Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PRAKTIKUM BIOTEKNOLOGI

KULTUR ANTHER BUNGA DADAP MERAH


(Erythria voriegata)

Disusun oleh :
Muflikhatul A’la
17030244011

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2019

0
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kultur jaringan adalah salah satu metode perbanyaan tanaman
secara vegetatif dengan cara menumbuhkan bagian-bagian tertentu dari
tanaman seperti sel, jaringan dan organ dalam kondisi yang aseptis dan
dilakukan secara in vitro. Kultur jaringan merupakan teknik yang
digunakan untuk menumbuhkembangbiakkan bagian tanaman yang
dikondisikan dalam kultur yang aseptik, penggunaan media kultur buatan
dengan kandungan nutri yang lengkap dan zat pengatur tumbuh serta
kondisi ruang kultur yang suhu dan pencahayaannya dikontrol pada
keadaan yang stabil (Lestari, 2011). Kebutuhan benih yang meningkat
seringkali terhambat karena perbanyakan konvensional yang sangat sulit
dan membutuhkan waktu relatif lama. Teknologi kultur jaringan inilah
pilihan yang sangat menjanjikan untuk pemenuhan bibit tanaman yang
akan dieksploitasi secara luas (Mariska, 2002).
Perkembangan teknik kultur jaringan dimulai ketika Schwann dan
Schleiden mengemukakan teori totipotensi. Kemudian dikembangkan
suatu teknik yang disebut kultur jaringan. Perkembangan teknik kultur
jaringan semakin berkembang dengan adanya penemuan hormon auksin
sintesis IAA yang membuka peluang besar bagi perkembangan kultur
jaringan. Kultur jaringan mengalami perkembangan yang pesat selama dua
dekade terakhir dan memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ahli
pertanian,pemuliaan tanaman, botani, biologi molekular, biokimia
penyakit tanaman, dan sebagainya. Kultur jaringan sedemikian besar
mempengaruhi bidang pertanian dan pemuliaan tanaman maka dapat
diprediksi bahwa penelitian tentang kultur jaringan dan aplikasi teknik ini
semakin lama akan semakin meningkat (Wulandari dan Sukma, 2014).
Kultur jaringan digunakan dalam perbanyakan tanaman secara
klonal untuk perbanyakan secara masal. Keuntungan pengadaan bibit
secara kultur jaringan adalah diperoleh bahan tanaman yang unggul dalam
jumlah yang banyak dan seragam, selain itu teknik kultur jaringan juga

1
akan diperoleh biakan yang steril (mother stock) sehingga dapat digunakan
sebagai bahan untuk perbanyakan selanjutnya. Untuk mendapatkan hasil
yang optimum maka penggunaan media dasar dan zat pengatur tumbuh
yang tepat sehingga aktivitas pertumbuhan jugaakan meningkat (Lestari,
2011).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka
dibuat rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara pembuatan media Murrashige and Skoog (MS)?
2. Bagaimana teknik isolasi dan inokulasi anther bunga Dadap Merah
(Erythria voriegata)?
3. Bagaimana pengaruh ZPT terhadap pertumbuhan anther bunga Dadap
Merah (Erythria voriegata) ?
C. Tujuan Praktikum
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui bahwa tujuan
dilakukan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui cara pembuatan media Murrashige and Skoog (MS).
2. Mengetahui teknik isolasi dan inokulasi anther bunga Dadap Merah
(Erythria voriegata).
3. Mengetahui pengaruh ZPT terhadap pertumbuhan anther bunga Dadap
Merah (Erythria voriegata).

2
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kultur Jaringan Tanaman


Kultur jaringan tumbuhan adalah suatu metode untuk mengisolasi
bagian-bagian tanaman seperti sel, jaringan atau organ kemudian
menumbuhkannya secara aseptis (suci hama) diatas suatu medium
budidaya sehingga bagian-bagian tanmana tersebut dapat memperbanyak
diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap (Planlet). Dalam kultur
jaringan digunakan suatu teknik untuk mengisolasi sel, protoplasma,
jaringan dan organ serta menumbuhkan bagian tersebut pada nutrisi yang
mengandung zat pengatur tumbuh tanaman sehingga bagian-bagian
tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman
sempurna kembali (Rusdianto & Indrianto, 2012).
Prinsip utama yang digunakan dalam kultur jaringan tanaman
adalah perbanyakan tanaman menggunakan bagian jaringan tanaman
meliputi jaringan akar, tunas, pollen dan sebagainya menjadi tanaman
utuh (sempurna) dalam kondisi invitro (didalam gelas), menggunakan
media buatan yang dialkuakn ditempat steril. Kultur jaringan tanaman
diterapkan pula prinsip penanaman sel-sel yang telah diisolasi dari
jaringan atau potongan kecil jaringan secara invitro dalam medium biakan.
Penerapan teknologi kultur jaringan tanaman telah terbukti dapat
digunakan sebagai teknologi pilihan yang sangat menjanjikan untuk
pemenuhan bibit tanaman yang akan diekploitasi secara luas (Mariska,
2002).
Manfaat yang dapat diperoleh dari kultur jaringan adalah bibit
dapat diproduksi dalam jumlah yang besar, seragam , bebas hama dan
penyakit serta penyediaanya secara kontinyu. Teknik kultur jaringan juga
memungkinkan adanya manipulasi sel dan molekul untuk memperbaiki
sifat tanaman serta mempertinggi produksi dan kualitasnya (Lawalata,
2011).
Pemanfaatan teknik kultur jaringan telah berkembang begitu pesat
untuk berbagai kepentingan kepentingan. Bidang agribisnis memanfaatkan

3
teknik kultur jaringan tumbuhan untuk menghasilkan bibit dalam jumlah
yang sangat banyak dalam waktu yang relatif singkat, tidak bergantung
iklim, bebas dari hama penyakit sehingga dapat dikirim kemana saja (bebas
karantina) dan keturunan yang dihasilkan sama dengan induknya
(Manuhara, 2014 dalam Indriani, dkk., 2016).
Tujuan dan manfaat kultur jaringan lainnya adalah pengadaan bibit,
penyediaan bibit bebas virus/ penyakit, berperan dalam program
pemuliaan tanaman, membantu proses konservasi dan preservasi plasma
nutfah yang termasuk didalamnya adalah embryo rescue, produksi senyawa
kimia untuk farmasi, industri makanan dan kosmetik. Pengadaan bibit pada
suatu tanaman akan dieksploitasi secara besar-besaran dalam waktu yang
cepat akan sulit dicapai apabila dilakukan dengan teknik konvensional
sehingga teknik kultur jaringan merupakan alternatif solusi yang tepat
untuk menyelesaikan masalah ini. Selain teknik kultur jaringan memiliki
keunggulan antara lain identik dengan induknya, menghasilkan bibit secara
massal dan hemat tempat, waktu yang dibutuhan relatif singkat, mutu bibit
lebih terjamin dan kecepatan tumbuh bibit lebih cepat. Kultur jaringan
dapat membantu program pemuliaan tanaman untuk menghasilkan
tanaman yang lebih baik melalui keragaman somaklonal, kultur haploid,
embryo recue, seleksi in vitro, fusi protoplas, transformasi gen, rekayasa
genetika tanaman dan sebagainya (Ekosari, 2015).
Kultur jaringan tanaman didasari oleh beberapa teori diantaranya
adalah teori sel dan teori totipotensi sel. Teori sel menyatakan bahwa
semua organisme hidup terdiri dari sel yang memiliki nukleus. Sel
menentukan struktur maupun fungsi semua organisme hidup, baik tingkat
rendah maupun tingkat tinggi. Suatu sel dapat mengalami pembelahan dan
mempunyai suatu sistem tersendiri. Sel dari suatu organisme multiseluler
dimanapun letaknya, sifatnya hampir sama dengan sel zigot. Teori sel juga
mengatakan bahwa setiap sel berasal dari sel (omni cellula e cellula). Sel
mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan serta diferensiasi
(Ekosari, 2015).
Teori kedua yang mendukung terciptanya teknik kultur jaringan
adalah teori totipotensi (Total genetic potential). Teori ini menerangkan

