Anda di halaman 1dari 22

KASUS PELANGGARAN HAK PERAWAT-KLIEN DALAM PELAYANAN

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Etika Keperawatan
Yang dibina oleh Ibu Kasiati, S.Kp.Ns.M.Kep

Disusun Oleh :
1. Sonia Nabila (P17220194050)
2. Nabilatur Rosidah (P17220194057)
3. Indriani (P17220194058)
4. Alda Chumaidah (P17220194067)
5. Ageng patuh pranata (P17220194068)
6. Novita maulia puspasari (P17220194078)

Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang


Jurusan Keperawatan
D3 Keperawatan Lawang
Februari 2020
KATA PENGANTAR

Segala Puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga bisa menyelesaikan makalah “Kasus
Pelanggaran Hak Perawat-Klien Dalam Pelayanan”, dengan tepat pada waktunya. Banyak
rintangan dan hambatan yang dihadapi dalam penyusunan makalah ini. Namun, berkat bantuan
dan dukungan dari teman-teman sehingga bisa menyelesaikan makalah ini.

Dengan adanya makalah ini di harapkan dapat membantu dalam proses pembelajaran
dan dapat menambah pengetahuan para pembaca. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dorongan, dan doa. Tidak
lupa pula mengharap kritik dan saran untuk memperbaiki makalah ini di karenakan banyak
kekurangan dalam mengerjakan makalah ini.

Lawang, Februari 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG.................................................................................................. 1
1.2 TUJUAN PEMBAHASAN ......................................................................................... 2
1.3 MANFAAT .............................................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN HAK .................................................................................................. 3
2.2 MACAM-MACAM HAK .......................................................................................... 3
2.3 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI .......................................................................... 4
2.4 HAK DAN KEWAJIBAN PERAWAT .......................................................................... 5
2.5 HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN ATAU KLIEN........................................................... 7
2.6 HAK DAN KEWAJIBAN MENURUT UNDANG-UNDANG ......................................... 10

BAB III GAMBARAN KASUS


3.1 SKENARIO KASUS .................................................................................................. 13
3.2 ANALISA KASUS ..................................................................................................... 15

BAB IV PENUTUP
4.1 KESIMPULAN ......................................................................................................... 17
4.2 SARAN ................................................................................................................... 17

DAFTAR RUJUKAN ....................................................................................................... 19


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawat merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga
profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan
dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung
jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body of knowledge yang dapat diuji
kebenarannya serta ilmunya dapat diimplementasikan kepada masyarakat langsung.

Sistem pelayanan kesehatan diberbagai negara telah tertata dengan baik. Berbagai cara
telah dilakukan dalam meningkatkan kualitas pelayanannya, terutama dalam pengembangan
teknologi dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan. Selain itu, kelengkapan fasilitas dan
sarana lain juga dilakukan. Sebagian masyarakat telah menyadari pentingnya potensi
kesehatan, walaupun dengan biaya yang cukup mahal. Oleh karena itu, sebagian masyarakat
telah masuk menjadi anggota asuransi kesehatan (Sumijatun, dkk, 2006).

Menurut Hassmiller. SB, 1996, dalam Sumijatun, dkk, 2006, Pelayanan kesehatan
dapat dilakukan dengan cara kredit, tetapi permasalahan lain juga masih banyak yang harus
dilakukan. Masalah tersebut terkait dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi kedokteran,
ilmu pengetahuan dan industri farmasi. Dengan demikian, sistem yang ada harus selalu
megngikuti perkembangan tersebut, yang antara lain adalah dana, kualitas, dan biaya
kesehatan/perawatan.

Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk implementasi


praktek keperawatan yang ditujukan kepada klien baik kepada individu, keluarga, dan
masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan guna
mempertahankan dan memelihara kesehatan serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain
upaya praktek keperawatan berupa promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitasi.

Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung berhubungan dan


berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan dan pada saat interaksi inilah sering timbul
beberapa hal yang tidak diiginkan baik disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian
inilah sering menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek keperawatan.
Oleh karena itu, profesi keperawatan harus mempunyai standar profesi dan aturan lainnya yang
didasari oleh ilmu pengetahuan yang dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada
masyarakat. Dengan adanya standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah
seorang perawat melakukan malpraktek, kelalaian, ataupun bentuk pelanggaran praktek
keperawatan lainnya.

