Anda di halaman 1dari 10

ANALYSIS TREND AND ISSUE OF SCIENCE

KURIKULUM BERBASIS KERANGKA KUALIFIKASI

NASIONAL INDONESIA (KKNI)

Group 3:

Sulchana Saraswati (11315244005)

Lukman Try Atmojo (11315244006)

INTERNATIONAL SCIENCE EDUCATION PROGRAM

FACULTY OF MATHEMATHICS AND NATURAL SCIENCES

STATE UNIVERSITY OF YOGYAKARTA

2014
BAB I

PENDAHULUAN

Artikel diunduh dari http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/02/18/perpres-no-8-


tahun-2012-kkni/:

PP No. 8 tahun 2012: Kualifikasi Manusia Indonesia

Oleh: AKHMAD SUDRAJAT

Terhitung tanggal 17 Januari 2012 lalu, Presiden RI telah menandatangani


Peraturan baru yaitu Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang Kerangka
Kualifikasi Nasional Indonesia yang di dalamnya antara lain mengatur tentang:
jenjang, penyetaraan, dan penerapan kualifikasi sumber daya manusia Indonesia.

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) atau Indonesian


Qualification Framework adalah kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi
yang dapat menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan antara bidang
pendidikan dan bidang pelatihan kerja serta pengalaman kerja dalam rangka
pemberian pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di
berbagai sektor.

Kualifikasi pada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)


merefleksikan capaian pembelajaran (learning outcomes) yang diperoleh
seseorang melalui jalur : (1) pendidikan; (2) pelatihan; (3) pengalaman kerja, dan
(4) pembelajaran mandiri

Hadirnya peraturan ini tentu bukan dimaksudkan untuk membuat stratifikasi


sosial (pengkastaan) baru di tengah-tengah masyarakat kita, melainkan untuk
dimaknai sebagai upaya untuk mewujudkan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia
terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki Indonesia.
Fasli Jalal (2010) pernah mengatakan bahwa Kerangka Kualifikasi Nasional
Indonesia (KKNI) dapat membangun kesadaran mutu para penyelenggara
pendidikan di Indonesia untuk menghasilkan kualitas SDM yang sesuai dengan
deskriptor kualifikasi dan menjadi fondasi pengakuan, akses, kolaborasi sumber
daya manusia di dunia Internasional dan pada gilirannya akan meningkatkan daya
saing bangsa. Selain itu, melalui KKNI diharapkan dapat mendorong
terbangunnya country education profile dengan data yang komprehensif.

Dengan adanya KKNI ini akan merubah cara melihat kompetensi seseorang, tidak
lagi semata dari Ijazah tapi dengan melihat kepada kerangka kualifikasi yang
disepakati secara nasional sebagai dasar pengakuan terhadap hasil pendidikan
seseorang secara luas (formal, non formal, in formal atau otodidak) yang
akuntabel dan transparan.

Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), terdiri atas 9 (sembilan)


jenjang. Adapun keterkaitan antara latar pendidikan seseorang dengan jenjang
bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:
Artikel diunduh dari http://www.uny.ac.id/berita/workshop-pengembangan-
kurikulum-program-studi-di-pps-uny.html.

Workshop Pengembangan Kurikulum Program Studi di PPs UNY.

