Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

PERCOBAAN 3
FOLIUM

Disusun Oleh :

Sofie Ayunia Rachmawati (10060318030)


Anggrilina Fitria (10060318031)
Nisa Rahma A. (10060318033)
Muhammad Fillah (10060318034)

Shift / Kelompok :D/5


Tanggal Praktikum : 27 November 2019
Tanggal Pengumpulan : 4 Desember 2019
Asisten : , S. Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
BANDUNG
2019 M / 1441 H
PERCOBAAN 3
FOLIUM

I. TUJUAN PENGAMATAN
Mengidentifikasi secara mikroskopik serta menyebutkan ciri khas pada
simplisia Catharanti Radix, Elephantopi Radix, Rhei Officinalis Radix dalam
bentuk serbuk.

II. TEORI DASAR


2.1 Definisi Folium
Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang,
umumnya berwarna hijau dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari
cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi
tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme
autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui konversi
energi cahaya menjadi energi kimia (Sutarmi, 1983).
Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab
disitu terjadi proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi
tumbuhan. Hasil fotosintesis akan didistribusikan ke seluruh organ untuk
pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti organ lain dari tumbuhan
karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan sinar dan
klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun
mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti
ketersediaan air, adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan
juga berpengaruh terhadap struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).
Daun yang lengkap terdiri atas helai daun (lamina), tangkai daun (petiolus),
dan pelepah daun (vagina). Bentuk dan ukuran daun berbiji sangat bervariasi.
Seperti halnya batang dan akar, daun juga tersusun atas beberapa sistem jaringan
yaitu jaringan pelindung, jaringan dasar yang menyusun mesofil daun, jaringan
pengangkut (Savitri, 2008).
Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk
terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai dun atau panjangannya.
Sumbu bersama itu disebut rakis. Jika anak daun muncul disisi lateral dari rakis,
daun disebut majemuk bersirip, dan kalau semua anak daun muncul di ujung rakis
yang amat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai daun
bersama, maka daun seperti itu disebut daun majemuk menjari (Tjitrosoepomo,
1993).
2.2 Morfologi Daun
Morfologi daun sangat bervariasi pada group tanaman yang berbeda, beberapa
tanaman primitif daunya merupakan perluasan secara lateral dari tumbuh dimana
epidermis batang dan pada beberapa tanaman paku-pakuan dan tanaman berbiji
kemungkinan merupakan sistem cabang dengan komponen yang bergabung
sebagian besar daun tanaman dikotil dan monokotil pasti phyllase yaitu: berupa
petiole yang pipih dan meluas dan disokong dengan petiole (Heddy, 1987).

2.3 STRUKTUR ANATOMI DAUN


Terdapat 3 struktur jaringan penyusun dari daun, diantaranya jaringan
epidermis, jaringan mesofil, dan jaringan pengangkut.
2.3.1. JARINGAN EPIDERMIS
Epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari
zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Pada epidermis terdapat stomata
(mulut daun) yang diapit oleh dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di
permukaan atas saja, misalnya pada tumbuhan yang daunnya terapung (pada daun
teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula yang terdapat di kedua
permukaan daun (atas dan bawah). Tanaman Ficus mempunyai epidermis yang
tersusun atas dua lapis sel. Alat-alat tambahan yang terdapat di antara epidemis
daun, antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas (Mulyani, 2006).
Epidermis daun dari tumbuhan yang berbeda beragam dalam hal jumlah
lapisan, bentuk, struktur, susunan stomata, penampilan, dan susunan trikoma, serta
adanya sel khusus. Struktur dalamnya biasanya berbentuk pipih. Daun memiliki
dua jenis jaringan epidermis yaitu permukaan atas daun disebut permukaan
adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan abaksial. Pada lapisan ini tidak
ada ruang antar sel.
Di antara sel epidermis terdapat sel penjaga yang membentuk stomata. Struktur
stomata yang dapat membuka dan menutup ini berfungsi sebagai tempat
terjadinya pertukaran gas dan air. Sifat terpenting pada jaringan daun ini adalah
susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula serta stomata (Campbel, 2005).