1.2 Tujuan Pembahasan

Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat memahami kasus
pelanggaran hak perawat-klien dalam pelayanan. Dan juga secara khusus mahasiswa dapat
menjelaskan tentang definisi, macam-macam, dan faktor yang mempengaruhi terjadinya kasus
pelanggaran hak perawat-klien dalam pelayanan tersebut.

1.3 Manfaat

Dengan adanya penyusunan makalah ini kita mampu menganalisis kasus pelanggaran
hak perawat-klien dalam pelayanan, mampu menganalisis solusi, keuntungan dan kerugian dari
prinsip etik, nilai etik, dan dasar hukum dalam kode etik keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Hak

Berikut beberapa pengertian dari hak, antara lain:

1. Secara umum, Hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang merupakan
kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas, dan legalitas.
2. Hak merupakan tuntutan terhadap sesuatu, dimana seseorang mempunyai hak
terhadapnya, seperti kekuasaan dan hak-hak istimewa yang berupa tuntutan yang
berdasarkan keadilan, moralitas atau legalitas. Hak dapat dipandang dari sudut hokum
dan pribadi (C. Fagin, 1975).
3. Menurut KBBI, hak memiliki pengertian tentang sesuatu hal yang benar, milik
kepunyaan, kewenangan, kekuasaan untuk berbuat sesuatu (karena telah ditentukan
oleh undang-undang, aturan, dan sebagainya), kekuasaan yang benar atas sesuatu atau
untuk menuntut sesuatu, derajat atau martabat.
4. Hak dari sudut hukum. Hak mempunyai atau memberi kekuasaan tertentu untuk
mengendalikan situasi, misalnya mempunyai hak untuk masuk restoran dan membeli
makanan yang diinginkannya. Dalam hal ini jika ditinjau dari segi hukum, orang yang
bersangkutan memiliki kewajiban tertentu yang menyertainya yaitu orang tersebut
harus diharuskan atau diwajibkan untuk berprilaku sopan dan membayar makanan
tersebut (Fromer, 1981).
5. Hak dari sudut pribadi, yang telah disesuaikan dengan perkembangan etis, antara lain
mengatur kehidupan seseorang berdasarkan konsep benar atau salah, baik atau buruk
yang ada dilingkungan tempat ia hidup dan tinggal dalam kurun waktu tertentu.
6. Hak-hak asasi manusia mengacu pada hak-hak istimewa atau hak-hak asasi setiap
orang. Misalnya, seseorang dapat mengekspresikan rasa iba, simpati, dan pemikiran-
pemikirannya (Fagin, 1975).

2.2 Macam-macam Hak

Hak terdiri dari 3 jenis, yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan, dan hak legislatif.

1. Hak-Hak Kebebasan
Hak mengenai kebebasan diekspresikan sebagai hak orang-orang untuk hidup sesuai
dengan pilihannya dalam batas-batas yang ditentukan. Misalnya, seorang perawat wanita
yang bekerja disuatu Rumah Sakit, dapat memakai seragam yang dia inginkan (haknya)
asalkan berwarna putih bersih dan sopan sesuai dengan batas-batas. Dalam contoh tersebut
terdap 2 hal penting, yaitu sebagai berikut:

a. Batas-batas kesopanan tersebut merupakan kebijakan rumah sakit.


b. Warna putih dan sopan merupakan norma yang diterapkan untuk perawat.

2. Hak-Hak Kesejahteraan

Hak-hak yang diberikan secara hokum untuk hal-hal yang merupakan standar keselamatan
spesifik dalam suatu bangunan atau wilayah tertentu. Misalnya, hak pasien untuk
memperoleh asuhan keperawatan, hak penduduk untuk memperoleh air yang bersih, dan
lain-lain.

3. Hak-Hak Legistalif

Hak-hak legislatif diterapkan oleh hokum berdasarkan konsep keadilan. Misalnya, seorang
wanita mempunyai hak legal untuk tidak diperlakukan semena-mena oleh suaminya.
Badman dan Badman (1986), menyatakan bahwa hak-hak legislatif mempunyai 4 peranan
di masyarakat, yaitu membuat peraturan, mengubah peraturan, membatasi moral terhadap
peraturan yang tidak adil, memberikan keputusan pengadilan atau menyelesaikan
perselisihan.