4
bahwa setiap sel memiliki potensi genetik seperti sel zigot yang mampu
memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap. Setiap
sel memiliki kemampuan totipotensi. Totipotensi merupakan kemampuan
suatu sel tumbuhan menjadi individu yang sempurna (Ekosari, 2015).
Menurut Ekosari (2015) teknik kultur jaringan dibagi menjadi 4
macam yaitu:
a. Kultur Meristem, adalah kultur jaringan menggunakan bagian
tanaman dari jaringan muda atau meristem.
b. Klutur polen (anther culture), merupakan teknik kultur jaringan
dengan menggunakan bagian tanaman berupa serbuk sari.
c. Chloroplast culture, yakni teknik kultur jaringan menggunakan
kloroplas untuk keperluan memperbaiki sifat tanaman melalui
pembuatan varietas baru.
d. Somatic cross atau persilangan dua macam protoplasma menjadi satu,
kemudian dibudidayakan sehingga dihasilkan tanaman yang
mempunyai sifat baru.
B. Syarat Kultur Jaringan Tanaman
Keberhasilan kutur jaringan dipengaruhi oleh beberapa faktor,
antara lain sterilisasi, pemilihan bahan eksplan, faktor lingkungan seperti
pH, cahaya dan temperatur, serta kandungan ZPT (Zat Pengatur Tumbuh)
dalam media kultur (Fatmawati, dkk., 2015)
a) Media
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan
kultur jaringan. Media yang umum digunakan dalam kultur jaringan
adalah media padat, medium semi padat, dan medium cair. Keadaan fisik
media akan mempengaruhi pertumbuhan kultur, kecepatan pertumbuhan
dan diferensiasinya. Keadaan fisik media mempengaruhi pertumbuhan
antara lain karena efekya terhadap osmolaritas larutan dalam media serta
ketersediaan oksigen bagi pertumbuhan eksplan (Sutarto, dkk., 2003).
Jenis dan komposisi media sangat menentukan biaya produksi dan
keberhasilan perbanyakan tanaman secara in vitro.Komposisi media yang
digunakan biasanya terdiri dari garam, mineral, vitamin dan hormon.
Selain itu diperlukan juga bahan tambahan seperti gula, agar, dan lain-lain.
Zat pengatur tumbuh (hormon) yanng ditambahkan juga bervariasi baik
jenis maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dan kultur yang
dilakukan . Media yang sudah jadi kemudian ditempatkan pada tabung

5
reaksi atau botol-botol kaca dan di sterilkan menggunakan autoklaf.
Untuk membuat media dengan jumlah zat seperti yang diinginkan,
diperlukan penimbangan dan penakaran bahan secara tepat.
Ketidaktepatan ukuran dapat menyebabkan terjadinyan proses yang tidak
dikehendaki. Pada umumnya, media yang telah dirumuskan dapat diubah
dan diperbarui dengan mengganti zat-zat tertentu, atau menambahkan
dengan zat lain. Media adalah tempat bagi jaringan untuk tumbuh dan
mengambil nutrisi yang dibutuhkan untuk mendukung kehidupan ajringan.
Media tumbuh menyediakan berbagai bahan yang diperlukan jaringan
untuk hidup dan memperbanyak diri. Media yang digunakan (Sutarto,
dkk., 2003).
1. Macam-Macam Media Kultur
Media kultur jaringan sangat banyak macamnya. Ada beberapa
macam media dasar. Pada umumnya diberi nama media sesuai dengan
nama penemunya. Media MS merupakan singkatan dari nama
penemunya, yaitu Murashige dan Skoog (1962). Media yang paling
popular digunakan untuk hampir semua macam tanaman, terutama
tanaman herbaceus. Media ini paling banyak digunakan untuk kultur
kalus dan tunas, mempunyai konsentrasi garam-garam mineral yang
tinggi dan senyawa N dalam bentuk ammonium dan nitrat (Manuhara,
2014).
Media lainnya adalah media LS singkatan dari Linsmaier dan
Skoog merupakan media yang sangat banyak digunakan untuk kultur
kalus dan regenerasi berbagai tanaman, media ini mengandung garam-
garam mineral dengan konsentrasi tinggi dan senyawa N dalam
bentuk ammonium dan nitrat. Media B5 (Gamborg) (1968) banyak
digunakan untuk kultur suspensi sel tanaman leguminosae. Media
Nitsch dan Nitsch digunakan untuk kultur mikrospora dan kultur sel
pada tembakau. Media N6, Chu (1978) digunakan untuk kultur
jaringan serealia terutama padi. Media WPM (Lloyd dan McCown)
untuk kultur jaringan tanaman berkayu. Media Vacin dan Went (VW)
dan Knudson C banyak digunakan untuk kultur embrio anggrek.
Media White (W63) (1963) digunakan untuk kultur akar yang