2.3.2. JARINGAN MESOFIL


Mesofil merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas
dan epidermis bawah dan diantara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas
parenkim yang relative homogen atau berdifferensiasi menjadi parenkim palisade
dan parenkim spons. Sesuai dengan fungsinya, parenkim mesofil merupakan
daerah fotosintesis utama karena mengandung kloroplas (Sutrian, 2004).
Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat
berjajar seperti pagar. Parenkim palisade umumnya dijumpai pada lapisan atas
daun, menempati sampai ½ hingga 2/3 mesofi, tetapi dapat pula dijumpai pada
kedua sisi permukaan daun. Jumlah lapisan sel palisade dapat satu lapis atau lebih
(Hidayat, 1995).
Mesofil terdiri atas jaringan parenkim yang terdapat di sebelah dalam
epidermis. Mesofil mengalami diferensiasi membentuk jaringan fotosintetik yang
berisi kloroplas. Pada kebanyakan tumbuhan terdapat dua jenis parenkim dalam
mesofil, yaitu parenkim palisade dan parenkim spons.
a. Parenkim Palisade
Sel parenkim palisade memanjang dan pada penampang melintangnya tampak
berbentuk batang yang tersusun dalam deretan. Pada tumbuhan tertentu, sel
palisade berbeda bentuknya. Pada Lilium terdapat lobus besar pada sel palisade
dan tampak bercabang (Fahn, 1991).
Sel palisade terdapat di bawah epidermis unilateral (selapis) atau multilateral
(berlapis banyak). Seringkali terdapat hipodermis di antara epidermis dan jaringan
palisade. Sel parenkim palisade tersusun atas satu atau lebih lapisan. Apabila
tersusun lebih dari satu lapisan, panjang sel pada tiap lapisan atau sama, atau
malah semakin ke tengah semakin pendek. Jaringan palisade biasanya terdapat
pada permukaan abaksial daun.

Meskipun jaringan palisade tampak lebih rapat, sisi panjang selnya saling terpisah
sehingga udara dalam ruang antarsel tetap mencapai sisi panjang; kloroplas pada
sitoplasma melekat di tepi dinding sel itu. Hal tersebut mengakibatkan proses
fotosintesis dapat berlangsung efesien (Kertasapoetro, 1991).
b. Perenkin Spons
Jaringan spons terdiri dari sel bercabang yang tak teratur bentuknya. Bentuk
sel parenkim spons dapat berbentuk bermacam-macam. Kekhususannya adalah
adanya lobus (rongga) yang terdapat antara sel satu dan lainnya. Membedakan
antara sel parenkim palisade dengan parenkim spons tidaklah selalu mudah,
khususnya apabila parenkim palisade terdiri atas beberapa lapisan.
Alasannya adalah apabila palisade terdiri atas beberapa lapisan, biasanya
lapisan paling dalam sangat mirip dengan parenkim spons yang ada di dekatnya
(Mulyani, 2006).

2.3.3. JARINGAN PENGANGKUT


Berkas pengangkut ini biasanya terbagi menjadi 2 jenis yaitu, xylem dan
floem. Sel berkas pengangkut ini berdinding tipis untuk memudahkan terjadinya
transpor antar sel, mungkin memiliki kloroplas seperti mesofil. Sering kali
terdapat kristal. Kebanyakan daun Dikotil, parenkim berkas pengangkut
memperluas ke arah epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel yang mencapai
arah epidermis ini berfungsi dalam pengangkutan pada daun. Bukan hanya pada
daun Dikotil saja yang memiliki berkas pengangkut akan tetapi berkas pengangkut
juga terdapat dalam daun Monokotil (Campbel, 2005).

2.4 Fungsi Daun


2.5 Kandungan kimia yang ada di dalam daun
Pada umumnya, kumis kucing memiliki kandungan kimia berupa
alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol (Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 1987), zat samak, orthosiphon glikosida, minyak lemak,
sapofonin, garam kalium (0,6-3,5%) dan myoinositol(Hariana, 2005), serta
minyak atsiri sebanyak 0,02-0,06 % yang terdiri dari 6 macam
sesquiterpenesdan senyawa fenolik, glikosida flavonol, turunan asam kaffeat.
Hasil ekstraksi daun dan bunga Orthosiphon stamineus Benth. Ditemukan
methylripariochromene A atau 6-(7, 8-dimethoxyethanone). Juga ditemukan 9
macam golongan senyawa flavon dalam bentuk aglikon, 2 macam glikosida
flavonol, 1 macam senyawa coumarin,scutellarein, 6-hydroxyluteolin, sinensetin
(Yulaikhah, 2009).