2.3 Faktor yang Mempengaruhi

1. Meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap asuhan kesehatan dan lebih besarnya
partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan.
2. Meningkatnya jumlah malpraktik yang terjadi dimasyarakat.
3. Adanya legislasi (pengesahan) yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien.
4. Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang kesehatan
dan penggunaan pasien sebagai objek atau tujuan pendidikan dan bila pasien tidak
berpartisipai apakah akan mempengaruhi mutu asuhan kesehatan atau tidak.
2.4 Hak dan Kewajiban Perawat

1. Hak Perawat

a. Perawat berhak untuk mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas


sesuai dengan profesinya.

b. Perawat berhak untuk mengembangkan diri melalui kemampuan spesialisasi sesuai


dengan latar belakang pendidikannya.

c. Perawat berhak untuk menolak keinginan pasien atau klien yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan, serta standard an kode etik profesi.

d. Perawat berhak untuk mendapatkan informasi lengkap dari pasien atau klien atau
keluarganya tentang keluhan kesehatan dan ketidakpuasaanya terhadap pelayanan
yang diberikan.

e. Perawat berhak untuk meningkatkan ilmu pengetahuannya berdasarkan


perkembangan IPTEK dalam bidang keperawatan, kesehatan secara terus-menerus.

f. Perawat berhak untuk diperlakukan secara adil dan jujur oleh institusi pelayanan
maupun oleh pasien/klien.

g. Perawat berhak mendapatkan jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang dapat
menimbulkan bahaya fisik maupun stress emosional.

h. Perawat berhak diikutsertakan dalam penyusunan dan penetapan kebijaksanaan


pelayanan kesehatan.

i. Perawat berhak atas privasi dan berhak menuntut apabila nama baiknya dicemarkan
oleh pasien/klien dan/atau keluarganya serta tenaga kesehatan lainnya.

j. Perawat berhak untuk menolak dipindahkan ke tempat tugas lain, baik melalui
anjuran atau pengumuman tertulis karena diperlukan, untuk melakukan tindakan
yang bertentangan dengan standar profesi atau kode etik keperawatan atau peraturan
perundang-undangan lainnya.

k. Perawat berhak untuk mendapatkan perhargaan dan imbalan yang layak dari jasa
profesi yang diberikannya berdasarkan perjanjian atau ketentuan yang berlaku di
institusi pelayanan yang bersangkutan.
l. Perawat berhak untuk memperoleh kesempatan mengembangkan karier sesuat
dengan bidang profesinya.

 Hak-hak Perawat Menurut Claire Fagin (1975)

a) Hak memperoleh martabat dalam rangka mengekspresikan dan meningkatkan


dirinya melalui penggunaan kemampuan khususnya dan sesuai dengan latar
belakang pendidikannya.

b) Hak memperoleh pengakuan sehubungan denga kontribusinya melalui ketetapan


yang diberikan lingkungan untuk praktik yang dijalankan serta imbalan ekonomi
sehubungan dengan profesinya.

c) Hak mendapatkan lingkungan kerja dengan stress fisik dan emosional serta risiko
kerja yang seminimal mungkin.

d) Hak untuk melakukan praktik-praktik profesi dalam batas-batas hukum yang


berlaku.

e) Hak menetapkan standar yang bermutu dalam perawatan yang dilakukan.

f) Hak berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan yang berpengaruh terhadap


perawatan.

g) Hak untuk berpartisipasi dalam organisasi sosial dan politik yang mewakili
perawat dalam meningkatkan asuhan keperawatan.

2. Kewajiban Perawat

a. Perawat wajib mematuhi semua peraturan institusi yang bersangkutan.

b. Perawat wajib memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai dengan


standar profesi dan batas-batas kegunaannya.

c. Perawat wajib menghormati hak-hak pasien.

d. Perawat wajib merujuk pasien/klien kepada perawat atau tenaga kesehatan lain
yang lebih baik, bila yang bersangkutan tidak dapat mengatasinya sendiri.

e. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/klien untuk berhubungan


dengan keluarganya, sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan atau standar
profesi yang ada.
f. Perawat wajib memberikan kesempatan kepada pasien/klien untuk menjalankan
ibadahnya sesuati dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

g. Perawat wajib berkolaborasi dengan tenaga medis atau tenaga kesehatan lainnya
dalam memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan kepada pasien/klien.