6
mengandung garam-garam mineral yang rendah. Media Kao dan
Michayluk digunakan untuk kultur protoplas Cruciferae, Gramineae
dan Leguminosae (Manuhara, 2014).
Semua media kultur pada dasarnya tidak ada satu macam media
yang dapat memberikan pertumbuhan optimal untuk semua sel.
Penggantian media atau salah satu komponen media seringkali
diperlukan untuk merespon setiap tipe pertumbuhan dari satu macam
eksplan. Studi literatur sangat diperlukan untuk mengembangkan atau
memodifikasi media kultur, modifikasi dari media kultur yang telah
ada umumnya (Manuhara, 2014).
2. Komponen Dasar Medium Kultur
Menurut pendapat Manuhara (2014) komponen dasar medium
kultur bermacam-macam. Secara umum medium kultur jaringan
mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a. Garam-garam anorganik, terdiri dari unsur makro (C,H, N, O, S,
P, K, Ca dan Mg) dan unsur mikro (Cl, B, Mo, Zn, Cu, Fe, dan
Co).
b. Zat-zat organik, meliputi gula, myo-inositol, vitamin, asam-asam
amino, dan pengatur tumbuh.
c. Substansi organik kompleks yang terdiri dari air kelapa, ekstrak
buah-buahan, ekstrak yeast, pepton, tripton, hydrolisat kasein, dan
lain-lain.
d. Bahan pemadat dapat berupa agar-agar, gelrite, pytagel atau Sea
Plaque Agarose.
e. pH
f. Bahan tambahan lain misalnya arang aktif.
3. Komposisi Media Kultur Jaringan
Komposisi yang terdapat dalam media kultur adalah unsur
makro, unsur mikro, zat-zat organik dan zat pengatur tumbuh. Air
merupakan zat terbanyak pada tubh tumbuhan, oleh karena itu air
merupakan bagian terbesar didalam kultur. Air selain sebagai bahan
pembentuk material tubh, media merupakan tempat terjadinya reaksi
kimia dan fisika. Air berguna untuk transport dan distribusi zat-zat
yang terlarut didalamnya. Pada medium kultur jaringan digunakan air

7
murni yang mengalami demineralisasi, deionisasi dan didestilasi
dengan gelas dua kali (Manuhara, 2014).
Kebutuhan garam-garam mineral didalam jaringan kurang
lebih sama dengan tanaman utuh. Garam-garam mineral merupakan
gabungan unsur-unsur esensial makro dan mikro. Konsentrasi
optimum dari tiap-tiap komponen untuk mencapai kecepatan
pertumbuhan yang maksimal dan sangat bevariasi. Unsur makro
diperlukan dalam jumlah yang besar, pada umumnya diberikan dalam
bentuk persenyawaan. Persenyawaan makronutrien yang umum
digunakan pada medium kultur antara lain: KNO3, NH4NO3,
Ca(NO3).4H2O, Na2SO4, (NH4)2SO4, NH4Cl, K2SO4 (Manuhara, 2014).
Unsur mikro adalah unsur yang diperlukan dalam jumlah
sedikit. Fungsinya belum diketahui secara pasti, namun tidak adanya
zat-zat ini dapat menyebabkan kelainan pertumbuhan. Air dan bahan
kimia yang tingkat kemurniannya rendah seringkali terkontaminasi
oleh unsur hara mikro. Bentuk persenyawaan hara mikro yang umum
digunakan pada beberapa medium kultur adalah MnSO4.4H2O,
ZnSO4.7H2O, H3BO3, KI.CuSO4.5H2O, NaMoO4.2H2O, CoCl2.6H2O,
FeCl3.6H2O, Fe(III) citrate, FeSO4.7H2O, NaFEDTA.2H2O, Fe(SO4)3,
Fe(III) tartrate (Manuhara, 2014).
Kebutuhan zat-zat organik terdiri dari persenyawaan yang
mengandung karbon, ditambahkan ada medium kultur berupa gula,
myo-inositol, vitamin, asam-asam amino dan zat pengatur tumbuh.
Zat-zat organik ini tidak diberikan pada tanaman karena tanaman
dapat mensintesis sendiri. Pada kultur in vitro, karena eksplan yang
digunakan umumnya berukuran sangat kecildan tidak mampu
mensintesis sendiri semua zat organik tersebut, maka ditambahkan
pada medium(Manuhara, 2014).
b) Eksplan
Eksplan merupakan bagian dari tanaman yang akan
dikulturkan. Eksplan yang akan dikulturkan dilakukan isolasi terlebih
dahulu. Dengan cara mengisolasi dari tanaman induknya, sel-sel pada
eksplan yang tadinya dorman, dihadapkan pada kondisi stres. Kondisi
ini akan mengubah pola metabolisme, sel akan memulai siklusnya

8
yang baru, selanjutnya akan tumbuh dan berkembang didalam kultur.
Respon yang terlihat pertama kali yaitu terbentuknya jaringan penutup
luka, sel-selnya terus membelah, jika pembelahannya tidak terkendali
akan membentuk massa sel yang tidak terorganisir atau disebut kalus.
Pembelahan sel-sel yang tidak terkendali disebabkan karena sel-sel
tumbuhan, yang secara alamiahnya bersifat autotrof, dikondisikan
menjadi heterotrof dengan cara memberikan nutrisi yang yang cukup
kompleks didalam medium kultur. Sel-sel kalus ini berbeda dengan
sel-sel eksplannya, sel-sel menjadi tidak terdiferensiasi, proses ini
disebut dediferensiasi (kembali kekeadaan tidak terdiferensiasi) (Elisa,
2016).
Proses dediferensiasi sel-sel pada eksplan, yang tadinya dalam
keadaan quiescent atau dorman, diinduksi untuk aktip kembali
melakukan pembelahan. Induksi dediferensiasi dapat dilakukan
dengan menambahkan zat pengatur tumbuh dari kelompok auksin
kedalam medium kultur, auksin sintetik yang umum digunakan adalah
2,4-dichlorophenoxyacetic acid (2,4-D) dengan konsentrasi
maksimum 2 mg/1. Auksin substitusi seperti picloram (4-amino-3,5,6-
trichloropyridine-2-carboxylic acid) dan dicamba (3,6-dichloro-o-
anisic acid) sering digunakan untuk induksi dediferensiasi tanaman
berkayu. Sel-sel akan terus membelah selama masih uipelihara
didalam medium induksi. Zat-zat pengatur tumbuh tersebut diatas
diketahui berfungsi sebagai mutagenic agent. Sel-sel yang dipelihara
terlalu lama didalam medium induksi akan mengalami mutasi, tetapi
tidak kehilangan sifat totipotensinya (Elisa, 2016).
Laju pertumbuhan sel, jaringan atau organ tanaman didalam
kultur akan menurun setelah periode waktu tertentu, umumnya segera
terlihat dengan adanya gejala nekrosis pada eksplan. Hal ini
disebabkan karena menyusutnya kadar nutrien medium dan
terbentuknya senyawa-senyawa racun yang dilepaskan oleh eksplan
disekitar medium. Untuk itu harus dilakukan sub-kultur yaitu
pemindahan sel-sel, jaringan atau organ kedalam medium baru.
Tujuan dilakukannya subkultur adalah untuk mempertahankan laju