III. PROSEDUR PERCOBAAN


Pada uji mikroskopik folium ini, akan diamati satu preparat folium yaitu,
Orthosiphonis staminei folium; Abri folium; Psidii guajavae folium; Sericocalysis
crispi folium; Sonchi arvensidis folium; Piperis betle folium; Blumeae
balsamiferae folium; Guazumae ulmifoliae folium. Pada pengamatan uji
mikroskopik ini dilakukan dengan mengguanakan reagen kloral hidrat Hal yang
pertama dilakukan untuk melakukan pengamtan adalah disiapkan dahulu kaca
objek yang akan digunakan, kemudian dibersihkan dan dikeringkan dengan
menggunakan tissu. Setelah itu, diteteskan reagen kloral sebanyak 2 tetes, lalu
diambil sedikit preparat folium dengan menggunakan jarum , lalu dicampurkan ke
reagen yang berada diatas kaca objek, dicampurkan folium dan juga reagen
dengan menggunakan jarum sampai merata, lalu ditutup preparat dengan kaca
penutup, kemudian diletakkan dimeja mikroskop dan dijepit dengan penjepit
mkroskop setelah itu diamati apakah dipreparat tersebut ditemukan fragmen-
fragmen yang penyusunnya.

IV. ALAT DAN BAHAN


Alat Bahan
Mikroskop Abri folium
Pipet tetes Blumeae balsamiferae folium

Gelas kimia Guazumae ulmifoliae folium

Kaca objek Kloral Hidrat

Kaca penutup Orthosiphonis staminei folium

Jarum preparat Psidii guajavae folium

- Piperis betle folium

- Sericocalysis crispi folium

- Sonchi arvensidis folium

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1 Hasil Pengamatan Mikroskopik
Simplisia Hasil Pengamatan
Orthosiphonis Staminei Folium
Nama Latin : Orthoshipon aristatus B
Terdapat
Reagen: Kloral Hidrat fragmen
epidermis
Pembesaran: 40x
atas

Orthosiphonis Staminei Folium


Nama Latin : OrthoshiponTerdapat
aristatus B
fragmen
Reagen: Kloral Hidrat epidermis
Pembesaran: 40x bawah dengan
ditandai
adanya
stomata

Orthosiphonis Staminei Folium


Nama Latin : OrthoshiponTerdapat
aristatus B
fragmen
Reagen: Kloral Hidrat rambut
Pembesaran: 4x penutup

Orthosiphonis Staminei Folium


Nama Latin : OrthoshiponTerdapat
aristatus B
fragmen
Reagen: Kloral Hidrat mesofil
Pembesaran: 40 x
Orthosiphonis Staminei Folium
Nama Latin : Orthoshipon Terdapat
aristatus B
pembuluh
Reagen: Kloral Hidrat kayu
Pembesaran: penebalan
tangga

Abri Folium
Terdapat
Nama Latin : Abrus precatorius Linn
fragmen
Reagen: : Kloral Hidrat epidermis atas
Pembesaran: 10x

Abri Folium
Terdapat
Nama Latin : Abrus precatorius Linn
hablur kalsium
Reagen: : Kloral Hidrat oksalat pada
Pembesaran: 10x tulang daun

Abri Folium
Terdapat
Nama Latin : Abrus precatorius Linn
fragmen
Reagen: : Kloral Hidrat palisade
Pembesaran: 10x
Abri Folium
TerdapatLinn
Nama Latin : Abrus precatorius
fragmen
Reagen: : Kloral Hidrat rambut
Pembesaran: 10x penutup

Abri Folium
TerdapatLinn
Nama Latin : Abrus precatorius
fragmen
Reagen: : Kloral Hidrat epidermis
Pembesaran: 10x bawah dengan
ditandai
adanya
stomata

Psidii Guajavae Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:
Sericocalysis Crispi Folium
Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:
Sonchi Arvensidis Folium Terdapat Berkas Pembuluh Sonchi
Nama Latin : Sonchus arvensis L.
arvensidis Folium, Perbesaran 40x
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran: 40x

Terdapat Epidermis atas Sonchi


arvensidis Folium
Perbesaran 40x
Piperis Betle Folium
Nama Latin : Piper Betle L.
Terdapat Sel
Reagen: Kloral Hidrat minyak Piperis
Pembesaran: 40x betle Folium
Perbesaran
40x