h. Perawat wajib memerikan informasi yang akurat tentang tindakan keperawatan


yang diberikan kepada pasien/klien dan keluarganya sesuai dengan batas
kemampuannya.

i. Perawat wajib meningkatkan mutu pelayanan keperawatannya sesuai dengan


standar profesi keperawatan demi kepuasan pasien/klien.

j. Perawat wajib membuat dokumentasi asuhan keperawatan secara akurat dan


berkesinambungan.

k. Perawat wajib mengikuti perkembangan IPTEK keperawatan atau kesehatan


secara terus-menerus.

l. Perawat wajib melakukan pelayanan darurat sebagai tugas kemanusiaan sesuai


dengan batas-batas kewenangan.

m. Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang klien/pasien,


kecuali jika dimintai keterangan oleh pihak yang berwenang.

n. Perawat wajib memenuhi hal-hal yang terlah disepakati atau perjanjian yang telah
dibuat sebelumnya terhadap institusi tempat bekerja.

2.5 Hak dan Kewajiban Pasien atau Klien

1.) Hak-hak Pasien

Pentingnya mengetahui hak-hak pasien dalam pelaksanaan asuhan kesehatan baru


muncul pada akhir tahun 1960. Tujuan dari hal tersebut adalah untuk meningkatkan mutu
asuhan keperawatan dan membuat sistem asuhan kesehatan yang responsive terhadap
kebutuhan klien. Dewasa ini, pasien/klien dapat meminta untuk membuat keputusan sendiri
dan mengendalikan diri sendiri bila ia sakit.

Persetujuan, kerahasiaan hak klien untuk menolak pengobatan, merupakan aspek dari
pengambilan keputusan untuk diri pasien/klien sendiri.
Penyertaan hak-hak pasien (Patient’s Bill of Rights) dikeluarkan oleh The American
Hospital Association pada 1973 dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang
pentingnya pemahaman hak-hak pasien yang akan dirawat di rumah sakit.

 Pernyataan tentang hak-hak tersebut adalah :

a. Pasien mempunyai hak untuk mempertimbangkan dan menghargai asuhan


keperawatan yang akan diterimanya.

b. Pasien berhak memperoleh informasi lengkap dari dokter yang memeriksanya


berkaitan dengan diagnosis, pengobatan dan prognosis dalam arti pasien layak untuk
mengerti masalah yang dihadapinya.

c. Pasien berhak untuk menerima informasi penting dan memberikan suatu


persetujuan tentang dimulainya suatu prosedur pengobatan, serta risiko penting yang
kemungkinan akan dialaminya, kecuali dalam situasi yang darurat.

d. Pasien berhak untuk menolak pengobatan sejauh diijinkan oleh hokum dan
diinformasikan tentang konsekuensi tindakan yang akan diterimanya.

e. Pasien berhak mengetahui setiap pertimbangan dari privasinya yang menyangkut


program asuhan medis, konsultasi dan pengobatan yang dilakukan dengan cermat
dan dirahasiakan.

f. Pasien berhak atas kerahasiaan semua bentuk komunikasi dan catatan tentang
asuhan kesehatan yang diberikan kepadanya.

g. Pasien berhak untuk mengerti bila diperlukan rujukan ke tempat lain yang lebih
lengkap dan memperoleh informasi yang lengkap tentang alasan rujukan tersebut,
dan rumah sakit yang ditunjuknya dapat menerima.

h. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang hubungan rumah sakit instansi
lain, seperti instansi pendidikan atau instansi terkait lainnya sehubungan dengan
asuhan yang diterimanya. Contoh: hubungan individu yang merawatnya, nama yang
merawatnya dan sebagainya.

i. Pasien berhak untuk menerima pendapat atau menolakk bila diikutsertakan sebagai
suatu eksperimen yang berhubungan dengan asuhan atau pengobatannya.
j. Pasien berhak untuk memperoleh informasi tentang pemberian delegasi dari
dokternya kepada dokter lain, bila dibutuhkan dalam rangka asuhannya.

k. Pasien berhak untuk mengetahui dan menerima penjelasan tentang biaya yang
diperlukan untuk asuhan kesehatannya.

l. Pasien berhak untuk mengetahui peraturan atau ketentuan rumah sakit yang harus
dipatuhinya sebagai pasien selama ia dirawat.