9
pertumbuhan sel-sel tetap konstan dan untuk diferensiasi kalus.
Medium baru yang digunakan dapat sama atau berbeda dengan
medium semula (Elisa, 2016).
Perkembangan selanjutnya adalah terjadinya morfogenesis,
yaitu proses terbentuknya organ-organ baru (de novo) yang kemudian
akan tumbuh menjadi tanaman utuh. Tanaman regenerasi yang
dihasilkan dengan teknik kultur jaringan disebut plantlet,
pembentukan plantlet terjadi melalui dua proses yang berbeda, yaitu
organogenesis dan embryogenesis somatic (Elisa, 2016).
Organogenesis yaitu diferensiasi meristem unipolar,
menghasilkan ujung tunas (shoot tip) yang akan menjadi tunas
(caulogenesis) atau ujung akar (root tip) yang akfn menjadi akar
(rhizogenesis). Pada proses organogenesis diperlukan dua tahap
induksi, masing-masing menggunakan medium dengan zat pengatur
tumbuh yang berbeda. Tahap pertama biasanya adalah induksi
pembentukan tunas, proses caulogenesis diinduksi dengan
menambahkan zat pengatur tumbuh dari golongan sitokinin kedalam
medium kultur. Tahap yang kedua adalah induksi pembentukan akar,
proses rhizogenesis ini dikerjakan dengan menambahkan zat pengatur
tumbuh dari golongan auksin (Elisa, 2016).
Embriogenesis somatik merupakan suatu proses diferensiasi
meristem bipolar yang berupa bakal tunas dan akar, dua meristem
yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman utuh. Embrio yang
terbentuk selanjutnya akan tumbuli dan berkembang menjadi tanaman
utuh. Pertumbuhan dan perkembangan embrionya berlangsung secara
bertahap melalui proses yang identik dengan proses embryogenesis
zygotik, yaitu terbentuknya struktur bipolar melalui tahapan bulat
(globular), jantung (heart stage), torpedo, dan akhirnya berkecambah
menjadi plantlet (Elisa, 2016).
Morfogenesis in vitro dapat terjadi secara langsung dan tidak
langsung. Secara langsung terjadi tanpa melalui tahapan kalus terlebih
dahulu. Sel-sel diinduksi langsung menjadi embriogenik, hal ini dapat
dikerjakan dengan menanam eksplan pada medium dengan kombinasi
zat pengatur tumbuh dari kelompok auksin dan sitokinin secara
simultan. Penemuan terbaru menunjukan bahwa perlakuan heat shock
pada daun Chicorium hybrid 474, dapat menginduksi sel-sel daun
menjadi embriogenik. Pada sel gametik (mikrospora) induksi menjadi
embriogenik dilakukan dengan memberikan stres. Stres dapat
diberikan secara fisik berupa cold shock atau heat shock, dapat juga
secara khemis yaitu dengan mengkulturkan pada medium starvation

10
(medium minimal yang hanya terdiri dari garam-garam makro dan
mannitol) atau dengan memberikan stres osmotik. Sel-sel yang sudah
terinduksi menjadi embriogeni adalah identik dengan zygot, sehingga
dapat melanjutkan petumbuhannya menjadi embrio dan selanjutnya
tanaman utuh (Elisa, 2016).
Morfogenesis secara tidak langsung umumnya melalui tahapan
kalus terlebih dahulu. Kalus yang lunak jika ditransfer kedalam
medium cair akan membentuk suspensi sel yang aktip tumbuh. Kultur
sel adalah kultur dengan menggunakan sel sebagai eksplan, eksplan
berasal dari sel-sel yang sudah mengalami dediferensiasi (kalus).
Kalus yang digunakan sebagai eksplan pada kultur sel disebut
inokulum. Kultur sel dipelihara didalam medium cair yang diinkubasi
dengan atau tanpa penggojokan. Jika proses induksi dediferensiasinya
benar, maka gen-gen yang bertanggung jawab terhadap totipotensi
akan berfungsi, pembelahan sel-selnya menjadi terkendali,
membentuk sel-sel yang terorganisir (embryo). Embrio yang terbentuk
adalah dari sel-sel somatik atau gametik dan bukan dari zygot, embrio
demikian disebut embrio adventip prosesnya disebut embryogenesis
somatic selanjutnya akan tumbuh dan berkembang menjadi tanaman
utuh melalui proses yang identik dengan proses embryogenesis
zygotic (Elisa, 2016).
C. Kajian Bunga Dadap Merah (Erythria voriegata)
Tanaman Dadap beberapa spesies asli Amerika selatan dan Utara,
lainnya dari Australia, Afrika dan Asia timur. Erythrina sp. berasal dari
Amerika.. Genus Erythrina terdiri kurang lebih 130 spesies, berbentuk semak atau
pohon yang tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis di seluruh dunia, dan
termasuk famili Papilionaceae. Nama Erythrina berasal dari bahasa Latin yaitu
‘Erythros’ yang berarti ‘merah’, merujuk pada warna bunga kebanyakan
tanaman dari genus ini yakni merah menyala. Berdasarkan studi literatur,
senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, pterocarpan dan flavonoid yang lain
dilaporkan sebagai senyawa penyusun dalam genus Erythrina serta diketahui juga
senyawa metabolit sekunder yang lain seperti terpen, steroid, dan arilpropanoid.
Senyawa metabolit sekunder tersebut memperlihatkan aktifitas sebagai
antimalaria, anti-HIV, antioksidan, antimikrobial, antiinflamasi (Na dkk, 2006).

11
Gambar 1. Morfologi Bunga Dadap Merah (Erythria voriegata)

Dadap Merah (Erythria voriegata) adalah pohon dengan tinggi 1 – 25


meter dan bersifat menggugurkan daunnya. Di Asia tenggara, di daearah-
daerah dengan musim kemarau yang jelas, dadap menggugurkan daunnya
dalam suatu periode yang singkat, kemudian muncul tunas-tunas baru yang
diikuti oleh munculnya bunga-bunga yang berwrna merah. Batang dan
rantingnya kebanyakan berduri, namun tangkai daun tidak berduri. Dadap
memiliki daun trifoliate (daun majemuk dengan tiga anak daun), anak daun
berbentuk bulat telur terbalik, segitiga atau belah ketupat dengan ujung
tumpul. Bunganya tersusun dalam tandan (racemus), sedangkan buahnya
adalah buah polong.

BAB III
METODE PENELITIAN

12
A. Waktu dan Tempat Penelitian
Praktikum kultur anther bunga Dadap merah (Erythria voriegata)
dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2019 di Laboratorium Kultur
Jaringan, Gedung C9 FMIPA Universitas Negeri Surabaya.
B. Metode Penelitian
Alat :
a) Laminar Air Flow (LAF), entkas
b) Lampu spiritus
c) Cawan Petri 2 buah
d) Gunting
e) Pinset
f) Gagang scalpel
g) Mata pisau scalpel steril no 11 dan 13
h) Korek api
i) Botol saos
j) Botol selai untuk sterilisasi 8 buah
k) Sprayer
Bahan :
a) Spiritus
b) Alkohol 90 dan 70%
c) Dettol atau sabun cair
d) Formalin tablet
e) Kertas tissue
f) Kertas saring
g) Kertas label
h) Benang kasur
i) Aluminium foil
j) Kapas
k) Aquadest
l) Kertas bekas
m) Anther bunga Dadap Merah (Erythria voriegata).
C. Cara Kerja
Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1. Cara pembuatan stok hara medium MS:
a) Pembuatan stok larutan hara makro (stok A, B, C, D)
- Stok A dan B dibuat dalam 200 ml dengan cara menimbang
dan melarutkan hara makro dalam 100 ml aquades,
kemudian ditambahkan aquades hingga volumenya 200 ml,
di tuang ke dalam botol plastik dan disimpan di lemari es.
- Stok C dan D dibuat dalam 100 ml dengan cara menimbang
dan melarutkan hara makro dalam 50 ml aquades, kemudian

