP
Jakarta, di GGP Imanuel Bogor, Agustus 2004
2. Pendidikan Applied Approach (AAI/Sertifikasi Kompetensi Dosen
Pascasarjana Bidang Pendidikan Kristen (copy sertifikat terlampir),
Ditjen Bimas Kristen Kementrian Agama RI, di Lembang Bandung,
Oktober 2009
3. Simposium Teologi tahun 2010 (copy sertifikat terlampir),
Persekutuan Antar Sekolah Teologi Injil di Indonesia Bogor, Maret
2010
4. Kingdom of Heaven Discipleship World, Korea Selatan dan KDW
Indonesia (copy sertifikat terlampir), STT Kadesi Bogor, Juli 2010

208
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Elianus Telaumbanua
Jenjang Pendidikan:
1. Diploma Misi (D-III), STT INDOSOM Medan, 2010;
2. Sarjana Teologi (S.Th), STT Kadesi Yogyakarta, tahun 2012;
3. Magister Kepemimpinan Kristen (M.Th), STT Kadesi Yogyakarta,
tahun 2014;
4. Doktor Kepemimpinan Kristen (Dr), STT Kadesi Yogyakarta, 2018

Pengalaman Kerja:
1. Staf fulltime di STT Kadesi Yogyakarta, tahun 2013- sekarang
2. Dosen tetap di STT Kadesi Yogyakarta, tahun 2014 - sekarang
3. Staf pengembalaan di GKTI Randusari 2015 -sekarang
4. Gembala Pemuda -Remaja di GKTI Randusari, tahun 2015-
sekarang
5. Pengurus Ikatan Keluarga Nias (IKN), tahun 2017-sekarang

Elia Umbu Zasa


Jenjang Pendidikan
1. S-1 Sarjana Teologi STT Injili Indonesia Jakarta (2005)
2. S-1 Sarjana Pendidikan Kristen STT Kadesi Bogor (2010)
3. S-2 Magister Pendidikan Kristen (2013)
4. Studi Lanjut Program Doktoral 2015-sekarang dansaatinisedang
“disertasi”.

Pengalaman Mengajar:
1. Dosen STT SkripturaDepok (2006-2015)
2. Dosen STT Kadesi Bogor (2006-sekarang)
3. Dosen STT Pentakosta Bogor (2007-2010)
4. DosenUniversitasGunadarma (2016-sekarang).

Pengalaman Pekerjaan:
1. Melayani di GPIBI JemaatElnishiDepok (2000-2003)
2. Melayani di GPIBI JemaatAntiokhiaPasarMinggu Jakarta Selatan
(2003-2005)
3. Melayani di GPIBI JemaatAntiokhiaPasarMingguCabang Bogor
(2006-2011)
4. GembalaSidang di GPIBI JemaatAntiokhiaKlapanunggal, Bogor
(2012-2015)
5. GembalaSidang di GBI-Jakarta Baptist Community, Citra Indah
City, Bogor (2015-sekarang)
6. Koordinator BPD GPIBI Wilayah Jawa Barat (2006-2010)
209
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
7. Sekretaris BKSG Kabupaten Bogor, Wil. Jonggol (2007-2009)
8. PUKET III STT Kadesi Bogor (2009-sekarang)
9. KetuaDepartemenLitbang BPP GPIBI (2010-2014)
10. Ketua BPD GPIBI JaBoDeTaBek (2010-2014)
11. KoordinatorBadanKerjasamaGereja (BKSG) Kec. Klapanunggal
Bogor (2013-2014)
12. MenjadiPimpinanSidangKongres GPIBI Nasional di Taman Mini
Indonesia Indah Jakarta (2014)
13. AnggotaBidangPendidikan BPP GPIBI(2014)
14. WakilKetua I BAMAG Kab. Bogor (2015-2019)
15. MenjadiDosenLuarBiasa di UniversitasGunadarma (2016-sekarang)

Daniel Suharto
Jenjang Pendidikan:
1. S-1 Sarjana Teologi STT Parakletos Yogyakarta, 1996
2. S-2 Magister Teologi STBI Semarang, 2008
3. S-2 Magister Pendidikan Kristen STT Berita Hidup Solo, 2011
4. S-3 Doktor Kepemimpinan Kristen STT Kadesi Yogyakarta, 2016.