 Pernyataan diatas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap asuhan kesehatan dan lebih


besarnya partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan.

b. Meningkatnya jumlah malpraktik yang terjadi di masyarakat.

c. Adanya legislasi yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien.

d. Konsumen menyadari tentang peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang


kesehatan dan penggunaan klien sebagai objek atau tujuan pendidikan, dan bila
pasien tidak berpartisipasi apakah akan mempengaruhi mutu asuhan atau tidak.

 Sedangkan National League For Nursing (1997) menyakini bahwa hak-hak pasien
adalah sebagai berikut:
1. Hak memperoleh asuhan kesehatan sesuai standar professional tanpa memandang
tatanan kesehatan yang ada.
2. Hak untuk diperlakukan secara sopan dan santun, serta keramahan dari perawat yang
bertugas tanpa membedakan ras, warna kulit, derajat di masyarakat, jenis kelamin,
kebangsaan, politis dan sebagainya.
3. Hak memperoleh informasi tentang diagnosis penyakitnya, prognosis, pengobatan,
termasuk alternatif asuhan yang diberikan, risiko yang mungkin terjadi agar pasien dan
keluarganya memahami dan dapat memberikan persetujuan atas tindakan medis yang
akan dilakukan kepadanya.
4. Hak legal untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan tentang asuhan
keperawatan yang akan diberikan kepadanya.
5. Hak untuk menolak observasi dari tim kesehatan yang langsung terlibat dalam asuhan
kesehatannya.
6. Hak mendapatkan privasi selama wawancara, pemeriksaan kesehatan dan pengobatan.
7. Hak mendapatkan privasi untuk berkomunikasi dan menerima kunjungan dari orang-
orang yang benar disetujuinya.
8. Hak untuk menolak pengobatan atau partisipasi dalam pelaksanaan penelitian dan
eksperimen yang dilakukan tanpa jaminan hokum bila terjadi dampak yang merugikan.
9. Hak terhadap koordinasi dan asuhan kesehatan yang berkelanjutan.
10. Hak menerima pendidikan/instruksi yang tepat dari petugas kesehatan untuk
mengangkatkan pengetahuan tentang kebutuhan kesehatan dasar secara optimal.
11. Hak kerahasiaan terhadap dokumen serta hasil komunikasi, baik secara lisan ataupun
secara tulisan, yang diberikan kepada petugas kesehatan, kecuali untuk kepentingan
umum.

2.) Kewajiban Pasien

Kewajiban adalah seperangkat tanggungjawab seseorang untuk melakukan sesuatu yang


memang harus dilakukan agar dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan haknya. Agar
pelaksanaan asuhan kesehatan dan keperawatan dapat dilakukan semaksimal mungkin,
diperlukan kewajiban sebagai berikut:

1. Pasien atau keluarganya wajib menaati segala peraturan dan tata tertib yang ada
diinstitusi kesehatan dan keperawatan yang memberikan pelayanan kepadanya.
2. Pasien diwajibkan mematuhi segala kebijakan yang ada, baik dari dokter ataupun dari
perawat yang memberikan asuhan.
3. Pasien atau keluarganya berkewajiban untuk memberikan informasi yang lengkap dan
jujur tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter atau perawat yang merawatnya.
4. Pasien atau keluarga yang bertanggungjawab terhadapnya, berkewajiban untuk
menyelesaikan biaya pengobatan, perawatan dan pemeriksaan yang diperlukan selam
perawatannya.
5. Pasien atau keluarganya berkewajiban untuk memenuhi segala sesuatu yang diperlukan
sesuai dengan perjanjian atau kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

2.6 Hak dan Kewajiban Menurut Undang-Undang

Hak dan kewajiban menurut Undang-Undang RI, No.23 tahun 1992. Berikut ini adalah
isi undang-undang RI, No. 23 tahun 1992 tentang Hak dan Kewajiban tenaga medis, perawat
dan pasien:
BAB I

Pasal 1 ayat 1

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap
orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

BAB III Hak dan Kewajiban

Pasal 4

Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan yang optimal

Pasal 5

Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan perorangan, keluarga, dan lingkungannya.