13
ditambahkan aquades hingga volumenya 100 ml lalu
dituang ke dalam blotol plastik dan disimpan di lemari es.
b) Pembuatan larutan stok hara mikro (E dan F)
- Stok E dan F dibuat dalam 100 ml dengan cara menimbang
stok E dan F, menimbang dan melarutkan hara mikro dalam
50 ml aquades, kemudian ditambah aquades hingga volume
100 ml. Lalu dituang ke dalam botol plastik 330 ml dan
disimpan dalam lemari es.
c) Pembuatan stok zat besi (stok G)
- Stok G dibuat dalam 200 ml dengan cara menimbang dan
melarutkan ion besi ke dalam 100 ml aquades. Kemudian
ditambah dengan aquades hingga volume mencapai 200 ml.
Lalu dituang ke dalam botol plastik 330 ml dan disimpan
dalam lemari es.
2. Cara pembuatan stok hormon
a) Untuk mendapatkan konsentrasi NAA 10-2 M dilakukan
dengan menimbang NAA sebesar 0,19 g dan dimasukkan dalam
beaker glass yang diberi aquades. Selanjutnya NaOH 1 M
diteteskan sedikit demi sedikit hingga NAA larut. Kemudian
ditambah aquades dengan volume mencapai 100 ml. Lalu
dituang ke dalam botol kaca 150 ml dan disimpan di lemari es.
b) Untuk mendapatkan konsentrasi BAP 10-2 M dilakukan dengan
menimbang BAP sebesar o,22 g dan dimasukkan dalam beaker
glass yang diberi aquades 50 ml selanjutnya ditetesi HCl 1 M
sedikit demmi sedikit hingga BAP larut. Kemudian
ditambahkan aquades mencapai volume 100 ml lalu dituang ke
dalam botol 150 ml dan disimpan di lemari es.
c) Untuk mendapatkan konsentrasi ZPT sesuai perlakuan, stok
ZPT diencerkan menggunakan rumus: V1.M1=V2.M2
3. Cara pembuatan medium MS
a) Memasukkan aquades ke dalam beaker glass 1000 ml sebanyak
500 ml kemudian menambahkan gula sukrosa 20 g sambil
diaduk hingga larut.
b) Menambahkan Mio-inositol 100 ml, thiamin-HCl 0,1 mg,
piridoksin-HCl 0,5 mg, glisin 2 mg, asam nikotinat 0,5 mg.

14
c) Memasukkan stok A, B dan G masing masing 20 ml kemudian
menambahkan stok C,D,E dan F masing masing 5 ml
d) Menambahkan aquades hingga volumenya mencapai 900 ml
e) Mengukur pH berkisar 5,8 dengan pH meter. Jika terlalu basa,
maka ditambahkan HCl 1 M dan jika terlalu asam , maka
ditambahkan KOH 1 M.
f) Menambahkan aquades dalam larutan hingga volumenya
mencapai 1000 ml
g) Menuangkan larutan kedalam panci kemudian menambahkan
agar batangan (8 g/l)
h) Media kemudian dipanaskan dengan kompor gas sambil diaduk
hingga agar agar larut dan homogen
i) Setelah larut, media dituang ke dalam beaker glass 1000 ml,
lalu ditambahkan NAA dan BAP serta 2,4 D ke dalam media
sesuai konsentrasi.
j) Memasukkan media ke dalam botol kultur yang telah di
sterilisasi, dengan volume tiap botol 15 ml dan diberi label
k) Botol yang telah berisi media ditutup dengan alumunium foil
lalu disterilisasi dalam autoklaf kurang lebih 15 menit
l) Botol dikeluarkan dari autoklaf dan di inkubasi selama 3 hari,
jika tidak terjadi kontaminasi, maka media siap digunakan.
4. Cara kerja Kultur Anther
a) Menyiapkan alat (pinset, mata pisau scalpel, gagang pisau
scalpel, cawan petri yang berisi kertas saring), bahan (alkohol
90% dan 70%, tween, akuades) dan botol kultur yang telah
berisi media sederhana yang semuanya telah disterilkan.
Sterilisasi dan inokulasi eksplan dilakukan di Laminar Air
FlowCabinet.
b) Mencuci tangan menggunakan sabun cair kemudian
dikeringkan dengan lap bersih.
c) Mencuci eksplan dengan sabun cair dan disikat secara perlahan
dan hati-hati agar tidak merusak eksplan kemudian dibilas
dengan air mengalir hingga sabun hilang.
d) Eksplan tersebut selanjutnya direndam ke dalam fungisida
selama 30 menit kemudian dicuci dengan menggunakan air
mengalir.
e) Eksplan dibawa ke dalam Laminar Air FlowCabinet.

15
f) Eksplan direndam dengan akuades steril selama 2-3 menit
sambil digoyang-goyangkan.
g) Merendam eksplan dengan alkohol 70% untuk mensterilkan
eksplan selama 5 detik, sambil digoyang-goyang.
h) Eksplan dicuci dengan akuades steril selama 2-3 menit.
i) Eksplan direndam dengan Chlorox 10% dan 5% selama 2-3
menit.
j) Membilas eksplan dengan akuades steril selama 2-3 menit.
Langkah ini diulang sebanyak tiga kali.
k) Menempatkan eksplan pada cawan petri yang sudah diberi alas
kertas saring steril.
l) Memotong eksplan (minimal sebanyak 6 potong), bagian
eksplan yang dipotong adalah bagian tepi yaitu bagian yang
rusak atau kontak dengan bahan kimia. Eksplan dipotong
dengan ukuran ±0,5 cm menggunakan pinset dan pisau scalpel.
m)Mengambil potongan eksplan dengan pinset dan
memasukkannya ke dalam botol kultur yang telah berisi media.
n) Botol yang telah ditanami diletakkan dalam ruang inokubasi
dan dilakukan pengamatan.
D. Langkah Kerja
Berdasarkan prosedur kerja diatas dapat dibuat alur sebagai berikut:
1. Cara pembuatan stok hara medium MS
Pembuatan stok larutan hara makro (stok A, B, C, D)
- Stok A dan B dibuat dalam 200 ml dengan cara
menimbang dan melarutkan hara makro dalam 100 ml
aquades
- ditambahkan aquades hingga volumenya 200 ml
- di tuang ke dalam botol plastik dan disimpan di lemari es.
- Stok C dan D dibuat dalam 100 ml dengan cara
menimbang dan melarutkan hara makro dalam 50 ml
aquades
- ditambahkan aquades hingga volumenya 100 ml
- dituang ke dalam blotol plastik dan disimpan di lemari es.