Terdapat
Pembuluh
kayu Piperis
betle Folium
Perbesaran
40x

Terdapat
permukaan
daun bagian
atas Piperis
betle Folium
Perbesaran
40x
Blumeae Balsamiferae Folium
Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Guazumae Ulmifoliae Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Simplisia Hasil Pengamatan


Orthosiphonis Staminei Folium
Nama Latin : Orthoshipon aristatus B

Abri Folium
Nama Latin : Abrus precatorius Linn

Psidii Guajavae Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:
Sericocalysis Crispi Folium
Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Sonchi Arvensidis Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Piperis Betle Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Blumeae Balsamiferae Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:

Guazumae Ulmifoliae Folium


Nama Latin :
Reagen: Kloral Hidrat
Pembesaran:
5.2 Pembahasan
Praktikum ini dilakukan identifikasi terhadap simplisia, dengan tujuan praktikan
mampu melakukan identifikasi simplisia secara makroskopik maupun
mikroskopik. Secara makroskopik maksudnya dengan percobaan organoleptis
melalui bau, rasa, warna, dan juga bentukan secara luar, yang dapat dilihat dengan
indra. Sedangkan secara mikroskopik maksudnya dilakukan dengan bantuan
mikroskop sehingga praktikan dapat melihat bentukan spesifik yang dimiliki oleh
simplisia tersebut sehingga nantinya kita dapat membedakan antara yang satu
dengan yang lainnya yang kemudian akan dibandingkan antara simplisia yang ada
dalam hasil pengamatan dengan literature. Pada uji mikroskopik folium ini,
digunakan simplisia Orthosiphonis staminei folium; Abri folium; Psidii guajavae
folium; Sericocalysis crispi folium; Sonchi arvensidis folium; Piperis betle
folium; Blumeae balsamiferae folium; Guazumae ulmifoliae folium.
Pada pengamatan uji mikroskopik ini dilakukan dengan mengguanakan reagen
kloral hidrat Hal yang pertama dilakukan untuk melakukan pengamtan adalah
disiapkan dahulu kaca objek yang akan digunakan, kemudian dibersihkan dan
dikeringkan dengan menggunakan tissu, supaya tidak terjadi kontaminasi. Setelah
itu, diteteskan reagen kloral hidrat, Kloral hidrat digunakannya untuk membantu
menghilangkan butir pati dan senyawa larut air yang menghalangi pengamatan
keberadaan kristal kalsium oksalat., lalu diambil sedikit preparat folium dengan
menggunakan jarum , digunakan dengan menggunakan jarum supaya rata tidak
terjadi penumpukan serbuk simplisia. lalu dicampurkan ke reagen yang berada
diatas kaca objek, dicampurkan folium dan juga reagen dengan menggunakan
jarum sampai merata, lalu ditutup preparat dengan kaca penutup, kemudian
diletakkan dimeja mikroskop dan dijepit dengan penjepit mkroskop setelah itu
diamati apakah dipreparat tersebut ditemukan fragmen-fragmen yang
penyusunnya.