BAB V Upaya Kesehatan

Bagian kedua : Kesehatan keluarga

Pasal 12

Ayat 1

Kesehatan keluarga diselenggarakan untuk mewujudkan keluarga sehat, kecil, bahagia dan
sejahtera.

Ayat 2

Kesehatan keluarga meliputi kesehatan suami istri, anak dan anggota keluarga lainnya

Pasal 14

Kesehatan istri meliputi kesehatan pada masa pra kehamilan, persalinan, pasca persalinan,
dan masa diluar kehamilan dan persalinan.

Pasal 15

Ayat 1

Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan janinnya
dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
Ayat 2

Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 hanya dapat dilakukan :

a. berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut

b. oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan
dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli

c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya.

d. Pada sarana kesehatan tertentu.

BAB VI Sumber Daya Kesehatan

Pasal 53

Ayat 1

Tenaga kesehatan berhak memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai
dengan profesinya

Ayat 2

Tenaga kesehatan, dalam melakukan tugasnya, berkewajiban untuk mematuhi standar profesi
dan menghormati hak pasien.

Pasal 54

Ayat 1

Terhadap tenaga kesehatan yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan
profesinya dapat dikenakan tindakan disiplin .

Ayat 2

Penentuan ada tidaknya kesalahan atau kealalaian, ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga
Kesehatan.
BAB III
GAMBARAN KASUS

3.1 Skenario Kasus


Kasus Yang Melanggar Prinsip Moral Beneficence dan Non Malefiece

Pada suatu hari di Rumah Sakit Wava Husada terdapat seorang pasien yang bernama
Ibu Dewi usia 35 tahun mengalami dehidrasi berat dan mendapat terapi pemasangan infus.
Setelah dilakukan pemasangan infus dehidrasi yang dialami pasien tidak kunjung berkurang
sehingga dokter menganjurkan untuk memberikan obat.

Perawat Indri adalah seorang perawat yang bekerja di RS Wava Husada yang kebetulan
mendapatkan shift malam bersama dengan satu orang perawat yang bernama Alda. Pada jam
7 malam perawat Indri akan melakukan pemberian obat pada pasien yang bernama Ibu Dewi,
saat ia membaca catatan instruksi dari dokter dan ia kesulitan membaca tulisan tangan sang
dokter. Diruang perawat, perawat Indri dan perawat Alda sedang berbincang.

Perawat Alda :”Ndri kamu sekarang sudah waktunya melakukan pemberian obat pada
pasien yang bernama ibu dewi.”

Perawat Indri :”Iya. hampir saja lupa. Baiklah saya akan baca terlebih dahulu instruksi
dari dokter mengenai obat yang akan diberikan pada ibu dewi.”

* Indri mengecek catatan dari dokter dan terlihat kebingungan

Perawat Alda :”Kenapa ndri? Kok kelihatannya bingung?”

Perawat Indri :”Eh iya nih. Saya bingung ini tulisan dosisnya berapa ya? dosisnya
tulisannya ngga jelas ya? menurut kamu berapa?”

Perawat Alda :”Kok ngga jelas gitu dari pada salah lebih baik tanya dokternya aja deh.
Telepon atau sms aja dokternya.”

Perawat Indri :”Kalau gitu repot. Jagian sudah malem takut ngeganggu. Nanti malah
dibilang ngga sopan lagi. Kayanya ini tulisannya 5 mg deh.”

Perawat Alda :”Kamu yakin ndri? Jangan sampai salah bahaya lho nantik kalau salah
malah kita yang dimarahi.”

Perawat Indri :”Yakin 5 mg tenang saja.”


*Indri pun mengambil keputusan sepihak dalam menentukan dosis obat yang akan diberikan
pada pasien. Di ruang pasien.

Perawat. Indri :”Ibu Dewi sekarang saatnya ibu minum obat ya. Ini obatnya silahkan
diminum.”

Pasien :”Ya sus.”

Bu dewi pun meminum obat yang diberikan oleh perawat.'Keesokan paginya Keluarga
ibu dewi mengadu pada perawat kepala ruangan karena setelah meminum obat yang
diberikannya ibu dewi mengalami alergi mual mual dan muntah.