Pembuatan larutan stok hara mikro (E dan F)


- Stok E dan F dibuat dalam 100 ml dengan cara menimbang
stok E dan F, menimbang dan melarutkan hara mikro dalam
50 ml aquades
- ditambah aquades hingga volume 100 ml

16
- dituang ke dalam botol plastik 330 ml dan disimpan dalam
lemari es.
-
Pembuatan stok zat besi (stok G)
- Stok G dibuat dalam 200 ml dengan cara menimbang dan
melarutkan ion besi ke dalam 100 ml aquades.
- ditambah dengan aquades hingga volume mencapai 200 ml.
- dituang ke dalam botol plastik 330 ml dan disimpan dalam
lemari es.

Stok zat besi A, B, C, D, E, F dan G

2. Cara pembuatan stok hormon

konsentrasi NAA 10-2 M


- Menimbang NAA sebesar 0,19 g dan dimasukkan dalam
beaker glass yang diberi aquades.
- NaOH 1 M diteteskan sedikit demi sedikit hingga NAA
larut.
- Ditambah aquades dengan volume mencapai 100 ml
- dituang ke dalam botol kaca 150 ml dan disimpan di lemari
es.

konsentrasi BAP 10-2 M


- menimbang BAP sebesar o,22 g dan dimasukkan dalam
beaker glass yang diberi aquades 50 ml
- ditetesi HCl 1 M sedikit demmi sedikit hingga BAP larut.
- ditambahkan aquades mencapai volume 100 ml lalu dituang
ke dalam botol 150 ml dan disimpan di lemari es.

stok ZPT diencerkan menggunakan rumus: V1.M1=V2.M2

3. Cara pembuatan media MS

Media MS
- Memasukkan aquades ke dalam beaker glass 1000 ml
sebanyak 500 ml
- ditambahkan gula sukrosa 20 g sambil diaduk hingga larut.
- Menambahkan Mio-inositol 100 ml, thiamin-HCl 0,1 mg,
piridoksin-HCl 0,5 mg, glisin 2 mg, asam nikotinat 0,5 mg.

17
- Memasukkan stok A, B dan G masing masing 20 ml
kemudian menambahkan stok C,D,E dan F masing masing
5 ml
- Menambahkan aquades hingga volumenya mencapai 900
ml
- Mengukur pH berkisar 5,8 dengan pH meter. Jika terlalu
basa, maka ditambahkan HCl 1 M dan jika terlalu asam ,
maka ditambahkan KOH 1 M.
- Menambahkan aquades dalam larutan hingga volumenya
mencapai 1000 ml
- Menuangkan larutan kedalam panci kemudian
menambahkan agar batangan (8 g/l)
- Media kemudian dipanaskan dengan kompor gas sambil
diaduk hingga agar agar larut dan homogen
- Setelah larut, media dituang ke dalam beaker glass 1000 ml,
lalu ditambahkan NAA dan BAP serta 2,4 D ke dalam
media sesuai konsentrasi.
- Memasukkan media ke dalam botol kultur yang telah di
sterilisasi, dengan volume tiap botol 15 ml dan diberi label
- Botol yang telah berisi media ditutup dengan alumunium
foil lalu disterilisasi dalam autoklaf kurang lebih 15 menit
- Botol dikeluarkan dari autoklaf dan di inkubasi selama 3
hari, jika tidak terjadi kontaminasi, maka media siap
digunakan.
4. Kultur -Anther Bunga alkohol
direndam Dadap Merah
70% (Erythria
5 detikvoriegata)
sambil
Hasil Medis MS
Antherdigoyang-goyang.
Bunga Dadap Merah (Erythria voriegata)
- dicuci dengan akuades steril selama 2-3 menit.
-- direndam
direndam dengan Chlorox70%
larutan alkohol 10%selama
dan 5%2 selama
menit 2-
3 menit.
-- direndam
akuades bayclin 20% selama
steril selama 20 menit
2-3 menit. Langkah ini
- dicuci aquades
diulang 3-5tiga
sebanyak kalikali.
- eksplan diletakkan pada cawan petri yang sudah
- dipindahkan dalam cawan petri
diberi alas kertas saring steril.
- eksplan dipotong (minimal sebanyak 6 potong)
Anther Bunga Dadap Merah (Erythria voriegata)
dengan ukuran ±0,5 cm menggunakan pinset dan
pisau scalpel.
- dimasukkan ke dalam botol kultur yang telah
berisi media.

18
Diamati setiap hari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, media yang dibuat
menggunakan formulasi tertentu (tabel 1). Eksplan anther belum ada yang
tumbuh selama 13 hari pengamatan.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Inokulasi Anther Bunga Dadap Merah (Erythria
voriegata)

Jenis Tanggal Tanggal Pengamatan


Media ZPT Eksplan Inokulas
&Tanaman i 17 18 21 22 23 24 25 26 27 28 29

16 - - - - - - - - - - -
NAA
Oktober
A 0,5
2019
mg/l - - - - - - - - - - -
Anther
Bunga 16 - - - - - - - - - - -
BAP
Dadap Oktober
B 0,1
Merah 2019
mg/l - - - - - - - - - - -
(Erythria
voriegata)
16 - - - - - - - - - - -
2,4 D Oktober
C
1 mg/l 2019
- - - - - - - - - - -

Keterangan:
(-) : Belum Tumbuh , (X) : Kontaminasi, (K) : Tumbuh Kalus.
B. Analisis Data
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan , eksplan ditanaman pada
media dengan tiga macam komposisi yang berbeda. Media A merupakan
media dengan komposisi NAA 0,5 mg/l, media B memiliki komposisi
sebesar BAP 0,1 mg/l dan media C merupakan media yang terdiri dari 2,4 D
1 mg/l.
Praktikum ini menggunakan eksplan dari tanaman Dadap Merah
(Erythria voriegata). Bagian tanaman yang digunakan adalah anther yang
terdapat didalam kelopak bunga.. Anther bunga Dadap Merah (Erythria

19
voriegata)yang digunakan adalah bagian kepala sari yang masih terdapat
didalam operculum.
Hasil pengamatan selama kurang lebih 11 hari menunjukkan bahwa
ekplan pada media A, B, C belum ada yang tumbuh. Hal tersebut dikarenakan
beberapa faktor salah satunya kurang telitinya praktikan dalam melakukan
praktikum.
C. Pembahasan
Media merupakan tempat bagi jaringan atau sel untuk tumbuh dan
mengambil nutrisi yang mendukung kehidupan jaringan. Media tumbuh harus
menyediakan berbagai bahan yang diperlukan sel atau jaringan untuk hidup
dan memperbanyak diri. Media kultur dibuat dengan formulasi tertentu.
Komposisi yang tepat akan mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman yang dikulturkan. Unsur-unsur yang dibutuhkan dalam pada media
kultur jaringan adalah unsur makro dan unsur mikro, gula, vitamin, zat
pengatur tumbuh dan agar-agar (Ekosari, 2015).
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan bahwa
keberhasilan dalam menggunakan metode kultur jaringan bergantung pada
media yang digunakan. Media kultur merupakan komponen faktor
lingkungan yang menyediakan unsur untuk pertumbuhan tanaman seperti
unsur hara makro dan mikro, karbohidrat, vitamin, zat pengatur tumbuh,
garam-garam organik. Pada praktikum kali ini media yang digunakan yaitu
dalam bentuk padat dengan formulsi Murashige dan Skoog.
Pembuatan media kultur dilakukan dengan cara mengambil larutan
stok menggunakan pipet yang sebelumnya telah dibuat dan disimpan dalam
lemari pendingin. Larutan stok diambil sesuai dengan hasil pencarian dengan
perhitungan dengan rumus pengenceran kemudian diencerkan yang disusun
sesuai urutan stok A-H pada gelas ukur. Pengambilan stok dilakukan secara
berurutan supaya tidak terjadi reaksi kimia antara larutan satu dengan yang
lain, sehingga menyebabkan penurunan atau degradasi maupun reaksi
penggaraman yang mengakibatkan ketidaksedianya unsur hara untuk
pertumbuhan eksplan. Konsentrasi larutan yang digunakan sesuai dengan
konsentrasi pada formulasi media MS. Larutan yang didalam beaker glass
kemudia diencerkan dengan menambahkan air sebanyak 800 ml dan sukrosa