Pengalaman Mengajar:
1. Guru SPPI Kadesi Yogyakarta (1995-2000)
2. Guru dan Kepala Sekolah SMTK Kadesi Yogyakarta ( 2000 – 2004 )
3. Merintis SMTK Kadesi Purworejo (sejak 2004)
4. Guru dan Kepala Sekolah SMTK Kadesi Purworejo (2004- sekarang)
5. Dosen di STT Kadesi Yogyakarta. (sejak 2004- sekarang)
6. Dosen di STT Kadesi Bogor (2006- sekarang )

Pengalaman Kerja:
1. Menjadi Penginjil di YALLKI ( 1981-1998)
2. Merintis Jemaat Gereja Kasih Kristus Indonesia (GKKI) ( 1988-
sekarang)
3. Pendiri Yayasan Kadesi Yogyakarta (1995-sekarang)
4. Sekretaris Umum Sinode GKKI ( 1997-2002 )
5. Menjadi Ketua Badan Kerjasama Gereja-gereja Kab Purworejo
(2004-2010)
6. Menjadi Ketua BKAG Kab. Purworejo ( 2014-2017)
7. Menjadi Dosen di STT Kadesi Yogyakarta ( 2004-sekarang )
8. Menjadi Dosen di STT Kadesi Bogor ( 2006- sekarang )
9. Menjadi Wakil Ketua FKUB Kab. Purworejo (2007-2010)
10. Menjadi Wakil Ketua FKUB Kab. Purworejo ( 2015-2020)
11. Ketua Umum Sinode GKKI ( 2007- 2012 )
210
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
12. Ketua Penasehat Sinode GKKI ( 2017-2023)

Djuniasih
Jenjang Pendidikan:
1. S-1 Sarjana Teologi STT Duta Wacana Yogyakarta (1993)
2. S-2 Master of Arts, Intitut Alkitab Tiranus Bandung (1999)
3. S-2 Magister Teologi, Sekolah Tinggi Alkitab Tiranus Bandung
(2009)
4. S-3 Doktor Teologi, STT Kadesi Yogyakarta (2018)
5. Sertifikasi Konselor Univ.Negeri Malang (2009)

Pengalaman Kerja:
1. Tua-Tua Khusus GKI Samanhudi Jakarta (1987-1991)
2. Pendeta Untuk Pelayanan Khusus GMII Bandung (2016-sekarang)
3. Asisten Dosen STA Tiranus (2008-2015)
4. Dosen Tetap STT Kadesi Bogor (2016-sekarang)

Welly Hendrik
Jenjang Pendidikan :
1. Sarjana Muda Teologi STII Yogyakarta, tahun 1982
2. Sarjana Teologi Istitut Alkitab Tiranus Bandung, tahun 1990
3. Master of Art (MA) Komunikasi Lintas Budaya di STT Parakletos
Yogyakarta, tahun 1994
4. Magister Teologi (M.Th) Prodi Kepemimpinan Kristen (STT Berita
Hidup) Surakarta 2014;
5. Sedang menyelesaikan Program Doktoral (S3) di STT KADESI
Yogyakarta

Pengalaman di bidang umum:


1. Pernah mengikuti rapat terbatas Dewan Keamanan Nasional
Republik Indonesia, Substansi Pembangunan Nasional untuk bahan-
bahan rancangan GBHN 2000-2004 pada tanggal 30 November – 1
Desember 1998 di Yogyakarta.
2. Pernah mengikuti Pelatihan Taruna Siaga Bencana (TAGANA)
pada tanggal 18-20 Maret 2010 di Buperta Cibubur.
3. Menyampaikan Orasi Ilmiah berjudul Peran dan Tantangan
Pendidikan Teologi di Era Transformasi dan Teknologi di Sekolah
Tinggi Teologi Berea Ansang Kalimantan Barat 12 Oktober 2018.

211
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
Pengalaman Kerja :
1. Dari tahun 1982 s/d tahun 1992 sebagai tenaga pengajar di STT
Berea Pontianak Kal-Bar
2. Dari tahun 1992 s/d tahun 1994 sebagai tenaga pengajar di STT
Parakletos Yogyakarta
3. Dari tahun 1994 s/d tahun1996 sebagai tenaga pengajar di STT
Berita Hidup Solo
4. Dari Januari 1995 s/d Desember 1995 sebagai pengerja di GKI
Wates
5. Dari tahun 1998 s/d 2000 sebagai pengejar BP/BK di SMU Gajah
Mada Yogyakarta.
6. Dari tahun 2002 s/d sekarang Pendeta di Gereja Kristus Tuhan
Indonesia Jemaat Randusari. Sebagai Team Penggembalaan di
GKTI.
7. Dari tahun 2002 s/d sekarang sebagai tenaga pengajar di STT
KADESI Yogyakarta.