Keluarga :”Sus bagaimana ini? Kenapa ibu saya jadi seperti ini setelah meminum
obat yang diresepkan dokter?”

Komite Etik :”Emang apa yang terjadi bu?”

Keluarga :”Ibu saya mengalami mual dan muntah. Badannya juga jadi gatal-
gatal.”

Komite Etik :”Kenapa bisa terjadi seperti itu? Kalau boleh tahu siapa perawat yang
memberikan obat saat itu?”

Keluarga :”Kalau tidak salah yang memberikan obat itu adalah perawat Indri.”

Komite Etik :”Baiklah. Saya akan meminta dokter untuk memeriksa keadaan Ibu
Dewi.”

*Dokter selesai memeriksa keadaan pasien.

Keluarga :”Bagaimana keadaan pasien tersebut dok?”

Dokter :”Sepertinya pasien mengalami kesalahan pemberian obat. Seharusnya


pasien meminum obat dengan dosis 2 mg tapi obat yang diminum ternyata dosisnya /5 mg.
Untungnya gejala yang dialami pasien segera ditangani. Kalau tidak mungkin keadaannya akan
semakin memburuk.”

Keluarga pasien tersebut kemudian mengadukan masalah ini pada komite etik rumah
sakit. Lalu dilakukanlah penyelidikan. Perawat yang bersangkutan dan panggil untuk dimintai
keterangan.
Komite Etik :”Suster indri apakah benar saat itu anda yang bertugas memberikan obat
pada pasien yang bernama Ibu Dewi?”

Perawat Indri :”Iya bu betul. Ada apa?”

Komite Etik :”Ibu Dewi mengalami alergi & mual dan muntah setelah meminum
obat yang anda berikan. Apakah anda melakukan pemberian obat sesuai dengan prosedur?”

Perawat Indri :”Iya bu. Saya melakukannya sesuai dengan instruksi yang ditulis oleh
dokter.”

Komite Etik :”Apakah catatan tersebut masih ada?”

Perawat Indri :”Iya bu masih ada dan saya taruh di berkas berkas resep pasien Ibu
Dewi.”

Komite Etik :”Kalau begitu panggil dokter yang memberikan resep instruksi
tersebut.

Dokter yang bersangkutan memberikan keterangannya. Perawat yang saat itu bertugas
bersama perawat Indri pun dimintai keterangan. Tidak lama kemudian perawat Indri di tindak
lanjuti oleh komite etik.

Kesimpulan yang dapat di petik dari cerita tersebut adalah sebagai perawat kita tidak
boleh ceroboh dalam melakukan suatu tindakan harus didasari dan di landasi oleh intruktur dari
dokter maupun atasan

3.2 Analisa Kasus


1. Analisa dan klarifikasi kasus

Akibat dehidrasi pasien terlihat pucat sehingga diberikan terapi pemasangan infus
namun dehidrasi yang dialami pasien tidak kunjung berkurang sehingga perawat memberikan
tindakan lanjutan dengan memberikan obat, namun perawat salah memberikan dosis obat
sehingga pasien mengalami mual-muntah.

2. Hak dan kewajiban pasien dalam kasus ini


a. Memperoleh layanan kesehatan yang bermutu dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional. Sebagai pasien kita berhak mendapatkan pelayanan kesehatan
yang bermutu dan berstandar SOP, agar pelayanan tersebut menjadi kenyamanan
pasien dan mencegah terjadinya kejadian tidak diinginkan. Dalam kasus tersebut bahwa
perawat tersebut sangat tidak hati-hati dan melakukannya tidak sesuai dengan SOP.
b. Memperoleh layanan efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik
dan materi. Dengan memperoleh layanan yang efektif dan efisien, pasien akan terhindar
dari kerugian apapun baik itu dari pasien maupun perawat. Dalam kasus tersebut pasien
mengalami kerugian pada fisiknya yang menjadi mual-muntah.
c. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang ditetapkan. Jika pelayanan
tersebut kurang berkualitas, pasien bisa mengajukan kepada atasan atas pelayanan yang
kurang berkualitas. Dalam kasus tersebut, kualitas pelayanannya sangat tidak baik dan
tidak memperdulikan pasien tersebut.
3. Komite Etik

Sebelumnya komite etik melihat dulu apa yang terjadi dengan pasien tersebut. Jika
melanggar hukum, maka akan dikenakan sanksi sesuai peraturan perundang-undangan. Dalam
kasus tersebut, pasien mengalami kerugian fisik menjadi mual-muntah berarti pernyataan
tersebut bahwa tindakan yang dilakukan perawat yang melanggar hukum, dan haruslah
memenuhi beberapa syarat:

 Harus ada perbuatan (baik berbuat maupun tidak berbuat).