20
20 g. Sukrosa disini berfungsi sebagai sumber energi, dan penyeimbang
tekanan osmotik media. Kemudian dipanaskan dengan menggunakan hot
plate magnetic stearer. Hal ini agar sukrosa bisa cepat larut, lalu ditambahkan
air hingga volumenya 1 L. Kemudian dilakukan pengukuran pH larutan
dengan menggunakan pH meter. pH yang diharapkan yakni berkisar 5,8-6,5.
Apabila pH larutan dibawah 5,8 makan dilakukan penambahan NaOH hingga
beberapa tetes sampai pH naik. Apabila pH diatas 6,0 makan dilakukan
penambahan KCl beberapa tetes hingga pH turun pada kisaran tersebut. Sel-
sel tanaman membutuhkan ph yang sedikit asam berkisar 5,8 (Hendaryono,
2007).
Penggunaan ZPT sitokinin (2,4 D) dapat merangsang pertumbuhan
percabangan tunas adventif yang merupakan perkembangan organ seperti
tunas yang berasal dari suatu titik tumbuh. Konsentrasi BAP yang optimal
untuk memacu pertumbuhan tanaman bervariasi dan tergantung pada jenis
tanaman. Banyak jumlah tunas yang terbentuk karena tercapainya antara zat
pengatur tumbuh eksogen dengan eksplan untuk merangsang pemunculan
tunas-tunas baru, karena untuk menghasilkan tunas dalam jumlah banyak
eksplan yang dikulturkan juga berasal dari tunas sehingga eksplan yang
digunakan lebih aktif merespon zat pengatur tumbuh. Penggunaan ZPT
diharapkan dapat menambahkan hormon yang ada pada bagian tanaman dan
mempercepat pertumbuhan sehingga diperoleh hasil yang baik (Yusnita,
2003).
Konsentrasi agar yang terlalu tinggi dapat mengurangi difusi senyawa
kearah eksplan sehingga pengambilan hara dan zat pengatur tumbuh
berkirang, sedangkan zat penghambat dari eksplan tetap berkumpul disekitar
eksplan. Setelah mecapai titik didih yang ditandai dengan larutan berwarna
bening dan terdapat gelembung maka larutan dituangkan dalam botol-botol
kultur sebanyak 129 botol kultur sesuai kebutuhan yang diinginkan.
Kemudian botol ditutup dengan alumunium foil dan dilakukan sterilisasi
dengan menggunakan autoklaf selama 20 menit pada suhu 1210C. Setelah itu
botol-botol kultur diletakkan dalam ruang kultur pada rak-rak yang telah
tersedia (Marlin, 2012).

21
Hasil praktikum yang telah dilakukan menunjukkan bahwa eksplan
yang digunakan dalam isolasi dan inokulasi adalah anther bunga dadap merah
(Erythria variegata). Kultur anther merupakan isolasi steril dari kepala sari
(anther) suatu bunga secara invitro dengan tujuan untuk memperoleh tanaman
yang lengkap (Zulkarnain, 2009).
Sampel eksplan yang digunakan terlebih dulu disterilisasi, yaitu
dengan merendam eksplan dalam larutan deterjen atau sabun antiseptik dan
desinfektan yaitu fungisida selama 30 menit yang berfungsi untuk mencegah
kontaminasi dari bakteri selama proses penanaman dan pengembangan kultur
kacang merah. Kemudian dicuci dengan air mengalir sampai bersih. Setelah
eksplan dibilas kembali dengan akuades. Setelah itu eksplan kembali
direndam dalam alkohol 70% selama 5 detik, dibilas dengan akuades selama
2-3 menit kemudian di rendam ke dalam chlorox 5%, 10% selama 2-3 menit
dan dibilas dengan akuades. Setelah disterilisasi dengan chlorox bagian dari
eksplan yang bersentuhan atau berkontak langsung dengan chlorox harus
dihilangkan karena bagian-bagian yang berkontak langsung dengan chlorox
sel-selnya akan mati dan tidak akan tumbuh jika dikulturkan.
Keberhasilan kultur jaringan selain ditentukan oleh komposisi media
juga ditentukan oleh eksplan. Faktor penting lain yang mempengaruhi yaitu
kondisi eksplan dipengaruhi oleh umur fisiologis, umur ontogenik, ukuran
eksplan, dan bagian tanaman yang diambil. Umumnya yang sering digunakan
adalah jaringan muda yang sedang tumbuh aktif. Hal ini karena jaringan
muda mempunyai daya regenerasi tinggi, sel-selnya masih aktif membelah,
dan relatif sedikit mengandung kontaminan. Umur ontogenik yaitu masa
transisi anatar fase pertumbuhan remaja (juvenil) menuju fase dewasa. Pada
fase juvenil, pembungaan tidak terjadi dan tidak dapat dirangsang dengan
perlakuan rangsangan pembungaan. Sedangakan pada fase dewasa tanaman
sudah mampu berbunga. Ukuran tanaman yang besar memungkinkan
terjadinya kontaminan daripada ukuran yang lebih kecil. Hal ini berkaitan
dengan teknik sterilisasi eksplan. Jaringan yang umumnya digunakan adalah
meristem, yaitu dapat berupa ujung akar, tunas atau daun muda. Aliran udara
yang berasal dari pernafasan dan pembicaraan, debu atau partikel lain yang