a. Klasifikasi Orthosiphonis Staminei Folium


Nama lain : daun kumis kucing
Kerajaan : plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : magnoliopsida
Bangsa : Lamiales
Suku : Lamiaceae
Marga : Orthosiphon
Jenis : Orthoshipon aristatus B
Isi : Daun kumis kucing mengandung minyak atsiri 0,02
-0,06%, glikosida flavonol, flavonoid, garam klasium,
orthosiponin glycosides, saponin, dan terpenoid.
Pemerian : Berupa serpihan daun dan tangkai baik. bersama maupun
terpisah, warna hijau kecokelatan, tidak berbau, rasa agak
pahit, rapuh, bentuk bundar telur, lonjong, belah ketupat
memanjang atau bentuk lidah tombak, ujung lancip atau
tumpul, panjang 2-12 cm, Iebar 1-8 cm. Tangkai daun
persegi, warna agak ungu, panjang kurang lebih I cm. Helai
daun dengan tepi bergerigi kasar tidak beraturan, kadang-
kadang beringgit tajam dan mengulung ke bawah, ujung
daun dan pangkal daun meruncing. Tulang daun menyirip
halus dan bercabang sedikit.
Mikroskopik : Fragmen pengenal adalah epidermis dengan rambut
penutup, epidermis atas dengan sisik kelenjar, rambut
penutup, epidermis bawah dengan stomata dan berkas
pengangkut penebalan spira.
Morfologi : Herba tumbuh tegak, biasanya bagian bawah berakar di
bagian buku-bukunya, tinggi 1-2 m, batang segi empat agak
beralur, berbulu pendek atau gundul. Daun tunggal, bundar
telur lonjong, lanset atau belah ketupat, berbulu halus,
pinggir bergerigi kasar tak teratur, kedua permukaan
berbintik-bintik karena ada kelenjar minyak atsiri. Bunga
berupa tanda yang keluar di ujung cabang, warna ungu
pucat atau putih, benang sari lebih panjang dari tabung
bunganya. Buah geluk berwarna coklat gelap
Manfaat : Adapun manfaat dari daun kumis kucing yaitu :
mengobati batu ginjal, asam urat, sakit pinggang, kencing
manis, hipertensi, batuk, encok, masuk angin sembelit dan
Bagian digunakan : daun (Hidayat, 2015).
Kumis kucing (ortosiphon aristatus) merupakan tanaman obat berupa
tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai
istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera),
remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman
kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah
Asia dan Australia. Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah
berakar di bagian buku-bukunya dan tingginya mencapa 1-2 m, batang segi empat
agak beralur, berbulu pendek atau gundul. Daun tunggal, bundar telur lonjong,
lanset atau belah ketupat, berbulu halus, pinggir bergerigi kasar tak teratur, kedua
permukaan berbintik-bintik karena ada kelenjar minyak atsiri. Bunga berupa tanda
yang keluar di ujung cabang, warna ungu pucat atau putih, benang sari lebih
panjang dari tabung bunganya. Buah geluk berwarna coklat gelap (Hidayat,
2015).
Pada pengamatan daun kumis kucing terdapat rambut penutup untuk
melindungi sel, terdapat juga epidermis yang bertujuan untuk melindungi organ
dari kondisi lingkungan luar tumbuhan, dan terdapat berkas pengangkut berfungsi
untuk mengangkut air dan unsur hara hasil asimilasi dari satu bagia tubuh ke
bagian yang lain.
Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen
kloral hidrat berupa adanya adanya epidermis atas, epidermis bawah, rambut
penutup, dan mesofil. Ciri-ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian tidak
sama persis dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur (Materia
Medika Indonesia Jilid VI), karena tidak ada pembuluh kayu yang mungkin tidak
terlihat oleh praktikan, kurangnya ketelitian, adapun kesalahan saat meratakan
serbuk simplisia yang digunakan pada kaca objek. Pada literatur disebutkan dalam
mikroskopik serbuk Orthoshipon aristatus ada fragmen epidermis atas dan
epidermis bawah, rambut penutup dengan kurtila bergaris dan berisi zat warna
ungu, rambut kelenjar, fragmen mesofil, pembuluh kayu dengan penebalan spiral,
tangga dan jala. Dalam litelatur ini disebutkan bau aromatik, rasa agak asin, agak
pahit dan kelat, serbuk berwarna hijau kecoklatan. Secara organoleptis sama
seperti saat pengidentifikasian sampel serbuk simplisia.