 Perbuatan tersebut melanggar hukum (baik tertulis maupun tidak tertulis).
 Ada kerugian.
 Ada hubungan sebab akibat (hukum kausal) antara perbuatan yang melanggar hukum
dengan kerugian yang diderita.
 Adanya kesalahan (schuld).

Sedangkan untuk dapat menuntut pergantian kerugian (ganti rugi) karena kelalaian
dokter atau perawat, maka pasien harus dapat membuktikan adanya empat unsur berikut:

 Adanya suatu kewajiban dokter atau perawat terhadap pasien.


 Perawat telah melanggar standar pelayanan medic yang lazim.
 Penggugat (pasien) telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya.
 Secara factual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Perawat merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan
kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga, dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga
profesional, keperawatan menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan
dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat dipertanggung
jawabkan. Seorang perawat harus terus mengembangkan suatu perasaan yang kuat tentang
identitas moral mereka, mencari dukungan dari sumber profesional, dan mengembangkan
pengetahuan serta kemampuan mereka dalam bidang etik. Posisi atau identitas moral perawat
yang disebut “etik perawatan”. Etik perawatan dihubungkan dengan hubungan antar
masyarakat dan dengan karakter perawat terhadap orang lain. Perawat juga diharuskan dapat
mengambil keputusan etik yang baik pada saat mengalami dilema dalam berbagai kasus yang
ditemui. Perawat dalam mengemban tugasnya tentunya juga memiliki hak dan kewajiban.
Begitu juga dengan pasien atau klien, mereka juga memiliki hak dan kewajiban tersendiri.

Pengertian hak secara umum, hak adalah tuntutan seseorang terhadap sesuatu yang
merupakan kebutuhan pribadinya sesuai dengan keadilan, moralitas, dan legalitas. Macam-
macam hak terdiri dari 3 jenis, yaitu hak kebebasan, hak kesejahteraan, dan hak legislatif.
Banyak faktor yang mempengaruhi, yaitu meningkatnya kesadaran para konsumen terhadap
asuhan kesehatan dan lebih besarnya partisipasi mereka dalam perencanaan asuhan,
meningkatnya jumlah malpraktik yang terjadi dimasyarakat, adanya legislasi (pengesahan)
yang diterapkan untuk melindungi hak-hak asasi pasien, dan konsumen menyadari tentang
peningkatan jumlah pendidikan dalam bidang kesehatan dan penggunaan pasien sebagai objek
atau tujuan pendidikan dan bila pasien tidak berpartisipai apakah akan mempengaruhi mutu
asuhan kesehatan atau tidak. Hak dan kewajiban perawat dan pasien atau klien tercantum dalam
Undang-Undang RI, No.23 tahun 1992.

4.2 Saran
Setelah memperoleh kesimpulan tentang Kasus Pelanggaran Hak Perawat-Klien Dalam
Pelayanan, maka penyusun dapat mengemukakan saran sebagai berikut :
1. Bagi Pembaca
Diharapkan penyusunan makalah ini memberi masukan dan dapat diaplikasikan di
kehidupan dan membaca serta dapat memahami.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan penyusunan makalah ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk
melakukan pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR RUJUKAN

Sumijatun, S.Kp, MARS. (2002). BUKU KONSEP DASAR MENUJU KEPERAWATAN


PROFESIONAL. Trans Info Media

Ermawati Dalami. (2010). Etika Keperawatan. CV. Trans Info Media.

https://www.slideshare.net/amsyuki/96666973-makalahbuainikasus2
https://www.academia.edu/37945876/Kasus_Kelalaian_Keperawatan

http://ririnwaristahakdankewajiban.blogspot.com/2013/05/hak-dan-kewajiban-dalam-
etika.html

https://syehaceh.wordpress.com/2008/06/18/hak-pasien-dan-perawat/

Anda mungkin juga menyukai