22
terhambur dari tubuh praktikan, atau bahan steril yang tersentuh oleh
praktikan dapat mengakibatkan kontaminasi (Santoso, dkk., 2004).
Berdasarkan pengamatan pada kultur jaringan anther bunga dadap
merah (Erythria variegata) diketahui bahwa semua eksplan belum mampu
membentuk kalus, tunas maupun akar. Tidak mampunya eksplan membentuk
kalus, tunas maupun akar dikarenakan eksplan mengalami pencoklatan.
Pencokatan adalah suatu karakter munculnya warna coklat atau hitam yang
sering membuat tidak terjadinya pertumbuhan dan perkembangan eksplan.
Pristiwa ini sesungguhnya merupakan pristiwa alamiah biasa yang terjadi
pada sistem biologi, suatu proses adaptif, bagian tanaman akibat adanya
pengaruh fisik atau biokimia. Menurut George dan Sherrington (1984),
beberapa macam tanaman khususnya tanaman tropika mempunyai
kandungan senyawa fenol yang tinggi yang teroksidasi ketika sel
dilukai atau terjadi senesens. Dadap merah (Erythria variegata) merupakan
salah satu tanaman yang yang mengandung fenol tinggi. Akibatnya jaringan
yang diisolasi menjadi coklat atau kehitaman dan gagal tumbuh.
Pencoklatan jaringan terjadi karena aktivitas enzim oksidase yang
mengandung tembaga seperti polifenol oksidase dan tirosinase (Lerch
1981) yang dilepaskan atau disintesis dan tersedia pada kon-disi oksidatif
ketika jaringan dilukai. Sedangkan menurut Tabiyeh et al. (2006)
mengemukakan bahwa pen-coklatan dalam kultur jaringan disebabkan karena
me-ningkatnya produksi senyawa fenolat yang diikuti oksi-dasi oleh
aktivitas enzim oksidase (PPO) dan polime-rasinya. Fenilalanin amonia
liase (PAL) adalah salah satu enzim dalam fenilpropanoid yang sangat
berpe-ngaruh terhadap terjadinya pencoklatan. Salah satu penyebab
utama pencoklatan dalam kultur in vitro adalah luka karena pemotongan
pada jaringan. Luka tersebut memacu stres dan menyebabkan peningkat-
an aktivitas PAL yang diikuti oleh produksi fenilpropa-noid dan
menyebabkan pencoklatan.

23
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan, kajian pustaka, dan
analisis data dapat ditarik kesimpulkan sebagai berikut:
1. Media MS dapat dibuat dengan menggunakan ZPT berupa NAA dan
BAP. Dengan cara yang sesuai dengan metode untuk menumbuhkan
eksplan.
2.
3. Media tidak terkena kontam, akan tetapi anther bunga dadap merah
berubah menjadi kecoklatan.
4. Faktor yang mendukung pertumbuhan eksplan adalah media
pertumbuhan dan jenis ZPT yang ditambahkan pada media serta tidak
adanya kontaminasi pada eksplan dan media yang digunakan.
B. Saran
Dalam penelitian dan praktikum selanjutnya dapat dibuat dengan
variasi dan komposisi yang berbeda dalam pembuatan media serta dapat
digunakan eksplan dari jenis anther yang lain.

24
DAFTAR PUSTAKA
Wulandari, T., Sukma,D. 2014. Karakterisasi Morfologi dan Pertumbuhan
Populasi Planlet Anggrek Phalaenopsis Hasil Persilangan Selama
TahapAklimatisasi. Jurnal Holtikultura Indonesia.Vol 5(3).43-46
Lestari, E.G. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan Tanaman
melalui Kultur Jaringan. Jurnal Agrobioogen. Vol 7(1):63-68
Mariska, I. 2002. Perkembangan Penelitian Kultur In Vitro pada Tanaman
Industri, Pangan, dan Holtikultura. Bulterin Agrobio. Vol 5(2):45-50
Rusdianto, Indrianto, A., Induksi Kalus Embriogenik pada Wortel (Daucus carota
L.) Menggunakan 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D). Jurnal Bionature.
Vol 13(2).136-140
Lawalata, I.J.2011. Pemberian Beberapa ZPT Terhadap Regenerasi Tanaman
Gloxinia (Siningia speciosa) dari Eksplan Batang dan Daun Secara In Vitro.
J.Exp.Life Science. Vol 1(2).56-110
Ekosari, R. 2015. Kultur Jaringan. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi
IPB
Fatmawati, T.A., Nurhidayati, T. Jadid, N. 2015. Pengaruh Kombinasi Zat
Pengatur Tumbuh IAA dan BAP pada Kultur Jaringan Tembakau Nicotiana
tabacum L. var. Parncak 95. Surabaya: Prodi Biologi FMIPA Institut
Teknologi Sepuluh November.
Sutarto, I., Supriyatna N., Yulianti. 2003. Penggunaan Media Alternatif pada
Kultur In Vitro Jahe (Zingiber officinale) Varietasa Gajah. Buletin Agronomi.
Vol 31 (1).1-7.
Manuhara, Y.S.W. 2014. Kapita Selekta Kultur Jaringan Tumbuhan. Surabaya:
Airlangga University Press
Hadisoeganda, A. Widjaja W. 1996. Bayam Sayuran Penyangga Petani di
Indonesia. Monograf No. 4. BPPP.Bandung : Lembang.

Hendaryono dan Ir Ari Wijayani, 2007. Teknik Kultur Jaringan. Kanisius,


Yogyakarta.
Manuhara, Y.S.W. 2014. Kapita Selekta Kultur Jaringan Tumbuhan. Surabaya:
Airlangga University Press.

25
Marlin, dkk. 2012. Penuntun Praktikum Kultur Jaringan. Fakultas Pertanian
Universitas Bengkulu, Bengkulu.
Santoso, U. dan F. Nursandi. 2004. Kultur jaringan tanaman. Malang: Universitas
Muhammadiyah Malang Press.

Yusnita. 2003. Kultur Jaringan: Cara Memperbanyak Tanaman secara Efisien.


Jakarta: Agromedia Pustaka

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman; Solusi Perbanyakan Tanaman Budi


Daya. Bumi Aksara, Jakarta.

Na, M., Jang, J., Njamen, D., Mbafor, J .T., Fomum, Z.T., Kim, B.Y., Oh, W.K.,
and Ahn, J.S., 2006, Protein Tyrosine Phosphatase-1B Inhibitory
Activity of Isoprenylated Flavonoids Isolated from Erythrina mildbraedii.J.
Nat. Prod,69, 1572-1576
George, E.F. and P.D. Sherrington 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Hand Book and Directory of Comercial Laboratories. Eastern Press,
Reading, Berks. England. p. 9-449.
Lerch K. 1981. Tyrosinase kinetics: A semi-quantitative model of the
mechanism of oxidation of monohydric and dihydric phenolic substrates. In
Sigel, H. (Ed.). Metal Ions in Biology System. 13 Marcel Dekker Inc.,
New York, Basel. p. 143-186.
Tabiyeh, D.T., F. Bernard, and H. Shacker. 2006.Investigation of
glutathione, salicylic acid and GA3 effects on browning in Pistacia
vera shoot tips culture. ISHS Acta Hort. 726.

26
LAMPIRAN

Gambar 1. Persiapan Isolasi dan Inokulasi

Gambar 2. Tahap Inokulasi pada LAF cabinet

Gambar 4. Hasil Inokulasi


Gambar 3. Tahap Penutupan dengan Alumunium
foil

27
28