b. Klasifikasi Abri Folium


Nama lain : saga
Kerajaan : plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiosperrnae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Resales
Suku : Leguminosae
Marga : Abrus
Jenis : Abrus precatorius Linn (Inventaris Tanaman Obat
Indonesia, 1994).
Kandungan Kimia : Daun maupun akar mengandung protein, vitamin A,B1,
B6, C, kalsium oksalat, glisirizin, flisirizinat,
polygalacturomic acid dan pentosan. Daun, batang dan biji :
saponin dan flavonoid. Batang : polifenol. Biji : tannin.
Akar : alkaloid, saponin dan polifenol. Kandungan kimia
adalah luteolin, Isoorientin, L-Abrine, Precatorin I, II, III,
Abruquinone D, E, F, Abrussaponin I, II.
Kegunaan dan Khasiat: Berkhasiat sebagai obat sariawan, obat batuk dan obat
radang tenggorokan.
Morfologi Tanaman : Daunnya majemuk, berbentuk bulat telur serta berukuran
kecil-kecil. Daun Saga bersirip ganjil dan memiliki rasa
agak manis. Saga mempunyai buah polong berisi biji-biji
yang berwarna merah dengan titik hitam mengkilat dan
licin. Bunganya berwarna ungu muda dengan bentuk
menyerupai kupu-kupu, dalam tandan bunga.
Habitat dan Penyebarannya : Tumbuhan ini banyak tumbuh secara liar di hutan-
hutan, ladang-ladang atau sengaja dipelihara di
pekarangan. Tumbuh dengan baik pada daerah
dataran rendah sampai ketinggian 1000 meter di
atas permukaan laut.
Daun saga adalah anak daun Abrus precatorius dengan kadar glisirisin tidak
kurang dari 15 %. Fragmen yang ditemukan pada simplisia sampel dengan
menggunakan reagen kloral hidrat berupa hablur oksalat pada tulang daun dan
tulang daun yang menyerupai huruf Y dibawah mikroskop yang merupakan ciri
khas fragmen dari Abri folium. Ciri-ciri yang ditemukan dalam
pengindentifikasian sama dengan fragmen-fragmen yang terdapat dalam litelatur
(Heyne, K. 1987). Dalam litelatur ini disebutkan bahwa ciri fragmen pada Abri
folium secara organoleptis berupa serbuk berwarna hijau, bau lemah, rasa agak
manis. Secara mikroskopik fragmen pengenalnya adalah rambut penutup,
epidermis atas, epidermis bawah, mesofil fragmen berkas pengangkut yang
didampingi deretan sel hablur, stomata, kalsium oksalat pada urat daun.
Kegunanan dari daun saga ini antara lain adalah untuk sariawan, anti radang,
diuretik, antitusif, dan parasitisida . Fragmen yang ditemukan pada simplisia
sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat berupa adanya adanya
epidermis atas, epidermis bawah, rambut penutup, palisade, hablus kalsium
oksalat pada tulang daun, dan pembuluh kayu dengan penebalan tangga. Ciri-ciri
yang ditemukan dalam pengindentifikasian sama persis dengan fragmen-fragmen
yang terdapat dalam litelatur (Materia Medika Indonesia Jilid VI). Pada literatur
disebutkan dalam mikroskopik serbuk Abrus precatorius ada fragmen rambut
penutup, epidermis atas, epidermis bawah, mesofil fragmen bekas pengangkut
yang didampingi deretan sel hablur, stomata, kalsium pada urat daun.. Dalam
litelatur ini disebutkan bau lemah, rasa agak manis, khas, serbuk warna hijau.
Secara organoleptis sama seperti saat pengidentifikasian sampel serbuk simplisia.

c. Klasifikasi Psidii Guajavae Folium


Nama lain : Daun jambu biji
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Myrtales
Suku : Myrtaceae
Marga : Psidium L.
Jenis : Psidium Guajava L.
Isi : Buah, daun dan kulit batang pohon jambu biji
mengandung tanin, sedang pada bunganya tidak banyak
mengandung tanin. Daun jambu biji juga mengandung zat
lain kecuali tanin, seperti minyak atsiri, asam ursolat, asam
psidiolat, asam kratogolat, asam oleanolat, asam guajaverin
dan vitamin. Kandungan buah jambu biji (100 gr) - Kalori
49 kal - Vitamin A 25 SI - Vitamin B1 0,02 mg - Vitamin C
87 mg - Kalsium 14 mg - Hidrat Arang 12,2 gram - Fosfor
28 mg - Besi 1,1 mg - Protein 0,9 mg - Lemak 0,3 gram -
Air 86 gram.
Organoleptis : Bau khas aromatik, rasa kelat, serbuk berwarna hijau
keabu-abuan.
Bagian yang digunakan: Daun, biji dan kulit batang pohon.
Manfaat : Diabetes melitus, maag, diare (sakit perut), masuk angin,
beser; prolapsisani, sariawan, sakit kulit, luka baru.
Daun jambu biji adalah daun dari tumbuhan Psidium Guajava L. Fragmen yang
ditemukan pada simplisia sampel dengan menggunakan reagen kloral hidrat Ciri-
ciri yang ditemukan dalam pengindentifikasian tidak sama persis dengan fragmen-
fragmen yang terdapat dalam litelatur

d. Klasifikasi Sericocalysis Crispi Folium


Nama lain : Daun kejibeling
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Scrophulariales
Suku : Acanthaceae
Marga : Strobilanthes
Jenis : Sericocalyx crispus L.
Isi : Mengandung zat-zat kimia antara lain: kalium, natrium,
kalsium, asam silikat, alkaloida, saponin, flavonoida, dan
polilenoi.
Organoleptis : Bau lemah, rasa agak sepat dan agak pahit, serbuk
berwarna hijau sampai hijau kelabu.
Bagian yang digunakan: Daun
Manfaat : Batu ginjal, kencing manis, disuria, diare, penurun
kolesterol.