Sabtu, 15 Maret 2014 yang lalu, bertempat di Aula PPs UNY


diselenggarakan Workshop Pengembangan Kurikulum Program Studi PPs UNY
dengan menghadirkan narasumber Megawati Santoso, Ph.D. (Ketua tim KKNI
Pusat) dan Supra Wimbarti, Ph.D. (Dekan Fakultas Psikologi UGM). Acara
workshop dihadiri sekitar 125 peserta yang terdiri dari Kaprodi S2 dan S3 PPs,
serta dekan dan perwakilan Kaprodi S1 di lingkungan UNY.
Sebagai pembuka acara workshop yang berlangsung dari pagi hingga
sore hari tersebut, Direktur PPs UNY, Prof. Dr. Zuhdan Kun Prasetyo, M.Ed.
menyampaikan beberapa hal terkait penyelenggaraan kegiatan ini. Beliau
menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu langkah
antisipatif PPs UNY dalam rangkat menyambut KKNI dengan melakukan
sinkronisasi learning outcomes untuk program S1 sampai S3 yang ada di UNY.
Direktur juga sekaligus membuka secara simbolis acara workshop ini.
Di sesi pleno yang pertama, narasumber Megawati Santoso, Ph.D.
menyampaikan banyak hal mengenai KKNI sebagai acuan pengembangan
kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa berbagai
fora kerjasama global mau tidak mau memaksa Indonesia untuk membenahi
sistem pendidikannya agar SDM Indonesia mampu untuk bersaing dengan SDM
negara-negara lain di tingkat global. Menyongsong ASEAN Economic
Community 2015, salah satu hal yang menjadi fokus pengembangan di Indonesia
adalah di sektor pendidikan.
Pendidikan harus dilaksanakan secara profesional di lembaga masing-
masing dengan standard tertentu yang telah ditetapkan secara nasional. Kualitas
pendidikan harus senantiasa ditingkatkan, misalnya melalui program kerjasama
internasional yang sifatnya resiprokal. Bila dibandingkan dengan Negara lain di
Asia, tingkat pendidikan SDM di Indonesia masih dapat dikatakan cukup
tertinggal karena masih terkonsentrasi di pendidikan menengah dan dasar. Oleh
karena itu, Indonesia baru mampu menangani industri menengah ringan saja.
Megawati juga mengemukakan bahwa Kerangka Kurikulum Nasional
(National Qualifications Frameworks) di negara-negara lain telah dikembangkan
sejak 30 tahun yang lalu, sedangkan Indonesia baru mengembangkannya di tahun
2009. KKNI merupakan translation device yang akan berguna untuk
menyetarakan keahlian dengan level pendidikan formal melalui empat parameter
deskripsi, yaitu sikap dan tata nilai yang berupa deskripsi umum, kemampuan
kerja, penguasaan pengetahuan, serta hal/wewenang dan tanggung jawab yang
terbagi menjadi 9 level.
Untuk mencapai kesetaraan tersebut, maka kurikulum harus bisa
mengembangkan kompetensi untuk berbagai bidang yang mungkin akan menjadi
area kerja lulusan dengan memasukkan semua working competence dalam
learning outcomes. Perumusan learning outcomes ditentukan oleh supply side
(institusi penyelenggara pendidikan) dan demand side (pengguna lulusan) dengan
mempertimbangkan hal-hal seperti IQF level and descriptors, current curricula,
readiness to enter workplace, development of learning system and methodology
serta creation of adaptive science and technology development.
Berbagai pertanyaan dan tanggapan muncul dalam sesi tanya jawab yang
berlangsung setelah Ibu Megawati menyampaikan paparannya. Beberapa hal yang
dibahas antara lain adalah pentingnya untuk menerapkan pendidikan yang sesuai
dengan karakteristik dan kebutuhan nasional serta pentingnya dilakukan pemetaan
ilmu dan teknologi untuk pendidikan tinggi di Indonesia sebagai bahan
pertimbangan ketika menyusun kurikulum.
Di sesi selanjutnya dipaparkan mengenai contoh penyusunan kurikulum
berdasar KKNI yang dilakukan di Fakultas Psikologi UGM. Paparan mengenai
hal ini disampaikan oleh Supra Wimbarti, Ph.D. yang merupakan Dekan Fakultas
Psikologi UGM serta anggota tim KKNI pusat. Supra Wimbarti menyampaikan
beberapa pengalaman Fakultas Psikologi UGM ketika mengembangkan
kurikulum berorientasi KKNI untuk program S1, S2, dan S3-nya.
Untuk program S3 Psikologi misalnya, learning outcomes dikembangkan
berdasarkan kepakaran dosen yang berhak mengajar, perkembangan keilmuan,
local wisdom dan kebutuhan bangsa, serta karakteristik mahasiswa Indonesia.
Dari segi keilmuan, linearitas untuk program studi S1, S2, dan S3 penting untuk
dipertimbangkan karena hal ini akan menyangkut pengembangan karir lulusan.
Dalam praktiknya, berbagai persiapan perlu dilakukan untuk
melaksanakan kurikulum yang baru tersebut, di antaranya adalah persiapan SDM
dan fasilitas. Untuk melaksanakan kurikulum baru yang sudah sesuai dengan
KKNI, berbagai dukungan baik dari pihak universitas, fakultas, maupun dosen
dan tenaga kependidikan amatlah diperlukan.
Setelah kedua narasumber memaparkan mengenai berbagai hal yang
berkaitan dengan KKNI, acara workshop dilanjutkan dengan penyelarasan profil
lulusan dan learning outcomes prodi S1, S2, dan S3 di lingkungan UNY yang
dilakukan secara berkelompok berdasarkan fakultas. Acara berakhir di sore hari
dengan pelaporan hasil perumusan dari tiap kelompok yang dilanjutkan dengan
penutupan oleh ketua panitia, Dr. Udik Budi Wibowo. (ts)
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencanadan pengaturan mengenai
isimaupun bahan kajiandan pelajaranserta cara penyampaiandan
penilaiannya yang digunakan sebagai pedomanpenyelenggaraan kegiatan
belajar-mengajar di perguruan tinggi (SK Mendiknas 232/U/2000).

B. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia


1. Pengertian KKNI
Berdasarkan Peraturan Presiden No. 8 tahun 2012 tentang
Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia dapat disimpulkan bahwa:
a. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) adalah penjenjangan
capaian pembelajaran yang menyetarakan, luaran bidang pendidikan
formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja dalam rangka
pengakuan kompetensi kerja sesuai dengan struktur pekerjaan di
berbagai sektor.
b. Jenjang kualifikasi adalah tingkat capaian pembelajaran yang
disepakati secara nasional, disusun berdasarkan ukuran hasil
pendidikan dan/atau pelatihan yang diperoleh melalui pendidikan
formal, nonformal, informal, atau pengalaman kerja.
c. KKNI merupakan perwujudan mutu dan jati diri Bangsa Indonesia
terkait dengan sistem pendidikan dan pelatihan nasional yang dimiliki
Indonesia.
d. KKNI terdiri dari 9 (sembilan) jenjang kualifikasi, dimulai dari
Kualifikasi-1 sebagai kualifikasi terendah dan Kualifikasi-9 sebagai
kualifikasi tertinggi, sebagai berikut:
2. Kelebihan dari KKNI:
a. Meningkatkan kuantitas SDM Indonesia yang bermutu dan berdaya
saing internasional.
b. Meningkatkan kontribusi capaian pembelajaran yang diperoleh
melalui pendidikan formal, nonformal, informal atau pengelaman
kerja.
c. Meningkatkan mobilitas akademik untuk meningkatkan saling
pengertian dan solidaritas dan kerjasama perguruan tinggi antar
negara.
d. Meningkatkan pengakuan negara-negara lain kepada Indonesia
tanpa meninggalkan ciri dan kepribadian bangsa Indonesia

3. Kekurangan dari KKNI:


a. Kurangnya SDM atau ahli-ahli dalam bidang KKNI yang dapat
mengawasi penerapan KKNI di Indonesia.
b. Sulitnya melakukan standarisasi secara nasional.
C. Kurikulum Berbasis KKNI
Kemendikbud mengusulkan alternatif penyusunan kurikulum
berbasis atau merujuk pada KKNI. Alternatif tersebut diharapkan dapat
menciptakan sebuah kurikulum yang dapat memberikan learning outcomes
yang baik. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk menciptakan
kurikulum berbasis KKNI, yakni kelebihan dan kekurangan dari KKNI itu
sendiri. Pemerintah harus mempertimbangkan secara matang aspek-aspek
yang dapat mempengaruhi keberhasilan kurikulum berbasis KKNI, seperti
SDM pelaksana dan sarana prasarana pendukung. Namun, dengan
berbagai kelebihan yang dapat diperoleh dengan menerapkan KKNI di
dalam kurikulum di Indonesia, tidak ada salahnya kalau pengembangan
kurikulum berbasis KKNI terus dikembangkan dan nantinya dapat
diterapkan di Indonesia.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menurut kami, penerapan KKNI sebagai rujukan kurikulum
pendidikan di Indonesia dapat memberikan manfaat yang cukup
banyak dan dapat menjadi solusi untuk meningkatkan kompetensi atau
learning outcomes dari setiap lulusan.

B. Daftar Pustaka
Santoso, Megawati. 2013. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia.
Diunduh dari halan http://www.kopertis12.or.id/wp-
content/uploads/2013/08/KKNI-nakertrans-31-Juli-2013.pdf,
pada hari Jumat, 25 April 2014.
Sudrajat, Akhmat. 2012. PP No. 8 tahun 2012: Kualifikasi
Manusia Indonesia. Diunduh dari halaman
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2012/02/18/perpres-no-
8-tahun-2012-kkni/, pada Jumat, 25 April 2014.