Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI KESAMBEN DENGAN BIOINDIKATOR

(MAKROZOBENTHOS)

Makalah
Untuk memenuhi tugas matakuliah Pencemaran Lingkungan
yang dibina oleh Dr. H. Sueb, M.Kes & Yunita Rakhmawati, S. Gz., M. Kes.
Disajikan pada Selasa, tanggal 6 Februari 2020

Disusun Oleh:
Delia Wahyu Pangesti 170342615504

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2020
PENDAHULUAN

Air sangat penting bagi kehidupan. Jumlah air tawar di bumi terbatas, dan kualitasnya di
bawah tekanan konstan. Menjaga kualitas air tawar penting untuk pasokan air minum, produksi
makanan, dan penggunaan air rekreasi. Kualitas air dapat dikompromikan dengan kehadiran agen
infeksi, bahan kimia beracun, dan bahaya radiologis [1].Sumber kehidupan ini persediaannya
terbatas dan semakin hari semakin tercemar oleh kegiatan manusia, namun masih terlalu banyak
orang yang tidak mempunyai akses ke air. Sekalipun air merupakan sumber daya yang terbatas,
konsumsi air telah meningkat dua kali lipat dalam 50 tahun terakhir dan kita gagal mencegah
terjadinya penurunan mutu air. Pada saat yang sama, jarak antara tingkat pemakaian air di negara
kaya dan negara miskin semakin dalam saat ini 1,2 milyar penduduk dunia tidak mempunyai akses
ke air bersih dan hampir dua kali dari jumlah itu tidak mempunyai fasilitas sanitasi dasar yang
memadai [2].
Faktor pendorong yang mempengaruhi kualitas air sungai di Blitar adalah laju
pertumbuhan penduduk yang tinggi dan factor kemiskinan. Laju pertumbuhan penduduk setiap
tahunnya, Setiap tahun jumlah penduduk kota Blitar mengalami peningkatan setiap tahunnya.
Perkembangan jumlah rumah tangga penduduk miskin tersebut tidak mampu untuk mempunyai
rumah yang layak, sehingga timbul pemukiman kumuh. Adanya pemukiman kumuh ini
mengakibatkan tidak optimalnya pengelolaan limbah domestic[3].
Berdasarkan informasi kinerja lingkungan hidup kota blitar tahun 2018, Nilai BOD di
bagian hilir sungai tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan bagian hulu sungai tersebut.
Hal ini menunjukkan adanya zat pencemar yang masuk ke dalam badan sungai tersebut, sehingga
mencemari sungai. Sedangkan pada bagian hulu sungai, nilai DO nya masih tinggi jikan
dibandingkan bagian hilir[3].
Parameter untuk mengukur tingakat pencemaran ada 3, fisika kimia biologi, dengan
menggunakan bioindikator dapat mengetahui tingkat pencemaran berdasarkan organisme yang
hidup disekitar sungai seperti tanaman, plankton, hewan, dan mikroba, untuk mengetahui tingkat
pencemaran air dapat mengggunakan identifikasi makrozoobentos, Bentos merupakan makhluk
hidup yang memiliki sifat menempel pada suatu substrat. Bentos yang sering dugunakan untuk
melakukan pengukuran kualitas perairan adalah makrozoobentos dan alga. Berdasarkan uraian di
atas maka perlu dilakukan analisis kualitas air sungai Kesamben didapatkan rumusan masalah
sebagai berikut.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana kualitas air sungai Kesamben berdasarkan keberadaan makrozobenthos?
Tujuan
1. Untuk menetahui kualitas air sungai Kesamben berdasarkan keberadaan
makrozobenthos.
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian deskriptif karena dilakukan untuk memperoleh data tentang
keanekaragaman jenis Makrozoobentos di sungai Kesamben. Penelitian deskriptif juga bertujuan
untuk mendefinisikan variabel penelitian dan untuk menjawab rumusan masalah yang ada[4].
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Sungai Kesamben, Blitar antara bulan Februari-Maret 2020.
Berikut ini merupakan lokasi pengambilan data

Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah semua makrozoobentos di sungai Kesamben, Blitar.
Sampel
Sampel dalam penelitian yaitu makrozobenthos pada tiga titik lokasi pengambilan sampel.
Teknik Sampling
Pengambilan sampling makrozoobentos dilakukan menggunakan metode purposive
random sampling dengan menentukan tiga stasiun penelitian dan ulangan pada setiap stasium
sebanyak tiga kali.
Prosedur
Proses pengambilan sampel di setiap titik dilakukan pengeplotan dengan sebanyak 3 kali
di setiap titik pengamatan.Pengambilan Sampel Makrozoobentos menggunakan jaring bentos
model surber dengan ukuran 30 cm x 30 cm. Sampel yang telah didapatkan dituangkan ke dalam
nampan plastik, kemudian disaring dengan saringan, kemudian diamati menggunakan mikroskop
untuk diidentifikasi.

Analisis
Data yang diperoleh, diolah dengan menghitung kepadatan populasi dan kepadatan relativ,
kemudian dihitung nilai indeks keanekaragaman jenis, keseragaman jenis, dan dominansi jenis
menggunakan rumus Shannon-wiener[5]

Daftar Rujukan

[1] World Health Organization, Health Topic Water.

[2] Herlambang PENCEMARAN AIR DAN STRATEGI PENGGULANGANNYA Peneliti


Pusat Teknologi Lingkungan, BPPT 2006.

[3] Berdasarkan informasi kinerja lingkungan hidup kota blitar tahun 2018, Jl Pemuda
Soempono Kel. Gedog Kec. Sananwetan
[4] Bishop R 2010 Applications of fluorescence in situ hybridization (FISH) in detecting
genetic aberrations of medical significance Biosci. Horizons 3 85–95
[5] FITRIANA Y R 2006 Diversity and abundance of macrozoobenthos in mangrove
rehabilitation forest in Great Garden Forest Ngurah Rai Bali Biodiversitas, J. Biol.
Divers. 7 67–72