e. Klasifikasi Sonchi Arvensidis Folium


Nama lain : Daun tempuyung
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Asterales
Suku : Asteraceae
Marga : Sonchus
Jenis : Sonchus Arvensis L
Isi : Manitol, inositol, silika, kalium, dan flavonoid
Organoleptis : Bau lemah, rasa agak kelat, serbuk berwarna hijau sampai
hijau kelabu.
Mikroskopik : Fragmen pengenal adalah fragmen epidermis atas dengan
dinding samping umumnya agak menggelombang.
Bagian yang digunakan : Daun
Manfaat : Sebagai penghancur batu ginjal
Kandungan Kimia : α-laktoserol, mannitol, inositol, silica, kalium, flavonoid, dan
taraxasterol.
Morfologi tanaman :
 Morfologi Batang Tempuyung:
Batang tanaman tempuyung berlubang dan bergetah yang warnanya hijau, serta
terdapat bulu-bulu di batangnya. Batang tempuyung ini berbentuk bulat dan lunak,
serta tinggi tanaman tempuyung sekitar 65 sampai 150 cm.
 Morfologi Daun Tempuyung:
Daun tanaman tempuyung adalah daun tunggal yang berbentuk lonjong. Ujung
daun ini meruncing, tepi daun berombak dan bergigi tidak beraturan, permukaan
daun licin serta daun berwarna hijau keunguan.
Daun tempuyung memiliki Panjang sekitar 6 sampai 48 cm dengan lebar 3 sampai
12 cm. Helaian daunnya berbentuk lanset atau lonjong, bagian ujungnya
meruncing, bagian pangkal berbentuk seperti jantung serta tepi daun menyirip tak
beraturan.
Daun tempuyung di bagian bawah terpusat membentuk roset sedangkan di bagian
atas letaknya berselang seling memeluk batang. Daun di bawah inilah yang
berkhasiat bagi kesehatan. Daun tempuyung yang muncul dari tangkai bunga
berbentuk lebih kecil dengan pangkalnya memeluk batang.
Hasil identifikasi Sonchi Arvensidis Folium atau daun tempuyung secara
mikroskopis dengan menggunakan mikroskop perbesaran 40x didapatkan fragmen
penyusun berupa Epidermis atas dengan stomata tipe anisositik, Berkas
pembuluh. Hasil uji mikroskopik tidak sesuai dengan literatur karena menurut
literatur Farmakope Herbal Indonesia Edisi 1 (2008), menyatakan bahwa fragmen
pengenal yang berada pada simplisia Sonchi Arvensidis Folium terdiri dari
epidermis bawah dengan dinding samping lebih bergelombang, rambut kelenjar
dan stomata.
Jika dibandingkan dengan literatur, tidak semua fragmen penyusun
didapatkan, ada beberapa fragmen yang belum ditemukan, hal tersebut terjadi
karena kesalahan dari praktikan yang tidak teliti ketika melakukan pengamatan,
dan juga karena preparat yang tidak tersebar menyebabkan fragmen penyusun
menumpuk sehingga sulit teridentifikasi.

f. Klasifikasi Piperis Betle Folium


Nama lain : Daun Sirih
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Bangsa : Piperales
Suku : Piperaceae
Marga : Piper
Jenis : Piper betle L.
Isi : Minyak atsiri yang mengandung Fenol khas yang disebut
betelfenol atau aseptosol.
Mikroskopik : Epidermis terdiri dari 1 lapis sel, bentuk persegi empat,
kutikula tebal licin. Epidermis bawah serupa dengan
epidermis atas. Pada kedua permukaan daun terdapat
rambut penutup dan rambut kelenjar
Bagian yang digunakan : Daun
Manfaat : Dapat mengatasi alergi, gatal, dan bau badan.
Kandungan Kimia : Saponin, Flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri. Kandungan
saponin dan flavonoid berkhasiat sebagai obat batuk.