212
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
PEDOMAN PENULISAN JOURNAL BIJAK

1. Topik : Teologi / Misi / Pendidikan


2. Harap menyertakan abstrak dan CV penulis
3. Naskah diketik dalam ukuran kertas kuarto dengan huruf Times New
Roman 12pt, panjang naskah berkisar 15-20 halaman dengan margin atas 4
cm, kiri 4 cm, atas 3 cm, dan bawah 3 cm dengan 1,5 spasi.
3. Struktur Dokumen Naskah terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut ini:
I. Judul Artikel
a. Judul ditulis dengan menggunakan huruf Times New Roman 14
point (pt), cetak tebal, dengan spasi 1 dan ditempatkan simetris di
tengah.
b. Judul harus menarik dan jangan terlalu panjang
c. Nama Penulis boleh diikutsertakan gelar akademik
d. Email aktif
e. Nama Instansi/ STT dan Universitas
f. Abstrak
- Abstrak merupakan ikhtisar suatu tugas akhir yang memuat
latar belakang atau permasalahan, tujuan, metode penelitian, hasil,
dan kesimpulan.
- Teks abstrak ditulis dalam satu paragraf yang terdiri dari 150 –
200 kata dengan menggunakan huruf Times New Roman 10 pt
dengan spasi satu
II. Pendahuluan / Latar Belakang
Isi bagian pendahuluan ditulis ringkas umumnya terdiri atas latar
belakang masalah, permasalahan dan tujuan penelitian.
III. Metode Penelitian
i. Informasikan secara ringkas mengenai materi dan metode yang
digunakan dalam penelitian, meliputi subyek/bahan yang diteliti,
alat yang digunakan, rancangan percobaan atau desain yang
digunakan, teknik pengambilan sampel, variabel yang akan
diukur, teknik pengambilan data, analisis dan model statistik yang
digunakan.
ii. Dibagian metode penelitian harus jelas. Metode penelitian apa yang
dipakai oleh penulis, seperti metode penelitian kualitatif atau
kuantitatif. Jikan metode penelitian kuantitatif maka hasil penelitian
harus dicantumkan dalam karya tulis/artikel
IV. Kajian Teoritis
Isi bagian kajian teoritis ditulis ringkas, dan hanya teori yang
benar-benar digunakan sebagai dasar penelitian
V. Hasil Penelitian
i. Isi bagian hasil penelitian ditulis ringkas. Hasil penelitian dapat
disajikan dengan dukungan tabel, grafik atau gambar sesuai
kebutuhan, untuk memperjelas penyajian hasil secara verbal.

213
Journal BIJAK Vol. 2, No.1, November 2018 ISSN 2599-011X
ii. Isi bagian pembahasan ditulis ringkas , dikaitkan dengan teori yang
digunakan
VI. Kesimpulan
Isi bagian kesimpulan ditulis ringkas dan harus menjawab masalah
penelitian
VII. Saran
Isi bagian saran ditulis ringkas. Berisi saran yang dapat dilakukan
untuk penelitian selanjutnya dan saran-saran aplikatif (bila ada)
VIII. Daftar Pustaka
Isi bagian kepustakaan, hanya pustaka yang digunakan yang
tertulis pada naskah.

4. Kutipan lebih dari empat baris diketik dengan spasi tunggal dan
diberi baris baru. Kutipan kurang dari empat baris dituliskan sebagai
sambungan kalimat dan dituliskan sebagai sambungan kalimat dan
dimasukan dalam teks memakai tanda petik.
5. Kata atau istilah asing yang belum diubah menjadi kata Indonesia atau
belum menjadi istilah teknis, diketik dengan huruf miring.
6. Naskah disertai footnote/catatan kaki dengan memakai sistem
Turrabian. Misalnya:
Marvin E. Shaw. Group Dynamics: The Psychology of Small Group
Behavior (New York: McGraw-Hill Book Co., 2008), 198.
7. Penulisan referensi diurutkan sebagai berikut : nama belakang
penulis, nama depan, tahun terbit, judul buku (dengan huruf miring).
Kota penerbit: nama penerbit.
Knitter, Paul F. 2010. Without Buddha I Could not be a Christian.
Oxford: One World Publications.
8. Diagram atau tabel harap dibubuhi nomor yang jelas. Bentuk font label
diagram dan tabel serta penomorannya menjadi hak tim redaksi.
9. Jumlah halaman max. 16 halaman
10. Naskah harus berisi catatan kaki (50% bersumber dari buku, 50%
bersumber dari Jurnal terkait dengan batas tahun penerbitan antara 2010 -
2018)
11. Naskah diterima paling lambat satu bulan sebelum penerbitan. Journal
BIJAK terbit dua kali dalam satu tahun, bulan November dan Mei.
12. Soft copy dikirimkan melalui email: jurnalbijak.kadesi@gmail.com

214