Morfologi tanaman :
 Morfologi Akar Sirih:
Akar tanaman sirih adalah akar tunggang yang berbentuk bulat dan berwarna
cokelat kekuningan.
 Morfologi Batang Sirih:
Tanaman Sirih adalah tanaman yang tumbuh memanjat/merambat dengan tinggi
tanaman 5-15 cm. Batang tanaman sirih berbentuk bulat, bersulur dan beruas
dengan jarak antar buku kira-kira 5-10 cm, di setiap buku-buku ini akan tumbuh
calon akar. Batang sirih berwarna cokelat kehijauan.
 Morfologi Daun Sirih:
Helaian daun sirih berbentuk bulat oval atau bulat telur. Bagian pangkal daun
berbentuk menyerupai jantung atau agak bulat, tulang daun bagian bawah tidak
berbulu atau berbulu tetapi sangat pendek, tebal dan berwarna putih. Lebar daun
2,5-10,5 cm dan Panjang daun 5-18 cm.
Hasil identifikasi Piperis Betle Folium atau daun sirih secara mikroskopis dengan
menggunakan mikroskop perbesaran 40x didapatkan fragmen penyusun berupa
Sel minyak, Pembuluh kayu, dan permukaan daun bagian atas Piperis betle
Folium. Hasil uji mikroskopik sesuai dengan literatur karena menurut literatur
Farmakope Herbal Indonesia Edisi 1 (2008), menyatakan bahwa fragmen
pengenal yang berada pada simplisia Piperis Betle Folium terdapat banyak pada
epidermis bawah dan pada epidermis atas tidak terdapat stomata, terdapat sel
minyak yang berisi minyak atsiri berwarna kekuningan pada bagian hipodermis.
Jika dibandingkan dengan literatur, tidak semua fragmen penyusun
didapatkan, ada beberapa fragmen yang belum ditemukan, hal tersebut terjadi
karena kesalahan dari praktikan yang tidak teliti ketika melakukan pengamatan,
dan juga karena preparat yang tidak tersebar menyebabkan fragmen penyusun
menumpuk sehingga sulit teridentifikasi.
g. Klasifikasi Blumeae Balsamiferae Folium
Nama lain :
Kerajaan :
Divisi :
Kelas :
Bangsa :
Suku :
Marga :
Jenis :
Isi :
Organoleptis :
Bagian yang digunakan:
Manfaat :

h. Klasifikasi Guazumae Ulmifoliae Folium


Nama lain :
Kerajaan :
Divisi :
Kelas :
Bangsa :
Suku :
Marga :
Jenis :
Isi :
Organoleptis :
Bagian yang digunakan:
Manfaat :

VI. KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Heddy S, 1987. Biologi pertanian. Rajawali, Press Jakarta.


Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan
Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press.
Sutarmi. 1983. Botani Umum 1. Jakarta: Gramedia.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press.

Anonim.1980. materia medika indonesia. Jakarta : Depkes RI.


Agustina. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta: Jakarta.
Dalimartha, S. 2005. Tanaman Obat di Lingkungan Sekitar. Jakarta:Penerbit
Puspa Swara.
Canto-Canché, B.B., Meijer, A.H., Collu, G., Verpoorte, R. 2004.
Characterization of a polyclonal antiserum against the monoterpene
monooxygenase, geraniol 10-hydroksilase from catharanthu roseus.
Journal of Plant Physiology.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press.
Hidayat. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB.
Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB.
Loveles A.R. 1998. Prinsip-prnsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik.
Jakarta: Gramedia.
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius
Newall C. 1997. Herbal Medicines: A Guide for Health-Care Professionals.
2nded. London: Pharmaceutical Press. p. 1912
Sutrian, Yayan. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan
Jaringan. Jakarta : PT Rineka Cipta.
Tim Penyusun Farmakognosi Studi Farmasi. (2017). Petunjuk praktikum
farmakognosi. Bandung : UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG.
Tjitrosoepomo, Gembong. 1985. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: UGM.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Manusia, Jilid 1: Jakarta, PT
Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara
Soenanto, H dan Sri Kuncoro, 2005, Hancurkan Batu Ginjal Dengan Ramuan
Herbal, Puspa Swara, Jakarta, 7-10.
Muthoharoh, Layin. 2011. Analisis Berbagai Pigmen Daun Sirih Hijau (Piper
betle L.) dan Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) Berdasarkan
Umur Fisiologis Daun. Universitas Negeri Malang. Malang.
Fitri Kusuma ,S.R, dkk, 2009, Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Sirih Merah (Piper
crocatum) Terhadap Trichomonas vaginalis, Fakultas Farmasi
Universitas Padjadjaran, Bandung Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia